NSSI-26

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 30 Juni 2011 at 06:30  Comments (50)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-26/trackback/

RSS feed for comments on this post.

50 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hadu…..
    gandok 26 rung payu……
    tutup maneh apa ya?

  2. mbak Mita
    tanggal 27 kemarin Ki Arema dolan ke UNS lho, ngunjungi beberapa orang sahabatnya di sana. Kebetulan pas ada undangan ke Solo, sekalian mampir.
    Jangan-jangan mbak Mita papasan sama beliau? he he he …

    • looh ki arema tu alumni uns ta? ….. dr fakultas apa? …. apa hanya kolega?

      • Kalu aku dari bakultas kedodoran…..
        Mita dari jurasan mana ya?

  3. walaaah kedisikan ,dik satpan’🙂

  4. weeeee, mj ga pasang melati, …. gek kesusu po yo? ….. opo sing nggambar gek lali?🙂

    • dpasang didada….terus jatuh..😐

  5. itu sapa ya? …. klo ngliat senjatana itu rw ya? …. berantem ma sapa?

    • musuhna pakeana bagus …. apa sarayuda lagi? … kan dulu dah sadar ? …… ato ini cuman latihan pendadaran aji cundamanik?

      • eh ada lagi, jaka soka ya?

        • masih mo nyulik gt ?

          • jaka soka tu bisanya cuman ngandelin nggantengna, sugihna, n ‘ilmu mekso’na ajah😦 ……… kaya sapa ya ?🙂🙂

  6. tansah setyotuhu mangantu-antu……………

  7. sugeng siang

    • sugeng siyang ugi mas piyantun pulau perca (mp3) 🙂🙂

  8. Sugeng dalu,
    kurang 3 jilid maning Rara Wilis dadi manten.

    • napa injih ta? …. menawi arya pripun?😦😦

      • lho..kan nunggu Mita..😀

        • lha-lho….si kakek arep mantu tiba”e😀

          • mugi2🙂

          • brani toh MIt….nanti geTUN,

            getUn kok gak dhisik2, he3x

  9. Soegeng daloe.

  10. Matur nuwun, NSSI DJVU jilid 21 dumugi 25 nembe kemawon rampung kulo undhuh.

  11. Jaka Soka sudah hampir mati, selanjutnya Banyubiru tenang tenteram, mlailah drama mengembalikan Karebet dan Keris NSSI ke Istana, sekaligus Mahesa Jenar diwisuda lagi menjadi Perwiran, tancep kayon jilid 29.
    Sugeng Enjang Ki Sanak.

    • NSSI versi betawi : M. Juned

  12. selamat siang semuanya…..

    • semuanya…..selamat siang

      • pak SATPAM, ruang BACA gandok Nssi-26
        kok belom buka….kenopo-kenapa ???

        • looh piya ta ki yupram iki? …. kan ‘paling cepat’ jam 12.30 …. pdhal iki jumat … jadi?🙂

          yen nganti masang jam 12.30 berarti dik satpam ga jumatan😦

          • hikss, betul MIt….masak pak SATPAM
            perempuaN,

          • Lik Satpam gek safar……….makane jenenge safar-udin….ora wajib jum’atan………piye meh jum’atan wong ndek ndukur kuda poni

  13. sugeng sonten

    • Sugeng Tindak-tindak wonten ing wayah sonten nyelaki week end…
      Sugeng sonten Ki Bancak…

      • sugeng dalu ki

  14. Sugeng dalu poro kadang sedoyo.

  15. suwe ra mampir nang gandok…………..isik buka gak yo

    • he he he …
      lha wong wis neng gandok kok sik takon
      sugeng enjing Ki, dangu….! sanget mboten sonjo padepokan.

  16. Sugeng enjang.

    • selamat PAGI kadang NSsi sedaya,

      selamat berLIBUR…

  17. DJvu-ne wes mateng opo durung yooo….!!??

  18. Isih mentah tha? Kok durung diwedar …..

    • hadu…
      lha wong wis ket mau isuk dicantolne ndik kono kok

  19. sawek dipepe ben garing, renyah

  20. Sampun kulo undhuh, matur nuwun.

  21. Sugêng énjang

  22. Sugeng Enjang,
    wis teko jilid 26, kari kurang 3 maning, opo yo kelanjutane?

  23. Nuwun

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Waosan sebelumnya:
    Waosan kaping-34; Perang Bubat [Parwa ka-2] On 29 Juni 2011 at 19:56 NSSI 25

    Waosan kaping 35:
    PERANG BUBAT [Parwa ka-3]

    Pasunda-bubat

    bhre prabhu ayun ing putri ring sunda.
    patih madu ingutus angundangeng wong sunda.
    ahidep wong Sunda yan awarawarangana.
    teka ratu sunda maring majapahit,
    sang ratu maharaja tan pangaturaken putri.
    wong Sunda kudu awiramena tingkahing jurungen.
    sira patihing majapahit tan payun yen wiwahanenreh sira rajaputri makaturatura.

    Tulisan diatas merupakan kisah Tragedi Bubat, dimuat dalam Pararaton. Kitab tersebut menyebutnya Pabubat atau Pasunda Bubat. Tragedi Bubat terjadi antara Kerajaan Sunda dan Majapahit, ketika di Majapahit dibawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada, sedangkan Raja Sunda pada waktu adalah Prabu Maharaja Linggabuana. Bubat terletak di Wilayah Jawa Timur, sebelah utara Majapahit.

    Tragedi Bubat diperkirakan terjadi pada abad Ke-14, tepatnya pada hari Selasa, sebelum tengah hari, dasawarsa 6, tahun 1357 M ada yang menyebutkan 1360 M. Menurut Berita dari Nusantara II/2 halaman 62, dikisahkan gugurnya Prabu Linggabuana beserta para ksatria Sunda, sebagai berikut:

    Selanjutnya dikisahkan, pada tanggal 13 bagian terang bulan Badra tahun 1279 Ç Sang Prabu Maharaja Sunda gugur di Bubat di negeri Majapahit. Saat itu Sang Prabu Maharaja bermaksud menikahkan putrinya yaitu Sang Retna Citraresmi atau Dyah Pitaloka dengan Bre Prabu Majapahit yang bernama Sri Rajasanagara’.

    Tragedi Bubat dikisahkan dalam beberapa sumber, antara lain: Kidung Sunda; Kidung Sundayana; Carita Parahyangan; Kitab Pararaton ; dan Pustaka Nusantara.

    Seorang pakar Belanda bernama Prof Dr.C.C.Berg, menemukan beberapa versi Kidung Sunda, disinyalir disusun dengan menggunakan bahasa Jawa Pertengahan, berbentuk tembang (syair). Dua di antaranya pernah dibicarakan dan diterbitkannya, yaitu Kidung Sunda dan Kidung Sundayana (Perjalanan Urang Sunda) yang berasal dari Bali.

    Di Bali Kidung Sundayana di kenal dengan nama Geguritan Sunda. Mungkin karena Berg orang Belanda, dan pada masa lalu banyak menyebar luaskan kepada khalayak, maka masalah Bubat pernah disebut-sebut sebagai upaya Belanda untuk memecah belah Indonesia.

    Tapi dokumen lainpun selain Kidung Sundayanan atau Geguritan Sunda ditemukan pula, seperti dalam naskah Pararathon dan Pustaka Nusantara. Bahkan sekalipun hanya satu alinea, di dalam Carita Parahyangan pun di muat, sebagai berikut:

    • Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina.

    • Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit.

    Kidung Sunda atau Kidung Sundayana merupakan upaya dan niat baik Prabu Hayam Wuruk untuk menyesalkan masalah Bubat. Hayam Wuruk mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahannya.

    Melalui perantara Sang Darmadyaksa itu Hayam Wuruk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati, pada waktu itu menggantikan Raja Sunda. Pada kesempatan itu pula dijanjikan, bahwa: peristiwa Bubat akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana. Semua bertujuan agar dapat diambil hikmahnya.

    Hubungan Sunda dengan Majapahit

    Didalam Pustaka Nusantara II diterangkan bahwa permaisuri Darmasiksa adalah putri keturunan Sanggramawijayottunggawarman, penguasa Sriwijaya yang bertahta sejak tahun 1018 sampai dengan 1027 M. Dari perkawinannya lahir dua orang putra, yakni Rakeyan Jayagiri atau Rakeyan Jayadarma dan Sang Ragasuci atau Rakeyan Saunggalah, dikenal pula dengan sebutan Sang Lumahing Taman.

    Rakeyan Jayadarma dinikahkan dengan putri Mahisa Campaka dari Tumapel Jawa Timur, bernama Dyah Lembu Tal, sedangkan putranya yang kedua, yakni Ragasuci dijodohkan dengan Dara Puspa, putri Trailpkyaraja Maulibusanawar-madewa, dari Melayu. Dara Kencana, kakak dari Dara Puspita diperistri oleh Kertanegara. Dari posisi campuran perkawinan pada waktu itu sunda dapat memposisikan diri sebagai pelaku penengah pada setiap terjadi perselisihan antara Sumatra dan Jawa Timur.

    Hubungan kekerabatan Sunda dengan Majapahir dimuat pula dalam naskah lain. Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3: Rakeyan Jayadarma, putra Prabu Dharmasiksa Raja Sunda, adalah menantu Mahisa Campaka dari Jawa Timur.

    Rakeyan Jayadarma berjodoh dengan putrinya Mahisa Campaka yang bernama Dyah Singamurti alias Dyah Lembu Tal. Mahisa Campaka adalah anak dari Mahisa Wong Teleng, yang merupakan anak dari Ken Angrok, raja Singosari dari Ken Dedes.

    Dari pernikahan Rakeyan Jayadarma dengan Dyah Lembu Tal di Pakuan, memiliki putra yang bernama Sang Nararya Sanggramawijaya atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya. Dengan demikian Raden Wijaya adalah turunan ke 4 dari Ken Angrok dan Ken Dedes.

    Dikarenakan Jayadarma wafat dalam usia muda, Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya Wijaya dan ibunya diantarkan ke Jawa Timur. Raden Wijaya setelah dewasa menjadi senapati Singasari, pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara, hingga pada suatu ketika ia mampu mendirikan negara Majapahit.

    Raden Wijaya didalam Babad Tanah Jawi dikenal juga dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran, karena ia lahir di Pakuan.

    Dari alur kesejarahan tersebut, Raden Wijaya di Sunda dikenal juga sebagai Cucu dari Prabu Darmasiksa, Raja sunda yang ke-25, ayah Rakeyan Jayadarma. Dalam Pustaka Nusantara III dikisahkan pula, bahwa: Darmasiksa masih menyaksikan Raden Wijaya, cucunya mengalahkan Jayakatwang, raja Singasari.

    Kemudian dengan taktis ia mampu menyergap dan mengusir Pasukan Kubilai Khan dari Jawa Timur. Empat hari pasca pengusiran pasukan Cina, atau pada 1293 M, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Wilwatika dengan gelar Kertarajasa Jayawardana.

    Memang, ketika masa Raden Wijaya, hubugan Sunda dengan Majapahit sangat baik dan tanpa percekcokan. Hubungan Darmasiksa dengan Raden Wijaya ditulis pula dalam Pustaka Nusantara III, tentang pemberian nasehat Darmasiksa kepada Raden Wijaya, cucunya. Ketika itu Raden Wijaya berkunjung ke Pakuan dan mempersembahkan hadiah kepada kakeknya. Nasehat tersebut, sebagai berikut:

    Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlahanyang ngku wus angemasi. Hetunya nagaramu wus agheng jaya santosa wruh ngawang kottaman ri puyut katisayan mwang jayacatrum, ngke pinaka mahaprabu. Ika hana ta daksina sakeng Hyang Tunggal mwang dumadi seratanya.

    (Janganlah hendaknya kamu mengganggu, menyerang dan merebut Bumi Sunda karena telah diwariskan kepada Saudaramu bila kelak aku telah tiada. Sekalipun negaramu telah menjadi besar dan jaya serta sentosa, aku maklum akan keutamaan, keluar biasaan dan keperkasaan mu kelak sebagai raja besar. Ini adalah anugrah dari Yang Maha Esa dan menjadi suratanNya.)

    Ikang Sayogyanya rajya Jawa lawan rajya Sunda paraspasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawati rajya sowangsowang. Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duh kantara, wilwatika sakopayana maweh carana ; mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatika.

    (Sudah selayaknya kerajaan Jawa dengan kerajaan Sunda saling membantu, bekerjasama dan saling mengasihi antara anggota keluarga. Karena itu janganlah beselisih dalam memerintah kerajaan masing-masing. Bila demikian akan menjadi keselamatan dankebahagiaan yang sempurna. Bila kerajaan Sunda mendapat kesusahan, Majapahit hendaknya berupaya sungguh-sungguh memberikan bantuan ; demikian pula halnya Kerajaan Sunda kepada Majapahit).

    Rencana pernikahan Prabu Hayam Wuruk

    Peristiwa Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk untuk mempersunting putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit yang dilukis secara diam-diam oleh Sungging Prabangkara, seniman lukis pada masa itu. Dyah Pitaloka di gambar secara diam-diam atas perintah keluarga keraton, bertujuan untuk mengetahui paras Sang Putri.

    Alasan yang mungkin dapat masuk akal dipaparkan oleh penulis sejarah Pajajaran, yakni Saleh Danasasmita dan penulis naskah Perang Bubat, yakni Yoseph Iskandar. Kedua akhli sejarah ini menyebutkan, bahwa niat pernikahan itu untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda.

    Urang Sunda masih merasa saudara dengan urang Majapahit, karena Raden Wijaya yang menjadi pendiri Majapahit, dianggap masih keturunan Sunda. Pernikahan demikian dianggap wajar di masa lalu, sama seperti yang dilakukan raja-raja sebelumnya. Seperti hubungan Galuh dengan Kalingga dijaman Wretikandayun, yang menikahkan Mandiminyak, putranya dengan Parwati, Putri Ratu Sima.

    Niat Prabu Hayam Wuruk untuk memperistri Dyah Pitaloka telah direstui keluarga kerajaan, sehingga tak lagi ada masalah dengan status kedua kerajaan, kecuali untuk melangsungkan pernikahan. Selanjutnya Hayam Wuruk mengirim surat lamaran kepada Maharaja Linggabuana dan menawarkan agar upacara pernikahan dilakukan di Majapahit.

    Tawaran Majapahit tentunya masih dipertimbangkan, terutama oleh Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Pertama, masalah lokasi atau tempat pernikahan. Pada waktu itu adat di Nusantara menganggap tidak lazim jika pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki.

    Kedua, diduga alasan ini merupakan jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, di antaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara. Namun Prabu Linggabuana hanya melihat adanya rasa persaudaraan dari garis leluhurnya, sehingga ia memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit. Rombongan kerajaan Sunda kemudian berangkat ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

    Kegamangan Prabu Hayam Wuruk

    Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain dari Mahapatih Gajah Mada yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda. Niat Gajah Mada ini untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut. Karena dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan sundalah yang belum dikuasai Majapahit.

    Dengan maksud tersebut dibuatlah alasan oleh Gajah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta.

    Rencana tersebut di sampaikan kepada Prabu Hayam Wuruk, Gajah Mada pun mendesaknya untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda. Selain diharapkan pula agar sunda mau mengakui mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara.

    Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana menjadi bimbang. Ia terjebak dalam dilema, antara cinta dan perlunya mentaati saran Gajah Mada. Disisi lain, Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

    Perang Bubat Vérsi Kidung Sunda

    Nyaéta hiji karya sastra dina basa Jawa Tengahan dina wanda dangding (wawacan?) nu sigana asalna ti Bali. Dangding ieu nyaritakeun kajadian Perang Bubat nu dimimitian ku Prabu Hayam Wuruk ti Majapahit nu keur néang pigarwaeun. Lajeng anjeunna miharep putri karajaan Sunda (dina naskah ieu teu disebutkeun ngaranna), ngan kahayang ieu bantrok jeung kapengkuhan patih Gajah Mada nu nganggap urang Sunda kudu nurut kana kahayang Majapahit. Balukarna, di palabuhan Bubat (tempat balabuhna rombongan ti Sunda) lumangsung perang campuh bébéakan nepi ka ampir sadaya rombongan Sunda gugur, kaasup putri Sunda nu nelasan manéh. Di handap ieu didadarkeun tingkesan eusi Kidung Sunda, dibagi dumasar babagian pupuhna.

    Pupuh I

    Hayam Wuruk, raja Majapahit hayang nyiar pibojoeun. Lajeng anjeunna ngirimkeun utusan ka sakuliah Nusantara pikeun néangan putri nu cocog. Para utusan mulang bari marawa lukisan para putri ti rupa-rupa nagara, ngan taya nu bisa ngirut atina. Lajeng Hayam Wuruk ngadéngé béja kegeulisan putri Sunda, geuwat baé anjeunna ngirim juru lukis ka Sunda. Nalika juru lukis balik deui bari mawa lukisan putri Sunda, kabeneran harita keur aya pamanna raja Kahuripan jeung Daha nu miharep sangkan Hayam Wuruk geura meunang jodo. Hayam Wuruk nu kataji ku lukisan putri Sunda, lajeng anjeunna ngutus mantri Madhu pikeun ngalamar ka karajaan Sunda.

    (Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang pinisepuh prabu Hayam Wuruk, yaitu raja Kahuripan (Ibunda Hayam Wuruk, yakni Bhre Kahuripan: Tribhuwana Tunggadewi) dan raja Daha (adik kandung Tribhuwana Tunggadewi, yakni Bhre Daha Rajadewi Maharajasa) berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah. Maka Sri Baginda Hayam Wuruk tertarik dengan lukisan putri Sunda. Kemudian prabu Hayam Wuruk menyuruh Madhu, seorang mantri ke tanah Sunda untuk melamarnya.)

    Cacatan: Penulis Kidung Sunda tidak mengetahui bahwa raja Kahuripan dan raja Daha itu adalah seorang wanita, yang dalam Kidung Sunda disebutkabeneran harita keur aya pamanna (?) raja Kahuripan jeung Daha, yang pasti keduanya bukan paman Hayam Wuruk, melainkan Ibunda Hayam Wuruk, yakni Bhre Kahuripan: Tribhuwana Tunggadewi dan raja Daha adik kandung Tribhuwana Tunggarewi, yakni Bhre Daha Rajadewi Maharajasa, berarti bibinya.

    Madhu nepi ka tatar Sunda sanggeus lalayaran salila genep poé, terus baé nepungan raja Sunda. Raja Sunda gumbira nampa lamaran ti raja Majapahit nu kawentar ieu, sedengkeun Putri Sundana pribadi teu loba catur.

    (Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam hari kemudian menghadap raja Sunda. Sang raja senang, putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak menanggapi.)

    Madhu mulang ka Majapahit bari mawa surat balesan ti raja Sunda sarta ngibérkeun rék datangna rombongan ti Sunda. Teu lila ti harita rombongan karajaan Sunda angkat diiring ku rombongan nu loba pisan: dua réwu kapal kaasup kapal laleutik.
    Kapal nu dianggo ku kulawarga raja Sunda nyaéta “kapal jung Tatar nu ilahar dipaké satutasna perang Wijaya”. Ngan nalika naraék kapal, aranjeunna ningal kila-kila nu teu pihadéeun.

    (Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil.

    Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “Jung Tatar (maksudnya Tartar Mongol/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya”).

    Majapahit sorangan sibuk nyiapkeun sambutan pikeun para tamu. Sapuluh poé ti harita, kapala désa Bubat ngalaporkeun geus datangna rombongan Sunda. Prabu Hayam Wuruk jeung paman-pamanna geus saged rék ngabagéakeun nu datang, tapi patih Gajah Mada teu panuju. Anjeunna keukeuh nyebutkeun yén Maharaja Majapahit teu pantes ngabagéakeun/nyambut raja nu statusna raja lokal (vazal) kawas raja Sunda, malah saha nu nyaho yén anjeunna téh musuh nu nyamar.

    (Sementara di Majapahit sendiri mereka sibuk mempersiapkan kedatangan para tamu. Maka sepuluh hari kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka. Tetapi patih Gajah Mada tidak setuju. Ia berkata bahwa tidaklah seyogyanya seorang maharaja Majapahit menyongsong seorang raja berstatus raja vazal seperti Raja Sunda. Siapa tahu dia seorang musuh yang menyamar.)

    Mangka, nurutkeun pamanggih Gajah Mada, Prabu Hayam Wuruk teu jadi indit ka Bubat. Para abdi dalem karaton jeung pangagung séjénna kagét ngadéngé hal ieu, tapi maranéhna teu wani ngabantah.

    (Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan.)

    Kegagalan Diplomatik

    Di Bubat, rombongan Sunda hawar-hawar geus ngadéngé iber ngeunaan kaayaan di Majapahit. Lajeng raja Sunda ngirimkeun utusan, patih Anepakén, indit ka Majapahit. Anjeunna angkat dibarengan ku tilu pangagung séjénna sarta tilu ratus prajurit, langsung ka palinggihan Gajah Mada. Di dinya patih Anepakén sasanggeman yén Raja Sunda rék mulang sarta nyangka yén Hayam Wuruk ingkar jangji. Aranjeunna paséa rongkah sabab Gajah Mada keukeuh mikahayang urang Sunda lumaku sakumaha patalukan Nusantara Majapahit. Di kapatihan éta ampir bantrok, ngan kaburu dipisah ku Smaranata, pandita karajaan Majapahit. Mangka utusan Sunda marulang deui kalawan ngémbarkeun yén kaputusan ahir raja Sunda bakal ditepikeun dina jangka dua poé.

    (Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn untuk pergi ke Majapahit. Ia disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah patih Gajah Mada.

    Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira prabu Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah utusan raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari.)

    Kemarahan utusan sunda dikisahkan dalam Kidung Sunda, sebagai berikut :

    Bahasa Jawa Pertengahan (BJP): “Ih angapa, Gajah Mada, agung wuwusmu i kami, ngong iki mangkw angaturana sira sang rajaputri, adulurana bakti, mangkana rakwa karěpmu, pada lan Nusantara dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring yuda.

    Bahasa Sunda (BS): “Hé Gajah Mada, naon maksudna anjeun gedé bacot ka kami? Kami mah rék mawa Rajaputri, sedeng anjeun kalah miharep kami mawa upeti kawas ti Nusantara. Kami mah béda. Kami urang Sunda, can kungsi éléh perang.

    (BJP): “Abasa lali po kita nguni duk kita aněkani jurit, amrang pradesa ring gunung, ěnti ramening yuda, wong Sunda kagingsir, wong Jipang amburu, praptâpatih Sunda apulih, rusak wadwamu gingsir.

    (BS): “Kawas nu poho baé sia baheula, nalika anjeung keur perang di wewengkon pagunungan. Perang campuh diuudag urang Jipang. Terus patih Sunda datang deui sahingga pasukan dia mundur.

    (BJP): “Mantrimu kalih tinigas anama Lěs Beleteng angěmasi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang, amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan pating burěngik, padâmalakw ing urip.

    (BS): “Mantri sia nu dua nu ngaranna Les jeung Beleteng dikadék nepi ka paéh. Pasukan sia bubar jeung kalabur. Aya nu labuh ka jurang sarta ti kakarait kana cucuk rungkang. Maranéhna paéh kawas lutung, owa, jeung setan, lalumengis ménta hirup.

    (BJP): “Mangke agung kokohanmu, uwabmu lwir ntuting gasir, kaya purisya tinilar ing asu, mengkene kaharěpta, tan pracura juti, ndi sasana tinutmu gurwaning dustârusuh, dadi angapusi sang sadubudi, patitânêng niraya atmamu těmbe yen antu.

    (BS): “Ayeuna sia gedé sungut. Bau sungut sia kawas kasir, kawas tai anjing. Ayeuna kahayang sia teu sopan sarta hianat. Nuturkeun ajaran naon salian ti hayang jadi guru nu ngabohong jeung milampah rucah. Nipu jalma budi hadé. Mun paéh, roh sia bakal asup naraka!

    Ngadangu émbaran ieu, raja Sunda teu sudi lumaku salaku patalukan. Lajeng anjeunna sasanggeman mutuskeun yén leuwih hadé gugur salaku satria. Demi méla kahormatan, leuwih hadé gugur batan hirup bari dihina urang Majapahit. Sadaya pangagung katut rombongan Sunda tumut kana kaputusan ieu sarta milu béla ka rajana.

    (Sementara raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia berlaku seperti layaknya seorang vazal. Maka beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya.)

    Lajeng raja Sunda nepungan istri katut putrana, anjeunna nyaritakeun niatna lajeng miwarang kulawargana mulang, tapi aranjeunna nolak kalawan keukeuh rék ngabaturan rajana.

    (Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja.)

    ånå toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • hadu….
      ketinggal 3 rontal
      mudah-mudahan hari ini bisa dipindahkan.
      matur suwun….

      • Nuwun
        Sugêng énjang

        Matur kêsuwun Ki Panji,

        Dongeng “Surya Majapahit” masih panjang, boleh jadi masih 15 atau 20 kali wedaran lagi, jika setiap wedaran 10 atau 12 halaman kertas kwarto — bila dicetak –, meliputi antara lain Perang Parêgrêg; Raja-raja pasca Hayam Wuruk; Sabdå Palon Nåyå Génggong (Sandyakalaning Måjåpahit; Sirnå Ilang Kêrtaning Bumi) dan pembahasan teori Keruntuhan Kerajaan Majapahit, serta berdirinya Kesultanan Dêmak Bintårå.

        Sedangkan Dongeng “NSSI” mungkin 4 atau 5 wedaran lagi; jika hanya sampai pada Dongeng Aryå Pênangsang, dan Sjèch Siti Djênar.

        Jika mau diperpanjang dapat meliputi: Ratu Kalinyamat, Berpindahnya kekuasan dari Dêmak Bintårå ke Pajang (Sultan Hadiwijåyå — Djåkå Tingkir –), hingga berdirinya Kesultanan Mataram (Era Panêmbahan Sénåpati), yang dijadikan oleh Ki Dhalang SH MIntardja sebagai latar belakang kisah AdBM.

        Sumånggå, sekali lagi matur nuwun,

        Nuwun

        cantrik bayuaji

        • kasinggihan Ki Bayu

          saya sempatkan pindah ke gandoknya, takut kelupaan terus karena uber-uberan dengan beban tugas yang lain.

          sayangnya, cerita ki SHM yang berbasis kerajaan Majapahit tidak ada. atau saya yang kurang informasi?

          tetapi, sekedar untuk komunikasi dengan sanak-kadang pelangisingosari masih tersedia beberapa rontal yang masih bisa diunggah, tetapi berbasis Kerajaan Pajang-Mataram.

          he he he …
          sudah saya coba bundel, Surya Majapahit mulai waosan pertama hingga 35 sudah bisa menghabiskan lebih dari 1 rim kertas. Bendelan saya set ukuran kerta A5 dengan font Geogia 11, spasi tunggal.

          matur suwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: