NSSI-23

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 21 Juni 2011 at 06:30  Comments (58)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-23/trackback/

RSS feed for comments on this post.

58 KomentarTinggalkan komentar

  1. assalamualaikum, merji ping okeh maning🙂

  2. weeeeh pasingsingan gelut karo swandaru yo?🙂🙂

    • Genk Enjing Mbak Mita lan Para Sanak Kadang sedoyo….
      Nderek Absen Enjing…

      • waalaikumsalam ki ld, …….. eh ki ld tu tinggalna di batam apa di yogya sih?

        • aku ga mook takoni MIT

          • njih kula takeni, … ‘mook’ niku napa ta?🙂

          • sing nggo ngunjuk teh tho….

          • kakek pinteeeeer🙂🙂

          • Ooooooooooo bunder,
            ndak kira “mook” kuwi kumendan bangsa sing njajah nuswantara jaman biyen.
            jebulnya “mook” kuwi takon to…..????

          • kumendan sinten ta ki?

          • Komandan klepon….eh…pleton !

        • Kulo sawentawis wonten Batam…
          Demi sesuap nasi lan segenggam berlian kata wali..
          Insya Allah Minggu Ke-2 Juli mbenjing kulo mantuk teng Jogja..

          • keluarga diajak ke batam or ditinggal di yogya?

          • Insya Allah di ajak biar anak bs ketemu ama mbahnya…

          • lah….
            nanti mbak Mita bisa kopdar dengan Ki Lare Dusun di Jogja
            deket to dengan Solo? sekalian sambang Bu Lik padmi.
            Minggu 2 Juli kan sudah libur semesteran to?
            he he he

          • masa mita maen ke rumah cowo?😦

  3. SUGENG TANGGAP WARSO..

    Kagem Ki Gembleh, Ki Djojosm, Jeng Nunik….Selamat dan Sukses selalu menyertai !

    Nuwun

    • tanggap warso ? ……. warso niku nama dalang njih? …….🙂🙂

      • Lho…?…kan senengane Mita …warso solo..warso goreng…..😀

        • meksooo meksooo😦

          • Yo wis diganti :

            Lho…?…kan senengane Mita …warso gareng..warso dalang..😀

    • Matur nuwun dhumateng Ki Menggung KartoJ.

  4. Selamat siang ………………… Absen masuk siang …………

    • klo masuk siang, pulna jam brp ki?

      • MIT….aku kudu nganggo ilmu komunikasi sing piye ?
        aji pameling ?

        • Ki PA kadosipun njenengan kedhah jajah deso milang kori wonten solo ojo bali sakdurunge ketemu kori – ne Mbak Mita….

          • nyuwun palilah panjenengan dados mediatore njih ki eLDe

  5. selamat siang semuanya

  6. Sugeng dalu para kadhang.

  7. Nuwun
    Sugêng dalu

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

    Waosan sebelumnya
    Wedaran kaping-13: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-9). Keris Mpu Gandring [Parwa ka-5] On 19 Juni 2011 at 17:17 NSSI 22

    Wêdaran kaping-14:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI (Bagian ke-10)

    Keris legendaris:
    • Keris Mpu Gandring
    • Keris Kyai Någåsåsrå
    • Keris Kyai Sabuk Intên
    • Keris Kyai Sengkelat
    • Keris Kyai Condong Campur
    • Keris Kyai Carubuk
    • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

    KERIS MPU GANDRING [Parwa ka-6. Tamat]

    Malam itu semakin larut. Semakin lama menjadi semakin dalam. Bintang-bintang telah jauh berkisar dari tempatnya. Suara raung anjing-anjing liar mengumandang dari tebing-tebing pegunungan. Dan malam menjadi semakin garang karenanya. Desah angin pegunungan yang mengalir lewat jurang-jurang yang dalam, terdengar seperti bunyi siul raksasa yang sedang bermalas-malas, mengiang jerit nyaring, pekik burung hantu yang sedang berkelahi. Dan malam yang sepi itu benar-benar sedang merajai permukaan bumi, seluruh wajah bumi menjadi kelam, ditelan oleh hitamnya malam.

    Berikut ini kutitipkan beberapa puisiku mengenang orang-orang Tumapel Singasari pada abad ke-12 itu:

    I. NDÈDÈS KÈNGIS WÊNTIS IRÅ
    © cantrik bayuaji 62010

    ndèdès kuntum kembang kaki gunung kawi.
    andai engkau tak pergi ke taman boboji,
    andai engkau tak turun dari joli,
    andai tak ada angin nakal bertiup menyingkap kain sinjangmu, kèngis wêntisirå
    andai tak ada perwira muda bekas begal melihat rahasyanirå

    ndèdès sang ardanarèswari,
    satêkan irå ring taman boboji
    sirå ndèdès tumurun saking joli.

    menginjakkan kaki ke dingklik di bawah
    sedikit terangkat kain sinjangnya,
    melangkah anggun.

    pagi ceria
    matahari tersenyum hangat
    dan angin bertiup nakal
    menyingkap ujung kain.

    tersingkap betisnya,
    terbuka sampai nampak rahasianya
    terlihat oleh angrok perwira muda pengawal utama istana
    menyala menyilaukan mata.

    terpesona ia melihat
    betis yang indah memancarkan sinar
    betis perempuan naréswari.

    angrok, tan wruh ring tingkah irå.
    terkejut, terpaku dan terpesona
    menggelegak naluri kejantanannya, meronta.

    berhari-hari angrok, si perwira muda pengawal bekas begal,
    tak bisa nyenyak tidur,
    terbayang apa yang dilihatnya di pagi itu,
    di taman boboji.

    teringat kata danghyang lohgawé:
    yèn hånå stri mangkånå kaki iku stri narèswari arané
    angalapå ring wong wadon iku dadi ratu anåkråwati
    dia adalah perempuan narèswari
    dia adalah perempuan yang paling utama.
    dari guwå garbånya akan lahir para penguasa

    angrok tertegun,
    tak hanya rebut ndèdès istri akuwu amêtung.
    pada sang ardanarèswari
    cita-citanya melambung
    perempuan itu harus melahirkan anak-anaknya
    yang kelak menguasai tlatah jawadwipa.

    dan di hari-hari berikutnya
    betis indah itu masih ada di dalam matanya
    melekat dalam pikirannya.

    sebilah keris bergagang cangkring haus darah
    penjelmaan ambisinya
    telah menjadi sejarah.

    kasêrat hing Jakarta, kacirèn suryå sangkålå Sirnå Pråjå Ilanging Panêmbah.

    * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

    II. SANDHÉ JABUNG SAMPUN ING SURUP AMASANG SANDHÉ.
    © cantrik bayuaji 42011

    [sandyakala saat rembang petang, matahari menjelang terbenam, ketika pelita-pelita telah dinyalakan pada tempatnya.]

    Candik Ayu dan Candik Ålå yang kadang datang bergantian di senja hari hidupmu. Candik Ayu adalah suasana hati yang riang,
    kecantikan yang indah,
    senja yang tenteram, cerah,
    dedaunan nampak menjadi lebih hijau cemerlang,
    bunga-bunga terlihat begitu indah mempesona.

    Langit bersih, tapi tidak selalu tanpa awan, burung-burung bernyanyi riang mengiringi Sang Bagaskårå turun menuju ke peraduannya, keindahannya dapat dirasakan.
    Tetapi yang muncul sesaat kemudian langit berangsur berubah warna.

    Sinar jingga-kuningnya menyilaukan
    berpendar-pendar membiaskan kabut silih berganti, kuning, jingga, merah.
    Semburat merahnya menyiram seluruh muka bumi.
    Merah dan semakin merah.
    Merah darah, kelabu hitam kelabu dan muram.

    Candik Ålå.
    Kelelawar beterbangan keluar sarang
    mencari mangsa di awal petang.

    Pohon-pohon menunjukkan kekuasaan bayangan keangkuhan.
    Sepertinya akan ada keburukan,
    petaka yang akan merenggut semua kebahagiaan.

    Candik Ålå.
    Kala wayah surup. Sandyakala saat rembang petang,
    matahari menjelang terbenam,
    ketika pelita-pelita telah dinyalakan pada tempatnya.

    Waktu siang hampir hilang.
    Waktu malam menjelang datang.
    Berlangsung pergantian antara terang dan kegelapan.
    Akan ada padanya kebingungan atau jiwa yang tertekan.
    Ruh menjadi rentan,
    dekat dengan kegilaan.
    Bahkan lebih dekat lagi dengan kematian.

    Candik Ålå. Angrok Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi pralåyå.
    Kain-kain selintru bergetar tertiup angin yang basah, wayah surup.
    sandhé jabung sampun ing surup amasang sandhé
    Guntur menggelagar bersahut-sahutan.
    Sindhung riwut. Udan salah mångså.
    wantén duwung anyar bergagang cangkring
    wilahan berbintik kuning
    berpamor biru di atas baja pilih tanding,
    buatan Sang Gusali Gandring.

    Saatnya akan tiba meminta darah penguasa petinggi negeri
    Anggrok Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi
    tak kuasa melawan takdir

    Terngiang sumpah sêpåtå sang empu sakti:
    Kang amatén i ring sirå têmbé kris iku,
    anak putun irå mati déné kris iku,
    oléh ratu pipitu têmbé kris iku amatén i
    .”
    Kutuk keris itu meminta kematian demi kematian,
    anak cucu keturunan dan darah tujuh para penguasa negeri.

    Kaserat hing Jakarta, kacirèn suryå sangkålå Siji Siji Nêmahi Pati.

    * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

    III. TÊMBANG PANJANG ILANG
    © cantrik bayuaji 12011

    Senja menjelang malam,
    sandhé jabung sampun ing surup amasang sandhé,
    surup tatkala Candhik Ålå menguasai bumi,
    Sang Amurwabhumi pralåyå,

    teriring Têmbang Panjang Ilang,
    menggema di antara perbukitan yang mengurung lokasi upacara pendharmaan.
    Suara têmbang yang ajêg, berirama tlutur, mengalun tersendat.

    Tirtå puspå lawan dupå.
    Kumêlun ngambar arum mawar,
    Katur Hyang Kawåså.
    Ratu-ratuning naréndrå.
    Ninging nålå,
    nanging rumêgung nålå sru sumênyut.
    Mugi sihing padukéndrå.
    Pasingå cahyå rahayu….

    Têmbang Panjang Ilang dilantunkan secara bersama
    oleh para sisya yang terdiri dari pria dan perempuan setengah baya yang mengenakan busana dan ikat kepala serba berwarna putih,
    diiringi tabuhan gamelan satu-satu itu lebih mirip dengungan serangga.

    Menimbulkan suasana khidmat sekaligus mistis,
    mengiringi hampir sepanjang upacara
    perabuan jenazah Sri Rangga Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi.

    Kaserat hing Jakarta, kacirèn suryå sangkålå Gusti Aji Tan-Hana Roro.

    * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

    IV. APANJI TOHJÅYÅ PRALÅYÅ
    © cantrik bayuaji 2010

    Tak ada yang meniup terompet kemenangan.
    Tak ada yang menabuh genderang.
    Yang ada adalah gemuruh suara hati yang tersingkirkan
    Panji-panji keakuan yang dikibarkan terkulai sudah
    Pasukan-pasukan mlajar dari istana tak beraturan.

    Gemuruh itu semakin jelas terdengar.
    Ranggawuni Narasingamurti bukan lagi saudara.
    Tohjåyå harus dilengser paksa
    Ken Umang terlantarkan, menangis meraung bak bocah kehilangan boneka

    Tak ada lagi bahasa kata.
    Tak ada lagi harum bunga.
    Yang ada hanya bahasa amarah, panah, gada dan pedang.
    Singosari kembali anyir becek darah yang tumpah dari tahta
    kali ini Tohjåyå

    Debu membubung di langit Tumapel Kutaraja
    Tak ada segar udara.
    Tinggal perih dan sesak yang terasa.

    Kalah dan menang telah kehilangan makna.
    Gemuruh perang terus saja membahana.
    Gemuruh perang ada di mana-mana.
    Gemuruh perang tak hanya ada di istana
    Gemuruh perang juga terdengar dari dalam dada Maharaja Tohjaya.

    Tak ada iringan gamelan yang ditabuh pelan
    Tak ada irama tlutur têmbang Panjang Ilang yang dilantunkan
    Rawuh sireng Katang Lumbang mukta ta sira. Linan sira. Anuli dhinarmme.
    Pendharmaan Sang Apanji Tohjåyå di Katang Lumbang berlangsung sunyi.

    Kasêrat hing Jakarta, katiti suryåsêngkålå Moktå Irå Ilang Cidrå.

    * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

    V. NDÈDÈS PUTRI AYU KÈN
    © cantrik bayu aji 062010

    swuh rêp dåtå pitånå
    remang-remang bléncong memudar cahaya
    berayun pelahan dihembus sepoi bayu basah
    menyusuri jejak beribu langkah sang kala,
    di atas bara anglo tembikar yang retak, terhidu semerbak wangi setanggi dupa
    terpedih kemelun asap kemenyan, membubung membuka tabir purba
    têmbangkan kidung agung rontal pustaka para raja,

    sétra panawijèn.
    nDèdès di masa mekar kuncup kegadisannya kadusthå bakal karudhåpêkså
    direnggut paksa sang penguasa
    lelaki setengah tua yang tak dicinta.
    Sang Pandhita Budha Mahayana menjatuhkan sêpåtå:
    “samyå tan rahayu;
    lah kang amalayokên anakingsun mogghå tan panutugå pamuktiné matyå binahud angêris,”
    “Moggha tan mêtuwå banyune bèji iki.”
    Panawijen mengering sumber air.
    Petaka berkelanjutan di Tanah Tumapel,
    katuhon pagêwêning widhi kèngis wêntis irå, kèngkab tèkêng rahasyanirå tèhér katon murub dèn irå Angrok
    nDèdès sang ardanariswari di Taman Boboji,

    hati yang kalut
    Angrok putra Brahma, titisan Wisnu, penjelmaan Syiwa Budha, tan wruh ring tingkah irå
    ke Dang Hyang Loh Gawe, Bango Samparan
    lalu ke Lulumbang dia pergi.
    Angrok anungklang duhung anyar bergagang cangkring wilahan berbintik kuning
    pamor biru di atas baja pilih tanding

    “Kang amatèn i ring sirå têmbé kris iku, ….. olèh ratu pipitu têmbé kris iku amatèn i.”
    kutuk keris itu meminta kematian demi kematian, darah tujuh raja para penguasa
    menebar petaka
    menggulung Tumapel
    melahirkan dendam dan berbalas dendam.

    Tunggul Amêtung harus disingkirkan, dimusnahkan
    Atas nama kawula yang tertindas
    Atas nama diri dan kepentingan pribadi
    Gandring Sang Gusali,
    Kêbo Idjo si prajurit pengawal puri
    jadi tumbal nafsu angkara dan ambisi.

    Pakuwon Tumapel anyir becek darah yang tumpah,
    sumpah sepata dua empu nan sakti
    dionarkan kobaran amarah
    relung-relung hati tertutup geram dan benci.
    nDèdès bernasib tidak begitu indah,
    hanya sekejap merasakan nikmatnya menjadi permaisuri sang nata,
    sang akuwu dibunuh lelaki yang ia saksikan di depan mata, tapi tak bisa apa-apa.
    Di masa hamil tua menjelang persalinan Anusapati,
    nDèdès harus rela dinikahi Angrok sang amurwabhumi di tahta Singasari.

    nDèdès,
    Perawan Panawijèn ‘karma amamadhangi’ pemilik cahaya ilmu penerang hidup
    yang sangat teramat cantik itu,
    dari guwa garbanya melahirkan para penguasa Tanah Jawa.

    Prajñaparamita.
    Tak sekalipun lepas mata memandang wajah dan tubuh nDèdès yang sekarang tepat berada di depan saya.

    Sang Paramèsywari Agung dua raja,
    Ibu Suri dua dinasti
    cantik jelita bak bidadari.
    Semua kesempurnaan seolah ada pada perempuan itu:
    bibir tipis,
    hidung mbangir,
    buah dada padat,
    leher jenjang,
    lengan halus,
    dan kulit kuning langsat semerbak mewangi.

    Duduk bersila berpadmasana diatas kelopak kuntum teratai merah
    dan kedua tangannya berdharmacakramudra.

    Tersadar.
    Saya tengah berada di Museum Nasional Jakarta memandangi patung nDèdès putri ayu tapi terlihat sedih.

    Hari itu,
    gerimis Januari pagi seolah tak jemu
    juga di sekitar ruangan museum yang sepi
    berserakan reruntuhan batu-batu candi
    diam membisu perempuan jelita dari Singasari itu menyendiri.

    Kaserat hing Jakarta, katiti suryåsêngkålå Bayu Aji Ambrasthå Drêsthi.

    ****************************

    Makna suryåsêngkålå:
    Sirnå Pråjå Ilanging Panêmbah (2010)
    Siji Siji Nêmahi Pati (2011)
    Gusti Aji Tan-Hana Roro (2011)
    Moktå Irå Ilang Cidrå (2010)
    Bayu Aji Ambrasthå Drêsthi. (2010)

    ånå tjandhaké
    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur nuwun Ki Bayuaji,
      hanya kata INDAH yang bisa saya aturaken.

      sugeng dalu Ki Bayu.

    • Matur sembah nuwun Ki Bayuaji, kala SMP rumiyin nate dipun wucal suryasengkala-candrasengkala, nanging sakmeniko sampun kesupen. Kapan-kapan kepengin sinau malih, sugeng dalu

    • Prajñaparamita ? ……….. niku artinipun napa njih?

  8. Menopo leres Ki Gembleh, Ki Djojosm, Jeng Nunik tanggap warso?
    Menawi leres kulo ngaturaken sugeng tanggap warso, mugi-mugi pinaringan panjang yuswo, tansah sehat tuwin saged kaleksanan sedoyo gegayuhanipun, Amin.

    • Amin..!

      Njih saestu leres koq Ki Arga…Ki Gembleh kolo wingi, Ki Djojosm mbejang…nah Jeng Nunik sing malah wis seminggu kepungkur……

      • nek kulo malah mpun kesusu..eh kesupen kapan nanggap warsanipun

        • Halah….nek panjenengan sak tanggal2-e rak mboten nopo2 tho KI….😀

      • Sugeng Tanggap warso dumatheng Ki Gembleh, Eyang Djoyosm, Ibu Nunik…
        Mugi-mugi tansah pinayungan engkang Murbeng Dumadi lan tentrem kalis ing sambikolo … Amin…

      • Sugeng Tanggap warso dumatheng Ki Gembleh, Eyang Djoyosm,
        Ibu Nunik…ki Kartojuda, ki Pandanalas, kisanak-nisanak sedaya….

        Mugi-mugi tansah pinayungan engkang Murbeng Dumadi lan tentrem
        kalis ing sambikolo … Amin…Amin,

      • Sugeng Tanggap warso dumatheng Ki Gembleh, Eyang Djojosm,
        Ibu Nunik…ki Kartojuda, ki Pandanalas, kisanak-nisanak sedaya….

        Mugi-mugi tansah pinayungan engkang Murbeng Dumadi lan tentrem
        kalis ing sambikolo … Amin…Amin….Amin,

  9. Sugêng énjang

    • Sugeng Enjing Ki Puna dalah para Sanak kadhang sedoyo….
      Pripun kabaripun kota praja….?
      Sakwentawis batam radi panas sampun sakwentawis wekdal mboten jawah…

      • Nuwun
        Sugêng siyang

        Katur Ki Lare Dusun;

        Sungguh betul Ki, sudah lama nggak hujan, jadi Ibu Kota Praja mBetawi nJakarta sekarang menjadi “gersang”.

        Bagaimana nggak “gersang” (seger-merangsang); hampir di setiap jalan dan gang sempit dihiasi umbul-umbul dan bendera, juga abang, mpok, encang, encing, nyak, babe, ame engkong pade bersolek.
        Pekan Raya Jakarta, Pemilihan Abang dan None Jakarte, berbagai macam lomba, dan atau entah apa lagi. Semua menyambut Hari Jadi ke 484 Tahun Ibu Kota Jakarta, pada tanggal 22 Juni 2011.

        Konon tanggal 22 Juni 1527 diangap sebagai Hari Kemenangan gemilang Fatahillah merebut Sunda Kelapa yang terjadi tanggal 22 Juni 1527 yang kemudian diperingati dengan pergantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, kemudian Jakarta.

        Kemudian tanggal kemenangan Fatahillah terebut ditetapkan sebagai hari ulang tahun kota Jakarta, yang sebentar lagi akan diperingati oleh seluruh warga Jakarte, makanya Jakarta “gersang”

        Tetapi penetapan tangal 22 Juni 1527 sebagai tanggal lahir Kota Jakarta adalah kesalahan sejarah, karena tidak ada sandaran data atau fakta sejarah dari manapun, kecuali kompromi politik yang menghasilkan keputusan politik pada tahun 1960 oleh Soediro sebagai Walikota Djakarta Raja (1958-1960).

        Nuwun

        punakawan bayuaji

        • Matur nuwunKi Puna paring kabaripun…
          Sugeng sonten..

  10. selamat siang

  11. di nssi 23

    the day of pasingsingan🙂 …… saluuut pakde paniling, it’s so inspiring

    memaksimalkan proses njih ? ….. coz qt yg dinilai prosesnya, bukan hasilnya …
    ketika nyawa dah di kerongkongan, dah tutup deh pintu taubat, ….. tapi kan pakde paneling lom tau pastinya klo nyawa lik umbaran dah di kerongkongan ?

    GS surprise🙂
    duuuh calon mertuaku ternyata suka becanda ya? ….. bikin arya terkaget kaget aja … tp it’s so touchy …. ikut nangiiis

  12. duh duh duuuh selamat malam

  13. duh duh duuuh selamat PAGI

  14. maturnuwun sanget atas djvuna🙂

    • djvu niku singkatan napa ta?

      • di jak vit2an tekan ujungkulon ?🙂

        • meksooo..hayooo Mita meksooo…..😐

  15. Ya Allah Tuhan kami,

    Di sepertiga malam yang terakhir menjelang Shubuh ini hamba-hambaMu masih terjaga, berdiri dan duduk, ruku’ dan sujud, berdoa dan merendahkan diri, menangis dan bertobat mohon ampun kepadaMu. Semata-mata mengharap ampunan dan ridhaMu.

    Maka ketika Allah pada waktu itu memandang kepada hamba-hambaNya dengan pandangan rahmat, waktu ketika Allah Azza wa Jalla turun ke langit dunia dan berfirman, “Siapa yang meminta, Aku beri. Siapa yang meminta ampunan, Aku beri ampunan. Siapa yang bertobat, Aku terima tobatnya. Siapa yang berdoa, Aku penuhi doanya.

    Itulah waktu di akhir malam, waktu turunnya rahmat dan keberkahan. Allah menerima tobat orang yang bertobat kepadaNya, mengabulkan orang yang berdoa kepadaNya, memberi orang yang memintaNya, siapa yang mendekat kepadaNya sejengkal, Ia akan mendekat kepada orang itu sehasta. Bila ia mendekat kepada Allah sehasta, Allah akan mendekat kepadanya sedepa. Dan, siapa yang datang kepadaNya dengan berjalan, Allah akan mendatangi orang itu dengan bergegas.

    Hamba-hambaMu menyendiri dalam kegelapan malam ketika hampir sebagian besar mata manusia telah terpejam, tidur. Dalam keheningan dan suara-suara telah sunyi, hamba-hambaMu yang menyendiri bersama Rab Azza wa Jalla.

    Maka Allah SWT berfirman, “(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur” [QS. Ali Imran (3) : 17].

    Allah mengenakan kepada mereka cahaya dari cahayaNya, memberikan kepada mereka mahabah di hati para makhluk dan menjadikan ucapan dan perbuatannya indah dan diterima manusia. Mereka yang tidak tidur. Mereka sujud dan ruku’ kepada Rabnya di waktu sepertiga malam yang terakhir.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Sugeng Enjing Ki Puna Dalah Para Sanak Kadang sedoyo….
      Matur nuwun paringipun pitutur engkang sanget agung niki…
      Wau dalu nrerek majelis dzikir radi lingsir wengi ndungkap jam 2.00 dados mboten saged tahajud namung saged sholat mutlak mawon…
      Mugi-mugi sanes wekdal saged kaparingan kekuatan Allah kangge damel amalan ndalu engkang agung meniko..
      Amin.

      • Insya Allah, sagêd kasêmbadan Ki


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: