JDBK-37

🙂

Sugeng enjing Ki/Nyi/Ni sanak

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 1 November 2011 at 00:01  Comments (21)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jdbk-37/trackback/

RSS feed for comments on this post.

21 KomentarTinggalkan komentar

  1. SugĂȘng Ă©njang

    • we….
      kadingaren Ki Bayu ndisiki

      SugĂȘng Ă©njang Ki
      monggo, katuran pinarak.

      • we….
        kadingaren Ki Bayu ndisiki
        kadingaren Ki pak Satpam nomer loro
        kadingaren Ki Menggung kedisikan

        Sugeng dalu Ki
        monggo, katuran pinarak.

        • we-lah keDHISIK-an…..ra po2 isih dapet baris dePAN.

  2. Nuwun
    SugĂȘng dalu

    Mugi pnaringĂ„ karahayon ing dintĂȘn punikĂ„. TinĂȘbihnĂ„ ing sambĂ©kĂ„lĂ„. Aamin.

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-52.Tenggelamnya Surya Majapahit. [Parwa ka-04] On 30 Oktober 2011 at 18:43 JdBK 36

    Waosan kaping-53
    TENGGELAMNYA SANG SURYA MAJAPAHIT [Parwa ke-05]

    BÊDHAH SÊRAT DARMÅGANDHUL, JÅNGKÅ JÅYÅBÅYÅ SABDÅPALON NÅYÅGÉNGGONG dan SEJARAH RUNTUHNYA KERAJAAN MAJAPAHIT

    Pada wedaran Tenggelamnya Surya Majapahit Parwa ka-04 (JdBK-36), berturut-turut sudah didongengkan:
    I. Pambuka,
    1. Kapan SĂȘrat DarmĂ„gandhul ditulis;
    2. Siapa penulisnya;
    3. Mengapa ada persinggungan persoalan antara agama Budha dan agama Islam.

    II. SĂȘrat DarmĂ„gandhul, JĂ„ngkĂ„ JĂ„yĂ„bĂ„yĂ„ SabdĂ„palon NĂ„yĂ„gĂ©nggong, sumber sejarah tradisi yang kontroversial;
    1. Pendahuluan
    2. NagĂ„rĂ„ MĂ„djĂ„lĂȘngka;
    3. AgÄmÄ Kawruh, AgÄmÄ Budi; dan
    4. Wit kawruh.

    Sabagai kelanjutannya berikut ini berturut-turut akan didongengkan:
    5. BĂȘdhil, mimis. Senapan api;
    6. Harkat dan martabat serta ‘ketinggian’ pengetahuan dan budi ditentukan oleh banyaknya jumlah aksara dari masing-masing negeri atau etnis;
    7. Mekah, Muhammad Rasulullah SAW, Baitullah, premis dan penyimpulan yang salah;
    8. Ka’bah;
    9. ButÄ LocÄyÄ dan Wali SÄngÄ;
    10. Hyang Latawalhujwa.

    III. Sejarah Runtuhnya Kerajaan Majapahit dan

    IV. Penutup.

    5. BĂȘdhil, mimis. Senapan api

    GĂȘnti kotjĂ„pĂ„ nĂągĂ„rĂ„ in MĂ„djĂ„pahit, Patih saulihĂ© sĂ„kĂ„ ing Giri bandjur matur sang Prabu, bab ĂȘnggonĂ© mukul pĂȘrang ing Giri, mungguh kang dadi sĂ©nĂ„pati ing Giri ijĂ„ iku sawidjining bĂ„ngsĂ„ TjinĂ„ kang wis ngrasuk agĂ„mĂ„ Islam, aranĂ© SĂȘtjĂ„sĂ©nĂ„, mangsah mĂȘntjak nganggo gĂȘgaman abir, sawadjĂ„-balanĂ© watara wong tĂȘlung atus, pĂ„dhĂ„ bisa mĂȘntjak kabĂšh, brĂȘngosĂ© tjapang sirahĂ© gundhul, pĂ„dhĂ„ manganggo srĂȘban cĂ„rĂ„ kadji, mangsah pĂȘrang patjulat kĂ„jĂ„ walang kadung, wadjĂ„ MĂ„djĂ„pahit ambĂȘdhili, dĂ©nĂ© wadjĂ„-bĂ„lĂ„ ing Giri pating djĂȘnkĂ©lang ora kĂȘlar nadhahi tibaning mimis. SĂ©nĂ„pĂ„ti SĂȘtjĂ„sĂ©nĂ„ wis mati, dĂ©nĂ© bĂ„lĂ„ Tjina lijanĂ© kang kari pĂ„dhĂ„ mlaju salang tundjang, bĂ„lĂ„ ing Giri ngungsi mĂȘnjang alas ing gunung, sawĂȘnĂ©h ngambang ing sagĂ„rĂ„, mlaju mĂȘnyang BĂ©nang tĂȘrus diburu dĂ©ning wadjĂ„-bĂ„lĂ„ MĂ„jĂ„pahit,

    [Alkisah, sepulang dari Giri sang Patih melaporkan hasil penaklukan terhadap Giri yang dipimpin oleh orang Cina beragama Islam bernama Setyasena, seorang pendekar. Ia membawa senjata pedang bertangkai panjang, pasukannya berjumlah tiga ratus yang pandai bersilat dengan kumis panjang berkepala gundul, berpakaian serban seperti haji. Dalam berperang mereka lincah seperti belalang.
    Sementara pasukan Majapahit menembaki (ambedhili), sedangkan pasukan Giri berjatuhan mati akibat tidak mampu menghadapi melesatnya peluru (mimis).
    Senapati Setyasena menemui ajal.
    Pasukan Giri melarikan diri ke hutan dan gunung. Sebagian juga berlayar dan lari ke Bonang dan terus diburu oleh pasukan Majapahit.]

    Dari kalimat di atas, sulit dipahami bahwa tentara Majapahit telah mengenal senjata api berupa senapan dan peluru (ambĂȘdhili dan mimis).

    Adapun fakta sejarahnya, dan sangat penting dipahami bahwa senjata api (bĂȘdhil) baru ditemukan dan digunakan sebagai perlengkapan perang umum di Eropa baru pada abad ke-XV sampai pertengahan abad ke-XVII. Era tersebut adalah era ketenaran senapan api.

    Sedangkan di Nusantara, senapan dan semacamnya seperti meriam pantai, meriam kapal laut baru dikenal pada sekitar tahun 1521 saat Armada Kesultanan Demak di bawah pimpinan Adipati Unus berangkat ke Malaka untuk mengusir kolonial Portugis yang bercokol di Dataran Tanah Melayu itu.

    Diberitakan bahwa Pasukan Portugis sudah mempersiapkan pertahanan menyambut Armada Angkatan Laut Kesultana Demak yang besar ini dengan puluhan meriam besar pula yang mencuat dari benteng Malaka, dan kapal yang ditumpangi Adipati Unus terkena peluru meriam ketika akan menurunkan perahu untuk merapat ke pantai. Ia gugur sebagai syahid karena kewajiban membela sesama Muslim yang tertindas penjajah Portugis yang bernafsu memonopoli perdagangan rempah-rempah.

    Dengan demikian, senapan dengan istilah bedil, baru dikenal oleh orang Jawa (Nusantara) pasca kedatangan bangsa Eropa di bumi Nusantara, maka jelas bahwa penulis SĂȘrat DarmĂ„gandhul menulis berita bohong bahwa pasukan tentara Majapahit telah menggunakan senjata api ketika berperang melawan tentara Giri.

    Ini menunjukkan bukti pula bahwa SĂȘrat DarmĂ„gandhul baru ditulis pasca kedatangan bangsa Eropa dan bukan pada masa peralihan antara kejatuhan Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak sebagaimana diyakini sebagian kalangan.

    Catatan:
    Dalam SĂȘrat DarmĂ„gandhul “versi baru” kalimat:
    “wadjĂ„ MĂ„djĂ„pahit ambĂȘdhili, dĂ©nĂ© wadjĂ„-bĂ„lĂ„ ing Giri pating djĂȘnkĂ©lang ora kĂȘlar nadhahi tibaning mimis”
    diganti menjadi:
    “Wong ing Giri gĂšgĂšr, ora kuwat nanggulangi pangamukĂ© wadjĂ„ MĂ„djĂ„pahit.”

    Dapat diduga bahwa revisi ini bermaksud menghilangkan bagian kisah tentang penggunaan senapan api pada masa Majapahit.
    Aneh dan nyata tapi lucu?
    Siapa yang merevisi dan kapan direvisi? Tidak ada satu pihakpun mengakuinya.

    6. Harkat dan martabat serta ‘ketinggian’ pengetahuan dan budi ditentukan oleh banyaknya jumlah aksara dari masing-masing negeri atau etnis

    Suatu hal yang aneh bahkan sangat menggelikan bahwa ‘ketinggian’ pengetahuan dan budi para auliya’ dari berbagai negeri atau etnis dengan pohon pengetahuan dalam bentuk perbandingan ditentukan dengan banyaknya aksara dari masing-masing etnis.

    Hal tersebut dinyatakan dalam SĂȘrat DarmĂ„gandhul sebagai berikut:

    “SastrĂ„ warnĂ„-warnĂ„ paringanĂ© Kang MĂ„hĂ„ KawĂ„sĂ„, iku wadjib dipangan, supĂ„jĂ„ sugih pangrĂȘtĂšn lan kaĂ©lingan, mung wong kang ora ngĂȘrti sastrĂ„ paring Gusti Allah, mĂȘsti ora ngĂȘrti marang wangsit.
    Aulija’ Gong Tju kumĂȘntus niru sastrĂ„ tulisan paring Gusti Allah, nanging panggawĂ©nĂ© ora bisĂ„, sastranĂ© uninĂ© kurang, dadi pĂ©lon, pĂ„rĂ„ aulija panggawĂ©nĂ© sastrĂ„ dipatoki tjatjahĂ©, mung aksĂ„rĂ„ TjinĂ„ kang akĂšh bangĂȘt tjatjahĂ©, nanging uninĂ© pĂ©lo, amargĂ„ Aulija kang nganggit kĂȘsusu mangan woh kawruh, ing mĂ„ngkĂ„ ijĂ„ kudu mangan woh wit Budi, Aulija mau lali jĂšn tinitah dadi manusĂ„, Ă©wĂ„dĂ©nĂ© mĂȘksĂ„ nganggo kuwasanĂ© Kang MĂ„hĂ„ KuwĂ„sĂ„, anggajuh kang dudu wadjibĂ©, kĂȘsusu tanpĂ„ panglulu nganggit aksĂ„rĂ„ kang tanpĂ„ Ă©tungan tjatjahĂ©, djĂȘnĂȘngĂ© sastrĂ„ godhong, godhongĂ© wit budhi lan wit kawruh, dipĂȘthik sĂ„kĂ„ satitik, ditĂ„tĂ„ dikumpulakĂ©, bandjur dianggit kanggo sastrĂ„, mulanĂ© aksaranĂ© nganti Ă©won, Aulija TjinĂ„ kĂȘsiku, amargĂ„ arĂȘp gawĂ© sastrĂ„ urip kĂ„jĂ„ yasanĂ© Gusti Allah.
    Aulija DjĂ„wĂ„ ĂȘnggonĂ© mangan woh Budi nganti warĂȘg, mulĂ„ ĂȘnggonĂ© nganggit aksĂ„rĂ„ sanadjan ora pati akĂšh tjatjahĂ©, nanging wis bisĂ„ njukupi, sartĂ„ uninĂ© ora pĂȘlo.
    Aulija WalĂ„ndĂ„ ĂȘnggonĂ© mangan woh wit kawruh ugĂ„ ngati warĂȘg, dĂ©nĂ© ĂȘnggonĂ© nganggit aksĂ„rĂ„ ijĂ„ dipathoki tjatjahĂ©.
    Aulija Arab ĂȘnggonĂ© mangan woh wit Kuldi akĂšh bangĂȘt. DĂ©nĂ© ĂȘnggonĂ© nganggit aksĂ„rĂ„ ijĂ„ dipathoki tjatjahĂ©. Nanging jĂšn sastrĂ„ jasanĂ© Gusti Allah dadinĂ© sĂ„kĂ„ sabdĂ„, wudjudĂ© dadi dĂ©wĂ©, mulanĂ© uninĂ© ijĂ„ tjĂȘthĂ„, satranĂ© ora Ă„nĂ„ kang pĂ„dhĂ„.
    ”

    [Beragam sastra pemberian Gusti Allah wajib dimakan agar kaya dengan pengetahuan dan ingatan, orang yang tidak mengenal sastra pemberian Allah pasti tidak akan mengerti ilham.
    Auliya Gong Cu dengan congkak meniru sastra pemberian Gusti Allah, namun pembuatannya tidak bisa, sastra bunyinya kurang, jadi pelat, para Auliya pembuatan sastra ditentukan jumlahnya, namun aksara Cina banyak sekali jumlahnya, namun bunyinya pelat, sebab Auliya Cina terburu-buru memakan buah pohon pengetahuan, padahal juga harus memakan buah pohon Budi, Auliya tadi lupa bahwa dirinya tercipta sebagai manusia, maka karenanya memaksa menggunakan kekuasaan Yang Maha Kuasa, mengharap yang bukan wajibnya, terburu-buru menerima panglulu (pujian yang menjerumuskan) menggunakan sastra yang tidak terhitung jumlahnya, dinamakan sastra daun, daun dari buah pohon Budi dan pohon Pengetahuan, dipetik dari sedikit, ditata dan dikumpulkan, lantas dikarang untuk sastra, maka aksara Cina ribuan jumlahnya, Auliya Cina dikutuk, sebab berkemauan membuat sastra hidup seperti buatan Gusti Allah.
    Auliya Jawa memakan buah pohon Budi sampai kenyang, maka mengarang aksara yang tidak terlalu banyak namun sudah bisa mencukupi dan bunyinya tidak pelat.
    Auliya Belanda memakan buah pohon pengetahuan sampai kenyang juga, sedangkan jumlah aksara yang dikarangnya ditetapkan jumlahnya juga. Auliya Arab memakan buah pohon Kuldi banyak sekali. Sedangkan aksara yang digunakan juga ditentukan jumlahnya. Akan tetapi sastra buatan Gusti Allah, tercipta dari Sabda, maujud dengan sendirinya, maka bunyinya jelas, sastranya tidak ada yang sama.]

    Perbandingan dalam kategori sastra dan jumlah aksara antar bangsa kemudian digunakan untuk menetukan harkat dan martabat serta ‘ketinggian’ pengetahuan dan budi, jelas merupakan ide yang ahistoris.

    Aksara Jawa dalam kenyataan yang sebenarnya tidak cukup baik untuk menuliskan semua huruf yang bisa dilafalkan melalui suara. Sebagai contoh, dalam kaidah penulisan huruf Jawa terdapat konsep aksÄrÄ swÄrÄ dan aksÄrÄ rékan.

    Aksara swara adalah huruf yang digunakan untuk menuliskan huruf vokal di awal kata yang digunakan pada kata-kata yang berasal dari manca, seperti pada kata Allah, Eropah, Umar, dan lain sebagainya.

    Sedangkan aksara rekan adalah huruf-huruf yang digunakan untuk menuliskan pelafalan huruf manca yang tidak terdapat dalam aksara Jawa, seperti za, fa, gha, kha, dan dza.

    7. Mekah, Muhammad Rasulullah SAW, Baitullah, premis dan penyimpulan yang salah.

    Jika diamati, argumentasi yang digunakan dalam berbagai dialog dan isi keseluruhan SĂȘrat DarmĂ„gandhul, dibangun berdasarkan bentuk silogisme yang mentah akibat kesalahan pengambilan premis dan penyimpulannya.

    Sebagai contoh misalnya premis pertama menyatakan bahwa Islam berasal dari Mekah, premis kedua mengabarkan bahwa Mekah itu tanahnya kering, tidak ada tanaman yang dapat tumbuh, hawanya panas dan jarang hujan, kemudian Penulis SĂȘrat DarmĂ„gandhul menyimpulkan: jika orang Jawa meninggalkan ajaran lamanya dan beralih kepada agama Islam, maka tanah Jawa akan menjadi gersang, tidak ada tanaman yang tumbuh, berhawa panas, dan jarang hujan.

    Lucu dan menggelikan. Bukan?

    Mila pandjĂȘnĂȘngan angandjawi, njadĂ© umuk, njadĂ© muljaning nagari MĂȘkah,
    kula sumĂȘrĂȘp nagari MĂȘkah, sitinipun panas, awis toja, tanĂȘm-tanĂȘm
    tuwuh botĂȘn sagĂȘd mĂȘdal, bĂȘntĂšripun bantĂȘr awis djawah, manawi tijang
    ingkang ahli nalar, mastani MĂȘkah punika nagari tjilĂ„kÄ   nagari Djawi ngriki, nagari sutji lan muljĂ„, asrĂȘp lan bĂȘnteripun tjĂȘkapan, tanah pasir mirah tojĂ„, punĂ„pĂ„ ingkang dipuntanĂȘm sagĂȘd tuwuh

    [Kamu membangga-banggakan dan menjual kemuliaan negeri Mekah. Padahal saya tahu seperti apa sebenarnya Mekah. Tanahnya panas, susah air, tanaman tidak bisa tubuh, serta jarang hujan. Orang yang sanggup bernalar akan menyebut Mekah itu negeri celaka. 

, negeri Jawa ini negeri yang suci dan mulia, cukup hujan dan air, apa yang ditanam dapat tumbuh, 


]

    Demikian bentuk silogisme tersebut. Ditinjau dari segi manapun konklusi yang diambil dari kedua premis tersebut merupakan argumen yang tidak logis dan sukar diterima akal sehat.
    Penulis SĂȘrat DarmĂ„gandhul jelas-jelas menghujat, menghina, melecehkan dengan memberikan makna yang menyesatkan tentang Nabi Utusan Allah, Rasulullah Muhammad SAW.

    Disebutnya Muhammad (dalam sĂȘrat ditulis Mukhammad) adalah makam kuburan, dan Rasulullah disebutnya adalah rasa buruk berbau salah, seperti tertera dalam kalimat berikut ini:

    tĂȘgĂȘsipun Nabi Mukhammad Rasula’llah: Mukhammad punikĂ„ makam kuburan, dados badanipun tijang punikĂ„ kuburipun rĂ„sĂ„ sakalir, mudji badanipun pijambak, botĂȘn mudji Mukhammad ing ‘Arab, raganipun manusĂ„ punikĂ„ wĂȘwajanganing Dzating PangĂ©ran, wudjud makam kubur rĂ„sĂ„, Rasul rĂ„sĂ„ kang nusuli, rĂ„sĂ„ pangan mandjing lĂ©san, RasulĂ© minggah swargĂ„, lu’llah, luluh dados ĂȘndhut, kasĂȘbut Rasulu’llah punikĂ„ rĂ„sĂ„ Ă„lĂ„ gĂ„ndĂ„ salah,

    [Adapun maksud Nabi Muhammad Rasulullah adalah Muhammad itu makam kuburan. Jadi badan manusia itu tempatnya sekalian rasa yang memuji badan sendiri, tidak memuji Muhammad di Arab. Badan manusia itu bayangan Dzat Tuhan. Badan jasmani manusia adalah letak rasa. Rasul adalah rasa yang menyusul. RÄsÄ termasuk lesan, rasul naik ke surga, lullah, luluh menjadi lembut. Disebut Rasulullah itu rasa buruk berbau salah.]

    {rÄsÄ = rasa; nusuli = menyusul, mengikuti; ÄlÄ = buruk; gÄndÄ = berbau; salah = salah.}

    8. Ka’bah

    Penulis SĂȘrat DarmĂ„gandhul berusaha membelokkan pemahaman qiblat, arah kaum muslimin ketika sholat. Baitullah, yang bermakna Rumah Allah, oleh penulis SĂȘrat DarmĂ„gandhul diartikan sebagai perahu (baitĂ„ –dalam bahasa Jawa– adalah perahu)

    Raganing manusĂ„ punikĂ„ namanipun baitu’llah, inggih prau gawĂ©janing Allah, dadosipun saking sabdĂ„ kun, manawi baitanipun tijang Djawi sagĂȘd mapan santun baitu’llah malih ingkang saĂ©,

    [Raga manusia itu namanya baitullah itu perahu buatan Allah, 

 Jika baita (perahu) manusia Jawa bisa berganti baitullah lagi yang lebih baik,]

    Disebutkan pula bahwa baitullah itu adalah prahunya orang Islam, yang disebut oleh si penulis bahwa prahunya sudah rusak:

    baitu’llah baitanipun tijang Islam gĂȘsangipun kantun pangrĂ„sĂ„, praunipun sampun rĂȘmuk

    [
..baitu’llahperahu orang Islam hidupnya tinggal rasa, perahunya sudah hancur]

    Selain itu terdapat pernyataan si penulis SĂȘrat Darmogandhul bahwa orang ‘Arab (kaum muslimin) pada dasarnya bukan menyembah (diistilahkan sojah) Tuhan namun menyembah tugu batu yang bernama Ka’bah. yang disebutnya sebagai perbuatan sesat:

    ’Aluwung manusĂ„ DjĂ„wĂ„ ngurmati wudjud rĂȘtjĂ„ ingkang pantĂȘs simpĂȘn budi njĂ„wĂ„, wangsul tijang bĂ„ngsĂ„ ‘Arab sami sodjah Ka’batu’llah, wudjude nggih tugu sĂ©lĂ„, punikĂ„ inggih langkung sasar.’

    [Lebih baik orang Jawa yang menghormati patung demi menguntungkan para makhluk halus, dibandingkan dengan orang Arab yang menyembah Ka’bah. Wujudnya juga tugu batu, sehingga seharusnya mereka juga sesat.]

    Penulis SĂȘrat DarmĂ„gandhul, mempertanyakan mengapa orang Islam tidak menyembah batu-batu besar di Gunung Kelud saja, padahal batu gunung tersebut justru adalah ciptaan Tuhan.

    sasar njĂȘmbah tugu sĂ©lĂ„, manawi sampun nrimah nĂȘmbah tjuri, prajogi dhatĂȘng rĂȘdi KĂȘlut kathah sĂ©lĂ„ agĂȘng-agĂȘng jasanipun PangĂ©ran, sami maudjud pijambak saking sabdĂ„ kun, punikĂ„ wadjib dipunsujudi

    [orang tersesat menyembah tugu batu, ketika mereka sudah melakukan kejahatan. Di Gunung Kelut banyak batu besar-besar hasil ciptaan Tuhan, kesemuanya itu terwujud berdasarkan Sabda Allah, itulah yang sesungguhnya lebih pantas disembah.]

    9. ButÄ LocÄyÄ, Wali SÄngÄ,

    SĂȘrat DarmĂ„gandhul berusaha menggambarkan bahwa pengajar Islam di Jawa yang disebut Wali SĂ„ngĂ„ merupakan sekumpulan ulama yang memiliki moralitas dan integritas pribadi yang buruk.

    Melalui cerita yang disampaikan dalam bentuk dialog, digambarkan bahwa sejumlah wali senantiasa kalah dalam sejumlah dialog. Sehingga mereka kemudian dicitrakan sebagai pihak yang tersalah dan bodoh.

    SĂȘrat Darmagandhul menceritakan pula perdebatan antara ButĂ„ LocĂ„yĂ„, dan Sunan Bonang.

    Dalam perdebatan ButÄ LocÄyÄ selalu digambarkan sebagai pihak yang menang secara argumentasi sedangkan Sunan Benang atau Sunan Bonang salah satu Wali SÄngÄ berada pada pihak yang dikalahkan.

    Sebagai contoh dalam perdebatan antara Sunan Benang (Bonang) dengan Raja Jin yang bernama ButÄ LocÄyÄ. Sebelumnya Sunan Benang digambarkan sebagi pribadi yang sewenang-wenang dan tidak berfikir panjang dalam melakukan sebuah tindakan.

    Diceritakan bahwa Sunan Benang mengutuk sebuah desa sehingga aliran sungai berpindah ke tempat lain. Akibatnya tempat baru yang dialiri sungai tersebut terjadi banjir bandang. Maka dengan marah Raja Jin ButÄ LocÄyÄ kemudian berdebat dengan Sunan Benang.

    ButĂ„ LocĂ„yĂ„ digambarkan oleh penulis SĂȘrat Darmagandhul, bahwa:

    ButĂ„ iku tĂȘgĂȘsĂ©: butĂȘng utĂ„wĂ„ bodho, Lo tĂȘgĂȘsĂ© kowĂ©, tjĂ„jĂ„ tĂȘgĂȘsĂ©: kĂȘnĂ„ dipratjĂ„jĂ„, kijai ButĂ„ LotjĂ„jĂ„ iku bodho, nanging tĂȘmĂȘn mantĂȘp sĂȘtiĂ„ ing Gusti.

    [Buta sendiri artinya bodoh. Lo bermakna kamu. Dan Caya dapat dipercaya.
    Bila disambung, maka Buta Locaya mempunyai makna orang bodoh yang dapat dipercaya.]

    Sedangkan Sunan Bonang digambarkan sebagai orang yang:

    gĂȘndhak sikĂ„rĂ„ dhatĂȘng anak putu Adam, njabdakakĂȘn ingkang botĂȘn patut, prawan tuwĂ„ djĂ„kĂ„ tuwĂ„, sartĂ„ ngĂȘlih nami KuthĂ„ GĂȘdhah, ngĂȘlih lĂšpĂšn, ladjĂȘng njabdakakĂȘn ing ngriki awis tojĂ„, punikĂ„ namanipun sijĂ„-sijĂ„ botĂȘn surup, sikĂ„rĂ„ tanpĂ„ dosĂ„, sikĂ„rĂ„ botĂȘn surup, njikĂ„rĂ„ tanpĂ„ prakĂ„rĂ„.”

    [menyiksa anak cucu Adam mengucapkan sesuatu yang tidak patut diucapkan. (Mengutuk) orang menjadi perawan dan perjaka tua, dan juga mengubah nama menjadi Kutha Gedhah, memindah aliran sungai, dan selanjutnya mengutuk bahwa di daerah ini akan susah air. Itu namanya tindakan yang tidak berguna, menyebabkan susahnya kehidupan orang lain. hanya menyiksa orang lain yang tidak bersalah.]

    Disebutnya oleh ButÄ LocÄyÄ bahwa Sunan Bonang adalah:

    tijang saking ‘Arab, sijĂ„-sijĂ„ dhatĂȘng sĂȘsami, sami damĂȘl awising tojĂ„, padukĂ„ ngakĂȘn Sunan rak kĂȘdah simpĂȘn budi luhur, damĂȘl wiludjĂȘng dhatĂȘng tijang kathah, nanging kok djĂȘbul botĂȘn makatĂȘn, wudjud padukĂ„ niki djadjil bĂȘlis katingal, botĂȘn tahan digodhĂ„ larĂ©, ladjĂȘng mubal nĂȘpsunĂ© gĂȘlis dukĂ„, niku Sunan nĂ„pĂ„? JĂ©n pantjĂ©n Sunaning djalmĂ„ jĂȘktos, mĂȘsthi simpĂȘn budi luhur. PadukĂ„ niksĂ„ wong tanpĂ„ dosĂ„, njĂ„tĂ„ tijang dahwĂšn,

    [adalah orang Arab, karena itu sama-sama tidak menghargai sesama manusia. Sama-sama membuat sulit air. mengaku-ngaku sebagai Sunan, seharusnya berbudi luhur, menciptakan kebajikan bagi orang banyak, tetapi malah tingkah lakunya seperti itu, seperti iblis tingkah lakunya. Tidak tahan digoda oleh anak kecil, lalu bangkit nafsu angkara murkanya. Sunan macam apa itu? Seorang Sunan haruslah Sunan secara lahir bathin, maka seharusnya
    berbudi luhur. Tidakkah menyiksa orang tanpa dosa. Sungguh perbuatan orang iri,]

    ButĂ„ LotjĂ„jĂ„ tjalathu manĂšh: ‘Wong DjĂ„wĂ„ rak sampun ngrĂȘtos, jĂšn punikĂ„ rĂȘtjĂ„ sĂ©lĂ„, botĂȘn gadhah dĂ„jĂ„, botĂȘn kuwĂ„sĂ„, sanĂšs Hjang Latawalhudjwa, mila sami dipunladosi, dipunkutugi, dipunsadjĂšni, supados pĂ„rĂ„ lĂȘlĂȘmbut sampun sami manggĂšn wontĂȘn ing siti utawi kadjĂȘng, amargi siti utawi kadjĂȘng punikĂ„ wontĂȘn asilipun, dados tĂȘdhanipun manusĂ„, milĂ„ pĂ„rĂ„ lĂȘlĂȘmbut sami dipunsukani panggĂšnan wontĂȘn ing rĂȘtjĂ„, pandjĂȘnĂȘngan-tundhung dhatĂȘng pundi?

    [Buta Locaya menghardik lagi, “Orang Jawa itu khan sudah tahu, bahwa itu hanya sebuah arca batu, tidak punya daya apa-apa, tidak punya kekuasaan apa, bukan Hyang Labawalhujwa, karena itu dimantrai dan diberi sesajian, supaya para makhluk halus yang dulunya tinggal di tanah atau kayu, karena tanah dan kayu itu dimanfaatkan bagi manusia, maka para makhluk halus itu diberi tempat tinggal di dalam arca. Lalu hendak diusir kemana?]

    Sampun djamakipun brĂȘkasakan manggĂšn ing guwĂ„, wontĂȘn ing rĂȘtjĂ„, sartĂ„ nĂȘdhĂ„ gĂ„ndĂ„ wangi, dhĂȘmit manawi nĂȘdhĂ„ gĂ„ndĂ„ wangi badanipun kraos sumjah, langkung sĂȘnĂȘng malih manawi manggĂšn wontĂȘn ing rĂȘtjĂ„ wĂȘtah ing panggĂšnan ingkang sĂȘpi ĂȘdhum utawi wontĂȘn ngandhap kadjĂȘng ingkang agĂȘng, sampun sami ngraos jĂšn alamipun dhĂȘmit punikĂ„ sanĂšs kalajan alamipun manusĂ„, manggĂšn wontĂȘn ing rĂȘtjĂ„ tĂȘkĂ„ pandjĂȘnĂȘngan-sikĂ„rĂ„, dados pandjĂȘnĂȘngan punikĂ„ tĂȘtĂȘp tijang djail gĂȘndhak sikĂ„rĂ„ sijĂ„-sijĂ„ dhatĂȘng sasamining tumitah, makluking PangĂ©ran.’

    [Sudah wajar kalau para makhluk halus tinggal di gua dan patung. Selain itu mereka makan bau harum. Makhluk halus itu apabila makan bau harum, badannya terasa segar. Mereka betah tinggal di patung-patung batu yang berada di tempat sepi atau yang berada di depan pohon besar. Apakah sudah pernah merasakan hidup di alam makhluk halus yang berbeda dengan alam manusia? Mereka yang hidup di dalam patung baru, disiksa, jadi karena itu patut disebut orang jahil. Orang yang gemar berbuat seenaknya sendirinya terhadap sesama makhluk Tuhan.]

    Adapun Sunan Giri digambarkan sebagai juru tenung atau tukang sihir. Hal ini terlihat bahwa dalam salah satu bagian cerita Sunan Giri mengusulkan agar Prabu Brawijaya ditenung saja agar tidak merusak kondisi politik dan ketentaraan. Dan jika membunuh orang kafir tidaklah berdosa.

    Sunan Giri bandjur njambungi pangandikĂ„, mungguh prajoganing laku supĂ„jĂ„ ora ngrusakakĂ© bĂ„lĂ„, Sang Prabu BrĂ„widjĂ„jĂ„ sartĂ„ putranĂ© bĂȘtjik ditĂȘnung baĂ©, awit jĂšn matĂ©ni wong kapir ora Ă„nĂ„ dosanĂ©.

    Kemudian pasca Raden Patah berkuasa, tersebutlah Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga yang tidak mau tunduk kepada kesultanan Demak. Kedua adipati tersebut juga merupakan putra dari Prabu Barwijaya sebagaimana Raden Patah. Maka keduanya kemudian disingkirkan oleh Sunan Giri dengan jalan ditenung sampai mengalami kematian.

    Sedangkan Sunan KalijÄgÄ digambarkan menyesali keadaan yang telah berjalan. Maka sebagai tanda penyesalannya, dia mengganti penampilannya berbeda dengan para wali yang lain. Yaitu menggunakan baju wulung dan bukannya baju surban sebagaimana umumnya para wali. Bahkan sampai pada kesimpulan bahwa untuk mencari ilmu sejati tidak harus berguru kepada orang Arab dan yang dimaksud adalah Islam namun cukup dengan mengeksporasi dirinya sendiri.

    Sunan KalidjĂ„gĂ„ ugĂ„ waskithĂ„ ing gaib jĂšn sinĂȘmonan dening Kang MĂ„hĂ„ KuwĂ„sĂ„, mulĂ„ ugĂ„ bangĂȘt panalangsanĂ© sartĂ„ ngrumaosi kaluputanĂ©, mulĂ„ bandjur mangagĂȘm sarwĂ„ wulung, bĂ©dĂ„ karo pĂ„rĂ„ Wali lijanĂ© isih pĂ„dhĂ„ manganggo sarwĂ„ putih. KabĂšh mau ora pĂ„dhĂ„ ngrumasani kaluputanĂ©, mung Sunan KalidjĂ„gĂ„ pijambak rumaos jĂšn kadukan dĂ©ning Kang MĂ„hĂ„ KuwĂ„sĂ„, mulĂ„ bangĂȘt mrĂȘtobatĂ©, wasĂ„nĂ„ bandjur pinaringan pangapurĂ„ dĂ©ning Allah.

    Lalu apakah gambaran tentang tentang para wali sebenarnya adalah demikian adanya? Atau apakah SĂȘrat DarmĂ„gandhul merupakan sebuah kebenaran?

    10. Hyang Latawalhujwa (ejaan lama Hjang Latawalhudjwa)

    Ide ‘nylĂȘnĂšh’ bertebaran ditampilkan dalam sĂȘrat tersebut. SĂȘrat DarmĂ„gandhul berusaha meyakinkan pembaca bahwa Latta dan Uzza, berhala yang disembah oleh kaum kafir Quraisy, merupakan manifestasi Tuhan.

    Hal ini dapat dilihat dalam penyebutan penyebutan ‘Hyang Latawalhujwa’ seperti dikutip di atas, dan di beberapa tempat seperti berikut ini:

    “botĂȘn gadhah dĂ„jĂ„, botĂȘn kuwĂ„sĂ„, sanĂšs Hjang Latawalhudjwa,”

    [tidak punya daya apa-apa, tidak punya kekuasaan apa, bukan Hyang Latawalhujwa,]

    “ladjĂȘng botĂȘn gampil pĂȘntjaripun titahing Hjang Latawalhudjwa”

    [Tindakan itu bertentangan dengan titah dari Hyang Latawalhujwa.]

    “bĂ„pĂ„ bijung botĂȘn damĂȘl, milĂ„ dipunwastani anak, wontĂȘnipun wudjud pijambak, dadosipun saking gaib samar, saking karsaning Hjang Latawalhudjwa, ingkang nglimputi wudjud,”

    [Orang tua tidak membuat, maka dinamai anak, karena adanya dengan sendirinya, jadinya atas suatu yang ghaib, atas kehendak Hyang Latawalhujwa, yang meliputi wujud,]

    “manusĂ„ raganipun asal saking nutfah, sowan Hjang Latawalhudjwa,
.”

    [Manusia raganya berasal dari nutfah, menghadap Hyang Latawalhujwa. 

]

    “sintĂȘn ingkang damĂȘl rĂ„gĂ„? SintĂȘn ingkang paring nĂ„mĂ„? inggih namung Hjang Latawalhudjwa”

    [siapa yang membuat raga? Siapa yang memberi nama? Hanya Hyang Latawalhujwa,]

    “isi wĂ©dang lan tojĂ„ tĂ„wĂ„, punikĂ„ inggih kulĂ„ ingkang damĂȘl, sadĂ„jĂ„ wau atas karsanipun Hjang Latawalhudjwa, ingkang damĂȘl bumi lan langit.

    [berisi air panas dan air tawar. Itu hamba yang membuat. Semua tadi atas kehendak Hyang Latawalhujwa, yang membuat bumi dan langit.]

    Apa yang dipaparkan di atas, baru sebagian kecil dari isi SĂȘrat DarmĂ„gandhul, yang disebut sebagai salah satu sumber sejarah runtuhnya kerajaan Majapahit.

    ***

    Sulit dipastikan, apalagi jika menggunakan SĂȘrat DarmĂ„gandhul sebagai sumber sejarahnya. Sebagaimana telah dibuktikan di atas SĂȘrat DarmĂ„gandhul bukan merupakan sumber utama sejarah sebab tidak ditulis pada masa peralihan antara kerajaan Majapahit dan Kesultanan Demak sebagaimana anggapan orang.

    Kemudian banyak disisipi dengan berbagai motif dan kepentingan tersembunyi. Sedangkan puncak dari motif dan kepentingan dalam penulisan SĂȘrat DarmĂ„gandhul digambarkan sebagai suara kutukan roh Prabu Brawijaya terhadap Raden Patah sebagai berikut:

    “ÊntĂšk katrĂ©snanku marang anak. DĂšn ĂȘnak mangan turu. ÅnĂ„ gadjah digĂȘtak kĂ„jĂ„ kutjing, sanadjan matijĂ„ ing tĂ„tĂ„-kalairĂ©, nanging lah Ă©ling-Ă©lingĂ©n ing bĂ©suk, jĂšn wis Ă„nĂ„ agĂ„mĂ„ kawruh, ing tĂȘmbĂ© bakal tak walĂȘs, tak adjar wĂȘruh ing nalar bĂȘnĂȘr lan luput, pranatanĂ© mĂȘngku prĂ„djĂ„, mangan babi kĂ„jĂ„ dek djaman MĂ„djĂ„pahit.”

    [telah sirna rasa cintaku keada anak. Sudah diberi kenikmatan makan tidur. Ada gajah digertak seperti kucing, walaupun mati dalam tata lahir, namun ingat-ingatlah suatu hari nanti, jika telah ada agama kawruh, maka akan akau balas, akan kuajarkan benar dan salah, peraturan tentang tatanegara, makan daging babi seperti jaman Majapahit]

    Maksud kutukan roh prabu Brawijaya tersebut suatu ketika, agama Islam akan dikalahkan oleh agama kawruh. Agama kawruh sebagaimana telah dijelaskan sebangun dengan pohon pengetahuan yaitu yang dimaksud adalah agama atau ajaran Kristen.

    Dengan demikian SĂȘrat DarmĂ„gandhul merupakan kitab Jawa yang seolah-olah menggambarkan dan memberikan ramalan masa depan bahwa Islam di Jawa akan ditundukkan oleh agama Kristen yang salah satu cirinya adalah mengajar benar dan salah serta memakan babi seperti umumnya orang Majapahit.

    Jelas umat Budha tidak semua memakan daging hewan. Demikian juga umat Islam diharamkan memakan daging babi. Dan hal ini merupakan bukti yang nyata bahwa SĂȘrat DarmĂ„gandhul sejak awal memang merupakan sĂȘrat dimaksudkan dan dipersiapkan guna kepentingan misi tertentu.

    *********

    III. Sejarah Runtuhnya Kerajaan Majapahit

    SĂȘrat DarmĂ„gandhul menyebutkan bahwa keruntuhan Majapahit disebabkan semata-mata karena serangan dari kadipaten Demak di bawah pimpinan Adipati Jimbun Patah. Dengan sangat yakin penulis SĂȘrat DarmĂ„gandhul memaparkan hal tersebut sehingga boleh dikatakan bahwa sĂȘrat tersebut menolak kemungkinan selain itu.

    Akan tetapi telah kita buktikan di atas bahwa SĂȘrat DarmĂ„gandhul tersebut bukan ditulis pada masa transisi antara keruntuhan Majapahit dan berdirinya Demak, sebagaimana anggapan sebagian kalangan.

    Maka sejumlah uraian yang dipaparkan oleh SĂȘrat DarmĂ„gandhul boleh diabaikan sebagai sumber sejarah, sebab bukan merupakan sumber utama sejarah yang terpercaya sekaligus dimuati sejumlah kepentingan dan motif tersembunyi. Namun demikian keruntuhan Majapahit patut mendapatkan porsi pembahasan tersendiri.

    Islam telah masuk ke wilayah nusantara sejak Abad pertama hijriyah. Bahkan upaya ekspedisi ke Nusantara telah dilakukan pada masa Abu Bakar Ash Shidiq dan dilanjutkan oleh khalifah-khalifah setelahnya.

    Berdasarkan kronika Cina menjelang seperempat Abad VII telah berdiri perkampungan Arab muslim dipesisir Sumatra. Sedangkan di Jawa Penguasa Kalingga yang bernama Ratu Shima telah mengadakan korespondensi dengan Muawiyah Bin Abu Sufyan, salah seorang shahabat Nabi dan pendiri dinasti Umayyah.

    Akan tetapi karena terpaut jarak yang jauh, maka dakwah di pulau Jawa berjalan secara lamban. Namun demikian secara jelas Islam telah disebarkan di Pulau Jawa jauh sebelum berdirinya kerajaan Majapahit.

    Dengan demikian anggapan penulis SĂȘrat DarmĂ„gandhul, bahwa Islam berkembang di tanah Jawa adalah semata-mata karena ‘kebaikan’ Prabu Brawijaya, adalah tidak benar.

    Pada masa kerajaan Majapahit beberapa pelabuhan telah ramai dikunjungi oleh saudagar-saudagar asing. Guna kepentingan komunikasi dengan saudagar asing maka pemerintah kerajaan Majapahit mengangkat sejumlah pegawai muslim sebagai sebagai pegawai pelabuhan atau syahbandar.

    Alasannya pegawai beragama Islam pada masa itu kebanyakan telah menguasai Bahasa asing terutama Bahasa Arab sehingga mampu berkomunikasi dan memberikan pelayanan kepada saudagar-saudagar asing yang kebanyakan beragama Islam.

    Sementara itu dakwah Islam telah menjangkau masuk ke dalam lingkungan istana Majapahit dan berpengaruh terhadap para bangsawan. Para bangsawan yang telah menganut agama Islam, umumnya pindah keluar istana menuju daerah pantai yang dikuasai oleh para bupati yang telah beragama Islam.

    Alasannya adalah demi toleransi dan mendapatkan kemerdekaan beragama. Dengan semakin berkurangnya sejumlah bangsawan dilingkungan kerajaan dan didiringi dengan semakin banyaknya rakyat Majapahit yang memilih Islam maka bias dipastikan kerajaan tersebut menjadi semakin lemah.

    Padahal, pada dasarnya Majapahit saat itu memang telah lemah secara politis akibat perang paregreg yang cukup lama dan menghabiskan banyak sumber daya. Perang tersebut merupakan perebutan tahta antara Suhita (putri dari Wikramawardana) dan Wirabumi (putra Hayam Wuruk).

    Pada tahun 1478 ini Dyah Kusuma Wardhani dan suaminya, Wikramawardhana, mengundurkan diri dari tahta Majapahit. Kemudian mereka digantikan oleh Suhita. Pada tahun 1479, Wirabumi, anak dari Hayam Wuruk, berusaha untuk menggulingkan kekuasaan sehingga pecah Perang Paregreg (1479-1484). Pemberontakan Wirabumi dapat dipadamkan namun karena hal itulah Majapahit menjadi lemah dan daerah-daerah kekuasaannya berusaha untuk memisahkan diri.

    Dengan demikian penyebab utama kemunduran Majapahit tersebut ditengarai disebabkan berbagai pemberontakan pasca pemerintahan Hayam Wuruk, melemahnya perekonomian, dan pengganti yang kurang cakap serta wibawa politik yang memudar.

    Pada saat kerajaan Majapahit mengalami masa surut, secara praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Wilayah-wilayah yang terbagi menjadi kadipaten-kadipaten tersebut saling menyerang satu sama lain dan berebut mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit. Pada masa itu arus kekuasaan mengerucut pada dua adipati, yaitu Raden Patah dan Ki Ageng Pengging. Sementara Raden Patah mendapat dukungan dari Walisongo, Ki Ageng Pengging mendapat dukungan dari Syech Siti Jenar.

    Sehingga dengan demikian keruntuhan Majapahit pada masa itu dapat dikatakan tinggal menunggu waktu sebab sistem dan pondasi kerajaan telah mengalami pengeroposan dari dalam.

    Dengan demikian faktor penyebab melemahnya Majapahit juga disebabkan makin pudarnya popularitas kerajaan Hindhu tersebut di mata rakyat. Keberadaan Majapahit telah tertutupi dengan munculnya kerajaan Demak yang dianggap membawa angin dan perubahan baru. Selain itu Demak juga semakin menguat setelah bersekutu dengan Surapringga (Surabaya), Tuban, dan Madura, dimana wilayah-wilayah tersebut sebelumnya merupakan daerah kekuasaan Majapahit. Dengan demikian tuduhan bahwa keruntuhan Majapahit akibat ‘digerogoti’ oleh ulama muslim dari dalam dan semata-mata karena penyerangan kerajaan Demak terbukti tidak benar.

    Perang Majapahit dan Demak

    Pada umumnya, perang antara Majapahit dan Demak dalam naskah-naskah babad dan sĂȘrat hanya dikisahkan terjadi sekali, yaitu tahun 1478 M. Perang ini terkenal sebagai PĂȘrang SudarmĂ„ WisutĂ„, artinya perang antara ayah melawan anak, yaitu Brawijaya melawan Raden Patah, tetapi cerita ini cenderung bertentangan dengan fakta sejarah yang diperkuat oleh prasasti Petak dan prasasti Jiyu bahwa Brawijaya dijatuhkan oleh Girindrawardhana pada tahun 1478.

    Girindrawardhana, disebutkan bukan lagi menjabat sebagai Raja Majapahit, melainkan Sri Wilwatikta Janggala Kadiri, sekan-akan penguasa Wilwatikta, Janggala dan Kadhiri, namun pada kenyataannya hanyalah penguasa Daha, pusat karena kerajaan dipindah ke Daha Kadhiri.

    Demak menyerang Girindrawardhana penguasa Wilwatikta, Janggala dan Kadhiri atau Daha, adalah untuk merebut haknya yang sah sebagai pelanjut tahta Majapahit. Jadi sesungguhnya terjadi adalah perang antara Demak dan Daha untuk memperebutkan hegemoni sebagai penerus Majapahit.

    Naskah babad dan SĂȘrat tidak mengisahkan lagi adanya perang antara Majapahit dan Demak sesudah tahun 1478. Padahal menurut catatan Portugis dan Kronik Cina Sam Po Kong, perang antara Demak melawan Majapahit terjadi lebih dari satu kali. Dikisahkan:

    Pada tahun 1517 Pa-bu-ta-la (identik dengan Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya) bekerja sama dengan bangsa asing di Moa-lok-sa sehingga mengundang kemarahan Jin Bun. Yang dimaksud dengan bangsa asing ini adalah orang-orang Portugis di Malaka. Jin Bun pun menyerang Majapahit. Pa-bu-ta-la kalah namun tetap diampuni mengingat istrinya adalah adik Jin Bun.

    Perang ini juga terdapat dalam catatan Portugis. Pasukan Majapahit dipimpin seorang bupati muslim dari Tuban bernama Pate Vira. Selain itu Majapahit juga menyerang Giri Kedaton, salah satu sekutu Demak di Gresik. Namun, serangan ini gagal di mana panglimanya akhirnya masuk Islam dengan gelar Kyai Mutalim Jagalpati.

    Sepeninggal Raden Patah alias Jin Bun tahun 1518, Demak dipimpin putranya yang bernama Pangeran Sabrang Lor sampai tahun 1521. Selanjutnya yang naik takhta adalah Sultan Trenggana adik Pangeran Sabrang Lor. Menurut kronik Cina, pergantian takhta ini dimanfaatkan oleh Pa-bu-ta-la untuk kembali bekerja sama dengan Portugis.

    Perang antara Majapahit dan Demak pun meletus kembali. Perang terjadi tahun 1524. Pasukan Demak dipimpin oleh Sunan Ngudung, salah seorang Wali SÄngÄ yang juga menjadi imam Masjid Demak. Dalam pertempuran ini Sunan Ngudung tewas di tangan Raden Kusen, adik tiri Raden Patah yang memihak Majapahit.

    Perang terakhir terjadi tahun 1527. Pasukan Demak dipimpin Sunan Kudus putra Sunan Ngudung, yang juga menggantikan kedudukan ayahnya dalam dewan Wali SÄngÄ dan sebagai imam Masjid Demak. Dalam perang ini Majapahit mengalami kekalahan. Raden Kusen adipati Terung ditawan secara terhormat, mengingat ia juga mertua Sunan Kudus.

    Menurut kronik Cina, dalam perang tahun 1527 tersebut yang menjadi pemimpin pasukan Demak adalah putra Tung-ka-lo (ejaan Cina untuk Sultan Trenggana), yang bernama Toh A Bo.

    Dari berita di atas diketahui adanya dua tokoh muslim yang memihak Majapahit, yaitu Pate Vira dan Raden Kusen. Nama Vira mungkin ejaan Portugis untuk Wira. Sedangkan Raden Kusen adalah putra Arya Damar. Ibunya juga menjadi ibu Raden Patah. Dengan kata lain, Raden Kusen adalah paman Sultan Trenggana raja Demak saat itu. Raden Kusen pernah belajar agama Islam pada Sunan Ampel, pemuka Wali Sanga. Dalam perang di atas, ia justru memihak Majapahit.

    Berita ini membuktikan kalau perang antara Demak melawan Majapahit bukanlah perang antara agama Islam melawan Hindu sebagaimana yang sering dibayangkan orang, melainkan perang yang dilandasi kepentingan politik antara Sultan Trenggana melawan Dyah Ranawijaya demi memperebutkan kekuasaan atas Pulau Jawa.

    Menurut kronik Cina, Pa-bu-ta-la meninggal dunia tahun 1527 sebelum pasukan Demak merebut istana. Peristiwa kekalahan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya ini menandai berakhirnya riwayat Kerajaan Majapahit. Para pengikutnya yang menolak kekuasaan Demak memilih pindah ke Pulau Bali.

    Lendhut benter, pabanyu pindah dan pagunung anyar

    Teori yang sangat mendekati kebenaran tentang runtuhnya Majapahit, selain bencana Perang Saudara Perang Paregreg, para ahli geologi bersama-sama para ahli arkeologi menyodorkan bukti lain tentang runtuhnya kerajaan besar itu, bahwa Majapahit runtuh karena bencana alam.

    Bencana alam yang memundurkan era keemasan Majapahit yang dalam kitab Pararaton disebut bencana “Pagunung Anyar” “Pabanyu pindah”, adalah bencana-bencana terjadinya erupsi jalur mud-volcano(gunung-lumpur) dari selatan Jombang-Mojokerto-Bangsal.

    Jalur itu membentuk jarak sepanjang sekitar 25 km. Erupsi semua gunung-lumpur itu diduga sedahsyat seperti semburan JĂȘng LuSi (Lumpur Sidoarjo LĂȘndhut BĂȘntĂšr) sekarang, bisa dibayangkan bagaimana terganggunya kehidupan di Majapahit pada akhir tahun1300-an dan pada awal 1400-an. Serangan fatal mungkin terjadi karena mundurnya fungsi delta Brantas yang didahului oleh rentetan bencana geomorfologis, maka pelabuhan dari muara Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu, menjauhi perairan bebas, di dekat Mojokerto, sehingga Majapahit yang merupakan kerajaan maritim menjadi terisolir dan perekonomiannya mundur.

    Secara geologi, Jalur Jombang-Mojokerto-Bangsal adalah masih di dalam Jalur Kendeng, sejalur dengan lokasi semburan lumpur Sidoarjo, masih di dalam wilayah bersedimentasi labil dan elisional (tertekan), yang di bawahnya dari selatan ke utara ada jajaran antiklin Jombang, antiklin Nunung-Ngoro, dan antiklin Ngelom-Watudakon yang terus bergerak yang menyebabkan Delta Brantas tidak stabil.

    Menurut Prasasti Kelagyan (Kamalagyan) yang dibuat semasa Prabu Airlangga bercandra sengkala 959Ç atau 1037M. Kelagyan adalah nama desa Kelagen sekarang di utara Kali Porong. Prasasti Kelagyan menceritakan bahwa pada suatu hari sungai Brantas yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, merusak tanaman dan menggenangi rumah-rumah penduduk.

    Prabu Airlangga membuat bendungan untuk mengatur daerah aliran sungai Brantas. yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, Sang Prabu Airlangga bertindak membangun bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa aliran sungai Brantas kembali mengalir ke utara.

    Mungkin, berpindahnya daerah aliran sungai (DAS) Brantas inilah yang disebut sebagai bencana “banyu pindah” dalam Kidung Pararaton. Demikian juga dalam Pararaton memberitakan adanya “pagunung anyar, yang timbul karena terjadinya erupsi jalur gunung lumpur dari selatan Jombang-Mojokerto-Bangsal.

    Jalur itu membentuk jarak sepanjang sekitar 25 km. Dan ini menunjukkan bahwa sepanjang jalur dari Gunung Penanggungan, sesar Watukosek, yang memotong Kali Porong, adalah sebuah mud volcano (pegunungan lumpur).

    Secara geologi, Jalur Jombang-Mojokerto-Bangsal adalah masih di dalam Jalur Kendeng, sejalur dengan lokasi semburan lĂȘndhut bĂȘntĂšr “Jeng” Lusi, alias Lumpur Sidoarjo, masih di dalam wilayah bersedimentasi labil dan tertekan (elisional), di bawahnya dari selatan ke utara ada jajaran antiklin Jombang, antiklin Nunung-Ngoro, dan antiklin Ngelom-Watudakon yang terus bergerak yang menyebabkan Delta Brantas tidak stabil.

    Aktivitas deformasi di bagian timur Kendeng ini secara detail digambarkan oleh Duyfjes (1936) yang memetakan lembar peta 109 (Lamongan), 110 (Mojokerto), 115 (Surabaya), dan 116 (Sidoarjo) pada skala 1 : 100.000. Beberapa gambar-gambarnya dimuat di buku van Bemmelen (1949) yang juga mengatakan bahwa secara struktural aktivitas deformasi di wilayah Kendeng bagian timur ini terjadi melalui gravitational tectogenesis sebab geosinklin Kendeng Timur-Selat Madura masih sedang menurun. Kondisi elisional semacam ini tentu memudahkan piercement structures seperti mud volcano eruption.

    Dari geosinklin menjadi antiklinorium jelas melibatkan sebuah sistem elisional.

    Sepeninggal Hayam Wuruk, raja-raja Majapahit kurang cakap memimpin negara, terjadilah perang saudara Perang Paregreg, yang melemahkan negara sampai akhirnya Majapahit musnah pada tahun 1527 M.

    Suksesi tidak berjalan dengan baik, one-man show mendominasi pemerintahan selama Gajah Mada dan Hayam Wuruk, tak ada regenerasi ke penerusnya. Sepeninggal pasangan Gajah Mada-Hayam Wuruk, negara melemah.

    Tetapi, catatan-cacatan tak tertulis di buku sejarah, kecuali Pararaton beserta kondisi geologis-geomorfologis Delta Brantas menunjukkan, bahwa bencana alam erupsi gunung-lumpur ala semburan lumpur Sidoarjo juga patut diperhitungkan sebagai penyebab kemunduran bahkan keruntuhan Kerajaan Majapahit.

    Sejarah membuktikan tragedi serupa dengan lumpur Sidoarjo pernah terjadi pada masa Majapahit. Selain oleh alasan politik, Majapahit diyakini telah mundur oleh deformasi Delta Brantas akibat rentetan erupsi gunung-lumpur Jombang-Mojokerto-Bangsal pada kawasan sepanjang 25 km. Kitab Pararaton mencatat hal-hal yang menarik untuk kita perhatikan.

    Kitab Pararaton menceritakan kronik Singasari sejak Ken Arok sampai runtuhnya Kerajaan Majapahit. Pararaton adalah sumber sejarah penting Majapahit di samping Negarakrtagama karangan Mpu Prapanca — Mpu Prapanca hidup sezaman dengan Gajah Mada –.

    Dalam hubungan dengan kemunduran Majapahit, kitab Pararaton mencatat:

    ‱ Bencana yang dalam kitab Pararaton disebut “pabanyu pindah” yang terjadi tahun 1256 Ç atau 1334 M.

    ‱ Bencana yang dalam kitab Pararaton disebut “pagunung anyar” yang terjadi tahun 1296 Ç atau 1374 M.

    Secara harafiah, Banyu Pindah=Air Pindah, Pagunung Anyar = Gunung Baru.

    Denys Lombard, ahli sejarah berkebangsaan Prancis yang menulis tiga volume tebal buku sejarah Jawa tahun 1990 “Le Carrefour Javanais – Essai d’Histoire Globale” (sudah diterjemahkan oleh Gramedia sejak 1996 dan cetakan ketiganya diterbitkan Maret 2005) menulis tentang Prasasti Kelagyan zaman Erlangga bercandra sengkala 959 Ç (1037 M). Kelagyan adalah nama desa Kelagen sekarang di utara Kali Porong.

    Prasasti Kelagyan menceritakan bahwa pada suatu hari sungai Brantas yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, merusak tanaman dan menggenangi rumah-rumah penduduk. Erlangga bertindak dengan membangun bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa sungai kembali mengalir ke utara. Mungkin, inilah yang disebut sebagai bencana pabanyu pindah dalam buku Pararaton. Bencana seperti ini kelihatannya terjadi berulang-ulang, bencana yang sama dicatat di dalam buku Pararaton terjadi lagi tahun 1256 Ç (1334 M) pada zaman Majapahit.

    Telah ditemukan bukti-bukti bahwa telah terjadi berbagai deformasi (pergerakan atau pergeseran) tanah yang pangkalnya adalah bukit-bukit Tunggorono di sebelah selatan kota Jombang sekarang, kemudian menjalar ke timurlaut ke Jombatan dan Segunung.

    Akhirnya gerakan deformasi tersebut mengenai lokasi pelabuhan Canggu di sekitar Mojokerto sekarang, lalu makin ke timur menuju Bangsal (sekitar 25 km di sebelah barat lokasi semburan lumpur Sidoarjo sekarang).

    Di dekat Bangsal ada sebuah desa yang namanya Gunung Anyar. Begitu juga di tempat pangkal bencana terjadi di selatan Jombang ada nama desa serupa yaitu Denanyar yang semula bernama Redianyar yang berarti gunung baru.

    Perhatikan bahwa nama Gunung Anyar juga dipakai sebagai nama sebuah kawasan di dekat Surabaya yang sekarang menjadi terkenal dalam hubungan dengan kasus semburan Lumpur Sidoarjo sebab ternyata Gunung Anyar adalah sebuah mud volcano atau gunung-lumpur, yang membentuk kelurusan dengan lumpur Sidoarjo kini.

    Dari teori tersebut, apakah bencana alam yang memundurkan era keemasan Majapahit yang dalam kitab Pararaton disebut bencana pagunung anyar, pabanyu pindah adalah bencana-bencana terjadinya erupsi jalur gunung-lumpur dari selatan Jombang-Mojokerto-Bangsal? Jalur itu membentuk jarak sepanjang sekitar 25 km.

    Kalau erupsi semua gunung-lumpur itu sedahsyat seperti semburan Lumpur Sidoarjo sekarang, bisa dibayangkan bagaimana terganggunya kehidupan di Majapahit pada akhir tahun1300-an dan pada awal 1400-an. Menjadi fatal karena rusaknya pelabuhan m uara Sungai Brantas, sehingga Majapahit menjadi terisolir dan perekonomiannya mundur.

    Babad Tanah Jawi mencatat tahun keruntuhan Majapahit itu dalam suryasengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi yaitu 1400 Ç atau 1478 M.

    Para leluhur sudah menyusun aturan-aturan sedemikian rupa untuk menjadi pedoman bagaimana membuat suryasengkala. Karena sengkalan menggunakan kalimat sebagai angka, maka kata-kata tertentu punya “watak bilangan” atau “watak kata-kata” masing-masing.

    Aturan lainnya adalah bahwa sengkalan punya sandi, yaitu kata terakhir di kalimat sengkalan menjadi angka urutan pertama, sedangkan kata pertama di kalimat sengkalan menjadi angka urutan terakhir pada tahun sengkalan.Mari kita analisis “Sirna Ilang Kertaning Bumi”. Bila dilihat watak kata-kata dan watak bilangannya, maka “sirna” = hilang = angka 0, “ilang = hilang” angka 0, “kertaning/kerta ning” = dibuat = pekerjaan membuat = angka 4, “bumi/bhumi” = bumi = angka 1.

    Analisis sengkalan ini harus didampingi buku-buku kamus Jawa Kuno (Kawi) susunan Poerwadarminta, Wojowasito, atau Purwadi. Suryasengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi” = 0041, ingat aturan sandi sengkalan, maka tahun yang dimaksud dengan “Sirna Ilang Kertaning Bumi” adalah 1400 Ç atau 1478 M. Sengkalan “Sirna Ilang Kertaning Bumi” dimaksudkan pengarang Babad tanah Jawi untuk menggambarkan runtuhnya/hilangnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1400 Ç atau 1478 M.

    Ada yang menarik di sini : “Kertaning Bumi” Kerta/Karta = dibuat/dijadikan. Misalnya : Jayakarta = dibuat jaya/berhasil, Yogyakarta = dibuat baik (seyogyanya = sebaiknya). Maka, “kertaning Bumi” terbuka untuk ditafsirkan “dibuat (oleh) Bumi” atau “dibuat (di) Bumi”. Kata “ning” dalam bahasa Kawi bisa banyak punya arti sebagai kata depan atau kata pembuat kata kerja .

    Apakah “Sirna Ilang Kertaning Bumi” bisa ditafsirkan “Hilang Musnah Dibuat Bumi” ? “Dibuat Bumi”, kita bisa menduganya : bencana dari Bumi. Kaitkan ke Babad Pararaton, bencana itu adalah Pagunung Anyar alias erupsi gunung-lumpur.
    Hanya Tuhan yang Tahu

    IV. Penutup

    Berdasarkan uraian di atas ini maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

    1. Penulis SĂȘrat DarmĂ„gandhul sama sekali tidak mengerti tentang Islam, terbukti sering menggunakan istilah-istilah Islam yang dengan mudah dikenal secara luas, tetapi olehnya diberikan arti yang jelas menyimpang dari arti yang sebenarnya, bahkan penuh dengan hujatan dan penghinaan, membenci sekaligus takut terhadap agama Islam.

    2. Penulis SĂȘrat DarmĂ„gandhul seakan-akan juga sangat memahami dan memberikan perhatian terhadap agama Budha, namun dalam kenyataanya dia telah gagal menjelaskan beberapa doktrin mendasar dalam ajaran agama Budha.

    3. Masa penulisan SĂȘrat DarmĂ„gandhul adalah pada saat penjajahan Belanda di bumi Nusantara atau bahkan pasca itu. Dengan demikian hal ini membantah pendapat sebagian kalangan bahwa sĂȘrat tersebut ditulis pada masa peralihan antara keruntuhan Majapahit dan berdirinya kesultanan Demak.

    4. SĂȘrat DarmĂ„gandhul memiliki banyak kesalahan dari sisi sejarah dan miskonsepsi dalam sejumlah isinya. Hal ini wajar sebagai bukti bahwa penulis SĂȘrat DarmĂ„gandhul bukan pelaku utama sejarah tersebut sehingga pada hakikatnya SĂȘrat DarmĂ„gandhul adalah sebuah tulisan fiksi, dengan demikian SĂȘrat DarmĂ„gandhul tidak dengan serta merta dapat digunakan dalam menggali sumber sejarah terkait keruntuhan Majapahit dan berdirinya kesultanan Demak.

    5. SĂȘrat Darmagandul sebagai karya derivatif dari Babad Kadhiri yang tidak dapat digunakan sebagai sumber sejarah, karena Babad Kadhiri ditulis dari cerita pedalangan yang bersifat fiktif yang jelas sulit diterima sebagai bentuk referensi sejarah dan kenyataannya SĂȘrat Darmagandul banyak mengadopsi substansi dari Babad Kadhiri, maka SĂȘrat Darmagandul tidak seharusnya digunakan sebagai rujukan, sebab akurasi dan otoritasnya sulit diverifikasi.

    Dalam pada itu Babad Kadhiri dibuat berdasarkan perintah dari pejabat Belanda, dengan demikian maka penerbitan SĂȘrat Darmagandul sebagai referensi sejarah ternyata tidak lepas dari proyek orientalisme Belanda.

    Terbukti bahwa SĂȘrat DarmĂ„gandhul, merupakan sĂȘrat yang dimaksudkan dan dipersiapkan guna kepentingan misi tertentu, untuk tujuan memecah belah dan mengadu domba.

    6. Teori keruntuhan Majapahit yang mendekati kebenaran, patut diduga karena alasan politik perebutan kekuasaan dalam Perang Paregreg dan erupsi gunung-lumpur (mud-volcano, pabanyu pindah, pagunung anyar) ala semburan lumpur Sidoarjo abad ke-XXI sekarang ini, yang melumpuhkan jalur perekonomian, perdagangan dan maritim.

    Ă„nĂ„ toĂȘtoĂȘgĂ©

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur nuwun ki BAYUAJI….donggeng ki Bayu cantrik Gembol
      duluan, kadang yang LAEN bisa antri kupon di meja depan.

    • Katur Ki Panji Satria Pamedar,

      Mohon maaf ada tulisan bercetak tebal yangh cukup mengganggu, di bawah alinia:

      LĂȘndhut bĂȘntĂšr, pabanyu pindah dan pagunung anyar
      ……………………………………………………………
      erupsi jalur mud-volcano (gunung-lumpur)

      Sedharusnya setelah kalimat “mud-volcano” diikuti “/b” kalimat selanjutnya tidak “bold”

      Nuwun

      cantrik bayuaji

      • sampun ki
        ngapunten, radi telat.

    • Matur sembah nuwun Ki Bayuaji, kulo tenggo dongeng lajengipun.

  3. nomer SIJI…..selamat malem,

    mohon maaf ki Bayuaji, pak Satpam, ki Gembleh termasuk orang dalam…..tidak diperkenankan mengambil kupon ANTRIan.

    • sugeng sonten..
      disini 3 cantrik, di gs 2 cantrik, rekor tetap dipadepokan adbm 10 cantrik…

      • 3 cantri bisa membentuk kepengurusan,
        satu jadi ketua,
        yang satunya jadi sekretaris,
        yang satunya lagi jadi bendahara.

        di GS ada 2 cantrik,
        iku mesti Ki Menggung karo Nyi Menggung.

        he…he….he….
        sugeng dalu.

        • nyi menggung sing pundi ki…..eeeh, sing kae toh, HIKSSS

  4. SugĂȘng siyang

  5. sugeng wanci dalu

  6. dalu wanci sugeng

    • wanci sugeng dalu

      • wanci dalu, sugeng

        he he he …, pada kurang gawean

        sugeng dalu

        • Ki Menggung menawi kirang pendamelan senengane dolanan BOLD utawi ITALIC lho pak Satpam.

  7. Nuwun

    SugĂȘng dalu

    <<<<<<<>>>>>>>

    Benarkah????
    Mohon ditunggu wedarannya

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur nuwun ki BAYUAJI….rontal donggeng langsung
      cantrik gembOL.

      sugeng DALU


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: