KDNP-01

<< kembali | lanjut >>

KDNP

Iklan

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 8 November 2013 at 21:47  Comments (111)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/kdnp-01/trackback/

RSS feed for comments on this post.

111 KomentarTinggalkan komentar

  1. Maka tidak lama berselang sudah tercium harum wangi daging burung puyuh bakar yang sangat mengoda selera.

    “Kalian masing-masing dapat dua bagian, sementara aku sendiri cukup satu ekor”, berkata Andini yang telah menempatkan tujuh ekor burung puyuh panggang diatas sebuah pelepah daun pisang.

    “Pandai sekali kamu memasak”, berkata Putu Risang sambil mengunyah daging burung puyuh.

    “Nama masakan ini adalah burung dewa bumbu merah”, berkata Andini yang juga telah menikmati daging burung puyuh bakar masakannya itu.

    “Nama yang indah untuk sebuah masakan”, berkata Pangeran Jayanagara memuji.

    “Ada tiga unsur yang membuat sebuah masakan menjadi nikmat, dimulai dari nama, tempat dan rasa. Nama yang indah membuat telingan kita tergoda. Tempat dan bagaimana kita menyajikannya sudah mengundang mata tergoda. Terakhir bumbu sebagai penyedap selera akan menggoda lidah untuk merindukannya”, berkata Andini sambil tersenyum tidak merasa sungkan lagi.

    “Ada tertinggal satu unsur lagi, menyajikannya dengan senyum”, berkata pangeran Jayanagara.

    “Benar, aku setuju dengan unsur keempat itu”, berkata gajahmada yang ditingkahi tawa semua yang ada disitu, juga Andini meski tidak tertawa lepas hanya sedikit tersenyum mendengar canda mereka.

    Andini diam-diam menilai ketiga lelaki yang bersamanya itu adalah orang-orang yang sopan. Tidak seperti kebanyakan lelaki yang sering dilihatnya sangat menjemukan, terutama mata mereka. Diperkenalan yang singkat dalam perjalanan itu Andini sudah tidak canggung lagi bersama mereka.

    “mari kita lanjutkan perjalanan kita”, berkata putu Risang
    Maka terlihat mereka berempat sudah berada diatas punggung kuda masing-masing tengah menuruni hutan perbukitan hijau itu.

    “Rawa Rontek tidak begitu jauh lagi”, berkata Andini diatas kudanya ketika mereka telah berada di kaki perbukitan itu.

    Terlihat mereka telah berjalan kearah barat dari perbukitan itu.
    Sementara matahari terlihat sudah bergeser ke barat di lengkung langit biru semakin turun seperti menghadang perjalanan mereka.

    “Inikah rawa rontek ?”, bertanya gajahmada kepada Andini ketika dihadapan mereka terbentang sebuah rawa yang cukup luas.

    “Ditengah pulau kecil itulah kediaman Paman Bango Samparan”, berkata Andini sambil menunjuk sebuah gundukan hijau ditengah rawa.

    “Kita perlu sebuah rakit untuk sampai ke tanah hijau itu”, berkata pangeran Jayanagara

    “Kita hanya perlu membuat asap dengan api unggun”, berkata Andini sambil meloncat dari punggung kudanya.

    • woww…masuk di gandok anyer, masih legaaa…..he he he

    • Alhamdulillah msih ada ransum untuk buka, suwun Ki

    • Sebenarnya masih ada satu unsur lagi yang sangat menentukan kelezatan makanan : saat perut kelaparan, seperti mas Risang yang belum ada juru masak khusus..

      • betul, betul betullll, he he he

      • Ki BP tahu aja

        ada tu…, si bibi, he he he ….

  2. Terlihat Andini telah mengumpulkan beberapa rumput dan daun kering disekitar mereka. Tanpa bertanya apa yang dilakukan oleh Andini dengan rumput dan daun-daun kering itu, Gajahmada ikut mengumpulkan rumput dan daun kering sebagaimana dilakukan oleh Andini.

    “Kubantu untuk menyalakannya”, berkata Pangeran Jayanagara sambil mengeluarkan batu api miliknya.
    Maka dalam waktu yang singkat telah terlihat sebuah api unggun di pinggir rawa yang cukup luas itu.

    Ternyata Andini hanya ingin membuat isyarat dengan asap yang telah terbentuk mengerucut keatas seperti sebuah gunung api. Demikianlah Andini menjaga api unggun itu terus menyala sambil matanya terkadang menatap jauh ke tanah hijau di tengah rawa Rontek.

    “Mereka sudah melihat pesan kita”, berkata Andini yang melihat sebuah rakit bambu telah bergerak dari tanah hijau diseberang sana.
    Mendengar perkataan Andini, Putu Risang, Pangeran Jayanagara dan Gajahmada telah melayangkan pandangannya kearah sebuah rakit bambu yang telah meluncur diatas air rawa yang sangat bening namun nampaknya sangat dalam itu.

    Ternyata rakit bambu itu memang telah meluncur mendekati mereka. Terlihat dari jauh seorang berada diatasnya tengah mengayuh.

    “Majikan kami telah melihat pesan kalian, silahkan naik keatas rakit”, bekata seorang lelaki dari atas rakit setelah merapatkannya di bibir rawa.

    “Mari kita naik keatas rakit”, berkata Andini.

    Maka terlihat mereka langsung naik ke atas rakit setelah menambatkan tali-tali kuda mereka di sebuah dahan kayu sebuah pohon di pinggir rawa.

    “Apakah kita pernah bertemu ?”, bertanya lelaki itu kepada Putu Risang.

    “Kita pernah bertemu”, berkata Andini seperti mewakili Putu Risang.

    “Benar, wajah jelitamu tidak akan pernah kulupakan. Seingatku kalian berdua bersama Ayahmu ?”, berkata lelaki yang sudah terlihat tua itu kepada Andini.

    “Daya ingat pak tua masih hebat, aku memang pernah berdua ayahku menemui Paman Bango Samparan”, berkata Andini kepada orang tua itu.

    Sementara itu rakit bambu sudah bergerak menjauhi bibir tanah rawa. Dengan sebuah galah panjang orang tua itu telah mendorong rakit bambu itu semakin mendekat tanah hijau yang berada di tengah rawa Rontek.

    Akhirnya mereka telah mendekati tanah hijau itu. Mereka sudah mulai dapat melihat sebuah bangunan besar terbuat dari bambu. Sebuah rumah panggung.

    “Majikan kami telah menunggu kalian”, berkata orang tua itu ketika telah merapatkan rakit bambunya di sebuah dermaga kayu di tanah hijau itu.

  3. Terlihat mereka berempat beriringan menuju rumah panggung yang berada ditengah rawa itu. Sebuah pulau kecil ditengah rawa yang sangat subur dan cukup luas.

    “naiklah keatas”, berkata seorang lelaki dari atas panggungan rumah itu.

    Maka merekapun segera naik ketas tangga menuju panggungan.

    “kamu tidak datang bersama ayahmu ?”, berkata lelaki itu sepertinya sudah sangat mengenal Andini.

    “Ceritanya panjang Paman”, berkata Andini sambil memperkenalkan Putu Risang, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara kepada lelaki itu yang ternyata adalah bernama Bango Samparan.

    “Aku tidak sabar lagi untuk mendengar ceritamu, juga kepentinganmu yang datang dari tempat yang sangat jauh. Pasti ada sebuah hal penting yang membawa kehadiran dirimu disini”, berkata bango Samparan, seorang lelaki yang sudah berumur sekitar lima puluhan, namun masih terlihat sangat kekar dan sangat tampan meski sudah terlihat beberapa kerut di wajahnya serta sebagian rambutnya sudah mulai berwarna putih.

    “Ayahku telah terbunuh beberapa bulan yang lalu”, berkata Andini memulai ceritanya yang didengar oleh Bango Samparan sangat mengejutkan hatinya.

    “Ayahmu terbunuh ?”, berkata Bango Samparan dengan wajah terkejut.

    “Benar Paman, ada beberapa orang tidak dikenal telah datang membunuh ayahku”, berkata Andini yang langsung bercerita semua yang dilihatnya dalam peristiwa kematian ayahnya.”Aku bersama bibi Randu Abang telah mencoba menyusuri siapa sebenarnya orang-orang tidak dikenal itu. Saat ini baru terungkap bahwa kematian ayahku tersangkut dengan sebuah perampokan hilangnya Pusaka istana Pasundan, Kujang Pangeran Muncang. Aku yakin sekali bahwa ayahku bukan seorang perampok yang hina. Pasti ada sebuah hal lain yang telah menyeret ayahku kedalam peristiwa perampokan itu. Itulah sebabnya aku datang ke tempat Paman Bango Samparan yang mungkin mengetahui lebih banyak tentang peristiwa perampokan itu, lebih banyak lagi karena Paman adalah sahabat ayahku. Beberapa orang cantrik telah mencirikan seseorang bersama ayahku yang dapat kupastikan adalah paman sendiri. Berceritalah demi diriku wahai paman, agar peristiwa ini menjadi lurus, agar peristiwa ini dapat mengembalikan nama baik ayahku juga nama baik Paman yang kuyakini pasti bukan dua orang perampok hina sebagaimana pandangan mereka saat ini”, berkata dan bercerita Andini dengan air mata yang tidak mampu di tahan lagi. Nampaknya peristiwa terbunuhnya ayahnya dan juga berita tentang sebuah perampokan telah melukai hatinya.

    Terlihat Bango Samparan seperti termenung, lama sekali Bango Samparan berdiam seorang diri. Sementara Putu Risang, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara hanya terdiam seperti tengah menunggu dengan sabar apapun yang dikatakan oleh Bango Samparan.

    “Mereka ternyata telah mengingkari janjinya”, berkata Bago Samparan setelah lama berdiam diri.

    “Paman Bango Samparan ikut bersama ayahku dalam peristiwa perampokan itu ?”, bertanya Andini seperti ingin meyakini semua perkiraannya tentang dua orang perampok berilmu tinggi sebagaimana yang pernah diceritakan oleh Prabu Guru Darmasiksa.

    “Benar, kamilah dua orang perampok barang pusaka itu”, berkata Bango Samparan perlahan.

  4. Mendengar pengakuan bango Samparan semua yang berada diatas panggunan seperti tersentak, tapi mereka masih menunggu perkataan yang lain dari orang tua yang terlihat penuh kharismatik itu.

    “Mudah-mudahan kalian dapat mempercayai ceritaku ini”, berkata bango Samparan perlahan sambil memandang wajah semua tamunya itu.

    Dan perlahan bango Samparan bercerita bahwa sekitar lima bulan yang lewat ayah Andini telah mendatanginya memintanya membantu sebuah perampokan. Ayah Andini yang bernama Rakajaya itu ternyata tengah menghadapi sebuah ancaman sekelompok orang yang telah menekannya akan membunuh putri tunggalnya bilamana tidak mengikuti perintah mereka.

    “Kami berada dibelakang perampokan itu hanya untuk melindungimu dari ancaman mereka”, berkata Bango Samparan mengahkiri ceritanya.

    “Terakhir ketika pulang kerumah, ayahku hanya membawa sebuah rontal. Apakah Paman mengetahui tentang benda pusaka Kujang pangeran Muncang ?”, bertanya Andini kepada Bango Samparan.

    “Rakajaya adalah sahabatku, aku hanya membantunya pada saat itu. Apapun yang telah dibawa olehnya aku memang tidak begitu peduli. Namun setahuku ayahmu membawa pulang dua benda yang tersimpan didalam sebuah kotak hitam. Sebuah Rontal dan sebuah senjata Kujang”, berkata bango Samparan sambil mengerutkan keningnya bertanya dalam hati mengapa senjata Kujang tidak lagi berada di kotak hitam itu. “Kuingat ayahmu berkata bahwa kedua barang itu adalah sebagai pengganti pembebasan ancaman mereka”, berkata kembali bango Samparan.

    “Apakah Ayahku pernah bercerita siapakah sebenarnya orang-orang yang mengancamnya ?”, bertanya Andini dengan penuh rasa penasaran.

    “Ayahmu memang bercerita tentang orang-orang yang mengancamnya itu, mereka menurut pangakuan ayahmu adalah orang penting dari Kediri dan dari istana Kawali sendiri”, berkata Bango Samparan sambil memandang keempat tamunya seperti ragu untuk menyebut sebuah nama.”Ayahmu tidak begitu kenal dengan orang penting dari Kediri.

    Tapi mengenal orang penting dari dalam istana Kawali”, berkata bango Samparan melanjutkan.

    “Orang penting dari istana Kawali ?”, berkata Putu Risang tanpa sadar mengulang kembali perkataan bango Sampara.

    “Orang penting dari istana Kawali itu adalah Patih Anggara”, berkata Bango Samparan tanpa ragu lagi menyebut sebuah nama. “Ayahmu telah mengikuti perintah mereka. Tapi mengapa mereka harus membunuh ayahmu ?”, berkata bango Samparan sambil memicingkan kedua matanya mewakili kegeraman dan amarah yang bergejolak didalam dirinya.

    “Terima kasih telah menyingkap beberapa tabir penuh rahasia ini. Setidaknya keyakinanku bahwa ayahku bukanlah seorang perampok hina sudah dapat dibuktikan”, berkata Andini kepada bango Samparan.

    “Ada satu rahasia lagi yang berkaitan dengan dirimu sendiri, Andini”, berkata Bango Samparan dengan pandangan begitu tajam seperti langsung masuk kelubuk hati yang terdalam dari Andini dihadapanya.

  5. “Sebuah rahasia tentang diriku ?”, berkata Andini penuh ketidak mengertian.

    “Benar, sebuah rahasia tentang dirimu sendiri”, berkata bango Samparan perlahan.

    “Apakah kami bertiga tidak mengganggu ?”, bertanya Putu Risang merasa tidak enak hati mendengar sebuah rahasia antara bango Samparan dan pribadi Andini sendiri.

    “Tidak apa kalian ikut mendengar”, berkata bango Samparan sebagai arti kehadiran mereka bertiga tidak mengganggu pembicaraan tentang rahasia Andini.

    Perlahan Bango Samparan bercerita, dimulai dari pengembaraan mereka berdua dengan Rakajaya kesebuah ujung paling barat Jawadwipa, sebuah daerah kerajaan Rakata. Tidak di rencanakan sebelumnya bahwa mereka akan berkenalan dengan seorang putri Raja bernama Dewi Kaswari. Dari perkenalan itu meningkat kepada rasa saling menyukai dan saling menyintai antara bango Samparan dan putri itu. Karena pihak keluarga istana Rakata tidak menyukai hubungan itu, mereka berdua telah menikah secara diam-diam. Dari pernikahan itu sang putri telah mengandung. Kehamilan itu tidak diketahui siapapun. Hinga ketika saat melahirkan mereka berdua telah pergi kesebuah tempat tersembunyi hingga akhirnya sang putri harus kembali ke istana. Tinggallah Bango Samparan dengan bayi mungilnya.

    “Semula aku berniat akan membesarkan sendiri putriku itu, namun ketika kami pulang pihak keluargaku sudah memilih seorang istri untukku. Demi untuk tidak membuat susah keluargaku, anakku yang masih bayi itu telah kuserahkan sendiri kepada sahabatku Rakajaya”, berkata Bango Samparan mengahiri ceritanya sambil memandang tajam kearah Andini.

    “Apakah bayi yang dibesarkan oleh ayahku selama ini adalah aku sendiri ?”, bertanya Andini mencoba menebak hubungan cerita itu dengan dirinya.

    “Benar, bayi mungil yang kuserahkan kepada Rakajaya sahabatku itu adalah dirimu”, berkata bango Samparan.”Aku ini adalah ayahmu”, berkata Bango Samparan sambil memandang Andini penuh cinta kasih seorang ayah kepada anaknya.

    Terlihat Andini seperti tidak lagi dapat menguasai dirinya sendiri, maju beberapa langkah dan menangis di atas lutut dan paha orang tua itu.

    Dengan penuh kehalusan Bango Samparan mengusap rambut Andini yang masih menangis di atas lutut dan pahanya.

    “Sudah begitu lama aku ingin memelukmu disaat kamu bersama Rakajaya datang menemuiku”, berkata Bango Samparan seperti telah menemukan kembali putrinya yang sangat dirindukannya itu.

    Setelah dapat menguasai perasaan hatinya, terlihat Andini bergeser dan menengadahkan wajahnya menatap Bango Samparan, ayahnya yang sebenarnya itu.

    “Pantas selama ini ayahku tidak pernah menjawab pertanyaanku mengenai ibuku, siapa dan dimanakah dirinya saat ini, masih hidup atau sudah tiada”, berkata Andini kepada bango Samparan.

    Putu Risang, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara seperti terharu melihat pertemuan antara seorang ayah dengan putrinya itu. Sebuah rahasia yang tersimpan begitu lama telah terbuka hari itu.

  6. ciatttttttttt…..siapakah patih Anggara sebenarnya ???, he he he udah ada di dalam benak ini, salah seorang bangsawan kerajaan Rakata suami Dewi Kaswari ibunda Andini sendiri, qiqiqiqiqqqq, tenang aja, semua bakal kita ungkapkan satu persatu, eng ing eng……..sebuah persekongkolan jahat akhirnya dapat di bongkar sampai keakar-akarnya, ha ha ha ha ha (tertawa keras bergema terdengar dari segala penjuru dan akhirnya perlahan menghilang seperti ditelan bumi, sepi)

    • he he he …, eng ing eng …..
      jebret jebret jebret …, masukk deh ke bangsal pusaka

    • ……..sebuah persekongkolan jahat akhirnya dapat di bongkar sampai keakar-akarnya, ha ha ha ha ha
      alhamdullah, sarapan pagi sampun telas.

  7. Langit malam diatas rawa Rontek begitu indah dipenuhi gemerlap bintang bertaburan memenuhi langit purba. Tebaran cahaya bulan purnama menerangi permukaan air rawa seperti lautan tenang ditumbuhi teratai yang tengah mekar berbunga.

    Indah terdengar petikan suara kecapi terbawa angin semilir berasal dari sebuah panggungan.

    “Aku begitu iri kepada Rakajaya sahabatku yang begitu ahli memainkan sebuah kecapi. Ternyata telah menurunkannya kepadamu, Andini”, berkata Bango Samparan kepada Andini yang baru saja menyelesaikan sebuah tembang indah dengan petikan kecapinya diatas panggungan.

    “Tembang Hina kelana memang sangat indah didengar dimalam sepi”, berkata Gajahmada yang sangat mengenal tembang yang baru saja didengarnya lewat petikan kecapi milik Andini.

    “Tembang hina kelana ini sudah menempel di benakku”, berkata Andini.

    “Aslinya tembang hina kelana dipadukan antara petikan kecapi dan tiupan seruling”, berkata Gajahmada yang tahu betul asal dan muasal cerita tentang gubahan tembang itu yang tidak lain adalah gubahan bersama antara Prabu Guru Darmasiksa dan sang Begawan Jayakatwang.

    “Iringilah suara kecapiku dengan serulingmu”, berkata Andini kepada Gajahmada.

    Maka di atas panggungan itu terdengar kembali suara petikan kecapi yang dipetik dengan penuh perasaan hati seorang Andini. Dan suara petikan kecapi itu telah diiringi oleh suara seruling bambu menjadi begitu sempurna mengisi kesunyian malam.

    Suara tembang hina kelana seperti suara alam membawa pendengarnya mengembara memasuki hutan bening pagi dipenuhi kicau burung dan gemericik air disela-sela tanah basah.

    Petikan kecapi dan seruling itu masih terus berlanjut, kali ini dengan nada-nada menghentak-hentak membawa jiwa pendengarnya berada dalam sebuah bala prajurit penuh semangat menuju medan peperangan mereka.

    Petikan dan suara seruling itu masih berlanjut, kali ini melengking penuh kepiluan hati dalam ratap tangis kehilangan saudara, kerabat dan kekasih dalam sebuah peperangan tak berkesudahan.

    Akhirnya suara tembang lewat petikan kecapi dan seruling itu berubah naik turun seperti gejolak seorang gadis belia jatuh cinta menunggu sang pujaan hati dibawah malam temaram purnama.

    “Sebuah perpaduan suara yang sangat indah yang baru pertama kali ini kudengar”, berkata Bango Samparan merasa terhibur jiwanya mendengar sebuah perpaduan kecapi dan suara seruling.

    “Petikan kecapiku pasti tidak semahir pencipta tembang ini, Prabu Guru Darmasiksa”, berkata Andini merendahkan dirinya sendiri.

    “Aku juga tidak semahir begawan Jayakatwang dalam permainan serulingnya”, berkata Gajahmada.

    “Tapi kalian telah mengabadikan cipta karya mereka lewat petikan kecapi dan seruling kalian”, berkata Putu Risang ikut bicara dengan kejujuran hatinya sendiri.

    Sementara itu Pangeran Jayanagara terlihat hanya berdiam diri. Ada apa dengannya ?

  8. Untung saja keremangan cahaya malam telah menyamarkan air muka Pangeran Jayanagara yang terlihat sedikit keruh. Diam-diam anak muda itu telah memendam rasa iri melihat kedekatan antara Gajahmada dan Andini. Diam-diam anak muda itu ternyata telah menaruh hati pada gadis jelita itu.

    “Hari telah jauh malam, kalian pasti sudah begitu lelah setelah berjalan cukup jauh”, berkata bango Samparan mempersilahkan tamunya untuk beristirahat.

    Demikianlah, malam itu semua sudah masuk kebiliknya masing-masing untuk beristirahat.

    Tapi Pangeran jayanagara tidak dapat memejamkan matanya. Hati dan pikirannya selalu tertuju kepada Andini. Wajah dan pesona gadis itu ketika memetik kecapi telah menghiasi seluruh sisi pikiran anak muda itu yang telah terperangkap dalam jerat asmara mudanya. Pangeran Jayanagara memang telah jatuh hati kepada gadis itu, seorang gadis yang telah dikaruniai kesempurnaan rupa bagai dewi dalam pahatan indah para seniman pengukir di batu penghias candi suci.

    Sementara itu dibilik lainnya, sebagaimana Pangeran Jayanagara, gadis Andini juga tidak dapat segera memejamkan matanya. Gadis jelita itu sebagaimana pangeran jayanagara, juga telah jatuh cinta. Sayang mereka terpisah jarak dalam peraduan berbeda, dalam cinta yang berbeda. Hati dan perasaan Andini masih terbawa suasana malam diatas panggungan, suasana ketika matanya memandang sebuah wajah begitu menjiwai suara serulingnya. Gadis Andini ternyata telah terjerat sebuah asmara mudanya. Terpesona dalam biru cinta kerinduan seorang pemuda Gajahmada sang peniup seruling itu. Diperaduannya Andini sambil memejamkan mata mencoba mengulang kembali tembang kenangan Hina kelana bersama Gajahmada pemikat hatinya itu, jauh hingga malam yang terus berlalu, jauh kedalam tidur dan mimpinya.

    Dan sang malam diatas kediaman Bango Samparan terlihat begitu tenang menyelimuti dengan kegelapan dan kesunyiannya. Membawa semua penghuni diatas peraduannya tertidur sendiri dengan mimpi masing-masing. Seperti garis hidup, kuasa dan keinginan siapa untuk memilih sebuah mimpi. Seperti garis hidup, ada mimpi buruk ada mimpi menyenangkan. Tapi apalah arti sebuah mimpi ketika pikiran dan hati kita tidak punya kekuasaan untuk memilihnya.

    Hingga akhirnya sang pagi telah datang diatas rumah panggung Bango Samparan di tengah Rawa Rontek itu.

    Warna pagi memang begitu putih membuka wajah-wajah. Tapi tidak mampu membuka pikiran hati yang tersembunyi. Dan pagi itu Pangeran Jayanagara juga Andini telah menutup rapat suara hatinya sendiri, jauh dilubuk hati yang paling tersembunyi.

    “Sebaiknya kamu tinggal bersamaku, dirumah ayahmu sendiri”, berkata Bango Samparan kepada Andini di pagi itu.

    “Terima kasih, aku memang sudah sebatang kara. Aku akan belajar mengenal dan mencintai ayah kandungku sendiri”, berkata Andini penuh kebahagiaan disaat dirundung duka dengan kematian Rakajaya yang begitu dicintai sebagaimana seorang anak kepada ayahnya, kini telah mendapatkan seorang pengganti, ayah kandungnya sendiri.

    Demikianlah, Andini telah memutuskan diri untuk tinggal bersama ayah kandungnya sendiri, tinggal bersama Bango Samparan majikan tanah hijau Rawa Rontek.

    • hup…!!!!
      baru datang
      matur suwun

      • dan…

        jebret……

        rupanya empat rontal lagi gandok KDNP-01 sudah bisa ditutup

        monggo Pak Dhalang.

      • Alhamdulillah sampun telas Ki, sambil nnggu jatah makan siang.

  9. baru tiga rontal, tanggung…..pulang kerja dech dilanjutken, hehehe

  10. “Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian”, berkata Bango samparan kepada Putu Risang dan kedua muridnya yang sudah berada diatas rakit bambu.

    Terlihat Andini ikut melambaikan tangannya bersama Bango Samparan ketika rakit bambu itu telah bergerak meluncur menyeberangi Rawa Rontek yang cukup luas itu.

    “Terima kasih Pak Tua, semoga kita dapat berjumpa kembali”, berkata Putu Risang kepada seorang pelayan yang mengantar mereka bertiga sampai ditepian Rawa Rontek.

    “Kita kelebihan satu ekor kuda”, berkata Gajahmada sambil membuka tali kekang kuda yang diikat disebuah dahan pohon.

    “Bisa dikecilkan di pasar Padukuhan tempat kita bermalam”, berkata Putu Risang sambil tersenyum.

    “Prabu Guru Darmasiksa tidak akan marah, kita katakan bahwa yang menjual adalah cucu buyutnya sendiri”, berkata Gajahmada sambil melirik kearah Pangeran Jayanagara.

    Terlihat Pangeran Jayanagara sedikit tersenyum, rupanya kelakar Gajahmada hanya sebuah pancingan untuk menghibur hati anak muda itu yang dapat dibaca oleh Gajahmada sebagai sebuah sikap yang sangat berbeda dari yang dikenal sebelumnya. Pada dasarnya Pangeran jayanagara memang seorang yang periang. Namun pergolakan jiwanya yang tengah mabuk asmara oleh kecantikan Andini telah merubah penampilan dirinya, berubah menjadi seorang pemurung. Dan Gajahmada sebagai kawan dekatnya itu sedikit banyak sudah dapat membaca, apa yang terjadi didalam diri sahabatnya itu.

    Demikianlah, mereka berempat sudah semakin jauh dari Rawa Rontek.
    Dan Gajahmada sudah dapat melihat kembali sifat asli sahabatnya itu. Ternyata hati Pangeran Jayanagara sudah dapat terkendali kembali, wajah Andini seperti semakin pudar dalam bayangan dan pikirannya.

    Hingga akhirnya mereka disiang hari itu sudah sampai di padukuhan tempat kemarin malam mereka menginap di banjar desanya.

    “Kita cari kedai di pasar Padukuhan”, berkata Putu Risang ketika mereka sudah berada di jalan padukuhan mencoba mencari arah pasar Padukuhan.

    Ternyata nasib mereka cukup baik, hari itu adalah hari pasaran. Dan mereka telah melihat sebuah kedai sederhana di ujung pasar yang masih cukup ramai meski hari sudah cukup siang.

    “Nasib kuda ini masih cukup baik, tidak perlu dijual untuk membeli makanan dikedai”, berkata Gajahmada sambil menepuk-nepuk badan kuda yang selama diperjalanan tidak pernah ditunggangi itu.

    “Ikatlah kencang-kencang, siapa tahu ada seorang begundal yang tergoda untuk memilikinya”, berkata Putu Risang menimpali canda Gajahmada.

    Pangeran Jayanagara sudah dapat terlihat wajah aslinya, tersenyum lepas mendengar canda Gajahmada dan Putu Risang tentang kuda itu.

  11. Siang itu mereka beristirahat di kedai itu. Didepan kedai masih banyak terlihat orang berlalu lalang kerena hari itu memang hari pasaran dan panen raya yang cukup menggembirakan hasilnya di Padukuhan itu.

    Beberapa wanita dengan wajah penuh suka cita terlihat tengah menjunjung bakul mereka diatas kepala diikuti anak-anak kecil yang terseret-seret memegang ujung kain ibunya. Kadang ada beberapa anak kecil yang merengek sambil menunjuk jajanan putu mayang.

    “Terima kasih telah menjaga kuda-kuda kami”, berkata Putu Risang sambil memberi sedikit upah kepada seorang lelaki yang menjaga kuda-kuda mereka.

    Demikianlah, mereka bertiga terlihat sudah meninggalkan pasar yang ramai itu untuk melanjutkan kembali perjalanan mereka.

    Perbukitan hayangan seperti raksasa hijau terlihat menghadang didepan perjalanan mereka.

    Ketika telah berada di kaki bukit Hayangan, mereka mengambil arah berbalik dari saat mereka datang, mereka mengambil arah keselatan melingkari perbukitan Hayangan.

    “Apakah kalian masih ingat letak dua buah goa kembar”, bertanya Putu Risang kepada kedua muridnya sambil mengingat-ingat kembali letak goa kembar yang pernah mereka lihat ketika kemarin hari berjalan di bawah kaki perbukitan Hayangan menuju Rawa Rontek.

    “Kita belum melewatinya”, berkata Gajahmada yang merasa yakin bahwa mereka memang belum melewatinya.

    Jalan yang mereka tempuh adalah sebuah jalan setapak yang sangat sepi dan teduh. Sepertinya jalan itu sangat jarang dilalui oleh orang-orang kecuali para pemburu atau orang yang kebetulan dan terpaksa mencari beberapa tumbuhan obat yang hanya ada disekitar perbukitan Hayangan itu.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Gajahmada bahwa mereka memang belum melewati dua buah goa kembar.

    “Kita berhenti disini”, berkata Putu Risang ketika dilihatnya goa kembar yang sedang dicarinya itu.

    Tanpa bertanya apapun, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara telah menghentikan kudanya mengikuti perintah gurunya itu.

    “Mari kita periksa keadaan goa kembar itu”, berkata Putu Risang kepada kedua orang muridnya itu.

    Maka mereka bertiga terlihat sudah mendekati goa kembar itu yang berada di bawah kaki perbukitan Hayangan.

    Ada beberapa semak dan ilalang yang tumbuh didepan kedua goa itu.

    Terlihat mereka sudah memasuki salah satu dari goa kembar itu.
    Ketika berada didalam salah satu goa, mereka mendapatkan bahwa goa itu tidak terlalu dalam dan buntu. Dinding goa itu hanya setinggi orang biasa berupa sebuah lorong sempit.

    “Kita memeriksa goa satu lagi”, berkata Putu Risang yang sudah berjalan keluar goa diikuti kedua muridnya itu.

  12. Mereka bertiga terlihat sudah keluar dari dalam goa dan masuk ke dalam goa yang satunya lagi.

    “Betul-betul sebuah goa kembar”, berkata Gajahmada yang sudah melihat keadaan goa itu sama dengan goa disebelahnya, sebuah goa buntu yang tidak begitu lebar hanya sebuah lorong yang pendek.

    “Kita perlu waktu sepekan untuk tinggal disini”, berkata Putu Risang setelah mereka sudah berada di luar goa kembar.

    “Sepekan tinggal disini ?”, bertanya Pangeran jayanagara kepada Putu Risang.

    “Aku akan meningkatkan tataran ilmu kalian. Selama ini kalian hanya mengenal dan melatih tenaga wadag. Saatnya kuperkenalkan sebuah tenaga cadangan yang dapat dilatih, dipupuk dan dikendalikan lewat sebuah latihan pernapasan rahasia”, berkata putu Risang kepada kedua muridnya itu.”Tenaga cadangan ini adalah hawa murni yang dimiliki oleh semua orang, tapi tidak semua orang dapat menghimpun dan mengendalikannya’, berkata kembali Putu Risang.

    Dengan sangat penuh perhatian, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara mendengar penuturan Putu Risang untuk beberapa hal yang harus mereka siapkan dan perhatikan dalam berlatih olah diri.

    “Masuklah kalian kedalam goa itu, satu orang untuk satu goa. Aku akan menemui kalian dan menjaga diluar goa ini”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara.

    Maka terlihat Gajahmada dan Pangeran telah masuk ke dalam goa sesuai dengan pilihan mereka sendiri. Pangeran Jayanagara terlihat sudah memasuki goa yang berada disebelah kanan mereka, menyusul Gajahmada masuk kedalam goa satunya lagi.

    Tidak lama kemudian, Putu Risang sudah menemui mereka satu persatu didalam goa mereka.

    Ternyata Putu Risang telah memberikan mereka sebuah ilmu yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dua buah ilmu rahasia dari dua cabang perguruan yang berbeda.

    Kepada Pangeran Jayanagara, Putu Risang telah mewariskannya sebuah ilmu olah diri dari jalur perguruan Mahesa Amping.

    Sementara kepada Gajahmada, Putu Risang telah mewariskannya sebuah ilmu pusaka pertapa Gunung Wilis.

    Keputusan itu sudah diperhitungkan dengan masak-masak oleh Putu Risang, tidak ada pikiran membeda-bedakan satu dengan yang lainnya, hanya sebuah upaya melestarikan kedua ilmu rahasia dari dua perguruan yang sama-sama sangat luar biasa. Dan kedua muridnya itu berhak untuk memiliki salah satunya di jalurnya masing-masing.

    Beruntunglah, kedua muridnya itu mau mengerti dan menerima keputusan dari Putu Risang. Menurut mereka berdua, keputusan Putu Risang adalah hak mutlak seorang guru.

    Demikianlah, di goa yang berbeda, Putu Risang telah memberikan dasar-dasar pengertian ilmu olah diri yang berbeda kepada kedua orang muridnya itu.

    Dan Putu Risang memang mendapatkan dua orang murid yang sangat cerdas dan berbakat.

  13. Hari pertama, Putu Risang dapat melihat bahwa Pangeran Jayanagara dan Gajahmada telah dapat melakoni semua yang diajarkan oleh mereka dengan baik.

    Sementara kedua muridnya berlatih olah diri di dalam goa, Putu Risang dengan penuh ketelatenan seorang Guru telah menyiapkan persediaan makan dan minum kedua muridnya itu.
    Pada hari kedua, dilihatnya kedua muridnya di dalam goa masing-masing telah mulai terbiasa dengan laku yang telah diajarkan olehnya.

    Tidak segan-segan mereka bertanya tentang beberapa hal berkenan dengan laku mereka disaat beristirahat sejenak. Dan Putu Risang dengan penuh kegamblangan menerangkan semua pertanyaan mereka.

    Demikianlah, pada hari ketiga mereka sudah dapat menghayati seluruh laku itu. Selama itu pula mereka tidak pernah keluar dari goa masing-masing. Untuk kesediaan hidup mereka, Putu Risang telah menyediakan untuk mereka.

    Dan pada hari keempat, Putu Risang hanya menengok mereka diwaktu matahari terbit bergeser sedikit untuk beristirahat sejenak.
    Pada hari keenam, manakala Putu Risang datang menjenguk Pangeran Jayanagara, dilihatnya putra Mahkota Majapahit itu sudah dapat mengendalikan wadagnya, menguasai keseimbangan lahir bathinnya.

    Bukan main kagetnya Pangeran Jayanagara ketika membuka matanya perlahan, dilihatnya dirinya telah mengapung sejengkal dari lantai.

    “Hawa murni yang mengalir keseluruh tubuhmu telah melepas berat wadagmu sendiri. Dengan berlatih terus menerus akan memupuk hawa murnimu lebih kuat lagi. Tergantung bagaimana kamu mengendalikannya. Kamu dapat begitu ringan seperti sebuah kapas melesat dan melompat sesesuai jangkauan dan kecepatan yang kamu inginkan. Dengan pengendalian dan penyaluran hawa murni yang tepat akan menjadi sebuah tenaga cadangan diluar wadagmu yang lebih kuat berlapis lapis sesuai bagaimana ketekunanmu memupuknya dari hari kehari”, berkata Putu Risang menjelaskan tentang hawa murni yang mulai dapat dikenali dan dirasakan oleh Pangeran Jayanagara.

    Sementara ketika Putu Risang tengah menengok Gajahmada di dalam goanya, terperanjatlah Putu Risang dengan apa yang dilihatnya.

    Dalam penglihatan Putu Risang, Gajahmada telah menikmati lakunya sendiri ketika berdiri, rukuk, sujud dan duduk diantara dua sujud.

    Bukan hanya itu yang dilihat oleh Putu Risang.

    Sebagai seorang yang sudah dapat mencapai tarap tingkat tinggi dalam tataran ilmu saktinya, Putu Risang telah melihat diluar kasat mata wadagnya bahwa ada sebuah cahaya biru menyelimuti tubuh anak muda itu.

    “Sebuah hawa sakti tak terlihat kasat mata telah melindungi tubuh Mahesa Muksa”, berkata Putu Risang dalam hati.

    Dan Putu Risang tidak menyinggung sama sekali dengan apa yang dilihatnya itu kepada Gajahmada.

  14. satu, dua , tiga dan empat, he he he

    Met Malam kadank sedoyo

    • sampun telas…
      (he he he …, mendahului Ki BP)

  15. Jebreeettt…………….

    Monggo, gandok nomor dua sudah siap.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: