JDBK-36

<< kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 29 Oktober 2011 at 00:01  Comments (23)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jdbk-36/trackback/

RSS feed for comments on this post.

23 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sugeng dalu Pak Satpam.

    • Pak Satpam Sugeng dalu

      • Dalu, pak Satpam Sugeng.

  2. JDBK DJVU : sudah tersedia di sini.
    JDBK Teks : sudah tersedia di sini.

    MATUR NUWUN, TERIMA KASIH….TENGYU

    • Rawon : tersedia d isana
      Pecel : tersedia di sana
      Ronde : tersedia di sana

      matur nuwun, terima kasih……tengyu.

      • pesen Rawon…..di sana
        pesen Pecel…….di sini
        pesen Ronde…..di sana sini

        matur nuwun, pesanan anda belom tersedia semua

  3. PAGI…sambang padepokan di hari MINGGU (tanpa BOLD ato ITALIC)

  4. Nuwun

    Sugêng dalu

    Pada wedaran sebelumnya (On 18 Oktober 2011 at 23:00 cantrik bayuaji said:JdBK 32) telah didongengkan bahwa runtuhnya Kerajaan Majapahit menurut Sêrat Darmågandhul akibat serangan Kesultanan Dêmak Bintårå.

    Raden Patah, Sultan Dêmak Bintårå, dikisahkan sebagai anak durhaka yang tega memberontak kepada ayahnya, Prabu Brawijaya

    Benarkah?

    Hingga sejauh mana kebenaran Sêrat Darmågandhul dapat disebut sebagai sumber sejarah runtuhnya Kerajaan Majapahit.

    Kita ikuti dongengnya berikut ini.

    Sumånggå,

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  5. Nuwun,

    Sugêng dalu

    Mugi pnaringå karahayon ing dintên punikå. Tinêbihnå ing sambékålå. Aamin.

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-51.Tenggelamnya Surya Majapahit. [Parwa ka-03] On 18 Oktober 2011 at 23:00 JdBk 32

    Waosan kaping-52
    TENGGELAMNYA SANG SURYA MAJAPAHIT [Parwa ke-04]

    BÊDHAH SÊRAT DARMÅGANDHUL, JÅNGKÅ JÅYÅBÅYÅ SABDÅPALON NÅYÅGÉNGGONG dan SEJARAH RUNTUHNYA KERAJAAN MAJAPAHIT

    I. Pambukå:
    1. Kapan Serat Darmågandhul ditulis;
    2. Siapa penulisnya;
    3. Mengapa ada persinggungan persoalan antara agama Budha dan agama Islam.

    II. Sêrat Darmågandhul, Jångkå Jåyåbåyå Sabdåpalon Nåyågénggong, sumber sejarah tradisi yang kontroversial:
    1. Pendahuluan;
    2. Nagårå Mådjålêngka;
    3. Agåmå Kawruh, Agåmå Budi;
    4. Wit kawruh;
    5. Bêdhil, mimis. Senapan api;
    6. Harkat dan martabat serta ‘ketinggian’ pengetahuan dan budi ditentukan oleh banyaknya jumlah aksara dari masing-masing negeri atau etnis;
    7. Mekah, Muhammad Rasulullah SAW, Baitullah, premis dan penyimpulan yang salah;
    8. Ka’bah;
    9. Butå Locåyå dan Wali Sångå;
    10. Hyang Latawalhujwa.
    I
    II. Sejarah Runtuhnya Kerajaan Majapahit.

    IV. Penutup.

    I. Pambukå

    Membaca “berita sejarah” apapun bentuknya, hendaknya bersikap kritis, tetapi harus dibarengi dengan nalar yang wêning, berfikir secara jernih, dan tidak mudah terprovokasi di dalam menyikapinya.

    Kita telah mengetahui, betapa banyak jejak sejarah bangsa ini yang diselewengkan oleh pihak-pihak tertentu, dengan segala cara untuk tujuan-tujuan tertentu, mengikuti kemauan dan kepentingan kelompok tertentu pula. Sekelompok orang dengan maksud tertentu telah “menciptakan” sejarah untuk kepentingannya.

    Sekedar contoh, dalam berita sejarah yang ditulis ke dalam buku-buku Sejarah Nasional Indonesia yang terbit di awal-awal Pemerintahan Orde Baru, disebutkan bahwa Ir Soekarno, Proklamator Kemerdekaan Indonesia, dilahirkan di Blitar, padahal kenyataannya beliau lahir di Surabaya. Entah dengan maksud apa penulis Sejarah Nasional Indonesia di masa itu memalsukan tempat kelahiran beliau.

    Contoh lainnya:

    Berapa ribu rakyat Sulawesi Selatan yang menjadi korban keganasan tentara Belanda dalam peristiwa Pembantaian Westerling semasa Perang Kemerdekaan pada akhir tahun 1946 hingga awal tahun 1947? Hingga kini tidak jelas.

    Tahun 1947, delegasi Republik Indonesia menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB, korban pembantaian terhadap penduduk, yang dilakukan oleh Kapten Raymond Westerling sejak bulan Desember 1946 sd Februari 1947 di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 jiwa.

    Pemeriksaan Pemerintah Belanda tahun 1969 memperkirakan sekitar 3.000 orang Sulawesi tewas dibantai oleh Pasukan Khusus pimpinan Westerling, sedangkan Westerling sendiri mengatakan, bahwa korban akibat aksi yang dilakukan oleh pasukannya “hanya” 600 orang, dan disebutnya mereka itu adalah para kaum ekstrimis pemberontak, bukan penduduk sipil.
    Mana yang benar?

    Kemudian peristiwa maut di Galung Lombok yang terjadi pada tanggal 2 Februari 1947, tokoh-tokoh kemerdekaan putra-putra daerah Galung Lombok dan sekian ribu penduduk sipilnya, gugur ditusuk bayonet pasukan tentara pimpinan Kapten Raymond Westerling, yang pada hari tuanya Westerling disebut-sebut sebagai pahlawan bagi bangsanya.

    Adakah sejarah telah ditulis dengan benar? Benar, menurut siapa?

    Dan bagaimana pula peristiwa Pembantaian Rawagade? Hari itu 9 Desember 1947, tentara Belanda diberitakan oleh berita kolonial “hanya” membantai 431 penduduk Rawagede. Tanpa ada pengadilan, tuntutan ataupun pembelaan. Seperti di Sulawesi Selatan.

    Tentara Belanda di Rawagede juga melakukan eksekusi di tempat (standrechtelijke excecuties), sebuah tindakan biadab, yang jelas merupakan kejahatan perang.

    Diperkirakan korban pembantaian lebih 431 jiwa, karena banyak yang hanyut dibawa sungai yang banjir karena hujan deras.
    Bagaimana kebenaran sejarahnya?

    Demikian juga halnya dokumen Surat Perintah 11 Maret yang dikenal dengan Supersemar, sebagai dokumen sejarah yang mempunyai andil di dalam perjalanan kehidupan negara dan bangsa Indonesia ini, yang diragukan keberadaannya oleh beberapa pihak.

    Dan masih banyak untaian sejarah Nusantara ini yang “gelap” atau sengaja digelapkan.

    Sejarah keruntuhan Majapahit pun tidak lepas dari kepentingan-kepentingan kelompok-kelompok tertentu yang mempunyai kepentingan tertentu pula. Sêrat Darmågandhul adalah contohnya. Dengan membawa misi tertentu yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu telah memutar-balikkan sejarah, bahkan sangat tendensius.

    Hingga sejauh mana kebenaran Sêrat Darmågandhul dapat disebut sebagai sumber sejarah runtuhnya Kerajaan Majapahit.

    Bêdhah Sêrat Darmågandhul berikut ini diwedar seobjektif mungkin, terbuka, terlebih mengenai hal-hal yang bersinggungan dengan persoalan agama-agama. Tidak ada maksud untuk menempatkan agama tertentu yang satu sebagai ‘tertuduh’, di satu sisi dan melebih-lebihkan agama tertentu di sisi yang lain.

    Jika ada kebersinggungan atas suatu agama, hal itu lebih banyak dikarenakan kepada sikap dan perilaku oknum, yang menggunakan “agamanya” sebagai kedok untuk kepentingan politiknya, khususnya kepentingan politik penjajah Belanda.

    Bêdhah Sêrat Darmågandhul berikut ini semata-mata bersandarkan dan mengikuti kaidah-kaidah tradisi keilmuan sejarah, dengan menggunakan pisau analisis yang lazim digunakan untuk membêdhah suatu berita sejarah.

    Catatan: Sêrat Darmågandhul yang dijadikan acuan pada wedaran ini bersumber dari:
    Gantjaran båså Djåwå ngoko; Babon asli tinggalané KRT Tåndhånagårå, Suråkartå;
    Tjap-tjapan ingkang kaping sêkawan, 1959; Toko Buku “Sadu-Budi” Sålå
    (yang menggunakan dua ejaan lama dan baru.)

    1. Kapan Sêrat Darmågandhul ditulis?

    Pada kalimat terakhir Bêbukå (Kata Pengantar) Sêrat Darmågandhul, dapat dibaca:

    Sêrat Darmågandhul panitrånirå nudju, ping trilikur ri Tumpak Manis, Ruwah Djé warsånirå, Santjåjå kang windu, måså Nêm ringkêlnja Arjang, wuku Wukir sângkålånirå ing warsi: wuk gunå ngêsthi nåtå.

    [Sêrat Darmågandhul ditulis pada hari Tumpak Manis (Sabtu Legi) tanggal trilikur (23) bulan Ruwah Je (Ruwah), tahun wuk (0) guna (3) ngesthi (8) nata (1) atau 1830 Tahun Jawa atau tepat 16 Desember 1900 M.]

    2. Siapa penulisnya?

    Identitas pengarangnya masih misterius, meski sejumlah penulis telah berusaha merumuskan sejumlah teori. Misalnya, M.H. Soewarno menulis bahwa pengarang Sêrat Darmågandhul adalah Rånggåwarsitå, pujangga Keraton Suråkartå. Teori ini dengan mudah terbantahkan, sebab Rånggåwarsitå telah wafat pada 24 Desember 1873 M.

    Philip Van Akheren, akademisi Belanda, menyatakan pengarangnya adalah seorang Kristen bernama Kyai Tunggul Wulung atau dikenal dengan nama baptis Kyai Ibrahim Tunggul Wulung. Teori ini menjelaskan adanya pengaruh Kristen dalam Sêrat Darmågandhul.

    Namun nama Kyai Ibrahim Tunggul Wulung belum sepenuhnya bisa dianggap akurat. Kyai Tunggul Wulung yang nama aslinya adalah Ngabdullah, mudah diduga bahwa di masa kecilnya hidup di lingkungan para penganut Islam, setidaknya orang-tuanya mendapatkan pengaruh ajaran Islam. Beliau lahir di Jepara dikenal cukup menghormati Islam.

    Beliau memadukan inti ajaran Budha, Hindu, Islam dan Kejawen dalam balutan Kristen dengan nama “Kristên Jåwå”.
    Kekristenan beliau ditolak oleh para misionaris Kristen terutama para misionaris Belanda, karena ajarannya diduga keras merupakan sinkretistis praktek kebatinan, dan bersikap “nasionalis.”

    Semangat pembebasan Kyai Tunggul Wulung terwujud dalam bentuk pengharapan datangnya mesianis Ratu Adil. Beliau memiliki keyakinan bahwa “Muhammad dihormati dalam Injil”. Sedangkan Sêrat Darmågandhul justru menampilkan kesan melecehkan Islam, termasuk Nabi Muhammad.

    Identitas penulis Sêrat Darmågandhul adalah orang yang setidaknya mempelajari kekristenan. Jika bukan maka setidaknya penulis sêrat tersebut adalah penghayat sinkretisme agama atau bahkan seorang ‘perenialis pilih kasih” sebab menganggap semua agama sama baiknya, kecuali Islam. Namun demikian identitas penulis Sêrat Darmågandhul sebagai seorang yang terjangkiti Islamophobia sukar dibantah.

    Semula diduga bahwa penulis Sêrat Darmågandhul adalah penganut agama Budha, tetapi hal ini dengan mudah dibantah, sebab dia telah gagal menjelaskan beberapa doktrin mendasar dalam ajaran Budha. Salah satu contohnya penulis Sêrat Darmågandhul mengadopsi konsep kedewaan, yang justru ada dalam doktrin agama Hindhu.

    Selain identitas penulisnya yang tidak jelas dan akan berpengaruh terhadap kesahihan sumber dan otoritas pengarangnya, maka sebagai referensi karya ilmiah, kitab ini memiliki problem.

    Dapat diketahui bahwa hampir seluruh isi Sêrat Darmågandhul merupakan bentuk turunan dari cerita babad yang telah ada sebelumnya. Kitab yang dimaksud adalah Sêrat Babad Kadhiri yang ditulis pada tahun 1832 M oleh M. Ng. Poerbawidjaja dan M. Ng. Mangoenwidjaja.

    G.W.J. Drewes, seorang orientalis Belanda, mengungkapkan bahwa Babad Kadhiri menyediakan tema utama dan ide bagi penulisan Sêrat Darmågandhul. Hampir seluruh cerita yang ada dalam Sêrat Babad Kadhiri dapat dijumpai dalam Sêrat Darmågandhul.

    Demikian juga tokoh cerita seperti Butå Locåyå, Kyai Combré, Sabdåpalon, Raden Patah, Sunan Bénang (Sunan Bonang), dan lain sebagainya. Tokoh Ki Darmågandhul dalam Sêrat Darmågandhul kuat dugaan diinspirasi oleh tokoh Ki Darmåkåndå dari Sêrat Babad Kadhiri.

    Meski demikian cerita-cerita Kristen yang terdapat dalam Sêrat Darmågandhul, tidak terdapat dalam Babad Kadhiri. Drewes mengungkapkan bahwa pengarang Sêrat Darmågandhul telah memoles karyanya agar tidak spesifik sama dengan kitab induk yang menginspirasinya.

    Jadi, pemikiran dan misi pengkristenan dalam Sêrat Darmågandhul adalah murni pemikiran dari pengarangnya yang telah terpengaruh ajaran Kristen.

    Dari sisi metodologi penulisan, Sêrat Darmågandhul sebagai karya derivatif dari Babad Kadhiri yang tidak dapat digunakan sebagai sumber sejarah. Penyebabnya, Babad Kadhiri tidak dapat dikatakan murni sebagai sumber tradisi yang didasarkan kepada tradisi lesan.

    Mangoenwidjaja, salah satu pengarang babad ini, mengakui bahwa karyanya merupakan cerita pedalangan yang bersifat fiktif dan berbeda dengan sumber lainnya.

    Pengarang Babad Kadhiri juga menyatakan bahwa karyanya dibuat berdasarkan perintah dari pejabat Belanda. Ide penulisannya diambil dari hasil ritual pemanggilan makhluk halus.

    Pengarang menyebutkan bahwa melalui sebuah ritual tertentu maka jin bernama “Kyai” Butå Locåyå dipanggil untuk masuk ke tubuh seorang medium, setelah medium “kerasukan” lalu di”wawancarai”, dan hasilnya dicatat dalam narasi yang kemudian dikenal sebagai Sêrat Babad Kadhiri.

    Produk dari cara penulisan demikian, jelas sulit diterima sebagai bentuk referensi sejarah. Sedangkan Sêrat Darmågandhul banyak mengadopsi substansi dari bacaan sumbernya, Babad Kadhiri. Maka Sêrat Darmågandhul tidak seharusnya digunakan sebagai rujukan, sebab akurasi dan otoritasnya sulit diverifikasi.

    Mencermati bahwa Sêrat Babad Kadhiri merupakan produk dari proyek penjajah, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Sêrat Darmågandhul adalah kelanjutan langkah Belanda dalam menjinakkan perlawanan Islam.

    Pada sekitar 1900-an politik Belanda banyak diarahkan untuk mengantisipasi kekuatan Islam yang dianggap berbahaya bagi pemerintah kolonial.

    Kebijakannya dilakukan dengan kristenisasi dan pemunculan apa yang disebut sebagai “kaum adat”. Kebijakan politik Belanda pasca 1850-an bukan sekedar bermotif ekonomi, beberapa kasus menunjukkan bahwa imperialisme Belanda adalah manifestasi idealisme yang bersifat politik dengan kedok agama.

    Jadi, substansi Sêrat Darmågandhul lahir dan sejalan dengan kepentingan kolonialis. Penyusunan isinya yang problematik membuktikan bahwa kitab ini tidak dapat dijadikan sebagai sumber rujukan, termasuk dalam menjelaskan keruntuhan Majapahit.

    Sêrat Darmågandhul membuktikan, bahwa bahwa kolonialisme dan orientalisme adalah dua sisi berbeda dari mata uang yang sama.

    Dalam beberapa tempat, penulis Sêrat Darmågandhul nampaknya lebih banyak menggambarkan isi doktrin kekristenan dibandingkan ajaran Islam dan Budha.

    Sepenggal kalimat “Aulija Walåndå” (maksudnya pemuka agama — Kristen — Belanda), menunjukkan bahwa penulis Sêrat Darmågandhul sangat mengagung-agungkan bangsa Belanda.

    Kekaguman penulis Sêrat Darmågandhul pada “Aulija Walåndå”, menunjukkan bahwa sang penulis adalah kaki-tangan Belanda, dengan berkedok agama Kristen, bekerja untuk kepentingan penjajah Belanda.

    Apakah istilah Walåndå sudah dikenal di masa akhir Majapahit?

    Bagaimana mungkin penulis Sêrat Darmågandhul mengetahui bahwa pada masa keruntuhan Majapahit yang diyakni terjadi pasa tahun 1478M, bangsa Walåndå sudah ada di bumi Nusantara.

    Sedangkan Sejarah Kebangsaan Indonesia mencatat bahwa bangsa Belanda dengan VOCnya mulai menancapkan pengaruhnya baru pada tahun 1600an. Duaratus tahun setelah keruntuhan Majapahit.

    3. Mengapa ada persinggungan persoalan antara agama Budha dan agama Islam?

    Penulis Sêrat Darmågandhul mengawali tulisannya dengan pertanyaan: Bagaimana asal-muasalnya orang Jawa meninggalkan agama Budha berganti agama Rasul (Islam). Ditunjukkannya pada halaman paling depan Serat Darmagandhul dengan kalimat pembuka:

    Tjaritå adégé nagårå Islam ing Dêmak, bêdhahé nagårå Mådjåpahit kang saluguné wiwité wong Djåwå ninggal agåmå Buddhå bandjur salin agåmå Islam.

    dan dipertegas lagi dengan kalimat:

    Ing sawidjining dinå Sêrat Darmågandhul matur marang Kalamwadi mangkéné “Mau-maune kêprijé déné wong Djåwå kok bandjur pådhå ninggal agåmå Buddhå salin agåmå Islam?”
    Wangsulane Ki Kalamwadi: “Aku dhewe ijå ora pati ngrêti, nanging aku tau dikandhani guruku, ing mangkå guruku kuwi ija kênå dipratjåjå, njaritakake purwane wong Djåwå pådhå ninggal agåmå Buddhå bandjur salin agama Rasul”.

    Selanjutnya pada ‘bab’ demi ‘bab’ lain Sêrat Darmågandhul, melalui tokoh-tokohnya, Sang Guru Kyai Kalamwadi dan muridnya Sêrat Darmågandhul, penulis Sêrat Darmågandhul tampak sekali ingin menunjukkan kepada pembaca, bahwa dia seakan-akan telah sangat memahami ajaran-ajaran agama Islam.

    Sang Guru Kalamwadi dengan yakinnya menjléntrèhkan Islam kepada muridnya Sêrat Darmågandhul, namun yang disampaikan adalah sangat nylênèh.

    Penuh dengan hujatan dan penghinaan, bahkan di sana-sini diberi penekanan betapa sang penulis Sêrat Darmågandhul sangat membenci sekaligus takut terhadap agama Islam.

    *********

    II. Sêrat Darmågandhul, Jångkå Jåyåbåyå Sabdåpalon Nåyågénggong, sumber sejarah tradisi yang kontroversial

    1. Pendahuluan

    Sêrat Darmågandhul (sering ditulis dengan Kitab/Sêrat Darmo Gandul atau Darma Gandhul atau Darmo Gandhul) merupakan sebuah bacaan yang mengundang kontroversial.

    Sêrat Darmågandhul merupakan bacaan yang cukup dikenal dalam kesusasteraan Jawa. Tidak sedikit yang menggunakannya sebagai bahan studi sejarah, terutama terkait keruntuhan Majapahit.

    Sêrat Darmågandhul menggambarkan, Majapahit runtuh akibat serangan Dêmak Bintårå. Raden Patah, Sultan Dêmak Bintårå, dikisahkan sebagai anak durhaka yang tega memberontak kepada ayahnya, Prabu Brawijaya, dan Wali Sångå para penyebar agama Islam, digambarkan sebagai manusia-manusia jahat yang tidak tahu balas budi, sehingga diplesetkan sebagai “walikan” (kebalikan), maksudnya bahwa kebaikan Sang Prabu Brawijaya dibalas dengan walikannya yaitu kejahatan para Sunan (Wali Sångå).

    Sêrat Darmågandhul yang tidak jelas penulisnya dan dipenuhi dengan berbagai ejekan terhadap Islam ini ternyata banyak dijadikan rujukan dalam penulisan sejarah di Indonesia. Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto (ed.). dalam buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. terbitan Balai Pustaka. Jakarta 1990, misalnya, Sêrat Darmågandhul dimasukkan sebagai kronik atau sumber tradisi.

    Penggunaan Sêrat Darmågandul ini sebagai sebuah referensi sejarah juga dilakukan oleh Hasan Djafar, dalam buklunya Girindrawarddana: Beberapa Masalah Majapahit Akhir. penerbit Yayasan Dana Penerbitan Buddhis Nalanda. Jakarta 1978.

    Umumnya sumber tradisi berupa babad jarang digunakan sebagai sumber sejarah yang terpercaya. Para penggunanya sebagai referensi, biasanya berpandangan bahwa tidak menutup kemungkinan sumber babad masih menyimpan kesan peristiwa sejarah dari masa lalu, meskipun bersifat kabur.

    Dengan argumentasi hampir serupa, para penulis lainnya juga mengambil rujukan dari Darmågandul. Misalnya, Sunarno Sisworahardjo, dalam bukunya Pituduhing Ngaurip, Panjebar Semangat. Surabaja 1960, dan lain sebagainya.

    Isinya secara dominan mengisahkan tentang kehancuran dan keruntuhan Majapahit akibat serangan Kadipaten Demak dan politik ‘kotor’ para wali. Sedangkan isinya yang lain merupakan bentuk pengajaran beberapa falsafah dan pemikiran ‘ilmu kehidupan’ dari seorang guru bernama Kyai Kalamwadi dengan muridnya yang bernama Darmågandhul.

    Secara harfiah kata kalamwadi adalah menggambarkan sebagai ‘sesuatu’ yang menjadi rahasia, atau sangat dirahasiakan. Pendapat yang lebih ‘gamblang’ menunjukkan, bahwa sesuatu itu adalah (maaf) “alat kelamin laki-laki” (kalam – alat ‘tulis’ — yang bersifat wadi — tersembunyi –).

    Bandingkan dengan nama tokoh istri Kalamwadi:

    Kjai Kalamwadi lênggah diadhêp garwané aran Éndhang Prêdjiwati

    Prêdjiwati atau Prêjiwati. Nama wati menunjukkan nama khas wanita Jawa, sedangkan prêji dari bahasa Arab faraj, farji yang berarti (maaf lagi) “alat kelamin wanita”.

    Identitas pengarang Sêrat Darmågandhul tidak jelas. Demikian juga latar belakang dan masa penulisannya. Sebagian besar kalangan meyakini bahwa Sêrat Darmågandhul ditulis pada masa peralihan antara runtuhnya Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak.

    Jika asumsi ini benar, maka latar belakang penulisan Sêrat Darmågandhul bisa ditebak yaitu kegundahan hati penulis Sêrat melihat banyaknya rakyat Majapahit yang memeluk agama Islam dan meninggalkan agama yang dianut sebelumnya secara masal.

    Namun jika asumsi tersebut salah maka identitas penulis Sêrat Darmågandhul tetap bisa diidentifikasi sebagai oknum yang menderita ketakutan terhadap ajaran Islam dan sekaligus menunjukkan ketidaksukaan terhadap eksistensi Islam.

    Jika ditelusuri dengan cermat, penerbitan Sêrat Darmågandhul sebagai referensi sejarah ternyata tidak lepas dari proyek orientalisme Belanda, yang menggunakan agama Kristen sebagai kedoknya.

    Secara umum Sêrat Darmågandhul banyak memiliki kesalahan data dalam mengungkapkan fakta sejarah. Oleh karena itu sulit dipastikan bahwa sêrat tersebut benar-benar ditulis pada masa peralihan antara keruntuhan Majapahit dan berdirinya Demak.

    Bukti lebih kuat justru menekankan bahwa sêrat tersebut di tulis di era belakangan pasca penjajahan bangsa Eropa di Bumi Nusantara. Oleh karena itu cerita sejarah dalam sêrat tersebut boleh diabaikan dari kedudukannya sebagai sebuah fakta.

    Tidak dapat dipungkiri, bahwa agama yang dianut oleh para petinggi Majapahit, bahkan hampir sebagian besar kawulanya adalah Hindu, sebagian lainnya adalah Budha, bahkan agama Islam telah masuk ke wilayah Nusantara sejak abad pertama Hijriyah, sehingga pemahaman bahwa agama pada akhir Majapahit yang disebutkan oleh Sêrat Darmågandhul seluruhnya adalah agama Budha, jelas tidak sesuai dengan fakta sejarah.

    Kita ketahui dari sumber sejaah yang dapat dipertangungjawabkan bahwa, upaya ekspedisi penyebaran agama Islam ke Nusantara telah dilakukan pada masa Abu Bakar Ash Shidiq dan dilanjutkan oleh khalifah-khalifah setelahnya.

    Berdasarkan kronik Cina menjelang seperempat Abad VII telah berdiri perkampungan Arab muslim dipesisir Sumatra. Sedangkan di Jawa Penguasa Kalingga yang bernama Ratu Shima telah mengadakan korespondensi dengan Muawiyah Bin Abu Sufyan, salah seorang shahabat Nabi dan pendiri dinasti Umayyah. Akan tetapi karena terpaut jarak yang jauh, maka dakwah di pulau Jawa berjalan secara lamban.
    Namun demikian secara jelas Islam telah disebarkan di Pulau Jawa jauh sebelum berdirinya kerajaan Majapahit.

    Dalam era kerajaan Majapahit beberapa pelabuhan telah ramai dikunjungi oleh saudagar-saudagar asing. Guna kepentingan komunikasi dengan saudagar asing maka pemerintah kerajaan Majapahit mengangkat sejumlah pegawai muslim sebagai sebagai pegawai pelabuhan atau syahbandar.

    Alasannya, pegawai beragama Islam pada masa itu kebanyakan telah menguasai bahasa asing terutama Bahasa Arab sehingga mampu berkomunikasi dan memberikan pelayanan kepada saudagar-saudagar asing yang kebanyakan beragama Islam.

    Dan jangan lupa pula bahwa di bekas reruntuhan bangunan kota Majaphit di sekitar Trowulan sekarang pernah ditemukan uang koin emas tahun-tahun masa Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah

    Koin semacam ini dapat dilihat dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur.

    Tim Evaluasi Neo Pusat Informasi Majapahit (Neo PIM) pernah menemukan peninggalan-peninggalan kerajaan Majapahit di situs Trowulan. Hampir semua benda kuno yang dimiliki masyarakat pada masa itu ditemukan, keris, koin uang emas, mata tombak serta alat pembuat mata tombak juga ditemukan tim eskavasi.

    Dari temuan-temuan itu, menandakan jika lokasi yang digali merupakan wilayah padat penduduk. Sejumlah alat rumah tangga kuno juga ditemukan. Berikut sisa-sisa lantai dan dinding rumah.

    Penemuan koin emas yang bertuliskan kalimat tauhid dengan huruf Arab pun menandakan para pedagang muslim dari Timur Tengah telah menjalin hubungan dagang dengan para pedagang nusantara, khususnya Majapahit.

    Tidak dapat diingkari bahwa penduduk lokal Majapahit sudah ada yang memeluk Islam yang disebarkan para pedagang yang ulama, mereka yang datang dari Timur Tengah,

    Temuan-temuan ini sekaligus memberikan penilaian dari tim evaluasi jika masyarakat Majapahit memiliki peradaban yang tinggi. Benda-benda ini menandakan jika masyarakat Majapahit bisa menyalip seniman dan arsitektur jaman sekarang.

    Dengan demikian anggapan penulis Sêrat Darmågandhul, bahwa Islam berkembang di tanah Jawa adalah semata-mata karena ‘kebaikan’ Prabu Brawijaya Raja Terakhir Majapahit, dan baru pada menjelang akhir keruntuhan Majapahit, adalah tidak benar.

    Catatan:
    Sebuah buku “Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi” oleh Hermanus Sinung Janutama, dibantu oleh Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta 2010. menyodorkan “fakta-fakta sejarah” (di antaranya temuan koin-koin emas semasa jaman Majaphit, yang bertuliskan La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah) yang berujung dengan suatu simpulan dari penulis buku tersebut bahwa Majapahit adalah ‘Kesultanan Islam.’

    Insya Allah. Cantrik Bayuaji akan melakukan bêdhah buku tersebut di gandhok ini. Mohon kesabarannya menungu.

    ***

    2. Nagårå Mådjålêngka

    Dalam temuan bukti-bukti sejarah yang sejaman dengan Kerajaan Majapahit yang diyakini sebagai sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, misalnya prasasti-prasasti, rontal Pujasastra Nagarakretagama, tidak pernah disebutkan bahwa Majapahit mempunyai nama lain seperti Majalengka, selain nama Majapahit dan Wilwatikta.

    Entah dari sumber mana, penulis Sêrat Darmågandhul mendapatkan nama Majalengka.

    ***

    3. Agåmå Kawruh, Agåmå Budi

    Sêrat Darmågandhul memang memiliki ciri yang kental dengan semangat anti-Islam, dan pro-penjajah Belanda. Sikap anti-Islam ditunjukkan misalnya, agama Islam harus ditinggalkan dan diganti dengan agåmå kawruh.

    Dalam Sêrat Darmågandhul menyatakan bahwa berakhirnya Agama Islam di tanah Jawa akan digantikan oleh ajaran agåmå kawruh. Salah satu bagian dari isi Sêrat Darmågandhul juga menceritakan tentang adanya Jångkå Sabdåpalon.

    Dalam Sêrat Darmågandhul ini digambarkan bahwa Prabu Brawijaya yang telah diislamkan oleh Sunan Kalijågå, kemudian meminta kepada Sabdåpalon, abdinya, agar mengikuti agama barunya.

    Sabdåpalon menolak ajakan Prabu Brawijaya, tuannya. Bahkan diceritakan Sabdåpalon lalu mengeluarkan kutukan bahwa akan banyak orang Jawa yang meninggalkan Islam dan berganti dengan agåmå kawruh.

    Wong Djåwå ganti agåmå, akèh tinggal agama Islam béndjing, aganti agåmå kawruh …”

    [Orang Jawa ganti agama, kelak banyak yang meninggalkan agama Islam, berganti dengan agåmå kawruh …]

    Ada pun yang dimaksud dengan agåmå kawruh dalam Sêrat Darmågandhul tersebut, tidak lain adalah Kristen.

    Pendapat ini sejalan dengan hasil tulisan dua orang akademisi dan orientalis Belanda yaitu G. W. J. Drewes.

    [Lihat: G. W. J. Drewes. The Struggle Between Javanism and Islam as Illustrated by the Serat Dermagandul. Dalam Bijdragen Tot De Taal,- Land- En Volkenkunde Edisi. 122 No. 3. (S. Gravenhage-Martinus Nijhoff, Leiden, 1966). Hal. 327].

    Tidak dapat ditampik bahwa Sêrat Darmågandhul memang hasil karya orang yang mendapat pengaruh ajaran Kristen.

    [Lihat: Dr. Philip van Akkeren. Sêrat Darmågandhul, Karya Tunggul Wulung dan Pekabaran Injil di Jawa Timur, dalam wacana akhir buku karya Bambang Noorsena. Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen]

    selanjutnya:

    Lamun sênêng bukti, woh wit kadjêng kawruh, Anjêbutå asmané Djêng Nabi, Ngisa kang kinaot, miturutå Gusti agamané,….

    [Jika suka dengan bukti, buah pohon kayu pengetahuan, (Maka) sebutlah nama beliau Nabi Isa yang termuat, turutilah Dia agamanya,]

    Dalam pada itu isu tentang agama “pengganti Islam” dengan agama Budi di Jawa, menjadi perhatian serius para penghayat kebatinan. Mereka mengutip nubuatan sumpah Sabdåpalon terhadap Prabu Brawijaya. Di antara isi sumpah itu:

    ………………………………………..
    Jangkêp gangsal atus taun
    Wit ing dintên punikå
    Kulå gantos agami
    Gåmå Budi kulå sêbar ing tanah Jåwå
    .

    [Genap lima ratus tahun,
    Mulai hari ini,
    Akan saya ganti agama di Jawa,
    Agama Budi akan saya sebarkan ditanah Jawa.]

    Dapat dikatakan bahwa kelompok penghayat kebatinan (Jawa) telah memanfaatkan Sêrat Jångkå Jåyåbåyå Sabdåpalon Nåyågénggong dengan membuat pernyataan bahwa 500 tahun kemudian (setelah sumpah Sabdåpalon Nåyågénggong), Agama Islam akan diganti dengan agama Budi, yang diartikan oleh para penghayat aliran kebatinan, bahwa agama Budi sebagai pengganti Islam, yang akan berkembang biak di Tanah Jawa, 500 tahun setelah sumpah Sabdopalon adalah aliran Kebatinan.

    Anggapan yang berkembang saat ini, umumnya, menyatakan bahwa Jångkå Sabdåpalon merupakan sebuah kitab jångkå yang berbicara tentang kehancuran Islam di tanah Jawa dan digantikan oleh ajaran “pengganti Islam” setelah 500 tahun keruntuhan Majapahit. Opini ini rupanya telah diamini oleh sejumlah pihak tanpa mencoba bersikap kritis dan mempertanyakannya kembali.

    Kebanyakan orang yang turut mengiyakan pendapat ini, sering tidak memiliki akses membaca dari sumbernya secara langsung. Hanya ikut arus mengikuti wacana umum yang berkembang secara taken for granted.

    Hal yang paling dirasakan, akibat kurang totalitasnya pemahaman terhadap substansi Sêrat Jångkå Jåyåbåyå Sabdåpalon Nåyågénggong adalah muncul sejumlah klaim atas penafsirannya.

    Klaim ini sudah tentu mewakili kepentingan tertentu untuk menjustifikasi bahwa ajaran yang dimaksud sebagai “pengganti Islam” adalah ajaran dari pemilik klaim tersebut.

    Dengan demikian telah kita dapatkan dua klaim penafsiran atas substansi dari Sêrat Jångkå Jåyåbåyå Sabdåpalon Nåyågénggong. Di satu pihak, kalangan kebatinan menganggap bahwa Sêrat Jångkå Jåyåbåyå Sabdåpalon Nåyågénggong merupakan visi ke depan tentang eksistensi ajaran kebatinan.

    Di lain pihak Jångkå tersebut ditafsirkan sebagai nubuatan “kedatangan” Kristen di Jawa. Kedua penafsiran ini jelas tidak lepas dari motif dan kepentingan masing-masing.

    Penafsiran bahwa Jångkå Jåyåbåyå Sabdåpalon Nåyågénggong merupakan justifikasi bagi munculnya kembali ajaran agåmå Budi kelahiran kebatinan, umumnya lebih banyak dianut oleh sejumlah kalangan di Jawa. Namun dimaksud oleh pengarang tentu adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.

    Maksudnya, dalam hal ini tidak secara harfiah sebagaimana istilah yang digunakan “agåmå Budi”. Sebab tujuan akhir sang pengarang Serat Jångkå Sabda Palon ternyata adalah sebuah proses untuk “menerima” Islam.

    Kesalahpahaman yang telah terjadi ini, tidak jarang masih coba dipertahankan eksistensinya. Beberapa penulis belakangan ini berusaha memancing kembali perdebatan tentang Sêrat Jångkå Jåyåbåyå Sabdåpalon Nåyågénggong.

    Ruang yang selama ini telah tersekat, sepertinya hendak ditambah sekatnya kembali sehingga kenyamanan dialog yang harusnya terus dibina justru semakin jauh panggang dari api.

    Bambang Noorsena, misalnya, tokoh Kristen Ortodoks Syiria ini dalam bukunya “Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen” merupakan salah satu penulis yang mencoba mengangkat kembali tema “marginalisasi Islam” dengan menggunakan “Jångkå Sabdåpalon”.

    Noorsena menggambarkan bahwa Sêrat Jångkå Jåyåbåyå Sabdåpalon Nåyågénggong ini merupakan salah satu gambaran bahwa penolakan manusia Jawa yang direpresentasikan oleh tokoh Sabdåpalon terhadap ajaran Islam karena agama ini dianggap memiliki corak keagamaan yang politis dan doktriner.

    Selanjutnya, Noorsena membuat pernyataan bahwa Islam di Jawa pun pada akhirnya mengalami asimilasi dengan keyakinan agama terdahulu. Tentu saja, pernyataan Bambang Noorsena ini juga lahir dari membebek pendapat yang berkembang belaka, bukan didasarkan pada pengkajian secara langsung terhadap materi yang dibahasnya.

    Lebih jauh, sangat dimungkinkan Bambang Noorsena tidak membaca secara tuntas buku yang digunakan sebagai referensinya, termasuk Sêrat Jångkå Jåyåbåyå Sabdåpalon Nåyågénggong.

    Perlu diketahui buku Bambang Noorsena ini seringkali menggunakan “teori pengaruh” yang tidak terstruktur dengan baik. Kelemahan paling umum yang sering dilakukan oleh penghasung teori pengaruh ialah kecenderungan membuat generalisasi secara terburu-buru, penarikan kesimpulan berdasarkan data yang belum lengkap, memaksakan data yang sebenarnya tidak relevan, dan pengamatannya hanya bersifat parsial.

    ***

    4. Wit Kawruh

    Sebagaimana istilah agåmå kawruh. Sêrat Darmågandhul seringkali menggunakan frasa wit kawruh yang bermakna pohon pengetahuan.

    Idiom ‘pohon pengetahuan’ bukanlah kata-kata wajar yang lazim dalam nalar atau pemikiran Jawa.

    Falsafah Jawa tentang ‘ilmu pengetahuan’ lebih sering menampilkan kata-kata seperti banyu bêning atau toya wêning, tirtå wêning (air bening), banyu pânguripan, tirtå prawitå adi (air penghidupan), cahyå, sumunar, pêpadhang, dan berbagai frasa yang melibatkan air atau identik dengan cahaya, tetapi bukannya pohon, semacam pohon pengetahuan.

    Penggunaaan kata pohon (wit atau taru) secara simbolis, dalam pemikiran Jawa, umumnya digunakan untuk menggambarkan sumber kehidupan, kebijaksanaan, pengayoman, dan beberapa hal yang identik dengan kewibawaan penguasa.

    Kita lihat saja relief pada candi Borobudur dan candi Pawon yang menggambarkan sebuah pohon dengan nama Kalpataru atau Kalpawreksa sebagai pohon yang memberikan sumber kehidupan (bukan sumber ilmu pengetahuan) yang melimpah.

    Dalam mitologi Hindu, Kalpataru disebut sebagai pohon yang dapat menyediakan banyak kebutuhan hidup manusia, sehingga di India, pohon kelapa dikenal sebagai sinomin dengan Kalpataru karena seluruh bagian dari pohonnya sejak akar hingga daun dan buahnya banyak menyediakan kebutuhan manusia.

    Jika dirunut kepada ajaran Budha sekalipun tidak akan dapat ditemukan ajaran yang identik dengan pohon pengetahuan.
    Pohon Bodhi (Ficus religiosa L., suku ara-araan atau Moraceae), dalam ajaran agama Budha adalah sebagai pohon tempat Sidharta Gautama bersamadi memperoleh pencerahan di bawahnya, secara harfiah lebih mudah dimaknai sebagai pohon penerangan agung atau kesadaran yang sempurna atau ilham atau pohon pencerahan dan bukannya sebagai pohon pengetahuan.

    Lalu dari mana penulis Sêrat Darmågandhul mendapatkan ide tentang pohon pengetahuan tersebut bersumber? Dari penggalan di bawah ini, ide tentang pohon pengetahuan akan dapat dilacak.

    Darmågandhul matur, njuwun ditêrangaké bab ênggoné Nabi Adam lan Babu Kawa pådå kêsiku déning Pangéran, sabab såkå ênggoné pådhå dhahar wohé kaju kawruh kang ditandur ånå satêngahing taman firdaus. Ånå manèh kitab kang nêrangaké kang didhahar Nabi Adan lan Babu Kawa iku woh Kuldi, kang ditandur ånå ing swargå. Mulå njuwun ditêrangaké, jèn ing kitab Djåwå ditjritaaké kêprijé, kang njêbutaké kok mung kitab Arab lan kitabé wong Srani”.

    Ide tentang pohon pengetahuan dalam Sêrat Darmågandhul, tidak bisa diingkari, dapat dilacak ke dalam pemikiran faham kitabé wong Srani. Hal ini dapat ditinjau dalam Kitab Perjanjian Lama dalam Kejadian 2 : 16-17 sebagai berikut:

    “Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia: ‘Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.’

    Ide pohon pengetahuan seolah-olah ditolak dengan kalimat dalam Sêrat Darmågandhul sebagai berikut : … Jèn Kitab Djåwå ora njêbutaké mangkånå (maksudnya kisah Pohon pengetahuan atau Pohon Kuldi) ”.

    … Jèn Kitab Djåwå ora njêbutaké mangkånå. Yang dimaksud adalah kitab Jawa tidak menyebutkan tentang Kisah Nabi Adam dan Hawa memakan buah pohon pengetahuan sebagaimana ajaran Kristen atau makan buah pohon Kuldi sebagaimana diklaim dalam Sêrat Darmågandhul sebagai ajaran Islam.

    Akan tetapi ide-ide tentang pohon pengetahuan tersebut dalam berbagai tempat justru diakomodasi oleh Sêrat Darmågandhul. Pada saat yang bersamaan terjadi miskonsepsi dalam Sêrat Darmågandhul tentang penilaiannya terhadap “Pohon Kuldi” dalam pandangan Islam.

    Pohon Kuldi (syajaratul khuldi) yang bermakna pohon kekekalan pada hakikatnya adalah upaya pendefinisian yang dilakukan oleh Iblis terhadap pohon yang tumbuh di jannah dimana Allah melarang Adam untuk mendekatinya. Dengan demikian nama pohon Kuldi dalam pandangan Islam bukan merupakan propername haqiqi yang dikenal dalam konsep Islam, namun secara substansial maupun aksi merupakan bentuk kekejian dan pengelabuhan Iblis terhadap Adam.

    Dalam beberapa tempat, penulis Sêrat Darmågandhul nampaknya lebih mengkedepankan doktrin kekristenan dibandingkan ajaran Islam atau Budha, dalam hal ini yang coba dibelanya.

    Penulis Sêrat Darmågandhul seolah-olah mendedikasikan tulisannya untuk membela agama Budha dan ajarannya. Namun dalam banyak kesempatan agaknya sang penulis Sêrat Darmågandhul kurang memahami ajaran Budha itu sendiri.

    Hal tersebut terlihat dari pemaknaan Pohon Bodhi, konsep kedewaan, dan beberapa konsep kehidupan lainnya yang justru berlawanan dengan doktrin pokok dalam ajaran Budha.

    Bahkan penulis Sêrat Darmågandhul memiliki itikad untuk menampilkan bahwa Kristen ditempatkan secara menonjol, sekaligus merupakan dukungannya terhadap penjajah ditunjukkan dengan pujian bahwa Aulija’ Walåndå adalah penyembah Tuhan yang benar dan lurus pengetahuannya. dalam gambaran sebagai berikut:

    Kijai Kalamwadi bandjur nêrangaké: “Kang diarani agåmå Srani iku têgêsé sranané ngabêkti: têmên-têmên ngabêkti marang Pangéran, ora nganggo nêmbah brahålå, mung nêmbah marang Allah, mula sêbutané Gusti Kandjêng Nabi ‘Ngisa iku Putrané Allah, awit Allah kang mudjudaké, mangkono kang kasêbut ing kitab Anbija”.

    [Yang dinamakan agama Nasrani artinya sarana berbakti : benar-benar berbakti kepada Tuhan, tanpa menyembah berhala, hanya menyembah Allah, Maka gelar Gusti Kanjeng Nabi Isa adalah Putra Allah, karena Allah yang mewujudkannya, demikian yang termaktub dalam kitab Ambiya.]

    Selain itu kata ‘Aulija’ Walåndå’ menunjukkan bahwa Sêrat Darmågandhul ditulis pada masa atau pasca penjajahan Bangsa Belanda. Kata Walanda yang berarti Belanda (sebutan untuk Netherland) tidak mungkin dikenal pada masa peralihan antara Majapahit dan Demak.

    Maka teori masa penulisan yang menyebutkan, antara keruntuhan Majapahit dan berdirinya Demak, dengan demikian jelas terbantahkan.

    Dalam pada itu, dengan diangkatnya cerita Dawud-Absalom, Dawud-Uria, pohon pengetahuan, dan sejenisnya yang bersumber dari Perjanjian Lama.

    Dalam Sêrat Darmågandhul juga terdapat cerita tentang salah satu putra Nabi Dawud yang bernafsu untuk menggantikan kekuasaan ayahnya. Sang anak lantas melakukan kudeta.

    Namun Nabi Dawud berhasil merebut kembali tahtanya dan sang anak kemudian melrikan diri dan tewas dengan kepala tersangkut di pohon saat menunggang kuda. Cerita tersebut dijabarkan sebagai berikut:

    …tjaritå tanah Mêsir, pandjênêngané Kandjêng Nabi Dawud, putrané anggégé kêpraboné råmå, Nabi Dawud nganti kèngsèr såkå nâgårå, putrané bandjur sumilih djumênêng nåtå, ora lawas Nabi Dawud sagêd wangsul ngrêbut nêgarané. Putrané nunggang djaran mlaju mênjang alas, djarané (dimaksud adalah bagal) ambandang kêtjantol-tjantol kaju, putrané Nabi Dawud sirahé kêtjantol kayu, nganti potol gumantung ånå ing kaju, ijå iku kang di arani kukuming Allah.

    [….cerita dari Mesir, Beliau Nabi Dawud, putranya bernafsu menggantikan kekuasaan sang ayah. Nabi Dawud sampai terdesak meloloskan diri keluar dari Negara, Anaknya tersebut kemudian menggantikan sebagai raja, tidak seberapa lama Nabi dawud kembali berhasil merebut negaranya. Anaknya melarikan diri dengan mengendarai kuda menuju ke hutan. Kuda tersebut berlari tanpa tentu arah tersangkut-sangkut kayu. Putra Nabi dawud kepalanya menyangkut di kayu sampai terpotong menggantung dikayu. Itulah yang dinamakan hukum Allah.]

    Cerita tentang kisah putra Dawud yang durhaka sebagaimana cerita di atas sudah tentu tidak akan dijumpai dalam sumber-sumber Islam, baik Al Quran, Al Hadits, maupun kitab klasik lainnya.

    Sebab cerita tersebut bersumber langsung dari kitab umat Kristen yaitu Perjanjian Lama dalam kitab 2 Samuel pasal 15 sampai 18. Secara ringkas cerita dalam kitab 2 Samuel tersebut adalah Absalom, putra Raja Dawud, berniat menarik simpati rakyat dengan menangani perkara pengadilan di kerajaan ayahnya.

    Hakikatnya, Absalom sedang mempersiapkan diri dan menghimpun kekuatan ntuk memberontak kepada sang Ayah. Maka sejumlah persepakatan gelap dibuat sehingga banyak rakyat memihak Absalom.

    Mengetahui posisi politiknya kurang menguntungkan, maka Dawud kemudian meloloskan diri beserta pegawai dan keluarganya yang lain. Pada giliran selanjutnya Dawud dapat memukul mundur tentara Absalom.

    Absalom yang mengendarai bagal (binatang keturunan kuda dan keledai) berlari. Ketika melewati jalinan dahan pohon Tarbantin yang besar, kepala Absalom tersangkut, sedangkan bagal yang dikendarainya terus berlari.

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur nuwun ki BAYUAJI…..kamsia, kamsiaaaa

      • di simpen dulu, nanti malam rontal baru bisa dibeber,

    • Matur nuwun…
      we lha…, yang kemarin belum sempat dimasukkan gandok, sudah muncul yang baru.
      ngapunten ki, pada kesempatan yang agak luang akan saya masukkan ke gandoknya.

    • kamsia Ki BY,
      beberannya langsung dilipet, dibaca ba’da Isya

    • Matur sembah nuwun dongengipun Ki Bayuaji, sugeng dalu.

    • Matur nuwun Ki Bayuaji,
      benar benar bedhah buku yang amat cerdas dan tidak ngguroni.

      Kalau kagungan wekdak yang mirunggan, saya juga ingin mohon penjelasan tentang masyarakat SAMIN yang katanya berada di salah satu Kabupaten di Jawa Tengah.
      Apakah ini juga bertautan dengan mitos penantian 500 tahun juga ?

      Nyuwun agunging pangaksami dene kawula sampun cumanthaka kumuwantun angribeti Ki Beghawan Bayuaji. Nuwun.

      • Nuwun
        Sugêng énjang

        Katur Ki Gundul, Ki Arga, Ki Kompor, Ki Gembleh, ugi Ki Panji Sat Pam, Sanak Kadang sadåyå

        Matur nuwun kawigatosanipun.
        Insya Allah Dongeng Wong Samin akan diwedar, tetapi Dongeng Surya Majapahit masih belum rampung. Demikian juga dongeng-dongeng lainnya yang direncanakan akan diwedar.

        Mohon bersabar. mudah-mudahan tidak mbosêni

        Nuwun

        cantrik bayuaji

        • selamat SORE kadang PADEPOKAN pak SATPAM

        • Tansah sabar nenggo, dongeng menopo kemawon menawi ingkang ndongeng Ki Bayuaji mboten badhe mboseni.

        • matur nuwun ki Bayu

        • Wah….asyik sekali…..
          jelas sekali bahwa dongeng Wong Samin yang akan diwedhar Ki Bayuaji tentu akan menambah kawruh saya yang teramat cupet.

          Matur nuwun sak derengipun Ki Bayu,
          Sugeng dalu.

  6. HADIR SORE HARI……..!!!!!

    • HADI rada-2 MALAM HARI…..!!!!!

  7. hadir siang hari


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: