JDBK-40

<< kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 10 November 2011 at 00:01  Comments (52)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jdbk-40/trackback/

RSS feed for comments on this post.

52 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sugeng dalu Pak Satpam.

    • wah…. cepet banget
      sugeng enjing Ki

  2. Bersamaan dengan berakhirnya rontal JDBK
    Hari ini juga Hari Pahlawan
    Juga hari “tembus” 7 dijit (1 juta) pengunung di Padepokan Pelangisingosari.

    Terima kasih kepada sanak kadang yang telah ikut meramaikan padepokan ini dengan gojegannya.
    Kunjungan dan gojekan sanak kadang membuat kami masih bersemangat untuk wedar rontal-rontal berikutnya.

    • Katur P Satpam

      Maju tak GENTAR P Satpam , Bela yang gila baca karya SHM dan Dongengnya ki Bayuaji . Sekali UNGGAH terus unggah pantang menyerah ………………..

      Selamat ,

      matur nuwun ,

      Haryo Mangkubumi cantrik padhepokan ADBM …

  3. 7 dijit tambah satu

  4. Wah kalah dhisik , oret-oret daftar absen ……………

  5. Maju terus pantang mundur pak Satpam…!!!!!!

    Menawi gojag-gajeg kapan pikantuk jodoh…????
    (he…he…he….asal ora didukani Ki Seno lho)

    Tetap semangat Ki Menggung, kita bela pak Satpam,
    mengejar jodohnya

    SELAMAT HARI PAHLAWAN.

    • Maju terus pantang mundur pak Satpam…!!!!!!

      Menawi gowal-gawil kapan pikantuk jodoh…????
      (he…he…he….asal ora diplototi Ki Seno lho-lho)

      Tetap semangat Kisanak sedaya, kita bela pak Satpam,
      menguber jodohnya

      SELAMAT HARI PAHLAWAN, PANTANG MUNDUR

  6. SUGENG DALU KADANG PADEPOKAN PDLS SEDAYA,

  7. 1.000.542.
    Sugeng enjing poro kadang sedoyo.

  8. 1.000.543
    Sugeng enjing poro kadang sedoyo.
    Balas

  9. 1,000,841 Cantrik
    Sugeng dalu poro kadang sedoyo.

    • 1,000,842 Cantrik
      Sugeng dalu-dalu poro kadang sedoyo.

  10. Nuwun
    Sugêng énjang

    Mugi pinaringå karahayon ing dintên punikå. Tinêbihnå ing sambékålå. Aamin.

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-55. Kerajaan Majapahit. Fakta Sejarah Yang Tidak Tersembunyi [Parwa ka-02] On 7 November 2011 at 22:10 JdBK 39

    Waosan kaping-56
    KERAJAAN MAJAPAHIT
    FAKTA SEJARAH YANG TIDAK TERSEMBUNYI Parwa ka-3

    IV. Raden Wijaya adalah seorang keturunan Arab, karena orang Arab banyak yang menjadi penguasa di Nusantara.

    Demikian kesimpulan si pengarang buku, tetapi dia tidak dapat menyajikan data yang mendukung teorinya itu, bahwa seberapa banyakkah orang Arab atau keturunan Arab yang menjadi penguasa di Nusantara. Periode jaman kerajaankah? Kerajaan apa? Kapan? Siapa saja mereka?

    Memang ada kerajaan di Nusantara yang didirikan oleh seorang keturunan Arab Islam, contohnya adalah Kesultanan Perlak di Aceh (840-1292).

    Tetapi bila ditanya: Siapakah pendiri Majapahit? Sudah tentu Raden Wijaya yang berasal dari Nusantara sendiri, mungkin Sunda mungkin Jawa.

    Kita tinjau fakta sejarah yang berupa Prasasti atau Piagam Kertarajasa Jayawardhana yang ketiga bertarikh 1305, prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) sendiri untuk memperingati pemberian otonomi kepada Candi Sri Harsawijaya.

    Dalam piagam ini dinyatakan dengan jelas bahwa Sanggramawijaya (nama asli Raden Wijaya) mendirikan Dinasti Rajasa seperti nyata pada kalimat “Maharaja Sanggramawijaya Rajasa wangsa maniwrenda kostena ranangga surawira“.

    Sanggramawijaya selaku pendiri kerajaan Majapahit, dalam beberapa prasasti selalu mengemukakan bahwa kerajaan Majapahit adalah kelanjutan dari kerajaan Singasari, dan raja Majapahit adalah keturunan raja-raja Singasari.

    Lebih jauh lagi, setelah menobatkan dirinya menjadi raja Majapahit, beliau (Raden Wijaya) mengambil nama abhiseka (gelar) Kertarajasa Jayawardhana yang di dalam prasasti tahun 1305 bagian II dijelaskan arti dari nama gelaran tersebut yang terdiri dari 10 suku kata dan dapat dipecah menjadi empat kata yaitu kerta, rajasa, jaya dan wardhana.

    Unsur kerta mengandung arti bahwa baginda memperbaiki pulau Jawa dari kekacauan yang ditimbulkan oleh penjahat-penjahat dan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat, oleh karenanya beliau bagi rakyat Majapahit waktu itu sama dengan matahari yang menerangi bumi.

    Unsur rajasa mengandung arti bahwa baginda berjaya mengubah suasana gelap menjadi suasana terang-benderang akibat kemenangan beliau terhadap musuh, dengan kata lain beliau adalah penggempur musuh.

    Unsur jaya mengandung arti bahwa baginda mempunyai lambang kemenangan berupa senjata tombak berujung mata-tiga (trisula-muka), karena senjata tersebut maka segenap musuh hancur lebur.

    Perlu diketahui dan dicatat bahwa senjata Trisula adalah senjata Dewa Siwa, dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Sanggramawijaya (Raden Wijaya) adalah seorang pemeluk agama Siwa yang taat.

    Selanjutnya unsur wardhana mengandung arti bahwa baginda menghidupkan segala agama, melipatgandakan hasil bumi, terutama padi demi kesejahteraan rakyat.

    Demikianlah keterangan nama abhiseka Kertarajasa Jayawardhana menurut isi prasasti tahun 1305 yang dikeluarkan secara resmi atas perintah baginda (Wijaya) sendiri.

    Selanjutnya dalam Piagam Kudadu menyebutkan pengakuan pribadi bahwa Nararya Sanggramawijaya (Raden Wijaya) sendiri adalah keturunan Singasari, putera Dyah Lembu Tal, cucu Narasingamurti dan menantu raja Kertanegara, oleh karenanya secara resmi rajakula Majapahit yang dikepalainya bernama Rajasa-wangsa seperti yang tercantum pada piagam 1305 tersebut di atas.

    Terakhir, Nāgarakṛtāgama yang merupakan sumber sahih tentang kerajaan Majapahit lebih dipercaya karena diperkuat oleh prasasti Balawi yang diterbitkan oleh Raden Wijaya sendiri pada tahun 1305 M didalam pupuh XLVII/3 memberitakan bahwa raja Kertarajasa mangkat pada tahun saka 1231 (1309 M), jenazah beliau dimakamkan di Antahpura yakni di Istana Majapahit.

    Di Simping ditegakkan arca Siwa (Harihara) untuk beliau. Oleh karenanya pengamatan kita sekarang berlanjut ke Candi Simping di Desa Sumberjati, Blitar. Fakta di lapangan yang kita dapati adalah reruntuhan sebuah candi yang bernuansa Hindu dan sama sekali tidak diketemukan jejak-jejak agama Islam di sana.

    Dari bukti-bukti atau fakta-fakta sejarah yang masih dapat kita jumpai hingga kini, jelaslah kepada kita semua bahwa Sanggramawijaya atau yang terkenal dengan sebutan Raden Wijaya adalah seorang pemeluk agama Siwa yang taat, terbukti dari mulai senjata yang dimilikinya, Candi makamnya hingga arca perwujudannya semuanya bernuansa Hindu-Siwa.

    Pengarang buku menyatakan bahwa: Raden Wijaya adalah seorang keturunan Arab, karena orang Arab banyak yang menjadi penguasa di Nusantara.

    Bagaimana mungkin Raden Wijaya orang Arab. Andaikata benar bahwa orang Arab banyak menjadi penguasa Nusantara, tidak dapat dijadikan pembenaran bahwa Raden Wijaya (penguasa Nusantara pada zamannya) adalah orang Arab atau ketutunan Arab.

    Di luar hal-hal yang dianggap sebagai bukti di atas, ada yang berpendapat seperti ini:

    Jika Majapahit adalah kerajaan besar yang beragama Buddha atau Hindu, harusnya sampai saat ini agama terbesar di Nusantara ini tentunya Buddha dan Hindu. karena yang namanya keyakinan itu pasti mengakar kuat. Tapi kenyataannya agama terbesar sampai saat ini dari sejak Nusantara sampai sekarang adalah Islam.

    Disebutkan selanjutnya dalam bukunya, pengarang buku menulis bahwa hal Ini pararel dengan kenyataan bahwa Muhammadiyah atau Nahdlatul Ulama yang masih eksis berdiri sampai sekarang walapun sudah 60 tahun. dan itu baru organisasi, bukan sebuah kerajaan besar. Apalagi tentunya jika dibandingkan dengan kerajaan sebesar Majapahit. tentunya itu akan mewarisi ideologi/agama yang kuat. kenapa tidak Buddha atau Hindu yang besar? Melainkan Islam?

    Pendapat di atas menafikan fakta sejarah yaitu munculnya kerajaan-kerajaan Islam di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Maluku, baik sezaman dengan Majapahit, maupun setelah Majapahit runtuh. Tentu hal ini, berpengaruh pada cepatnya penyebaran Islam di Indonesia. Perlu diketahui, saat Majapahit runtuh, tidak ada kerajaan non-Islam (Hindu-Buddha) di Indonesia yang pengaruhnya sebesar atau melebihi Majapahit.

    Pendapat yang menyatakan bahwa Islam berkembang sejak sebelum zaman Majapahit itu adalah benar, tetapi kesimpulan bahwa Majapahit merupakan Kesultanan Islam adalah kesimpulan yang terburu-buru dan perlu diteliti lagi kebenarannya.

    V. Agama Ibrahim

    Pengarang buku selanjutnya memberikan pernyataan bahwa, jika dicermati dengan seksama religi yang berkembang di Nuswantara adalah agama Abraham atau millatu Ibrahim. Hal ini tertera misalnya dalam Catatan Fa Xian/Fa Shien sepulang dari India di era tahun ke-7 Kaisar Xiyi (411M). Fa Xian adalah seorang ulama senior di China saat itu. Ia singgah di Yapoti (Jawa dan atau Sumatra) selama 5 bulan. Ia menulis:

    Kami tiba di sebuah negeri bernama Yapoti (Jawa dan atau Sumatra). Di negeri itu Agama Braham sangat berkembang, sedangkan Buddha tidak seberapa pengaruhnya.

    Terjemahan di atas sangat dipaksakan. Berita Fa Hsien tidak pernah menyebut kata-kata Agama Ibrahim,.

    Dokumen sejarah Berita Fa Hsien, dalam Bahasa Cina, dalam kronik Cina, dan buku-buku sejarah Nusantara apapun, lazim diterjemahkan sebagai berikut:

    di Ye-po-ti hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Buddha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan sebagian masih “agama kotor.

    Ungkapan Fa Hsien tentang “agama kotor” telah menimbulkan pertentangan para sejarahwan. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan agama kotor adalah agama Siwa Pasupata yang telah dipalsukan oleh sekelompok penduduk di Ye po ti (Jawa?).

    Disebutkan oleh Huen Tsang (Abad ke-VIIM) bahwa di India telah berkembang agama Siwa Pasupata, yang ajarannya telah diselewengkan di Tarumanegara (Jawa), sehingga menjadi agama kotor.

    Pendapat lain mengabarkan bahwa yang dimaksud agama kotor adalah agama orang Parsi (Majusi), yang mengajarkan upacara penempatan jenazah sedemikian rupa di atas tanah di dalam hutan (Jawa: diglêthaké), dan hanya diberi penutup dedauan.

    Barangkali akan lebih dapat diterima jika “agama kotor” itu ditafsirkan sebagai agama yang sudah lama ada sebelum masuknya pengaruh India di Nusantara. Oleh karena agama ini mempunyai upacara-upacara yang berbeda dengan kedua agama yang dikenal Fa Hsien yakni Budha dan Hindu.

    Pada jaman dahulu orang-orang di Nusantara menyembah dan memuja roh leluhurnya. Leluhur dianggap sebagai yang telah berjasa dan mempunyai banyak pengalaman. Roh leluhur, Hyang atau Dahyang namanya, menurut kepercayaan pada waktu itu dianggap mempunyai kekuatan gaib yang dapat digunakan oleh orang-orang yang masih hidup. Kekuatan gaib itu diperlukan jika orang akan memulai suatu pekerjaan yang penting, misalnya akan berangkat perang, akan memulai mengerjakan tanah dan lain sebagainya.

    Mereka juga percaya bahwa benda-benda seperti pohon besar, batu besar, gunung dan sebagainya dihuni oleh roh-roh. Ada kalanya benda-benda senjata-senjata dianggap bertuah, sakti dan dijadikan jimat oleh pemiliknya.

    Upacara pemujaan roh leluhur harus diatur sebaik-baiknya agar restunya mudah diperoleh. Dan pertunjukkan wayang, suatu bentuk kebudayaan Indonesia, erat hubungannya dengan upacara tersebut. Kepercayaan kepada Hyang inilah, yang menurut Fa Hsien disebut sebagai “agama kotor”. Tidak mustahil bahwa penamaan “agama kotor” itu pada dasarnya disebabkan ketidaktahuan Fa Hsien akan sistem kehidupan keagamaan asli Nusantara pada masa itu. Tetapi kemudian bila si pengarang buku menyebutnya dengan nama agama Braham, saya fikir dia terlalu gegabah.

    VI. Gajahmada adalah Gaj Ahmada.

    Pengarang buku menyebutkan bvahwa Gajahmada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, pengarang buku menyimpulkan, bahwa penulisan Gajahmada yang benar adalah ‘Gajahmada’ dan bukan ‘Gajah Mada’.

    Gajahmada. Ada yang mengatakan kalau itu adalah sebuah gelar. Pada masa itu, memang lazim digunakan nama-nama hewan sebagai gelar seperti Prabu Gajah Agung, Lembu Agung, Lembu Tal, Gajah Kulon, Kebo Anabrang, dan lain-lain. Belum dapat dipastikan apakah Gajahmada benar-benar nama asli atau bukan.

    Nylênèh bangêt, jika si pengarang buku menyimpulkan bahwa Gajahmada adalah Gaj Ahmada, suatu pendapat yang sungguh sangat lucu dan menggelikan.

    Si pengarang buku memaksakan teorinya tentang nama Gajahmada, yang disebutnya sebagai Gaj Ahmada, agar terkesan adanya nama Ahmad, yang pasti seorang muslim.

    Begitukah??????

    Apakah arti “Gaj” itu?

    Lalu dengan alasan apa si pengarang buku dengan sesuka hati, memenggal nama Gajahmada menjadi Gaj Ahmada?
    Mengapa tidak Ga. J. Ahmada?, G. Aj. Ahmad A? atau G. Aj. Ahmada? Bukankah keinginan si pengarang buku pada kata Ahmad dengan demikian dapat juga terpenuhi?

    Sangat disayangkan pengarang buku, lagi-lagi tidak dapat memberikan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap teorinya tentang nama Gaj Ahmada.

    Mpu Prapanca melalui rontal Pujasastra Nāgarakṛtāgama, menceritakan Gajahmada dalam “pådå-pådå”-nya. Kita lebih percaya kebenaran rontal Pujasastra Nāgarakṛtāgama, karena ditulis semasa Gajahmada hidup. Sang Mpu Prapanca dengan sangat jelas menuliskan nama Gajahmada dan tidak sdekalipun menulis dengan kata Gaj Ahmada.

    Beberapa larik dari Pujasastra
    Nāgarakṛtāgama berikut di bawah ini membuktikan hal itu:

    wetan lor kuwu sang Gajahmada patih ring tiktawilwadhita
    mantri wira wicaksaneng naya matenggwan satya bhaktya prabhu
    wagmi wak apadu sarjjawopasama dhirotsahatan lalana
    rajadhyaksa rumaksa ri sthiti narendran cakrawartting jagat.

    (Di timur laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajahmada,
    Menteri wira, bijaksana, setia bakti kepada Negara,
    Fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur,
    Tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda Negara.)

    [Nāgarakṛtāgama XII (12) : 4].

    wwanten dharma kasogatan prakasite madakaripura kastaweng lango
    simanugraha bhupati sang apatih Gajahmada racananya nutama
    yekanung dinunung nareswara pasanggrahan ira pinened rinupaka
    andondok mahawan rikang trasungai andyusi capahan atirthasewana.

    (Tersebut tlatah dharma kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah,
    Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gajahmada, teratur rapi,
    Di situlah Baginda menempati pasanggrahan yang terhias sangat bergas,
    Sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandi-bakti.)

    [Nāgarakṛtāgama XIX (19) : 2]

    enjing sri-natha warnnan mijil apupul aweh sewa ring bhrtya mantri
    aryyadinya ng marek mwang para patih atata ring witana n-palinggih
    ngka sang mantry apatih wira Gajahmada marek sapranamyadarojar
    an wwanten rajakaryyolihulih nikanang dharyya haywa pramada.

    (Tersebut paginya Sri Naranata dihadap para menteri semua,
    Di muka para arya, lalu pepatih, duduk teratur di manguntur,
    Patih amangkubumi Gajahmada tampil ke muka sambil berkata:
    “Baginda akan melakukan kewajiban yang tak boleh diabaikan.”)

    [Nāgarakṛtāgama LXIII (63) : 1]

    bgka ta sri-nrpati n-pareng marek amuspa saha tanaya dara sadara
    milw ang mantry apatih Gajahmada makadi nika pada maso mahan marek
    mwang mantry akuwu ring paminggirathawa para ratu sahaneng digantara
    sampunyan pada bhakty amursita palinggihan ika tinitah yathakrama.

    (Berikut para raja, parameswari dan putera mendekati arca,
    Lalu para patih dipimpin Gajahmada maju ke muka berdatang sembah,
    Para bupati pesisir dan pembesar daerah dari empat penjuru,
    Habis berbakti sembah, kembali mereka semua duduk rapi teratur.)

    [Nāgarakṛtāgama LXV (65) : 2]

    rakryan sang mapatih Gajahmada rikang dina muwah ahatur niwedya n-umarek
    stryanggeng soka tapel nirarjja tiheb ing bhujagakusuma rajasasrang awilet
    mantry aryyasuruhan pradesa milu len pra dapur ahatur niwedya n-angiring
    akweh lwir ni wawanya bhojana hanan plawa giri yasa mataya tanpapegetan.

    (Esoknya patih mangkubumi Gajahmada sore-sore menghadap sambil menghaturkan,
    Kembang sesaji dibawa perempuan yang sedih di bawah nagasari dibelit rajasa,
    Menteri, arya, bupati, pembesar desa pun turut menghaturkan persajian,
    Berbagai ragamnya, berduyun-duyun, ada yang berupa perahu, gunung, rumah, ikan)

    [Nāgarakṛtāgama LXVI (66) : 2]

    nrpathi n-umulih sangke simping wawang dating ing pura
    prihati tekap ing gring sang mantry adhimantri Gajahmada
    rasika sahakari wrddhya ning wawawani ring dangu
    ri bali ri sadeng wyakty ny antuk nikanayaken musuh
    .

    (Sekembalinya dari Simping, segera masuk ke pura,
    Terpaku mendengar Adimenteri Gajahmada gering,
    Pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa,
    Di pulau Bali serta kota Sadeng memusnahkan musuh.)

    [Nāgarakṛtāgama LXX (70) : 3]

    Kemudian adanya pernyataan si pengarang buku, bahwa makam Gajahmada terdapat di Mojokerto yang pada nisannya terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.

    Hal ini masih perlu dilakukan penelitian dengan saksama, mengingat di dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama Pupuh XIX (19): 2, mengabarkan:

    wwanten dharma kasogatan prakasite madakaripura kastaweng lango
    simanugraha bhupati sang apatih Gajahmada racananya nutama

    (Tersebut dukuh kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah, Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gajahmada, teratur rapi,)

    Di Madakaripura, tempat asri yang sangat indah dan sejuk, Gajahmada menghabiskan akhir-akhir hidupnya. Kekecewaan batinnya mempengaruhi fisik lahiriahnya. Sebagai manusia biasa Gajahmada tidak dapat menolak takdir. Tahun ke tahun kesehatannya semakin menurun.

    Asal-usul Mahapatih Gajahmada yang sangat masyhur ini belum jelas diketahui orang, baik menyangkut nama orang tuanya maupun tempat serta tahun kelahirannya. Demikian juga moktanya. Tidak diketahui dengan pasti tempat dan waktu meninggalnya.

    Pararaton hanya menyebut tahun meninggalnya Gajahmada yang ditandai dengan candra sengkala Langit Muka Mata Bulan yang dibaca sebagai tahun 1290Ç atau 1368M, sedangkan Pujasastra Nāgarakṛtāgama menyebutkan tahun kematian Sang Maha Patih Gajahmada pada tahun 1286Ç atau 1364M.

    Try angin ina saka purwwa rasika n-papangkwaken i sabwat ing sabhuwana
    Pejah irikang sakabdha rasa tanwinasa naranatha mar salahasa

    (Try angin ina saka (1253Ç) beliau mulai memikul tanggung jawab, sakabdha rasa (1286Ç) beliau mangkat; Baginda gundah, terharu, bahkan putus asa,)

    Dalam hal ini, berita dari Nāgarakṛtāgama lebih bisa dipercaya karena ditulis oleh Prapanca yang hidup sezaman dengan Gajahmada.

    Pujasastra Nāgarakṛtāgama tidak menyebutkan tempat pendharmaan atau wafatnya beliau. Kakawin Nāgarakṛtāgama Pupuh Pupuh XIX (19) : 2 hanya mengabarkan tempat istirah dan pesemadian Gajahmada menjelang akhir hayatnya, yaitu di Madakaripura.

    Pengarang buku menyatakan bahwa pada nisan makam Gajahmada di Trowulan Mojokerto pun terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.

    Dikaitkan dengan berita Pujasastra Nāgarakṛtāgama, bahwa Gajahmada hingga akhir hayatnya bermukim di Madakaripura.

    Di mana letak Madakaripura? Demikian pertanyaan berikutnya. Yang pasti bukan di kompleks pemakaman Trowulan. Pembacaan data toponimi di daerah Trowulan dan sekitarnya tidak ada dan tidak pernah dtemukan pernah ada daerah (yang dahulu) bernama Madakaripura.

    Teori yang menyatakan bahwa batu nisan yang bertuliskan kalimat ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’, adalah makam Gajahmada sangat diragukan, mengingat bahwa batu nisan itu dibuat tidak sejaman dengan saat Gajahmada meninggal.

    Syeikh Mada, yang disebutkan oleh pengarang buku mengacu kepada Gajahmada, tidak didukung oleh bukti sejarah yang valid. Tidak ada satupun sumber sejarah yang menyebutkan bahwa Syeikh Mada adalah Gajahmada.

    Letak Madakaripura

    Masih di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, di kawasan wisata Gunung Bromo tidak jauh dari lautan pasir Bromo, hanya sekitar 45 menit ke arah Probolinggo (ke Utara). Ada satu tempat namanya Air Terjun Madakaripura, tepatnya terletak di desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Probolinggo.

    Menurut penduduk setempat nama ini diambil dari cerita pada zaman dahulu, konon Patih Gajahmada menghabiskan akhir hayatnya dengan bersemedi di air tejun ini.

    Penduduk sekitar mengisahkan bahwa cerita ini didukung dengan adanya arca Gajahmada di tempat parkir area tersebut. Padahal arca tersebut adalah arca modern buatan pematung abad ke 20, sekitar tahun 1980an.

    Logika alur ceritanya begini, lokasi air terjun desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Probolinggo tersebut dinamakan Air Terjun Madakaripura, yang diduga tempat persinggahan terkahir Gajahmada, sehingga dibuatlah patung “Gajahmada” pada tahun 1980an, jadi bukan karena adanya patung Gajahmada lalu disebut Air Terjun Madakaripura.

    Dari segi sejarah, Madakaripura (yang air terjun) belum dapat dikatakan sebagai situs purba peninggalan Gajahmada, berkenaan karena belum ditemukan bukti-bukti sejarah yang konkrit berupa tamla prasasti, epik, rontal ataupun yang sejenis, yang menyebutkan bahwa Madakaripura (menurut Nāgarakṛtāgama) adalah Madakaripura (yang air terjun).

    Terlepas dari semua itu, sebagai tempat tujuan wisata, Air Terjun Madakaripura menyajikan pesona alam yang indah. Mungkin saja Sang Maha Patih Gajahmada yang hampir seluruh hidupnya diabdikan pada negaranya, maka di hari-hari senja beliau, Sang Maha Patih Gajahmada ingin menghibur diri dengan menikmati keindahan alam Bromo ini, seraya melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin). Hyang Wisesa Yang Maha Wikan. Tuhan Yang Maha Tahu.

    Beberapa tempat yang diduga tempat lahir dan pemakaman Maha Patih Gajahmada:

    a. Gajah Mada lahir di Dataran Malang di gugusan pegunungan Kawi dan Arjuna;
    b. Gajah Mada lahir di Dataran tinggi sebuah desa di kaki Gunung Semeru yang bernama desa Maddha;
    c. Gajah Mada lahir di Desa Modo Kabupaten Lamongan;
    d. Gajah Mada lahir di Swarnadwioa, berasal dari Kerajaan Darmasraya.
    e. Gajah Mada lahir dan moksa di Buton;
    f. Gajah Mada adalah keturunan Mongol, anak salah seorang tentara Kubilai Khan.
    g. Gajah Mada lahir di Bali;
    h. Gajah Mada lahir di Pandaan;
    i. Gajah Mada lahir di desa Mada atau di dusun Mada Karipura (Madakaripura?)
    j. Selain itu ada beberapa teori yang menyebutkan bahwa:

    i. Gajah Mada adalah orang India, karena wajahnya bukan seperti wajah “wong Jåwå”

    ii. Teori yang lebih spekulatif dan asal-asalan malah mengatakan, bahwa Gajah Mada lahir di Sumatra, tetapi alasannya karena adanya binatang Gajah dan istilah “Mada” hanya ada di Sumatra. Tentunya pendapat ini sangat menggelikan, karena meskipun Gajah asli Sumatra, tapi kan Raja-raja Jawa dapat saja mendatangkan/ membelinya, jadi Gajah bukan hal yang aneh di Jawa. Istilah “Mada” juga ada dalam kosakata Jawa.

    iii. Ada juga yang menyatakan, bahwa Gajah Mada lahir di Dompo, Sumbawa, karena di sana ada kuburan Gajah Mada. Tentunya soal kuburan bisa saja dibuat dan diperakukan. Atau mungkin juga Gajah Mada yang lain, yang bukan di zaman Majapahit, atau tokoh lokal yang kharisma kepemimpinannya mirip tindak tanduk Gajah Mada, meski ruang-lingkupnya tidak setenar Gajah Mada Majapahit.

    iv. Gajah Mada adalah orang Sunda, punggawa di Pajajaran lalu jatuh cinta dengan putri Pajajaran tetapi ditolak rajanya. Kecewa lalu ia bekerja di Majapahit.

    v. Yang agak mengherankan adalah daerah Jawa Tengah yang tidak pernah menyatakan bahwa Gajah Mada berasal dari daerah Jawa Tengah dan juga tidak pernah diceritakan dalam naskah, legenda manapun, bahwa Gajah Mada berasal dari daerah Jawa Tengah.

    vi. Gajah Mada adalah orang Banten yang pernah menjalin cinta dengan Dyah Pitaloka, dan keduanya sepakat untuk hidup bersama.

    vii. Malahan ada juga teori yang menyatakan bahwa Gajah Mada orang Dayak di Kalimantan, karena di wilayah Dayak Krio ada tokoh bernama Jaga Mada yang diutus Demung Adat Kerajaan Kutai untuk menjelajah Nusantara. Namun teori ini dari segi logika hubungan dengan Majapahit sangat lemah. Mungkin juga dia adalah tokoh lokal yang dihormati oleh masyarakatnya setara dengan penghormatan terhadap Gajah Mada Majapahit.

    viii. Dan kemudian, ada juga teori yang menyatakan, bahwa Gajah Mada itu mungkin benar lahir di wilayah Pamotan-Lamongan, namun bukan anak Raden Wijaya sebagaimana disebutkan oleh folklore di Modo, akan tetapi lahir dari ibu yang dinikahi Pasukan Mongol yang melarikan diri dari induk pasukannya.

    Teori ini agak lemah, karena Pasukan Mongol yang ternyata bukan hanya dipimpin oleh Jendral-jendral Mongol, namun juga disertai oleh Kaisar Mongol sendiri, dibantai habis oleh Pasukan Raden Wijaya dan sisanya melarikan diri ke perahu di pelabuhan Ujung Galuh dan Tuban lalu segera pergi berlayar kembali ke Cina, sudah begitu di Cina mereka dibantai lagi oleh anak petani Cina yang sudah bosan dijajah Mongol lalu memberontak atas bantuan pasukan Majapahit dan kemudian merajakan diri, memerdekakan Cina dari penjajahan Mongol ratusan tahun. Pendapat ini, sangat sesuai dengan yang dikandung dalam kitab kuno “Tembang Harsawijaya” dan Prasasti Kertarajasa.

    Jadi, kalaupun ada sepuluh – tiga puluh orang pasukan Mongol yang mampu menyelamatkan diri lalu lari ke hutan, tentu butuh waktu berpuluh-berbelas tahun baru berani menampakkan diri keluar dari hutan, lalu berani menikahi wanita lokal. Hal itu persis seperti yang dilakukan oleh pelarian pasukan Jepang di zaman perang kemerdekaan Indonesia, dan baru berani muncul dari hutan ketika Indonesia sudah lama merdeka dan melupakan suasana peperangan.

    Padahal Gajah Mada lahir hanya setahun dua tahun dari peristiwa pembantaian Pasukan Mongol oleh Pasukan Majapahit. Maka, pasti ibunya tidak dinikahi oleh pasukan Mongol, melainkan oleh pemimpin pasukan Majapahit yang merayakan kemenangan, atau kalau merujuk ke folklor Modo, dinikahi — semacam nikah siri-lah– istilahnya oleh Raden Wijaya sendiri, dalam rangka pesta perayaan kemenangan, karena pertempuran hebat menumpas Pasukan Mongol memang terjadi di wilayah Lamongan.

    Namun di atas semua teori dan tafsir sejarah, manusia hanya bisa berteori berdasar alasan-alasan dan data-data yang masuk akal, namun tak berhak mengklaim yang paling benar. Masih diperlukan penelitian secara aksiologis untuk menguak tabir kisah Maha Patih Gaja Mada yang penuh dengan misterius selama ini oleh para ahli antropolog budaya, ahli ethnologis, ahli arkeologis dan ahli sejarah guna mendapatkan suatu naskah sejarah Indonesia yang benar.

    Tetapi bila ada pernyataan bahwa Gajahmada adalah sorang muslim dengan nama Gaj Ahmada, sungguh suatu kesimpulan yang dipaksakan dan tidak ada dasarnya.

    ånå tutugé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    Ki Bayu Yth
    gandok Seri Surya Majapahit – bagian kedua seperti sudah terlalu sarat, sehingga “loading” nya menjadi berat pada saat akan memasukkan waosan ke53-56.
    oleh karena itu, bagian kedua ini saya pecah lagi menjadi bagian kedua dan bagian ketiga
    nuwun
    satpampelangi

    • sayangnya enggak ada yang mengklaim bahwa Gajah Mada berasal dari Tlatah Betawi,
      Pasti ane yang pertama bilang “Setujuuuu!!!!”

    • Matur sembah nuwun dongengipun Ki Bayuaji,
      sugeng enjing.

  11. Nuwun
    Sugêng siyang

    Katur Ki Panji Satriå Pamêdar,

    Matur nuwun Ki.

    Insya Allah, Dongeng Arkeologi & Antropologi Surya Majapahit tinggal dua kali wedaran lagi.

    ….

    Untuk sanak kadang sepadepokan pelangisingosari.

    Pada kesempatan kali ini, saya menyampaikan salam dari punakawan bayuaji, yang sejak keberangkatan rombongan terakhir calon haji dari Tanah Air (embarkasi Jakarta), sekaligus dia akan bermukim di Timur Tengah.

    Setelah tugas-tugas sebagai mutawif selesai, maka punakawan bayuaji akan ngangsu kawruh di negaranya para Fir’aun itu, sekaligus ditugaskan “menjaga” patung Spinx dan Pyramida.

    Punakawan bayuaji, mohon doa restu dari para sanak kadang, semoga upaya ngangsu kawruh di Lembah Sungai Nil itu, lancar dan selamat.

    Semoga sanak kadang sapadepokan pelangisingosari senantiasa dalam naungan selamat, rahmat dan berkah Allah SWT. Aamin.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Kasinggihan Ki Bayu

      Waduh…, senengnya dapat ngangsu kawruh di negeri Spinx dan Pyramida.
      Kami hanya ikut berdoa bagi Ki Punakwan, semoga apa yang diharapkan sebelum berangkat tercapai semua, pada saatnya selamat kembali ke tanah air.

      Terima kasih juga atas doanya.
      Aamiiin…

      • Aamiin, semoga Ki Puna bisa menjalankan apa yang menjadi niatnya.

        • Aamiin, semoga Ki Puna bisa menjalankan apa yang menjadi niatnya.

    • Amiiiin, Allah yang Maha Mendengar, dan yang Maha Menyempurnkan doa hambanya, Dia pula yang Maha mengabulkan segala doa, kabulkanlah doa kami ya Allah yang Maha Kasih, amiiin

    • Amiiiinn……
      Ndherek ngaturaken sugeng tindak kagem ki Punakawan.

  12. Nuwun Sugêng énjang andungkap siyang Mugi pinaringå karahayon ing dintên punikå. Tinêbihnå ing sambékålå. Aamin. DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SURYA MAJAPAHIT Dongeng sebelumnya: Kerajaan Majapahit. Fakta Sejarah Yang Tidak Tersembunyi [Parwa ka-03] On 12 November 2011 at 01:18 JdBK 40 Waosan kaping-56 (episode tancêp kayon): KERAJAAN MAJAPAHIT FAKTA SEJARAH YANG TIDAK TERSEMBUNYI –Parwa ka-4– VII. Syeikh Maulana Malik Ibrahim adalah hakim agama Islam kerajaan Majapahit Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam jajaran Wali Sångå yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Atas dasar itu pengarang buku berkesimpulan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam. Pada nisan makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim atau Syeikh Maghribi atau Sunan Gresik, terdapat inskripsi yaitu surat al-Baqarah ayat 225 (ayat Kursi), surat Ali Imran ayat 185, surat al-Rahman ayat 26-27, dan surat al-Taubah ayat 21-22 serta tulisan dalam bahasa Arab yang artinya: Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, kebanggaan para pangeran dan sebagai petunjuk sekalian para Sultan dan Menteri, penolong para kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahid penguasa dan urusan agama: Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kakek Bantal. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridhaNya dan semoga menempatkannya di surga. Ia wafat pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal 822 Hijriah. atau 8 April 1419M atau tahun 1341Ç. Pernyataan di atas dengan mudah dapat kita bantah, bahwa tidak ada dalam inskripsi tersebut yang menyatakan bahwa beliau adalah hakim agama Islam di kerajaan Majapahit. Terjemahan Sultan dan Menteri dalam inskripsi tersebut ditujukan untuk Sultan Samudera Pasai, karena nisan Maulana Malik Ibrahim berasal dari Pasai yang memiliki kemiripan dengan nisan makam sultan-sultan dari Samudera Pasai. Sultan dan menteri yang berduka dengan meninggalnya Maulana Malik Ibrahim itu berasal dari Gujarat dan Samudera Pasai, yang mengirimkan jirat dan nisan beserta pertulisannya tersebut, sebagai tanda hormat kepadanya. Dalam hal, kalau memang perkataan Sultan dan Menteri itu merujuk kepada Majapahit, mengapa di peninggalan Majapahit seperti di candi-candi, tidak menggunakan huruf Arab? Dan kalau memang Maulana Malik Ibrahim pernah menjabat sebagai menteri kerajaan, lalu apakah berarti Majapahit merupakan negara Islam? Laksamana Cengho juga seorang muslim, tapi Kekaisaran Tiongkok tidak/bukan merupakan negara Islam. Menurut Prasasti-prasasti yang ditemukan era Majapahit (Prasasti Waringin Pitu 1447 M; Piagam Bendansari, Prasasti Brumbung 1329M, dan sebagainya). Prasasti-prasasti tersebut semacam Surat Keputusan Prabu Majapahit tentang pengangkatan para “tanda” (kalau sekarang pejabat pemerintah, pegawai negeri sipil, anggota tentara, polisi, dan para penyelenggara negara lainnya). Pejabat yuridiksi yang menangani masalah-masalah keagamaan, era Majapahit disebut Dharmadhyaksa. Dharmadhyaksa bertindak sebagai dan pemuka agama (dalam hal ini adalah Hindu dan Budha), dan dari piagam atau prasasti yang sempat ditemukan, ternyata tidak terdapat adanya pejabat-pejabat yang menangani masalah-masalah keagamaan Islam. Untuk gambaran selengkapnya berikut urutan Tata Pemerintahan Kerajaan Majapahit: 1. raja; 2. yuwaraja/kumaraja (raja muda); 3. rakryan mahamatri katrini; 4. rakryan mantri ri pakirakiran; 5. dharmadhyaksa. 1. Raja. Raja adalah pemegang otoritas tertinggi, baik dalam kebijakan politik mau pun istana lainnya. Kedudukannya diperoleh dari hak waris yang telah digariskan secara turun-temurun. Di samping raja, ada kelompok yang disebut sebagai Bhatara Sapta Prabu semacam Dewan Pertimbangan Agung. Dalam Nāgarakṛtāgama (Pupuh 73:2), dewan ini disebut pahom narendra yang beranggotakan sembilan orang; sedangkan dalam Kidung Sundayana disebut Sapta Raja. kunang i pahom narendra haji rama sang prabhu kalih sireki pinupul ibu haji sang rwa tansah athawanuja nrepati karwa sang priya tumut gumunita sang wruheng gumunadosa ning bala gumantyane sang apatih linawelawo ndatan hana katrpti ning twas mangun wiyoga sumusuk Pada masa Raja Dyah Hayam Wuruk, mereka yang menduduki jabatan tersebut di antaranya: 1. Raja Hayam Wuruk; 2. Kertawardhana (Ayah Sang Raja); 3. Tribhuwana Tunggadewi (Ibu Suri); 4. Rajadewi Maharajasa (Bibi Sang Raja); 5. Wijayarajasa (Paman Sang Raja); 6. Rajasaduhiteswari (Adik Sang Raja); 7. Rajasaduhitendudewi (Adik Sepupu Sang Raja); 8. Singawardhana (Suami Rajasaduhiteswari); 9. Rajasawardhana (R. Larang, Suami Rajasaduhitendudewi). 2. Yuwaraja/Rajakumara/Kumaraja (Raja Muda) Jabatan ini biasanya diduduki oleh putra mahkota. Dari berbagai prasasti dan Nāgarakṛtāgama diketahui bahwa para putra mahkota sebelum diangkat menjadi raja pada umumnya diberi kedudukan sebagai raja muda. Misalnya, Jayanagara sebelum menjadi raja, terlebih dahulu berkedudukan sebagai rajakumara di Daha. Hayam Wuruk sebelum naik takhta menjadi raja Majapahit, terlebih dahulu berkedudukan sebagai rajakumara di Kabalan. Jayanegara dinobatkan sebagai raja muda di Kadiri tahun 1295. Pengangkatan tersebut dimaksud sebagai pengakuan bahwa raja yang sedang memerintah akan menyerahkan hak atas takhta kerajaan kepada orang yang diangkat sebagai raja muda, jika yang bersangkutan telah mencapai usia dewasa atau jika raja yang sedang memerintah mangkat. Raja muda Majapahit yang pertama ialah Jayanegara. Raja muda yang kedua adalah Dyah Hayam Wuruk yang dinobatkan di Kahuripan (Jiwana). Pengangkatan raja muda tidak bergantung pada tingkatan usia. Baik raja Jayanegara mau pun Hayam Wuruk masih kanak-kanak, waktu diangkat menjadi raja muda, sementara pemerintahan di negara bawahan yang bersangkutan dijalankan oleh patih dan menteri. 3. Rakryan Mahamatri Katrini Jabatan ini merupakan jabatan yang telah ada sebelumnya. Sejak zaman Mataram Kuno, yakni pada masa Rakai Kayuwangi, jabatan ini tetap ada hingga masa Majapahit. Penjabat-penjabat ini terdiri dari tiga orang yakni: rakryan mahamantri i hino, rakryan mahamantri i halu, dan rakryan mahamantri i sirikan. Mahamentri Katrini: Rakryan Menteri i Hino : Dyah Anarjaya Rakryan Menteri i Halu : Dyah Mano Rakryan Menteri i Sirikan : Dyah Lohak Ketiga penjabat ini memunyai kedudukan penting setelah raja, dan mereka menerima perintah langsung dari raja. Namun, mereka bukanlah pelaksana-pelaksana dari perintah raja; titah tersebut kemudian disampaikan kepada penjabat-penjabat lain yang ada di bawahnya. Di antara ketiga penjabat itu, rakryan mahamantri i hinolah yang terpenting dan tertinggi. Ia memunyai hubungan yang paling dekat dengan raja, sehingga berhak mengeluarkan piagam (prasasti). Oleh sebab itu, banyak para ahli yang menduga jabatan ini dipegang oleh putra mahkota. 4. Rakryan Mantri ri Pakirakiran Jabatan ini berfungsi semacam Dewan Menteri atau Badan Pelaksana Pemerintah. Biasanya terdiri dari lima orang rakryan (para tanda rakryan), yakni: 1. Rakryan Mahapatih atau Patih Amangkubhumi; 2. Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan); 3. Rakryan Demung (Kepala Rumah Tangga Kerajaan); 4. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima); 5. Rakryan Kanuruhan (penghubung dan tugas-tugas upacara). Sang Panca Wilwatika: Rakryan Patih Majapahit : Pu Krewes Rakryan Demung : Pu Tanparowang Rakryan Kanuruhan : Pu Blen Rakryan Rangga : Pu Roda Rakryan Tumenggung : Pu Wayuh Para tanda rakryan ini dalam susunan pemerintahan Majapahit sering disebut Sang Panca ring Wilwatikta atau Mantri Amancanagara. Dalam berbagai sumber, urutan jabatan tidak selalu sama. Namun, jabatan rakryan mahapatih (patih amangkubhumi) adalah yang tertinggi, yakni semacam perdana menteri (mantri mukya). Untuk membedakan dengan jabatan patih yang ada di Negara daerah (provinsi) yang biasanya disebut mapatih atau rakryan mapatih, dalam Nāgarakṛtāgama jabatan patih amangkubhumi dikenal dengan sebutan apatih ring tiktawilwadika. Gajah Mada sebagai patih adalah Sang Mahamantri Mukya Rakryan Mapatih Gajah Mada. Berikut Nama Nama Patih Majapahit menurut Kitab Pararaton : 1. Mahapatih Nambi 1294 – 13162. 2. Mahapatih Dyah Halayuda (Mahapati) 1316 – 13233. 3. Mahapatih Arya Tadah (Empu Krewes) 1323 – 13344. 4. Mahapatih Gajah Mada 1334 – 1364 5. Mahapatih Gajah Enggon 1367 – 1394. 6. Mahapatih Gajah Manguri 1394 – 13987. 7. Mahapatih Gajah Lembana 1398 – 14108. 8. Mahapatih Tuan Tanaka 1410 – 1430 5. Dharmadhyaksa Dharmadhyaksa adalah penjabat tinggi yang bertugas secara yuridis mengenai masalah-masalah keagamaan. Jabatan ini diduduki oleh dua orang, yaitu: 1. Dharmadhyaksa ring Kasaiwan untuk urusan agama Siwa, 2. Dharmadhyaksa ring Kasogatan untuk urusan agama Buddha. Masing-masing dharmadhyaksa ini dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh sejumlah pejabat keagamaan yang disebut dharmaupapatti atau upapatti, yang jumlahnya amat banyak. Pada masa Hayam Wuruk hanya dikenal tujuh upapatti, yakni: sang upapatti sapta: i. sang pameget i tirwan, ii. kandhamuni, iii. manghuri, iv. pamwatan, v. jhambi, vi. kandangan rare, dan vii. kandangan atuha. Di antara upapatti itu ada pula yang menjabat urusan sekte-sekte tertentu, misalnya: bhairawapaksa, saurapaksa, siddahantapaksa, sang wadidesnawa, sakara, dan wahyaka. 6. Paduka Bhatara (Raja Daerah) Dalam pembentukannya, kerajaan Majapahit merupakan kelanjutan Singasari, terdiri atas beberapa kawasan tertentu di bagian timur dan bagian tengah Jawa. Daerah ini diperintah oleh uparaja yang disebut Paduka Bhattara yang bergelar Bhre, Gelar ini adalah gelar tertinggi bangsawan kerajaan mereka berada di bawah raja Majapahit sebagai raja-raja daerah yang masing-masing memerintah sebuah negara daerah. Biasanya mereka adalah saudara-saudara raja atau kerabat dekat. Tugas mereka adalah untuk mengelola kerajaan mereka, memungut pajak, dan mengirimkan upeti ke pusat, dan mengelola pertahanan di perbatasan daerah yang mereka pimpin. Selama masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 s.d. 1389) ada 12 wilayah di Majapahit, yang dikelola oleh kerabat dekat raja (Lihat pada waosan berikutnya tentang Wilayah Kekuasaan Kerajaan Majapahit). Tanda 1. Rakryan; 2. Arya; 3. Dang Akarya. Di Majapahit para pegawai pemerintahan disebut tanda, masing-masing diberi sebutan atau gelar sesuai dengan jabatan yang dipangkunya. Dalam hal kepegawaian, sebutannya mengalami perubahan dari masanya; gelar yang sama Kerajaan Mataram belum tentu bermakna yang sama dengan masa Majapahit, misalnya gelar rake atau rakai dan mangkubumi. Ditinjau dari gelar-sebutannnya seperti yang kedapatan pada pelbagai piagam, tanda ini dapat digolongkan yakni: golongan rakryan atau rakean, golongan arya, dan golongan dang acarya. 1. Rakryan Rakryan disebut juga Rakean, beberapa piagam, di antaranya Piagam Surabaya, menggunakan gelar rake yang maknanya sama dengan rakryan. Jumlah jabatan yang disertai gelar rakryan terbatas sekali. Para tanda yang berhak menggunakan gelar rakryan atau rake seperti berikut: 1. Mahamantri katrini, yaitu: mahamantri i hino, mahamantri i sirikan, dan mahamantri i halu. Misalnya, pada Piagam Kudadu tertulis: a. rakryan mantri i hino adalah Dyah Pamasi; b. rakryan mantri i sirikan adalah Dyah Palisir; c. rakryan mantri i halu adalah Dyah Singlar. 2. Pasangguhan, sama dengan hulubalang (Kalau sekarang setara dengan pejabat yang bertanggung-jawab pertahanan dan keamanan negara, setingkat menetri pertahanan, atau panglima tentara). Pada zaman Majapahit hanya ada dua jabatan pasangguhan, yakni: pranaraja dan nayapati. Misalnya, pada Piagam Kudadu, tarikh 1294: a. mapasanggahan sang pranaraja, Rakryan mantra Mpu Sina (nama ini ditemukan juga dalam Piagam Penanggungan) b. mapasanggahan sang nayapati, Mpu Lunggah. Pada zaman awal Majapahit, ada empat orang pasangguhan, yakni dua orang yang disebutkan di atas ditambah rakryan mantri dwipantara Sang Arya Adikara dan pasangguhan Sang Arya Wiraraja. 3. Sang Panca Wilwatikta, yakni lima orang pembesar yang diserahi urusan pemerintah Majapahit. Mereka itu rangga dan tumenggung. Piagam Penanggungan menyebut: a. Rakryan Apatih adalah Pu Tambi, b. Rakryan Demung adalah Pu Rentang, c. Rakryan Kanuhunan adalah Pu Elam, d. Rakryan Rangga adalah Pu Sasi, dan e. Rakryan Tumenggung adalah Pu Wahana. 4. Juru pangalasan, yakni pembesar daerah mancanegara. Piagam Penanggungan menyebutkan raja Majapahit sebagai Rakryan Juru Kertarajasa Jayawardana atau Rakryan Mantri Sanggramawijaya Kertarajasa Jayawardhana. Piagam Bendasari menyebut Rake Juru Pangalasan Pu Petul. 5. Para patih negara-negara bawahan. Pada Piagam Sidateka tarikh 1323 disebutkan: a. Rakryan Patih Kapulungan: Pu Dedes; b. Rakryan Patih Matahun: Pu Tanu. Piagam Penanggungan, tarikh 1296, menyebut Sang Panca ri Daha dengan gelar rakryan, karena Daha dianggap sejajar dengan Majapahit. 2. Arya Para tanda arya mempunyai kedudukan lebih rendah dari rakryan, dan disebut pada piagam-piagam sesudah Sang Panca Wilwatikta. Ada berbagai jabatan yang disertai gelar arya. Piagam Sidakerta memberikan gambaran yang agak lengkap, yakni: 1. Sang Arya Patipati: Pu Kapat; 2. Sang Arya Wangsaprana: Pu Menur; 3. Sang Arya Jayapati: Pu Pamor; 4. Sang Arya Rajaparakrama: Mapanji Elam; 5. Sang Arya Suradhiraja: Pu Kapasa; 6. Sang Arya Rajadhikara: Pu Tanga; 7. Sang Arya Dewaraja: Pu Aditya; 8. Sang Arya Dhiraraja: Pu Narayana. Karena jasa-jasanya, seorang arya dapat dinaikkan menjadi wreddhamantri atau mantri sepuh. Baik Sang Arya Dewaraja Pu Aditya maupun Sang Arya Dhiraraja Pu Narayana mempunyai kedudukan wreddhamantri dalam Piagam Surabaya. 3. Dang Acarya Sebutan ini khusus diperuntukkan bagi para pendeta Siwa dan Buddha yang diangkat sebagai dharmadhyaksa (hakim tinggi) atau upapatti (pembantu dharmadhyaksa kesiwaan dan dharmadhyaksa kebuddhaan). Jumlah upapatti semula hanya berjumlah lima, semuanya dalam kasaiwan (kesiwaan); kemudian ditambah dua upapatti kasogatan (kebuddhaan) di kandangan tuha dan kandangan rahe. Dengan demikian, semuannya berjumlah tujuh dalam pemerintahan Dyah Hayam Wuruk. Pembesar-pembesar pengadilan ini biasanya disebut sesudah para arya. Contohnya, susunan pengadilan seperti yang dipaparkan dalam Piagam Trawulan, tarikh 1358, sebagai berikut. 1. Dharmadhyaksa Kasaiwan: Dang Acarya Dharmaraja; 2. Dharmadhyakasa Kasogatan: Dang Acarya Nadendra; 3. Pamegat Tirwan: Dang Acarya Siwanata; 4. Pamegat Manghuri: Dang Acarya Agreswara; 5. Pamegat Kandamuni: Dang Acarya Jayasmana; 6. Pamegat Pamwatan: Dang Acarya Widyanata; 7. Pamegat Jambi: Dang Acarya Siwadipa; 8. Pamegat Kandangan Tuha: Dang Acarya Srigna; 9. Pamegat Kandangan Rare: Dang Acarya Matajnyana. Tambahan dua orang upapatti yang biasa disebut (sang) pamegat dilakukan sesudah tahun 1329, yakni pada zaman pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi, karena pada Piagam Berumbung, pamegat kandangan tuha dan rare belum disebut. Penyebutan yang pertama didapati yang pertama terdapat pada Piagam Nglawang, tidak bertarikh. VIII. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’ Koin-koin emas semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid. Demikian pengarang buku menyimpulkan. Pada tahun 2009, Tim Evaluasi Neo Pusat Informasi Majapahit (Neo PIM) menemukan peninggalan-peninggalan kerajaan Majapahit di situs Trowulan. Hampir semua benda kuno yang dimiliki masyarakat pada masa itu ditemukan. Keris, mata tombak serta alat pembuat mata tombak juga ditemukan tim eskavasi. Dari temuan-temuan itu, menandakan jika lokasi yang digali merupakan wilayah padat penduduk. Sejumlah alat rumah tangga kuno juga ditemukan. Berikut sisa-sisa lantai dan dinding rumah. Temuan-temuan ini sekaligus memberikan penilaian dari tim evaluasi jika masyarakat Majapahit memiliki peradaban yang tinggi. Benda-benda ini menandakan jika masyarakat Majapahit bisa menyalip seniman dan arsitektur jaman sekarang. Temuan paling mencengangkan adalah ribuan mata uang kuno yang berasal dari Cina Tiongkok. Mata uang tersebut bertuliskan huruf Tiongkok, dan jumlahnya sekitar 60 ribu keping. Bahannya terbuat dari perunggu dan berlubang di bagian tengahnya, Mata uang bertuliskan huruf Cina dalam jumlah yang banyak itu menandakan jika Majapahit pernah menjalin hubungan dagang dengan kerajaan di Cina. Itu juga diperkuat dengan sejumlah keramik asal Cina yang ditemukan dalam kondisi yang sudah terpecah belah. Apakah ini menandakan bahwa Majapahit adalah kerajaan yang beragama Konghucu, Taoisme, atau agama apapun yang berasal dari Tiongkok? Tentu tidak. Majapahit sendiri punya uang lokal yang disebut dengan Gobog. Uang Tiongkok, uang bertuliskan kalimat-kalimat berbahasa Arab (Islam), dan sebagainya, adalah fenomena yang tidak bisa dipungkiri, karena aktivitas dagang. Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur memastikan bahwa koin tersebut berasal dari era Majapahit. Sekedar ilustrasi, bahwa hubungan perdagangan antara Cina, Jawa dan Arab, telah berlangsung berabad-abad, apalagi semenjak ditemukannya Jalur Sutra yang sangat terkenal itu. Pada akhir abad ke-12, sekitar tahun 1178 ketika seorang penulis, dan juga seorang pengelana Cina bernama Chou Ku Fei menulis dalam karyanya Ling Wai Taita, suatu catatan muhibah ke She Po (dialek Cina untuk Tanah Jawa), dia seorang jurnalis, seperti Empu Prapanca dengan Nagarakertagamanya. Buku ini berisi gambaran kehidupan tata pemerintahan, keadaan istana raja, dan perdagangan di Tanah Jawa semasa Kerajaan Kadiri (Panjalu). Buku ini kemudian dikutip oleh Chau Ju Kua dalam karyanya yang berjudul Chu Fan Chi atau Catatan Negeri-negeri Asing pada tahun 1225. Saat itu kerajaan Kadiri sudah dikalahkan kerajaan Tu-ma-pan(Tumapel/Singasari). Disebutnya bahwa kerajaan di Tanah Jawa yang terkenal adalah Pui Chi Lung. Disebutkan bahwa perdagangan antara Cina dan Pui Chi Lung telah berkembang pesat. Pui Chi Lung banyak mengekspor hasil bumi dan hasil hutan ke Cina. Tentang perdagangan ini selanjutnya Chou Ku Fei menulis: “Di antara negara-negara asing yang kaya, yang di tepi pelabuhannya mempunyai gudang-gudang berisi berbagai macam barang-barang yang sangat berharga adalah Pui Chi Lung. Kekayaannya hanya bisa ditandingi oleh negara Ta Shi; adapun San Fo Tsi belum bisa menyamai keduanya; kemudian baru yang lainnya.” Pui Chi Lung (transliterasi Cina dari nama tempat di Jawa: Panjalu). Pada waktu itu Panjalu dan Janggala telah bersatu kembali berkat kemenangan Prabu Jayabhaya pada tahun 1135. Pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur telah dikuasi oleh Panjalu. Ta-shi, suatu negara di Timur Tengah, Ta-shi transliterasi Cina, diduga adalah Arab; mengingat dalam tulisan selanjutnya disebut “raja Ta-shi” yang bernama Han-mi-mo-mi-ni mengirimkan utusan ke istana Cina, dan ke She Po. Boleh dipastikan bahwa nama ini adalah ucapan Cina untuk Amirul Mu’minin, gelar resmi para khalifah Islam. Sedangkan San Fo Tsi adalah Suwarna Bhumi atau Sumatra, mungkin yang dimaksud adalah Sriwijaya. Adalah wajar, bila alat tukar yang dipakai para pedagang pada masa itu adalah uang logam atau koin asing dari masing-masing etnis, mengingat semakin kompleksnya perekonomian di Tanah Jawa, maka selain alat tukar resmi, dalam sistem mata uang Majapahit, yang dikeluarkan oleh pihak kerajaan Majapahit, yang dikenal dengan Gobog, maka alat tukar lainnya, sebagai alat tukar “valuta asing” agar dapat digunakan dalam aktivitas ekonomi sehari-hari di pasar Majapahit. Penemuan koin emas yang bertuliskan kalimat tauhid dengan huruf Arab ini menandakan para pedagang dari Timur Tengah telah menjalin hubungan dagang dengan para pedagang nusantara, khususnya Majapahit. Terlalu tergesa-gesa bila menyimpulkan Majapahit adalah Kerajaan Islam karena ditemukannya koin emas berlafazkan “La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah”. Penduduk lokal Majapahit mungkin sudah ada yang memeluk Islam yang disebarkan para pedagang/ulama yang datang dari Timur Tengah, tapi tidak dapat disimpulkan bahwa kerajaan Majapahit adalah kerajaan/kesultanan Islam. Majapahit adalah negara besar. Banyak pedagang dari seluruh dunia yang berbisnis di wilayah Majapahit. Tentu saja, akan banyak ditemukan uang-uang asing di wilayah Majapahit. IX. Telapak kaki Purnawarman dan sedekah 1000 ekor sapi Melihat prasasti yang tercetakkan telapak kaki Purnawarman. Pengarang buku menyimpulkan bahwa hal itu menunjukkan Purnawarman mengikuti tradisi Nabi Ibrahim as. Dia menyandarkan teorinya pada cetakan telapak kaki Ibrahim pada Maqam Ibrahim yang letaknya beberapa langkah dari pintu Ka’abah. Sehinga disimpulkan oleh pengarang buku bahwa Purnawarman menganut agama Ibrahim as. Demikian halnya dengan sedekah 1000 ekor sapi, disebut oleh pengarang buku, bahwa Purnawarman melakukan pemotongan hewan qurban mengikuti ajaran Nabi Ibrahim as. Benarkah???? Bahasan berikut, dan dengan disertakan bukti-bukti sejarah, menunjukkan hal lain: 1. Prasasti Ciaruteun Prasasti Ciaruteun terletak di desa Ciaruteun Hilir, kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Tempat ditemukannya prasasti ini merupakan bukit (bahasa Sunda: pasir) yang diapit oleh tiga sungai: sungai Cisadane, Cianten, dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat ini masih dilaporkan sebagai Pasir Muara, yang termasuk dalam tanah swasta Ciampéa, sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang. Prasasti Ciaruteun bergoreskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta dengan metrum Anustubh yang teridiri dari tiga baris dan pada bagian bawah tulisan terdapat pahatan gambar umbi dan sulur-suluran (pilin), sepasang telapak kaki dan laba-laba. Isinya: vikkrantasyavanipat eh srimatah purnnavarmmanah tarumanagarendrasya visnoriva padadvayam [inilah (tanda) sepasang telapak kaki yang seperti kaki dewa Wisnu (pemelihara) ialah telapak yang mulia sang Purnnawamman, raja di negri Taruma, raja yang gagah berani di dunia]. Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tersebut (tempat ditemukannya prasasti tersebut). Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat 2. Prasasti Telapak Gajah Tak jauh dari lokasi terdapat pula tiga situs lainnya, yakni Prasasti Kebun Kopi, Situs Congklak, dan Prasasti Batutulis. Prasasti Kebun Kopi dinamakan demikian karena prasasti ini ditemukan di kebun kopi milik Jonathan Rig, dibuat sekira 400 Masehi. Prasasti ini dikenal pula dengan Prasasti Tapak Gajah karena terdapat cetakan sepasang kaki gajah beserta sebuah prasasti. Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi: jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam [Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.] Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa perang dan penguawa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Bahkan diberitakan juga, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sepasang lebah. 3. Prasasti Tugu Prasasti Tugu adalah salah satu prasasti yang berasal dari Kerajaan Tarumanegara. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya. Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau. Prasasti Tugu ditemukan di kampung Batutumbuh, desa Tugu, sekarang menjadi wilayah kelurahan Tugu Selatan, kecamatan Koja, Jakarta Utara. pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau// pravarddhamane dvavingsad vatsare sri gunau jasa narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana// prarabhya phalguna mase khata krsnastami tithau caitra sukla trayodasyam dinais siddhaikavingsakaih ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka// pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina// [Dahulu sungai yang bernama Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan yang memilki lengan kencang serta kuat yakni Purnnawarmman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah kali (saluran sungai) ini sampai di istana kerajaan yang termashur. Pada tahun ke-22 dari tahta Yang Mulia Raja Purnnawarmman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja, (maka sekarang) beliau pun menitahkan pula menggali kali (saluran sungai) yang permai dan berair jernih Gomati namanya, setelah kali (saluran sungai) tersebut mengalir melintas di tengah-tegah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta Nenekda (Raja Purnnawarmman). Pekerjaan ini dimulai pada hari baik, tanggal 8 paro-gelap bulan Caitra, jadi hanya berlangsung 21 hari lamanya, sedangkan saluran galian tersebut panjangnya 6122 busur. Selamatan baginya dilakukan oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan, Untuk membajak sawah.] Tidak diperoleh adanya penjelasan bahwa Purnawarman penganut Agama Ibrahim; tidak pula terdapat penjelasan bahwa budaya cap telapak kaki harus mutlak tradisi Ibrahim. Jelas Purnawarman sangat menghormati Batara Wisnu dan Indra bahkan gajah tunggangannya diberi nama Airawata, gajah tungangan Batara Indra. Adapun tentang hadiah 1000 ekor sapi, dalam prasasti tidak pernah terdapat kalimat sapi tersebut disembelih untuk dijadikan qurban (sebagaimana diduga pengarang buku, mengikuti jejak Nabi Ibrahim as). Pada penutup prasasti disebutkan “untuk membajak sawah”. Hal ini diperkuat adanya kata Gomati (dalam bahasa Sansekerta berarti kadang sapi atau tempat pemeliharaan sapi untuk diperah susunya), jadi bukan ternak potong). Tidak jauh dari DAS Kali Bekasi (dahulu Chandrabhaga — Chandra = Sasi = Bulan, Chandrabhaga berubah nama menjadi Bhagasasi, akhirnya Bekasi) — Ada perkampungan dengan nama Kandang Sampi. Diduga tempat ini adalah tempat peternakan sampi (=sapi) hadiah Purnawarwan untuk penduduk sekitar tempat pengalian Kali Chandrabhaga. Kini Kampung Kandang Sampi masuk wilayah Cilincing Jakarta, dengan kode pos 14140. X. Tidak ada pengaruh India. Pengarang buku memberikan pernyataan bahwa sama sekali tidak ada kata dari salah satu bahasa yang dipakai secara lisan, kesenian di India pada jaman dahulu yang tersisa di Indonesia. Disebutkan selanjutnya bahwa suatu dominasi politik oleh orang-orang India (yang konon beragama Hindu atau Budha) sama sekali tidak mungkin. Benarkah???? Suatu hal yang sangat aneh dan janggal. Langsung atau tidak langsung. Suka atau tidak suka pengaruh India itu ada. a. Budaya: kesenian (tarian, wayang). Bukankah Kakawin Mahabharata, Ramayana, dan Bharatayudha “asli’ made in India? b. Bahasa, khususnya nama orang atau nama benda seperti Aryo, Haryo, Pandu, Sri, Dewi, Endhang, Agung, Nugraha, Ardi, Bantala, Seta, Cakra, Mandala, Agni, Tirta, Ksatria, Perwira, Gusti, Eka, Dwi, Tri, Catur, Panca, Sad, Sapta, Hasta, Nawa, Dasa, dan masih banyak contoh-contoh lainnya. c. Politik: Tata pemerintahan Kerajaan Majapahit dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan India. d. Hukum dan Undang-undang yang berlaku pada masa Majapahit adalah Kitab Kutaramanawa berasal dari Manawa Dharma Sastra yang berdasrkan Kitab Suci Weda dan Bhagawat Gita. yang berasal dari India. XII. Ekspedisi Pamalayu adalah ekspedisi silaturahmi antara Singasari dan Suwarnabhumi serta Champa. Pengarang buku menyimpulkan bahwa Ekspedisi Pamalayu adalah kunjungan silaturahmi dan kekeluargaan antara Kerajaan Singasari di Tanah Jawa dan Kerajaan Dharmasraya di Tanah Melayu. Pendapat ini jelas sangat meremehkan dan mengecilkan arti semangat “nasionalisme” Sang Prabu Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa. atau Kertanagara yang bergelar Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa. Serbuan ke Tanah Melayu yang dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu, sebagai sebuah operasi militer yang dilakukan Kerajaan Singasari di bawah perintah Raja Kertanagara pada tahun 1275-1293 terhadap Kerajaan Melayu Dharmasraya di Pulau Sumatera. Adalah Kertanegara, raja agung Singasari yang berjasa besar menghalau kekuatan asing untuk bercokol di bumi nusantara. Adalah sebuah nasionalisme yang tinggi. Prabu Kertanegara berniat memperluas daerah kekuasaan sampai ke luar Pulau Jawa. Ekspedisi Pamalayu adalah wujud nyata semangat nasionalisme Sang Prabu Kertanagara, sebagai pencetus ide Cakrawala Mandala Nusantara, yang menjadi inspirasi bagi Sumpah Ingsun Tan Amukti Palapa, Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Gajah Mada yang kelak menjadi latar belakang wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Bagaimana mungkin sebuah peristiwa peperangan besar mengusir dominasi asing (Cina, Kubilai Khan) dari Tanah Melayu, oleh pengarang buku hanya disebut sekedar kunjungan anjangsana silaturahmi???? Nāgarakṛtāgama pupuh 41 (5) menyebut pengiriman tentara oleh Kertanagara untuk menaklukkan Melayu pada tahun 1197Ç atau tahun 1275M. …Nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu… [… Tahun Saka nagasyabhawa (1197Ç/1275M) Baginda menyuruh tundukkan tanah Melayu,…] Latar belakang pengiriman Ekspedisi Pamalayu adalah untuk menghadang serbuan bangsa Mongol, yang pengaruh kekuasaannya telah meliputi hampir seluruh daratan Asia, termasuk kekaisaran Turki di Timur Tengah. Saat itu wilayah jajahan bangsa Mongol di bawah Kubilai Khan atau Dinasti Yuan sedang mengancam wilayah Asia Tenggara. Untuk itu, Kertanagara mencoba mendahuluinya dengan menguasai Sumatera sebelum datang serbuan dari pihak asing tersebut, dan tujuan dari ekspedisi ini adalah untuk menggalang kekuatan di Nusantara di bawah satu kekuasaan Kerajaan Singasari. Semasa pemerintahan Kertanagara merupakan masa keemasan bagi kerajaan Singasari dan Kertanegara dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang bertekad ingin menyatukan wilayah Nusantara, salah satunya diwujudkan dalam ekspedisi Pamalayu. Pujasastra Nāgarakṛtāgama Pupuh 41 (5) mengabarkan: Kathakena muwah narendra krtanagaranghilangaken katungka kujana Manama cayaraja sirnna rikana sakabda bhujagosasiksaya pejah Nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu Lewes mara bhayanya sangka rika dewamurti nira nguni kalaha nika. [Tersebut Sri Baginda Kertanagara membinasakan perusuh, penjahat, Bernama Cayaraja, musnah pada tahun Saka bhujagosasiksaya (1192), Tahun Saka nagasyabhawa (1197) Baginda menyuruh tundukkan tanah Melayu, Berharap Melayu takut kedewaan beliau, tunduk begitu sahaja]. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad yang dikatakan sebagai pembalasan terhadap sikap para penguasa Abbasiyah. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu. Kubilai Khan boleh berjaya di Timur Tengah, tetapi dia kalah oleh Tentara Singosari dari Jawa di Tanah Malayu. Beberapa tahun kemudian, Tentara Mongol kalah oleh serangan pasukan Raden Wijaya di Surabaya pada tahun 1292, di mana Raden Wijaya mengibarkan Sang Såkå Gulå-Kêlåpå, yang disebut juga Sang Saka Merah-Putih atau Sang Såkå Gêtih-Gêtah, seperti disebut dalam Piagam Butak atau Prasasti Butak yang kemudian dikenal sebagai Piagam Merah Putih. Pertempuran terakhir dan peristiwa pengusiran pasukan tentara Mongol itu diduga terjadi pada tanggal 31 Mei 1293, yang ditandai dengan sesanti surå ing bhåyå yang berarti “keberanian menghadapi bahaya” yang diambil dari babak dikalahkannya pasukan tentara Mongol/Tartar oleh pasukan tentara Jawa pimpinan Raden Wijaya. Ada beberapa hal lagi yang kurang pas dan terlalu dipaksakan: 1. kalau Majapahit merupakan kesultanan Islam mengapa peninggalan yang ditemukan tidak pernah ada semacam kubah, kemudian lambang bulan dan bintang dan relief panjang tulisan ayat Al Qur’an yang merupakan simbol khas dari sebuah dinasti muslim, tetapi yang ada adalah candi, arca yang merupakan ciri khas agama Hindu atau Budha. 2. eksodusnya rakyat Majapahit kala itu saat akhir dari masa kejayaan Majapahit ke pulau Bali dimana sampai saat ini kita masih bisa melihat perkembangan agama Hindu. Islam memang telah ada pada jaman Majapahit dan dinasti saat itu telah memiliki toleransi beragama yang tinggi sehingga tidak menutup kemungkinan rakyat dan perangkat kerajaan beragama islam. Kesimpulan pengarang buku yang terlalu terburu-buru dan mungkin bisa menyesatkan karena seperti ulasan dalam buku terlihat beberapa hal terlalu dipaksakan seperti pada lambang Majapahit, nama Gajah Mada, asal-usul Raden Wijaya, dsbnya. Oleh karenanya mereka-mereka yang mengajarkan dan menyebarkan keyakinan bahwa Sanggramawijaya (Raden Wijaya) adalah pemeluk agama Islam, Gajahmada adalah seorang muslim yang nama sebenarnya Gaj Ahmada. Lambang Surya Majapahit bertuliskan huruf-huruf Arab, yang berujung pada kesimpulan bahwa Majapahit adalah kesultanan Islam, sebenarnya sedang mencari legitimasi, tetapi disayangkan bahwa hal itu dilakukan secara membabi-buta dengan mengesampingkan fakta-fakta sejarah yang jelas-jelas memiliki dasar baik berupa piagam atau prasasti, maupun berupa kitab-kitab atau kidung-kidung turun-temurun. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa mereka secara jelas, terbuka dan terang-terangan telah mengaburkan fakta-fakta sejarah, dan perbuatan ini dapat digolongkan kepada tindakan pembohongan terhadap publik dan seharusnya memiliki tanggung-jawab moral terhadap bangsa. REFERENSI: Beberapa buku yang dijadikan sebagai rujukan adalah milik Badan-badan Pemerintah berikut ini: Perpustakaan Nasional RI, Museum Nasional Jakarta, Museum Negeri Mpu Tantular Surabaya, dan milik atau koleksi pribadi Penulis. Buku-buku tersebut dalam daftar di bawah ini digunakan sebagai rujukan penulisan Dongeng Arkelogi & Antropologi Seri Surya Majapahit 1. ________, Babad Demak II. Gina dan Babariyanto. Transliterasi Terjemahan Bebas. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1981. 2. ________, Babad Majapahit dan Para Wali (Jilid 3). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Jakarta 1989. 3. ________, Babad Tanah Djawi versi L. van Rijckevorsel & R.D.S. Hadiwidjana (1925). 4. ________, Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terjemahan). Narasi. Yogyakarta 2007. 5. ________, Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Terjemahan dari judul asli: Notes on The Malay Archipelago and Mallaca Compiled from Chinese Sources. Komunitas Bambu. Depok 2009. 6. ________, Sejarah Kebudayaan Indonesia II, Penerbit Kanisius. Yogyakarta 1983. 7. A. Latif Osman, Ringkasan Sejarah Islam, Widjaya. Jakarta 1992. 8. Aan Merdeka Permana, Perang Bubat, Tragedi di Balik Kisah Cinta Gajah Mada dan Dyah Pitaloka, Qanita Mizan Pustaka. Bandung 2009. 9. Abas, H.M.S, Drs, M.Si. dkk., Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan di Jawa Timur. Jawa Timur: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur. Surabaya 2001. 10. Abdoel Moeis, Hikajat Damar Wulan. G. Kolff. Bandung 1950. 11. Abdul Hadi, WM. Sunan Bonang, Perintis dan Pendekar Sastra Serat. Tulisan Lepas. 1993. 12. Abdul Munir Mulkan, Syekh Siti Jenar, Pergumulan Islam-Jawa. Yayasan Bentang Budaya. Yogyakarta November 1999. 13. Abu Ahmadi, Drs. Perbandingan Agama. Jilid I. AB Sitti Syamsiyah, Surakarta 1974. 14. Abubakar Aceh, Prof. Dr., Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawwuf. Ramadhani. Surakarta 1989. 15. Abubakar Aceh, Prof. Dr., Sejarah Al Quran Ramadhani. Surakarta 1989. 16. Agus Aris Munandar. Dr. M. Hum., Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian. Komunitas Bambu. Jakarta Desember 2008. 17. Agus Aris Munandar. Dr. M. Hum., Prasasti Mula-Malurung: Pelengkap Sejarah Kerajaan Singhasari, dalam Buku IIa Aspek Sosial Budaya, Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV, Cipanas, 3-9 Maret 1986. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Jakarta 1986. 18. Agus Sunyoto, Petunjuk Wisata Sejarah Kabupaten Malang. Malang: Lingkaran Studi Kebudayaan Malang. Malang 2000. 19. Al Murtadho, H. Sayid Husein, dan KH Abdullah Zaky Al-Kaaf, Drs. Maman Abd. Djaliel, Keteladanan Dan Perjuangan Wali Sångå Dalam Menyiarkan Islam Di Tanah Jawa. CV Pustaka Setia. Bandung 1999. 20. Alwi Shihab, Membendung Arus: Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia. Mizan. Jakarta 1998. 21. Amman N. Wahju, Waosan Babad Galuh: Dari Prabu Ciungwanara hingga Prabu Siliwangi (Naskah Kraton Kasepuhan Cirebon), Penerbit Pustaka. Jakarta 2009. 22. Andjar Any, Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? . Aneka Ilmu. Semarang 1980. 23. Andjar Any, Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon. Aneka Ilmu. Semarang 1989. 24. Armando Cortesao, The Suma Oriental of Tome Pires: An Account of the East, Volume 1-2, translated from Portuguese, The Hakluyt Society. London, 1944. 25. Atja, Drs, Carita Parahiyangan: naskah titilar karuhun urang Sunda abad ka-16 Maséhi. Yayasan Kabudayaan Nusalarang. Bandung. 1968. 26. Ayatrohaedi, DR., Sundakala: cuplikan sejarah Sunda berdasarkan naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” dari Cirebon. Pustaka Jaya. Jakarta 2005. 27. Bade, David W., Khubilai Khan and the Beautiful Princess of Tumapel: the Mongols Between History and Literature in Java. A. Chuluunbat. Ulaanbaatar 2002. 28. Bambang Noorsena, Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen. Andi. Yogyakarta 2007. 29. Bambang Sumadio (Penyunting Jilid), Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna. Balai Pustaka. Jakarta 1984. 30. Bandung Mawardi, Telusur Babad Tanah Jawi, Kabut. Institut Pusat Studi Sastra, Filsafat, Agama, dan Kebudayaan. Suara Merdeka 17 Mei 2009. 31. Berg, CC, Prof Dr., Inleiding tot de studie van het Oud-Javaansch (Kidung Sundāyana). De Bliksem. Soerakarta 1927. 32. Berg, CC, Prof Dr., Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen. De Bliksem. Soerakarta 1927. 33. Berg, CC, Prof Dr., Penulisan Sejarah Jawa, (terjemahan), Bhratara. Jakarta 1985. 34. Berg, CC, Prof. Dr., Het rijk van de vijfvoudige Buddha (Verhandelingen der Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen, Afd. Letterkunde, vol. 69, no. 1). N.V. Noord-Hollandsche Uitgevers Maatschappij. Amsterdam 1962. 35. Bertram Johannes Otto Schrieke, Indonesian Sociological Studies, Part Two: Ruler and Realm in Early Java W. van Hoeve, The Hague. Bandung 1957. 36. Bhre Tandes Mohamad Hendratnoko, Astadasa Kottamaning Prabhu — 18 Rahasia Sukses Pemimpin Besar Nusantara Gajah Mada — Gramedia. Jakarta 2007. 37. Boechari, Drs., Epigraphic Evidence on Kingship in Ancient Java, Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia, Jilid V(1), Bhratara. Jakarta 1973. 38. Boechari. Drs., Manfaat Studi Bahasa dan Sastra Jawa Kuna ditinjau dari Segi Sejarah dan Arkeologi. Majalah Arkeologi Tahun I No. 1 1977. 39. Boedenani, H., Sejarah Sriwijaya. Tarate. Bandung 1976. 40. Brandes, Jan Laurens Andries, Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit, bewerkt door Nicolaas Johannes Krom, Verhandelingen 62, Bataviaasch Genootschap. Batavia 1920. 41. Budiono Herusatoto, Simbolisme dalam Budaya Jawa. Hanindita. Yogyakarta 1985. 42. Budya Pradipta Nagara, KRT. Dr., Sumpah Palapa Cikal Bakal Gagasan NKRI Makalah pada “Seminar Naskah Kuno Nusantara dengan tema Naskah Kuno sebagai perekat NKRI”, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta Pusat 2004. 43. Chambert-Loir, Henri, Kerajaan Bima Dalam Sastra dan Sejarah: Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-dewa, Hikayat Sang Bima, Syair Kerajaan Bima Kepustakaan Populer Gramedia & École française d’Extrême-Orient. Damais, Louis-Charles, 1970. Répertoire Onomastique de L’Epigraphie Javanaise (Jusqu’a Pu Sindok Śrī Iśānawikrama Dharmmotuŋgadewa). Paris: École Française D’Extrême-Orient. Jakarta 2004. 44. Christie, J.W., Patterns of Trade in Western Indonesia: Ninth through Thirteenth Centuries A.D. School of Oriental and African Studies, University of London. London 1982. 45. Christie, J.W., Weights and Measures in Early Javanese States, dalam Klokke dkk. Southeast Asian Archaeology. Center of Southeast Asian Studies, University of Hull. Leiden 1998. 46. Clifford James Geertz, Prof.,Santri dan Abangan di Jawa. INIS. Jakarta 1988. 47. Coedes, George The Indianized States of Southeast Asia, University of Malaya Press. Kuala Lumpur 1968. 48. Coedes, George.The Indianized States of Southeast Asia, University of Malaya Press. Kuala Lumpur 1968. 49. Damais, Louis-Charles, Etudes d’Epigraphie Indonesienne: III. Liste de principales inscriptions datees de l’Indonesie, Bulletin de l’Ecole Francaise d’Extreme-Orient, tome 46. Paris, 1952. 50. Damais, Louis-Charles, Etudes Javanaises: I. Les tombes musulmanes datees de Tralaya, Bulletin de l’Ecole Francaise d’Extreme-Orient, tome 48. Paris 1957. 51. Djoko Pramono SIP MBA, Mayjen Marinir, Budaya Bahari. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta 2005. 52. d’Ohsson, Constantin Mouradgea, Chapitre 3 Kublai Khan, Tome III, Histoire des Mongols, depuis Tchinguiz-Khan jusqu’à Timour Bey ou Tamerlan, Adamant Medi. Boston 2002. 53. Drewes, G.W.J. The admonitions of Seh Bari : a 16th century Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang. The Hague Martinus. Nijhoff 1969. 54. Drewes. G.W.J. The Struggle Between Javanism and Islam as Illustrated by the Serat Dermagandul. Dalam Bijdragen Tot De Taal,- Land- En Volkenkunde Edisi. 122 No. 3. S. Gravenhage-Martinus Nijhoff, Leiden, 1966. 55. Edi Sedyawati. Prof. Dr. Keadaan Masyarakat Jawa Kuna Masa Kadiri dan Masalah Penafsirannya. Satyawati Suleiman (eds.) Pertemuan Ilmiah Arkeologi III. Puslitarkenas. Jakarta 1985. 56. Edi Sedyawati. Prof. Dr. Pembagian Peranan Dalam Pengelolaan Sumberdaya Budaya. Diskusi Ilmiah Arkeologi XIII, 6 April 2001 di Denpasar 2001. 57. Edi Suhardi Ekajati, Prof. Dr. H. Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Pustaka Jaya, Jakarta 2005. 58. Eliade, Mircea. Mitos Gerak Kembali Yang Abadi, Kosmos dan Sejarah. Terjemahan dari: The Myth of the Eternal Return or, Cosmos and History. Penerjemah: Cuk Ananta. Ikon Taralitera. Yogyakarta 2002. 59. Endang Sri Hardiati, “Arca Raja Majapahit”, Majapahit-Trowulan, Indonesian Heritage Society. Jakarta 2006. 60. Es Danar Pangeran. Menggali Sejarah Madura Lewat Babad Soengenep (8) : Kudapanole Menaklukkan Blambangan. Tabloid POSMO Edisi 44 Tahun I/ 2000. 61. George Coedes, The Indianized States of Southeast Asia, University of Malaya Press. Kuala Lumpur 1968. 62. Graaf, H.J. de Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Terjemahan: Soemarsaid Moertono. Grafitipers dan KITLV. Jakarta 1985. 63. Graaf, H.J.de dan T.H. Pigeaud. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Tinjauan Sejarah Abad XV dan XVI. (Terjemahan). Pustaka Utama Grafiti. Jakarta 1985. 64. Graaf, H.J.de dan T.H. Pigeaud. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terjemahan). Pustaka Utama Grafiti. Jakarta 2001. 65. Groeneveldt, W.P., Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources, reprint, Bhratara. Djakarta 1960. 66. Groslier, Bernard Philippe, Indocina Persilangan Kebudayaan. Penerjemah Ida Sundari Hoesen. Kepustakaan Populer Gramedia, École française d’Extrême-Orient, Pusat Penelitian Arkeologi. Jakarta-Paris 2002. 67. Gusti Pudja, M.A, SH. dan Tjokorda Rai Sudharta M.A Manawa Dharmacastra Compendium Hukum Hindu; 1976 – 1977. 68. Gusti Pudja, M.A. SH. Satu Pengantar Dalam Ilmu Weda. Mayasari. Jakarta 1985. 69. Hadi Sidomulyo (nama aslinya: Nigel Bullogh), Napak tilas perjalanan Mpu Prapanca; (kata pengantar: Prof. Dr. Edi Sedyawati). Wedatama Widya Sastra bekerja sama dengan Yayasan Nandiswara [dan] Jurusan Pendidikan Sejarah, FIS Unessa. Jakarta 2007. 70. Hadisoebroto. Aksara Djawa: Tatanan Panulise Basa Djawa sarta Latin. Pantjawarna, Solo 1959. 71. Hall, D.G.E., Sejarah Asia Tenggara. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh I.P.Soewarsha. Usaha Nasional. Surabaya 1988. 72. Hamka. Prof. Dr. Sejarah Umat Islam, Pustaka Nasional Pte Ltd,. Singapore 2005. 73. Hariani Santiko, “Agama” dalam Majapahit-Trowulan, Indonesian Heritage Society. Jakarta 2006. 74. Hariwijaya, M. & Ratih Sarwiyono. Serat Jåyåbåyå, Edisi Revisi. Media Wacana. Yogyakarta Juli 2008. 75. Harun Hadiwijono. Konsepsi tentang Manusia Dalam Kebatinan Jawa. Sinar Harapan. Jakarta 1983. 76. Hasan Djafar, Girindrawarddana: Beberapa Masalah Majapahit Akhir. Yayasan Dana Penerbitan Buddhis Nalanda. Jakarta 1978. 77. Hermanus Sinung Janutama Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta 2010. 78. Herry Nurdi. Risalah Islam Nusantara, Sabili Edisi Khusus: Sejarah Emas Muslim Indonesia. No. 9 Th. X 2003. 79. I Gede Sura. Pengendalian Diri dan Etika Dalam Ajaran Agama Hindu. Hanuman Sakti. Jakarta 1993. 80. I Gusti Ngurah Bagus. Prof. Pertentangan kasta dalam bentuk baru pada masjarakat baru {i.e. Bali}. makalah lepas. Fakultas Sastra Universitas Udayana. Bali 1969. 81. I Gusti Putu Phalgunadi. Sekilas Sejarah Evolusi Agama Hindu. Editor: I B Putu Suamba. Widya Dharma. Denpasar 2006 82. I Wayan Maswinara. Sistem Filsafat Hindu. Paramita. Surabaya 1999. 83. Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda Kasta di Bali: Kesalah-pahaman yang sudah sirna, tulisan lepas, Denpasar Bali 2010. 84. Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi, Catur Ashrama, Canang Sari Dharmawacana. Denpasar tanpa tahun. 85. Iman Anom. Serat linglung Sunan Kalijaga (Syeh Melaya) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad Khafid Kasri (et al.) ; editor, Kasmiran W. Sanadji Jakarta. Balai Pustaka. Jakarta 1993. 86. Jan. S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, BPK Gunung Muia Jakarta 2004. 87. Johns, A.H. The Role of Structural Organisation and Myth in Javanese Historiography. The Journal of Asian Studies 1964. 88. Jong, S. de. Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa. Yayasan Kanisius. Yogyakarta 1976. 89. Karkono Partokusumo. Falsafah Kepemimpinan dan Satria Jawa dalam Perspektif Budaya. Bina Rena Pariwara. Jakarta 1998. 90. Karto Atmodjo, M.M. S. Struktur Masyarakat Jawa Kuno pada Jaman Mataram Hindu dan Majapahit. Pusat Penelitian dan Studi Pedesaan dan Kawasan UGM. Yogyakarta 1979. 91. Koesoemawardhani, Goesti Raden Adjeng Siti Noeroel Kamaril Ngasarati. Damar Woelan Ngarit. Toneelstuk van de Langendrija-Klitik Lakon Wayang Klitik). Soerakarta 1930. 92. Krom, Nicolaas Johannes, Hindoe-Javaansche Geschiedenis, tweede herziene druk, Martinus Nijhoff, ‘s-Gravenhage 1931. 93. Kusen, dkk., Agama dan Kepercayaan Masyarakat Majapahit, dalam 700 Tahun Majapahit (1293-1993) Suatu Bunga Rampai, Wisnu Murti. Surabaya 1993. 94. Leona Anderson. Review of Kinney, Ann R. Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java. Department of Religious Studies, University of Regina, H-Buddhism, H-Net Reviews. Canada 2005. 95. Levathes, Louise, When China Ruled the Seas, Simon & Schuster. New York 1994. 96. Lombard, Denys Prof., Nusa Jawa: Silang Budaya. Warisan Kerajaan-kerajaan Kosentris. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta 2005. 97. Lombard, Denys. Nusa Jawa : Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu. Bagian II: Jaringan Asia. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta 2005. 98. Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya II, Jaringan Asia. Terjemahan. Gramedia Pustaka Utama, Forum Jakarta-Paris, Ecole francaise d’Extreme-Orient. Jakarta 2008. 99. Ma Huan Ying-Yai Sheng-Lan (1433): The Overall Survey of the Ocean’s Shores. (Laporan Umum Tentang Pantai-pantai Lautan). Diterjemahkan dari teks China, diedit oleh Feng Chéng-Chun dengan catatan dan introduksi oleh J.V.G Mills. Publikasi Cambridge University Press. Cambridge 1970. 100. Machi Suhadi, Tanah Sima Dalam Masyarakat Majapahit, Disertasi, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta 1993. 101. Man, John, Kublai Khan: The Mongol king who remade China, Bantam Books. London 2007. 102. Mangkudimedja, R.M., Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP. Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Departemen P dan K. Jakarta 1979. 103. Mangkudimedja. R.M. Serat Pararaton Jilid 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Jakarta 1979. 104. Marbangun Hardjowirogo. Manusia Jawa. Inti Idayu Press. Jakarta 1984. 105. Martha A. Muusses, Singhawikramawarddhana, Feestbundel, Volume 2, Bataviaasch Genootschap (150 jarig bestaan 1778–1928), Batavia, 1929. 106. Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto (ed.). Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Balai Pustaka. Jakarta 1990. 107. Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Prof. Dr. Sejarah Nasional Indonesia: Jaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Islam di Indonesia, Balai Pustaka. Jakarta 2008. 108. Mas Sastradiredja, Wawatjan Damarwoelan. Balai Poestaka. Batavia 1931. 109. Megandaru W. Kawuryan. Negara Kertagama, Tata Pemerintahan Kraton Majapahit. Panji Pustaka. Jakarta 2006. 110. Meinsma, J.J. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. (Terjemahan). S’Gravenhage 1903. 111. Mircea Eliade, Sakral dan Profan, Fajar Pustaka Baru. Yogyakarta 2002. 112. Moedjianto. Konsep Kekuasaan Jawa, Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Kanisius. Yogyakarta 1994. 113. Moehadi. Modul Sejarah Indonesia. Karunia Jakarta. 1986. 114. Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jåyåbåyå Versi Sabda Palon. Yudha Gama Corp. Jakarta 1982. 115. Moh. Hari Soewarno. Sêrat Darmogandhul dan Serat Gatoloco tentang Islam. Antar Surya Jaya. Surabaya 1985. 116. Moh. Hasyim Munif, Drs. Pioner & Pendekar Syiar Islam Tanah Jawa Yayasan Abdi Putra Al-Munthasimi. Gresik 1995. 117. Mohamad Sobary. Sunan Drajad, Kompas 29 Desember 1996. 118. Mohammad Dahlan, KH. Haul Sunan Ampel Ke-555, Yayasan Makam Sunan Ampel. Surabaya 1979. 119. Mudjadi dan Agus Salim (penerjemah), The Antiquites of Singasari. Terjemahan 1976. Blom. Yessy 1939. 120. Muhammad Yamin, Tatanegara Madjapahit. Risalah Sapta Parwa, berisi 7 Djilid atau Parwa, Hasil Penelitian Ketatanegaraan Indonesia tentang Dasar dan Bentuk Negara Nusantara Bernama Madjapahit, 1293 sd 1525. Prapantja. Djakarta 1962. 121. Muhammad Yamin. 6000 Tahun Sang Merah Putih. Siguntang. Jakarta 1954. 122. Muhammad Yamin. Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara. Balai Pustaka. Jakarta 1977. 123. Mulder, Niels. Kebatinan Dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa: kelangsungan dan perubahan kulturil. Gramedia. Jakarta 1983. 124. Mulja, S. Balsafah Gatholotjo. Permata. Semarang tanpa tahun. 125. Noorduyn, Jacobus, Majapahit in the Fifteenth Century, Bijdragen 134, Koninklijk Instituut, Leiden, 1978. 126. Noorduyn, Jacobus, The Eastern Kings in Majapahit, Bijdragen 131, Koninklijk Instituut, Leiden, 1975. 127. Nurul Huda. Tokoh Antagonis Darmo Gandhul, tragedi sosial historis dan keagamaan di penghujung kekuasaan Majapahit. Pura Pustaka, Yogyakarta 2002. 128. Nyoman Sri Susilowati, Akibat hukum terhadap perkawinan nyeburin antar kasta menurut Hukum Adat Bali. Tesis pada Program Pasca Sarjana UGM Yogyakarta 2003. 129. Padmapuspita, Ki, PararatonTeks Bahasa Kawi, Terjemahan Bahasa Indonesia. Taman Siswa. Jogjakarta 1966. 130. Panitia Seminar. Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, Panitia Seminar. Medan 1963. 131. Paul Ravaisse, L’inscription coufique de Leran a Java, Tijdschrift 65, Bataviaasch Genootschap, Batavia, 1925. 132. Pigeaud, Theodore Gautier Thomas. Java in the Fourteenth Century: A Study in Culture History: The Nagarakertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D., Volume 4, The Hague. Martinus Nijhoff 1962. 133. Pigeaud, Theodore Gautier Thomas. Javanese and Balinese manuscripts and some codices written in related idioms spoken in Java and Bali: descriptive catalogue, with examples of Javanese script, introductory chapters, a general index of names and subjects. Steiner. 1975 134. Pigeud, Theodore Gautier Thomas. Java in the 14th Century A Study in Cultural History I Javanese Texts in Transcription, The Hague. M. Nijhoff 1960. 135. Pitono Hardjowardojo. Pararaton. Bhratara. Djakarta 1965. 136. Pitono, R. Pengaruh Tantrayana pada Kebudayaan Kuno di Indonesia. IKIP Malang tanpa tahun. 137. Poerbatjaraka, R. Ng. Kapustakan Jawi. Jambatan. Jakarta 1958. 138. Pogadaev, V. A., Gajah Mada: The Greatest Commander of Indonesia. Historical Lexicon. XIV –XVI Century. Vol. 1. h.245-253, Znanie Мoscow. 2001. 139. Prapantja, Rakawi, The Negara-Kertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 AD. trans. by Theodore Gauthier Pigeaud, Java in the 14th Century, A Study in Cultural History. The Hague, Martinus Nijhoff 1962. 140. Priyohutomo. Nawaruci. JB. Wolters Uitgevers Maatschapij. Groningen 1934. (Reprint). 141. Purwadi. Sejarah Raja-Raja Jawa Media Ilmu. Yogyakarta 2007. 142. R. Soegondo. Kolonel Inf.Ilmu Bumi Militer Indonesia. Pembimbing, Jakarta 1954. 143. Raffles, Sir Thomas Stamford, F.R.S. The History of Java, from the earliest Traditions till the establisment of Mahomedanism. Published by John Murray, Albemarle-Street. Vol II, 2nd Ed, 1830 (Terjemahan). Reprint. tanpa tahun. 144. Rahimsyah. MB. Legenda dan Sejarah Lengkap Wali Sångå. Amanah. Surabaya tanpa tahun. 145. Rahmad Subagya. Agama Asli Indonesia. Sinar Harapan, Jakarta 1981. 146. Resink, G.J. Indonesia’s History Between the Myths: Essays in Legal History and Historical Theory. The Hague: W. van Hoeve 1968. 147. Restu Gunawa, Muhammad Yamin dan cita-cita persatuan Indonesia. University of Michigan Press. Michigan 2005. 148. Riboet Darmosoetopo. Dampak Kutukan dan Denda terhadap Penetapan Sima pada Masyarakat Jawa Kuna, dalam AHPA. Proyek Penelitian Purbakala Jakarta. Jakarta 1995. 149. Ricklefs, Merle Calvin, A Consideration of Three Versions of the Babad Tanah Djawi, with Excerpts on the Fall of Madjapahit, Bulletin of the School of Oriental and African Studies, Vol.35(2), London, 1972. 150. Ricklefs, Merle Calvin. A Consideration of Three Versions of the Babad Tanah Djawi, with Excerpts on the Fall of Madjapahit, Bulletin of the School of Oriental and African Studies, Vol.35(2). London 1972. 151. Ricklefs, Merle Calvin. A History of Modern Indonesia Since c. 1300, 2nd ed. Stanford University Press. Stanford 1993. 152. Ricklefs, Merle Calvin. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 Edisi ke-3. Diterjemahkan oleh S. Wahono dkk. Serambi. Jakarta 2005. 153. Ricklefs, Merle Calvin. Sejarah Indonesia Modern. Terjemahan Dharmono Hardjowidjono. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta 1995. 154. Robson, Stuart O. Désawarnana (Nagarakrtagama) by Mpu Prapanca. KITLV Press. Leiden 1995. 155. Sanoesi Pane, Sandyakala Ning Majapahit. Balai Poestaka. Batavia 1933. 156. Sapadi Djoko Damono, Sonya Sondakh (penyunting) Babad Tanah Jawi: Mitologi, Legenda, Folklor, dan Kisah Raja-raja Jawa. Buku I. Amanah Lontar. Jakarta 2004. 157. Sartono Kartodirdjo (ed.). Sejarah Nasional Indonesia Jilid III. Balai Pustaka. Jakarta 1977. 158. Sartono Kartodirdjo. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imperium. Jilid I. Gramedia. Jakarta 1987. 159. Sentot, Drs. D. Tj. Sejarah Nasional dan Dunia. Prima Offset. Wonogiri. Tanpa tahun. 160. Sidjabat. Dr. W. B. (ed.) et. all. Latar Belakang Sosial dan Kultural dari Geredja-geredja Kristen di Indonesia. Panggilan Kita di Indonesia Dewasa ini. BP Kristen. Jakarta 1964. 161. Simuh, Sufisme Jawa, Transformasi Tasawwuf ke Mistik Jawa. Bentang Budaya. Yogyakarta 1995. 162. Singgih Hadi Mintardja, Nagasasra Sabukinten Kedaultan Rakyat Yogyakarta. 163. Singgih Hadi Mintardja, Pelangi di Langit Singosari (serial) Yayasan Panuluh. Yogyakarta. 164. Siti Maziyah, Kontroversi Serat Gatholoco perdebatan teologis penganut kejawen dengan paham puritan. Swarta Pustaka. Yogyakarta 2005. 165. Slamet Muljana, Prof Dr., Sriwijaya, LKIS. Yogyakarta 2006 166. Slamet Muljana, Prof. Dr., Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi, Yayasan Idayu. Jakarta 1981. 167. Slamet Muljana, Prof. Dr., Nagara Kertagama, Tafsir Sejarahnya. LkiS. Yogyakarta 2006. 168. Slamet Muljana, Prof. Dr., Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. LkiS Yogyakarta 2008. 169. Slamet Muljana, Prof. Dr., Menuju Puncak Kemegahan.(Sejarah Majapahit) LkiS. Yogyakarta 2005. 170. Slamet Mulyana, Prof Dr., Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit, Yayasan Idayu. Jakarta 1983. 171. Slamet Mulyana, Prof. Dr., Perundang-undangan Majapahit, Bhatara. Djakarta 1967. 172. Soekama Karya, H., et all., Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam. Logos Jakarta 1996. 173. Soekama Karya. H., et all. Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam. Logos, Jakarta 1996. 174. Soekmono, Candi, Fungsi dan Pengertiannya, Disertasi: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jakarta 1974. 175. Soekmono, Drs. R., Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, Penerbit Kanisius. Yogyakarta 1988. 176. Solichin Salam, Sekitar Wali Sångå, Menara Kudus. Kudus 1960. 177. Sri Sukesi Adiwimarta. Kidung Sunda (Sastra Daerah Jawa), Antologi Sastra Daerah Nusantara. Yayasan Obor. Jakarta 1999. 178. Subalidinata, R.S., Sumarti Suprayitno, Anung Tedjo Wirawan Sejarah dan perkembangan cerita murwakala dan ruwatan dari sumber-sumber sastra Jawa. University of Michigan Press. Michigan 1985. 179. Sudibya, Z.H. Babad Tanah Jawi. Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1980. 180. Sumadio, B. (ed.). Sejarah Nasional Indonesia II. Balai Pustaka. Jakarta 1977. 181. Sumatijnama, Pandita, Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya dan Sang Hyang Kamahayanan, Yayasan Bhumisambhara. Jakarta 2003. 182. Sunarno Sisworahardjo, Pituduhing Ngaurip, Panjebar Semangat. Surabaja 1960. 183. Supratikno Rahardjo. Peradaban Jawa. Komunitas Bambu. Jakarta 2002. 184. Suroyo, A.M. Djuliati, dkk. Penelitian Lokasi Bekas Kraton Demak. Kerjasama Bappeda Tingkat I Jawa Tengah dengan Fakultas Sastra UNDIP. Semarang 1995. 185. Suwardi Endraswara, Tradisi Lisan Jawa, Warisan Abadi Budaya Luhur Narasi. Yogyakarta 2005. 186. Suyamto. Refleksi Budaya Jawa dalam Pemerintahan dan Pembangunan. Dahana Prize. Semarang 1992. 187. Syaikh Ahmad Musthafa Al Maraghi. Tafsir Al Maraghi. Juz I. Terj. Drs. M. Thalib. Ramadhani, Surakarta 1989. 188. Tandhanagara, K.R.T, Darmogandhul , Carita Adêge Nagara Islam Ing Dêmak Bêdhahe Nagara Majapahit. Sadu Budi Sala. Surakarta 1959. 189. Teeuw, Andries et al, Siwaratrikalpa of Mpu Tanakung, Bibliotheca Indonesica 3, Martinus Nijhoff, The Hague, 1969. 190. Teeuw, Andries. (et al), Siwaratrikalpa of Mpu Tanakung, Bibliotheca Indonesica 3, Martinus Nijhoff. The Hague 1969. 191. Teeuw, Andries. Sastra Indonesia Modern II. Pustaka Jaya. Jakarta 1989. 192. Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. Khasanah Budaya Nusantara V.. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1994. 193. Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. Khasanah Budaya Nusantara VI.. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1995. 194. Tjakraningrat, Kangdjeng Pangéran Harja. Serat Damarwulan. R. Soemodidjojo. Ngajogjakarta Hadiningrat 1953. 195. Toru Aoyama, Kitab Sutasoma. Australisan National University. Canberra 1991. 196. Uka Tjandrasasmita, Majapahit dan Kedatangan Islam serta Prosesnya, dalam 700 Tahun Majapahit (1293-1993) Suatu Bunga Rampai, Wisnu Murti, Surabaya 1993. 197. Uka Tjandrasasmita. (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia III, PN Balai Pustaka. Jakarta 1984. 198. Umar Hasyim. Riwayat Maulana Malik Ibrahim. Menara Kudus. Kudus 1981. 199. Umar Hasyim. Sunan Giri dan Pemerintahan Ulama di Giri Kedaton. Menara Kudus, Kudus 1979). 200. Van Bruinessen, Martin. Najmuddin al-Kubra, Jumadil Kubra and Jamaluddin al-Akbar: Traces of Kubrawiyya influence in early Indonesian Islam, Bijdragen tot de Taal-. Land- en Volkenkunde 1994. 201. Van Den Berg, H. J. Dr. , H. Kroeskamp, I. P. Simandjoentak. Dari Panggung Peristiwa Sedjarah Dunia. Djilid I : India, Tiongkok, dan Djepang, Indonesia. J. B. Wolters. Jakarta – Groningen 1952. 202. Yosep Iskandar, Perang Bubat, Naskah bersambung Majalah Mangle. Bandung 1987. 203. Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten. Bandung 2005. 204. Yuanzhi Kong. Prof. Muslim Tionghoa Cheng Ho, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. Penyunting: Prof. HM. Hembing Wijayakusuma. Pustaka Populer Obor. Jakarta 2000. 205. Yuliadi Soekardi, Nalusur Sejarahe Sunan Gunungjati. Majalah Panjebar Semangat Edisi 23-27. Surabaya 2002. 206. Zoetmulder, P. J. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Djambatan – KITLV. Jakarta 1983. 2
    • Buku yang dijadikan sebagai rujukan banyaaakk sekali… bagaimana ya cara Ki Bayu membaca dan mengingatnya?

      Matur sembah nuwun, kulo tenggo episode berikutnya.

      • Lha meniko salah satunggalipun piyantun ingkang pinunjul ki ,
        Saged dados tepo tulodho sinten kemawon .

        Nuwun .

    • MACA RONTAL DEB pake kopi DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SURYA MAJAPAHIT

      buat cantrik pribadi rasane PAS,

    • matur nuwun sanget eyang bayuaji ingkang sekti 🙂

  13. HADIR,

  14. Nglilir njur kancilen ………………………

  15. Nuwun

    Sugêng énjang pårå sanak kadang sutrêsnå padépokan pelangisingosari ingkang dahat kinurmatan.

    Pårå wasi, pårå ubhwan, pårå ajar, pårå putut manguyu, pårå jêjanggan, pårå tåpå, pårå tapi, pårå èndhang, pårå dhayang, pårå mentrik, pårå kadang cantrik, pårå kaki bêbahu padépokan. Pårå murid kang nêmbé ngangsu kawruh kautaman gêsang dumatêng pårå mursyid.

    Månggå pårå kadang, pårå ingkang sidhik ing paningal samyå sêdhakêp mangékapådå amêsu budi amrih wêwah waskithaning manah. Nggayuh kamulyan, mugi sêdåyå titah pikantuk kanugrahaning Gusti Ingkang Sih Katrésnanipun Tanpå Watês Tanpå Wilangan.

    Katur pårå sanak kadang ingkang dahat sinu darsånå ing budi,

    Tancep Kayon sudah Dongeng Arkeologi & Antropologi Surya Majapahit, sejak wedaran yang pertama waosan kaping-1 tanggal 18 Februari 2011 at 21:41 (HLHLP 106); sampai dengan wedaran pungkasan waosan kaping-56 tanggal 12 November 2011 at 01:18 (JdBK 40) –kurang lebih selama 11 bulan–

    Tiada lain saya, cantrik bayuaji, mengucapkan terima kasih kepada sidang pembaca, sanak kadang padepokan pelangisingosari yang berkenan membaca tulisan-tulisan cantrik.

    Matur nuwun, atas segala masukan dan pujian. Semoga hal ini tidak menjadikan cantrik lupa-diri. Namun sudah barang tentu kritik dari sanak kadang cantrik harapkan, karena sebagai manusia, cantrik bayuaji tidak luput dari kesalahan, mungkin salah memberikan ilustrasi terhadap suatu peristiwa sejarah, keliru memberikan uraian tafsir sejarah, salah mengutip rujukan, keliru menulis identitas suatu tempat, masa, yang mengakibatkan informasi yang ingin disampaikan menjadi tidak utuh, bahkan sangat mengganggu. Mohon maaf atas semua kesalahan.

    Wedaran Dongeng Arkeologi & Antropologi bermaksud memberikan pemahaman sejarah bangsa, khususnya masa-masa silam Nusantara secara utuh, obyektif, bebas nilai, tidak menggurui, dan yang lebih utama adalah tidak memihak pada kepentingan-kepentingan tertentu, kepada kelompok tertentu yang berusaha untuk menyelewengkan sejarah.

    Adapun banyaknya sumber sejarah berupa pustaka buku dari para ahlinya, juga prasasti, kakawin, rontal, arca, candi, termasuk juga tutur lesan masyarakat cantrik jadikan rujukan penulisannya, semata-mata untuk lebih meyakinkan cantrik bahwa sumber sejarah tersebut adalah tepat, dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah dan moral, dan tidak mengada-ada.

    Andaikata terjadi perbedaan di antara para ahli, dalam ranah sejarah, hal itu adalah wajar, mengingat bahwa kebenaran sejarah adalah bersifat hipotetik. Sejarah dapat diperbarui atau direvisi, selama kajian terhadap penemuan-penemuan arkelogis yang menunjang masih terus terjadi.

    Katur pårå sanak kadang ingkang dahat kinurmatan,

    Dongeng Arkeologi & Antropologi Surya Majapahit, sudah tancêp kayon, tetapi masih banyak peninggalan-peninggalan leluhur bangsa, baik berupa rontal pujasastra, kronika budaya, kakawin, kidung, tembang, tamla prasasti, arca, benda-benda budaya kuno, bagaikan mutiara yang dapat dirangkai kembali dalam bentuk dongeng semacam ini.

    Dengan menelusuri kembali jejak-jejak masa lalu bangsa, kita dapat belajar darinya, kita dapat jadikan sebagai cermin bagi langkah kehidupan bangsa ini selanjutnya.

    Pårå sanak kadang,

    Dongeng inipun dapat dimanfaatkan dalam arti dicopy oleh siapa saja, digunakan sebagai bahan penyusunan skripsi, desertasi, makalah dan sebagainya. Namun mohon dapat menyebutkan sumber tulisannya.

    Katur pårå sanak kadang ingkang dahat kinurmatan,

    Tuntas sudah penulisan ini, dan JdBkpun sudah tutup kelir.
    Masih ada gandhok-gandhok baru? dan dongeng baru? Kita menunggu.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur suwun Ki Bayu, atas sumbangan tulisannya sehingga padepokan menjadi lebih “regeng”

      Jangan katir ki, sedang disiapkan pendopo dan gandok-gandok pengisinya untuk wedaran yang akan datang.

      Sementara masih mengumpulan “ubo rampe” pembangunan pendopo, kami istirahat dulu barang seminggu

      nuwun

      • kagem ki BAYU bener apa yang di sampaikan pak Satpam,

        Jangan katir ki, sedang disiapkan pendopo dan gandok-gandok pengisinya untuk wedaran yang akan datang.

        hikss, pak Satpam ra pareng nesu tulisane tak COPi.

  16. HADIR,

  17. Nuwun,
    Sugêng énjang

    Sembari menunggu persiapan ubo-rampé, pendåpå dan gandhok-gandhok, serta Ki Gundul dan Ki Panji Satriå Pamêdar, tidak katir (eh… katir itu apa sh), maka saya wedarkan dongengan lepas tak berseri berikut ini:

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

    WONG SAMIN SÊDULUR SIKÊP

    Samin Suråsêntikå dan Ajarannya

    Radèn Kohar lahir pada tahun 1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora. Ayahnya bernama Radèn Suråwijåyå atau lebih dikenal dengan Samin Sepuh.

    Nama Radèn Kohar ini kemudian diubah menjadi Samin Suråsêntikå, yaitu sebuah nama yang bernafas kerakyatan, karena disepuhkan oleh masyarakatnya, maka beliau menyandang gelar Kyai, sehingga namanya adalah Kyai Samin Suråsêntikå.

    Kyai Samin Suråsêntikå masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan juga masih bertalian darah dengan Pangeran Kusumoningayu yang berkuasa di daerah Kabupaten Sumåråtå (kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada tahun 1802-1826.

    Otak intelektual gerakan Saminisme adalah Radèn Suråwijåyå. ayah Samin Suråsêntikå sendiri. Pengetahuan intelektual Kyai Samin ini di dapat dari ayah, yaitu anak dari Pangeran Kusumaningayu. Lelaki kelahiran tahun 1859 di Ploso ini sejak dini dijejali dengan pandangan-pandangan viguratif pewayangan yang mengagungkan tapabrata, gemar prihatin, suka mengalah (demi kemenangan akhir) dan mencintai keadilan

    Beranjak dewasa, dia terpukul melihat realitas yang terjadi, dimana banyaknya nasib rakyat yang sengsara, terlebih ketika Belanda pada saat itu sangat rajin melakukan privatisasi hutan jati dan mewajibkan rakyat untuk membayar pajak.

    Pada saat itulah, Radèn Suråwijåyå melakukan perampokan pada keluarga kaya dan hasilnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Dia juga menghimpun para brandalan di Rajegwesi dan Kanner yang dikemudian hari menyusahkan pihak Gupernemen Belanda.

    Pada saat itulah, Kyai keturunan bangsawan ini dikenal oleh masyarkat kecil dengan sebutan Kyai Samin yang konon berasal dari kata “sami-sami amin” yang artinya rakyat sama-sama setuju ketika Radèn Suråwijåyå melakukan langkah membrandalkan diri untuk membiayai pembangunan unit masyarakat miskin.

    Kyai Samin Suråsêntikå tidak hanya melakukan gerakan agresif revolusioner, dia juga melakukan ekspansi gagasan dan pengetahuan sebagai bentuk pendekatan transintelektual kaum tertindas (petani rakyat jelata) dengan cara ceramah dipendopo-pendopo pemerintahan desa. Isi dari ceramah ini yaitu keinginan membangun kerajaan Amartapura.

    Adapun pesan substantif yang didengung-dengungkan yaitu meliputi; jatmiko (bijaksana) dalam kehendak, ibadah, mawas diri, mengatasi bencana alam dan jatmiko selalu berpegangan akan budi pekerti.

    Pada tahun 1890 Kyai Samin Suråsêntikå mulai mengembangkan ajarannya di daerah Klopoduwur, Blora. Banyak penduduk di desa sekitar yang tertarik dengan ajarannya, sehingga dalam waktu singkat sudah banyak masyarakat yang menjadi pengikutnya.

    Nama Samin itu sendiri berartikan nama yang bernafas wong cilik. Pada perkembangannya penganut ajaran ini lebih menyukai disebut Sêdulur Sikêp . Hal ini dikarenakan pada abad ke 18-an Wong Samin mempunyai citra jelek di mata masyarakat Jawa dan dianggap sebagai sekelompok orang yang kelewat lugu hingga terkesan bodoh dan naïf. Sedangkan sebutan Sêdulur Sikêp diartikan sebagai orang yang baik dan jujur.

    Istilah Samin sering dikonotasikan negatif, hal ini karena stigma yang berkembang membentuknya demikian, sejak zaman feodal komunitas samin menjadi komunitas yang tidak bisa diatur oleh pemerintah Belanda. Padahal yang sebenarnya Wong Samin adalah orang yang kelewat jujur, dengan tingkat kesopanan dan kegotongroyongannya yang sangat tinggi.

    Pada saat itu pemerintah Kolonial Belanda belum tertarik dengan ajarannya, karena dianggap sebagai ajaran kebatinan biasa atau agama baru yang tidak membahayakan keberadaan pemerintah kolonial.

    Pada tahun 1903 Residen Rembang melaporkan bahwa ada sejumlah 722 orang pengikut Samin yang tersebar di 34 Desa di Blora bagian selatan dan daerah Bojonegoro. Mereka giat mengembangkan ajaran Samin. Sehingga sampai tahun 1907 orang Samin berjumlah lebih dari 5.000 orang.

    Pemerintah Kolonial Belanda mulai merasa was-was sehingga banyak pengikut Samin yang ditangkap dan dipenjarakan. Dan pada tanggal 8 Nopember 1907, Samin Suråsêntikå diangkat oleh pengikutnya sebagai Ratu Adil, dengan gelar Prabu Panêmbahan Suryångalam. Kemudian selang 40 hari sesudah peristiwa itu, Samin Suråsêntikå ditangkap oleh Radèn Pranålå, yatu asisten Wedana Randublatung. Setelah ditangkap, Samin beserta delapan pengikutnya lalu dibuang ke luar Jawa, dan berliau meninggal di luar Jawa pada tahun 1914.

    Tahun 1908, Penangkapan Kyai Samin Suråsêntikå tidak memadamkan pergerakan Samin. Wångsårêjå, salah satu pengikut Samin menyebarkan ajarannya di distrik Jawa, Madiun. Di sini orang-orang Desa dihasut untuk tidak membayar pajak kepada Pemerintah Kolonial.
    Akan tetapi Wångsårêjå dengan beberapa pengikutnya ditangkap dan dibuang keluar Jawa.

    Kyai Samin Suråsêntikå yang dicekal oleh Belanda dan dibuang di Tanah Lunto, belum sempat mengaktualisasikan seluruh ide-idenya. Bukan hanya otak pergerakannya, bahkan kitab orang Samin yang ditulisnya yang berjudul Sêrat Jamus Kalimåsådå juga disita, demikian pula dengan kitab-kitab pandom kehidupan orang-orang Samin.

    Kyai Samin Suråsêntikå merupakan generasi Samin Anom yang melanjutkan gerakan dari sang Ayah yang disebut sebagai Samin Sepuh. Sehingga masa kepemimpinannya, ajaran Saminisme terbagai dalam dua sekte, yaitu sekte Samin Sepuh dan sekte Samin Anom.

    Siklus kepemimpinan ini secara mati-matian berusaha menciptakan masyarakat yang bersahaja lahir dan batin. Kyai Samin Suråsêntikå memiliki sikap puritan, dia bukanlah petani biasa, namun dia adalah cucu dari seorang pangeran. Samin Suråsêntikå adalah orang yang gigih dalam menggoreskan kalam untuk membagun insan kamil dengan latar belakang ekonomi yang mapan.

    Tahun 1911 Surohidin, menantu Kyai Samin Suråsêntikå dan Éngkrak salah satu pengikutnya menyebarkan ajaran Samin di daerah Grobogan, sedangkan Karsiyah menyebarkan ajaran Samin ke Kajen, Pati.

    Tahun 1912, pengikut Samin mencoba menyebarkan ajarannya di daerah Jatirågå, Kabupaten Tuban, tetapi mengalami kegagalan.

    Tahun 1914, merupakan puncak Gègèr Samin. Hal ini disebabkan karena Pemerintah Kolonial Belanda menaikkan pajak, bahkan di daerah Purwodadi orang-orang Samin sudah tidak lagi menghormati pamong desa dan polisi, demikian juga di Distrik Balerejo, Madiun.

    Di Kajen Pati, Karsiyah tampil sebagai Pangéran Sêndang Janur, menghimbau kepada masyarakat untuk tidak membayar pajak. Di Desa Larangan, Pati orang-orang Samin juga menyerang aparat desa dan polisi.

    Di Desa Tapelan, Bojonegoro juga terjadi perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda, yaitu dengan tidak mau membayar pajak.

    Tahun 1930, perlawanan Samin terhadap pemerintah Kolonial terhenti, hal ini disebabkan karena tidak ada figur pimpinan yang tanggguh.

    Dalam naskah tulisan tangan yang diketemukan di Desa Tapelan yang berjudul Sêrat Punjêr Kawitan, disebut-sebut juga kaitan Samin Suråsêntikå dengan Adipati Sumåråtå

    Dari data yang ditemukan dalam berjudul Sêrat Punjêr Kawitan dapat disimpulkan bahwa Samin Suråsêntikå yang waktu kecilnya bernama Radèn Kohar, adalah seorang Pangeran atau Bangsawan yang menyamar dikalangan rakyat pedesaan. Dia ingin menghimpun kekuatan rakyat untuk melawan Pemerintah Kolonial Belanda dengan cara lain.

    Pandangan orang Samin terhadap pemimpinnya sampai saat ini masih mengakui bahwa Kyai Samin tidak pernah mati, Kyai Samin Suråsêntikå hanya mokhsa yang menjadi penghuni kaswargan.

    Tokoh ini dimitoskan secara fanantik, bahkan pada momentum perayaan upacara rasulan dan mauludan sebagai ajang untuk mengenang kepahlawanan Kyai Samin Suråsêntikå. Setiap pemuka masyarakat Samin selalu berpegangan sejenis primbon (kêpèk) yang mengatur kehidupan luas, kebijaksanaan, petunjuk dasar ketuhanan, tata pergaulan muda-mudi, remaja, dewasa dan antarwarga Samin.

    Bahasa yang digunakan oleh orang Samin yaitu bahasa Kawi yang ditambah dengan dialek setempat, yaitu bahasa Kawi desa kasar. Orang Samin memiliki kepribadian yang polos dan jujur hal ini dapat dilihat setiap ada tamu yang datang, orang Samin selalu menyuguhkan makanan yang dimiliki dan tidak pernah minyimpan makanan yang dimilikinya.

    Pengetahuan orang Samin terhadap ritual perkawinan adalah unik, mereka menganggap bahwa dengan melalui ritual perkawinan, mereka dapat belajar ilmu kasunyatan (kajian realistis) yang selalu menekankan pada dalih kemanusiaan, rasa sosial dan kekeluargaan dan tanggung jawab sosial.

    Orang Samin percaya dalam menuju kemajuan harus dilalui dengan marangkak lambat. Hal ini dapat dilihat dengan perilaku menolak mesin seperti traktor, huller dan lain-lain. Pakaian yang digunakan orang Samin adalah kain dengan dominasi warna hitam dengan bahan yang terbuat dari kain kasar.

    Suku Samin juga mengalami perkembangan dalam hal kepercayaan dan tata cara hidup. Kawasan daerah Pati dan Brebes, terdapat sempalan Samin yang disebut Samin Jåbå dan Samin Anyar yang telah meninggalkan tatacara hidup Samin dahulu. Selain itu, di Klopoduwur (Blora) Purwosari (Cepu), dan Mentora (Tuban) dikenal Wong Sikêp,

    Beberapa pikiran orang Samin diantaranya; menguasai adanya kekuasaan tertinggi (Sang Hyang Adi Budha), ramah dan belas kasih terhadap sesama mahluk, tidak terikat kepada barang-barang dunia -kegembiraan- dan kesejahteraan, serta memelihara keseimbangan batin di kalangan antar warga. Orang Samin dengan jelas mencita-citakan membangun negara asli pribumi, yang bebas dari campur tangan orang kulit putih, tiada dominasi barat satupun.

    Ajaran politik yang dikenakan pada suku Samin yaitu cinta dan setia kepada amanat leluhur, kearifan tua, cinta dan hormat akan pemerintahan yang dianggap sebagai orang tua dan sesepuh rohani, hormat dan setia pada dunia intelektual.

    Masyarakat Samin memiliki tiga unsur gerakan Saminisme:

    i. gerakan yang mirip organisasi proletariat kuno yang menentang sistem feodalisme dan kolonial dengan kekuatan agraris terselubung;

    ii. gerakan yang bersifat utopis tanpa perlawanan fisik yang mencolok; dan

    iii. gerakan yang berdiam diri dengan cara tidak membayar pajak, tidak menyumbangkan tenaganya untuk negeri, menjegal peraturan agraria dan pengejawantahan diri sendiri sebagai dewa suci.

    Gerakan Samin adalah sebuah epos perjuangan rakyat yang berbentuk “kraman brandalan” sebagai suatu babak sejarah nasional, yaitu sebagai gerakan ratu adil yang menentang kekuasaan kulit putih.

    Ajaran Samin diyakini bersumber dari Hindu Dharma. Beberapa sempalan ajaran Kyai Samin yang ditulis dalam bahasa Jawa baru yaitu dalam bentuk puisi tradisional (têmbang måcåpat) dan prosa (gancaran).

    Secara historis ajaran Samin ini berlatar dari lembah Bengawan Solo (Boyolali dan Surakarta). Ajaran Samin berhubungan dengan ajaran agama Syiwa-Budha sebagai sinkretisme antara Hindu dan Budha.

    Namun pada perjalanannya ajaran di atas dipengaruhi oleh ajaran keislaman yang berasal dari ajaran Syèh Siti Jênar yang dibawa oleh muridnya yaitu Ki Agêng Pêngging. Sehingga patut dicatat bahwa orang Samin merupakan bagian masyarakat yang berbudaya dan religius.

    Ajaran Kebatinan

    Menurut warga Samin di Desa Tapelan, Kyai Samin Suråsêntikå dapat menulis dan membaca aksara Jawa, hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa buku peninggalan Samin Suråsêntikå yang ditemukan di Desa Tapelan dan beberapa desa Samin lainnya.

    Khusus di Desa Tapelan buku-buku peninggalan Samin Suråsêntikå disebut Sêrat Jamus Kalimåsådå, Sêrat Jamus Kalimåsådå ini ada beberapa buku. Di antaranya adalah buku Sêrat Uri-uri Pambudi, yaitu buku tentang pemeliharaan tingkah laku manusia yang berbudi.

    Ajaran kebatinan Samin Suråsêntikå adalah perihal “manunggaling kawulå Gusti atau sangkan paraning dumadi“. Menurut Samin Suråsêntikå, perihal manunggaling kawulo Gusti itu dapat diibaratkan sebagai “warångkå umanjing curigå“ (tempat keris yang meresap masuk ke dalam kerisnya).

    Dalam buku Sêrat Uri-uri Pambudi diterangkan sebagai berikut:

    Tempat keris yang meresap masuk dalam kerisnya mengibaratkan ilmu ketuhanan. Hal ini menunjukkan pamor (pencampuran) antara mahkluk dan Khaliknya yang benar-benar sejati.

    Bila mahkluk musnah, yang ada hanyalah Tuhan (Khalik). Senjata tajam merupakan ibarat campuran yang menunjukkan bahwa seperti itulah yang disebut campuran mahkluk dan Khaliknya.

    Sebenarnya yang dinamakan hidup hanyalah terhalang oleh adanya badan atau tubuh kita sendiri yang terdiri dari darah, daging dan tulang.

    Hidup kita ini, yang menghidupinya adalah yang sama-sama menjadi pancêr (pokok) kita. Hidup yang sejati itu adalah hidup yang menghidupi segala hal yang ada di semesta alam.”

    Di tempat lain Samin Suråsêntikå menjelaskan lagi sebagai berikut:

    Yang dinamakan sifat Wiséså (penguasa utama/luhur) yang bertindak sebagai wakil Allah, yaitu ingsun (aku, saya), yang membikin rumah besar, yang merupakan dinding (tirai) yaitu badan atau tubuh kita (yaitu yang merupakan realisasi kehadirannya ingsun).

    Yang bersujud adalah mahkluk, sedang yang disujudi adalah Khalik, (Allah, Tuhan). Hal ini sebenarnya hanya terdindingi oleh sifat. Maksudnya, hudip mandiri itu sebenarnya telah berkumpul menjadi satu antara mahkluk dan Khaliknya.”

    Selanjutnya menurut Samin Suråsêntikå, yang bertindak mencari sandang pangan kita sehari-hari adalah “sadèrèk gangsal kalimå pancêr” adapun jiwa kita diibaratkan oleh Samin sebagai mandor. Seorang mandor harus mengawasi kuli-kulinya. Atau lebih jelasnya dikatakan sebagai berikut:

    Gajah Sénå saudara Wrêkodårå yang berwujud gajah. Jelasnya saudara yang berjumlah lima itu mengibaratkan ilmu ketuhanan. Hal ini perlu dicapai (yaitu tiga saudara, empat dan lima pokoknya).

    Adapun yang bekerja mencari sandang pangan setiap hari itu adalah saudara kita berlima itu. Adapun jiwa (sukma) kita bertindak sebagai mandor. Itulah sebabnya mandor harus berpegang teguh pada kekuasaan yang berada di tangannya untuk mengatur anak buahnya, agar semuanya selamat.

    Sebaliknya apabila anak buahnya tadi betindak salah dan tindakan tersebut dibiarkan saja, maka lama kelamaan mereka kian berbuat seenaknya. Hal ini akan mengakibatkan penderitaan.”

    Pengandaian jiwa sebagai mandor dan sadèrèk gangsal kalimå pancêr sebagai kuli-kuli tersebut diatas adalah sangat menarik. Kata-kata ini erat hubungannya dengan kerja paksa/kerja rodi di hutan-hutan jati di daerah Blora dan sekitarnya.

    Pekerja rodi terdiri dari mandor dan kuli. Mandor berfungsi sebagai pengawas, sedangkan kuli berfungsi sebagai pekerja. Pemakaian kata yang sederhana tersebut oleh Samin Suråsêntikå dikandung maksud agar ajarannya dapat dimengerti oleh murid-muridnya yang umumnya adalah orang desa yang terkena kerja paksa.

    Menurut Samin Suråsêntikå, tugas manusia di dunia adalah sebagai utusan Tuhan. Jadi apa yang dialami oleh manusia di dunia adalah kehendak Tuhan. Oleh karena itu sedih dan gembira, sehat dan sakit, bahagia dan sedih, harus diterima sebagai hal yang wajar. Hal tersebut bisa dilihat pada ajarannya yang berbunyi:

    ..Menurut perjanjian, manusia adalah pesuruh Tuhan di dunia untuk menambah kendahan jagad raya. Dalam hubungan ini masyarakat harus menyadari bahwa mereka hanyalah sekedar melaksanakan perintah.

    Oleh karena itu apabila manusia mengalami kebahagiaan dan kecelakaan, sedih dan gembira, sehat dan sakit, semuanya harus diterima tanpa keluhan, sebab manusia terikat dengan perjanjiannya. Yang terpenting adalah manusia hidup di dunia ini harus mematuhi hukum Tuhan, yaitu memahami pada asal-usulnya masing-masing….

    Samin Suråsêntikå juga mengajarkan pengikutnya untuk berbuat kebajikan, kejujuran dan kesabaran. Murid-muridnya dilarang mempunyai rasa dendam. Adapun ajaran selengkapnya sebagai berikut:

    …Arah tujuannya agar dapat berbuat baik dengan niat yang sungguh-sungguh, sehingga tidak ragu-ragu lagi. Tekad jangan sampai goyah oleh sembarang godaan, serta harus menjalankan kesabaran lahir dan batin, sehingga bagaikan mati dalam hidup.

    Segala tindak-tanduk yang terlahir haruslah dapat menerima segala cobaan yang datang padanya, walaupun terserang sakit, hidupnya mengalami kesulitan, tidak disenangi orang, dijelek-jelekkan orang, semuanya harus diterima tanpa gerutuan, apalagi sampai membalas berbuat jahat, melainkan orang harus selalu ingat pada Tuhan…,

    Ajaran di atas dalam tradisi lisan di desa Tapelan dikenal sebagai:

    anggêr-anggêr pratikêl” (hukum tindak tanduk),
    anggêr-anggêr pângucap“ (hukum berbicara), serta
    anggêr-anggêr lakonånå” (hukum perihal apa saja yang perlu dijalankan).

    Hukum yang pertama berbunyi:

    Åjå tukar padu, åjå drêngki, åjå srèi, åjå dahwèn panastèn, åjå kêmêrén, åjå opèn, åjå methil jumput, åjå bêdog colong, nemu .
    Uraiannya:

    i. tukar padu, drêngki srèi: suka bertengkar mulut; suka membuat fitnah, sikap tidak suka terhadap kebahagiaan orang lain; serakah, sikap ingin selalu menang dan merasa unggul dari pihak lain;

    ii. dahwèn, panastèn : menghina, sikap selalu mencela orang lain; mudah panas hati, mudah tersinggung, sikap yang tidak senang melihat keberuntungan orang lain;

    iii. opèn, kêmêrén : sikap yang terlalu suka mencampuri urusan orang lain, sesuatu yang bukan haknya dan iri hati;

    iv. bêdog lan colong, pêthil (methil) jumput : mencuri, merampok, mengambil sesuatu yang bukan haknya, mengurangi sukatan dan sejenisnya;

    v. nêmu: menemukan sesuatu barang (misalnya di jalanan umum) yang bukan miliknya dengan maksud untuk dimiliki.

    Nemu berarti juga mengambil barang orang lain yang terjatuh karena itu bukan miliknya, dan justru berkewajiban mengembalikan kepada pemiliknya, ataupun memberi tahu di mana keberadaan barang tersebut apabila telah di ketahui orang yang kehilangan barang tersebut.

    Implementasi dari ajaran itu nampak pada paristiwa salah seorang kalangan Samin yang menemukan sebuah kalung emas, namun dia tidak mengambilnya, dan kalung itu ditutupi dengan batu agar tak ada orang lain yang bukan pemiliknya mengambil kalung tersebut, kemudian dia mencari siapa pemilik kalung tersebut dan memberi tahu di mana keberadaan kalung tersebut.

    Dari sinilah tercermin nilai sosial yang tinggi serta kejujuran yang amat besar.

    Pengamalan dari prinsip- prinsip tersebut membuat suasan masyarakat Samin aman tenteram dan damai. Mereka tak pernah khawatir dengan harta benda mereka yang di tinggalkan begitu saja di rumah dengan keadaan pintu yang tidak terkunci, dan barang-barang dari tamu mareka yang tertinggal di tempatnya tidak akan hilang karena mereka akan menyimpan barang tersebut dan mengembalikannya ketika tamu tersebut datang kembali.

    Hukum kedua berbunyi:

    Pângucap såkå limå bundhêlané ånå pitu lan pângucap såkå sångå budhêlané ånå pitu.

    Maksud hukum ini, orang berbicara harus meletakkan pembicaraannya diantara angka lima, tujuh dan sembilan.

    Angka-angka tersebut hanyalah simbolik belaka. Jelasnya, kita harus memelihara mulut kita dari segala kata-kata yang tidak senonoh atau kata-kata yang menyakitkan orang lain. Kata-kata yang tidak senonoh dan dapat menyakitkan orang lain dapat mengakibatkan hidup manusia ini tidak sempurna.

    Adapun hukum yang ketiga berbunyi:

    Lakonånå sabar trokal. Sabaré diéling-éling. Trokalé dilakoni.”

    Manusia senantiasa diharap ingat pada kesabaran dan berbuat bagaikan orang mati dalam hidup.

    Menurut Samin Suråsêntikå, semua ajaran diatas dapat berjalan denganbaik asalkan orang yang menerima mau melatih diri dalam hal samadi. Ajaran ini tertuang dalam Serat Uri-uri Pambudi yang berbunyi sebagai berikut:

    …Adapun batinnya agar dapat mengetahui benar-benar akan perihal peristiwa kematiannya, yaitu dengan cara samadi, berlatih “mati” senyampang masih hidup (mencicipi mati) sehingga dapat menanggulangi segala godaan yang menghalang-halangi perjalanannya bersatu dengan Tuhan, agar upaya kukuh, dapat terwujud, dan terhindar dari bencana… .”

    Selanjutnya menurut Samin Suråsêntikå, setelah manusia meninggal diharapkan roh manusia yang meninggal tadi tidak menitis ke dunia, baik sebagai binatang (bagi manusia yang banyak dosa) atau sebagai manusia (bagi manusia yang tidak banyak dosa), tapi bersatu kembali dengan Tuhannya.

    Hal ini diterangkan Samin Suråsêntikå dengan contoh-contoh yang sulit dimengerti orang apabila yang bersangkutan tak banyak membaca buku-buku kebatinan.

    Demikian kata Samin Suråsêntikå:

    …Teka-teki ini menunjukkan bahwa jarak dari betal makmur ke betal mukaram sejengkal, dan dari betal mukaram ke betal mukadas juga sejengkal. Jadi triloka itu jaraknya berjumlah tiga jengkal.

    Kelak apabila manusia meninggal dunia supaya diusahakan tidak terkuasai oleh triloka. Hal ini seperti ajaran Pendeta Jamadagni. Tekad pendeta Jamadagni yang ingin meninggalkan dunia tanpa terikat oleh triloka itu diceritakan oleh Sêrat Råmå.

    Pada awalnya ingin menitis pada bayi yang lahir (lahir kembali kedunia). Oleh karena itulah pada waktu meninggal dunia dia berusaha tidak salah jalan, yaitu kembali ke rahim wanita lagi. (jangan sampai menitis kembali pada bayi, lahir kembali ke dunia).”

    Dari keterangan diatas dapatlah diketahiu bahwa Samin Suråsêntikå tidak menganut faham ‘pênitisan’ tapi menganut faham ‘manunggaling kawulå Gusti’ atau ‘sangkan paraning dumadi’.

    Dari ajaran-ajaran tertulis di atas jelas kiranya bahwa Samin Suråsêntikå adalah seorang “theis”. Keparcayaan pada Tuhan, yang disebutnya dengan istilah-istilah Gusti, Pangeran, Allah, Gusti Allah, sangatlah kuat, hal ini bisa dilihat pada ajarannya:

    Adapun Tuhan itu ada, jelasnya ada empat. Batas dunia disebelah utara, selatan, timur, dan barat. Keempatnya menjadi bukti bahwa Tuhan itu ada (adanya semesta alam dan isinya itu juga merupakan bukti bahwa Tuhan itu ada….

    Demikianlah cuplikan ajaran Samin Suråsêntikå yang berasal dari Sêrat Uri-uri Pambudi. Selanjutnya akan dijelaskan ajaran Samin Suråsêntikå yang terdapat dalam buku Sêrat Pikukuh Kasajatèn. Buku ini maknanya pengukuhan kehidupan yang sejati.

    Ajaran dalam buku Sêrat Pikukuh Kasajatèn ditulis dalam bentuk puisi tembang, yaitu suatu genre puisi tradisional kesusasteraan Jawa. Disini yang akan dikutip adalah sebuah tembang Pangkur yang mengandung ajaran perihal perkawinan. Adapun tembang Pangkur yang dimaksud seperti di bawah ini :

    Såhå malih dadyå garan,
    anggêgulang gêlunganing pêmbudi,
    pålåkråmå nguwoh mangun,
    mêmangun traping widyå,
    kasampar kasandhung dugi prayogantuk,
    ambudyå atmåjå tåmå,
    mugi-mugu dadi kanthi
    .”

    Menurut Samin, perkawinan itu sangat penting. Dalam ajarannya perkawinan itu merupakan alat untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk menciptakan “atmåjå tåmå” (anak yang mulia).

    Dalam ajaran Samin, dalam perkawinan seorang temanten laki-laki diharuskan mengucapkan syahadat, yang berbunyi kurang lebih demikian:

    Sejak Nabi Adam pekerjaan saya memang kawin. (Kali ini) mengawini seorang perempuan bernama…… Saya berjanji setia kepadanya. Hidup bersama telah kami jalani berdua.”

    Demikian beberapa ajaran kepercayaan yang diajarkan Samin Suråsêntikå pada pengikutnya yang sampai sekarang masih dipatuhi warga Samin.

    Ajaran Politik

    Dalam ajaran politiknya Samin Suråsêntikå mengajak pengikut-pengikutnya untuk melawan Pemerintahan Kolonial Belanda. Hal ini terwujud dalam sikap:


    1. penolakan membayar pajak;
    2. penolakan memperbaiki jalan;
    3. penolakan jaga malam (ronda);
    4. penolakan kerja paksa/rodi.

    Samin Suråsêntikå juga memberikan ajaran mengenai kenegaraan yang tertuang dalam Sêrat Pikukuh Kasajatèn, yaitu sebuah Negara akan terkenal dan disegani orang serta dapat digunakan sebagai tempat berlindung rakyatnya apabila para warganya selalu memperhatikan ilmu pengetahuan dan hidup dalam perdamaian.

    Dalam salah satu ceramahnya yang dilakukan tanah lapang Desa Bapangan Blora, pada malam Kamis legi, 7 Pebruari 1889 yang menyatakan bahwa tanah Jawa adalah milik keturunan Pandåwå. Keturunan Pandåwå adalah keluarga Majapahit. Sejarah ini termuat dalam Sêrat Punjêr Kawitan.

    Atas dasar Sêrat Punjêr Kawitan itulah, Samin Suråsêntikå mengajak pengikut-pengikutnya untuk melawan Pemerintah Belanda. Tanah Jawa bukan milik Belanda. Tanah Jawa adalah tanah milik “wong Jåwå“.

    Oleh karena itulah maka tarikan pajak tidak dibayarkan. Pohon-pohon jati di hutan ditebangi, sebab pohon jati dianggap warisan dari leluhur Pandåwå. Tentu saja ajaran itu menggegerkan Pemerintahan Belanda, sehingga Pemerintah Belanda melakukan penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin ajaran Samin.

    Gègèr Samin atau Pergerakan Samin yang dipimpin oleh Samin Suråsêntikå sebenarnya bukan saja desebabkan oleh faktor ekonomis saja, akan tetapi juga disebabkan oleh faktor-faktor lain. Yang jelas pemberontakan melawan Pemerintahan Kolonial Belanda didasarkan pada kebudayaan Jawa yang religius.

    Dengan demikian ajaran Samin Suråsêntikå bukanlah ajaran yang pesimitis, melainkan ajaran yang penuh kreatifitas dan keberanian.

    Samin Suråsêntikå yang hidup dari tahun 1859 sampai tahun 1914 ternyata telah memberi warna sejarah perjuangan bangsa, walaupun orang-orang di daerahnya, Blora yang bukan warga Samin mencemoohkannya, tapi sejarah telah mencatatnya, dia telah mampu menghimpun kekuatan yang luar biasa besarnya.

    Ajaran-ajarannya tidak hanya tersebar didaerah Blora saja, tetapi tersebar di beberapa daerah lainnya, seperti: Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Madiun, Jember, Banyuwangi, Purwodadi, Pati, Rembang, Kudus, Brebes, dan lain-lain.

    Perlawanan tanpa kekerasan

    Ajaran Samin pada awalnya merupakan bentuk perlawanan penjajahan Belanda. Wong Samin melakukan perlawanan tanpa kekerasan, namun dengan menyendiri dan membentuk komunitas sendiri. Sêdulur Sikêp bukan hanya menyendiri namun mereka membuat peraturan sendiri.

    Komunitas Sêdulur Sikêp ini juga tidak mau membayar upeti/pajak kepada pemerintah kolonial Belanda. Menurut pengertian mereka, upeti itu bukan untuk kepentingan mereka maupun masyarakat pribumi namun hanya untuk kepentingan pemerintah Belanda.

    Selain ketiga adêg-adêg (hukum) tersebut di ats, dalam segi kehidupan Sêdulur Sikêp mempunyai adêg-adêg “ajaran tidak” yang dianut, sebagai perlawanan yang dimunculkan dalam masyarakat dalam bentuknya yang khas dan menjadi ciri khas tersendiri dari Sêdulur Sikêp, yaitu:

    1. tidak bersekolah,
    2. tidak memakai peci, tetapi memakai ikat kepala
    ikêt (mirip orang Jawa zaman dahulu),
    3. tak memakai celana panjang, biasanya mereka memakai baju lengan panjang tanpa krah dan celana hitam sebatas lutut atau biasa disebut celana komprang.
    4. tidak berpoligami,
    5. tidak berdagang, dan menolak kapitalisme.

    Seseorang dikatakan telah keluar dari komunitas ( sedulur ) Sikep apabila ia melanggar aturan kaum Sikep seperti memutuskan untuk bersekolah, berdagang, melepas ikat kepala, memakai celana panjang serta melanggar kelima prinsip (adêg-adêg) tersebut.

    Kepolosan mereka justru membingungkan orang. Menurutnya, orang Samin dikatakan membingungkan hanya dari masalah bahasa saja. Bahasa yang mereka pakai itu bahasa naluri, jadi kita harus pintar-pintar mengolah bahasa.

    Sekedar contoh, jika kita bertanya berapa anak mereka, maka akan dijawab dua, laki-laki dan perempuan, namun jika kita bertanya berapa jumlah anaknya, maka jawabanya bisa tiga, empat, atau lima bahkan akan disertai penjelasan berapa yang laki-laki dan berapa yang perempuan.

    Bahasa yang digunakan Sêdulur Sikêp seperti sabdå. Artinya, bahasa mereka merupakan bahasa yang sekali mengucap, tidak ada kata-kata yang ditarik kembali dan tidak akan diingkari.

    Pada perkembangannya, tidak urung pengaruh kemajuan zaman juga mempengaruhi mereka. Misalnya pemakaian traktor dan pupuk kimiawi dalam pertanian, alat-alat rumah tangga dari plastik, aluminium bahkan alat-alat elektronik telah menyentuh kehidupan mereka.

    Bahkan kesan sebagai komunitas yang terisolasi dari dunia luar pun telah sirna.
    Setelah listrik masuk ke desa ini pada tahun 1987 maka perkembangan kehidupan masyarakat memang semakin cepat. Apalagi jalur transportasi Blora – Randublatung melintasi desa ini. Selain itu peran dari pemerintah daerah untuk ikut melestarikan sangat kurang.

    Perkembangan zaman, teknologi dan tidak adanya tangan panjang yang nguri-nguri, akhirnya pupus sudah. Perhatian dari pemerintah memang kurang, bahkan untuk penelitian pun sempat ditutup.

    Sêdulur Sikêp yang masih terbilang memegang adat dengan kuat telah habis akhir tahun lalu. Namanya Mbah Kromo. Sedangkan masyarakat di Klopoduwur sekarang ini telah terakulturasi menjadi masyarakat seperti pada umumnya. Bahkan ada beberapa yang berbesan dengan orang di luar daerah, dan ini dinilai mereka merasa kehilangan salah satu budaya/tradisi.

    Kita berharap hendaknya yang tidak terpupus zaman adalah nilai-nilai positif yang telah ada pada masyarakat Samin. Misalnya kejujuran dan kearifannya dalam memakai alam, semangat gotong royong dan saling menolong yang masih tinggi.

    Dan ini seharusnya tidak hanya bagi Wong Samin saja, tapi juga Wong Indonesia dan Wong sebagai kalifah umat Tuhan, pada umumnya.

    Meskipun modernisasi telah merambah wilayah Samin, namun sampai sekarang, sebenarnya nilai-nilai kegotong-royongan dan kejujuran tanpa disadari masih kental terasa. Misal sewaktu ada tetangga yang punya hajat, maka tanpa disuruh pun para Tetangga akan secara suka rela dan beramai-rami membantu hingga selesai.

    Bahkan untuk mengerjakan sawah banyak yang masih dilakukan dengan sistem sambatan (bergotong royong). Rasa kekeluargaan dan kerukunan terhadap sesama masih kental pada diri mereka.

    Contoh kongkrit yang terjadi saat ini yaitu ketika pengeboran minyak di daerah Cepu mengalami kebakaran. Perusahaan tersebut memberi dana kompensasi pada daerah sekitar yang terkena dampak kebakaran tersebut. Yang terjadi, bahwa semua orang Samin yang tinggal didaerah tersebut tidak mau menerima dana yang diberikan. Mereka hanya berkata:

    Åpå tégå, sêduluré kênå cilåkå malah awaké déwé nrimå bêbubgah, kuduné awaké déwé malah mbantu sêdulur sing lagi kasusahan.”

    Selain kejujuran dan kegotong-royongan, Sêdulur Sikêp juga terkenal dengan kesederhanaan dan etos kerjanya yang tinggi.

    Pemukiman masyarakat Samin biasanya mengelompok dalam satu deretan rumah-rumah agar memudahkan untuk berkomunikasi.

    Rumah Sêdulur Samin biasanya adalah rumah yang sangat sederhana. Terbuat dari kayu, bertiangkan bambu, umumnya berdindingkan gedek (anyaman bambu) atau dari kulit pohon dengan atap dari daun jati. Jarang ditemui rumah berdinding batu-bata.

    Bangunan rumah relatif luas dengan bentuk limasan, bêkok lulang (limasan kampung), atau joglo. Penataan ruangnya sangat sederhana dan masih tradisional terdiri ruang tamu yang cukup luas, kamar tidur dan dapur.

    Ruang tamu biasanya juga digunakan sebagai ruang makan, ruang keluarga. Kamar mandi dan sumur terletak agak jauh dan biasanya digunakan beberapa keluarga. Kandang ternak berada di luar di samping rumah.

    Di Desa Klopoduwur, petilasan komunitas Sêdulur Sikêp lebih dikenal dengan sebutan Karang Pace. Ditempat tersebut dulunya ditinggali kurang lebih tigapuluhan Kepala Keluarga (KK) Sêdulur Sikêp.

    Etos kerja Sêdulur Sikêp juga terkenal sangat tinggi. Biasanya mereka akan berangkat ke ladang, sawah maupun hutan pada pagi buta dan baru kembali saat senja menjelang. Di siang hari, suasana senyap akan meliputi pemukiman mereka karena masing-masing masih sibuk bekerja.

    Bagi mereka siang merupakan waktu untuk berkarya sebaik-baiknya.
    Pandangan masyarakat Samin terhadap lingkungan juga sangat positif. Biasanya mereka memanfaatkan alam (misalnya mengambil kayu) secukupnya saja dan tidak pernah mengeksploitasi secara berlebihan, bahkan sering melakukan ritual-ritual khusus untuk kelestarian alam.

    Hal ini selaras dengan pola pikiran mereka yang cukup sederhana, tidak berlebihan dan apa adanya. Tanah bagi mereka ibarat ibu sendiri, artinya tanah memberi penghidupan kepada mereka.

    Bertahan ditengah modernisasi demi sebuah tradisi tidaklah mudah. Samin salah satu suku yang mampu beertahan dalam melaksanakan ajaran leluhurnya. Meski sebagian masyarakat memandang Samin sebelah mata (dianggap konyol).

    Namun, kejujuran dan kerukunan terhadap sesama saudaranya, belum tentu bisa ditemui oleh orang-orang yang sudah terkontaminasi sebuah kata modernisasi.

    Sumber penulisan: Titi Mumfangati, Dra. dkk, Kearifan Lokal di Lingkungan Masyarakat Samin kabupaten Blora Jawa Tengah Penerbit: Jarahnitra, Yogyakarta 2004.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  18. matur suwun

    Ki Bayu ngendika: (eh… katir itu apa sh)

    he he he ……..

    sugeng enjang

    • sh…..sh sh sh sh (sambil telunjuk tangan kanan ditempelkan di depan mulut)……..sh sh sh… hiks……hiks…..

      Sugêng énjang ugi

      • cantrik HADIR pak Satpam, katir di sangka mBOLOS….hikss,

        • Saya juga hadir pak Satpam,
          KATIR disangka SAMIN eh….
          MBOLOS…………..

          Sugeng dalu,
          matur nuwun Ki Bayu.

  19. Hua ….. 😥
    Hua ….. 😥
    Hua ….. 😥

    HADU…..
    BODOH……
    BODOH…..
    BODOH…..

    HUA ….. 😥
    HUA ….. 😥
    HUA ….. 😥

    satpam telah merusakkan kunci padepokan
    sehingga tidak bisa masuk padepokan lagi

    Hua ….. 😥
    Hua ….. 😥
    Hua ….. 😥

    sejak sore belum berhasil buat kunci duplikat

    Hua ….. 😥
    Hua ….. 😥
    Hua ….. 😥

    • pake kunci-ne cantrik gelem ta…..kunci inggris, hikss

      • he-heee, pak Satpam lagi KASMARAN ayake…..gampang LALI

  20. Nginjen gandhok , jebul ono dongengan anyar , matur nuwun ki Bayu saged kangge nambahi wawasan supados mboten sinau bab etika dhateng negari Yunani sebab wonten negari piyambak bab etika kathah mbten kawon kaliyan etika saking monco negari . Lan mesthenipun langkung pas lan prayogi kangge kulopun Haryo pribadhi .

    Nuwun

  21. Huahahahaha…….cihuahaha……ha…ha…ha…ha……

    (nyilih b>konci serepe Ki Menggung)

    • HADIR MALAM TANPA KUNCI SERET, eeh KLERU DING

  22. Yes…..!!!
    Yes…..!!!
    Yes…..!!!

    lega………………
    sudah bisa masuk padepokan lagi

    • HADIR

      • Hadir…….

        yes…yes….yes…..

        (arep nambahi walikane ora wani…..)

  23. hahahaha,tumben ada yang membeberkan secara detail

    • egk mungkin gajah mada orang bali,..karena saya orang bali,..semua rakyat bali tau saat kebo iwa patih kerajaan bali di olok2 oleh gajah mada demi menyatukan nusantara,sebab jika kebo iwa masih bernapas kerajaan bali tidak mungkin di takklukan oleh majapahit,..tapi sebenarya saya orang majapahit karena keturunan saya wangsa pasek,..karena kalau orang bali asli walapun sama2 hindu paling beda releginya,….kesimpulannya bahwa jagah mada itu bukan orang bali,…..

    • silahkan kunjungi https://pelangisingosari.wordpress.com/dongeng-arkeologi-antropologi/ banyak dongeng disana


Tinggalkan Balasan ke ki GunDUL Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: