KDBS-02

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 16 Juni 2012 at 23:12  Comments (348)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/kdbs-02/trackback/

RSS feed for comments on this post.

348 KomentarTinggalkan komentar

  1. baru bisa nginguk padepokan lagi
    polwannya sedang njagong manten

    hadu…, rontal belum bisa turun, tapi keburu polwannya datang
    he he he …

    pamit

    • KULO NUWUN
      gandok anyar
      monggo dipun sekacakaken

  2. Pendeta Gunakara dan lawannya ternyata begitu bertemu muka langsung sudah saling menerjang dan menyerang. Dan mereka nampaknya sudah langsung mengeluarkan segala kemampuan dan kekuatan puncaknya. Sebuah pertempuran yang menggiriskan.

    “Ternyata kemampuanmu cukup tinggi orang asing”, berkata orang berjubah hitam itu kepada Pendeta Gunakara.

    “Kemampuanmu juga luar biasa, mudah-mudahan aku dapat mengimbangimu”, berkata pendeta Gunakara kepada orang itu sambil melompat menghindari sebuah sambaran cakra dan balas menyerang dengan tongkatnya.

    Sementara itu di puncak Bukit Karang Gajah disisi yang lain, adalagi pertempuran yang juga tidak kalah serunya. Sebuah pertempuran yang berkelompok antara lima orang berjubah hitam dan dua orang dari Padepokan Teratai Putih melawan para prajurit Singasari.

    Ternyata para prajurit Singasari ini sudah sangat perpengalaman untuk melakukan penyerangan bersama.Mereka sangat disiplin dan saling menjaga. Ki Bancak dan Arga Lanang terlihat bersama para prajurit Singasari. Ternyata Arga Lanang dapat mengikuti gerak para prajurit. Bersama melakukan serangan-serangan yang dapat mengimbangi delapan orang musuh mereka yang terlihat secara perorangan mempunyai kemampuan yang cukup tinggi, terutama kelima orang berjubah hitam itu.

    Dalam sebuah serangan, Ki Bancak dapat mencuri sedikit kelengahan salah seorang dari Padepokan Teratai Putih.

    Craaaatt !!

    Sabetan pedang Ki Bancak telah membuat goresan dalam di pangkal paha orang itu. Terlihat orang itu tersungkur jatuh ditanah. Darah terlihat mengucur cukup deras dari pangkal pahanya.
    Pertempuran masih terus berlanjut meski pihak musuh telah berkurang satu orang. Tapi sudah cukup sedikit mengurangi kemampuan tekanan pihak musuh.

    Aachhh !!

    Sebuah tendangan yang tidak terduga dapat dilakukan oleh Arga Lanang dengan begitu cepatnya langsung menyambar tulang betis kaki orang tertua dari Padepokan Teratai Putih menjadikan dirinya sedikit limbung. Dan seorang prajurit Singasari yang dekat dengan Arga Lanang segera memanfaatkan keadaan itu dengan menyabetkan pedangnya kearah pinggang orang itu.
    Aachhh !!

    Kembali orang itu bersuara keras sambil memegang pinggangnya yang terluka. Darah terlihat menetes dari jemari tangannya yang memegang luka dipinggangnya. Wajahnya terlihat pucat pasi penuh rasa cemas. Sambil mundur terhuyung orang tertua dari Padepokan Teratai Putih itu keluar dari pertempuran menjauh mencari tempat yang aman. Tidak seorangpun yang mengejar dirinya.

    • monggo, rontal kedua di gandhok anyer……………

    • Wah…, ternyata Ki Bancak sakti juga
      he he he …..

  3. Para prajurit singasari bersama Ki Bancak dan Arga Lanang terus melakukan tekanan kepada musuhnya yang kembali berkurang satu. Saat itu hanya tinggal lima orang berjubah hitam yang harus mereka hadapi.

    Kekuatan para prajurit yang dipimpin oleh Ki Bancak dibantu Arga Lanang ternyata mampu menekan kekuatan kelima orang berjubah hitam itu. Para prajurit itu tidak pernah lepas dari kesatuan mereka melakukan serangan dan saling menjaga kawan. Itulah kekuatan yang cukup merepotkan kelima orang berjubah hitam itu, meski secara perorangan mereka dapat dikatakan lebih tinggi dari kemampuan satu persatu prajurit itu.

    “Menyebar !!!”, berkata salah seorang yang berjubah hitam itu kepada keempat kawannya.

    Maka keempat kawannya itu dapat menangkap arah perkataan salah seorang kawannya. Terlihat mereka berlima sudah berpencar.
    Sebuah keputusan dan pilihan yang cerdik, kelima orang berjubah hitam itu memang bermaksuk memecah kekuatan lawan menjadi lima pertempuran yang terpisah.

    Dengan sangat terpaksa kedua puluh orang prajurit terpencar menjadi lima kelompok masing-masing menghadapi seorang musuh.

    Ki Bancak tidak segera bergabung, sebagai seorang pemimpin kelompok mencoba menilai kelompok mana yang perlu bantuannya.

    Maka Ki Bancak akhirnya dapat melihat salah satu kelompoknya yang paling lemah. Dikelompok itulah dirinya menggabungkan dirinya.
    Arga lanang ternyata mengikuti apa yang dilakukan oleh Ki Bancak.

    Dengan cepat dirinya bergabung kesalah satu kelompok yang menurutnya perlu tambahan orang yang dapat mengurangi kekuatan dan tekanan lawan.

    Sementara itu malam diatas puncak Bukit Karang Gajah sudah masuk dipertengahan malam. Suasana yang remang padang itu menjadi suasana yang sangat menegangkan karena dipenuhi hiruk pikuk suara denting senjata beradu dan suara teriakan penuh ancaman. Suasana pertempuran diatas puncak Bukit Karang Gajah itu sepertinya tidak akan segera berakhir, masih terus berlanjut tanpa dapat diketahui siapa yang akan mengakhiri pertempuran itu, karena pertempuran dapat dikatakan sangat berimbang.

    “Aku harus menyelesaikan pertempuran ini”, berkata Mahesa Amping yang tengah bertempur dengan Ki Sandikala namun masih dapat mengikuti semua pertempuran yang ada di atas puncak Bukit Gunung Karang. Kegelisahan Mahesa Amping terutama ditujukan kepada para prajuritnya yang saat itu sudah terpecah menjadi lima kelompok pertempuran yang terpisah.

    Namun keinginan Mahesa Amping harus tertunda, Ki Sandikala yang menjadi lawannya ternyata mempunyai kemampuan ilmu yang cukup tinggi dan harus dihadapi dengan sangat penuh perhatian yang kuat, sedikit kelengahan akan membawa bencana. Karena serangan Ki Sandikala bukan sebuah serangan biasa, sebuah serangan yang cepat penuh tipu daya dan juga telah dilambari dengan kekuatan hawa dingin yang sangat menusuk tajam menyebar disetiap serangannya.

    • monggo…mumpung jaringan masih pool
      Selamat datang IRMAWATIKU……dari gaya komentnya…sepertinya saya pernah mengenal….???

      • he he he …..
        gak bisa ditipu ya ki, Irmawatiku dari tlatah lendut benter

        • Lho…..???
          yen ngono tanggaku dewe to..??

          (muhun dengan sanget, Ki Menggung jangan sampai dapetin bocoranya ya, nanti malah rebutan lho…!}

    • kamssiiiaaaaa…………….!!!!
      eh…, ternya Ki Sandikala anggota Teratai Putih to, kok baru tahu aku, he he he ……

      • sekali-kali boleh dong ikut masuk peran….hehehe

        • lha…, kalau Ki sandikala tewas, gak ada yang cerita dong, he he he …..
          yang satu ini dibiarkan hidup agar dapat bercerita kepada yang lain

  4. Ternyata apa yang dikhawatirkan Mahesa Amping juga menjadi perhatian Empu Dangka. Diam-diam sambil menghadapi Ki Bogakala dari Lereng Tengger, Empu Dangka sempat melihat secara keseluruhan semua pertempuran di atas bukit Karang Gajah.

    “Kekuatan para prajurit sudah terpecah”, berkata dalam hati Empu Dangka.

    Bukan main kagetnya Ki Bogakala melihat serangan balasan dari Empu Dangka, lebih cepat dari sebelumnya. Ternyata kekhawatiran Empu Dangka atas para prajurit Singasari telah mengubah cara bertempurnya dari sebelumnya yang hanya berusaha mengimbangi permainan lawannya Ki Bogakala. Dan saat itu Empu Dangka tidak bermaksud main-main lagi, tapi secepatnya melumpuhkan Ki Bogakala agar dapat membantu para prajurit Singasari yang terlihat semakin tertekan menghadapi seorang berjubah hitam yang memang memiliki kemampuan yang tinggi.

    Desss !!!

    Sebuah lecutan yang dilambari oleh tenaga cadangan yang sangat kuat telah berhasil menyambar dada Ki Bogakala. Seketika itu juga Ki Bogakala ambruk ketanah tidak bernafas lagi.

    Melihat lawannya sudah tidak bernyawa lagi, ada sedikit penyesalan dihati Empu Dangka.

    “Maafkan aku, akhirnya seperti yang kamu katakan bahwa aku memang akan menyesal”, berkata Empu Dangka dalam hati penuh penyesalan melepaskan puncak kemampuannya.

    Tapi penyesalan Empu Dangka akhirnya dibuang jauh-jauh, pikirannya kembali kepada kekhawatirannya atas para prajurit yang memang sedang berusaha keras terus keluar dari tekanan para lawannya. Maka secepat kilat Empu Dangka telah melompat mendekati salah satu pertempuran.

    “Biar aku yang menghadapinya, bantulah kawan-kawanmu”, berkata Empu Dangka kepada para prajurit yang tengah bertempur dengan salah satu orang berjubah hitam.

    Para prajurit yang sudah mengetahui kemampuan Empu Dangka segera langsung berpindah lawan membantu kawannya yang lain.
    Mendapat bantuan tambahan satu orang prajurit memang belum berpengaruh banyak, tapi setidaknya sedikit mengurangi tekanan yang dirasakan oleh para prajurit selama dalam pertempuran itu.

    “Aku menggantikan mereka”, berkata Empu Dangka kepada salah seorang yang berjubah hitam itu.

    “jangan kamu kira aku akan begitu mudah kamu taklukan sebagaimana sahabatku itu”, berkata orang berjubah hitam yang melihat juga bagaimana Empu Dangka mengakhiri nyawa sahabatnya.

    Ternyata orang berjubah hitam itu tidak dapat menelan ludahnya yang terlanjur terucap. Ketika menghadapi Empu Dangka, dirinya mengakui bahwa orang tua yang dihadapinya itu memang mempunyai kemampuan yang sangat tinggi.

    Empu Dangka memang telah melepaskan kemampuan tingkat tingginya. Dan orang berjubah hitam itu harus menghindar kesana kemari menghindari cambuk Empu Dangka yang terus mengejarnya.

    • selamat menikmati hari minggu…………..

      • ciatttttt,,,,,,,,,,,persiapan mo ngelawan Mahesa Amping !!! (kapan.lagi,com)

        • Kamsiaaaaaaa.

          • sugeng siang
            baru bisa masuk
            matur nuwun

        • ikut latihan Ki, biar segera sehat kembali

  5. Padahal belum ada SKEP dari Panglima Tertinggi Gandhok KDBS, lha kok pak Satpam bola bali ninggal seragame neng lemariku to…??

  6. Sementara itu disisi yang lain, Pendeta Gunakara terlihat sudah menguasai lawannya. Meskipun lawannya telah mengerahkan ilmu puncaknya, menebarkan hawa dingin yang dapat membekukan tulang lawan, tapi terlihat Pendeta Gunakara sepertinya tidak merasakan apapun, tongkatnya masih terus menyambar-nyambar sangat berbahaya.

    “Kekuatan hawa dinginku tidak berarti apapun”, berkata orang berjubah lawan Pendeta Gunakara itu merasa penasaran setelah mengerahkan seluruh kemampuan ilmunya.

    Ternyata selama pertempuran itu Pendeta Gunakara masih menganggap sebuah permainan. Namun akhirnya melihat para prajurit yang terpecah ada rasa khawatirnya sebagaimana Mahesa Amping dan Empu Dangka.

    Maka terlihat Pendeta Gunakara telah memperlihatkan jati dirinya, menyerang orang berjubah hitam lawannya dengan kesungguhan hati untuk secepatnya mengakhiri pertempurannya.

    Buk !!

    Buk !!!

    Dua buah serangan yang cepat dari Pendeta Gunakara langsung mengenai dada dan lutut belakang lawannya. Terlihat orang berjubah hitam itu jatuh terjengkang langsung pingsan untuk waktu yang lama.

    Tanpa melihat keadaan lawannya, Pendeta Gunakara sudah langsung mendekati sebuah pertempuran para prajurit yang dianggapnya paling lemah.

    “Lekas kalian bantu kawan kalian, serahkan lawanmu kepadaku”, berkata Pendeta Gunakara kepada salah seorang prajurit yang tengah bertempur.

    “Tapi orang ini sangat kuat”, berkata prajurit itu yang masih sangsi atas kemampuan Pendeta Gunakara karena dirinya tidak memperhatikan bagaimana Pendeta Gunakara menyelesaikan pertempurannya.

    “Serahkan lawanmu kepadanya, percayalah aku”, berkata Empu Dangka yang bertempur tidak jauh dari mereka dan melihat kesangsian para prajurit atas diri Pendeta Gunakara.

    Mendengar teriakan Empu Dangka, para prajurit tidak menjadi sangsi lagi. Mereka tahu betul siapa Empu dangka, maka langsung saja mereka melakukan apa yang dikatakan oleh Pendeta Gunakara untuk melepas lawannya, membantu kawan yang lain yang sedang dan masih terus bertempur.

    Dengan kehadiran Pendeta Gunakara itu, suasana pertempuran diatas puncak Bukit Karang Gajah menjadi semakin berimbang.

    Para prajurit saat itu hanya menghadapi tiga orang berjubah hitam. Setiap satu lawan harus menghadapi tujuh orang prajurit Singasari yang sudah terbiasa bertempur secara berkelompok. Apalagi saat itu mereka dibantu oleh Arga Lanang dan Ki Bancak.

    Sementara itu malam diatas puncak Bukit Karang Gajah sudah semakin tua, semburat warna merah sudah mulai muncul mengintip diujung timur bumi hadir bersama cahaya gemerlap bintang kejora pagi.

    Deegkh………!!

    • Terimakasiiiiihhhh.

  7. Banjir rontal. Matur nuwun.

  8. matur suwun……
    kamssiiaaa…….!!!!

    enam rontal lagi dapat menutup KDBS-02 sebelum memasuki puasa mendatang., please….!!!

    • enam rontall ??? siap bos !!! (hadap kiri majuuuu…JALAN, GRAK !!) hehehe

      • he he he …, BOS….???

  9. Terdengar suara hentakan sendal pancing cambuk Empu Dangka yang nyaris hanya dua jari dari dada lawannya. Sebuah hentakan cambuk yang mengandung tekanan kekuatan tenaga cadangan yang luar biasa. Meski ujung cambuk itu tidak mengenai apapun, tetap saja menyesakkan dada lawan Empu Dangka yang seketika itu langsung memegang dadanya seperti berhenti bernafas.. Maka kesempatan itu dipergunakan oleh Empu Dangka dengan menyabetkan ujung cambuknya ke arah pangkal paha orang itu.

    Betttttt………

    Begitu cepatnya sabetan cambuk itu langsung melukai pangkal paha orang berjubah hitam itu yang langsung tersungkur tidak mampu menahan berat badannya hanya dengan satu tungkai kaki.

    Empu Dangka tidak mengejar dengan serangan berikutnya, tapi terlihat meninggalkannya langsung mendekati para prajurit yang sedang menghadapi lawannya, yaitu orang berjubah hitam lainnya.
    Melihat Empu Dangka datang menghampiri, para prajurit sudah langsung tahu apa yang harus mereka lakukan, yaitu melepaskan lawannya untuk diselesaikan oleh Empu Dangka.

    Dengan kehadiran seorang Empu Dangka yang menggantikan para prajurit Singasari menghadapi lawannya, maka suasana pertempuran diatas puncak bukit Karang Gajah menjadi semakin dapat ditebak siapa yang akan menguasai medan pertempuran itu.

    “Ikat mereka menjadi satu pertempuran”, berkata Ki Bancak memberi perintah kepada para prajurit Singasari untuk bergabung menjadi kesatuan yang utuh menghadapi dua orang lawan.

    Mekipun kedua orang berjubah hitam itu mempunyai kemampuan yang cukup tinggi, namun menghadapi dua puluh orang prajurit yang terlatih adalah sebuah hal yang sangat cukup berat.

    Sementara itu pertempuran antara Mahesa Amping dengan Ki Sandikala masih terus berlangsung. Keduanya terlihat masih terus menjajagi tingkat kemampuan lawan. Dan masih belum berada di atas puncak tataran ilmunya masing-masing.

    “Garis ilmunya sama dengan Ki Karmapala, tapi serangannya kaya dengan segala tipu daya yang membahayakan”, berkata Mahesa Amping yang tengah bertempur dengan Ki Sandikala.

    Sebagaimana yang dilihat oleh Mahesa Amping, jalur ilmu Ki Karmapala memang ada dalam satu jalur aliran yang sama dengan Ki Sandikala. Hanya bedanya bahwa Ki Sandikala sudah dapat menguasai ilmunya dengan sempurna melebihi semua pimpinan aliran penyembah matahari di Balidwipa dan Jawadwipa. Dan sampai saat itu, setelah mereka saling bertempur ratusan jurus, Mahesa Amping belum juga melihat batas puncak ilmu Ki Sandikala.

    “Aku harus berhati-hati”, berkata Mahesa Amping dalam hati sambil mengelak sebuah serangan dari Ki Sandikala dan balas menyerangnya dengan tidak kalah berbahayanya.

    Sementara itu di sisi yang lain kembali Pendeta Gunakara menyelesaikan pertempurannya. Tongkat kayunya berhasil menghantam pinggang lawannya.

    • satu dari enam

    • Yang penting Kamssiiiiaaaaaaaa……!!!!!

      (awas lho…..masih kurang 5 rontal lagi)

    • Lho….?????

  10. “Aku harus berhati-hati”, berkata Mahesa Amping dalam hati …

    ya tentu saja, kalau Mahesa Amping tidak hati-hati, matilah dia…!!! he eh he ….
    sugeng dalu Pak Lik

    • mana ada dalank kalah sama wayangnya ???? (cuma.disin.com) hehehe

  11. Bukkk …….

    “Awww…………”, terdengar suara menahan rasa sakit yang sangat seorang berjubah hitam lawan Pendeta Gunakara yang terkena pukulan tongkatnya tepat dipinggang. Orang itu langsung terpelanting jatuh ke bumi, merasakan tulang rusuknya nyeri tak terkira.

    Pendeta Gunakara tidak mengejarnya, membiarkan orang itu yang sudah tidak mampu berdiri lagi mengerang kesakitan. Pendeta Gunakara menyapu sepanjang pandangannya keseluruh pertempuran. Melihat pertempuran Empu Dangka yang sudah diatas angin sedikit lagi pasti akan menyelesaikan pertempurannya. Pendeta Gunakara juga melihat dua orang berjubah hitam yang tengah dikepung oleh para prajurit Singasari, Pendeta Gunakara merasa yakin hanya menunggu waktu kedua orang berjubah hitam itu pasti akan kehabisan tenaga.

    Ketika Pendeta Gunakara memandang kearah pertempuran antara Mahesa Amping dan Ki Sandikala, terlihat dirinya menahan nafas penuh ketegangan.”Sebuah pertempuran yang luar biasa”, berkata Pendeta Gunakara yang melihat pertempuran itu sebagai dua orang raksasa kanuragan bertempur.

    Apa yang dilihat oleh Pendeta Gunakara ternyata memang sangat dahsyat dan luar biasa. Mahesa Amping dan Ki Sandikala bertempur dengan kecepatan dan kekuatan yang amat menggetarkan hati siapapun yang melihatnya. Batu-batu karang yang besar kadang menjadi sasaran yang lepas, hancur porak poranda terkena senjata cakra Ki Sandikala atau cambuk Mahesa Amping. Tanah disekitar mereka terlihat sudah rata, rumput dan ilalang terlihat layu hangus terbakar. Sebuah pemandangan yang sangat mendebarkan hati layaknya dua raksasa kanuragan bertempur dengan kekuatan dan kecepatan yang mumpuni tak terkatakan oleh kata-kata karena begitu dahsyatnya.

    Sementara itu pada pertempuran yang lain, Empu Dangka kembali telah menyelesaikan pertempurannya. Diam-diam Empu Dangka sambil bertempur juga sempat memperhatikan jalannya pertempuran antara Mahesa Amping dan Ki Sandikala yang sangat begitu dahsyatnya. Maka melihat hal itulah dirinya segera menyelesaikan pertempurannya.

    “Beristirahatlah kamu”, berkata Empu Dangka sambil cambuknya menutuk dua kali didua pangkal paha lawannya.

    Tarrr…….tarrrrr

    Dua kali sentakan cambuk dengan kekuatan yang tidak begitu penuh langsung merubuhkan lawan Empu Dangka yang tersungkur terlempar di dinding batu karang besar. Orang itu terlihat sudah tidak ada kekuatan lagi untuk bangkit, apalagi melanjutkan pertempurannya. Orang itu nampaknya sudah merasa jerih, merasa jauh dibawah kemampuan Empu Dangka yang tidak segera menghampirinya, tapi langsung mendekati pertempuran Mahesa Amping dan Ki Sandikala yang sangat dikhawatirkan karena menurutnya Mahesa Amping kali ini telah mendapatkan lawan yang setanding.

    Sementara itu sebagaimana yang diperhitungkan oleh Pendeta Gunakara, dua orang berjubah hitam yang tengah di kepung dan diserang oleh para prajurit Singasari nampaknya sudah kehabisan tenaga.

    • dua dari enam, hehehehe

  12. “Menyerahlah, kami akan mengampuni nyawamu”, berkata Ki Bancak kepada kedua orang itu.

    “Aku akan mati bersamamu !!”, berkata salah seorang berjubah hitam itu yang kebetulan sangat dekat sekali dengan Ki Bancak langsung menghimpun sisa tenaganya menerjang Ki Bancak.

    Tapi untungnya Ki Bancak sudah memperhitungka semua kemungkinan yang bisa terjadi. Maka dengan sigap dan cepat Ki Bancak melenting kekiri menghindari serangan senjata cakra dari orang itu. Bukan main penasarannya orang itu melihat sasarannya dapat lolos begitu cepatnya. Maka orang itu masih bermaksud menyerang kembali Ki Bancak yang telah melenting beberapa jarak darinya, namun antara keinginan dan kemampuannya saat itu ternyata sudah jauh berbeda, kekuatannya sudah terkuras pada serangan sebelumnya, akibatnya gerakannya menjadi begitu lamban.

    Srettttttt…..

    Pedang seorang prajurit berhasil merobek daging samping kiri pinggangnya.

    Dan bersamaan dengan itu sebuah tendangan keras dari Arga Lanang berhasil melepas dan melempar senjata cakra dari genggaman tangannya.

    Jeppppp….

    Belati ditangan kanan Arga Lanang juga ikut beraksi, menancap di atas pangkal paha orang itu dan dengan cepat pula seketika mencabutnya.

    Seketika itu juga darah segar keluar dari pangkal paha orang itu, bersama darah merah merah yang merembes dari pinggangnya. Terlihat orang itu limbung jatuh ke bumi.

    Melihat kawannya sudah tidak berdaya, satu orang berjubah hitam yang tersisa merasa cukup jerih juga melihat para prajurit Singasari yang dengan mata perang membakar dihampir semua mata para prajurit yang tengah mengepungnya.

    “Menyerahlah, atau nasibmu akan sama dengan kawanmu”, berkata Ki Bancak kepada orang itu.

    “Aku menyerah”, berkata orang itu sambil melempar senjata cakra ditangannya.

    “Ikat orang itu”, berkata Ki Bancak kepada salah seorang prajurit didekatnya. Maka seketika itu juga beberapa prajurit datang menghampiri orang itu dan mengikatnya dengan tali yang kuat.
    Sementara itu suasana di atas puncak bukit Karang Gajah sudah menjadi terang tanah, matahari pagi sudah muncul diujung timur bumi menerangi semua pandangan.

    Terlihat beberapa prajurit mendatangi beberapa orang pihak musuh yang sudah tidak berdaya, sementara itu yang lainnya dengan penuh kecemasan mendekati pertempuran antara Mahesa Amping dan Ki Sandikala yang masih terus berlangsung tanpa dapat dibaca siapa diantara mereka yang akan memenangkan pertempuran itu, karena keduanya terlihat masih penuh tenaga meski pertempuran mereka sudah berlangsung hampir sepanjang malam.

    • tiga dari enam, huahahaha (sambil berlatih angkat barbel persiapan untuk pertempuran melawan Mahesa Amping)

      “dalank_e enggak mungkin kalah, apa kata dunia ???”, hehehe

      • sugeng sonten
        bade nyuwun pirso pak Satpam
        kalau pakai window 7
        kolom kirim komentar
        tidak ada
        gimana caranya

        • ada kok, di bawah ada tulisan enter your comment here
          tonjok disitu nanti akan keluar box comment seperti biasanya.

  13. Siapa yang lebih unggul ? Mahesa Amping atau Ki Sandikala ? Sulit ditebak. Ki Dalang pasti kesulitan memilih. Mana ada dalang kalah sama wayangnya ? Tetapi ….. mana mungkin Mahesa Amping hanya berakhir di jilid 2 ?
    Semakin seru saja. Lanjuuuutttt……..!!

    • Aluwung pak Satpam wae sing nggo kalah2an.
      (nangis yo ben)

      Kamsiiiaaaaaa…..!!!!!

      • lha ra iso no

        jaman semono rung ono satpam, dadi pak dalange gak iso nggawe lakon kanggo p satpam

      • lha nek satpame nesu (mergo kalah), komene iso ditutup no….
        he he he ….

        • lha mengko cantrik-e
          podo mbrobos
          mbludus
          yen lawange gandok tutup

          • hadu….
            iya ya….
            lha wong cantrike mbetik-mbetik, he he he ……

            sugeng sonten

  14. Pertempuran Mahesa Amping dan Ki Sandikala memang sudah menjadi begitu dahsyatnya. Kecepatan dan kekuatan mereka bertempur memang sudah sangat luar biasa. Mereka sudah seperti dua bayangan yang berkelebat dan kadang melenting dengan cepat diiringi hamburan batu,tanah dan bongkahan karang yang terkena sasaran dan terjangan mereka.

    “Ilmu ajian Teratai Putih !!”, berkata Empu Dangka yang merasakan sebuah getaran aneh keluar dari dalam tubuh Ki Sandikala. Sebuah ilmu yang langka yang dapat mengaburkan jalan pikiran lawan. Seorang lawan yang terkena pengaruh ilmu ini akan menjadikan pikirannya buntu untuk memutuskan segala sesuatu yang berdampak kepada kebingungan. “Mahesa Amping mempunyai kekuatan bathin yang tinggi”, berkata Empu Dangka dalam hati menenangkan dirinya sendiri.

    Ternyata apa yang dikatakan oleh Empu Dangka memang tengah dirasakan oleh Mahesa Amping, sekilas dirasakan ada sebuah dorongan yang menutup jalan pikirannya. Namun ternyata Ki Sandikala salah duga, karena Mahesa Amping telah mempunyai kekuatan bathin yang tinggi sehingga tidak lagi memutuskan segala sesuatunya lewat jalan pikirannya, tapi selalu bertumpu kepada petunjuk rasa yang tinggi, petunjuk dari Gusti yang Maha Agung, Gusti Yang Maha Pengasih yang tak putus memberi kasih, yang tak putus memberi petunjuk.

    “Luar biasa anak muda ini”, berkata Ki Sandikala dalam hati yang telah menerapkan ajian teratai putihnya namun tidak juga ada tanda-tanda bahwa Mahesa Amping dapat terpengaruh atas ilmunya itu.

    “Ilmumu tidak berpengaruh apapun”, berkata Mahesa Amping sambil balas menyerang Ki Sandikala.

    “Jangan cepat puas diri, masih banyak yang belum kuungkapkan”, berkata Ki Sandikala kepada Mahesa Amping sambil meniup pada tangannya yang terbuka kearah Mahesa Amping.

    “Ajian Megananda !!”, berkata Empu Dangka dalam hati yang melihat langsung pertempuran itu.

    Ternyata apa yang dilihat oleh Empu Dangka memang benar, Ki Sandikala telah melepas ilmu simpanannya, sebuah ilmu yang bernama Ajian Megananda. Ilmu ini memang sangat keji sekali, karena dapat menidurkan lawan dalam seketika.

    Tapi ternyata Ki Sandikala salah langkah, lawannya bukan orang sembarang dan bukan orang biasa. Lawannya adalah Mahesa Amping yang mempunyai berbagai kekebalan yang telah tumbuh sebagai kekuatan yang kasat mata. Kekebalan didalam dirinya dengan dan tanpa perintah apapun akan selalu menolak apapun yang akan sekiranya membahayakan dirinya. Maka ajian Megananda seperti kalis begitu saja dihadapan Mahesa Amping. Ajian ilmu itu seperti tak beraksi apapun.

    Tapi Mahesa Amping bukan hanya dapat menawarkan serangan ilmu lawan yang tersembunyi, bahkan dapat mengembalikan serangan tersembunyi itu kepada tuannya.

    Senjata makan tuan !!!

    “Gila !!!”, berkata Ki Sandikala kepada dirinya sendiri yang tiba-tiba saja merasakan kantuk yang sangat.

    Maka seketika itu juga Ki Sandikala tidak lagi melepaskan ajian Meganandanya. Yang terlihat adalah seketika itu juga dirinya berlompat sekitar sepuluh langkah menjauh dari Mahesa Amping.

    • empat dari enam…
      matur suwun…………….

    • empat dari enam ???? qiqiqiqiqiqi (suaranya berubah jadi suara cewek, hehehehe)

    • Masih kurang dua lagi….hua….ha….ha….ha….

      Kamsiiiiaaaaaaaaaaaa………!!!!!

      • kurangnya sebentar lagi
        matur nuwun

  15. Terlihat Ki Sandikala masih menggenggam cakra ditangan kanannya, sementara itu tangan kirinya telah berada diatas dadanya membentuk tangan terbuka yang tengah menyembah.

    “Ajian Gelap Ngampar !!”, berkata Empu Dangka dalam hati dengan mata terperangah dengan perasaan mencekam penuh ketegangan.

    Belum habis Empu Dangka berucap, sebuah bola api berwarna biru menyala sebesar setengah kepal tangan tiba-tiba saja muncul didepan dada Ki Sandikala, dan seperti dilontarkan dengan tenaga yang kuat bola api itu melesat begitu cepatnya menyambar Mahesa Amping.

    Untungnya Mahesa Amping memang sudah berjaga-jaga, mengetahui bahwa Ki Sandikala akan mengeluarkan ilmu sampanannya.

    Terlihat Mahesa Amping sudah melenting tinggi, sebuah batu karang besar dibelakang Mahesa Amping langsung hancur berkeping-keping terkena sambaran ajian gelap ngampar yang dilontarkan oleh Ki Sandikala.

    Para prajurit yang melihat kejadian itu langsung lari menjauh, takut terkena sasaran ilmu Ki Sandikala yang sangat dahsyat itu. Beberapa orang terpaksa berlindung di balik batu karang besar sambil terus mengintip jalannya pertempuran yang sangat menggetarkan hati.

    Melihat lawannya berhasil luput dan dapat menghindar, seketika Ki Sandikala bermaksud menghentakkan serangannya kembali, namun secara tidak terduga, masih dalam keadaan melenting diudara ternyata Mahesa Amping telah melontarkan kekuatannya lewat sorot matanya.

    Sebuah cahaya biru menyala melesat tertuju kearah Ki Sandikala. Tapi ternyata Ki Sandikala juga dapat bergerak lebih cepat dari sambaran cahaya lewat sorot mata Mahesa Amping.

    Terlihat sebuah lobang tanah gosong terbakar sebasar kepala gajah menganga terbuka persis dibawah kaki tempat Ki Sandikala berpijak yang telah ditinggalkannya.

    Ternyata Ki Sandikala tidak hanya sekedar bergeser, dirinya sebelumnya sudah mempersiapkan sebuah hentakan ilmu dahsyatnya.

    Terlihat kembali sebuah bola api berwarna biru melesat kearah Mahesa Amping yang masih belum sempat turun menginjak bumi.

    Siapa yang dapat bergerak bila tubuh masih belum sempat menginjak bumi ?, tapi Mahesa Amping ternyata dapat melakukannya dengan cara menjatuhkan dirinya kesamping dan langsung berputar dua kali beberapa langkah.

    Bola api biru itu kembali menghantam sasaran kosong menghantam gerumbul semak daun yang langsung hangus terbakar.

    Mahesa Amping menyadari bahwa dirinya harus langsung membalas serangan lawan agar tidak menjadi bahan bulan-bulanan serangan lawannya.

    • lima dari enam !!!kekekekekk

      Kang Dalank_e masih seneng bertempur……..nambah satu jilid lagi ach………hehehehe

      • monggo ki
        kamsiiiaaa sekali

      • Ditungguuuu lanjutannya. Kamsiaaaa…..!!

  16. Maka sambil bergerak Mahesa Amping telah melontarkan sorot matanya langsung meluncur kearah Ki Sandikala. Namun seperti sebelumnya, Ki Sandikala dapat cepat berhindar.

    Demikianlah kedua orang berilmu tinggi itu telah saling menyerang dan balas menyerang. Tanah sekitar pertempuran sudah menjadi arang kerabang hancur porak poranda sebagaimana bumi tertinggal angin putih beliung menghamburkan apapun yang ada diatasnya.

    Sementara itu mentari diatas langit puncak bukit Karang Gajah sudah naik seperempat jalan hangat menerangi sejauh pandangan. Dan pertempuran antara Mahesa Amping dengan Ki Sandikala ikut semakin seru menegangkan seiring sinar matahari pagi yang semakin menghangat.

    Mahesa Amping mendapat sebuah firasat bahwa semakin matahari meninggi semakin kuat daya lontar ilmu Ki Sandikala.

    “Aku akan menutup sumber kekuatannya”, berkata Mahesa Amping dalam hati.

    Maka sambil melakukan serangan balasan melayani ilmu Ki Sandikala yang saling melontarkan sinar panas kemasing-masing lawan, bersama itu pula Mahesa Amping telah menerapkan kekuatan yang tersembunyi.

    Semula kabut tipis menyelimuti diri Mahesa Amping. Namun dalam waktu yang singkat kabut tipis itu telah menyebar menutupi seluruh tanah puncak Bukit Karang Gajah. Dan kabut tipis itu akhirnya menjadi begitu tebal menutupi pandangan mata.

    Batas pandang mata menjadi begitu terbatas, hanya sejauh dan sebatus tubuh. Semua orang yang berada diatas puncak Bukit Karang Gajah itu sudah tidak dapat melihat apapun karena terhalang kabut.
    Ki Bancak dan Arga Lanang yang bersembunyi dibalik bongkahan batu karang besar terlihat keluar untuk dapat melihat dengan jelas apa yang telah terjadi. Tapi pandangan mereka masih juga tidak melihat apapun. Kabut yang pekat telah menutup jarak pandang mereka.

    “Tuan Senapati ternyata manusia dewa, entah ilmu apa lagi yang ada didalam diri anak muda ini”, berkata Pendeta Gunakara dalam hati yang telah melihat kabut pekat menyelimuti seluruh pandangannya yang berasal dari kekuatan ilmu Mahesa Amping.

    Sementara itu Empu Dangka mempunyai pemikiran yang lain. “Mahesa Amping dapat saja menghentakkan ilmu cambuknya yang dapat memecahkan rongga dada lawannya, tapi itu tidak dilakukannya. Pasti ada yang diinginkan dari anak muda yang pengasih itu”, berkata Empu Dangka sambil terus memperhatikan jalannya pertempuran meski kabut telah menutup pandangan orang biasa, tapi tidak bagi ketajaman mata seorang Empu Dangka.

    Namun ketajaman mata Mahesa Amping yang terlatih dapat melihat jelas, Mahesa Amping juga dapat melihat jelas apa yang terjadi pada diri Ki Sandikala.

    Apa yang terjadi atas diri Ki Sandikala yang dilihat jelas oleh Mahesa Amping ?

    • apa yang terjadi dengan ki Sandikala?

      masih terengah-engah menyelesaikan rontal enam dari enam ini
      menyusutkan gelora ilhamnya dan perlahan-lahan berdiri menuju tempat tidurnya.

      he he he …..
      selamat malam

    • enam dari enam ???? (penontonnya kok pada bubar ???)hua ha ha ha ha ha haaaaaaa

      siap-siap ke panggung anyer….kwekkekekekekekek

      • tidak bubar Ki
        Masih anteng ditempat
        matur nuwun

  17. Bayi Gajah Mada sdh hebat dr kecil. Diperebutkan dr siang sp tengah mlm tetap segar.😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: