JDBK-18

<< kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 5 September 2011 at 00:01  Comments (13)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jdbk-18/trackback/

RSS feed for comments on this post.

13 KomentarTinggalkan komentar

  1. 1 terus….

    • terus 1….

      • belok kiri jalan terus….
        sik pada mudik ayake kok suepiiii buanget…

        • teras

  2. Nuwun
    Sugêng énjang

    Telah beberapa lama tidak sambang padepokan untuk mendongeng, saya berharap semoga sanak kadang sepadepokan dan keluarga senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat, dalam rahmat dan berkah Tuhan.

    Dongeng Arkeologi & Antropologi Surya Majapahit dalam beberapa wedaran ke depan juga akan tancêp kayon, sekaligus sebagai penutup rangkaian dongeng-dongeng saya di gandhok-gandhok padepokan pelangisingosari.

    Sumånggå,

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-46; Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-12] Akhir Pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. [Bagian ke-2]On 21 Agustus 2011 at 05:12 JdBK 13

    Waosan kaping-47:
    WIKRAMAWHARDHANA BHRE HYANG WISESA AJIWIKRAMA (1389-1429)

    PERANG PAREGREG

    Wikramawarddhana naik tahta sebagai raja menggantikan Raja Hayam Wuruk wafat tahun 1389 bukan Kusumawarddhani yang merupakan garis keturunan langsung dari Hayam Wuruk.

    Wikramawarddhana adalah menantu yang sekaligus keponakan Hayam Wuruk. Wikramawardhana menjadi raja kelima Majapahit yang memerintah berdampingan dengan istri sekaligus sepupunya, yaitu Kusumawardhani putri Hayam Wuruk.

    Wikramawardhana dalam Pararaton bergelar Bhra Hyang Wisesa Aji Wikrama. Nama aslinya adalah Raden Gagak Sali. Ibunya bernama Dyah Nertaja, adik Hayam Wuruk, yang menjabat sebagai Bhre Pajang. Sedangkan ayahnya bernama Raden Sumana yang menjabat sebagai Bhre Paguhan, bergelar Singhawardhana.

    Permaisurinya, yaitu Kusumawardhani adalah putri Hayam Wuruk yang lahir dari Padukasori. Dalam Nāgarakṛtāgama, Kusumawardhani dan Wikramawardhana diberitakan sudah menikah. Padahal waktu itu Hayam Wuruk baru berusia 31 tahun. Maka, dapat dipastikan kalau kedua sepupu tersebut telah dijodohkan sejak kecil.

    Dari perkawinan itu, lahir putra mahkota bernama Rajasakusuma bergelar Hyang Wekasing Sukha, yang meninggal sebelum sempat menjadi raja. Pararaton juga menyebutkan, Wikramawardhana memiliki tiga orang anak dari selir, yaitu Bhre Tumapel, Suhita, dan Kertawijaya.

    Bhre Tumapel lahir dari Bhre Mataram, putri Bhre Pandansalas. Ia menggantikan Rajasakusuma sebagai putra mahkota, tetapi juga meninggal sebelum sempat menjadi raja. Kedudukan sebagai pewaris takhta kemudian dijabat oleh Suhita yang lahir dari Bhre Daha putri Bhre Wirabumi.

    Pemerintahan Wikramawardhana dan Kusumawardhani

    Saat Nāgarakṛtāgama ditulis pada tahun 1365, Kusumawardhani masih menjadi putri mahkota sekaligus Bhre Kabalan. Sedangkan Wikramawardhana menjabat Bhre Mataram dan mengurusi masalah perdata.

    Menurut Pararaton, sepeninggal Hayam Wuruk tahun 1389, Kusumawardhani dan Wikramawardhana naik takhta dan memerintah berdampingan. Jabatan Bhre Mataram lalu dipegang oleh selir Wikramawardhana, yaitu putri Bhre Pandansalas alias Ranamanggala. Ibu Bhre Mataram adalah adik Wikramawardhana sendiri yang bernama Surawardhani alias Bhre Kahuripan. Jadi, Wikramawardhana menikahi keponakannya sendiri sebagai selir.

    Rajasakusuma sang Putra Mahkota diperkirakan mewarisi jabatan Bhre Kabalan menggantikan ibunya, meskipun tidak disebut secara tegas dalam Pararaton. Pada tahun 1398 Rajasakusuma mengangkat Gajah Menguri sebagai patih menggantikan Gajah Enggon yang meninggal dunia. Berita dalam Pararaton ini harus ditafsirkan sebagai “mengusulkan”, bukan “melantik”.

    Rajasakusuma meninggal tahun 1399. Candi makamnya bernama Paramasuka Pura di Tanjung. Kedudukan putra mahkota lalu dijabat Bhre Tumapel putra Wikramawardhana dan Bhre Mataram. Pada tahun 1400 Wikramawardhana turun takhta untuk hidup sebagai Pendeta. Kusumawardhani pun memerintah secara penuh di Majapahit.

    Peninggalan sejarah Wikramawardhana berupa prasasti Katiden (1395), yang berisi penetapan Gunung Lejar sebagai tempat pendirian sebuah bangunan suci. Wikramadardhana memerintah selama duabelas tahun sebelum mengundurkan diri sebagai pendeta. Sebelum turun tahta ia menujuk puterinya, Suhita menjadi ratu.

    Hal ini tidak disetujui oleh Bhre Wirabhumi, anak Hayam Wuruk dari seorang selir yang menghendaki tahta itu dari keponakannya. Perebutan kekuasaan ini membuahkan sebuah perang saudara yang dikenal dengan Perang Paregreg.

    Peristiwa penting pada masa Pemerintahan Wikramawarhana

    Menurut Pararaton, Wikramawardhana kembali menjadi raja, karena Kusumawardhani meninggal dunia. Kusumawardhani dicandikan di Pabangan, bernama Laksmipura. Pada tahun 1401 Wikramawardhana berselisih dengan Bhre Wirabumi, saudara tiri Kusumawardhani.

    PERANG PEREGREG

    Sejarah setidaknya telah mencatat bahwa peperangan yang pada gilirannya meruntuhkan Majapahit adalah perang saudara yang dikenal dengan Perang Paregreg. Sejak kekuatan Bhre Wirabhumi dihancurkan Wikramawardhana dalam Perang Paregreg, daerah Wirabhumi seperti “terlepas” dari pengawasan Majapahit.

    Pada 1295, Raden Wijaya pendiri Majapahit untuk menepati janjinya semasa perjuangan menyerahkan wilayah sebelah timur Majapahit kepada Arya Wiraraja dengan ibukota di Lumajang. Janji inilah penyebab terjadinya Perang Paregreg kelak.

    Sejak kejayaan Majapahit ditopang oleh keperkasaan sang Mahapatih Gajah Mada, yang pernah menyelamatkan Prabu Jayanegara, raja kedua, dari rongrongan peberontak, sebenarnya benih pemberontakan telah tumbuh di kalangan pejabat sekitar istana. Setelah pemberontakan selesai dipadamkan, Gajah Mada berhasil membangun angkatan perang yang tangguh, termasuk angkatan lautnya.

    Oleh karena itu segera Majapahit berkembang menjadi negara yang makmur, karena teknologi pertanian sawah di kalangan masyarakat Jawa telah berkembang sejak sebelum kedatangan Aji Saka pada 68 M. Tetapi setelah Hayam Wuruk, Majapahit tidak pernah memiliki raja yang kuat, dan akhirnya runtuh karena perang saudara tersebut.Pada 1316 Jayanagara putra Raden Wijaya menumpas pemberontakan Nambi di Lumajang. Setelah peristiwa tersebut, wilayah timur kembali bersatu dengan wilayah barat.

    Perselisihan antara penguasa Majapahit Barat dan Majapahit Timur itu memuncak menjadi perang saudara tahun 1404, yang disebut Perang Paregreg. Pada tahun 1406 pasukan istana barat dipimpin Bhre Tumapel menghancurkan istana timur. Bhre Wirabumi tewas di tangan Raden Gajah alias Bhra Narapati. Wikramawardhana kemudian memboyong Bhre Daha putri Bhre Wirabumi sebagai selir.

    Perang Paregreg adalah perang antara Majapahit istana barat yang dipimpin Wikramawardana, melawan istana timur yang dipimpin Bhre Wirabhumi. Perang ini terjadi tahun 1404-1406 dan menjadi penyebab utama kemunduran Majapahit.

    Peristiwa Perang Paregreg dapat diuraikan sebagai berikut.

    Periode Kadaton Wetan (1376–1406)

    Setelah Patih Gajah Mada wafat tahun 1364, lalu disusul oleh wafatnya Tribhuwana dan Rajadewi antara 1372 dan 1375, Wijayarajasa mewujudkan ambisinya sebab tokoh-tokoh yang diseganinya tidak ada lagi. Pada tahun 1376 dia memproklamasikan kadaton wetan yang lepas dari Majapahit. Tahun berikutnya Majapahit dan kadaton wetan sama-sama mengirimkan utusan kepada Dinasti Ming di Cina.

    Pararaton menulis bahwa pada tahun 1376 muncul pagunung anyar yang diikuti peristiwa gempa. Peristiwa ini dapat ditafsirkan sebagai munculnya kerajaan baru, karena menurut kronik cina Ming-shih dari Dinasti Ming yang diterjemahkan W.P.Groeneveldt sebagai berikut: “In this country there is a western and an eastern king. The latter is called Wu-lao-wang-chieh and the former Wu-lao-po-wu. Both of them sent envoys with tribute”, menjelaskan bahwa pada tahun 1377 di Jawa ada dua kerajaan merdeka yang sama-sama mengirim duta ke Cina. Kerajaan Barat dipimpin Wu-lao-po-wu, dan Kerajaan Timur dipimpin Wu-lao-wang-chieh. Wu-lao-po-wu adalah ejaan Cina untuk Bhra Prabu, yaitu nama lain Hayam Wuruk (menurut Pararaton) sedangkan Wu-lao-wang-chieh adalah Bhre Wengker alias Wijayarajasa, suami Rajadewi bibi Hayam Wuruk yang rupanya berambisi menjadi raja.

    Bhre Wengker pada zaman Hayam Wuruk adalah Wijayarajasa, suami, Wijayarajasa juga mertua Hayam Wuruk sebab merupakan ayah dari permaisuri Sri Sudewi. Dari kitab Nāgarakṛtāgama kita memperoleh gambaran bahwa Wijayarajasa memang mempunyai ambisi untuk berkuasa.Wijayarajasa membangun istana timur yang disebut dengan Kadaton Wetanring Pamotan, sehingga dalam Pararaton, dan menurut prasasti Biluluk ia juga bergelar Bhatara Parameswara ring Pamotan.(Yang Dipertuan di Pamotan).

    Pertikaian ini menyebabkan munculnya kerajaan separatis yang dalam Pararaton disebut Kadaton Wetan (istana timur), untuk membedakannya dari kerajaan Majapahit yang disebut Kadaton Kulon (istana barat). Hal ini diungkapkan oleh Pararaton dengan kalimat “tumuli hana pagunung anyar i saka 1298“ (lalu terjadi gunung baru pada 1298Ç atau 1376M). Oleh karena ‘gunung’ melambangkan tahta kekuasaan, informasi ini kiranya mengisyaratkan munculnya kerajaan baru.

    Namun selain pagunung anyar mempunyai makna simbolik, dalam kenyataannya memang telah muncul pagunung anyar, yang timbul karena terjadinya erupsi jalur gunung lumpurdari selatan Jombang-Mojokerto-Bangsal. Jalur itu membentuk jarak sepanjang sekitar 25 km. Dan ini menunjukkan bahwa sepanjang jalur dari Gunung Penanggungan, sesar Watukosek, yang memotong Kali Porong, adalah sebuah mud volcano(pegunungan lumpur). Sebagaimana pabanyu pindah maka pagunung anyar yang terjadi pada Abad ke-13, ternyata sejalur dengan lokasi semburan lêndhut bêntèr “Jeng”LuSi, alias Lumpur Sidoarjo di Abad ke-21 kini. Hanya bedanya yang Abad ke-21 ini karena ulah tangan manusia.

    Dari kitab Nāgarakṛtāgama kita memperoleh gambaran bahwa Wijayarajasa memang mempunyai ambisi untuk berkuasa.Wijayarajasa membangun istana timur yang disebut dengan Kadaton Wetanring Pamotan, sehingga dalam Pararaton, dan menurut prasasti Biluluk ia juga bergelar Bhatara Parameswara ring Pamotan. (Yang Dipertuan di Pamotan).

    Di manakah letak Kadaton Wetan? Pamotan atau muwat bersinonim dengannanggung, maka Pamotan (Pamuwatan) barangkali adalah Gunung Penanggungan di sebelah timur Mojokerto sekarang. Wijayarajasa agaknya sengaja memilih tempat itu menjadi pusat kerajaan sebagai pembenaran tindakan separatisnya.

    Daerah Penanggungan atau Pamotan merupakan tempat suci raja Airlangga, sehingga Wijayarajasa kiranya ingin menunjukkan bahwa pembentukan negara baru itu mengikuti tradisi Airlangga yang pernah membagi dua kerajaannya.

    Adanya kadaton wetan menyebabkan keluarga Majapahit pecah menjadi dua kelompok. Sebagian besar tetap setia kepada Hayam Wuruk. Akan tetapi mereka yang berkerabat dengan Wijayarajasa terpaksa hijrah memihak kadaton wetan, yaitu Bhre Daha(III) Indudewi dengan suaminya Bhre Matahun(I) Raden Larang, dan anak angkat mereka Bhre Wirabhumi(II) dengan istrinya Bhre Lasem(II) Nagarawardhani, serta tiga orang putri Bhre Wirabhumi(II).

    Hayam Wuruk segan bertindak tegas menghadapi negara separatis itu sebab Wijayarajasa adalah mertuanya, Indudewi adalah sepupunya, dan Bhre Wirabhumi(II) adalah putranya dari selir. Selagi tokoh-tokoh senior masih hidup, kadaton kulon dan kadaton wetan saling menenggang rasa sehingga konfrontasi terbuka dapat dihindari.

    Akan tetapi keadaan seperti itu tidaklah dapat dipertahankan setelah para tokoh senior meninggal dunia. Pada tahun 1386 Kertawardhana (ayah Hayam Wuruk) wafat. Dua tahun berikutnya, 1388, wafat pula secara berturut-turut permaisuri Sri Sudewi, Dyah Nartaja (adik Hayam Wuruk) dan suaminya Raden Sumana. Dua tokoh kadaton wetan, Raden Larang dan Wijayarajasa sendiri, juga wafat. Akhirnya mangkat pula raja Hayam Wuruk tahun 1389.

    Wikramawardhana menjadi raja Majapahit dan kemudian dikenal dengan Hyang Wisesa, sedangkan tahta kadaton wetan diwarisi Bhre Wirabhumi(II). Gelar Bhre Kahuripan(IV) disandang Surawardhani, dan putra kedua Wikramawardhana digelari Bhre Tumapel(II).

    Suhita dan suaminya, Ratnapangkaja, masing-masing kiranya menjadi Bhre Pajang(II) dan Bhre Paguhan(II), meskipun tidak disebutkan dalam Pararaton. Wikramawardhana bertindak konfrontatif terhadap kadaton wetan dengan memberikan gelar Bhre Lasem (padahal sedang disandang adiknya, Nagarawardhani) kepada permaisurinya, Kusumawardhani. Dalam Pararaton, Kusumawardhani disebut Bhre Lasem Yang Cantik (Sang Ahayu) dan Nagarawardhani disebut Bhre Lasem Yang Gemuk (Sang Alemu).

    Putra mahkota Rajasakusuma wafat tahun 1399 dan bergelar anumerta Hyang Wekas ing Sukha. Tahun 1400 wafat pula Bhre Lasem(II) Nagarawardhani, Bhre Lasem(III) Kusumawardhani, Bhre Kahuripan(IV) Surawardhani, dan Bhre Pandansalas(I) Ranamanggala. Maka terjadilah regenerasi gelar bagi yang muda. Ratnapangkaja menjadi Bhre Kahuripan(V), dan adiknya, istri Bhre Tumapel(II), menjadi Bhre Lasem(IV). Gelar Bhre Pandansalas(II) disandang oleh Raden Jagulu, adik Ranamanggala. Dua orang putra Bhre Tumapel(II) dengan Bhre Lasem(IV) masing-masing diberi gelar Bhre Wengker(II) dan Bhre Paguhan(III). Satu-satunya tokoh senior yang masih hidup saat itu adalah Bhre Daha (III) Indudewi yang mendampingi anak angkatnya, Bhre Wirabhumi (II), di kadaton wetan.

    Perang Paregreg adalah perang yang identik dengan tokoh Bhre Wirabhumi. Nama asli Bhre Wirabhumi tidak diketahui. Menurut Pararaton, ia adalah putra Hayam Wuruk dari selir, dan menjadi anak angkat Bhre Daha istri Wijayarajasa, yaitu Rajadewi. Bhre Wirabhumi kemudian menikah dengan Bhre Lasem sang Alemu, putri Bhre Pajang (adik Hayam Wuruk).

    Menurut Nāgarakṛtāgama, istri Bhre Wirabhumi adalah Nagarawardhani putri Bhre Lasem alias Indudewi. Indudewi adalah putri Rajadewi dan Wijayarajasa. Berita dalam Nāgarakṛtāgama lebih dapat dipercaya dari pada Pararaton, karena ditulis pada saat Bhre Wirabhumi masih hidup. Jadi kesimpulannya, Bhre Wirabhumi lahir dari selir Hayam Wuruk, menjadi anak angkat Rajadewi (bibi Hayam Wuruk), dan kemudian dinikahkan dengan Nagarawardhani cucu Rajadewi.

    Perang Dingin Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi

    Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan Wijayarajasa, hubungan antara Majapahit istana barat dan timur masih diliputi perasaan segan, mengingat Wijayarajasa adalah mertua Hayam Wuruk. Wijayarajasa meninggal tahun 1398. Ia digantikan anak angkat sekaligus suami cucunya, yaitu Bhre Wirabhumi sebagai raja istana timur. Sementara itu Hayam Wuruk meninggal tahun 1389. Ia digantikan keponakan sekaligus menantunya, yaitu Wikramawardana.

    Ketika Indudewi meninggal dunia, jabatan Bhre Lasem diserahkan pada putrinya, yaitu Nagarawardhani. Tapi Wikramawardana juga mengangkat Kusumawardhani sebagai Bhre Lasem. Itulah sebabnya, dalam Pararaton terdapat dua orang Bhre Lasem, yaitu Bhre Lasem Sang Halemu istri Bhre Wirabhumi, dan Bhre Lasem Sang Ahayu istri Wikramawardana.

    Sengketa jabatan Bhre Lasem ini menciptakan perang dingin antara istana barat dan timur, sampai akhirnya Nagarawardhani dan Kusumawardhani sama-sama meninggal tahun 1400. Wikramawardana segera mengangkat menantunya sebagai Bhre Lasem yang baru, yaitu istri Bhre Tumapel.

    Terjadinya Perang Paregreg

    Setelah pengangkatan Bhre Lasem baru, perang dingin antara istana barat dan timur berubah menjadi perselisihan. Menurut Pararaton , Bhre Wirabhumi dan Wikramawardana bertengkar tahun 1401 dan kemudian tidak saling bertegur sapa. Perselisihan antara kedua raja meletus menjadi Perang Paregreg tahun 1404. Paregreg artinya perang setahap demi setahap dalam tempo lambat. Pihak yang menang pun silih berganti. Kadang pertempuran dimenangkan pihak timur, kadang dimenangkan pihak barat.

    Bhre Wirabhumi yang semula memperoleh kemenanggan akhirnya harus melarikan diri setelah Bhre Tumapel ikut campur membantu pihak Wikramawardhana. Akhirnya, pada tahun 1406 pasukan barat dipimpin Bhre Tumapel putra Wikramawardana menyerbu pusat kerajaan timur. Bhre Wirabhumi menderita kekalahan dan melarikan diri menggunakan perahu pada malam hari. Ia dikejar dan dibunuh oleh Raden Gajah alias Bhra Narapati yang menjabat sebagai Ratu Angabhaya istana barat. Raden Gajah membawa kepala Bhre Wirabhumi ke istana barat. Bhre Wirabhumi kemudian dicandikan di Lung bernama Girisa Pura. Perselisihan keluarga ini membawa dendam yang tidak berkesudahan. Beberapa tahun setelah terbunuhnya Bhre Wirabhumi kini giliran Raden Gajah yang dihukum mati karena dianggap bersalah membunuh bangsawan tersebut.

    Seusai Perang Paregreg, Bhre Daha (III) Indudewi diboyong pulang oleh Wikramawardhana ke Majapahit dan dihormati sebagai sesepuh. Saudara sepupu Hayam Wuruk ini wafat tahun 1415 bersama-sama Bhre Mataram (III) dan Bhre Matahun (II). Gelar Bhre Daha (IV) paling layak diwarisi oleh Suhita meskipun tidak disebutkan dalam Pararaton, dan adiknya, Kertawijaya, kiranya menjadi Bhre Mataram (IV).

    Istri Kertawijaya, Jayeswari, pantas menjadi Bhre Kabalan (II). Untuk menghilangkan benih balas dendam, tiga putri Bhre Wirabhumi (II) masing-masing dinikahi oleh Wikramawardhana, Bhre Tumapel (II) putra Wikramawardhana dan Bhre Wengker (II) cucu Wikramawardhana. Ketiga putri itu berturut-turut diberi gelar Bhre Mataram (III), Bhre Lasem (V), dan Bhre Matahun (II). Sungguh suatu pernikahan yang sangat unik: tiga putri bersaudara bersuamikan orang-orang tiga generasi!

    Akibat Perang Paregreg

    Setelah kekalahan Bhre Wirabhumi, kerajaan timur kembali bersatu dengan kerajaan barat. Akan tetapi, daerah-daerah bawahan di luar Jawa banyak yang lepas tanpa bisa dicegah. Misalnya, tahun 1405 daerah Kalimantan Barat direbut kerajaan Cina. Lalu disusul lepasnya Palembang, Melayu, dan Malaka yang tumbuh sebagai bandar-bandar perdagangan ramai, yang merdeka dari Majapahit. Kemudian lepas pula daerah Brunei yang terletak di Pulau Kalimantan sebelah utara.

    Selain itu Wikramawardana juga berhutang ganti rugi pada Dinasri Ming penguasa Cina. Sebagaimana disebutkan di atas, pihak Cina mengetahui kalau di Jawa ada dua buah kerajaan, barat dan timur. Laksamana Ceng Ho dikirim sebagai duta besar mengunjungi kedua istana. Pada saat kematian Bhre Wirabhumi, rombongan Ceng Ho sedang berada di istana timur. Sebanyak 170 orang Cina ikut menjadi korban. Atas kecelakaan itu, Wikramawardana didenda ganti rugi 60.000 tahil.

    Sampai tahun 1408 ia baru bisa mengangsur 10.000 tahil saja. Akhirnya, Kaisar Yung Lo membebaskan denda tersebut karena kasihan. Peristiwa ini dicatat Ma Huan (sekretaris Ceng Ho) dalam bukunya, Ying-ya-sheng-lan. Setelah Perang Paregreg, Wikramawardana memboyong Bhre Daha putri Bhre Wirabhumi sebagai selir. Dari perkawinan itu lahir Suhita yang naik takhta tahun 1427 menggantikan Wikramawardana. Pada pemerintahan Suhita inilah, dilakukan balas dendam dengan cara menghukum mati Raden Gajah tahun 1433.

    Tiongkok mengetahui bahwa perang saudara itu melemahkan Majapahit, sehingga segera berusaha memikat daerah-daerah luar Jawa untuk mengakui kedaulatannya. Misalnya Kalimantan Barat yang dalam tahun 1368 telah diganggu oleh bajak laut dari Sulu sebagai alat dari Kaisar Tiongkok, sejak tahun 1405 tunduk kepada Tiongkok. Juga Palembang dan Malayu di tahun yang sama, mengarahkan pandangannya ke Tiongkok dengan tidak menghiraukan Majapahit. Malaka sebagai pelabuhan dan kota dagang penting yang beragama Islam (1400), juga dianggap majapahit sudah hilang.

    Ma Huan yang asli dari Tiongkok dan beragama Islam dalam bukunya Ying-yai Sheng-lan, yang ditulis saat mengiringi Cheng-Ho (utusan kaisar Tiongkok ke Jawa) dalam perjalananya yang ketiga ke daerah-daerah lautan selatan, antara lain:

    Kota Majapahit dikelilingi tembok tinggi yang dibuat dari bata. Penduduknya kira-kira 300.000 keluarga. Rakyat memakai kain dan baju. Untuk laki-laki mulai usia 3 tahun memakai keris yang hulunya indah sekali dan terbuat dari emas, cula badak atau gading. Para pria jika bertengkar dalam waktu singkat siap dengan kerisnya, mereka biasa memakan sirih.
    Para pria pada setiap perayaan mengadakan perang-perangan dengan tombak bambu, mereka senang bermain bersama diwaktu terang bulan dengan diserai nyanyian-nyanyian berkelompok dan bergiliran antara golongan wanita dan pria.
    Mereka senang nonton wayang beber (wayang yang setiap adegan ceritanya di gambar di atas sehelai kain, lalu dibentangkan antara dua bilah kayu, yang jalan ceritanya diuraikan oleh Dalang).
    Penduduk terdiri dari tiga golongan, orang-orang Islam yang datang dari barat dan memperoleh penghidupan di ibukota, orang-orang Tionghoa yang banyak pula beragama Islam, dan rakyat selebihnya yang menyembah berhala dan tinggal bersama anjing mereka.

    Perang Paregreg dan Nāgarakṛtāgamamembuka fakta

    Perang Paregreg terjadi setelah Prabu Hayam Wuruk wafat.Perkawinannya dengan permaisuri Dewi Sori, hanya melahirkan putri sedang perkawinannya dengan selir(Kedaton Wetan/Majapahit Timur) melahirkan seorang putra. yang kemudian bernama Bhre Wirabumi dan diangkat sebagai raja Majapahit Timur)(Blambangan dan Bali?),sedang Majapahit Pusat tetap ditangan Prabu Hayam Wuruk.

    Ketika Prabu Hayam Wuruk wafat, pewarisan takhta tidak tertata dengan baik dan jatuh ke putrinya Dyah Kusumawardhani yang tidak memiliki kecakapan memerintah, maka suaminya Wikramawhardana secara perlahan dan pasti mengambil alih kekuasaan, dan kekuasaan inipun nanti diwariskan kepada putrinya Dewi Suhita.

    Sejak diambil alih oleh Wikramawardana, sebenarnya telah timbul masalah, apakah menantu lebih berhak dari putra dari selir, apalagi ketika mahkota diserahkan kepada putrinya Dewi Suhita padahal dasar pewarisan adalah Patrilineal.
    Disamping itu Negara Kertagama mengungkap fakta lain, sejak Wikramawardana menjadi raja, kedudukan para pendeta Hindu Syiwa mulai tersingkir. Seperti diketahui Wikramawardana adalah seorang penganut Budha, dan diakhir pemerintahannya malah menjadi Bhiksu. Sedangkan prabu Hayam Wuruk adalah seorang Hindu Syiwa dan telah dinobatkan sebagai Sang Hyang Giri Nata Bathara Syiwa(perwujudan dewa Syiwa di bumi) sedang Bhre Wirabumi adalah seorang Hindu Syiwa yang teguh.

    Perselisihan tersebut akhirnya memuncak menjadi Perang Paregreg(Perang yang terjadi berkali kali). Bhre Wirabumi tak terkalahkan, karena itu Wikramawardhana akhirnya berjanji akan mengangkat Bhre Wirabhumi menjadi raja Majapahit setelah pemerintahan beliau dan sebagai tanda keseriusan janji Wikramawardhana menikahkan adiknya dengan Bhre Wirabhumi.

    Tetapi rupanya Wikramawarhana tidak memenuhi janji tersebut dan malahan mengangkat putrinya Dewi Suhita menjadi raja Majapahit. Tentu hal ini tidak diterima oleh Bhre Wirabhumi. Tetapi rupanya Dewi Suhita,telah mempersiapkan penyerbuan ke Blambangan dengan mengerahkan seluruh kekuatan tempurnya yang dipimpin Bhre Narapati.Dalam versi lain penyerbuan ini dipercepat karena Cheng Ho mengunjungi Blambangan. Padahal kunjungan ini dilaksanakan semata-mata karena Cheng Homendengar kemakmuran Blambangan,dan berkeinginan menambah perbekalan, tetapi oleh Bhre Narapati ditafsirkan sebagai dukungan Cheng Ho kepada Blambangan, sampai ketemu ditulisan wajah Mongolid,orang Using.

    Bhre Narapati tidak hanya mengalahkan Bhre Wirabumi tetapi juga memancung kepala Bhre Wirabumi.Dengan beralihnya kekuasaan ke Dewi Suhita, dan kematian Bhre Wirabumi, sejarahwan Slamet Mulyana mencatat sebagai akhir dari wangsa Sanggramamawijaya, dan berakhir kerajaan Hindu di Jawa(Majapahit Timur atau Blambangan).

    Pemancungan kepala Bhre Wirabumi oleh Narapati dianggap kesalahan besar. Dia tidak sepantasnya melakukan seperti itu, terhadap putra Sang Hyang Giri Nata Bathara Syiwa atau Prabu Hayam Wuruk, keturunan darah biru wangsa Sanggramawijaya, penganut dan pelindung brahmana Hindu Syiwa. Maka tiga tahun kemudian Narapatipun dipancung dan jenazah Bhre Wirabhumi diagungkan kembali karena makamnya dicandikan yaitu Candi Lung.
    Setelah pemancungan Bhre Wirabumi perebutan tahta dan dendam kesumatmerontokkan Majapahit.

    Siapakah wangsa Sanggramawijaya.

    Wangsa Sanggramawijaya menurut para sejarahwan adalah raja 2 yang keturunan Ken Dedes dan Ken Arok. Seperti diketahui Ken Arok merebut Ken Dedes dari Tunggul Ametung , seorang akuwu ( bupati) Tumapel.

    Perebutan ini sepenuhnya mendapat restu dari Brahmana Hindu Syiwa karena perkawinan antara Ken Dedes dan Tunggul Ametung, dianggap para brahmana Hindu Syiwa, sebagai perkawinan yang tidak setara, dan merupakan pemaksaan dari Tunggul Ametung. Tunggul Ametung tidak memiliki kepantasan sedikitpun kawin dengan Ken Dedes karena kedudukan dan kastanya lebih rendah, maka para Brahmana Hindu Syiwa, memerintahkan Ken Arok, ksatrya Brahmana merebut kembali Ken Dedes dari Tunggul Ametung.

    Kelompok Hindu Syiwa ini, sebagai ras Arya yang sangat exclusive dan menjaga keturunan dengan ketat dan teguh terhadap agamanya.
    Kapan kelompok ini datang ke Jawa. Sejarahwan mencatat mereka (Arya) telah berada di Jawadwipa (Pulau Jawa),sejak wangsa Sanjaya diabad ke tujuh. Malahan ada yang berpendapat wangsa Sanjaya, sebenarnya berasal dari Jambudwipa (India).Mereka adalah pembangun atau setidaknya terlibat secara langsung dengan pendirian candi Prambanan(Hindu Syiwa) dan candi Borobudur(Budha).

    Ada sejarahwan yang berpendapat semula candi Borobudurpun dipersiapkan sebagai candi Hindu Syiwa, seperti terlihat bentuk pada bangunan dasar dan konsep kontruksinya, tetapi karena wangsa Sanjaya (Hindu Syiwa) kalah dengan wangsa Syailendra (Budha Mahayana), maka candi Borobudur diteruskan sebagai candi Budha.
    Maka kelompok ini dengan jelas keberadaaannya terlacak mulai dari wangsa Sanjaya,Syailendra, Singasari, Majapahit, Blambangan dan Bali

    Bagaimana nasib kelompok Arya (Hindu Syiwa) di Blambangan,setelah perang Paregreg.

    Setelah perang Paregreg, dengan sendirinya tamatlah kerajaan Hindu Syiwa di Jawa. Dan seperti dicatat oleh Negara Kertagama, karena perlakuan yang tidak pantas raja-raja sesudah Hayam Wuruk, terhadap Brahmana dan penganut Hindu Syiwa maka mereka sebagian exoduske Bali.

    Meskipun begitu kerajaan Blambangan masih mampu menghadang expansi kerajaan Demak Islam, dan mengalahkan pasukan Demak di Panarukan, karena dalam pertempuran itu Sultan Tranggana gugur. Oleh karena itu peranan Blambangan dalam menjaga existensi Bali sangat besar.Maka pantas kiranya pendiri kerajaan Mengwi(dari Bali Selatan),I Gusti Agung Anak Agung mengangkat dirinya dengan gelar kebesaran Tjokorde Sakti Blambangan.

    Beliau tidak saja mencantumkan Blambangan sebagai namanya tetapi juga membangun Pura Paibon (yaitu Pura yang diperuntukan untuk ibu suri) yang dikenal sekarang sebagai Taman Ayun.
    Para sejarahwan menganggap taman ini lebih bernuansa Jawa Kuno (Hindu Syiwa Jawa) daripada Hindu Syiwa Bali, Pura ditempat itu tidak menghadap ke Gunung Agung dan lebih dari itu ditaman ini terdapat 64 tugu leluhur (batu dengan permukaan halus atau dolmen yang mirip dengan watu loso,yang ada di daerah Rogojampi ke barat).

    Dengan itu dapat dikatakan bahwa kerajaan Mengwi menguasai Blambangan tetapi ada yang berpendapat lain, bahwa mungkin istilah yang lebih tepatatau barangkali sebenarnya Mengwi adalah peralihan kerajaan Majapahit Timur/Blambangan ke Bali.
    Ini terbukti dengan keterlibatan Mengwi mengusir penjajah Belanda dari Bumi Blambangan sangat jelas dan intens.

    Wong Agung Wilis yang menjadi adipati dan panglima perang di Blambangan dididik dan dibesarkan di kerajaan Mengwi. dan mendapat dukungan penuh dari kerajaan Mengwi,sehingga mampu mengerahkan 4000 pasukan yang terdiri pasukan Blambangan, Bali, China,dan Bugis dalam satu perang frontal yang amat dahsyat yang kemudian kita kenal Perang Puputan Bayu.

    Berakhirnya perang Puputan Bayu,berakibat fatal pada kelompkok Arya di Blambangan juga bagi kerajaan Mengwi di Bali.Setelah perang Puputan Bayu pemusnahan orang Arya di Blambangan (Banyuwangi) dilakukan secara sistematis.

    Sir Stanfford Raffles dalam buku terkenalnya: “History Of Java“ menulis: “From that moment, the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie,which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000.

    Sebuah survey demographie setelah perang Puputan Bayu menjadi bukti tulisan Sir Stanford Raffles tersebut Blambangan hanya memiliki 120 sampai 130 kampung asli,dan tiap kampung hanya dihuni paling banyak 35 keluarga, malahan ada kampung yang tidak berpenghuni (antara lain Tabanan).
    Desolating system yang dilakukan Belanda sendiri, maupun Penguasa Lokal (boneka Belanda) terhadap kelompok Arya Blambangan pada saat itu sungguh mengerikan,mulai dari kerja rodi, membentuk persepsi yang jelek melalui cerita Menakjinggo Damarwulan (Sêrat Kåndå, Sêrat Blambangan, Sêrat Damarmulan) sampai perlakuan yang sadis terhadap para ksatrya Arya Blambangan.

    Akibat tindakan ini selain jumlah populasi yang menyusut drastis juga berakibat populasi perempuan kelompok Arya Blambangan lebih banyak dari kelompok laki laki.

    Pemerintahan Sir Stanford Raflles 1811 sd1816,(ada bukti lain sebenarnya Inggris tetap menguasai Bengkulu dan Banyuwangi sampai Raffles menguasai Singapore yaitu 1819) memberi sedikit bernafas lega kelompok ini. Pembangunan mulai digerakkan, para pendatang dari segala suku dan bangsa berdatangan ke Banyuwangi. Maka terjadilah perkawinan campuran gadis Arya Blambangan yang cantik dengan para pendatang, demikian pula para prianya.

    Tidak heran jumlah mereka yang asli semakin mengecil. Mungkin zaman revolusi dan kemerdekaan telah mematahkan keterasingan mereka, dan mereka sekarang malah menjadi pluralis kawin dengan suku Nusantara maupun dengan suku bangsa lainnya.

    Perang Paregreg dalam Karya Sastra Jawa

    Peristiwa Paregreg tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa dan dikisahkan turun temurun. Pada zaman berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, kisah Paregreg dimunculkan kembali dalam Sêrat Kåndå, Sêrat Damarwulan, dan SêratBlambangan.

    Dikisahkan dalam Sêrat Kåndå, terjadi perang antara Ratu Kêncånåwungu penguasa Majapahit di barat melawan Mênakjinggå penguasa Blambangan di timur. Mênakjinggå akhirnya mati di tangan Damarwulan utusan yang dikirim Ratu Kêncånåwungu . Setelah itu, Damarwulan menikah dengan Kêncånåwungu dan menjadi raja Majapahit bergelar Prabu Mertawijaya. Dari perkawinan tersebut kemudian lahir Brawijaya yang menjadi raja terakhir Majapahit.

    Akhir Pemerintahan Wikramawardhana.

    Pada tahun 1426 terjadi bencana kelaparan melanda Majapahit. Bhre Tumapel sang Putra Mahkota meninggal dunia tahun 1427. Candi makamnya di Lokerep bernama Asmarasaba. Disusul kemudian kematian istri dan putra Bhre Tumapel, yaitu Bhre Lasem dan Bhre Wengker. Wikramawardhana akhirnya meninggal pula akhir tahun 1427. Ia dicandikan di Wisesapura yang terletak di Bayalangu.

    Nuwun

    ånå toêtoêgé

    cantrik bayuaji

  3. ABSEN…….!!??

    • Ikutan ABSEN…..!!??

      • Ikut Ikutan ABSEN…..!!??

        • absen kok sikut-sikutan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: