NSSI-03

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 21 April 2011 at 15:37  Comments (52)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-03/trackback/

RSS feed for comments on this post.

52 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sugeng dalu,
    nuwun sewu kula ngrumiyini.

    sugeng long wiken.

    • Sugeng dalu,
      nuwun sewu kula ngrumiyini…SIJI oiiiii,

      sugeng long wiken.

      • ingkang leres menika,

        NUWUN SEWU menapa

        NYUWUN SEWU to Ki Menggung…????

        Ki Menggung menjawab dengan malu-2 :
        “Halah, tunggu saja, paling besok akan dibahas oleh Bu Guru/Mita.”

        • Menawi nuwun sewu meniko cekap mbungkukaken badhan kemawon Ki Gembleh, lha menawi nyuwun sewu kedah nadhahaken asto kekalih. He…he…he….. namung ndherek bergojeg Ki.

  2. nomer SIJI ngunduh rontal DJVU….suwun pakdHE,

    tumben ngasih BONUSan, kakehan stOK rontal yakE

    • Huwaduh, lha kula malah kesupen je….

      Matur nuwun Ki Ajar pak Satpam,
      jarene seminggu sak rontal,
      lha iki lagi dina Kemis wis diwedhar.

    • Ngundhuh wonten pundi Ki?

      • Wonten gandhok-02 Ki Arga,
        kaca kaping tiga,
        nginggil sisih kiwa,

        geng dalu Ki,
        100% tidak bergojeg.

        • Leres….leres …. Ki Gembleh,
          Sugeng dalu ugi.

  3. Wah jebul kalah dhisik , matur nuwun ki Ajar pak Satpam soho sugeng dalu poro cantrik lan mentrik sing disambit karo ki Gembleh xi…xii….xiii…………

  4. Kleru dhing Panembahan Satpam ………..

  5. Sugeg enjang.
    Monggo libur panjang sami jagongan wonten padepokan.

    monggo Ki
    katuran pinarak ingkang sekeco

  6. Hadiiirr !!
    Sugeng siang poro kadang sedoyo.

    • Hadiirrr juga.
      sugeng siang para kadhang PDLSers.

      • sugeng sonten para kadhang NSSIers.

        • sugeng sonten-sonten para kadhang NSSIers

          • Assalamu’alaikum,
            Selamat malam buat sanak kadang NSSIers
            Pha kabar?

          • ALHAMDULILLAH,

            pada SEHAT semua ni,

  7. Sgeng dalu.
    Masih nunggu ngunduh : NSSI DJVU : Di sini

  8. DI SINI BELOM DISANA BELOM DImana-mana…HATIKU
    BINGGUNG,
    TRA-LA-LA-LA….LALALALA-LALA-LAAAAAaaaaaaaaaaa

    DI SINI BELOM DISANA BELOM KEmana-mana…HATIKU
    BINGGUNG,
    TRA-LA-LA-LA….LALALALA-LALA-LAAAAAaaaaaaaa 10x

    DI SINI BELOM DISANA BELOM DImana-mana…HATIKU
    BINGGUNG,
    TRA-LA-LA-LA….LALALALA-LALA-LAAAAAaaaaaaaaaaa

    DI SINI BELOM DISANA BELOM KEmana-mana…HATIKU
    BINGGUNG,
    TRA-LA-LA-LA….LALALALA-LALA-LAAAAAaaaaaaaa 20x

  9. ngisi daftar hadir,
    sret sret titik (tanda tangan )

    Ki PA SAMA PAKDE WID NGENDI……..

    • Dereng dikintu Rokok Klobot Panama nopo Ki Mahisa Kompor?

  10. We lha niki ki Truno , kulo namung gadhah Rokok Klembak biso ndelok ning ra biso ngajak ……..

  11. Antri maneh ah……….

    monggo Ki
    NSSI-03 jadwal wedar mbenjang
    niki nembe dipun goreng

  12. Esuk-esuk thenguk-thenguk sinambi sarapan gethuk ngombene kopi tubruk , mbuh ketubruk opo , penake ketubruk nopo njih ki ???????????

    • Ketubruk Miss Nona purun?

      • Lha yen niki sinten kemawon poro piyayi kakung mesthi mboten purun Ki Truno , eh mboten purun nampik Ki Truno he…he…he….

  13. Matur nuwun sabar nenggo , sabar subur ra sabar sumyur , Antri maneh nganti sesuk esuk ah .

    • he he …
      habis subuhan harus nganter nyaine belanja ke pasar, terus harus angkat ini angkat itu, terus lupa.
      tunggu sebentar….

      • Matur nuwun Pak Satpam, NSSI DJVU sampun kulo undhuh. Lha anggenipun tindak peken kok mruput sanget. Menawi wonten mriki kathah tiyang ider mande sayuran seger.

  14. lha versi DJVU-ne kok beLOM wedar pak SATPAM,

    apa nunggU dijeWER ki SENO dulu…!! cantrik
    TETEP ngenTENi

    • sampe kapan yaaaaaa….!!??

      • embuh ah…

        • tetep seMANGAT ngenteNI…!!

  15. Kongkow di sini sore-sore…. sopo ngerti,
    Ono LEK SATPAM nganglang jagad,
    Ngasto Rontal Gajah Kenconohoho, … ho ho ho ho, …. hoo, ….hooo, ….
    Isine, …… dongeng lan pitutur luhur, ….
    Nggo nambah landeping panggraito ooo ooooooooo, …..
    Nggo mulang muruk anak putu hu huhu huuuuu, ..
    …………….

  16. Wah, lha kok Ki Ajar pak Satpam olehe
    “cidra ing janji” dadi tenanan to….???
    Mosok minggu iki rontal diwedhar nganti
    rong ombyok, kamangka janjine mung arep
    ngwedhar sak rontal seminggu.

    MUUAATTUURR NUWUN pak Satpam…!!!!
    minggu ngajeng kalih rontal malih nggih…???

  17. Sugeng dalu.

    Ki Bayuaji kok mboten ndongeng nembe tindak pundi njih?

  18. Matur nuwun Panembahan Satpam ( ngapunten P kulo gantos dados Panembahan , mugi-mugi mboten duko ) rontalipun sampun kulo gembol .

  19. Alhamdulillah versi DJVU wis diwedar.
    Matur nuwun P. Satpam
    Sugeng enjang.

  20. Ndherek ngisi daftar hadir.
    Sugeng siang.

  21. Hadir…………..
    dari pagi sampai tengah hari ini, tlatah Lendhut-Benter cuaca cerah sekali.

    • Mendhung terus sekedhap mbok bilih sekedhap malih jawah ,

  22. sandhé jabung sampun ing surup amasang sandhé.

  23. Nuwun
    Sugêng dalu

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-22: Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-3] Masa Kejayaan Majapahit. Perekonomian Kerajaan Majapahit [Bagian ke-2] On 18 April 2011 at 13:09 NSSI 02

    Waosan kaping-23:
    BHRE JIWANA HAYAM WURUK MAHARAJA SRI RAJASANEGARA (1350-1389) [Parwa ka-4]

    MASA KEJAYAAN MAJAPAHIT

    [2]. UNDANG-UNDANG KERAJAAN MAJAPAHIT

    Kitab Dharmashastra itu banyak. Penulisnyapun banyak pula; untuk disebutkan diantaranya adalah: Baudhayana, Harita, Apastambha, Wasistha, Sankha-likhita, Usana, Kasyapa, Yajnawalkya, Gautama (bukan Siddhartha Gautama) dan Brhaspati.

    Penamaan kitab-kitab Smrti, umumnya mengambil nama penulisnya, seperti: Gautamasmrti, ditulis oleh Rshi Gautama, demikian dan seterusnya.

    Salah-satu yang paling populer dan paling banyak diacu di Indonesia adalah Sarasamuschaya, gubahan Bhagawan Wararuci. Mengenai Sarasamuschaya, para indolog masih berbeda pendapat tentang kapan digubah dan siapa sebetulnya orang suci ini.
    Apakah beliau orang suci Nusantara ataukah India.

    Dari beberapa pandangan yang dikemukakan tentang siapa beliau, tampak bahwa beliau sebagai orang suci yang juga fasih menggunakan bahasa Sanskerta, disamping bahasa Kawi atau Jawa Kuno, dua bahasa yang digunakan didalam naskahnya.

    Ruang lingkup Dharmashastra mencakup nyaris seluruh aspek kehidupan duniawi umat Hindu, yang teramat luas, untuk dapat dipedomani dalam penerapan Veda secara benar.

    Terkait dengan hierarkinya terhadap Sruti, Gautama Dharmashastra sempat mengundang kontroversi meluas, tidak saja di kalangan umat Hindu, tetapi di kalangan bukan Hindu. Dalam kasus serupa inilah kita diwajibkan untuk bersikap waspada, kritis dan memiliki pemahaman yang cukup memadai akan ajaran yang tertuang dalam Sruti.

    Manawa Dharmashastra memiliki dua belas Adhyaya (bab) dan ini menyentuh semua sisi kehidupan manusia, dari uraian tentang penciptaan semesta, kewajiban-kewajiban manusia, berbagai larangan serta sangsi bagi pelanggarnya, pelaksanaan upacara korban suci dan pensucian diri lahir-batin, hingga masalah upaya penghubungan Atman dengan Brahman.

    Secara ringkas, isi yang terkandung dalam kedua-belas Adhyaya diuraikan berikut ini.

    Adhyaya I:

    Ajaran yang terkandung banyak persamaannya dengan berbagai kitab Itihasa dan Purana lainnya. Ia terdiri dari 119 pasal yang memuat dua hal pokok yakni: perihal teori penciptaan alam semesta dan hal-hal yang terkait berkenaan dengan bab-bab selanjutnya.

    Jadi, bab ini dapat dipandang sebagai sinopsis dari bab-bab selanjutnya. Beberapa hal pokok yang perlu diperhatikan dari bab ini adalah, bahwasanya:

    a. Seluruh semesta diciptakan dan dipelihara oleh suatu hukum yang disebut Rta atau Dharma.

    b. Ajaran-ajaran bersifat memaksa, anjuran dan larangan yang kesemuanya berakibat atau ada sanksinya.

    c. Setiap ajaran bersifat relatif dan absolut. Absolut dalam artian mengikat dan wajib, sedangkan relatif karena setiap jaman dan wilayah perkembangannya berbeda-beda.
    Hal ini secara jelas akan tampak bila dihubungkan dengan Adhyaya XI dan XII.

    d. Pengertian Warna merupakan penggolongan dalam pengertian fungsional. Atas ketentuan ini maka, peraturan-peraturan di luar golongan Brahmana, penafsirannya perlu disesuaikan secara fungsional.

    Ajaran Manu ini bersifat mengikat bagi golongan Brahmana, karena peraturan ini diadakan khusus bagi Brahmana.

    Bahagian terakhir dari Adhyaya I, hanya menegaskan beberapa bentuk hukum yang mungkin untuk mengelompokkan semua jenis pelanggaran. Semua peraturan tersebut didasarkan pada baik-buruknya perbuatan, yang kesemuanya bertujuan untuk mengajarkan manusia menuju pada kesempurnaan hidup dan kebaikan dalam masyarakat.

    Yang menarik dari bahagian akhir ini adalah, apa yang disebutkan dalam pasal 110: “Sesungguhnya pertapa yang mengetahui bahwa kebiasaan (drsta) didasarkan atas hukum suci, menetapkan bahwa perbuatan baik sebagai sumber yang terbaik dari semua tapa.

    Adhyaya II.

    Membahas prihal yang terkait dengan masa-masa awal dari kehidupan manusia Hindu. Ia dibentuk oleh 249 pasal yang dapat dibagi dalam empat bahagian pokok, yakni:

    (i). Memuat ketentuan mengenai sumber-sumber hukum (dharma) yang harus diperhatikan didalam menilai berbagai persoalan. Sumber-sumber hukum dimaksud meliputi: Sruti – Smrti – Sila – Sadacara – Atmastuti, yang selanjutnya ditetapkan sebagai empat sumber hukum Hindu pertama. Hierarkisnya bersifat tetap, dimana Sruti sebagai hukum dasarnya. Bila tiada disebutkan dalam Sruti, barulah dicari dalam Smrti atau Dharmashastra. Bilamana tiada ditemukan dalam keduanya, barulah dilihat dalam ajaran Susila — Yama-Niyama Brata dll.– dan Sadacara –tradisi spiritual-religius yang telah diakui dan berurat berakar dalam masyarakat. Terakhir, Atmastuti yakni apa yang ‘patut’ atau ‘layak’, dengan tiada menodai nama baik, menyakiti atau melukai pihak lain.

    (ii). Menyangkut pelaksanaan ritus-ritus berkenaan dengan pertumbuhan manusia sejak dalam kandungan, hingga diinisiasi sebagai Brahmacarin. Peraturan-peraturan terkait disebut dengan Sangaskara (Samskara). Sangaskara adalah sakramen yang bertujuan mengubah status si anak menjadi Arya (orang baik yang berkebajikan tinggi). Ini merupakan dasar manusia Hindu yang harus dilakukan.

    (iii). Menyangkut usia ideal untuk melaksanakan Sangaskara sehingga layak mempelajari Veda mantra dan digolongkan Arya. Disebutkan bahwa usia ideal tersebut antara 4 tahun hingga 14 tahun. Bila diatas usia 14 tahun belum diadakan Sangaskara, si anak tak layak digolongan Arya dan pantang mengucapkan Gayatri Mantram. Bila usia 24 tahun terlampaui, seseorang telah terlambat untuk memulai guna dapat menguasai Veda dengan baik. Orang yang demikian disebut Wratya dan tidak sesuai lagi sebagai seorang Arya. Masa wajib belajar di pasraman guru ini ditutup dengan masa Samawartana atau pensuddhian, dan siswa diperbolehkan kembali kerumah masing-masing.

    (iv). Secara khusus menitik-beratkan pada perjalanan akhir masa membujangnya, untuk memulai hidup berumah-tangga. Bagian ini membahas tentang berbagai jenis perkawinan (pawiwahan), hukum dan pelaksanaannya. Ketentuan-ketentuan lebih lanjut, dibahas pada bagian pertama Adhyaya III.
    Satu sloka dalam bab ini, yang menarik untuk diketengahkan adalah sloka 233, yang menyebutkan: “Dengan menghormati ibunya, ia mencapai kebahagiaan di bumi ini; dengan menghormati ayahnya, ia menikmati alam pertengahan (madyama); akan tetapi dengan ketaatan terhadap Sang Guru, ia mencapai Brahma Loka.

    Adhyaya III.

    Bab yang terdiri dari 286 pasal ini, dapat dibagi menjadi tiga pokok bahasan:

    (i). Merupakan ketentuan-ketentuan lanjutan dari hukum dan pelaksanaan perkawinan, bahagian yang mengundang berbagai perbedaan tafsir atau pandangan di kalangan cendekiawan Hindu. Bahagian inilah yang dianggap perlu untuk disesuaikan terhadap perkembangan jaman.

    (ii). Memuat kewajiban sehari-hari utama yang harus dilakukan oleh orang yang telah berumah-tangga. Kewajiban sehari-hari inilah yang disebut Panca Maha Yajna, yang dalam kitab ini hanya disinggung secara sumir saja.

    (iii). Menyangkut ajaran ‘Sraddha’. Sraddha dalam hal ini sebagai kepercayaan dan tradisi untuk mengadakan upacara penghormatan kepada rokh-rokh leluhur (pitara). Seperti juga Panca Maha Yajna, Sraddha inipun mempunyai nilai mendidik guna membentuk kepribadian seseorang. Seperti halnya peraturan upacara sehari-hari pada bahagian sebelumnya, disinipun Manusmrti tidak menggariskan secara lebih mendalam.

    Adhyaya IV.

    Merupakan bab yang membahas masalah aspek hukum, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Secara garis besar, adhyaya IV ini memuat tiga pokok persoalan yang dirumuskan kedalam 260 pasal, yakni:

    • Mengenai peraturan tentang cara melakukan kehidupan yang layak sesuai Dharma, serta 20 jenis Neraka yang akan dialami oleh seseorang, bila tidak mematuhi ajaran kebajikan yang tertuang.

    • Mengatur cara hidup bagi seorang yang telah mendalami Veda-veda (Snataka).

    • Mengatur tentang tata cara mempelajari Veda.
    Khusus dalam hal tata cara mempelajari Veda, diketengahkan empat peraturan yang meliputi ketentuan tentang:

    • Maksud daripada mempelajari Veda,

    • Saat-saat baik dan tidak baik untuk memulai belajar Veda,

    • Pantangan-pantangan yang harus diindahkan pada saat belajar Veda, serta

    • Peraturan atau tata cara yang harus dipatuhi pada waktu memulai belajar dan saat mengakhirinya.

    Dari kandungannya, bab ini dapat dianggap sebagai bahagian dari Manusmrti yang secara khusus diperuntukkan bagi mereka yang berguru spiritual. Ia dibuka dengan pasal 1 yang berbunyi: “Setelah tinggal dengan seorang Guru selama seperempat bagian hidupnya, seorang Brahmana harus tinggal selama seperempat bagian berikutnya di rumah, setelah mengawini seorang istri.

    Adhyaya V.

    Terdiri dari 169 pasal yang menyangkut berbagai ketentuan hukum tentang:

    • Jenis makanan yang dilarang.

    • Mengenai tata cara pensucian semasa cuntaka yang timbul karena kematian, kelahiran, haid dan lain-lain. Didalamnya dijelaskan tentang hal-hal yang dapat menyebabkan cuntaka, jangka ketidak-sucian, pantangan-pantangan bagi mereka yang dalam cuntaka serta cara-cara pensuciannya.

    • Kedudukan dan sikap yang layak bagi wanita, baik sebagai anak, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai janda dan lain-lain; disamping tingkah laku wanita yang ideal (dalam pasal 106 – 146).

    Sati atau ‘mesatya‘, yang secara formal telah dihapus pelaksanaannya di seluruh dunia, oleh karena dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan martabat manusia.

    Ketentuan yang tercantum dalam pasal 167 ini juga dianggap paling tidak memuaskan, menurut hukum modern.

    • Menekankan agar umat Hindu tidak melalaikan pelaksanaan Panca Maha Yajna.

    Adhyaya VI.

    Pada bab inilah kita temui berbagai ketentuan, tata-tertib hidup sebagai Wanaprashtin yang harus dipenuhi, serta upacara-upacara religius yang mesti dilaksanakan di ashram (pesraman) masing-masing.

    Didalamnya juga diatur tentang makanan, cara melaksanakan tapa, cara berbusana dan usaha-usaha yang layak serta diperkenankan dalam menjalani jenjang kehidupan Wanaprashta. Dalam tingkat ini, Yoga dikembangkan hingga kesempurnaannya.

    Pada bahagian akhir adhyaya, yang terdiri dari 97 pasal, ini pula diuraikan tentang ketentuan-ketentuan ketat, dengan berbagai pantangan, dalam menjalani kehidupan sebagai Sanyasin.

    Jenjang kehidupan terakhir ini, dirancang bagi umat Hindu yang sepenuhnya telah meninggalkan kehidupan duniawi, dan hanya mengupayakan kemokshaan.

    Guna memperoleh gambaran yang lebih baik, berikut dikutipkan terjemahan beberapa sloka/pasal yang terkait dengan dua jenjang kehidupan terakhir umat Hindu tersebut.

    Para dwijati yang berasal dari salah-satu dari empat jenjang kehidupan ini, harus mentaati dengan seksama sepuluh hukum (dasa dharmalaksana atau dasasila): kemantapan dalam melaksanakan upaya pencapaian tujuan akhir, suka mengampuni, melakukan pengendalikan diri dengan baik, tidak melakukan kecurangan dalam bentuk dan dengan cara apapun juga, taat dengan aturan pensucian diri, melaksanakan pengekangan terhadap hawa nafsu, teguh iman dalam pengetahuan tentang keutamaan jiwa, memegang kebenaran dan menghilangkan kemarahan. Mereka yang telah menerapkan kesepuluh disiplin moral ini, mencapai tingkat kesucian batin tertinggi.” (VI: 91, 92 dan 93)

    Adhyaya VII.

    Memuat 226 pasal yang menguraikan garis-garis besar pola hidup beragama yang layak dianut oleh seorang Arya. Ia memuat berbagai peraturan hidup bernegara menurut hukum Hindu, seperti:

    Pengertian negara, hukum ketata-negaraan, fungsi kepala negara atau kepala pemerintahan, jenis hukum dan politik yang dianutnya, jenis dan besar pengenaan pajak-pajak, peranan, jenis serta peranan duta besar, sistem pertahanan dan lainnya.

    Sifat-sifat yang diharapkan bagi seorang raja, sesuai ajaran Astabrata, serta hal-hal yang harus dilaksanakannya.

    Ketentuan mengenai hal-hal yang mempengaruhi pertumbuhan jiwa manusia dan keamanan negara, serta ketentuan-ketentuan mengenai hal-hal yang mesti dijauhi agar pembinaan masyarakat dapat dilaksanakan sesuai dengan ajaran agama.

    Ketentuan mengenai pengangkatan pejabat-pejabat agama, baik sebagai Purohita (pendeta kenegaraan) maupun dalam fungsi lainnya.

    Hukum tata tertib perang dipadukan dengan berbagai sistem politik yang diterapkan.

    Sistem pembagian wilayah administrasi secara berjenjang, mulai dari desa kecil hingga negara.

    Pembahasan tentang berbagai bentuk kegiatan perdagangan, peraturan tarif, pengawasan perdagangan, ukuran timbangan dan panjang, alat dan nilai tukar uang.

    Ketentuan-ketentuan disudahi dengan tata cara hidup seorang raja, tempat tinggal dan kaputren. Dari luasnya lingkup bahasan bab ini, dapat dimaklumi bila ia tidak menguraikannya secara rinci, melainkan hanya garis-garis besar atau ketentuan-ketentuan pokoknya saja.

    Adhyaya VIII

    Bab yang terdiri dari 420 pasal ini pada pokoknya memuat berbagai aspek hukum, baik perdata dan pidana.

    Di dalamnya juga diatur mengenai hukum dagang, tata cara peradilan, sistem kesaksian dalam pembuktian suatu perkara, peraturan hutang-piutang, peraturan jual-beli, perselisihan perbatasan negara, perburuhan, penghinaan, penyerangan, pencurian, perjinahan dan berbagai peraturan minor lainnya.

    Adhyaya IX

    Bab ini terdiri dari 336 pasal, juga memuat berbagai peraturan-peraturan terkait dengan pemalsuan tanda-tangan, kejahatan berulang (residifis), hak kewarisan, kewajiban suami-istri, kewajiban-kewajiban lain dari raja, selain yang telah diuraikan dalam adhyaya VII sebelumnya.

    Pada bahagian awal adhyaya ini, banyak diuraikan tentang wanita, kewajiban perlindungan terhadapnya dan kecenderungannya yang patut memperoleh penjagaan dari ayah, suami atau putranya.

    Pasal 22, 23 dan 24 dari bab ini dipandang sebagai lambang yang mensucikan sifat-sifat kewanitaan bila telah kawin dengan suami yang baik, ibarat sungai dengan segala sifatnya –deras, berbatu, berlumpur, berkelok-kelok dll.– bila telah bersatu dengan samudra, sifat-sifat buruknya semula akan hilang.

    Disebutkan pula Aksamala, wanita kelahiran hina yang diperistri oleh Bhagawan Wasistha, dan Seranggi yang diperistri oleh Mandapala; keduanya menjadi wanita mulia yang layak memperoleh penghormatan.

    Pada bahagian akhir, diuraikan tentang berbagai tugas dan kewajiban yang berhubungan dengan sistem Warna, serta akibat yang timbul dari perkawinan antar Warna. Adhyaya ini, khususnya terkait dengan masalah wanita dan pandangan Hindu terhadap wanita mengundang berbagai kritik; demikian pula yang menyangkut perkawinan antar Warna, seperti yang dirinci dalam bab X berikut.

    Yang menarik dalam bab ini adalah disyaratkan adanya hubungan erat antara fungsi pemerintahan dan fungsi keagamaan, yang dilukiskan dalam hubungan lembaga Ksatrya dan Brahmana.

    Adhyaya X.

    Meliputi 131 pasal, yang dapat disebut sebagai kelanjutan atau keterangan tambahan dari adhyaya sebelumnya. Disebutkan pada bahagian awalnya, bahwa Brahmana, Ksatrya dan Wesya adalah tiga golongan dwijati, yang berkewajiban mempelajari Veda-veda.

    Brahmana –yang oleh karena sifat-sifatnya yang luar biasa, keistimewaannya, kesucian batinnya– merupakan Guru dari semua Warna.

    Disebutkan pula tentang bentuk perkawinan yang tidak sederajat yang dibedakan atas dua sistem yakni: Anuloma dan Pratiloma.

    Anuloma adalah suatu bentuk perkawinan antar golongan atau Warna yang dianut menurut sistem perkawinan Hindu, yang membolehkan perkawinan dimana status golongan istri setingkat lebih rendah dari status suaminya.

    Pratiloma adalah suatu bentuk perkawinan antar golongan, yang membolehkan perkawinan dimana status golongan istri dua atau tiga tingkat lebih rendah dari status suaminya.

    Sistem ini membuka kemungkinan poligami, namun tetap hanya dibenarkan satu perkawinan saja untuk perkawinan sederajat. Pengaruh yang ditimbulkan, sebagai akibat dari perkawinan tidak sederajat (campuran), dilukiskan sebagai kejadian yang dapat mengancam kehidupan sosial dalam negara.

    Namun secara keseluruhan tersirat bahwa Hindu menganut ‘garis kebapakan’, dengan tetap menghargai peran ibu secara fungsional.

    Hukum mengenai jenis-jenis makanan yang boleh dimakan pada saat paceklik luar biasa, dimana pada aturan sebelumnya (keadaan normal) tiada diperkenankan.

    Disini tersirat hadirnya konsep Desa-Kala-Patra, seperti apa yang menjadi konsep unggulan dalam mengapresiasi ajaran di kalangan umat Hindu di Nusantara.

    Adhyaya XI.

    Memuat peraturan-peraturan berbagai pelaksanaan pemberian dana punia, derma dan yajna. Dalam bab yang terdiri dari 266 pasal ini, juga dibahas tentang kewajiban yang harus dipenuhi oleh seseorang didalam meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat dan dirinya sendiri.

    Ketentuan hukum tentang pelaksanaan ‘daksina’ (persembahan kepada Brahmana), menempatkan Brahmana sebagai fungsi masyarakat yang memiliki hak-hak istimewa.

    Yang amat menarik dari bab ini adalah ketentuan tentang Tapa. Definisi, istilah dan jenis-jenis Tapa. Hal menarik lainnya adalah tentang alih agama, pensucian dan penebusan dosa.

    Penebusan dosa secara tegas dapat dilakukan dengan mempelajari Veda. Ia dianggap amat efektif disamping Tapa. Pasal-pasal berikut menyatakan kekuatan dari Tapa dalam upaya mensucikan batin.

    Apapun yang sukar untuk dilalui, apapun yang sukar untuk dicapai, apapun yang sukar untuk diperoleh, apapun yang sukar untuk dilakukan, semuanya dapat dicapai dengan kesucian Tapa, karena Tapa mempunyai kekuatan untuk melintasinya.

    Mereka yang telah melakukan dosa besar dan beberapa kesalahan lainnya, dapat dibebaskan dengan melakukan Tapa. Serangga, ular, ngengat, kumbang, burung dan makhluk lainnya, berhenti bergerak dan mencapai surga hanya karena Tapanya.

    Apapun dosa-dosa yang telah diperbuat oleh seseorang melalui pikirannya, perkataannya ataupun perbuatan-perbuatannya, semua dapat dimusnahkan dengan segera melalui Tapanya yang teguh, terjaga bak hartawan menjaga kekayaannya.

    Para Dewa-dewa menerima setiap persembahan para Brahmana, yang telah disucikan oleh Tapanya, akan menerima pahala dan dikabulkan semua permintaannya. Yang Maha Kuasa, Prajapati, menciptakan lembaga suci itu melalui TapaNya; demikian pula halnya dengan para Rshi, menerima wahyu Veda karena Tapa mereka.

    Para Dewa-dewa melalui Tapanya kembali ke alam kesucian; demikianlah keutamaan dari Tapa.” (XI: 239, 240, 241, 242, 243, 244 dan 245)

    Adhyaya XII.

    Bab terakhir dari kitab hukum Hindu ini. Ia terdiri dari 126 pasal yang menguraikan tentang hal-hal yang berhubungan dengan berbagai sistem guna mencapai Kelepasan (Moksha).

    Dalam bab ini juga dikedepankan ajaran Trikaya Parisudha, upaya terus menerus mensucikan pikiran, perkataan dan perbuatan. Gambaran proses pelepasan, perjalanan rokh menuju alamnya yang baru, disinggung pula secara sumir.

    Demikian pula gambaran tentang alam semesta dan berbagai rokh-rokh suci dijelaskan secara singkat, disamping hubungan antara Atman dengan Para Brahman.
    Yang tidak kalah pentingnya adalah tentang majelis umat yang disebut Parisada.

    Pelembagaan Parisada diperlukan mengingat fungsinya sebagai lembaga yudikatif ataupun legislatif, yang diatur pada pasal 109 hingga 115.

    Gagasan Moksha dan semangat guna memungkinkan pencapaiannya, merupakan dasar dari ketentuan-ketentuan hukum yang diatur. Oleh karenanya, bahagian ini dianggap memuat dasar-dasar praktek pengamalan ajaran Hindu.

    Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa ruang lingkup Dharmashastra mencakup nyaris semua aspek kehidupan duniawi, yang teramat luas.

    Manawa Dharmashastra adalah yang terlengkap dan rinci, sehingga paling banyak diacu secara luas diberbagai kalangan Hindu dunia.

    Jadi, relevansinya bagi umat Hindu di segala jaman juga amat erat dan mendasar sifatnya. Kendati demikian, sesuai perkembangan jaman, lingkungan serta pemikiran manusia, iapun mendapat kritik-kritik, interpretasi, aktualisasi serta penyesuaian disana-sini dalam penerapannya, oleh para suciwan, penulis-penulis Dharmashastra sesudahnya.

    Kritik-kritik yang diketengahkan oleh Kullukabhatta (120 M), Wiswarupa (800 – 825 M) dan Medhiti (825 – 900 M) dipandang sebagai reformasi prinsipil dalam hukum Hindu, disesuaikan menurut kondisi, jaman dan tradisi dimana ia berkembang.

    Proses pertumbuhan atau pengembangan ajaran Hukum Manu sangat dipengaruhi oleh Wiswarupa yang menulis Balakrida.

    Sikap penolakan terhadap beberapa ketentuan yang dianggap tidak sesuai lagi, sebetulnya bukannya dimulai oleh ketiga tokoh tersebut saja, namun telah dimulai sebelumnya oleh Sankha-Likhita (300 – 100 SM) dan Wikhana.

    Beliau berdua mengemukakan bahwa Manawa Dharmashastra adalah ajaran Dharma yang khas untuk Krta Yuga. Sankha-Likhita selengkapnya menyatakan bahwa:

    ~Dharmashastranya Manu untuk Krta Yuga,
    ~Dharmashastranya Gautama untuk Treta Yuga,
    ~Dharmashastranya Sankha-Likhita untuk Dvapara Yuga, dan
    ~Dharmashastranya Parasara untuk Kali Yuga, jaman dimana kita hidup.

    Sehubungan dengan kenyataan bahwa ia tidak mungkin diterapkan secara penuh, guna keperluan praktis dan guna mengakomodasikan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan, telah digubah peraturan-peraturan hukum terapan, yang mengambil bahagian-bahagian ketentuan yang tercantum didalamnya.

    Di Nusantara, mereka tertuang sebagai produk ilmu hukum, sosial dan tata kemasyarakatan sebagai kitab yang berdiri sendiri. Di Indonesia sendiri, ditemukan 12 judul kitab sejenis dengan aspek bahasan berbeda-beda yakni: Sarasamuschaya, Syara Jamba, Siwasasana, Purwadhigama, Purwagama, Dewagama (Krtopati), Kutaramanawa, Gajahmada, Adigama, Krta Sima, Krtasima Subak dan Paswara.

    Dari keduabelas kitab tersebut, secara berturut-turut Sarasamuschaya, Kutaramanawa (1360 M) dan Adigama (1401 M, banyak persamaannya dengan Kutaramanawa) mungkin merupakan kitab-kitab yang paling kita kenal, disamping kitab-kitab ‘sasana’, yang memuat ajaran hukum Hindu.

    Kitab Kutaramanawa dianggap sebagai kitab yang mengetengahkan berbagai asas hukum yang dianut oleh Bhagawan Brghu dan Manawa Dharmashastra. Ia memuat tafsir dari ajaran yang tertuang dalam Manawa Dharmashastra untuk kemudian diterapkan, menurut contoh-contoh kejadian di Nusantara, setelah mempertimbangkan lagi aspek kultural dan aspek-aspek terkait lainnya.

    Bila boleh disimpulkan hanya dalam satu kalimat saja, maka Manawa Dharmashastra tiada lain adalah ‘kitab suci yang memberikan penekanan terhadap hak dan kewajiban manusia Hindu –sebagai makhluk sosial sekaligus makhluk spiritual– berikut segala konsekwensi dari pelaksanaannya.’

    Sebagai Kerajaan besar tentunya ada suatu mekanisme administrasi dan tata hukum kenegaraan yang dijadikan landasan. Setelah mengalami proses telaah sejarah yang panjang, para ahli sejarah telah dapat merekonstruksi kembali hal tersebut berdasarkan referensi prasasti dan dokumen sejarah lainnya.

    Kitab undang-undang tersebut disebut pertama kali dalam “Piagam Bendasari” (tidak ber-tarikh): Dikeluarkan oleh Sri Rajasanegara Dyah Hayamwuruk, termuat dalam O.J.O. LXXXV, lempengan ke-6a sebagai berikut :

    makatanggwan rasagama ri sang hyang kutara manawa adi, manganukara prewettyacara sang pandita wyawaharawiccheda kering malama

    [Dengan berpedoman kepada isi kitab yang mulia Kutara Manawa dan lainnya, menurut teladan dan kebijaksanaan para pendeta dalam memutuskan pertikaian jaman dahulu].

    Kitab undang-undang tersebut disebut juga dalam ‘Piagam Trowulan” (1358), Dikeluarkan oleh Sri Rajasanegara Dyah Hayamwuruk. Lempengan III baris 5 dan 6 sebagai berikut:

    ……. ika ta kabeh kutara manawa adisastra wiwecana kapwa sama-sama sakte kawikek saning sastra makadi kutara manawa ….

    [……. Semua ahli tersebut bertujuan hendak mentafsirkan kitab undang-undang Kutara Manawa dan lainnya. Mereka itu cakap mentafsirkan kitab-kitab undang-undang seperti Kutara Manawa …….]

    Kitab perundang-undangan Kutara-Manawa mempunyai watak yang mirip sekali dengan Manawadharmasastra, kedua-duanya menekankan susunan masyarakat yang terdiri dari empat golongan/warna demi kebaikan masyarakat.

    Dari penelusuran yang dilakukan, didapatkan kitab ini terdiri atas 275 Pasal yang terbagi dalam 19 Bab sebagai berikut :

    1. Bab I: Ketentuan umum mengenai denda;
    2. Bab II: Delapan macam pembunuhan, disebut astadusta;
    3. Bab III: Perlakuan terhadap hamba, disebut kawula;
    4. Bab IV: Delapan macam pencurian, disebut astacorah;
    5. Bab V: Paksaan atau sahasa;
    6. Bab VI: Jual-beli atau adol-tuku;
    7. Bab VII: Gadai atau sanda;
    8. Bab VIII: Utang-piutang atau ahutang-apihutang;
    9. Bab IX: Titipan;
    10. Bab X: Mahar atau tukon;
    11. Bab XI: Perkawinan atau kawarangan;
    12. Bab XII: Mesum atau paradara;
    13. Bab XIII: Warisan atau drewe kaliliran;
    14. Bab XIV: Caci-maki atau wakparusya;
    15. Bab XV: Menyakiti atau dandaparusya;
    16. Bab XVI: Kelalaian atau kagelehan;
    17. Bab XVII: Perkelahian atau atukaran;
    18. Bab XVIII: Tanah atau bhumi;
    19. Bab XIX: Fitnah atau dwilatek.

    ånå candhaké

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur suwun Ki

    • Matur sembah nuwun dongengipun Ki Bayu, sugeng dalu.

  24. Alhamdulillah tambah ilmu maneh.
    Matur nuwun Ki Bayuaji.
    Sugeng dalu

  25. gandUK anyarE kok belom diBUKA….!!!

    • Oooh, nunggU wedar NSSI djvu, yo wesLAH
      cantrik maNUT ae….!!

  26. Sugeng Enjaaaaang.

  27. sugeng enjing kisanak sedoyo

  28. nomer telu … selesai nyedhot


Tinggalkan Balasan ke kompor Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: