NSSI-16

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 31 Mei 2011 at 16:52  Comments (60)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-16/trackback/

RSS feed for comments on this post.

60 KomentarTinggalkan komentar

  1. assalamualaikum, merji again n again🙂🙂

  2. wah berantem lg, … itu yg mbawa pedang sapa? yg tangko sapa? …

    sebenernya mo baca sendiri, tp berhub lom ada ya terpaksa nanya🙂

    dik satpam jgn nyuruh baca ndiri loh😦 … lom ada yg dibaca😦😦

    • 😛
      baca aja ndiri, besok ….
      he he he …
      mblayu…

      • jiaaan menganyaaaaalkaaaaaaaaaaaaaan😦😦

    • dak critani gelem ra… ?
      dilihat dari kategori umur, MITA masuk type wanita nomer 2 …….. “diajak cerita, selanjutnya ssi kesepakatan…”

      • ga mudeng aq

        • FBmu wis dak add…
          tlg diconfirm donk

  3. Nuwun
    Sugêng dalu

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

    Wedaran kaping-1: Sumunaring Abhayagiri ring Ratu Boko. On 18 April 2011 at 09:51 – NSSI 01

    Wedaran kaping-2: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-1) On 28 April 2011 at 00:14 – NSSI 04

    Wedaran kaping-3: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-2) On 2 Mei 2011 at 01:26 – NSSI 06

    Wedaran kaping-4: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-3) On 7 Mei 2011 at 09:47 – NSSI 08

    Wedaran kaping-5: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-1) On 11 Mei 2011 at 11:13 – NSSI 09

    Wedaran kaping-6: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-2) On 11 Mei 2011 at 11:27 – NSSI 09

    Wedaran kaping-7: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-3) On 18 Mei 2011 at 07:40 – NSSI 11

    Wedaran kaping-8: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-4) On 25 Mei 2011 at 01:35 – NSSI 13

    Wêdaran kaping-9:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-5)

    Keris legendaris:
    •Keris Mpu Gandring
    •Keris Kyai Någåsåsrå
    •Keris Kyai Sabuk Intên
    •Keris Kyai Sengkelat
    •Keris Kyai Condong Campur
    •Keris Kyai Carubuk
    •Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

    KERIS MPU GANDRING [Parwa ka-1]

    Keris Mpu Gandring adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat keberadaan Kerajaan Singasari. Didasarkan pada penggambaran yang kebenarannya masih perlu diuji.

    Keris Mpu Gandring yakni sebilah keris dengan panjang bilah ± 48 cm, dan panjang keseluruhan 60 cm. Dari gånjå naik 9 cm hingga 17 cm berbentuk luk 5, kemudian lurus hingga ke ujungnya. Gandik bermotif naga asli, belakang juga bermotif gambar naga, ekor naga sejajar naik keatas hingga 3/4 bilah dipisahkan sogokan sampai ke ujung keris.

    Lukisan dan relief naga terbuat sangat indah tapi belum sempurna terkesan dibuat dengan terburu-buru. Sisik naga pun nampak dibuat dengan tergesa-gesa pula dengan goresan kuku, jadi keris ini boleh dibilang belum selesai, tapi sudah berwujud keris yang cukup indah dengan goresan empu yang sangat mumpuni kesaktiannya.

    Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti yang bernama Mpu Gandring, atas pesanan Ken Arok, salah seorang tokoh penyamun yang menurut seorang brahmana bernama Lohgawe adalah titisan Wisnu.

    Keris buatan Empu Gandring ini terkenal karena kutukannya yang “meminum” darah orang-orang dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemesannya. Ken Arok.

    Siapa saja mangsa yang tewas akibat terbunuh oleh Keris Mpu Gandring?

    Siapa yang dikutuk sehingga keris itu meminta kematian demi kematian, darah tujuh raja para penguasa, ratu pipitu tembe kris iku amaten i (tujuh orang raja penguasa akan mati karena keris itu).

    Pararaton menceritakan tentang asal muasal keris Mpu Gandring “menelan” mangsa. yang diawali dengan diculiknya Ken Dedes, Kembang Desa Panawijen di Kaki Gunung Kawi putri pendeta Budha Mahayana Mpu Purwa, oleh penguasa Pakuwon Tumapel. Akuwu Tunggul Ametung:

    Dadi hana bhujangga Boddha-sthapaka ring Panawijen, lumaku Mahayana. Atapa ring setran ing wong Panawijen, apuspatha sira Mpu Purwwa.

    [Kemudian adalah seorang pujangga, pemeluk agama Budha, menganut aliran Mahayana, bertapa di ladang orang Panawijen, bernama Mpu Purwa.]

    Sira ta hana anaka stri tunggal duk dereng ira Mahayana. Atyanta ring lituhayun ing putrin ira, aharan Ken Dhedhes. Sira kawretta yan hayu, tan hana amadhani rupan ira yen sawetan ing Kawi. Kasub tekeng Tumapel,

    [Ia mempunyai seorang anak perempuan tunggal, pada waktu ia belum menjadi pendeta Mahayana. Anak perempuan itu luar biasa cantik moleknja bernama Ken Dedes. Dikabarkan, bahwa ia ayu, tak ada yang menyamai kecantikannya itu, termasyur di sebelah timur Kawi sampai Tumapel.]

    karungu den ira Tunggul Ametung. Tumuli sira Tunggul Ametung dhatang ing Panawijen anjujug maring dukuh ira Mpu Purwwa. Kapanggih sira Ken Dhedhes, atyanta garjjitan ira Tunggul Ametung tummon ing rara hayu, katuju sira Mpu Purwwa tan hana ring patapan ira. Sa mangka ta Ken Dhedhes sinahasa, pinalayoken den ira Tunggul Ametung.

    [Tunggul Ametung mendengar itu, lalu datang di Panawijen, langsung menuju ke desa Mpu Purwa, bertemu dengan Ken Dedes; Tunggul Ametung sangat senang melihat gads cantik itu. Kebetulan Mpu Purwa tak ada di pertapaannya, sekarang Ken Dedes sekonyong konyong dilarikan oleh Tunggul Ametung.]

    Sahulih ira Mpu Purwwa saking paran, tan katemu sira nak ira. Sampun pinalayoken den ira Tunggul Ametung kuwu ring Tumapel, tan wruh ri kalingan ira. Yata sira Mpu Purwwa anibaken samaya tan rahayu, ling ira: ‘Lah kang amalayoken anak ingsun, moggha tan panutuga pamuktine, matya binahud anggris.

    [Setelah Mpu Purwa pulang dari bepergian, ia tidak rnenjumpai anaknya, sudah dilarikan oleh Akuwu di Tumapel; ia tidak tahu soal yang sebenarnya, maka Mpu Purwa menjatuhkan serapah yang tidak baik: “Nah, semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam kenikmatan, mati ditusuk keris.]

    mangkana wong Panawijen, hasata pangangsone. Moggha tan metuwa banyune beji iki, dosane nora awara ring ingsun. Yen tan anak ingsun den walat ing wong.’ Mangkana ling ira Mpu Purwwa. Kalawan ta anak ingsun majaraken karma amamadhangi, anghing sot mami ring anak mami: ‘moggha anemwa rahayu, den agung bhagyane.’ Mangkana sot ira Mahayana ring Panawijen.

    [demikian juga orang-orang di Panawijen ini, semoga menjadi kering tempat mereka mengambil air, semoga tak keluar air kolamnya ini, dosanya: mereka tak mau memberitahu, bahwa anakku dilarikan orang dengan paksaan.
    Demikian kata Mpu Purwa: “Adapun anakku yang menyebabkan gairat dan bercahaya terang, sumpahku kepadanya, semoga ia mendapat keselamatan dan kebahagiaan besar.” Demikian kutuk pendeta Mahayana di Panawijen.]

    Sang Pandhita Budha Mahayana menjatuhkan sepata samyå tan rahayu: “lah kang amalayoken anakingsun mogghå tan panutugå pamuktine matyå binahud angeris” Kutukan Sang Pandhita Budha Mahayana “yang melarikan anakku tidak akan selamanya mengenyam kenikmatan, ia mati ditusuk keris, demikian juga orang orang di Panawijen ini, tempat mereka mengambil air akan menjadi kering, dan tak akan ada lagi air yang keluar dari blumbang ini.

    Diceritakan selanjutnya oleh Pararaton, ketika Sang Akuwu dan istrinya Ken Dedes bercengkrama di Taman Boboji:

    dadi sira Tunggul Ametung akasukan acangkrama asomahan, maring taman Bhabhojji. ……….. Satekan ira ring taman, sira Ken Dedes tumurun saking padhati. Katuhon pagawen ing widhi, kengis wetis ira, kengkab tekeng rahasiyanira. Teher katon murub den ira Ken Angrok, kawengan sira tuminghal. Pitwi den ing hayun ira andhulu, tan hana madhani kalituhayon. …………..

    […… Dia, Tunggul Ametung pergi bersenang senang, bercengkerama berserta isterinya ke taman Boboji……. Sesampainya di taman, Ken Dedes turun dari kereta kebetulan disebabkan karena nasib, tersingkap betisnya, terbuka sampai rahasianya, lalu kelihatan bernyala oleh Ken Angrok, terpesona ia melihat, tambahan pula kecantikannya memang sempurna, tak ada yang menyamai kecantikannya itu, …..]

    Ken Angrok memang tidak sengaja! (atau pura-pura nggak sengaja); mungkin semua terjadi karena kehendak dewata. Saat Ken Dedes yang sedang hamil muda duduk bercengkerama dengan suaminya, di taman Boboji, secara kebetulan Ken Angrok yang sudah bekerja di Tumapel sebagai prajurit pengawal Sang Akuwu, mendapat angin baik (‘angin nakal’???); angin menyingkap kain istri Akuwu, hingga menyingkap terlihat betis dan paha, bahkan sampai jauh ke ujung yang disebut dalam kitab Pararaton sebagai “rahasyanira ” Ken Dedes.

    Penulis kitab Pararaton ketika itu tentu amat menghargai Ken Dedes, sehingga dengan gaya eufemistis mengguratkan kata “rahasianya” untuk menjelaskan sesuatu yang amat sangat bersifat pribadi.

    Beberapa sejarahwan menafsirkan kata “rahasyanira” Ken Dedes adalah rahasia “Negara” Tumapel. Ken Dedeslah yang dengan sengaja membuka seluruh rahasia Pakuwon Tumapel kepada Ken Arok, karena cintanya pada pemuda itu. Sebenarnya Ken Dedeslah otak perencana pembunuhan Tunggul Ametung.

    Nyala “rahasianya” Ken Dedes itu yang membuat Ken Angrok pusing. Pemuda ini tahu apa arti “rahasianya” wanita, namun nyala “rahasianya” Ken Dedes membuatnya gundah gulana. Ken Dedes kembangnya Pakuwon Tumapel asal desa Panawijen di Kaki Gunung Kawi.

    Kecantikannya sempurna, tak ada wanita yang menyamai keindahan paras muka dan tubuh Kembang Panawijen yang semok dan menggairahkan yang menurut Pararaton digambarkan: Kasmaran sira Ken Angrok. tan wruh ring tingkah ira ….. Jatuh cintalah Ken Angrok, tak tahu apa yang akan diperbuatnya.

    Angrok yang kasmaran dan penasaran, langsung menanyakannya pada pendeta Loh Gawe, asal India yang juga Bapak angkatnya. “Bapak Dang Hyang, ada seorang perempuan bernyala rahasianya,tanda perempuan yang bagaimanakah? Tanda buruk atau baik?” Dang Hyang menjawab:

    …. ..; yen hana istri mangkana kaki iku stri nariswari arane …. Yadyan wong papa angalapa ring wong wadon iku dadi ratu anakrawati …..

    [Jika ada perempuan yang demikian, ngger, perempuan itu namanya nariswari. Ia adalah perempuan yang paling utama. Meskipun orang berdosa, jika memperistri perempuan itu, ia akan menjadi maharaja.]

    Ken Angrok tertegun dan kemudian berkata: “Bapa Dang Hyang, perempuan yang bernyala rahasianya itu adalah istri sang Akuwu di Tumapel. Jika demikian Akuwu akan saya bunuh dan saya ambil istrinya. Tentu ia akan mati, itu kalau Bapak Dang Hyang mengijinkan. Loh Gawe menjawab, “Ya, tentu matilah, Tunggul Ametung olehmu. Hanya saja saya tak pantas memberi ijin itu kepadamu, itu bukan tindakan seorang pendeta. Batasnya adalah kehendakmu sendiri”.

    Angrok pergi menemui bapak angkatnya yang lain, Bango Samparan dan disarankan untuk memesan keris ke Mpu Gandring yang sakti dan bisa menusuk tembus Tunggul Ametung. Angrok menanti, dan mengambil keris pesanannya setelah membunuh Mpu Gandring si pembuat keris.

    “Amuk” si Angrok yang hendak merebut tahta atas nama kawula Tumapel. Sang Akuwu yang di mata si Angrok adalah penguasa lalim yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Pembuatan bendungan dan sendang yang oleh Akuwu Tunggul Ametung disebut sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kawula Panawijen, ternyata di mata Angrok hanya untuk menyenangkan hati Sang Permaisurinya saja, dan demi memuaskan egonya belaka.

    Atas nama itu semua Angrok ingin melenyapkan sang akuwu, ingin mêngku nDedes, wanodya sang ardanariswari. Dia berharap agar “skenario” para dewa terejahwantahkan.

    Ken Arok memesan keris ini kepada Mpu Gandring dengan waktu lima bulan saja, yang merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para “empu gusali” (Gusali atau Gusala adalah sebuah kabuyutan di Lulumbang, diduga di daerah Lumbang, Pasuruan sekarang, tempat para pandai keris berkarya, sehingga dalam perkembangannya mereka yang ahli membuat keris disebut empu Gusala atau empu Gusali, maksudnya empu keris berasal dari Gusala atau empu keris berasal dari Gusali.)

    Empu Gandring, sang empu pembuat keris bersedia membuatkan keris yang diinginkan si Arok, tak ada syak wasangka atau curiga sang empu kepada pengawal istana itu. Adalah wajar bila seorang prajurit apalagi seorang pengawal istana memiliki senjata andalan yang sakti. Bahkan Mpu Gandring “meluluhkan” kekuatan gaib yang dimilikinya itu ke dalam keris buatannya itu untuk menambah kemampuan dan kesaktian keris tersebut.

    Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu. Mpu Gandring menyelesaikan pekerjaannya membuat sarung keris tersebut. Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah waktunya harus diambil.

    Tapi yang terjadi kemudian berbekal pengalaman sebagai perampok, membunuh yang bukan hal luar biasa baginya. Pembunuhan pertama yang ia lakukan dengan keris itu adalah kepada pembuat keris itu sendiri Sang Gusali Empu Gandring, yang membuatnya jengkel karena telah sekian lama keris pesanannya belum rampung juga. Keris yang dipesan masih belum sempurna, gagangnya masih gagang sementara yang terbuat dari dahan cangkring.

    Ken Arok menguji keris tersebut dan terakhir keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji, selebihnya bahkan dikatakan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan supranatural si pembuat keris yang justru disimpan dalam keris itu untuk menambah kemampuannya.

    Pembunuhan pertama yang ia lakukan dengan keris itu adalah kepada pembuat keris itu sendiri Sang Empu Gandring, yang membuatnya jengkel karena telah sekian lama keris pesanannya belum rampung juga. Keris yang dipesan masih belum sempurna, gagangnya masih gagang sementara yang terbuat dari dahan cangkring.

    Dengan bengis Ken Arok membenamkan pusaka itu ke dada pembuatnya, Empu Gandring, yang kemudian menjatuhkan kutukan bahwa kelak keris itu akan meminta banyak nyawa. Angrok juga menjadi korban keris yang dilaknat oleh pembuatnya itu.

    Pararaton mengabarkan:

    Sah sira saking Karuman, annuli maring Lulumbhang, atemu sira Gandring nambut karyya ring Gusali, rawuh Ken Angrok, tur atakona: ‘Iya sira bhaya haran Gandring?’ Lah reko isun pagawekena kris huwusa limang wulan. Aghata gawene den isun.’

    [Ia pergi dari Karuman, lalu ke Lulumbang, bertemu dengan Gandring yang sedang bekerja di tempat membuat keris. Ken Angrok datang lalu bertanya: “Tuankah barangkali yang bernama Gandring itu, hendaknyalah saya dibuatkan sebilah keris yang dapat selesai didalam waktu lima bulan, akan datang keperluan yang harus saya lakukan.]

    Ling ira Mpu Gandring: ‘Sampun limang wulan punika? Lamun sira den ahyun den apenet, manawi satawun huwus! Enak rateng papalon ipun.’ Ling ira Ken Angrok: ‘Lah sarupane gugurindane. Anghing den huwus limang wulan.’

    Kata Mpu Gandring: “Jangan lima bulan itu, kalau kamu menginginkan hasil yang paling baik, kira-kira setahun baru selesai, hasilnya sangat baik dan matang tempaannya,”
    Ken Angrok berkata: “Lah, itu terserah bagaimana mengasahnya, yang penting, harus selesai dalam waktu lima bulan.”

    ……huwus genep limang wulan, henget ing samayan ira yen akenken kris ring Ra Mpu Gandring. Mara sira maring Lulumbhang. Katemu sira Mpu Gandring agugurindha, anigasi papalampahan ira Ken Angrok kris.

    […..sesudah genap lima bulan, ia ingat kepada perjanjiannya, bahwa ia menyuruh membuatkan keris kepada Mpu Gandring. Pergilah ia ke Lulumbang, bertemu dengan Mpu Gandring yang sedang mengasah dan membentuk bilah keris pesanan Ken Angrok.]

    Lingira Ken Angrok: ‘Endi kenkenan isun ing kaki Gandring?’
    Sumahur sira Gandring: ‘Singgih kang isun gurindha puniki kaki Angrok.’
    Pinalaku tinghalan punang kris, den ira Ken Angkrok.

    [Kata Ken Angrok: “Manakah pesananku Ki Gandring.”
    Menjawablah Gandring itu: “Yang sedang saya asah ini, Ki Angrok.”
    Keris diminta untuk dilihat oleh Ken Angrok.]

    Ling ira asemu bendhu: ‘Ah tan polih den isun akonkonan ing sira Gandring. Apan during huwus gugurindane kris iki lagi asebel. Iki kapo rupane kang de ra lawas limang wulan lawase.

    [Katanya dengan agak marah: “Ah tak ada gunanya aku menyuruhmu Ki Gandring, bukankah keris ini belum selesai diasah, celakalah, inikah rupanya yang engkau kerjakan selama lima bulan itu.”]

    Apanas twas ira Ken Angrok. Dadi sinudukaken ing sira Gandring kris antuk ira Gandring agawe ika. Annuli pinrangaken ing Lumpang sela pambebekan gurindha, belah aparwa. Pinrangaken ing paron ira Gandring, belah apalih.

    [Menjadi panas hati Ken Angrok, akhirnya ditusukkan kepada Gandring keris buatan Gandring itu.
    Lalu diletakkan pada lumpang batu tempat air asahan, lumpang berbelah menjadi dua, diletakkan pada landasan penempa, juga ini berbelah menjadi dua.]

    Sasangka sira Gandring angucap: ‘Kang amaten i ring sira tembe kris iku, anak putun ita mati dene kris iku, oleh ratu pipitu tembe kris iku amateni.’ Wus ira gandring angucap, mangkana mati sira Gandring.

    [Sesaat kemudian Gandring menjatuhkan sumpah: “(Hey Angrok), kelak kamu akan mati oleh keris itu, anak cucumu akan mati karena keris itu juga, tujuh orang raja akan mati karena keris itu.”
    Sesudah berkata demikian Mpu Gandring pun meninggal.]

    Empu Gandring, dalam keadaan sekarat yang kemudian menjatuhkan kutukan bahwa kelak keris itu akan meminta banyak nyawa. Angrok juga menjadi korban keris yang dilaknat oleh pembuatnya itu. Sejak itu dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singasari.

    Pararaton mengisahkan:

    Teher amantuk sira Ken Angrok, maring Tumapel.
    Hana kakasih ira Tunggul Ametung, haran Kebo Idjo. Pa wong sanak asih sihan kalwan Ken Angrok.

    [Lalu pulanglah Ken Angrok ke Tumapel. Ada seorang hamba terkasih Tunggul Ametung, bernama Kebo Idjo, bersahabat dengan Ken Angrok, mereka berdua saling berbagi kegembiraan.]

    Satinghal ira Kebo Ijo, ring sira Ken Angrok anungklang duhung anyar, awarangka anyar, adhnanganan cangkring katut rwin ipun tan pagagala, wungkul, areman sira Kebo Idjo mulat.

    [Pada waktu itu Kebo Idjo melihat bahwa Ken Angrok menyelipkan keris baru, berhulu kayu cangkring masih berduri, belum diperhalus, masih kasar, sangat senanglah hati Kebo Idjo melihat itu.]

    Angucap ing Ken Angrok: ‘He kaka sun silihe kris ira iku.’ Sinungaken den ira Ken Angrok, tumuli ingangge den ira Kebo Idjo, wet ing resep ira tumon.

    [Ia berkata kepada Ken Angrok: “Kakang, pinjami aku keris itu.”
    Diberikanlah oleh Ken Angrok, kemudian terus dipakai oleh Kebo Idjo, sangat senanglah dia memakainya.]

    Alawas ingangge den ira sapeksa. Yen sira Kebo Idjo anungklang duhung anyar. Moggha ta mangke duhung punika, pinalingan den ira Ken Angrok, kene dene amalingi.

    [Lamalah keris Ken Angrok dipakai oleh Kebo Idjo, tidak seorangpun di Tumapel yang tidak pernah melihat Kebo Idjo memakai keris baru dipinggangnya.
    Tak lama kemudian keris itu dicuri oleh Ken Angrok dan diambillah keris itu.]

    Teher Ken Angrok, ring ratri annuli maring dalem pakuwon, duweg sirep ing wong. Katuwon den ira nulu ring widhi, annuli pareng paturon ira Tunggul Ametung, tan pakawara lakun ira. Sinudhuk sira Tunggul Ametung, den ira Ken Angrok, trus pranan ira Tunggul Ametung. Mati kapisanan, i kris antuk ira Gandring, agawe kinatutaken minaha.

    [Selanjutnya Ken Angrok pada waktu malam hari pergi kedalam rumah sang akuwu, saat itu baik, sedang sunyi dan orang orang tidur, kebetulan juga disertai nasib baik , ia menuju ke peraduan Tunggul Ametung, tidak terhalang perjalanannya, ditusuklah Tunggul Ametung oleh Ken Angrok, tembus jantung Tunggul Ametung, mati seketika itu juga. Keris buatan Gandring ditinggalkan dengan sengaja.]

    Dalam kisah kematian Sang Akuwu Tumapel, Ken Dedes adalah saksi mata pembunuhan Tunggul Ametung. Anehnya, ia justru rela dinikahi oleh pembunuh suaminya itu.

    Hal ini membuktikan kalau antara Ken Dedes dan Ken Arok sesungguhnya saling mencintai, sehingga ia pun mendukung rencana pembunuhan Tunggul Ametung. Kebo Ijopun menjadi kambing hitam, Kebo Idjo, adalah mangsa berikutnya, perwira pasukan pengawal puri Tumapel itu mati sia-sia menjadi tumbal ambisi Ken Angrok.

    Pararaton menceritakan:

    Mangke huwus rahina. Kawaswasan duhung umandhem ing jajan ira Tunggul Ametung, tinenger den ing wong kang wruh, kris ira Kebo Idjo kalingane kang anyidra ring sira Tunggul Ametung. Apan sawyakti krise katut ing jajan ira sang akuwu ring Tumapel. Samangkana sira Kebo Ijo sinikep den ing kadhang warggan ira Tunggul Ametung tinewek ing kris anruk ira Gandring akaryya punika. Mati ki Kebo Ijo.

    [Ketika hari sudah pagi, diamati dengan saksama keris yang tertanam didada Tunggul Ametung yang sudah tewas itu, dan oleh orang pun tahu keris itu milik Kebo Idjo yang selalu dipakai setiap hari.
    “Sudah pasti Kebo Idjolah yang membunuh Tunggul Ametung secara rahasia, terbukti kerisnya masih tertanam di dada sang akuwu di Tumapel.
    Kemudian Kebo Idjo ditangkap oleh para pengikut Tunggul Ametung, dibunuhlah dia dengan keris buatan Gandring, maka meninggallah Kebo Idjo.]

    Terwujudlah obsesi si Angrok untuk memiliki nDedes putri ayu Ken, dan mengawini Sang Paramesywari itu. Tetapi ini baru awal dari puncak-puncak ambisi pribadi lainnya. Tahta Tumapel, ambisinya yang lain. Melakukan pemberontakan terhadap Daha Kadiri dan menggulungnya, mendirikan kerajaan baru di Kutaraja dengan nama Singasari lalu bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi.

    Tetapi ia punya WIL si “perempuan liar” Ken Umang, yang berhasil menjebak si Akuwu baru itu, di padang perburuan, kisahnya disamarkan sebagai kuda si Umang: “yang sedang enak-enak memakan rerumputan muda.

    Menyoal asal-usul Ken Angrok bak misteri. Penelusuran asal-usul Angrok ini menarik mengingat dalam dua kitab yang mengisahkan Angrok yakni Negarakertagama dan Pararaton sama sekali tidak memberikan kejelasan siapa ayah Angrok sebenarnya. Hal ini menimbulkan banyak penafsiran para sejarawan.

    Pemuda brandal tak bernama yang bernampilan gagah, berani, dan malang melintang dengan segala ulah perangai dan tingkah perbuatan yang buruk, jahat bahkan kejam, terkenal ke mana-mana dan sampai ke Kerajaan Kadiri.

    Masa hidup sebelum menjadi raja Angrok anak wong cilik biasa, ia adalah sosok seseorang yang tak bernama. Ayahnya entah siapa, tetapi yang jelas dan pasti ialah ibunya. Juga tak bernama karena hanya seorang perempuan yang melarat.

    Menurut legenda tutur lisan masyarakat, dari sebuah desa Rêjåså atau nJasa atau Rêjasa, Junrejo Batu Malang sekarang. Sama seperti beberapa tokoh sejarah Jawa, bahkan dari masa yang lebih muda, banyak dari mereka yang tak bernama, karena asal-usulnya yang dari lapisan masyarakat kelas bawah, golongan paria, kaum sudra.

    Sejarah dimanipulasi. Nuansa legitimasi akan Angrok sudah sangat kental. Dia disebut-sebut sebagai anak dewa, anak bangsawan, turunan raja, dan memiliki kekuatan gaib yang sangat kuat. Dalam mitos Jawa, keturunan dewa kelak pastilah menjadi raja.

    Tapi begitulah, di masa itu semua yang kelam akan ditulis lebih hati-hati. Disebutlah ia berasal dari desa Rêjåså atau nJasa atau Rêjasa. Si lembu peteng. Anak yang ayahnya tak jelas.

    Angrok, si kere munggah bale, mengabadikan nama desanya menjadi gelar dirinya dan keturunannya: Ken Angrok Maharaja Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi, hingga ke Raden Wijaya Nararyā Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrta Rājasa Jayāwardhanā Anantawikramottunggadewa.

    Nararya Dyah Sanggramawijaya dalam Prasasti Balawi berangka tahun 1305 M menyatakan dirinya sebagai Wangsa Rajasa. Dengan demikian, ia tak pernah sekali pun berniat hendak mendirikan “dinasti” atau “wangsa” baru, melainkan meneruskan dinasti yang telah dibangun Ken Arok, kakek buyutnya dari ndusun Rêjasa.

    ånå tjandhaké

    Nuwun

    untuk: ki cantrik bayuaji
    diwedar oleh: punåkawan bayuaji

    • matur nuwun Ki Puna,
      tutuge dalu punika punapa mbenjang…??

  4. matur nuwun

  5. Nuwun
    Sugêng énjang

    Alhamdulillah, untuk kesekian kalinya dapat bangun lebih awal, suatu hal yang biasa, begitulah yang selalu dicontohkan Ki Bayuaji kepada kami warga padepokan.

    Menjelang Shubuh, waktu baru menunjukkan kurang lebih pukul 03:51 wib; selalu ada kesibukan di padepokan; selain kesibukan rutin tengah malam bagi mereka yang lèk-lèkan, bertadarus hingga saat shalat Tahajud.

    Belum tidur mereka yang bertadarus, sudah bangun mereka yang lain, sêsuci lalu membukakan pintu-pintu Rumah Allah yang masih tertutup.

    Konon berderitnya pintu masjid di dini hari, membuat para setan, iblis dan mahluk-mahluk terkutuk lainnya lari terbirit-birit ketakutan. Lailahaillah.

    Saput siti, ésuk umun-umun sebelum plêtheking srengéngé yang selalu diawali dengan kluruknya jago, lengking ayam bekisar dari keempat sudut halaman padepokan; ciap-ciapnya burung pipit, beberapa cantrik membersihkan lantai masjid, mengisi kulah, nyapu latar yang cukup luas, dan membakar uwuh di sudut belakang kebon.

    Gemericik air, berderitnya sapu latar, sangitnya uwuh dedaunan yang dibakar, harum dan sangitnya asap dapur, ditingkah suara dendang gurauan para mentrik dan cantrik yang tengah menyiapkan sarapan pagi.

    Suara hening, swaraning asêpi, perlahan, namun jelas ayat-ayat suci yang dibaca. Suatu komposisi suasana alam di pagi hari yang sangat indah. Subhanallah .

    Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk menikmati ‘perjumpaan’ dengan Tuhan di akhir sepertiga malam, dan tak terputus hingga Shubuh mendatang, dan beberapa saat lagi adzan Shubuh dikumandangkan. Allahu akbar.

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

  6. di nssi 16

    ternyata arya masih ingat ama pohon jambunya yg dia tanam sebelum pergi dari banyubiru ya …. hmmmmm …. how romantic🙂🙂

    eh pohon itu yg nyiramin mita looh🙂🙂

    • nyiraminnya ga cuma dengan air looh🙂

      • tentu saja…

        • nganggo ciduk mesti😦

          • betul…maksudnya siwur kan ?…. cibuk yang pake batok kepala..eh..kelapa🙂

          • eh iya ding, jaman dulu pakena siwur🙂

            siwur tu buat ngetok pala jg lumayan loh🙂

            apa enaknya siwurna buat dik satpam aja, buat koleksi senjata🙂

  7. tp juga disirami dengan …. ngngngng … ah ngomongina maluuuuu🙂🙂

    • emang mo ngomong apaan kok malu?

      • dengan penuh perasaan🙂🙂🙂

        • mit…confirm donk

          • oya udeng aq

          • fesbuk MIT …….

          • he he he …
            pak lik-e pancen ulet tenan

          • namine juga usaha koq Pak Lik…meh ngancani po

          • klo dik satpam dah tau imelq🙂

    • nek gelem, mengko dak sirami

      • mesake, ki pandan wis repot nyirami kebon jagunge sing uuuooomboooooo buuuaaangeeeetz🙂

  8. Alhamdulillah,
    Sugeng enjang Ki Sanak, dungkap siang, bakda dhuha.

  9. Nuwun
    Sugêng siyang

    Katur Ki Gembleh
    [On 31 Mei 2011 at 20:53 gembleh said:]

    Kêrsanipun Ki Gembleh sapunikå punåpå mbénjang kémawon Ki ??? He he he he.
    Sudah mulai agak mengantuk Ki, Nyuwun pangapuntên

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

  10. eh mba padmi kok dah luuuuaaaaama ga muncul yah?
    apa dah nikah trus sekarang lagi honeymoon ?🙂🙂

    • semoga nikahnya bukan ama cowo keren yg ndeketin dulu tapi beda agama itu loh … klo ama itu ya semoga aja dah pindah agama ….

      eh ini bukan komentar sara loh, …. bagusnya co agama a, nikahnya ya ama ce agama a, co agama b ya nikahnya ama ce agama b, … n pindah agama jangan karena nikah, …

    • hanemuna brp hr yah? …. klo trll lama ntar kacian murid2na, … pd kangeeeeeeun🙂

    • hanemuna kmn yah?🙂

      • pengin MIT…

        • iya🙂

          • sama

          • eh klo mba padmi bener2 nikah, ki pa patah hati ga ?

          • apa ki pa tu singkatan dari patah ati?🙂🙂

          • pa : pandanalas
            mita : mikir tajelas

          • wikikiki … mikir tak jelas🙂🙂 ngkali yah🙂🙂

  11. Sebuah lagu utk MITA

    ku mencintaimu sepenuh hatiku
    cintaku malam ini sayang begitu indah
    i�m still in loving you
    i�m crazy over you

    cintaku malam ini sayang begitu indah
    cintaku tulus padamu
    sayangku jujur padamu
    cintaku tulus padamu
    sayangku jujur padamu

    biarkanlah saja semua berkata tidak
    yang penting aku padamu
    biarkanlah saja semua berkata tidak
    yang penting aku padamu

    biarkan ku menjagamu
    biarkan ku memelukmu
    biarkan ku menggapaimu
    biarkan ku menyentuhmu

    i�m still in loving you
    i�m crazy over you
    cintaku malam ini sayang begitu indah

    • kok ada kotak ireng yg isinya tanda tanya? …🙂

      • mending kotak ireng isinya pizza🙂

        • kuwi istilahe “black box”…mergo add Fb mu ga ndang di confirm …. MITA AS** ****ARTI

          • koyo montor mebung wae🙂

          • blackbox rupane opo hayoo ?

          • Wah….kudu takon manuk beo-ne Ki Menggung Yupram iki….abang ireng-e..

  12. Sugêng sontên

    • Sugeng dalu.

  13. Sugêng énjang

  14. Sugeng sonten

  15. Matur nuwun,
    sampun nyomot DJVU

  16. Sugêng dalu

  17. ki bocah ndeso sido tindak pekanbaru ra yo?…raono kabare

    • masih di kapal kaleeee, jd ga da sinyal🙂🙂

      • klo ga, msh di pesawat, jd ga boleh connect🙂

        • klo ga, msh di jln di tengah utan, ga da sinyal jg🙂

          • klo ga, msh jumatan di mbantul🙂

          • heh…

            ki BonDes kuwi soko mBantalm..dudu mBantul


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: