JDBK-26

🙂

Sugeng enjing Ki/Nyi/Ni sanak

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 29 September 2011 at 00:01  Comments (18)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jdbk-26/trackback/

RSS feed for comments on this post.

18 KomentarTinggalkan komentar

  1. On 28 September 2011 at 17:43 Truno Podang said:

    Yang sekarang pasti belum!
    Yang belum pasti sekarang!
    Pasti belum yang sekarang!
    Pasti yang sekarang belum!
    Belum pasti yang sekarang!
    Belum pasti yang sekarang!
    Sekarang, 

 yang pasti belum!
    Sekarang, 

 pasti yang belum!

    He he he, 


 pencegahan copas.

    • He he he, 


 pencegahan comot.
      He he he, 


 pencegahan copot.

      He he he, 


 pencegahan moncrot.

      • cantrik HADIR pak SATPAM….genk jenk sedaya-nya
        (tanpa BOLD tanpa ITALIC dan tanpa MPNCROT)

        • he…….he…….he……..
          Ki Menggung mrucut, eh mrusut,
          eh mangsude melu2 pak Satpam, MRUPUT.

  2. he he he …
    Ki YP mruput

  3. sugeng enjing ji sanak sedoyo
    ijin unduh pak satpam
    matur suwun

  4. Sugeng Enjing Ki Gun, Ki YP, KI SatPam,Ki Segoro dalah para sanak kadang sedoyo….
    Ndrerek Absen……

    • sugeng sonten ki LD, kisanak-nisanak sedaya

      • Sugeng dalu Ki Gun, Ki YP, Ki Satpam, Ki Segoro, Ki LD,
        Kisanak-Nisanak sedaya.

        • Sugeng dalu Ki GEMBLEH, Ki YP, Ki Satpam, Ki Segoro, Ki LD,
          Kisanak-Nisanak sedaya.

  5. SORE SEDAYANYA

    • MALEM SEADANYA

  6. Nuwun
    SugĂȘng Ă©njang andungkap siyang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-48; Raja-raja Terakhir Majapahit On 24 September 2011 at 06:40:JdBK 24

    Waosan kaping-49
    TENGGELAMNYA SANG SURYA MAJAPAHIT [Parwa ke-01]

    BĂȘdhahĂ© Kraton MĂ„jĂ„pahit lan adĂȘgĂ© Kraton DĂȘmak BintĂ„rĂ„
    Bagaimana kisah runtuhnya Kraton Majapahit dan Berdirinya Kraton DĂȘmak BintĂ„rĂ„?.

    Runtuhnya kerajaan Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak BintÄrÄ yang hendak didongengkan berikut ini dicuplik dari berita yang dikisahkan oleh para penulis rontal-rontal, serat, kidung, kakawin, pujasastra, suluk, tamra prasasti, petilasan-petilasan berupa candi, dan situs-situs yang berkenaan dengan itu, termasuk dongeng tutur lisan masyarakat, yang kesemunya memerlukan telisik lebih lanjut.

    Penulisan didasarkan pada disiplin ilmu sejarah. Penulisan bermaksud untuk melestarikan karya sastra kuno, demi menghargai hasil karya para leluhur bangsa. Selain itu selalu berusaha semaksimal mungkin untuk mencintai dan menggali produk-produk lokal yang sarat muatan nilai kearifan, sekaligus diharapkan akan menambah wawasan berfikir bagi pÄrÄ kadang di padepokan pelangisingosari.

    Saya menyadari bahwa sering terjadi pemutarbalikan sejarah di masa kapanpun itu, yang dilakukan dengan berbagai cara oleh kelompok-kelompok tertentu yang bertujuan untuk kepentingan tertentu bagi kelompoknya.

    Saya berharap dongeng ini dapat menambah khasanah ilmu yang berfungsi menjadi bandul penyeimbang sumber sejarah lainnya yang dianggap kontraversi dengan kejadian masa lalu.

    Dalam konteks ini saya berusaha tidak bersikap pro kontra, sebaliknya adalah sebagai upaya untuk mencari kebenaran sejarah, berangkat dari sikap ilmiah, dan etika akademisi, berbasis keilmuan semata yang “bebas nilai”, tanpa beban, selalu tampil dengan pikiran yang jernih, bersih, netral, kritis, dan sudah barang tentu tanpa adanya rekayasa dan pemalsuan, lebih-lebih penipuan, apalagi ditunggangi kepentingan-kepentingan kelompok, golongan, atau politik tertentu dengan cara-cara bujukan atau pemaksaan.

    Demikianlah.

    Teori keruntuhan Majapahit

    Berikut beberapa teori yang dikaji dan diketahui dan dikenal secara luas oleh masyarakat umum tentang keruntuhan Majapahit.
    Peristiwa runtuhnya Kerajaan Majapahityang berpusat di Trowulan Mojokerto diyakini terjadi dengan sengkala SirnĂ„ Ilang KĂȘrtaning Bumi yang dibaca sebagai tahun 1400 Ç atau 1478 M, namun sering diceritakan dalam berbagai versi, antara lain:

    a. Raja terakhir Majapahit adalah Brawijaya. Ia dikalahkan oleh Raden Patah dari Demak. Brawijaya mengundurkan diri dan pindah ke gunung Lawu, Konon Brawijaya kemudian masuk Islam melalui Sunan Kalijaga, dimana pengikut setianya yaitu SabdÄpalon dan NÄyÄgénggong sangat menentang kepindahan agamanya. Sehingga, dikenal adanya semacam sumpah dari Sabdopalon dan Noyogenggong, yang salah satunya mengatakan bahwa sekitar 500 tahun kemudian, akan tiba waktunya, hadirnya kembali agama budi, yang kalau ditentang, akan menjadikan tanah Jawa hancur lebur luluh lantak. Ada pula yang mengisahkan Brawijaya melarikan diri ke Bali. Meskipun teori yang bersumber dari naskah-naskah babad dan serat ini uraiannya terkesan tidak masuk akal, namun sangat populer dalam masyarakat Jawa.

    b. Raja terakhir Majapahit adalah Bhre Kertabhumi. Ia dikalahkan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya alias Bhatara Wijaya. Teori ini muncul berdasarkan penemuan prasasti Petak yang mengisahkan peperangan antara keluarga Girindrawardhana Dyah melawan Majapahit.

    c. Raja terakhir adalah Bhre Pandansalas yang dikalahkan oleh anak-anak Sang Sinagara. Teori ini muncul karena Pararaton tidak menyebutkan secara jelas apakah Bhre Kertabhumi merupakan raja terakhir Majapahit atau bukan. Selain itu kalimat sebelumnya juga terkesan ambigu, apakah yang meninggalkan istana pada tahun 1390 Ç (1468 M) adalah Bhre Pandansalas, ataukah anak-anak Sang Sinagara. Teori yang menyebut Bhre Pandansalas sebagai raja terakhir mengatakan kalau pada tahun 1478, anak-anak Sang Sinagara kembali untuk menyerang Majapahit. Jadi, menurut teori ini, Bhre Pandansalas mati dibunuh oleh Bhre Kertabhumi dan sudara-saudaranya pada tahun 1478.

    d. Majapahit runtuh tahun 1478, ketika Girindrawardhana memisahkan diri dari Majapahit dan menamakan dirinya sebagai raja Wilwatikta Daha Janggala Kadiri. Tahun peristiwa tersebut di tulis dalam Candrasangkala yang berbunyi “Hilang sirna kertaning bhumi”.

    e. Pendapat lain menjelaskan Majapahit runtuh karena diserang oleh Demak yang dipimpin oleh Adipati Unus tahun 1522.

    f. Raja terakhir adalah Bhre Kertabhumi. Ia dikalahkan oleh Raden Patah. Setelah itu Majapahit menjadi bawahan Kesultanan Demak. Teori ini muncul berdasarkan ditemukannya kronik Cina dari kuil Sam Po Kong Semarang.

    Sejarah semakin “kisruh” dengan bumbu legenda atau folklore. Dari sinilah lalu ada dongeng:

    SABDO PALON MENAGIH JANJI

    Masih ingat peristiwa tanggal 26 Oktober 2010 yang lalu, ketika awan di atas Gunung Merapi “menampilkan” wajah punakawan (tetapi bukan punĂ„kawan bayuaji) melainkan punĂ„kawan Petruk, sesaat setelah itu Merapi “merapikan” dirinya.
    Apakah saatnya sudah tiba, ketika Sang Sabdo Palon menagih janji?:

    Apakah ini yang dimaksud oleh Sabdo Palon dalam bait-bait kidung Hardi MĂȘrapi yĂšn wus njĂȘblug mili lahar, yang selengkapnya berikut ini:

    SangĂȘt-sangĂȘting sangsĂ„rĂ„,
    kang tuwuh ing tanah Jawi,
    Hardi MĂȘrapi yĂšn wus njĂȘblug mili lahar.
    BĂȘbĂ„yĂ„ ingkang tumĂȘkĂ„,
    warÄtÄ sa Tanah Jawi.
    Kaliné banjir bandhang,
    jĂȘronĂ© ngĂȘlĂȘbnĂ© jalmi,
    kathah sirnÄ manungsÄ praptÚng pralÄyÄ.
    WarnĂ„-warnĂ„ kang bĂȘbĂ„yĂ„, angrusakĂȘn Tanah Jawi.

    “Kelak akan tiba saatnya keadaan paling sengsara di tanah Jawa. Kelak jika Merapi menggelegar mengalirkan lahar. Bahaya yang mendatangi tersebar merata ke seluruh tanah Jawa. Datangnya air bah, yang menghanyutkan manusia sehingga banyak yang pralaya. Berbagai macam bahaya, merusak Tanah Jawa”

    surĂȘm sang dĂ©wangkĂ„rĂ„ lampahĂ©
    mandhĂȘg mangu kalimput ing dhuhkitĂ„
    ampak-ampakan mĂ©gĂ„ pĂȘpulĂȘtan
    mĂȘndhung angĂȘndanu arĂȘbut dhucung asung bĂ©lĂ„sungkĂ„wĂ„
    gunung manggut-manggut
    manglung tumiyung marang sang sujÄnÄ gung
    angin sumilir angiring tindakĂ© prĂ„ widĂ„dari sarwi anyĂȘbar sĂȘkar wangi
    klÚbating sampur pratÄndhÄ bélÄ konjuk ingkang sowan ing pangayunaning Gusti,

    MENGAPA BENCANA TERUS TERJADI?

    Nusantara Indonesia hampir sepuluh tahun terakhir ini layakdisebut negeri seribu bencana. Kosmologi orang Jawa menyampaikan kepada kita bahwa realitas petaka sudah bicara banyak kepada kita. Dalam kosmologi Jawa, bencana dahsyat yang datang silih berganti di negeri yang bergelar Zamrud Khatulistiwa ini beberapa tahun terakhir ini adalah isyarat.

    Uthak-athik gathuk. Tiba saatnya Sabdo Palon Naya Genggong datang menagih janji?

    Isyarat apa?

    Bencana alam dan teror sedang meraja di Indonesia: kekeringan, banjir, tanah longsor, badai topan, udan salah mĂ„ngsĂ„. Gempa bumigelombang tsunami di Aceh,trasi muncrat Timun Mas atawa lĂȘndhut bĂȘntĂšr JĂȘng LuSi (Lumpur Sidoarjo)Jawa Timur, banjir di Jambi, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku, gempa bumi di Jawa Barat, di Sumatra Barat, lalu Wasior, dan Mentawai. Merapi njĂȘblug, Bromo, Raung, Anak Krakatau, semua susul-menyusul tak ada hentinya. dan entah apalagi.

    Kecelakaan di darat, di laut, di udara, bahkan di sekitar kita bermukim di rumah atau di tempat kerja, di kendaraan umum, selain banjir, dan tanah longsor juga kebakaran; perselingkuhan; perzinahan; perkosaan; penipuan; aksi bersenjata; perampokan; pembunuhan; mutilasi; teror bom; bentrokan horizontal antarwarga.

    Belum lagi bencana yang tak kurang mengerikan dan tak terhitung jumlahnya, bukan karena bencana alam, tetapi bencana yang sengaja dilakukan oleh manusia, bahkan oleh manusia yang dipercaya sebagai ‘pembawa amanah’, sebagai ‘pemegang atribut kenegaraan’,pĂ„rĂ„ priyagung pĂȘtinggi nĂągariyang menyandang gelar ‘terpelajar’, ‘berbudaya’, ‘pintar’, ‘tokoh panutan’, ‘pemimpin bangsa’ dan ‘yang terhormat’.

    Bencana korupsi. Perselingkuhan birokrasi, penyelewengan anggaran negara, persekongkolan bisnis dan birokrasi berterang-terangan dan curang, jual beli hukum; penyuapan; pemerasan; pemaksaan; perampasan hak; penculikan; penyiksaan; penindasan; pembantaian terang-terangan; dan dusta.

    Budi pekerti mulia di dalam kitab suci masih ada, tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di tumpukan jerami, bahkan langit akhlak rubuh, yang semakin menambah parah kondisi negeri ini. Budi pekerti mulia masih ada tetapi tersimpan nun di sudut nurani, namun seringkali terlupakan.

    Apa yang salah?

    Fenomena alam yang telah merenggut beribu-ribu korban meninggal dan juga menderita terjadi sungguh tak dapat diterka dan seringkali di luar logika kita. Tidak ada seorang pun yang berharap bencana-bencana dahsyat seperti ini akan terulang, hanya marilah kita coba cermati kejadian-kejadian akibat tangan manusia yang secara nyata telah menyebabkan atau bibit bencana di masa datang.

    Para priyagung para pĂȘtinggi nĂȘgaritenggelam dan asyik dengan angka-angka statistik, tak merasa sedikit pun bersalah. Para pengkritik ‘terpelajar’ sibuk mencari celah untuk menyerang, dan juga merasa dirinya yang paling benar, dan tak sedikit pun merasa terganggu dengan umpatan dan hujatan mereka, seolah-olah dengan begitu masalahnya bisa selesai.

    Rakyat tak lebih dari komoditas. Terus-menerus dibicarakan, jadi bahan perdebatan dan jadi objek pembenaran. Begitu banyak janji menghambur dari para priyagung, tapi tetap saja tinggal janji.

    Indonesia sebagai salah satu negara produsen oksigen di dunia tidak dapat diingkari sebelumnya, hanya saat ini pembabatan atau lebih tepat lagi penggundulan hutan, pengerukan bukit atau gunung serta pasir telah menjadi kenyataan yang terjadi. Pembangunan kantor-kantor dan hotel-hotel berbintang, mal-mal pusat-pusat perbelanjaan, serta pabrik-pabrik tanpa sadar secara rutin menyedot air artesis dengan volume ribuan meter kubik setiap harinya.

    Pertanyaan sederhananya: apakah hanya akan menyebabkan abrasi air laut masuk ke bawah daratan saja lebih jauh atau menyebabkan sebuah rongga besar pada sebuah kota sehingga pada saat yang tepat akan longsor atau rubuh sebuah kawasan masuk kedalam bumi ketika tanah penyangganya sudah tidak kuat menahan karena air di bawahnya sudah kosong.

    Banjir yang datang setiap tahun dan sekarang semakin rutin dan bertubi-tubi sebenarnya adalah sebuah rahmat dan tanda-tanda alam yang harus segera dikelola secara baik untuk menutupi kekurangan pada alam di sekitar banjir tersebut. Jika banjir dipersepsikan sebagai bencana maka yang dipikirkan dan dilakukan adalah bagaimana membuang air itu segera ke laut dan mengungsikan penduduk keluar daerah banjir setelah dilakukan proses manajemen bencana dan sebelumnya disiapkan proses persiapan dan mitigasi.

    Kondisi penggundulan hutan sudah pasti bukan hanya menyebabkan banjir saja. Yang pasti produksi oksigen berkurang dan kemampuan menyerap air bagi tanah sehingga berkurangnya cadangan air berkurang sudah terjadi. Yang perlu diteliti adalah seberapa besar pengaruh penggundulan hutan terhadap berubahnya cuaca serta terbentuknya badai serta ketahanan daratan terhadap badai dari lautan serta kecepatan dan frekuensi juga menyebarnya kebakaran hutan?

    Di Indonesia sekarang ini makin sering terdengar angin topan dan badai begitu juga di belahan dunia lainnya. Sekarang sudah semakin nyata bahwa umat manusia perlu mengantisipasi atau lebih tepat mengelola perubahan iklim yang terjadi di dunia ini.

    Dan jika pengrusakan itu seimbang antara udara dan perut bumi maka perubahan yang terjadi adalah antara sistim bumi dengan alam semesta lainnya, mungkin para ahli fisika, kimia, astronomi, geologi, geofisika dan lain-lain bisa memikirkannya.

    “Yang pasti ada sesuatu yang telah dan sedang berubah sekarang ini.Namun, adakah terbersit di pikiran kita bahwa sebenarnya musibah yang terjadi, seperti banjir, longsor, dan bencana lainnya adalah akibat dari ulah kita manusia yang tidak peduli dengan tindakan yang kita lakukan yang mengakibatkan kerusakan alam yang kita diami.”

    Oleh karena itu, atas dasar pemikiran ini maka jika tekanan udara semakin hari semakin menguat atau tetap tetapi daya tahan bumi semakin mengecil terhadap tekanan karena proses ekploitasi maka yang terjadi adalah longsor atau ambruknya permukaan bumi dan masuk kedalam. Jika tekanannya semakin melemah karena perusakan udara sehingga mengakibatkan tekanan bumi jauh lebih kuat maka tanah yang diatas akan berhamburan keluar contoh yang terjadi pada meletusnya gunung berapi.

    Penebangan hutan secara liar dan besar-besaran, pembuangan sampah tidak pada tempatnya, serta pemanasan suhu bumi akibat semakin menipisnya ozon. Semua itu kebanyakan tindakan yang kita lakukan yang berakibat fatal bagi sejumlah banyak manusia di bumi.Manusia menjadi mangsa atas keserakahannya sendiri.

    Dalam kehidupannya manusia tidak menyadari bahwa bumi ini adalah nafas kita, yang harus kita jaga dan lindungi. Kita mengotorinya sama saja dengan kita mengurangi sedikit demi sedikit nafas kehidupan kita. Terkadang, kebutuhan untuk memuaskan keinginan badan sangat mendominasi dalam diri masyarakat, yang akhirnya melupakan hal yang paling hakiki, yakni kehidupan bersama yang harmonis dengan manusia dan alam.

    Namun keserakahan terlalu kuat untuk dimusnahkan, manusia lupa akan nafas yang memberikan kehidupan baginya, manusia menguras segala apa saja yang dianggap dapat memuaskan jasmaninya, tidak jarang juga harus melalui cara yang mengganggu dan merusak hak-hak orang lain bahkan merusak kekayaan alam. Akibatnya, terjadi banyak peristiwa yang di luar dugaan kita, karena kesadaran jiwa juga secara hakiki sudah mendarah daging, artinya sudah bersifat badaniah semata. Alam menjadi korban kebejatan nafsu-nafsu penguasa yang ada dalam diri manusia.

    Manusia sebagai ciptaan Tuhan, adalah makhluk yang dilengkapi dengan akal budi, pikiran sehat, dan rasa, cipta, serta karsa. Hanya manusialah satu-satunya ciptaan Tuhan yang paling istimewa, dibanding dengan makhluk ciptaan lainnya. Manusia dalam kehidupannya dituntut agar tetap bertahan (survive) terhadap segala bencana yang menimpa. Segala pengetahuan dan ilmu yang kita warisi harus dipergunakan secara nyata dalam kehidupan, agar tidak hanya menjadi belenggu bagi diri sendiri untuk menjalani tindakan yang ingin kita lakukan.

    Banyak kecerobohan yang kita lakukan terhadap alam, dan sering juga kita menyalahgunakan pengetahuan yang kita miliki untuk memperkosa, menguasai, menaklukkan, mengendalikan, mengalahkan, serta menambang segala kekayaan yang dimiliki oleh alam. Sehingga tidak jarang terjadi bencana-bencana dan peristiwa-peristiwa yang merugikan kita, seperti misalnya menelan korban jiwa, harta, dan terutama kerusakan terhadap lingkungan tempat kita berpijak.Penolakan alam terhadap kita?

    Tepat sekali yang ditembangkan Ki Dalang yang sedang ngudal piwulang di depan kelir kehidupan wayangnya: [lihat On 23 Januari 2011 at 21:41 cantrik bayuaji said HLHLP 092:Dongeng Arkeologi & Antropologi Magawe Rahayu Magawe Kerta, Bagian Keduabelas]

    //Kocap kacaritÄ/:
    //Suh rĂȘp dĂ„tĂ„ pitĂ„nĂ„. AnĂȘnggih NĂągari pundi toh minĂ„ngkĂ„ pambukaning kĂ„ndhĂ„ ing samangkĂ©, wontĂȘn satunggaling nĂągari. NĂągari tan kaĂ©kĂ„ adi dĂ„sa purwĂ„, NĂągari agĂȘng nanging datan agung, NĂągari hayom nanging ora hayĂȘm. LabĂȘd kapĂȘrbawan kang ngastĂ„ pusaraning prĂ„jĂ„ ingkang anggung miyar-miyuring pĂȘnggalih, marmo datan jejeg lakuning pangadilan. NĂągari tansah kĂȘbak rubĂȘdhĂ„, tan hĂ„nĂ„ rĂ„sĂ„ tĂ„tĂ„ tĂȘntrĂȘm, punĂ„pĂ„ malih kĂąrtĂ„ raharjĂ„, Ingkang sarwĂ„ tinandur datan sagĂȘd ngrĂȘmbĂ„kĂ„ subur, NĂągari asring pikantuk cilĂ„kĂ„, bĂȘbĂ„yĂ„ lan mĂ„lĂ„./

    //SurĂȘm-surĂȘm dwiyangkĂ„rĂ„ kingkin.Lir manguswĂ„ kang layon.DĂšnyĂ„ ilang mĂȘmanisĂ©/,

    [Remang-remang redup cahaya matahari bersedih. Seakan mencium bau mayat
.. Dan hilanglah keindahannya!]

    Negara besar tetapi tidak agung. Penguasa tidak pernah menepati janjinya, dan tak pernah bertindak bijaksana, penguasa negara telah hilang kewibawaannya boleh jadi kekuasannya pun lenyap.

    Para penyelenggara negara berwatak angkara, SĂȘsongaran. Adigang. Adigung AdigunĂ„ ing budi. Merasa paling bisa. Senantiasa mengandalkan kelebihan ilmunya. Merasa tidak ada yang menyaingi.

    Mereka tertimbuni kekayaan yang entah darimana asal-usulnya. Tak ada sudah batas-batas haram dan halal. Maling, main, madat, mabok dan madon adalah kegemaran sehari-hari mereka.

    // Tindak culikĂ„ lan durjĂ„nĂ„ lan pĂ©k-pinĂšk barange liyan, ugi tindak dĂȘksurĂ„ sampun dados pakulinan ingkang limrah. SĂąnajan nĂągari ngungkurakĂ© pagunungan, ngĂ©ringake bĂȘnawi, ngananakĂ© pasabinan, mĂąngku bandaran agĂȘng, nanging sĂȘdĂ„yĂ„ wau datan sagĂȘd ndamĂȘl karaharjan, katĂȘntrĂȘman, karahayon miwah kabagyan dumatĂȘng pĂ„rĂ„ kawulĂ„ dasih./
    // RĂ„jĂ„kĂ„yĂ„, ingon-ingon, pĂšni-pĂšni rĂ„jĂ„peni, mas picis rĂ„jĂ„brĂ„nĂ„ kang dinarbĂ© dĂ©ning NĂągari dados rayahan tiyang kathah, kalĂȘbĂȘt pĂ„rĂ„ pamong pangĂȘmbating prĂ„jĂ„ ingkang handarbĂ©ni kuwĂ„sĂ„./

    //YĂ„ krĂ„nĂ„ mangkono dadi lĂȘlantaran murkaning PangĂȘran Gusti Kang MĂ„hĂ„ Utpati, PangĂȘran Gusti Kang MĂ„hĂ„ MĂȘrjĂ„yĂ„ marang praja dalah pĂ„rĂ„ kawulĂ„ dasih kang yĂȘkti katingal sĂ„kĂ„ anggonĂ© pĂ„dĂ„ kasrakat ing sandang pangan dalah papan urip tan pinanggih karahayon wilujĂȘng tĂȘntrĂȘm ing samukawis





/

    // SaibĂ„nggĂȘgirisi nĂągari punikĂ„ samĂ„ngkĂ©. ManungsĂ„kawulanĂ© nagari kathah ingkang anandhang pĂ„pĂ„ cintrĂ„kĂ„. ÅnĂ„lindhu gĂȘdhĂ©, bumi bangĂȘt anggĂšnipun gonjang-ganjing, gunung-gunung pating panculat jugrug lan ngĂȘtokake momotanĂ©. Banjir bandhang sĂȘgĂ„rĂ„ asat. JalmĂą manungsĂ„ nibĂ„ tangi. Bilulungan./

    // DĂšrĂšng lĂȘrĂȘm anggĂšnnyĂą nandhang lĂ„rĂ„ pĂ„pĂ„, cilĂ„kĂ„ mĂ„lĂ„ mĂ„rĂ„ bĂȘbĂ„yĂ„ tĂȘkĂ„./
    //Tiyangnguladi panganpindhĂ„ gabah dĂšn intĂȘri./

    //Sing kĂȘbatkliwat,/
    //sing kasĂšp kĂȘplĂšsĂšt/
    //sing gawĂ© ramĂȘ tĂ„mpĂ„ gawĂ©,/
    //sing cilik kĂȘcĂȘlik,/
    //sing anggak kĂȘtungkak,/
    //sing ngati-ngati sĂȘsambat kĂȘpati. /
    //sing wĂȘdi pĂ„dhĂ„ mati, nanging sing ngawur pĂ„dhĂ„ makmur./
    //sing bĂ©ngkong bisa nggalang omah gĂȘdhong magrong-magrong.

    //AkÚh wong wus pÄdhÄ mangan uwong./
    //Kayu gligĂšn lan wĂȘsi pĂ„dhĂ„ kolu dirĂ„sĂ„ Ă©nak kĂ„yĂ„roti bolu./

    //Ingkang badhĂ© tinumbas datan wontĂȘn ingkang mirah./
    //Dagang barang sÄyÄ laris, nanging bandhané sÄyÄ tapis./
    //Sing tuku nglĂȘnik sing dodol,/
    //sing dodol pÄdhÄ akal-akalan./

    //AkĂšh barang klĂȘbu luwang, akĂšh wong kalirĂȘn lan wudhĂ„, ora dhuwĂ© wirang mĂȘrgĂ„ kĂąpĂȘksĂ„./

    //Sing wani ditalĂšni, /
    //sing dorÄ pÄdhÄ uro-uro/.

    //AkĂšh wong kalirĂȘn ing sisihĂ© panganan/.
    //AkĂšh wong nyĂȘkĂȘl bĂ„ndhĂ„ ning uripĂ© sĂąngsĂ„rĂ„/.
    //Sing waras lan adil uripĂ© anggagas lan kĂȘpĂȘncil/,
    //sing ora bisa maling, pĂ„dhĂ„ digĂȘthing/,
    //sing pintĂȘr durĂ„kĂ„ pĂ„dhĂ„ dadi kĂ„ncĂ„/,
    //sing bĂȘnĂȘr sĂ„yĂ„ thĂȘngĂȘr- thĂȘngĂȘr/,
    //sing salah sÄyÄ bungah-bungah/.

    //AkĂšh bĂ„ndhĂ„ musnĂ„tan wĂȘruhplayu larinĂ©/.
    //AkĂšh pangkat lan drajat pĂ„dhĂ„diajinanging ora mbĂȘjaji/.

    //KĂątungkĂ„ praptanirĂ„ pagĂȘbluk kang luwih dĂ©ning nggĂȘgirisi/.
    //AkÚh manungsÄ wisora duwé sirah/
    //amung gĂȘmbung mlaku pating bilulung, sirahĂ© cinaplok dĂ©ning nĂ„gĂ„ lan macan/.

    //NÄgÄ kinaryÄ aji, mahanani ngÚlmu/.
    //Macan kinaryĂ„ aryĂ„, mahanani kĂȘkuatan, kĂȘkuwasaan, dhuwit lan kamurkan/.

    //Wus ora ÄnÄ manungsÄ amung bathang angucap jisim lumaku/.
    //SĂąnadyan katon blĂȘgĂȘre sampurnĂ„ nanging wis ora Ă„nĂ„ gunĂ„-paĂ©dahĂȘ /.

    //Duwé mripat wus ora bisa kanggo mulat/
    //Duwé kuping wus ora bisa kanggo angrungu/
    //Duwé tutuk wus ora bisa kanggo micÄrÄ/
    //Duwé irung wus ora bisa kanggo nggÄndÄ/
    //Duwé ati wus ora bisa kanggo ngrÄsÄ/

    //BĂ©danĂ© wong urip karo mati kuwi Ă„nĂ„ ing rĂ„sĂ„, sĂąnadyan isih ambĂȘgan, mloka-mlaku ning wis pĂ„dhĂ„ ora duwĂ© rĂ„sĂ„/.

    //ManungsÄ sirah urang lumampah baris tut wuri déning barisan jrangkong/.
    //AwĂ©h sasmitĂ„ manungsĂ„ wis malih kĂ„yĂ„ urang, sirahĂ©wis ora duwĂ© utĂȘg/.

    //DĂ©nĂ© barisan jrangkong minĂ„ngkĂ„ prĂ„lampitĂ„ mĂąnĂ„wĂ„ manungsĂ„ wus kĂ©langan akal budi, utĂ©gĂ© garing kari cumplung nyĂȘngingis agawĂ© miris. /

    Pertanyaannya mengapa negeri yang makmur dan indah ini terus menerus dilanda bencana? Apakah ini?

    Apakah Ki Sanak percaya bahwa bencana itu datang tanpa sebab apapun?

    Apakah Ki Sanak percaya bahwa bencana tidak ada hubungannya dengan dosa-dosa manusia?

    Apakah Ki Sanak percaya bahwa kesalehan dan ketaqwaan, tidak memberi manfaat apapun bagi hidup manusia?

    Hanya orang tipe freemasonries, atau atheis yang tidak percaya hubungan antara dosa-dosa manusia dengan bencana yang terjadi di sekitarnya.

    Jalur Kosmologis

    Gunung Merapi berada di jalur kosmologis penting dalam kultur Jawa. Gunung api aktif itu berada dalam satu poros Utara-Selatan Keraton Yogyakarta dan Laut Selatan atau Samudera Hindia. Hubungan magis dan historis Gunung Merapi dengan Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

    Gunung Merapi dipercaya sebagai pusatnya kerajaan mahluk ghaib di Tanah Jawa. Penempatan Juru Kunci dipercaya sebagai perutusan untuk menjaga harmoni hubungan antara kerajaan ghaib dan kerajaan manusia (Jawa). Antara manusia dan alam semesta.

    Secara periodik, sang juru kunci memimpin upacara adat atau ritual tradisional di puncak atau lereng Merapi. Ritual itu biasanya diadakan bersamaan dengan peringatan pengukuhan Sultan Yogyakarta.

    Bagi Keraton Yogyakarta, Merapi menjadi simbol kosmologis yang membentuk poros sakral Utara-Selatan. Puncak Merapi sebagai poros Utara yang kemudian ke Laut Selatan melintasi Monumen Tugu, terus sepanjang Jalan Mangkubumi dan Jalan Malioboro.

    Dengan titik poros adalah Sinuwun KanjĂȘng Sultan NgayogyĂ„kartĂ„ Hadiningrat, dan yang jumĂȘnĂȘng sekarang adalah:

    NgarsĂ„ DalĂȘm. SampĂ©yan DalĂȘm Ingkang Sinuwun KanjĂȘng Sultan HamĂȘngku BuwĂ„nĂ„, SĂ©nopati Ing NgalĂ„gĂ„ Ngabdulrahman Sayidin PanĂ„tĂ„gĂ„mĂ„, Kalifatullah Ingkang JumĂȘnĂȘng Kaping SadĂ„sĂ„ ing NgayogyĂ„kartĂ„ Hadiningrat.

    Makna titik poros adalah:
    Hamangku,
    HamĂȘngku, dan
    HamĂȘngkoni.
    Hamangku berarti lebih banyak memberi daripada menerima. HamĂȘngku punya makna ngĂȘmong, mengayomi, dan HamĂȘngkoni yang berarti memberikan keteladanan.

    Dari jalan yang tersohor itu, garis kosmik Poros Utara-Selatan itu membentang ke Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta menuju Alun-Alun Selatan. Selanjutnya, garis itu melintas ke Bantul sebelum akhirnya menuju Laut Selatan yang dalam masyarakat Jawa diyakini di bawah kekuasaan Nyi Roro Kidul. Konon, penguasa Laut Kidul itu menjadi ‘garwÄ’ setiap Sultan Yogyakarta.

    Tafsir apa tentang fenomena bencana ini

    Ada banyak tafsiran pendapat tentang fenomena ini. Bagi sebagian agamawan dan pemeluknya menyebut Negara ini sedang mendapat musibah. Tapi ada juga yang berpendapat bangsa ini sedang dilaknat karena tidak mengindahkan aturan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Disamping itu juga ada pandangan mistis yang mengatakan ini karena ada makhluk penunggu Merapi yang sakit hati lalu bikin ontran-ontran. Yang menganggap ini sebagai fenomena biasa, alias tidak istimewa juga ada.

    Yang berpendapat mistik berkeyakinan mahluk dunia lain itu begitu kuasa dan tidak senang, tidak puas dan merasa dikecewakan dengan beberapa hal yang dilakukan oleh manusia. Yang berpikir ini laknat mungkin dihubungkan dengan aneka kejahatan yang dilakukan oleh manusia yang dari hari ke hari makin memuakkan saja, sejak korupsi hingga perzinahan.

    Yang menyebut musibah karena yang terkena adalah orang-orang baik dan patuh pada Junjungannya. Sementara yang golongan saintis-skeptis menganggap dingin, fenomena biasa, siklus alam yang tidak perlu dibesar-besarkan.

    Tentu akan panjang dan lama untuk membuat kesepakatan dari perbedaan-perbedaan pendapat itu. Satu hal yang bisa dikatakan mustahil. Karena semua itu memiliki landasan berpikir sendiri. Ada keyakinan yang melandasi.

    Kita juga tidak perlu pusing-pusing untuk mencari penjelasan apa yang salah, siapa yang bisa disalahkan, jika itu hanya membuat kita semakin tidak bergerak, apalagi malah marah-marah, makin tidak menyelesaikan masalah. Yang jelas kejadian itu menimbulkan masalah. Maka fokus utama adalah menyelesaikan masalah itu. Perkara yang lain-lain itu bisa diurus nanti.

    Dalam keyakinan atau ideologi selalu ada ruang perdebatan jika berhadapan dengan keyakinan dan ideologi yang lain. Akan tetapi ketika menyentuh hati maka segala perbedaan itu menjadi tidak berarti. Semua akan bergerak sesuai dengan hukum alam. Yang lebih mengalir ke yang kurang. Yang tinggi menurun ke yang rendah. Yang longgar memberi kepada yang sempit. Dititik hati itulah setiap kejadian entah yang kita sebut musibah, laknat, atau amarah mahluk antah barantah, luluh dan berkata, “Apa yang bisa kita berikan? Apa yang bisa kita lakukan?”

    Maka setiap orang bisa berpendapat. Setiap bisa menyatakan pikiran-pikiran mereka tapi hati harus tetap menyala. Dan bukti dari hati yang masih menyala adalah ketika seseorang itu tergerak untuk menjawab masalah yang ada dihadapan. Mengurangi beban mereka yang sedang kesusahan. Lebih-lebih jika dapat menghilangkannya sama sekali dari muka bumi.

    Seiring dengan berbagai bencana, kali ini tembang kematian yang lainmenggema di Nusantara, di antara gunung pegunungan, perbukitan, lembah, ngarai, pantai dan lautan, di tengah-tengah kota yang hingar-bingar, dusun yang telah sunyi, di kantor-kantor, di pemukiman perumahan, di tengah-tengah pasar, bahkan di gedung-gedung megah. Bukan Tembang Panjang Ilang bagi pendharmaan agung, tetapi tembang kematian, matinya hati nurani.

    remang-remang blencong memudar cahaya
    berayun pelahan dihembus sepoi bayu basah
    menyusuri jejak beribu langkah sang maha kala,
    di atas bara anglo tembikar yang retak,
    terpedih kemelun asap kemenyan,
    membubung membuka tabir purba.
    terhidu semerbak wangi tirta puspa lawan setanggi dupa
    ngambar arum mawar,
    katur Hyang Widhi
    tembangkan kidung agung
    tembang tlutur
    Sandya Kalaning Majapahit
    SirnĂ„ Ilang KĂȘrtaning Bhumi,

    //TirtÄ puspÄ lawan dupÄ/
    //KumĂȘlun ngambar arum mawar/
    //Katur Hyang KawÄsÄ/
    //Ratu-ratuning narĂȘndrĂ„/
    //Ninging nĂ„lĂ„, nanging rumĂȘgung nĂ„lĂ„ sru sumĂȘnyut/
    //Mugi sihing padukĂȘndrĂ„/
    //PasingĂ„ cahyĂ„ rahayu…….
    //Tembang Panjang Ilang//.

    Tembang Panjang Ilang adalah tembang kematian. Tembang yang dilantunkan pada upacara pendharmaan, ditembangkan secara bersama oleh para sisya yang terdiri dari pria dan wanita setengah baya yang mengenakan busana dan ikat kepala serba berwarna putih, Tembang yang diiringi tabuhan gamelan satu-satu lebih mirip dengungan serangga, menimbulkan suasana khidmat sekaligus mistis. Suara tembang yang ajĂȘg, berirama tlutur, mengalun tersendat.

    Tembang duka, tembang surupnya Sang Surya Majaphit.

    Kehancuran Kerajaan Majapahit, yang di sertai tumbuhnya negara-negara Islam di Bumi Nusantara, menyimpan banyak sekali fakta sejarah yang sangat menarik untuk diungkap kembali. Sebagai kerajaan Hindu terbesar di tanah Jawa, Majapahit bukan saja menjadi romantisme sejarah dari puncak kemajuan peradaban Hindu-Jawa, sudah menjadi bukti sejarah tentang pergulatan politik yang terjadi di tengah islamisasi pada masa peralihan.

    Keruntuhan Kerajaan Majapahit banyak mengantarkan suatu peradaban bagi orang Cina dalam proses islamisasi di Nusantara. Stigma yang kecenderungan para sejarawan dalam mengungkapkan bahwa kedatangan Islam di Indonesia lebih pada kecenderungan orang Arablah yang berjasa sebagai penyebar Islam, sehingga tidak pernah melirik, orang Cina pernah andil dalam membangun peradaban Islam.

    Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan agama Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat nusantara. Catatan sejarah dari China, Portugis, dan Italia mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan DĂȘmak BintĂ„rĂ„, antara tahun 1518 dan 1521 M.

    Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Ç, atau 1478 M. Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian, yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit, oleh Girindrawardhana.

    Teori peristiwa keruntuhan Majapahit yang berpusat di Mojokerto diyakini terjadi tahun 1478, sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa sering diceritakan dalam berbagai versi. Kenyataan sejarah kadang-kadang terlalu pahit untuk ditelan dan terlalu pedas dirasakan. Sejarah adalah kaca benggala yang memuat berbagai fakta yang pernah terjadi pada masa silam. Segala hal yang telah tergores dalam kaca sejarah tak lagi bisa terhapus. Orang yang tidak senang mungkin akan berusaha untuk menyelubungi atau melupakannya, tetapi tidak akan mampu melenyapkannya. Orang dapat membuat berbagai macam tafsir, tetapi fakta sejarah yang ditafsirkan tak akan berubah.

    Begitu pula sejarah keruntuhan Majapahit, yang diiringi pertumbuhan negara-negara Islam di Nusantara, menyimpan banyak sekali fakta sejarah yang menarik diungkit kembali. Sebagai kerajaan tertua di Jawa, Majapahit bukan cuma menjadi romantisme sejarah dari puncak kemajuan peradaban Hindu-Jawa, melainkan juga bukti sejarah tentang pergulatan politik yang terjadi di tengah Islamisasi pada masa peralihan menjelang dan sesudah keruntuhannya.

    Ada beberapa pendapat yang menjelaskan bagaimana Kerajaan Majaphit yang begitu besar akhirnya runtuh. Pendapat-pendapat tersebut kami uraikan sebagai berikut :

    1. Penyebaran Agama Islam

    Sebelum 1450, agama Islam telah memperoleh tempat berpijak di istana Majapahit di Jawa Timur. Van Leur memperkirakan hal ini ditolong oleh adanya disintegrasi budaya Brahma di India. Surabaya (Ampel) menjadi pusat belajar Islam dan dari sana para pengusaha Arab yang terkenal meluaskan kekuasaan mereka. Jatuhnya kerajaan Jawa yaitu kerajaan Majapahit pada tahun 1468 dikaitkan dengan intrik dalam keluarga raja karena fakta bahwa putra raja, Raden Patah masuk Islam.

    Tidak seperti pemimpin-pemimpin Hindu, para penyebar Islam mendorong kekuatan militer supaya memperkuat kesempatan-kesempatan mereka. Memang belum ditemukan adanya bukti bahwa adanya kekuatan tentara yang menyerbu Jawa dan memaksa orang untuk percaya, dan dipergunakannya kekerasan untuk membuat para penguasa menerima iman Muhammad. Baik di Jawa Timur maupun Jawa Barat.
    Ketika para bangsawan berganti keyakinan, maka rakyat akan ikut. Meskipun demikian, kita harus mengingat apa yang ditunjukkan Vlekke bahwa perang-perang keagamaan jarang terjadi di sepanjang sejarah Jawa.

    Kedatangan Islam ke Jawa di Leran Gresik, ditemukan batu bertahun 1082 M berhuruf Arab yang menceritakan bahwa telah meninggal seorang perempuan bernama Fatimah binti Maimun yang beragama Islam. [Lihat Dongeng Arkeologi & Antropologi Seri Penyebaran Islam di Nusantara: Muballighot dari Leran, pada Gandhok Dongeng Arkeologi & Antropologi.]

    Lalu disekitar tahun 1350 saat memuncaknya kebesaran Majapahit, di pelabuhan Tuban dan Gresik banyak kedatangan para pedagang Islam dari India dan dari kerajaan Samudra (Aceh Utara) yang juga awalnya merupakan bagian dari Majapahit, disamping para pedagang Majapahit yang berdagang ke Samudra. Juga menurut cerita, ada seorang putri Islam berjuluk Putri Cempa dan Putri Cina yang menjadi isteri salah satu raja Majapahit.

    Sangat toleransinya Majapahit terhadap Islam terlihat dari banyaknya makam Islam di desa TrÄlÄyÄ, dalam kota kerajaan, dengan angka tertua di batu nisan adalah tahun 1369 (saat Hayam Wuruk memerintah).

    Yang menarik, walau kuburan Islam tetapi bentuk batu nisannya seperti kurawal yang mengingatkan kala-makara, berangka tahun huruf Kawi, yang berarti bahwa di abad XIV Islam walau agama baru bagi Majapahit tetapi sebagai unsur kebudayaan telah diterima masyarakat. Diketahui pula bahwa para pendatang dari barat maupun orang-orang Tionghoa ternyata sebagian besar beragama Islam, yang terus berkembang dan mencapai puncaknya di abad XVI saat Kesultanan DĂȘmak BintĂ„rĂ„.

    Wali SÄngÄ

    Mereka yang dianggap sebagai penyiar terpenting yang sangat giat menyebarkan agama Islam diberi julukan Wali-Ullah dan di Jawa dikenal sebagai Wali SÄngÄ, yang merupakan dewan Dakwah/Mubaligh. Kelebihan mereka dibanding kepercayaan/agama penduduk lama adalah tentang kekuatan bathin yang lebih, ilmu yang tinggi dan tenaga gaib. Sehingga mereka lebih sering dihubungkan dengan tasawwuf serta sangat kurang dalam pengajaran fiqh ataupun qalam. Mereka tidak hanya berkuasa dalam agama, tapi juga dalam hal pemerintahan dan percaturan politik.

    Ingat bagaimana dua orang wali, yaitu Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus saling berebut pengaruh pada perebutan tahta DĂȘmak antara Arya Penangsang dan Sultan HadiwijĂ„yĂ„ (DjĂ„kĂ„ Tingkir) — Lihat selanjutnya Keris Kyai Carubuk dan Keris Kyai Brongot Setan Kober, pada gandhok Arkeologi dan Antropologi NSSI.

    Syeh Siti Jenar pun yang disebut-sebut wali serba kontraversial, dari mulai asal muasal yang muncul dengan berbagai versi, ajarannya yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam tapi sampai saat ini masih dibahas di berbagai lapisan masyarakat, masih ada pengikutnya, sampai dengan kematiannya yang masih dipertanyakan caranya termasuk dimana ia wafat dan dimakamkan. Sunan Tembayat atau adipati Pandanarang yang menggantikan Syeh Siti jenar yang wafat (bunuh diri atau dihukum mati).

    Pengaruhnya yang begitu besar terhadap para bangsawan Majapahit, yang tersingkir (atau disingkirkan) dari percaturan politik di akhir kejayaan Majapahit, salah satunya yang terkenal adalah Pangeran Handayaningrat — Ki KĂȘbo KĂȘnĂ„ngĂ„ atau Ki AgĂȘng PĂȘngging —

    2. Perang antara Majapahit dan DĂȘmak

    Pada umumnya, perang antara Majapahit dan DĂȘmak dalam naskah babad dan serat hanya terjadi sekali, yaitu tahun 1478. Perang ini terkenal sebagai Perang Sudarma Wisuta, artinya perang antara ayah melawan anak, yaitu Brawijaya melawan Raden Patah.

    Babad dan serat tidak mengisahkan lagi adanya perang antara Majapahit dan DĂȘmak sesudah tahun 1478. Padahal menurut catatan Portugis dan Kronik Cina Kuil Sam Po Kong, perang antara DĂȘmak melawan Majapahit terjadi lebih dari satu kali. Dikisahkan, pada tahun 1517 Pa-bu-ta-la bekerja sama dengan bangsa asing di Moa-lok-sa sehingga mengundang kemarahan Jin Bun. Yang dimaksud bangsa asing ini adalah orang-orang Portugis di Malaka. Jin Bun pun menyerang Majapahit. Pa-bu-ta-la kalah namun tetap diampuni mengingat istrinya adalah adik Jin Bun.

    Perang ini juga terdapat dalam catatan Portugis. Pasukan Majapahit dipimpin bupati Tuban bernama Pate Vira, seorang muslim. Selain itu Majapahit juga menyerang Giri Kedaton, sekutu DĂȘmak di Gresik. Namun, serangan ini gagal di mana panglimanya akhirnya masuk Islam dengan gelar Kyai Mutalim Jagalpati. Sepeninggal Raden Patah alias Jin Bun tahun 1518, DĂȘmak dipimpin putranya yang bernama Pangeran Sabrang Lor sampai tahun 1521. Selanjutnya yang naik takhta adalah Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ adik Pangeran Sabrang Lor.

    Menurut Kronik Cina, pergantian takhta ini dimanfaatkan oleh Pa-bu-ta-la untuk kembali bekerja sama dengan Portugis. Perang antara Majapahit dan DĂȘmak pun meletus kembali. Perang terjadi tahun 1524. Pasukan DĂȘmak dipimpin oleh Sunan Gudung, anggota Wali Sanga yang juga menjadi imam Masjid DĂȘmak. Dalam pertempuran ini Sunan Ngudung tewas di tangan Raden Kusen, adik tiri Raden Patah yang memihak Majapahit .

    Perang terakhir terjadi tahun 1527. Pasukan DĂȘmak dipimpin Sunan Kudus putra Sunan Ngudung, yang juga menggantikan kedudukan ayahnya dalam dewan Wali Sanga dan sebagai imam Masjid DĂȘmak. Dalam perang ini Majapahit mengalami kekalahan. Raden Kusen adipati Terung ditawan secara terhormat, mengingat ia juga mertua Sunan Kudus. Menurut kronik Cina, dalam perang tahun 1527 tersebut yang menjadi pemimpin pasukan DĂȘmak adalah putra Tung-ka-lo (ejaan Cina untuk Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„), yang bernama Toh A Bo.

    Dari berita di atas diketahui adanya dua tokoh muslim yang memihak Majapahit, yaitu Pate Vira dan Raden Kusen. Nama Vira mungkin ejaan Portugis untuk Wira. Raden Kusen adalah paman Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ penguasa DĂȘmak saat itu. Raden Kusen pernah belajar agama Islam pada Sunan Ampel, pemuka Wali Sanga. Dalam perang di atas, ia justru memihak Majapahit.

    Berita ini membuktikan kalau perang antara DĂȘmak melawan Majapahit bukanlah perang antara agama Islam melawan Hindhu sebagaimana yang sering dibayangkan orang, melainkan perang yang dilandasi kepentingan politik antara Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ melawan Ranawijaya demi memperebutkan kekuasaan atas Pulau Jawa.

    Menurut Kronik Cina, Pa-bu-ta-la meninggal dunia tahun 1527 sebelum pasukan DĂȘmak merebut istana. Peristiwa kekalahan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya ini menandai berakhirnya riwayat Kerajaan Majapahit. Para pengikutnya yang menolak kekuasaan DĂȘmak memilih pindah ke Pulau Bali.

    3. Serbuan Keling pimpinan Girindrawardhana

    Prasasti Petak dan Trailokyapuri menerangkan, raja Majapahit terakhir adalah Dyah Suraprahawa, Majapahit runtuh akibat serangan tentara Keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi, sesuai Pararaton. Sejak itu Majapahit telah tidak ada lagi. Dengan demikian tak mungkin Majapahit runtuh karena serbuan DĂȘmak. Sumber sejarah Portugis tulisan Tome Pires juga menyebutkan bahwa Kesultanan DĂȘmak sudah berdiri di jaman pemerintahan Girindrawardhana di Keling.

    Saat itu Tuban, Gresik, Surabaya dan Madura serta beberapa kota lain dipesisir utara Jawa berada dalam wilayah kerajaan Kadiri, sehingga tidak mungkin seperti diceritakan dalam Babad Jawa, Raden Patah mengumpulkan para bupati itu untuk menggempur Majapahit. Penggubah Babad Tanah Jawi tampaknya mencampur adukkan antara pembentukan Kesultanan DĂȘmak pada tahun 1478 dengan runtuhnya Kadiri oleh serbuan DĂȘmak di jaman pemerintahan Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ 1527.

    Penyerbuan Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ ini dilakukan karena Kadiri mengadakan hubungan dengan Portugis di Malaka seperti yang dilaporkan Tome Pires. DĂȘmak yang memang memusuhi Portugis hingga menggempurnya ke Malaka tidak rela Kadiri menjalin hubungan dengan bangsa penjajah itu.

    Setelah Kadiri jatuh (Bukan Majapahit !) diserang DĂȘmak, bukan lari kepulau Bali seperti disebutkan dalam uraian Serat Kanda, melainkan ke Panarukan, Situbondo setelah dari Sengguruh, Malang. Bisa saja sebagian lari ke Bali sehingga sampai sekarang penduduk Bali berkebudayaaan Hindu, tetapi itu bukan pelarian raja terakhir Majapahit seperti disebutkan Babad itu. Lebih jelasnya lagi raden Patah bukanlah putra Raja Majapahit terakhir seperti disebutkan dalam Buku Babad dan Serat Kanda itu.

    Sejarawan Mr. Moh. Yamin dalam bukunya “Gajah Mada” juga menyebutkan bahwa runtuhnya Majapahit, ketika Brawijaya V raja Majapahit terakhir memerintah, akibat serangan Ranawijaya dari kerajaan Keling, jadi bukan serangan dari DĂȘmak. Uraian tentang keterlibatan Mahapatih Gajah Mada memimpin pasukan Majapahit ketika diserang DĂȘmak 1478 itu sudah bertentangan dengan sejarah. Gajah Mada sudah meninggal tahun 1364 M atau 1286 Ç.

    Penuturan buku “Dari Panggung Sejarah” terjemahan IP Simanjuntak yang bersumber dari tulisan H.J. Van Den Berg ternyata juga runtuhnya Majapahit bukan akibat serangan DĂȘmak atau tentara Islam. Ma Huan, penulis Tionghoa Muslim, dalam bukunya “Ying Yai Sheng Lan” menyebutkan, ketika mendatangi Majapahit tahun 1413 M sudah menyebutkan masyarakat Islam yang bermukim di Majapahit berasal dari Gujarat dan Malaka. Disebutkannya, tahun 1400 M saudagar Islam dari Gujarat dan Parsi sudah bermukim di pantai utara Jawa.

    Salah satunya adalah Maulana Malik Ibrahim yang dimakamkan di Pasarean Gapura Wetan Kab. Gresik dengan angka tahun 12 Rabi’ul Awwal 882 H atau 8 April 1419 M, berarti pada jaman pemerintahan Wikramawardhana (1389-1429) yaitu Raja Majapahit IV setelah Hayam Wuruk. Batu nisan yang berpahat kaligrafi Arab itu asli bukan buatan baru. Salah satu bukti bahwa sejak jaman Majapahit sudah ada pemukiman Muslim di ibu kota, adalah situs Kuna Makam Troloyo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Makam-makam Islam disitus Troloyo Desa Sentonorejo itu beragam angka tahunnya, mulai dari tahun 1369 (abad XIV M) hingga tahun 1611 (abad XVII M).

    Nisan-nisan makam petilasan di Troloyo ini penuh tulisan Arab hingga mirip prasati. Lafalnya diambil dari bacaan Doa, kalimah Thoyibah dan petikan ayat-ayat Al Qur’an dengan bentuk huruf sedikit kaku. Tampaknya pembuatnya seorang mualaf dalam Islam. Isinya pun bukan bersifat data kelahiran dan kematian tokoh yang dimakamkan, melainkan lebih banyak bersifat dakwah antara lain kutipan Surat Ar Rahman ayat 26-27.

    P.J. Veth adalah sarjana Belanda yang pertama kali meneliti dan menulis makam Troloyo dalam buku Java II tahun 1873. L.C. Damais peneliti dari Prancis yang mengikutinya menyebutkan angka tahun pada nisan mulai abad XIV hingga XVI.
    Penjelasan yang diperoleh dari Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Trowulan mengatakan, nisan-nisan itu membuktikan ketika kerajaan Majapahit masih berdiri, orang-orang Islam sudah bermukim secara damai disekitar ibu kota. Tampak jelas disini agama Islam masuk ke bumi Majapahit penuh kedamaian dan toleransi.

    Satu situs kepurbakalaan lagi di kecamatan Trowulan yakni di Desa dan kecamatan Trowulan adalah Makam Putri Cempa. Menurut Babad Tanah Jawi, Putri Cempa (Jeumpa, Aceh [?]) adalah istri Prabu Brawijaya yang beragama Islam. Dua nisan yang ditemukan dikompleks makam kuno ini berangka tahun 1370 Ç (1448 M) dan 1313 Ç (1391 M). Dalam legenda rakyat disebutkan dengan memperistri Putri Cempa itu, sang Prabu sebenarnya sudah memeluk agama Islam. Ketika wafat ia dimakamkan secara Islam di makam panjang (Kubur DĂ„wĂ„).

    Pintu Gerbang ini merupakan peninggalan kerajaan Majapahit yang diangkat oleh Kebonyabrang sebagai persyaratan untuk diakui sebagai Putra Sunan Muria, namun setelah sampai di Desa Rondole, Kebonyabrang tidak kuat melanjutkan perjalanan. Akhirnya Sunan Muria memerintahkan bahwa perjalanan tidak usah diteruskan dan Kebonyabrang disuruh menunggu pintu gerbang tersebut sampai meniggal dunia lokasi Desa Muktiharjo Kec Margorejo, sejauh 4 km dari kota Pati Dusun Unggah-unggahan jarak 300 meter dari makam Putri Cempa bangsawan Islam itu. Dari fakta dan situs sejarah itu, tampak bukti otentik tentang betapa tidak benarnya bahwa Islam dikembangkan dengan peperangan.

    Justru beberapa situs kesejarahan lain membuktikan Islam sangat toleran terhadap agama lain (termasuk Hindu) saat Islam sudah berkembang pesat ditanah Jawa. Dikompleks Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur misalnya, berdiri tegak Candi Siwa Budha dengan angka tahun 1400 Ç (1478 M) yang kini letaknya berada dibelakang Kantor Pemda Tuban. Padahal, saat itu sudah berdiri pondok pesantren asuhan Sunan Bonang. Pondok Pesantren dan candi yang berdekatan letaknya ini dilestarikan dalam sebuah maket kecil dari kayu tua yang kini tersimpan di Museum Kambang Putih, Tuban.

    Di Kudus, Jawa Tengah, ketika Sunan Kudus Ja’far Sodiq menyebarkan ajaran Islam di sana, ia melarang umat Islam menyembelih sapi untuk dimakan. Walau daging sapi halal menurut Islam tetapi dilarang menyembelihnya untuk menghormati kepercayaan umat Hindu yang memuliakan sapi. Untuk menunjukkan rasa toleransinya kepada umat Hindu, Sunan Kudus menambatkan sapi dihalaman masjid yang tempatnya masih dilestarikan sampai sekarang. Bahkan menara Masjid Kudus dibangun dengan gaya arsitektur candi Hindu.

    ÄnÄ tjandhaké

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur nuwun ki BAYUAJI,

    • Matur sembah nuwun dongengipun Ki Bayuaji, kulo tenggo candakipun.

    • Matur nuwun Ki Bayuaji, ………… ada baiknya tulisan Ki Bayu ini di publish ke media untuk membantah pandangan miring selama ini bahwa runtuhnya majapahit karena perang dengan perintis agama islam di Jawa.

    • Matur nuwun Ki Bayu,
      setya tuhu ngrantos candak’ipun.

      Kalau nenek moyang kita saja bisa berbagi tempat dan toleransi dalam hal keimanan, kita harusnya lebih bisa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: