NSSI-20

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 12 Juni 2011 at 10:02  Comments (97)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-20/trackback/

RSS feed for comments on this post.

97 KomentarTinggalkan komentar

  1. tak dhiSIK-i……..sidJI,

    • selamat SIANG kadang NSsi…..selamat berliBUR

      • ANTRI djvu……pak SATPAM PDLS

  2. tak tutuT-i……..loro,

  3. selamat sore semuanya

  4. SEALAMAT SORE Kadang semua.
    Ikut antri versi DJVU

  5. Weladalah jebul malah langsung ngunduh.
    Matur nuwun P. Satpam.
    Mita belum muncul ya apa nggak mau ikut sungkem ke Eyang Soradipayana.

    • injih ki, menika saweg ngoyak ben saged nderek sungkem eyang sd,🙂

  6. Nuwun
    Sugêng énjang pårå sêdulur

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-31; Napak Tilas Perjalanan Prabu Hayam Wuruk [Bagian I]. On 5 Juni 2011 at 07:16 NSSI 17

    Dongeng sekarang:
    Waosan kaping-32
    NAPAK TILAS PERJALANAN PRABU HAYAM WURUK [Bagian II]

    Berbekal salinan Kitab Pujasastra Nāgarakṛtāgama; bersama-sama dengan beberapa arkeolog mancanegara saya sempat melakukan napak tilas “menyusul” Sang Prabu Hayam Wuruk, dalam perjalanan dinasnya mengunjungi daerah-daerah di wilayah kerajaannya di wilayah timur Pulau Jawa.

    Pupuh XVII (17) : [4].
    baryyan masa ri sampun ing sisirakala sira mahasahas macangkrama
    wwanten thanyangaran ri sima kidul i jalagiri mangawetan ing pura
    ramyapan papunagyan ing jagat i kala ning sawung ika mogha tanpegat
    mwang wewe pikatan ri candi lima lot paraparan ira tusta lalana.

    [Tiap bulan sehabis musim hujan beliau biasa beranjangsana keliling,
    Desa Sima di sebelah selatan Jalagiri, di sebelah timur pura,
    Ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan upacara prasetya,
    Gembira mengunjungi Wewe Pikatan setempat dengan candi Lima.]

    Pagi hari setelah sholat Shubuh dan sedikit berolah-raga, kami sarapan dipinggiran Situs Kolam Segaran Majapahit (7° 33′ 29” LS dan 112° 22′ 58” BT). Nasi timbel ikan gurame goreng lengkap dengan sambal ‘bajak’ dan lalapannya, minumannya wêdang sêrèh. Nyamlêng tênan.

    Promosi dari salah satu staf PIM (Pusat Informasi Majapahit), konon di sekitar Situs Kolam Segaran ada warung makan nasi wader segaran namanya, namun sayang di pagi hari itu, masih tutup, jadi kami tidak sempat menikmati lezatnya ikan wader segaran.

    Setelah semua berbenah, kami bertujuh dengan mengendarai kereta rakyat (alih-alih kereta kerajaan); [“kereta” yang kami maksud adalah “volk-wagen”combi; volk = rakyat; wagen = kereta], sambil membayangkan “Mobil Dinas Kenegaraan Majapahit 1” yang dikendarai Sang Prabu Hayam Wuruk yang disebut oleh Kitab Pujasastra Nāgarakṛtāgama:

    ndan sang sri tiktawilwa prabhu sakata nirasangkya cihnanya wilwa
    gringsing lebhong lewih laka pada tinulis ing mas kajangnyan rinengga
    munggwing wuntat ratha sri nrpati rinacana swarnna ratna pradipta
    anyat lwirnyatawing jampana sagala mawalwahulap songnya lumra

    [Kereta Sri Nata Wilwatikta tak ternilai, bergambar buah maja,
    Beratap kain geringsing, berhias lukisan mas, bersinar merah indah,
    Kereta Sri Nata berhias mas dan ratna manikam paling belakang,
    Jempana-jempana lainnya bercadar beledu, meluap gemerlap]

    Pukul 09.00 Kereta Rakyat meninggalkan ibu kota Majapahit (yang kini tinggal puing di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto). “menyusul” rombongan Hayam Wuruk yang sudah jalan terlebih dahulu pada 658 tahun yang lalu.

    Kami sampai di sebuah dusun kecil yang kini masuk wilayah Desa Dinoyo, Kecamatan Jatirejo, di Mojokerto. terletak pada 70 35′ 17” LS dan 1120 25′ 31” BT. Jaraknya sekitar 7 km di sebelah tenggara Trowulan! Lokasi ini dikenal dengan tempat dibangunnya Waduk Baureo yaitu sebuah waduk terbesar yang terletak 0,5 km dari pertemuan Kali Boro dengan Kali Landean.

    Bendungannya dikenal dengan sebutan Candi Lima. Tidak jauh dari Candi Lima, gabungan sungai tersebut bersatu dengan Kali Pikatan membentuk Kali Brangkal. Bekas waduk ini sekarang merupakan cekungan alamiah yang ukurannya besar dan dialiri oleh beberapa sungai. Seperti halnya Waduk Baureno, waduk-waduk lainnya sekarang telah rusak dan yang terlihat hanya berupa cekungan alamiah,

    Tidak banyak artefak yang ditemukan di tempat ini, yang ada hanya lokasi pekuburan penduduk, dan tak ada lagi bangunan candi yang tegak di situ, dan sisa-sisa batu-batunya saja dari andesit, kepala kala, pecahan-pecahan keramik Cina masa Dinasti Yuan (abad XIII – XIV), dan kepingan wadah tembikar halus tipe Majapahit.

    Perjalanan Kereta Rakyat berlanjut menggelinding ke arah tenggara mencari lokasi Pikatan dan Wewe. Wewe berada di tepi S. Pikatan. Tepatnya, di Desa Karangbening, Kecamatan Gondang, berjarak 2,4 km dari Candilima. Dilihat di peta, tampak jelas, Kecamatan Gondang terletak pada 70 36′ 36” LS dan 1110 29′ 10” BT.

    Tidak banyak yang dapat kami temukan di sini selain terlihat sisa-sisa bangunan tempat tinggal kuno berkesan mewah dari bata, persis seperti permukiman elit Majapahit yang terdapat di situs Trowulan, sumur-sumur berdinding tanah liat, dan perlengkapan rumah tangga berupa keramik-keramik dari Cina dan Vietnam yang terserak begitu saja di permukaan tanah!

    Sudah barang tentu tinggal pecahan-pecahannya saja! Dan yang lebih menyedihkan adalah melihat kenyataan bata-bata kuno yang ada ternyata siap diangkut truk untuk dijadikan bahan semen growol (semen merah) setelah disusun tinggi. Padahal, penggalian bata itu justru melenyapkan lapisan tanah budaya masa Majapahit. Tragisnya, pemusnahan peninggalan budaya itu terus berlangsung sampai sekarang!

    Memang tidaklah mudah melacak rute perjalanan dinas Sang Prabu Hayam Wuruk ini. Kesulitan ini nampaknya juga dialami oleh J.F. Niermeyer yang mendapat kesulitan mencocokkan nama tempat dalam Nāgarakṛtāgama, beberapa puluh tahun yang lalu, dengan tempat-tempat yang ada sekarang. Maklum saja, nama-nama Jawa kuno itu telah banyak yang tidak tercatat lagi di peta. Dengan mengandalkan toponim dan peta topografi, profesor Belanda tersebut hanya mampu membuat rute yang bersifat hipotesis belaka.
    Namun hipotesis bukan berarti khayalan. Banyak nama tempat yang disebut 640 tahun lalu masih bisa diidentifikasi lewat toponim dan bukti arkeologis. Tepat seperti yang sebenarnya ketika Prapanca menulis Nāgarakṛtāgama.

    Nama asli yang diberikan Mpu Prapanca adalah Desawarnana yang berarti deskripsi daerah-daerah, yang intinya memuat uraian tentang desa-desa yang dikunjungi Hayam Wuruk, dan isi teks bagian yang penting dari karya itu memuat tentang hal itu. Namun demikian, sejarawan di Indonesia dan di luar negeri terlanjur mengenal karya sastra agung sebagai Nāgarakṛtāgama.

    Balitar, dapat dipastikan adalah Blitar sekarang, 8° 04’ 27“ LS dan 112° 10’ 06“ BT, di Balitar ini Sang Prabu Hayam Wuruk beserta para pengiringnya menyempatkan diri mengadakan upacara pemujaan kepada Hyang Acalapati yang berwujud Girindra (raja penguasa gunung) di Candi Palah yang disebut juga Candi Penataran.

    Kesamaan nama Girindra yang disebut pada kitab Negarakretagama dengan nama Ken Anrok yang bergelar Girindra atau Girinatha menimbulkan dugaan bahwa Candi Penataran adalah tempat pendharmaan (perabuan) Ken Arok, Girindra juga adalah nama salah satu wangsa yang diturunkan oleh Ken Arok selain wangsa Rajasa dan wangsa Wardhana. Sedangkan Hyang Acalapati adalah salah satu perwujudan dari Dewa Siwa, serupa dengan peneladanan sifat-sifat Bathara Siwa yang konon dijalankan Ken Arok.

    Rombongan itu tidak hanya singgah di Candi Penataran, tetapi juga ke tempat-tempat lain yang dianggap suci, yaitu Sawentar (Lwangwentar) di Kanigoro, Jimbe (Jimur?), Lodaya, Simping (Sumberjati) di Kademengan dan Mleri (Weleri) di Srengat.

    Daha dapat dipastikan adalah Kediri sekarang. demikian juga Surabhaya. Janggala, nama lebih kuno lagi adalah Ujung Galuh, atau Hujung Galuh, atau disebut Jung-ya-lu berdasarkan catatan Cina.

    Hujung Galuh berada di sebelah Selatan kampung Galuhan, sebuah permukiman yang didirikan seratus tahun lampau sebelum Gajah Mada menggunakannya sebagai pelabuhan tempat bersandarnya armada kapal perang Majapahit dalam misi menyatukan nusantara. Lima puluh tahun sebelumnya, Raja kertanegara dari Singasari mendirikan permukiman ini untuk para prajuritnya.

    Lokasi yang lebih cermat dari kampung Galuhan saat ini adalah di delta antara Sungai Kalimas dan Sungai Pegirian, yang diperkirakan kini menjadi bagian kota Surabaya. Kota ini merupakan pelabuhan penting sejak zaman kerajaan Kahuripan, Janggala, Kediri, Singasari, hingga Majapahit. Pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit pelabuhan ini kembali disebut sebagai Hujung Galuh.

    Lasem. Rembang Jawa Tengah sekarang. Adalah Desa Kajar, salah satu bagian dari Pegunungan Lasem, desa dengan sumber air yang melimpah itu berjarak kurang lebih 7 km ke arah selatan, salah satu bagian dari Pegunungan Lasem.

    Dari kota tua Lasem atau jalan pantai utara Lasem, desa dengan sumber air yang melimpah itu berjarak sekitar 7 kilometer ke arah selatan. Tepatnya di Lereng Gunung Kajar, 60 40′ 49” LS 1110 28′ 56” BT

    Desa Kajar mempunyai empat peninggalan Kerajaan Majapahit. Peninggalan itu dipercaya penduduk berupa batu tapak kaki Raja Hayam Wuruk yang dikenal dengan watu tapak, goa tinatah, kursi kajar, dan lingga kajar. Peninggalan itu tidak mengumpul di satu tempat, tetapi tersebar di sejumlah titik Gunung Kajar.

    Kisah di balik peninggalan itu tidak terlepas dari sejarah Kadipaten Lasem pada masa Kerajaan Majapahit, Kadipaten Lasem muncul setelah Tribuwana Wijayatunggadewi membentuk satu dewan mahkota, semacam dewan pertimbangan raja (dapat disamakan dengan Dewan Pertimbangan Agung); dengan nama Batara Sapta Prabu pada tahun 1351.

    Salah satu anggota Batara Sapta Prabu adalah Dyah Duhitendu Dewi, adik kandung Hayam Wuruk. Setelah menikah dengan anggota Batara Sapta Prabu yang lain, Rajasawardana, Dewi Indu tinggal dan menjadi penguasa di Lasem dengan gelar Putri Indu Dewi Purnamawulan, yang kemudian dikenal sebagai Bhre Lasem.

    Nāgarakṛtāgama Pupuh V (5) : 1

    wwanten tari haji ri wilwatikta rajni
    sang munggw ing lasem anuraga ring karahaywan
    putri sri narapati ring daha prakasa
    sang sri rajasaduhitendudewi anindya.

    [Adinda Baginda raja di Wilwatikta
    Puteri jelita, bersemayam di Lasem
    Puteri jelita Daha, cantik ternama
    Duhita Indudewi puteri Wijayarajasa]

    Nāgarakṛtāgama Pupuh V (6) : 1

    penak sri naranatha kapwa ta huwus labdhabhiseka prabhu
    sang natheng matahun priya nrpati sang rajyeng lasem susrama
    sang sri rajasawarddhana prakasiteng rupadhiwijneng naya
    tan pendah smarapinggala patemu sang nathenalem ing jagat

    [Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana
    Laki tangkas rani Lasem bagai raja daerah Matahun
    Bergelar Rajasawardana sangat bagus lagi putus dalam naya
    Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala.]

    Lasem, khususnya Desa Kajar, merupakan salah satu daerah terpenting Kerajaan Majapahit. Desa Kajar merupakan tempat memberikan pengetahuan serta ajaran agama dan moral kepada para pejabat, panglima, dan prajurit Kerajaan Majapahit. Kajar merupakan kependekan dari ’ka’ yang berarti kawruh (pengetahuan) dan ’jar’ yang berarti ajaran.

    Bukan hal yang mengherankan jika pada tahun 1354 Hayam Wuruk berkunjung ke Lasem dan Desa Kajar. Untuk mengenang kunjungan itu sekaligus sebagai prasasti tanda daerah kekuasaan Majapahit, Bhre Lasem membuat ukiran telapak kaki Hayam Wuruk di sebuah batu andesit di lereng Gunung Kajar.

    Hingga kini, ukiran telapak kaki itu masih ada dan warga Desa Kajar meyakini ukiran itu sebagai bekas telapak kaki Hayam Wuruk. Warga kerap menyebut batu telapak kaki itu sebagai watu tapak.

    Peninggalan-peninggalan lain Majapahit, seperti goa tinatah, kursi kajar, dan lingga kajar, juga menunjukkan peran penting Desa Kajar selama Majapahit berkuasa. Goa tinatah merupakan dua goa yang terletak di Gunung Kajar.

    Goa pertama merupakan tempat menyepi pejabat atau panglima Majapahit. Goa itu hanya muat untuk satu orang. Goa kedua merupakan tempat para prajurit yang dibawa pejabat atau panglima Majapahit itu berjaga-jaga. Goa kedua itu dapat memuat sekitar 15 orang.

    Setelah menyepi selama beberapa waktu di goa tinatah, pejabat atau panglima Majapahit itu disucikan dengan air Kajar. Dia duduk di sebongkah batu yang mirip kursi. Warga kerap menyebut kursi itu sebagai kursi kajar.

    Selain itu, untuk menghargai Desa Kajar sebagai tempat yang membawa kesuburan bagi daerah lain karena banyak sumber mata air, Bhre Lasem membuat lingga berhuruf palawa di dekat lingga pada zaman batu dan salah satu mata air Kajar.

    Lantaran tidak terawat, huruf palawa di lingga itu sulit dibaca lagi. Begitu pula peninggalan-peninggalan Majapahit lain, misalnya kajar kursi, juga tidak terperhatikan. Batu itu tidak lagi menyerupai kursi karena telah hancur sebagian.

    Nāgarakṛtāgama Pupuh VI (6) : 3

    tekwan wrddhi awekendra sang umunggw ing wirabhumi angdiri
    sang sri nagarawarddhanai pratita rajnikanyakanopama
    ndan ranten haji ratw ing mataram lwir hyang kumaranurun
    sang sri wikramawarddhaneswara paningkah sri narendhradhipa.

    [Bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi
    Bhre Lasem Menurunkan puteri jelita Nagarawardani
    Rani Pajang menurunkan Bhre Mataram Bagaikan titisan Hyang Kumara
    Sri Wikramawardana, wakil utama Sri Narendra].

    Pajang, sekarang diperkirakan terletak di di Desa Dukuh Banyudono, Boyolali 70 33′ 27” LS dan 1100 40′ 51” BT; Pajang sudah dikenal sejak zaman masa Kerajaan Majapahit. Menurut Pujasastra Nāgarakṛtāgama Pupuh VI (3) di atas, seorang adik perempuan Prabu Hayam Wuruk menjabat sebagai penguasa Pajang, bergelar Bhatara i Pajang, atau Bhre Pajang. Nama aslinya adalah Dyah Nertaja, yang merupakan ibu dari Wikramawardhana, raja Majapahit selanjutnya.

    Dalam naskah-naskah babad, cikal bakal Pajang adalah negeri Pengging. Pengging disebut-sebut sebagai nama kuno untuk suatu wilayah yang sekarang terletak di antara Solo dan Yogyakarta (kira-kira meliputi wilayah Boyolali dan Klaten, sebagian Salatiga).

    Cerita Rakyat yang sudah melegenda menyebut Pengging sebagai kerajaan kuno yang pernah dipimpin Prabu Anglingdriyå, musuh bebuyutan Prabu Baka raja Prambanan. Kisah ini dilanjutkan dengan dongeng berdirinya Candi Prambanan.

    Tidak banyak peningalan Sang Oprabuy Hayam Wuruk, yang dapat kami peroleh di wilayah ini selain kisah rakyat: Ketika Majapahit dipimpin oleh Brawijaya (raja terakhir Majapahit versi naskah babad), nama Pengging muncul kembali. Dikisahkan putri Brawijaya yang bernama Rêtnå Ayu Pêmbayun diculik Ménak Daliputih Adipati Blambangan putra Ménak Jinggå. Muncul seorang pahlawan bernama Jåkå Sêngårå yang berhasil merebut sang putri dan membunuh penculiknya.
    Atas jasanya itu, Jåkå Sêngårå diangkat Brawijaya sebagai bupati Pengging dan dinikahkan dengan Rêtnå Ayu Pêmbayun. Jåkå Sêngårå kemudian bergelar Handåyåningrat.

    Menurut naskah babad, Handåyåningrat gugur di tangan Sunan Ngudung saat terjadinya perang antara Wilwatikta dan Demak. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yang bernama Radên Kêbo Kênångå yang bergelar Ki Agêng Pêngging. Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kesultanan Dêmak Bintårå.

    Beberapa tahun kemudian Ki Agêng Pêngging dihukum mati karena dituduh mbalélå terhadap kekuasaan Dêmak Bintårå. Putranya yang bernama Djåkå Tingkir alias Mas Karebet setelah dewasa justru mengabdi ke Demak.

    Prestasi Djåkå Tingkir yang cemerlang dalam keprajuritan membuat ia diangkat sebagai menantu Sultan Trênggånå, dan menjadi bupati Pajang bergelar Sultan Hadiwijåyå. Wilayah Pajang (Pengging) saat itu meliputi daerah Boyolali, Klaten, Tingkir daerah Sålåtigå, Butuh, dan sekitarnya.

    Sepeninggal Sultan Trênggånå tahun 1546, Sunan Prawåtå naik takhta, namun kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Aryå Pênangsang bupati Jipang tahun 1549. Setelah itu, Aryå Pênangsang juga berusaha membunuh Hadiwijåyå namun gagal.

    Dengan dukungan Rtau Kalinyamat, bupati Jepara putri Sultan Trênggånå), Hadiwijåyå dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Aryå Pênangsang. Ia pun menjadi pewaris takhta Kesultanan Dêmak Bintårå, yang ibu kotanya dipindah ke Pajang.

    ***

    Mula-mula melalui Japan dengan asrama dan candi-candi ruk-rebah. Sebelah timur Tebu, hutan Pandawa, Daluwang, Bebala di dekat Kanci. Ratnapangkaja serta Kuti Haji Pangkaja memanjang bersambung-sambungan. Mandala Panjrak, Pongging serta Jingan, Kuwu Hanyar letaknya di tepi jalan.

    Nama-nama tempat yang disebutkan dalam Nāgarakṛtāgama pupuh 17 itu memang harus dicari di daerah Mojokerto. Tebu diidentifikasikan sebagai Tepus, letaknya di sebelah timur Majapahit (Trowulan). Nama Japan, sudah sulit ditemukan ditemukan di peta. Namun nama itu masih disebut penduduk.

    Kuti Haji [dibaca Kuti Aji] (7° 34’ 01“ LS dan 112° 30’ 42“ BT) tidak lain Kutorejo, yang letaknya di bagian barat daya Mojosari. Kutorejo sekarang telah menjadi desa dan kota kecamatan. Panjrak Mandala boleh jadi adalah Desa Panjer yang juga terletak di Mojosari.

    Pongging (7° 32’ 02“ LS dan 112° 34’ 49“ BT) sudah jelas itu Pungging, sebuah desa besar yang kini menjadi kecamatan Pungging.
    Bukti-bukti arkeologis di wilayah Pungging terdapat di Dusun Patung dan Desa Tunggal Pager, jaraknya 8,2 km di sebelah tenggara situs Tebu. Sebuah lumpang batu kuno yang lubangnya dipenuhi kembang sesajen terdapat di pekarangan rumah penduduk Dusun Patung. Di Desa Tunggal Pager, bata-bata kuno berukuran besar terdapat di kompleks makam desa. Bangunan-bangunan cungkup makam hingga batu nisan menggunakan bata-bata peninggalan Majapahit.

    Tebu (7° 30′ 14″ LS dan 112° 29′ 54″ BT) dicari di Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal. Nama Tebu yang tercantum dalam peta terbitan tahun 1943 sudah tidak dikenal lagi; seorang pejabat desa masih ingat lokasi kuno itu, yang ternyata sekarang telah berganti nama menjadi Gampang, salah satu dusun di wilayah Desa Sumbertebu, letaknya di pinggir jalan raya Mojokerto – Pasuruan.

    Kagenengan, GPS mencatat posisi Kagenengan 70 30′ 01″ LS 1120 30′ 01,6″ BT, adalah situs masa Majapahit, berjarak 15 km di sebelah timur ibu kota Majapahit. Tempat itu hanya sebidang tanah yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya, yang kini menjadi tegalan milik penduduk. Di permukaan tanah, dijumpai pecahan-pecahan keramik Cina dan tembikar tipe Majapahit.

    Dusun Bremi (7° 57’ 57“LS, 113° 29’ 11“ BT), Probolinggo ± 960 mdpl, adalah salah satu dari dua tempat yang dikenal sebagai tempat pendakian ke Puncak Gunung Argopuro “Istana Dewi Rengganis”.

    Kami tidak tahu pasti apakah Bremi atau Baremi yang sekarang adalah Baremi menurut Nāgarakṛtāgama, sehubungan tidak ada satupun peningalan yang dapat menunjukkan bahwa Sang Prabu pernah singgah di daerah itu.

    Sedangkan Borang, sekarang bernama Kelurahan Wiroborang sebagai paduan antara Wirojayan dan Borang. Adapun Desa Banger yang terletak di antara Bremi dan Borang, sekarang merupakan pusat Kota Probolinggo.

    Banger adalah sebuah sungai yang mengalir di tengah daerah yang karena adanya sungai itu, maka disebut Banger. Banger pada masa Majapahit merupakan pendukuhan kecil di bawah pemerintahan Akuwu di Sukodono. Nama Banger diduga adalah nama Probolinggo lama.

    Nama Banger sebagai nama wilayah Kabupaten Probolinggo dipakai sebagai kebanggaan nama daerah, sejak jaman Majapahit tahun 1365 hingga 1770 masa pemerintahan Bupati Jayanegara. Sehingga setidak-tidaknya selama ± 405 tahun, nama Banger selalu terpatri dan mengisi dokumen-dokumen perjalanan sejarah Kabupaten Probolinggo masa lalu, hingga melegenda sampai sekarang. Sejak zaman Kerajaan Majapahit, hingga jaman penjajahan kumpeni VOC, sebelum Masa Bupati Jayanegara, catatan sejarah tentunya mencatatnya sebagai nama Banger.

    Berdasarkan data sejarah di atas, maka nama Banger telah benar-benar melegenda di hati semua masyarakat Kabupaten Probolinggo hingga sekarang. Kemudian berubahnya sejak masa pemerintahan bupatiJayanegara keturunan dari kasepuhan Surabaya, nama Banger diubah menjadi Probolinggo, asal kata dari Probo artinya Sinar, sedangkan Linggo artinya Badan atau Tugu sebagai penanda atau tugu peringatan. Dalam pada itu masih sezaman dengan perubahan nama Banger menjadi Probolinggo, kita temukan adanya nama desa Wirolinggo, di selatan desa Pangger (Randupangger), dan Maniklinggo nama Blambangan Lama.

    Sedangkan nama Banger sekarang masih dipakai untuk menyebutkan nama sungai yang mengalir di tengah Kota Probolinggo. Sungai dengan aliran kecil, merupakan saluran pembuangan dan berbau busuk. Tetapi kira-kira sekitar tahun 1900, sungai ini masih lebar, airnya jernih. Banyak perahu dagang dari Madura dapat masuk berlabuh di pusat perdagangan, di jalan Siaman.

    Dahulu tempat ini merupakan sebuah teluk, yang disebut “Tambak Pasir”. Ada sementara orang berpendapat bahwa nama Banger ini diberikan untuk memberi nama sungai yang airnya berbau banger/amis karena bau darah Minak Jinggo yang dipenggal kepalanya oleh Raden Damarwulan.

    Jika yang dimaksud Minak Jinggo Damarwulan ialah Bre Wirabumi dengan Raden Gajah yang peperangannya terjadi pada tahun 1401-1406 (Perang Paregreg), maka anggapan tersebut tidak benar. Perang Paregreg terjadi pada tahun 1401-1406, sedangkan Prapanca menyebut nama Banger dalam buku Negara Kertagama yang ditulis pada tahun 1365 dan nama Banger sudah ada pada tahun 1359 Masehi.

    Jika bau banger itu disebabkan oleh bau darah dan mayat-mayat yang terjadi akibat peperangan antara Majapahit dengan Lumajang pada Pemberontakan Nambi, Aria Wiraaja pada tahun 1316 M, masih masuk akal, karena terjadinya sebelum perjalanan keliling ke Lumajang, meskipun masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

    Sejalan dengan perkembangan politik kenegaraan dan kekuasaan di zaman Kerajaan Majapahit, pemerintahan di Banger juga mengalami perubahan-perubahan dan perkembangan jaman. Semula merupakan pedukuhan kecil di muara kali Banger, kemudian berkembang menjadi Pakuwon yang dipimpin oleh seorang Akuwu, di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

    Dari Baremi iringan membelok ke selatan hingga Kamirahan yang diperkirakan ada di muara Kali Mujur, Lumajang. Selanjutnya mereka menyisir pantai selatan dan berhenti di Kutha Bacok. Di sana Hayam Wuruk sempat terpana melihat “karang kinasut ing ryyak asirasirat anghirib jawuh” (karang tersiram ombak yang berpancar seperti hujan). Rombongan kemudian berjalan ke utara. Tiba di Patukangan mereka berkemah beberapa hari sebelum meneruskan perjalanan ke arah barat.

    Gampang diduga, Kutha Bacok memang pantai Watu Ulo di selatan Jember. Sampai sekarang masih ada tempat bernama Gunung Bacok yang letaknya 3,5 km dari laut. Mengapa demikian jauh? Nampaknya garis pantai di desa pantai selatan itu maju 500 m dalam 100 tahun terakhir!

    Mereka menyisir pantai utara dan selewat Pasuruan membelok ke arah barat
    daya menuju Singasari. Di Singasari Hayam Wuruk mengambil jalan memutar melawan arah jarum jam. Ini bisa dimaklumi mengingat raja Majapahit itu penganut Siwa dan bukan pengikut Buddha.

    Sri Baginda Raja melakukan ziarah ke makan para leluhurnya di Singasari (candi Singasari), Kagenengan (pendharmaan pendiri wangsa Rajasa), Jajagu (candi
    Jago, pendharmaan Wishnuwardhana) dan Kidhal (candi Kidal, pendharmaan Anusanatha/Anusapati). Di perjalanan kembali ke kraton, raja sempat mampir berziarah ke Jajawi (candi Jawi).

    Jarak tempuh iringan kerajaan kira-kira 700 km dan waktu yang mereka perlukan antara 2-3 bulan. Di medan datar diperkirakan kelajuan mereka sekitar 30 km per hari! Pernah rombongan melewati medan yang sulit (saat dari Bondowoso menuruni lembah Sungai Sampean) sehingga dalam sehari hanya mampu melangkah belasan kilo. Pernah pula rombongan “berlari” melahap 40an kilometer sehari.

    Lumajang. Dari Prasasti Mula Manurung diperoleh informasi bahwa Nararya Kirana salah satu putra Seminingrat Wisnu Wardhana dari Kerajaan Singosari, dikukuhkan sebagai Adipati (raja kecil) di Lamajang (Lumajang).

    Semasa zaman Majapahit Lumajang sudah dikenal karena pengangkatan Arya Wiraraja sebagai Maha Wiradikara dan ditempatkan di Lumajang, dan putranya yaitu Pu Tambi atau Nambi diangkat sebagai Rakyan Mapatih.

    Pengangkatan Nambi sebagai Mapatih inilah yang kemudian memicu terjadinya pemberontakan di Majapahit. Apalagi dengan munculnya Mahapati Halayuda seorang yang cerdas, ambisius dan amat licik. Dengan kepandaiannya berbicara, Mahapati berhasil mempengaruhi Raja. Setelah berhasil menyingkirkan Ranggalawe, Kebo Anabrang, Lembu Suro, dan Gajah Biru, target berikutnya adalah Nambi.

    Nambi yang mengetahui akan maksud jahat itu merasa lebih baik menyingkir dari Majapahit. Kebetulan memang ada alasan, yaitu ayahnya(Arya Wiraraja) sedang sakit, maka Nambi minta izin kepada Raja untuk pulang ke Lumajang. Setelah Wiraraja meninggal pada tahun 1317 Masehi, Nambi tidak mau kembali ke Majapahit, bahkan membangun Beteng di Pajarakan. Pada 1316, Pajarakan diserbu pasukan Majapahit. Lumajang diduduki dan Nambi serta keluarganya dibunuh.

    Di Lumajang iniliah tepatnya di Dusun Biting Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Lumajang 8° 04’ 41“ LS dan 113° 13’ 54“ BT ditemukan area seluas kurang lebih 125 hektar yang merupakan bekas kraton Wiraraja.

    Situs Biting merupakan areal kekuasaan Majapahit di tlatah bagian timur, Situs Biting yang terletak di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Lumajang,. Di lokasi Situs Biting masih banyak menyimpan potensi benda-benda bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit. Dalam sejumlah penggalian yang pernah dilakukan ditemukan ujung keris serta manik-manik. Bahkan pernah ditemukan kepingan uang emas.

    Situs Biting seluas 135 hektar yang merupakan salah satu bagian dari Kerajaan Majapahit, dulunya bernama Kutorenong yang merupakan merupakan Kotaraja dan berari ada perputaran ekonomi. Amat disayangkan bahwa Situs Biting ini terancam diratakan dengan tanah. Lokasi bersejarah ini akan dijadikan perluasan areal perumahan.

    Pungatan adalah Kecamatan Bungatan, Stubondo 7° 43′ 41″ LS 113° 47′ 45″ BT dan Ketha adalah sebah dusun kecil di daerah Kecamatan Besuki Situbondo 7° 42′ 56″ LS 113° 42′ 41″ BT. Nama ini masih dikenal sebagai Ketah.

    ***

    Masih banyak daerah-daerah yang pernah dukunjungi Sang Prabu, yang tidak sempat kami datangi, kami belum banyak berbuat. Kereta Rakyat merayap letih terseok-seok akhirnya kembali ke Ibu Kota Kerajaan di Trowulan. Letih dan terseok-seok, bukan letih karena telah menyusuri jalan-jalan rute Sang Prabu, letih karena harapan untuk menyusul Hayam Wuruk semakin menipis.

    Sudah tidak banyak yang kita harapkan dari peninggalan kerajaan besar Majapahit Jejaknya satu per satu telah terhapus oleh ulah manusia sekarang yang menggusur situs-situs peninggalan desa yang pernah dikunjungi raja besar itu.

    Puluhan truk menjarah bata-bata warisan Majapahit. Situs-situs itu sudah rusak sama sekali akibat penjarahan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau mengerti arti sejarah terhadap benda-benda atau bangunan-bangunan kuno, dan hingga sekarang masih terus berlangsung. Inilah kesedihan yang sangat dalam yang menyebabkan kami letih.

    ånå candhaké

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    Ngapunten Ki Bayu
    dereng saged nata rontal-rontal Ki Bayu dumateng gandokipun
    hadu…, kathah PR akhir semester ingkang kedah dipun ayahi lan persiapan UAS.
    mbokmenawi sampun sela, mangke dalem tata wanten gandokipun, supados saged dipun waos sanak kadeng lintunipun.
    nuwun
    satpam
    sedang bete, iseng cari lokasi di Google Earth
    barang kali membantu membayangkan lokasinya.
    kapan lagi ditambahi plotting setiap titik pada satu peta.

    • Pak Lik sih ujian tah……

      • Sumånggå Ki Panji.

        Lha Ki Pandanalas, sampun ujian punåpå dèrèng

        • kulo mboten lulus2 ki…..maklum gampang laline angel nyanthole..angel kecanthol juga….ora ono sing nyanthol2

    • Matur sembah nuwun Ki Bayuaji, dongengipun sampun kulo simpen.

      • Nuwun
        Sugêng dalu

        Katur Ki Arga,
        Sugêng pêpanggihan Ki, sampun radi sawêtawis dangu mbotên ngabyantårå; mugi Ki Arga såhå sakulåwargå tansah pinaringan katêntrêman, kasarasan, dalah karaharjan, sih katrêsnaning Gusti Ingkang Måhå Wicaksånå. Aamin

        Nuwun

        cantrik bayuaji

        • Sugeng pepanggihan ugi Ki Bayu. Kasinggihan Ki, radi dangu mboten saged sowan amargi nembe ngayahi tugas wonten papan sanes. Wingi sonten nembe dateng, minggu ngajeng bidhal malih. Lha menawi internetan mawi Sp**** dados mboten saged dipun beto-beto. Maos dongengipun Ki Bayu ing nginggil, capet-capet kulo kemutan kala taksih alit nate ningali sendratari utawi kethoprak ingkang nyariyosaken Prabu Suwelacala tuwin Sri Mahapunggung saking negari Purwacarita, ugi nyebat-nyebat Prabu Anglingdriyo tuwin Raden Damarmoyo. Sejatosipun cariyos meniko namung legenda menopo kaserat ing Babad njih Ki Bayu, menawi namung legenda kok cariyosipun panjang. Menawi Ki Bayu pirso ugi dhangan ing penggalih tuwin kagungan wekdal ingkang mirunggan, kulo nyuwun dipun dongengaken wonten mriki. Matur nuwun sakderengipun, sugeng dalu.

    • Ralat:
      GPS mencatat posisi Kagenengan 7° 30’ 01“ LS 112° 30’ 01,6“ BT

    • Nuwun

      Katur Ki Panji.
      Matur nuwun tambahan peta “Google Earth”nya, namun sangat disayangkan, petilasan “jejak roda kereta” Sang Prabu Hayam Wuruk dan jejak-jejak langkah para sentana praja, para prajurit, para senopati yang mengikuti perjalanan beliau, telah hilang disapu zaman.

      Jejak-jejak itu satu per satu telah terhapus oleh ulah manusia sekarang yang menggusur situs-situs peninggalan desa yang pernah dikunjungi raja besar itu. Sungguh sangat disayangkan.

      Nuwun

      cantrik bayuaji

      • Betul Ki
        saya mencoba plot di peta. jadi agak bingung, awal dari Trowulan terus ke mana lewat mana saja, kalau dibuat rutenya kan bisa dibayangkan.
        he he he …

        nuwun

  7. haduuu arya, …. bikin ikutan nangis ajah🙂🙂 terharu deeeh

    • haduuu, jadi inget opa deh🙂 …… tp klo ktm opa, mita kok ga nangis ya? …. pengena malah nyubitin🙂🙂 bisna suka ngledekin sih😦

      • nek ketemu aku,….dak kuwes2 tenan MIT

  8. na gitu deh, cowo jantan ga harus pantang nangis yah🙂

    • manuasia paling sempurnapun suka nangis juga kan ?

    • arya, klo kangen mita, suka nangis ga?🙂🙂

      • 😛

      • eh arya, mau ga tak kasih no hpq ? ..🙂🙂 ….. tp aji pameling bisa konek ga ya ma gsm?😦😦 …… sana gih nanya ke panembahan ismaya, sapa tau beliau tau ilmu konektingna🙂🙂

        ha ha ha…….

        • ..O..jadi kalo mo tau, bisa nanya Ki Is tho….😀

  9. eh kleru ngetik manusia kok kleru manuasia🙂 maap maap

    • tenang MIT…manuasia wonge jembar dodone

      • tenang MIT…manulasia wonge jembar laline

        • gpp kliru ngenthit Mit…..ki gun jg sering koq…

        • yg jembar omahe sapa yah? …. dibikin padepokan aja🙂🙂

          • Nek sing jembar…opahe ?….

          • opahe nggo tuku lemah sing jembar trus bikin padepokan juga🙂

          • ..He..?!..Opah-e Mita didol ?….nggo tuku lemah ?…blaik…sopo sing macak-e crito mengko MIt…😀

          • wikikiki🙂 … ngkali yg dijual tu pusakana opah🙂

          • Ha..?!….pusakanya juga dijual ?…kan cuma atu.😀

          • buanyak tuh ?🙂 ……. pusaka tu artina buku ya?🙂🙂

          • ..O..koq banyak yaa…gw cuma punya atu..😳

          • klo cuman satu berarti kalahan🙂 ….. klo pusakana buanyak, klo pas yg atu ga mempan, bisa pake yg laen🙂

  10. parikan Aaah,

    melati warnanE putih, email-mu apa MIT…..🙂

    • melu parikan Aaah,

      mawar merah mereka di pagi hari, nama depan-mu sapa MIT…..🙂

      • halah iku duwek-ku disrobot ki yp,

        mawar merah mereka di pagi hari, nama depan-mu sapa MIT…..🙂

  11. Nasi megono….mungkin cikal bakal-e nasi gudeg, karena Glagah putih yang suka nasi megono dari Mataram yang suka manis2, maka tinggal dikasih gula merah sudah jadi gudeg….terus kalo agak ngetan sithik tinggal dikasih santen jadi lodeh…….sugeng dahar Kisanak sedoyo….

    • kakek ki ngopo to yo? …. abis wisata kuliner ya?🙂🙂

      • opo lg luwe trus mbayangke panganan?🙂🙂

        • Lagi kangen…..terus mbayangke sing di kangen-i….😕

          • gudeg yogya? ….. eh wktu muda, kakek pernah pacaran ama cewe yogya ya?🙂

          • kangen ama yg ditraktir gudeg ya?🙂 ….. tak kandakke yangti loh🙂

          • jangan2 yg ditraktir ya yangti ndiri ?🙂🙂

          • jangan2 yg ditraktir gudeg tu mba padmi?🙂 hayooooooo🙂

          • Jangan2 samakan dia dengan yang lain
            Bibirnya yang merah dan senyum yang menawan
            Rambutnya terurai hitam dan bergelombang
            Dialah milikku tempat berkasih sayang
            Milikku seorang…….
            …ndang.. ! ndut… ! ndang… !ndut….!

          • hikss, lanjut mang KARto…..ndang-ndutanE,

          • kakek karto tu putrana brp ta? dah segede apa? co or ce ?

  12. ancen wis wayah-e rolasan

    • ancen wis wayah-e pak MODIN sambang mrene,

      • ancen wis wayahe ki MENGGUNG methuk sindene.

      • nggih ki, ngapunten sawek saget sowan

  13. SUGENG DALU.

    • SUGENG ENJANG

      • sing leres sugeng enjang napa sugeng enjing ta? ….. menawi sugeng enjang wonten terusane njih …. enjang widuri sing nganyelke niku lheeeeee😦

        • enJANG paraMITA…..😦

          • ternyata ki gon dah tau nama depanq🙂🙂

          • Aaah, tenanE…..ngapusi wong tuWO kuwalat
            lho MIT,

          • maksudna nama depanq nurut ki gon🙂

        • MITA

          • dalem ki ngganteng🙂

          • manggilna ki gan ya?🙂 jadi sodarana ki gun yg udah jadi ki gon coz dah numbuh rambutna🙂

          • klo swandaru tu bisa dipanggil ki gin🙂

          • klo yg medeni bisa dipanggil ki gen🙂

          • waduuuh ternyata ki gan sodaraan ma ki gen yah?🙂

          • klo yg GAWE KANGEN bisa dipanggil Ni yanK🙂

          • mbok ndang diconfirm

          • lha kok cepet ki…..aja2 kleru (nyasar)

  14. Nuwun
    Sugêng sontên

    Katur Ki Arga

    [On 13 Juni 2011 at 23:25 arga said:
    Cariyos Prabu Suwelåcålå tuwin Sri Måhåapunggung saking nêgari Purwåcaritå, Prabu Anglingdriyå tuwin Radèn/Prabu Damarmåyå]

    Cerita tersebut adalah tentang “Babad Kithå Pêngging Kunå“; “Babad Rårå Jonggrang Bandung Båndåwåså“; “Cariyos Dumadiné Candi Prambanan“.

    Tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya antara lain Prabu Båkå, Prabu Damarmåyå, Rårå Jonggrang dan Bandung Båndåwåså.

    Cerita Anglingdriyå ini, yang kemungkinan melibatkan ‘kehadiran’ tokoh sejarah, tetapi lebih tepat digolongkan sebagai dongeng rakyat (folklore).

    Mudah-mudahan diberi waktu leluasa untuk mendongenkannya. Demikian Ki.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur sembah nuwun Ki Bayuaji, kulo tenggo dongengipun. Sugeng dalu.

  15. SELAMAT SORE

  16. Sugeng dalu para kadhang sutresna.

    • kadhang sutresna niku napane try sutrisno?🙂

      • walo wkt itu mita msh kecil tp ttp inget pa’ try, bizna bliona ganteng sih🙂

  17. Matur sembah nuwun Pak Satpam, NSSI DJVU dumugi jilid 20 sampun kulo undhuh sedoyo.

  18. SUGENG ENJANG.
    Tetep setia menanti “Mita”.

    Lho….

    • he he he…

      ki Honggo

    • waduuuuh ki honggo, bikin gr ajah🙂

      • ki honggo, mbok dalem dipun critani akhiripun widuri ynb ( yg nganyelke banget ) niku napa siyos ngrebut arya saking mita? …. menapa bade muncul tokoh cewe lagi yg akhirnya jadi istri arya?

  19. Sugêng énjang pårå kadang ingkang dahat sinudarsono ing budi

  20. sugeng enjing……..

    kulo nembe ngrungokne serba-serbi adat jowo ditinjau dari 2 agama

    • kesimpulane nopo ki gan ?🙂

  21. sugeng enjing……..

    kulo nembe ngincipi jajanan seraba-serabi SOLO ditinjau dari 2 sisi,

    • loooh dari dua sisi njih pait ta, kan dapet coklat gosongna, …. enakan yg tengahna dunk🙂

      • nate dahar srabi notosuman?

        • he-eh, lezat gurih enak…..mumpluk,

          • mumpluk niku APEM ki…..klangenane kakek KARTO

          • enak pizza papa ron’s


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: