JDBK-38

<< kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 4 November 2011 at 00:01  Comments (41)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jdbk-38/trackback/

RSS feed for comments on this post.

41 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sugêng énjang

    • Sugêng énjang juga ki BY

  2. Tidak terasa JDBK sudah sampai rontal ke-38, dua rontal lagi sudah tamat.
    Selanjutnya apa ya yang bisa diunggah?

    dari sekian banyak karya SHM format djvunya hampir semuanya sudah diungggah di dunia maya:
    1. Api di Bukit Menoreh (396 jilid) di adbm cadangan
    2. Pelangi di Langit Singasari (79 jilid) di pelangisingosari
    3. Sepasang Ular Naga di satu Sarang (37 jilid) di pelangisingosari
    4. Panasnya Bunga Mekar (31 jilid) di pelangisingosari
    5. Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan (118 jilid) di pelangisingosari
    6. Nagasasra Sabukinten (29 jilid) di pelangisingosari
    7. Jejak di Balik Kabut (40 jilid) Grup Api di Bukit Menoreh dan di pelangisingosari
    8. Mata Air di Bayangan Bukit (23 jilid) di Gagakseta
    9. Bunga di Batu Karang (14 jilid) di Gagakseta
    10. Matahari Esok Pagi (15 jilid) di Gagakseta
    11. Tembang Tantangan (24 jilid) di Gagakseta
    12. Arya Manggada (15 jilid) di Gagakseta
    13. Tanah Warisan (8 jilid) pdf
    14. Meraba Matahari (9 jilid) pdf
    15. Suramnya Bayang-bayang (34 jilid) teks
    16. Sayap-sayap Terkembang (67 jilid) djvu di Grup Api di Bukit Menoreh
    17. Istana yang Suram (14 jilid) pdf
    18. Yang Terasing (13 jilid) ? saya kok belum punya ya.
    19. Kembang Kecubung (6 jilid) djvu di Grup Api di Bukit Menoreh

    Sebagian rontal yang tersisa tersebut (13-19), kecuali Tanah Warisan dan Istana yang Suram, Ki Arema punya koleksinya meskipun tidak lengkap, bolong sana-sini.

    Kepinginnya sih akan upload suramnya Bayang-Bayang yang belum diketemukan format djvunya di dunia maya, tetapi darim 34 jilid 9 jilid rontalnya tidak diketemukan lagi. Kalau Ki Truno Prenjak ada dan berkenan menyumbangkan, nanti adkan diunggah seri tersebut, diteruskan dengan Sayap-sayap Terkembang.

    Ada usulan lain?

    • Menawi Api Di Bukit Menoreh jilid 1 dumugi 90 ingkang format djvu ngundhuhipun wonten pundi Pak Satpam ?

      • lho…, kok baru baca ya.
        ngapunten Ki Arga
        Jilid 1-18 tidak tersedia dalam format djvu, belum ada relawan yang menyumbangkan rontalnya
        19 -100 tersedia di halaman unduh di samping, atau kalau mau ingin langsung ada di sini https://pelangisingosari.wordpress.com/halaman-unduh/7/

        • Matur nuwun Pak Satpam, enggal-enggal badhe kulo undhuh sedoyo. Sinaosa jilid 1 dumugi 90 sampun gadhah ingkang format Microsoft Reader nanging tetep kepingin gadhah ingkang djvu.

  3. dari sekian banyak karya SHM format djvunya

    13. Tanah Warisan (8 jilid) pdf
    14. Meraba Matahari (9 jilid) pdf
    15. Suramnya Bayang-bayang (34 jilid) teks
    17. Istana yang Suram (14 jilid) pdf

    piye to dik satpam? …. daftar djvu kok ada pdf n teks na ? …. pemuda kok ora konsisten🙂🙂🙂

    • embuh ah
      namanya saja satpam, bukan guru bahasa, yang penting orang mengerti.😛

      tapi…, sepertinya sama lho
      piye to neng? lha wong contonya sudah urut, kok ya buat nomer gak urut, masa habis 15 terus 17😛

      he he he ….
      mblayu ah…, tininbang dibalang sendal….

      • lho iku angkane manut daptare sing digawe ‘pemuda sing ga konsisten’ mau jeee😦😦

        • menawi ga konsisten, ampun melu2 sumpah pemuda njih, amargi klo sumpah menika kedah konsisten🙂🙂

          • 😛

    • kalau tentang wedaran konsisten kan neng?, jdbk wedar 3 hari sekali tit 00.01, baik djvu maupun teks.
      adbm wedar 2 hari sekali tit 00.01
      sampai sekarang belum pernah lewat.

      Sepertinya yang tidak konsisten justru yang tinggal ngunduh dan baca, khususnya yang dari Solo😦😦

      kadang datang, kadang tidak.
      kadang pagi, kadang sore, kadang malam, sak enake lah😛
      he he he

      hadu….. wis adzan……
      mblayu sik…..

      • hayoooo jam 11.30 maning rung neng mejid😦😦

        yo wis tak ngaku, dalem njih mboten konsisten mpun😦

        • kaliyan arya rikala sakmana njih mboten konsisten😦 …. lha aryane nganyelkeeeeeee😦

          • ha ha ha ….
            Paksi itu juga gak konsisten lho
            Pangeran Benawa kayaknya yang paling konsisten

  4. Ngapunten , yen aku ditakoni aku milih Sayap-sayap Terkembang wae sing jilide rodo akeh

    Nuwun !!!

    • tetapi harus baca dulu Suramnya Bayang-bayang (SBB) Ki, soalnya Sayap-sayap Terkembang (STT) itu lanjutan dari SBB.

      Kalau SST sudah siap Ki, tetapi yang SBB harus scanning dulu.

      • kulo S-3 pak SATPAM, kalo ada pesen 2 porsi….ooh, ya lupa
        nambah lagi 3 di bawa pulang.

        MATUR NUWUN

      • Lha yen ngoten tak tunggune wae ah , sopo ngerti Pak Satpam lodhang wektu lan penggalihe kerso ngunggah loro-lorone .
        lajeng JDBK 38 lha kok ora tersedia disini .

        Nuwun ….

        • lho…., sudah kok

          sebentar di cek dulu

          • Ups…
            rupanya waktu ngopi lupa belum diganti bulannya, masih bulan 10.
            mangga dipun cek malih.

  5. CANTRIK HADIR….TANPA BOLD ATAWA ITALIC BABAR BLAS

  6. Nuwun
    Sugêng énjang tumapak ing siyang

    Mugi pnaringå karahayon ing dintên punikå. Tinêbihnå ing sambékålå. Aamin.

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-53.Tenggelamnya Surya Majapahit. [Parwa ka-05] On 1 November 2011 at 21:38 JdBK 37

    Waosan kaping-54
    KERAJAAN MAJAPAHIT
    FAKTA SEJARAH YANG TIDAK TERSEMBUNYI Parwa ka-1

    Berawal dari buku “Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi“; oleh Hermanus Sinung Janutama (pada uraian selanjutnya disebut pengarang buku), dibantu oleh Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta 2010.

    Dalam bukunya, pengarang buku menyodorkan “fakta-fakta sejarah” yang berujung dengan suatu simpulan bahwa Majapahit adalah ‘Kesultanan Islam.’

    Benarkah?

    I. Nama kerajaan adalah Kesultanan Majapahit Darusalam.

    Tidak ada bukti sejarah yang akurat yang dapat meyakinkan kepada kita bahwa penyebutan Kerajaan Majapahit adalah “Kesultanan Majapahit Darusalam”.

    Pengarang buku membuat pernyataan bahwa kata “Darusalam” (bahasa Arab) sama dengan Hadiningrat (bahasa Jawa), sehingga namanya adalah Majapahit Hadiningrat seperti Keraton Suråkartå Hadinigrat dan Ngayogyåkartå Hadiningrat.

    Suatu simpulan yang amat dangkal, karena pada abad ke 14 yakni semasa Kerajaan Majapahit tidak ada bukti-bukti sejarah baik berupa prasasti, atau rontal-rontal, yang mengenal adanya istilah Hadiningrat; dan Kerajaan Majapahit pun tidak pernah disebut dengan nama Kerajaan Majapahit Hadiningrat.

    Istilah Hadiningrat baru dikenal pada abad ke 18, yakni pada naskah Perjanjian Giyanti yang dibuat pada tanggal 13 Februari 1755 di Desa Giyanti, sekarang Dukuh Kerten, Desa Jantihardjo, Karanganyar Surakarta.

    II. Lambang Kerajaan: Surya Majapahit

    Pengarang buku menyatakan dalam bukunya bahwa pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara jurai sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini.

    Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka pengarang buku membandingkannya dengan logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau logo yang digunakan oleh organisasi masa Islam Muhammadiyah.

    Kemudian si pengarang buku menyimpulkan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam.

    Hal ini tidak dapat diterima begitu saja sebagai bukti bahwa Majapahit merupakan kerajaan Islam.

    Pada lambang yang dicontohkan, seolah-olah huruf Arab yang tercetak pada lempengan batu merupakan huruf yang benar-benar tercetak pada artefak Surya Majapahit.

    Kenyataannya huruf Arab yang diberi penekanan pada artefak tersebut tidak lebih merupakan persepsi yang dipaksakan oleh si pengarang buku dan pihak yang menganggap Majapahit merupakan kerajaan Islam.

    Surya Majapahit disebut juga Surya Wilwatikta adalah Matahari Majapahit, lambang yang kerap ditemukan di reruntuhan bangunan yang berasal dari masa Majapahit. Lambang ini mengambil bentuk matahari bersudut delapan dengan bagian lingkaran di tengah menampilkan dewa-dewa Hindu.

    Lambang ini membentuk diagram kosmologi yang disinari jurai matahari khas “Surya Majapahit”, atau lingkaran matahari dengan bentuk jurai sinar yang khas. Karena begitu populernya lambang matahari ini pada masa Majapahit, para ahli arkeologi menduga bahwa lambang ini berfungsi sebagai lambang negara Majapahit.

    Bentuk paling umum dari Surya Majapahit terdiri dari gambar sembilan dewa dan delapan berkas cahaya matahari. Lingkaran di tengah menampilkan sembilan dewa Hindu yang disebut Dewata Nawa Sanga. Dewa-dewa utama di bagian tengah ini diatur dalam posisi delapan arah mata angin dan satu di tengah. Dewa-dewa ini diatur dalam posisi:
    • Tengah: Syiwa.
    • Timur: Isywara
    • Barat: Mahadewa
    • Utara: Wishnu
    • Selatan: Brahma
    • Timur laut: Sambhu
    • Barat laut: Sangkara
    • Tenggara: Mahesora
    • Barat daya: Rudra

    Dewa-dewa pendamping lainnya terletak pada lingkaran luar matahari dan dilambangkan sebagai delapan jurai sinar matahari:
    • Timur: Indra
    • Barat: Baruna
    • Utara: Kuwera
    • Selatan: Yama
    • Timur laut: Isyana
    • Barat laut: Bayu
    • Tenggara: Agni
    • Barat daya: Nrti

    Lambang ini digambar dalam berbagai variasi bentuk, seperti lingkaran dewa-dewa dan sinar matahari, atau bentuk sederhana matahari bersudut delapan, seperti lambang Surya Majapahit yang ditemukan di langit-langit Candi Penataran. Dewa-dewa ini diatur dalam bentuk seperti mandala.

    Variasi lain dari Surya Majapahit berupa matahari bersudut delapan dengan gambar dewa Surya di tengah lingkaran tengah mengendarai kuda atau kereta perang.

    Ukiran Surya Majapahit biasanya dapat ditemukan di tengah langit-langit garbhagriha (ruangan tersuci) dari beberapa candi seperti Candi Bangkal, Candi Sawentar, dan Candi Jawi.

    Ukiran Surya Majapahit juga kerap ditemukan pada ‘stella’, ukiran ‘halo’ atau ‘aura’, pada bagian belakang kepala arca yang dibuat pada masa Majapahit. Ukiran ini juga ditemukan di batu nisan yang berasal dari masa Majapahit, seperti di Trowulan.

    Dalam pada itu, mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, dengan logo yang digunakan organisasi masa Muhammadiyah, tidak serta merta dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Majapahit adalah Negara Islam.

    Jika diamati, argumentasi yang digunakan dibangun berdasarkan bentuk silogisme yang mentah akibat kesalahan pengambilan premis dan penyimpulannya.

    Premis pertama menyatakan bahwa logo organisasi masa Islam Muhammadiyah adalah Sinar Jurai Matahari merupakan logo resmi yang memakai simbol Islam. Premis kedua menyatakan bahwa Negara Majapahit berlambangkan Surya Majapahit mirip dengan logo organisasi masa Islam Muhammadiyah, dengan demikian disimpulkan bahwa Kerajaan Majapahit adalah Kerajaan Islam.
    Sangat jelas, suatu simpulan yang sangat dipaksakan, karena salah pengambilan premis.

    Catatan:
    Beberapa bukti artefak Lambang Surya Majapahit masih dapat dilihat di Museum Trowulan Mojokerto dan Museum Nasional Jakarta. Nampak sangat jelas bahwa pada permukaan artefak Lambang Surya Majapahit tidak terdapat pahatan huruf-huruf Arab, yang ada adalah pahatan perwujudan sembilan dewa-dewa dalam mitologi Hindu.

    III. Raden Wijaya pendiri dan raja pertama Majapahit adalah seorang muslim.

    Disebutkan oleh pengarang buku, bahwa Raden Wijaya, Pendiri dan Raja Pertama Majapahit adalah seorang muslim cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam, Hal ini karena Raden Wijaya merupakan putra Rakeyan Jayadarma bin Prabu Guru Dharmasiksa ulama Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Ibunya Dyah Lembu Tal putri Mahisa Campaka dari Singasari.

    Beberapa sumber yang memiliki penjelasan berbeda tentang Dyah Lembu Tal, yaitu:

    a. Menurut Naskah Wangsakerta Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Lembu Tal atau Dyah Singamurti adalah anak perempuan dari Mahisa Campaka, putra Mahisa Wonga Teleng, putra Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari.

    Lembu Tal menikah dengan Rakeyan Jayadarma, putra Prabu Guru Darmasiksa raja Kerajaan Sunda-Galuh yang memerintah tahun 1175-1297. Dari perkawinan itu lahir Raden Wijaya.

    b. Menurut Negarakertagama, Dyah Lembu Tal adalah anak laki-laki dari Narasinghamurti.

    Ayah Raden Wijaya adalah Dyah Lembu Tal, sedangkan Dyah Lembu Tal adalah anak laki-laki dari Narasinghamurti atau Mahesa Campaka, dan Mahesa Campaka adalah anak Mahesa Wonga Teleng, sedangkan Mahesa Wonga Teleng adalah anak Ken Dedes dan Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi.

    Keterangan dalam Negarakertagama lebih dipercaya karena diperkuat oleh prasasti Balawi yang diterbitkan oleh Raden Wijaya sendiri pada tahun 1227 Ç atau 1305 M. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Raden Wijaya adalah putra dari seorang laki-lai Dyah Lembu Tal, seorang perwira yuda yang gagah berani, yang keturunan asli Wangsa Rajasa, yaitu dinasti yang menurut Pararaton didirikan oleh Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi, atau Ken Arok, penguasa pertama Kerajaan Singasari. Prasasati Balawi ini sekaligus memberikan petunjuk kesejarahan tokoh Ken Arok.

    Jadi, keterangan tentang Raden Wijaya yang merupakan anak Dyah Lembu Tal yang disebut ibunya dan cucu dari Dharmasiksa, sangat diragukan. Karena Dyah Lembu Tal adalah seiorang laki-laki. Mungkin saja Raden Wijaya memang cucu Dharmasiksa seperti yang tercantum dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara. Raden Wijaya dibawa pergi oleh Lembu Tal dari Sunda dan akhirnya menetap kembali di Singasari.

    Benarkah Prabu Guru Dharmasiksa seorang ulama Islam, yang disebutkan oleh pengarang buku sebagai ulama Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya penganut ajaran-ajaran sufi???.
    Berperilaku mirip ajaran sufi, tidak serta-merta dijustifikasikan sebagai muslim. Untuk ini akan diuraikan pada wedaran berikutnya.

    Kita kembali menelisik sumber sejarah Naskah Wangsakerta, seperti yang telah disinggung di atas, sebagai berikut:

    Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara. adalah sekumpulan naskah yang konon dihimpun oleh pejabat kraton Cirebon bernama Pangeran Wangsakerta secara pribadi atau oleh “Panitia Wangsakerta” pada abad ke-XVII, disebut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, atau lebih dikenal dengan sebutan Naskah Wangsakerta.

    Menurut isi Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara parwa (bagian) V sarga (jilid/naskah) 5 yang berupa daftar pustaka, setidaknya perpustakaan Kesultanan Cirebon mengoleksi 1703 judul naskah, yang 1213 di antaranya berupa karya Pangeran Wangsakerta beserta timnya. Naskah kontroversial ini kini tersimpan di Museum Sejarah Sunda “Sri Baduga” di Bandung.

    Naskah-naskah yang dihasilkan oleh Panitia Wangsakerta bisa digolongkan menjadi beberapa judul:
    • Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara
    • Pustaka Pararatwan
    • Pustaka Carita Parahyangan i Bhumi Jawa Kulwan
    • Pustaka Nagarakretabhumi
    • Pustaka Samastabhuwana
    • Salinan kitab-kitab hukum Majapahit
    • Kumpulan carita, katha, dan itihasa
    • Pustaka mengenai raja desa dan raja kecil
    • Salinan beberapa naskah Jawa Kuna
    • Mahabharata
    • Kumpulan kathosana
    • Salinan prasasti
    • Salinan surat-surat perjanjian persahabatan
    • Naskah mengenai cerita para pedagang
    • Naskah dalam berbagai bahasa daerah lain dan bahasa asing
    • Kumpulan widyapustaka (aneka ilmu)
    • Pustaka keislaman
    • Sarwakrama raja-raja Salakanagara
    • Sarwakrama raja-raja Tarumanagara
    • Sarwakrama raja-raja Galuh dan Pajajaran
    • Sarwakrama raja-raja Galuh
    • Sarwakrama raja-raja Jawa Tengah dan Timur
    • Raja-raja dan pembesar Majapahit
    • Raja-raja dan pembesar Bali
    • Raja-raja dan pembesar Jangala dan Kadiri
    • Raja-raja dan pembesar Sriwijaya
    • Raja-raja daerah Bali, Kadiri, dan Janggala
    • Salinan naskah-naskah karya Prapanca

    Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara bukan sumber yang otentik, artinya tergolong sebagai sumber sekunder, yaitu sumber yang tidak ditulis sezaman. Jelas bahwa nilainya sebagai sumber sejarah tidak setinggi kalau sumber itu primer.

    Bahan atau materi yang dipergunakan berdasarkan hasil pengujian di Arsip Nasional RI, baru berumur sekitar 100 tahun (dihitung dari tahun 1988, yaitu ketika bahan naskah itu diuji). Jadi, kemungkinan naskah itu dibuat akhir abad ke-19.

    Sementara keterangan dalam naskah menyebutkan bahwa naskah itu disusun akhir abad ke-17. Jadi, ada selisih waktu duaratus tahun !!!

    Penulis naskah adalah semacam tim yang diketuai oleh Pangeran Wangsakerta. Soal identitas Pangeran Wangsakerta, bisa disebutkan bahwa ia adalah tokoh historis yang juga tercatat dalam sumber primer kolonial di samping dalam sumber lokal.

    Selanjutnya mengenai tulisan dan bentuk huruf yang dipergunakan dalam naskah ini adalah huruf Jawa Kuna yang kurang bagus, walau tidak bisa disebut buruk.

    Dalam satu jilid, ditemukan beberapa huruf yang beda. Kertas yang dipergunakan juga ada dua, kuning dan coklat.

    Para arkeolog yang ahli tulisan kuno (paleografi), naskah Wangsakerta ini dikelompokkan sebagai naskah palsu, disebutkan bahwa kertas yang dipergunakan untuk naskah ini adalah kertas manila yang dicelup.

    Lagi pula biasanya, naskah sejarah ditulis dengan huruf-huruf yang bagus, sedangkan naskah ini ditulis dengan huruf yang jelek.

    Ditemukannya naskah Wangsakerta pada awal tahun 1970an, selain menimbulkan kegembiraan dan kekaguman akan kelengkapannya, untuk banyak pihak justru menimbulkan keraguan dan kecurigaan, bahkan para sarjana dan ahli sejarah menduga bahwa naskah ini asli tapi palsu.

    Di antara alasan-alasan yang meragukan naskah ini, yaitu:
    • terlalu historis, isinya tidak umum sebagaimana naskah-naskah sezaman (babad, kidung, tambo, hikayat);
    • kesamaan dan kecocoknya isi naskah dengan karya-karya sarjana Barat (J.G. de Casparis, N.J. Krom, Eugene Dubois, dsb.), sehingga ada dugaan bahwa naskah ini disusun dengan merujuk pada karya para ahli tersebut (tidak dibuat abad ke-17);
    • keadaan fisik naskah (kertas/daluang, tinta, bangunan aksara) menunjukkan naskah yang dijadikan rujukan merupakan salinan dan tulisannya kasar, tidak seperti naskah lama pada umumnya.

    Tersebutlah Pangeran Wangsakerta, putra bungsu Panembahan Adiningkusuma, penguasa Keraton Cirebon pada abad ke-17. Berbeda dengan kedua kakaknya, konon si bungsu lebih suka menggauli ilmu pengetahuan ketimbang soal politik dan kenegaraan.

    Pada masa itulah, sekitar 1677, atas desakan politik Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, Cirebon terbelah menjadi tiga. Pangeran tertua, Syamsudin Mertawijaya, diangkat menjadi Sultan Sepuh, dan berkuasa di Keraton Kasepuhan.

    Adiknya, Pangeran Badridin Kertajaya, dipromosikan menjadi Sultan Anom. Keduanya punya kedaulatan politik atas sebuah wilayah.

    Pangeran Wangsakerta, alias Tohpati, sendiri hanya mendapat jabatan fungsional, sebagai panembahan di Puri Keprabonan. Kekuasaan politiknya tak seberapa besar. Tugas utama Wangsakerta adalah menjadi penasihat kedua kesultanan itu.

    Namun, Panembahan Wangsakerta lebih terkenal. Ia disebut meninggalkan warisan berupa naskah-naskah searah yang disebut Kitab Wangsakerta. Semua naskah itu kini tersimpan di museum sejarah Jawa Barat, di Bandung.

    Sejak dua tahun lalu, sebagian naskah itu telah selesai diterjemahkan dan dibukukan oleh Lembaga Sundanologi, yang bernaung di bawah Kanwil P dan K Jawa Barat. Namun, banyak ahli yang meragukan keaslian naskah itu.

    Puncaknya, diselenggarakan diskusi-panel sejarah di Universitas Tarumanagara, Jakarta. Sebagian besar sejarawan dan arkeolog yang hadir dalam diskusi sehari itu menyangsikan kitab Wangsakerta itu.

    Naskah itu dianggap terlalu lengkap dan cermat untuk bisa dikatakan berasal dari masa yang hampir 300 tahun silam. Buntutnya, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) menurunkan tim penyidik ke museum Bandung.

    Lebih dari separuh naskah Wangsakerta yang ada diambil sebagai contoh penyidikan. Kertas, aksara, dan bahasa dalam naskah itu diteliti secara cermat.

    Hasilnya, “Naskah-naskah itu palsu,” ujar Drs. Suwendi Montana, Ketua Tim Penyidik Arkenas itu. Drs. Atja, bekas kepala museum sejarah Bandung, adalah orang pertama yang menemukan naskah Wangsakerta itu, di awal 1970-an. Ketika itu dia tengah mencari bahan acuan untuk menyusun buku sejarah Cirebon.

    Dalam pencarian itu, Atja mengaku bertemu dengan pedagang barang antik yang bersedia memasok buku-buku kuno eks Keraton Cirebon. Lewat pedagang, satu demi satu naskah “tua” itu mengalir ke rak museum Bandung. Warisan Pangeran Wangsakerta itu ada 52 kitab, terbagi dalam tiga serial.

    Yang pertama berjudul Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara, (PRBN), 25 buku. Kitab kedua berjudul Negarakretabhumi, juga 25 buku, dan sisanya terangkum pada kitab Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa.

    Naskah-naskah itu, konon, disusun oleh sebuah panitia yang beranggotakan cendekiawan dari berbagai negeri yang diundang dan diketuai oleh Wangsakerta.

    Arkeolog senior UI, Boechari, 61 tahun, sempat terperanjat membaca kitab PRPBN temuan Atja itu. Ada keanehan di situ. Raja Mataram Kuno, Panangkaran, yang berkuasa di akhir abad ke-8, disebut dengan nama Sri Maharaja Tejahpurnapana Panangkaran. Padahal, nama lengkap putra Prabu Sanjaya itu baru dikenal dalam khazanah sejarah tahun 1950.

    Sebelumnya, sejarah mencatat nama raja Mataram itu sebagai Dyah Pancapanna Panangkara. Nama baru itu terungkap dari penelitian sejarawan Belanda, De Casparis, untuk disertasinya, setelah ia mempelajari bukti-bukti sejarah terbaru.

    Boechari mencatat, dalam banyak hal Kitab Wangsakerta itu sejalan dengan teori-teori De Casparis. Yang lebih aneh, bahkan penyusun Wangsakerta itu juga melakukan kekeliruan yang sama dengan apa yang pernah dibuat oleh De Casparis, yang terungkap setelah ditemukan bukti baru.

    Boechari mengupas sejumlah kejanggalan lain. Lantaran banyak keanehan itu, ahli epigrafi dari UI itu sudah lama yakin betul bahwa naskah-naskah Wangsakerta itu palsu. “Ini skandal ilmiah. Panitia Wangsakerta itu tak pernah ada,” ujarnya.

    Kelengkapan naskah Wangsakerta itu juga sempat membuat Prof. Soekmono, ahli sejarah Arkenas, geleng-geleng kepala.

    Peristiwa sejarah pada naskah itu ditulis secara runtut tanpa cela, dengan peneraan tahun yang cermat. Ini malah mengundang rasa curiga. “Berat rasanya untuk mempercayai bahwa naskah itu asli,” ujar guru besar arkeologi UI itu.

    Satu hal yang perlu dicatat, naskah Cirebon itu tak banyak mengulas soal Kerajaan Tarumanegara. Sejarah Tarumanegara tak menjadi lebih terang pada kitab Wangsakerta. Kegelapan sejarah Tarumanegara juga terjadi pada khazanah sejarah modern.

    Tampak ada korelasi di antara keduanya. “Naskah Wangsakerta itu menyontek sejarah modern,” kata seorang seiarawan UI yang tak mau disebut namanya.

    Tentang kelengkapan materi kitab Cirebon itu, “Bukan urusan penemunya, kalau memang penulisnya sudah maju, mau bilang apa,” ujar Atja.

    Setiap naskah Wangsakerta itu berbentuk buku, dan ditulis pada daluwang, kertas kuno yang terbuat dari kayu. Pada masa itu, daluwang buatan Cina, kabarnya, telah diperdagangkan di Nusantara.

    Tebal buku bervariasi. Negarakretabhumi bagian dua misalnya, terdiri atas 98 lembar daluwang 32,5 X 22 cm. Naskah ditulis dalam bahasa Jawa kuno, dan dirampungkan tahun 1693. Kitab-kitab “tua” itu, kata Atja, dibeli dengan harga Rp 1 – 2,5 juta per naskah. Dananya diambil dari APBD atau APBN lewat Proyek Sundanologi.

    Siapa pemilik naskah itu, dia tak tahu-menahu, lantaran pihak pialang tak bersedia mengungkapkannya. “Memang begitu kode etik mereka,” ujar Atja, yang kini mengajar di Arkeologi Unpad. Asikin, penduduk Pegambiran, Cirebon, adalah yang mengaku memasok naskah itu ke Atja, sejak 1972.

    Tentang pemiliknya, Asikin tak bersedia menyebutnya. Yang terang, dia mengaku menerima komisi antara Rp 300 dan Rp 800 ribu untuk setiap transaksi. Aslikah naskah itu? “Ah, itu kan urusan para ahli,” ujar Asikin. Tapi sesepuh Puri Keprabonan, Cirebon, Pangeran Sulaeman Sulendraningrat, 74 tahun, tak meragukan keaslian naskah “kuno” itu.

    Semasa hidup, tutur Sulaeman, Panembahan Wangsakerta memang pernah memprakarsai pembentukan tim ahli untuk menulis sejarah Nusantara. Anggota tim itu diambil dari beberapa negeri.

    Tak hanya cendekiawan Jawa saja yang datang tutur Sulaeman, konon ada pula cendekiawan yang datang dari Kesultanan Trengganu, Pahang, keduanya di Malaysia.

    Di Cirebon mereka berkumpul, berdiskusi, dan menulis sejarah selama 21 tahun, dengan berbekal 1.800-an catatan kepustakaan. Anehnya, proyek prestisius tak disebut-sebut dalam Babad Cirebon, yang, sebagaimanana umumnya babad, semestinya mencatat peristiwa penting.

    Tapi, menurut Sulaeman, itu memang kehendak Wangsakerta sendiri, supaya naskah agung itu luput dari jamahan kompeni Belanda. Kalau pihak kompeni tahu, naskah itu pasti dimusnahkan. “Agar mereka mudah memutarbalikkan sejarah kita,” kata pangeran itu.

    Tapi tim Arkenas menemukan bukti lain. Ketika lembaran daluwang itu digosok dengan jari berludah, ternyata warna abu-abunya luntur. Di baliknya, terdapat warna hijau atau merah muda: kertas manila.

    Bahasa Jawa kuno yang dipakai pun, menurut ketua tim, kelewat dikuno-kunokan, sehingga malah tak mewakili bahasa akhir abad ke-17. “Para wali yang hidup di abad ke-15 menggunakan bahasa Jawa baru,” tutur ketua tim penyidik itu.

    Peristiwa ini sangat disesalkan oleh Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Uka Tjandrasasmita, yang menduga ada unsur penipuannya.

    Semakin memperjelas bahwa sumber sejarah asal usul Raden Wijaya menurut Naskah Wangsakerta Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, sangat lemah, apalagi jika sumber sejarah tersebut diduga kuat mengandung unsur penipuan.

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur sembah nuwun Ki Bayuaji, kulo tenggo dongeng tutugipun.

  7. Nuwun

    Katur Ki Panji Satriå Pamêdar, såhå Ki Mahésa Aréma

    Telah kami kirimkan via email ke alamat kontak.
    Silsilah Raja-raja Singasari- Majapahit
    sebagai kelengkapan Dongeng Arkeologi & Antropologi Surya Majapahit.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur suwun Ki
      lama tidak sambang gmail.
      segera menuju ke TKP

      • Lha lak ngaten JDBK 38 sampun sumadio , matur nuwun sanget .

        Nuwun

        • njih ki
          monggo

          • Kula nunut matur nuwun.
            Nembe nganglang dumugi tgl 8
            Sugeng dalu.

      • Nuwun

        Matur nuwun Ki, dan sekaligus kami kirimkan Gambar Surya Majapahit sesuai artefak yang ditemukan di SitusTrowulan dengan sandingan “Gambar Surya Majapahit” yang telah direkayasa.

        Nuwun

        cantrik bayuaji

        • njih Ki, sampun dipun unduh
          matur suwun

          • Unduh unduh suwun
            Kalau sampun jangan disuwun
            (Tetap blm pakai bold atawa italic)

  8. Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar…..
    Laa – ilaaha – illallaahu wallaahu akbar.
    Allaahu akbar walillaahil – hamd.

    Sugêng mahargyå Idul Qurban 1432H

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Sami-sami Ki Bayu

      • Sami sami Ki Bayu.

  9. pak Satpam cantrik LAPOR :

    gandok jdbk-39, jdbk-40….(hilang) tidak bisa diketemukan,
    kemana dimana…!!??

    mohon pencerahan se-cepat2nya, matur kesuwun sekali

  10. Saya klik kanan 2x kok langsung muncul JDBK-41….?

    Nyuwun pencerahan supados cerah.

    • lha monggo kalau mau masuk ke gandok jdbk-41, lha wong itu pintu masuk ke kawah lendut benter kok.
      he he he ….

  11. Nuwun
    Sugêng énjang

    Gandhok JdBK-39, koq nggak ada pintunya????

    Nuwun

    • lho…..
      wonten kok ki, kados biasanipun.
      ngagem pintu lanjut>> atau lewat pintu jejak di balik kabut wonten bilah samping kanan bagian atas.
      sampun kulo cek, saged kok, monggo dipun cobi malih ki

      • O..o..
        nggih ki, ngapunten ….
        gandok sampun bikak, nanging buku tamunipun taksih dipun lak. Monggo…, sampun dipun bikak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: