Jejak Masa Lalu

Kisah di buku Pelangi di Langit Singosari menurut pakarnya, berasal dari Kitab Pararaton yang katanya tidak diketahui siapa yang mengarang. Supaya bisa membandingkan dengan naskah yang diacu (Pararaton), saya sampaikan terjemahan kitab tersebut.

Selain itu, juga saya sampaikan rujukan lain, yaitu: Kitab Negera Kertagama dan Babad Tanah Jawi, sebagai pembading.

1. Kitab Pararaton.

lontar Pararaton
LONTAR PARARATON

2. Kitab Negara Kertagama

Negara Kertagama

Negara Kertagama

3. Babad Tanah Jawi

Babad Tanah Jawi

TOKOH

Ken Arok

Ken Arok

Ken Dedes

Ken Dedes

Tokoh yang ada di dalam Kitab Paraton dan ada di dalam cerita ini (Sampai jilid 44) antara lain: Ken Arok, Ken Dedes, Empu Purwo, Empu Gandring, Kebo Ijo, Bango Samparan dan Lembong (kalau kurang mohon dikomentari). Yang dicantumkan di sini baru dua saja, yang lain menyusul.

PENINGGALAN.

Peninggalan pada masa Kerajaan Singosari saya kira cukup banyak, sementara ini yang sudah terekam dari situs lain ada lima buah candi, yaitu: Candi Singosari, Candi Sumberawan, Candi Kidal, Candi Jago dan Candi Jawi. Yang lain berupa ceceran cerita yang dikumpulkan dari dongeng arkeologi dan antropologi-nya Ki Bayuaji.

Candi Singosari

Candi Singosari

Candi Kidal

Candi Kidal

Candi Jago

Candi Jago

Candi Sumberawan

Candi Sumberawan

Candi Jawi

Candi Jawi

Dongeng Arkeologi & Antropologi

Dongeng Arkeologi & Antropologi

Masih ada satu lagi “relung persemadian” (meminjam istiah Ki Bayuaji) yang ingin dibuat, yaitu “Jejak Spasial” yang diharapkan bisa menggambarkan lokasi alur pergerakan pelakon dalam cerita ini.

hikss…., tetapi masih tinggal rencana, belum tahu kapan akan diwujudkan. Barangkali ada yang punya bahan:

  1. Lokasi pusat kerajaan Singosari (paling tidak di desa apa)
  2. Ki Bayuaji, apakah punya koordinat situs yang diceritakan pada Dongeng Arkeologi?
  3. Sementara ini sudah ketemu: Tumapel, Panawijen (Palawijen), Karuman, koordinat lima candi tersebut diatas.
  4. Monggo, diberi tambahan………..
Telah Terbit on 30 Januari 2010 at 10:56  Comments (11)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jejak-masa-lalu/trackback/

RSS feed for comments on this post.

11 KomentarTinggalkan komentar

  1. wah, … bagus sekali. blog ini bisa jadi semakin kumplit.

    selamat, ….

    • nomer loro…..

      • nomer Telu…..

        ki SENO, patung Ken-Dedes mpun terpasang

        foto mentrik yang mirip-mirip Ken Dedes, (ayune….manise) dipasang disebelahnya
        pasti lebih seger, lebih ijo suasana-nya

        khusus Ken Dedes kemawon ki….Ken Arok mpun cukup mewakili.
        hiksss….cuma urun-rembug kok ki xixixi
        usul ki, bukan

        • maksude KEN liyane po ki tmg..

          nek ngendikan niku mbok tunjepoin..mboten sah mawi hiperbolik simbolik

          • Nah….niki Pyiyayine ki Seno !!!

            hikss….Priyayi yg punya
            banyak koleksi foto-foto
            mentrik mirip Ken-Dedes..!

  2. Hore…….
    Ki Seno memang tak pernah kehabisan ide dan cancut taliwanda mewujudkan idenya.
    matur nuwun…….

  3. ki, … di “www.ki-demang.com” ada “negarakertagama” dan “babad tanah jawi”, selain pararaton. selain itu masih banyak lagi informasi yang mungkin bisa melengkapi gandhok “jejak masa lalu”.

    mangga.

    Pelan-pelan Ki.
    Mana yang ketemu ditambahkan ke gandok ini.
    Sedang mencari lokasi nama-nama tempat yang ada di dalam cerita ini, agar pembaca dapat membayangkan rute perjalanan pelaku cerita PdLS.
    Dongeng Arkeoologi dan Antropologinya Ki Bayuaji sangat membantu upaya itu.
    Kalau sudah lengka akan dimasukkan ke gandok ini.

  4. nderek nyengkuyung…
    nderek maos…
    pokoke nderek kiaine, meh neng kemundungan, meh neng padang karautan, meh neng bulumbang, meh neng sepasang bukit mati…wis lah..pokoke madep mantep melu senopati

    hiks….

  5. Nuwun,

    Sadaya puja puji pangastawa namung katur dumateng Gusti Ingkang Maha Welas lan Ingkang Maha Asih, awit saking Sih Katresnan Panjenenganipun Gusti Allah SWT, ingkang tansah paring sadaya kanugrahan dumateng kita sadaya.

    Para kadang padepokan, utaminipun para Kaki Ingkang Bahurekso Padepokan.

    Adalah suatu kehormatan yang tidak terkira bagi saya cantrik Bayuaji, bahwa setelah Padang Karautan yang tadinya merupakan tanah cengkar, sato moro sato mati, janma moro janma mati, namun dengan dibuatnya bendungan di tempat itu, telah berubah menjadi tanah pategalan dan tanah pesawahan yang subur dengan sendangnya yang sangat indah, demikian juga halnya dengan padepokan ini, semakin hari semakin regeng berkat kerja keras Mahisa Agni…. eh maksud saya Ki Arema, Ki Gede, Ki/Nyi Seno, Ki Pandan Alas, Ki Yudha P, Ki Sukra, Ki Zacky, Ki Laz, terutama Ki Ismoyo (yang sedang gerah, semoga cepat dangan kembali Ki), dan semuanya saja para sanak kadang padukuhan Panawijen….. (eh maksud saya padepokan ini) yang tidak bisa cantrik sebutkan satu-persatu. Nyuwun sewu menawi wonten ingkang ketlisut.

    Mohon maaf apabila terjadi kesalahan dalam penulisan nama/gelar (hicks…. koq seperti kartu undangan jagong manten saja).

    Padepokan ini lebih reja lagi, setelah dibukanya gandok anyar, yang tadinya hanya gandok-gandok “diskusi”, “tutorial”, “booking” dan “retype” sekarang ditambah gandok baru, yaitu ”Jejak Masa Lalu” yang mempunyai relung-relung pasamadian “Lontar Pararaton”, “Ken Arok”, “Ken Dedes”, “Candi Singosari”, “Candi Sumberawan”, dan “Dongeng Arkeologi”, mungkin dengan semakin ramainya padepokan, Ki Arema sakadang dapat memperjembar padepokan, agar semakin hari semakin semringah.

    Dengan disediakannya sanggar pasamadian “Dongeng Arkeologi”, adalah merupakan suatu kehormatan bagi cantrik Bayuaji.

    Cantrik Bayuaji yang sok keminter</i ini, yang baru memiliki ilmu yang amat sangat cupet dan cetek telah berani-beraninya bikin woro-woro dan kumawantun wedar sabdo mendongeng.

    Tetapi agar tidak seperti pakem “Palguna Palgunadi” di mana Bambang Ekalaya “mencuri” ilmu olah jemparing dari Begawan Sokalima, maka cantrik Bayuaji di dalam mendongeng selalu berusaha untuk mendasarkan diri dari ilmu-ilmu yang benar sumbernya dari para Begawan yang sudah mumpuni di bidangnya, yakni dari rontal-rontal karya para Sang Begawan itu, antara lain:
    1. Atmodjo, M.M. S. Karto. Struktur Masyarakat Jawa Kuno pada Jaman Mataram Hindu dan Majapahit; 1979. Puslit dan Studi Pedesaan dan Kawasan UGM. Yogyakarta.
    2. Boechari.Manfaat Studi Bahasa dan Sastra Jawa Kuna ditinjau dari Segi Sejarah dan Arkeologi.; 1977. Majalah Arkeologi Tahun I No.1.
    3. Mangkudimedja, R.M., Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP.; 1979. Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Departemen P dan K, Jakarta.
    4. Megandaru W. Kawuryan. Negara Kertagama, Tata Pemerintahan Kraton Majapahit; 2006. Panji Pustaka; Jakarta
    5. Nugroho Notosusanto, Prof. Dr. Sejarah Nasional Indonesia, Jilid II ; 1984. Balai Pustaka, Jakarta.
    6. Padmopuspito, Ki. J. Pararaton; Teks Bahasa Kawi, Terjemahan Bahasa Indonesia, 1966. Taman Siswa, Yogyakarta.
    7. Partokusumo, Karkono. Falsafah Kepemimpinan dan Satria Jawa dalam Perspektif Budaya; 1998. Bina Rena Pariwara. Jakarta.
    8. Poerbatjaraka. Kapustakan Jawi; 1964. Djambatan. Jakarta.
    9. Sedyawati, Edi Keadaan Masyarakat Jawa Kuna Masa Kadiri dan Masalah Penafsirannya; 1985. Satyawati Suleiman (eds.) Pertemuan Ilmiah Arkeologi III. Puslitarkenas. Jakarta.
    10. Sedyawati, Edi Pembagian Peranan Dalam Pengelolaan Sumberdaya Budaya ; 2001. Diskusi Ilmiah Arkeologi XIII, 6 April 2001 di Denpasar.
    11. Slamet Muljana Prof. Dr, Nagara Kertagama, Tafsir Sejarah; 2006. LkiS Yogyakarta.
    12. Sumadio, B. (ed.). Sejarah Nasional Indonesia II; 1977. Balai Pustaka, Jakarta.
    13. Buku catatan, wawancara dengan penduduk setempat, penelurusan lokasi petilasan, candi,arca, prasasti (terutama yang tersimpan di museum-museum). dll.

    Untuk itu pula tentunya kepada para kadang, para kaki, cantrik lainnya, para putut manguyu, tapa dan tapi, para janggan. Cantrik Bayuaji mohon restunya saja agar dongengan cantrik selalu lumintu mengunjungi para sanak kadang. Tegur sapa dan kritik bagi kemajuan dan regengnya dongengan di padepokan ini sangat cantrik nantikan.

    Tentunya pasamadian “Dongeng Arkeologi” tidak semata-mata untuk cantrik Bayuaji saja, dengan dongeng ngayawaranya. Cantrik Bayuaji dan tentunya juga Ki Arema serta para sanak kadang yang lain sependapat bahwa padepokan itu adalah milik kita bersama.

    Kagem Ki Arema, Ki Gede, Ki/Nyi Seno, Ki Sukra, Ki Zacky dan tentu saja Ki Ismoyo, …… bahkan sedaya para sanak kadang, ternyata sesrawungan bahkan paseduluran ini indah …..… gegojegan dengan sanak kadang, meskipun hanya di dunia maya.

    Sepindah malih, kula cantrik Bayuaji ngaturaken gunging panuwun, mugi kersa paring pangapunten menawi wonten ukara utawi pocapan kang keladuk.

    Insya Allah dengan ketekunan dan kerja keras, melaksanakan laku dengan lapang dada dan ikhlas, memohon ridhaNya. Kita dapat menjadi insan manusia yang berguna bagi sesama, karena: “Hamba yang paling dicintai Allah SWT adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan perbuatan yang paling mulia adalah menumbuhkan rasa kebahagiaan atau kesenangan dalam hati orang….. ”, demikian sabda Rasul Agung Muhammad SAW.

    Nuwun,

    cantrik bayuaji.

    Ngapunten lho, belum minta ijin sudah copas komen ke gandok anyar “Dongeng Arkeologi”.
    Rasanya sayang sekali, informasi yang bagus terselip diantara belantara komen sanak kadang PdLS.
    Sementara comot sana comot sini, beberapa masih belum sempat memberi sumbernya.
    Pelan-pelan ki, nanti diperbaiki lagi.
    Saya mau coba buat petanya ki, informasi dari Ki Bayuaji sangat membantu.
    Acuan Ki Bayuaji tampaknya sangat banyak:
    – Adakah informasi tentang letak pusat kerajaan Singosari? syukur ada sketnya
    – Di Singosari ada Pemandian Ken Dedes. Saya belum kesana, apakah pemandian tersebut memang peninggalan Ken Dedes atau nama yang muncul kemudian?

  6. wah padhepokane saya suwe saya maju lan tambah sippp…
    bisa belajar sejarah dan arkeologi sekaligus.
    mbok para guru sejarah di sekolah sekolah ki ya dha kreatif bukaki situs situs seperti ini mesthi muride ga padha bosen ya…

  7. Resik-Resik Gandok, ………………
    Banyak debu, ………… maklum bar ungsum ketigo.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: