NSSI-25

kembali | lanjut >>

Terima kasih kepada Ki Truno Prenjak yang telah menyumbangkan cover nssi-25 ini, sehingga menjadi lengkap

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 27 Juni 2011 at 06:30  Comments (96)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-25/trackback/

RSS feed for comments on this post.

96 KomentarTinggalkan komentar

  1. assalamualaikum, redbull merji🙂

    • horeee vettel menang lagi🙂

      • kakek karto lagi lunjak2 yo? alonso iso nomer 2🙂

        • ki gm lg mesem2 yo? meski lg hamil iso nomer 4🙂

          • Kemarin hampir lunjak2…Horee venttel kalahhh… !

  2. waduuuh sapa tu yg di ‘sobir’ mj ?
    yg nggletak tu sapa?

    • senjatanya kok aneeh?

      • penjahatna tinggal sapa aja ta?

        • sing nggletak koyone seneng yoo….

      • senjata-e kacu….

        • ..eh..serbet dink….

          • ..ato..anduk yoo….

      • weee barusan dah baca, itu ternyata bugel kaliki ya ?

        • pet bgt mbacanya…..jangan2 cuma yang ada gambarnya doank…

          • iya … cepet2an aja🙂 …. speed reading🙂

          • sekarang..ki bugel dah pindah ke bandung…..jualan pasir….

          • waduuuh, mita ga ngeh, …. sapa tu ki bugel yg pindah mbandung?

          • iya..!..karna jualan pasir sekarang namanya…Ki Pasir kaliki..😀

          • wikikiki🙂 …. lutuu 2 ….. waaah kakek karto kok apal mbandung ta ? apa pernah naksir cewe badung? …. eh kliru bandung?🙂🙂

          • Ah….cewe ngandung koq ditaksir…piye tho..😀

          • ya lumayan to kakek, …. mengandung emas koyo ndesa neng mbanyumas kae looh🙂🙂

    • haduuuu yg nggletak tu semoga bukan arya ya ?😦😦😦 …. bizna lawanna bugel sih😦

      • tp napa yg ‘nyobir’ bugel kok mj? ….. apa mj lg marah besar coz muridna dilukai? …… haduuuu jgn arya dunk😦😦

        • mending ‘kt’ aja yg mbeliiiing🙂

  3. di nssi 24

    ada 2 ‘lapang dada show’🙂

    – gs waktu ketemu ls
    – as waktu ngalahin sw

    hmmmmm … seneng deh punya camer n casu spt itu🙂🙂🙂 … semoga🙂🙂🙂

  4. selamat siang

    • selamat siyang ugi, … menawi ki bancak lenggahipun wonten pundi ta ?

      • maaf mbak mita, baru sambang padepokan sekarang, kalau saya sekarang di pedalaman pulau perca

        • waduuuh kok banyak ya yg di sumatra, … ngastone menapa wonten perminyakan ta?

          • menapa minyak sawit?

          • eh minyak sawit termasuk perminyakan jg ya?🙂🙂

  5. Sugeng siang,
    Seminggu ngajak putu napak tilas jaman noroyono wuah kari kesele.
    Nganti ora biso sambang lan sowan padepokan.

    • ngajak wayah tidak wonten pundi kemawon eyang ?🙂

  6. Sugêng siyang

  7. absen sek……….mengko dikiro mbalelo

    • Sayembara cover

      “Barange sopo sing koyo gambar ndek cover, monggo disumbangke neng Pak Lik Satpam”

  8. Nuwun
    Sugêng dalu,/b>

    Beberapa saat lagi Dongeng Arkeologi & Antropologi Seri Surya Majapahit episode Perang Bubat (terdiri dari beberapa Parwa), akan diwedar.

    Mohon maaf, terutama bagi sanak kadang yang antu-antu Dongeng “Seri Surya Majapahit”,

    Dalam wedaran-wedaran sebelumnya Ki Bayuaji masih mendongeng tentang Dhuwung, Keris dan Tosan Aji (Seri NSSI), yang juga masih menyimpan Dongeng Sjèch Siti Djênar.

    Sumånggå, dipun rantos dongèngipun

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

    • maturnuwun taksih kemutan siti jenar🙂

      • Mohon diijinkan menunggu dongeng Sjèch Siti Djênar.

        Tapi ….. mita said: Siti Jenar diemut.?..lho…. diemut piye ?

        • 😀😀😀

        • ki nyantridulu tu sapa ya?

  9. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Waosan sebelumnya:
    Waosan kaping-32; Napak Tilas Perjalanan Prabu Hayam Wuruk [Bagian 2]. On 13 Juni 2011 at 06:09 NSSI 20

    Waosan kaping 33:
    PERANG BUBAT [Parwa ka-1]

    guruh mangså katigå,
    peristiwa yang jarang terjadi
    kagyat sang nåtå dadi atěmah laywan
    sangsåyå lårå kagagat,
    pětěng rasanikang ati,
    kapati sirå sang katong,
    kang tangis mangkin gumirih,
    lwir guruh ing katrini,
    matag paněděng ing santun,
    awor swaraning kumbang,
    tangising wong lanang istri,
    arěrěb-rěrěb pawraning gělung lukar.

    Lintang Kêmukus Dini Hari September 1965
    —Judul mengutip dari Buku Kedua Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk: Lintang Kêmukus Dinihari Oleh Ahmad Tohari.—

    Menjelang Akhir Tahun 1965, dengan kepedihan yang amat sangat kita pernah mengalami mångså karo (puså). Katigå – mångså pacêklik. Kemarau yang menurut pranåtåmångså seharusnya perlahan sudah usai, tapi sepertinya tak akan pernah berakhir. Panas ngênthak-ngênthak.

    Tak ada lagi genangan air. Kali-kali asat dan telaga telah mengering. Sumber mata air tinggal lêndhut amparan lumpur. Lêmah-lêmah nêlå. Semua gundul ora biså tukul.

    Patêgalan, sawah, lêmah årå-årå åmbå, penuh alang-alang kering, garing mêkingking; gersang berwarna kelabu.

    Segala jenis rumput, mati. Yang ada di sana-sini hanyalah krokot dan êri brodhot yang tumbuh hidup segan mati tak mau. Ampak-ampak beterbangan dihembus angin yang juga kering. Udara begitu pengab dan gerah.

    Bantålå rêngkå ([Bantålå = bumi atau tanah; rêngkå = pecah, retak, kering, berbongkah-bongkah] bumi kering kerontang, berbongkah-bongkah); kemudian datang mångså katêlu (Manggasri), hampir tak ada bedanya dengan mångså sebelumnya.

    Pada tengah bulan September hingga Oktober 1965; yang dalam pranåtåmångså dikenal sebagai mångså kapat (Sitrå). Sêmplah. “Waspå kumêmbêng jroning kalbu” [Air mata menggenang dalam kalbu]. Dengan pertanda alam: sumber kathah ingkang mampêt, anginipun dipun sêbut påncåwarnå têgêsipun lampahipun molah-malih, kawontênan mêgå awon.
    Musim pancaroba. Banyak penyakit.

    Diharapkan hujan segera turun, sehingga mata air (waspå) mulai menggenang penuh (kumêmbêng) dalam tanah (kalbu), tapi yang diharapkan tidak kunjung tiba.

    Justru banyak orang menahan tangis karena kemarau panjang, makanan susah didapat, karena langka di pasaran, meskipun punya uang.

    Banyak warga masyarakat makan bulgur, tapi lebih banyak lagi yang kelaparan dan bulgur menjadi pilihan yang tidak menyenangkan, daripada kelaparan.

    – Bulgur adalah serealia dari berbagai spesies gandum. Namun yang paling banyak dari gandum durum (Triticum durum) Kata bulgur berasal dari bahasa Turki, yang kemudian diadopsi oleh bahasa Inggris dan juga bahasa Indonesia. Di Yunani, bulgur disebut pourgouri, di Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi burghul (bahasa Arab).

    Bulgur itu “ampas” dari pengolahan biji gandum. Di Timur Tengah (Turki, Suriah, dan daerah sekitarnya) bulgur memang jadi menu utama sehari-hari. Masaknya persis cara kita ngliwêt nasi.

    Bulgur masuk ke Indonesia sebagai bantuan AS (lewat USAid) untuk menanggulangi kemiskinan di Indonesia menjelang dan pasca dijatuhkannya Pemerintahan Bung Karno (1965, 1966).
    Kenapa bulgur?

    Rupanya Marshall Green (Duta Besar AS untuk Indonesia, di masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru); salah mengartikan dengan menyamakan nasi dengan bulgur. Program ‘bulgurisasi’ ini gagal total karena lidah Indonesia menolaknya.

    Bentuk fisiknya yang menjijikkan kuning coklat kehitaman, mirip makanan kuda, dan memang sebagian rakyat lalu menggunakan bantuan itu untuk makanan ternak atau ditukar sama beras).

    Rakyat rupanya lebih memilih nasi jagung daripada bulgur. “Makan Bulgur” kemudian menjadi ejekan buat kemiskinan yang keterlaluan sehingga untuk makan saja harus berebut sama ternak –

    Beras, gula, minyak goreng, minyak tanah, dan bahan pokok lainnya harus dibeli melalui antrian. Jika ada barangnya, dan jika punya uang, itupun kalau bisa terbeli; tapi hampir setiap hari ada pawai: PNI, PKI, NU, Sukarelawan, Sukarelawati, Resimen Mahasiswa dll, dalam rangka Ganyang Malaysia.

    Poster-poster, spaduk yang terbuat dari bagor dan coretan-coretan ‘revolusioner’ bertebaran di dinding-dinding tembok pagar. “Hidup PBR Bung Karno”; “Hidup Nasakom”; “Ganyang Neo Kolonialisme Imperialisme Malaysia”; dll.

    RRI tak berani memperdengarkan lagu-lagu Koes Bersaudara, karena dilarang pemerintah, dan kelompok pemain musik Koes Bersaudara itu dipenjara tanpa proses hukum di Penjara Glodok (sekarang menjadi pertokoan sekitar Harco, Glodok).

    Mereka dituduh bersalah karena selalu memainkan lagu-lagu The Beatles yang dianggap meracuni jiwa generasi muda saat itu. Sebuah tuduhan tanpa dasar hukum dan cenderung mengada ada, mereka dianggap memainkan musik “ngak ngik ngok” istilah penguasa saat itu, musik yang cenderung imperialisme pro barat. Sehari sebelum peristiwa 30 September 1965, mereka dibebaskan begitu saja.

    Radio pemerintah itu setiap hari hanya menyiarkan lagu-lagu ‘perjuangan’ Ganyang Malaysia. Lagu Genjer-genjer dan Nasakom Bersatu berkumandang di mana-mana. sedangkan lagu-lagu hiburan terbatas pada lagu-lagu Lilies Suryani, dan Tety Kadi saja.

    Ketika itulah beredar kabar, bahwa di langit timur ada lintang kêmukus. Masyarakat Jawa, sangat yakin, kemunculan lintang kêmukus atau komet di tengah situasi sosial politik yang demikian mencekam, sontak membuat banyak orang mengamini suatu konsepsi bahwa: lintang kêmukus adalah benda langit pertanda akan datangnya bencana.

    Lintang kêmukus adalah pertanda dari langit, bahwa sebentar lagi akan ada “pagêblug” (wabah penyakit) yang mematikan. Orang ketakutan. Meski demikian, banyak orang bangun sekitar pukul 04.00 dini hari, lalu naik ke atas daaran atau atap rumah yang lebih tinggi, agar bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri, benarkah ada lintang kêmukus di langit timur sana?

    Adalah dua astronom amatir Jepang, Kaoru Ikeya dan Tsutomu Seki, telah menemukan sebuah komet baru pada tanggal 18 September 1965, secara terpisah, dengan waktu penemuan hanya berselisih 15 menit.

    Untuk mengenang jasanya, komet baru ini diberi nama Ikeya-Seki, dengan nomor kode C/1965 S1, 1965 VIII, dan 1965f. Rangkaian observasi kemudian menyimpulkan komet Ikeya-Seki merupakan komet pelintas dekat Matahari (sungrazer atau sundiving). Diduga setiap 600 atau 700 tahun sekali “mengunjungi” bumi.

    – Ikeya-Seki merupakan anggota utama keluarga komet Kreutz. Komet-komet dari keluarga komet Kreutz inilah yang berpartisipasi dalam badai komet Desember 2010 yang lalu. Komet-komet Kreutz kemungkinan besar berasal dari sebuah komet sangat besar (dengan diameter inti ~100 km atau lebih dari dua kali lipat diameter inti komet legendaris Hale–Bopp) yang menempuh orbit sangat lonjong (eksentrisitas ~ 0,99) dengan periode 600 – 700 tahun.

    ± pada tahun 400an SM, Aristoteles, Ephorus dari Cymea dan sejarawan Callisthenes dari Olynthus. turut menjadi saksi munculnya komet ini, namun yang mengejutkan tak satupun peradaban di luar Yunani — misalnya Cina atau Mesir — yang mencatatnya. Saat itu komet terlihat sangat cemerlang dengan ekor sangat panjang memenuhi langit.

    Berselang beberapa waktu kemudian terjadilah gempa besar Achaea yang menghancur-leburkan kota Helice dan Buris. Inilah yang kelak di kemudian hari membuat Aristoteles menabalkan komet sebagai benda langit pembawa berita buruk, sebuah miskonsepsi yang terus bertahan hingga kini. –

    Berita kehadiran lintang kêmukus dini hari ini disiarkan radio, dan dimuat di koran-koran. Namun di kampung saya, tak mengenal istilah komet.

    Sebagaimana Aristoteles yang menabalkan komet sebagai benda langit pembawa berita buruk; maka warga ndésaku hanya tahu bahwa yang ada di langit adalah lintang kêmukus pertanda akan datangnya pagêblug.

    Kemunculan komet Ikeya-Seki pada tahun 1965 itu memiliki kesan tersendiri dalam sejarah kelam perjalanan bangsa kita, terjadinya pemberontakan berdarah di akhir masa berkuasanya Orde Lama; tetapi hal itu sebenarnya tak ada keterkaitan antara komet Ikeya-Seki dan peristiwa berdarah 1965-1966 tersebut, kesamaan waktu keduanya hanyalah kebetulan semata, tetapi penduduk tidak mempercayainya.

    Lha wong nyatané ånå ontran-ontran lan pagêblug. Akèh wong sing dibêlèh” [Lha nyatanya ada huru-hara dan bencana, Banyak orang yang disembelih” Demikian Êyang Kyai Guru Anom, pak modin dusun berujar.

    Beberapa bulan di Akhir Tahun 1965 dan di Awal Tahun 1966, lintang kêmukus itu menampakkan dirinya di langit timur menjelang Shubuh, pada waktu-waktu itu semua kepala keluarga seantero padusunan, diminta berkumpul di pendapa rumah Pak Kalèbun (Kepala Dusun setingkat Kepala Desa).

    Pak Kalèbun berpesan, agar seluruh warga padusunan, harus bergotong-royong memasak sêgå gurih, lengkap dengan ingkung ayam bumbu arèh, ditambah sambal goreng ati, dan pada hari yang sudah ditetapkan, sêgå gurih, ingkung bumbu arèh dan sambal goreng ati dibawa di halaman depan langgar samping pendapa padusunan.

    Seluruh warga masyarakat patuh pada arahan Pak Kalèbun. Mereka berupaya mendapatkan uang guna membeli beras, yang harganya mencapai Rp 20.000 per kg. uang lama [kurs: Rp. 1.000,00 (uang lama) = Rp. 1,00 (uang baru)]

    Kebanyakan warga masyarakat hanya mampu menyiapkan sekedarnya saja, dan ingkung ayam adalah sumbangan Pak Kalèbun tiga ekor dan sumbangan Êyang Kyai Guru, lima ekor ayam kampung.

    Setelah semua siap, selepas sholat Maghrib, menu istimewa yang disiapkan di halaman depan langgar samping pendapa padusunan dibawa lagi ke perempatan jalan di tengah padusunan. Di situlah tikar digelar, Pak Kalèbun memberi kata sambutan, dan Pak Modin memanjatkan dongå agar warga padusunan terhindar dari pagêblug dan mara bahaya.

    Lintang kêmukus dini hari, dan Waspå kang kumêmbêng jroning kalbu, saat hati sêmplah. Air mata yang menggenang dalam kalbu, pada akhirnya jatuh dalam bentuk tangis kepedihan.
    Tanggal 01 Oktober 1965 dini hari di Lubang Buaya Jakarta Timur, meletus peristiwa yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September.

    Pasukan tentara tampak di mana-mana. Banyak warga masyarakat hilang atau dihilangkan. Istilah yang populer waktu itu adalah “diciduk” atau “diamankan”.

    Tidak hanya airmata yang tumpah, tetapi juga darah, dan hati yang semakin sêmplah. “Perang Saudara”. Menyusul pembunuhan dan pembantaian masal terhadap para anggota PKI, dan simpatisannya (BTI, Lekra, Gerwani, Pemuda Rakyat dll), dan darah tumpah dimana-mana, di sudut-sudut jalan bahkan di tengah alun-alun kota kabupaten dengan mudah kita dapat temui jasad manusia yang sudah tidak utuh lagi. Demikian juga sungai yang mengalir di tengah kota, beberapa bagian dari jasad manusia timbul tenggelam dibawa arus air.

    Pembantaian orang-orang “kiri”, orang-orang komunis, orang-orang yang dituduh terlibat peristiwa pemberontakan 30 September. Di Akhir 1965 hingga menjelang akhir tahun 1966, suasana sangat mencekam.

    Alhamdulillah, di dusunku tidak ada satupun warga padusunanku yang “diglandang”; bagaimana mungkin, lha wong warga padusunan itu sebagian besar adalah petani dan nelayan, dan beberapa pedagang hasil bumi, yang buta sama sekali tentang politik dan tidak mau tahu urusan politik, sungsang njêmpalik golèk sandang pangan saja sudah rêkåså abot bangêt, berusaha mencukup-cukupkan, meskipun hasilnya akan tidak dapat mencukupi.

    Namun dalam suasana diam yang tegang, tetapi kalut dan ketakutan yang amat sangat, para lelaki dewasa dan pemuda-pemuda warga padusunan, dengan berbekal “jimat rapalan” dari Êyang Kyai Guru Sêpuh, sêsêpuh padusunan; setiap hari siang dan malam bergantian berjaga-jaga di perbatasan sekeliling padusunan.

    Selama itulah lintang kêmukus menampakkan dirinya menjelang Shubuh dini hari di ufuk timur, sejak September 1965 dan perlahan mengakhiri “kunjungannya” di akhir Januari 1966; dengan meninggalkan malapetaka bagi anak bangsa.

    — Êyang Kyai Guru Sêpuh adalah cikal-bakal penduduk padusunan, sedangkan Êyang Kyai Guru Anom adalah putranya. Pada waktu perisitiwa Gerakan 30 September 1965 Êyang Sêpuh berusia ± 75 tahun [beliau wafat pada tahun 2000 yang lalu]; sedangkan Êyang Anom, pada waktu itu berusia ± 50 tahun, kini berusia ± 96 tahun, beliau masih segar bugar, dengan daya ingat yang masih tajam dan cemerlang, tapi sudah tidak kuat berdiri lama-lama –

    Mada Jiwana Pita

    Mada, Jiwana Pita adalah judul sebuah sandiwara radio yang mengisahkan kisah cinta Jiwana Calon Raja Majapahit dan Putri Sunda yang berujung pada pembantaian dan pertumpahan darah, di lapangan Bubat. Mada adalah Mahapatih Gajah Mada,

    Jiwana adalah nama abhiseka Hayam Wuruk ketika masih remaja, dan Pita adalah putri Kerajaan Pasundan Galuh Dyah Ayu Pitaloka.
    Sandiwara radio itu diudarakan di salah satu studio radio di Jawa Timur, bertepatan dengan huru-hara dan perang saudara, ketika negara sedang kisruh, ketika terjadi peristiwa pembunuhan dan pembantaian massal orang-orang PKI dan yang dituduh simpatisannya, di jelang akhir tahun 1965 hingga akhir tahun 1966, seperti yang diceritakan di atas.

    Sandiwara Mada Jiwana Pita menceritakan peperangan di Lapangan Bubat yang diduga terjadi pada tahun 1360M, semasa pemerintahan Hayam Wuruk. 600 tahun sejak kemunculan terakhir lintang kêmukus dini hari September 1965.

    Sedangkan lintang kêmukus yang sama diduga setiap 600 – 700 tahun sekali “mengunjungi” bumi.
    Adakah ini suatu kebetulan belaka? Adakah sanak kadang percaya tentang hal ini?

    Demikian sandiwara itu mengakhiri kisahnya dengan tembang:

    sangsåyå lårå kagagat,
    pětěng rasanikang ati,
    kapati sirå sang katong,
    kang tangis mangkin gumirih,
    lwir guruh ing katrini,
    matag paněděng ing santun,
    awor swaraning kumbang,
    tangising wong lanang istri,
    arěrěb-rěrěb pawraning gělung lukar.

    Semakin lama semakin sakit rasa penderitaannya.
    Hatinya terasa gelap,
    beliau sang Raja semakin merana
    tangisnya semakin keras,
    bagaikan guruh di bulan ketiga,
    yang membuka kelopak bunga untuk mekar,
    bercampur dengan suara kumbang.
    begitulah tangis para pria dan wanita,
    rambut-rambut yang lepas terurai bagaikan kabut.
    Bulan Ketiga yang masih merupakan musim kemarau. Jadi suara guruh pada bulan ini merupakan suatu hal yang tidak lazim.

    ånå toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • iya Ki, bulgurnya dimakan, kantongnya untuk bikin baju, keren sekali ,ada burung elangnya sedang terbang

  10. Wah tambah ilmu maneh dari Ki Bayuaji.
    Matur nuwun Ki ular-ularipun.

  11. Sugeng Enjang kadang sedoyo

  12. selamat PAGI kadang NSsi

    angKAt jriji…..haDIR pak SATPAM

    • teLAT siTIK ra mampir ning padepokan kene,

    • jriji? niku napa ta?🙂

      • jriji..ya yang di ban sepeda itu Mit…

        • jriji – mail – mei2 – ijat – ihsan – fizzi – ipin – upin

  13. ooo mekaten njih ….. kulo westani saweg ajar ngetung …. jriji … loro … telu🙂

    • dudu Mit….jare Ki Pa, jriji kuwi koncone upin sing kunciran kuwi…

      • kadohaaan, meksoooo😦

        • dipekso2 isih ngendo2….opo maneh dijarno….jarno trulli

          • naaa iki rodo kreatip🙂

          • pdhal trulli ki lagune sopo hayoo?🙂

          • ..truly kuwi LR…nek trilili kuwi…bu guru !😀

          • weeeh kakek ojo dikandani sik, … lagi ngetes ki …. kok suwe bgtz njawabe, pdhl lagu kuno loh🙂 kok ra ngerti ya?

          • iki lagune :

            truli truli putih
            ditandur neng kebon jomblang
            jomblang akeh lemute
            klambi abang akeh *****te

          • waduuh gantian mita yg ga tau laguna😦

          • Ha..ha..haaa…sing bener Ki Pa Mit…kuwi malah lagu baru sok di nggo RBT…..

          • dinggo rbt? …. sing ribut2 sapa? … penyanyina vs produserna gitu?🙂

          • dudu ribut Mit….tapi borot…eh..robot !…..😀

  14. P. Satpam

    Saya kirim “sumbangan” cover nssi 25 cetakan pertama tahun 1968 lewat e-mail satpam pelangi, sampai apa tidak ya….

    Truno Prenjak

    • mugi2 sampe🙂

      • tp klo kebablasen pek cina, jadinya sampe engtai🙂

        • tp klo kebablasen pek semarang, jadinya sampe kong🙂

          • nek kebablasen maneh iso bablas ke dunia laen

    • waah ternyata dah nyampe beneran🙂

      • maturnuwun dah diunggah,🙂 …… jd kliatan benar bedanya, sptna yg nggambar cover lebih tinggi ilmu komunikasinya dibanding yg nggambar di dalam …….. ada satu hal yg paling penting yg terlupakan pada gambar di dalam, ……. satu hal yg paling khas dari bk adalah ‘punuk’na ….. kelemahan bk jg di punukna, makanya mj menyobir bk di punukna ….. tp gambar di dalam, ‘angle’na ga pas, … ga ngliatin ‘punuk’na ….. beda dengan cover, yg kliatan jelas punukna, n meletakkan gambar punuk di tengah halaman gambar …. eye catching sekali ….. so jadinya sangat komunikatif …..

        ternyata komunikasi ga hanya tentang omongan n tulisan ya?🙂

  15. di nssi 25

    ternyata sawung akhirnya tobat juga, syukur deh ….. ikut nangis juga waktu sawung secara refleks mengucap Allahu Akbar ….

    pertemuan arya ama ibunya, pertemuan gs dng istrinya, pertemuan arya dengan buliknya, pertemuan ls ama istrinya menjadikan ini menjadi ‘bilik pertemuan’🙂 ….. mengharukan so pasti🙂

    wkt mj lg pacaran ma rw, ada kata2 rw yg berkesan deh, ini :

    “Tidak Kakang. Tidak semua kesulitan telah selesai. Dalam hidup yang baru itu, kesulitan-kesulitan lain justru baru akan mulai. Kesulitan-kesulitan yang sekarang belum dapat kita bayangkan.”

    setelah nikah malah timbul masalah2 baru? … bener gitu ya? …. haduuuu atuuuuuut😦😦

    • weh….nek pertanyaan iki, aku raiso njawab…uwabott sanggane

      tapi nek bab lock-unlock modem,….dak jlentrehke

  16. tok tok tok !!!!

    sampurasun…..?
    enibadihom……?
    spada…………….?

  17. SELAMAT MALAM
    BESOK LIBUR LHO KOK GANDOK SEPI.

  18. Audzubillah himinasyaitonirrajim,

    Måhå Suci Gusti Pangéranirå, kang wus paring dawuh marang Muhammad kawulané, supåyå lumaku ing wayah bêngi, såkå Al Masjidil Haram marang Al Masjidil Aqsha, kang bumi sakiwå-têngêné Ingsun paring bêrkah, supåyå Ingsun paring paniti prikså bukti kaélokan Kuwasaningsun. Satêmêné Gustimu Måhå Midhangêt ugå Måhå Uningå

    — Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. —

    [QS. Al Israa’ (17) : 1]

  19. Sugêng énjang

  20. Nuwun
    Sugêng énjang

    Sugêng pêpanggihan pårå sanak kadang,
    Mugi pårå sanak kadang tansah pinayungan kawilujêngan, kasarasan, såhå karahayon, pikantuk sihing Gusti Ingkang Måhå Wêlas lan Måhå Asih, kasêmbadan punåpå ingkang dipun gayuh.

    Tansah waskitå. Tumêmên dêmên tinêmu tansah manêmbah Gusti Ingkang Måhå Agung, tumungkul ngandêling Suksmå tan lirwå trésnå sêsami. Hing siang pantaran ratri.

    Inggih Padukå Panjênêngan Gusti Pangéran Ingkang Tansah Hangayomi pårå titah. Gusti Ingkang mBotên Naté Saré.

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

    • Sugeng enjang Ki Puna
      Aaaamiiiin………………………..
      kok mruput njih

      • Nuwun nggih Ki Panji,

        Dini hari ini dapat giliran nyapu latar masjid, ngisi kolah (tempat wudhu), buat acara Israa Mi’raj habis Sholat Subuh nanti.

        Keparêng rumiyin

  21. selamat siang semuanya

  22. Sugeng Siang.
    Selamat menikmati liburan.

  23. Sugeng dalu para kadhang sinara wedi.

    hayo……sapa sing wedi….????

  24. Nuwun
    Wilujêng wêngi

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Waosan sebelumnya:
    Waosan kaping-33; Perang Bubat [Parwa ka-1] On 28 Juni 2011 at 04:09 NSSI 25

    Waosan kaping 34:
    PERANG BUBAT [Parwa ka-2]

    Perang Bubat adalah perang yang diduga pernah terjadi pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada.

    Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Lingabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M.

    Sumber-sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya perang ini terutama adalah Kidung Sundayana dan Kidung Sunda yang berasal dari Bali.

    “Perang Bubat” ini mengambil asumsi perang itu pernah terjadi. Perang yang merupakan lembaran hitam dari sejarah kebesaran Majapahit. Perang yang merupakan lembaran hitam juga bagi karir politik mahapatih Gajah Mada. Perang yang akhirnya memaksa Gajah Mada turun dari kedudukannya sebagai mahapatih Majapahit.

    Sumber adanya perang Bubat diperoleh dari buku Pararaton, sebuah karya sastra yang berisi cerita peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit.

    Buku lain yang juga banyak menceritakan peristiwa sejarah pada masa yang sama, yaitu Pujasastra Nāgarakṛtāgama, tidak sekali pun menyebutkan adanya peristiwa perang Bubat ini.

    Dua puluh tahun sejak Gajah Mada mengikrarkan sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa yang terkenal itu. Majapahit telah menjelma menjadi kerajaan besar yang menguasai Nusantara dan perairannya.

    Dengan armada lautnya yang sangat besar, yang dipimpin oleh Senapati Sarwajala Nala, Gajah Mada telah berhasil mewujudkan cita-citanya mengajak kerajaan-kerajaan di Nusantara bersatu di bawah kekuasan Majapahit.

    Gajah Mada mengajak kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara bersatu, salah satunya adalah untuk menggalang kekuatan melawan pasukan dari kerajaan Tartar yang hendak memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke arah selatan.

    Wilayah Nusantara yang sebagian besar terdiri atas perairan mendorong Majapahit memperkuat armada lautnya. Armada laut inilah yang setiap hari berpatroli di dalam wilayah laut Nusantara melindungi kapal-kapal dagang yang melintas, sekaligus membentengi wilayah Nusantara dari kemungkinan serbuan bangsa Tartar.

    Dari mulai Tumasek (Singapura), Tanjungpura, Bali, Dompo, hingga Seram seluruh penguasanya menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Majapahit.

    Tetapi di kala semua kerajaan yang letaknya relatif jauh sudah menyatakan tunduk, ada dua kerajaan yang sangat dekat bahkan seperti di halaman rumah sendiri, belum menyatakan tunduk.

    Dua kerajaan tersebut adalah Sunda Galuh yang berpusat di Galuh (sekarang berada di sekitar Ciamis — Situs Astana Gede Kawali terletak di Dusun Indrayasa Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis 7° 11’ 16“ LS dan 108° 22’ 18“ BT — ), dan Sunda Pakuan ( — 6° 36’ 35“ LS dan 106° 48’ 53“ BT yang terletak lebih ke arah barat, di Kota Bogor sekarang –).

    Sebagai sebuah kerajaan yang sudah sangat kuat pada saat itu maka Majapahit dapat saja menundukkan Kerajaan Sunda (Pakuan Pajajaran), namun Sang Mapatih lebih memilih menghindari kekerasan dan pertumpahan darah Kerajaan Sunda Galuh saat itu dipimpin oleh seorang raja yang bernama prabu Lingga Buana.

    Di sebelah timur, wilayah Sunda Galuh berbatasan langsung dengan wilayah Majapahit di sepanjang sungai Pamali (sekarang bagian dari Kali Brebes, titik perbatasan: 6° 52’ 14“ LS dan 109° 02’ 02“ BT).

    Sedangkan di sebelah barat, wilayah Sunda Galuh berbatasan langsung dengan wilayah Sunda Pakuan di sepanjang sungai Citarum (DAS Citarum, pada titik perbatasan: 6° 59’ 05“ LS dan 107° 35’ 35“ BT ).

    Pandangan Gajah Mada untuk sesegera mungkin menyatukan kedua kerajaan Sunda tersebut ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit, bertentangan dengan pandangan kalangan istana.

    Baik ibu suri Tribhuana Tunggadewi maupun Dyah Wyah berpendapat bahwa kerajaan Sunda adalah kerabat sendiri, karena apabila dilihat dari silsilah keluarganya, salah satu leluhurnya berasal dari bangsawan Sunda. Sementara sikap prabu Hayam Wuruk sendiri terlihat lebih mendukung kedua ibu suri tersebut daripada Gajah Mada.

    Seiring dengan perjalanan waktu, Jiwana Sang Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara (Raden Tetep) telah beranjak dewasa. Pada suatu waktu tibalah saatnya bagi prabu Hayam Wuruk untuk mencari seorang permaisuri yang akan mendampingi dirinya.

    Maka dikirimlah beberapa juru gambar untuk melukis putri-putri yang cantik dari kalangan kerajaan bawahan maupun kerajaan tetangga untuk kemudian diperlihatkan kepada sang prabu.

    Dengan harapan apabila ada salah satu gambar yang berkenan di hati sang prabu, maka tibalah saatnya bagi sang prabu untuk menjatuhkan pilihannya kepada putri yang beruntung tersebut.

    Sudah sekian banyak juru gambar yang kembali membawa lukisannya, namun sang prabu Hayam Wuruk masih belum berkenan menjatuhkan pilihannya.

    Sampai tibalah saatnya dikirim juru gambar ke kerajaan Sunda Galuh untuk menggambar putri Dyah Pitaloka Citraresmi yang kabar kecantikannya sudah terkenal ke mana-mana.

    Sementara itu, Gajah Mada melihat adanya kesempatan untuk membawa kepentingannya sendiri ke dalam utusan juru gambar Majapahit ke Sunda Galuh.

    Kemudian Gajah Mada menyusupkan beberapa orang bawahannya untuk pergi bersama-sama ke kerajaan Sunda Galuh menyampaikan maksud Gajah Mada agar kerajaan Sunda Galuh segera menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Majapahit.

    Sekembalinya utusan tersebut, prabu Hayam Wuruk ternyata berkenan dengan kecantikan putri Dyah Pitaloka dan berniat menjadikannya sebagai permaisuri.

    Maka diberangkatkan rombongan utusan kedua yang membawa berbagai macam keperluan untuk meminang putri tersebut sekaligus membicarakan kapan dan di mana pesta perkawinan antara raja dan putri akan dilangsungkan.

    Akhirnya disepakati bersama bahwa raja Lingga Buana, permaisuri, dan beberapa bangsawan istana akan berangkat ke Majapahit untuk mengantarkan putri Dyah Pitaloka sekaligus melangsungkan acara pesta perkawinan di ibu kota Majapahit.

    Maka pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah prabu Lingga Buana beserta rombongan ke Majapahit. Tidak terlalu banyak pasukan yang mengiringi mereka mengingat maksud dan tujuan sang prabu ke Majapahit adalah untuk menikahkan putrinya, Dyah Pitaloka.

    Perjalanan jauh mereka tempuh dari Galuh (Ciamis) menuju ke ibu kota Majapahit (Trowulan). Sesampainya rombongan tersebut di lapangan Bubat, tanpa terduga rombongan tersebut dicegat oleh utusan Gajah Mada yang menyampaikan maksud Gajah Mada agar putri Dyah Pitaloka diserahkan ke kerajaan Majapahit sebagai persembahan, tanda bahwa Sunda Galuh tunduk dibawah kekuasaan Majapahit.

    Namun rombongan sunda bersikeras agar Raja Majapahit harus turun sendiri menjemput pengantin dan rombongannya di daerah tersebut.

    Sang Mapatih dihadapkan pada dilema, baik menerima maupun menolak persyaratan itu sama-sama akan membahayakan jalinan persatuan Nusantara yang sudah dengan susah payah dibangunnya sebelum ini.

    Sebuah persatuan yang pada masa itu dapat dipertahankan diatas wibawa Sang Penguasa Kerajaan Majapahit. Para raja lain dibawah kekuasaan Majapahit akan membaca peristiwa tersebut sebagai isyarat melemahnya kerajaan besar tersebut oleh kepemimpinan Sang Raja yang masih muda itu.

    Ini berarti akan berkobarnya kembali perang karena pemberontakan dari kerajaan-kerajaan dibawah Majapahit. Akhirnya perang mulut tak dapat dihindari, keduabelah pihak sama sama mempertahankan pendiriannya masing masing dan tidak mau mengalah.

    Prabu Lingga Buana merasa harga dirinya terinjak-injak dengan perlakuan Gajah Mada tersebut, namun sebagai seorang pemimpim yang arif sang prabu tidak bertindak gegabah untuk dengan serta merta mengadakan perlawanan di tempat.

    Namun kearifan hati sang prabu tidak diikuti oleh segenap anak buahnya. Dalam situasi demikian, setiap orang yang berada dalam rombongan tersebut pasti merasa marah dan dilecehkan. Satu lesatan anak panah, entah terlepas dari busur siapa melaju menerjang utusan Gajah Mada tersebut hingga ambruk. Suasana pun menjadi tidak terkendali.

    Perang pun tidak terlelakkan lagi terjadi di lapangan Bubat. Rombongan pasukan Sunda Galuh yang tidak siap berperang terpaksa harus menghunus pedang dan merentangkan gendewa menghadapi pasukan Majapahit yang juga sebenarnya tidak siap untuk berperang.

    Kalah jumlah dan berada dalam lokasi yang salah akhirnya seluruh anggota rombongan pasukan Sunda Galuh pun gugur di lapangan Bubat, termasuk prabu Lingga Buana dan permaisurinya.

    Putri Dyah Pitaloka pun akhirnya bunuh diri. Akibat dari peristiwa tersebut prabu Hayam Wuruk akhirnya mencopot jabatan Gajah Mada dari mahapatih Majapahit yang selama ini disandangnya.

    Gajah Mada memiliki kekuasaan yang sangat besar, bahkan melebihi kekuasaan sang prabu sendiri. Boleh dikata jalannya roda pemerintahan berada di bawah kendali Gajah Mada.

    Sedangkan sang prabu hanya duduk manis di atas dampar dan menerima laporan dan hasilnya saja. Langkah pencopotan Gajah Mada tentunya bisa menimbulkan gejolak politik yang sangat besar yang bahkan bisa menimbulkan adanya perang.

    Perang saudara antara prajurit Majapahit yang mendukung dan menentang Gajah Mada hampir terjadi setelah peristiwa Bubat. Penentang Gajah Mada berasal dari orang-orang yang marah akibat kehendak rajanya untuk segera memiliki permaisuri gagal, bahkan calon permaisuri – putri Sunda Galuh dan keluarganya – beserta seluruh pengiringnya melakukan bunuh diri di lapangan Bubat.

    Sedangkan pendukung Gajah Mada kebanyakan berasal dari pasukan dan orang-orang yang selama ini dengan setia berada di belakangnya.

    Gajah Mada sendiri memandang peristiwa Bubat bukanlah kesalahan dirinya, dan bukan pula kesalahan Majapahit. Gajah Mada mengungkapkan bahwa selama ini sikap dan pandangan Majapahit terhadap kerajaan-kerajaan lain yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara sudah jelas.

    Majapahit menempatkan diri sebagai pemimpin dan pengayom wilayah Nusantara, dan kerajaan lain harus satu kata dengan Majapahit. Dengan kata lain kerajaan-kerajaan lain harus tunduk kepada Majapahit.

    Sikap Majapahit tersebut tidak boleh dibeda-bedakan, pun terhadap dua kerajaan Sunda yang letaknya di sebelah barat pulau Jawa. Pandangan Gajah Mada yang demikian tidak sejalan dengan sang prabu dan keluarganya.

    Gajah Mada lebih memandang tunduknya dua kerajaan Sunda di wilayah barat tersebut mesti diberlakukan sama dengan tunduknya kerajaan-kerajaan lain, kalau perlu dengan kekuatan militer. Sedangkan sang prabu dan keluarga lebih memilih jalan damai.

    Jalan damai tersebut salah satunya adalah dengan berbesanan dengan keluarga kerajaan Sunda Galuh. Alasan Gajah Mada mengajak kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara bersatu salah satunya adalah untuk menggalang kekuatan melawan pasukan dari kerajaan Tartar yang hendak memperlebar wilayah kekuasaannya sampai ke arah selatan.

    Wilayah Nusantara yang sebagian besar terdiri atas perairan mendorong Majapahit memperkuat armada lautnya. Armada laut inilah yang setiap hari berpatroli di dalam wilayah laut Nusantara melindungi kapal-kapal dagang yang melintas, sekaligus membentengi wilayah Nusantara dari kemungkinan serbuan bangsa Tartar.

    Pandangan keras Gajah Mada berujung pada kesalahan pengelolaan keadaan sehingga terjadi perang Bubat. Raja Sunda Galuh dan seluruh pengiringnya tewas dibantai di lapangan Bubat, termasuk calon permaisuri sang prabu.

    Gajah Mada yang kemudian dicopot dari jabatan mahapatih menjadi orang biasa, akhirnya memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di sebuah tempat untuk bertapa dan mawas diri. Tempat pertapaan Gajah Mada tersebut terkenal dengan sebutan Madakaripura.

    Peristiwa Bubat tidak menyebabkan kerajaan Sunda Galuh merasa perlu untuk membangun kekuatan militer dan menyerang kerajaan Majapahit. Orang-orang Sunda Galuh cinta damai. Walaupun demikian, secara individu beberapa orang yang setia kepada raja Sunda Galuh yang terbantai di lapangan Bubat, memutuskan untuk membalas dendam secara sembunyi-sembunyi.

    Mereka kemudian membentuk satu kelompok penari yang diberangkatkan ke Majapahit dengan sasaran bidik yang sudah jelas, yaitu Gajah Mada.

    Gerakan senyap dan samar yang dilakukan orang-orang Sunda ini langsung menusuk ke lingkungan istana Majapahit. Persiapan yang sangat matang dan teliti adalah kunci keberhasilan gerakan tersebut.

    Pagelaran tari-tarian pun diselenggarakan di dekat pusat arena berkumpulnya prajurit Majapahit, dengan tujuan untuk mempengaruhi beberapa prajurit Majapahit pilihan, dan mengubahnya untuk dijadikan pelaksana lapangan yang nantinya akan memburu Gajah Mada.

    Kecantikan dan gemulainya gerakan penari Sunda adalah senjata utama mereka. Tujuan tersebut hampir berhasil mereka capai. Seorang prajurit pilihan Majapahit berpangkat lurah, yang dulunya menjadi pengawal setia Gajah Mada, yang juga pemimpin prajurit pelindung istana kepatihan akhirnya masuk perangkap namun Gajah Mada tidak berhasil mereka singkirkan.

    ånå toétoégé
    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur nuwun Ki Bayu,
      setia tuhu nengga tutuge

      sugeng dalu.

    • matur suwun Ki Bayu

  25. Matur nuwun Ki Bayu.
    Sugeng enjang kadang sedoyo

  26. sugeng enjang

    • matur nuwun DJvu-ne pak SATPAM

  27. dik satpam, maturnuwun sgt djvuna ya, …. tp kok jilidna mencolot jauuuh? dari jilid 24 langsung mencolot ke jilid 251 ?🙂 … apa lagi mateg aji mp3 ta ?🙂🙂 … senengane dadi pencolotan😦😦

    hadu…..
    gini lho critanya, malam hari sudah saya upload nssi-25.doc, tanpa ngecek kotak email.
    pagi hari, saya cek kotak email ternyata ada paket dari Ki Truno Prenjak, sehingga buru-buru saya edit ulang dan upload lagi.
    di WP tidak ada fasilitas untuk menimpa file, sehingga kalau suatu file diupload berulang-ulang, maka di belakangnya akan ditambahi 1, 2, 3 dst. Dalam kasus ini, upload pertama tersimpan nssi-25.doc, upload ulang menjadi nssi-251.doc, kalau saya edit ulang dan saya upload lagi dengan naman yang sama akan menjadi nssi-252.doc, dst…
    gitu………!

    • sekalian maturnuwun tips ipun njih, … nanging wkt dipraktekkan mencari tulisan ‘back n white’ mboten ketemu niku pripun?🙂🙂 entene ‘black n white’🙂🙂 ….. piye ta jik enom wis klera kleru wae🙂

      mana…., mana…..
      tak baca bolak-balik, gak ada yang salah tu?
      coba baca sekali lagi😛

      • eh dik satpam, menawi ajeng dolan teng gandok penantian pripun carane?

        • bade ngentosi seseorang teng ngriku🙂🙂

        • walaaah, kleru nulis neng kene ….🙂
          nyuwun sewu dik satpam, ternyata jik enom wajar klo klera kleru ya🙂

          • ha ha ha …….😛

        • hadu….
          iki ngetes apa piye, kalau sudah tidak muncul di halaman samping kan tinggal ketik saja http://cersilindonesia.wordpress.com/gandok penantian/ terus di enter

      • walaah peh iso ngedit dewe weee😦😦 …. padahal msh ada yg kliru lagi tu🙂🙂 …….. ‘e’ lom ngikut di bold🙂🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: