JJYT-02

kembali ke jilid 1|lanjut ke jilid 3

Laman: 1 2

Telah Terbit on 22 Februari 2018 at 01:17  Comments (12)  

12 KomentarTinggalkan komentar

  1. JJYT 02 Halaman 1-3

    TIDAK ada pilihan lain bagi Prabasemi selain meloncat mundur sambil mencabut senjatanya yang selama ini terselip di belakang punggungnya, sebilah keris luk sembilan.

    Alangkah terkejutnya orang-orang yang sedang mengeroyok Prabasemi itu begitu menyadari di tangan kanan lawan mereka telah tergenggam sebilah keris luk sembilan dengan dapur Panji Sekar. Keris itu tampak bersinar redup di tangan Prabasemi.

    Tanpa sadar kelima orang itu telah menghentikan langkah mereka. Dengan jantung yang berdebaran mereka mencoba sekali lagi mengenali dapur keris itu yang bagi mereka sudah tidak asing lagi.

    “Keris Kiai Panji Sekar,” desis orang yang dipanggil Lurahe itu tanpa sadar sambil menahan nafasnya.

    Sedangkan kawan-kawannya yang juga dapat mengenali keris di tangan Prabasemi itu tak kalah terkejutnya. Mereka seolah telah membeku di tempat masing-masing.

    “Kalian mengenal keris ini?” bertanya Prabasemi kemudian sambil mengangkat keris di tangan kanannya tinggi-tinggi.

    Sejenak kelima orang itu saling berpandangan. Orang yang dipanggil Lurahe itulah yang akhirnya menjawab, “Kami mengenal pusaka itu sebagaimana kami mengenal pemiliknya, Resi Panji Sekar.”

    Prabsemi tersenyum sambil menarik nafas dalam-dalam. Dengan perlahan disarungkan kembali keris Kiai Panji Sekar itu ke dalam wrangkanya. Katanya kemudian, “Nah, jika kalian telah mengenal keris ini dan juga pemiliknya, tentu kalian akan mengurungkan niat kalian untuk merampokku.”

    “Ki Sanak benar,” sahut Lurahe cepat sambil memberi isyarat ke arah kawan-kawannya untuk menyarungkan senjata mereka. Lanjutnya kemudian, “Resi panji Sekar bagi kami adalah pelindung padukuhan Cangkring walaupun beliau sangat tidak setuju dengan cara hidup yang kami tempuh. Namun Resi Panji Sekar selalu memberikan perlindungan jika terjadi sesuatu dengan padukuhan kami.”

    “Di manakah Resi Panji Sekar sekarang ini berada?” bertanya Prabasemi memotong pembicaraan Lurahe.

    Sejenak orang-orang yang berada di padang Kerep itu menjadi heran. Seingat mereka Resi Panji Sekar tidak pernah berpisah dengan pusakanya itu. Namun kini di hadapan mereka sedang berdiri seseorang yang membawa pusakanya dan justru menanyakan keberadaan Resi Panji Sekar.

    “Apakah ada yang aneh dengan pertanyaanku, Ki Sanak?” bertanya Prabasemi kemudian begitu melihat kelima orang itu hanya diam termangu-mangu.

    Lurahe yang merasa bertanggung jawab atas kelompoknya itu segera bergeser selangkah maju sambil menjawab, “Ki Sanak, sebelumnya kami minta maaf atas perlakuan kami kepada ki Sanak. Walaupun kami belum jelas duduk permasalahannya, namun kami yakin Ki Sanak mempunyai hubungan dengan Resi Panji Sekar,” Lurahe berhenti sejenak untuk membasahi kerongkonagnnya yang menjadi kering. Lanjutnya kemudian, “Sejauh pengetahuan kami, Resi Panji Sekar tidak pernah berpisah dengan keris pusakanya itu. Itulah sebabnya orang-orang memanggilnya dengan nama Resi Panji Sekar sehubungan dengan keris pusaka Kiai Panji Sekar yang dimilikinya.”

    Prabasemi termenung. Kenangannya segera melayang saat dia baru saja sinengkakake ing ngaluhur, diangkat menjadi seorang Tumenggung di Kasultanan Demak. Suatu hari kakak seperguruannya Sembada jagal Kedung Wuni telah mengunjunginya bersama salah seorang cantrik perguruannya.

    “Adi Tumenggung,” demikian kakak seperguruannya itu kemudian berkata setelah sebelumnya saling menanyakan keselamatan masing-masing, “Aku baru saja menerima berita dari perguruan kita bahwa Guru sedang menderita sakit keras. Guru mengharapkan kedatangan kita berdua.”

    Sejenak Tumenggung Prabasemi termenung. Memang sudah cukup lama dia tidak mengunjungi padepokannya. Dulu semasa dia masih berpangkat Prajurit Wira Tamtama, masih banyak waktu luang bagi dirinya untuk mengunjungi padepokannya itu. Namun setelah dia diangkat menjadi Lurah Prajurit dan sekarang telah menjadi seorang Tumenggung, dirinya belum sempat meluangkan waktunya untuk menengok keberadaan perguruannya itu.

    “Siapakah yang membawa berita itu , Kakang?” bertanya Tumenggung Prabasemi kemudian setelah sejenak mereka terdiam.

    “Aku Kakang Tumenggung,” jawab Cantrik yang duduk di sebelah Sembada dengan serta-merta, “Keadaan Guru benar-benar mengkhawatirkan. Beliau berpesan agar Kakang berdua segera hadir di padepokan.”

    Kembali Tumenggung Prabasemi termenung. Ketika tanpa sadar pandangan matanya menatap wajah kakak seperguruannya itu, tampak kecemasan yang sangat membayang di wajah Sembada jagal Kedungwuni itu.

    • Matur nuwun…….

  2. Alhamdulillah….
    JJYT 02 sudah mulai bisa mengalir lagi.
    Semoga wedarannya lancar.

    Monggo….

  3. Lanjuuut..mas.Satpam

  4. mantab…..

  5. Semoga Prabasemi tidak terlalu lama termenungnya…..dan tidak mengganggu wedaran selanjutnya…..hiks!!

  6. prabasemi masih dorman…..

    • Geng ndalu……ronda…ronda… Tidur terus….terus tidur lagi. .nuwun sewu.

  7. Lanjut….

  8. Lanjutannya mana Ki Man….???

    • Lanjutannya ada di Taman……………….
      Ijin Copas ya Mbah Man ………….
      Selasa, 25 September 2018
      Jejak-Jejak Yang Terlupakan 02_02

      “Ki Sanak,” tiba-tiba terdengar suara Lurahe padang Kerep itu membuyarkan lamunannya, “Apakah memang benar Ki Sanak mempunyai hubungan khusus dengan Resi Panji Sekar?”
      Kembali Prabasemi termenung. Dia benar-benar dibuat kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Lurahe padang Kerep itu. Keris pusaka Kyai Panji Sekar itu memang diterima langsung dari gurunya sebelum meninggal dunia. Pesan gurunya pun saat itu sangat singkat dan jelas.
      “Prabasemi,” demikian pesan gurunya ketika mereka berdua sendirian saja di senthong tengah, “Rasa-rasanya perjalananku sudah sampai ke batas. Hanya engkau muridku yang dapat aku percaya untuk menerima titipan ini sekaligus tugas yang selama ini aku bebankan di pundakku sendiri.”
      Tumenggung Prabasemi mengerutkan keningnya. Tanpa terasa jantungnya berpacu semakin cepat. Dia seolah-olah merasakan bahwa saat-saat kepergian gurunya telah dekat.
      “Pergilah ke padukuhan Cangkring dan bawalah keris pusaka ini,” berkata gurunya kemudian sambil mengambil sebilah keris yang tersimpan dalam sebuah wrangka berpendok emas dan bertretes berlian dari balik bajunya, “Katakan bahwa engkau ingin berjumpa dengan seseorang yang bernama Resi Panji Sekar dan serahkan keris ini kepadanya.”
      “Ki Sanak,” kali ini terdengar suara Lurahe padang Kerep agak keras, “Apakah Ki Sanak mendengarkan pertanyaanku?”
      Prabasemi tergagap. Sejenak diedarkan pandangan matanya ke seluruh wajah-wajah yang menatapnya dengan seribu satu pertanyaan. Maka bertanya Prabasemi kemudian, “Apakah selama ini Resi Panji Sekar telah menjadi pelindung kalian?”
      “Ya,” hampir bersamaan setiap mulut telah menjawab. Lurahe padang Kerep lah yang kemudian meneruskan, “Seperti yang telah aku utarakan sebelumnya. Sebenarnya Resi Panji Sekar tidak setuju dengan cara hidup kami. Kami telah dibekali dengan berbagai ketrampilan untuk bercocok tanam dan beternak selain tentu saja ilmu olah kanuragan serba sedikit,” Lurahe berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Namun karena desakan kebutuhan hidup yang tak tertahankan, sesekali kami masih melakukan pekerjaan lama kami sekedar untuk menyambung hidup.”
      Prabasemi tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam benaknya telah muncul berbagai dugaan tentang orang yang menyebut dirinya Resi Panji Sekar itu.
      “Aku mempunyai dugaan bahwa Resi Panji Sekar itu adalah guru sendiri, menilik kebiasan guru yang sering bepergian meninggalkan padepokan untuk beberapa saat lamanya,” berkata Prabasemi dalam hati setelah menimbang-nimbang beberapa saat, “Aku yakin guru mempunyai tujuan tertentu di padukuhan Cangkring ini, dan agaknya guru telah memilih aku untuk meneruskan perjuangannya di padukuhan ini.”
      “Ketahuilah kalian semua,” berkata Prabasemi pada akhirnya, “Keris pusaka Kiai Panji Sekar ini aku terima langsung dari guruku, dan aku telah menerima wasiat sebelum beliau meninggal dunia untuk menemui seseorang yang disebut Resi Panji Sekar di padukuhan Cangkring.”
      Berdesir tajam dada setiap orang yang ada di padang Kerep itu. Bahkan orang yang terkena pukulan Prabasemi itu pun dengan jantung yang berdebaran telah ikut bangkit berdiri walaupun kedua lututnya masih terasa gemetaran.
      “Guruku memang tidak pernah menyebutkan dari mana beliau mendapatkan keris ini. Namun satu hal yang membuat aku berani menarik sebuah kesimpulan dari peristiwa ini, Resi panji Sekar itu adalah nama lain dari guruku,” berkata Prabasemi selanjutnya kemudian.
      Untuk beberapa saat Lurahe padang Kerep dan kawan-kawannya hanya dapat saling pandang. Mereka sama sekali belum pernah mendapat gambaran tentang guru Prabasemi itu sehingga tidak berani mengambil sebuah kesimpulan.
      ……………………… selanjutnya …………………….. menunggu


Tinggalkan Balasan ke Bambang NURIPTO Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: