KDNP-02

<< kembali | lanjut >>

KDNP-02

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 28 November 2013 at 03:24  Comments (223)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/kdnp-02/trackback/

RSS feed for comments on this post.

223 KomentarTinggalkan komentar

  1. Pembicaraan prajurit tua dan kawannya itu ternyata dapat didengar oleh Gajahmada yang diam-diam ikut menyimak pembicaraan mereka.
    Maka ketika ada perintah untuk beristirahat, Gajahmada telah mencari tempat yang tidak jauh dari mereka berdua.

    Terlihat sebuah pasukan kecil tengah beristirahat di sebuah pinggir hutan disebuah jalan simpang.

    “Kalau kutahu tugas seorang prajurit hanya membawa beban yang banyak, tidak perlu aku berlatih kanuragan”, berkata Galih sambil melemparkan tubuhnya duduk bersandar di sebuah pohon rindang kepada kawanya Branjang. Mereka sepanjang jalan memang diperintahkan untuk membawa beban berupa perbekalan pasukan.

    “Bersabarlah, kita masih dalam tahap pendadaran. Setidaknya sebuah kenangan tak terlupakan bila saja kamu nanti kelak dapat menjadi seorang Senapati”, berkata Branjang kepada Galih sambil tersenyum.

    “Bila aku jadi seorang Senapati, kuangkat kamu jadi pengawalku”, berkata Galih sudah dapat kembali tersenyum kepada kawannya Branjang.

    “Kamu salah, ketika kamu jadi seorang senapati, aku sudah menjadi seorang Temenggung”, berkata Branjang masih dengan sebuah tawa.

    “Kenapa kamu lebih tinggi dariku ?”, bertanya Galih dengan wajah penuh penasaran.

    “karna aku lebih baik darimu”, berkata Branjang dengan suara datar.

    “Siapa bilang kamu lebih baik dariku ?”, bertanya Galih kepada Branjang.

    “Kataku sendiri”, berkata Branjang dengan tawa lebih panjang.
    Namun pembicaraan mereka terhenti ketika seorang prajurit membawa ransum untuk mereka.

    “Ini ransum untuk kalian”, berkata prajurit itu kepada Galih dan Branjang.

    Sementara itu Gajahmada terlihat duduk beristirahat tidak begitu jauh dari prajurit tua dan kawannya. Diam-diam dirinya berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka berdua.

    “Coba jelaskan, apa yang telah terjadi pada diri Lurah Prajoga”, berkata prajurit tua kepada kawannya dengan suara pelan, setengah berbisik.

    “Lurah Prajoga bercerita kepadaku telah mendapat sebuah tugas langsung dari Patih Ranggajaya. Entah tugas macam apa tidak diceritakan kepadaku, yang diceritakan adalah bahwa lurah Prajoga telah menolak tugas itu”, berkata kawan prajurit tua itu juga dengan suara berbisik.

    “Aku sudah dapat mengerti, pasti sebuah tugas yang tidak sesuai dengan hati nurani Lurah Prajoga”, berkata prajurit tua itu sambil mengunyah ransum makanannya.

    “Tadi sewaktu akan berangkat, Lurah Prajoga telah berpesan kepadaku untuk berhati-hati sepanjang perjalanan, mungkin dirinya telah menangkap sebuah isyarat yang tidak baik”, berkata kawan prajurit itu masih dengan suara berbisik.

    • kamsia,,,!!!, mendahului semuanya, qiqiqiqiq

  2. Dan matahari terlihat sudah mulai bergeser ke barat terhalang kerimbunan dahan dan cabang pepohonan hutan. Sementara pasukan Prajoga telah bergerak kembali.

    “Sebentar lagi kita akan memasuki kawasan hutan Mayambong”, berkata prajurit tua kepada kawannya yang nampaknya mengenal betul arah perjalanan mereka.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh prajurit tua itu, mereka akhirnya memang tengah mendekati sebuah hutan yang cukup lebat.

    Sementara itu cahaya matahari semakin redup terhalang kerimbuna pohon.

    Suasana pinggir hutan itu memang sepi.

    “Berhati-hatilah !!”, berkata Prajoga kepada pasukannya.
    Prajoga adalah seorang prajurit yang sangat berpengalaman, suara banyak burung yang mencicit dan terbang dari dalam hutan

    Mayangbon telah mengisyaratkan kepada dirinya untuk waspada. Setidaknya pasti ada sebuah hal yang telah mengagetkan kumpulan burung-burung di dalam hutan sana.

    Namun suasana tepi hutan Mayangbong masih sepi ketika pasukan itu sudah semakin mendekatinya.

    Terlihat wajah semua prajurit Kawali itu semakin menegang manakala mereka semakin mendekati kesunyian hutan Mayangbon.

    Namun akhirnya, kecurigaan Prajoga ternyata menjadi sebuah kenyataan.

    Terlihat sebuah gerombolan orang telah keluar menghadang pasukan prajurit Kawali yang berjumlah sekitar dua puluh orang prajurit.
    Kedua puluh orang prajurit itu langsung berhenti menunggu perintah pimpinan pasukannya, Prajoga.

    Sementara itu gerombolan orang yang muncul dari hutan Mayangbong terus berjalan mendekati pasukan Prajoga.

    “Agar kami tidak salah orang, apakah pasukan ini berada dibawah pimpinan Ki Lurah Prajoga ?”, berkata salah seorang dari mereka yang nampaknya pimpinan gerombolan itu. Seorang yang nampaknya sangat berwibawa terlihat dari suara dan wajah kerasnya dengan sebuah kumis tebal melintang.

    “Aku Prajoga, apa keinginan kalian menghadang pasukanku”, berkata Prajoga sambil menunjukkan dirinya maju mendekati orang itu.

    Terlihat orang yang mewakili gerombolan itu tertawa panjang sambil memperhatikan Prajoga dari kaki sampai keatas kepala.

    “Ternyata Ki Lurah Prajoga hanya seorang muda”, berkata orang itu sambil tertawa.

    “Katakan, apakah kalian sengaja menghadang pasukanku ?”, bertanya kembali Prajoga kepada orang itu dengan suara keras penuh rasa percaya diri yang tinggi.

    • kamsia lagi mendahului semuanya, hahaha

      • Kalau ini curang Ki Dalang.

  3. “Siapa yang mau diam di dalam hutan penuh nyamuk tanpa bayaran yang menggiurkan”, berkata orang itu dengan tertawa panjang diikuti kawan-kawannya di belakangnya.

    “Siapa gerangan yang membayarmu ?”, bertanya Prajoga kepada orang itu.

    Terlihat orang itu tidak langsung menjawab, hanya memperlihatkan senyum sinisy merendahkan.

    “Aku juga di bayar untuk merahasiakan hal itu”, berkata orang itu masih dengan senyum sinisnya.

    “Aku tidak akan bertanya lagi, karena aku sudah tahu siapa gerangan orang yang telah mengupahmu”, berkata Prajoga kepada orang itu.

    “Bagus bila kamu sudah tahu siapa yang mengupahku, sekarang bersiaplah untuk menerima penumpasan pasukanmu, termasuk dirimu”, berkata orang itu sambil melepas golok dari sarungnya diikuti oleh semua gerombolannya yang memang rata-rata bersenjata yang sama.

    “Beri aku kesempatan berbicara dengan pasukanku”, berkata Prajoga sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

    “Silahkan”, berkata orang itu sambil bertolak tangan sebelah dimana tangan lainnya sudah memegang sebuah senjata golok telanjang.

    “Dengarlah wahai pasukanku, ini adalah urusan pribadi diriku dengan seseorang. Jadi segeralah kalian menyingkir tidak perlu ikut campur membela diriku”, berkata Prajoga lantang dihadapan para pasukannya.

    “Urusan Ki Lurah adalah urusan kami, kami tidak akan menyingkir setapakpun meninggalkan Ki Lurah”, berkata seorang prajurit tua di dekat Gajahmada juga dengan suara lantang sekeras ucapan Prajoga.

    “Benar, kami tidak akan menyingkir setapakpun”, berkata kawannya sambil melepas pedang mengacungkannya tinggi-tinggi diatas kepalanya.

    Ternyata ucapan dan sikap kedua prajurit itu langsung diikuti oleh semua prajurit Kawali yang berada di pinggir hutan Mayambong itu.

    Terlihat semua prajurit telah melepas pedang dari sarungnya.

    Terharu Prajoga melihat sikap prajurit pasukannya yang dengan penuh keberanian telah memilih membela dirinya meski telah disampaikan bahwa urusan itu adalah masalah pribadi yang harus ditanggung sendiri.

    “Terima kasih untuk kesetiaan kalian”, berkata Prajoga dengan wajah penuh haru menatap pasukannya.

    “Ternyata pasukanmu sangat setia mengantar dirimu bersama ke alam kubur”, berkata orang yang menjadi pemimpin gerombolan itu dengan wajah dan bibir penuh senyum mengejek penuh merendahkan kekuatan pasukan Kawali yang setengah dari kekuatannya itu.

    “Jangan terlalu percaya dengan kekuatan banyak orang”, berkata Prajoga sambil menarik pedang dari sarungnya.

    • kamsia…
      mendahului Pak Dhalangnya
      he he he

      • 0:2

        • Keripik 02? hii…….

          • Keripik yang lain saja masih banyak, masakan makan bekicot, yang ini Mas Risang sajalah, aku angkat tangan dan tutup mulut.

          • hiii….
            gak mau ki

          • gak mau ki
            hiii….hiii….

  4. gak mau ki
    hiii….hiii….

    gak mau ki
    hiii….hiii….

    • sugeng dalu kadang padepokan sedaya

  5. matur nuwun pak DalangE

    • Mosok matur nuwun thok.

  6. haduhh, Cipondoh banjir, untung masih sempet keluarain gerobak, hehehe
    Selamat pagi para kadank sedoyo, lumayan…ada alasan ijin masuk kerja, qiqiqiqiqq

  7. Terlihat pimpinan gerombolan itu telah memberi tanda kepada orang-orangnya untuk segera mengepung pasukan Kawali.

    Melihat tanda perintah dari pimpinannya, para gerombolan itu terlihat sudah bergerak mengepung para prajurit di muka hutan Mayambong itu.

    Sementara itu Ki Lurah Prajogo telah memberi tanda kepada prajuritnya agar berperang secara berkelompok.
    Maka dengan cepat kedua puluh prajurit itu sudah terpecah dalam dua kelompok yang sama.

    “Jangan terpisah dari kami”, berkata seorang prajurit mengingatkan Gajahmada, Branjang dan Galih sebagai para prajurit baru.

    “Aku belum pernah bertempur dengan orang yang belum sama sekali kukenal, siapakah gerangan dirimu ?”, berkata Ki Lurah Prajogo kepada pimpinan gerombolan itu.

    “Orang-orang biasa memanggilku dengan sebutan Ki Anas”, berkata Pemimpin gerombolan itu menyebut nama panggilannya.

    “Maaf, aku baru mendengar nama itu”, berkata Prajogo kepada Ki Anas.

    “Sekarang kamu sudah mendengarnya, bersiaplah kalian berkubur di muka hutan ini”, berkata Ki Anas sambil memberi tanda kepada orang-orangnya untuk segera bergerak untuk menghancurkan dua puluh orang prajurit yang telah tekepung itu.

    Tapi kedua puluh orang prajurit yang sudah bersiap itu ternyata tidak menjadi gentar menghadapi jumlah pengepung yang dua kali lipat itu.

    Maka tidak lama berselang telah terjadi pertempuran yang sangat dahsyat antara para prajurit dan gerombolan pimpinan Ki Anas itu.

    Tidak mudah memang untuk menggulung pasukan prajurit Kawali itu, meski jumlah mereka lebih sedikit, tapi mereka secara berkelompok telah menunjukkan kekuatannya dapat mengimbangi serangan orang yang lebih banyak darinya.

    Seorang prajurit tua yang semula mengkhawatirkan Gajahmada, Branjang dan Galih terlihat bernafas lega melihat ketiga anak muda itu dengan cepat telah dapat menyesuaikan dirinya berperang dengan cara berkelompok.

    “Luar biasa anak muda itu”, berkata prajurit tua itu manakala melihat kepandaian Gajahmada yang telah bergerak dengan pedangnya.
    Sebagaimana yang dilihat oleh prajurit tua itu, ternyata Gajahmada sudah langsung memperlihatkan kemahirannya dalam memainkan sebuah pedang. Ujung mata pedang Gajahmada seperti badai topan prahara, berputar dan langsung menerjang siapapun yang mendekat.

    Terdengar suara jerit kesakitan dari mulut para gerombolan terkena sambaran pedang Gajahmada.

    “Biarlah mereka bertempur, akulah lawanmu”, berkata Ki Anas sambil melompat langsung menerjang Prajoga ditengah kancah pertempuran itu.

    • sambil menunggu air surut, hehehe

      Monggo

  8. Menghadapi serangan pemimpin gerombolan itu, Prajoga sangat hati-hati tidak bergerak sembarangan merasa bahwa tataran ilmu orang itu pasti cukup tinggi.

    Ternyata tidak percuma Prajoga diangkat sebagai pimpinan sebuah pasukan, tataran ilmu kanuragannya memang sudah diatas rata-rata prajurit biasa.

    Maka dengan penuh kehati-hatian Prajoga berusaha mengimbangi permainan golok lawannya. Pedang ditangan Prajoga sekali-kali menusuk ikut balas menyerang. Dan pertempuran diantara mereka berduapun akhirnya semakin lama menjadi semakin sengit.

    Sementara itu pertempuran antara dua kubu itupun juga tidak kalah sengitnya, mereka seperti sama-sama ingin secepatnya menyelesaikan pertempuran itu. Ternyata kemahiran para prajurit dalam berperang secara berkelompok itu telah membuat orang-orang dari kubu Ki Anas itu menjadi begitu penasaran, mereka dengan jumlah dua kali lipat dari jumlah prajurit tidak dapat juga membuat pecah pasukan dari Kotaraja Kawali itu.

    Bahkan satu persatu anggota gerombolan itu dalam waktu yang singkat telah terlihat jatuh terkapar, maka sedikit demi sedikit telah mengurangi gempuran mereka karena jumlah mereka yang semakin surut.

    “Anak muda itu bukan pemuda biasa”, berkata kembali prajurit tua yang dipercayakan menjadi ketua kelompok itu melihat tandang Gajahmada yang bergitu trengginas.

    Sebagaimana yang dilihat oleh prajurit tua itu, Gajahmada memang telah mengerahkan kemahirannya memegang sebuah pedang ditangan. Terlihat pedang ditangan Gajahmada seperti kilat begitu cepat menyambar-nyambar kearah lawan, dan selalu saja pedang itu seperti bermata, tidak ada satupun serangannya yang lepas begitu saja, pasti akan mengakibatkan seorang korban.

    Ternyata orang-orang dari kubu Ki Anas adalah orang-orang kasar yang tidak biasa bertempur secara berkelompok sebagaimana para prajurit. Akibatnya mereka yang berjumlah lebih banyak seperti terbalik, merekalah yang akhirnya semakin terdesak menghadapi kekuatan para prajurit.

    Dan Gajahmada yang berada didalam kekuatan prajurit itu ternyata mudah sekali menyesuaikan dirinya dengan mengekang dirinya tidak keluar dari kelompoknya, melindungi seorang prajurit dari serangan lawan. Begitulah dirinya bertempur sebagaimana prajurit lainnya.

    Dan seperti sebuah cakra, kelompok prajurit itu telah berputar memperakporandakan kumpulan orang-orang kasar itu.
    Dan lampat tapi pasti, dua kelompok prajurit sudah dapat berbalik mendesak lawannya yang semakin terus berkurang menyusut tajam.
    Bukan main geramnya Ki Anas melihat gerombolannya menjadi terdesak, maka dengan penuh kemarahan telah meningkatkan tataran ilmunya menerjang kearah Prajoga.

    Melihat tataran ilmu Ki Anas yang semakin meningkat, terutama dalam kecepatan geraknya telah membuat Prajoga menjadi semakin berhati-hati berusaha untuk dapat menghadapinya dengan kekuatan dan tataran ilmunya yang ternyata dalam beberapa ratus jurus itu masih dapat mempertahankan dirinya dari serangan Ki Anas yang semakin keras, cepat dan ganas itu.

    • cihuiii……..
      Monggo, sambil nunggu air surut, hehehe

      • Suwun Ki, Setelah Ki Anas, sebentar lagi Ki Somad dan Ki Yudoyono dan Ki Ibas apa juga muncul ?

  9. “Serangan pedang yang aneh”, berkata prajurit tua dalam hati melihat sendiri dengan mata dan kepalannya gerakan pedang Gajahmada yang sangat aneh menurut jalan pikirannya.

    Bagaimana tidak aneh, meski mata pedang Gajahmada belum sampai mengenai lawannya, tapi sudah terdengar suara jerit orang yang berada didekat Gajahmada.

    Ternyata, Gajahmada yang belum dapat sepenuhnya menyadari kekuatan ilmu yang ada di dalam dirinya telah meningkatkan tataran kekuatan tenaga cadangannya, akibatnya sangat luar biasa, angin serangan pedangnya seperti perpanjangan mata pedang yang begitu tajam, langsung melukai siapa saja yang datang mendekatinya, yang tidak menyangka bahwa angin pedang Gajahmada setajam pedang telah melukai tubuh meski dalam jarak cukup jauh sekitar dua langkah kaki.

    Maka kekuatan para orang-orang Ki Anas semakin lama jelas sudah semakin surut, jumlah para gerombolan sudah semakin berkurang lebih dari setengahnya.

    Sebagai seorang pemimpin, Ki Anas disamping terus bertempur dengan lawannya masih dapat melihat apa yang terjadi pada orang-orangnya sendiri.

    “Orang-orang bodoh”, berkata Ki Anas menggerutu sendiri melihat orang-orangnya saat itu terbalik sudah tertekan oleh serangan para prajurit.

    “Jangan gusar Ki Anas, orang-orangmu sudah semakin terdesak”, berkata Prajoga sambil menghindari serangan Ki Anas yang semakin keras.

    Ternyata kegusaran hati Ki Anas telah mempengaruhi pertempurannya, ada sebuah aturan kuat bahwa jiwa dan perasaan hati dalam sebuah pertempuran harus di jaga dan dikendalikan dengan baik. Dan ternyata Prajoga dapat benar-benar memahami hal itu telah berusaha mempengaruhi jiwa dan perasaan Ki Anas.

    Rupanya ucapan Prajoga telah semakin mempengaruhi jiwa dan perasaan Ki Anas yang sangat gusar melihat pasukannya telah semakin surut terdesak lawan.

    Achhhh !!!!

    Sebuah serangan pedang prajoga berhasil mengenai pangkal paha Ki Anas yang lengah sedikit itu.

    Terlihat Ki Anas langsung melompat menjauh.

    Dan sambil berdiri, Ki Anas penuh dengan kegeraman hati melihat darah segar mengucur deras dari pangkal paha kanannya.
    Sementara itu Prajoga tidak segera mengejar lawannya, memberi kesempatan Ki Anas untuk bersiap diri melanjutkan serangannya kembali.

    Terlihat Ki Anas berdiri dengan wajah begitu menyeramkan, matanya seperti terbuka lebar-lebar menyala penuh kemarahan..

    Dan bukan main kagetnya Prajoga ketika melihat Ki Anas bergerak cepat.

    Apa yang dilihat oleh Prajoga sehingga telah membuat dirinya nyaris berdebar-debar ?

    • berdebar-debar melihat banjir yang belum juga surut nich, qiqiqiqiq

      • Jadi ikutan berdebar,
        banjir di Situ Cipondoh berakibat banjir rontal padepokan, he he he …

  10. Mumpung dapat pinjaman kendaraan ke padepokan, rontal sekalian Risang jebret.

    Kalau saja, hari ini meluap 3 rontal lagi, sentong tengah sudah bisa ditutup, pindah ke sentong kanan.

    he he he ….

    Monggo Pak Dhalang

  11. Ternyata gerakan Ki Anas tidak mengarah kepada Prajoga, melainkan menerjang ke tengah pasukan tepatnya ke ara h seorang prajurit muda yang tidak lain adalah Gajahmada.

    Trang !!!

    Terdengar suara dua senjata beradu.

    Dengan sebuah kekuatan tenaga cadangan Gajahmada telah mencoba menangkis sebuah serangan membacok ke arah tubuhnya dari sebuah golok di tangan Ki Anas.

    Bukan main kagetnya Ki Anas merasakan telapak tangannya sendiri menjadi begitu panas, dan tidak terasa telah melepas senjatanya.

    Dan seorang prajurit di dekat Gajahmada yang melihat sebuah kesempatan terbuka telah menyabetkan pedangnya ke arah perut Ki Anas.

    Brettt !!!

    Terdengar sebuah mata pedang prajurit telah berhasil merobek perut Ki Anas.

    Terlihat tubuh Ki Anas terhuyung kebelakang.

    Melihat pimpinannya sendiri yang tengah terluka, semua anak buah Ki Anas tidak lagi melakukan penyerangan. Terlihat mereka mundur kebelakang.

    Sementara itu Ki Anas tidak dapat lagi menahan tubuhnya yang terasa menjadi lemah karena darah di perut dan pangkal pahanya yang terus mengalir.

    Dalam keadaan yang genting itu terlihat Gajahmada berlari mendekati Ki Anas.

    “Aku membawa obat penawar luka”, berkata Gajahmada sambil mengeluarkan sebuah bubu bambu dari dalam bajunya.

    Dengan sangat telaten, terlihat Gajahmada telah menyobek kainnya sendiri guna membebat perut dan paha Ki Anas setelah luka itu ditutup dengan bubuk putih obat penawar luka.

    “Lukamu cukup dalam, jangan banyak bergerak dulu”, berkata Gajahmada kepada Ki Anas.

    “Terima kasih, siapa namamu anak muda”, berkata Ki Anas memandang ke arah Gajahmada merasa darah di perut dan pahanya tidak merembes keluar lagi.

    “Aku Mahesa Muksa”, berkata Gajahmada sambil tersenyum memandang kearah Ki Anas.

    Sementara itu melihat pemimpin mereka terluka, diam-diam orang-orang yang datang bersama Ki Anas telah menghilang kabur menyelamatkan diri. Mungkin mereka berpikir tidak akan mampu menghadapi para prajurit tanpa kehadiran Ki Anas, atau mereka sudah dapat memperhitungkan kekalahan mereka sendiri dan tidak ingin berurusan lebih jauh apalagi sampai menjadi tawanan.

    “Kami akan merawat luka Ki Anas, kami juga tidak akan membawa Ki Anas sebagai seorang tawanan”, berkata Prajoga yang sudah datang mendekati Ki Anas yang berbaring diam tak banyak bergerak. Hanya matanya yang terlihat sayu tidak segarang sebelumnya.

    • walah-walah, beritanya bakal ada hujan lagi sepanjang hari ini untuk Jakarta dan sekitarnya, hehe

  12. Sementara itu matahari sudah semakin turun ke barat, suasana di muka hutan Mayangbong yang sepi itu terlihat sudah menjadi semakin teduh dan redup.

    Terlihat beberapa prajurit tengah mengobati beberapa kawan mereka, ada juga yang tengah merawat luka lawan mereka. Sementara beberapa prajurit lagi tengah mengumpulkan mayat-mayat yang tergeletak, sebagian besar adalah orang-orangnya Ki Anas sendiri.

    “Hanya ada satu orang kita yang tidak dapat diselamatkan, lukanya terlalu parah”, berkata seorang prajurit tua melaporkannya kepada Prajoga.

    “Kita kubur mereka disini, perintahkan semua prajurit untuk beristirahat di muka hutan ini”, berkata Prajoga kepada prajurit tua itu.

    Demikianlah, malam itu para prajurit Kawali itu telah menginap beristirahat di muka hutan Mayangbong.

    Tidak ada kejadian apapun di malam itu, meski begitu para prajurit tetap berjaga-jaga sepanjang malam itu khawatir ada kemungkinan yang dapat saja terjadi tanpa terduga.

    Namun ketika langit diatas hutan Mayangbong telah berubah menjadi wajah pagi, tidak ada apapun yang terjadi.

    “Disebelah barat hutan ini ada sebuah padukuhan kecil, kami akan membawa Ki Anas kesana, menitipkan Ki Anas kepada penduduk setempat”, berkata Prajoga kepada Ki Anas yang masih tengah berbaring.

    “Aku menjadi malu dengan kalian, semula kalian akan kami celakai, namun justru kamilah yang harus dikasihani menjadi orang tidak berdaya”, berkata Ki Anas pelan.

    “Ki Anas hanya orang suruhan, aku sudah dapat mengetahui siapa dibalik semua ini”, berkata Prajoga dengan wajah ramah tanpa sedikitpun terlihat dendam kepada orang yang sudah datang ingin mencelakai dirinya itu.

    “Jiwa Ki Lurah begitu lapang, aku menjadi semakin malu”, berkata Ki Anas sambil memandang wajah Prajoga.

    “Diluar perang, kita adalah sebagai saudara”, berkata prajoga masih dengan senyum ramahnya.

    “Berhati-hatilah, jiwamu akan selalu terus terancam oleh seorang yang tidak senang dengan dirimu”, berkata Ki Anas kepada Prajoga.

    “Selama kita percaya dengan jalan kebenaran yang kita pilih, selama itu pula perlindungan berada dipihak kita”, berkata Prajoga kepada Ki Anas yang terlihat sudah kembali berwajah segar karena semalaman sudah diberikan beberapa jamu penguat diri dan beristirahat.

    Maka ketika pagi sudah menjadi terang tanah, terihat iring-iringan prajurit terlihat bergerak ke arah barat dari muka hutan Mayangbon itu.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Prajoga, ternyata tidak begitu jauh mereka berjalan telah menemui beberapa pematang sawah sebagai tanda mereka akan menemui sebuah padukuhan.

    • haduh, kebanjiran kok laper terus ya ??

  13. “Kami menitipkan beberapa orang yang terluka, ada segerombolan orang telah bermaksud merampok mereka”, berkata Prajoga kepada Ki Jagaraga dan beberapa orang Padukuhan tanpa sedikitpun mengungkit kejadian sebenarnya di muka hutan Mayangbong kemarin hari.

    “Kami akan menjaga dan merawatnya”, berkata Ki Jagaraga kepada Prajoga.

    Demikianlah, setelah menitipkan orang-orang yang terluka termasuk Ki Anas di Padukuhan itu, Prajoga dan pasukannya telah berpamit diri untuk kembali ke Kotaraja Kawali.

    Terlihat iring-iringan prajurit Kawali sudah berjalan keluar gerbang gapura padukuhan kecil itu.

    Ketika mereka sudah begitu jauh dari arah Padukuhan dibelakang mereka, terlihat Prajoga telah memerintahkan pasukannya berhenti.

    “Aku mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas kesetiaan kalian, namun aku akan berterima kasih kembali manakala apa yang menimpa kita di muka hutan Mayangbon ini dikubur selamanya”, berkata Prajoga sambil memandang wajah prajurit satu persatu.

    “Istana Kawali saat ini seperti sebuah telur diujung cambuk, hanya kitalah dari begitu banyak prajurit Kotaraja Kawali yang belum tercemar untuk selalu setia membela Raja dan keluarganya”, berkata kembali Prajoga sambil menatap para prajuritnya satu persatu.”Ibarat sebuah arus sungai yang deras, kita mungkin tidak mampu bertahan melawan tarikan air sungai itu. Namun dengan semangat dan doa bersama, kita pasti akan mendapatkan perlindungan dari Gusti Yang Maha Agung pemilik kebenaran itu”, berkata kembali Prajoga kepada prajuritnya.”Berjanjilah kalian untuk saling menjaga diantara derasnya sungai yang tengah melanda istana Kawali saat ini”, berkata kembali Prajoga.

    Terlihat Gajahmada menarik nafas panjang, ternyata dirinya mengakui kejelian Prabu Guru Darmasiksa tentang keadaan istana Kawali saat itu. Tapi Gajahmada tetap diam tidak berkata apapun hanya mendengarkan apa saja perkataan Prajoga untuk berhati-hati ketika berada di Kotaraja Kawali serta merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi di muka hutan Mayangbon.

    “Kita tidak perlu ke kaki gunung Kapandaian, tapi agar satu bahasa kita katakan bahwa kita sudah sampai di kaki Gunung Kapandaian dan telah menumpas gerombolan pengganggu penduduk”, berkata Prajoga kepada para prajuritnya.

    “Maaf Ki Lurah, aku dapat sebuah cerita bahwa Ki Lurah telah menolak sebuah tugas langsung dari Patih Anggajaya. Setahuku bahwa Ki Lurah selalu menjalankan semua perintah. Apakah perintah itupula yang ada kaitannya dengan persoalan pribadi antara Ki Lurah dengan Patih Anggajaya ?”, berkata seorang prajurit tua memberanikan dirinya bertanya hal yang sebenarnya telah terjadi.

    Lama Prajoga tidak langsung menjawab, namun akhirnya Prajoga tidak enak hati merahasiakannya kepada prajuritnya sendiri yang telah memperlihatkan kesetiannya membela dirinya.

    Maka dengan perlahan Prajoga bercerita tentang sebuah tugas rahasia dari Patih Anggajaya kepada dirinya.

    “Aku diperintahkan untuk menjadi seorang prajurit yang membelot melakukan sebuah penyerangan mendadak di saat Baginda Raja tengah melakukan perburuan”, berkata Prajoga akhirnya mengungkapkan apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Patih Anggajaya.

  14. Demikianlah, rombongan prajurit itu tidak langsung pulang ke Kotaraja, tapi menunggu beberapa malam agar tidak mencurigakan dan memang telah datang membasmi para perampok di kaki Gunung kapandaian.

    Sementara itu sudah dua malam Putu Risang bersama Pangeran Jayanagara berada di Kotaraja Kawali. Mereka mengaku sebagai seorang pengembara dan menumpang disebuah rumah seorang penduduk yang merasa kasihan kepada mereka berdua.

    “Sudah dua malam kita di Kotaraja ini, tapi belum juga dapat mengetahui keberadaan Mahesa Muksa”, berkata Putu Risang kepada Pangeran Jayanagara disebuah kedai yang berada di tengah pasar Kotaraja Kawali.

    “Semoga ada kabar dari Pangeran Citraganda tentang keadaan Mahesa Muksa”, berkata Pangeran Jayanagara sambil mencari-cari siapa tahu matanya melihat kedatangan Pangeran Citraganda.

    Mata pangeran Jayanagara yang mencoba mencari-cari tiba-tiba saja tertahan ke sebuah wajah gadis manis yang dikenalnya, yang tidak lain adalah Dyah Rara Wulan yang muncul di muka pintu kedai.

    Terlihat dengan senyum manis gadis itu langsung melangkah masuk kedalam kedai duduk didekat Putu Risang dan Pangeran Jayanagara.

    “Hari ini aku sudah mendapat berita tentang keadaan Mahesa Muksa, ternyata dirinya telah ikut bersama sebuah pasukan dalam sebuah tugas ke daerah Gunung Kapandaian.

    “Pantas, sudah dua malam ini kami tidak berhasil menemuinya”, berkata Pangeran Jayanagara.

    “Aku tidak bisa terlalu lama di kedai ini, banyak yang kenal wajahku disini”, berkata Dyah Rara Wulan berpamit diri.

    “Mari kita kembali ke pondokan kita”, berkata Putu Risang kepada Pangeran Jayanagara ketika Dyah Rara Wulan telah jauh menghilang diantara kerumunan orang yang berlalu-lalang di pasar Kotaraja siang itu.

    “Seingatku ini bukan jalan menuju ke pondokan kita ?”, bertanya Pangeran Jayanagara kepada Putu Risang yang membawanya ke arah lain.

    “Kita memang tidak kembali ke pondokan, tapi sedang menuju ke sebuah sungai”, berkata Putu Risang sambil tersenyum.

    Pangeran Jayanagara tidak bertanya lagi lebih lanjut, dirinya dapat menebak apa yang dilakukan mereka dipinggir sungai atau disetiap tempat sunyi selain melakukan latihan khusus.

    Ternyata benar apa yang dipikirkan oleh Pangeran Jayanahgara, rupanya Putu Risang memang telah membawa dirinya ke sebuah tepian sungai yang sunyi.

    “Aku ingin kamu dapat semakin mengenal perkembangan kekuatanmu sendiri”, berkata Putu Risang kepada Pangeran Jayanagara ketika mereka berdua telah berada di sebuah tepian sungai yang sepi di siang itu.

    Demikianlah, Pangeran Jayanagara memulai latihannya dengan melakukan olah laku pernafasan.

  15. Setelah dianggap telah cukup dalam olah laku khusus itu, Putu Risang meminta Pangeran Jayanagara melihat sejauh mana kecepatan dirinya bergerak.

    Bukan main gembiranya Putu Risang melihat Pangeran Jayanagara dapat berlari melesat kesana kemari seperti bayangan yang berkelebat.

    Dalam kesempatan lain, Jayanagara juga telah mampu mengungkapkan hawa panas dan hawa dingin keluar dari dalam tubuhnya sesuai yang diinginkannya.

    Dalam latihan terakhir, Jayanagara telah memperlihatkan kekuatan tenaga cadangannya menghancurkan batu besar dengan pukulan jarak jauhnya.

    Sementara itu disebuah tempat yang sunyi pada saat yang sama disebuah hutan terlihat seorang pemuda tengah berlatih. Anak muda itu adalah Gajahmada yang telah meminta ijin kepada Prajoga untuk melihat-lihat keadaan hutan. Demikianlah cara Gajahmada berlatih ditengah kesehariannya sebagai seorang prajurit yang masih dalam masa pendadaran.

    Sebagaimana Pangeran Jayanagara, maka Gajahmada juga memulai latihannya dengan berlaku pernafasan rahasia yang berbeda dengan yang diajarkan kepada Pangeran Jayanagara.

    “Gerakan diriku sudah menjadi lebih cepat dari sebelumnya”, berkata Gajahmada dalam hati sambil berlari dan meloncat kesana kemari.

    “Ternyata angin pukulanku dapat menebas apapun dalam jarak jauh”, berkata Gajahmada sambil memainkan sebuah pedang ditangan melihat sejauh mana jarak jangkauan angin tebasannya dapat merobek apapun sesuai yang ditujunya.

    Demikianlah, Gajahmada mencoba mengenal kekuatannya sendiri, mengenal bagaimana mengendalikan kekuatan yang bersumber dari tenaga cadangannya.

    “Seekor kijang”, berkata Gajahmada dalam hati yang sudah melesat bergerak kearah seekor kijang yang tengah berjalan.

    Naluri seokor kijang dewasa sangatlah peka. Begitu kaget kijang itu melihat Gajahmada yang sudah berdiri didepannya. Maka dengan gerakan naluri kehewanannya yang sangat peka sudah bergerak kesamping untuk kabur meninggalkan Gajahmada.

    Ternyata gerakan Gajahmada lebih cepat dari lari seekor Kijang sekalipun. Seperti seorang pemburu pedang di tangan Gajahmada telah mampu mendekati leher sang kijang.

    Nasib naas untuk kijang itu yang langsung terkapar dengan leher setengah menganga terkena angin sambaran pedang Gajahmada.

    “Malam ini kita dapat ganjalan perut seekor kijang”, berkata seorang prajurit menerima seekor kijang dari punggung Gajahmada yang telah kembali ke pasukannya.

    Dan malam itu para prajurit memang terlihat berpesta menikmati daging panggang hasil tangkapan Gajahmada.

    “Daging panggang paling nikmat di dunia”, berkata Branjang sambil mengunyah daging kijang.

  16. malam ini, dua tahun yang lalu, masih ada secangkir kopi menemani darinya di situ cipondoh ini.
    Dan banjir seperti menahan langkah kaki ini untuk bermalam bersama tawa putra dan putri setelah sekian lama tidak pernah kudengar lagi……
    hemmm…..lebaicom, hehehe

    • He he he ….
      malam-malam seperti ini, dua tahun yang lalu, masih ada dua saudara Risang, saling bergojeg, saling berkelahi karena urusan sepele, masak masi goreng bersama untuk dimakan bersama, dan yang lainnya.

      Malam ini, Risang sendiri, tidak ada teman bergojeg lagi, tidak ada teman berkelahi lagi, tidak ada teman buat nasi goreng lagi. Mereka sudah “kabur” dari rumah.
      eh…, masih bisa bergojek ding, tetapi hanya melalui hp, tab atau monitor laptop.
      hmmmm …. lebaicom, hehehe

      matur suwun banjir rontalnya
      segera risang tata dan buka sentong kanan.

  17. Malam itu para prajurit Kawali pimpinan Ki Lurah Prajoga terlihat telah beristirahat setelah seharian mereka tidak melakukan apapun hanya sekedar memperlambat waktu kepulangan mereka. Dan malam itu adalah malam ketiga dimana besok mereka pagi-pagi akan melanjutkan kembali perjalanan mereka ke kotaraja Kawali.

    Demikianlah, ketika pagi tiba pasukan itu memang telah bergerak menuju Kotaraja Kawali.

    Dan selama perjalanan mereka menuju Kotaraja Kawali tudak ada kejadian apapun yang menghalangi perjalanan mereka.

    Akhirnya ketika hari telah berada diujung senja terlihat mereka sudah memasuki gerbang Kotaraja.

    “Beritirahatlah kalian malam ini, besok kalian dibebas tugaskan selama satu hari”, berkata Prajoga kepada prajuritnya ketika mereka sudah berada di barak prajurit di Kotaraja Kawali.

    “Besok aku akan singgah ke rumah pamanku di Kotaraja ini”, berkata Galih kepada Gajahmada dan Branjang di barak mereka.

    “Perlu sehari perjalanan untuk sampai ke rumah orang tuaku, jadi besok aku mungkin akan menemui kakakku yang tinggal tidak begitu jauh dari Kotaraja”, berkata Branjang merencanakan hari bebas tugas mereka selama satu hari itu.

    “Aku mungkin hanya jalan-jalan ke pasar Kotaraja”, berkata Gajahmada sambil tersenyum.

    “Aku tidak berkeberatan memperkenalkan dirimu dengan kakakku”, berkata Branjang menawarkan Gajahmada ikut bersamanya.

    “Terima kasih, aku hanya ingin menikmati suasana di Kotaraja ini”, berkata Gajahmada menolak dengan halur tawaran Branjang itu.

    Dan malam itu mereka bertiga masih bermalam di barak prajurit.
    Hingga ketika pagi telah tiba, terlihat Branjang dan galih sudah bersiap diri untuk berangkat kerumah saudaranya masing-masing.

    “Nanti malam kalian sudah harus berada di barak ini, ingat bahwa kalian belum mendapat kekancingan sebagai seorang prajurit seutuhnya”, berkata Gajahmada mengingatkan kedua kawannya itu.

    Terlihat mereka bertiga keluar bersama dari pintu regol barak prajurit. Namun disebuah persimpangan jalan mereka harus berpisah.

    “Sampai bertemu kembali nanti malam”, berkata Gajahmada kepada Galih dan Branjang ketika mereka berjalan berpisah.

    Terlihat Gajahmada telah sendiri berjalan kearah barat menuju kearah pasar Kotaraja Kawali.

    Bukan main terkejutnya Gajahmada ketika melihat sebuah kereta kencana berhenti didekatnya.

    Terlihat seorang gadis manis turun dari kereta kencana itu dan memerintahkan sang kusir untuk membawa kereta kencana itu kembali tanpa dirinya.

    • lho…
      masih ada lagi
      wah…..
      kamsiaaa………………….!!!!!
      he he he sudah lama tidak berteriak, kamsiaaa………………….!!!!!

      • ciat… ciat … desss…. !!!

        dah…, beres
        sentong kanan sudah dibuka.

        • On 13 Januari 2014 at 05:58 Budi Prasojo said:

          Mosok matur nuwun thok.

          On 13 Januari 2014 at 11:44 Putut Risang said:

          Lha penake pripun Ki,

          • On 13 Januari 2014 at 14:38 Budi Prasojo said:

            pohong goreng, kopi pahit…….bolehlah,

            On 13 Januari 2014 at 22:12 Putut Risang said:

            tambah jagung bakar……tambah siiip KI,

          • nah…
            kalau yang pitnah
            aku gak omong apa-apa kok
            he he he …

          • he-heeeheeeeee…….aku sik keduman toh Ki,
            hiiiikkkk,

          • Bukan yang nulis lho, ayo yang nulis dituntut untuk segera memaketkan saja pohong goreng dan kopi pahit plus camilan lain ke Ki Dalang.

          • betul…betul…betul…
            satu paket lagi ke Sukolilo,
            dan sekalian satu pahet lagi ke Sengkaling

            he he he ….

  18. suwun ki sandikala…

  19. malem mas Risang,

    Lha itoe ada bukti otentiknye……….iHiiiiiik,

    • kalaoe gaya begitoe, itoe poenya Ki gembleh…..

      {eh…, setelah melarikan diri ke tlatah brang kulon (takut keleban lendut benter), Ki gembleh kok gak pernah nongol lagi di padepokan ya)

  20. “Selamat datang di Kotaraja Kawali”, berkata gadis manis itu kepada Gajahmada.

    “Ternyata kamu tuan Putri”, berkata Gajahmada kepada gadis manis yang turun dari kereta kencana itu yang tidak lain adalah Dyah Rara Wulan.

    “Aku akan mengantarmu ke dua orang sahabatmu”, berkata Dyah Rara Wulan kepada Gajahmada bercerita singkat bahwa Putu Risang dan Pangeran Jayanagara tengah menunggu kabar tentangnya.”Biasanya menjelang siang ini mereka berdua ada di kedai tengah pasar”, berkata Dyah Rara Wulan sambil mengajak Gajahmada ke pasar Kotaraja.

    Benar apa yang dikatakan oleh Dyah Rara Wulan bahwa mereka bertemu dengan Putu Risang dan Pangeran Jayanagara di kedai tengah pasar.

    Bukan main gembiranya Putu Risang dan Pangeran Jayanagara ketika bertemu dengan Gajahmada.

    Terlihat mereka berempat sudah langsung menikmati hidangan di kedai tengah pasar itu.

    “Ternyata penilaian Prabu Guru Darmasiksa tentang suasana Istana Kawali tidak jauh meleset. Ada sebuah rencana jahat dari Patih Anggajaya”, berkata Gajahmada bercerita tentang kejadian yang menimpa Ki Lurah Prajoga di muka hutan Mayambong.

    “Langkah kita harus cepat, jangan sampai rencana mereka terjadi”, berkata Putu Risang setelah mendengar cerita dari Gajahmada.

    “Aku bersama Kakang Citraganda telah menemui Ki Lurah Pramuji agar segera menempatkan Mahesa Muksa bertugas sebagai prajurit pengawal Patih Anggajaya”, berkata Dyah Rara Wulan bercerita tentang usahanya menyusupkan Gajahmada di sekitar Patih Anggajaya.

    Terlihat Paneran Jayanagara memandang bergantian antara Dyah Rara Wulan dan Gajahmada.

    “Mengapa kamu memandangku seperti itu ?”, berkata Dyah Rara Wulan dengan gaya merajuk kepada sepupunya itu.

    “Maaf, pikiranku tengah membayangkan bilasaja Mahesa Muksa bertugas sebagai prajurit pengawal putri istana Kawali”, berkata Pangeran Jayanagara dengan senyum dikulum.

    Terlihat wajah Dyah Rara Wulan menjadi merah berseri dengan senyum menawan tidak merasa malu atas godaan sepupunya itu.

    “Aku harus segera kembali ke istana, tidak perlu ada yang mengantar”, berkata Dyah Rara Wulan sambil berdiri tersenyum.

    Maka tidak lama berselang gadis manis itu tidak terlihat lagi menghilang diantara orang-orang yang masih berlalu lalang di pasar siang itu.

    “Bukankah hari ini kamu bebas tugas ?”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada.

    Terlihat Gajahmada membenarkan dengan sedikit menganggukan kepalanya.

    “Ada waktu untuk melihat perkembangan ilmumu”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada sambil berdiri.

    • matur suwun Dhalange

      Sudah surut kah banjirnya?
      kalau sudah mulai surut tinggal cari lele atau gurami yang tertinggal di halaman, he he he he

  21. Seperti kemarin, Putu Risang telah mengajak kedua muridnya itu ke tepian sebuah sungai yang sepi.

    “Aku ingin melihat sejauh mana perkembangan ilmumu”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada.

    Maka Gajahmada tahu apa yang diinginkan oleh Putu Risang, terlihat Gajahmada sudah langsung melangkah mencari tempat yang agak lapang.

    Gajahmada telah bergerak merangkaikan jurus-jurusnya, namun semakin lama terlihat semakin cepat bergerak hingga gerakan Gajahmada mirib sebuah bayangan yang berkelebat kesana kemari.

    Setelah sekian lama menunjukkan kecepatannya bergerak, tiba-tiba saja Gajahmada diam berdiri didepan sebuah batu besar sekitar tujuh langkah darinya.

    Bukan main terkejutnya Pangeran Jayanagara melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri bahwa batu sebesar tubuh seekor kerbau itu dengan sebuah pukulan jarak jauh oleh Gajahmada telah hancur berkeping-keping berhamburan.

    “Aku hanya dapat memecahkannya”, berkata Pangeran Jayanagara dalam hati mengakui kekuatan tenaga sakti saudara seperguruannya itu.

    Diam-diam Putu Risang dapat menangkap apa yang ada dalam pikiran Pangeran Jayanagara.

    “Kemarilah”, berkata Putu Risang memanggil Gajahmada untuk mendekat.

    Maka terlihat tiga orang telah mengambil tempat untuk duduk dengan saling menghadap.

    “Sebagai seorang guru tidak ada sedikitpun didalam diriku ini untuk membeda-bedakan diantara kalian. Namun sebelumnya aku mohon maaf bila telah memberikan sebuah warisan ilmu yang berbeda. Perlu kalian ketahui bahwa aku memiliki dua jalur ilmu yang berbeda, satu jalur ilmu yang kudapat dan Senapati Mahesa Amping, dan satu lagi dari seorang pertapa dari Gunung Wilis. Kepada Pangeran Jayanagara, aku telah mewariskanmu sebuah olah laku yang berasal dari jalur Senapati Mahesa Amping yang juga dimiliki oleh Ayahmu sendiri Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Sementara itu kepada Gajahmada, aku telah mewariskan sebuah olah laku dari seorang pertapa Gunung Wilis”, berkata Putu Risang kepada kedua muridnya sambil memandang kearah kedua muridnya itu.

    Terlihat Putu Risang menarik nafas panjang, sudah lama sekali perkataan itu ingin disampaikan dan didengar langsung oleh kedua muridnya itu. Dan Putu Risang sebagai seorang guru tidak ingin ada kecemburuan dan salah prasangka diantara keduanya.

    “Ketika di goa kembar,tanpa sepengetahuan kamu, ayahmu sendiri telah membantu memberikan tenaga saktinya kepadamu”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada.”itulah sebabnya kekuatanmu telah berlipat selayaknya orang yang berlatih puluhan tahun lamanya”, berkata kembali Putu Risang mencoba menjelaskan apa yang ada di balik kekuatan Gajahmada agar Pangeran Jayanagara tidak salah sangka.

    “Siapa ayahku ?”, berkata Gajahmada belum dapat mengerti mendengar Putu Risang menyebut ayahnya.

    “Seorang pertapa sakti dari Gunung Wilis itulah ayahmu”, berkata Putu Risang perlahan.

  22. Terlihat wajah Gajahmada begitu berseri-seri. Bukan main gembiranya hati Gajahmada ketika mengetahui ayahnya tela datang menemuinya meski tanpa sepengethuan dirinya.Sudah lama pertanyaan itu selalu tersimpan di hatinya. Pernah pada suatu hari Gajahmada bertanya langsung kepada ibunya tentang ayahnya, namun Nyi Nari Ratih diam seribu bahasa, bahkan terlihat air mata menetes di pipi ibunya itu. Maka sejak saat itu Gajahmada tidak pernah bertanya lagi kepada ibunya tentang ayahnya itu. Namun hari ini telah mendengar berita tentang ayahnya dari gurunya sendiri, Putu Risang.

    “Aku pernah bertanya tentang ayahku kepada ibuku, tapi telah membuat ibuku bersedih dan tidak ada satu katapun keluar dari ibuku”, berkata Gajahmada. “Apakah kakang dapat mengetahui, dimana aku dapat menemui ayahku itu ?”, berkata dan bertanya Gajahmada kepada Putu Risang.

    “Pertapa dari Gunung Wilis itu adalah seorang pendeta bernama Darmayasa. Hanya itu yang kuketahui tentang dirinya. Terakhir aku menemuinya di Goa kembar itu”, berkata Putu Risang menyampaikan sebatas yang diketahuinya tentang ayah kandung Gajahmada itu.

    Terlihat Gajahmada tercenung diam membayangkan seorang ayah kandung yang entah dimana dan apakah dirinya suatu saat dapat bertemu ?.

    Akhirnya Putu Risang mencoba menggeser pembicaraan tentang kekuatan tenaga cadangan yang dapat diungkapkan lewat seluruh anggota panca indera, juga dapat disalurkan lewat senjata masing-masing.

    “Selama ada kesempatan, teruslah kalian berlatih agar mengenal sejati kukuatan sendiri. Pada akhirnya kalian sendiri yang akan mengenal kekuatan itu yang akan tumbuh berkembang dengan sendirinya”, berkata Putu Risang setelah merinci apa dan bagaimana kekuatan sejati itu tumbuh berkembang.

    Sementara itu langit diatas tepian sungai itu terlihat mulai berkabut tebal pertanda akan segera turun hujan.

    “Hari akan turun hujan, kita kembali ketempat masing-masing sambil menunggu perkembangan selanjutnya tentang tugas kita ini membayangi gerakan Patih Anggajaya”, berkata Putu Risang sambil bangkit berdiri.

    Terlihat Gajahmada dan Pangerang Jayanagara ikut berdiri.
    Kabut diatas langit terlihat semakin menebal hitam, namun belum juga datang turun hujan ketika mereka bertiga telah menyusuri jalan Kotaraja Kawali.

    “Carilah kami di pasar”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada ketika dirinya berbelok berpisah menuju tempat pondokannya.
    Dan hujan mulai turun rintik-rintik manakala Gajahmada tengah memasuki barak prajurit.

    “Ki Lurah Prajoga menunggumu”, berkata seorang prajurit yang mengenal diri Gajahmada.

    Mengetahui dirinya tengah ditunggu oleh Ki Lurah Prajoga, maka langsung Gajahmada menuju kesebuah tempat di barak itu yang biasa digunakan sebagai tempat pertemuan para perwira.

    • Hup…!!!
      baru bisa datang ke padepokan.

      matur suwun Ki “dhalang” Sandikala
      baca dulu, nanti malam saja dijebret.

      • baca dulu, sebelum dijebret…..mas Satpam,
        matur suwun Ki “dhalang” Sandikala

        • sugeng dalu,

          • Sugeng sampuh tilem.

          • Kulo nembe tangi, alhamdulillahilladzii ahyanaa ba’da maa amaatana wa ilaihi nusyuur

  23. Diruang itu Gajahmada melihat ada dua orang tengah bercakap-cakap, dua orang yang sudah dikenal oleh Gajahmada, yaitu Ki Lurah Prajoga dan Ki Lurah Pramuji.

    “Kukira kamu datang menjelang malam nanti”, berkata Ki Lurah Prajogi menyambut kedatangan Gajahmada.

    “Di Kotaraja ini aku tidak punya kerabat, jadi seharian ini Cuma jalan-jalan ke pasar”, berkata Gajahmada kepada Prajoga.

    “Kami memang sedang menunggumu”, berkata Prajoga mengawali sebuah pembicaraan yang akhirnya ternyata pembicaraan mengarah kepada penugasan Gajahmada.”Ki Lurah Pramuji telah meminta dirimu bertugas dilingkungan prajurit pengawal, kamu ditempatkan sebagai pengawal pribadi Patih Anggajaya”, berkata Prajoga kepada Gajahmada. “Sebenarnya secara pribadi, aku telah menyukai dirimu, menginginkan dirimu bertugas di kesatuanku”, berkata kembali Prajoga.

    “Persiapkan dirimu, aku akan mengantarmu ke tempat kediaman Patih Anggajaya”, berkata Ki Lurah Pramuji sambil tersenyum, entah apa yang dipikirkan olehnya tentang diri Gajahmada yang dinilainya punya nilai khusus di hati Pangeran Citraganda dan Putri Dyah Rara Wulan sampai-sampai kedua putra dan putri istana itu telah menitipkan sebuah pesan amanat tentang sebuah tugas pada diri seorang prajurit baru itu, seorang anak dusun, orang biasa seperti Gajahmada itu.

    Mendengar sebuah tugas baru itu terlihat Gajahmada pura-pura baru mendengar, padahal semua sudah direncanakan sebelumnya.”Pengaruh Pangeran Citraganda cukup kuat di istana ini”, berkata Gajahmada dalam hati.

    “Kamu dapat belajar dengan para prajurit lainnya, disana”, berkata Ki Lurah Pramuji kepada Gajahmada.

    “Aku akan mempersiapkan diri”, berkata Gajahmada sambil berdiri bangkit dari duduk berjalan keluar ruangan itu menuju ke baraknya untuk mengambil beberapa barang miliknya.

    Demikianlah, sore itu Gajahmada diantar Ki Lurah Pramuji ke tempat kediaman Patih Anggajaya.

    Tempat kediaman Patih Angajaya berada di pinggir jalan Kotaraja Kawali. Sebuah bangunan rumah yang cukup megah dan luas berjajar dengan rumah para bangsawan Kawali umumnya.

    “Aku membawa seorang prajurit baru, namanya Mahesa Muksa”, berkata Ki Lurah Pramuji memperkenalkan Gajahmada kepada kepala prajurit pengawal di rumah Patih Anggajaya.

    “Selamat bergabung dilingkungan para prajurit pengawal”, berkata Kepala prajurit itu kepada Gajahmada.

    Demikianlah, sejak saat itu Gajahmada telah bergabung sebagai prajurit pengawal yang ditempatkan dirumah kediaman Patih Angajaya.
    Baru satu dua hari saja, Gajahmada sudah banyak mengenal orang-orang yang berada di kediaman rumah Patih Anggajaya, seorang pekatik, para pengalasan dan beberapa pelayan dalam.

    Dan semua pekerja dilingkungan rumah Patih Anggajaya dalam waktu begitu singkat telah mengenal Gajahmada sebagai seorang prajurit muda yang ramah, rendah hati serta begitu mudah bergaul.

  24. Oooops………hampir cantrik kePLEset,

    LapoR mas Satpam, depan penDOpo beCeek sitik…!!!???

  25. selamat malam kadank sedoyo, situ cipondoh disambangi banjir lagi, hehehe, lumayan sambil ngeronda nunggu sang banyu bisa melanjut KDNP, hemm

    • mana …. mana ….
      he he he ….

      monggo Pak Lik dilanjut.

  26. Putu Risang dan Pangeran Jayanagara akhirnya seperti hapal kapan dapat menjumpai Gajahmada, yaitu bila suatu hari Gajahmada bertugas malam, maka siangnya mereka biasa bertemu ditepian sungai yang sepi. Demikianlah Gajahmada dan Pangeran jayanagara berlatih meningkatkan pemahaman tentang kekuatan yang ada di dalam diri mereka,tenaga sakti sejati. Dan semakin hari mereka berdua semakin cepat meningkat, lebih-lebih Gajahmada yang telah mempunyai tambahan tenaga sakti dari ayahnya sendiri, sang pertapa dari Gunung Wilis.

    Demikianlah, sore itu Kotaraja Kawali baru saja di guyur hujan lebat sehingga ketika menjelang malam hari udara di sekitar Kotaraja Kawali menjadi begitu dingin dan sepi.

    “Udara begitu dingin”, berkata seorang pengawal prajurit yang tengah bertugas di gardu ronda rumah kediaman Patih Anggajaya kepada Gajahmada yang tengah bertugas jaga di malam itu.

    “Nampaknya semua orang sudah tertidur pulas”, berkata Gajahmada menyambut perkataan kawannya itu.

    “Disaat udara dingin dan sepi seperti ini kita harus semakin waspada”, berkata kawan Gajahmada.

    “Benar, orang yang bermaksud jahat biasanya menunggu saat seperti ini”, berkata Gajahmada.

    Dan malam diatas rumah kediaman Patih Anggajaya saat itu memang terlihat begitu dingin dan sepi, temaram cahaya pelita tidak mampu menerangi kekelaman malam di halaman muka yang cukup luas itu.
    Suasana malampun menjadi semakin sepi manakala terdengar sayup suara kentongan nada dara muluk terdengar dari sebuah tempat yang jauh.

    “Tunggulah disini, aku ingin berkeliling melihat suasana”, berkata Gajahmada kepada kawannya itu.

    Maka di keremangan suasana malam terlihat Gajahmada telah keluar dari gardu ronda berjalan lewat halaman samping menuju kearah belakang rumah utama.

    Ternyata Gajahmada memang tengah merasakan panggraitanya yang sudah semakin tajam. Terlihat Gajahmada telah merapat di dinding rumah ketika melihat ada dua buah bayangan berkelebat masuk melewati dinding pagar rumah yang cukup tinggi.

    “Dua orang yang berilmu cukup tinggi”, berkata Gajahmada dalam hati ketika dua bayangan itu begitu hinggap di pekarangan rumah sudah langsung melesat dan melenting dengan begitu mudahnya sudah berada diatas atap rumah.

    Namun tanpa rasa gentar sedikitpun, Gajahmada sudah menghentakkan kakinya melesat tinggi hinggap diatas atap wuwungan rumah.

    Bukan main terkejutnya dua orang yang sudah lebih dahulu berada diata s atap wuwungan rumah itu melihat ada orang lain dibelakang mereka.

    “Jangan lari !!”, berkata Gajahmada kepada kedua orang itu yang telah melesat berlari diatas atap rumah mungkin karena melihat kehadiran Gajahmada.

    Terlihat Gajahmada terus memburu kedua orang itu yang sudah turun meloncat ke bawah.

    • “Jangan lari !!”
      satu rontal yang sudah akan jatuh, terbang lagi dibawa angin.
      Seperti punya mata, setiap akan tertangkap, rontal tersebut “mumbul” lagi terbawa angin.
      hadu…., capek ah….

      Yang satu sudah terpegang dan dijebret, lumayan….
      matur suwun

  27. Kedua orang itu pastilah punya ilmu yang cukup tinggi, karna begitu ringan dan mudahnya melompat kepekarangan belakang dan langsung pergi melompati dinding pagar yang juga cukup tinggi.

    Tapi Gajahmada yang sudah sering berlatih, mengenal kekuatan ilmu sejatinya sudah langsung melesat mengikuti kemana arah lari kedua orang itu.

    Maka kejar-kejaranpun terlihat dimalam gelap itu.

    “Berhenti!!”, berkata Gajahmada yang sudah berada dekat dengan mereka.

    Bukan main kagetnya kedua orang itu tidak menyangka sama sekali bahwa seorang pengawal prajurit dapat mengimbangi kecepatan mereka berlari.

    Mungkin karena merasa yang mengejar hanya seorang diri, maka kedua orang itu memang telah menghentikan langkahnya dan langsung berbalik badan.

    “Menyerahlah, aku akan menangkap kalian”, berkata Gajahmada kepada kedua orang itu.

    Kedua orang itu terlihat memakai cadar hitam tertutup, sukar sekali mengenali wajah mereka, apalagi saat itu suasana terlihat begitu gelap.

    Kedua orang itu tidak langsung menjawab, terlihat mereka berdua saling berbisik satu dengan yang lainnya.

    “Apakah kamu hendak menangkap kami, Mahesa Muksa ?”, bertanya salah seorang diantara mereka.

    “Siapa kalian ?”, berkata Gajahmada menjadi meragu mendengar salah seorang diantara mereka menyebut namanya.

    “Baru beberapa pekan sudah lupa denganku ?”, berkata seorang yang tadi berkata sambil melepas cadar hitamnya.

    Terkejut bukan kepalang Gajahmada manakala telah mengenali siapa salah seorang dihadapannya.

    Malam memang terlihat begitu suram menghalangi wajah orang yang telah membuka cadar hitamnya, tapi penglihatan Gajahmada tidak akan salah mengenali sebuah wajah dan suara itu.

    Ternyata wajah dan suara itu masih dikenal oleh Gajahmada sebagai wajah seorang gadis jelita yang siapapun bila pernah berjumpa dengannya pasti tidak akan melupakannya.

    Siapakah gadis jelita yang sudah dikenal oleh Gajahmada ??
    Ternyata gadis itu adalah Andini, seorang putri penguasa Rawa Rontek.

    “Andini ?”, berkata Gajahmada perlahan menyebut nama gadis itu.

    “Ternyata kamu seorang prajurit pengawal”, berkata seorang lagi yang juga telah membuka cadarnya.

    “Paman Kebo Samparan !”, berkata Gajahmada memandang orang kedua yang juga masih dikenali sebagai ayah kandung dari Andini, penguasa dan majikan Rawa Rontek.

    • Thank you ….

      habis makan siang, dapat camilan rontal

      hmmmm………

  28. Apakah kamu masih ingin menangkap kami ?”, berkata Paman Kebo Samparan kepada Gajahmada.

    Terlihat Gajahmada seperti ragu, merasa bimbang apa yang akan dilakukan olehnya terhadap kedua orang yang dikenalnya itu. Gajahmada pun berpikir dalam hati bahwa ayah dan anak itu bukanlah seorang penjahat.

    “Kalau boleh tahu, apa yang kalian inginkan dengan memasuki kediaman Patih Anggajaya di malam hari, juga dengan cara sembunyi”, berkata Gajahmada

    “Ayahku dapat menjelaskannya”, berkata Andini sambil menoleh kepada ayahnya, Kebo Samparan yang diharapkan dapat menjelaskan semuanya hingga tidak ada salah paham sedikitpun dari Gajahmada.

    “Kami bersama Andini telah mencari tahu tentang keberadaan ibunya. Di Kotaraja Rakata kami mendapat sebuah keterangan bahwa ibunya Andini telah menjadi seorang istri seorang pejabat istana Pasundan.

    Akhirnya pejabat itu kami ketahui adalah Patih Anggajaya. Itulah sebabnya dimalam hari kami bermaksud ingin meyakini bahwa ibunya Andini benar adanya berada di rumah itu”, berkata Kebo Samparan menjelaskan semuanya kepada Gajahmada.

    “Mengapa tidak datang secara terang-terangan di siang hari ?”, bertanya Gajahmada

    “Kami takut ibunda Andini belum siap menerima kami”, berkata Kebo Samparan memberikan sebuah alasan.

    Terlihat Gajahmada yang pernah mendengar sebuah cerita tentang kisah asmara Paman Kebo Samparan dengan seorang putri dari Kerajaan Rakata itu diam-diam dapat memahami alasan dari Kebo Samparan mendatangi kediaman Patih Anggajaya di malam hari.

    “Waktu kita sangat singkat, ada yang perlu kalian ketahui tentang Patih Anggajaya. Besok ku tunggu kalian di tepian sungai selatan Kotaraja Kawali”, berkata Gajahmada kepada Andini dan Kebo Samparan.

    “Baik, kami akan kesana besok pagi”, berkata Kebo Samparan sambil memegang tangan Andini dan melambaikan tangannya kepada Gajahmada.

    Kegelapan malam seperti telah menelan tubuh mereka yang sudah tidak terlihat lagi. Sementara itu Gajahmada masih berdiri menarik nafas panjang, entah apa yang dipikirkannya. Apakah kepergian gadis jelita itu atau kisah ayah dan anak itu yang berkaitan dengan Patih Anggajaya seorang yang tengah dibayangi gerakannya sehingga sampai dirinya menyamar sebagai seorang prajurit pengawal.

    Terlihat Gajahmada telah berbalik badan kembali ke rumah Patih Anggajaya sebagaimana dirinya keluar, yaitu dari dinding pekarangan belakang.

    Pekarangan belakang rumah kediaman Patih Anggajaya masih terlihat sepi.

    “Lama sekali kamu ke belakang”, berkata kawan Gajahmada ketika melihatnya muncul kembali di muka gardu penjaga.

    “Ki Ijam masih belum tidur, minta ditemani berbincang-bincang”, berkata Gajahmada memberikan sebuah alasan.

    • He he he ….

      Ki ndul dan Ki BP kemana ya kok belum kelihatan

      • Di belakang sambil membayangi Maheso Mukso

        • halah…. paling yg dimaksud Andini

          • di sini to gothakannya ki kompor, sugeng enjing ki

          • Njih Ki
            monggo, ikut meramaikan gandok

  29. Dan pagi itu cahaya matahari telah menerangi bumi Kotaraja Kawali. Terlihat beberapa orang sudah berlalu lalang di jalan Kotaraja, mungkin ada diantara mereka yang tengah berangkat ke pasar Kotaraja.

    Diantara orang-orang yang berlalu lalang dijalan Kotaraja, terlihat seorang pemuda tengah berjalan kearah selatan Kotaraja. Ternyata pemuda itu adalah Gajahmada yang tengah menuju ke sebuah tepian sungai, sebuah tempat yang sangat sepi dan jarang sekali dikunjungi oleh siapapun saat itu.

    Ketika Gajahmada tiba di tepian sungai itu, dilihatnya Andini bersama ayahna sudah mendahuluinya.

    Terlihat Andini menyambutnya dengan sebuah senyum, juga ayah kandungnya tersenyum ramah kepada Gajahmada.

    “Kita bertemu lagi, sahabat muda”, berkata Kebo Samparan kepada Gajahmada ketika telah mendekati mereka berdua.

    “Apakah kalian berdua sudah lama menunggu ?”, bertanya Gajahmada

    “kami belum lama berselang kedatanganmu”, Andini yang menjawab pertanyaan Gajahmada.

    “Kita masih harus menunggu dua orang kawan lagi”, berkata Gajahmada

    “Siapa dua orang kawan kita itu ?”, kali ini Kebo Samparan yang bertanya kepada Gajahmada.

    “Kakang Putu Risang dan Pangeran Jayanagara”, berkata Gajahmada singkat.

    “Ternyata mereka ada di Kotaraja Kawali pula”, berkata Kebo Samparan yang masih ingat dengan Putu Risang dan Pangeran Jayanagara.

    “Apakah kalian biasa bertemu di tepian sungai ini”, bertanya Andini kepada Gajahmada.

    “Dalam hari-hari tertentu, biasanya disaat aku bebas tugas sebagai pengawal prajurit”, berkata Gajahmada menjelaskan.

    Ternyata mereka tidak perlu lama menunggu, tidak begitu lama berselang telah terlihat Putu Risang dan Pangeran Jayanagara tengah mendatangi mereka.

    “Dunia sepertinya begitu sempit”, berkata Kebo Samparan penuh kegembiraan telah bertemu kembali dengan Putu Risang dan Pangeran Jayanagara.

    Sebelum Putu Risang bertanya, maka Gajahmada dengan singkat telah bercerita tentang pertemuan mereka tadi malam di kediaman Patih Anggajaya.

    Terlihat Putu Risang dan Pangeran Jayanagara yang pernah mendengar kisah asmara antara Kebo Samparan dan seorang putri bangsawan kerajaan Rakata sudah langsung dapat mengerti kepentingan mereka ayah dan anak itu, yaitu ingin mengetahui keadaan ibunda Andini, yang saat itu telah menjadi istri Patih Anggajaya.

    Maka dengan singkat pula Putu Risang memberikan penjelasan mengapa mereka berkeliaran disekitar Kotaraja Kawali, disamping masih berkaitan dengan hilangnya Kujang Pangeran Muncang, juga tengah membayangi sebuah gerakan hitam yang akan dilakukan Patih Anggajaya.

  30. Mohon maaf, ada kesalahan nama, maunya nulis “bango Samparan”, enggak tahu tangan ini nyasar jadi nulis”Kebo Samparan”, hehe…mohon dipersori donk…..

    • Permohonan dikabulkan…
      he he he …..

      matur suwun

    • Dima’afkan Ki, kafaratnya 3 lembar lagi.

      • hahaha, oke deh kalo begitu, qiqiqiqq

  31. Dan hari-haripun berlalu bersama musim penghujan di bumi Kotaraja Kawali saat itu dimana para petani menjadikannya sebagai masa-masa penuh gairah sebagai awal musim untuk memulai bercocok tanam. Sebuah perputaran musim yang masih terus teratur sepanjang tahun, sebuah anugerah alam dalam perputaran iklim dan musim diatas tanah Pasundan yang subur.

    Namun musim penghujan kali ini telah membuat suasana diatas Kotaraja Kawali menjadikan hari-harinya lebih dingin lagi, terutama manakala datang saat malam tiba.

    Dingin dan kebekuan memang telah menyelimuti suasana malam di bumi Kotaraja Kawali. Seperti itu pula suasana jiwa yang mengiringi hari-hari Dewi Kaswari, seorang wanita yang telah disunting oleh Patih Anggajaya menjadi istrinya itu.

    Semula Dewi Kaswari telah berharap bahwa perkawinannya dapat menghapus segala keresahan dan kegetiran hidupnya. Dewi Kaswari telah berharap bahwa suaminya Anggajaya adalah seorang pria yang dapat membawanya kedalam kehidupan penuh ketentraman hati.

    Namun semua harapan itu seperti hanya tergantung dalam langit-langit hayal, Anggajaya ternyata bukan seorang suami yang baik. Kehadirannya disisi wanita putri kesayangan Raja Rakata itu ternyata hanya sebuah batu pijakan dalam sebuah hasrat ambisi yang membumbung menggulung-gulung dalam jiwa lelaki itu.

    Anggajaya, adalah sebuah sosok lelaki yang terlahir dan dibesarkan tumbuh membawa benih dendam kesumat dari sebuah pergolakan dan kekalahan sebuah peperangan. Dia adalah putra seorang Senapati Kerajaan Rakata yang terbunuh dalam sebuah peperangan besar pergumulan sebuah kekuasaan di bumi Pasundan.

    Dan sepertinya akhir perjalanan hasrat Patih Anggajaya akan bergelincir diujung harapan hingga pada sebuah pagi seorang pemuda, seorang pengawal prajurit yang bertugas di rumahnya datang menghadap menemui Dewi Kaswari di pendapa Patih Anggajaya.

    “Mohon ampun Nyi Ayu, perkenankan hamba menghadap”, berkata prajurit pengawal muda itu yang ternyata adalah Gajahmada.

    “Kuperkenankan dirimu menghadap, apa kiranya yang hendak kamu sampaikan wahai anak muda ?”, berkata Dewi Kaswari yang sudah mengenal Gajahmada sebagai seorang prajurit muda yang baru bertugas dilingkungan tempat tinggalnya.

    Terlihat Dewi Kaswari bersama seorang pelayan wanita tua memperhatikan dengan seksama kearah Gajahmada yang tengah mengambil sesuatu dari balik pakaiannya.

    Dengan penuh hormat Gajahmada memperlihatkan sebuah benda di hadapan Dewi Kaswari berbentuk seperti sebuah tusuk konde dari bahan perak berukir pohon pisang, sebuah benda hasil karya yang unik dan halus, siapapun di jaman itu akan tahu pasti buah karya para pengrajin dari Kotaraja Rakata yang sudah termasyur di penjuru dunia di jamannya.

    “Hamba ingin menyerahkan benda ini kepada Nyi Ayu”, berkata Gajahmada kepada Dewi Kaswari.

    Terlihat Dewi Kaswari begitu terperanjat menatap benda di tangan Gajahmada.

    • pag ki komp

      • pagi juga kangsyakuur, apakah saya berhadapan dengan Ki BukanSms ??, hehe

        • betul…betul…betu…
          he he he ….

        • ki bukansms sudah lima tahun lenyap dari peredaran loh ki komp😀

          • Iya, sekarang ganti WhatAps, Line, atau yang lain
            he he he …

          • betul sekali ki putri😛
            ki komp fb-nya juga udah lama gak disentuh lagi, juga ki mbleh dkk,
            malah padepokan induk juga sudah jarang disambangi pasukan menoreh, hanya kadang-kadang saja ada burung kedasih iseng

          • Ki Gembleh takut “keleban lendut benter” terus “mendelik” di nDepok, he he he …

  32. Dewi Kaswari tidak langsung mengambil benda itu dari tangan Gajahmada, matanya masih terpaku kepada benda berbentuk tusuk konde itu.

    Dan seperti sebuah untaian manik-manik yang ditarik paksa, pecah seketika berurai.

    “Bibi…!!”, hanya itu yang terdengar dari suara Dewi Kaswari yang telah rebah memeluk pelayan tua disebelahnya.

    Bibi Ijah, demikian nama panggilan pelayan tua itu terlihat tengah mengusap-usap rambut majikannya itu. Seperti seorang ibu, bibi Ijah yang telah merawat Dewi Kaswari semenjak kecil itu sepertinya tahu betul apa yang ada dalam perasaan majikannya itu.

    “Biarkan kami berdua disini”, berkata Bibi Ijah kepada Gajahmada dengan suara berbisik.

    Dan Gajahmada mengerti maksuk perkataan Bibi Ijah, maka diserahkannya benda itu kepada Bibi Ijah sambil pamit untuk kembali bertugas di gardu penjagaan.

    Terlihat Gajahmada sudah berada di pekarangan rumah menuju ke gardu penjagaan. Hati dan perasaan Gajahmada masih terbawa suasana di atas pendapa kediaman Patih Anggajaya itu. Gajahmada memahami perasaan Dewi Kaswari saat itu sebagai perasaan seorang wanita yang sangat halus mengingat kembali kepada sebuah masa yang tidak akan mungkin dapat dilupakannya.

    “Tolong panggilkan untukku pengawal prajurit itu, bibi”, berkata Dewi Kaswari yang sudah mulai dapat menguasai perasaan hatinya.
    Maka Bibi Ijah segera bangkit berdiri turun dari pendapa menuju ke gardu penjagaan.

    “Nyi Ayu memintamu datang menghadapnya”, berkata Bibi Ijah kepada Gajahmada yang telah berada di gardu penjagaan bersama kawannya.

    Maka segera terlihat Gajahmada sudah berjalan bersama Bibi Ijah dipekarangan rumah menuju pendapa rumah dimana Dewi Kaswari sedang duduk menunggu mereka.

    Ketika mereka naik keatas pendapa, terihat bibi Ijah langsung duduk disebelah majikannya. Sementara Gajahmada telah bersimpuh penuh hormat dihadapan Dewi Kaswari.

    Terlihat Gajahmada menarik nafas panjang melihat sebentar kelopak mata Dewi Kaswari yang tebal seperti habis menangis.

    “Dapatkah kamu bercerita siapa yang memberikan benda tusuk konde itu kepadamu ?”, bertanya Dewi kaswari kepada Gajahmada.

    Terlihat Gajahmada tidak langsung menjawab, hanya menarik nafas dalam-dalam kembali.

    “Lelaki yang meminta hamba menyerahkan benda itu bernama Bango Samparan”, berkata Gajahmada berhenti sebentar sambil mengawasi apakah ada perubahan sikap di wajah Dewi Kaswari manakala dirinya menyebut sebuah nama.

    Ternyata Dewi Kaswari sudah dapat menduga bahwa benda itu memang milik seorang lelaki yang sangat dikenalnya. Sekilas Gajahmada melihat sebuah kilatan kegembiraan dimata Dewi Kaswari.

    • kafarat ke dua, hehehe

      • Sepuntenipun Ki Dalang, Ulang tahun tidak diberi kado malahan di beri denda. Seperti yang lalu Ki Dalang : Semoga yang telah berlalu menjadi berkah, yang sekarang mendapat rohmah dan yang akan datang senantiasa dalam hidayah.
        Mas Risang dan Ki Gun, mana kue HBDnya ????

        • Upss…
          Wah….., Risang tidak tahu kalau kemarin Pak Dhalangnya ulang tahun.
          hmmm……, ini kue ulang tahunnya

          ultah sandikala

          he he he …
          semoga di tahun-tahun tetap sehat, dan… lebih banyak menulis, he he he …..

          • sugeng ULTAH pak Dalang,

            salam perSEDULURan……3-Se, sehat, semangat, sekses

          • #eh ada yang ultah to

          • met ultah deh ki ndul, eh ki por ding😛

  33. “Dimana kamu bertemu dengannya ?, apakah ada pesan darinya ?, dimana aku dapat menemuinya ?”, bertanya Dewi Kaswari kepada Gajahmada.

    Mendengar pertanyaan yang beruntun itu Gajahmada terlihat sedikit tersenyum.

    “Hamba telah mengenalnya sebagai seorang majikan penguasa Rawa Rontek. Paman Bango Samparan datang bersama putrinya di Kotaraja ini memang bermaksud bertemu dengan Nyi Ayu”, berkata Gajahmada perlahan.

    “Dia datang bersama putrinya?, berkata Dewi Kaswari dengan wajah penuh kegembiraan hati terlihat dari rona cerah di matanya.” Seusia berapa putrinya itu ?, berkata dan bertanya kembali Dewi Kaswari.

    “Lebih muda sedikit dari usia hamba saat ini”, berkata Gajahmada.

    “Dimana aku dapat menemui mereka ?”, berkata Dewi Kaswari seperti tidak sabaran lagi.

    “Paman Bango Samparan berkata kepadaku tidak ingin kehadirannya akan mengganggu kehidupan Nyi Ayu. Apa yang dilakukannya datang ke Kotaraja Kawali ini hanya untuk mempertemukan putri kandungnya kepada Nyi Ayu. Untuk hal itu hamba dapat mengaturnya”, berkata Gajahmada perlahan berusaha menyusun kata-demi kata sambil menilik sikap Dewi Kaswari yang ternyata sesuai dari dugaannya semula, sangat gembira terutama ketika disebut seorang putri yang datang bersama Bango Samparan.

    Terlihat Dewi Kaswari seperti tengah berpikir, merenung sejenak.

    “Apakah bibi Ijah punya sebuah pemikiran agar aku dapat menemui putriku itu….”, berkata Dewi Kaswari kepada Bibi Ijah yang selama itu hanya diam mendengarkan.

    Sementara itu Gajahmada yang telah mendengar kisah asmara Bango Samparan dan Dewi Kaswari dapat memaklumi ketika Dewi Kaswari seperti ragu manakala menyebut kata “putriku”, sebuah kata yang sangat rahasia dan sudah seperti lama dipendam dan dikubur rapat-rapat.

    Sementara itu Bibi Ijah yang juga telah mengetahui rahasia kisah cinta majikannya itu terlihat menarik nafas dalam-dalam berusaha berpikir keras.

    Terlihat wajah Bibi Ijah menjadi cerah dan jernih dengan sebuah sedikit senyuman dibibirnya. Sebagai tanda telah menemukan sebuah jalan terang dalam pikirannya.

    “Siapa nama putri Bango Samparan ?”, berkata Bibi Ijah kepada Gajahmada.

    “Namanya Andini”,berkata Gajahmada.

    “Kita dapat membawanya kesini, untuk menghindari kecurigaan orang, kita dapat menyusupkannya mungkin sebagai seorang pelayan dalem. Apakah Nyi Ayu tidak berkeberatan dengan buah pikiranku ini ?”, berkata Bibi Ijah sambil menoleh kearah Dewi Kaswari.

    Sejenak Dewi Kaswari menatap wajah pelayan tua yang sangat dikasihi dan dipercayakannya itu. Tanpa berkata apapun terlihat Dewi Kaswari menganggukkan kepalanya sebagai tanda menyetujui usulan Bibi Ijah itu.

    • cihuiiiiiii…..lunas sudah tiga kafarat buat Ki BP, hahaha

  34. Seperti untaian benang emas yang disulam diatas tenunan kain sutera, cahaya matahari diatas bumi Kotaraja Kawali disaat musim penghujan itu seperti sebuah anugerah kehangatan sejenak diwadahi para penghunni bumi.

    Dan hari-hari di kediaman Patih Anggajaya menjadi lebih hangat dari sebelumnya semenjak ada kehadiran seorang gadis jelita.

    Siapa gerangan gadis jelita itu ?

    Ternyata gadis itu tidak lain adalah Andini.

    Selain Gajahmada, Bibi Ijah dan Dewi Kaswari, tidak ada seorangpun di kediaman Patih Anggajaya yang mengetahui sejati Andini sebenarnya. Mereka hanya mengetahui bahwa Andini adalah anak kemenakan Bibi Ijah yang datang ikut bekerja.

    Siapapun di kediaman Patih Anggajaya tidak bercuriga sedikitpun, meski kadang melihat sikap yang sangat istimewa kepada Andini. Tapi mereka menganggap bahwa sikap istimewa itu lebih cenderung kepada sikap seorang wanita yang tidak dikaruniai seorang anak setelah masa perkawinan mereka yang terhitung cukup lama, hanya itu dan sebatas itulah persangkaan mereka atas sikap istimewa Dewi Kaswari kepada Andini.

    Bagaimana sikap Patih Anggajaya terhadap perlakuan istimewa istrinya itu ?

    Sebagaimana orang lain, persangkaannyapun hampir sama, memaklumi perasaan istrinya itu.

    Namun kehadiran gadis jelita itu telah membuat iri kawan-kawan Gajahmada, terutama melihat perlakuan khusus yang dapat dibaca oleh siapapun terhadap sikap Andini kepada Gajahmada.

    “Hari ini kami membuat kudapan getuk manis, mudah-mudahan kamu menyukainya”, berkata Andini yang datang ke gardu penjagaan menemui Gajahmada.

    “Terima kasih”, berkata Gajahmada kepada Andini sambil menerima pemberian makanan itu.

    “Berkahnya bertugas bersamamu, selalu ada kiriman cemilan dari dalam”, berkata kawan Gajahmada ketika Andini telah kembali ke dalam rumah tidak terlihat lagi.

    Terlihat Gajahmada tidak berkata apapun, hanya sedikit tersenyum sambil menikmati sejumput getuk manis pemberian Andini itu.

    Demikianlah, hari hari berlalu di kediaman Patih Anggajaya.

    Hingga di sebuah siang ketika seorang kawan kawan Gajahmada tidak ada di gardu penjagaan, terlihat Andini telah mendekati Gajahmada yang tengah sendiri.

    “Ada berita yang kudapat dari ibunda Dewi Kaswari, sebuah rencana rahasia Patih Anggajaya”, berkata Andini kepada Gajahmada dengan berbisik.

    “Sebuah rencana ?”, bertanya Gajahmada.

    “Benar, sebuah rencana”, berkata Andini yang langsung bercerita tentang sebuah rencana Patih Anggajaya yang didapat dari Dewi Kaswari.

    • gimana pak satpam, satu rontal lagi kah sudah dapat melesat ke gandhok baru ??, hehehe

      • Plepegen aku, tidak ada hujan tidak ada angin kok ada banjir
        he he he …, tapi banjir rontal.

        Masih belum tahu Paklik, buku besar di rumah.
        Kalau tidak salah sudah sampai ke halaman 62 (lupa, 62 apa 64).
        Saya coba kliping dulu, apakah sudah mencukupi.

        Pastinya, masih nanti malam.

      • Masih kurang 4 halaman Pak Dhalang
        kalau satu rontal 1.5 halaman, maka kurang 3 rontal lagi.

        • okelah kalo begitu,

          jiunggg…..melesat kembali dikeremangan malam, menghilang jauh dan berdiri dilereng gunung Ciseeng sambil memandang bumi Jayakarta yang masih mendung dikalungi banjir, sebagaimana Erlangga yang berdiri dilereng bukit Penanggungan, hahahaha

          Selamat sore kadank sedoyo

          • Jebret…..
            rontal sudah dijebret dan ditata di rak yang sudah disediakan.
            menunggu rontal lanjutan untuk menutup gandok 02.

          • Huppp…….jebrat-jebreT,

            mas Satpam lagi asik tunaikan tugas pemBENdeLan.

  35. Selamat malam kadank sedoyo

    • Akhir Malam Ki Gun

  36. Dan malam baru saja berganti manakala terlihat seorang pemuda berjalan keluar dari kediaman Patih Anggajaya.

    Ketika cahaya oncor di sebuah regol menerangi wajah pemuda itu, terlihatlah jelas wajah pemuda itu yang tidak lain adalah Gajahmada.
    Setelah mendengar penuturan Andini tentang sebuah rencana, tidak harus menunggu besok, malam itu juga Gajahmada sudah keluar dari kediaman Patih Anggajaya untuk menemui Putu Risang di pondokannya.

    “Pasti ada sebuah berita sangat penting sehingga kamu tidak lagi menunggu pagi”, berkata Putu Risang di pondokannya kepada Gajahmada.

    Ternyata di pondokannya itu juga hadir Pangeran Jayanagara dan Bango Samparan.

    “Ada sebuah berita yang sangat penting”, berkata Gajahmada membenarkan dugaan Putu Risang.

    Maka Gajahmada langsung menuturkan sebuah rencana Patih Anggajaya sebagaimana yang didengarnya dari Andini.”Ternyata Patih Anggajaya sudah punya seorang tumbal arang”, berkata Gajahmada dalam penuturannya.

    Siapakah yang dimaksud sebagai seorang tumbal arang oleh Gajahmada ?
    Sebagaimana yang dituturkan Gajahmada kepada Putu Risang, Pangrrang Jayanagara dan Bango Samparan, ternyata Patih Anggajaya telah berhasil menghasut seorang senapati muda bernama Suradilaga, seorang pahlawan Pasundan yang telah banyak berjasa dalam berbagai peperangan. Dengan sebuah kelicikan Patih Anggajaya berhasil memindah tugaskan Senapati muda itu kesebuah tempat yang jauh. Dan dengan kelicikannya pula senapati muda itu dibakar perasaannya bahwa pemindah tugasannya berkaitan dengan seorang putri Temenggung yang dicintainya. Sengaja Patih Anggajaya membuat berita palsu bahwa Baginda Raja akan melamar gadis putri Temenggung itu untuk putranya Pangeran Citraganda.
    Patih Anggajaya telah berhasil membakar perasaan Senapati Suradilaga.

    “Baginda Raja Ragasuci tidak ingin pamor kebesarannmu dapat menghalangi kewibawaannya, itulah sebabnya kamu dikucilkan ketempat jauh”, berkata Patih Anggajaya menghasut Senapati Suradilaga.

    Setelah berhasil membakar perasaan Senapati Suradilaga, Patih yang terkenal kelicikannya itu telah menawarkan sebuah kesepakatan yang membuat Senapati Suradilaga benar-benar terbuai.

    Apa janji penawaran Patih Anggajaya itu kepada Senapati Suradilaga ?

    Ternyata Patih Anggajaya menawarkan sebuah tahta bilamana dirinya dapat membunuh sang Raja.

    Maka diaturlah sebuah kesepakatan antara Patih Anggajaya dan senapati Suradilaga untuk membunuh Raja Ragasuci di saat musim pemburuan di hutan Sindur.

    “Tumbal arang itu pasti akan dihabisi oleh Patih Anggajaya di saat yang tepat”, berkata Gajahmada mengahiri penuturannya mengenai sebuah rencana jahat Patih Anggajaya.

  37. Namun disaat mereka masih membicarakan tentang rencana Patih Anggajaya, muncul Pangeran Citraganda di pondokan mereka.

    “Kamu datang disaat yang tepat”, berkata Putu Risang kepada Pangeran Citraganda yang baru datang itu.

    “Entah mengapa aku rindu bertemu kalian”, berkata Pangeran Citraganda langsung duduk ngeriung bersama di atas bale-bale.

    Maka Putu Risang menyampaikan apa yang baru saja di dengar dari Gajahmada kepada Pangeran Citraganda.

    “Senapati Suradilaga bulan lalu telah diangkat menjadi seorang Adipati di Singaparna karena jasa-jasanya, sungguh jahat Patih Anggajaya yang telah memutar balikkan kebaikan Ayahanda”, berkata Pangeran Citraganda setelah mendengar penuturan Putu Risang.

    “Baginda Raja Ragasuci harus segera mengetahui rencana jahat itu”, berkata Putu Risang.

    “Malam ini juga aku akan menyampaikannya kepada Ayahanda”, berkata Pangeran Citraganda.

    “Bagus, besok kita berangkat bersama ke Padepokan Prabu Guru Darmasiksa untuk melaporkan berita ini”, berkata Putu Risang.

    “Kalau begitu aku akan kembali ke istana bertemu dengan Ayahanda, besok kita bertemu di gerbang batas kota untuk berangkat bersama ke lereng Gunung Galunggung menemui Eyang Prabu”, berkata Pangeran Citraganda.

    Maka terlihat Pangeran Citraganda sudah berdiri untuk kembali ke istana, namun masih sempat memberi sebuah pesan kepada Gajahmada.

    “Kapan kamu bebas tugas ?”, bertanya Pangeran Citraganda kepada Gajahmada sambil tersenyum

    “Besok lusa”, berkata Gajahmada tanpa tahu kemana arah pertanyaan Pangeran Citraganda itu.

    “Besok lusa jangan kemana-mana, ada seorang putrid istana yang ingin diantar oleh seorang prajurit pengawal”, berkata Pangeran Citraganda masih dengan senyumnya.

    Mendengar perkataan itu terlihat Gajahmada ikut tersenyum, terbayang seorang gadis manis yang manja, tapi sangat menyenangkan hati. Siapa gadis itu kalau bukan Diah Rara Wulan.

    Demikianlah, Pangeran Citraganda telah keluar dari pondokan untuk kembali ke istana. Berselang tidak lama kemudian Gajahmada mohon pamit untuk kembali ke tempat kediaman Patih Anggajaya.

    Dan dikeremangan malam terlihat Gajahmada tengah menyusuri jalan Kotaraja Kawali menuju tempat kediaman Patih Anggajaya.

    “Kukira kamu tidak akan datang kembali”, berkata kawan Gajahmada di gardu penjagaan.

    “Apakah tidak ada kejadian apapun selama aku tidak ada ?”, berkata Gajahmada kepada kawannya itu.

    “Untungnya tidak ada kejadian apapun selama kamu belum datang”, berkata kawan Gajahmada.

    • dua, hehehe

  38. Nanggung……
    coba ada sedikit lagi, he he he …..

    • Nanggung……
      coba sedikit-sedikit ada lagi, he he he …..

      • Nanggung……
        coba sedikit-sedikit-sedikit ada lagi, he he he …..

        • sugeng dalu pak Dalang, mas Satpam
          Ki Budi P, Ki AS

          • Selamat malam
            Sengkaling malam ini dingin sekali
            Hujan mulai bakda Isya

  39. Pagi Semua

  40. Selamat pagi

    masih sepi, eh… gak ding, sudah banyak yang masuk gandok, tetapi blusak-blusuk tok, tidak mau ngisi daftar hadir

    he he he ….

    gak apa-apalah yang penting rame

  41. Dan pagi itu udara masih terlihat berkabut kuat diatas Kotaraja Kawali. Terlihat empat ekor kuda telah keluar dari gerbang batas kota sebelah barat.

    Keempat penunggang kuda itu nampaknya tidak memacu kudanya dengan cepat, meski begitu langkah kaki kuda telah membuat debu mengepul di belakang mereka. Dan angin pagi yang dingin terlihat telah menyapu wajah dan rambut mereka.

    Keempat penunggang itu ternyata adalah Putu Risang, Pangeran Jayanagara, Pangeran Citraganda dan Bango Samparan yang tengah berjalan menuju Gunung Galunggung menemui Prabu Guru Darmasiksa.

    Tidak ada kejadian apapun selama diperjalanan mereka.
    Jarak antara Gunung Galunggung dan Kotaraja Kawali memang tidak begitu jauh. Ketika matahari terlihat mulai meredup menjelang senja mereka telah berada di sebuah lereng Gunung Galunggung.

    “Kami disini selalu menunggu kabar dari kalian”, berkata Prabu Guru Darmasiksa menyambut kedatangan mereka.

    Maka Putu Risang telah memperkenalkan Bango Samparan kepada semua yang hadir di atas pendapa Padepokan Prabu uru Darmasiksa dimana saat itu juga hadir Jayakatwang dan Pendeta Gunakara.

    Setelah bersih-bersih diri di pakiwan dan beristirahat dengan cukup, akhirnya Putu Risang telah bercerita cukup rinci sebuah perkembangan yang ada di Kotaraja Kawali.

    “Jadi Patih Anggajaya akan menggunakan tangan Adipati Suradilaga untuk membunuh Raja Ragasuci”, berkata Prabu Guru Darmasiksa setelah mendengar semua cerita dari Putu Risang.

    “Masa perburuan direncanakan pada purnama bulan depan”, berkata Pangeran Citraganda menambahkan.

    “Kita buat sebuah jebakan dimana Patih Anggajaya akan termakan oleh senjatanya sendiri”, berkata Prabu Guru Darmasiksa membuat sebuah siasat.

    “Cucunda belum dapat memahami apa yang Eyang Prabu maksudkan”, bertanya Pangeran Citraganda yang belum mengerti arah pembicaraan Prabu Guru Darmasiksa.

    Terlihat Prabu Guru Darmasiksa tidak langsung menjawab pertanyaan Pangeran Citraganda, hanya sedikit tersenyum mendengar pertanyaan dari cucunya itu.

    “Kita harus dapat membuka mata hati Adipati Suradilaga, dengan cara itu kita sudah dapat menjadikannya kawan sekutu yang baik”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambil memandang kearah semua yang hadir di pendapa padepokannya.

    “Sekarang cucunda baru paham”, berkata pangeran Citraganda sambil manggut-manggut tanda sudah memahami apa yang ada dalam pikiran kakeknya itu.

    “Sekarang siapa yang dapat mendatangi Adipati Suradilaga itu ?”, bertanya Pangeran Jayanagara.

    • kamsiaaaaa…….., rontal ke tiga, hehehe

      • he he he ….

        rontal selanjutnya bisa langsung ke gandoknya, sudah siap sejak 24 Januari kemarin, he he he ………………….

        • mantabbb, sudah ada tabungan nich, hehe

          • tabungan……..JBB
            jajan bareng-bareng………..asiiiiiKKKKK,

  42. wah…..belum ada rontal yang jatuh

    • wah-wah……rontal yang jatuh belum ada

      • gandok sudah ditutup kok pada nekat jagongan di sini, hadu…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: