JJYT-02

kembali ke jilid 1|lanjut ke jilid 3

Laman: 1 2

Telah Terbit on 22 Februari 2018 at 01:17  Comments (18)  

18 KomentarTinggalkan komentar

  1. JJYT 02 Halaman 1-3

    TIDAK ada pilihan lain bagi Prabasemi selain meloncat mundur sambil mencabut senjatanya yang selama ini terselip di belakang punggungnya, sebilah keris luk sembilan.

    Alangkah terkejutnya orang-orang yang sedang mengeroyok Prabasemi itu begitu menyadari di tangan kanan lawan mereka telah tergenggam sebilah keris luk sembilan dengan dapur Panji Sekar. Keris itu tampak bersinar redup di tangan Prabasemi.

    Tanpa sadar kelima orang itu telah menghentikan langkah mereka. Dengan jantung yang berdebaran mereka mencoba sekali lagi mengenali dapur keris itu yang bagi mereka sudah tidak asing lagi.

    “Keris Kiai Panji Sekar,” desis orang yang dipanggil Lurahe itu tanpa sadar sambil menahan nafasnya.

    Sedangkan kawan-kawannya yang juga dapat mengenali keris di tangan Prabasemi itu tak kalah terkejutnya. Mereka seolah telah membeku di tempat masing-masing.

    “Kalian mengenal keris ini?” bertanya Prabasemi kemudian sambil mengangkat keris di tangan kanannya tinggi-tinggi.

    Sejenak kelima orang itu saling berpandangan. Orang yang dipanggil Lurahe itulah yang akhirnya menjawab, “Kami mengenal pusaka itu sebagaimana kami mengenal pemiliknya, Resi Panji Sekar.”

    Prabsemi tersenyum sambil menarik nafas dalam-dalam. Dengan perlahan disarungkan kembali keris Kiai Panji Sekar itu ke dalam wrangkanya. Katanya kemudian, “Nah, jika kalian telah mengenal keris ini dan juga pemiliknya, tentu kalian akan mengurungkan niat kalian untuk merampokku.”

    “Ki Sanak benar,” sahut Lurahe cepat sambil memberi isyarat ke arah kawan-kawannya untuk menyarungkan senjata mereka. Lanjutnya kemudian, “Resi panji Sekar bagi kami adalah pelindung padukuhan Cangkring walaupun beliau sangat tidak setuju dengan cara hidup yang kami tempuh. Namun Resi Panji Sekar selalu memberikan perlindungan jika terjadi sesuatu dengan padukuhan kami.”

    “Di manakah Resi Panji Sekar sekarang ini berada?” bertanya Prabasemi memotong pembicaraan Lurahe.

    Sejenak orang-orang yang berada di padang Kerep itu menjadi heran. Seingat mereka Resi Panji Sekar tidak pernah berpisah dengan pusakanya itu. Namun kini di hadapan mereka sedang berdiri seseorang yang membawa pusakanya dan justru menanyakan keberadaan Resi Panji Sekar.

    “Apakah ada yang aneh dengan pertanyaanku, Ki Sanak?” bertanya Prabasemi kemudian begitu melihat kelima orang itu hanya diam termangu-mangu.

    Lurahe yang merasa bertanggung jawab atas kelompoknya itu segera bergeser selangkah maju sambil menjawab, “Ki Sanak, sebelumnya kami minta maaf atas perlakuan kami kepada ki Sanak. Walaupun kami belum jelas duduk permasalahannya, namun kami yakin Ki Sanak mempunyai hubungan dengan Resi Panji Sekar,” Lurahe berhenti sejenak untuk membasahi kerongkonagnnya yang menjadi kering. Lanjutnya kemudian, “Sejauh pengetahuan kami, Resi Panji Sekar tidak pernah berpisah dengan keris pusakanya itu. Itulah sebabnya orang-orang memanggilnya dengan nama Resi Panji Sekar sehubungan dengan keris pusaka Kiai Panji Sekar yang dimilikinya.”

    Prabasemi termenung. Kenangannya segera melayang saat dia baru saja sinengkakake ing ngaluhur, diangkat menjadi seorang Tumenggung di Kasultanan Demak. Suatu hari kakak seperguruannya Sembada jagal Kedung Wuni telah mengunjunginya bersama salah seorang cantrik perguruannya.

    “Adi Tumenggung,” demikian kakak seperguruannya itu kemudian berkata setelah sebelumnya saling menanyakan keselamatan masing-masing, “Aku baru saja menerima berita dari perguruan kita bahwa Guru sedang menderita sakit keras. Guru mengharapkan kedatangan kita berdua.”

    Sejenak Tumenggung Prabasemi termenung. Memang sudah cukup lama dia tidak mengunjungi padepokannya. Dulu semasa dia masih berpangkat Prajurit Wira Tamtama, masih banyak waktu luang bagi dirinya untuk mengunjungi padepokannya itu. Namun setelah dia diangkat menjadi Lurah Prajurit dan sekarang telah menjadi seorang Tumenggung, dirinya belum sempat meluangkan waktunya untuk menengok keberadaan perguruannya itu.

    “Siapakah yang membawa berita itu , Kakang?” bertanya Tumenggung Prabasemi kemudian setelah sejenak mereka terdiam.

    “Aku Kakang Tumenggung,” jawab Cantrik yang duduk di sebelah Sembada dengan serta-merta, “Keadaan Guru benar-benar mengkhawatirkan. Beliau berpesan agar Kakang berdua segera hadir di padepokan.”

    Kembali Tumenggung Prabasemi termenung. Ketika tanpa sadar pandangan matanya menatap wajah kakak seperguruannya itu, tampak kecemasan yang sangat membayang di wajah Sembada jagal Kedungwuni itu.

    • Matur nuwun…….

  2. Alhamdulillah….
    JJYT 02 sudah mulai bisa mengalir lagi.
    Semoga wedarannya lancar.

    Monggo….

  3. Lanjuuut..mas.Satpam

  4. mantab…..

  5. Semoga Prabasemi tidak terlalu lama termenungnya…..dan tidak mengganggu wedaran selanjutnya…..hiks!!

  6. prabasemi masih dorman…..

    • Geng ndalu……ronda…ronda… Tidur terus….terus tidur lagi. .nuwun sewu.

  7. Lanjut….

  8. Lanjutannya mana Ki Man….???

    • Lanjutannya ada di Taman……………….
      Ijin Copas ya Mbah Man ………….
      Selasa, 25 September 2018

      Jejak-Jejak Yang Terlupakan alaman 4-5

      “Ki Sanak,” tiba-tiba terdengar suara Lurahe padang Kerep itu membuyarkan lamunannya, “Apakah memang benar Ki Sanak mempunyai hubungan khusus dengan Resi Panji Sekar?”

      Kembali Prabasemi termenung. Dia benar-benar dibuat kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Lurahe padang Kerep itu. Keris pusaka Kyai Panji Sekar itu memang diterima langsung dari gurunya sebelum meninggal dunia. Pesan gurunya pun saat itu sangat singkat dan jelas.

      “Prabasemi,” demikian pesan gurunya ketika mereka berdua sendirian saja di senthong tengah, “Rasa-rasanya perjalananku sudah sampai ke batas. Hanya engkau muridku yang dapat aku percaya untuk menerima titipan ini sekaligus tugas yang selama ini aku bebankan di pundakku sendiri.”

      Tumenggung Prabasemi mengerutkan keningnya. Tanpa terasa jantungnya berpacu semakin cepat. Dia seolah-olah merasakan bahwa saat-saat kepergian gurunya telah dekat.

      “Pergilah ke padukuhan Cangkring dan bawalah keris pusaka ini,” berkata gurunya kemudian sambil mengambil sebilah keris yang tersimpan dalam sebuah wrangka berpendok emas dan bertretes berlian dari balik bajunya, “Katakan bahwa engkau ingin berjumpa dengan seseorang yang bernama Resi Panji Sekar dan serahkan keris ini kepadanya.”

      “Ki Sanak,” kali ini terdengar suara Lurahe padang Kerep agak keras, “Apakah Ki Sanak mendengarkan pertanyaanku?”

      Prabasemi tergagap. Sejenak diedarkan pandangan matanya ke seluruh wajah-wajah yang menatapnya dengan seribu satu pertanyaan. Maka bertanya Prabasemi kemudian, “Apakah selama ini Resi Panji Sekar telah menjadi pelindung kalian?”

      “Ya,” hampir bersamaan setiap mulut telah menjawab. Lurahe padang Kerep lah yang kemudian meneruskan, “Seperti yang telah aku utarakan sebelumnya. Sebenarnya Resi Panji Sekar tidak setuju dengan cara hidup kami. Kami telah dibekali dengan berbagai ketrampilan untuk bercocok tanam dan beternak selain tentu saja ilmu olah kanuragan serba sedikit,” Lurahe berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Namun karena desakan kebutuhan hidup yang tak tertahankan, sesekali kami masih melakukan pekerjaan lama kami sekedar untuk menyambung hidup.”

      Prabasemi tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam benaknya telah muncul berbagai dugaan tentang orang yang menyebut dirinya Resi Panji Sekar itu.

      “Aku mempunyai dugaan bahwa Resi Panji Sekar itu adalah guru sendiri, menilik kebiasan guru yang sering bepergian meninggalkan padepokan untuk beberapa saat lamanya,” berkata Prabasemi dalam hati setelah menimbang-nimbang beberapa saat, “Aku yakin guru mempunyai tujuan tertentu di padukuhan Cangkring ini, dan agaknya guru telah memilih aku untuk meneruskan perjuangannya di padukuhan ini.”

      “Ketahuilah kalian semua,” berkata Prabasemi pada akhirnya, “Keris pusaka Kiai Panji Sekar ini aku terima langsung dari guruku, dan aku telah menerima wasiat sebelum beliau meninggal dunia untuk menemui seseorang yang disebut Resi Panji Sekar di padukuhan Cangkring.”

      Berdesir tajam dada setiap orang yang ada di padang Kerep itu. Bahkan orang yang terkena pukulan Prabasemi itu pun dengan jantung yang berdebaran telah ikut bangkit berdiri walaupun kedua lututnya masih terasa gemetaran.

      “Guruku memang tidak pernah menyebutkan dari mana beliau mendapatkan keris ini. Namun satu hal yang membuat aku berani menarik sebuah kesimpulan dari peristiwa ini, Resi panji Sekar itu adalah nama lain dari guruku,” berkata Prabasemi selanjutnya kemudian.

      Untuk beberapa saat Lurahe padang Kerep dan kawan-kawannya hanya dapat saling pandang. Mereka sama sekali belum pernah mendapat gambaran tentang guru Prabasemi itu sehingga tidak berani mengambil sebuah kesimpulan.

  9. Sampe sini

  10. Terusannyq koq hilang ya??

  11. JJYT-02 halaman 6-7

    “Ki Sanak,” berkata Lurahe padang Kerep itu setelah sejenak mereka terdiam, “Apakah Ki Sanak mempunyai alasan yang kuat sehingga telah mengganggap guru Ki Sanak adalah Resi Panji Sekar itu sendiri?”

    “Ya,” jawab Prabasemi dengan serta merta, “Sewaktu aku belum memasuki dunia keprajuritan, guru sering meninggalkan padepokan untuk waktu yang cukup lama. Bahkan ketika aku sudah menjadi seorang prajurit Wira Tamtama di Demak pun guru masih sering melakukan kesenangannya itu, menjelajahi hutan dan lembah serta gunung dan padukuhan-padukuhan terpencil. Setidaknya itu menurut cerita kakang Sembada, kakak seperguruanku yang sering mengunjungi padepokan.”

    Kembali orang-orang yang hadir di padang Kerep itu termenung. Namun sesuatu akhirnya terlintas dalam benak Lurahe padang Kerep. Maka katanya kemudian, “Baiklah Ki Sanak, jika memang Resi Panji Sekar itu adalah gurumu, tentu Ki sanak dapat menyebutkan ciri-ciri serta bentuk kewadagan yang mungkin dapat kami gunakan untuk membandingkan dengan bentuk kewadagan Resi Panji Sekar.”

    Prabasemi menarik nafas dalam-dalam mendengar permintaan Lurahe itu. Permintaan yang sangat sederhana, namun jika ternyata bentuk kewadagan gurunya sama sekali tidak mirip atau bahkan jauh dari gambaran seorang yang menyebut dirinya Resi Panji Sekar itu, teka-teki yang selama ini menyelimuti Resi Panji Sekar itu pun kembali gelap, segelap malam di bulan tua.

    Namun akhirnya Prabasemi tidak mendapatkan jalan lain kecuali memenuhi permintaan orang yang disebut Lurahe Padang Kerep itu. Maka Prabesemi pun kemudian menyebutkan ciri-ciri kewadagan yang dimiliki oleh gurunya.

    Untuk beberapa saat orang-orang yang mengerumuni Prabasemi di padang Kerep itu menahan nafas. Pikiran serta perasaan mereka benar-benar sedang terhanyut oleh penjelasan Prabasemi yang terdengar sangat terang trawaca bagaikan melihat sasadara manjing kawuryan.

    Begitu Prabasemi selesai memberikan keterangan tentang ciri-ciri kewadagan gurunya, Lurahe Padang Kerep segera membungkuk dalam-dalam dan merangkapkan kedua telapak tangannya di depan dada. Bagaikan berjanji sebelumnya, kawan-kawan Lurahe padang Kerep itupun segera melakukan hal yang sama.

    Terkejut Prabasemi mendapat perlakuan seperti itu. Namun sebelum dia sempat mengucapkan sepatah kata untuk mencegah perbuatan lebih jauh dari orang-orang itu, Lurahe Padang Kerep telah duduk bersila yang diikuti oleh kawan-kawannya.

    Berkata Lurahe padang Kerep kemudian, “Ampun Anakmas. Kami benar-benar orang-orang bodoh yang tidak tahu dengan siapa berhadapan. Kiranya Anakmas adalah benar-benar murid Resi Panji Sekar. Mohon diampunkan kesalahan kami dan sudilah kiranya Anakmas berkunjung ke padukuhan kami dan membimbing kami sebagaimana dulu yang telah dilakukan oleh Resi Panji Sekar.”

    Untuk beberapa saat prabasemi justru telah membeku di tempatnya. Walaupun dia sudah menduga sebelumnya, namun pengakuan Luhare padang kerep mewakili kawan kawannya itu benar-benar telah mengguncang jantungnya.

    “Mereka memerlukan bimbingan dan seorang pemimpin,” membatin Prabasemi dengan jantung yang masih berdebaran, “Aku harus dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas dendam. Walaupun aku tidak mungkin merang kampuh jingga kepada Demak, namun keberadaanku bersama orang orang padukuhan Cangkring ini harus membuat Demak gelisah dan terganggu.”

    Berpikir sampai disitu Prabasemi segera berkata, “Aku memang mendapat wasiat dari mendiang guruku untuk mengunjungi padukuhan Cangkring. Namun setelah aku yakin bahwa Resi Panji Sekar itu adalah guruku sendiri, maka agaknya guru memang telah membebankan tugas itu kepadaku untuk membimbing kalian menggantikan guruku.”

    Segera saja tampak wajah wajah yang cerah dari Lurahe padang Kerep dan kawan kawannya. Sambil mengangguk angguk, Lurahe padang Kerep menyahut, “Terima kasih Anakmas. Mewakili seluruh kawula padukuhan Cangkring, kami mengucapkan ribuan terima kasih dan kami menunggu uluran tangan Anakmas untuk membimbing kami.”

  12. JJYT 02 halaman 8-9

    Terasa betapa dada Prabasemi bergetar mendengar permintaan Lurahe padang Kerep itu. Namun dengan cepat Prabasemi menjawab, “Sudahlah, mari kita ke padukuhan. Aku ingin melihat lihat keadaan padukuhan kalian sebelum memutuskan untuk tinggal atau tidak.”

    Kata kata Prabasemi yang terakhir itu telah membuat mereka saling pandang. Namun ketika Prabasemi kemudian memberi isyarat untuk berdiri, serentak merekapun kemudian berdiri dan mengikuti langkah Prabasemi.
    ***

    Dalam pada itu malam semakin menghujam ke pusatnya. Tampak Kebo Kanigara sedang duduk termenung di teritisan gandhok kanan kediaman Ki Ageng Banyubiru. Kedua tangannya bersilang di dada sementara pandangan matanya tampak kosong menatap jauh ke kegelapan.

    Terdengar beberapa kali dia menarik nafas dalam dalam. Sepertinya ada yang sedang mengganggu pikirannya.

    “Widuri agaknya sudah mulai menyadari kedewasaannya,” membatin Kebo Kanigara kemudian sambil matanya menerawang ke atap teritisan, “Selama ini mungkin dia masih menganggap Arya Salaka sebagai teman bermain. Namun kejadian menggemparkan di hutan Prawata kemarin tentu telah mengubah cara pandangnya terhadap anak laki-laki satu satunya penguasa Banyubiru itu.”

    Kembali Kebo Kanigara menarik nafas panjang. Dilemparkan pandangan matanya ke arah gardu. Tampak beberapa pengawal yang sedang berjaga mencoba mencegah kantuk dengan berbagai cara. Ada yang bermain mul-mulan, ada yang berusaha menghilangkan kantuk dengan berjalan mondar mandir di depan regol. Sementara seorang pengawal yang bertubuh gemuk tampak sedang duduk terkantuk kantuk di pojok gardu.

    “Jika memang hubungan kedua anak itu telah direstui oleh orang orang tua, sebaiknya memang untuk sementara Widuri aku bawa pergi,” kembali Kebo Kanigara berangan angan, “Tapi pergi ke mana? Aku sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi. Aku telah menjadi orang yang kleyang kabur kanginan, turu bantalan bumi kemulan mega.”

    Terdengar desah perlahan dari mulut Kebo Kanigara. Betapapun sebagai seorang ayah, dia merasa telah menelantarkan anak perempuan satu satunya itu.

    Tiba-tiba terbersit keinginan untuk ke Gunung Kidul. Setidaknya mereka berdua masih dapat menumpang tinggal di sana untuk beberapa bulan sebelum Mahesa Jenar dan Rara Wilis pindah ke kotaraja. Namun keinginan itu segera dihapus dari benaknya. Kebo Kanigara tidak ingin merepotkan keluarga Gunung Kidul.

    “Memang sebaiknya aku dan Widuri kembali saja ke padepokan Karang Tumaritis,” berkata Kebo Kanigara kemudian dalam hati sambil mengangguk angguk, “Alangkah tenangnya hidup di padepokan itu. Mungkin Panembahan Ismaya oleh Sultan Trenggana diminta untuk tinggal di istana, tetapi itu tidak menjadi soal bagiku. Aku akan memimpin para cantrik yang berada di padepokan Karang Tumaritis.”

    Kali in tampak sebuah senyum mengembang di bibir Kebo Kanigara. Namun dengan cepat senyum itu terhapus dari wajahnya begitu bayangan seorang gadis yang menginjak dewasa melintas dalam benaknya.

    “Apakah Widuri setuju dengan rencanaku ini?” sebuah pertanyaan pun menyelinap dalam benaknya.

    Kembali Kebo Kanigara terlihat gelisah. Endang Widuri sudah terlalu lama menderita. Semenjak istrinya meninggal, dia bagaikan orang linglung membawa anak perempuan satu satunya yang masih kanak kanak itu merantau menjelajahi bukit, lembah dan ngarai. Tak jarang mereka berdua mendapat belas kasihan dari orang orang padukuhan yang mereka lewati. Sesuap nasi dan bahkan tawaran untuk tinggal pun sering mereka dapatkan.

  13. JJYT-02 halaman 10-11

    Namun hati Kebo Kanigara tidak pernah merasa tenang sampai dia terdampar di padepokan Karang Tumaritis. Perbedaan kepercayaan dan pemahaman dalam melaksanakan ibadah kepada Yang Maha Agung ternyata telah menimbulkan korban melebihi sebuah perang sekali pun.

    Terbayang kembali dalam benak Kebo Kanigara. Pagi tadi sebelum sinar Matahari pagi yang pertama menyentuh bumi, barisan pasukan pengawal perdikan Banyubiru telah meninggalkan hutan Prawata. Mereka meninggalkan hutan Prawata dalam suasana yang sangat berbeda dengan saat mereka datang. Tidak ada wajah wajah yang tegang dan gelisah. Yang tampak hanyalah tawa riang serta canda sepanjang perjalanan mereka kembali ke Banyubiru.

    Di simpang jalan Mahesa Jenar dan Rara Wilis serta Ki Ageng Pandan Alas memisahkan diri. Mereka langsung kembali ke Gunung Kidul.

    “Percayalah, aku pasti datang ke perhelatan adi berdua. Bukankah waktunya masih bulan depan?” demikian janjinya waktu Mahesa Jenar mengajaknya ke Gunung Kidul.

    Sebenarnya bukan masalah waktu yang membuat Kebo Kanigara enggan mengikuti mereka. Namun keberadaan anak perempuan satu satunya yang menunggu di Banyubiru yang telah menggelisahkan hatinya.

    Kembali Kebo Kanigara berdesah perlahan. Yang terjadi kemudian adalah diluar dugaan semua orang, termasuk dirinya. Semua orang di kediaman Ki Ageng Banyubiru telah mengenal watak Endang Widuri yang riang dan polos. Bahkan para pengawal pun banyak yang mengenalnya. Namun sambutan Endang Widuri atas kedatangan Arya Salaka dan pasukannya itu sangat jauh dari harapan, terutama harapan yang telah berkembang dalam dada Arya Salaka.

    Arya Salaka dan pasukan pengawal segelar sepapan itu memasuki perdikan Banyubiru menjelang senja. Ki Ageng Lembu Sora dan pasukannya memilih langsung pulang ke Pamingit. Beberapa kali Ki Ageng Gajah Sora berusaha untuk menahan agar bersedia mampir dan beristirahat di Banyubiru. Namun Ki Ageng Lembu Sora terlihat sudah tidak dapat dibujuk lagi.

    Demikianlah Arya Salaka yang berkuda di paling depan itu duduk dengan dada tengadah. Di tangan kanannya tergenggam tombak kebanggaan perdikan Banyubiru, Kiai Bancak. Sementara di lambungnya terselip sebuah pisau belati panjang yang berwarna kuning keemasan, Kiai Suluh.

    Para kawula Perdikan Banyubiru yang mendengar kedatangan pasukan itu telah berhamburan ke tepi jalan. Beberapa laki laki telah membawa obor sehingga pemandangan sepanjang jalan terlihat sangat terang benderang.

    Ketika pasukan itu kemudian memasuki alun alun dan berhenti di sana. Arya Salaka sudah tidak dapat menahan diri lagi. Dengan segera dipacu kuda tunggangannya menuju rumah yang terletak di seberang alun alun, rumah Ki Ageng Banyubiru.

    Tedengar kembali Kebo Kanigara berdesah mengenang peristiwa yang terjadi di halaman rumah Ki Ageng Banyubiru sore tadi. Dirinya yang juga merasa khawatir dengan keadaan anak perempuan satu satunya juga telah berpacu menyusul Arya Salaka.

    Di halaman ternyata telah banyak orang orang yang berkumpul. Ki Sora Dipayana dan para kerabat serta para pembantu rumah Ki Ageng. Di antara orang orang yang berdiri berdesak desakan itulah terselip seorang gadis kecil yang mulai beranjak dewasa, Endang Widuri.

    Arya Salaka yang memacu kudanya tanpa turun ketika melewati regol itu terkejut. Ternyata telah banyak orang yang berkerumun di halaman menyambut kedatangannya.

    Dengan cepat ditariknya kendali kuda yang melaju dengan kencang itu sehingga telah membuat kudanya meringkik keras keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi tinggi. Namun dengan tangkasnya Arya Salaka segera meloncat turun dari kudanya. Sementara Kebo Kanigara yang berkuda di belakangnya telah memasuki halaman pula.

  14. JJYT 02 halaman 12-13

    Dengan tergopoh gopoh Arya Salaka segera mendapatkan kakeknya. Betapa wajah Ki Ageng Sora Dipayana itu menyiratkan perasaan yang tiada terkira. Sepasang mata yang telah berkeriput itu pun terlihat berkaca kaca.

    “Engkau selamat, ngger?” sapa Ki Ageng Sora Dipayana sambil memeluk erat Arya Salaka. Arya Salaka pun membalas pelukan kakeknya.

    “Atas restu dan doa kakek, kami seluruh pasukan Banyubiru dalam keadaan selamat,” jawab Arya Salaka sambil berusaha melepaskan pelukan kakeknya.

    Sejenak Arya Salaka mundur selangkah. Pandangan matanya nanar mencari cari seraut wajah yang sudah sangat dirindukannya. Ketika pandangan matanya kemudian membentur seraut wajah yang selama ini menghiasi mimpi mimpinya, Arya Salaka pun segera melangkah mendekat.

    Namun alangkah terkejutnya Arya Salaka ketika tangan Ki Ageng Sora Dipayana telah menarik lengannya sambil berdesis perlahan, “Arya, engkau belum sungkem kepada ibumu.”

    Teguran itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Hati Arya Salaka pun tercekat. Di tengah kesibukannya untuk menemui pujaan hatinya, ternyata dia telah melupakan ibunya. Perempuan yang telah melahirkannya, perempuan yang tetap akan menyayanginya sepanjang hayat di kandung badan, bahkan sampai akhir jaman.

    Untuk beberapa saat Arya Salaka berdiri membeku bagaikan sebuah patung batu di tempatnya. Tampak di belakang Ki Ageng Sora Dipayana seorang perempuan parobaya yang berdiri dengan air mata yang berlinang di kedua pipinya, Nyi Ageng Gajah Sora.

    “Ibu,” bisik Arya Salaka perlahan seolah suaranya tersangkut di tenggorokan.

    Dengan bergegas dia segera mendapatkan Nyi Ageng Gajah Sora. Sambil berjongkok, dipeluknya kedua kaki ibunya itu dengan sangat eratnya.

    “Sudahlah, ngger,” desah Nyi Ageng Gajah Sora sambil mengusap linangan air mata di kedua pipinya, “Bangkitlah. Temui pujaan hatimu agar engkau menjadi tenang dalam menyongsong hari hari depanmu.”

    Suara ibunya itu bagaikan minyak yang menyirap api dalam dadanya yang hampir padam. Setelah bangkit dan kemudian mencium tangan ibunya, Arya Salaka pun segera melangkah menuju ke tempat Endang Widuri berdiri menunggu.

    Namun alangkah terkejutnya hati Arya Salaka. Impiannya untuk mendapatkan sambutan yang penuh cinta serta senyum yang menggoda punah sudah. Gadis kecil yang terlihat mulai beranjak dewasa itu hanya tampak tersenyum sekilas sambil mengangguk dalam dalam.

    “Selamat datang kakang,” berkata gadis itu kemudian dengan suara sedikit sendat. Lanjutnya kemudian dengan kepala tetap tertunduk dalam dalam, “Bukankah semuanya baik baik saja?”

    Berdesir dada Arya Salaka. Apa yang diimpikannya ternyata tidak menjadi kenyataan. Dia menginginkan gadis kecil itu berlari lari mendapatkannya. Kemudian sambil melonjak lonjak kegirangan dan mengguncang guncang lengannya dia berkata, “Ayo kakang! Ceritalah! Perjalanan ke hutan Prawata itu tentu sangat mengasyikkan.”

    Itulah harapannya ketika pertama kali dia menginjakkan kakinya di halaman rumah setelah hari-hari yang mendebarkan berlalu. Namun ternyata gadis itu hanya mengucap sepatah dua patah kata dan selebihnya hanya tertunduk malu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: