NSSI-19

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 9 Juni 2011 at 06:54  Comments (62)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-19/trackback/

RSS feed for comments on this post.

62 KomentarTinggalkan komentar

  1. SIJI

    • hadir mendHISIK-i daripada cucunya ki KARTO

      • PAGI INDONESIA-ku….PADUKUHAN-ku….SAWAH LADANG-ku

        • hadir menGINTHIL-i ki GUNDUL daripada cucunya

          • melu inthil-inthil lah

  2. waduuuh kalah ama ki gun🙂

    • ki gun, skrng rambutna dah numbuh lom?🙂

      • klo dah puanjaaaang, namanya ganti ki gon🙂

        • ga bisa panjang tuh…..soalnya brintik je

          • si MITA ra seneng brintik ki,…..tul kan MIT….!!??

          • sing pentil..eh..penting ono jambule….

          • arya ga brintik tu🙂

          • mang dah pernah liat?..🙂 kan pake blangkon…

          • dulu waktu berantem ama sawung tu arya ga pake blangkon …. jd kliatan lurusna🙂

          • He..?!…mosok lurus ?🙂 …

          • lha kalo bengkak-bengkok apa ya mungkim ki….🙂

          • nek bengkak koyone yo ra no2 tho Ki….nah bengkok akeh🙂 …

  3. eh ada pasfotone arya🙂 ….. hmmmmmm …….🙂🙂

    • lha endi pasfotone mbak Mita, mengko tak jejerno😛 hmmmmmmmmmmmmmmmmm😛😛

      • fasfotone dijejerke fasbunga…mesti fas..hmmmmmmm

      • ntar aja klo dah resmi🙂

  4. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

    Waosan sebelumnya:
    Wedaran kaping-10: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-5). Keris Mpu Gandring [Parwa ka-2] On 7 Juni 2011 at 21:18 NSSI 18.

    Wêdaran kaping-11:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-7)

    Keris legendaris:
    • Keris Mpu Gandring
    • Keris Kyai Någåsåsrå
    • Keris Kyai Sabuk Intên
    • Keris Kyai Sengkelat
    • Keris Kyai Condong Campur
    • Keris Kyai Carubuk
    • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

    KERIS MPU GANDRING [Parwa ka-3]

    Anusapati yang telah tumbuh dewasa merasa kurang disayangi oleh Ken Arok dibanding saudara-saudaranya yang lain, anak Ken Dedes dari Ken Arok. dengan segala rasa penasaran dia bertanya kepada sang ibu perihal ketidakadilan sikap ayahnya dalam memperlakukan dirinya. Setelah mendesak ibunya, Sang Permaisuri Ken Dedes, dan dengan penuh penyesalan Ken Dedes menceritakan siapa sebenarnya ayahandanya.

    Babad Tanah Jawi menulis:

    Kacaritå Sang Rêtnå Dhèdhès nalikå sédané adipati Tunggul Amêtung wis ambobot. Barêng wis têkan mangsané, Sang Rêtnå mbabar putrå kakung, diparingi pêparab Radèn Anusåpati. Wiwit timur nganti diwåså Sang Pangéran ora ngêrti yèn satêmêné dudu putrané Prabu Rêjåså, nanging rumångså yèn ora ditrésnani ing Sang Prabu, bêdå bangêt karo rayi-rayiné. Ing sawijining dinå Anusåpati kêlair marang ibuné mangkéné: “Ibu, punåpå, déné Kangjêng råmå punikå têkå botên rêmên dhatêng kulå?” Sang Rêtnå bangêt trênyuhing galih mirêng atur sasambaté kâng putrå, wasånå banjur kêprojol pangandikané; kâng putrå dicritani lêlakoné wiwitan têkan wêkasan.

    Anusåpati bangêt ing pangunguné, sanalikå banjur duwé sêdyå malês ukum, nanging isih sinamun ing sêmu. Kêris yasané Êmpu Gandring disuwun, pawatané mung kêpingin bangêt anganggo. Kang ibu låmbå ing galih, kêris diparingaké. Anusåpati banjur nimbali abdiné kêkasih, diparingi kêris mau lan diwêruhaké ing wêwadiné. Bêngine Sang Prabu sêdå kaprajåyå ing duratmåkå.

    Pararaton menulis:

    Tan suddhan irå Nusapati atakon i sirebhun irå. ‘Ibu isun ataken ing sirå. Punapi kalingane sirå båpå yen tuminghali ingsun, patehe tinghal i rå kalawan sanak isun kabeh. Tan ucapen n lawan putran irå ibhu anom? Mangkin pahe tinghal irå båpå,”

    [Karena tidak mendapat keterangan yang memuaskan, Sang Anusapati bertanya kepada ibunda Sang Permaisuri: “Ibu. Tolong jelaskan pada ananda, bagaimana hal ini terjadi? Kalau ayahanda prabu melihat hamba, berbeda pandangannya kalau Sri Rajasa melihat anak-anak ibu muda, pandangan ayah itu sangatlah berbeda.]

    tuhu yan såmå saman irå Sang Amurwwabhumi.’ Sahur irå Ken Dedes: ‘Kaya dudu kang angandheli, yen sirå kaki ahyun wruhå, sirå Tunggul Ametung harane raman irå.”

    [Inilah takdir bahwa sungguh sudah datang saatnya bagi Sang Amurwabhumi. Jawab Ken Dedes: “Ketahuilah ngger bahwa ayahandamu itu adalah Tunggul Ametung,]

    Ling irå Sang Anusapati: ‘Kalingane ibhu, dudu båpå isun Sang Amurwwabhumi? Punåpå tå ibhu padhem irå båpå?’

    [Anusapati bertanya kembali: “Jadi ibu. Sang Amurwabumi itu bukan ayah hamba, lalu bagaimana ayahanda meninggal?”]

    Dan tentu saja setelah Anusapati beranjak dewasa, cerita tentang kematian ayahandanya mengalir indah dari sang ibu, dengan warna dendam dan kemarahan seorang istri sekaligus seorang Permaisuri yang disia-siakan.

    Akhirnya Anusapati mengetahui bahwa sesungguhnya ia merupakan anak kandung Tunggul Ametung yang mati dibunuh Angrok. Mengetahui kisah tersebut membuat Anusapati naik darah dan membunuh Sang Amurwabumi saat itu juga dengan keris Empu Gandring pemberian ibunya.

    Dari sini dapat diketahui bahwa Ken Dedes juga turut berperan dalam konflik internal Kerajaan Singasari.

    Ken Dedes Sang Ardhanareswari yang mendapatkan limpahan Singgasana Tumapel dari Akuwu Tunggul Ametung pada waktu itu. Terngiang di telinga Ken Dedes seolah-olah Sang Akuwu Tumapel waktu itu baru saja berujar: “Akan aku tebus semua kesalahan ini. Akan aku ganti yang hilang dari gadis itu dengan semua yang aku miliki, termasuk singgasana Tumapel.”

    Dan kata-kata janji itu seakan-akan disambut oleh suara guruh yang menggelegar dan guntur yang bersahut-sahutan di antara kilat yang bersambung. Suaranya bergelora seolah-olah menggugurkan Gunung Kawi, Gunung Arjuna dan Gunung Semeru. Akuwu itu pun kemudian menjadi gemetar. Hampir-hampir ia tidak dapat lagi berdiri tegak pada kedua kakinya.

    Dengan tangan yang menggigil dicobanya untuk berpegangan pada tiang-tiang pintu sêntong têngên sambil memejamkan matanya. Tunggul Ametung telah mengangkatnya dari seorang putri Brahmana di desa di kaki Gunung Kawi menjadi permaisuri di istana Tumapel.

    Dan kini, hadirlah Angrok di hati Ken Dedes, Angrok, orang yang membunuh suami Ken Dedes yang pertama, adalah orang yang Ken Dedes cintai, ia yang kemudian rela dinikahi oleh pembunuh suaminya itu. Tetapi dengan hadirnya perempuan lain di istana Singasari ini, bukanlah hal yang tidak mungkin, hak atas tahta yang ia peroleh dari suaminya terdahulu akan direnggut paksa oleh Ken Arok, yang kemudian pasti ia lintirkan ke Tohjaya anaknya Umang.

    Tertanam dendam di hati Ken Dedes, dendam karena suaminya lebih mencintai perempuan lain. Itulah kemudian yang terjadi. Ken Dedes telah berpihak. Didorong dendam seorang istri yang dimadu, kekuasaan tahta Singasari, yang dapat terlepas karena ulah marunya itu.

    Jadi, tak ada jalan lain kecuali merestui keinginan sang anak untuk membunuh Angrok. “‘Sang Amurwwabhumi kaki amaten i!’ meneng sirå Ken Dedes arupå kaluputan den ing awwretå majati ring sirå nak irå.”

    [“Sang Amurwabhumilah yang membunuhnya. Anakku,” Ken Dedes menyahut dengan berat hati. Diamlah ia, tampak Sang Permaisuri sangat merasa menyesal karena telah memberitahu hal yang sebenarnya kepada putranya.

    Ling nirå Nusapati: ‘Ibhu, wanten duwung irå båpå? Antuk ipun Gandring akaryyå. Ingsun tadhan ipun ibhu’ .”

    Kata Anusapati: “Ibu, ayah mempunyai keris buatan Gandring. Hamba pinta, ibu.”

    Sinungaken den irå Ken Dedes ring sang Anusapati …...”

    Maka diberikanlah oleh Ken Dedes keris itu kepada Sang Anusapati. Keris yang menentukan arah sejarah Singasari selanjutnya. Hari-hari selanjutnya Singasari dicekam oleh oleh kegelisahan, dendam, amarah yang tertahan, bagaikan Gunung Arjuno yang kawahnya tertutup kubah lava yang terus mengembang dan bertambah besar. Bukan tidak mungkin letusan dahsyat akan segera terjadi.

    Peristiwa itu terekam dalam ingatan. Gandring Sang Gusali, dan korban-korban lainnya yang harus jatuh. Korban-korban yang bagaikan rabuk bagi kesuburan Tanah Tumapel. Memang mungkin korban-korban itu tidak bersalah. Dan korban yang demikian itulah yang akan membuat Tumapel menjadi besar. Duhung anyar bergagang cangkring wilahan berbintik kuning tiga, berpamor biru di atas baja pilih tanding, kembali meminta darah. Angrok telah membuat suatu kesalahan.

    Pesan Gandring sebelum ajal sudah jelas: “Hancurkan sajalah keris itu, karena keris itu akan meminta korban dan korban. Akan datang saatnya keris itu membunuh Akuwu Tunggul Ametung, tetapi juga orang-orang lain. Karena itu, sebaiknya keris itu, kau tiadakan saja…..

    Sasangka sira Gandring angucap: ‘Kang amaten i ring sira tembe kris iku, anak putun ita mati dene kris iku, oleh ratu pipitu tembe kris iku amateni.’ Wus ira gandring angucap, mangkana mati sira Gandring.

    [Sesaat kemudian Gandring menjatuhkan sumpah: “(Hey Angrok), kelak kamu akan mati oleh keris itu, anak cucumu akan mati karena keris itu juga, tujuh orang raja akan mati karena keris itu.” Sesudah berkata demikian Mpu Gandring pun meninggal.]

    Keris ini harus dihancurkan. Harus.

    …… Annuli pinrangaken ing Lumpang sela pambebekan gurindha, belah aparwa. Pinrangaken ing paron ira Gandring, belah apalih.

    [……. Lalu diletakkan pada lumpang batu tempat air asahan, lumpang berbelah menjadi dua, diletakkan pada landasan penempa, juga ini berbelah menjadi dua.]

    Bukan keris ini yang luluh tetapi paron itulah yang hancur, dan korban berikutnya adalah Tunggul Ametung yang terbunuh di bangsal peraduannya, Kebo Idjo menjai tumbal, dan sekarang. Kembali, Pakuwon Tumapel menebar bau anyir karena becek darah yang tumpah.

    Ken Angrok Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi menemui ajalnya, di kala senja sandhé jabung sampun ing surup amasang sandhé [sandyakala saat rembang petang, matahari menjelang terbenam, ketika pelita-pelita telah dinyalakan pada tempatnya].

    Terkadang kejadian besar ditandai oleh peristiwa alam yang agak menyimpang dari urutan musimnya. Semacam firasat buruk. Bukan. Tak ada kejadian alam yang harus dikait-kaitan dengan sesuatu yang bakal terjadi.

    Tetapi Angrok juga seorang manusia biasa yang tak luput dari karma. Ia adalah wujud dari segala macam dosa, yang menyatu dalam satu wadag. Angrok yang kemudian bergelar Sri Rangga Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi yang duduk di singgasana Singasari beralaskan darah Gandring, Kebo Idjo dan Tunggul Ametung harus segera berakhir.

    Singgasana itu bagaikan bara api yang membakar siapa saja yang duduk di atasnya apabila dia tidak direstui oleh Yang Maha Agung.

    Tetapi yang sangat menyedihkan, adalah Umang. Umang bersedih bukan karena kematian Sri Rajasa, tetapi ia menangis karena ambisinya menghantarkan anak lelakinya Tohjaya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Singasari kandas sudah.

    Sepercik darah telah membasahi tahta Singasari seperti juga saat Tumapel jatuh ke tangan Angrok. Alih-alih Anusapati yang hendak disingkirkan, justru Sri Rajasalah yang harus mati. Ken Angrok Sri Rajasa Batara Sang Amurwabhumi disingkirkan dengan cara yang sama seperti Tunggul Ametung disingkirkan.

    Pengalasan dari Batil yang menjadi lantaran. Benarlah yang diucapkan Sang Gusali Gandring, sebaiknya keris itu dihancurkan saja, sebelum merenggut nyawa demi nyawa.

    Adalah seorang hamba Sang Putra Mahkota, seorang pengalasan dari Batil, dipanggil oleh Putra Mahkota Sang Anusapati, diperintahkan hamba itu untuk membunuh Sang Amurwabhumi, diberinya keris bergagang cangkring yang ia terima dari ibundanya.

    Pararaton menulis:

    mangkat wong Bhatil maring dalâm kâdhaton. Kpanggih Sang Amurwwabhumi sêdhang ing anadhah. Têhêr sinudhuk sirå dén ing wong Bathil. Duk sirå kasurnnan, Wrêhaspati ing Landhêp, masan irå anadhah sandhé jabung sampun ing surup amasang sandhé.

    [Berangkatlah pengalasan dari Batil masuk ke dalam istana, dijumpai Sang Amurwabumi tengah bersantap, ditusuklah dengan keris Gandring oleh orang Batil itu. Peristiwa itu terjadi pada hari Wrahaspati (Kamis) Pon, wuku Landhêp, saat Sri Rajasa sedang bersantap, sandyakala saat rembang petang, matahari menjelang terbenam, ketika pelita-pelita telah dinyalakan pada tempatnya.]

    Sampun ing lihå Sang Amurwwabhumi, mâlayu wong Bathil. Angungsi ring Sang Anusapati, matur wong Bathil: ‘Sampun mokta sirå råmå pakan irå dén manirå.’ Nêhêr sinuduk wong Bathil dén irå Nusapati.

    [Sesudah Sang Amurwabhumi mati, maka larilah orang Batil, mencari perlindungan pada Sang Anusapati, berkata orang Batil itu: “Perintah tuan sudah aku laksanakan. Matilah Sri Ranggah Rajasa oleh hamba.” Untuk menghilangkan jejak, Anuspatipun segera membunuh pangalasan dari Batil itu.]

    Ujar ing wong Tumapel, abhatårå sirå ngamuk dén ing pangalasan ing Bathil. Sirå Nusapati angêmbêr i hanuk. Linan irå Sang Amurwwabhumi, i såkå 1169. Sirå Dharmméng Kagênêngan.

    [Orang-orang Tumapel saling menceritakan: “Bhatara Sang Amurwabhumi diamuk dan mati dibunuh oleh pangalasan dari Batil, Sang Amurwabumi wafat pada tahun saka 1169/1247M, dicandikan di Kagenengan.]

    Babad Tanah Jawi menceritakan:

    Layone Sang Prabu dicandhi ånå ing Kagenengan (cêdhak Malang). Anusapati nggênténi jumênêng Nåtå.

    Nagarakretagama tidak menjelaskan bagaimana Ken Arok léngsér kêprabon. Kalau Pararaton menyebutkan bahwa bahwa masa pemerintahan Ken Arok selama duapuluh lima tahun (1222-1247); maka Nagarakretagama menyebutkan hanya selama lima tahun (1222-1227), yang kemudian dilanjutkan oleh putranya, Anusapati (1227-1248).

    Dengan mangkatnya Ken Arok, Ken Dedes telah kehilangan dua orang lelaki yang dicintainya. Tetapi Ken Dedes telah mempersatukan dua aliran darah keturunannya.

    Ken Dedes Sang Ardanareswari. Kuntum Bunga dari Panawijen Kaki Gunung Kawi yang teramat cantik itu, yang selama hidupnya nglakoni karma amamadangi, yang dari guwa garbanya melahirkan para penguasa Tanah Jawa.

    Sabda sumpah Pandita Budha Mahayana Empu Purwa: Mangkana ling ira Mpu Purwwa. Kalawan ta anak ingsun ‘marajakên karma amamadhangi’, anghing sot mami ring anak mami: ‘moggha anemwa rahayu, den agung bhagyane.’ Mangkana sot ira Mahayana ring Panawijen.

    [Begitulah sabda Empu Purwa: “Adapun anakku ‘marajakên karma amamadhangi’, doaku untuknya semoga ia mendapat keselamatan dan kebahagiaan besar.” Demikian sumpah Pendeta Mahayana di Panawijen itu].

    Dang Hyang Lohgawe pun mengatakan: “….iku stri naréswari harané, …….”
    [Itulah perempuan ardanaréswari namanya]. Perempuan yang akan menurunkan raja-raja di Jawa Dwipa.

    Sampun mangkana, Sang Anusapati anggantya ajeneng ratu. Duk Sang Anusapati ngadheg ratu, isaka 1170

    [Sesudah demikian, sang Anusapati mengganti menjadi raja, ia menjadi raja pada tahun 1170Ç.]

    Alama kawretta den Raden Tohjaya. Yata karengha sapolah ira Sang Anusapati angupahaken ing Sang Amurwwabhumi. Mokta den ing wong Bathil. Sang Apanji Tohjaya, tan suka moktan ing sira raman ira. Akira-kira amet pamales, marggan ing kapatin ira Sang Anusapati. Wruh Sang Anusapati, yan kinire den ira Sang Apanji Tohjaya. Yatna Sang Anusapati. Pagulingan ira binalungbang. Ring pamengkang wong angayeng i, pikandhel atata.

    Huwus alama marek Sang Apanji Tohjaya. Amawa sawung sira. Mareng Bhatara Anusapati. Ling ira Panji Tohjaya: ‘Kaka, wonten kris ira bapa? Antuk ipun Gandring akaryya? Isun tedhan ipun ing sira.’ Tuhu yan samayan ira Bhatara Nusapati. Sinungaken duhung antuk ipun gandring akaryya, den ira Sang Anusapati, tinanggapan den ira panji Tohjaya, sinungklang tumuli.

    Duhung ira kang ingangge ring uni, sinungaken ing wong ira. Ling ira Panji Tohjaya: ‘Duweg kaka ta bongbong’. Sumahur sang Anusapati: ‘lah yayi’.
    Ya tumuli akena angambila sawung ring juru kurung. Ling ira Nusapati: ‘Lah yayi ta adun ipun pisan’. ‘Singgih’. Ling ira Panji Tohjaya. Sama anajini dhawak, sama akembar.

    Katungkul Sang Anusapati. Tuhu yan sedhengan antakan ira. Kemper pijer angadoken sawung ira. Sinudhuk den ira Panji Tohjaya. Liha Sang Anusapati, isaka 1171. Dhinarmma sira ring Kadhal.

    [Lama kelamaan diberitakan kepada Raden Tohjaya, anak Ken Angrok dari isteri muda, sehingga ia mendengar segala tindakan Anusapati, yang mengupahkan pembunuhan Sang Amurwabumi kepada orang Batil.

    Sang Apanji Tohjaya tidak senang tentang kematian ayahnya itu, memikir mencari cara untuk membalas, agar supaya ia dapat membunuh Anusapati.
    Anusapati tahu, bahwasanya ia sedang direncana oleh Panji Tohjaya, berhati hatilah Sang Anusapati, tempat tidurnya pun dikelilingi kolam, dan pintunya selalu dijaga orang, sentosa dan teratur.

    Setelah lama kemudian Sang Apanji Tohjaya datang menghadap dengan membawa ayam jantan pada Batara Anusapati.
    Kata Apanji Tohjaya: “Kakang, ada keris ayah buatan Gandring, itu hamba pinta dari tuan.”

    Sungguh sudah tiba saat Batara Anuspati. Diberikan keris buatan Gandring oleh Sang Anusapati, diterima oleh Apanji Tohjaya, disisipkan dipinggangnya, lalu kerisnya yang dipakai semula, diberikan kepada hambanya.
    Kata Apanji Tohjaya: “Baiklah, kakang mari kita menyiapkan ayam jantan untuk segera kita adu di gelanggang.”

    Menjawablah Sang Adipati: “Baiklah, adi.” Selanjutnya ia menyuruh kepada hamba pemelihara ayam mengambil ayam jantan, kata Anusapati: “Nah, adi mari mari kita sabung segera.”, “Baiklah” kata Apanji Tohjaya.

    Mereka bersama sama memasang taji sendiri-sendiri, telah sebanding, Sang Anusapati asyik sekali.
    Sungguh telah datang saat berakhirnya, lupa diri, karena selalu asyik menyabung ayamnya, ditusuk keris oleh Apanji Tohjaya. Sang Anusapati wafat pada tahun Saka 1171, dicandikan di Kidal.]

    Menurut Pararaton, Anusapati adalah putra pasangan Tunggul Ametung dan Ken Dedes. Ayahnya dibunuh oleh Ken Arok sewaktu dirinya masih berada dalam kandungan. Ken Arok kemudian menikahi Ken Dedes dan mengambil alih jabatan Tunggul Ametung sebagai akuwu Tumapel. dan mengumumkan berdirinya Kerajaan Singasari. Ia bahkan berhasil meruntuhkan Kerajaan Kadiri di bawah pemerintahan Kertajaya.

    Anusapati yang telah tumbuh dewasa merasa kurang disayangi oleh Ken Arok dibanding saudara-saudaranya yang lain. Setelah mendesak ibunya, Ken Dedes, akhirnya ia pun mengetahui bahwa sesungguhnya ia merupakan anak kandung Tunggul Amertung yang mati dibunuh Ken Arok.

    Anusapati juga berhasil mendapatkan keris buatan Empu Gandring yang dulu digunakan Ken Arok untuk membunuh ayahnya. Dengan menggunakan keris itu, pembantu Anusapati yang berasal dari Desa Batil berhasil membunuh Ken Arok saat sedang makan. Anusapati ganti membunuh pembantunya tersebut untuk menghilangkan jejak. Kepada semua orang ia mengumumkan bahwa pembantunya telah gila dan mengamuk hingga menewaskan raja.

    Sepeninggal Ken Arok, Anusapati naik takhta. Pemerintahannya dilanda kegelisahan karena cemas akan ancaman balas dendam anak-anak Ken Arok. Puri tempat tinggal Anusapati pun diberi pengawalan ketat, bahkan dikelilingi oleh parit dalam.

    Meskipun demikian, Tohjaya putra Ken Arok dari selir bernama Ken Umang tidak kekurangan akal. Suatu hari ia mengajak Anusapati keluar mengadu ayam. Anusapati menurut tanpa curiga karena hal itu memang menjadi kegemarannya.

    Saat Anusapati asyik menyaksikan ayam bertarung, tiba-tiba Tohjaya menusuknya dengan menggunakan keris Empu Gandring. Anusapati pun tewas seketika. Sepeninggal Anusapati. Gumanti sira Panji Tohjaya, anjeneng ratu ring Tumapel. Tohjaya naik takhta.

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur nuwun ki BAYUAJI….sabar nunggu tutugane,

    • matur nuwun ki BAYUAJI…..sabar nunggu tutugane

      • Ki Yudha Pramana, Apa kabar Ki,

    • matur nuwun Ki Bayu,
      sabar menunggu tutuge.

  5. tumben, mj ga kliatan di koper🙂 ……. gi ngapain yah? …. apa lagi mojok ma rw ?🙂🙂

    • eh napa ya mj dijodohin ama rw? …… bagusna kan dijodohin ama st, ….. biar jadi st mj🙂🙂🙂

      • ngubengi kutho Solo…raono sing kenal MITA

        • mungkin kudu ngubengi Mita ndisit …..ben kenal kutho Solo…

  6. Alhamdulillah sehat2 kemawon ki…..semoga ki BAYUAJI sklga
    juga demikian.

    • HADU….kleru tempat,

      kedhusel MITA ayake……siang Ni MITA

  7. siang2 kok stMJ mit, po ra panas-kepanasen dadiNE….🙂

    • siang2 belina, malem2 minumna🙂

      • siang dibuat malam, malam dibuat siang

  8. sugeng sonten

  9. Sugeng dalu.

  10. Sugêng énjang pårå sêdulur

  11. di nssi 18

    dalam bbrp hari ini ga sempet baca, … skrg dah disempet2in baca eh isinya kok menganyalkaaaaaaaaan😦
    masak widuri kok ikutan ke banyubiru?😦
    … wid, bagsna widuri tinggal aja di tumaritis, nungguin eyang yah? … pahalanya buanyaaak loh🙂 ….. makanya cepetan kembali ke tumaritis yah🙂

    • karepmu piye nduk, aku melu
      pengin opo nduk, dak turuti
      tapi tulung diconfirm fb-mu

    • Lah sampeyan mboten ngertos to Mbak Mit…
      Widuri tatut klo aryo nanti ada yg ganggu….

      • njih mboten to yoooo, kan wonten mj n kk🙂

  12. HADIR, pak SATPAM…..hadu, ketinggalan….telaT mampir

    wes do ringkes2,

    salamAT malam kadang NSsi….salamAT ber-istirahat

  13. Sugeng dalu,
    Nanggapi komentare Jeng Mita,
    La yen Widuri tetep neng ngomah rakyo ora dadi wanita karier to yo.
    Wong Eyang kakung Ismoyo remenane isih tindak-tindak kok.
    Kan enakan wisata neng “Rowo Pening” praon karo Arya Salaka.

    • lha itu yang nganyelkeee😦 …. jadinya widuri larak lirik terus ama arya, padahal kan yg kenal arya duluan mita😦

  14. Yo wis Mita karo Joko Soka bae, bagus, sugih lho.

    • emoooooh😦 …… arya ya arya😦

      • widuri ama jurus pedang rangkap kalah ga ya?🙂

        • paling klo kalah trus dikandake bapake huuuuuuuuu😦

          • tak kandake bude pandan wangi genti🙂

          • kk klo disenyumin bude pandan wangi paling kliyengan dewe wikikiki🙂

  15. sugeng ndalu

  16. Esuk-esuk ngunduh jilid 19, Mita isih penasaran karo Aryo Salaka.
    Sugeng enjang kadang sedoyo.

  17. DUA2nya wes cumepak…..MATUR nuwun pak SATPAM

    • selamat SORE kadang padepokan NSsi sedaya,

      • selamat bersantai bareng keluarga ning OMAH,

  18. selamat malam mingguan

  19. Sugêng énjang

  20. Sugêng énjang ki PUNA…..ning mbuRINe ki PUNA
    siap2 pindah ning gandok anyar NSSi,

    pagi pak SATPAM,

  21. “Maaf, tidak ada tulisan yang memenuhi kriteria Anda”

    hiks, gembok gandok ANYAR belom diBUKA ayake…!?

    lha piye iki,

    • lho…..
      iya ta?
      perasaan sudah tadi malam ……
      ehhhh, kliru pasang alarm, mau pasang jam 7.00 kliru 17.00
      he he he …..

  22. skreen,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: