NSSI-24

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 24 Juni 2011 at 06:30  Comments (30)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-24/trackback/

RSS feed for comments on this post.

30 KomentarTinggalkan komentar

  1. assalamualaikum, waduuuh numpak redbull dadi nomer siji terus ni🙂

  2. weeeh arya padu karo sopo yo?

    • arya vs sawung sariti…….disekseni karebet

      • kok nganggo saksi ta? … pa mo nikah?🙂

        • wis pernah po

          • pernah …….. liat🙂

          • 😀

  3. weeeh mj ki genite ra ilang2, …. masang melati terus …… metiki melatine sapa hayoooo ?😩

    • pdhal ra tau ngewangi nyirami😩

      • he eh….senengane nyirabi

        • nyirabi? … nyi rara bilis?🙂

          • 😀😀😀

  4. mba padmi kabare piye yo? klo bener dah dadi manten, berarti sekarang lagi ngidam ya?🙂
    ngidam apa ya ?

    • klo ngidam jambu alas piye yo ?🙂

      • ha ha ha……..

        Padmi wis tobat, bar kejadian gunung sindoro…

        • kejadian apakah itu ?

          • weh lah…..padmi ga pernah crito tho…
            deweke pernah topo ngidang neng gunung sindoro

          • trus ki pa dadi joko tarub?🙂

            eh ki pa suka naik gunung ga? … pernah naik gunung mana aja?

          • ra parenk crito neng kene ah….
            nek tertarik, dak critani neng YM mu ya

      • apa ayam alas ?🙂

        • jangan jangan lg kangen ama yg pake alas alas ya?🙂

          • emange pager, dilas-las

          • iya, biar yg mencolot ga bisa masuk🙂

          • Sugeng sonten Mbak Mita,Ki PA lan para sanak kadang sedoyo…
            Ayam apa yang suka jalan – jalan….

          • ngestoaken ki LaDu…..

            mboten sobo tonggo sebelah ki…nembe wonten hajatan lho….komunikasia..(ilmu persyaratane MITA)

  5. sugeng ndalu..
    wadooo.. lama ga nginguk, ternyata tampilannya baru….
    jadi pengin nostalgia ke Malang ini..
    SIP..SIP..

  6. SugĂȘng dalu

  7. Nuwun
    SugĂȘng Ă©njang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

    Wedaran kaping-1: Sumunaring Abhayagiri ring Ratu Boko. On 18 April 2011 at 09:51 – NSSI 01
    Wedaran kaping-2: Glagahwangi Kesultanan DĂȘmak BintĂ„rĂ„ (Bagian ke-1) On 28 April 2011 at 00:14 – NSSI 04
    Wedaran kaping-3: Glagahwangi Kesultanan DĂȘmak BintĂ„rĂ„ (Bagian ke-2) On 2 Mei 2011 at 01:26 – NSSI 06
    Wedaran kaping-4: Glagahwangi Kesultanan DĂȘmak BintĂ„rĂ„ (Bagian ke-3) On 7 Mei 2011 at 09:47 – NSSI 08
    Wedaran kaping-5: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-1) On 11 Mei 2011 at 11:13 – NSSI 09
    Wedaran kaping-6: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-2) On 11 Mei 2011 at 11:27 – NSSI 09
    Wedaran kaping-7: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-3) On 18 Mei 2011 at 07:40 – NSSI 11
    Wedaran kaping-8: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-4) On 25 Mei 2011 at 01:35 – NSSI 13
    Wedaran kaping-9: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-5) Keris Mpu Gandring [Parwa ka-1] On 31 Mei 2011 at 19:38 – NSSI 16
    Wedaran kaping-10: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-6) Keris Mpu Gandring [Parwa ka-2] On 7 Juni 2011 at 21:18 – NSSI 18.
    Wedaran kaping-11: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-7) Keris Mpu Gandring [Parwa ka-3] On 9 Juni 2011 at 10:01 – NSSI 19.
    Wedaran kaping-12: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-8) Keris Mpu Gandring [Parwa ka-4] On 16 Juni 2011 at 03:40 NSSI 21.
    Wedaran kaping-13: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-9) Keris Mpu Gandring [Parwa ka-5] On 19 Juni 2011 at 17:17 NSSI 22
    Wedaran kaping-14: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-10) Keris Mpu Gandring [Parwa ka-6. Tamat] On 21 Juni 2011 at 20:54 NSSI 23

    WĂȘdaran kaping-15:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-11)

    Keris legendaris:
    ‱ Keris Mpu Gandring
    ‱ KĂȘris Kyai NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„
    ‱ KĂȘris Kyai Sabuk IntĂȘn
    ‱ KĂȘris Kyai SĂȘngkĂȘlat
    ‱ KĂȘris Kyai Condong Campur
    ‱ KĂȘris Kyai Carubuk
    ‱ Keris “Pusaka” SĂ©tan KobĂȘr

    KÊRIS KYAI NÅGÅSÅSRÅ; KÊRIS KYAI SABUK INTÊN dan KÊRIS KYAI CONDONG CAMPUR; KERIS KANJENG KYAI SÊNGKÊLAT

    Keris dan Êmpu

    Setiap kerajaan yang pernah ada di pulau Jawa memiliki ĂȘmpu masing-masing yang membuat keris pusaka. Mereka menghasilkan pusaka-pusaka yang terkenal pula. Ada lebih seratus ĂȘmpu yang terkenal dari berbagai kerajaan tersebut. Sebagian nama-nama ĂȘmpu terkenal dari masing-masing kerajaan beserta hasil karya mereka di antaranya:

    1. Êmpu KandangdĂ©wĂ„ dengan hasil pusaka karyanya adalah keris dapur Sang Sabuk IntĂȘn, Sang Jalak, dan Sang KĂ„lĂ„ WĂȘlang (zaman Kahuripan);
    2. Êmpu WindusarpĂ„ karyanya: Sang Barojol, Sang BĂȘthok, dan Sang Larbango (zaman JĂȘnggĂ„lĂ„);
    3. Êmpu KanĂ„kĂ„, karyanya: Kyai Kalut dan Kyai Bang WĂ©tan (zaman Pajajaran Makukuhan);
    4. Êmpu Bayuaji, karyanya Kyai SĂ©tan Kober (zaman Cirebon);
    5. Êmpu Domas, karyanya Kyai Gajah, Kyai Sabuk IntĂȘn (zaman Majapahit);
    6. Êmpu PujĂ„dĂ©wĂ„, karyanya: Kyai Gagak NgorĂ© dan Kyai GĂ„ndĂ„ WisĂ„ (zaman Majapahit);
    7. Êmpu KalokĂ„, karyanya Kyai Kuwung-Kuwung (asal Madura);
    8. Êmpu Humyang, karyanya Kyai Ombak Banyu (ĂȘmpu zaman Pajang);
    9. Êmpu Tunggul MĂ„yĂ„, karyanya Kyai Jabar (zaman Mataram);
    10. Êmpu Luyung, karyanya: Kyai Padas Polah dan Kyai Jamur DipĂ„ (zaman KartĂ„surĂ„);
    11. Êmpu Ki Anom, karyanya KanjĂȘng Kyai PulanggĂȘni (zaman Sultan Agung, Mataram);
    12. Êmpu Ki DjĂ„kĂ„ SugatnĂ„, karyanya KanjĂȘng Kyai Gajah Satrubondo (zaman Kraton SurĂ„kartĂ„);
    13. dan masih banyak lagi ĂȘmpu-ĂȘmpu terkenal lainnya.

    Êmpu biasanya mengabdi ke kerajaan. Mereka menjadi salah satu orang yang dihormati di kerajaan karena kelebihannya membuat keris pusaka. Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa untuk membuat keris tangguh agar menjadi senjata andalan, maka bahan yang dipakai untuk membuat keris, biasanya terdiri dari campuran besi, pamor, dan baja.

    Sebelum memulai membuat keris ampuh, biasanya diawali dengan laku pĂ„sĂ„ dan persiapan-persiapan lain yang memakan waktu enam hari. Persiapan-persiapan yang dilakukan antara lain: menyiapkan tempat produksi (bĂȘsalen, panyirĂȘpan, dulang landĂȘsan, dan ububan); memilih pembantu pembuatan keris yang dapat dipercaya; menyiapkan semua bahan-bahan; mengajak para pembantunya untuk laku prihatin; mengadakan selamatan; dan menyiapkan mantra. Baru hari ketujuh memulai membuat keris.

    Di antara mantra yang biasa dilafalkan ĂȘmpu adalah:
    “aum, sĂȘmbahing anĂ„tĂ„ tingalĂ„nĂ„ dĂ© trilokĂ„ sarĂ„nĂ„; awighnam astu, isun ĂȘmpu [Nama Sang Êmpu] tan awacĂ„nĂ„, dĂ© nir arthĂ„kĂ„ darpĂ„; dang dahĂ„nĂ„ hagni nirawĂšh sĂ„rĂ„ sudarmĂ„â€,

    (Ya Tuhan, semoga sembah permohonan hamba ini Paduka ketahui wahai sang pelindung tiga dunia; jangan ada halangan, hamba ĂȘmpu [Nama Sang Êmpu] tidak mengucapkan kata-kata yang tidak berguna dan sombong; api yang menyala-nyala ini semoga memberi pusaka yang berguna).

    Setiap keris yang dihasilkan oleh setiap ĂȘmpu dari masing-masing kerajaan tentu mempunyai ciri khas sendiri-sendiri, baik bentuk, ukuran, maupun kualitas. Keris yang dihasilkan oleh ĂȘmpu Majapahit, biasanya wilahan (bilah) menyatu dengan ukiran hulu (pegangan keris). Mulai dari ujung keris hingga pangkal pegangan terbuat dari logam.

    Pada pegangan keris berbentuk patung manusia. Mulai pada zaman kerajaan Demak, pegangan keris sudah tidak menyatu lagi dengan wilahan. Pembuatan keris oleh ĂȘmpu lebih banyak atas perintah para wali. Seorang ĂȘmpu bernama Êmpu SupĂ„ Madrangki mendapat perintah dari Sunan KalijĂ„gĂ„ untuk membuat keris dapur Sabuk IntĂȘn.

    Keris, baru dikatakan lengkap jika sudah ada sarungnya atau yang disebut warÄngkÄ. Orang yang membuat warÄngkÄ keris disebut Mranggi. Jenis warÄngkÄ yang dikenal dalam perkerisan tradisi Jawa adalah Ladrang dan Gayaman. Bentuk Ladrang Yogyakarta dan Surakarta berbeda, demikian pula dengan bentuk Gayaman.

    Sementara bagian-bagian warĂ„ngkĂ„ adalah: ukiran, godongan, pijĂȘtan, tampingan, awak-awak, bapangan, lĂȘnglĂȘngan, gigir, gandar, dan bandar. Jenis kayu yang sering dipakai untuk membuat warangka adalah kayu: Timoho, Trembalo, Cendana, dan Galihjati.

    KÊRIS KYAI NÅGÅSÅSRÅ dan KÊRIS KYAI SABUK INTÊN

    Nama KĂȘris Kyai NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„ dan KĂȘris Kyai Sabuk IntĂȘn tanpa menyebutkan dapur menjadi terkenal karena menjadi topik dalam cerita karya Ki Dhalang Singgih Hadi Mintarja yang sedang kita ikuti ceritanya di gandhok ini.

    Kedua keris yang menjadi rebutan antara golongan yang menghendaki agar keduanya dikembalikan kepada pemilik yang sah, KĂȘsultanan DĂȘmak BintĂ„rĂ„, dan golongan hitam. Diceritakan bahwa MahĂ©sa DjĂȘnar, salah satu murid SjĂšh Siti DjĂȘnar, mantan perwira tinggi pasukan pengawal sultan pada masa Kesultanan DĂȘmak BintĂ„rĂ„:

    ”Aku ora bali ing Kraton DĂȘmak BintĂ„rĂ„ kalamun durung bisa nggĂ„wĂ„ kĂȘris Kyai NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„ kalawan Kyai Sabuk IntĂȘn”

    Demikan prasĂȘtyĂ„ MahĂ©sa DjĂȘnar RĂ„nggĂ„ TohdjĂ„jĂ„ dalam tekadnya untuk mengembalikan kedua pusaka kerajaan yang jĂȘngkar dari walangkan gudang pusaka Kesultanan DĂȘmak BintĂ„rĂ„.

    Tak seorang pun yang mengetahui, kemana perginya dan siapa yang membawanya. Konon bagi siapa yang mendapatkannya akan menjadi pewaris sah tahta kerajaan DĂȘmak BintĂ„rĂ„.

    KĂȘris Kyai NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„ dan KĂȘris Kyai Sabuk IntĂȘn adalah sepasang keris pusaka dari zaman Majapahit. Kedua bilah keris ini menjadi simbol kekuasaan raja-raja Majapahit yang diperkirakan dibuat pada abad ketigabelas.

    Keris ini tidak bisa berdiri terpisah, dan merupakan lambang menyatunya Kawula Gusti (Abdi dan Raja) atau juga sering dianggap sebagai simbol penyatuan antara manusia dan Tuhan.

    KĂȘris Kyai NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„ adalah pusaka peninggalan kerajaan Majapahit. NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„ adalah nama salah satu dapur (bentuk) keris luk tiga belas dan ada pula yang luknya berjumlah sembilan dan sebelas, sehingga penyebutan nama dapur ini harus disertai dengan menyatakan jumlah luknya.

    Secara umum keris NÄgÄsÄsrÄ pada bagian gandiknya diukir dengan bentuk kepala naga (biasanya dengan bentuk mahkota raja yang beragam), sedangkan badannya digambarkan dengan sisik yang halus mengikuti luk pada tengah bilah sampai ke ujung keris.

    Dengan ciri-ciri antara lain adalah kruwingan, ri pandan dan grĂȘnĂȘng, dan beberapa ĂȘmpu (berdasarkan zamannya seperti Majapahit, Mataram Lama dan Mataram Baru) membuat keris berdapur NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„.

    Pada keris dapur NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„ yang baik, sebagian besar bilahnya diberi kinatah ĂȘmas, dan pembuatan kinatah ĂȘmas semacam ini tidak disusulkan setelah wilah ini selesai, tetapi telah dirancang oleh sang ĂȘmpu sejak awal pembuatannya. Pada tahap penyelesaian akhir, sang ĂȘmpu sudah membuat bentuk kinatah sesuai rancangannya.

    Bagian-bagian yang kelak akan dipasang emas diberi alur khusus untuk “tempat pemasangan kedudukan emas” dan setelah penyelesaian wilah selesai, maka dilanjutkan dengan penempelan emas oleh pandai emas.

    Salah satu pembuat keris dengan dapur NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„ terbaik adalah Êmpu Ki Nom, merupakan seorang ĂȘmpu yang terkenal, dan hidup pada akhir zaman kerajaan Majapahit sampai pada zaman pemerintahan Sri Sultan Agung HanyĂ„krĂ„kusumĂ„ di Mataram, tetapi ada sebagian ahli lain yang mengatakan bahwa Ki SupĂ„ Anom pada zaman kerajaan Mataram, sebenarnya adalah cucu dari Êmpu SupĂ„ Anom yang hidup pada zaman Majapahit, dan golongan ini menyebut Ki Nom dengan sebutan Ki SupĂ„ Anom II, dan yang hidup di zaman Majapahit disebut Ki SupĂ„ Anom I.

    KĂȘris Kyai NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„ yang terkenal adalah berwarna putih kekuningan. Konon keris pusaka ini berluk 13 bertahtakan emas. Dibuat pada zaman kerajaan Majapahit, antara tahun 1466 dan 1478). Pembuatnya adalah PangĂ©ran Mpu SĂȘdayu (Mpu SupĂ„ Madrangki/Mpu Pitrang).

    Sang ĂȘmpu yang telah berhasil menunaikan tugas untuk membawa kembali KĂȘris Kyai AgĂȘng PuwĂ„rĂ„ atau Kyai SĂȘngkĂȘlat, mendapatkan penghargaan berupa sebuah tanah perdikan di daerah pesisir utara (Gresik) yang kemudian dikenal kemudian hari sebagai daerah bernama SĂȘdayu. Juga mendapatkan gelar kebangsawanan Pangeran yang berasal dari SĂȘdayu (Pangeran SĂȘdayu) beserta seorang Puteri Keraton.

    Dalam kisah lain disebutkan bahwa Êmpu SupĂ„ Madrangki adalah juga suami dari DĂ©wi RĂ„sĂ„wulan, adik Sunan KalijĂ„gĂ„. Ia adalah ĂȘmpu keris kerajaan Majapahit yang hidup di sekitar abad ke 15. Karya karyanya yang termasyhur selain KĂȘris Kyai NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„, Kyai SĂȘngkĂȘlat dan Kyai Carubuk.

    Sebelum menikah dengan DĂ©wi RĂ„sĂ„wulan, Êmpu SupĂ„ Madrangki beragama Hindu kemudian memeluk agama Islam setelah berdialog dengan Sunan KalijĂ„gĂ„.

    Catatan:
    Legenda RÄsÄ Wulan, saling berbenturan:
    1. Legenda RĂ„sĂ„ Wulan(adik Raden Sahid — Sunan KalijĂ„gĂ„ –) sebagai istri Êmpu SupĂ„ Madrangki dan
    2. Legenda RĂ„sĂ„ Wulan(adik Raden Sahid — Sunan KalijĂ„gĂ„–) sebagai istri Syekh Maulana Mahgribi. Legenda inipun masih menyimpan pertanyaan lain, apakah Syekh Maulana Mahgribi ini identik dengan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Kalau ya, maka semakin mengaburkan nilai sejarahnya, sebab akan mengundang pertanyaan lain.

    Kedua legenda di atas tidak memiliki referensi sejarah yang dapat dipertangungjawabkan. Demikian halnya tentang legenda dibuatnya Keris Kyai SĂȘngkĂȘlat, yang akan didongengkan di bawah.

    Dalam pada itu, menurut telik sandi kerajaan Majapahit, sang Adipati Blambangan bermaksud mengadakan pemberontakan terhadap kerajaan Majapahit. Maka untuk menumpas pemberontak yang mungkin sewaktu-waktu menyerbu ke Kota Raja, Sang Prabu telah menyiapkan kekuatan tandingan.
    Para ĂȘmpu juga dikerahkan untuk membuat berbagai senjata perang yang dipimpin oleh Êmpu Domas.

    Sang Prabu juga meminta kepada Êmpu Supa agar dibuatkan sebilah keris bertuah yang bisa meredam 1000 macam bencana yang bisa terjadi di Majapahit. Sang ĂȘmpu pun memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan dia mendapatkan petunjuk berupa gambaran bentuk sebilah keris dengan dapur naga yang mempunyai 1000 sisik.

    Maka dibuatlah sebilah keris pusaka NÄgÄsÄsrÄ dengan 1000 sisik bertahtakan emas dengan luk 13. Kepala naga tidak bermahkota, luk menganggah pada gandik, tubuhnya melenggok mengikuti jumlah belahan luk, ekor naga yang ujungnya terdapat bentuk bupu terletak pada ujung keris.

    Keris NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„ yang mempunyai 1000 sisik emas dan bersabuk intan berlian ini mempunyai tuah untuk meredam seribu bencana dari berbagai penjuru wilayah kerajaan. Puas hati sang Prabu dan akhirnya keris itu juga menjadi salah satu kĂȘris piyandĂȘl Majapahit. Konon keris dengan julukan Kyai NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„ yang memiliki luk 13, merupakan simbolisasi kebangunan jiwa dan keselarasan.

    Benar juga, pemberontakan dan serbuan tentara Blambangan tidak berlangsung lama dan dapat diredam hingga Majapahit kembali tenteram. Dengan begitu, kita mendapatkan sebuah pelajaran. Bahwa sebilah keris akan dicipta dengan misi-misi tertentu. Bukan hanya sebagai benda pusaka yang mempunyai tuah semata.

    KĂȘris Kyai Sabuk IntĂȘn, seperti juga dapur NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„ mempunyai luk tiga belas dengan ciri-ciri yang berbeda yaitu mempunyai sogokan, kĂȘmbang kacang, lambĂ© gajah dan grĂȘnĂȘng.

    Kyai Sabuk IntĂȘn dibuat oleh Êmpu Domas, memiliki luk 11, berwarna kebiru-biruan. Keris ini menjadi simbolisasi welas asih. Disebut dengan julukan Sabuk IntĂȘn karena pada bagian bawah keris terdapat selapis garis pamor berwarna putih intan.

    Kyai NÄgÄsÄsrÄ mempunyai watak disuyuti oleh kawula. Dicintai dan disegani oleh rakyat. Dengan demikian ia akan mencinta dan dicintai Tuhan, perikemanusiaan, memberi perlindungan kepada orang yang kehujanan dan kepanasan, memberi makanan kepada orang yang kelaparan, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, memberi tuntunan bagi yang kehilangan jalan.

    Kyai Sabuk IntĂȘn mempunyai watak seperti watak lautan. Luas tanpa tepi. Menampung segala arus sungai dari manapun datangnya. Menerima dengan tadah banjir yang bagaimanapun besarnya. Namun gelombangnya dapat menunjukkan kedahsyatan dan kesediaan bergerak dan bahkan selalu bergerak.

    Watak yang demikianlah yang memungkinkan seseorang dapat menemukan yang belum pernah ditemukan. Dan karenanyalah kesejahteraan rakyatnya dapat dijamin. Kesejahteraan lahir dan batin. Memberi kesempatan kepada mereka untuk mengalirkan airnya yang ditampung dapat beriak dengan manisnya, namun dapat bergulung-gulung dengan dahsyatnya, seolah-olah lautan itu sedang mendidih.

    Saat ini keris-keris tersebut disimpan di Keraton Solo (tahun 1974, menurut Ensiklopedi Keris karya Bambang Harsrinuksmo, keris ini dibuatkan warĂ„ngkĂ„ baru — dari kayu cendana wangi –). Banyak tiruan keris ini, yang beredar di mana-mana sampai kini, dimiliki perseorangan kolektor ataupun pejabat dan diperjualbelikan dengan harga beragam dari Rp 200 ribu hingga sekitar Rp 4 miliar. Percaya ??

    Ketika Majapahit runtuh, kedua bilah keris itu dibawa ke keraton Demak oleh Raden Patah. Kemudian ketika Kerajaan Demak runtuh, keris keris tersebut dibawa oleh DjÄkÄ Tingkir yang kemudian menjadi sultan di Keraton Pajang. Dan seterusnya kedua keris tersebut berada di bawah penguasaan raja-raja Mataram dan keturunannya sampai sekarang.

    KÊRIS KYAI CONDONG CAMPUR dan KÊRIS KANJÊNG KYAI SÊNGKÊLAT

    Kyai Condong Campur adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam legenda dan dongeng rakyat. Keris ini dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur.

    Keris ini merupakan salah satu dapur keris lurus. Panjang bilahnya sedang dengan kĂȘmbang kacang, satu lambĂ© gajah, satu sogokan di depan dan ukuran panjangnya sampai ujung bilah, sogokan belakang tidak ada. Selain itu, keris ini juga menggunakan gusĂšn dan lis-lis-an.

    Dapur Keris Kyai Condong Campur yang lain memiliki luk berjumlah lima. Terdapat kĂȘmbang kacang, dua jalu mĂȘmĂȘt dan dua lambĂȘ gajah. Pada wilah atau bilahnya terdapat blumbangan dan sogokan.

    Sedangkan pamornya bisa berupa TapĂšn BĂȘras Wutah atau lainnya, dengan pamor terbaik terbuat dari batu meteor yang jatuh dari angkasa, yang dipercaya sebagai pemberian para Dewa.

    Selain kualitasnya yang luar biasa, pamor batu meteor ini sungguh melambangkan kesadaran kosmis yang tinggi. Keris yang dibuat dengan bahan campuran berasal dari benda angkasa dan bumi, melambangkan bersatunya BĂ„pĂ„ AkĂ„sĂ„ (unsur paternal) dan Ibu PĂȘrtiwi (unsur maternal). Maka, anak atau hasilnya menjadi sangat bertuah ampuh dan berguwĂ„yĂ„ atau berkharisma sangat kuat.

    Dapur Condong Campur merupakan lambang persatuan, yang muncul di Majapahit sekitar abad 14. Disebut lambang persatuan, suatu perlambang keinginan untuk menyatukan perbedaan.

    Condong berarti miring yang mengarah ke suatu titik, yang berarti keberpihakan atau keinginan. Sedangkan campur berarti menjadi satu atau perpaduan. Dengan demikian, Condong Campur adalah keinginan untuk menyatukan suatu keadaan tertentu.

    Konon keris berdapur Condong Campur ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang ĂȘmpu. Bahan kerisnya diambil dari berbagai tempat. Dan akhirnya keris ini menjadi keris pusaka yang sangat ampuh tetapi memiliki watak yang jahat.

    KĂȘris KajĂȘng Kyai SĂȘngkĂȘlat

    Ia memiliki watak yang lengkap dari watak seorang prajurit. Prajurit yang setia dan patuh akan kewajibannya, yang bekerja dan berjuang bukan untuk kepentingan diri. Tetapi seorang prajurit akan berjuang untuk tanah tumpah darah serta rakyatnya, dengan penuh kejujuran dan tanpa pamrih, dalam lingkaran kasih sayang Yang Maha Agung.

    [SastrĂ„ JĂ„wĂ„, Sajarah Jati TanĂ„yĂ„ Pupuh 16 DhandhanggulĂ„ 1:75 Susuhunan KalijĂ„gĂ„ yĂ„sĂ„ kĂȘris Kyai SĂȘngkĂȘlat 17 sd 22:]

    17. atut dĂšnnyĂ„ pĂ„lĂ„krĂ„mĂ„ kalih | wusnyĂ„ bubaran nulyĂ„ pinrĂȘnah | panggonanĂ© dhĂ©wĂ©-dhĂ©wĂ© | dangu antaranipun | manujoni JĂȘng Sunan Kali | ring SupĂ„ lon manabdĂ„ | rĂšhantyĂ„ sirĂšku | hĂšh SupĂ„ sarĂšhning sirĂ„ | dadyĂ„ pandhĂ© tur trahing ĂȘmpu linuwih | ingsun yasaknĂ„ kadgĂ„ ||

    18. kang prayogĂ„ pantĂȘs anggon mami | aywĂ„ kusud dĂšn anggo ‘ulĂ„mĂ„ | sun karyĂ„ gĂȘgaman cothĂšn | lah iki bakalipun | wĂȘsi bagus mung sakĂȘmiri | sĂ„kĂ„ ing akhadiyat | SupĂ„ lon umatur | botĂȘn dados kirang kathah | kangjĂȘng sunan nabdĂ„ hĂšh SupĂ„ sirapti | wĂȘsi sagunung praptĂ„ ||

    19. wus mangkono sabdĂšng wali luwih | barang wuwus jlĂȘg katĂȘkan dadyĂ„ | SupĂ„ kagyat wĂȘsi gĂȘngĂ© | tumungkul nguswĂšng lĂȘbu | turidyasmu nangis sru ajrih | triwikramaning tĂ„mĂ„ | sakĂ„lĂ„ rinacut | wĂȘsi sagunung wus sirnĂ„ | tanpĂ„ krĂ„nĂ„ namung sakĂȘmiri mĂȘksih | gyĂ„ cinandhak mring SupĂ„ ||

    20. katĂȘkĂȘm ing mĂ„wĂ„ samadi ning | ngĂȘningkĂȘn ciptĂ„ ring SuksmĂ„ PurbĂ„ | samĂ„nĂ„ wĂȘsi wus dados | sajugĂ„ kadgĂ„ bagus | warnĂ„ bang lir sangkĂȘlat abrit | gyĂ„ konjuk kangjĂȘng sunan | winawas kang dhuwung | wangunan luk tigawĂȘlas | tur sogokan lambĂ© gajah ngandhap kalih | waskithĂ„ kangjĂȘng sunan ||

    21. hĂšh ta SupĂ„ wruhantĂ„ iki kris | nĂ„mĂ„ KyagĂȘng SangkĂȘlat prayogĂ„ | awit abang suwarnanĂ© | dapur SangkĂȘlat iku | luk tĂȘlulas kadyĂ„ puniki | lan malih kita wruhĂ„ | tĂȘmbĂ© iki dhuwung | dadyĂ„ pusakaning nĂ„tĂ„ | kang mbawani wibawaning nusĂ„ Jawi | nora pantĂȘs sun anggyĂ„ ||

    22. simpĂȘnĂ„nĂ„ pomĂ„ ingkang tĂȘrtip | sirĂ„ amung rumat kasĂ©rĂ©nan | dĂ©nĂ© bĂ©njang ingkang nganggo | turunĂ© JĂ„kĂ„ Tarub | kang wus kasub jangkaning wali |

    Dalam satu legenda dikisahkan Sunan KalijÄgÄ meminta tolong untuk dibuatkan keris coten-sembelih (pegangan khusus untuk menyembelih kambing). Lalu oleh beliau diberikan calon besi yang ukurannya sebesar kemiri.

    Mengetahui besarnya calon besi tersebut, Êmpu SupĂ„ sedikit terkejut. Ia berkata besi ini bobotnya berat sekali, tak seimbang dengan besar wujudnya dan tidak yakin apakah cukup untuk dibuat keris.

    Lalu Sunan KalijĂ„gĂ„ berkata kalau besi itu tidak hanya sebesar kĂȘmiri tetapi besarnya seperti gunung. Karena ampuh perkataan Sunan KalijĂ„gĂ„, pada waktu itu juga besi menjelma sebesar gunung.

    Hati Êmpu SupĂ„ menjadi gugup, karena mengetahui bahwa Sunan KalijĂ„gĂ„ memang benar-benar wali yang dikasihi oleh Pencipta Kehidupan, yang bebas mencipta apapun. Lantaran itu, Êmpu SupĂ„ berlutut dan takut.

    Ringkas cerita, besipun kemudian dikerjakan. Tidak lama, jadilah keris, kemudian diserahkan kepada Sunan KalijÄgÄ. Akan tetapi anehnya begitu melihat bentuknya, seketika juga Sunan KalijÄgÄ menjadi kaget, sampai beberapa saat tidak dapat berbicara karena kagum dan tersentuh perasaannya, karena hasil kejadian keris itu berbeda jauh sekali dengan yang dimaksudkan.

    Maksud semula untuk dijadikan pegangan khusus, ternyata yang dihasilkan keris Jawa (baca Nusantara) asli Majapahit, luk tigabelas. Sebenarnya, begitu mengetahui keindahan keris, perasaan Sunan KalijÄgÄ agak tersentuh, oleh karena itu mengamatinya sempai puas tidak bosan-bosannya.

    Kemudian ia berkata sambil tertawa dan memuji keindahan keris itu. Karena berwarna kemerahan, keris itu dinamakan Kyai SĂȘngkĂȘlat bersemu merah sedangkan jumlah luknya yang tigabelas.

    Lalu Êmpu SupĂ„ diberi lagi besi yang ukurannya sebesar kemiri. Setelah dikerjakan, jadilah sebilah keris mirip pedang suduk (seperti golok atau belati). Begitu mengetahui wujud keris yang dihasilkan sunan KalijĂ„gĂ„ sangat senang hatinya. keris itu disebut Kyai Carubuk.

    Legenda di atas sangatlah bertolak belakang dengan legenda peperangan antara Kyai Codong Campur dan Kyai SĂȘngkĂȘlat yang akan didongengkan di bawah ini, mengingat pada “waktu peristiwa peperangan” antara ketiga keris itu, sudah pasti Sunan KalijĂ„gĂ„ belum lahir, tetapi dalam legenda di atas dikatakan Sunan KalijĂ„gĂ„lah yang memerintahkan Êmpu SupĂ„ membuat keris yang kelak diberi nama Kyai SĂȘngkĂȘlat. Jadi?

    Legenda dan mitos, Kyai Sabuk IntĂȘn, Kyai Condong Campur dan Kyai SĂȘngkĂȘlat

    Dalam dunia keris muncul mitos dan legenda yang mengatakan adanya pertengkaran antara tiga keris, yaitu Keris Kyai Sabuk IntĂȘn, Kyai Condong Campur dan Kyai SĂȘngkĂȘlat. Pertengkaran timbul karena adanya beberapa keberagaman golongan dengan kepentingannya masing-masing di Kerajaan Majapahit.

    Condong Campur sengaja diciptakan sebagai lambang keinginan untuk bersatu, dalam keberagaman golongan di tengah semakin banyaknya “kelas” masyarakat baru (orang-orang kaya para pemilik modal, pedagang (yang diwakili oleh etnis Tionghoa) dan para pejabat kerajaan); ditambah pula kehadiran para pedagang (Persia, Arab) yang beragama Islam, sebagai penyebar agama baru pada waktu itu.

    Paling tidak dari berbagai golongan di atas, ada dua golongan yang memiliki perbedaan pandangan sangat tajam pada masa itu, yaitu: golongan pertama, yaitu golongan para pemilik modal, pedagang dan pejabat; dan golongan kedua, yaitu golongan masyarakat bawah yang kecewa dengan kondisi yang mereka alami, seperti keterpurukan nasib, tekanan hidup dan penindasan.

    Ketika itulah, semasa Kerajaan Majapahit sudah menjapai masa kejayaannya, terjadi banyak sekali perbedaan (heterogenitas) di negeri itu. Heteroginitas ini menyebabkan terjadinya perpecahan di masyarakat, baik dari aspek agama, budaya, etnis, golongan, strata sosial (kaya, miskin) dsb. Sangat lumrah bila pada awal keberagaman itu terjadi gejolak.

    Dalam dunia keris, golongan pertama di atas dapat diibaratkan dengan keris dengan dapur Sabuk IntĂȘn. Sabuk berarti ikat pinggang. Sedangkan IntĂȘn berarti intan atau permata. Dengan demikian, Sabuk IntĂȘn memvisualisasikan golongan pemilik modal yang bergelimang harta benda.

    Golongan kedua yang disebutkan di atas adalah masyarakat kelas bawah yang kecewa, marah, terhadap keadaan. Dalam bahasa Jawa, perasaan mereka disebut sĂȘngkĂȘl atinĂ© atau jengkel hatinya. Dalam dunia keris, kondisi ini identik dengan keris dengan dapur SĂȘngkĂȘlat, yang namanya diambil dari kata sĂȘngkĂȘl atinĂ©, maka dibuatlah Keris Kyai SĂȘngkĂȘlat.

    KĂȘris Kyai Sabuk IntĂȘn (mewakili masyarakat kaya) merasa terancam dengan adanya keris Condong Campur akhirnya memerangi Condong Campur. Dalam pertikaian tersebut, Kyai Sabuk IntĂȘn kalah. Dalam pada itu Kyai SĂȘngkĂȘlat (mewakili masyarakat miskin) yang tampil.

    Selanjutnya babad perkerisan menceritakan:

    Ketika Kerajaan Majapahit mulai surut, hiduplah seorang ĂȘmpu keris yang sĂȘkti mĂ„ndrĂ„gunĂ„. Dia bernama DjĂ„kĂ„ SupĂ„ putra dari Bupati Êmpu yang bernama Ki SupĂ„driyĂ„. DjĂ„kĂ„ SupĂ„ adalah seorang pemuda yang sederhana, namun sangat menyukai tapa brata gĂȘntur lĂȘlaku prihatin.

    Atas perjuangan tapa bratanya, beliau akan menurunkan pusaka pusaka yang hebat dan juga menurunkan ĂȘmpu-ĂȘmpu pembuat keris yang luar biasa di tanah Jawa. Konon pada suatu ketika, wilayah kerajaan Majapahit dilanda “pagĂȘblug” yang sangat nggĂȘgirisi, hingga banyak para kawulĂ„ yang pagi sakit sore meninggal dan sore sakit paginya meninggal.

    Tidak hanya para rakyat jelata, banyak juga beberapa bangsawan, pandita dan sebagainya terserang penyakit yang sangat misterius ini. Hingga akhirnya kekawatiran Sang Prabu atas nasib penghuni Kraton oleh sebab ganasnya pagĂȘblug tersebut terjadi juga, Dyah Ayu SĂȘkar KĂȘdaton jatuh sakit.

    Sudah beberapa tabib pinunjul dari penjuru negeri dihadirkan untuk membantu kepulihan sang putri, namun hasilnya selalu nihil. Bahkan kalau malam menjelang, penyakit sang putri kian menjadi-jadi. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, Sang Prabu menugaskan segenap abdi dalem untuk bergiliran menjaga sang putri, khususnya di malam hari.

    Hingga suatu malam, sampailah giliran jaga itu jatuh pada TumĂȘnggung SupĂ„driyĂ„ dan TumĂȘnggung SupĂ„gati. Akan tetapi, karena mereka berdua ternyata sakit, maka tugas itu diwakilkan kepada anak anak mereka. DjĂ„kĂ„ SupĂ„ putra dari TumĂȘnggung SupĂ„driyĂ„ dan DjigdjĂ„ adalah putra dari TumĂȘnggung Supagati.

    Sore itu langit agak mendung, disebelah barat semburat sinar matahari tampak kemerahan menyaput mega. Hingga dari jauh terlihat menakutkan laksana banjir darah siap menerkam majapahit. Mereka (DjÄkÄ SupÄ dan DjigdjÄ) berangkat bersama sama menuju Kraton.

    Di tengah perjalanan tak henti hentinya DjigdjĂ„ menceritakan kerisnya yang indah berlapis emas hasil buatanya sendiri. KĂȘris itu diberinya nama Kyai Sabuk IntĂȘn, sebuah keris yang indah, anggun, berpamor eksotis dan menyimpan energi gaib yang luar biasa, bahkan sembari bercanda, kadang DjigdjĂ„ setengah mencemooh keris buatan DjĂ„kĂ„ SupĂ„ yang diberi nama Kyai SĂȘngkĂȘlat itu.

    SĂȘngkĂȘlat memang berbentuk sangat sederhana, dia sangat polos, tak banyak ornamen, ibarat naga dia bagaikan seekor naga yang hitam legam tanpa mahkota. Namun dibalik kesederhanaanya itulah, SĂȘngkĂȘlat adalah keris yang pilih tanding.

    Sesampai di keputren, mereka berdua langsung mengambil tempat jaga masing masing. DjÄkÄ SupÄ di sebelah kanan regol, sedangkan DjigdjÄ disebelah kiri. Beberapa saat waktu berlalu, tidak terjadi apa-apa.

    Namun menjelang tengah malam, tiba tiba angin berdesir agak kencang menebar aura mistis yang menggetarkan hati para prajurit yang ikut menjaga kediaman sang putri, angin itu makin melembut dan melembut, hingga akhirnya banyak prajurit yang kemudian bergelimpangan tak mampu menahan hawa kantuk yang luar biasa.

    Tiba-tiba dari arah gedong pusaka muncul sinar merah kehitaman yang sangat terang benderang, sinar itu naik memanjat langit setinggi lima pohon kelapa dewasa. Sinar tersebut berpendar pendar ke segala penjuru, menebarkan hawa teluh atau wabah penyakit yang mengakibatkan pagĂȘblug tersebut.

    DjĂ„kĂ„ SupĂ„ dan DjigdjĂ„ tak terpengaruh dengan hawa kantuk itu, ternyata hanya mereka berdua yang masih tersisa dari serangan itu, mereka meningkatkan kewaspadaan, setelah mereka cermati ternyata sinar yang menebar teluh tersebut adalah KĂȘris Kyai Condong Campur.

    Sabuk IntĂȘn yang sedari tadi sudah “okrak-okrok” ingin segera keluar dari warĂ„ngkĂ„nya tiba tiba melesat naik ke angkasa, pertempuran Condong Campur dan Sabuk IntĂȘn tak terelakan lagi,

    Dalam pertikaian tersebut, Kyai Sabuk IntĂȘn kalah. Sabuk IntĂȘn jauh di bawah kekuatan Condong Campur, baru sekitar beberapa saat Sabuk IntĂȘn dapat dikalahkan dan kembali ke warĂ„ngkĂ„nya. Bahkan lambung Sabuk IntĂȘn “grimpil” di bagian depan, akibat hantaman Condong Campur.

    DjĂ„kĂ„ SupĂ„ tanggap sasmita, Kyai SĂȘngkĂȘlat segera dicabut dari warĂ„ngkĂ„nya setelah mendapat restu, keris pusaka tersebut membumbung tinggi ke angkasa, pertempuran terjadi sangat sengit sekali, desak mendesak dan serang menyerang. KĂȘris Kyai SĂȘngkĂȘlat yang merasa sangat tertekan oleh keadaan ini akhirnya memerangi KĂȘris Kyai Condong Campur.

    Hampir dini hari menjelang Shubuh, Condong Campur mulai kewalahan hingga akhirnya SĂȘngkĂȘlat berhasil mematahkan ujung Condong Campur satu luk, akhirnya Condong Campurpun mlajar ketakutan dan dan berubah wujud menjadi Lintang KĂȘmukus kembali ke asalnya, terbang lebih tinggi, dan akhirnya lenyaplah ia berlindung di balik kabut beracun yang memancarkan cahaya yang menyilaukan yang menyelubungi dunianya, dan mengancam akan kembali ke bumi untuk membuat huru hara, yang disebut ontran-ontran dan pagĂȘblug

    Sejak saat itu Kyai Condong Campur tak pernah keluar lagi menebar pagĂȘblug, semenjak saat itu pula Dyah Ayu SĂȘkar KĂȘdaton berangsur angsur sembuh, dan atas jasa-jasanya DjĂ„kĂ„ SupĂ„ akhirnya diangkat menjadi Êmpu Kerajaan kesayangan sang Prabu. Kelak dari tangannya akan lahir pusaka pusaka hebat yang sampai saat ini dikejar kejar oleh para pecinta keris, dan dari beliau juga akan lahir ĂȘmpu ĂȘmpu hebat penerusnya.

    Kenyataan sejarah

    Dengan adanya perbedaan karena keberagaman golongantersebut, diupayakan adanya persatuan dan pembauran (condong campur) antar golongan. Tetapi yang kemudian terjadi hanyalah pembauran semu di permukaan saja. Padahal sesungguhnya tidak terjadi pembauran dalam kehidupan masyarakat.

    Tidak berhasilnya upaya pembauran ini sesungguhnya disebabkan ketidakinginan para pemilik modal untuk melakukan pembauran tersebut dan khawatir akan terganggunya kepentingan mereka, dan dalam kenyataannya, masyarakat Majapahit tetap menunjukkan perpecahan, baik di masyarakat maupun di dalam istana.

    Pada akhirnya perpecahan tersebut menyebabkan Majapahit menjadi lemah dan akhirnya tunduk pada Kerajaan Demak, kerajaan Islam yang baru didirikan oleh Trah Majapahit itu sendiri.

    ÄnÄ toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  8. selamat siang

  9. Selamat pagi

    Ki Honggo kok sawetawis mboten rawuh padepoan nggih
    rak sami wilujeng to Ki
    eh…, iya ya.., mungkin karena liburan Ki Honggo nembe tindakan kaliyan wayahipun.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: