Lain-lain

WAOSAN KA-1

Nuwun
Sugêng énjang ndungkap siyang

EKSPEDISI PAMALAYU [PERANG MELAWAN MELAYU]

Ekspedisi Pamalayu adalah sebuah diplomasi melalui operasi kewibawaan militer yang dilakukan Kerajaan Singasari di bawah perintah Raja Kertanagara antara tahun 1275 dan 1293 terhadap Bhumi Malayu atau Kerajaan Melayu Dharmasraya di Pulau Sumatera.
Istilah Pamalayu bermakna “perang melawan Malayu.”

Adalah Kertanegara, raja agung Singasari yang berjasa besar menghalau kekuatan asing untuk bercokol di bumi nusantara. Adalah sebuah nasionalisme yang tinggi.

Berbeda dengan raja-raja Singasari sebelumnya, Prabu Kertanegara berniat memperluas daerah kekuasaan sampai ke luar Pulau Jawa.

Gagasan pengiriman tentara ke Suwarnabhumi dapat dukungan penuh dari Mahisa Anengah, pengganti Raganata.

Demikianlah diputuskan untuk mengirimkan tentara ke Melayu. Keputusan itu dilaksanakan pada tahun 1275 M, dengan pengiriman pasukan di bawah pimpinan Kebo Arema untuk menaklukan bhumi malayu.

Siapa Kebo Arema?

Arema atau Kebo Arema adalah legenda Kota Malang. Adalah Kidung Harsawijaya (diduga ditulis pada awal abad ke-17) yang pertama kali mencatat nama tersebut, yaitu kisah tentang Patih Kebo Arema di kala Singosari diperintah Raja Kertanegara.

Prestasi Kebo Arema gilang gemilang. Ia mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara seperti ditulis dalam Kidung Panji Wijayakrama hingga seluruh pemberontak hancur.

Dalam prasasti Sarwadharma yang dikeluarkan pada bulan Kartika tahun 1191Ç (Oktober-November 1269), tercatat nama Patih Kebo Arema dan Sang Ramapati, yang sangat dipuja sebagai penasehat politik sang prabu dalam mengadakan hubungan dengan pembesar-pembesar di Madura dan Nusantara.

Sang Ramapati mengepalai kabinet menteri yang terdiri dari patih, demung, tumenggung, rangga, dan kanuruhan. Melihat fungsinya dalam pemerintahan, kiranya Sang Ramapati dalam prasasti Sarwadharma itu sama dengan Mpu Raganata dalam Pararaton dan Kidung Harsawijaya ataupun Panji Wijayakrama.

Demikian pula pemberontakan Cayaraja seperti ditulis kitab Nagarakretagama. Kebo Arema pula yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara. Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi. Kemudian bisa menguasai Selat Malaka.

Sejarah heroik Kebo Arema memang tenggelam. Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singosari, yang pusat pemerintahannya dekat Kota Malang.

Kidung Panji Wijayakrama menyebutkan nama utusan Ekspedisi Pamalayu tersebut, yaitu Mahisa Anabrang atau Kebo Anabrang atau Lembu Anabrang (lahir: ? – wafat: 1295), yang artinya ialah “kerbau yang menyeberang”.

Terdapat kemungkinan bahwa ini bukan nama asli, nama itu adalah nama “julukan” atau “paraban/panggilan”.

Sêrat Kêkancingan atau Piagam Gunung Wilis (1269); menyebutkan bahwa perintah Raja Kertanegara ditampung oleh tiga mahamenteri yaitu: rakryan i hino, rakryan i sirikan dan rakryan i halu.

Ketiga jabatan ini merupakan jabatan yang dipegang oleh keturunan langsung Sang Maharaja. Jabatan ini telah ada sebelumnya, yakni sejak zaman Mataram Kuno, pada masa Rakai Kayuwangi, dan tetap ada hingga masa Majapahit.

Di antara ketiga penjabat itu, rakryan mahamantri i hino-lah yang terpenting dan tertinggi. Ia mempunyai hubungan yang paling dekat dengan raja, sehingga berhak mengeluarkan piagam (prasasti).
Oleh sebab itu, banyak para ahli yang menduga jabatan ini dipegang oleh Putra Mahkota.

Perintah Sang Maharaja tadi selanjutnya diteruskan kepada para “tanda rakryan”, yakni para pejabat pemerintahan, sesuai dengan bidang tugasnya.

Mereka dalah Rakryan Mantri ri Pakirakiran. Jabatan ini berfungsi semacam Dewan Menteri atau Badan Pelaksana Pemerintah.

Biasanya terdiri dari lima orang rakryan (para tanda rakryan), yakni:
1. Rakryan Mahapatih atau Patih Amangkubhumi;
2. Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan);
3. Rakryan Demung (Kepala Rumah Tangga Kerajaan);
4. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima);
5. Rakryan Kanuruhan (penghubung tugas-tugas upacara kerajaan)

Pada masa pemerintahan Kertanegara anggota dewan menteri atau anggota kabinetnya adalah:

1. Rakryan Mahapatih: Rakryan Patih Kebo Arema
2. Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan); —
3. Rakryan Demung (Kepala Rumah Tangga Kerajaan): Demung Mapanji Wipaksa.
4. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima): —
5. Rakryan Kanuruhan (penghubung dan tugas-tugas upacara kerajaan). Kanuruhan Ramapati

Piagam Kampilan (bulan Kartika 1191Ç atau Oktober-November 1269M), tercatat nama Patih Kebo Arema. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa Kebo Anabrang identik dengan Kebo Arema.

Dalam Record, tulisan pendeta Buddha I-tsing dari Kanton, yakni tulisan yang menerangkan lokasi-lokasi persinggahan I-tsing dari Cina – Asia Tenggara – India.

I Ching Yì Jìng (635-713) adalah seorang bhiksu Buddha Cina yang berkelana lewat laut ke India melalui Jalur Sutra untuk mendapatkan teks agama Buddha dalam Bahasa Sansekerta.
Penerjemahan ke dalam bahasa Cina dibantu seorang pakar Jawa yang bernama Jñânabhadra.

Tertulis bahwa pelabuhan Melayu alias Jambi dalam abad ke-7 adalah pelabuhan penting untuk lalu lintas kapa-kapal yang berlayar dari dan ke Tiongkok.

Boleh dipastikan bahwa pelabuhan itu dalam abad ke-13 masih mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk lalu lintas kapal yang berlayar dari dan ke Tiongkok.

Demikianlah pelabuhan Melayu itu banyak dikunjungi oleh perahu-perahu Tiongkok, perahu-perahu kaisar Kubilai Khan.

Pelabuhan Melayu menguasai pelayaran di Selat Malaka dan merupakan pangkalan untuk perluasan pengaruh Tiongkok di negeri selatan.

Hal itu diketahui benar oleh raja Kertanagara. Maka, raja Kertanagara mengerahkan segala kekuatan tentara Singasari untuk merebut kekuaasaan di negeri Melayu pada tahun 1275, ketika kaisar Kubilai Khan masih sibuk dengan usahanya menguasai Tiongkok.

Diuraikan dalam Kidung Panji Wijayakrama, bahwa ada pengerahan tentara ke negeri Melayu, melalui pelabuhan Tuban. mereka diantar oleh patih Mahisa Anengah dan Panji Angragani, dan tidaklah benar uraian Kidung Harsa Wijaya, bahwa Ekspedisi Pamalayu itu digerakkan oleh keinginan merebut putri Melayu yang akan dikawinkan dengan Raden Wijaya.

Nagarakretagama mengisahkan bahwa tujuan Ekspedisi Pamalayu sebenarnya untuk menundukkan Swarnnabhumi secara baik-baik. Namun, tujuan tersebut mengalami perubahan karena raja Swarnnabhumi ternyata melakukan perlawanan.
Meskipun demikian, pasukan Singasari tetap berhasil memperoleh kemenangan.

Negarakretagama pupuh 41 (5) menyebut pengiriman tentara oleh Kertanagara untuk menaklukkan Melayu pada tahun 1197Ç atau tahun 1275M.

…nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu…

[… Tahun Saka nagasyabhawa (1197Ç/1275M) Baginda menyuruh tundukkan tanah Melayu,…]

Menurut analisis para sejarawan, latar belakang pengiriman Ekspedisi Pamalayu adalah untuk menghadang serbuan bangsa Mongol, yang pengaruh kekuasaannya telah meliputi hampir seluruh daratan Asia, termasuk kekaisaran Turki di Timur Tengah.

Saat itu wilayah jajahan bangsa Mongol di bawah Kubilai Khan (atau Dinasti Yuan) sedang mengancam wilayah Asia Tenggara.

Untuk itu, Kertanagara mencoba mendahuluinya dengan menguasai Sumatera sebelum datang serbuan dari pihak asing tersebut, sekaligus menggalang kekuatan di Nusantara di bawah satu kekuasaan di bawah Singasari.

Sudah pasti bahwa raja Kertanagara mendengar berita-berita tentang serbuan tentara Mongolia di negeri Annam dan Campa antara tahun 1280 dan 1287.

Serbuan tentara Mongolia itu menyebabkan usaha raja Kertanagara memperkuat pembinaan persahabatan dengan negeri Melayu yang telah dikuasainya.

Pada suatu saat, negeri Melayu pun akan menjadi sasaran serangan tentara Kubilai Khan.

Demikianlah pada tahun 1286, berdasarkan prasasti Amoghapasa, raja Kertanagara mengirim arca Amoghapasa sebagai hadiah kepada raja Melayu Warrmadewa.
Kedatangan arca itu diantar oleh pelbagai pembesar pemerintahan dari kerajaan Singasari.

Pemberian arca itu dapat ditafsirkan sebagai pemberian çakti kepada raja Melayu. Pemberian çakti itu mengandung arti memperkokoh persahabatan untuk mengahadapi kemungkinan serangan tentara Kubilai Khan dari Tiongkok tersebut.

Ekspedisi Pamalayu merupakan manifestasi gagasan cakrawalamandala raja Kertanagara sebagai ‘bumper’ atas hegeomoni Kubilai Khan di Asia Tenggara.

Dengan demikian raja Kertanagara telah berupaya untuk membendung pengaruh Kubilai Khan, agar jangan sampai menjalar ke wilayah Nusantara. Untuk tujuan yang sama, raja Kertanagara mengirimkan putrinya, Dewi Tapasi, untuk dikawinkan dengan raja Campa.

Campa dengan ibukotanya Panduranga merupakan benteng terdepan dan pertama untuk membendung pengaruh kekuasaan Kubilai Khan.

Agar jangan timbul kekeruhan dalam negeri selama tentara Singasari bertugas di negeri Melayu, Ardaraja pangeran dari Kediri, diambil menantu oleh Kertanagara, serta raden Wijaya (Calon Raja Majapahit), panglima perang Singasari, dipasangkan dengan dua orang putrinya.

Bila dilihat lebih dalam gagasan cakrawala mandala Kertanagara sebagai usaha membendung hegemoni Kubilai Khan atas Asia umumnya dan Asia Tenggara khususnya akan lebih berdasar dan bersumber pada watak ahangkara, watak sang ahngkaraneng bhumi raja Kertanagara.

Beliau sadar akan keagungan dan kekuasaannya. Sang Prabu Kertanegara Bhatara Siwa Buddha, terlalu percaya diri dan Beliau mengagungkan kekuatannya sendiri.

Ia sadar dan percaya bahwa ia menguasai kekuatan gaib. Beliau tidak mau menyerah terhadap kaisar Kubilai Khan.

Kesadaran akan keagungan itu menimbulkan keberanian untuk menanggulangi kekuasaan dan nafsu menjajah kaisar Kubilai Khan di wilayah Nusantara.

Dalam Negarakretagama pupuh 42 (2), disebutkan bahwa Pahang, segenap Melayu, Gurun, Bakulapura, termasuk Sunda dan Madura tunduk di bawah kekuasaan Singasari, sehingga Tanah Jawa menjadi semakin cemerlang.

samangkana tikang digantara padangabhaya marek i jong nareswara
ikang sakahawat pahang sakahawat malayu pada manungkul adara
muwah sakahawat gurun sakahawat bakulapura mangasrayomarek
ndatan lingen i sunda len madhura pan satanah i yawa bhakti tansalah

[Begitulah dari empat jurusan orang lari berlindung di bawah Baginda, Seluruh Pahang, segenap Melayu tunduk menekur di hadapan beliau, Seluruh Gurun, segenap Bakulapura lari mencari perlindungan, Sunda Madura tak perlu dikatakan, sebab sudah terang setanah Jawa].

Dalam Negarakretagama pupuh 44 (3), dinyatakan bahwa semua raja-raja sampai Nusantra tunduk kepada cicit batara Girinata, yakni Sri Kertanagara.

sakweh ning natha bhakti weka ni weka bhataragirindratanaya
astam ri sri-narendra krtanagara tekeng nusantara manut……

[Semua raja berbakti kepada cucu putera Girinata, Hingga seluruh Nusantara tunduk kepada kuasa raja Kertanagara,….].

Dalam Panji Wijayakrama, tidak disebutkan kekuasaan raja Kertanagara di daerah seberang. Yang tersebut dalam pupuh VII/153 ialah kekuasaan raja Kertarajasa Jayawardana setelah pengusiran tentara Tartar dan sekembalinya tentara Singasari dari Melayu di bawah pimpinan Kebo Anabrang.

Sedangkan politik perkawinan Kertanagara, baik kedalam mandala Singasari dan keluar, bukanlah usaha membendung hegemoni Kubilai Khan melainkan sebagai upaya peredam kemungkinan pemberontakan.

Demikianlah landasan politik perkawinan didalam negeri merupakan persiapan keamanan kerajaan, pengelakan pemberontakan.

Beberapa literatur menyebut sasaran Ekspedisi Pamalayu adalah untuk menguasai negeri Melayu sebagai batu loncatan untuk menaklukkan Sriwijaya. Dengan demikian, posisi Sriwijaya sebagai penguasa Asia Tenggara dapat diperlemah.

Namun pendapat ini kurang tepat karena pada saat itu kerajaan Sriwijaya sudah tiada. Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 juga tidak pernah menyebutkan adanya negeri bernama Sriwijaya lagi, tetapi melainkan bernama Palembang.
Itu artinya pada zaman tersebut, nama Sriwijaya sudah tidak dikenal lagi.

Catatan dari Dinasti Ming memang menyebutkan bahwa pada tahun 1377 tentara Jawa menghancurkan pemberontakan San-fo-tsi. Meskipun demikian, istilah San-fo-tsi tidak harus bermakna Sriwijaya.

Dalam catatan Dinasti Song istilah San-fo-tsi memang identik dengan Sriwijaya, namun dalam naskah Chu-fan-chi yang ditulis tahun 1225, istilah San-fo-tsi identik dengan Dharmasraya. Dengan kata lain, San-fo-tsi adalah sebutan bangsa Cina untuk pulau Sumatera, sebagaimana mereka menyebut Jawa dengan istilah Cho-po.

Nagarakretagama menyebut Melayu merupakan daerah bawahan di antara sekian banyak daerah jajahan Majapahit, dimana penyebutan Malayu tersebut dirujuk kepada beberapa negeri yang ada di pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya.

Babad Tanah Jawi menerangkan:

Barêng Tanah Jåwå gêdhé panguwåsané, Prabu Kârtånagårå (1268 – 1292) kâlakon biså ngrusak kuthå Paséi, lan ngâjâgi Jambi, Palémbang, Riouw sartå kuthå kutha akèh ing Bornéo åpådéné pulo-pulo ing Moloko. Ing saantaraning taun 1275 lan 1293 wong Jåwå nglurugi tanah pagunungan Jambi mau yåiku tanah kang bésuké aran Mênangkabau. Lurugan iku diarani Pamalayu.

Kawasan Melayu yang sebelumnya di bawah kekuasaan Sriwijaya sebagaimana tersebut pada Prasasti Kedukan Bukit yang beraksara tahun 682, dan kemudian munculnya Dharmasraya mengantikan peran Sriwijaya sebagai penguasa pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya, seiring dengan melemahnya pengaruh Sriwijaya setelah serangan pasukan Rajendra Chola dari Koromandel, India sekitar tahun 1025, di mana dari Prasasti Tanyore menyebutkan bahwa serangan tersebut berhasil menaklukan dan menawan raja dari Sriwijaya.

Kebangkitan kembali Kerajaan Melayu di bawah pimpinan Kamraten An Maharadja Srimat Trailokya raja Maulibhusanawarmadewa sebagaimana yang tertulis dalam Prasasti Grahi tahun 1183. Setelah kerajaan Melayu di Dharmasraya takluk dan menjadi daerah bawahan.

Pada tahun 1286M Kertanagara mengirim utusan yang dipimpin Adwayabrahma membawa arca Amoghapasa sebagai tanda persahabatan dan hubungan diplomatik dengan Sri Baginda Raja Dharmasraya.

Prasasti Padangroco, tempat dipahatkannya Arca Amoghapasa menyebutkan bahwa arca tersebut adalah hadiah persahabatan dari Maharajadhiraja Kertanagara untuk Maharaja Maharājādhirāja Śrīmat Śrī-Udayādityavarmma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Varrmmadeva.

Sehingga jika ditinjau dari gelar yang dipakai, terlihat adanya pengaruh kekuasaan Singasari, sehingga dapat dikatakan bahwa Singasari telah menjadi atasan Dharmasraya.

Babad Tanah Jawi mengabarkan pengiriman Arca Amoghapasa ini:

Ing taun 1268 Prabu Kârtånagårå angganjar rêcå marang ratu ing Dharmmåçråyå (Darmåsråyå) ugå dumunung ing tanah Jambi, ing saikiné ora adoh karo Sungai Lansat. Karajan iku ing bésuké kâlêbu jajahan Majapait, rajané darah Warman jêjuluk Tribuwånå (Mauliwarman) kagungan garwå bångså Mêlayu, kang putriné (putrané putri) ayaké dadi garwané Radén Wijåyå biyèn.

Prasasti Padangroco juga menyebutkan bahwa arca Amoghapasa diberangkatkan dari Jawa menuju Sumatera dengan diiringgi beberapa pejabat penting Singasari di antaranya ialah Rakryān Mahā-mantri Dyah Adwayabrahma, Rakryān Śirīkan Dyah Sugatabrahma, Samagat Payānan Hyańg Dīpankaradāsa, Rakryān Demung Mpu Wīra.

Pada Prasasti Padangroco Amoghapasa, tahun 1208Ç atau 1286M, tertulis dengan terjemahan sebagai berikut:

• Bahagia ! Pada tahun Çaka 1208, bulan Bādrawāda, hari pertama bulan naik, hari Māwulu Wāge, hari Kamis, Wuku Madaṇkungan, letak raja bintang di baratdaya …

• …. tatkala itulah arca paduka Amoghapāśa Lokeśwara dengan empat belas pengikut serta saptaratana – tujuh ratna permata – dibawa dari bhūmi Jāwa ke Swarnnabhūmi, supaya ditegakkan di Dharmmāśraya,

• sebagai hadiah Śrī Wiśwarūpa Kumāra. Untuk tujuan tersebut pāduka Śrī Mahārājādhirāja Kṛtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa memerintahkan Rakryān Mahā-mantri Dyah Adwayabrahma, Rakryān Śirīkan Dyah Sugatabrahma dan

• Samagat Payānan Hyańg Dīpankaradāsa, Rakryān Demung Mpu Wīra untuk menghantarkan pāduka Amoghapāśa. Semoga hadiah itu membuat gembira segenap rakyat di Bhūmi Mālayu, termasuk brāhmaṇa, ksatrya, waiśa, sūdra dan terutama pusat segenap para āryya, Śrī Mahārāja Śrīmat Tribhuwanarāja Mauliwarmmadewa.

Saptaratna-tujuh ratna permata merupakan lambang seorang cakravartin. Semuanya dilukiskan pada alas arca Amoghapasa tersebut berupa kuda, cakra, permaisuri, ratna, menteri, hulubalang, dan gajah.

Mungkin juga raja Kertanagara benar-benar mengirimkan seorang putri, dua orang pejabat, seeokor gajah, seekor kuda, senjata cakra, dan permata kepada raja Mauliwarmadewa.

Setelah penyerahkan arca tersebut, Raja Melayu kemudian menghadiahkan dua putrinya, Dara Jingga dan Dara Petak, untuk dinikahkan dengan Kertanagara di Singasari.

Chakravartin, Sansekerta bahuvrīhi, secara harfiah “roda yang bergerak“, dalam arti “kereta yang diluncurkan di mana-mana tanpa halangan” bisa juga dianalisis sebagai instrumental bahuvrīhi “melalui siapa roda bergerak”, dalam arti “melalui siapa Dharmachakra (wheel of dharma) sudah berubah” (paling umum digunakan dalam agama Buddha dan Hindu).

Cakkavatti (bahasa Pali), juga ditafsirkan sebagai “untuk siapa roda-dharma berubah” adalah istilah yang digunakan dalam agama-agama Hindu-Budha untuk penguasa universal yang ideal, yang beretika etis dan rama di seluruh dunia. Disebut sarvabhauma.

Pada Jainisme, chakravartin yang ditandai dengan memiliki saptaratna, yaitu tujuh permata, yang terdiri dari, kuda, cakra, permaisuri, ratna, menteri, hulubalang, dan gajah.

Selain itu, termasuk juga perdana menteri dan seorang putra (navaratna). Chakravartin adalah dianggap sebagai manusia yang ideal yang diberkahi dengan tiga puluh dua tanda utama dari keunggulan dan tanda-tanda kecil serta banyak keunggulan.

Jainisme atau Jain Dharma adalah sebuah agama dharma. Agama ini termasuk salah satu yang tertua di dunia. Jainisme berasal dari India. Seorang Jain adalah pengikut para Jina, atau para penakluk spiritual.
Mereka mengikuti ajaran 24 penakluk Jina yang dikenal sebagai Tirthankar (pembangun benteng).

Seperti agama Hindu dan Buddha seorang Jain tujuannya ialah mencapai mokşa. Namun agak berbeda dengan Jainisme dari India ini.

Pada Jainisme yang dianut oleh Prabu Kertanegara adalah sinkretisme Hindu dan Budha. Yogin sejati pengikut Tantrisme Subhuti.

Dengan demikian karena beliau adalah penganut Jainisme, maka tepat sekali gelar abhiseka Prabu Kertanegara, yakni Shri Jnyanabadreshwara , sebagai gelar raja setelah ditahbiskan sebagai Jina (dhyani Buddha), dan beliau disebut juga Bhatara Siwabuda.

Menurut sumber dari Batak, pasukan Pamalayu dipimpin oleh Indrawarman, bukan Kebo Anabrang. Tokoh Indrawarman ini tidak pernah kembali ke Jawa, melainkan menetap di Sumatra dan menolak kekuasaan Majapahit sebagai kelanjutan dari Singasari.

Mungkin, Indrawarman bukan pemimpin tertinggi ekspedisi Pamalayu, melainkan wakilnya. Jadi, ketika Kebo Anabrang kembali ke Jawa, ia tidak membawa semua pasukan, tetapi meninggalkan sebagian di bawah pimpinan Indrawarman untuk menjaga keamanan Sumatra.
Nama Indrawarman inilah yang tercatat dalam ingatan masyarakat Batak.

Dikisahkan bahwa Indrawarman bermarkas di tepi Sungai Asahan. Ia menolak mengakui kedaulatan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya sebagai ahli waris Kertanagara.

Namun, ia juga tidak mampu mempertahankan daerah Kuntu-Kampar yang direbut oleh Kesultanan Aru-Barumun pada tahun 1299.

Indrawarman takut apabila kerajaan Majapahit datang untuk meminta pertanggungjawabannya. Ia pun meninggalkan daerah Asahan untuk membangun kerajaan bernama Silo di daerah Simalungun.

Pada tahun 1339 datang pasukan Majapahit di bawah pimpinan Adityawarman menghancurkan kerajaan ini.

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 7 Mei 2011 at 11:22  Komentar Dinonaktifkan pada Lain-lain  
%d blogger menyukai ini: