NSSI-04

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 25 April 2011 at 06:38  Comments (54)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-04/trackback/

RSS feed for comments on this post.

54 KomentarTinggalkan komentar

  1. SIJI…!!

    • kreatip temen pak SATPAM….cantrik hanya
      BISA katakan,

      enak TENAN….!!

      • MERO..!!

  2. tidur sebentar istirahat-kan badan (tanpa BEBAN),
    nikmat temen…bangun tidur langsung budhal meneh
    ning CANGKULan.

    • selamat berISTIRAHAT pak….!!??

      matur nuwun NSSI djvu-NE pak SATPAM,
      tumben diweDAR bareng NSSI teks-E…

      • Iki wong sare…koq..ndremimil wae yoo….

  3. Thok..thok….thok….isih sepi tak nggelar klasa dhewe nggo ngglethak ah sinambi ngenteni wedharan rontal oaeem (angop). Mak less terus bablas .

    • wes..ewes..ewes..bablas..angin-e

  4. Sugêng sontên

    • sugeng sonten ugi ki puna, … menawi mboten sibuk mbok dalam dipun critani bab syech siti jenar ingkang dados latar belakang cerita nssi di awal2 …

  5. Nuwun
    Sugêng sontên ndungkap dalu sanak kadang

    [On 25 April 2011 at 16:13 mita said: …. syech siti jenar] …..

    Gêndhuk mita,

    Insya Allah, seperti yang sudah direncanakan Ki Bayuaji, bersama dengan wedaran Dongeng Arkeologi & Antropologi Surya Majapahit {terakhir waosan kaping-23: Bhre Jiwana Hayam Wuruk Maharaja Sri Rajasanegara (Parwa ka-4), On 24 April 2011 at 19:51 cantrik bayuaji said: NSSI 03}, maka wedaran Dongeng Arkeologi & Antropologi Seri NSSI akan mengiringi “perjalanan” Ki Rånggå Tohjåyå Mahésa Djênar, seorang mantan perwira tinggi Panglima Tentara Pasukan Pengawal Sri Baginda Sultan Trenggånå di Kraton Dêmak Bintårå; mencari dan mengembalikan pusaka kraton yang jêngkar dari walangkan kraton Dêmak Bintårå. Kyai Någå Såsrå dan Kyai Sabuk Intên.

    Insya Allah Ki Bayuaji kembali akan merajut dan menyajikan “tokoh-tokoh sejarah” yang “hadir” dalam NSSI, demikian juga situs-situs sejarah yang “dikunjungi” Sang Pahlawan Pemilik Aji-aji Såsrå Biråwå, termasuk tokoh Syech Lemah Brit ini.

    Untuk kesempatan pertama telah diwedar Dongeng Arkeologi & Antropologi Seri NSSI Wêdaran kaping-1: SUMUNARING ABHAYAGIRI DI RATU BOKO. [On 18 April 2011 at 09:51 cantrik bayuaji said: NSSI 01].

    Nuwun
    Salam Ki Bayuaji untuk sanak kadang semua,

    punåkawan bayuaji

    • Wah jan selak kepingin ndang nyimak surasane nalika Kanjeng Sunan Kalijaga kautus dening Sultan Demak rawuh ing padhepokan Pengging, menemui/mengultimatum Ki Ageng Pengging yang merupakan murid setia Kanjeng Syech Siti Jenar.
      Konon pada saat itu terjadi dialog teologis yang sangat bermutu.

      Ananging sak derengipun harak badhe “nagih-janji” langkung rumiyin to Ki Puna..???

      He…..he…..he…..
      sugeng dalu lan matur nuwun.

      • Nuwun
        Sugêng énjang

        He he he he……………….
        Lakone Ki Gembleh Menagih Janji

        Insya Allah Ki,

        Kalêrêsan Ki Bayuaji, bersama-sama dengan beberapa kameradnya para arkeolog mancanegara dengan berbekal Kitab Pujasastra Nāgarakṛtāgama, sedang napak tilas “inspeksi mendadak” dan “perjalanan dinas” Sang Prabu Hayam Wuruk di Tlatah Majapahit, pada tahun 1359M.

        Napak tilas ini pernah dilakukan oleh Hadi Sidomulyo (nama aslinya: Nigel Bullogh)seorang budayawan Inggris pada tahun 2009 yang lalu.

        Pertanyaan yang mengusik: Mengapa justru orang asing seperti Nigel Bullogh yang lebih senang dipanggil Hadi Sidomulyo, (nama Indonesia khas Jawa) yang pasti bukan warga negara Indonesia sendiri yang melakukan hal-hal seperti ini, seperti halnya sekarang ini. Justru kamerad-kamerad dari Inggris, Belanda, Thailand dan India yang bersama Ki Bayuaji satu-satunya warga Majapahit eh Warga Negara Indonesia.

        Napak tilas dimulai tanggal 20 April 2011 dan diperkirakan 120 hari ke depan sudah selesai. Kita harapkan Ki Bayuaji banyak membawa dongeng berkelananya, dan mudah-mudahan di tengah-tengah kesibukan “berkelana” beliau sempatkan medar dongengnya.

        Nuwun

        punåkawan

      • Nuwun
        Sugêng énjang

        He he he he……………….
        Lakone Ki Gembleh Menagih Janji

        Insya Allah Ki,

        Kalêrêsan Ki Bayuaji, bersama-sama dengan beberapa kameradnya para arkeolog mancanegara dengan berbekal Kitab Pujasastra Nāgarakṛtāgama, sedang napak tilas “inspeksi mendadak” dan “perjalanan dinas” Sang Prabu Hayam Wuruk di Tlatah Majapahit, pada tahun 1359M.

        Napak tilas ini pernah dilakukan oleh Hadi Sidomulyo (nama aslinya: Nigel Bullogh)seorang budayawan Inggris pada tahun 2009 yang lalu.

        Pertanyaan yang mengusik: Mengapa justru orang asing seperti Nigel Bullogh yang lebih senang dipanggil Hadi Sidomulyo, (nama Indonesia khas Jawa) yang pasti bukan warga negara Indonesia sendiri yang melakukan hal-hal seperti ini, seperti halnya sekarang ini. Justru kamerad-kamerad dari Inggris, Belanda, Thailand dan India yang bersama Ki Bayuaji satu-satunya warga Majapahit eh Warga Negara Indonesia.

        Napak tilas dimulai tanggal 20 April 2011 dan diperkirakan 90 hari ke depan sudah selesai. Kita harapkan Ki Bayuaji banyak membawa dongeng berkelananya, dan mudah-mudahan di tengah-tengah kesibukan “berkelana” beliau sempatkan medar dongengnya.

        Nuwun

        punåkawan

        • Lha kulo njih gumun dene sameniko kathah poro kadang Nuswantoro paring tetenger putranipun kanthi nami monco , menopo tetenger asli nuswantoro meniko pun anggap awon , utawi kados pundi ?????? .

          • Hiks……
            Kasinggihan, loêtjoê sangêt Ki, mungkin nama Alexandra, Laura, Marice, Skeleton, Freddy, Mince, Miracle, lebih punya nilai jual atau nilai pasar yang tinggi daripada nama-nama Eko, Aryo, Endang, Djoko, Paijo, Tukiyem, Ponirah, Juminten, Maridjo, Agus. dstnya.

            Demikian juga nama-nama perusahaan, toko, warung, hotel, dan sejenisnya. Seperti:
            “Cantik” Hotel, mestinya Hotel “Cantik”
            “Rapi” Barbershop, mengapa bukan Tukang Cukur “Rapi”
            “Fitness Center”, alangkah baiknya jika “Pusat Kebugaran”
            “Manalagi” Bread Shop Center, sebaiknya Pusat Toko Roti “Manalagi”
            Tukang jahit berlomba-lomba menggunakan kata “Taylor”, daripada “Tukang Jahit”

            Nama-nama asing yang menjadi permasalahan ini tidak terlepas dari para pebisnis sebagai penyebabnya. Dengan berbekal ilmu mumpuni dari luar negeri, dan alih-alih ingin menancapkan bendera kewirausahawan di negeri ini, nama-nama asing menjadi pilihan utama daripada nama-nama lokal.

            Seakan bangsa ini sudah melupakan bahasanya sendiri.

            Gencarnya pemanfaatan momentum tersebut sebagai ladang pendoktrinasian paradoks berkehidupan telah melahirkan jargon: Tak berbahasa asing maka tak keren dan aktual.

            Tapi ada juga yang lucu namun risih juga jika membacanya.

            Tukang tambal ban di pojok seberang pengkolan menuju stasiun kereta api Manggarai, tertulis di papan namanya: Serviks Band-band Tubless.

            Pertanyaannya, apa hubungan antara serviks (mulut rahim); band (musik?); dan Tubless (?).

            Mungkin dia ingin menulis: Services Ban Tubeless (salah tapi dianggap bener sajalah), yang maksudnya mungkin “Tukang Tambal Ban Tubeless” (tubeless bahasa Indonesianya apa ya, kalau diterjemahkankan jadi “Ban tanpa ban dalam”.
            Panjang amat). Hiks.

            Nuwun

          • ato tukang sambal ban..

          • Kalau di daerah Palembang
            atau Lampung papan namanya :

            “tukang TAMPAL BAN”

          • kalo di medan :
            “tukang TEMPEL BAN”

  6. dipun tenggo Ki

  7. Wah, Ki Ajar pak Satpam pancen kreatip tenan,
    lha wong majang gambar wae kok yo dipilih sing multi tafsir ngono.

    Tapsir-1 : Mesak’na men rek, turu ae ndik lincak.

    Tapsir-2 : Puenake rek, mari macul langsung ngleker.

    Tapsir-3 : Alhamdulillah, kapan aku bisa punya kedamaian seperti orang itu…???

    bolehkah gambar itu saya beri judul
    “Wang… Sinawang…..?”

    Sugeng dalu.

  8. Sugeng enjang Ki Sanak.
    Monggo ngisi daftar hadir rumiyin.

  9. Melek terus lungguh , sambi udud njur nggoleki NSSI 04 . Lha kok durung wedhar , ngglethak maneh ahhhh . Sugeng enjang .

  10. sugeng sonten ki sanak sedoyo

  11. mamPIR……selamat SIANG kadang NSSIers

  12. siaaaaaang

    • soreeeeee

      • daluuuuuu

        • enjiiiiing

  13. Sugeng dalu.

  14. nGISI DAPTAR HADIR……….

    sugeng dalu.

    • ning EVIe bilang “selamat malam”

  15. Kulo sowan, sugeng dalu.

  16. Sugeng enjang
    Nderek absen.

  17. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-23 Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-4]
    Masa Kejayaan Majapahit. [2]. Undang-undang Kerajaan Majapahit (Seri 1). On 24 April 2011 at 19:51 NSSI 03

    Di antara kesibukan yang menyita waktu pada hari-hari terakhir ini, saya akan selalu berusaha tetap hadir mendongeng di gandhok ini, “menemani” sanak kadang bergojèg, dan juga agar tangan yang sudah mulai buyutên harus sering digunakan untuk mendudul karakter-karakter pada papan-ketik (båså asingnya key-board), dan harus sering mengklik têtikus (cårå inggrisé “mouse”), agar tidak semangkin gringgingên.
    Nah, agar tidak semangkin ngåyåwårå, dongeng saya lanjutken.

    Waosan kaping-24:
    BHRE JIWANA HAYAM WURUK MAHARAJA SRI RAJASANEGARA (1350-1389) [Parwa ka-5]

    MASA KEJAYAAN MAJAPAHIT
    [2]. UNDANG-UNDANG KERAJAAN MAJAPAHIT (Seri-2)

    KITAB UNDANG-UNDANG KUTARAMANAWADHARMASASTRA

    Penduduk pada masa pemerintahan Hayam Wuruk diberitakan hidup dengan tertib dan sejahtera tentunya berkat adanya norma dan penegakan aturan secara baik dan ditaati oleh seluruh rakyat.

    Hal ini disebabkan telah dikenal adanya kitab hukum dan perundang-undangan yang sangat dihormati dalam masa kejayaan Majapahit sebagai kelanjutan masa-masa sebelumnya.

    Kitab perundang-undangan tersebut tentunya bertujuan untuk mengatur dengan baik tata masyarakat sehingga dalam masa kejayaan Majapahit tercipta keadaan yang aman dan tentram bagi seluruh rakyatnya.

    Ada dua piagam yang mencatat nama kitab perundang-undangan Majapahit, yakni piagam Bendasari, tidak bertarikh, dan piagam Trowulan, 1358M.

    Piagam Bendasari yang dikeluarkan dalam masa pemerintahan Rajasanagara dan juga prasasti Trowu1an yang berangka tahun 1358 M, artinya dalam masa Rajasanagara juga, disebutkan adanya kitab hukum yang dinamakan Kutaramanawa atau lengkapnya Kutaramanawadharmasastra, sebagai kelanjutan dan penyempurnaan hukum masa Kadiri dan Singosari.
    Isi kitab tersebut ada yang berkenaan dengan hukum pidana dan perdata.

    Piagam Bendasari Lempengan III baris 5 dan 6:

    ……. ilka ta kabeh kutara manawa adisastra wiwecana tatpara kapwa sama-sama sakte kawikek saning sastra makadi kutara manawa ….

    [……. Semua ahli tersebut bertujuan hendak mentafsirkan kitab undang-undang Kutara Manawa dan lainnya. Mereka itu cakap mentafsirkan kitab-kitab undang-undang seperti Kutara Manawa …….]

    Atas dasar uraian di atas, dapat dipastikan bahwa nama kitab perundang-undangan pada zaman Majapahit sejak Prabu Hayam Wuruk adalah Kutara Manawa. Kitab undang-undang Kutara Manawa ini di tahun 1885 diterbitkan oleh Dr.J.C.G. Jonker dengan diberi judul Agama atau Undang-undang.

    Pada pasal 23 dan 65 kitab undang-undang itu, undang-undang itu disebut Undang-undang Kutara Manawa. Oleh karena itu, boleh dipastikan bahwa kitab perundang-undangan Majapahit Kutara Manawa Dharmasastra itu seharusnya masih ada hingga sekarang.

    Nagarakretagama menyebut kitab Undang-undang Agama dalam pupuh 25/2, 73/1. Naskahnya terdapat di Pulau Bali. Di dalamnya, terdapat kata Agama pada pasal 2, 8, 25, 39, 71, 119, 211, 213, 249.

    Pada pasal 61 kita dapati sebutan Sang Hyang Agama. Pada pasal-pasal di atas, kata agama ditafsirkan sebagai undang-undang atau ‘kitab perundang-¬undangan.’

    Kitab Perundang-undangan Majapahit yang disebut Agama atau Undang-undang Kutaramanawadharmasastra seperti adanya sekarang terdiri dari 275 pasal, namun di antaranya terdapat pasal-pasal yang sama atau mirip sekali.

    Dalam terjemahan itu hanya disajikan 272 pasal, karena satu pasal rusak dan yang dua pasal lainnya merupakan ulangan pasal yang sejenis. Pasal-pasal yang mirip diterjemahkan juga, dikurnpulkan jadi satu sebagai bahan perhandingan.

    Kadang-kadang yang berbeda ialah perumusannya saja; yang satu lebih panjang daripada yang lain dan merupakan kelengkapan atau penjelasan dari pasal sejenis yang pendek.

    Perundang-undangan Agama atau Kutaramanawadharmasastra adalah kitab undang-undang hukum pidana, namun di samping undang-undang hukum pidana terdapat juga undang-undang hukum perdata. Bab-bab seperti jual beli, pembagian warisan, perkawinan, dan perceraian adalah undang¬-undang hukum perdata.

    Pada zaman Majapahit belum ada rincian tegas antara undang-undang hukum pidana dan hukum perdata. Menurut sejarah perundang-undangan, hukum perdata tumbuh dari hukum pidana.

    Jadi, percampuran hukum perdata dan hukum pidana dalam Kitab Perundang-undangan Agama di atas bukan suatu keganjilan ditinjau dari segi sejarah hukum.

    Demikianlah keadaan kitab hukum yang relatif memadai untuk masyarakat Majapahit dalam zaman keemasannya di era Rajasanagara. Nampaknya kitab Kutaramanawa tersebut tidak lagi diikuti secara baik dalam masa pemerintahan raja-raja sesudah Hayam Wuruk karena terdapat intrik keluarga raja-raja hingga keruntuhan Majapahit.

    Pasal-pasal dalam kitab Kutaramanawa tersebut tidak bernapaskan kebudayaan luar (India), melainkan khas Jawa Kuno. Uraian yang terdapat dalam kitab itu ada yang berkenaan dengan hewan-hewan yang biasa dijumpai di Pulau Jawa, misalnya disebutkan adanya utang piutang kerbau, sapi dan kuda; pencurian ayam, kambing, domba, kerbau, sapi, anjing dan babi; ganti rugi terhadap hewan yang terbunuh karena tidak sengaja dan juga yang banyak mendapat sorotan adalah perihal utang-piutang padi.

    Walaupun di beberapa bagiannya terdapat konsep-konsep dasar dan kebudayaan India (Hindu-Budha), namun penerapannya lebih ditujukan untuk masyarakat Jawa kuno. Jadi, konsep-konsep tersebut hanya memperkuat uraian saja.

    Kitab hukum tersebut sudah pasti disusun dan dihasilkan dalam kondisi masyarakàt yang stabil dan aman. Oleh karena itu, para ahli hukum dapat dengan tenang berembuk menyusun kitab yang isinya begitu rinci dan hampir menjangkau aspek hukum yang dikenal dalam masanya.

    Kiranya dapat diasumsikan bahwa kitab hukum Kutaramanawa itu diciptakan dan diundangkan dalam masa pemerintahan Rajasanagara, yaitu suatu kurun waktu dalam sejarah Majapahit yang aman dan sejahtera.

    Banyak hal yang membuat Majapahit menjadi jaya dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk. Beberapa hal penting yang dapat diamati melalui kajian sumber-sumber sejarah dan bukti arkeologis dan masa itu adalah sebagai berikut:
    1. Adanya sistem pemerintahan yang efektif.
    2. Adanya keajêgan (kestabilan) pemerintahan.
    3. Berlangsungnya kehidupan keagamaan yang baik.
    4. Terselenggaranya upacara kemegahan di istana.
    5. Tumbuh kembangnya berbagai bentuk kesenian.
    6. Hidupnya perniagaan Nusantara.
    7. Pelaksanaan politik Majapahit terhadap Nusantara.
    8. Adanya pengakuan internasional dan negara-negara lain di Asia Tenggara

    Dalam Kidung Sorandaka diuraikan bahwa Lembu Sora dikenakan tuntutan hukum mati berdasarkan kita undang-undang Manawa Dharmasastra sebagai undang-undang sebelum berlakunya undang-undang Kutaramanawadharmasastra, Lembu Sora dipidana akibat pembunuhannya terhadap Mahisa Anabrang dalam masa pemberontakan Rangga Lawe.

    Dari uraian Kidung Sorandaka itu, kita ketahui tentang adanya kitab undang-undang pada zaman Majapahit.

    Namun, Kidung Sorandaka itu termasuk golongan sastra muda, ditulis sesudah runtuhnya Maja¬pahit. Oleh karena itu, pemberitaannya perlu dicek dengan sumber sejarah yang lebih dapat dipercaya. Untuk tujuan itu, kita meneliti piagam-piagam yang dikeluarkan pada zaman Majapahit.

    Susunan dan isinya

    Susunan Kitab Perundang-undangan Agama seperti adanya dalam bahasa Jawa Kunå bercampur-aduk tidak keruan; boleh dikatakan tidak diketahui ujung-pangkalnya.

    Untuk memperoleh gambaran tentang hal-hal yang dijadikan undang-undang, maka susunan yang bercampur-aduk itu diubah dan diatur kembali dalam bab-bab.

    Tiap bab memuat pasal-pasal yang sejenis sebagai upaya agar terdapat sistematika dalam pe-nyusunannya.

    Sudah pasti bahwa susunan semula menganut suatu sistem yang tidak diketahui lagi. Dengan perkataan lain, bahwa susunan yang berikut ini belum tentu sama dengan susunan seperti aslinya pada waktu disusun pertama kali, yang bentuk susunan aslinya sudah tidak dapat kita ketahui.

    Usaha penyusunan kembali sekadar mendekati dugaan susunan aslinya. Hasil usaha penyusunan kembali itu adalah sebagai berikut:

    1. Bab I: Ketentuan umum mengenai denda;
    2. Bab II: Delapan macam pembunuhan, disebut astadusta;
    3. Bab III: Perlakuan terhadap hamba, disebut kawula;
    4. Bab IV: Delapan macam pencurian, disebut astacorah;
    5. Bab V: Paksaan atau sahasa;
    6. Bab VI: Jual-beli atau adol-atuku;
    7. Bab VII: Gadai atau sanda;
    8. Bab VIII: Utang-piutang atau ahutang-apihutang;
    9. Bab IX: Titipan;
    10. Bab X: Mahar atau pasok tukon;
    11. Bab XI: Perkawinan atau kawarangan;
    12. Bab XII: Mesum atau paradara;
    13. Bab XIII: Warisan atau drewe kaliliran;
    14. Bab XIV: Caci-maki atau wakparusya;
    15. Bab XV: Menyakiti atau dandaparusya;
    16. Bab XVI: Kelalaian atau kagelehan;
    17. Bab XVII: Perkelahian atau atukaran;
    18. Bab XVIII: Tanah atau bhumi;
    19. Bab XIX: Fitnah atau dwilatek.

    Susunan dan rumusan lain, agak berbeda namun pada hakikatnya adalah sama, yaitu:

    Bab I: Sama Beda Dana Denda, tentang ketentuan diplomasi, aliansi, konstribusi dan sanksi.
    Bab II: Astadusta, tentang jenis dan sanksi hukum delapan kejahatan (penipuan, pemerasan, pencurian, pemerkosaan, penganiayaan, pembalakan, penindasan dan pembunuhan).
    Bab III: Kawula, tentang hak-hak dan kewajiban masyarakat umum.
    Bab IV: Astacorah, tentang delapan macam tindak pidana pencurian, korupsi sebagai penyimpangan administrasi kenegaraan dimasukkan dalam Bab IV ini.
    Bab V: Sahasa, tentang hukum merampas, mengambil hak orang lain, tindak pidana yang bersifat paksaan.
    Bab VI: Adol-atuku, tentang hukum perdagangan.
    Bab VII: Sanda atau Gadai, tentang tata cara pengelolaan lembaga pegadaian.
    Bab VIII: Utang-apihutang, aturan pinjam-meminjam.
    Bab IX: Titipan, tentang sistem lumbung dan penyimpanan barang.
    Bab X: Pasok-tukon, tentang hukum mahar.
    Bab XI: Kawarangan, tentang hukum perkawinan.
    Bab XII: Paradara, tentang hukum dan sanksi tindak asusila atau perbuatan mesum.
    Bab XIII: Drewe kaliliran, tentang sistem pembagian warisan.
    Bab XIV: Wakparusya, tentang hukum dan sanksi penghinaan dan pencemaran nama baik.
    Bab XV: Dandaparusya, tentang hukum dan sanksi penistaan atau penyerangan.
    Bab XVI: Kagelehan, tentang hukum dan sanksi karena kelalaian.
    Bab XVII: Atukaran, tentang hukum dan sanksi karena permusuhan dan atau menyebarkan permusuhan.
    Bab XVIII: Bhumi, tentang tata cara pungutan pajak.
    Bab XX: Dwilatek, tentang fitnah dan melakukan kebohongan disebut sebagai tindak kejahatan, bab ini mengatur tentang hukum dan sanksi pidananya.

    Pada zaman Majapahit, pengaruh India meresap dalam segala bidang kehidupan. Pengaruh India itu juga terasa sekali dalam bidang perundang-undangan.

    Agama dan Kutaramanawadharmasastra telah jelas menunjukkan adanya pengaruh India dalam bidang perundang-undangan Majapahit.

    Kitab perundang-undangan India Manawadharmasastra dijadikan pola perundang-undangan Majapahit yang disebut Agama dan Kutaramanawadharmasastra yang disesuaikan dengan suasana setempat.

    Tetapi meskipun demikian Kitab Perundang-undangan Agama itu bukan terjemahan tepat dari kitab Perundang-undangan India Manawa Dharmasastra.

    Pasal 109 menjelaskan isi Perundang-undangan Agama diambil dari sari Perundang-undangan India Manawa¬dharmasastra dan Kutaradharmasastra.

    Bunyinya seperti berikut: “Kerbau atau sapi yang digadaikan, setelah lewat tiga tahun, leleb, sama dengan dijual, menurut undang-undang Kutara. Menurut undang-undang Manawa, baru lebeb, setelah lewat lima tahun. Ikuti¬lah salah satu, karma kedua-duanya adalah undang-undang.

    Tidaklah dibenarkan anggapan, bahwa yang satu lebih baik daripada yang lain. Manawadharmasastra adalah ajaran maharaja Manu, ketika manusia baru saja diciptakan.

    Beliau seperti Bhatara Wisnu. Kuntarasastra adalah ajaran bagawan Bregu pada zaman Tretiyayuga; beliau seperti Bhatara Wisnu, diikuti oleh Rama Parasu dan oleh semua orang; bukan buatan zaman sekarang. Ajaran itu telah berlaku sejak zaman purba.

    Dalam Perundang-undangan Agama, banyak terdapat pasal-pasal yang dikatakan berasal dari ajaran bagawan Bregu, jadi berasal dari Kutarasastra, misalnya pasal 46, 141, 176, 234.

    Adanya beberapa pasal yang sangat mirip dalam Perundang-undangan Agama membuktikan bahwa pembuat undang-undang tersebut, selain menggunakan Manawadharmasastra, juga menggunakan kitab perundang-undangan lainnya, misalnya pasal 192 dan pasal 193, pasal 121 dan pasal 123.

    Dalam bab umum, dinyatakan dengan tegas bahwa raja yang berkuasa (Sang Awawa Bhumi) harus teguh hatinya dalam menerapkan besar-kecilnya denda, jangan sampai salah menerapkan denda.

    Jangan sampai orang yang bertingkah salah luput dari tindakan. Itulah kewajiban raja yang berkuasa, jika sungguh-sungguh mengharapkan kerahayuan negaranya.

    Karena Perundang-undangan Agama adalah undang-undang jenayah atau pidana, maka isinya terutama langsung menyangkut penjelasan tentang tindak-tanduk pidana yang dikenakan denda atau hukuman berupa uang, barang, atau hukuman mati; tidak banyak mengandung nasihat seperti kitab Manawa Dharmasastra.

    Berikut di bawah ini beberapa contoh, dikutip dari Kitab Perundang-undangan Agama atau Kutara Manawa Dharmasastra:

    Bab Astadusta Pasal 3 dan Pasal 4:

    Pasal 3: Astadusta (Delapan Pembunuhan). Bab astadusta ini menguraikan aturan dan sanksi berhubungan dengan pembunuhan, adalah:
    1. Barangsiapa membunuh orang yang tidak bersalah;
    2. Barangsiapa menyuruh bunuh orang yang tidak bersalah;
    3. Barangsiapa melukai orang yang tidak bersalah;
    4. Barangsiapa makan bersama dengan pembunuh;
    5. Barangsiapa ikut serta dengan pembunuh;
    6. Barangsiapa bersahabat dengan pembunuh;
    7. Barangsiapa memberi tempat kepada pembunuh;
    8. Barangsiapa memberi pertolongan kepada pembunuh.

    Tiga astadusta yang pertama yaitu, adalah:
    1. Barangsiapa membunuh orang yang tidak bersalah,
    2. Barangsiapa menyuruh membunuh orang yang tidak bersalah, dan
    3. Barangsiapa melukai orang yang tidak bersalah,
    jika terbukti, tebusannya adalah hukuman mati. Ketiga dusta itu disebut dusta bertaruh jiwa.

    Lima astadusta yang dihukum dengan tebusan uang adalah:
    1. Barangsiapa makan dengan pembunuh;
    2. Barangsiapa bersahabat dengan pembunuh;
    3. Barangsiapa ikut serta dengan pembunuh;
    4. Barangsiapa memberi tempat kepada pembunuh;
    5. Barangsiapa memberi pertolongan kepada pembunuh.

    iku asta dusta, kang telu; dosa pati; kang lalima;
    amateni wong tanpa dosa,
    akon amatening wong tanpa dosa,
    angamini wong tanpa dosa, dusta telu iku.
    Yan ayekti sachina, katlu dusta atoh awake…

    {Itulah semuanya astadusta. Yang tiga dosa, yang lima dosa,
    membunuh orang yang tanpa dosa,
    menyuruh bunuh orang yang tanpa dosa,
    meluka-parahi orang yang tanpa dosa, itu semuanya tiga dosa.
    Jika dosanya terbukti, ketiganya harus dihukum mati karena ketiganya itu dosa yang harus dibayar dengan jiwa.}

    Selanjutnya dalam Pasal 4 disebutkan:

    Jika mereka yang bersangkutan mengajukan permohonan hidup kepada raja yang berkuasa, ketiga-tiganya dikenakan denda empat laksa, masing-masing sebagai syarat penghapus dosanya.

    Adapun barang siapa makan bersama dengan pembunuh, memberi tempat kepada pembunuh, bersahabat dengan pembunuh, mengikuti jejak pembunuh, dan memberi pertolongan kepada pembunuh, kelima dusta itu akan dikenakan denda dua laksa, masing-masing oleh raja yang berkuasa, jika kesalahannya telah terbukti dengan kesaksian.

    Dalam perjalanannya Astadosa berkembang menjadi semua tindak pidana kejahatan yang meliputi: (1). penipuan; (2). pemerasan; (3). pencurian; (4). pemerkosaan; (5). penganiayaan; (6). pembalakan; (7). penindasan; dan (8). pembunuhan.

    Kedelapan tindak pidana tersebut dirumuskan kembali dalam Kitab Salokantara:

    1. Himsaka – Ingsakah: Barang siapa (pelaku atau orang) yang melakukan sendiri tindak perbuatan pidana.
    2. Codaka – Codeka: Barang siapa memaksa atau menyuruh melakukan tindak perbuatan pidana.
    3. Bhoktah – Boktah: Barang siapa memuaskan hawa nafsu dengan sepuas-puasnya, berbuat menyakiti, menggerakkan orang lain untuk melakukan perbuatan pidana.
    4. Bhojekah – Bojekah: Barang siapa memberi makan, dan atau makan bersama dengan pelaku tindak perbuatan pidana.
    5. Pritikara – Pritikah: Barang siapa berteman, berhubungan erat dengan pelaku tindak perbuatan pidana.
    6. Sakarakah – Sacarakah: Barang siapa mengikuti dan atau ikut serta melakukan perbuatan pidana.
    7. Sthanadha – Astanadah: Barang siapa memberi perlindungan, menyembunyikan pelaku tindak perbuatan pidana.
    8. Tretah – Tritah: Barang siapa yang memberi pertolongan dan atau memberikan jalan atau petunjuk kepada pelaku tindak perbuatan pidana.

    Tetapi mengenai sanksi hukumnya tetap sama seperti Astadusta yang awal. Hal ini diatur di dalam Pawos 131 Adi Agama.

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur nuwun Ki Bayu,

      Semoga hasil Njajah Desa Milang Kori yang sedang dijalani bisa menambah penemuan peninggalan kebudayaan nenek moyang kita yang adi luhung.

      sugeng dalu.

    • Matur nuwun dongengipun Ki Bayuaji, tutuge kulo tenggo.

  18. Nuwun sewu Ki Satpam, nek miturut kulo, malah sae sih ireng putih, langkung jelas …. matur nuwun, sampun dipun undhuh.

  19. ki puna, maturnuwun sakderengipun njih🙂

  20. Matur nuwun tangi turu terus nggembol rontal.

  21. kulonuwun

    nginguk diluk

  22. SIANG kadang NSSIers,

    juJUR pak SATPAM….cantrik seneng moco sing
    djVU kolor,

    • itupun kalo pak SATPAM masih ada perseDIAan
      rontal djVU “kolor”….gak mekSO kok,

  23. Ngunduh, …. tanda tangan sret sret sret, ……
    pamit, ……. matur nuwun – assalamu’alaikum wr wb, ……. krieeet, ….. bleb, …… plak plok plak plok plak plok, …… thitthittuit, …… bleb, ……crek jrengengeng-cessssssssszzzztttt, ……jezzzzzzzzzzzzzz.

  24. nomer papat … mentas ngundhuh…matur nuwun

  25. yang kolor terasa lebih lembut di mata Ki Satpam…matur nuwun tidak membuat mata tua ini cepat lelah…

  26. matur nuwun , akuuuuur, karo sing nduwur

    • matur nuwun, rokuuuuur, karo sing nduwur.

  27. Pilih yang hitam putih saja seperti aslinya. Yang berwarna terasa silau/blereng, kalau yang hitam putih lebih jelas dan sejuk di mata. Mungkin karena terbiasa baca tulisan hitam putih. Matur nuwun, sugeng dalu.

  28. Nuwun, sampun lingsir wêngi
    Sugêng enjang

    Wêngi……………
    Sansåyå nglangut
    sêmiliring bêbaratan tumiyup lon-lonan nggåndå wanginé arumdalu, kênångå lan cêmpåkå ugå kêmbang saptå ronå
    Kêmênyan putih
    kêluk sêtanggi dupå ing ngawiyat
    tangis kêdasih lan kidung råråwogå mèlu ngobahaké ati
    Mirêngnå pujå puji pangaståwå sajroning sêpi
    Rontal Kidung Agung panyambung tali jiwå
    têtêmbangan pårå jiwå suci
    kang tansah lumampah wontên ing margi kautaman lan kabêcikan,
    sanityåså pinrihatin
    puguh panggah cêgah dhahar lawan néndrå
    .
    luyut sumujud ing ngarså Dalêm Gusti
    Dhuh Gusti, wålå wålå kuwatå

    Gusti Ora Saré,
    Gusti tansah midangêtaké panjêlihé pårå kawulå kang nandhang påpå cintråkå.

    Sansåyå dalu araras abyor kang lintang kumedhap. Titi sonyå têngah wêngi lumarang gandaning puspitå ‘rum, kasiliring samirånå mrik, Ong……….. sêkar gadhung, kongas gandanyå o…. mawèh raras rênaning driyå, o…. o…. o….

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

    Wêdaran kaping-2:
    GLAGAHWANGI KESULTANAN DÊMAK BINTÅRÅ (Bagian ke-1)

    Glagahwangi Dêmak Bintårå

    Kesultanan Demak adalah kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Kesultanan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintårå, daerah yang subur di muara sungai sungai Tuntang dan Lusi.

    Semarang di sebelah Barat Daya, Alas Prawoto (?) di Tenggara, Juwana di Timur Laut, berturut-turut Pati, Kudus, dan Jepara, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria, sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi.

    Bintårå sebagai pusat Kesultanan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, di mana Bergola adalah pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang penting bagi Kesultanan Demak.

    Demak sebelumnya merupakan daerah yang dikenal dengan nama Bintårå atau Glagahwangi yang merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit, yang dikuasai oleh Raden Patah.

    Salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang diperkirakan didirikan oleh para Walisongo. Lokasi ibukota Kesultanan Demak saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah.

    Setelah Majapahit runtuh maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah. Dengan berkembangnya Islam di Demak, maka Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau Jawa.

    Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan diri dari pengaruh Kerajaan Majapahit. Pada kurun waktu inilah Dongeng Arkeologi & Antropologi Sirna Ilang Kertaning Bhumi, Dongeng Sabdo Palon dan Nåyå Genggong dimulai.

    Raden Patah disebutkan adalah salah seorang keturunan Raja Bhre Kertabumi raja Majapahit. Nama Raden Patah terdapat dalam Babad Tanah Jawi yang disusun pada masa pemerintahan Paku Buwono I yang menjadi Sunan Mataram hingga 1719. Menurut Babad Tanah Jawi, Raden Patah adalah putra Brawijaya, raja terakhir Majapahit dari seorang selir dari negeri Campa.

    Menurut Babad Tanah Jawi dan Sêrat Kåndå, Raden Patah lahir di Palembang pada 1455M dengan nama Pangeran Jimbun –sebuah nama atau dialek Cina. Selama 20 tahun, Jimbun hidup di kediaman adipati Majapahit di Palembang, Aryå Damar.

    Setelah beranjak dewasa, Jimbun kembali ke Majapahit. Oleh orangtuanya, Raden Patah dikirim kepada Raden Rahmat atau Sunan Ngampel (Ampel) Denta di Surabaya untuk belajar Islam. Ia mempelajari pendidikan Islam bersama murid-murid Sunan Ampel yang lainnya: Raden Paku (Sunan Giri), Maulana Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Qasim (Sunan Drajat).

    Menurut Sêrat Kåndå pula, putri Campa (kini termasuk wilayah Kamboja) ini dinikahi oleh Brawijaya ketika Brawijaya masih menjadi putra mahkota belum menjadi raja Majapahit. Sang permaisuri Raja, yaitu Ratu Dwarawati, merasa cemburu terhadap putri Campa itu. Untuk menghindari kemungkinan buruk, Raja Brawijaya memberikan selir Campanya itu kepada putra sulungnya, yaitu Aryå Damar Bupati Palembang.

    Setelah melahirkan Raden Patah, putri Campa itu dinikahi Aryå Damar, yang kemudian melahirkan Raden Kusen. Raden Patah dinikahkan dengan cucu Raden Rahmat, Nyi Ageng Maloka. Selanjutnya ia dipercaya untuk menyebarkan Islam di Desa Bintårå dengan diiringi oleh Aryå Dilah (Ki Dilah), disertai oleh 200 pasukannya.

    Menurut Lombard Raden Patah merupakan pendiri kantor dagang di Demak, sebuah pelabuhan di pesisir Jawa yang ramai dikunjungi kapal-kapal dagang, di sekat Gunung Muria. Ia berasal dari Cina, mula-mula menetap di Gresik, lalu pindah ke Demak.

    Menurut Tome Pires yang singgah di pelabuhan Demak, Demak memiliki hingga 40 jung dan telah meluaskan kewibawaannya sampai ke Palembang, Jambi, “pulau-pulau Menamby (?) dan sejumlah besar pulau lain di depan Tanjung Pura”, yaitu Bangka (di mana terdapat Pegunungan Menumbing) dan Belitung.

    Saat itu di Demak terdapat tak kurang dari “delapan hingga sepuluh ribu rumah” dan tanah sekelilingnya menghasillkan beras berlimpah-limpah, yang sebagian untuk diekspor ke Malaka.
    Menurut penjelajah Portugis itu, Demak dan Rembang terkenal dengan galangan-galangan kapalnya. Kapal-kapal dibuat dari kayu jati yang banyak tumbuh di wilayah pesisir Jawa Tengah dan Timur waktu itu.

    Demak juga dikelilingi beberapa kota-pelabuhan tempat terjadi perniagaan besar: Juwana, Pati, Rembang, Jepara, dan Semarang, yang ketika itu penduduknya berkisar sekitar 3.000 kepala. “Pedagang yang punya uang datang ke sana untuk dibuatkan jung,” begitu tulis Pires.

    Siapakah Aryå Damar yang disebut-sebut råmå kuwalon Raden Patah?

    Aryå Damar adalah nama seorang pemimpin legendaris yang berkuasa di Palembang pada pertengahan abad ke-14 sebagai bawahan Kerajaan Majapahit. Ia disebut juga dengan nama Ario Damar atau Ario Abdilah. Nama Aryå Damar ditemukan dalam Kidung Pamacangah dan Usana Bali sebagai penguasa bawahan di Palembang yang membantu Majapahit menaklukkan Bali pada tahun 1343M.

    Identifikasi dengan Adityawarman

    Sejarahwan Prof. Berg menganggap Aryå Damar identik dengan Adityawarman, yaitu penguasa Pulau Sumatra bawahan Majapahit. Nama Adityawarman ditemukan dalam beberapa prasasti yang berangka tahun 1343 dan 1347 sehingga jelas kalau ia hidup sezaman dengan Aryå Damar.

    Menurut Berg, Aryå Damar adalah penguasa Sumatra, Adityawarman juga penguasa Sumatra. Karena keduanya hidup pada zaman yang sama, maka cukup masuk akal apabila kedua tokoh ini dianggap identik. Di samping itu, karena Adityawarman adalah putra Dara Jingga, maka Aryå Damar dan adik-adiknya juga ‘dianggap’ sebagai anak-anak putri Melayu tersebut.

    Namun demikian, daerah yang dipimpin Adityawarman bukan Palembang, melainkan Pagaruyung, sedangkan kedua negeri tersebut terletak berjauhan. Palembang sekarang masuk wilayah Sumatra Selatan, sedangkan Pagaruyung berada di Sumatra Barat.

    Sementara itu, Berita Cina dari Dinasti Ming (1368 sd 1644) menyebutkan bahwa di Pulau Sumatra terdapat tiga kerajaan dan semuanya adalah bawahan Pulau Jawa (Majapahit). Tiga kerajaan tersebut adalah Palembang, Dharmasraya, dan Pagaruyung.

    Dengan demikian, Aryå Damar bukan satu-satunya raja di Pulau Sumatra, begitu pula dengan Adityawarman. Oleh karena itu, Aryå Damar tidak harus identik dengan Adityawarman. Jadi, meskipun Aryå Damar dan Adityawarman hidup pada zaman yang sama, serta memiliki jabatan yang sama pula, namun keduanya belum tentu identik.

    Aryå Damar adalah raja Palembang sedangkan Adityawarman adalah raja Pagaruyung. Keduanya merupakan wakil Kerajaan Majapahit di Pulau Sumatra.

    Ayah Tiri Raden Patah?

    Aryå Damar adalah pahlawan legendaris sehingga nama besarnya selalu diingat oleh masyarakat Jawa. Dalam naskah-naskah babad dan serat, misalnya Babad Tanah Jawi, tokoh Aryå Damar disebut sebagai ayah tiri Rade Patah, raja pertama Kesultanan Demak.

    Dikisahkan ada seorang raksasa wanita ingin menjadi istri Brawijaya raja terakhir Majapahit (versi babad). Ia pun mengubah wujud menjadi gadis cantik bernama Endang Sasmintapura, dan segera ditemukan oleh patih Majapahit yang juga bernama Gajah Mada (?) di dalam pasar kota.

    Sasmintapura pun dipersembahkan kepada Brawijaya untuk dijadikan istri. Namun, ketika sedang mengandung, Sasmintapura kembali ke wujud raksasa karena makan daging mentah. Ia pun diusir oleh Brawijaya sehingga melahirkan bayinya di tengah hutan. Putra sulung Brawijaya itu diberi nama Jåkå Dilah.

    Setelah dewasa Jåkå Dilah mengabdi ke Majapahit. Ketika Brawijaya ingin berburu, Jåkå Dilah pun mendatangkan semua binatang hutan di halaman istana. Brawijaya sangat gembira melihatnya dan akhirnya sudi mengakui Jåkå Dilah sebagai putranya.

    Jåkå Dilah kemudian diangkat sebagai bupati Palembang bergelar Aryå Damar. Sementara itu Brawijaya telah menceraikan seorang selirnya yang berdarah Cina karena permaisurinya yang bernama Ratu Dwarawati (putri Campa) merasa cemburu. Putri Cina itu diserahkan kepada Aryå Damar untuk dijadikan istri.

    Aryå Damar membawa putri Cina ke Palembang. Wanita itu melahirkan putra Brawijaya yang diberi nama Raden Patah. Kemudian dari pernikahan dengan Aryå Damar, lahir Raden Kusen.

    Dengan demikian terciptalah suatu silsilah yang rumit antara Aryå Damar, Raden Patah, dan Raden Kusen. Setelah dewasa, Raden Patah dan Raden Kusen meninggalkan Palembang menuju Pulau Jawa. Raden Patah akhirnya menjadi raja pertama Kesultanan Demak, dengan bergelar Panembahan Jimbun.

    Aryå Dilah dari Palembang

    Lain lagi dengan naskah dari Jawa Barat, misalnya Hikayat Hasanuddin atau Sejarah Banten. Naskah-naskah tersebut menggabungkan nama Aryå Damar dengan Jåkå Dilah menjadi Aryå Dilah, yang juga menjabat sebagai bupati Palembang. Selain itu, nama Aryå Dilah juga diduga berasal dari nama Arya Abdilah.

    Dikisahkan ada seorang perdana menteri dari Munggul bernama Cek Ko Po yang mengabdi ke Majapahit. Putranya yang bernama Cu Cu berhasil memadamkan pemberontakan Aryå Dilah bupati Palembang.

    Raja Majapahit sangat gembira dan mengangkat Cu Cu sebagai bupati Demak, bergelar Molana Arya Sumangsang. Dengan demikian, Arya Sumangsang berhasil menjadi pemimpin Demak setelah mengalahkan Aryå Dilah.

    Kisah dari Jawa Barat ini cukup unik karena pada umumnya, raja Demak disebut sebagai anak tiri bupati Palembang. Sementara itu, berita tentang pemberontakan Palembang ternyata benar-benar terjadi.

    Kronik Cina dari Dinasti Ming mencatat bahwa pada tahun 1377 tentara Majapahit berhasil menumpas pemberontakan Palembang.

    Rupanya pengarang naskah di atas pernah mendengar berita pemberontakan Palembang terhadap Majapahit. Namun ia tidak mengetahui secara pasti bagaimana peristiwa itu terjadi.

    Pemberontakan Palembang dan berdirinya Demak dikisahkannya sebagai satu rangkaian, padahal sesungguhnya, kedua peristiwa tersebut berselang lebih dari 100 tahun.

    Swan Liong

    Kisah hidup Raden Patah juga tercatat dalam kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong Semarang. Sebagaimana disebut juga dalam Berita Cina, antara lain Catatan Sejarah Dinasti Yuan; dan Ying-yai-seng-lan, yang ditulis olehs: Ma Huan, sekretaris Laksamana Cheng Ho.

    Ditulis dalam naskah itu bahwa Raden Patah disebut dengan nama Jin Bun, sedangkan ayah tirinya bukan bernama Aryå Damar, melainkan bernama Swan Liong. Swan Liong adalah putra raja Majapahit bernama Yang-wi-si-sa yang lahir dari seorang selir Cina.

    Mungkin Yang-wi-si-sa logat Cina untuk Hyang Wisesa atau mungkin Hyang Purwawisesa. Kedua nama ini ditemukan dalam naskah Pararaton. Swan Liong bekerja sebagai kepala pabrik bahan peledak di Semarang. Pada tahun 1443 ia diangkat menjadi kapten Cina di Palembang oleh Gan Eng Cu, kapten Cina di Jawa.

    Swan Liong di Palembang memiliki asisten bernama Bong Swi Hoo. Pada tahun 1445 Bong Swi Hoo pindah ke Jawa dan menjadi menantu Gan Eng Cu. Pada tahun 1451 Bong Swi Hoo mendirikan pusat perguruan agama Islam di Ampel Denta, dan ia pun terkenal dengan sebutan Sunan Ampel.

    Swan Liong di Palembang memiliki istri seorang bekas selir Kung-ta-bu-mi raja Majapahit. Mungkin Kung-ta-bu-mi adalah ejaan Cina untuk Bhre Kerthabhumi. Dari wanita itu lahir dua orang putra bernama Jin Bun dan Kin San.

    Pada tahun 1474 Jin Bun dan Kin San pindah ke Jawa untuk berguru kepada Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel. Tahun berikutnya, Jin Bun mendirikan kota Demak sedangkan Kin San mengabdi kepada Kung-ta-bu-mi di Majapahit.

    Tidak diketahui dengan pasti sumber mana yang digunakan oleh pengarang kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong di atas. Kemungkinan besar si pengarang pernah membaca Pararaton sehingga nama-nama raja Majapahit yang ia sebutkan mirip dengan nama-nama raja dalam naskah dari Bali tersebut.

    Misalnya, si pengarang kronik tidak menggunakan nama Brawijaya yang lazim digunakan dalam naskah-naskah babad. Jika dibandingkan dengan Babad Tanah Jawi, isi naskah kronik Cina Sam Po Kong terkesan lebih masuk akal.

    Misalnya, ibu Aryå Damar adalah seorang raksasa, sedangkan ibu Swan Liong adalah manusia biasa. Ayah Aryå Damar sama dengan ayah Raden Patah, sedangkan ibu Swan Liong dan Jin Bun berbeda.

    Hubungan dengan Raja Demak

    Naskah-naskah di atas menunjukkan adanya hubungan antara pendiri Kesultanan Demak dengan penguasa Palembang. Teori yang paling populer adalah yang bersumber dari Babad Tanah Jawi, yaitu Raden Patah disebut sebagai anak tiri Aryå Damar.

    Sementara itu catatan Portugis berjudul Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins (Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri Cina), penulis: Tomé Pires menyebut raja Demak sebagai keturunan masyarakat kelas rendah dari Gresik.

    Naskah ini ditulis sekitar tahun 1513 sehingga kebenarannya relatif lebih meyakinkan daripada Babad Tanah Jawi.

    Babad Tanah Jawi sendiri disusun pada abad ke-18, yaitu berselang ratusan tahun sejak kematian Raden Patah. Melalui naskah itu, si penulis berusaha menunjukkan kalau Demak adalah pewaris sah dari Majapahit. Raden Patah pun disebutnya sebagai putra kandung Brawijaya.

    Mungkin penyusun Babad Tanah Jawi juga pernah mendengar adanya hubungan antara Demak dengan Palembang. Maka, Raden Patah pun dikisahkan sebagai anak tiri bupati Palembang.

    Karena nama bupati Palembang yang paling legendaris adalah Aryå Damar, maka tokoh ini pun “dipaksa menjadi” ayah tiri sekaligus kakak Raden Patah. Penulis Babad Tanah Jawi tidak menyadari kalau Aryå Damar dan Raden Patah hidup pada zaman yang berbeda.

    Aryå Damar merupakan pahlawan penakluk Bali pada tahun 1343, sedangkan Raden Patah menjadi raja Demak sekitar tahun 1500an.

    Kronik Sam Po Kong

    Pada 1475, sekitar 1.000 tentara Demak pimpinan Jin Bun menyerang Semarang. Ia menaklukkan Semarang lalu bergerak menuju Klenteng Sam Po Kong yang ada di kota itu.

    Jin Bun memerintah pada pasukannya agar jangan menghancurkan klenteng itu, karena sebelumnya Sam Po Kong merupakan sebuah masjid yang dibangun oleh orang-orang Tionghoa Muslim dari daratan Tiongkok yang bermahzab Hanafi.

    Namun, setelah kekuasaan Dinasti Ming di Tiongkok melemah. Sejak armada Dinasti Ming tak lagi singgah di Semarang, hubungan orang-orang Tionghoa Muslim dengan sanak saudara mereka di Tiongkok terhenti.

    Satu persatu masjid di Semarang dan Lasem, yang dibangun pada masa Laksamana Cheng Ho, berubah fungsi menjadi klenteng. Selain tak menghancurkan Sam Po Kong, Jin Bun juga tak memaksa agar orang-orang Tionghoa yang non-Muslim untuk memeluk Islam.

    Kebaikan hati Jin Bun tersebut disambut orang-orang Tionghoa non-Musli dengan janji bahwa mereka akan setia pada Demak dan tunduk pada hukum Demak yang Islam.

    Lima abad kemudian, Residen Poortman pada tahun 1928 mendapatkan tugas dari pemerintah kolonial untuk menyelidiki: apakah benar Raden Patah itu orang Tionghoa tulen.

    Poortman pun menggeledah kelentang Sam Po Kong lalu menyita naskah berbahasa Tionghoa sebanyak tiga pedati, lalu dibawa oleh Poortman ke Institut Indoologi di Negeri Belanda.

    Atas permintaan Poortman, hasil penelitiannya atas naskah Klenteng Sam Po Kong diberi tanda GZG, singkatan Geheim Zeer Geheim alias naskah yang sangat rahasia dan hanya boleh dibaca di kantor, dan tidak sembarang orang boleh membacanya.

    Dengan begitu, yang boleh melihatnya hanyalah Perdana Menteri Colijn, Gubernur Jenderal, Menteri Jajahan, dan pegawai arsip negara di Rijswijk di Den Haag. Menurut Muljana, hasil penelitian terhadap kronik Sam Po Kong itu itu hanya dicetak lima eksemplar, dan tidak satu pun berada di Jakarta.

    Arsip Poortman ini kemudian dikutip oleh Mangaraja Onggang Parlindungan yang menulis buku kontrovelsial Tuanku Rao yang terbit pada 1964. Parlindungan memiliki hubungan dekat dengan Poortman saat ia menuntut ilmu di sekolah tinggi teknologi di Delft, maka itu dapat menyalinnya.

    Prof. Dr. Slamet Muljana yang menulis buku berjudul Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, banyak mengutip buku Tuanku Rao. Buku Slamet Muljana –guru besar di Universitas Indonesia– yang terbit tahun 1968 juga menimbulkan kontroversi.

    Pemerintah Orde Baru pada 1971 melarang peredaran buku tersebut. Rupanya teori bahwa pendiri Demak (dan juga delapan dari Sembilan Wali Sångå) adalah orang Tionghoa membuat pemerintah Soeharto gerah. Ditambah ketika itu pemerintah Orde Baru baru saja selesai “mengamankan” negara dari gerakan komunis yang dianggap bahaya laten.

    Seharusnya larangan peredaran buku yang dianggap meresahkan itu tidak perlu terjadi. Lazim dalam dunia keilmuan atau akademisi, suatu teori akan dibantah oleh teori lainnya. Setiap teori yang timbul, kita lakukan pengkajian dan penelitian yang obyektif, tentukan teori mana yang dapat menyajikan data dan bukti akurat yang dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya. Selalulah diingat terutama hal yang berkenaan dengan sejarah, kita mengenal suatu ungkapan bahwa kebenaran sejarah adalah bersifat hipotetik.

    ånå tjandhaké

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  29. Matur nuwun Ki Bayuaji.

  30. Matur nuwun P. SAtpam

    Kalau saya mah yang hitam putih saja, supaya pekerjaan P. satpam tidak terlalu berat.
    Ntar PR nya nggak dikerjakan. didukani Ki arema lho.

  31. Nyumanggaaken Ki pundi ingkang prayogi . Matur nuwun rontalipun .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: