NSSI-09

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 10 Mei 2011 at 14:24  Comments (40)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-09/trackback/

RSS feed for comments on this post.

40 KomentarTinggalkan komentar

  1. siJI….rek

    • horeeeeeeeeeeeee!!!!!!!!!!
      nomer siji…..!!!!!!
      (penjaga gardu rondha rasah dietung)

  2. selamat siANG…

    • Telah Terbit on 10 Mei 2011 at 14:24

      Sugeng Enjing Ki/Nyi/Ni sanak…. 🙂

  3. sugeng sonten poro kadang sedoyo

  4. sugeng dalu para kadhang,

    nunggu piwulang Ki Bayu bab tosan aji,
    Sangkelat, Nagasasra, Sabukinten, Setan Kober
    sak kancane.

    Kula rantos lho Ki Bayu,
    nuwun.

  5. Met malam.

  6. Geng dalu

  7. Assalamualaikum wr. wb.
    Gandok isih sepi,
    Tapi mripat kok wis ngantuk, pamitan sekalian ah.

  8. Nuwun
    Sugêng siyang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

    Wêdaran kaping-5:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-1)

    Wedaran kaping-1: Sumunaring Abhayagiri ring Ratu Boko. On 18 April 2011 at 09:51. NSSI 01
    Wedaran kaping-2: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-1) On 28 April 2011 at 00:14 NSSI 04
    Wedaran kaping-3: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-2) On 2 Mei 2011 at 01:26 NSSI 06
    Wedaran kaping-4: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-3) On 7 Mei 2011 at 09:47 NSSI 08

    ***

    Aku ora bali ing Kraton Dêmak Bintårå kalamun durung bisa nggåwå kêris Kyai Någåsåsrå kalawan Kyai Sabuk Intên” Demikan prasetya Mahesa Djenar Rangga Tohjaya dalam tekadnya untuk mengembalikan kedua pusaka kerajaan yang jêngkar dari walangkan gudang pusaka Kesultanan Dêmak Bintårå. Pernahkah terfikirkan, bahwa kedua keris “sakti” tersebut benar-benar ada?

    ***

    Mengikuti “perjalanan” Ki Rangga Tohjaya Mahesa Djenar mencari Keris Kyai Någåsåsrå dan Kyai Sabuk Intên. Cantrik Bayuaji akan mendongeng tentang dunia perkerisan yang dalam bahasa Jawa dikenal sebagai kawruh padhuwungan.

    Keris adalah senjata tikam golongan belati yang berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya. Banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berliku-liku (berluk), dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene) yaitu guratan-guratan logam cerah pada helai bilah.

    Jenis senjata tikam yang memiliki kemiripan dengan keris adalah antara lain belati, badik, rencong dan kujang. Sedangkan senjata tajam lainnya yang kita kenal misalnya parang, golok, mandau, arit, clurit, tombak dan tombak trisula.

    Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sêsajèn. Pada penggunaan masa kini, keris demikian juga senjata sejenis yang telah disebut di atas lebih merupakan benda agêman (perlengkapan berbusana), memiliki sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.

    Penggunaan keris tersebar pada masyarakat penghuni wilayah yang pernah terpengaruhi oleh Majapahit, didahului oleh Singasari dan Kadiri, seperti Jawa, Madura, Nusa Tenggara (Bali, Lombok, Mataram), Sumatra, pesisir Kalimantan, sebagian Sulawesi, Semenanjung Tanah Melayu, Thailand bagian Selatan, dan Mindanao Filipina Selatan. Keris Mindanao dikenal sebagai kalis. Keris di setiap daerah memiliki kekhasan sendiri-sendiri dalam penampilan, fungsi, teknik garapan, serta peristilahan.

    Pada tahun 2005 Keris Indonesia telah terdaftar di Badan PBB UNESCO sebagai Warisan Budaya Manusia Nir-Benda (Intangible Heritage of Humanity), dan warisan budaya yang sebelumnya adalah Wayang (tahun 2003); kemudian Batik (tahun 2009), Angklung (tahun 2010). Insya Allah pada Nopember 2011 yang akan datang Tari Saman dari NAD akan dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Manusia Nir-Benda asli Indonesia.

    1. Asal-usul dan Fungsi

    Keris dan tosan aji serta senjata tradisional lainnya menjadi khasanah budaya Indonesia, tentunya setelah nenek moyang kita mengenal besi. Berbagai bangunan candi batu yang dibangun pada zaman sebelum abad ke-10 membuktikan bahwa manusia penghuni wilayah yang kelak bernama Indonesia, pada waktu itu telah mengenal peralatan besi yang cukup bagus, sehingga mereka dapat menciptakan karya seni pahat yang bernilai tinggi.

    Namun apakah ketika itu mereka tealh mengenal budaya keris sebagaimana yang kita kenal sekarang. Para ahli baru dapat meraba-raba. Gambar timbul (relief) paling kuno yang memperlihatkan peralatan besi terdapat pada prasasti batu yang ditemukan di Desa Dakuwu, di daerah Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Melihat bentuk tulisannya, diperkirakan prasasti tersebut dibuat pada sekitar tahun 500 M. Huruf yang digunakan, huruf Pallawa. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Sanskerta.

    Prasasti Dakuwu (abad ke-VI) menyebutkan tentang adanya sebuah mata air yang bersih dan jernih. Di atas tulisan prasasti itu ada beberapa gambar, yang menunjukkan ikonografi India yang menampilkan “wêsi aji” seperti trisulå, kapak, sabit kudhi, arit, dan bêlati atau pisau yang bentuknya amat mirip dengan keris buatan Nyi Sombro, seorang empu wanita dari zaman Pajajaran, sehingga dikenal dengan sebutan kêris sombro.

    Ada pula terlukis kêndi, kålåsangkå, dan padma. Kendi, dalam filosofi Jawa Kuno adalah lambang ilmu pengetahuan, kalasangka melambangkan keabadian, sedangkan bunga teratai lambang harmoni dengan alam.

    Meskipun demikian, asal-usul keris belum sepenuhnya terjelaskan karena tidak ada sumber tertulis yang deskriptif mengenainya dari masa sebelum abad ke-15, meskipun penyebutan istilah “keris” telah tercantum pada prasasti dari abad ke-9. Kajian ilmiah perkembangan bentuk keris kebanyakan didasarkan pada analisis figur di relief candi atau patung. Sementara itu, pengetahuan mengenai fungsi keris dapat dilacak dari beberapa prasasti dan laporan-laporan penjelajah asing ke Nusantara.

    Senjata tajam dengan bentuk yang diduga menjadi sumber inspirasi pembuatan keris dapat ditemukan pada peninggalan-peninggalan perundagian dari Kebudayaan Dongson dan Tiongkok Selatan. Dugaan pengaruh kebudayaan Tiongkok Kuno dalam penggunaan senjata tikam, sebagai cikal-bakal keris, dimungkinkan masuk melalui kebudayaan Dongson (Vietnam) yang merupakan “jembatan” masuknya pengaruh kebudayaan Tiongkok ke Nusantara.

    Sejumlah keris masa kini untuk keperluan sêsajèn memiliki gagang berbentuk manusia (tidak distilir seperti keris modern), sama dengan belati Dongson, dan menyatu dengan bilahnya.

    Sikap menghormati berbagai benda-benda garapan logam dapat ditelusuri sebagai pengaruh India, khususnya Siwaisme. Para sejarawan umumnya bersepakat, keris dari periode pra-Singasari dikenal sebagai “keris Buda”, yang berbentuk pendek dan tidak berluk (lurus), dan dianggap sebagai bentuk awal (prototipe) keris. Beberapa belati temuan dari kebudayaan Dongson memiliki kemiripan dengan keris Buda dan keris sajen. Keris sajen memiliki bagian pegangan dari logam yang menyatu dengan bilah keris.

    2. Teori-teori Keberadaan dan Perkembangan Keris dan Tosan Aji

    Sudah banyak ahli kebudayaan yang membahas tentang sejarah keberadaan dan perkembangan keris dan tosan aji lainnya. G.B. Gardner pada tahun 1936 pernah berteori bahwa keris adalah perkembangan bentuk dari senjata tikam zaman prasejarah, yaitu tulang ekor atau sengat ikan pari dihilangkan pangkalnya, kemudian dibalut dengan kain pada tangkainya. Dengan begitu senjata itu dapat digenggam dan dibawa-bawa. Maka jadilah sebuah senjata tikam yang berbahaya, menurut ukuran kala itu.

    Sementara itu Griffith Wilkens pada tahun 1937 berpendapat bahwa budaya keris baru timbul pada abad ke-14 dan 15. Dia berpendapat bahwa, bentuk keris merupakan pertumbuhan dari bentuk tombak yang banyak digunakan oleh bangsa-bangsa yang mendiami kepulauan antara Asia dan Australia.

    Dari mata lembing itulah kelak timbul jenis senjata pendek atau senjata tikam, yang kemudian dikenal dengan nama keris. Alasan lainnya, lembing atau tombak yang tangkainya panjang, tidak mudah dibawa kemana-mana. Sukar dibawa menyusup masuk hutan. Karena pada waktu itu tidak mudah orang mendapatkan bahan besi, maka mata tombak dilepas dari tangkainya sehingga menjadi senjata genggam.

    Lain lagi pendapat A.J. Barnet Kempers. Pada tahun 1954 ahli purbakala itu menduga bentuk prototipe keris merupakan perkembangan bentuk dari senjata penusuk pada zaman perunggu. Keris yang hulunya berbentuk patung kecil yang menggambarkan manusia dan menyatu dengan bilahnya, oleh Barnet Kempers bukan dianggap sebagai barang yang luar biasa. Katanya, senjata tikam dari kebudayaan perunggu Dongson juga berbentuk mirip itu. Hulunya merupakan patung kecil yang menggambarkan manusia sedang berdiri sambil malang-kêrik (berkacak pinggang). Sedangkan senjata tikam kuno yang pernah ditemukan di Kalimantan, pada bagian hulunya juga distilir dari bentuk orang berkacak pinggang.

    Perkembangan bentuk dasar senjata tikam itu dapat dibandingkan dengan perkembangan bentuk senjata di Eropa. Di benua itu, dulu, pedang juga distilir dari bentuk manusia dengan kedua tangan terentang lurus ke samping. Bentuk hulu pedang itu, setelah menyebarnya agama Kristen, kemudian dikembangkan menjadi bentuk yang serupa salib.

    Dalam kaitannya dengan bentuk keris di Indonesia, hulu keris yang berbentuk manusia (yang distilir), ada yang berdiri, ada yang membungkuk, dan ada pula yang berjongkok, Bentuk ini serupa dengan patung megalitik yang ditemukan di Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta.

    Dalam perkembangan kemudian, bentuk-bentuk itu makin distilir lagi dan kini menjadi bentuk hulu keris (Di Pulau Jawa disebut dêdêr, jêjêran, atau ukiran dengan ragam hias antara lain cêcêk, påtrå gandul, påtrå ageng, dan umpak-umpak).

    Dalam sejarah budaya kita, patung atau arca orang berdiri dengan agak membungkuk, oleh sebagian ahli, diartikan sebagai lambang orang mati. Sedangkan patung yang menggambarkan manusia dengan sikap sedang jongkok dengan kaki ditekuk, dianggap melambangkan kelahiran, persalinan, kesuburan, atau kehidupan. Sama dengan sikap bayi atau janin dalam kandungan ibunya.

    Ada sebagian ahli bangsa Barat yang tidak yakin bahwa keris sudah dibuat di Indonesia sebelum abad ke-14 atau 15. Mereka mendasarkan teorinya pada kenyataan bahwa tidak ada gambar yang jelas pada relief candi-candi yang dibangun sebelum abad ke-10.

    Sir Thomas Stamford Raffles dalam bukunya History of Java (1817) mengatakan, tidak kurang dari 30 jenis senjata yang dimiliki dan digunakan prajurit Jawa waktu itu, termasuk juga senjata api. Tetapi dari aneka ragam senjata itu, keris menempati kedudukan yang istimewa.

    Disebutkan dalam bukunya itu, prajurit Jawa pada umumnya menyandang tiga buah keris sekaligus. Keris yang dikenakan di pinggang sebelah kiri, berasal dari pemberian mertua waktu pernikahan (dalam budaya Jawa disebut kancing gêlung). Keris yang dikenakan di pinggang kanan, berasal dari pemberian orang tuanya sendiri. Selain itu berbagai tata cara dan etika dalam dunia perkerisan juga termuat dalam buku Raffles itu.

    Sayangnya dalam buku yang terkenal itu, penguasa Inggris itu tidak menyebut-nyebut tentang sejarah dan asal usul budaya keris. Sementara itu istilah ‘keris’ sudah dijumpai pada beberapa prasasti kuno. Lempengan perunggu bertulis yang ditemukan di Karangtengah, berangka tahun 748 Ç, atau 842 M, menyebut-nyebut beberapa jenis sesaji untuk menetapkan Poh sebagai daerah bebas pajak, sesaji itu antara lain berupa ‘krés’, wangkiul, téwèk punukan, wêsi penghatap.
    Krés yang dimaksudkan pada kedua prasasti itu adalah keris. Sedangkan wangkiul adalah sejenis tombak, i>téwèk punukan adalah senjata bermata dua, semacam dwisula.

    Pada lukisan gambar timbul (relief) Candi Borobudur, Jawa Tengah, di sudut bawah bagian tenggara, tergambar beberapa orang prajurit membawa senjata tajam yang serupa dengan keris yang kita kenal sekarang. Di Candi Prambanan, Jawa Tengah, juga tergambar pada reliefnya, raksasa membawa senjata tikam yang serupa benar dengan keris. Di Candi Sewu, dekat Candi Prambanan, juga ada. Arca raksasa penjaga, menyelipkan sebilah senjata tajam, mirip keris.

    Sementara itu edisi pertama dan kedua yang disusun oleh Prof. P.A van Der Lith menyebutkan, sewaktu stupa induk Candi Borobudur, yang dibangun tahun 875 M, itu dibongkar, ditemukan sebilah keris tua. Keris itu menyatu antara bilah dan hulunya. Tetapi bentuk keris itu tidak serupa dengan bentuk keris yang tergambar pada relief candi. Keris temuan ini kini tersimpan di Museum Ethnografi, Leiden, Belanda.

    Keterangan mengenai keris temuan itu ditulis oleh Dr. H.H. Juynbohl dalam Katalog Kerajaan (Belanda) jilid V, Tahun 1909. Di katalog itu dikatakan, keris itu tergolong ‘keris Majapahit‘, hulunya berbentuk patung orang, bilahnya sangat tua. Salah satu sisi bilah telah rusak.

    Keris, yang diberi nomor seri 1834, itu adalah pemberian G.J. Heyligers, sekretaris kantor Residen Kedu, pada bulan Oktober 1845. Yang menjadi residennya pada waktu itu adalah Hartman. Ukuran panjang bilah keris temuan itu 28.3 cm, panjang hulunya 20,2 cm, dan lebarnya 4,8 cm. Bentuknya lurus, tidak memakai luk.

    Mengenai keris ini, banyak yang menyangsikan apakah sejak awalnya memang telah diletakkan di tengah lubang stupa induk Candi Borobudur. Barnet Kempres sendiri menduga keris itu diletakkan oleh seseorang pada masa-masa kemudian, jauh hari setelah Candi Borobudur selesai dibangun. Jadi bukan pada waktu pembangunannya.

    Ada pula yang menduga, budaya keris sudah berkembang sejak menjelang tahun 1.000 Masehi. Pendapat ini didasarkan atas laporan seeorang musafir Cina pada tahun 922 Masehi. Jadi laporan itu dibuat kira-kira zaman Kahuripan berkembang di tepian Kali Brantas, Jawa Timur.

    Menurut laporan itu, ada seseorang Maharaja Jawa menghadiahkan kepada Kaisar Tiongkok “a short swords with hilts of rhinoceros horn or gold (pedang pendek dengan hulu terbuat dari dari cula badak atau emas). Bisa jadi pedang pendek yang dimaksud dalam laporan itu adalah protoptipe keris seperti yang tergambar pada relief Candi Borobudur dan Prambanan.

    Sebilah keris yang ditandai dengan angka tahun pada bilahnya, dimiliki oleh seorang Belanda bernama Knaud di Batavia (pada zaman Belanda dulu). Pada bilah keris itu selain terdapat gamabar timbul wayang, juga berangka tahun 1264 Ç, atau 1324 M. Jadi kira-kira sezaman dengan saat pembangunan Candi Penataran di dekat kota Blitar, Jawa Timur. Pada candi ini memang terdapat patung raksasa Kala yang menyandang keris pendek lurus.

    Gambar yang jelas mengenai keris dijumpai pada sebuah patung siwa yang berasal dari zaman Kerajaan Singasari, pada abad ke-14. Digambarkan dengan Dewa Siwa sedang memegang keris panjang di tangan kanannya. Jelasini bukan tiruan patung Dewa Siwa dari India, karena di India tak pernah ditemui adanya patung Siwa memegang keris. Patung itu kini tersimpan di Museum Leiden, Belanda.

    Pada zaman-zaman berikutnya, makin banyak candi yang dibangun di Jawa Timur, yang memiliki gambaran keris pada dinding reliefnya. Misalnya pada Candi Jago atau Candi Jajagu, yang dibangun tahun 1268 M. Di candi itu terdapat relief yang menggambarkan Pandawa (tokoh wayang) sedang bermain dadu. Punakawan yang terlukis di belakangnya digambarkan sedang membawa keris. Begitu pula pada candi yang terdapat di Tegalwangi, Pare, dekat Kediri, dan Candi Panataran. Pada kedua candi itu tergambar relief tokoh-tokoh yang memegang keris.

    Gambar timbul mengenai cara pembuatan keris, dapat disaksikan di Candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada candra sengkala memet di candi itu, terbaca angka tahun 1316 Ç atau 1439 M.

    Cara pembuatan keris yang digambarkan di candi itu tidak jauh berbeda dengan cara pembuatan keris keris pada zaman sekarang. Baik peralatan kerja, palu dan ububan, maupun hasil karyanya berupa keris, tombak, kudi, dll.

    3. Prototipe Keris dari Masa pra-Majapahit

    Karya-karya ukir dari milenium pertama penanggalan Masehi kebanyakan menampilkan bentuk-bentuk senjata tikam dan “wêsi aji” lainnya dari India. Meskipun demikian diketahui terdapat satu panel relief Candi Borobudur (abad ke-9) yang memperlihatkan seseorang memegang benda serupa keris.

    Dari abad yang sama, Prasasti Karangtengah, berangka tahun 824 M menyebut istilah “keris” dalam suatu daftar peralatan. Prasasti Poh (904 M) menyebut “keris” sebagai bagian dari sesaji yang perlu dipersembahkan. Walaupun demikian, tidak diketahui apakah “keris” itu mengacu pada benda seperti yang dikenal sekarang.

    Dalam padhuwungan (pengetahuan perkerisan Jawa), keris dari masa pra-Kadiri-Singasari dikenal sebagai “keris Buda” atau “keris sombro”. Keris-keris ini tidak berpamor dan sederhana. Keris Buda dianggap sebagai bentuk awal keris modern.

    Keris Buda memiliki kemiripan bentuk dengan berbagai gambaran belati yang terlihat pada candi-candi di Jawa sebelum abad ke-11. Belati pada candi-candi ini masih memperlihatkan ciri-ciri senjata India, belum mengalami indigenisasi “pemribumian”.

    Adanya berbagai penggambaran berbagai “wêsi aji” sebagai komponen ikon-ikon dewa Hindu telah membawa sikap penghargaan terhadap berbagai senjata, termasuk keris kelak. Meskipun demikian, tidak ada bukti autentik mengenai evolusi perubahan dari belati gaya India menuju keris buda ini.

    Kajian ikonografi bangunan dan gaya ukiran di masa Kadiri-Singasari (abad ke-13 sampai ke-14) menunjukkan kecenderungan pemribumian dari murni India menuju gaya Jawa, tidak terkecuali dengan bentuk keris. Salah satu patung Siwa dari periode Singasari (abad ke-14 awal) memegang “wêsi aji” yang mirip keris, berbeda dari penggambaran masa sebelumnya. Salah satu relief rendah (bas-relief) di dinding Candi Penataran juga menunjukkan penggunaan senjata tikam serupa keris.

    ånå tjandhaké

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  9. Nuwun
    Sugêng siyang
    Nyuwun sèwu, dua “episode” tentang keris saya wêdar pada kesempatan kali ini, bukan karena alasan kejar tayang, tetapi bahan jadinya sudah gêmléthak di sanggar, diimbu kelamaan takut jadi dalon.

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

    Wêdaran kaping-6:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-2)

    Wedaran kaping-1: Sumunaring Abhayagiri ring Ratu Boko. On 18 April 2011 at 09:51. NSSI 01
    Wedaran kaping-2: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-1) On 28 April 2011 at 00:14 NSSI 04
    Wedaran kaping-3: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-2) On 2 Mei 2011 at 01:26 NSSI 06
    Wedaran kaping-4: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-3) On 7 Mei 2011 at 09:47 NSSI 08
    Wedaran kaping-5: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-1) On 11 Mei 2011 at 11:13 NSSI 09

    4. Keris ‘Modern’

    Keris modern yang dikenal saat ini diyakini para sejarawan memperoleh bentuknya pada masa Majapahit (abad ke-14) dan Kesultanan Mataram Baru (abad ke-17 dan ke-18), meskipun relief di Candi Bahal peninggalan Kerajaan Panai/Pane (abad ke-11 M), sebagai bagian dari kerajaan Sriwijaya, di Portibi Sumatera Utara, menunjukan indikasi bahwa pada abad 10-11 keris sebagaimana yang dikenal sekarang sudah menemukan bentuknya.

    Dari abad ke-15, salah satu relief di Candi Sukuh, yang merupakan tempat pemujaan dari masa akhir Majapahit, dengan gamblang menunjukkan seorang empu tengah membuat keris.

    Relief ini pada sebelah kiri menggambarkan Bhima sebagai personifikasi empu tengah menempa besi, Ganesha di tengah, dan Arjuna tengah memompa tabung peniup udara untuk tungku pembakaran. Dinding di belakang empu menampilkan berbagai benda logam hasil tempaan, termasuk keris. Hal ini menjadi alasan para ahli untuk menyatakan bahwa bentuk keris yang dikenal sekarang telah mencapai perkembangan modernnya pada masa Majapahit.

    Cerita mengenai keris yang lebih jelas dapat dibaca dari laporan seorang musafir Cina bernama Ma Huan. Ma Huan, dipercaya sebagai juru-tulis Laksamana Cheng Ho, dalam laporan muhibahnya Ying-Yai Sheng-Lan (1433): The Overall Survey of the Ocean’s Shores. (Laporan Umum Tentang Pantai-pantai Lautan), di tahun 1416 M ia menuliskan pengalamannya sewaktu mengunjungi Kerajaan Majapahit.

    Ketika itu ia datang bersama rombongan Laksamana Cheng-ho atas perintah Kaisar Yen Tsung dari dinasti Ming. Di Majapahit, Ma Huan menyaksikan bahwa hampir semua lelaki di negeri itu memakai pu-la-t’ou , sejak masih kanak-kanak, bahkan sejak berumur tiga tahun. Yang disebut pu-la-t’ou oleh Ma Huan adalah semacam belati lurus atau berkelok-kelok. Jelas yang dimaksud adalah keris.

    Ma Huan, dipercaya sebagai juru-tulis Laksamana Cheng Ho, dalam laporan muhibahnya Ying-Yai Sheng-Lan (1433): The Overall Survey of the Ocean’s Shores. (Laporan Umum Tentang Pantai-pantai Lautan), melaporkan:

    Penduduk Majapahit telah memakai kain dan baju, kaum lelaki berambut panjang dan diuraikan, sedangkan perempuannya bersanggul. Setiap laki-laki mulai yang anak yang berumur 3 tahun ke atas, baik orang berada atau orang kebanyakan, mereka mengenakan pu-la-t’ou yang diselipkan pada ikat pinggang terbuat dari baja, dengan pola yang rumit dan bergaris-garis halus pada daunnya dengan pegangannya yang diukir indah-indah, hulunya terbuat terbuat dari emas, cula badak, atau gading. yang diukir berbentuk manusia atau wajah raksasa dengan garapan yang sangat halus dan rajin.

    Ma Huan menyebutkan bahwa orang-orang Majapahit selalu mengenakan pu-la-t’ou (ejaan Cina untuk “belati”). Terdapat deskripsi yang menunjukkan bahwa “belati” ini adalah keris dan teknik pembuatan pamor telah berkembang baik.

    Laporan ini membuktikan bahwa pada zaman itu telah dikenal teknik pembuatan senjata tikam dengan hiasan pamor dengan gambaran garis-garis amat tipis serta bunga-bunga keputihan. Senjata ini dibuat dengan baja berkualitas prima. Pegangannya, atau hulunya, terbuat dari emas, cula badak, atau gading.Tak pelak lagi, tentunya yang dimaksudkan Ma Huan dalam laporannya adalah keris yang kita kenal sekarang ini.

    Tome Pires, penjelajah Portugis dari abad ke-16, dari muhibah pelayarannya, ia menulis sebuah buku tengara di perdagangan Asia, Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins (Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri Cina). Dia menulis buku di Malaka dan India antara 1512 dan 1515, menyelesaikannya sebelum kematian Afonso de Albuquerque (Desember 1515).

    Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins adalah kompendium (summa) yang berisi informasi tentang kehidupan di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara pada abad ke-16. Naskah ini sebenarnya merupakan laporan resmi yang ditulis Tomé Pires kepada Raja Emanuel tentang potensi peluang ekonomi di wilayah yang baru dikenal oleh Portugis.

    Dalam laporannya itu Tomé Pires menyinggung tentang kebiasaan penggunaan keris oleh laki-laki Jawa. Deskripsinya tidak jauh berbeda dari yang disebutkan Ma Huan seabad sebelumnya.

    … setiap laki-laki di Jawa, tidak peduli kaya atau miskin, harus memiliki sebilah keris di rumahnya … dan tidak ada satu pun laki-laki berusia antara 12 dan 80 tahun bepergian tanpa sebilah keris di sabuknya. Keris diletakkan di punggung, seperti belati di Portugal……

    Berita-berita Portugis dan Prancis dari abad ke-17 telah menunjukkan penggunaan meluas pamor dan pemakaian pegangan keris dari kayu, tanduk, atau gading di berbagai tempat di Nusantara.

    5. Bahan, Pembuatan, dan Perawatan

    Logam dasar yang digunakan dalam pembuatan keris adalah besi dan baja. Untuk membuatnya ringan para empu selalu mencampur bahan dasar ini dengan logam lain. Keris masa kini (nèm-nèman, dibuat sejak abad ke-20) biasanya memakai campuran nikel. Keris masa lalu (kêris kunå) yang baik memiliki campuran batu meteorit yang diketahui memiliki kandungan titanium yang tinggi, di samping nikel, kobal, perak, timah putih, kromium, antimonium, dan tembaga. Batu meteorit yang terkenal adalah meteorit Prambanan, yang pernah jatuh pada abad ke-19 di kompleks percandian Prambanan.

    Pembuatan keris bervariasi dari satu empu ke empu lainnya, tetapi terdapat prosedur yang biasanya bermiripan. Berikut adalah proses secara ringkas menurut salah satu pustaka. Bilah besi sebagai bahan dasar diwasuh atau dipanaskan hingga berpijar lalu ditempa berulang-ulang untuk membuang pengotor (misalnya karbon serta berbagai oksida). Setelah bersih, bilah dilipat seperti huruf U untuk disisipkan lempengan bahan pamor di dalamnya. Selanjutnya lipatan ini kembali dipanaskan dan ditempa. Setelah menempel dan memanjang, campuran ini dilipat dan ditempa kembali berulang-ulang.

    Cara, kekuatan, dan posisi menempa, serta banyaknya lipatan akan memengaruhi pamor yang muncul nantinya. Proses ini disebut saton. Bentuk akhirnya adalah lempengan memanjang. Lempengan ini lalu dipotong menjadi dua bagian, disebut kodhokan. Satu lempengan baja lalu ditempatkan di antara kedua kodhokan seperti roti sandwich, diikat lalu dipijarkan dan ditempa untuk menyatukan. Ujung kodhokan lalu dibuat agak memanjang untuk dipotong dan dijadikan ganja. Tahap berikutnya adalah membentuk pési, bèngkék (calon gandhik), dan terakhir membentuk bilah apakah berluk atau lurus. Pembuatan luk dilakukan dengan pemanasan.

    Tahap selanjutnya adalah pembuatan ricikan (ornamen-ornamen) dengan menggarap bagian-bagian tertentu menggunakan kikir, gerinda, serta bor, sesuai dengan dhapur keris yang akan dibuat. Silak wåjå dilakukan dengan mengikir bilah untuk melihat pamor yang terbentuk. Ganja dibuat mengikuti bagian dasar bilah. Ukuran lubang disesuaikan dengan diameter pesi. Tahap terakhir, yaitu nyêpuhi (“menuakan”), dilakukan agar keris tampak tua. Pada keris Filipina tidak dilakukan proses ini.

    Nyepuhi dilakukan dengan memasukkan bilah ke dalam campuran belerang, garam, dan perasan jeruk nipis (disebut kamalan). Nyepuhi juga dapat dilakukan dengan memijarkan keris lalu dicelupkan ke dalam cairan (air, air garam, atau minyak kelapa, tergantung empu yang membuat). TIndakan nyepuhi harus dilakukan dengan hati-hati karena bila salah dapat membuat keris retak.

    Pemberian warangan dan minyak pewangi dilakukan sebagaimana perawatan keris pada umumnya. Perawatan keris dalam tradisi Jawa dilakukan setiap tahun, biasanya pada bulan Surå, meskipun hal ini bukan keharusan. Istilah perawatan keris adalah “memandikan” keris, meskipun yang dilakukan sebenarnya adalah membuang minyak pewangi lama dan karat pada bilah keris, biasanya dengan cairan asam (secara tradisional menggunakan air buah kelapa, hancuran buah mengkudu, atau perasan jeruk nipis).

    Bilah yang telah dibersihkan kemudian diberi warangan bila perlu untuk mempertegas pamor, dibersihkan kembali, dan kemudian diberi minyak pewangi untuk melindungi bilah keris dari karat baru. Minyak pewangi ini secara tradisional menggunakan minyak melati atau minyak cendana yang diencerkan pada minyak kelapa.

    6. Morfologi

    Keris dalam bahasa Jawa juga disebut dhuwung terdiri dari tiga bagian utama, yaitu:
    wilah, bilah atau daun keris,
    gånjå, “penopang”, dan
    ukiran, hulu atau pegangan keris.

    Bagian yang harus ada adalah bilah. Hulu keris dapat terpisah maupun menyatu dengan bilah. Ganja tidak selalu ada, tapi keris-keris yang baik selalu memilikinya. Keris sebagai senjata dan alat upacara dilindungi oleh warångkå atau sarung keris.

    Bilah keris merupakan bagian utama yang menjadi identifikasi suatu keris. Pengetahuan mengenai dhapur (bentuk) atau morfologi keris menjadi hal yang penting untuk keperluan identifikasi. Bentuk keris memiliki banyak simbol spiritual selain nilai estetika.

    Hal-hal umum yang perlu diperhatikan dalam morfologi keris adalah luk (kelokan), ricikan (ornamen), warna atau pancaran bilah, serta pola pamor. Kombinasi berbagai komponen ini menghasilkan sejumlah bentuk dhapur (standar) keris yang banyak dipaparkan dalam pustaka-pustaka mengenai keris.

    Pengaruh waktu memengaruhi gaya pembuatan. Gaya pembuatan keris tercermin dari konsep tangguh, yang biasanya dikaitkan dengan periodisasi sejarah maupun geografis, serta empu yang membuatnya.

    7. Pegangan Keris atau Hulu Keris

    Pegangan keris (bahasa Jawa: gaman) ini bermacam-macam motifnya, untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai dewa, pedande (pendeta), raksasa, penari, pertapa hutan dan ada yang diukir dengan kinatah êmas dan batu mulia dan biasanya bertatahkan batu mirah delima.

    Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking (kepala bagian belakang), jiling, cigir, céték, bathuk (kepala bagian depan), wêtêng dan bungkul.

    8. Warångkå

    Warangka, atau sarung keris (bahasa Banjar: kumpang), adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati, cendana, timoho, dan kemuning). Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading.

    Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka, yaitu jenis warångkå ladrang yang terdiri dari bagian-bagian: angkup, låtå, janggut, gandèk, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrångkå gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong, dan gandèk.

    Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi, misalkan menghadap raja, acara resmi kraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkawinan, dll) dengan maksud penghormatan.

    Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagèn) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang).

    Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrångkå gayaman, pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrångkå gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana.

    Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrångkå, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang (sepanjang wilah keris) yang disebut gandar atau antupan, maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu (dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran).

    Karena fungsi gandar untuk membungkus, sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pêndok.

    9. Pêndok

    Pêndok (lapisan selongsong) inilah yang biasanya diukir sangat indah, dibuat dari logam kuningan, suasa (campuran tembaga emas), perak, emas. Untuk daerah diluar Jawa (kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali ) pêndoknya terbuat dari emas, disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian.

    Untuk keris Jawa, menurut bentuknya pêndok ada tiga macam, yaitu (1) pêndok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) pêndok bléwah (bléngah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat, serta (3) pêndok topéngan yang belahannya hanya terletak di tengah. Apabila dilihat dari hiasannya, pêndok ada dua macam yaitu pêndok berukir dan pêndok polos (tanpa ukiran).

    10. Wilah

    Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jåkå lolå, pinarak, jamang murub, bungkul , kêbo têdan, pudak sitêgal, dll.

    Pada pangkal wilahan terdapat pêsi, yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris (ukiran). Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.

    Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut gånjå (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan linggå dan yoni, dimana gånjå mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan linggånya. Ganja ini sepintas berbentuk cécak, bagian depannya disebut sirah cêcak, bagian lehernya disebut gulu mêlèd, bagian perut disebut wêtêngan dan ekornya disebut sêbit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam, wilut, dungkul, kêlap lintah dan sêbit rontal.

    11. Luk

    Luk adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk.

    Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah, dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal (ganjil dan tidak pernah genap), yang terkecil adalah luk tigå dan terbanyak adalah luk tiga belas. Jika ada keris yang jumlah luknya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kålåwijå, keris yang tidak lazim.

    ånå tjandhaké

    Dongeng selanjutnya, tentang ‘keris legendaris’ antara lain:

    Kêris Mpu Gandring; Kêris “Pusåkå” Sétan Kober; Kêris Kyai Sêngkêlat, Kêris Kyai Någåsåsrå, Kêris Kyai Sabuk Intên, Kêris Kyai Carubuk, Kêris Kyai Condong Campur, “Kêris/Tombak” Kyai Plèrèd, Kêris Kyai Djåkå Piturun.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur suwun…

      • ndherek matur suwun…nggo aku SIJI
        pak SATPAM ojo di-PEk dewe,

    • Matur nuwun dongengipun Ki Bayuaji, kulo tenggo dongeng candakipun.

    • matur nuwun Ki Bayu,
      semangkin lama semangkin penasaran.

    • Wah pasti seru neh, dongengan keris.

    • kok pada belom dipindahin ke gandok baru di sebelah yee om bayu

  10. nderek antri…

    • antri dejavu..

      • kenapa ya saya kok nggak pernah bosen membaca cerita-cerita ini..NSSI mengkin sudah 5 kali saya baca, sekarang ini yang ke-enam…

        • kenapa hayoo……?????????

      • halah…iku jenenge pikun ….jare kancaku

        • halah…iku jenenge sukun….jarene
          kanca-kancaku…

          • lho…, sukun niku rak sing saged nambani tiyang sakit.

          • lho… sukun niku ingkang agawe santosa
            lha… crah menika ingkang agawe bubrah🙂

          • kalo yang itu namanya
            culun aBu Guru.

          • sing bener iku jenenge sudrun

  11. nssi 9
    haduuu ketemu bagus handaka pdhal mita lom mandi😦
    mblayuuu lom sempet komen😦

  12. Nderek antri Ki, Sugeng dalu.
    setelah seharian nggak bisa buka gandok.

  13. ADEM….

  14. sugeng dalu

  15. Tangi..tangi, banjir. Lho.

  16. matur nuwun….!!

  17. Ki Arema dhawuh yen kualitas hasil scan semakin rendah…

    cantrik matur, suarane saur manuk…

    saure:

    “mboten napa-napa Ki Arema”
    “ora pentingg…..!!!!”
    “sing penting kena diwaca, sanajan mendelik..”
    “sing penting terus wedar…”
    “apa maneh yen ana bonus…”

    manuke durung muni…

  18. ngapunten ki, cantrik ngunduh tanpa
    ijin pak SATPAM….(sambil menjura)

  19. sugeng sonten , nunggu wedaran karo nunggu dongeng perkerisan, asyiiiik

  20. pas lagi menjura karena Ki Ajar pak Satpam lewat,
    eh…dumadakan ana rontal ciblok.

    Lha inggih matur nuwun sanget to….!!!!

  21. Sampun ngundhuh NSSI-9. Lumayan taksih saged dipun waos, matur nuwun Pak Satpam.

  22. Selamat pagi P. Satpam.
    Terima kasih sudah ngunduh.
    Jangan kawatir wong mayoritas cantrik sebenarnya sudah pada baca berkali-kali kok. Jadi sebetulnya sudah hafal kata per kata, sampai tokoh-tokoh Wadasgunung, Watugunung, Sakayon, Caranglampit, huafal semua.
    Paling-paling yang belum baca ya angkatannya Non Mita dan P. Satpam sendiri, tapi kan masih muda jadi masih terang matanya.
    Monggo Selamat pagi.

    kasinggihan Ki
    hanya saja, sangat kecewa dengan hasil scanning ki.
    tidak sebanding dengan upaya Ki Arema mencari rontal, kemudian bongkar rontal dari bendelannya, waktu dan tenaga untuk scanning.
    masalahnya rontal ini kan tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga sebagai koleksi bagi pengunduhnya.

    e…, kok ngudarasa sendiri
    ngapunten…

  23. Rontal jelek nggak apa-apa Mas Satpam, la wong bisa cari yang word ataupun yang pdf, yang penting ada scan kitab aslinya, seperti Kyai Nagasasra dan Sabukinten yang punya turunannya ….. rak njih mekaten to, poro sesepuh ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: