JDBK-39

<< kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 7 November 2011 at 00:01  Comments (20)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jdbk-39/trackback/

RSS feed for comments on this post.

20 KomentarTinggalkan komentar

  1. Nomer siji lho P Satpam .

    Matur nuwun sampun kulo gembol serat JDBK 38 . Kaliyan ngentosi wedharan dongengipun Ki Cantrik Bayuaji .

  2. Nomer dua lho P Satpam .

    Matur nuwun sampun kulo gembol serat JDBK 38 . Kaliyan ngentosi wedharan dongengipun Ki Cantrik Bayuaji .

    • rontal JDBK 39 cantrik titip pak SATPAM sebentar, nanti malem
      cantrik ambil kalo tidak ketiduran.

    • Walah kleru dhing JDBK 39 ngapunten P Satpam Lan ki GundUL .Lha wong kleru koq ditirokke he….he…he…he.

      Nuwun……………………

  3. ngenteni dedongengane ki Bayu

  4. Nuwun
    Sugêng dalu

    Mugi pnaringå karahayon ing dintên punikå. Tinêbihnå ing sambékålå. Aamin.

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-54.Kerajaan Majapahit. Fakta Sejarah Yang Tidak Tersembunyi [Parwa ka-01] On 5 November 2011 at 09:58 JdBk 38

    Waosan kaping-55
    KERAJAAN MAJAPAHIT
    FAKTA SEJARAH YANG TIDAK TERSEMBUNYI Parwa ka-2

    Untuk meyakinkan legitimasinya di Majapahit, Raden Wijaya menggunakan silsilah yang ia buat dari garis keturunan Singasari. Sebagaimana raja-raja Mataram Islam yang menggunakan silsilah hingga ke Nabi Adam untuk memperkuat legitimasinya. Atau malah, Raden Wijaya sama sekali tidak memiliki darah Sunda? Ini merupakan kajian yang masih harus diteliti kebenarannya.

    Adapun Prabu Guru Dharmasiksa sendiri memang terkenal akan ajarannya yaitu Amanat Galunggung yang intinya merupakan amanat yang bersifat pegangan hidup, amanat tentang perilaku negatif, dan amanat tentang perilaku positif. Kita simak wedaran berikut ini.

    AMANAT GALUNGGUNG

    Mohon dibaca juga Dongeng Arkelologi & Antropologi Seri Magawe Rahayu Magawe Kerta pada wedaran Sang Hyang Siksakanda (ng) Karesyan (Wangsit Niskala Wastu Kancana Sang Maha Prabu Siliwangi Ratu Pakuan Guru Dewata Prana Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji) dan Uga Wangsit Siliwangi (Carita Pantun Ngahiangna Pajajaran), di gandhok Dongeng Arkeologi & Antropologi.

    Dalam buku “Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi” (lihat Dongeng Arkeologi & Antropologi pada Waosan kaping-54. Kerajaan Majapahit. Fakta Sejarah Yang Tidak Tersembunyi [Parwa ka-01] On 5 November 2011 at 09:58 JdBk 38), disebutkan oleh pengarang buku tersebut bahwa Raden Wijaya, Pendiri dan Raja Pertama Majapahit adalah seorang muslim cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam, Hal ini karena Raden Wijaya merupakan putra Rakeyan Jayadarma bin Prabu Guru Dharmasiksa ulama Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi.

    Apakah seseorang yang hidup prihatin layaknya seorang sufi, dapat dipastikan seorang muslim?

    Benarkah Prabu Guru Dharmasiksa seorang penganut agama Islam?

    Kita ikuti dongengnya berikut ini:

    Dongeng ini berawal dari Kerajaan Saunggalah I di wilayah Kuningan sekarang yang keberadaannya ditengarai sejak awal abad 8M. Adalah Rahyang Sempakwaja Penguasa Galunggung, sang ayahanda, yang mendudukkan Resiguru Demunawan kakak kandung Purbasora (Raja di Galuh 716-732M) menjadi raja di Saunggalah I.

    Penyebutan gelar Resiguru dalam sejarah Sunda hanya diberikan kepada tiga orang tokoh, yaitu Resiguru Manikmaya, Raja di Kendan, 536-568M, Resiguru Demunawan, Raja di Saunggalah I, tepatnya di Kuningan, awal abad 8M dan Resiguru Niskala Wastu Kancana, Raja di Kawali, 1371-1475M. Resiguru adalah gelar yang sangat terhormat bagi seorang raja yang telah membuat dan menurunkan suatu “ajaran” yang menjadi pedoman hidup bagi keturunannya.

    Dengan gelaran Resiguru yang disandangnya tentu Resiguru Demunawan pun menurunkan ajarannya. Adalah seorang keturunannya yang kemudian menjadi Raja di Saunggalah I/Kuningan dan kemudian pindah menjadi raja di Saunggalah II Mangunreja/Sukapura yaitu Prabu Guru Dharmasiksa (1175-1297 M, 122 tahun) yang kelak kemudian mengaktualisaksikan ajaran-ajaran karuhunnya (leluhurnya).

    Prabu Guru Darmasiksa pertama kali memerintah di Saunggalah I, tepatnya sekarang sekarang di desa Ciherang, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan selama beberapa tahun; yang selanjutnya diserahkan kepada puteranya dari istrinya yang berasal dari Darma Agung, yang bernama Prabu Purana (Premana?).

    Setelah Prabu Guru Darmasiksa hijrah ke Saunggalah II, tepatnya sekarang berada di daerah Mangunreja di kaki Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, kerajaan lalu diserahkan kepada putranya yang bernama Prabu Ragasuci. Adapun Prabu Guru Darmasiksa diangkat menjadi Raja di Karajaan Sunda (Pakuan) sampai akhir hayatnya.

    Prabu Guru Darmasiksa adalah tokoh yang kemudian berperan besar dalam mengkompilasi dasar-dasar pandangan hidup/ajaran hidup berupa nasehat dan pitutur dalam suatu naskah tertulis. Naskah yang dikenal sebagai Amanat Galunggung atau disebut juga sebagai Naskah Ciburuy.

    Amanat Galunggung adalah nama yang diberikan untuk sekumpulan naskah yang ditemukan di Kabuyutan Ciburuy, Kabupaten Garut, sebagai salah satu naskah tertua di Nusantara. Di Kabuyutan Ciburuy, hingga kini orang menyimpan naskah-naskah kuno. Salah satu naskah kuno yang ditemukan di kabuyutan itu — sebelum disimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta — adalah ”Amanat Galunggung”.

    Naskah ini ditulis pada abad ke-15 pada rontal dan nipah, menggunakan bahasa dan aksara Sunda Kuno. Naskah ini berisi nasihat mengenai etika dan budi pekerti Sunda, yang disampaikan Rakyan Dharmasiksa, Raja Sunda ke-25, Penguasa Galunggung kepada putranya Ragasuci Sang Lumahing Taman. (Bukan kepada Raden Wijaya, seperti yang ditulis oleh pengarang buku).

    Nama atau judul ” Amanat Galunggung” berasal dari filolog Saleh Danasasmita, yang turut mengkaji naskah tersebut, kemudian turut mengompilasikan hasil kajiannya dalam ”Sewaka Darma, Sanghyang Siksakandang Karesian, dan Amanat Galunggung”.

    Petuah dan pitutur yang diajarkan oleh para karuhun dan pepunden ini layak untuk dihadirkan kembali sebagai sebuah proses refleksi dan retrospeksi guna menemukan kembali nilai dan adab kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang saat ini telah tergerus oleh nafsu penghambaan keduniawian.

    Amanat Galunggung” berisi ajaran moral. Dalam naskah ini antara lain disebutkan bahwa kabuyutan harus dipertahankan. Raja yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan di wilayah kekuasaannya lebih hina ketimbang kulit musang yang tercampak di tempat sampah.

    Dengan demikian, dalam tata politik dahulu kala, pusat-pusat kegiatan intelektual dan keagamaan rupanya memiliki kedudukan yang sangat penting. Kabuyutan tampaknya merupakan salah satu pilar yang menopang integritas negara, sehingga tempat itu dilindungi oleh raja, bahkan dianggap sakral.

    Amanat Prabu Guru Darmasiksa dirangkum dari setiap halaman yang diberi nomor sesuai dengan terjemahan Saleh Danasasmita dkk, 1987.

    Sistematika rangkuman tersebut terbagi sebagai berikut:
    • Amanat yang bersifat “pegangan hidup”; cêcêkêlan hirup.
    • Amanat yang bersifat perilaku yang negatif (non etis) ditandai dengan kata penafikan “jangan”; ulah.
    • Amanat yang bersifat perilaku yang positif (etis) ditandai dengan kata imperatif “harus”; kudu.
    • Kandungan nilai.

    Berikut adalah pokok-pokok pada halaman pertama naskah tersebut:

    A. kudu dijaga kamungkinan jelema deungeun bisa ngarebut taneuh kabuyutan (taneuh anu disakralkeun

    [harus dijaga kemungkinan orang asing dapat merebut tanah kabuyutan (tanah yang disakralkan)]

    B. sing saha anu bisa ngadudukan Galunggung minangka taneuh anu disakralkan baris nampa kesaktian, punjul perang, ngajaya sarta bisa ngawariskeun kakayaan nepi ka nyukcruk galur

    [barang siapa yang dapat mendudukan Galunggung sebagai tanah yang disakralkan akan memperoleh kesaktian, unggul perang, berjaya dan dapat mewariskan kekayaan sampai turun temurun]

    C. leuwih hargaan kulit careuh atawa lasun anu aya di tempat runtah tinimbang putra raja anu henteu sanggup ngabéla taneuh caina

    [lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah dari pada putra raja yang tidak mampu mempertahankan tanah airnya]

    D. ulah nyarékan jelema anu henteu boga salah

    [jangan memarahi orang yang tidak bersalah]

    E. ulah henteu bakti ka karuhun anu geus sanggup mertahankan taneuh cai dina jamannya.

    [jangan tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu memper-tahankan tanah air pada jamannya.]

    Beberapa hal yang perlu ditelaah dari Amanat Galunggung
    (yang ditampilkan pada wedaran ini hanya sebagian kecil dari Amanat Galunggung)

    1. Pegangan Hidup (1)
    Prabu Guru Darmasiksa menyebutkan lebih dulu 9 nama-nama raja leluhurnya.

    Darmasiksa memberi amanat ini adalah sebagai nasihat kepada: anak (ke-1), cucu (ke-2), umpi (ke-3), cicip (ke-4), muning (ke-5), anggasantana (ke-6), kulasantana (ke-7), pretisantana (ke-8), wit wekas ( ke-9, hilang jejak), sanak saudara, dan semuanya.

    Bandingkan dengan garis turun-temurun di Jawa: anak (ke-1), putu (ke-2), buyut (ke-3), canggah (ke-4), wareng (ke-5), uthek-uthek (ke-6), gantung siwur (ke-7).

    Dasar religi masyarakat Sunda pada waktu itu dalam ajaran Sunda Wiwitan adalah kepercayaan yang bersifat monoteis, penghormatan kepada roh nenek moyang, dan kepercayaan kepada satu kekuasaan yakni Sanghyang Keresa (Yang Maha Kuasa) yang disebut juga Batara Tunggal (Yang Maha Esa), Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Maha Gaib) yang bersemayam di Buana Nyungcung (Buana Atas).

    Orientasi, konsep, dan pengamalan keagamaan ditujukan kepada pikukuh untuk menyejahterakan kehidupan di jagat mahpar (dunia ramai). Pada dimensi sebagai manusia sakti, Batara Tunggal memiliki keturunan tujuh orang batara yang dikirimkan ke dunia melalui Kabuyutan; titik awal bumi Sasaka Pusaka Buana. Konsep buana bagi mereka berkaitan dengan titik awal perjalanan dan tempat akhir kehidupan.

    Bandingkan lagi dengan pemahaman pada ajaran Leluhur di Tanah Jawa: Sangkan Paraning Dumadi.

    Kandungan Nilai: Mengisyaratkan kepada kita bahwa harus menghormati/mengetahui siapa para leluhur kita. Ini kesadaran akan sejarah diri. Mengisyaratkan pula kesadaran untuk menjaga kualitas keturunannya dan seluruh insan-insan masyarakatnya.

    2. Pegangan Hidup (II):

    Perlu mempunyai kewaspadaan akan kemungkinan dapat direbutnya kemuliaan (kewibawaan dan kekuasaan) serta kejayaan bangsa sendiri oleh orang asing.
    Hindari perilaku yang negatif yaitu:
    a. merasa diri yang paling benar, paling jujur, paling lurus.
    b. menikah dengan saudara.
    c. membunuh yang tidak berdosa.
    d. merampas hak orang lain.
    e. menyakiti orang yang tidak bersalah.
    f. saling mencurigai.

    Kandungan Nilai: Sebagai suatu bangsa harus tetap waspada, tidak boleh lengah jangan sampai kekuasaan dan kemuliaan kita/Nusantara direbut/didominasi oleh orang asing. Kebenaran bukan untuk diperdebatkan tapi untuk diaktualisasikan.
    Pernikahan dengan saudara dekat tidak sehat. Segala sesuatu harus mengandung nilai moral.

    3. Pegangan Hidup (III):

    Harus dijaga kemungkinan orang asing dapat merebut kabuyutan (tanah yang disakralkan). Siapa saja yang dapat menduduki tanah yang disakralkan (Galunggung), akan beroleh kesaktian, unggul perang, berjaya, bisa mewariskan kekayaan sampai turun temurun. Bila terjadi perang, pertahankanlah kabuyutan yang disucikan itu.

    Cegahlah kabuyutan (tanah yang disucikan) jangan sampai dikuasai orang asing.
    Lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah dari pada raja putra yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan/tanah airnya.

    Hindari perilaku yang negatif, yaitu:
    a. memarahi orang yang tidak bersalah.
    b. tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu mempertahankan tanahnya (kabuyutannya) pada jamannya.

    Kandungan Nilai: Tanah kabuyutan, tanah yang disakralkan, bisa dimaknai sebagai tanah air (ibu pertiwi). Siapa yang bisa menjaga tanah airnya akan hidup bahagia.
    Pertahankanlah eksistensi tanah air kita itu. Jangan sampai dikuasai orang asing.
    Alangkah hinanya seorang anak bangsa, jauh lebih hina dan menjijikan dibandingkan dengan kulit musang -yang berbau busuk- yang tercampak di tempat sampah, bila anak bangsa tersebutsb tidak mampu mempertahankan tanah airnya.
    Hidup harus memilikii etika.

    4. Pegangan Hidup (IV):

    Hindarilah sikap tidak mengindahkan aturan, termasuk melanggar pantangan diri sendiri.
    Orang yang melanggar aturan, tidak tahu batas, tidak menyadari akan nasihat para leluhurnya, sulit untuk diobati sebab diserang musuh yang “halus”.
    Orang yang keras kepala, yaitu orang yang ingin menang sendiri, tidak mau mendengar nasihat ayah-bunda, tidak mengindahkan ajaran moral (patikrama). Ibarat pucuk alang-alang yang memenuhi tegal.

    Kandungan Nilai: Hidup harus tunduk kepada aturan, termasuk mentaati “pantangan” diri sendiri. Ini menyiratkan bahwa manusia harus sadar hukum, bermoral dan tahu batas serta dapat mengendalikan dirinya sendiri. Orang yang moralnya rusak sulit diperbaiki, sebab terserang penyakit batin (hawa nafsunya), termasuk orang yang keras kepala.

    5. Pegangan Hidup (V):

    Orang yang mendengarkan nasihat leluhurnya akan tenteram hidupnya, berjaya.
    Orang yang tetap hati seibarat telah sampai di puncak gunung.
    Bila kita tidak saling bertengkar dan tidak merasa diri paling lurus dan paling benar, maka manusia di seluruh dunia akan tenteram, ibarat gunung yang tegak abadi, seperti telaga yang bening airnya; seperti kita kembali ke kampung halaman tempat berteduh.
    Peliharalah kesempurnaan agama, pegangan hidup kita semua.
    Jangan kosong (tidak mengetahui) dan jangan merasa bingung dengan ajaran keutamaan dari leluhur.
    Semua yang dinasihatkan bagi kita semua ini adalah amanat dari Rakeyan Darmasiksa.

    Kandungan Nilai: Manusia harus rendah hati jangan angkuh. Agama sebagai pegangan hidup harus ditegakkan. Pengetahuan akan nilai-nilai peninggalan para leluhur harus didengar dan dilaksanakan.

    6. Pegangan Hidup (VI)

    Sang Raja Purana merasa bangga dengan ayahandanya (Rakeyan Darmasiksa), yang telah membuat ajaran/pegangan hidup yang lengkap dan sempurna.

    Bila ajaran Darmasiksa ini tetap dipelihara dan dilaksanakan maka akan terjadi:
    – Raja pun akan tenteram dalam menjalankan tugasnya;
    – Keluarga/tokoh masyarakat akan lancar mengumpulkan bahan makanan.
    – Ahli strategi akan unggul perangnya.
    – Pertanian akan subur.
    – Panjang umur.

    Yang diwujudkan sebagai:
    a. Sang Rama, adalah tokoh masyarakat, yang bertanggung jawab atas kemakmuran hidup;
    b. Sang Resi, adalah kaum cerdik pandai dan berilmu, yang bertanggung jawab atas kesejahteraan.
    c. Sang Prabu, adalah aparat pemerintah, birokrasi yang bertanggung jawab atas kelancaran pemerintahan.

    Hindari perilaku yang negatif:
    a. berebut kedudukan.
    b. berebut penghasilan.
    c. berebut hadiah.

    Perilaku yang positif: Harus bersama- sama mengerjakan kemuliaan, melalui: perbuatan, ucapan dan itikad yang bijaksana.

    Kandungan Nilai: Seorang ayah/orang tua harus menjadi kebangagan puteranya/keturunannya. Melaksanakan ajaran yang benar secara konsisten akan mewujudkan ketenteraman dan keadil-makmuran.

    Bila tokoh yang tiga (Rama, Resi dan Prabu), biasa disebut dengan Tri Tangtu di Bumi (Tiga penentu di Dunia), berfungsi dengan baik, maka kehidupan pun akan sejahtera.

    Hidup jangan serakah. Kemuliaan itu akan tercapai bila dilandasi dengan tekad, ucap dan lampah yang baik dan benar.

    7. Pegangan Hidup (VII):

    Orang yang berwatak rendah, pasti tidak akan hidup lama.
    Sayangilah orang tua, oleh karena itu hati-hatilah dalam memilih pasangan, memilih hamba agar hati orang tua tidak tersakiti.
    Bertanyalah kepada orang-orang tua tentang agama hukum para leluhur, agar hidup tidak tersesat.

    Ada dahulu (masa lampau) maka ada sekarang (masa kini), tidak akan ada masa sekarang kalau tidak ada masa yang terdahulu.
    Ada pokok (pohon) ada pula batangnya, tidak akan ada batang kalau tidak ada pokoknya.
    Bila ada tunggulnya maka tentu akan ada batang (catang)-nya.
    Ada jasa tentu ada anugerahnya. Tidak ada jasa tidak akan ada anugerahnya.
    Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia-sia.

    Kandungan Nilai: Orang berwatak rendah akan dibenci orang mungkin dibunuh orang, hidupnya tidak akan lama, namanya pun tidak dikenang orang dengan baik. Hormatilah dan senangkanlah ahti orang tua. Banyak bertanya agar hidup tidak tersesat. Kesadaran akan waktu dan sejarah. Kesadaran akan adanya “reward” yang harus diimbangi dengan jasa/kerja.

    8. Pegangan Hidup(VIII):

    Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia- sia, dan akhirnya sama saja dengan tidak beramal yang baik.
    Orang yang terlalu banyak keinginannya, ingin kaya sekaya-kayanya, tetapi tidak berkarya yang baik, maka keinginannya itu tidak akan tercapai.
    Ketidak-pastian dan kesemerawutan keadaan dunia ini disebabkan karena salah perilaku dan salah tindak dari para orang terkemuka, penguasa, para cerdik pandai, para orang kaya; semuanya salah bertindak, termasuk para raja di seluruh dunia.

    Bila tidak mempunyai rumah/kekayaan yang banyak ya jangan beristri banyak.
    Bila tidak mampu berproses menjadi orang suci, ya jangan bertapa.

    Kandungan Nilai: Pekerjaan yang sia-sia sama saja dengan tidak berkarya.
    Tanpa berkarya tak akan tercapai cita-cita. Ketidak tenteraman di masyarakat karena para cerdik pandai, birokrat dan orang-orang kaya salah dalam berperilaku dan bertindak. Pandailah mengukur kemampuan diri, agar tidak sia-sia.

    9. Pegangan Hidup (IX):

    Keinginan tidak akan tercapai tanpa berkarya, tidak punya keterampilan, tidak rajin, rendah diri, merasa berbakat buruk. Itulah yang disebut hidup percuma saja.
    Tirulah wujudnya air di sungai, terus mengalir dalam alur yang dilaluinya. Itulah yang tidak sia-sia. Pusatkan perhatian kepada cita-cita yang diinginkan. Itulah yang disebut dengan kesempurnaan dan keindahan.
    Teguh semangat tidak memperdulikan hal-hal yang akan mempengaruhi tujuan kita.

    Kandungan nilai: Perhatian harus selalu tertuju/terfokus pada alur yang dituju.
    Senang akan keelokan/keindahan. Kuat pendirian tidak mudah terpengaruh.
    Jangan mendengarkan ucapan-ucapan yang buruk. Konsentrasikan perhatian pada cita-cita yang ingin dicapai.

    Inilah intisari naskah Amanat Galunggung (Kropak 632), yang disebut dengan Amanat Prabu Guru Dharmasiksa. Tuntunan ajaran para karuhun dan pepunden yang harus dijiwai kembali oleh para anak bangsa dan menjadi bekal untuk mewujudkan negara, nusa dan bangsa yang adil berkemakmuran dan makmur berkeadilan.

    ***

    Penemuan-penemuan sejumlah bangunan era Megalitikum mengindikasikan bahwa rakyat Sunda kuno cukup religius. Sebelum pengaruh Hindu dan Buddha, kemudina Islam dan Kristen tiba di Pulau Jawa, masyarakat Sunda telah mengenal sejumlah kepercayaan, seperti terhadap leluhur, benda-benda angkasa dan alam seperti matahari, bulan, pepohonan, sungai, dan lain-lain.

    Pengenalan terhadap teknik bercocok tanam (ladang) dan beternak, membuat masyarakat percaya terhadap kekuatan alam. Untuk mengungkapkan rasa bersyukur atas karunia yang diberikan oleh alam, mereka lalu melakukan upacara ritual yang dipersembahkan bagi alam. Karena itu, mereka percaya bahwa alam beserta isinya memiliki kekuatan yang tak bisa dijangkau oleh akal dan pikiran mereka.

    Dalam melaksanakan ritual atau upacara keagamaan, masyarakat prasejarah itu berkumpul di komplek batu-batu besar (megalit) seperti punden-berundak (bangunan bertingkat-tingkat untuk pemujaan), menhir (tugu batu sebagai tempat pemujaan), sarkofagus (bangunan berbentuk lesung yang menyerupai peti mati), dolmen (meja batu untuk menaruh sesaji), atau kuburan batu (lempeng batu yang disusun untuk mengubur mayat).

    Bangunan-bangunan dari batu ini banyak ditemukan di sepanjang wilayah Jawa bagian barat. Dibandingkan dengan wilayah Jawa Tengah dan Timur, Jawa Barat paling banyak meninggalkan bangunan-bangunan megalitik tersebut.

    Kehidupan yang serba tergantung kepada alam membuat pola hidup yang bergotong-royong. Dalam melakukan persembahan/penyembahan terhadap roh leluhur maupun kekuatan alam, masyarakat prasejarah ini melakukannya secara bersama-sama.

    Yang memimpin upacara itu adalah mereka yang berusia paling tua atau dituakan oleh masyarakat yang bersangkutan. Pemimpin inilah yang berhak menentukan kapan acara “sedekah bumi” dan upacara-upacara religius lainnya dilakukan. Dialah juga yang dipercayai masyarakat dalam hal mengusir roh jahat, mengobati orang sakit, dan menghukum warganya yang melanggar nilai atau hukum yang diberlakukan.

    Kehidupan Keagamaan Masyarakat Sunda Masa Hindu-Buddha

    Setelah kedatangan orang-orang India, masyarakat Sunda kuno mulai terpengaruh ajaran-ajaran Hindu dan Buddha. Penemuan sejumlah arca-batu bercorak Hindu dan Buddha (meski dibuat sangat sederhana) menandakan bahwa mereka — terutama kaum bangsawan– mempercayai dan mempraktikkan ajaran-ajaran Hindu-Buddha. Meski jarang sekali ditemukan candi yang bercorak Hindu-Buddha, tak dipungkiri bahwa masyarakat Sunda Kuno —terutama keluarga raja— menganut agama-agama dari India itu, yang kemudian dipadukan dengan kepercayaan nenek-moyang mereka, yaitu Sunda Wiwitan.

    Sejak masa Salakanagara dan Tarumanagara, raja-raja di Sunda memiliki gelar yang sangat kental warna Hindu maupun Buddha. Gelar “dewawarman” yang berarti “baju perisai dewa”, tentu mengacu kepada kepercayaan Hindu, selain karena pendiri Salakanagara berasal dari negeri India. Mereka begitu memuja dewa-dewa Hindu seperti Surya, Wisnu, dan Siwa.

    Kehidupan agama masyarakat Sunda kuno dapat dilihat dari, misalnya, naskah Sanghyang Sisksakandang Karesian (disebut pula Kropak 603) yang ditulis pada 1518 atau Carita Parahyangan yang ditulis pada 1580 M. Berdasarkan naskah tersebut, terang sekali bahwa agama orang Sunda terdiri atas tiga kepercayaan utama, yaitu tradisi Sunda Wiwitan (Sunda asli) yang begitu memuja leluhur (hyang), Buddhisme, dan Hindu. Oleh masyarakat Sunda, kepercayaan Buddha dan Hindu tersebut dipadukan yang cenderung lebih mengarah kepada Buddhaisme.

    Perpaduan kedua agama ini dapat dilihat dari doa (semacam “syahadat”) mereka yang diucapkan ketika upacara keagamaan berlangsung. Doa tersebut berbunyi: “Hong kara namo Sewaya, sembah ing hulun di Sanghyang Panca Tatagata”, yang artinya: “Ya Tuhan, segala perbuatan demi nama Siwa, sembahku kepada Sanghyang Buddha yang lima.”

    Jelas sekali corak sikretisme dalam doa tersebut. Sanghyang Buddha yang 5 atau Dyani Buddha adalah posisi Buddha dalam bersemadi yang mengacu kepada arah mata angin, yakni:
    1. amogasiddha (utara);
    2. akshobya (timur);
    3. ratnasambhawa (selatan);
    4. amithabba (barat);
    5. wairocana (pusat/zenit).

    Sementara itu, dalam Hindu pun terdapat lima dewa, disebut Batara Jagat atau Lokapala. Akan tetapi, para dewa tersebut tidak dianggap tuhan melainkan tunduk kepada Hyang (dewata bakti di Hyang). Maka dari itu dikatakan, “Sing para dewata kabeh pada bakti ke Batara Seda Niskala” (Semua dewa tunduk kepada Batara Seda Niskala). Adapun kelima dewa tersebut adalah :
    1. Wisnu (utara);
    2. Isora/Iswara (timur);
    3. Mahadewa (selatan);
    4. Bratha (barat);
    5. Siwa (tengah).

    Agama Buddha yang berkembang di Jawa Barat (dan juga di kerajaan-kerajaan kuno lainnya di Nusantara) adalah Buddha Mahayana. Pada abad ke-7, Sriwijaya bahkan merupakan pusat studi Buddha Mahayana di sekitar Asia Timur-Tenggara.

    Mahzab Mahayana ini menitikberatkan kepada usaha saling membantu antarpengikutnya dalam mencapai kebebasan jiwa (nirvana), berbeda dengan Buddha Hinayana yang lebih bersifat individualistis dalam mencapai nirwana.

    Aliran Hinayana berkembang di Sri Langka, Burma, dan Thailand; namun kemudian tak berkembang dan lebih dulu menghilang. Sebaliknya, aliran Mahayana ini kemudian terpengaruh oleh Hinduisme, yang mengakibatkan makin menjauhnya ajarannya dari ajaran Siddharta Gautama sendiri.

    Dalam Buddha Mahayana akhirnya mengenal pendewaan atas diri Buddha dan Bodhisatwa, surga dalam artian tempat, bhaktimarga (jalan bakti), dan dewa-dewa lainnya yang patut disembah.

    Penyelewangan ajaran ini tentunya makin menjauhkan Buddhisme dari semangat Buddha Siddharta, karena ajaran Buddha aslinya tak mengenal adanya tuhan, tak mengenal doa, tak mengenal dewa-dewa layaknya dalam Hindu. Maka dari itu, di India sendiri ajaran Buddha menghilang dan kemudian lebih banyak dianut di Asia Timur dan Tenggara.

    Ada pun, ajaran Hindu yang dianut oleh masyarakat, atau lebih tepatnya para raja-raja, Pasundan adalah aliran Waisnawa (Wisnu) dan Bairawa (Siwa). Penemuan patung-patung Wisnu dan Siwa di beberapa tempat di Jawa Barat membuktikan hal ini.

    Belum lagi bila kita melihat gelar raja-raja Sunda, Galuh, atau Pajajaran yang berbau Wisnu. Sanjaya Sang Harisdarma, Prabu Resi Atmajadarma Hariwangsa, Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti, Guru Dharmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu, merupakan raja-raja yang memakai gelar kewisnuan (Harisdarma, Hariwangsa, Wisnumurti). Dewa atau Batara Wisnu sendiri adalah dewa yang memelihara perdamaian di bumi dari kehancuran yang disebabkan oleh Dewa Siwa.

    Dalam melaksanakan upacara/ritual keagamaan, masyarakat Sunda mempergunakan bangunan atau tempat yang telah ada, seperti punden berundak-undak atau babalayan, menhir, atau bangunan peninggalan budaya prasejarah Megalitikum yang memang banyak tersebar di Tatar Sunda.

    Maka dari itu, di Jawa Barat jarang sekali ditemukan bangunan tempat ibadah atau pun tempat penyimpanan abu raja seperti candi yang banyak ditemukan di Jawa Tengah dan Timur. Hal ini terjadi karena masyarakat Sunda adalah masyarakat peladang yang hidupnya cenderung nomaden, berpindah-pindah tempat.

    Sebagai komunitas nomaden, mereka merasa tak perlu membangun tempat-tempat suci (candi atau wihara) karena akan memakan waktu yang lama. Lagi pula, mereka akan selalu berpindah tempat lagi untuk menemukan lahan baru guna dijadikan tempat berladang mereka yang baru.

    Bagi masyarakat Sunda kuno, bangunan megalitik itulah “candi” mereka. Maka dari itu, gaya hidup orang Sunda yang hidup di dataran tinggi dan bertradisi ladang, berbeda dengan orang Jawa yang memiliki tradisi sawah yang gaya hidupnya cenderung menetap.

    Perpaduan unsur Buddha dengan Hindu rupanya menghasilkan “agama” baru, yakni Tantrayana, yang juga dianut oleh sebagian masyarakat Sunda, terutama kalangan atas yang status sosialnya tinggi. Mahzab Tantrayana (pengikutnya disebut Tantris) terdapat dalam Buddhisme maupun Hinduisme.

    Sekte ini lahir di India pada tahun 600 Çaka, dan lima puluh tahun kemudian menyebar ke Tibet, Cina, Korea, Jepang, hingga Indonesia (Jawa dan Sumatera). Tantra sendiri artinya adalah intisari, esensi, atau asal.

    Dalam kepercayaan Tantrayana ini mengenal adanya laku meditasi dengan menggunakan alat berupa mandala (bagi penganut Buddha) atau yantra (bagi penganut Hindu). Mandala adalah variasi lain yang bercorak Buddha dari apa yang disebut yantra oleh penganut Hindu, yakni berupa lukisan yang berfungsi sebagai alat bantu dalam meditasi sehari-hari.

    Alat tersebut —bisa dibuat dari tanah, kain, pada dinding, logam, atau batu— harus digunakan oleh mereka yang mencari pelepasan dari rangkaian siklus (lingkaran) kelahiran kembali.

    Penggunaan mandala/yantra ini biasanya dibarengi dengan memegang aksamala (seperti tasbih atau rosario) oleh tangan kanan untuk menghitung mantra yang diucapkan. Di Jawa Barat, para penganut Tantra ini menjalankan ibadahnya di bangunan-bangunan megalitik.

    Di Sriwijaya, aliran ini lebih dulu berkembang pada abad ke-7, ditandai adanya Prasasti Talang Tuo dan Kota Kapur yang berisi kutukan dan sumpah. Di Jawa Tengah pada abad ke-8 dalam Prasasti Kalasan tahun 778 disebutkan bahwa Rakai Panangkaran mendirikan bangunan suci, Candi Kalasan, untuk memuja Dewi Tara.

    Dewi Tara ini merupakan salah satu bentuk penyimpangan Buddha Mahayana karena dewi tersebut dianggap sebagai istri (syakti) pada Dyani Buddha; padahal Buddha sendiri menilai syahwat merupakan musuh terbesar manusia. Sementara itu, pada masa Raja Sindhok di Jawa Timur abad ke-10 telah disusun sebuah kitab yang menguraikan paham Tantra, yakni Sanghyang Kamahayanikan.

    Di Sunda sendiri, diketahui sejumlah raja penganut Tantra di antaranya: Sri Jayabhupati dan Raja Nilakendra (ayah Prabu Suryakancana, raja terakhir Pajajaran). Prasasti Sanghyang Tapak (Cibadak) menyebutkan sejumlah sumpah dan kutukan “mengerikan” yang menyerukan supaya orang yang menyalahi ketentuan dalam prasasti tersebut diserahkan kepada kekuatan-kekuatan gaib untuk dibinasakan dengan menghisap otaknya, menghirup darahnya, memberantakkan ususnya, dan membelah dadanya.

    Selain kutukan-sumpah, Tantrayana mengajarkan agar badan, perkataan, serta pikiran digiatkan oleh ritual, mantra, dan samadi. Dalam Tantrayana Hindu, kesaktian Siwa dinilai bersifat wanita dan akhirnya dianggap sebagai istri Siwa sendiri. Munculnya unsur wanita ini mengakibatkan lahirnya kegiatan “hubungan intim” yang dianggap “suci” dan membawa manusia kepada “kebebasan jiwa” dalam upacara Tantrayana.

    Begitu pula dalam Tantrayana Buddha (Wajrayana), yang ditandai dengan adanya hubungan Dewi Tara dengan Dyani Buddha.

    Tantrayana menganggap bahwa penciptaan alam semesta beserta isinya dilakukan oleh Unsur Asal (dalam Buddhisme disebut Buddha, dalam Hinduisme disebut Siwa-Bhairawa) melalui hubungan intim dengan istrinya.

    Upacara Tantrayana ini semakin menyimpang dengan adanya penggunaan minuman keras oleh para pengikutnya. Minuman keras ini dimaksudkan untuk mempercepat “peleburan” diri kepada Unsur Asal. Mereka pun selalu mengutamakan makanan-makanan lezat dan mewah, yang jelas bertentangan dengan ajaran Buddha murni yang mengharamkan minuman keras dan hidup berfoya-foya.

    Kemerosotan akhlak dan moral di kalangan istana dengan adanya praktik Tantrayana ini kelak mempercepat penyebaran Islam di dalam masyarakat Sunda. Belum lagi faktor bahwa dalam Buddha sendiri tak dikenal pengkastaan.

    Kepercayaan terhadap (Ajaran) Leluhur

    Seperti telah dikupas sedikit, bahwa pada masa nirleka (prasejarah) masyarakat Sunda begitu menjunjung tinggi (roh) para leluhur dan ajaran-ajarannya. Kepercayaan terhadap nenek moyang ini senantiasa dipelihara oleh mereka hingga berabad-abad kemudian setelah agama Hindu-Buddha dan Islam masuk ke wilayah mereka.

    Jadi, walaupun pengaruh agama lain kuat terhadap kehidupan, masyarakat Sunda kuno tetap memegang teguh kepercayaan terhadap (ajaran) nenek-moyang.

    Naskah-naskah kuno begitu sering menyebutkan adanya kabuyutan, yakni tempat sakral yang diperuntukkan bagi kaum brahmana atau resi atau bagawat yang bertugas memelihara ajaran agama dan tempat suci itu sendiri.

    Kabuyutan juga merupakan tempat di mana para pujangga (kauam intelektual) menulis kitab-kitab tentang agama. Prasasti Gegerhanjuang (1111 M) di Singaparna (Tasikmalaya), misalnya, menyebutkan adanya panyusukan atau penyaluran air sehubungan dengan pembangunan Kabuyutan Linggawangi di tempat bersangkutan.

    Upaya raja-raja Sunda dalam membuat kabuyutan juga banyak diabadikan dalam naskah-naskah, salah satunya Amanat Galunggung (dikenal juga sebagai Kropak 632 atau Naskah Ciburuy).

    Di dalamnya diberitakan bahwa Prabu Guru Dharmasiksa berpesan terhadap anak-cucunya agar memegang teguh ajaran agama dan menjaga Kabuyutan Galunggung. Diperingatkannya bahwa kabuyutan tersebut jangan jatuh ke tangan orang non-Sunda, dan orang yang memelihara kabuyutan tersebut akan memeroleh kesaktian, unggul dalam perang, hidup akan lama, keturunannya akan bahagia.

    Jelas, bahwa bagi raja-raja Sunda, fungsi kabuyutan sebagai kekuatan magis dinilai sangat penting, lebih penting dari, misalnya, lamanya sang raja memerintah. Dalam pandangan orang Sunda Kuno, kedudukan kabuyutan sejajar dengan nilai kemenangan dalam perang.

    Pada masa Sri Baduga, pemeliharaan terhadap kabuyutan ini tetap dilaksanakan. Ia menyatakan, kabuyutan di Sunda Sembawa dan Gunung Samaya dijadikan sebagai “desa perdikan”, yaitu desa yang dibebaskan dari pajak. Kabuyutan ini dibebaspajakkan karena jasa-jasanya terhadap negara dalam memelihari ajaran leluhur dan juga perintah raja.

    Naskah Amanat Galunggung juga memuat ajaran agar senantiasa melaksanakan perintah nenek moyang (juga orangtua) serta menjaga apa-apa yang telah diperbuat oleh leluhur yang telah suwargi.

    Tetaplah mengikuti orangtua, melaksanakan ajaran yang membuat parit di Galunggung, agar unggul perang, serba tumbuh tanam-tanaman, lama berjaya. Sungguh-sungguhlah mengikuti patikrama warisan dari para karuhun.

    Carita Parahyangan pun membeberkan, bahwa bila seseorang meninggalkan ajaran leluhur niscaya akan dihinggapi kesusahan dan penyakit batin. Sebaliknya, orang yang memelihara ajaran nenek moyang pasti akan senang lahir-batin.

    Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang-sejahtera di utara, barat, dan timur. Mungkin, faktor “menghormati leluhur” inilah yang menyebabkan ajaran Islam dapat diserap oleh mayoritas masyarakat Sunda.

    Islam pun mengajarkan bahwa menghormati orang tua merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan; dan barang siapa yang selalu mendoakan arwah orangtua akan diberi pahala melimpah.

    Menyimak uraian di atas, dari kalimat yang manakah dapat disimpulkan bahwa Prabu Dharmasiksa dengan ajarannya yang disebut Amanat Galunggung adalah seorang yang beragama Islam.

    Tidak ada redaksional yang mengarah kepada kesimpulan bahwa Dharmasiksa adalah seorang muslim. Sedangkan Amanat Galunggung sendiri dipercaya merupakan khazanah lokal budaya Sunda.

    Dengan Amanat Galunggung, nampak bahwa Prabu Guru Dharmasiksa mengajarkan moral yang tinggi, menghargai dan menghormati leluhur/orang tua, yang merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan, menjaga hubungan kekerabatan dengan sesama dan lingkungan hidup disekitarnya.

    Bukankah ajaran ini senafas dengan ajaran Islam. Tapi tidaklah serta merta dapat dikatakan bahwa Prabu Guru Dharmasiksa beragama Islam.

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  5. Dumateng ki Bayuaji , menopo panjenagnipun ing sanes wekdal saget ambabar serat Darmo Gandhul kalawan serat Gathol Loco kanthi tuntas kangge nambah wawasan salah satunggale serat ingkang radi nyeleneh . kirang langkungipun kulo aturaken gunging panuwun

    Nuwun

    • Nuwun
      Sugêng énjang

      Katur Ki Haryo Mangkubumi, såhå sanak kadang padépokan pêlangisingosari

      Atur pambagyå,

      Dongeng Arkeologi & Antropologi Surya Majapahit. Bêdhah Sêrat Darmågandhul. Jångkå Jåyåbåyå Sabdåpalon Nåyågénggong dan Runtuhnya Kerajaan Majapahit, sampun cêmawis wonten ing Gandhok JdBK 36 (On 30 Oktober 2011 at 18:43) lan Gandhok JdBK 37 (On 1 November 2011 at 21:38).

      Ugi sagêd dipun waos wonten ing Gandhok Dongeng Arekologi & Antropologi Seri Surya Majapahit – Bagian Kedua – Wedaran ke-51 lan ke-52

      —-

      Bab Sêrat Gatoloco (Suluk Gatoloco) — merupakan sebentuk suluk mistisisme Jawa yang diperkirakan berasal dari awal abad ke-19, berbahasa Jawa Baru — isinya tidak berbeda jauh dengan Sêrat Darmågandhul, bahkan dalam Serat Gatoloco disebutkan bahwa Darmågandhul adalah abdi kinasih Gatholoco — penuh hinaan dan hujatan terhadap Islam —

      Adanya tokoh Darmågandhul ini menimbulkan spekulasi keterkaitan antara suluk ini dengan Sêrat Darmågandhul, kitab yang juga kritis terhadap penyebaran Islam di Jawa.

      Sebagai karya sastra tampaknya Sêrat Gatoloco ini dibuat oleh pihak-pihak yang tidak setuju dengan aplikasi aturan-aturan fiqih yang ketat, yang dicoba diterapkan pada masa itu.

      Mudah-mudah ada kesempatan untuk menulisnya Ki.

      Sumånggå. Matur nuwun kawigatosanipun.

      Nuwun

      cantrik bayuaji

      • Matur nuwun Ki Bayu,
        kula setya tuhu ngentosi dongeng Wong Samin.

        Sugeng dalu.

        • Matur nuwun Ki Bayu,
          kula setya tuhu ngentosi dongeng Wong AYOE
          Sugeng dalu.

          • Wong AYOE menopo Wong AYOE-AYOE ki GundUL ?????

          • sidji kemawon ki Haryo (ayoe)…..kalo lebih cantrik binggung
            milih2-e,

            he-hee-heee, sugeng dalu ki,

      • Katur ki BayuAji ,

        Pambagyo Basuki

        Kasinggihan ki , kulo tenggo candhakipun dedongengane kiBayuaji

        Nuwun

  6. cantrik HADIR pak SATPAM

  7. hadir, dan menunggu dengan diam diam

    • ssssttt, Ki Bancak……….
      kula inggih hadir sambil bisik bisik
      menunggu dengan klisak klisik
      (paling mangke sing mbengok2
      menika Ki Menggung)

      • nuwun inggih, sendiko

        • sendiko, inggih nuwun

  8. Diam diam dan menunggu dengan hadir.

    • hadir dan menunggu dengan diam diam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: