NSSI-21

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 15 Juni 2011 at 06:30  Comments (56)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-21/trackback/

RSS feed for comments on this post.

56 KomentarTinggalkan komentar

  1. assalamualaikum, merji ping okeh lg 🙂

    • Wa’allaikumsalam, merlo ping papat….

  2. itu gambarna eyang ya? …. lg berantem ma sapa ya?

    • bugel ki gundhul

      • bugel? ….. bukannya itu mesin pencari? 🙂

        • ato pensil yg lom ‘diongoti’ 🙂

          • hiks,…. 🙂

  3. perangna sangat dahsyat yah ….. darahna pek muncrat ke langit 🙂 ….. bizna langit kok diwarnain merah 😦

    • itu namanya langit membara,
      kalau Ki PA itu ancene pengembara,
      kalau Ki Menggung itu juragan batubara,
      mbok neng Mita ndang ngadain sayembara.

      mesti para eyang bakal bergembira,
      halah….meksa.

      • itulah syair dari dinasti ‘ra’ 🙂

      • yg juragan batubara tu ki menggung yg mana?

        • ya ki menggung kartoJuda toh MIT, masak si CUcu lupa…. 🙂

          • kan ada ki menggung yupram 🙂 ….. ama kutut menggung 🙂

          • kalo ki yupram belum menggung MIT…..isih piyek,

            piyek = …….!!?? sapa sing ngerti, hayoooooooooo

          • pinter nggawe rempeyek 🙂

          • pinter nggawe termeyek-meyek 🙂

          • he-he-heee, cuCU si KArto ngemesKe…. 🙂

            kakek lagi ke mana Mit, kok belom mampir

          • embuh ki, maybe tawa batubara neng mbatu malang 🙂

      • jual kompor batubara ga? 🙂

        • susah ga sih makena?

          • make apa toh MIT, kok susah…..keciLIKen kaleee,

          • ya kompor batubara niku lhee 😦

          • hikss, kirain kiriman keng ki PA
            kecilikEN MIT,

          • ya udeng 😦

  4. trus krikil2na jg beterbangan 🙂

    • krikil…..keri ning sikil

      • kripik tempe

        • kripik tahu

          • Kripik Pisang..

  5. sugeng sonten

  6. Hadiiirrr !!
    Sugeng dalu poro kadang sedoyo.

  7. selamat malam.

  8. Nuwun
    Sugêng énjang pårå kadang ingat dahat sinudarsono ing budi

    ….. dan bulanpun menghilang…

    Subhanallah. Allahu akbar

    “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Tidak terjadi gerhana pada keduanya sebab kematian seseorang atau kehidupannya. Karena itu berdoalah kepada Allah SWT dan lakukanlah shalat sampai terang kembali’.” [Hadits Rasulullah SAW].

    Alhamdulillah

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  9. Nuwun
    Sugêng énjang pårå kadang ingat dahat sinudarsono ing budi

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

    Waosan sebelumnya
    Wedaran kaping-11: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-6). Keris Mpu Gandring [Parwa ka-3] On 9 Juni 2011 NSSI 19

    Wêdaran kaping-12:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-8)

    Keris legendaris:
    • Keris Mpu Gandring
    • Keris Kyai Någåsåsrå
    • Keris Kyai Sabuk Intên
    • Keris Kyai Sengkelat
    • Keris Kyai Condong Campur
    • Keris Kyai Carubuk
    • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

    KERIS MPU GANDRING [Parwa ka-4.]

    Gumanti sira Panji Tohjaya, anjeneng ratu ring Tumapel.
    [Maka bergantilah Apanji Tohjaya menjadi raja di Tumapel].

    “Kabinet Tohjaya” pun disusun, sedangkan orang-orang yang setia pada Anusapati harus disingkirkan. Tohjaya menganggap dirinya orang besar, orang paling besar di Kerajaan Singasari yang besar. Singasari memang besar tetapi apakah seluruh Singasari mengakui kebesaran Apanji Tohjaya.

    Apanji Tohjaya ternyata tak pernah sedikitpun memikirkan negaranya dan nasib para kawulanya, dia lebih suka mengeluh, marah-marah, janji-janji manis yang selama ini dia ucapkan tak kunjung dia wujudkan, dia hanya memikirkan nasibnya sendiri dan kelompoknya saja. Dalam pada itu intriks dan dendam, masih juga terus menyala di dalam hati, maka Singasari tidak akan sempat membangun dirinya.

    Singasari tentu akan selalu disibukkan oleh dendam yang tiada henti. turun dan maraknya raja yang satu disusul dengan naik dan tumbangnya raja yang lain, menyusul rangkaian pembunuhan dan darah yang ditumpahkan.

    Dendam yang sulit untuk dihapuskan, bahkan dendam itu sekan-sekan semakin dalam. Tuntutan untuk membalas kematian dengan kematian. Dan ini pasti akan membakar habis Singasari, betapun besar kerajaan itu. Singasari akan hancur terkoyak-koyak dengan sendirinya.

    Hidup Tohjaya meski berkuasa di atas tahta kencana, senantiasa diliputi ketakutan. Dibenaknya selalu dihantui rasa curiga kepada siapapun, juga dendam. Dendam kepada siapa saja yang dianggap tidak sejalan dengan keinginannya, terutama kepada anak keturunan Ken Dedes.

    Dendam yang ditanamkan sejak kecil oleh Ken Umang ibundanya, telah membentuk menjadi wataknya yang sekarang. Sejak Tohjaya kecil, telah diajarinya agar selalu membenci anak keturunan Ken Dedes, terutama Anusapati.

    Kebenciannya kepada Anusapati dan adik-adiknya yang lahir dari rahim Ken Dedes telah mendorong sampai ke puncaknya dengan segala macam cara, yang berujung pada pembunuhan Anusapati.

    Namun, lebih daripada itu ia menjadi kecewa atas keberadan dirinya dimuka bumi ini. Dia berusaha lari dari kenyataan itu. Sang Apanji Tohjaya telah menyia-nyiakan kesempatannya sebagai seorang maharaja, ia tak hirau lagi dengan negara. Bagi Apanji Tohjaya hidup adalah kesenangan, hidup bermewah-mewahan. Adu ayam, mabuk dan mengumpulkan perempuan-perempuan dari seluruh negeri untuk dijadikan gundiknya.

    Singasari yang megah mulai rusak kembali, Singasari mulai kehilangan pamornya, maka cita-cita Brahmana Syiwa agar menjadikan negara gemah ripah loh jinawi pun di Jawadwipa menjadi padam.

    Tohjaya belajar dari kesalahan. Ia tak ingin menyimpan musuh dalam selimut. Maka keturunan Ken Dedes harus dibasmi. Dimulai dari dua bocah kecil yang tak bersalah. Ranggawuni dan Mahisa Campaka.

    Pararaton mengabarkan:

    Hana ta putran ira Sang Anusapati, haran sira Ranggawuni. Kaprenah kaponakan den ira Panji Tohjaya. Sira panji Wongateleng sanak ira Panji Tohjaya tunggal ing bapa, sahu ibhu. Aputra ta sira ring Mahisa Campaka, kaprenah pahulunan den ira Panji Tohjaya,

    [Sang Anusapati mempunyai seorang anak laki-laki bernama Ranggawuni, dia adalah kemenakan Sang Apanji Tohjaya. Adapun Apanji Mahisa Wonga Teleng, saudara Apanji Tohjaya juga, dari ayah yang sama tetapi beda ibu, ia mempunyai seorang anak lak-laki bernama Mahisa Campaka, dengan begitu ia kemenakan Sang Apanji Tohjaya juga.]

    Ditingkah hasutan pembantunya yang bernama Pranaraja, Tohjaya pun berniat membunuh kedua kemenakannya itu, Ranggawuni putra Anusapati, cucu Tunggul Ametung dan Ken Dedes; Mahisa Campaka putra Mahisa Wonga Teleng, cucu Ken Arok dan Ken Dedes, sebagai lawan yang dianggapnya berbahaya bagi kelangsungan tahtanya. kadi wuwudhun munggwing nabhi, tan wurung sira amatyani ri puhara [bagaikan bisul di pusat yang tak urung akan membahayakan kedudukannya, bila pecah pada akhirnya.]

    Senapati Lembu Ampal diberi tugas untuk melaksanakan pembunuhan itu, namun Lembu Ampal yang mempunyai nalar sehat menolak perintah itu. Dia tahu bahkan seluruh rakyat Singasari tahu bahwa pemerintahan Tohjaya ti¬daklah berakar di hati rakyat Singasari, meskipun kenyataan bahwa Tohjaya duduk di atas tahta setelah berhasil membunuh Anusapati.

    Lembu Ampal berbalik memilih bergabung dan mendukung kedua pangeran yang hendak dibunuhnya itu. Lembu Ampal sadar bahwa pemerintahan Tohjaya adalah pemerintahan yang tidak sah, karena Tohjaya tidak berhak atas tahta Singasari. Keturunan Ken Dedeslah yang berhak atas tahta Singasari itu. Maka Lembu Ampal pun menyusun rencana kudeta terhadap pemerintahan Tohjaya.

    Didorong oleh perasaan berdosa kepada kedua pangeran itu, Lembu Ampal bermaksud membunuh Tohjaya, yang telah menjerumuskannya pada upaya pembunuhan pewaris sah tahta Singasari. Tetapi Yang Maha Agung telah menolongnya dari upaya keji itu.

    Lembu Ampal kemudian melakukan adu domba pada dua kelompok pasukan khusus tentara kerajaan Singasari, yaitu Pasukan Khusus Tentara Sinelir dan Pasukan Khusus Tentara Rajasa, sehingga terciptalah kekacauan.

    Sampun cineran, awatara kalih dina, sira raden Lembhu Amphal marek ing raden kalih. Matur ing raden: ‘Punapa wekas ira rahaden pakan ira, tan wonten puharan ing asenetan? .’

    [Setelah bersumpah. Dua hari kemudian Lembu Ampal menghadap kepada kedua pangeran itu, dan berkata: “Tuanku, tak akan menyelesaikan masalah jika tuanku berdua terus bersembunyi dan berdiam diri di sini. Bagaimanapun ini harus berakhir,]

    Lembu Ampal melakukan “perang gerilya”, dengan menciderai orang-orang dari kedua pasukan khusus itu. Manira anudhuka wong Rajasa mene, sedhang ipun ababanyu. [sebaiknya hamba akan menusuk salah satu anggota tentara Rajasa, nanti kalau mereka sedang pergi kesungai.”]

    Tatkala sore, anudhuk wong Rajasa sira Lembhu Ampal, ingaloken malayu maring Sinelir. Ujar ing wong Rajasa: ‘Wong Sinelir anudhuk ing wong Rajasa’. Watara kalih dina wong sinudhuk den ira Lembhu Ampal, binuru malayu maring Rajasa. Ujare wong Sinelir.

    [Tatkala sore hari Lembu Ampal menusuk seorang tentara Rajasa, ketika orang berteriak, ia lari kepada tentara orang Sinelir. Kata orang Rajasa: “Orang Sinelir menusuk orang Rajasa. Kata orang Sinelir: “Orang Rajasa menusuk orang Sinelir.”]

    Pasukan Tentara Kerajaan Singasari lainnya berusaha melerai mereka yang bertengkar itu, tetapi mereka tidak mampu mendamaikan kerusuhan dan kekacauan tersebut, sehingga menyebabkan Tohjaya berniat menghukum mati para panglima tentaranya.

    Wekasan atukaran wong Rajasa lawan wong Sinelir, rame aleng lengan. Sinapih saking dalem tan ahidep. Runtik sira Panji Tohjaya, ingilangaken kalih batur pisan.‘

    [Akhirnya orang orang pasukan tentara Rajasa dan orang orang pasukan tentara Sinelir itu berkelahi, kisruh dan menimbulkan kekacauan. Pasukan tentara Istana berusaha mendamaikan pertikaian itu, tetapi tidak berhasil. Apanji Tohjaya marah, dia hendak menghukum mati semua orang dari pasukan yang bertikai itu.]

    Angrunghu sira Lembhu Ampal, yen wong kalih batur ingillangaken. Mara sireng wong Rajasa sira Lembhu Ampal, ling ira Lembhu Ampal: ‘Yen sira hingilangaken, angungsiya sira ring rahaden kalih sira, apan sama hana rahaden.’

    [Lembu Ampal mendengar, bahwa kedua belah pihak pasukan yang berkelahi itu ada yang dihukum mati, maka Lembu Ampal pergi ke Panglima Pasukan Khusus Tentara Rajasa. Kata Lembu Ampal: “Kalau kamu akan dilenyapkan (oleh Sang Apanji Tohjaya) hendaknya kalian meminta perlindungan kepada kedua pangeran, karena kedua pangeran itu masih ada. (Kedua pangeran itu bersedia memberikan perlindungan kepada kalian)”.]

    Mendengar keputusan itu, para perwira dan seluruh anggota pasukan khusus tentara kerajaan Singasari itu segera bergabung dengan kelompok Ranggawuni, tentu saja atas ajakan Lembu Ampal. Bahkan ia berhasil menghimpun dukungan dari kedua kelompok pasukan khusus tentara Singasari itu, untuk bersama-sama mendukung Ranggawuni dan Mahisa Campaka.

    Sanggup ing wong Rajasa, parekakena ugi Ki Lembhu Ampal, wong batur puniki bhinakta pinituhan ing wong Rajasa parek ing raden kalih, atur ira wong Rajasa:
    ‘Pukulun pakan ira ya kita a kawula Rajasa. Saandhika pakanira, pakanira corana, manawi tan tuhu pangawulan ipun. ‘Paheya den ipun ira angawula, mangkana wong Sinelir sama ingundhang pinituhan ipun.
    Tunggal sanggup ipun lawan wong Rajasa tur pinatut, kalih batur sampun kacoran. Winekas mene sore, padha merene tur amawa sahayan ira sowang sowang. Pada ambarananga ring Kedhaton, sama amit mantuk,

    [Panglima Tentara Rajasa menyatakan kesanggupannya: “Nah, bawalah kami menghadap kepada kedua pangeran itu, wahai Lembu Ampal.”
    Maka Panglima Tentara Rajasa itu dibawa menghadap kepada Ranggawuni dan Mahisa Campaka. Panglima Tentara Rajasa itu berkata: “Tuanku, kami mohon hendaknya tuanku berdua berkenan melindungi kami dan pasukan kami. Apa saja yang tuan titahkan kepada kami. Kami bersumpah akan setia kepada tuan berdua dan menjunjung tinggi titah tuanku. Kami akan bersungguh sungguh menghamba kepada paduka tuanku.”
    Demikian halnya dengan Pasukan Khusus Tentara Sinelir, dipanggilah panglima mereka, dan seperti kesanggupan Panglima Tentara Rajasa, Panglima Tentara Sinelir pun bersedia mengabdikan dirinya di bawah kepemimpinan Rangawuni dan Mahisa Campaka.
    Selanjutnya kedua belah pihak telah didamaikan dan telah disumpah semua, lalu dipesan: “Petang senja hari nanti kalian datang kemari, dan bawalah pasukanmu. Kita akan menyerbu istana.” Kemudian kedua panglima Sinelir dan Rajasa bersama-sama memohon diri.]

    Setelah mendapat dukungan kedua pasukan tentara itu, segeralah mereka melakukan persiapan. Mereka segera saling menghubungi, memusatkan kedudukan pasukan, dengan mengumpulkan seluruh anggota tentara dari pasukan khusus itu, dan dipilihlah saat yang tepat untuk menggempur ibukota Tumapel.

    wong Sinelir lawan wong Rajasa, katekan sore masa sama rawuh kalih batur amawa sahaya. Sama marek ing hayun ira raden kalih. Sama samo, annuli mangkata mbaranang mareng jro kadhataon.

    [Setelah senja hari Pasukan Tentara Rajasa dan Pasukan Tentara Sinelir datang bersama-sama menghadap kepada kedua pangeran, mereka keduanya saling menyapa, lalu mereka berangkat menyerbu kedalam istana.]

    Ranggawuni dan Mahisa Campaka berpesan bahwa penyerbuannya ke Singasari bukanlah dilandasi rasa dendam, tetapi untuk kejayaan Singasari semata-mata, yang dirasakan semakin terpuruk. Maka terjadilah pemberontakan yang dipimpin oleh Ranggawuni dan Mahisa Campaka terhadap Tohjaya di istana Tumapel. Dan Tohjaya pun melarikan diri dari Istana Singasari.

    Yogha kagyat sira Panji Tohjaya, malajeng kapisah, tinumbak tan kapisanan, marin ing geger, rinuruh den ing kawulan ira. Pinikul pinalayoken mareng Katang Lumbang. Kang amikul kasingse gadage, katon pamungkure.

    [Apanji Tohjaya sangat terperanjat, lari terpisah, kali ini ia terkena tombak. Sesudah huru hara berhenti, ia dicari oleh para pengikut yang setia kepadanya, dan kemudian dengan tandu dia diusung dan dibawa lari ke Katanglumbang. (Karena tergopoh-gopoh), salah seorang pengusung tandunya terlepas celananya, tampaklah auratnya.]

    Maka para pengawal Maharaja Tohjaya berusaha berlari menyelamatkan rajanya yang terusir dari kraton Singasari. Namun keadaan mereka benar-benar sudah tidak memungkinkan. Bahkan bukan saja keadaan tubuh mereka yang letih, tetapi pakaian mereka pun sudah tidak utuh lagi. Perut yang lapar dan perasaan gelisah serta cemas, membuat mereka tidak dapat berbuat dengan tertib atas diri mereka sendiri.

    Tohjaya terkejut ketika ia merasakan tandunya terguncang. Dengan serta merta ia mengangkat kepalanya dan memandang para pengawal yang memanggul tandu.
    Tiba-tiba saja wajahnya menjadi merah padam. Kemarahan yang selalu menyala di dadanya, rasa-rasanya melonjak sampai ke ujung ubun-ubunnya.

    Dengan mata yang merah ia melihat pengawalnya yang memanggul tandu di depan sebelah kanan sedang sibuk memperbaiki celananya yang sudah sobek, dan karena kekhilafannya telah tersingkap. Kain panjangnya tidak dikenakannya lagi karena mengganggu langkahnya, sehingga kain panjang itu hanya disangkutkannya saja di lehernya. Pengusung tandu itu telanjang.

    Pararaton mengisahkan:

    Kang amikul kasingse gadage, katon pamungkure. [salah seorang pengusung tandunya terlepas celananya, tampaklah aurat belakangnya.]

    Tohjaya yang sedang gelap hati melihat hal itu sebagai suatu aib yang besar, yang tidak dapat dimaafkannya lagi. Selain penghinaan atas seorang Maharaja yang besar dari Singasari, maka hal itu memberikan perlambang kepadanya bahwa nasibnya agaknya memang kurang baik. Seolah-olah ia telah melihat kegagalan diri sendiri. Pakaian yang tersingkap adalah perlambang kegelapan bagi nasib seorang besar seperti Tohjaya.

    Sangkan ing tan awet ratu dene silit iku. [Ia (Tohjaya) tidak lama berada di atas tahta, karena melihat orang lain yang telanjang]
    Ini pertanda buruk, karena itulah, maka Tohjaya tidak lama menjadi raja, karena ia telah melihat sesuatu yang tidak patut, (ia
    disingkur oleh pengusung tandunya) sehingga nampak aurat si pengusung tandunya itu.

    Dengan kemarahan yang tak tertahankan Apanji Tohjaya membentak orang yang memikul tandu itu: “Beciki gadagta katon pamungkure.” — Rapikan celanamu, terlihat auratmu! —

    Karena itu, tanpa berkata apapun juga, di dorong oleh kemarahan yang meluap, maka dengan serta merta orang itu pun telah dipukul dengan sebatang tangkai tombak yang selalu ada di sisi Tohjaya. Demikian kerasnya sehingga orang itu pun berteriak kesakitan.

    Tetapi bukan saja berteriak. Tiba-tiba saja ia melonjak dan melepaskan tandunya sehingga Tohjaya pun kemudian terlempar jatuh.

    Kemarahan yang meluap itu pun menjadi semakin membakar dadanya. Tertatih-tatih ia mencoba berdiri dan dengan sisa tenaganya ia mengangkat tombaknya sambil berteriak, “Gila, Kau gila. Kau harus dibunuh karena kau memberikan perlambang buruk bagiku. Selebihnya kau telah menghina seorang Maharaja besar, karena kau tidak berpakaian sepantasnya apalagi kau berjalan di hadapanku.”

    “Tuanku.” Senapati yang memimpin pengawal itu berteriak. Ia mencoba mencegah sesuatu yang bakal terjadi.

    Tetapi yang terjadi agaknya memang terlampau cepat. Pengawal yang kesakitan itu telah kehilangan akal pula. Kelelahan, putus asa dan ketiadaan harapan, membuatnya bermata gelap.

    Karena itu, ketika ia melihat ujung tombak mengarah ke dadanya, dengan serta merta ia pun menarik kerisnya. Dengan tanpa disadarinya ia justru meloncat maju menyongsong ujung tombak yang telah terayun ke arahnya.

    Senapati yang memimpin pengawalan itu justru harus memalingkan wajahnya ketika ia melihat benturan yang sangat mengerikan. Ujung tombak itu benar-benar telah menembus dada pengawal yang malang itu.

    Tetapi agaknya sisa dorongan tenaganya masih melontarkannya beberapa langkah maju, sehingga ujung kerisnya telah menyentuh tubuh Tohjaya. Keris yang dilumuri dengan racun warangan yang kuat.

    Sejenak kemudian orang itu pun terlempar ke samping dan jatuh menelentang. Langsung kehilangan nyawanya.

    Namun dalam pada itu. Tohjaya pun jatuh terduduk pula. Ia sudah mengerahkan segenap sisa tenaganya. Apalagi terasa sentuhan keris itu di tubuhnya. Tubuh yang memang sudah terlampau lemah.

    “Tuanku.” Senapati yang memimpin pengawalannya mendekat.

    Tetapi Tohjaya menjadi semakin lemah. Racun warangan yang kuat pada ujung keris itu dengan cepatnya mulai bekerja. Apalagi daya tahan tubuh Tohjaya telah hampir punah sama sekali.

    Tidak seorang pun yang dapat mengatasi batas maut apabila sudah menghampirinya. Demikian pula tuanku Tohjaya yang pernah menjadi seorang Maharaja yang besar di Singasari setelah ia berhasil membunuh Anusapati.

    Tetapi ternyata ia pun tidak cukup lama duduk di atas tahta.
    Racun warangan yang bekerja di tubuhnya itu telah mencengkamnya demikian kuat, sehingga darahnya pun seakan-akan telah tersumbat oleh gumpalan-gumpalan darahnya yang membeku.

    Dengan mata sayu dipandanginya Senopati yang berjongkok di sampingnya. Kemudian sebelum ia jatuh menelentang. Senopati itu sudah menyambarnya dan meletakkan kepala Tohjaya itu di pangkuannya.

    “Tuanku.” desisnya.
    “Aku, aku tidak akan dapat melanjutkan perjalanan ini.” desis Tohjaya.
    “Tahankanlah tuanku. Hamba akan berusaha mendapatkan seorang dukun yang pandai.”
    Tohjaya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak ada gunanya. Aku akan mati.”

    Namun tiba-tiba Tohjaya itu tersentak, “Persetan. Kalian memang mengharap aku mati, agar kalian dapat memiliki harta kekayaan yang aku bawa.”
    “Tuanku.” suara Senepati itu lambat, “Tenangkan hati tuanku. Tidak seorang pun yang akan berkhianat terhadap tuanku.”
    “Omong kosong. Siapa yang menusuk aku?”
    “Orang itu sudah mati.”
    “Mati?”
    “Hamba tuanku.”

    Tohjaya menarik nafas dalam sekali. Namun rasa-rasanya nafasnya sudah menjadi semakin dalam.
    Sejenak kemudian Tohjaya itu pun memejamkan matanya. Perlahan-lahan terdengar ia berdesis, “Ambillah. Ambillah petiku seisinya.”

    Senopati itu mengerutkan keningnya. Ia merasakan sebuah tarikan nafas yang sendat. Tarikan nafas terakhir dari Tohjaya yang berbaring di pangkuannya.

    Untuk beberapa saat lamanya, Senopati itu rasa-rasanya bagaikan membeku. Bahkan terasa matanya menjadi basah. Beberapa hari ia mengikuti Tohjaya yang terusir dari tahta. Dengan setia ia mengawal Tohjaya itu betapun beratnya. Kini ia hanya dapat menunggui Tohjaya yang sudah tidak bernyawa lagi.

    Prajurit-prajurit pengawalnya pun kemudian berkerumun. Sejenak mereka pun ikut berduka cita. Namun kemudian ada sesuatu yang melonjak di dalam hati mereka. Kejemuan dan kelelahan yang amat sangat, agaknya telah menumbuhkan perasaan putus-asa dan kelemahan tekad.

    Sebagian besar dari mereka sama sekali tidak lagi mempunyai nafsu untuk berbuat sesuatu.
    Sebenarnyalah bahwa prajurit-prajurit yang mengerumuni Tohjaya yang sudah terbunuh itu sudah tidak menghiraukan lagi kehadiran pasukan berkuda yang menyusul mereka.

    Mereka sudah terlampau letih lahir dan batin. Mereka sudah tidak tahu lagi apa yang sebaiknya mereka lakukan selain daripada pasrah diri terhadap nasib.

    Ternyata tidak seorang prajurit pun yang beranjak dari tempatnya. Mereka tetap duduk atau berjongkok di tempat.
    Satu dua di antara mereka ada yang memalingkan wajahnya melihat kedatangan pasukan berkuda itu. Namun orang-orang itu seolah-olah acuh tidak acuh saja.

    Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tertegun sejenak. Namun mereka tidak dapat memaksa. Mereka ingin meyakinkan mendekat dan melihat bahwa Tohjaya benar-benar sudah terbaring diam. Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, keduanya berlari-lari mendekat dan berjongkok di sisi tubuh Tohjaya yang sudah membeku.

    “Mati Sampyuh” Kematian Tohjaya benar-benar tidak terduga-duga. Seorang Maharaja besar dari kerajaan besar, Singasari, mati oleh tangan orang yang tak bernama. Seorang prajurit yang setia mengawalnya, yang justru telah membunuhnya.

    Sejenak kemudian Ranggawuni pun memerintahkan untuk membawa jenazah Tohjaya kembali ke Singasari dan menyelenggarakan sebaik-baiknya sesuai dengan adat upacara yang harus dilakukan.

    Demikianlah, setelah para prajurit melepaskan senjata-senjata, maka mereka pun kembali mengusung Tohjaya di atas tandu, tetapi mereka membawanya kembali ke Singasari.

    Berbagai tanggapan telah timbul. Namun adalah suatu kenyataan bahwa Tohjaya sudah tidak ada lagi. Dan tidak ada yang dapat menyangkal, bahwa di antara para bangsawan, Ranggawuni lah yang paling berhak atas Tahta Singasari.

    Namun, Ranggawuni tidak akan bersedia mukti sendiri. Karena baginya jabatan tertinggi itu merupakan tanggung jawab yang sangat berat.
    Dan karena itulah maka Ranggawuni telah menerima jabatan tertinggi di Singasari bersama saudara sepupunya, Mahisa Cempaka.

    Rawuh sireng Katang Lumbang mukta ta sira. Anuli dhinarmme Katang Lumbang. Linan ira isaka 1172.

    Keduanyalah yang kemudian menyelenggarakan jenazah Tohjaya sebagaimana mestinya, dan Apanji Tohjaya dicandikan di Katanglumbang, ia mangkat pada tahun 1172Ç/1250M.

    Tumuli sira Ranggawuni angadeg ratu, kadi nagha roro saleng. Lawan sira mahisa Campaka, sira Ranggawuni, abhiseka Bhatara Wisnu Wardhana karatun ira. Sira Mahisa Campaka dadi ratu Angabhaya, abhiseka Bhatara Narasingha. Atyanta patut ira tan hana wiwal.

    [Kemudian Ranggawuni menjadi raja, ia dengan Mahisa Campaka dapat diumpamakan bagaikan Sepasang Ular Naga di Satu Sarang.
    Ranggawuni bernama nobatan Wisnuwardana, demikanlah namanya sebagai raja, Mahisa Campaka menjadi Ratu Angabhaya, bernama nobatan Batara Narasinga. Sangat rukunlah mereka, tak pernah berpisah.]

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur nuwun ki BAYUAJI…..cantrik sabar nunggu tutugE

      • ki BAYUAJI matur nuwun……nunggu tutugE cantrik sabar

    • Matur sembah nuwun dongengipun Ki Bayuaji, kulo tenggo tutugipun.

  10. Maha suci Allah Engkau perlihatkan lagi kebesaran dan kekuasanmu, Tadi malam terjadi gerhana bulan. Dan umat Islam sesuai ajaran Rasulullah melaksanakan shalat gerhana. Tapi jaman digital begini kok ya masih ada yang menabuh lesug, kaleng dan bunyi-2an yang lain. Padahal tampak yang melakukan itu pada pakai seragam aparat pemerintahan.

    • ki honggo, ta’mir masjid ya?

  11. SUGENG ENJANG KADANG SEDOYO

  12. Matur nuwun P. SATPAM sudah ngunduh DJVU.
    Ingin segera mengulang pertempuran di Pamingit. Bugel Kaliki dengan Ki Soradipayana.

    • hayoooo ki honggo ngapusi 🙂 ….. tksna aja lom ada, palagi djvuna 😦

      • lha sakniki teksna dah mecungul 🙂

        • mecungul-mencungul-mencongak-mencangak-mengakak

          ayu-ayu koq software gitu terus

          • 🙂

      • lha sakniki djvune sampun mecungul ugi 🙂 ….. maturnuwun sanget dik satpam 🙂

        • he-eh betol mIT,

          antri ngunduh ning mburiNe si cuCU
          kakek KARtojudo,

          imel-mu apa toh MIt…..nuwun sewu ki PA
          kulo dhisiki,

  13. sugeng sonten poro kadang sedoyo

  14. selamat PAGI kadang NSsi sedaya,

    selamat SIANG kadang cantrik, mentrik yang mendhisik-i
    HADIR ning padepokan.

  15. SUGENG SIANG

    • MIT SYANK

  16. Seharian kok Mita durung nongol yo.

  17. Sugeng dalu kadang sedoyo.

    • sugeng dalu ugi Ki Honggo.

  18. matur nuwun sampun ngundhuh.

    Sugeng dalu,
    Ki Rangga Anatram kok ra tau mampir mrene ya…???.

  19. matur nuwun , sugeng dalu


Tinggalkan Balasan ke pandanalass Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: