KDNP-03

<< kembali | lanjut >>

KDNP-03

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 24 Januari 2014 at 00:01  Comments (150)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/kdnp-03/trackback/

RSS feed for comments on this post.

150 KomentarTinggalkan komentar

  1. Mendengar Dyah Rara Wulan masih saja membela Mahesa Muksa, sang permaisuri Ratu Dara Puspa semakin panas hatinya.

    “Apa kelebihan anak muda prajurit rendahan itu, bukankah begitu banyak perwira tinggi yang masih muda yang berusaha memikat hatimu wahai putriku?”, berkata sang permaisuri Ratu dara Puspa masih mengekang perasaan hatinya dihadapan putrinya itu.

    “Ibunda tidak tahu apa yang ananda rasakan. Bila saja hati ini dapat memilih, pasti ananda carikan seorang pangeran tampan, berkuasa dan kaya raya. Namun hati ini memang tidak dapat memilih apalagi meminta”, berkata Dyah Rara Wulan berdesah pelan seperti kepada dirinya.

    Mendengar pernyataan hati putri kesayangannya itu, terlihat sang permaisuri Ratu Dara Puspa sudah tidak dapat lagi menahan kekesalan perasaan hatinya itu.

    “kamu pasti telah diguna-gunai prajurit rendahan itu”, berkata sang permaisuri Ratu Dara Puspa sambil berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan Dyah Rara Wulan di pinggir kolam taman pasanggrahan Keputrian Istana.

    Sementara itu hari sudah mulai menjelang sore, seorang pemimpin prajurit dengan tangan kosong telah melaporkan apa yang telah mereka laksankan seharian itu kepada Patih Anggajaya.

    “Kami sudah menyisir semua tempat di Kotaraja Kawali ini, namun tidak juga mendapatkan anak gadis dan pemuda itu”, berkata pemimpin prajurit itu kepada Patih Anggajaya.

    “Kumpulkan beberapa prajurit agar melakukan pengejaran kebeberapa tempat”, berkata Patih Anggajaya dengan wajah penuh murka.

    “Kami akan laksanakan perintah tuan Patih”, berkata pemimpin prajurit itu sambil menunduk penuh hormat.

    Ketika pemimpin prajurit itu telah pergi, terlihat Patih Anggajaya langsung melangkahkan kakinya menuju kuil istana.

    “Aku telah tertinggal satu langkah dengan anak muda itu”, berkata Patih Anggajaya kepada pendeta Rakanata ketika telah bertemu di kuil istana.

    Terlihat pendeta Rakanata tersenyum menatap wajah Patih Anggajaya yang terlihat sangat kesal dan gusar itu. Namun Patih Anggajaya tidak mengerti arti senyum itu adalah suara kegembiraan hati Pendeta Rakanata. “Gadis itu tidak bisa tertolong lagi, dan kamu tidak akan memilikinya”, berkata Pendeta Rakanata dalam hati.

    Namun yang keluar dari bibir pendeta Rakanata bukan apa yang ada dalam pikirannya. “Kamu harus memikirkan rencana kita yang lebih penting daripada Gadis itu. Lupakanlah sementara ini tentang gadis itu, bukankah rencana kita di hutan perburuan itu sudah sangat dekat sekali ?”, berkata Pendeta Rakanata kepada Patih Anggajaya.

    Mendengar perkataan pendeta Rakanata telah mengurangi kegusaran hati Patih Anggajaya dan diam-diam membenarkan perkataan Pendeta Rakanata.”Benar, aku dapat mencari banyak wanita cantik manakala aku sudah menjadi seorang Raja”, berkata Patih Anggajaya berpikir dalam hati.

  2. met pagi para kadank sedoyo, dua hari dalam penjara hati di Pasanggrahan Ciseeng yang sepi, hemm

    • Siang jlg sore ki sandikala

    • met siang Pak Lik
      memangnya, sipirnya galak ya? he he he ….

  3. Sementara itu beberapa prajurit sesuai dengan perintah Patih Anggajaya telah mencoba melakukan pencarian keluar Kotaraja Kawali. Dengan bantuan seorang prajurit yang sangat mahir membaca jejak mereka telah mendapatkan arah kemana Gajahmada membawa Andini.

    Demikianlah, para prajurit itu telah mencoba mengikuti arah perjalanan Gajahmada dari tempat kediaman Patih Anggajaya. Namun ketika hari mulai masuk di ujung senja datang hujan begitu deras telah menghapus jejak langkah kuda Gajahmada.

    “Hujan begitu deras telah menghapus jejak-jejak ini”, berkata seorang prajurit pencari jejak mendapatkan kesulitan disamping hujan yang turun begitu deras, juga hari sudah menjadi begitu gelap menjelang senja itu.

    “Bila kita terus melakukan pencarian ini, bisa-bisa kita tersasar tidak bisa kembali”, berkata seorang pemimpin prajurit ketika mereka telah memasuki sebuah hutan yang cukup lebat di sebelah selatan Kotaraja Kawali.

    Akhirnya dengan penuh kecemasan pemimpin prajurit itu memutuskan untuk kembali ke Kotaraja Kawali. Dalam pikirannya terbayang akan mendapatkan sebuah kemarahan besar dari Patih Anggajaya karena harus kembali dengan tangan kosong tanpa hasil apapun.

    Seandainya para prajurit itu terus berusaha mengikuti jejak langkah kuda Gajahmada, mereka memang telah jauh tertinggal. Karena Gajahmada yang mereka cari pada saat itu telah berada dibawah Gunung Galunggung.

    Sudah seharian itu Gajahmada tiada henti telah melarikan kudanya.

    Terlihat Gajahmada diatas kudanya dengan sebelah tangan memegang tali kekang kuda, sementara tangan lainnya tengah mendekap tubuh Andini dengan kuatnya tengah mendaki hutan di kaki gunung Galunggung.

    Hujan yang turun di musim penghujan itu telah mengguyur bumi pasundan begitu merata hingga di bawah kaki Gunung Galunggung.

    Basah air hujan yang mengguyur tubuh Gajahmada telah membuat perih beberapa bagian tubuh Gajahmada yang terluka tergores dahan dan ranting disepanjang perjalanannya. Tapi Anak muda itu tidak menghiraukan rasa sakit dari perih luka itu. Kecemasan yang sangat akan diri Andini yang sudah lemah terkulai tidak sadarkan diri membuat Anak muda itu terus mendaki lereng Gunung Galunggung diatas kudanya.

    Jalan menuju lereng Gunung Galunggung memang cukup berat karena harus menemui beberapa jalan yang terjal berbatu.

    Namun Gajahmada yang telah beberapa kali melewati jalan itu akhirnya dapat juga melewati beberapa jalan yang sangat sulit itu.

    Hujan saat itu belum juga reda ketika beberapa orang telah melihat seekor kuda telah berlari langsung masuk menerobos regol pintu gerbang Padepokan Prabu Guru Darmasiksa.

    “Apa yang telah terjadi ?”, berkata Putu Risang yang telah mengenali siapa penunggang kuda itu.

  4. Beberapa orang lelaki terlihat begitu cemas memandangi Gajahmada yang telah melompat dari punggung kudanya sambil membawa tubuh Andini yang masih juga tidak sadarkan diri.

    “Apa yang terjadi atas putriku ?”, bertanya seorang lelaki dengan penuh kecemasan yang ternyata adalah bango Samparan.

    “Andini terluka”, hanya itu yang keluar dari bibir Gajahmada setelah meletakkan dengan perlahan tubuh Andini di atas lantai pendapa Padepokan Prabu Guru Darmasiksa.

    Beberapa orang terlihat langsung mengerubini Gajahmada dan Andini yang tergeletak diatas lantai pendapa.

    “Nampaknya Andini terkena sebuah racun yang sangat kuat”, berkata seorang tua diantara mereka yang langsung memeriksa keadaan Andini.

    “Andini terluka oleh Kujang Pangeran Muncang”, berkata Gajahmada dengan wajah penuh harap kepada orang tua dihadapannya itu yang tidak lain adalah Prabu Guru Darmasiksa .

    Bukan main terkejutnya semua orang yang berada diatas pendapa padepokan itu. Semua orang seperti berdesis mengulang perkataan Gajahmada.

    “Kujang Pangeran Muncang…..?”, terdengar suara berbarengan hampir dari semua orang yang mendengar perkataan Gajahmada.

    “Kujang Pangeran Muncang ?”, bertanya Prabu Guru Darmasiksa dengan kening terlihat berkerut antara terkejut dan keinginan penjelasan lebih jauh lagi Gajahmada.

    Namun Gajahmada tidak berkata apapun, hanya sebuah tangannya telah menunjukkan sebuah luka goresan di bahu tangan Andini.

    “Andini tergores luka Kujang Pangeran Muncang”, berkata Gajahmada sambil memperlihatkan bahu tangan Andini yang terlihat tergores tipis.

    “Tunda dulu penjelasanmu”, berkata Prabu Guru Darmasiksa yang langsung menyentuh tubuh Andini dibeberapa tempat dengan begitu cepatnya.

    Ternyata apa yang dilakukan oleh Prabu Guru Darmasiksa adalah sebuah cara menutup beberapa syaraf aliran darah di tubuh Andini. Sebagai seorang yang mumpuni dalam hal pengobatan, Prabu Guru Darmasiksa sudah langsung mengetahui bahwa gadis dihadapannya itu memang telah terkena sebuah racun yang sangat kuat. Perkataan Gajahmada tentang sebuah Kujang Pangeran Muncang memang sudah menjadi penjelasan yang cukup baginya mengenal sejauh mana keparahan yang dialami oleh Andini. Sebagai seorang keturunan Raja Pasundan pastilah sudah mengetahui seberapa hebat pengaruh pamor Kujang Pangeran Muncang bila telah melukai tubuh seseorang, meski hanya sebuah goresan tipis seperti yang dialami oleh Andini.

    “Untuk sementara aku hanya mampu menahan menjalarnya racun di tubuh anak gadis ini, ceritakan kepadaku apa yang telah terjadi”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada yang masih duduk disebelah Andini.

    Terlihat Gajahmada menarik nafas panjang.

  5. Terlihat semua mata penuh perhatian menatap anak muda itu yang terlihat begitu lusuh tubuh dan pakaiannya.

    Perlahan pula Mata Gajahmada mulai dapat memperhatikan beberapa orang yang hadir saat itu di pendapa Padepokan Prabu Guru Darmasiksa.

    Ternyata di pendapa itu adalah beberapa orang yang sudah dikenalnya, selebihnya adalah beberapa cantrik di Padepokan itu yang merasa tertarik dengan kedatangan Gajahmada membawa seorang gadis yang terluka tidak sadarkan diri.

    Tidak ada keraguan di dalam hati Gajahmada manakala telah mengetahui siapa saja yang ada di pendapa Padepokan itu diantaranya selain Bango Samparan yang sangat cemas sebagaimana dirinya, juga telah hadir pangeran Jayanagara, Putu Risang, Jayakatwang dan pengasuhnya sendiri Pendeta Gunakara.

    Perlahan dan tanpa keraguan lagi Gajahmada telah bercerita tentang apa yang telah mereka berdua hadapi malam itu.

    “Orang itu bersenjata Kujang pangeran Muncang, senjata itulah yang melukai tubuh Andini”, berkata Gajahmada bercerita bagaimana keadaan Andini saat itu ketika dapat dilukai oleh seorang yang berpakaian serba hitam dan menyembunyikan wajahnya dengan sebuah kain hitam pula.

    Siapakah gerangan orang yang menyembunyikan wajahnya itu ?
    Demikianlah pertanyaan hampir semua orang diatas pendapa Padepokan itu manakala mendengar cerita dari Gajahmada.

    “Apakah Andini masih dapat disembuhkan ?”, bertanya Gajahmada perlahan kepada Prabu Guru Darmasiksa. Entah mengapa dihadapan Prabu Guru Darmasiksa perasaan Gajahmada menjadi begitu tentram merasa yakin bahwa orang tua dihadapannya itu pasti dapat menyembuhkan Andini.

    Terlihat Prabu Guru Darmasiksa dengan penuh senyum kesarehan menatap wajah anak muda itu.

    “Kita pasrahkan semua ini kepada ketentuan Gusti Yang Maha Agung, dialah penentu segalanya karena semua bersumber dariNya”, berkata Prabu Guru Darmasiksa dan diam seketika sambil merarik nafas perlahan.

    “Hanya ada dua benda di dunia ini yang dapat menawarkan racun Kujang pangeran Muncang”, berkata kembali Prabu Guru Darmasiksa sambil terlihat menarik nafas panjang berhenti sejenak. “benda pertama adalah bunga Wijaya Kusuma”, berkata kembali Prabu Guru Darmasiksa sambil memandang semua orang yang juga tengah memandangnya penuh perhatian.

    “Bunga Wijaya kusuma berada di istana Majapahit”, berkata Putu Risang tanpa sadar mengucapkan keberadaan bunga Wijaya Kusuma.

    Sebagai seorang murid terkasih dari Mahesa Amping, sudah pasti Putu Risang pernah mendengar cerita kisah bunga Wijaya Kusuma dari gurunya itu.

    “Kamu benar, bunga Wijaya Kusuma telah dimiliki oleh putra anakku, Raja Majapahit”, berkata Prabu Guru Darmasiksa membenarkan perkataan Putu Risang.

  6. Ngapunten….

    beberapa hari ini dan mungkin mendatang, Satpam/Risang tidak bisa jaga di regol padepokan dengan tertib seperti biasanya, karena harus nganglang sehubungan menjaga kondisi akhir-akhir di Tlatah Singosari yang sedang dilanda bencana.

    • saya berdoa semoga semua yg terkena bencana diberikan kesabarannya, amin

      dan pak satpam dapat kembali di padepokan sebagaimana biasa, hehe

  7. “Aku dapat meminta bunga Wijaya Kusuma kepada Ayahanda di Majapahit”, berkata Pangeran Jayanagara.

    “Penutupan sementara jalan darah di tubuh Andini hanya bertahan satu hari ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan sebagai pertanda usulan dari pangeran Jayanagara tidak dapat dilaksanakannya.

    Terlihat semua orang terdiam, semua mata seperti tengah menggantungkan harapannya kepada Prabu Guru Darmasiksa seorang diri.

    Namun Prabu Guru Darmasiksa yang diharapkan akan memberikan sebuah jalan lain, sebuah obat kedua selain bunga Wijaya Kusuma terlihat seperti tercenung menatap kosong kearah kedepan halaman pendapa.

    Suasana diatas pendapa itu sejenak seperti begitu sunyi, tidak ada suara apapun. Sementara hujan di luar halaman sudah mulai mereda dan malam sudah terlihat menjadi semakin gelap.

    “Tunjukkan kepada hamba obat kedua selain bunga Wijaya Kusuma, hamba bersedia melakukan apapun demi kesembuhan Andini”, berkata Gajahmada memecahkan suasana keheningan diatas pendapa itu.

    “Anakku tidak perlu berbuat apapun, obat atau cara kedua selain bunga Wijaya Kusuma itu masih berada di Padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada.

    Kembali suasana diatas Pendapa padepokan itu menjadi hening, semua mata nampaknya telah tertuju kearah Prabu Guru Darmasiksa.

    Namun Prabu Guru Darmasiksa yang diharapkan berbicara itu kembali seperti tercenung menatap kosong kedepan kearah halaman pendapa yang terlihat sudah semakin gelap.

    Suara hujan diluar sudah tidak terdengar lagi, semua mata masih menunggu Prabu Guru Darmasiksa menyampaikan gerangan obat apa yang dapat menyembuhkan Andini yang masih juga tidak sadarkan diri tergeletak diatas lantai pendapa Padepokan Prabu Guru Darmasiksa.

    Semua mata diatas pendapa Padepokan itu melihat Prabu Guru Darmasiksa yang masih tercenung tengah menarik nafas panjang sepertinya akan memutuskan sesuatu yang sangat berat. Seperti tengah memikul sebuah beban yang amat berat dirasakan.

    “Dengan sangat terpaksa bahwa aku harus membuka sebuah rahasia besar leluhur kami, rahasia leluhur para raja di pasundan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa dan kembali terdiam tidak melanjutkan perkataannya kembali.

    Kembali suasana diatas pendapa Padepokan itu menjadi begitu hening, semua mata kembali menunggu apa yang akan keluar dari bibir orang tua sareh itu.

    “Masih ada satu cara untuk menawarkan racun di tubuh Andini akibat goresan Kujang Pangeran Muncang. Yaitu dengan kembaran Kujang Pangeran Muncang”, berkata Prabu Guru Darmasiksa.

    “Kembaran kujang Pangeran Muncang ?”, terdengar suara bersamaan dari bibir semua orang yang hadir diatas pendapa Padepokan itu.

    • Whoooooo ternyata Kujang Kembar yang sekarang sedang lepas dari Prabu Siiwangi dan dikendalikan oleh pamannya yang masih mendendam karena tersingkir dari tahta Pajajaran.

  8. ditunggu kelanjutannya ki…

  9. Ups…..
    sudah bisa buka sentong kanan

    • Sekalian sentong kirinya ki Satpam heheheh…..

  10. “Bersyukurlah bahwa kujang kembaran itu masih tersimpan di Padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambi menarik nafas panjang dan perlahan berdiri dari duduknya.

    Semua mata di pendapa padepokan seperitu ti menempel di punggung Prabu Guru Darmasiksa mengikuti langkah kaki orang tua itu yang terlihat sudah memasuki pringgitan dan kemudian telah hilang masuk ke sentong tengah.

    Terlihat semua mata di pendapa padepokan itu seperti tidak berkedip memandang kearah Prabu Guru Darmasiksa yang telah muncul kembali berjalan dari arah pringgitan menuju pendapa Padepokan.
    Semua mata di atas pendapa telah melihat sebuah senjata pusaka ditangan Prabu Guru Darmasiksa.

    “Kujang Pangeran Muncang”, berkata Gajahmada dalam hati ketika melihat sebuah senjata pusaka di tangan Prabu Guru Darmasiksa. Sebuah senjata yang sangat mirip sekali dengan yang pernah dilihatnya di pegang oleh seorang berpakaian serba hitam kemarin malam di kediaman Patih Anggajaya.

    Tanpa berkata apapun terlihat Prabu Guru Darmasiksa telah duduk kembali di sisi tubuh Andini yang masih saja tidak sadarkan diri.
    Perlahan Prabu Guru Darmasiksa mengangkat senjata pusaka itu seperti begitu hormat. Dan perlahan telah mengeluarkannya dari sarungnya.

    “Kujang yang kemarin malam kulihat berwarna kuning keemasan, sementara kujang ini berwarna putih besi waja”, berkata kembali Gajahmada dalam hati memperhatikan kujang yang sudah terlepas dari sarungnya itu berada ditangan kanan Prabu Guru Darmasiksa.

    “Racun kujang kembaran ini saling berlawanan satu dengan yang lainnya”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambil perlahan menggoreskan senjata itu kebahu kanan Andini tidak jauh dari bekas lukanya.

    Semua mata menahan nafas panjang seperti tengah menunggu perubahan yang terjadi pada diri Andini.

    Terlihat Gajahmada dan Bango Samparan yang paling mencemaskan keadaan Andini itu seperti menunggu sebuah keajaiban penuh pengharapan.

    “Wahai Gusti yang Maha Pemurah, sembuhkanlah buah hatiku ini”, berkata Bango Samparan dalam hati dengan pandangan mata tidak sedikitpun terlepas kearah Andini yang berbaring terbujur dilantai pendapa Padepokan.

    “Bersabar dan berdoalah”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada penuh rasa iba melihat anak muda itu begitu mencemaskan keadaan Andini.

    Sementara itu langit malam yang gelap telah menyelimuti halaman pendapa pedepokan, pelita malam di pendapa itu sudah terlihat menjadi semakin redup.

    Namun semua mata diatas pendapa itu masih tetap menunggu dan berharap akan ada sebuah perubahan di diri Andini. Mereka seperti arca bisu tengah berdoa berharap sebuah mukjijat datang.

  11. “Tubuhnya basah berpeluh keringat”, berkata Gajahmada perlahan melihat tubuh Andini yang tiba-tiba saja hampir diseluruh tubuhnya telah mengeluarkan peluh keringat.

    “Pertanda dua racun yang berbeda sudah saling bertemu, menawarkan satu dengan yang lainnya”, berkata Prabu Guru Darmasiksa mencoba memberikan penjelasan atas apa yang tengah terjadi pada diri Andini.

    Semua mata semakin tidak lepas dari diri Andini yang berbaring terbujur itu. Dan hampir semua orang telah mendengar suara rintihan halus keluar dari bibir mungil Andini.

    “Kakang Mahesa Muksa, aku akan tetap menunggu kehadiranmu di Rawa Rontek”, berkata Andini dengan mata masih terpejam.

    “Gadis ini telah mengigau, sebagai tanda syaraf jalan darahnya telah tawar dari racun yang sangat kuat”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambil menyentuh kening Andini yang dirasakan sangat panas.

    Terlihat hampir semua orang diatas pendapa Padepokan itu seperti tengah menarik nafas lega mendengar penjelasan Prabu Guru Darmasiksa tentang keadaan Andini.

    Namun diam-diam Putu Risang memperhatikan warna wajah Pangeran Jayanagara.

    “Diam-diam anak muda ini telah berharap cinta dari Andini. Namun Gadis ini nampaknya telah memilih Mahesa Muksa”, berkata Putu Risang dalam hati sekilas melihat ada warna duka menghiasi wajah Pangeran Putra Mahkota Majapahit itu.

    “Sebentar lagi anak gadis ini akan siuman”, berkata Prabu Guru Darmasiksa seperti merasa yakin bahwa Andini sudah terlepas dari kekuatan racun Kujang Pangeran Muncang.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Prabu Guru Darmasiksa, beberapa saat kemudian terlihat Andini perlahan membuka kelopak matanya.

    “Dimana aku ?”, berkata Andini perlahan sambil menyapukan pandangangannya.

    “Kamu berada di tempat yang aman bersama orang-orang yang sangat mengasihimu”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada gadis itu.”Jangan banyak bergerak dulu, tubuhmu masih sangat lemah”, berkata kembali Prabu Guru Darmasiksa.

    Terlihat Andini mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangkit, namun sebagaimana yang dikatakan oleh orang tua itu memang dirinya merasakan begitu lemah tidak berdaya menggerakkan tubuhnya sendiri.

    “Anak muda, tubuh dan pakaianmu sangat lusuh sekali. Bersih-bersih dan beristirahatlah, jangan cemaskan lagi gadis ini, racun ditubuhnya sudah kalis hanya menunggu kekuatannya pulih seperti sedia kala”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada.

    Mendengar perkataan Orang tua itu, terlihat Gajahmada perlahan berdiri.

    “Tubuh dan pakaianku memang sangat lusuh sekali”, berkata Gajahmada ketika sudah berdiri dan melihat keadaan tubuh dan pakaiannya.

  12. Hiks patah hati

  13. Aduh kacian bgt cie

  14. Sementara itu warna langit di atas Padepokan Prabu Guru Darmasiksa sudah terlihat garis tipis merah mengisi warna biru kelam sebagai pertanda sang pagi sebentar lagi akan datang menggantikan malam.

    “Masih ada waktu untuk beristirahat sejenak”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada semua yang hadir di pendapanya ketika tubuh Andini yang masih lemah itu telah dipindahkan ke bilik yang telah disediakan untuknya di tunggui oleh Ayah kandungnya sendiri Bango Samparan.

    Pelita malam yang menggelantung di tiang pendapa terlihat sudah seperti melenggut hampir kehabisan minyak jarak. Dan tidak lama berselang suasana di atas pendapa itu seperti lengang sunyi, semua orang nampaknya merasa lelah dan mengantuk semalaman bergadang menunggui keadaan Andini.

    Sementara itu Gajahmada setelah bersih-bersih diri dan mengenakan sepotong pakaian pinjaman yang layak untuknya terlihat tidak langsung tertidur. Ternyata anak muda itu sudah terbiasa melakukan olah laku pernafasan sebelum tidur beristirahat.

    Terlihat anak muda itu telah hanyut di dalam olah lakunya, telah merasakan kenikmatan lakunya dengan menghadirkan Gusti Yang Maha Agung sebagai pengendali dalam segala geraknya ketika berdiri, ruku, sujud dan duduk bersimpuh diantara dua sujudnya.

    “Jangan paksakan dirimu dapat berlenggang dengan kedua tanganmu ketika berjalan, pasrahkan dirimu dalam kendali dan pengaturan Gusti Yang Maha Agung hingga terlihat elok lenggangmu. Siapa yang mengedipkan matamu ?, berkediplah dalam kendali_NYA” , berkata Gajahmada dalam hati mencoba mengulang-ngulang ujar-ujar dari Putu Risang kepadanya. Nampaknya Gajahmada sudah mulai memahami makna dari ujar-ujar itu. Terlihat dirinya tersenyum sambil merebahkan tubuhnya memandang langit-langit biliknya, sendiri.

    Dan tidak terasa sang waktu terus berjalan, sang fajar terlihat telah bersembul diatas perbukitan sebelah timur lereng Gunung Galunggung menghangatkan rumput-rumput basah di depan halaman Padepokan Prabu Guru Darmasiksa yang cukup luas itu.
    “Akar dan daun dari beberapa tanaman ini dapat membantu Andini memulihkan kekuatannya kembali”, berkata Prabu guru Darmasiksa kepada bango Samparan di bilik Andini.

    Terlihat Prabu Guru Darmasiksa setelah memberikan beberapa pesan yang berguna untuk kesembuhan Andini telah keluar dari bilik itu dan melangkahkan kakinya menuju pendapa.

    “Aku jadi sangsi, apakah kalian sempat memejamkan mata di peraduan”, berkata Prabu Guru Darmasiksa menyapa semua orang yang tengah duduk diatas lantai pendapanya.

    “Kami memang para tamu yang tidak tahu diri, muga-moga sang tuan rumah tidak jemu menemaninya”, berkata Pendeta Gunakara dengan penuh senyum.

    “Bagaimana keadaan Andini saat ini ?”, bertanya Jayakatwang kepada Prabu Guru Darmasiksa.

    “Gadis itu masih tertidur ketika kutemui, dua atau tiga hari ini mungkin baru dapat pulih kembali”, berkata Prabu Guru ketika sudah duduk ngeriung bersama.

    Dan pagi itu menjadi begitu hangat manakala Nyi Turuk Bali datang bersama seorang pelayan wanita membawa beberapa potong jagung rebus yang masih hangat.

    “Jagung rebus ini memang biasa, yang menjadikannya luar biasa adalah disajikan langsung oleh seorang permaisuri Ratu Kediri”, berkata Prabu Guru Darmasiksa ketika Nyi Jayakatwang menurunkan bakul jagung rebus yang dibawanya.

    “Silahkan dinikmati, aku akan kembali kebelakang untuk belajar meramu beberapa masakan pasundan”, berkata Nyi Turuk Bali sambil tersenyum dan kembali lagi melangkah kedalam bersama pelayan wanita yang datang bersamanya itu.

    “Tahukah kalian tentang masakan nirwana ?, adalah senyum tulus sang istri tercinta. Tahukah kalian taman Nirwana ?, adalah melihat dan duduk bersama putra dan putri kita tumbuh berkembang. Tahukah kalian apa yang tidak disukai oleh seorang tamu?, adalah tuan rumah yang tidak menyilahkan tamunya untuk menikmati hidangan yang telah tersedia”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambil menggeser sebakul jagung rebus lebih dekat lagi ke arah Jayakatwang.

    Terlihat semua yang berada diatas pendapa itu tersenyum menanggapi kata-kata Prabu Guru Darmasiksa itu.

    Ketika para tamu dari Majapahit itu telah menikmati makanan dan minuman pagi yang tersedia diatas pendapa itu, terlihat wajah Prabu Guru seperti berubah penuh keangkeran dan kewibawaan seperti seorang raja besar. Dan semua orang diatas pendapa itu seperti memaklumi ada sesuatu yang ada dalam pikiran mantan Raja penguasa Pasundan itu.

    “Aku banyak mengenal beberapa orang berilmu tinggi di Pasundan ini, apakah kamu dapat mengenali beberapa gerak khusus dari orang perpakaian serba hitam itu ?”, berkata Prabu Guru Darmasiksa ditujukan kepada Gajahmada.

    “Hanya satu gerakan dari orang itu ketika melesat melukai Andini”, berkata Gajahmada mencoba mengingat kembali bagaimana orang berpakaian serba hitam itu bergerak.

    “Satu gerakan memang belum cukup untuk menilai jenis sebuah kanuragan. Apakah kamu dapat mengenali logat bahasa sunda yang digunakan oleh orang itu ?”, bertanya kembali Prabu Guru Darmasiksa.

    Terlihat Gajahmada tengah mencoba mengingat-ingat kembali perkataan orang berpakaian serba hitam itu.

    “Logat yang digunakannya tidak sebagaimana orang sunda pada umumnya, hamba seperti pernah mendengarnya sangat mirip sekali dengan logat bicara Patih Anggajaya”, berkata Gajahmada merasa yakin sekali dengan apa yang masih diingatnya itu.

    “Siapapun orang itu, yang pasti keberadaan kembaran Kujang pangeran Muncang masih berada di Tanah Pasundan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa tanpa menyebut sebuah nama yang nampaknya sudah berada di dalam benak dugaannya.

    Kembali Prabu Guru Darmasiksa bertanya kepada Gajahmada tentang beberapa hal seputar beberapa ciri khusus orang berbaju serba hitam itu seperti tinggi badan dan bentuk alis orang itu.

    • matur suwun Dhalang-e

  15. Hampir semua mata diatas pendapa itu tengah memandang kearah Gajahmada yang membenarkan semua ciri-ciri yang digambarkan oleh Prabu Guru Darmasiksa mengenai orang berbaju serba hitam itu.

    Pandangan matapun akhirnya berpindah kearah Prabu Guru Darmasiksa. Semua orang diatas pendapa itu memang tengah menunggu apa yang akan dikatakan oleh Prabu Guru Darmasiksa yang nampaknya sudah memegang dugaan sebuah nama.

    “Mungkin kita akan bertemu dengan orang itu di hutan perburuan”, berkata Prabu Guru Darmasiksa tanpa menyebut satu nama sama sekali.

    Semua orang diatas pendapa itu mungkin memaklumi bahwa ada sebuah keengganan menyebut sebuah nama yang belum pasti dialah orangnya.

    “Ada banyak hal yang harus kita siapkan di hutan perburuan”, berkata Prabu Guru Darmasiksa seperti mencoba mengalihkan arah pembicaraan.

    Mendengar perkataan dari Prabu Guru Darmasiksa, semua orang diatas pendapa itu akhirnya mengikuti arah pembicaraan yang berkisar tentang rencana dan persiapan mereka menghadapi Patih Anggajaya di hutan perburuan, hutan Sindur.

    Terlihat Putu Risang memberikan beberapa gambaran tentang suasana Hutan Sindur sebagaimana yang telah didengar dari Bango samparan yang telah mengamati hutan itu beberapa hari yang telah lewat.

    Sementara itu Pangeran Jayanagara dan Gajahmada memberikan sebuah tambahan tentang kesediaan Ki Rangga Ageng Pasek yang akan membelot memecah pasukan Patih Anggajaya.

    “Gabungan pasukan Adipati Suradilaga dan pasukan Ki Rangga Ageng Pasek sudah sangat mencukupi”, berkata Prabu Guru Darmasiksa merasa genbira mendengar semua penjelasan itu.

    Demikianlah, mereka di atas pendapa Prabu Darmasiksa terlihat sangat perhatian membahas rencana mereka di hutan Sindur yang sudah tinggal beberapa hari itu.

    Dan tidak terasa waktu terus berlalu, Matahari diatas lereng Gunung Galunggung itu terlihat semakin bergeser ke barat.

    Hari itu sudah hampir menjelang sore di atas Padepokan Prabu Guru Darmasiksa ketika semua orang diatas pendapa melihat sekelompok pasukan prajurit berkuda memasuki regol pintu gerbang Padepokan.

    Terlihat rombongan pasukan itu berkisar antara dua puluh sampai dua puluh lima orang telah berada diatas halaman depan pendapa Padepokan.

    Terlihat salah seorang diantara mereka segera meloncat turun dari kudanya dan langsung berjalan kearah tangga pendapa Padepokan, nampaknya salah seorang yang menjadi pimpinan pasukan itu.

    “Mohon ampun sekiranya kedatangan kami telah mengganggu ketenangan Paduka Tuan Prabu”, berkata seorang prajurit itu dihadapan Prabu Guru Darmasiksa.

    • siapakah para prajurit itu?

      he he he …, tunggu tutuge …….

      • Ups….
        salah baju, he he he …

  16. “Katakan apa keperluanmu membawa pasukanmu di Padepokanku ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa dengan pandangan mata yang begitu tajam, kuat dan penuh wibawa kepada prajurit itu.

    Terlihat prajurit itu menjadi semakin menunduk tidak berani memandang langsung kearah Prabu Guru Darmasiksa.

    “Ampuni hamba, pasukan kami datang ke Padepokan tuanku karena ada berita bahwa buronan kami bersembunyi disini”, berkata prajurit itu masih dengan menundukkan kepalanya penuh keengganan.

    “Lurah Janget, katakan siapa yang mengatakan hal demikian kepadamu”, berkata Prabu Guru Darmasiksa dengan senyum penuh keramahan, nampaknya merasa kasihan dengan sikap prajurit tua itu yang sudah dikenalnya.

    Melihat suara dan pandangan Prabu Guru Darmasiksa yang penuh senyum itu akhirnya telah memberanikan prajurit tua itu mengangkat wajahnya.

    “Ampuni hamba, perintah ini datangnya dari Patih Anggajaya”, berkata prajurit tua itu yang dipanggil dengan nama Lurah janget oleh Prabu Guru Darmasiksa.

    “Siapa orang yang kamu maksudkan sebagai buronan itu”, berkata kembali Prabu Guru Darmasiksa

    “Ampuni hamba, buronan itu adalah seorang prajurit muda yang telah membawa paksa seorang gadis”, berkata Lurah Janget memberikan sebuah penjelasan.

    “Apakah kamu mengenal prajurit muda itu ?”, bertanya Prabu Guru Darmasiksa kepada prajurit lurah Janget.

    Terlihat lurah Janget mengangkat wajahnya dan dengan penuh keraguan menggelengkan kepalanya sebagai sebuah pertanda belum mengenal siapa prajurit muda yang dikatakannya sebagai buronan itu.”Hamba mohon bantuan Tuanku Prabu untuk menyerahkan buronan itu kepada kami”, berkata Lurah Janget dengan wajah penuh pengharapan.

    “Kembalilah ke pasukanmu, aku akan bicara dengan orang-orangku sendiri”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada lurah Janget.
    Maka tanpa perintah kedua segera prajurit tua itu berdiri dan melangkah turun ke halaman pendapa bergabung dengan pasukannya.

    “Patih Anggajaya pasti akan membawa sepasukan lebih besar lagi bila hari ini tidak kita berikan apa yang diinginkannya”, berkata Prabu Guru Darmasiksa.

    Terlihat semua orang diatas pendapa itu telah mengalihkan pandangan matanya kearah Mahesa Muksa.

    “Dalam pembahasan mengenai rencana di hutan Sindur, kita tidak menyinggung sedikitpun tentang istana Kawali. Kita belum tahu apa yang dilakukan oleh Patih Anggajaya di saat Raja Ragasuci berburu di hutan Sindur. Hampa bersedia berada di istana Kawali. Tidak perlu mengkhawatirkan keadanku, bukankah masih ada Pangeran Citraganda di istana Kawali ?”, berkata Gajahmada kepada semua orang di atas pendapa itu.

  17. Semua orang diatas pendapa itu mengagumi sikap Gajahmada yang bertutur begitu tenang, juga Prabu Guru Darmasiksa yang merasa yakin bahwa anak muda itu pasti bukan orang sembarangan yang tidak merasa takut dan gentar sedikitpun.”Beberapa tahun yang lalu aku pernah melihat anak ini sebagai anak yang cerdas, pasti kemampuan olah kanuragannya telah berlipat ganda”, berkata dalam hati Prabu Guru Darmasiksa.

    “Kamu benar anak muda, kita tidak terpikir sedikitpun tentang istana Kawali”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sepertinya menerima usulan Gajahmada.

    “Aku orang tua akan menemanimu, hanya sekedar sebagai bayang-bayang”, berkata pendeta Gunakara sambil tersenyum.

    Demikianlah, tanpa kesulitan apapun, Gajahmada telah diserahkan kepada sepasukan prajurit Kawali untuk dibawa ke Istana Kawali.

    Dan tidak lama berselang ketika pasukan itu tidak begitu jauh berjalan, terlihat Pendeta Gunakara telah berpamit untuk selekasnya mengikuti Gajahmada bersama pasukan prajurit yang membawanya.

    “Kamu pasti mengetahui sejauh mana kemampuan muridmu sendiri”, berkata Prabu Guru Darmasiksa ingin mendapatkan sebuah keyakinan tentang Gajahmada kepada Putu Risang.

    “Sepasukan segelar sepapan mungkin akan mengalami banyak kesulitan menghadapi Mahesa Muksa, apalagi bersama pengasuhnya sendiri Pendeta Gunakara”, berkata Putu Risang sambil tersenyum merasa yakin bahwa Gajahmada dengan kemampuan ilmunya saat itu tidak akan mengalami banyak kesulitan.

    Mendengar sikap dap jawaban dari Putu Risang, terlihat Prabu Guru Darmasiksa menarik napas panjang sebagai tanda dirinya tidak perlu lagi mengkhawatirkan keadaan anak muda itu.

    “Aku orang tua kalah satu langkah dengan anak muda itu, tidak terpikirkan sedikitpun olehku mengenai keselamatan keluarga istana”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Jayakatwang, Putu Risang dan Pangeran Jayanagara yang masih berada di atas pendapa Padepokan itu.

    “Aku mengenalnya sejak kecil, aku begitu yakin bahwa anak muda itu akan menjadi orang besar dengan pemikiran besar di kemudian hari”, berkata Jayakatwang.

    “Pangeran Jayanagara, bersyukurlah dirimu dikaruniai seorang sahabat sebagaimana Mahesa Muksa. Kejayaan Majapahit suatu waktu berada di tanganmu, jagalah hati dan kesetiaan Mahesa Muksa”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Pangeran Jayanagara.

    “Ucapan dan perkataan Kakek buyut Prabu adalah pusaka yang akan cucunda jaga”, berkata Pangeran Jayanagara dengan penuh hikmad.

    “Masih ada satu urusan yang harus kuselasaikan di Padepokan ini, meringkus siapa sebenarnya delik sandi dari Patih Anggajaya yang nampaknya sudah lama di pasang memata-matai Padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambil berdiri perlahan.

    Terlihat Prabu Guru Darmasiksa memanggil seorang cantrik.

    • tilik sebentar, ternyata harus agak lama karena harus baca rontal yang jatuh
      sayang, belum bisa tata di gandoknya
      nanti malam saja deh, he he he ….

      • ups…., lupa….
        matur suwun Pak Lik….

    • Suwun Ki

  18. “Panggilkan untukku Putut Sumitra”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada seorang cantrik yang datang menghampirinya.
    Terlihat cantrik itu tergopoh-gopoh menuruni anak tangga pendapa pergi mencari Putut Sumitra.

    Dan tidak lama berselang terlihat seorang lelaki setenah baya muncul dan langsung menaiki tangga pendapa.

    “Katakan kepadaku, siapa saja cantrik yang saat ini tidak berada di padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Putut Sumitra.

    Terlihat Putut Sumitra tidak langsung menjawab, sekilas terlihat kerut dikeningnya sebagai tanda tengah berpikir kemana arah pertanyaan Prabu Guru Darmasiksa.

    Putut Sumitra memang tidak terlalu lama berpikir.

    “Dua orang cantrik sudah sejak dua hari ini belum kembali, telah kutugaskan untuk mencari beberapa jamur hutan. Sementara ada seorang cantrik lagi yang baru berangkat pagi-pagi sekali untuk sebuah urusan di Kotaraja Kawali”, berkata Putut Sumitra setelah mencoba mengingat siapa saja cantrik di Padepokan itu yang saat itu tidak ada di tempat.

    “Siapa cantrik yang ada urusan di Kotaraja Kawali itu ?”, bertanya Prabu Guru Darmasiksa.

    “Batuganal”, berkata Putut Sumitra langsung menjawab pertanyaa Prabu Guru Darmasiksa.

    “Coba kamu ingat-ingat kembali, ketika terjadi perampokan atas beberapa cantrik yang tengah membawa pusaka Kujang Pangeran Muncang ke Kotaraja Kawali, apakah Batuganal juga tidak ada di Padepokan ini ?”, bertanya kembali Prabu Guru Darmasiksa.

    Terlihat Putut Sumitra kembali mengerutkan keningnya mencoba mengingat-ingat sebuah kejadian yang sudah berlangsung cukup lama itu.

    “Aku ingat, disaat itu dua hari sebelumnya Batuganal meminta ijin kepadaku untuk sebuah urusan di Kotaraja Kawali. Dia kembali sehari setelah peristiwa perampokan itu. Aku ingat sekali karena Batuganal telah membawakan untukku sebuah ikat pinggang kulit berkepala ukiran perak naga. Katanya ini hadiah untukku”, berkata Putut Sumitra dengan lancar sekali menyampaikan semua yang diingatnya itu.

    “Kebetulan yang sama”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambil mengusap-usap janggutnya yang panjang dan sudah memutih itu. Seperti tengah berpikir keras.”Batuganal pasti orangnya yang telah datang ke Kotaraja Kawali melaporkan bahwa Mahesa Muksa berada di Padepokan ini”, berkata kembali Prabu Guru Darmasiksa.

    “Aku tidak menyangka bahwa Batuganal telah memata-matai kita selama ini”, berkata Putut Sumitra sambil menarik nafas panjang seperti tengah menyesali bahwa kawan dan saudara seperguruannya itu ternyata adalah seorang penghianat.

    “Semoga saja dia tidak banyak tahu tentang sebuah rencana di hutan perburuan”, berkata Prabu Guru Darmasiksa.

  19. “Rencana di hutan perburuan ?”, bertanya Putut Sumitra penuh ketidak mengertian.

    “Aku memang belum bercerita apapun kepadamu, juga kepada semua cantrik di Padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa penuh senyum memaklumi ketidak mengertian Putut Sumitra tentang sebuah rencana di hutan perburuan.

    Terlihat Prabu Guru Darmasiksa mencoba memberikan sebuah gambaran mengenai sebuah rencana licik dari Patih Anggajaya kepada Putut Sumitra. Dengan penuh seksama dan perhatian Putut Sumitra menyimak apa yang disampaikan oleh Gurunya itu.

    “Celakalah diri kita seandainya rahasia ini diketahui oleh Batuganal”, berkata Putut Sumitra setelah mendapatkan penjelasan dari Prabu Guru Darmasiksa.

    “Malam ini kita harus menunggu hingga Batuganal kembali. Orang itu harus dikurung tidak boleh lagi keluar dari Padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa memberikan sebuah tindakan yang harus dilakukan terhadap Batuganal.

    “Apakah malam ini Batuganal akan kembali ke Padepokan ini ?”, bertanya Putu Risang kepada Putut Sumitra.

    “janjinya, malam ini dia sudah akan kembali”, berkata Putut Sumitra penuh keyakinan.

    Demikianlah, Prabu Guru Darmasiksa ditemani Putut Sumitra, Putu Risang, Pangeran Jayanagara hingga jauh malam masih tetap di pendapa menunggu kedatangan Batuganal. Hanya Jayakatwang yang sudah tidak terlihat lagi di pendapa Padepokan itu, karena telah berpamit lebih dulu untuk beristirahat di biliknya.

    “Siapa ?”, bertanya seorang cantrik di pangungan ketika melihat seseorang berdiri di regol pintu gerbang padepokan yang tertutup di malam hari itu.

    “Aku, Batuganal”, berkata orang itu sambil mendongak keatas kearah seorang cantrik yang berada di panggungan.

    Terlihat cantrik yang bertugas ronda malam itu langsung turun dari panggungan dan langsung membuka pintu gerbang Padepokan.

    “Tidak seperti biasanya pintu gerbang ini ditutup”, berkata orang itu sambil masuk dengan suara menggerutu seperti kurang senang dengan ditutupnya gerbang itu.

    “Putut Sumitra yang memerintahkan kepadaku untuk menutup pintu gerbang ini”, berkata cantrik itu sambil segera menutup kembali pintu gerbang.

    “Kamu meronda sendiri ?”, bertanya orang itu yang melihat cantrik itu hanya seorang diri.

    “Baru saja kawanku dipanggil menghadap tuan Prabu di pendapa”, berkata cantrik itu sambil menunjuk kearah pendapa Padepokan.

    Terlihat orang itu memicingkan matanya kearah pendapa dimana cahaya lampu pelita diatas pendapa itu masih cukup terang untuk dapat melihat masih ada beberapa orang diatas pendapa itu.

  20. Dan orang itu masih dapat melihat dikeremangan malam diatas halaman seseorang telah berjalan kearahnya.

    “Batuganal, kamu diminta untuk naik keatas pendapa”, berkata seseorang ketika telah dekat dengan orang itu yang dipanggilnya bernama Batuganal.

    “Aku akan segera naik keatas pendapa”, berkata Batuganal tanpa prasangka apapun sambil langsung melangkahkan kakinya kearah pendapa Padepokan.

    Terlihat Batuganal tengah menaiki anak tangga pendapa Padepokan.

    “Mendekat dan dudklah disini Batuganal”, berkata Prabu Guru Darmasiksa menunnjuk sebuah tempat disamping Putut Sumitra kepada batuganal yang baru datang itu.

    “Cantrik baru datang dari Kotaraja Kawali”, berkata batuganal ketika sudah duduk disamping Putut Sumitra.

    “Mungkin kamu sangat lelah setelah perjalanan ini, kami tidak bermaksud lama memaksamu di atas pendapa ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa penuh senyum ramah memandang kearah Batuganal.

    Melihat pandangan mata Prabu Guru Darmasiksa telah membuat Batuganal seperti menjadi salah tingkah, sinar dan cahaya mata Prabu Guru Darmasiksa dalam pikiran Batuganal seperti telah menelanjangi dirinya.

    “Adakah cantrik telah berbuat sebuah kesalahan ?”, bertanya Batuganal dalam kegelisahannya kepada Prabu Guru Darmasiksa.

    “Aku belum bertanya dan berkata apapun, namun kamu sudah bertanya tentang sebuah kesalahan yang kamu perbuat”, berkata Prabu Guru Darmasiksa masih memandang kearah Batuganal.
    Sekilas Batuganal membentur pandangan mata itu, telah membuat dirinya semakin gelisah, semakin seperti bertelanjang dihadapan Prabu Guru Darmasiksa. Dan Batuganal tidak berani lagi menganggkat kepalannya seperti takut akan beradu pandang kembali dengan Prabu Guru Darmasiksa. Terlihat Batuganal duduk dengan kepala menunduk.

    “Hampir setiap hari aku menemui kalian para penghuni Padepokan ini, memberikan penyadaran perkehidupan, membuka mata hati kalian bahwa hidup setelah kehidupan ini jauh lebih berharga dari sepiring dunia yang fana ini. Namun nampaknya mata hatimu telah berpaling jauh dari apa yang telah kuajarkan selama ini, dan kamu telah dibeli oleh dunia menjadi kaki tangan seorang Patih Anggajaya”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Batuganal yang masih saja menundukan kepalanya tidak berani sama sekali mengangkat kepalanya.

    “Ampuni aku Tuan Prabu, aku telah berbuat dosa”, berkata Batuganal sambil bersimbah sujud dihadapan Prabu Guru Darmasiksa.

    “Gusti Yang Maha Agung, Maha Pemberi tobat kepada setiap hambanya yang mau mengakui dosanya. Namun untuk sementara ini aku tidak akan mengijinkan dirimu keluar dari Padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa. “Sekarang beristirahatlah”, berkata kembali Prabu Guru Darmasiksa.

    • Hehehe … suatu kebetulan yang sungguh menarik! ternyata salah satu cantrik Prabu Guru Darmasiksa bernama “Batuganal” … kok ya rada mirip seorang kader partai penguasa??? Tapi pasti nggak sengaja to Ki? Seru juga nihhh …

      • sstt….., jangan keras-keras, nanti yang bersangkutan mendengar.
        he he he ……
        tapi…, terbukti apa tidak ya Ki, mudah-mudahan tidak.

  21. “Aku pamit diri, hukuman apapun atas diriku pasti akan kujalani”, berkata Batuganal sambil perlahan berdiri dan mundur beberapa langkah mendekati anak tangga pendapa.

    “Perintahkan beberapa cantrik untuk mengawasinya, jangan sampai keluar dari Padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Putut Sumitra ketika Batuganal sudah tidak terlihat lagi.

    “Aku akan memerintahkan beberapa cantrik untuk mengawasinya”, berkata Putut Sumitra sambil pamit diri.

    “Hari sudah jauh malam”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Putu Risang dan Pangeran Jayanagara sambil mempersilahkannya untuk beristirahat.

    Demikianlah, pendapa Padepokan itu akhirnya menjadi sepi dan lengang, hanya ada satu pelita malam yang terlihat hampir redup cahayanya tertiup angin dingin dimalam itu.

    Sementara itu di Kotaraja Kawali terlihat sebuah pasukan tengah memasuki batas gerbang kota dari arah selatan.

    Ternyata mereka adalah sepasukan prajurit berkuda yang datang membawa Gajahmada sebagai tawanan mereka

    “Besok aku akan melapor kepada Patih Anggajaya, sekarang bawalah tawanan kita ke bangsal tahanan”, berkata lurah Janget kepada salah seorang anak buahnya ketika mereka telah memasuki pintu gerbang istana.

    “Ikutilah kami”, berkata seorang prajurit kepada Gajahmada yang nampak terikat kedua tangannya itu.

    Maka terlihat Gajahmada mengikuti langkah kaki seorang prajurit didepannya, sementara tiga orang prajurit telah berjalan dibelakangnya.

    Tidak lama berselang mereka telah berada disebuah bangsal tahanan, sebuah bangunan yang sama sekali tidak berjendela. Hanya ada satu pintu masuk terbuat dari bahan kayu yang sangat tebal dan kokoh.

    “Baru kali ini aku melihat seorang tawanan begitu tenang seperti tidak takut akan menerima sebuah hukuman atasnya yang akan diputuskan besok”, berkata seorang prajurit berbisik kepada kawannya ketika Gajahmada telah masuk kedalam bangsal tahanan itu.

    “Aku jadi kurang yakin apa benar anak muda itu telah membawa kabur seorang gadis”, berkata kawan prajurit itu masih dipintu bangsal tahanan.

    “Bersalah atau tidaknya bukan tugas kita, yang pasti kita sudah menjalankan tugas membawanya kemari”, berkata salah seorang dari keempat prajurit itu.

    “Tapi gara-gara anak muda ini, kita berempat harus menunggu sampai pagi ditempat ini”, berkata seorang lagi sambil bergumam menggerutu.

    Sementara itu di dalam bangsal tahanan, Gajahmada terlihat tersenyum sendiri. Keempat prajurit itu tidak tahu bahwa Gajahmada di dalam dapat mendengar semua pembicaraan mereka.

  22. Ruang dibangsal itu memang sangat gelap, namun akhirnya Gajahmada dapat membiasakan diri melihat didalam kegelapan. Tidak ada barang apapun di dalam bangsal tahanan itu, hanya ada satu bale kayu sangat kecil sekali, hanya cukup untuk berbaring seluas badan.

    Disitulah Gajahmada duduk di dalam bangsal yang gelap itu.
    Didalam bangsal itu Gajahmada tidak dapat mengetahui waktu, siang dan malam tidak ada banyak perbedaan karena tertutup rapat.

    Dan ketika sebuah cahaya terlihat dari dalam, tahulah Gajahmada bahwa cahaya itu berasal dari lubang kotak persegi menjadi satu dari bagian pintu pangsal itu.

    “makan dan kenakanlah pakaian ini”, berkata seorang prajurit penjaga dari luar lubang itu sambil menyodorkan kedalam sebuah baki kayu berisi semangkuk makanan dan setumpuk kain.

    Terlihat Gajahmada melangkah mengambil tumpukan pakaian diatas baki kayu. Ternyata dua potong kain putih, sebuah pakaian khusus yang harus dikenakan oleh seorang tahanan.

    Sambil tersenyum Gajahmada mengenakan pakaian tahanan itu, melilitkan satu potongan kain untuk menutupi bagian pusar kebawah. Sementara potongan kain lagi dililitkan diantara leher dan bagian dadanya. Sebuah pakaian tahanan yang sangat mirip selayaknya biasa dipakai oleh seorang pendeta di Biara.

    Ketika Gajahmada telah selesai mengenakan pakaian tahanan itu, pendengarannya yang sangat tajam telah menangkap sebuah pembicaraan diluar bangsal.

    “Apakah tuan Pangeran ada kepentingan dengan tahanan ini ?”, bertanya seorang prajurit penjaga kepada seorang pemuda yang datang mendekati Bangsal tahanan.

    “Buka pintunya, aku ingin masuk menjumpainya”, berkata anak muda diluar bangsal tahanan.

    “Hati-hati dengan tahanan ini”, berkata suara prajurit mengingatkan kepada anak muda yang baru datang itu.

    Dan Gajahmada telah mendengar suara derit pintu bangsal bergeser terbuka.

    Sebuah cahaya terlihat masuk lewat pintu bangsal tahanan yang terbuka. Dan Gajahmada melihat seseorang berdiri di gawang pintu yang telah terbuka.

    “Apakah kamu baik-baik saja, Mahesa Muksa ?”, bertanya orang itu sambil telah melangkah masuk yang ternyata adalah Pangeran Citraganda.

    “Seperti yang kamu saksikan, aku tidak kurang apapun, sudah punya baju baru pakian khusus seorang tahanan”, berkata Gajahmada sambil bertolak pinggang memperlihatkan pakaian baru yang dikenakannya itu.

    “Seperti seorang pendeta di sebuah biara”, berkata Pangeran Citraganda memberikan penilaian atas pakaian yang dikenakan Gajahmada.

    Setelah mempersilahkan Pangeran Citraganda duduk di bale bersama, Gajahmada menceritakan sebuah kejadian yang dialaminya bersama Andini di tempat kediaman Patih Anggajaya.

  23. “Aku datang di istana ini sebagai seorang tawanan atas keinginanku sendiri. Dan Prabu Guru Darmasiksa telah menyetujui dimana aku dapat menjaga keluarga istana bila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan”, berkata pula Gajahmada mengenai latar belakang mengapa dirinya dengan begitu mudah menyerahkan diri.

    “Sebuah cara yang bagus untuk masuk ke dalam istana”, berkata Pangean Citraganda sambil tersenyum.”Dan aku tidak sendiri di istana ini dengan adanya kamu, Mahesa Muksa”, berkata kembali Pangeran Citraganda.

    “Semoga tidak ada perintah dari seorang Pangeran untuk mencambuk seorang tahanan”, berkata Gajahmada yang ditanggapi gelak tawa oleh Pangeran Citraganda.

    Mendengar suara tawa dari dalam bangsal telah membuat kedua oran prajurit penjaga mengerutkan keningnya. Mereka tidak habis pikir bahwa seorang tahanan dan Pangeran Citraganda begitu asyik berbincang didalam seperti layaknya tidak di dalam sebuah bangsal tahanan.

    “Tiap saat aku akan datang mengunjungimu”, berkata Pangeran Citraganda sambil berdiri dan berjalan melangkah keluar.

    Dan ketika Pangeran Citraganda telah melewati pintu bangsal tahanan, kembali suasana bangsal tahanan itu menjadi gelap gulita karena pintu bangsal telah ditutup kembali.

    Sementara itu matahari di istana Kawali sudah semakin tinggi, hari sudah tidak bisa disebut pagi lagi karena sudah begitu terang mendekati saat siang.

    Dan berita tentang adanya penghuni baru didalam bangsal tahanan istana sudah tersebar cukup luas, jauh hingga keluar dinding istana.
    Berita itu juga telah didengar oleh Dyah Rara Wulan di pasanggrahan Keputriannya.

    Terlihat sang putri itu begitu gelisah, hati dan pikirannya telah begitu mencemaskan keadaan Gajahmada di bangsal tahanan. Ingin dirinya untuk datang mengunjungi pemuda idaman hatinya itu, namun masih jelas teringat perkataan ibunda permaisuri Ratu Dara Puspa yang telah melarang dirinya mengunjungi Gajahmada.

    “Jangan kamu rendahkan martabat keluarga istana ini, apa kata orang bila mengetahui seorang putri istana Kawali telah jatuh hati dengan seorang penjahat wanita”, berkata permaisuri Ratu Dara Puspa kepada Dyah Rara Wulan yang telah mencegahnya untuk bertemu dengan Gajahmada.

    “Aku ingin bertanya langsung dengan Kakang Mahesa Muksa, apakah benar perkataan orang tentang dirinya ?”, berkata Dyah rara Wulan dalam hati penuh kegelisahan.

    “Kasihan anak gadis itu”, berkata Bibi pengasuhnya dalam hati merasa kasihan melihat putri junjungannya yang terlihat sangat gelisah, gusar gundah gulana duduk melamun di pinggir kolam taman pasanggrahan Keputrian.

    Namun wanita tua pengasuh sang putri itu tidak berkata apapun, dapat mengerti hati gadis asuhannya itu dan sudah sangat paham sekali bahwa disaat seperti itu jangan sekali-kali mencoba mendekatinya, bisa-bisa akan berbalik terkena imbas kegusarannya.

    • Wah…..
      banjir…..banjir…banjir….. !!!!
      banjir rontal……!!!!!
      he he he ……
      sampek termehek-mehek satpam memunguti rontalnya

      matur suwun Ki Dhalang

  24. Namun hati dan perasaan wanita tua itu tiba-tiba menjadi begitu cerah ketika dilihatnya seorang anak muda datang mendekati sang putri.

    “Aku baru saja datang dari bangsal tahanan”, berkata pemuda itu yang tidak lain adalah Pangeran Citraganda.

    Pangeran Citraganda langsung bercerita tentang keadaan Gajahmada, asal muasal kejadian sebenarnya mengapa harus membawa pergi Andini.

    “Jadi Kakang Mahesa Muksa tidak seperti apa yang dipersangkakan orang kepadanya ?”, bertanya Andini setelah mendengar semua penjelasan Pangeran Citraganda.

    “Mahesa Muksa sengaja menyerahkan dirinya agar dapat melindungimu ?”, berkata Pangeran Citraganda dengan wajah menggoda.

    “Mengapa Kakang Citraganda tidak segera ke Padepokan Kakek Prabu untuk melihat keadaan Andini ?”, bertanya Dyah Rara Wulan berbalik menggoda Pangeran Citraganda.

    “Apa maksud perkataanmu ?”, berkata Pangeran Citraganda mencoba mengelak godaan dari adiknya itu.

    “Kakang tidak usah menghindar dariku, aku sudah dapat menebak sikap dan perasaan Kakang terhadap Andini”, berkata Dyah Rara Wulan seperti berada diatas angin telah berbalik menggoda kakaknya itu.

    “Jujur kukatakan bahwa gadis itu memang begitu cantik jelita”, berkata Pangeran Citraganda sambil mencabut sebatang rumput dan melemparnya jauh ditengah kolam.

    “Nampaknya Pangeran tampanku memang telah jatuh cinta”, berkata Dyah Rara Wulan dengan senyum penuh menggoda.

    “Bila seorang mengagumi, apa sudah dapat dikatakan jatuh hati ?”, bertanya Pangeran Citraganda menghadapkan wajahnya dekat dengan wajah Dyah Rara Wulan.

    “Cinta datang berawal dari rasa kagum, dan pangeranku sudah terjerat masuk lebih dalam lagi”, berkata Dyah Rara Wulan.

    “Tapi Andini kulihat lebih memilih Mahesa Muksa”, berkata Pangeran Citraganda sambil memalingkan wajahnya dari hadapan Dyah Rara Wulan, pandangannya terlihat jatuh menatap seekor ikan kecil yang berlari bersembunyi di balik sebuah tanaman air.

    “Kakang belum berjalan menuju peperangan cinta, kakang belum menghunus pedang merebut hatinya. Kejarlah Andini sampai dapat, sementara aku akan menjerat pujaan hatiku sendiri, Kakang Mahesa Muksa”, berkata Dyah Rara Wulan dengan suara berbisik seperti takut terdengar oleh siapapun.

    “Aku tidak akan berjalan ke peperangan apapun demi sebuah cinta. Bagitu cinta bukan sebuah tahta yang harus diperebutkan oleh siapapun”, berkata Pangeran Citraganda sambil kembali mencabut sebatang rumput dan kembali melemparnya jauh ketengah kolam.

  25. Sementara itu di bangsal tahanan yang gelap, terlihat Gajahmada tengah berlatih olah laku rahasianya. Dibangsal tahanan yang gelap itu membuat Gajahmada mendapat sebuah tempat berlatih yang baik, lebih dapat menekuni olah lakunya menjadi lebih dapat mengenali setiap gerak nafasnya, setiap gerak jalan syaraf aliran darahnya. Dan dengan penuh ketelitian dapat mengalirkan sebuah pusaran kekuatan jati dirinya kemanapun yang dikehendakinya.

    Demikianlah Gajahmada terus menekuni olah lakunya didalam bangsal tahanan yang gelap pekat itu, semakin berlatih semakin bertambah kesegaran didalam tubuhnya yang sudah terpupuk hawa murni yang terus kian bertambah menjadi sumber kekuatan dari diri sejati.

    Dan Gajahmada tidak menyadari bahwa diluar bangsa tahanan istana itu hari sudah menjadi malam. Wajah bulan sudah hampir mendekati bulat sempurna.

    “Besok Baginda Raja Ragasuci akan pergi berburu. Dan kita hanya duduk menunggu Adipati Suradilaga sebagai kuda hitam kita membunuh Sang Raja di Hutan Sindur”, berkata Patih Anggajaya kepada tiga orang kepercayaannya di rumah kediamannya sendiri.

    “Saat ini Adipati Suradilaga dan pasukannya mungkin sudah tidak sabar lagi menungu kedatangan Raja Ragasuci di Hutan Sindur”, berkata salah seorang kepercayaan Patih Anggajaya.

    “Seperti Adipati Suradilaga, aku juga jadi tidak sabar untuk secepatnya duduk diatas kursi singgasana istana”, berkata Patih Anggajaya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

    Tercium aroma yang menyengat dari mulut Patih Anggajaya. Nampaknya sang Patih yang licik itu sudah terlalu banyak minum arak ditemani oleh tiga orang kepercayaannya itu.

    Sementara itu sebagaimana yang dikatakan oleh orang kepercayaan Patih Anggajaya, di hutan Sindur Pasukan Adipati Suradilaga memang sudah berada dua hari dua malam di hutan itu. Tapi di luar pengetahuan orang-orang Patih Anggajaya, para cantrik dari Padepokan Prabu uru Darmasiksa juga telah berada di hutan Sindur bersembunyi ditempat-tempat yang telah ditentukan guna dapat dengan mudah menyergap kedatangan pasukan patih Anggajaya.

    “Apakah Adipati Suradilaga dapat dipercaya ?”, berkata Jayakatwang kepada Prabu Guru Darmasiksa di tempat persembunyiannya.

    “Aku mengenalnya sebagai seorang prajurit yang sangat setia”, berkata Prabu Guru Darmasiksa penuh keyakinan.

    “Semoga semua sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan”, berkata Pangeran Jayanagara

    “Kita serahkan semua kepada ketentuan pemilik segala ketentuan dan ketetapan ini, Gusti Yang Maha Agung, banyak hal yang bisa saja terjadi diluar kehendak kita”, berkata Prabu Guru Darmasiksa.

    Sementara itu di saat yang sama, terlihat suasana penuh kegembiraan di rumah kediaman Patih Anggajaya.

    “Raja tua Prabu Guru Darmasiksa kalah satu langkah dengan kita, mereka tidak pernah menghitung kekuatan pasukan dari Kotaraja Rakata”, berkata Patih Anggajaya dengan penuh kegembiraan hati.

  26. ciatttt………….air sudah masuk ke garasi, hehehe

    Selamat malam kadank sedoyo, selamat malem mingguan, qiqiqiqq

  27. Ha ha ha …..
    masih ada lagi…
    banjir susulan

    sebentar Satpam bendel dulu, apakah sudah bisa dijepret dan buka gandok baru

  28. Ups……., kurang satu halaman.

    bagaimana ya?

    Okeylah kalau begitu

    belum dijepret, tetapi Satpam siap-siap mengumpulkan uma rampe buat gandok baru. Mudah-mudahan besok sudah bisa buka gandok baru.

    nuwun

  29. ciatttt……..air sudah menyentuh bibir knalpot, langsung stater dan tancap gas mengarungi jalan yang sudah rata dengan air, untung ketajaman penglihatan Ki Sandikalam tua masih begitu tanjam dapat memperkirakan batas parit yang sudah tidak terlihat lagi.karena rata dengan iar banjir.

    hupp….kuda tunggangan tua Ki Sandikala telah bersandar di tempat tinggi yang cukup aman.

    ciatt…gulung celana tinggi-tinggi untuk kembali ke rumah dan menunggu mas ilham yang kadung janji untuk mengantarkan satu buah rontal penutup, qiqiqiiqqqq

    • wah…..
      si Ilham ingkar janji rupanya.
      atau…, air banjir menghalanginya untuk datang ke Situ Cipondoh? hadu……

      • ha ha ha, ternyata air masuk lebih tinggi dari sebelumnya, mas ilham diajak angkat2 baju ketempat lebih tinggi….dan…cape dech

        • wah……
          he he he ….
          kasihan si Ilham, sudah datang dari jauh, “hanya” bantu angkat-angkat.
          Okeylah kalau begitu, biar si Ilham istirahat dulu, biar fresh setelah banjir surut.

  30. Namun Patih Anggajaya dan ketiga orang kepercayaannya itu sama sekali tidak mengetahui bahwa semua pembicaraan mereka telah didengar oleh seseorang di balik pintu pringgitan.

    Dibalik pintu pringgitan terlihat seorang wanita tengah mendengarkan pembicaraan mereka yang tidak lain adalah Nyi Dewi Kaswari.

    “Celakalah keluarga istana bilasaja semua rencana suamiku benar-benar menjadi sebuah kenyataan”, berkata Nyi Dewi Kaswari merasa terkejut mendengar semua rencana suaminya itu, Patih Anggajaya.

    “Sayangnya aku tidak tahu kepada siapa berita ini harus aku sampaikan”, berkata Nyi Dewi Kaswari merasa ragu dan bimbang tidak tahu kepada siapa berita itu akan disampaikan.”Aku juga tidak tahu apakah perbuatanku ini adalah sebuah penghianatan kepada seorang suami ?”, berkata kembali Nyi Dewi Kaswari dalam hati menjadi bertambah ragu.

    Ketika hari sudah menjadi begitu larut malam, Nyi Dewi Kaswari sudah tidak tahan lagi menahan rasa kantuknya.

    Namun kebimbangan hatinya masih saja terbawa diperaduannya, keraguan antara rasa kasihan melihat kehancuran keluarga istana dan kesetiaan bakti seorang istri atas suaminya.

    Akhirnya wanita yang masih berparas cantik jelita di usia yang sudah mendekati setengah baya itu terlihat sudah terlelap tidur tidak kuat menahan rasa kantuknya bersama suasana diluar yang menjadi semakin dingin akibat telah turun hujan begitu lebat mengguyur hampir merata bumi Kotaraja Kawali.

    Ketika Nyi Dewi Kaswari terbangun di pagi harinya, tidak dilihat suaminya bersama diperaduannya.

    “Apakah bibi melihat suamiku telah pergi keluar rumah dipagi ini ?”, bertanya Nyi Dewi Kaswari kepada seorang pelayan tua dirumahnya.

    “Tuan Patih memang tidak tidur di rumah ini, tadi malam bibi lihat sendiri telah keluar bersama ketiga tamunya”, berkata pelayan tua itu kepada Nyi Dewi Kaswari.

    “Disaat masih turun hujan ?”, bertanya kembali Nyi Dewi Kaswari.
    Terlihat pelayan tua itu tidak berkata apapun, hanya sedikit perlahan menganggukkan kepalanya. Diam-diam hatinya ikut teriris pilu melihat suasana kehidupan rumah tangga anak asuhnya itu yang sudah di sayangi seperti putrinya sendiri.

    Sayu wajah Nyi Dewi Kaswari terduduk lesu memandang tempat kosong lantai pendapa dari arah duduknya di ruang pringgitan.
    Yang ada dalam bayangan pikiran Nyi Dewi Kaswari saat itu adalah bahwa suaminya pasti masih tertidur pulas disamping seorang wanita lain.

    Tiba-tiba saja terlihat sebuah perubahan diwajah Nyi Dewi Kaswari yang dipenuhi rasa kebencian yang sangat.

    “Bibi, kemarilah”, berkata Dewi Kaswari memanggil pelayan tua yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri.

  31. apakah pesan Nyi Dewi Kaswari akan sampai di istana Kawali ?

    apakah banjir di situ Cipondoh akan surut ?

    Dua pertanyaan yang dapat di jawab hanya ketika semua telah terjadi, he he he

    • Dan……..?#$@!?
      apakah gandok KDNPP-03 ini perlu dilanjutkan?

      saya kira tidak…!

      karena rontal tersebut adalah rontal penutup KDNP-03, gandok KDNP-04 sudah dibuka.

      he he he he …………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: