NSSI-06

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 1 Mei 2011 at 22:31  Comments (86)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-06/trackback/

RSS feed for comments on this post.

86 KomentarTinggalkan komentar

  1. Nomer siji …………….

  2. Nuwun
    Sugêng wêngi, kasugêngan ing madyå ratri

    Indahnya suasana di tengah malam, saat orang-orang telah lelap dalam tidurnya, aku masih terjaga, aku masih ingin leluasa ‘curhat’ kepadaNya.

    Sejenak menatap ke langit dari balik jendela dan langsung melihat suasana malam di luar sana, kadang awan kelam menutupi, angin malam yang basah berdesir lembut, membawa rintik gerimis.

    Satu-satu bintang masih nampak di sela gugusan mega-mega. Kerlap-kerlip lampu di jalan.

    Di luar sana terdengar suara-suara parau penjual mié, wédhang rondé, kué putu atau saté. Satu atau dua hamba-hambaMu, ya Tuhan. Di saat-saat begini masih berkelana menyusuri jalanan, mengais rejeki yang Engkau tebarkan.

    Wangingya kembang terbawa semilir angin.
    Di dinginnya malam, di sunyi senyapnya malam, alangkah nikmatnya ketika Engkau masih mengijinkan aku dapat “berkencan” di malam ini denganMu.

    Tuhanku. Alangkah sangat sayang sekali jika aku lewatkan saat-saat seperti sekarang ini, malam yang Engkau sediakan untuk hamba-hambaMu.

    Wong Mukmin mau yèn bêngi anggoné turu mung sêthithik. Lan yèn wus ngancik ing madyaning wêngi utawa sêprapating wêngi kang wêkasan, dhéwèké pådhå nyuwun pangapuraning Gusti Pangéran.

    [Mereka (Orang-orang mukmin) sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir malam, mereka selalu memohon ampun kepadaNya ]

    [QS Adz Dzariyat (51) : 17-18).

    Bukankah Dia turun disetiap malam ke langit yang terendah, yaitu saat sepertiga malam terakhir, maka Dia pun berfirman:” Siapa yang berdoa kepadaKu maka Aku kabulkan, siapa yang meminta kepadaKu maka Aku berikan kepadanya, dan siapa yang meminta ampun kepadaKu maka Aku ampunkan untuknya

    Dan waktu yang paling tepat mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia bangun melaksanakan shalat pada sepertiga malam yang akhir.

    Jadikanlah pertemuan ini waktu yang selalu dinanti-nantikan dan dirindukan oleh hamba yang dirinya sangat dhaif dan penuh kekurangan dan kelemahan seperti diriku ini.

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

    Wêdaran kaping-3:
    GLAGAHWANGI KESULTANAN DÊMAK BINTÅRÅ (Bagian ke-2)

    Wedaran kaping-2: Glagahwangi Dêmak Bintårå (Bagian ke-1) On 28 April 2011 at 00:14 NSSI 04

    Kesultanan Demak di bawah pemerintahan Radèn Patah (1500 sd 1518)

    Berdasarkan Babad Tanah Jawi, yang menjabat sebagai sultan yang pertama Demak adalah Radèn Patah.

    Babad Tanah Jawi mengabarkan:

    Miturut caritå: Sang Prabu Kêrtawijåyå ing Majapait iku wis tau kråmå karo putri såkå ing Cêmpå (tanah Indhiyå Buri). Putri mau kapêrnah ibu alit karo Raden Rahmat utåwå Sunan Ngampêl (sacêdhaké Suråbåyå). Sunan Ngampèl kagungan putrå kakung siji, asmå Sunan Bonang, lan putrå putri siji, asmå Nyai Gêdhé Malaka. Nyai Gêdhé Malaka iku måråsêpuhé Radèn Patah utåwå Panêmbahan Jimbun, yåiku kang sinêbut: Sultan Demak kang kapisan. Sénåpati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panêmbahan Palèmbang Sayidin Panåtågåmå.

    Mengapa beliau menggunakan gelar Panêmbahan Palèmbang?
    Boleh jadi karena beliau mempunyai garis silsilah dari Palembang.

    Ada pun menurut Serat Pranitiradya, ia bergelar Sultan Syah Alam Akbar. dan dalam Hikayat Banjar disebut Sultan Surya Alam.

    Nama Patah sendiri berasal dari kata Arab, al-Fatah, artinya “Sang Pembuka”, sebagai gambaran bahwa ia adalah pembuka kerajaan bercorak Islam di Jawa.

    Pemakaian gelar sultan belum menjadi tradisi pada masa Radèn Patah, karena, menurut Lombard, pemakaian gelar sultan untuk raja-raja Jawa baru dimulai pada tahun 1524, yakni pada masa Trênggånå menjadi penguasa Demak (sementara penguasa Malaka telah memakai gelar itu kira-kira sejak 1456).

    Lokasi Kesultanan Demak yang strategis untuk perdagangan nasional, karena menghubungkan perdagangan antara Indonesia bagian Barat dengan Indonesia bagian Timur, serta keadaan Majapahit yang sudah hancur, maka Demak berkembang sebagai kerajaan besar di pulau Jawa, dengan rajanya yang pertama yaitu Radèn Patah. Ia bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah (1500 – 1518).

    Pada 1479 Radèn Patah meresmikan Masjid Agung Bintårå di Demak sebagai pusat pemerintahan.

    Sunan Ngampèl lan Sunan Bonang iku dadi panunggalané pårå wali. Pårå wali mau kang misuwur: Sunan Giri (sakidul Grêsik), ånå ing kono yåså kêdhaton lan mêsjid; Ki Pandan Arang (ing Sêmarang) lan Sunan Kali Jågå (ing Dêmak). Ing taun 1458 ing Dêmak wis ånå mêsjid bêcik.

    Ia juga memperkenalkan pemakaian kitab Salokantara sebagai pegangan undang-undang kerajaan (ada pula yang beranggapan bahwa Salokantara dibuat oleh Trênggånå, anak Radèn Patah). Kitab ini kini sudah raib tak jelas rimbanya.

    Sikap Radèn Patah kepada umat beragam lain pun sangat toleran. Misalnya, kuil Sam Po Kong tetap berfungsi sebagai kelenteng warga Cina. Suma Oriental memberitakan bahwa pada 1507 Paté Rodin Sr. alias Radèn Patah meresmikan Masjid Agung Demak yang baru saja diperbaiki.

    Radèn Patah juga tidak memerangi umat lain yang juga mayoritas, Hindu dan Buddha, sebagaimana wasiat Sunan Ngampel, gurunya. Walau sebelumnya, seperti yang tertera dalam babad dan serat, memberitakan ia menyerang Majapahit, hal tersebut dilatarbelakangi persaingan politik dalam menguasai Jawa, bukan karena sentimen agama.

    Lagi pula, Badad Tanah Jawi dan Serat Kanda memberitakan bahwa pihak Majapahitlah yang lebih dulu menyerang Giri Kedaton, sekutu Demak di Gresik.

    Pemberitaan penyerangan Majapahit oleh Demak, masih mengundang perdebatan para sejarahwan, baik mengenai kebenaran fakta sejarahnya, yang meliputi waktunya, tempat terjadinya peristiwa dan siapa tokoh-tokoh sejarah pelakunya.

    Suma Oriental lengkapnya Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins (“Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri Cina” kompendium (summa) yang ditulis oleh Tomé Pires pada tahun 1512-1515, berisi informasi tentang kehidupan di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara pada abad ke-16.

    Dikisahkan bahwa pada 1512, menantu Paté Radèn, yakni Pate Unus Bupati Jepara, menyerang benteng Portugis di Malaka. Tokoh Pate Unus ini identik dengan tokoh Yat Sun dalam kronik Cina, yang diberitakan menyerang bangsa asing di Moa-lok-sa tahun 1512.

    Perbedaannya hanyalah bahwa Pate Unus merupakan menantu Paté Rodin Sr. (menurut Pires), sedangkan Yat Sun adalah putra Jin Bun (menurut kronik Cina). Baik sumber Portugis maupun sumber Cina sama-sama menyebutkan bahwa armada Demak hancur dalam pertempuran di Selat Malaka itu.

    Menurut kronik Sam Po Kong, Jin Bun wafat pada 1518 dalam usia 63 tahun. Ia lalu digantikan oleh Yat Sun, yang dalam Babad Tanah Jawi bergelar Pangeran Sabrang Lor.

    Menurut babad dan serat, Radèn Patah memiliki tiga istri. Pertama adalah putri Sunan Ngampel, yang menjadi permaisuri, melahirkan Raden Surya dan Raden Trênggånå, yang masing-masing kemudian naik takhta, bergelar Pangeran Sabrang Lor dan Sultan Trênggånå. Istri yang kedua berasal dari Randu Sanga, yang melahirkan Raden Kanduruwan.

    Raden Kanduruwan pada masa pemerintahan Sultan Trênggånå berhasil menaklukkan Sumenep di Madura. Istri yang ketiga adalah putri bupati Jipang, yang melahirkan Raden Kikin dan Ratu Mas Nyawa.

    Setelah Pangeran Sabrang Lor wafat tahun 1521, Raden Kikin dan Raden Trênggånå berseteru memperebutkan takhta Demak.

    Raden Kikin akhirnya dibunuh oleh keponakannya sendiri, yaitu putra sulung Raden Trênggånå yang bernama Raden Mukmin alias Sunan Prawoto, di tepi sungai.

    Maka dari itu, Raden Kikin dijuluki “Pangéran Sêkar Sédå ing Lèpèn”, yang berarti bunga yang gugur di sungai. Sementara itu, kronik Cina menyebutkan dua orang putra Jin Bun, yaitu Yat Sun (Paté Unus/Sabrang Lor) dan Tung-ka-lo (Trênggånå ).

    Suma Oriental menyebutkan bahwa Paté Rodin memiliki putra yang bernama Paté Rodin Junior, dan seorang menantu bernama Pate Unus. Tulisan Pires ini menyebutkan bahwa usia Paté Rodin Jr. lebih tua daripada Pate Unus. Dengan kalimat lain dapat kita tafsirkan bahwa Sultan Trênggånå merupakan kakak ipar Pangeran Sabrang Lor.

    Kehidupan Politik

    Pada masa pemerintahan Radèn Patah Demak memiliki peranan yang penting dalam rangka penyebaran agama Islam khususnya di pulau Jawa, karena Demak berhasil menggantikan peranan Malaka, setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis 1511.

    Kehadiran Portugis di Malaka merupakan ancaman bagi Demak di pulau Jawa. Untuk mengatasi keadaan tersebut maka pada tahun 1513 Demak melakukan penyerangan terhadap Portugis di Malaka, dengan Panglima Perang Tertinggi Angkatan Perang Kesultanan Demak Sri Bupati Jepara Rêtnå Kêncånå yang lebih dikenal dengan nama Ratu Kalinyamat putri Sultan Trênggånå sendiri, adapun pemimpin pasukan armada laut Angkatan Laut Kesultanan Demak adalah Adipati Unus atau terkenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor.

    Pada rontal “Yang Terasing” Anggitan Ki Dhalang SH Mintardja (13 episode).

    Diceritakan oleh Ki Dhalang SH Mintardja tentang pergolakan yang terjadi di pesisir Utara sebelah Timur Demak melalui kata-kata Puranti:

    “Wiyatsih“ suara Puranti merendah “Demak yang sedang sibuk menenteramkan daerah bergolak dipesisir Utara sebelah Timur,……

    Bila yang dimaksud adalah pergolakan di pesisir Utara sebelah Timur, maka peristiwa itu terjadi pada tahun 1546, tatkala Pasukan Tentara Demak yang dipimpin langsung oleh rajanya sendiri, yakni Sultan Trênggånå melakukan penyerbuan ke wilayah Pasuruan dan Blambangan.

    Pada tahun-tahun di bawah kepemimpinan Sultan Trênggånå, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran, menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di Sunda Kelapa (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527 sd 1546). Panglima perang Demak pada waktu itu adalah Fatahillah, yang juga menjadi menantu Sultan Trênggånå.

    Pada saat yang demikian itu muncul tokoh perempuan dari Jepara (yakni suatu daerah yang menjadi bagian dari Kesultanan Demak) sebagai pejuang yang berusaha menyelamatkan tahta dari perang saudara.

    Dari sinilah Ki Dalang SHM terilhami adanya tokoh senopati perempuan dari Kesultanan Demak.

    Tetapi siapa tokoh perempuan dari Jepara itu?, yang pasti bukan Puranti atau Wiyatsih. Dia adalahRatu Kalinyamat

    ………

    Selama 30 tahun berkuasa, Ratu Kalinyamat telah berhasil membawa Jepara kepada puncak kejayaannya. Dengan armada lautnya yang sangat tangguh, Ratu Kalinyamat pernah dua sampai tiga kali menyerang Portugis di Malaka.

    Dari kisah perjalanan seorang jurnalis berkebangsaan Portugis penulis Portugis Diego de Couto, pernah dilukiskan bahwa Ratu Kalinyamat adalah seorang tokoh wanita yang sangat terkenal.

    Dia tidak hanya berparas cantik, tetapi juga berkepribadian “gagah berani” seperti yang dilukiskan sumber Portugis sebagai De Kranige Dame yang berarti seorang wanita yang pemberani.

    Kebesaran Ratu Kalinyamat, sebagai Rainha de Japara, senhora paderosa e rica yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita kaya dan sangat berkuasa.

    Kapal-kapal perang Ratu Kalinyamat ketika melakukan penyerbuan melawan orang-orang Portugis di perairan Laut Jawa, pada tiang-tiang utama kapal berkibar bendera dan umbul-umbul Sang Saka Gula-Kelapa bendera Sang Merah-Putih.

    Walaupun telah melakukan taktik pengepungan selama tiga bulan terhadap Portugis, ternyata ekspedisi tersebut mengalami kegagalan, dan pada akhirnya kembali ke Jawa.

    Seorang pemimpin ekspedisi militer Ratu Kalinyamat ke Malaka tersebut adalah Kyai Demang Laksamana Pangeran Sabrang Lor (sumber Portugis menyebut dengan nama Quilidamao).

    Serangan Demak terhadap Portugis walaupun mengalami kegagalan namun Demak tetap berusaha membendung masuknya Portugis ke pulau Jawa. Pada masa pemerintahan Adipati Unus (1518 – 1521), Demak melakukan blokade pengiriman beras ke Malaka sehingga Portugis kekurangan makanan.

    Kehidupan Ekonomi

    Seperti yang telah dijelaskan pada uraian materi sebelumnya, bahwa letak Demak sangat strategis di jalur perdagangan nusantara memungkinkan Demak berkembang sebagai kerajaan maritim.

    Dalam kegiatan perdagangan, Demak berperan sebagai penghubung antara daerah penghasil rempah di Indonesia bagian Timur dan penghasil rempah-rempah Indonesia bagian barat.

    Dengan demikian perdagangan Demak semakin berkembang. Dan hal ini juga didukung oleh penguasaan Demak terhadap pelabuhan-pelabuhan di daerah pesisir pantai pulau Jawa.

    Sebagai kerajaan Islam yang memiliki wilayah di pedalaman, maka Demak juga memperhatikan masalah pertanian, sehingga beras merupakan salah satu hasil pertanian yang menjadi komoditi dagang.

    Dengan demikian kegiatan perdagangannya ditunjang oleh hasil pertanian, mengakibatkan Demak memperoleh keuntungan di bidang ekonomi.

    Kehidupan Sosial Budaya

    Kehidupan sosial dan budaya masyarakat Demak lebih berdasarkan pada agama dan budaya Islam karena pada dasarnya Demak adalah pusat penyebaran Islam di pulau Jawa.

    Sebagai pusat penyebaran Islam Demak menjadi tempat berkumpulnya para wali seperti Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Bonang.

    Para wali tersebut memiliki peranan yang penting pada masa perkembangan Kesultanan Demak bahkan para wali tersebut menjadi penasehat bagi raja Demak.

    Dengan demikian terjalin hubungan yang erat antara raja/bangsawan – para wali/ulama dengan rakyat. Hubungan yang erat tersebut, tercipta melalui pembinaan masyarakat yang diselenggarakan di Masjid maupun Pondok Pesantren.
    Sehingga tercipta kebersamaan atau Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan di antara orang-orang Islam).

    Demikian pula dalam bidang budaya banyak hal yang menarik yang merupakan peninggalan dari Kesultanan Demak. Salah satunya adalah Masjid Demak, di mana salah satu tiang utamanya terbuat dari pecahan-pecahan kayu yang disebut Soko Tatal.

    Masjid Demak dibangun atas pimpinan Sunan Kalijaga. Di serambi depan Masjid (pendopo) itulah Sunan Kalijaga menciptakan dasar-dasar perayaan Sekaten (Maulud Nabi Muhammad saw) yang sampai sekarang masih berlangsung di Yogyakarta dan Cirebon.

    ånå toêtoêgé atawa to be continued [tü bi: kǝn’tinyu|ed]

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur suwun Ki Bayu
      nanti malam dipindah ke gandoknya.

      • pake insya Allah dik, ntar klo tau2 nter sore cakit lg gmn?😦😦

        njih Bu Lik, insya Allah
        SP

        • loh kok bu lik? … emang dik satpam punya pak lik yg msh muda, lom nikah tur ngganteng n baik hati n tidak sombong?🙂🙂

          • hadu…
            banyak sih
            tapi kalau syaratnya gitu ya sulit…😦

          • yg sulit yg mana?😦

          • syaratnya itu dan apa atau”

            – muda, dan
            – lom nikah, dan
            – ngganteng, dan
            – baik hati, dan
            – tidak sombong

            tidak punya stok (he he he .. kaya pedagang aja)

            kalau
            – muda, atau
            – lom nikah, atau
            – ngganteng, atau
            – baik hati, atau
            – tidak sombong

            muda, bisa juga sudah nikah, tidak ngganteng dsb

            lom nikah, tidak muda, tidak ngganteng, dll

            nganteng, tidak muda, dah nikah, dll

            dst…..
            buanyak tuh…, mau?

          • dan🙂🙂🙂

          • 😦😦😦

            susah nyarinya

    • Matur sembah nuwun Ki Bayuaji, dongengipun nembe kemawon rampung kulo sinaoni. Kulo tenggo tutugipun.

  3. Sugeng enjang, bade nggelar kloso rumiyin, gandok anyar wis resik disaponi Ki Bayuaji.
    Matur nuwun Ki Bayuaji, tambahan wawasan maneh.

  4. di nssi 5, ada arya🙂🙂 … muda, ganteng, bercita2 tinggi, rajin, pinter, dst dst …. hmmmmmm🙂🙂 … semoga ga playboy aja🙂🙂

    • hmmm….
      tentu..!
      pingin dikenalin ta?

      • ntar tunggu dulu, jgn2 dia playboy ?😦

        • wah…, harus cepetan
          kalau kelamaan, nanti keduluan Endang Widuri.
          Endang Widuri dah ngindik tu..

          • widuri tu sapa?

          • baca aja ndiri nti klo dah sampai waktunya
            pokoknya dia yang ngebet sama Arya

          • iiiih kan duluan mita😦 … td kirain widuri tu cucuna ki widura🙂

          • Mita…Widuri itu elok bagai rembulan..

  5. jenengku asline Arya Mangetan, nggantheng, isih enom, sugih mbrewu, ora playboy…tenan! ora goroh….

    • wikikiki …🙂 tenane🙂

      • tenan…jaranku ana 5, cap ferrari ana, lamborghini ana…sak panjalukke ana….

        • garwane mpun pinten ki ?🙂🙂

          • mbok pengalamanipun dipun ‘share’ ben dalem saged wonten gambaran nyata tentang kehidupan poligami🙂

          • semahe setunggal Ni/Ki…
            dereng bikak pendaftaran malih..

            napa wonten ingkang badhe ndaftar? ….

          • kok mung setunggal? …. lha jaranipun 5 sing numpaki sinten ? ….

          • dgn kekayaan yg berlimpah, biasanipun tiyang jaler menika trus pengen emah2 malih … ki samy dah kepikiran gitu ?🙂🙂

          • wah arya sing niki tipe rex***…setia setiap saat…he..he…

          • wah siip lah mugi2 rukun ngantos kaken ninen njih🙂 … eeeh ananging menapa mboten mubadzir jaran2 ipun?🙂🙂 …. mending sebagian dikentun teng pakan baru kangge menjelajah hutan … menapa dikentun teng padepokan bajra seta kemawon kangge mahesa semu n amping🙂🙂

    • napa namanya ga arya mangulon? …. bisa sekalian pergi haji?🙂🙂

      • margi griyane arah mangetan Ni/Ki Mita…wonten kompleks, lokasine paling wetan, madhep ngetan maneh…

        lajeng…kula dijenengke Arya Mangetan…..

        • nanging sholatipun tetep madep mangilen ta?🙂🙂

    • sugih mbrewu? …. niku taun pinten njih?🙂 … sakmenika mbrewu niku mboten sugih, …. tukang parkir mpun do mbrewu ….. ingkang sugih sakmenika niku nrilyun🙂🙂🙂

  6. arya tu klo dibayang2in kaya sapa ya ?🙂🙂🙂
    kaya irfan ga ya ?🙂

    • sek sek sek …
      tak padakke …!? kayane gak pada, kurang gagah
      pada P. Satpam gak ya….?? kayane ya gak pada,
      kaya Ade Ray..?! kayane ya gak pada,

      embuhlah….

      • weeh dik satpam meh ‘padha’ arya ? … berarti dik satpam guanteeeng ya ?🙂🙂 pergiwona da brp ?🙂

        • Pak Satpam ki gagah, kaya tugu neng sisih tengen kuwi lho…kuwi rak kagungane pak Satpam ta.?

          • tugunipun cemeng niku ?🙂

          • eh tp klo jadi satpam lbh pas klo hitam ya, kesannya serem … klo putih mah jadi binfil aja yah🙂🙂

          • arya tu putih apa item ya ?

          • Njihh…. tugune P Satpam cemeng 🙂

          • tugune gedhe, cemeng, tur jejeg..

  7. kabaripun dai kondang ingkang poligami nika pripun njih ?

    • Baik2 saja, selain dari pada itu…

      • pengen rujak…ayake, eeh kleru ding
        rujuk.

        • cuma keduanya pada ogah2an,
          termasuk Teh Ninih…hehee3x

          • ogah2an? … berarti ga ogah beneran ya?🙂

        • Injih Ki jeruk bali (……. , …….)

  8. Sayemboro : Sok sinteno ingkang saget manggihaken NSSI badhe sinengkaaken kawisudo dados Tumenggung ing Demak Bintoro .

    NUWUN .

    • NSSI dumunung ono tekad njero atimu….

      • senadyan kalingan wukir lan samudra,
        aja ndadek’ake kendhoning tekad,
        kang tuwuh sakjroning atimu.

        mbak Pramugari mbengok :
        Solo….Solo….Solo….
        penumpange kurang siji.

        • niku pramugari nopo kenek? kok towone mekaten?🙂🙂

          • pramugari angkot njih?🙂

          • ceritane, Ki Pandanalas nitih montor mabur tindak dhumateng kitha SOLO, saking Adi Sumarmo piyambak’ipun kesasar dumugi Kartosuro.
            Thenger-2 wonten protigan, bingung badhe ngidul napa ngulon,dumadak’an wonten angkot liwat.
            Nah Pramugari angkot ingkang mbengok-2 menarik perhatian Ki Pandan menika suryanipun tuwin suwantenipun persis Ni Mita.

            Selanjutnya…..?????
            terserah Ki PA.

          • haduuuu dipadake kenek😦😦

          • looh ki gm kok apal solo ta? … menapa gadah sederek wonten solo? … menapa nyaine saking solo?🙂 …. menapa ‘calon nyaine ning mboten sida’ saking solo?🙂🙂

          • Kadang2 kalau Reca ngGladhak
            kebelet “pipis” atau “puff”
            saya yang ngganti posisinya.

            (kadang2 juga kedhisikan Ki Menggung YuPram yang suka nyrobot, kadang Ki Menggung KartoJ yang nduluin)

            karepe Sinambi nglirik para kenya ingkang badhe blanja wonten pasar Klewer.

          • weeeh apal tenan🙂 … hayoo nyi gm dari solo ya?🙂

  9. Sugeng enjang, P. Satpam.
    Sugeng enjang kadang Cantrik/Mentrik.

    • sugeng enjang ugi, ki honggo menika lenggahipun wonten tlatah pundi ta?

    • sugeng enjing ki hanggopati
      sugeng enjing pak satpam
      sugeng enjing ki sanak sedoyo

  10. sugeng enjang, ngrantos rontal dejavu..

    • ki samy ditangleti teng nginggil kok mboten dipun jawab ta?😦

      • ow..injih Ni/Ki Mita…mangke kula wangsuli…

      • mbak Mita, ditangleti niku napa?
        napa bedane:
        di teng ditangleti (napa bukan dipun tangleti), kalian
        di teng dipun jawab (napa bukan dijawab).

        • aaaaa mbaleeeeeees, nganyelkeeeeeeeeeeeee😦😦😦

          • 😛😛😛

          • endi djvu nssi 6 ???

          • sampun wonten ing nginggil
            lho Ki Pandan.

  11. sugeng siang poro kadang sedoyo

  12. Matur nuwun Ki Ajar pak Satpam,

    rontal 06 sampun kaundhuh.

    Sugeng dalu para Kadhang sutresna.

    • Matur nuwun Ki Ajar pak Satpam,

      rontal 06 sampun kaundhuh.

      Sugeng dalu para Kadhang sutresni.

      • setujuuuuu….

  13. Matur sembah nuwun katur Ki Arema soho Pak Satpam. NSSI dumugi jilid 6 sampun kulo undhuh. Gambar kulit dan illustrasinya beda dengan yang pernah saya baca, lebih menarik yang diwedar Pak Satpam sekarang.

  14. Matur nuwun P. Satpam,
    sampun ngunduh NSSI 06.
    Sugeng enjang.

  15. Wah moco piwulange Ki Bayuaji, dadi kelingan jaman cilik mbiyen.
    Menulusuri wilayah Purwodadi ngulon, Godong Demak, terus ngetan teko Kudus ngalor Jeporo.

    Kapan yo biso liwat dalan kono meneh.
    Matur nuwun Ki Bayuaji.

  16. di nssi 6, … ternyata rara wilis tu cucu ki pandan ya … wuiiih cucuna cuantiiiik, berarti kakekna maybe guanteeeeng yah🙂 ….

    ternyata mahesa jenar naksir wilis yah🙂 …waaah waktu nolong dulu, niatnya ikhlas ga ya?🙂 … klo wilisna gemuk, tetep ditolong ga ya?🙂 …. ntar akhirna mereka jadian ga ya? … apa akan muncul tokoh cewe lagi yg jadi saingan wilis? …

    itu lembu sora nyebeeeeelin buangeeet deh, moga2 sanak kadang gs ga ada yg niru2 dia😦😦
    klo yg mirip ada ga ya ?🙂🙂

    arya napa nangis? … tak lelo lelo ledung yuk ?🙂

    • durung reti dedeg piadege Pandan Alas tho Mit….
      nek ketemu ojo kaget…langsung sekonyong2 koder

      • koder niku napa ta?

        • monggo kakang Suro Bengok,…panjenengan nglanggam “SEKONYONG-KONYONG KODER”

          • koder niku sejenis iwak ciliiik njih?🙂

  17. Sugeng dalu.
    Gandok anyar durung buka ya.

    • njih ki…..Pak Like durung sempet nyecan

      • ngendikane Pak Lik’e,

        numpak prau layar tekan Portugis
        dipun aturi sabar sak wetawis.

        • “Maaf, tidak ada tulisan yang memenuhi kriteria Anda…”

          tiwas SENENG tiba’e gemBOK-an


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: