NSSI-11

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 17 Mei 2011 at 05:54  Comments (47)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-11/trackback/

RSS feed for comments on this post.

47 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sugêng dalu

    Sampun wancinipun wêdaran dongeng padhuwungan?.
    Insya Allah

  2. sugeng dalu…

  3. Karakter bangsa Indonesia

    betapa memalukannya ketika aku mendengar orang negeri tetangga bilang,”Di negaraku, bila kau jumpa dengan sampah, pasti disekitar situ ada orang indonesia”

    oh…

    • sugeng nDALU ki Samy….kadang malah jemek ki,
      mirip2 kayak buBUR,

      Ooh ya ki, laen kali kalo ketemu buLE dibales
      ae ki “di negaraKU kalo ada bau PESING banget
      pasti ada bule di sekitar sINI”

      • he..he..pernah ketanggor bule lho ki, waktu ada bule yg mungkin lama gak mandi, temanku bilang,”he..wong landa kuwi ambune kaya kebo ya?” aku tertawa saja sambil memandang si bule yang ternyata juga memandang kami, lalu dia tersenyum dan menganggukkan kepala..
        sesaat kemudian dia lewat di depanku sambil berkata,”nyuwun sewu kebone bade wangsul..”
        temanku mendelik….

  4. sugeng nDALU….

    • nek nDalu2 kecut lho ki..

    • NSSI DJVU : belom terlihat lewat diSINI…!!??

      • isih digembol Ki Satpam ki…mencari-cari korban untuk dicantholi ayake..

        • kala wau mpun mak sliwer…
          terus mak brebet…disaut Ki Ajar pak Satpam malih, ngendikane dereng dumugi Titi Wancine.

          lha tinimbang ngentosi Titi Wancine harak langkung prayogi nenggo Titi DJ menapa Titi Syuman to ?

        • susah ki, NSSI djVU wedarE mpun
          dibaku-kan…gak mungkin cantrik
          ngoGROK percepatan weDAR…!!??

          ihiks, pak SATPAM ra pareng duko

          • he….he….he…..
            mencoba bErUsAHA.

            SAYANGE tAMENG wJANE kuandel banget, susah tembuse.

  5. halah, komen-ku keSRIMpet ki Gembleh…hehee3x

    • selangkah lebih cepat,

      he…..he….he…..
      sugeng dalu Ki Menggung.

  6. sepi..dewe’an..rondha tengah wengi..

  7. gandok BELOM di BUKA pak SATPAM….

    • yo wes, lungguh2 nang GARDU jaga ae….

  8. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

    Wedaran kaping-1: Sumunaring Abhayagiri ring Ratu Boko. On 18 April 2011 at 09:51 – NSSI 01
    Wedaran kaping-2: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-1) On 28 April 2011 at 00:14 – NSSI 04
    Wedaran kaping-3: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-2) On 2 Mei 2011 at 01:26 – NSSI 06
    Wedaran kaping-4: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-3) On 7 Mei 2011 at 09:47 – NSSI 08
    Wedaran kaping-5: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-1) On 11 Mei 2011 at 11:13 – NSSI 09
    Wedaran kaping-6: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-2) On 11 Mei 2011 at 11:27 – NSSI 09

    Wêdaran kaping-7:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-3)

    Tosan aji diciptakan untuk berbagai kebutuhan, bagi yang percaya sebilah keris dapat dipergunakan untuk membantu si pemilik untuk berbagai macam keperluan, misalnya untuk meningkatkan kewibawaan, menundukkan lawan, kekuasaan, dan kekayaan.

    Konon tergantung energi dari sang empu keris untuk apa keris itu dibuat, makin tinggi tingkat spiritual dari sang empu makin hebat pula kekuatan keris yang diciptakan.

    Secara umum keris atau tosan aji disebut sebagai pusaka, diciptakan tidak hanya sebagai senjata tapi juga sebagai sesuatu yang dapat mempertebal keyakinan, kepercayaan, keberanian, kekuatan, kekuasaan, dan kharisma. Orang Jawa menyebutnya sipat kandêl bagi pemilik tosan aji tersebut.

    Sipat kandêl adalah suatu sarana yang dipercaya bahwa pemilik/pemegang menjadi lebih percaya diri untuk meraih nasib baik, terlindung, merasa mempunyai kekuatan yang “super”.

    Kalangan pecinta keris pusaka semacam ini menjadikannya sebagai “jimat” (barang siji dirumat, satu-satunya barang yang dipelihara secara istimewa).

    Sebagai salah satu warisan peninggalan manusia non bendawi dunia, keris perlu diadakan penekanan kembali akan nilai-nilai dan perananya dalam masyarakat yang pernah terkandung dalam keris sehingga tidak akan salah dalam memahami dan mendudukkannya.

    Pada saat ini ada kalanya keris hanya dipahami dan dilihat pada nilai-nlai tertentu saja sehingga mengaburkan akan nilai-nilai yang lebih mendasar dari keris itu sendiri.

    Pada mulanya merupakan senjata penusuk jarak dekat, yang dipakai oleh suku-suku bangsa di Asia Tenggara.

    Keris memiliki bentuk dasar sebagai senjata yang secara balistik tepat sebagai senjata penusuk jarak dekat yang efektif dalam pertarungan jarak dekat (infighting) dalam perang atau perkelahian satu-lawan satu secara tersembunyi maupun berhadapan muka (perang campuh).

    Namum dalam perkembangannya keris mengalami pengembangan fungsi dalam konteks sistem budaya baru masyarakatnya. Peran sosial dalam konteks sistem budaya pada akhirnya lebih dominan dibandingkan dengan fungsi teknisnya sebagai senjata tikam.

    Perkembangan fungsi keris diantaranya meliputi:

    1. Spriritual-Religius. Keris pada mulanya merupakan sebuah sarana sesaji.

    Keris merupakan perlambang dan memiliki muatan-muatan religius yang dapat di lihat dari bentuk dapur (tiap-tiap rincikan) dan pamornya.

    Keris di anggap sebagai pertemuan antara sang guru bakal (pasir besi dari bumi) dan guru dadi (batu meteor yang jatuh dari langit) sehingga merupakan satu konsep yang mendasar dari bersatunya hamba dan Tuhannya (curigå manjing warångkå jumbuhing kawulå lan gusti).
    Sebagai sarana sesaji hingga saat ini masih dapat di lihat pada upacara-upacara adat di Jawa dan Bali.

    2. Psikologis, keris memiliki kekuatan motivasi yang mempengaruhi perilaku.

    Keris merupakan sebuah aturan, norma atau anggêr-anggêr yang nyata dan nampak, sehingga keris mampu mempengaruhi prilaku pemiliknya (tersugesti). Seseorang menjadi pemberani karena memiliki sebilah keris yang diyakini kesaktiannya.
    Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan keberanian Aryå Pênangsang dengan keris Setan Kobernya.

    3. Politis, memiliki peran dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan di Nusantara.

    Sumber-sumber sejarah banyak menceritakan peranan keris dalam politis kerajaan di Tanah Jawa, misalnya Kanjeng Sinuwun Paku Buwono II sesudah Perjanjian Gianti pada tahun 1756 memberikan keris Kanjeng Kyai Kyai Kopek kepada Mangkubumi sebagai pengakuan kedaulatan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat.

    4. Status Sosial, keris mewakili kedudukan dan status seseorangl dalam masyarakat.

    Keris merupakan salah satu sarana menentukan strata sosial dalam masyarakat hal ini dapat dilihat dari pemakaian/kepemilikan keris tertentu misalnya dapur Kebo Lajer untuk petani, dapur Pasopati untuk prajurit, dapur Sangkelat untuk prajurit bangsawan/raja.

    5. Media Komunikasi, keris mampu membawa muatan pesan yang dapat ditangkap isinya dalam sistem budaya masyarakat Jawa.

    Mengenakan keris dengan gaya tertentu dapat dilihat aktivitasnya, misalnya mengenakan keris dengan disêmungkêp berarti untuk melayat, mengenakan dengan cara nyoté berarti akan berperang.

    6. Magis, kekuatan magis masih diyakini oleh sebagian masyarakat.

    Keris di nusantara terutama di Jawa diyakini memiliki kekuatan magis, sumber-sumber sejarah menuliskan kehebatan keris Kyai Sangkelat, keris Kyai Condong Campur.

    7. Estetis & Arstistik, keris menjadi medium ekspresi kesenian.

    Keris diciptakan atas dasar kaidah-kaidah keindahan melalui ekspresi sang empu denan dapur dan pamornya.

    8. Komoditas ekonomi, keris diproduksi dan diperjualbelikan.

    9. Pelengkap Busana, keris bagian acessories busana tradisi.

    Keris menjadi medium dalam membangun karakter manusia yang utuh dan sempurna, berbudi pekerti yang luhur. Pengembangan kesehatan mental, keselarasan rohani dan jasmani. Pengolahan dan optimalisasi potensi non fisik manusia melalui medium keris.

    10. Identitas lelaki kesatria Jawa

    Bagi lelaki Jawa, hidupnya dikatakan mapan, jika telah memiliki: Wismå, Wanitå, Turånggå, Kukilå, dan Curigå. yang menandakan seorang lelaki bisa menjadi kesatria Jawa yang paripurna.

    Masing-masing punya kekhasan tersendiri, dan lelaki Jawa akan dianggap paripurna sempurna jika mempunyai kesemuanya. Kelima syarat itu adalah: Wismå, Wanitå, Turånggå, Kukilå,dan Curigå.. Kelima syarat ini, selain memiliki arti harafiah, juga memiliki makna simbolik yang dalam.

    1. Wismå, berarti rumah atau tempat tinggal.

    Rumah adalah tempat berteduh. Tempat kesatria Jawa berasal, bertolak dan kembali. Tak peduli di mana, yang namanya rumah ini bisa berdiri kokoh di mana saja, di bumi manusia.

    Rumah ini tempat sang lelaki kesatria menitipkan kepercayaan dan perlindungan dirinya. Bisakah lelaki pengembara dikatakan mempunyai rumah? Tentu, jika ia mempunyai rumah dari mana dia berasal, ia bertolak dan ke mana ia akan kembali. Rumah harus terawat, karena rumah itu mencerminkan kepribadian pemiliknya.

    2. Wanitå, sudah jelas artinya harafiahnya.

    Wanitå, merujuk kepada pasangan, namun lebih pas lagi jika ditujukan kepada istri. Tapi Wanitå tidak sekadar istri bagi suami. Ia adalah perlambang kehidupan, kemakmuran, dan kesuburan, dan bisa pula menimbulkan rasa bangga bagi seorang lelaki.

    Seorang lelaki apalagi kesatria, sudah barang tentu akan terasa hambar jika hidup sendiri. Seorang istri bisa menjadi motivasi bagi lelaki, jika itu diperlakukan dengan baik. Kalau sekadar berkutat di kasur, dapur dan sumur, bisakah menjadi pasangan yang melengkapi lelaki?

    3. Turånggå, yaitu kuda, kendaraan.

    Secara harafiah jika di zaman dahulu kesatria memakai kuda sebagai kendaraan, maka zaman sekarang bisa diartikan literal sebagai sepeda motor atau mobil.

    Tegasnya sarana transportasi. Dengan adanya kendaraan seorang lelaki bisa dengan mudahnya bepergian ke mana saja. Bahkan, bisa mengunjungi sang istri apabila jarak keduanya terpisah jauh.

    Namun selain itu dalam arti tersirat pun, kuda yang merupakan alat untuk membawa lelaki ke berbagai tempat ini bisa berupa sesuatu yang tak terlihat oleh mata fisik.

    Kendaraan ini bisa berupa ilmu pengetahuan, kemampuan, kedigdayaan, keahlian. Karena dengan kesemua itu, langkah seorang lelaki akan bisa menjangkau banyak tempat, tidak terkukung dalam satu wadah yang terbatas saja.

    4. Kukilå, yaitu burung.

    Burung ini lambang klangenan, yaitu kegemaran atau hiburan, juga keindahan. Tanpa itu rasanya hampa hidup seorang lelaki. Terus menjadi robot yang bergerak teratur setiap waktunya.

    Seorang lelaki harus mampu memaknai lalu mengolah keindahan, serta juga seni. Berkutat dengan barang antik bisa menjadi contoh yang sangat baik untuk hal ini.

    5. Curigå, yaitu keris, atau senjata.

    Senjata ini bukan bertujuan untuk melukai atau menyerang. Pada dasarnya keris bukan alat tikam, namun piandêl , sipat kandêl atau pembangkit rasa percaya diri.

    Dengan keris di pinggang, seorang lelaki akan lebih merasa percaya diri. Zaman sekarang sudah barang tentu tak mungkin lelaki membawa-bawa senjata.

    Senjata ini jika diartikan harafiah. Senjata bisa berupa kekayaan, bisa juga ilmu. Tergantung bagaimana memanfaatkannya untuk melindungi. Tapi sebenarnya bagian kelima ini adalah yang mempertahankan empat sebelumnya.

    Tanpa keris ini, kesemuanya bisa bubar tercerai berai tanpa perlindungan. Keris ini adalah lambang kedewasaan, kewaspadan, dan keperwiraan. Artinya seorang lelaki bisa melindungi, misalnya rumah dan istrinya. Dan lebih jauh lagi, harus tangguh dan mampu melindungi diri, keluarga, dan membela negara.

    Selain memiliki kelima di atas, seorang kesatria Jawa hendaknya berperilaku sebagai seorang pemimpin, berfikir, bertutur dan bertindak tuntunan laku Hastå Bråtå. Hastå Bråtå merupakan tuntunan laku pada seorang yang satriå pinilih

    Hastå berarti delapan sedangkan Bråtå berarti laku, watak atau sifat utama yang diambil dari sifat alam. Dapat diartikan juga bahwa Hastå Bråtå adalah delapan laku, watak atau sifat utama yang harus dipegang teguh dan dilaksanakan oleh seorang satria, seorang pemimpin atau siapa saja yang terpilih menjadi pemimpin, seorang pemimpin utama. Sebab, siapa pun dia sebenarnya adalah seorang pemimpin.

    Delapan watak utama tersebut diambil dari watak para Dewa bangsa kita yang merupakan manifestasi dari Gusti Kang Murbèng Dumadi, dan masing-masing mewakili sifat dari alam raya, yaitu: bumi, angin, air, bulan, matahari, angkasa, api, dan bintang.

    1. Laku Bumi — Batårå Wisnu.

    Bantålå, Pratålå têgêsé Bumi. Watak pratålå utåwå bumi utåwå Lêmah; tansah adêdånå lan karêm paring bêbungah marang kawulå. Wêwatêké bumi iku sabar, sanadyan dipulåsårå, dipaculi, didhudhuki, nganti dirusak pisan. nanging ora nduwèni pangrêsulå, ora sambatan, malah nudhuhaké kabêcikané kanthi nuwuhaké thêthukulan, pålåwijå, pålå-gumantung, pålå-kesimpar lan pålå-kapêndhêm, têtanêman, sartå barang-barang pêlikan kang pinångkå dadi kas kayané kang pådhå mulåsårå. Satriå kudu sabar lan jêmbar pênggalihé.

    Sifat Bumi adalah sentosa, suci, pemurah, Tugasnya adalah memelihara dan membangun peradaban, Bumi perlambang Kebijaksanaan. Bumi memberikan segala kebutuhan dan menawarkan kesejahteraan bagi seluruh mahkluk yang ada di atasnya.

    Bumi menjadi tumpuan bagi hidup dan pertumbuhan benih dari seluruh makhluk hidup, menumbuhkan kehidupan, menjaga dan memelihara kehidupan dengan sifatnya yang tegas.

    Bumi, berwatak ajêg, konstan, konsisten, dan apa adanya. Tidak pandang bulu, tidak pilih kasih, dan tidak membeda-bedakan. tegas dalam membasmi kejahatan, menghilangkan penyakit buruk masyarakat, tegas menegakkan hukuman terhadap yang salah.

    Sebagaimana Bumi, seorang kesatria seharusnya bersifat sentosa, suci hati, pemurah serta selalu berusaha memperjuangkan kehidupan rakyat yang tergambar dalam tutur kata, tindakan serta tingkah laku sehari-hari.

    2. Laku Angin — Batårå Bayu

    Ambêging Marutå utåwå Bayu, wêrdiné tansah sumarambah nyrambahi sagung gumêlar; lakune titi kang paniti prikså patrapé hangrawuhi sakabèhing kahanan, ålå bêcik kabèh winêngku ing Marutå.
    Wêwatêkané Marutå têliti satiti ngati-ati, dhêmên amarikså tumindaké punggåwå kanthi cårå alus. tansah nalusup ing ngêndi panggonan, ing papan kang rumpil sartå angèl, nanging kabèh têtêp ditlusuri ora ånå kang kari. Mungguh tumrap lêlabuhan, kêpingin nyumurubi papan ngêndi baé kang biså diambah.

    Angin: memberi kehidupan kepada manusia, bersifat halus, halus rasa, halus tindakan, sopan santun, membangun kesejahteraan hidup bagi sesama, rela menyenangkan sesama, mudah memaafkan, selalu bertindak mengesankan.

    Angin adalah udara yang bergerak, dan udara itu ada di mana saja. Dan angin itu ringan bergerak ke mana aja. Jadi seorang kesatria iu, meskipun mungkin kehadirannya tidak disadari, tetapi kehadirannya selalu dirasakan, sehingga menimbulkan ketentraman bagi siapa saja. Di manapun dan kapanpun dia dibutuhkan, selalu ada. Kesatria juga tak pernah lelah bergerak dan bertindak.

    3. Laku Samodrå — Batårå Warunå

    Hambêging Samodrå utåwå Tirtå, têgêsé jêmbar momot myang kamot, ålå bêcik kabèh kamot ing samodrå; parandéné nora nånå kang anabêt. Saisèné manékå warnå, sayêkti dadyå pikukuh hamimbuhi santoså. Wêwatêkané Tirtå tansah ngupadi panggonan kang êndhèk, mungguh patrap diarani lêmbah manah lan andhap asor. Tansah paring pangapurå, adil paramartå. Båså angénaki kråmå tumraping kawulå.

    Laut atau samudra yang lapang, luas, menjadi muara dari banyak aliran sungai. sanggup menerima datangnya air dari manapun, sanggup menampung semua persoalan. Seorang kesatria mesti bersifat lapang dada dalam menerima banyak masalah dari siapa saja. Menyikapi keanekaragaman sebagai hal yang wajar dan menanggapi dengan mata dan hati yang bersih.

    Lautan. Air menghidupi manusia, menjaga kelanggengan, berpegang teguh pada ilmu pengetahuan menuju pada keunggulan dengan segala kemampuan, tidak mudah tertipu, menjadi penjelas mana yang baik dan mana yang buruk, antisipatif terhadap perilaku buruk dan baik, teguh kokoh dalam keutamaan, selalu siap waspada dalam segala keadaan, dinamis-progresif.

    Seorang kesatria harus lêgåwå menampung apa saja. Sifat laut airnya yang bening dan rata jika tidak terkena tekanan atau ombak, seorang kesatria harus bening dan lembut tutur katanya serta adil.

    4. Laku Rêmbulan — Bêtari Ratih

    Hambêgé Cåndrå yaiku Rêmbulan. Cåndrå têgêsé rêmbulan; norågå mêt prånå, tansah amadhangi madyaning pêpêtêng, sunaré hangêngsêmaké, lakuné biså amit prånå sumèhing nétyå alusing budi, ruruh jatmikå, prabåwå srêping bawånå, anawurakên raras rum sumarambah marang saisining bawånå. Wêwatêkané ugå awèh pêpadhang marang såpå baé kang lagi nandhang pêpêtê ing budi, sartå awèh pangaribåwå katêntrêman lan ora kêmrungsung. Saluguné satriå Jåwå, dhasar nyåtå laku kang prasåjå.

    Rembulan bertugas menerangi dunia ini bersama-sama dengan Batårå Kartikå, memberikan sinar kesejukan pada perasaan dan pandangan makhluk di bumi pada malam hari.

    Sifat Rembulan adalah selalu berbuat lembut, ramah dan sabar kepada siapa saja; sifatnya selalu menerangi kegelapan di malam hari, Penuh ampunan, berperilaku manis dalam tutur – dalam kata – raut muka – dalam tindakan, tindakannya tiada sulit, hati penuh kedamaian, baik hati. Bulan bersinar di kala gelap malam tiba, dan memberikan suasana tenteram dan teduh. Sebagaimana Bulan, seorang kesatria demikian juga hendaknya.

    Bulan memberi penerangan saat gelap dengan cahaya yang sejuk dan tidak menyilaukan. Kesatria yang berwatak bulan memberi kesempatan di kala gelap, memberi kehangatan di kala susah, memberi solusi saat masalah dan menjadi penengah di tengah konflik.

    5. Laku Srengenge — Batårå Surya.

    Bambêgé suryå; sarèh sabar ing karså, rèrèh ririh ing pangarah, têgêsé sarèh ing karså, dêrênging pangolah norå dåyå-dåyå kasêmbadan kang sinêdyå. Prabawané mawèh uriping sagung dumadi, samubarang kang kêna soroting Hyang Surya norå dåyå-dåyå garing. Lakuné ngarah-arah, patrapé ngirih-irih, pamrihé lamun sarwå sarèh norå rêkåså dènirå miséså, ananging ugå dadyå sarånå karaharjaning sagung dumadi.
    Srêngéngé iku tansah paring pêpadhang sartå awèh panguripan marang sadhêngah têtuwuhan lan sato kéwan lan sakabèhing titah ing alam donya kang urip lan tansah mbutuhaké cahya.

    Watak Matahari: mempunyai sifat panas, penuh energi dan pemberi daya hidup dan mempunyai tugas menerangi dunia, mengembang-hidupkan kehidupan dan kesehatan kepada semua makhluk, wataknya pelan, tidak tergesa-gesa, sabar, belas kasih dan bijaksana.

    Menghidupi, mengayomi, membela kesusahan, memayungi kekurangan, tidak berkehendak menurut diri sendiri, perangainya memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan, restunya menanamkan kesejukan. Sifat dari Matahari adalah terang benderang memancarkan sinarnya tiada pernah berhenti, segalanya diterangi, diberinya sinar cahaya tanpa pandang bulu.

    Sebagaimana Matahari, seorang kesatria harus bisa memberikan pencerahan kepada rakyat, berhati-hati dalam bertindak seperti jalannya matahari yang tidak tergesa-gesa namun pasti dalam memberikan sinar cahayanya kepada semua makhluk tanpa pilih kasih.

    6. Laku Langit — Batårå Indrå

    Hambêging akåså hanindakaké dånå wêsi asat; adil tumuruning riris, kang akaryå subur ngrêmbakaning tanêm tuwuh. Wêsi asat têgêsé lamun wus kurdå midånå ing guntur waséså, gêbyaring lidhah sayêkti minångkå pratåndhå; bilih lamun ålå antuk pidånå, yèn bêcik antuk nugråhå. Watak Langit; bênêr sajroning paring ganjaran, jêjêg lan adil paring paukuman.

    Derma dan dananya menghambur merata ke seluruh dunia, tidak membeda-bedakan sesama. Dia menguasai angkasa, hujan dan petir. Ia menyediakan apa yang diperlukan di dunia, memberikan kesejahteraan dan memberi hujan di bumi.

    Perwatakannya luhur, pengasih dan cinta kepada seni serta keindahan. Sifat Langit kadang sangat indah, kadang menakutkan, tetapi kalau sudah berubah menjadi hujan merupakan berkah serta sumber penghidupan bagi semua makhluk hidup.

    Watak Langit atau Akåså: mempunyai sifat menakutkan (wibawa) tetapi ia yang mmeberikan sir kehidupan (hujan) yang dapat menghidupkan segala yang tumbuh. Artinya, seorang kesatria harus laksana akasa, yaitu berwibawa tetapi dalam tindakannya harus dapat memberi manfaat bagi sesamanya.

    Sebagaimana Langit, seorang kesatria harus berwibawa dan menakutkan bagi siapa saja yang berbuat salah dan melanggar peraturan. Namun di samping itu selalu berusaha juga untuk memberikan kesejahteraan.

    7. Laku Geni — Batårå Bråmå

    Hambêging Latu. Latu utåwå Gêni iku wêwatêkané bakal nglêbur åpå baé kang katon. Mungguhing tumrap laku bakal mbrasthå åpå baé kang dadi pêpalang, Watak Dahånå utåwå Gêni utåwå Latu; dhêmên rêrêsik rêgêding bawånå, kang arungkut kababadan, kang apatêng pinadhangan.

    Api bersifat membakar. Artinya seorang kesatria harus mampu membakar jika diperlukan. Jika terdapat resiko yang mungkin bisa merusak, kemampuan untuk merusak dan menghancurkan resiko tersebut sangat dibutuhkan dari seorang kesatria.

    Api memberikan kehangatan di kala dingin, memahami keinginan sesama, tidak merendahkan sesama, pemberani, membasmi yang jahat, menyerang dan menghancurkan musuh dengan ketundukan hati.

    8. Laku Lintang — Batårå Kartikå

    Watak Sudåmå utåwå Lintang; lånå susilå santoså, pêngkuh lan kêngguh andriyå. Norå lêrênging ngubåyå, datan lêmêrên ing karså. Pitayan tan samudånå, sêtyå tuhu ing wacånå, asring umasung wasitå. Sabdå pandhitå ratu tan kênê wola-wali. Kartikå utåwå Lintang wêwatêkané tansah tanggon tangguh, sanadyan katêmpuh ing angin prahara sindhung riwut nanging ora obah lan ora gingsir, têgêsé tangguh lan puguh, ora bakal mundur sajangkah.

    Sifat Lintang adalah menyinari, menghiasi langit di malam hari, menjadi kiblat dan sumber ilmu. Lintang adalah penunjuk arah yang jelas dan indah. Seorang kesatria harus berwatak bintang dalam artian harus mampu menjadi panutan dan memberi petunjuk bagi orang-orang.
    Pendirian yang teguh karena tidak pernah berpindah bisa menjadi pedoman arah dalam melangkah.

    Nama lainnya adalah Sanghyang Ismåyå, yang artinya adalah kesucian yang bersinar. Bertugas menerangi dunia ini bersama-sama dengan Batari Ratih, memberikan harapan dan pencerahan kepada makhluk di bumi.

    Sebagaimana Lintang, seorang kesatria harus bisa menjadi kiblat kesusilaan, budaya dan tingkah laku serta mempunyai konsep berpikir yang jelas. Bercita-cita tinggi mencapai kemajuan bangsa, teguh, tidak mudah terombang-ambing, bertanggung jawab dan dapat dipercaya.

    Secara ringkas laku dari Hastå Bråtå yang harus dimiliki oleh seorang kesatria pemimpin adalah: Dapat memberikan kesejukan dan ketentraman kepada siapa saja; membasmi kejahatan dengan tegas tanpa pandang bulu; bersifat bijaksana, sabar, ramah dan lembut; melihat, mengerti, memahami dan menghayati apa yang terjadi di lingkungannya; memberikan kesejukan, kesejahteraan dan bantuan bagi sesama; mampu menampung segala sesuatu yang datang kepadanya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; gigih dalam mengalahkan musuh dan dapat memberikan pelita bagi siapa saja.

    ånå tjandhaké

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur nuwun ki BAYUAJI

      • Nderek..matur nuwun ki BAYUAJI

        • do oleh bingkisan opo to iki,

          he-heee3x…matur nuwun ki BAYU

          • injih..injih matur nuwun ki Bayu

    • agunging panuwun katur Ki Bayu.

    • Matur nuwun dongengipun Ki Bayu, sugeng dalu.

  9. ditinggal libur lama kok ujug2 muncul widuri, … itu widuri yg diceritain dik satpam ya ? … klo iya, wid ati2 ya, jangan ganjen ya, jangan genit ya, jangan larak lirik ama arya yg lg namu di tumaritis ya …. inget, arya tu dah ama mita😦😦

    • 😛
      kalau gak cepetan “ditembak” nanti keduluan lho?!

      • looh jaman dulu kan lom ada pistol?😦😦

        • ada donk..

  10. itu coverna kok gitu sih? jd binun ni ? … itu mj ya? berantem ama sapa? … kok mirip? … lagian klo ga salah sama2 pake sasra birawa?

    • Yang jelas, berantem dengan siapapun…minumnya sama2 teh….

      • iklan dilarang pasang disini😦

        • looh jaman dulu kan lom ada iklan?🙂

          • nganyelkeeeeeeeeeee😦

          • eh ada dink🙂 … iklan gabus kesukaan eyang truno, iklan duyung kesukaan kakek karto, iklan hiu temenna nemo, dst dst🙂🙂

          • iklan asing..suka gak?

          • pake basa landa ?🙂

          • ya bahasa iwak donk…

          • ntar blekutuk blekutuk dunk🙂

          • Lho..koq mbalik masalah kutuk..eh..klutuk lagi..ntar njahe lagi🙂

  11. ternyata ki is ngambil namanya dari sini ya🙂 ketauan deh🙂 … tapi masak ki is dah setua itu?

  12. Wah Mahesa Jenar sudah ketemu Paman gurunya ya.
    Selamat malam.

    • nek kulo sajake mboten pantes madeg dados pandan alas…

      pantese arya salako atau karebet….
      rak mekaten tho Kiai ?

  13. mengucapken berlaksa-laksa terima kasih DISINI.

    matur nuwun Ki Ajar pak Satpam.

    • Ki Menggung,

      tanpa diogrok rontale wis gogrok.

  14. Matur nuwun, NSSI-11 DJVU sampun kulo undhuh.

  15. Matur nuwun, sosrobirowo sampun diunduh.
    Sugeng enjang.

  16. kok belom buKA-an gandok anyar…hem-hem-hem


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: