NSSI-18

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 6 Juni 2011 at 14:57  Comments (46)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-18/trackback/

RSS feed for comments on this post.

46 KomentarTinggalkan komentar

  1. assalamualaikum, merji ping okeeeh🙂

  2. waduuuuh ngguanteeeenge rek, ( iki ngalem arya looh🙂 )

    • tp kok ga kaosan ta? … ntar masuk angin loh🙂

      • juga ga sandalan….untung bawa teken….

        • teken? … teman ken padmi?🙂

          • He..?!..Ni Kenpadmi itu belum tekenan…hayooo Mita tak kandak-e…

          • teken….tanTE KEN padmi?🙂

          • teken….tanTE KEN t**?🙂

          • wikikiki🙂 memang mba padmi lom pake teken, yg pake tu temen ken padmi yg udah kakek2 … namanya kakek karto🙂 🙂

          • tekennya hanya dipake kalo main golf…🙂

          • waah kakek karto pinter nggebuk ya?🙂 …… ga kacian tu ama bolana?🙂

          • enggak dunk….bolana kan tunggu diluar 🙂

          • ntar kehujanan loh🙂

          • :mrgreen:

  3. nssi teks disini ( warna coklat ) … ning ngapusi … huuuuuuuu😦😦😦

    • nssi djvu disini ( warna coklat ) … ning ngapusi … huuuuuuuu-huuuuuuuuuuu😦😦😦

      • yg djvu lom coklat, jadi ga ngapusi … tp yg teks dah coklat tp lom ada isinya … sebaiknya klo lom ada isinya ya dibiarin hitam aja jgn diganti coklat dulu, … mekaten langkung sae diliat dari sisi menajemen komunikasi🙂

        • eh ternyata dah ada, maturnuwun njih🙂

          • 😛

          • kebiasaan frotes………

          • tp pas ngetik awal tu memang lom ada teksna😦

    • ancene nganyelke tenan kenyo siji ki…

      • ndak kenyo saestu to Kiaine….??

        • wikikiki🙂 ngkali yah? ….. tp memang mita lebih seneng pake celana daripada pake rok🙂

          • 🙂

          • kok diguyu to? …. ntar tak pedang rangkap loh, mumpung dah pake celana ni 😦

          • hei…? tadi belum ta ?:mrgreen:

  4. pada hari ini genep seratoes sepoeloeh tahoen jang laloe di kota Soerabaja lahirlah seorang baji laki laki jang oleh orang toewanja dikasih nama :
    Koesno Sosro Soekarno.

  5. Sugeng Enjang,
    Wah Arya Salaka sudah ketemu lasykarnya.

  6. Benar ki Gembleh, seorang anak bangsa yang bisa membuat geger dunia dan mendirikan Gerakan Non Blok.
    Presiden dari dunia ke 3 yang tidak mau didikte Amerika.
    Presiden yang pada kejatuhannya tidak meninggalkan warisan apa-apa bagi keluarganya, tetapi meninggalkan Pancasila bagi Bangsa ini. Kekayaan alam masih utuh, belum tersentuh tangan-tangan serakah neolib. Dan utangpun masih kecil.
    Semoga arwah beliau diampuni dosa-dosanya dan mendapatkan tempat yang layak disisi Allah.
    Amin.

  7. Nuwun

    BUNG KARNO

    Ida Ayu Nyoman Rai Srimben anak kedua dari pasangan I Nyoman Pasek dan Ni Made Liran, yang leluhurnya adalah seorang Brahmana Guru pada Mandala Dewakagurwan di Panawijen pada abad ke-12, Empu Purwa, ayahanda Ken Dedes.

    Dari pasangan Ida Ayu Nyoman Rai Srimben yang keturunan brahmana dari Bali dan Raden Soekeni seorang priyayi Jawa inilah, di sebuah rumah kampung sederhana di sekitar Makam Belanda Kampong Pandean III Surabaya, pada tanggal 6 Juni 1901, lahirlah Kusno. Soekarno. Bung Karno, “Putera Sang Fajar”. Sang Proklamator Bangsa Indonesia.

    Nuwun
    Sugêng énjang

    punåkawan bayuaji

  8. selamat sore

    • sore selamat…!!

      • pak MODIN jarang2 HADIR…lagi tugas
        luar njih ki,

        • wah njih Ki, ngapunten , lha wong sawahe ajeng kangge balapan sepeda tour de singkarak

  9. Nuwun
    Sugêng dalu

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

    Waosan sebelumnya:
    Wedaran kaping-9: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-5). Keris Mpu Gandring [Parwa ka-1] On 31 Mei 2011 at 19:38 NSSI 16

    Wêdaran kaping-10:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-6)

    Keris legendaris:
    • Keris Mpu Gandring
    • Keris Kyai Någåsåsrå
    • Keris Kyai Sabuk Intên
    • Keris Kyai Sengkelat
    • Keris Kyai Condong Campur
    • Keris Kyai Carubuk
    • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

    KERIS MPU GANDRING [Parwa ka-2]

    Ini adalah dongeng seorang anak manusia sudra, si kéré munggah balé, yang merayap menggapai tahta. Melambungkan cita-citanya. Ia yang disebut sebagai kekasih para dewa. putra Brahma, titisan Wisnu, penjelmaan Syiwa Budha. Anggrok, yang berambisi menikahi Ken Dedes Sang Ardanareswari.

    Kuntum Bunga dari Panawijen Kaki Gunung Kawi yang teramat cantik itu, yang dari guwa garbanya dipercaya melahirkan para penguasa Tanah Jawa, dan berikutnya adalah Takhta Pakuwon Tumapel.

    Telas purwwa wetan ing Kawi. Kaputer sawetan ing Kawi. Sama awedhi ri sira Ken Angrok, mahu ariwa riwa, ahyun angadhega ratu. Wong Tumapel sama suka yan Ken Angrok angadheg ratu, katuwon pan dulur ing widdhi

    [Sudah dikuasailah sebelah timur Kawi, bahkan seluruh daerah sebelah timur Kawi itu, semua takut terhadap Ken Angrok, mulailah Ken Angrok menampakkan keinginannya untuk menjadi raja, orang-orang Tumapel semua bergembira, kalau Ken Angrok menjadi raja disana.]

    Tumapel semakin lama semakin besar, di bawah pemerintahan Sri Rangga Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Ken Angrok bocah ndusun Rêjåså. Angrok (ref. Kamus Jawa Kuno atau Kamus Kawi, dari kata dasar “rok”, bermakna nempuh, nrajang, ngamuk, guncang, serbu) — tepat sekali — Angrok atau Arok, Sang Pengguncang; tetapi bagi Kawulå Singasari yang menyambut baik pengangkatan dirinya sebagai akuwu Tumapel yang baru, Arok adalah Sang Pembangun, dan mereka menyukai junjungannya yang baru itu.

    Tafsir sejarah Angrok-nDedes pun, pada kata Pendeta Lohgawe, guru Angrok. berdasar sumber utama Pararaton, Ken Angrok adalah Pembangun.

    Angrok memang Sang Pengguncang Tanah Jawa, tetapi dia juga Sang Pembangun dinasti Rajasa, yang menurunkan raja-raja di Jawa.

    Ditunjukkan oleh Angrok untuk para kawulå di seluruh Tumapel, bahwa ia adalah Sang Pembangun. Perang Ganter salah satu contohnya,

    Sang Prabu Dangdhang Gendhis dari Kerajaan Daha Kadiri dengan angkuhnya bersabda:

    Sang Ratu ring Daha Siraji Dangdhang Gendhis angandika ring para Bhujangga sahaneng Deha, ling ira: ‘He kita para bhujangga siwa soghata, paran sangkan ira nora anembah ring isun? Apan isun saksat Bhatara Guru’.

    Sumahur para bhujangga sakapasuk ing nagareng Kadhiri: ‘Pukulun tan wonten ing kuna kuna bhujangga anembah ring ratu’, mangkana linging bhujangga kabeh. Ling i raji Dhangdhang Gendhis: ‘Lah Manawa kang kina kina nora anembah. Kang mangko ta isun sembahen den ira! Manawa sira tan wrh ing kasaktin isun, mangke sun weh I pangawyakti.’

    [Raja di Daha, Dandhang Gendis, berkata kepada para bujangga yang berada di seluruh wilayah Daha, sabdanya: “Wahai, para bujangga Syiwa Soghata, mengapa kalian tidak mau menyembahku, bukankah aku ini Batara Guru.”

    Menjawablah para bujangga di seluruh daerah negara Daha: “Gusti tuanku, semenjak jaman dahulu kala tak ada bujangga yang menyembah raja.” demikianlah kata bujangga semua.

    Kata Raja Dandhang Gendis: “Nah, jika semenjak dahulu kala memang tak ada yang menyembah, sekarang ini aku perintahkan kalian menyembahku, Tidak tahukan kalian kesaktianku, segera akan kubuktikan.”]

    Aku telah memerintah kerajaan ini cukup lama tak dan tergoyahkan. Adakah di antara kalian tidak tunduk menyembah kepadaku. Rajamu yang baik serta bijak mulia ini.

    Hai para pandita, resi, pujangga dan para kawulaku. Aku tiada bedanya dengan Syiwa Bathara Guru.

    Pararaton menceritakan:

    Mangko ta siraji Dhangdhang Gendhis ngadekaken tumbak. Landheyan ipun tinancepaken ing lemah. Sira ta alinggih ri pucuk ing tumbak. Tur angandhika: ‘Lah para bhujangga, delengen kasaktin isun!’

    Sira ta katona acaturbhuja, atri nayana, saksat bhatara Guru rupanira. Winidhi anembaha para bhujangga sakapasuk ing Deha…….

    [Kemudian Raja Dhangdhang Gendhis mendirikan tombak, batang tombak itupun dipancangkan ke dalam tanah, ia duduk di ujung tombak, seraya berkata: “Nah, para bujangga, lihatlah kesaktianku.”

    Ia tampak berlengan empat, bermata tiga, laksana wujud diri Sang Batara Guru, para bujangga di seluruh daerah Daha diperintahkan menyembah……”],

    Seakan serentak, ruang pesewakan agung itu hening, tiada seorangpun yang berani bersuara. Prabu Dhangdhang Gendhis adalah raja ditakuti kala itu, para kawula, sentana, hulubalang, pangreh praja selalu patuh menjunjung tinggi titah Sang Raja, tidak ada satupun yang berani menentang perintahnya.

    Suara pendapa kedaton Daha hening suwung. Tiada bisik-bisik di antara pandita, resi dan janggan. Serentak sukma mereka disentakkan kuasa sang Prabu dengan sangat kuat. Semakin takutlah para resi, pandita, janggan dan lainnya.

    Sang Prabu tertawa, tawanya menggema, meruntuhkan setiap hati di paseban ageng itu. Kembali Sri Baginda memerintahkan agar para pandita bersujud kepadanya.

    Setelah dirasa cukup menunjukkan segala kelebihannya, Sang prabu memperkenankan mereka untuk pulang ke padepokannya masing-masing. Mengabarkan bahwa sang Raja sudah menjelma sebagai dewata. Namun tidaklah demikian; tidak semua pandita mau menerima perintah sinuwun Dhangdhang Gendhis.

    Mereka ingin memberontak. Sejak lama para pandita, resi dan pujangga Daha telah mendengar kabar. Bahwa di daerah Tumapel yang berubah nama Singasari, ada seorang raja baru yang berwibawa dan disegani, bergelar Sri Rajasa.

    Tak jauh dari perbatasan Daha, para pujangga mengurungkan langkah pulang ke padepokan masing-masing. Mereka sepakat menuju Singasari guna menghadap Sri Rajasa. Yang awal kelahirannya bernama Ken Angrok itu.

    Saat para janggan, resi dan pandita sampai ke kota Singasari, bertuturlah mereka di hadapan sang akuwu Angrok tentang Sang Prabu Dhangdhang Gendhis.

    Kabar larinya para pendeta ke Tumapel itu dan kesiapan ngluruknya wadyåbålå Tumapel itu tercium juga oleh sang Dhangdhang Gendhis. Para pendeta memilih berlindung pada Ken Arok, bawahan Dhangdhang Gendhis yang menjadi akuwu di Tumapel. Ken Arok lalu mengangkat diri menjadi raja dan menyatakan Tumapel merdeka, lepas dari Kadiri.

    Dhangdhang Gendhis sama sekali tidak takut. Ia mengaku hanya bisa dikalahkan oleh Syiwa. Mendengar hal itu, Ken Arok pun memakai gelar Bhatara Guru (nama lain Syiwa) dan bergerak memimpin pasukan menyerang Kadiri.

    Pararaton menulis:

    Andhikan iraji Dhangdhang Gendhis: ‘Sapa ta angalahakena ring nagaran isun iki? Manawa kalah, lamun Bhatara Guru tumurun saking akasa, Manawa kalah!’

    [Dhangdhang Gendhis berujar: “Siapakah yang akan mengalahkan negara kami ini, barangkali baru kalah, kalau Batara Guru turun dari angkasa, mungkin baru kalah.”]

    Mendengar sesumbar Sang Prabu, Ken Angrok pun meminta restu kepada para Brahmana untuk memakai nama Hyang Caturbuja alias Bhatara Guru untuk menyerang Daha.

    Keberhasilan Ken Angrok dalam memanfaatkan situasi politik di Daha membuatnya mampu memperbesar kekuasaanya dan memperluas pengaruhnya di Jawadwipa. Obsesinya untuk menjadi raja di Jawadwipa menjadi kenyataan.

    Pararaton mengisahkan:

    Ingaturan sira Ken Angrok, yan siraja Dhangdhang Gendhis angandhika mangkana. Ling ira Sang Amurwwabhumi: ‘He para bhujangga Sewa Soghata kabeh, astwakena isun abhiseka Bhatara Guru’. Samangkana mulan ira abhiseka Bhatara Guru. Ingastwan ing bhujangga Brahmana Rsi. Tur sira anuhu anglurrug maring Deha.

    [Diberi tahulah Ken Angrok, bahwa raja Dandhang Gedis berkata demikian.
    Kata Sang Amurwabumi: “Wahai, para bujangga Syiwa Soghata, restuilah kami mengambil nama abhiseka Batara Guru.” Demikianlah asal mulanya ia menggunakan nama abhiseka Batara Guru, dan telah direstui pula oleh para bujangga brahmana dan resi, Selanjutnya ia pun lalu pergi menyerang Daha].

    Dhangdhang Gendhis mulai gemetar ketika mendengar para resi, pandita juga pujangganya telah merestui sang Rajasa dengan gelar Batara Guru. Pertempuran pun terjadi di sebelah utara Ganter, suatu dusun yang diduga terletak antara Blitar dan Kediri sekarang.

    Di sebelah utara Ganter tentara Tumapel bertempur melawan tentara Daha, apagut sama prawira, anglong ing linongan, maka terdesaklah tentara Daha. Mahisa Walungan adik Raja Dandhang Gendis gugur, bersama-sama dengan menterinya yang perwira, bernama Gubar Baleman.

    Mereka gugur diserang tentara Tumapel yang datang menyerbu laksana amah gunung den ipun aprang. Ken Angrok menghormati kedua perwira Kerajaan Daha itu sebagai pahlawan.

    Samangka ta wado Deha kapalayu, apan pinakadhin ing prang sampun kawenang. Irika ta manjata Deha bubar kawon, pungkur wedhus, dawut payung, tan hana pulih manih.

    [Sekarang tentara Daha terpaksa melarikan gelanggang payudan, mereka merasa inti kekuatan perang telah kalah, tentara Daha bubar laksana lebah, lari terbirit birit meninggalkan musuh pungkur wedhus, dawut payung, dan tak ada perlawanan lagi.]

    [Maka Raja Dandhang Gendis mundur dari pertempuran, angungsi maring Dewalaya. Gumantung ing awang-awang, tekan ing undhakan, pakathik, juru paying, lawan mawa tadhah sedhah, tadah toya, panglante, sama milu angawang-awang.

    Prasiddha alaah ring Deha, den ira Ken Angrok. Lawan sirayin ira, haran Dewi Amisani, Dewi Asin, Dewi Maja, mangkin sama katuran yan siraji Dhangdhang Gendhis alah aprang. Karengha honti Dewalaya gumantunging awang-awang. Mangke ta sira twan dewi katiga, muksa lawan kadhaton pisan.

    [Sudah kalah Daha oleh Ken Angrok. Dan adik adik Sang Dandhang Gendis, Dewi Amisani, Dewi Asin, dan Dewi Maja telah diberi tahu, bahwa raja Dandhang Gendis telah kalah berperang, dan terdengar karengha honti Dewalaya gumantunging awang-awang, maka mereka bertiga muksa lawan kadhaton pisan.

    Irika ta sira Ken Angrok huwus ing jaya satru, mulih maring Tumapel. Kaputer bhumi Jawa den ira, saka kala panjeneng ira huwus kalah ing Deha warna-warna janma iku.

    [Sesudah Ken Angrok menang terhadap musuh, lalu pulang ke Tumapel, dikuasailah tanah Jawa olehnya, ia sebagai raja telah berhasil mengalahkan Daha pada tahun warna-warna janma iku(1144Ç).]

    Nagarakretagama Pupuh 40 (3), mengabarkan:

    ri sakabdhikrtasangkara sira tumeka sri narendreng kadinten
    aang wiranindita sri-krtajaya nipuneng sastra tatwopadesa
    sighralah gong bhayamrih malajeng anusup pajaran parswa sunya
    sakweh ning bhrtya mukyang para prajurit asing kari ring rajya sirnna
    .

    [Tahun sakabdhikrtasangkara (1144) beliau melawan raja Kediri,
    Sang adiperwira Sri Kretajaya, putus sastra serta tatwopadesa,
    Kalah, ketakutan, melarikan diri ke dalam biara terpencil,
    Semua pengawal dan perwira tentara yang tinggal, mati terbunuh.]

    Berdasarkan kitab Nagarakretagama, Prabu Kertajaya bersembunyi di Dewalaya (alam Dewa), disebutkan sebagai ‘melarikan diri ke dalam biara terpencil’ atau tempat suci, maka bukan tidak mungkin Prabu Kertajaya sebenarnya tidak tewas di tangan Ken Arok, melainkan melarikan diri ke Kabataraan Gunung Sawal (Panjalu Ciamis) yang merupakan tempat suci dimana bertahtanya Batara (Dewa) Tesnajati.

    Seusai peperangan di dusun Ganter, pulanglah dia ke Tumapel, dikuasailah tanah Jawa olehnya, Ken Angrok mengangkat dirinya sebagai raja dan mengubah status Tumapel yang semula merupakan negara bagian dari Kerajaan Daha (Kadiri) menjadi negara merdeka dengan nama Singasari.

    Bahwa Ken Arok benar-benar berkeinginan menjadi raja, Puncak kekuasaan kemudian berhasil ia peroleh, sekaligus menjadi awal kemelut berkepanjangan yang diwarnai dengan pertumpahan darah. Ken Arok menjadi raja pertama Singasari, beribu kota di Kutaraja. ia pun mengangkat dirinya sebagai raja pertama Singasari yang bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabumi, dalam waktu hanya lima tahun.

    Namun di balik kebesaran Singasari, Pararaton mencatat bahwa bibit perpecahan mulai tumbuh subur. Ada jalinan asmara, tapi juga perselingkuhan, cemburu, pengkhianatan, culas, haus darah dan dendam; penuh intriks, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antar saudara, pembunuhan, dan kematian. Justru timbul di lingkungan kecil keluarga Angrok Sang Pembangun itu sendiri.

    Ataukah Angrok melakukan perannya sebagai Sang Pengguncang kembali? Seperti sejak awal berdirinya, Tumapel kembali berdarah, sejak Sang Akuwu Tumapel Tunggul Ametung dibunuh oleh Ken Arok.

    Ken Arok sedang dibakar oleh api yang telah menyentuh perasaannya. Di masa-masa lalu, ketika ia masih berkeliaran di hutan-hutan, apapun pernah dilakukannya.

    Merampas, merampok dan juga memerkosa. Tetapi kini sebagai seorang Akuwu ia tidak berdaya melawan lembutnya tangan-tangan Umang yang menyeretnya ke dalam lembah yang berbahaya.

    Meskipun wajah Ken Arok menjadi semakin tegang. Namun Ken Arok seakan-akan telah benar-benar membeku, sehingga ia tidak mampu berbuat apapun juga di depan Umang. Umang mengerutkan keningnya. Tetapi hatinya melonjak kegirangan.

    Kalau ia berhasil, maka ia akan dapat duduk di samping akuwu baru itu. Setidak-tidaknya ia akan mendapat sebagian dari kekuasaan atas Tumapel, yang akan melimpah kepada anak-anaknya kelak. Itulah awal bencana itu.

    Umang si “perempuan binal” telah berhasil menjebak sang Akuwu baru, di padang perburuan. Penulis kropak menyamarkan sebagai kuda si Umang: “yang sedang enak-enak memakan rerumputan muda”.

    Panji-panji kemenangan telah berkibar di hatinya. Ia telah berhasil menundukkan seekor burung rajawali yang menguasai seluruh langit Tumapel. Ken Arok pun kêsrimpet pinjung Ken Umang, dan bagaimanapun juga Angrokpun akhirnya mengakuinya, ia memang memerlukannya. Ia memang memerlukan perempuan lain selain Ken Dedes.

    Tingkah laku Ken Arok setelah peristiwa itu benar-benar membuat Ken Dedes menjadi heran. Meskipun Ken Arok adalah seorang suami yang baik sejak mereka nikah, namun tiba-tiba saja Ken Arok menjadi seperti seorang pengantin yang baru saja dipertemukan di pelaminan. tetapi Ken Dedes tidak menaruh prasangka apapun.

    Ia menyangka bahwa sesuatu sedang bergetar di dalam dada Ken Arok. Mungkin ia sedang tidak berminat untuk berburu di hutan, atau kelelahan yang mencengkamnya. Mungkin badannya tetapi juga mungkin pikirannya.

    Sebagai seorang istri yang baik, Ken Dedes berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Namun kegelisahan yang kadang-kadang mencengkam Ken Arok sehingga mempercepat detak jantungnya, teraba oleh perasaan halus seorang istri.

    Meskipun Ken Arok berusaha bersikap sebaik-baiknya, tetapi tangan Ken Dedes merasakan getar yang tidak wajar pada arus darah suaminya. Demikianlah, maka setelah musim berburu itu telah menimbulkan persoalan baru di dalam istana Tumapel. Persoalan yang akan berekor panjang sekali.

    Ken Dedes menyadari bahwa dirinya dimadu. Dan perselingkuhan pun dilegalisasi. Segera Dedes meminta Angrok menikahinya, dengan alasan Pakuwon Tumapel perlu diatur oleh lelaki yang kuat. Tapi satu hal yang dilupakan Ken Dedes, disini tak jelas siapa memanfaatkan siapa.

    Walau Ken Dedes menjadi permaisuri dan meminta agar keturunanya memperoleh hak atas tahta sebagai syarat yang diajukannya, tetapi Angrok memiliki istri lain, yang jelas lebih dicintainya. Cinta yang tumbuh yaitu Umang. Ini bukanlah siapa yang tercantik, tetapi ini tentang hati. Tentang cinta yang tak bisa dibohongi.

    Ken Dedes yang merana di malam-malamnya, merasa kesepian. Kandungan yang ada hasil pernikahannya dengan Ametung, dirawat dan dipeliharanya dengan baik. Dan kemudian, setelah anaknya, Anusapati lahir, ia didik untuk menjadi pewaris singgasana Singasari.

    Di sisi lain Ken Arok dan Ken Umang memiliki anak juga, Tohjaya. Maka menjadi pentinglah siapa yang akan mewarisi kerajaan ini, apalagi setelah Ken Arok berhasil mengalahkan raja Kediri, Kertarajasa dan mendirikan kerajaan Singasari.

    Selain itu Ken Arok dan Ken Dedes juga memiliki anak yang sebenarnya diramalkan akan menurunkan raja terbesar dipulau Jawa.

    Demikianlah, gonjang-ganjing êmbhok tuwå êmbhok ênom yang berakibat Sang Amurwabhumi bertindak “tebang pilih”.

    Pararaton menulis:

    Alama sirå patutan manih lawan sirå Ken Angrok, mijil lanang haran Mahiså Wongateleng. Mwah hari den irå Mahiså Wongateleng lanang haran Sang Apanji Saprang. Harin irå Panji Saprang lanang haran sirå Aghnibhåyå. Harin ira Ghnibhåyå wadon, haran sirå Dewi Rimbhu. Patpat suthanira Ken Angrok lawan Ken Dedes.”

    [Setelah lama perkawinan Ken Angrok dan Ken Dedes itu, maka Ken Dedes dari Ken Angrok melahirkan anak laki laki, bernama Mahisa Wonga Teleng, dan adik Mahisa Wonga Teleng bernama Sang Apanji Saprang, adik Panji Saprang juga laki laki bernama Agnibaya, adik Agnibaya perempuan bernama Dewi Rimbu, Ken Angrok dan Ken Dedes mempunyai empat orang anak.]

    Hånå tå bini ajin irå Ken Angrok anom, haran sirå Ken Umang. Sirå ta apatutan lanang haran sirå Panji Tohjaya. Harin irå lanang haran sira Panji Sudhatu. Harin irå Panji Sudhatu lanang, haran sirå Tuwan Wregola. Harin irå Tuwan Wregola stri haran sirå Dewi Ramti. Kweh ing putra 9; lanang 7; wadon 2.”

    [Ken Angrok mempunyai isteri muda bernama Ken Umang, ia melahirkan anak laki laki bernama panji Tohjaya, adik panji Tohjaya, bernama Panji Sudhatu, adik Panji Sudhatu bernama Twan Wregola, adik Twan Wregola perempuan bernama Dewi Rambi. Banyaknya anak semua ada 9 orang, laki laki 7 orang, perempuan 2 orang.]

    Tohjaya yang di”êmban cindhé”kan harus menjadi Putra Mahkota, dan dengan berbagai cara Anusapati anak Tunggul Ametung yang di”êmban siladan”kan, harus disingkirkan, dengan demikian maka terbukalah jalan bagi Tohjaya menggantikannya sebagai penerus takhta Singasari.

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  10. matur nuwun Ki Bayu,

    saya kadang menghayalkan, apabila yang kemudian menguasai tahta adalah keturunan Ken Umang, mungkin pujasastra yang muncul akan bertolak belakang dengan yang kita ketahui saat ini.
    Hal ini untuk memastikan bahwa sejarah kadang kala/ (selalu) ditulis sesuai selera penguasa.

    nyuwun agunging pangaksami menawi lepat.
    Sugeng dalu.

  11. sing anyar endi ki…….sebah behhh

  12. endi sing anyar ki…….behhh sebah

    • DJVU…..matur nuwun, terima kasih

  13. matur nuwun Ki Ajar pak Satpam,
    nasi krawune mpun kula tedha.

    lha gandhok anyare kok pancet gembokan to….?

  14. Nuwun
    Sugêng dalu ngancik madyå ratri

    Sanak Kadang padépokan pêlangisingosari,
    Nyuwun sèwu, nyuwun pangapuntên, radi sawêtawis dangu mbotên sowan padépokan. Sumånggå samyå dêdongå: Mugi tinêbihnå ing rêridu, tansah pikantuh sih kanugrahaning Gusti Ingkang Måhå Wikan. Rahayu ingkang tansah pinanggih.

    Katur Sanak Kadang ingkang satuhu kinurmatan

    Sering terjadi bahkan selalu (seperti yang Ki Gembleh sampaikan [On 7 Juni 2011 at 21:50 gembleh said:]), bahwa sejarah dibuat mengikuti kemauan sang penguasa. Dongeng Ken Angrok pada Serat Pararaton pun ternyata tidak luput dari hal itu.

    Kita tahu dari sejarah ditulisnya Pararaton. Kitab Pararaton, sering disebut Kitab Para Ratu atau Kisah Ken Angrok ditulis pada 1613 M. Sumber lain mencatat bahwa Pararaton dibuat pada 1641. Dalam Sejarah Nasional Indonesia II dikatakan bahwa Pararaton ditulis pada akhir abad ke-15 dalam bentuk prosa (gancaran), ditulis dengan gaya sastra Jawa Tengahan dalam bahasa Jawa Kawi. Naskah ini cukup singkat, berupa 32 halaman seukuran folio yang terdiri dari 1.126 baris.

    Pararaton menceritakan kronik Singasari sejak Ken Angrok (Ken Arok) sampai habisnya Kerajaan Majapahit. Pararaton adalah salah satu sumber sejarah penting masa Kerajaan Majapahit di samping Nagarakretagama karangan Mpu Prapanca. Pararaton berhasil diterjemahkan pada 1896 oleh Brandes, dan berhasil terbit pada 1920 setelah dilakukan penyuntingan oleh Krom.

    Hal menarik mengenai serat ini adalah tidak jelasnya siapa pengarang Pararaton itu sendiri.Yang dapat dijadikan jejak penelusuran asal-mula serat ini adalah nama desa dan waktu penyelesaian Pararaton.

    Pada penutup Pararaton disebutkan bahwa Pararton selesai ditulis di Itcasada di desa Sela Penek, pada tahun saka: 1535. Diselesaikan ditulis hari Pahing, Sabtu, minggu Warigadyan, tanggal dua, tengah bulan menghitam, bulan kedua.

    Ini menjadi kontroversi ketika mendapati kenyataan bahwa Pararaton ditulis pada 1613 M, tepatnya pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma di Mataram berkuasa.

    Sultan Agung adalah salah satu keturunan dari penguasa Jawa (Pajang — Demak –Majapahit — Singasari), sehingga dalam garis lurus adalah keturunan Ken Angrok.
    Ketika Ken Arok yang di dalam cerita disebutkan sebagi anak orang kebanyakan, anak seorang perampok yang bernama Bango Samparan, bahkan Ken Angrok diceritakan adalah penjahat yang paripurna, artinya gawéan må limå adalah gawéan dia, yang pada akhirnya dia menjadi raja, ia pun dicari-cari nasabnya sampai ke sosok yang paling berpengaruh.

    Ken Arok disebut-sebut memiliki trah raja karena ayahnya adalah raja atau seorang penguasa. Tapi entah siapa penguasa itu, hanya yang kita tahu, bahwa Ken Angrok adalah cikal bakal raja-raja Jawa maka dibuatlah “skenario” sedemikian rupa bahwa dia ternyata adalah kekasih para dewa, putra Brahma, titisan Wisnu, dan penjelmaan Syiwa Budha.

    Lha mosok leluhur trahing kusumå rêmbêsing madu penguasa Tanah Jawa kok doyan må limå? Begitu kira-kira maunya si penyusun Pararaton.

    Dalam banyak kisah, para raja yang beasal dari rakyat jelata, tidak berkasta ksatria atau pendeta pun harus di’ksatria’kan melalui para pujangga (wartawan/jurnalis) istana.

    Para pujangga pembuat sastra puja (Pararaton salah satunya) itu berkewajiban menciptakan silsilah baru, agar sang raja yang paria atau sudra, yang tidak jelas asal usulnya, berubah menjadi keluarga ningrat. Malah tak jarang para raja itu dibuatkan rasi keturunan para dewa.

    Raja dalam kosmologi Jawa adalah titisan Dewa. Untuk itu, anak raja, terlebih seorang Arok yang ayahnya tak mau menunjuk hidungnya sendiri, akan ditulis sebagai anak Dewa, dalam hal ini Dewa Brahma, seorang Dewa Pencipta; di tempat lain disebut sebagai titisan Batara Guru, Dewa Syiwa, bahkan Dewa Wisnu. Mitos dan legitimisme yang bercampur-aduk di dalam penulisan sejarah tradisional ternyata masih terus saja diadopsi oleh para sejarahwan.

    Dalam buku Babad Tanah Jawi, buku yang berkisah tentang sejarah Pulau Jawa yang ditulis oleh Carik Braja atas perintah Sunan Paku Buwono III. Berisi banyak tembang Jawa dan merupakan sebuah karya sastra sejarah. Buku ini juga memuat silsilah raja-raja Mataram dengan memberi legitimasi berupa garis keturunan lagsung dari Nabi Adam.

    Dalam masyarakat Jawa ada konsep pangiwå panêngên untuk mencari legitimasi keturunan seseorang. Konsep panêngên, adalah keturunan yang berasal dari Nabi Adam ditarik ke bawah lewat para tokoh kenabian, Idris, Sits, Nuh, Sholeh, sampai Nabi Muhammad turun temurun sampai para ulama.

    Sedangkan pangiwå, legitimasi garis keturunan yang tidak hanya menyangkut kepada para nabi, tapi juga tokoh-tokoh pewayangan dari Nabi Adam, turun ke Sang Hyang Nur Rasa, Sang Hyang Nur Cahya, Batara Guru terus lewat para tokoh wayang, tokoh mitos Nyi Roro Kidul sampai ke raja-raja Jawa.

    Nah, sumånggå sanak kadang, barangkali ada yang berminat menyelususri jejak leluhurnya. Siapa tahu masih kadang katut atau nak ndulur, atau isih mambu-mambu trah dengan Sri Rangga Rajasa Batara Sang Amurwabhumi atawa Ken Angrok, yang hidup pada abad ke-13 yang lalu.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  15. Matur nuwun tambahan wawasanipun Ki Bayu.
    Sugeng enjang kadang sedoyo

  16. Matur nuwun P. Satpam,
    sudah ngunduh

  17. Gimana cara ngebuka halaman yg ada isi ceritanya dari mobile web? Saya cuma bisa buka HLHLP saja.
    Trima kasih.

    Yag tersedia di sini rontal dengan format djvu. Ada yang bisa baca dengan hp, tetapi saya tidak bisa (belum tahu caranya).
    Format teksnya sudah dipindahkan ke http://serialshmintardja.wordpress.com/ silahkan membacanya di sana.

  18. wow baguezzzzzzzzzzz bngetzzzzz 2 hoyo jaman dulu ea?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: