NSSI-05

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 28 April 2011 at 10:13  Comments (48)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-05/trackback/

RSS feed for comments on this post.

48 KomentarTinggalkan komentar

  1. sugeng enjing ki sanak sedoyo
    wuih… nomer siji

  2. suwung…!!!!!

    • Sugeng siang Ki Segoro mas tono…eh..Ki Mas tono..weh podo ora iki yo priyayine…

  3. waduh…
    koq makan 5 bilangnya 4..!!!
    hayo…..

  4. Sugêng sontên

    Biasanya yang “mengucapkan” kalimat seperti ini adalah punåkawan, tapi sejak ditinggal njajah déså milang kori napak tilas ‘perjalanan dinas’ Prabu Hayam Wuruk (kata Ki gembleh), lha kok ikut-ikutan Ki Panji Satriå Pamêdar, iku ‘mêriang’.

    Untungnya (lha ini khas Indonesia, Jawa terutama, selalu untung), era abad 21 ini alat transportasi lengkap dan lancar (Surabaya – mBetawi kurang lebih satu jam), demikian juga sarana telekomunikasi.

    Punåkawan, Ki Panji Satriå Pamêdar, semoga cepat sembuh. Aamin.

    Nuwun,
    Kêparêng

    cantrik bayuaji

    • semoga Ki Puna dan Ki Ajar pak Satpam
      segera sehat kembali sehingga bisa
      bergojeg kembali.

      sugeng dalu.

      • lha kok bisa bareng2 “ngGREgesi” ya, apa
        ki PUNA sama pak SATPAM janjian….he3x

        semoga lekas sembuh ki, istirahat cukup,
        minum obat….wedar rontal ngge pak SP,
        wedar guyonan ngge ki PUNA.

      • Lho Ki Puno nggarapsari juga tho? Semoga lekas sembuh, jangan lupa sambang padepokan biar selalu ceria.

  5. HADIR….ngrewangi ki Gembleh jaga padepokan,

    sugeng DALU,

    • Lha nika Nyaine sampun wonteng ngajeng kori,
      malang kerik sinambi nyincing nyampinge je…
      gawat, sumangga tongkat jagi-nipun kula oper njenengan kemawon, kula tak ngayahi toegas.

  6. DALU ndherek absen .

  7. ingak-inguk….
    sembunyi-sembunyi sambang padepokan
    sepi…..
    nggih sampun…, kulo pamit malih

  8. Sugeng enjang.
    P. Satpam sudah berangkat belum ya pagi-pagi gini

  9. ayOoo bledehan…NSSI-05 “kolor apa hitam putih”

    sugeng enjang

    • cantrik nebak djVU kolor…

      • pokok dudu kolor ijo…

        • ra..koloran !

          • kathok KOLORan…

  10. sowan deretan 15 Ki..

  11. ki puna lan paklik satpam, mugi2 enggal senggang njih🙂 … mangke jumatan mboten?

    • Alhamdulillah sudah sembuh, setelah dibuatkan seduhan jamu daun meniran dan pegagan.
      ….He he he he ….

      Di tempat genduk mita apakah hari ini hari Jum’at juga? atau mungkin harinya berbeda??? Hiks…

      • alhamdulillah sampun senggang,… lha solo njih sami kaliyan jakarta ta ki🙂 … sugeng tindak jumatan njih, nyuwun tulung paklik satpam didoakan cepat sembuh njih, nuwun

    • Pitakonmu nganeh-anehi nduk, ….. lho nek piyayi kakung dino Jemuwah yo mesti Jemuwahan, ….. nek ora Jemuwahan ya tergolong pria jadi-jadian.

      • loooh klo lg sakit kan boleh ga jumatan kan?😦

  12. sugeng siang

  13. Sambang padhepokan ah ……….

  14. Alhamdulillah….. Ki Puna sampun dangan,
    Ki Ajar pak Satpam ugi sampun anguk-anguk
    ungak-ungak mirsani gandhok.

    Muga2 wis pada SEGER WARAS, SEGAR BUGAR.

  15. Selamat pagi, nderek absen
    Ngisi daftar hadir terus lari pagi.

  16. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-24 Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-4]
    Masa Kejayaan Majapahit. [2]. Undang-undang Kerajaan Majapahit (Seri 2). On 27 April 2011 at 07:41 NSSI 04

    Waosan kaping-25:
    BHRE JIWANA HAYAM WURUK MAHARAJA SRI RAJASANEGARA (1350-1389) [Parwa ka-6]

    MASA KEJAYAAN MAJAPAHIT
    [2]. UNDANG-UNDANG KERAJAAN MAJAPAHIT (Seri-3)

    KITAB UNDANG-UNDANG KUTARAMANAWADHARMASASTRA

    Selain pasal 3 dan 4, dalam Kitab Kutara Manawa juga memuat sebuah pasal lagi yang mengatur tentang tindakan yang digolongkan sebagai suatu kejahatan, yaitu pasal 23. Bunyi pasal 23 tersebut adalah sebagai berikut:

    Kejahatan seperti mencuri, menyamun, membegal, menculik, mengawini wanita larangan (perempuan yang masih dalam status kawin), membunuh orang yang tidak bersalah, meracuni, menenung, itu semua disebut sebagai perusuh.

    Jika perbuatannya itu terbukti, maka hukumannya adalah mati. Demikianlah ujar para sarjana yang telah putus dalam kitab hukum Kutara Manawa. Mereka paham membedakan yang jahat dan yang baik; tahu mana jalan yang menuju duka-nestapa dan menuju surga.

    Barang siapa memihak perusuh, merintangi dan menghalangi tindakan raja hanya dengan ucapan, supaya didenda dua laksa oleh raja yang berkuasa. Perbuatan menghalangi tindakan raja dengan ucapan itu disebut “meletakkan bahagia pada bangkai”.

    Pada Waosan kaping-24 telah diwedar susunan yang diduga mendekati bentuk asli Bab-bab Kitab Undang-undang Kutaramanawadharmasastra sebagai berikut:

    1. Bab I: Ketentuan umum mengenai denda;
    2. Bab II: Delapan macam pembunuhan, disebut astadusta;
    3. Bab III: Perlakuan terhadap hamba, disebut kawula;
    4. Bab IV: Delapan macam pencurian, disebut astacorah;
    5. Bab V: Paksaan atau sahasa;
    6. Bab VI: Jual-beli atau adol-atuku;
    7. Bab VII: Gadai atau sanda;
    8. Bab VIII: Utang-piutang atau ahutang-apihutang;
    9. Bab IX: Titipan;
    10. Bab X: Mahar atau pasok tukon;
    11. Bab XI: Perkawinan atau kawarangan;
    12. Bab XII: Mesum atau paradara;
    13. Bab XIII: Warisan atau drewe kaliliran;
    14. Bab XIV: Caci-maki atau wakparusya;
    15. Bab XV: Menyakiti atau dandaparusya;
    16. Bab XVI: Kelalaian atau kagelehan;
    17. Bab XVII: Perkelahian atau atukaran;
    18. Bab XVIII: Tanah atau bhumi;
    19. Bab XIX: Fitnah atau dwilatek.

    Seperti telah dinyatakan pada permulaan bab, kata agama dalam perundang-undangan hanya dapat berarti: udang-undang. Seperti telah terbukti dalam prasasti Bendasari dalam O.J.O. LXXXV lempengan 6a, pengadilan Majapahit pada zaman pemerintahan Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara berpedoman pada kitab perundang-undangan Kutara Manawa, dikeluarkan oleh hakim yang disebut rajadhikara.

    Berikut di bawah ini beberapa contoh Bab-bab dan Pasal-pasal tertentu dalam Kitab Kutaramanawadharmasastra:

    Bab IV: Astacorah Pasal 55, 56 dan Pasal 57:

    Dalam kitab Vrticasana (Kirtya IIb 78/1) dikatakan :

    …….. Ka wwalu kehning maling, Nga, mangalap,
    anuduhaken, maweh pangan, maweh unguhun,
    analungi, maweh wruha, ring maling
    mangini-daken, nahan tang sinanggung
    astacora, nga.

    {Kedelapan tindak mencuri adalah mengerjakan pencurian, menyuruh, memberi makan, memberi tahu, memberi tempat, berkawan, melindungi, menyembunyikan, inilah astacora hendaknya selalu diingat.}

    Sanksi Pasal 55: Jika pencuri tertangkap dalam pencurian, dikenakan pidana mati; anak isterinya, miliknya dan tanahnya diambil alih-oleh raja yang berkuasa. Jika pencuri itu mempunyai hamba laki-laki dan perempuan, hamba itu tidak diambil-alih oleh raja yang berkuasa, tetapi dibebaskan dari segala utangnya kepada pencuri yang ber¬sangkutan.

    Pasal 56: Jika seorang pencuri mengajukan permohonan hidup, maka is harus menebus pembebasannya sebanyak delapan tali, membayar denda empat laksa kepada raja yang berkuasa, membayar kerugian kepada orang yang kena curi dengan cara mengembalikan segala milik yang diambilnya dua kali lipat. Demikianlah bunyi hukumnya.

    Pasal 57: Jika di desa terjadi pembunuhan atas seorang pencuri, maka barang curian, kepala pencuri, harta miliknya, anak-isterinya, supaya dihaturkan (diserahkan) kepada raja yang berkuasa. Itulah jalan yang harus ditempuh. Jika kerabat pencuri itu terbukti tidak ikut serta dalam pencurian, mereka tidak layak dikenakan denda.

    Bab V: Sahasa (Paksaan) Pasal 86, 87 dan Pasal 92:

    Pasal 86: Barang siapa mengambil milik orang tanpa hak, supaya diperingatkan, bahwa barang yang diambil secara tanpa hak itu, akan hilang dalam waktu enam bulan. Jika belum hilang dalam enam bulan, peringatkan, bahwa barang itu akan hilang dalam waktu enam tahun. Segala modal milik orang yang mengambil barang tanpa hak itu akan turut hilang. Ingat-ingatlah akan ajaran sastra: jangan sekali¬kali mengambil uang secara tidak sah.

    Pasal 87: Barang siapa sengaja merampas kerbau atau sapi orang lain, dikenakan denda dua laksa. Barang siapa merampas hamba orang, dendanya dua laksa. Denda itu dihaturkan kepada raja yang berkuasa. Pendapatan dari kerbau, sapi, dan segala apa yang dirampas, terutama hamba, dikembalikan kepada pemiliknya dua kali lipat.

    Pasal 92: Barang siapa menebang pohon orang lain tanpa izin pemiliknya, dikenakan denda empat tali oleh raja yang berkuasa. Jika hal itu terjadi pada waktu malam, dikenakan pidana mati oleh raja yang berkuasa; pohon yang ditebang dikembalikan dua kali lipat.

    Bab IX: Titipan Pasal 159, 160, 164.

    Pasal 159: Penitipan milik sebaiknya dilakukan pada orang yang tinggi wangsanya, haik kelakuannya, tahu akan darma, setia kepada katanya, bersih hatinya, dan orang kaya. Itulah tempat penitipan harta milik.

    Pasal 160: Barang siapa menerima titipan, jika penitipnya mati tanpa meninggalkan ahli waris (praanantara), yakni kakek, nenek, bapa, ibu, anak, kemenakan, saudara sepupu, saudara mindo (tingkat dua), tidak perk! mengembalikan. Jika penerima titipan itu mati, titipan itu tidak hilang, karena penitipnya masih hidup, meskipun tidak mempunyai anak sekalipun. Anak penerirna titipan bertindak sebagai ahli waris, harus menyerahkan kembali titipan itu kepada penitip. Titipan itu tidak akan disita oleh raja yang berkuasa. Jika anak penerima titipan itu telah mengembalikan barang titipan itu, ahli penerima titipan bebas dari tuntutan, namun tidak mempunyai wewenang untuk menahan titipan.

    Pasal 164: Barang siapa yang merusak barang titpan, jika terbukti bahwa barang titipan-nya itu digunakannya, dipakai, diganti rupa, tanpa meminta izin penitipan, perbuatan itu disebut merampas. Perbuatan itu sama dengan perbuatan merusak barang titipan dengan sengaja. Semua barang titipan itu harus dikembalikan kepada penitip dengan nilai dua lipat, ditambah denda dua laksa oleh raja yang berkuasa, sebabnya ialah merusak titipan sama dengan mencuri.

    Bab X: Pasok Tukon (Mahar) Pasal 167, 171 dan Pasal 173:

    Pasal 167: Jika seorang gadis rela menerima barang yang dimaksud sebagai tukon atau mahar, kemudian kawin dengan laki-laki lain, karena menaruh cinta kepada laki-laki lain, sedangkan orang tua gadis itu tinggal diam, bahkan malah mengawinkannya, perbuatan itu disebut: mengawinkan gadis larangan. Segala tukon pelamar pertama harus dikembalikan lipat dua. Bapa gadis dikenakan denda empat laksa oleh raja yang berkuasa. Hal itu disebut amadal tukon: membatalkan tukon. Suami-isteri yang menikah, masing-masing dikenakan denda empat laksa oleh raja yang berkuasa.

    Pasal 171: Jika seorang pemuda memberikan peningset atau pengikat (panglarang) kepada seorang gadis, dengan diketahui oleh orang banyak, dan setelah lima bulan lamanya (perkawinan belum di¬langsungkan), maka pemuda itu tidak mempunyai hak atas pengikat itu. Gadis yang demikian oleh orang banyak disebut wulanjar (janda yang belum kawin, belum melahirkan). Ayah gadis berhak mengawinkannya dengan orang lain.

    Pasal 173: Jika orang tua gadis telah menerima tukon dari pelamar sebagai tanda, bahwa gadisnya telah laku, dan telah menyetujui waktu ber¬langsungnya perkawinan, sedangkan jejaka patuh menanti janji orang tua gadis, namun ketika sampai pada janjinya gadis tersebut dikawinkan dengan orang lain oleh bapa gadis yang bersangkutan, maka jumlah tukon harus dikembalikan dua lipat dan orang tua gadis itu dikenakan denda empat laksa oleh raja yang berkuasa.

    Bab XI; Kawarangan atau Perkawinan Pasal 180, 181, 182 dan 207

    Beberapa pasal tentang perlindungan terhadap kaum perempuan diatur dengan tegas dalam beberapa bab ini, antara lain:

    Pasal 180: Jika seorang isteri enggan kepada suaminya, karena ia tidak suka kepadanya, uang tukon harus dikembalikan dua kali lipat. Disebut juga amadal sanggama.

    Pasal 181: Jika seorang perempuan tidak suka kepada suaminya, maka suami harus menunggu setahun. Jika setelah setahun tetap tidak suka maka perempuan itu mengembalikan tukon dua kali lipat. Peristiwa tersebut dinamakan amancal turon.

    Pasal 182: Jika di dalam perkawinan suami-isteri ingin mencampur harta milik yang dibawanya masing-masing, ketika kawin, percampuran itu tidak dibenarkan sebelum lima tahun. Setelah kawin lima tahun, barulah diizinkan percampuran harta milik suami-istri. Percampuran harta milik itu Baru sah. Demikian ujar orang pandai.

    Pasal 207: Barangsiapa memegang seorang gadis, kemudian gadis itu berteriak menangis, sedangkan banyak orang yang mengetahuinya, buatlah orang-orang itu saksi sebagai tanda bukti. Orang yang memegang itu dikenakanlah pidana mati oleh raja yang berkuasa

    Catatan:
    amadal sanggama: enggan bersanggama
    amancal turon: enggan tidur bersama

    Bab XIII: Drewe Kaliliran atau Warisan.

    Mengenai hukum waris diatur sebagai berikut:
    Enam macam anak yang mempunyai hak waris:

    1. Anak yang lahir dari penikahan pertama, ketika ibu-bapaknya masih sama sama muda dan sejak kecil telah dipertunangkan.
    2. Anak yang lahir dari istri dari penikahan yang kedua kali, dan mendapat persetujuan orang tuanya.
    3. Anak pemberian saudaranya.
    4. Anak yang diminta dari orang lain.
    5. Anak yang diperoleh dari istri akibat percampuran dengan iparnya laki laki atas persetujuan suaminya.
    6. Anak buangan yang dipungut dan diakui sebagai anak..

    Sedangkan anak yang tidak mempunyai hak waris antara lain :

    1. Anak yang tidak diketahui siapa bapaknya, karena diperoleh ibunya sebelum kawin.
    2. Anak campuran laki-laki banyak, sehingga tidak dapat diketahui dengan pasti ayahnya.
    3. Anak seorang istri yang diceraikan dan rujuk kembali setelah bercampur dengan laki laki lain.
    4. Anak orang lain yang minta diakui anak.
    5. Anak yang diperoleh karena pembelian.
    6. Anak hamba yang diakui anak.

    Bab XVIII: Bhumi (Tanah) Pasal 258, 259 dan Pasal 261:

    Pasal 258: Jika ada orang memperbaiki pekarangan, kebun, taman, selokan, ladang, telaga, bendungan, kolam ikan, yang bukan miliknya, tanpa disuruh oleh pemiliknya, orang yang demikian itu tidak berhak minta upah kepada si pemilik. Jika ia mendapat keuntungan dari pebaikan itu, pemiliknya berhak menuntut, jangan dibiarkan. Malah ia dikenakan denda dua laksa oleh raja yang berkuasa.

    Pasal 259: Barang siapa minta izin untuk menggarap sawah, namun tidak dikerjakannya sehingga sawah itu ringgal terbengkalai, supaya di¬tuntut untuk membayar utang makan sebesar hasil padi yang dapat dipungut dari sawah (yang akan dikerjakan itu). Besarnya denda ditetapkan oleh raja yang berkuasa sama dengan denda pengrusak makanan.

    Pasal 261: Barang siapa mengurangi penghasilan makanan, misalnya dengan memper-sempit sawah atau membiarkan terbengkalai segala apa yang menghasilkan makanan, atau melalaikan binatang piaran apa pun, kemudian hal tersebut diketahui oleh orang banyak, orang yang demikian itu diperlakukan sebagai pencuri dan dikenakan pidana mad. Demikian ajaran sastra.

    Susunan Pengadilan

    Semua keputusan dalam pengadilan diambil atas nama raja yang disebut Sang Amawabhumi, orang yang mempunyai atau menguasai Negara. Di dalam Mukadimah Kutara Manawa ditegaskan:

    Semoga Sang Amawabhumi teguh hatinya di dalam penerapan besar kecilnya denda, jangan sampai salah menerapkan. Jangan sampai orang yang bertindak salah, luput dari tindakan. Itulah kewajiban Sang Amawabhumi, jika beliau mengharapkan kerahayuan negaranya.

    Dalam soal pengadilan, raja di bantu dua dharmmadyaksa. Seorang dharmmadyaksa kasaiwan. seo rang dharmmadyaksa kasogatan, yakni kepala agama Siwa dan kepala agama Budha, dengan sebutan dang acarya karena kedua agama itu merupakan agama utama dalam kerajaan Majapahit dan segala perundang-undangan didasarkan agama.

    Kedudukan dharmmadhyaksa dapat disamakan dengan hakim tinggi. Mereka dibantu lima upapatti atau pembantu; dalam pengadilan adalah pembantu dharmmadyaksa.

    Mereka itu dalam piagam biasa disebut pamegat atau sang pamegat (disingkar samgat), sang pemutus alias hakim. Baik dharmmadyaksa maupun upapatti, bergelar dangacarya. Mula-mula jumlahnya hanya lima, yakni:

    1. Sang Pamegat Tirwan
    2. Sang Pamegat Kandamuhi
    3. Sang Pamegat Manghuri
    4. Sang Pamegat Jambi
    5. Sang Pamegat Pamotan

    Mereka itu semuanya termasuk golongan kasaiwan, karena agama Siwa adalah agama resmi negara Majapahit dan mempunyai pengikut paling banyak. Pada pemerintahan Dyah Hayam Wuruk, jumlah upapatti ditambah dua menjadi tujuh.

    Keduanya termasuk golongan kasogatan, sehingga ada lima upapatti kasaiwan dan dua upapatti kasogatan. Perbandingan itu sudah layak mengingat jumlah pemeluk agama Budha kalah banyak dengan jumlah pemeluk agama Siwa.

    Dua upapatti kasogatan itu ialah Sang Pamegat Kandangan Tuha dan Sang Pamegat Kandangan Rare. Demikianlah Nāgarakṛtāgama pupuh 10/3 menyebut adanya dua orang dharmmadyaksa dan tujuh orang upapatti.

    Nāgarakṛtāgama Pupuh X (10): 3.

    ndan sang ksatriya len bhujangga rsi wipra yapwan umarek
    ngkane heb ning asoka munggwi hiring ing witana mangadeg
    dharmadhyaksa kalih lawan sang upapatti saptadulur
    sang tuhwaryya lekas niran pangaran aryya yukti satirun.

    [Satria, pendeta, pujangga, para wipra, jika menghadap,
    Berdiri di bawah lindungan asoka di sisi witana,
    Begitu juga dua dharmadhyaksa dan tujuh pembantunya,
    Bergelar arya, tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan.]

    Piagam Trawulan (1358) memberitakan ada dua dhammdyaksa dan tujuh upapatti seperti
    berikut:

    1. Sang Pamegat Tirwan Dang Acarya Indradipa Sang Arya Wangsaraja Sang Pamegat Kandamuhi Dang Acarya Jayanata Sang Arya Nayadikara
    2. Sang Pamegat Manghuri Dang Acarya Shiweswara Sang Arya Nayapati
    3. Sang Pamegat Jambi Dang Acarya Arkanata Sang Arya Sahadipati
    4. Sang Pamegat Pamotan Dang Acarya Shiwadipa Sang Arya Warnadikara
    5. Sang Pamegat Kandangan Tuha Dang Acarya Sarnatnyana Sang Arya Samadiraja
    6. Sang Pamegat Kandangan Rare
    7. Dharmadhyaksa Kasaiwan Dang Acarya Sjowairto Sang Arya Raja- parakrama
    8. Dharmadhyaksa kasogatan Dang Acarya Nadendra Sang Arya Adiraja

    Dalam Nāgarakṛtāgama pupuh XXV (25) : 2 diuraikan bahwa ketika Dyah Hayam Wuruk singgah di Patukangan, beliau dihadap oleh pelhagai pembesar, di antaranya dhyaksa, upapatti, dan para panji yang paham tentang undang-undang.

    Dari uraian itu, nyata bahwa para panji adalah pembantu para upapatti dalam melakukan pengadilan di daerah-daerah. Pangkat panji masih dikenal di kesultanan Jogjakarta sampai tahun 1940. Para panji di kesultanan Jogja diserahi tugas pengadilan. Jadi, tidak berheda dengan para panji pada zaman Majapahit.

    NāgarakṛtāgamaPupuh XXV (25): 2.

    sakweh sang paramantry amancanagaromunggwing pakuwwan kabeh
    mwang sang dhyaksa pasangguhan rasika sang wangsadhirajomarek
    tansah sang hupapatty anindita dang acaryyottaranopama
    saiwapanji mapanji santara widagdheng agama wruh kawi

    [Semua menteri, mancanagara hadir di pakuwuan,
    Juga jaksa Pasungguhan Sang Wangsadiraja ikut menghadap,
    Para Upapati yang tanpa cela, para pembesar agama,
    Panji Siwa dan Panji Buda, faham hukum dan putus sastera.]

    Hanya dalam keadaan darurat seperti pada tahun 1364 sepeninggal patih Gadjah Mada, dalam menjalankan pengadilan, Sang Amawabhumi diwakili oleh dua orang pembesar seperti dinyatakan dalam Nāgarakṛtāgama Pupuh LXXII (72): 4.

    rwata wastu ni pangadi sumantri
    astapaddha haji don ika tanlen
    mawwate sarusit ing wyawahara
    ndan makeringa sumantry upapati.

    [Jumlahnya bertambah dua menteri,
    Bagai pembantu utama Baginda,
    Bertugas mengurus soal perdata,
    Dibantu oleh para upapati.]

    Dua orang pembesar itu ternyata ayah dan kemenakan Dyah Hayam Wuruk sendiri.

    Nāgarakṛtāgama Pupuh III (3) : 2 memberitakan bahwa Raja Kertawardhana memegang urusan pengadilan.

    ndan sribhupati sang pita nrpati munggwing singhasari apageh
    saksat hyang wara ratnasambhawa siran manggeh parartheng jagat
    dhirotsaha sire kawrdddhya nikanang rat satyabhaktye haji
    lagi anggegwani karyya (ning) sahana kadhyaksatidakseng naya.

    [Ayah Sri Baginda raja bersemayam di Singasari
    Bagai Ratnasambawa menambah kesejahteraan bersama
    Teguh tawakal memajukan kemakmuran rakyat dan negara
    Mahir mengemudikan perdata, bijak dalam segala kerja.]

    Nāgarakṛtāgama Pupuh VII (7): 4 menyatakan bahwa Wikramawardhana memegang pengadilan seluruh negara. Pernyataan itu perlu dihubungkan dengan pupuh VI (6) : 3 yang menyebut bahwa Wikramawardhana menjadi wakil utama sri narendra dengan kara paningkah sri narendradhipa.

    Nāgarakṛtāgama Pupuh (7): 4

    takwan wrddhi siran pakanak i sireng nrpati kusumawarddhaniswari
    rajni rajakumarii anindya siniwing pura ring kabalan utameng raras
    sang sri wikramawarddhanendra saniruktya nira pangucap ing sanagara
    saksat dewata dewati sira n atemwa helem anukani twas ing jagat.

    [Berputeralah beliau puteri mahkota Kusumawardani, sangat cantik
    Sangat rupawan jelita mata, lengkung lampai, bersemayam di Kabalan
    Sang menantu Sri Wikramawardana memegang perdata seluruh negara
    Sebagai dewa-dewi mereka bertemu tangan, menggirangkan pandang.]

    Nāgarakṛtāgama Pupuh VI (6) : 3

    tekwan wrddhi awekendra sang umunggw ing wirabhumi angdiri
    sang sri nagarawarddhanai pratita rajnikanyakanopama
    ndan ranten haji ratu ing mataram lwir hyang kumaranurun
    sang sri wikramawarddhaneswara paningkah sri narendhradhipa.

    [Bhre Lasem Menurunkan puteri jelita Nagarawardani
    Bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi
    Rani Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardana
    Bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra.]

    Proses Pengadilan

    Piagam Bendasari, tidak bertarikh, menguraikan perselisihan milik tanah Manah di Desa Manuk antara Mapanji Sarana dan pembesar-pembesar Sima Tiga.

    Mapanji Sarana dibantu oleh kawan¬kawannya: Ki Karna, Mapanji Manakara, Ajaran Reka, Ki Saran dan Ki Jumput, sedangkan pembesar-pembesar Sima Tiga diwakili oleh Panji Anawang Harsa sebagai juru bicaranya.

    Menurut Mapanji Sarana, hak pakai ranah di aras sudah dimilikinya sejak dahulu kala. Sebaliknya, Panji Anawung Harsa berkata bahwa tanah tersebut adalah tanah sanda-gadai pada zaman sebelum ada uang perak di Jawa. Tanah itu digadaikan oleh nenek-moyangnya sebanyak dua takar perak. Demikianlah keterangan kedua belah pihak.

    Setelah mendengar keterangan tersebut, tanda rakyan memanggil orang-orang di sekitar tanah sengketa untuk memberikan kesaksian. Keterangan para saksi dari desa-desa di sekelilingnya menyebutkan bahwa menurut pendengaran mereka tanah sima itu adalah tanah sanda-gadai, namun tidak diketahui asal-usul pemakaian istilah sanda-gadai itu.

    Berdasarkan keterangan saksi-saksi itu maka diputuskan bahwa Panji Anawung Harsa kalah dalam perkara sengketa tanah, dan sebagai tanda pengukuhan atas ranah sengketa itu, yang telah diputuskan menjadi milik Mapanji Sarana, diperintahkan supaya dibuatkan piagam.

    Keputusan perkara itu berdasarkan kitab perundang-undangan Kutara Manawa dan Kitab undang-undang Iainnya, dan merupakan keputusan resmi pengadilan. Piagam yang memuat keputusan tentang sengketa yang demikian disebut jayapatra, bukti tertulis tanda kemenangan, diserahkan kepada pemenang.

    Prasasti Walandit yang dikeluarkan pada zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk memberitakan tentang keputusan sengketa antara orang-orang di Desa Walandit dan orang-orang di Desa Himad.

    Desa Walndit semula adalah daerah swatantra; penduduknya mendapat tugas untuk memelihara dharma kabuyutan (candi leluhur) di Walandit. Mereka hanya mengakui kekuasaan dharma kabuyutan atas lembah dan bukit di sekitar Desa Walandit.

    Akan tetapi, dalam perkembangan sejarah, para pejabat Desa Himad menguasai Walandit. Penduduk Walandit enggan mengakui kekuasaan pejabat-pejabat Hirnad dan menuduh mereka mencampuri urusan Desa Walandit. Sebagai bukti, mereka mengemukakan piagam yang dikeluarkan Raja Sindok dan kesaksian orang-orang cacat yang bekerja di dharma kabuyutan.

    Sengketa antara orang-orang Desa Walandit dan para pejabat Himad diputuskan di luar pengadilan. Keputusannya berupa piagam, yang disusun oleh Pamegat Tirwan bernama Wangsapati atas nama Samgat Jamba, Sambat Pamotan, Empu Kandangan, Rakrian Patih Empu Mada dan Sang Arya Rajadhikara.

    Dalam sengketa itu, para pejabat Himad dikalahkan. Orang-orang Walandit temp menjalankan pekerjaannya seperti sedia kala berdasarkan prasastii Raja Sindok yang dibubulii lencana. Hanya dharma kabuyutan yang mempunyai kuasa atas Desa Walandit dan segala macam cukai, terutama yang bernama tabil.

    Pada prasasti Walandit, sama sekali tidak disinggung kitab perundang-undangan Kutaramanawadharmasastra bab sahasa atau perampasan hak, mungkin karena keputusan itu diambil di luar pengadilan oleh para pejabat tinggi pemerintah, di antaranya rakrian patih Gadjah Mada.

    Uraian di atas memberikan informasi mengenai kitab perundang-undangan Kutara Manawa uraian singkat di atas setidaknya memberikan sebuah pandangan akan keteraturan serta hubungan antara sebuah masyarakat dan negaranya dan juga sebaliknya demi terciptanya sebuah tatanan yang melambangkan ketercapaian dalam keteraturan hidup.

    ånå toêtoêgé….

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • cantrik ndherek ngiyuP ki BAYUAJI…matur nuwun

      sugeng enjang,

    • Matur sembah nuwun dongengipun Ki Bayuaji, kulo tenggo tutugipun.

    • Matur nuwun Ki Bayu.

  17. NSSI djVU kolor….cantrik tunGGu wedar-mu

  18. Nyantap NaSiSIsa kemarin ….

  19. kolor-ipun sampun kula unduh….matur nuwun

  20. antri neng loket gandhok ngajeng…

  21. Assalamu’alaikum, selamat malam…
    wah dah lama ndak nyambang banyak kabar yang terlewatkan
    pha kabar semuanya…
    semoga cantrik mentrik semua diberi kesehatan dan keberkahan dari ALLAH SWT, Amin…

    • Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarakatuh

      @ Miss Nona

      Kabar baik. Insya Allah semua sanak kadang sehat-sehat semuanya. Punåkawan harap miss Nona demikian juga hendaknya.

      Salam, Rahmat dan Berkah Tuhan semoga melimpah kepada kita semua. Aamin.

      Punåkawan

  22. Matur nuwun Ki Seno,
    matur nuwun Ki Ajar pak Satpam,

    sampun ngundhuh “disini”
    sugeng dalu.

  23. Melekan sambi nyemak rontal ,matir niwin

  24. Ngapunten klentu matur nuwun .

  25. Sugêng énjang

  26. Sugeng enjang
    Matur nuwun P. Satpam, sampun nyomot versi DJVU.

  27. Tahun 60 an wiwit moco NSSI, tahun 70 an diulang-ulang lagi, tahun 20 an ngulang maning, saiki ngulang maning kok yo isih kesengsem terus yo.
    Ternyata NSSI memang paling top diantara karya SHM.

  28. Lho kok sedino gandok sepi podo durung kundur week end opo yo.
    Sugeng dalu poro kadang.

  29. Gandhok 6 isih kancingan rapet pet , ngglethak dhisik ah .

    SUGENG DALU .

    • SUGENG DALU…

      • Kula kawit wau mpun,

        mindhak-mindhik
        ngintap-ngintip
        mlebu-metu
        ceklak ceklik

        ning nggih tetep,
        tidak ada yang memenuhi selera anda.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: