NSSI-27

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 3 Juli 2011 at 06:30  Comments (41)  

41 KomentarTinggalkan komentar

  1. Pindahan dari NSSI-26
    (karena gandok baru sudah dibuka)
    pak satpam
    ——————————–

    On 3 Juli 2011 at 06:23 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

    Nuwun

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Waosan sebelumnya:
    Waosan kaping-34; Perang Bubat [Parwa ka-2] On 29 Juni 2011 at 19:56 NSSI 25

    Waosan kaping 35:
    PERANG BUBAT [Parwa ka-3]

    Pasunda-bubat

    bhre prabhu ayun ing putri ring sunda.
    patih madu ingutus angundangeng wong sunda.
    ahidep wong Sunda yan awarawarangana.
    teka ratu sunda maring majapahit,
    sang ratu maharaja tan pangaturaken putri.
    wong Sunda kudu awiramena tingkahing jurungen.
    sira patihing majapahit tan payun yen wiwahanenreh sira rajaputri makaturatura.

    Tulisan diatas merupakan kisah Tragedi Bubat, dimuat dalam Pararaton. Kitab tersebut menyebutnya Pabubat atau Pasunda Bubat. Tragedi Bubat terjadi antara Kerajaan Sunda dan Majapahit, ketika di Majapahit dibawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada, sedangkan Raja Sunda pada waktu adalah Prabu Maharaja Linggabuana. Bubat terletak di Wilayah Jawa Timur, sebelah utara Majapahit.

    Tragedi Bubat diperkirakan terjadi pada abad Ke-14, tepatnya pada hari Selasa, sebelum tengah hari, dasawarsa 6, tahun 1357 M ada yang menyebutkan 1360 M. Menurut Berita dari Nusantara II/2 halaman 62, dikisahkan gugurnya Prabu Linggabuana beserta para ksatria Sunda, sebagai berikut:

    Selanjutnya dikisahkan, pada tanggal 13 bagian terang bulan Badra tahun 1279 Ç Sang Prabu Maharaja Sunda gugur di Bubat di negeri Majapahit. Saat itu Sang Prabu Maharaja bermaksud menikahkan putrinya yaitu Sang Retna Citraresmi atau Dyah Pitaloka dengan Bre Prabu Majapahit yang bernama Sri Rajasanagara’.

    Tragedi Bubat dikisahkan dalam beberapa sumber, antara lain: Kidung Sunda; Kidung Sundayana; Carita Parahyangan; Kitab Pararaton ; dan Pustaka Nusantara.

    Seorang pakar Belanda bernama Prof Dr.C.C.Berg, menemukan beberapa versi Kidung Sunda, disinyalir disusun dengan menggunakan bahasa Jawa Pertengahan, berbentuk tembang (syair). Dua di antaranya pernah dibicarakan dan diterbitkannya, yaitu Kidung Sunda dan Kidung Sundayana (Perjalanan Urang Sunda) yang berasal dari Bali.

    Di Bali Kidung Sundayana di kenal dengan nama Geguritan Sunda. Mungkin karena Berg orang Belanda, dan pada masa lalu banyak menyebar luaskan kepada khalayak, maka masalah Bubat pernah disebut-sebut sebagai upaya Belanda untuk memecah belah Indonesia.

    Tapi dokumen lainpun selain Kidung Sundayanan atau Geguritan Sunda ditemukan pula, seperti dalam naskah Pararathon dan Pustaka Nusantara. Bahkan sekalipun hanya satu alinea, di dalam Carita Parahyangan pun di muat, sebagai berikut:

    . Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina.
    . Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit.

    Kidung Sunda atau Kidung Sundayana merupakan upaya dan niat baik Prabu Hayam Wuruk untuk menyesalkan masalah Bubat. Hayam Wuruk mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahannya.

    Melalui perantara Sang Darmadyaksa itu Hayam Wuruk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati, pada waktu itu menggantikan Raja Sunda. Pada kesempatan itu pula dijanjikan, bahwa: peristiwa Bubat akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana. Semua bertujuan agar dapat diambil hikmahnya.

    Hubungan Sunda dengan Majapahit

    Didalam Pustaka Nusantara II diterangkan bahwa permaisuri Darmasiksa adalah putri keturunan Sanggramawijayottunggawarman, penguasa Sriwijaya yang bertahta sejak tahun 1018 sampai dengan 1027 M. Dari perkawinannya lahir dua orang putra, yakni Rakeyan Jayagiri atau Rakeyan Jayadarma dan Sang Ragasuci atau Rakeyan Saunggalah, dikenal pula dengan sebutan Sang Lumahing Taman.

    Rakeyan Jayadarma dinikahkan dengan putri Mahisa Campaka dari Tumapel Jawa Timur, bernama Dyah Lembu Tal, sedangkan putranya yang kedua, yakni Ragasuci dijodohkan dengan Dara Puspa, putri Trailpkyaraja Maulibusanawar-madewa, dari Melayu. Dara Kencana, kakak dari Dara Puspita diperistri oleh Kertanegara. Dari posisi campuran perkawinan pada waktu itu sunda dapat memposisikan diri sebagai pelaku penengah pada setiap terjadi perselisihan antara Sumatra dan Jawa Timur.

    Hubungan kekerabatan Sunda dengan Majapahir dimuat pula dalam naskah lain. Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3: Rakeyan Jayadarma, putra Prabu Dharmasiksa Raja Sunda, adalah menantu Mahisa Campaka dari Jawa Timur.

    Rakeyan Jayadarma berjodoh dengan putrinya Mahisa Campaka yang bernama Dyah Singamurti alias Dyah Lembu Tal. Mahisa Campaka adalah anak dari Mahisa Wong Teleng, yang merupakan anak dari Ken Angrok, raja Singosari dari Ken Dedes.

    Dari pernikahan Rakeyan Jayadarma dengan Dyah Lembu Tal di Pakuan, memiliki putra yang bernama Sang Nararya Sanggramawijaya atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya. Dengan demikian Raden Wijaya adalah turunan ke 4 dari Ken Angrok dan Ken Dedes.

    Dikarenakan Jayadarma wafat dalam usia muda, Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya Wijaya dan ibunya diantarkan ke Jawa Timur. Raden Wijaya setelah dewasa menjadi senapati Singasari, pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara, hingga pada suatu ketika ia mampu mendirikan negara Majapahit.

    Raden Wijaya didalam Babad Tanah Jawi dikenal juga dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran, karena ia lahir di Pakuan.

    Dari alur kesejarahan tersebut, Raden Wijaya di Sunda dikenal juga sebagai Cucu dari Prabu Darmasiksa, Raja sunda yang ke-25, ayah Rakeyan Jayadarma. Dalam Pustaka Nusantara III dikisahkan pula, bahwa: Darmasiksa masih menyaksikan Raden Wijaya, cucunya mengalahkan Jayakatwang, raja Singasari.

    Kemudian dengan taktis ia mampu menyergap dan mengusir Pasukan Kubilai Khan dari Jawa Timur. Empat hari pasca pengusiran pasukan Cina, atau pada 1293 M, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Wilwatika dengan gelar Kertarajasa Jayawardana.

    Memang, ketika masa Raden Wijaya, hubugan Sunda dengan Majapahit sangat baik dan tanpa percekcokan. Hubungan Darmasiksa dengan Raden Wijaya ditulis pula dalam Pustaka Nusantara III, tentang pemberian nasehat Darmasiksa kepada Raden Wijaya, cucunya. Ketika itu Raden Wijaya berkunjung ke Pakuan dan mempersembahkan hadiah kepada kakeknya. Nasehat tersebut, sebagai berikut:

    Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlahanyang ngku wus angemasi. Hetunya nagaramu wus agheng jaya santosa wruh ngawang kottaman ri puyut katisayan mwang jayacatrum, ngke pinaka mahaprabu. Ika hana ta daksina sakeng Hyang Tunggal mwang dumadi seratanya.

    (Janganlah hendaknya kamu mengganggu, menyerang dan merebut Bumi Sunda karena telah diwariskan kepada Saudaramu bila kelak aku telah tiada. Sekalipun negaramu telah menjadi besar dan jaya serta sentosa, aku maklum akan keutamaan, keluar biasaan dan keperkasaan mu kelak sebagai raja besar. Ini adalah anugrah dari Yang Maha Esa dan menjadi suratanNya.)

    Ikang Sayogyanya rajya Jawa lawan rajya Sunda paraspasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawati rajya sowangsowang. Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duh kantara, wilwatika sakopayana maweh carana ; mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatika.

    (Sudah selayaknya kerajaan Jawa dengan kerajaan Sunda saling membantu, bekerjasama dan saling mengasihi antara anggota keluarga. Karena itu janganlah beselisih dalam memerintah kerajaan masing-masing. Bila demikian akan menjadi keselamatan dankebahagiaan yang sempurna. Bila kerajaan Sunda mendapat kesusahan, Majapahit hendaknya berupaya sungguh-sungguh memberikan bantuan ; demikian pula halnya Kerajaan Sunda kepada Majapahit).

    Rencana pernikahan Prabu Hayam Wuruk

    Peristiwa Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk untuk mempersunting putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit yang dilukis secara diam-diam oleh Sungging Prabangkara, seniman lukis pada masa itu. Dyah Pitaloka di gambar secara diam-diam atas perintah keluarga keraton, bertujuan untuk mengetahui paras Sang Putri.

    Alasan yang mungkin dapat masuk akal dipaparkan oleh penulis sejarah Pajajaran, yakni Saleh Danasasmita dan penulis naskah Perang Bubat, yakni Yoseph Iskandar. Kedua akhli sejarah ini menyebutkan, bahwa niat pernikahan itu untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda.

    Urang Sunda masih merasa saudara dengan urang Majapahit, karena Raden Wijaya yang menjadi pendiri Majapahit, dianggap masih keturunan Sunda. Pernikahan demikian dianggap wajar di masa lalu, sama seperti yang dilakukan raja-raja sebelumnya. Seperti hubungan Galuh dengan Kalingga dijaman Wretikandayun, yang menikahkan Mandiminyak, putranya dengan Parwati, Putri Ratu Sima.

    Niat Prabu Hayam Wuruk untuk memperistri Dyah Pitaloka telah direstui keluarga kerajaan, sehingga tak lagi ada masalah dengan status kedua kerajaan, kecuali untuk melangsungkan pernikahan. Selanjutnya Hayam Wuruk mengirim surat lamaran kepada Maharaja Linggabuana dan menawarkan agar upacara pernikahan dilakukan di Majapahit.

    Tawaran Majapahit tentunya masih dipertimbangkan, terutama oleh Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Pertama, masalah lokasi atau tempat pernikahan. Pada waktu itu adat di Nusantara menganggap tidak lazim jika pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki.

    Kedua, diduga alasan ini merupakan jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, di antaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara. Namun Prabu Linggabuana hanya melihat adanya rasa persaudaraan dari garis leluhurnya, sehingga ia memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit. Rombongan kerajaan Sunda kemudian berangkat ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

    Kegamangan Prabu Hayam Wuruk

    Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain dari Mahapatih Gajah Mada yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda. Niat Gajah Mada ini untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut. Karena dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan sundalah yang belum dikuasai Majapahit.

    Dengan maksud tersebut dibuatlah alasan oleh Gajah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta.

    Rencana tersebut di sampaikan kepada Prabu Hayam Wuruk, Gajah Mada pun mendesaknya untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda. Selain diharapkan pula agar sunda mau mengakui mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara.

    Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana menjadi bimbang. Ia terjebak dalam dilema, antara cinta dan perlunya mentaati saran Gajah Mada. Disisi lain, Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

    Perang Bubat Vérsi Kidung Sunda

    Nyaéta hiji karya sastra dina basa Jawa Tengahan dina wanda dangding (wawacan?) nu sigana asalna ti Bali. Dangding ieu nyaritakeun kajadian Perang Bubat nu dimimitian ku Prabu Hayam Wuruk ti Majapahit nu keur néang pigarwaeun. Lajeng anjeunna miharep putri karajaan Sunda (dina naskah ieu teu disebutkeun ngaranna), ngan kahayang ieu bantrok jeung kapengkuhan patih Gajah Mada nu nganggap urang Sunda kudu nurut kana kahayang Majapahit. Balukarna, di palabuhan Bubat (tempat balabuhna rombongan ti Sunda) lumangsung perang campuh bébéakan nepi ka ampir sadaya rombongan Sunda gugur, kaasup putri Sunda nu nelasan manéh. Di handap ieu didadarkeun tingkesan eusi Kidung Sunda, dibagi dumasar babagian pupuhna.

    Pupuh I

    Hayam Wuruk, raja Majapahit hayang nyiar pibojoeun. Lajeng anjeunna ngirimkeun utusan ka sakuliah Nusantara pikeun néangan putri nu cocog. Para utusan mulang bari marawa lukisan para putri ti rupa-rupa nagara, ngan taya nu bisa ngirut atina. Lajeng Hayam Wuruk ngadéngé béja kegeulisan putri Sunda, geuwat baé anjeunna ngirim juru lukis ka Sunda. Nalika juru lukis balik deui bari mawa lukisan putri Sunda, kabeneran harita keur aya pamanna raja Kahuripan jeung Daha nu miharep sangkan Hayam Wuruk geura meunang jodo. Hayam Wuruk nu kataji ku lukisan putri Sunda, lajeng anjeunna ngutus mantri Madhu pikeun ngalamar ka karajaan Sunda.

    (Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang pinisepuh prabu Hayam Wuruk, yaitu raja Kahuripan (Ibunda Hayam Wuruk, yakni Bhre Kahuripan: Tribhuwana Tunggadewi) dan raja Daha (adik kandung Tribhuwana Tunggadewi, yakni Bhre Daha Rajadewi Maharajasa) berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah. Maka Sri Baginda Hayam Wuruk tertarik dengan lukisan putri Sunda. Kemudian prabu Hayam Wuruk menyuruh Madhu, seorang mantri ke tanah Sunda untuk melamarnya.)

    Cacatan: Penulis Kidung Sunda tidak mengetahui bahwa raja Kahuripan dan raja Daha itu adalah seorang wanita, yang dalam Kidung Sunda disebutkabeneran harita keur aya pamanna (?) raja Kahuripan jeung Daha, yang pasti keduanya bukan paman Hayam Wuruk, melainkan Ibunda Hayam Wuruk, yakni Bhre Kahuripan: Tribhuwana Tunggadewi dan raja Daha adik kandung Tribhuwana Tunggarewi, yakni Bhre Daha Rajadewi Maharajasa, berarti bibinya.

    Madhu nepi ka tatar Sunda sanggeus lalayaran salila genep poé, terus baé nepungan raja Sunda. Raja Sunda gumbira nampa lamaran ti raja Majapahit nu kawentar ieu, sedengkeun Putri Sundana pribadi teu loba catur.

    (Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam hari kemudian menghadap raja Sunda. Sang raja senang, putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak menanggapi.)

    Madhu mulang ka Majapahit bari mawa surat balesan ti raja Sunda sarta ngibérkeun rék datangna rombongan ti Sunda. Teu lila ti harita rombongan karajaan Sunda angkat diiring ku rombongan nu loba pisan: dua réwu kapal kaasup kapal laleutik.
    Kapal nu dianggo ku kulawarga raja Sunda nyaéta “kapal jung Tatar nu ilahar dipaké satutasna perang Wijaya”. Ngan nalika naraék kapal, aranjeunna ningal kila-kila nu teu pihadéeun.

    (Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil.

    Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “Jung Tatar (maksudnya Tartar Mongol/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya”).

    Majapahit sorangan sibuk nyiapkeun sambutan pikeun para tamu. Sapuluh poé ti harita, kapala désa Bubat ngalaporkeun geus datangna rombongan Sunda. Prabu Hayam Wuruk jeung paman-pamanna geus saged rék ngabagéakeun nu datang, tapi patih Gajah Mada teu panuju. Anjeunna keukeuh nyebutkeun yén Maharaja Majapahit teu pantes ngabagéakeun/nyambut raja nu statusna raja lokal (vazal) kawas raja Sunda, malah saha nu nyaho yén anjeunna téh musuh nu nyamar.

    (Sementara di Majapahit sendiri mereka sibuk mempersiapkan kedatangan para tamu. Maka sepuluh hari kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka. Tetapi patih Gajah Mada tidak setuju. Ia berkata bahwa tidaklah seyogyanya seorang maharaja Majapahit menyongsong seorang raja berstatus raja vazal seperti Raja Sunda. Siapa tahu dia seorang musuh yang menyamar.)

    Mangka, nurutkeun pamanggih Gajah Mada, Prabu Hayam Wuruk teu jadi indit ka Bubat. Para abdi dalem karaton jeung pangagung séjénna kagét ngadéngé hal ieu, tapi maranéhna teu wani ngabantah.

    (Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan.)

    Kegagalan Diplomatik

    Di Bubat, rombongan Sunda hawar-hawar geus ngadéngé iber ngeunaan kaayaan di Majapahit. Lajeng raja Sunda ngirimkeun utusan, patih Anepakén, indit ka Majapahit. Anjeunna angkat dibarengan ku tilu pangagung séjénna sarta tilu ratus prajurit, langsung ka palinggihan Gajah Mada. Di dinya patih Anepakén sasanggeman yén Raja Sunda rék mulang sarta nyangka yén Hayam Wuruk ingkar jangji. Aranjeunna paséa rongkah sabab Gajah Mada keukeuh mikahayang urang Sunda lumaku sakumaha patalukan Nusantara Majapahit. Di kapatihan éta ampir bantrok, ngan kaburu dipisah ku Smaranata, pandita karajaan Majapahit. Mangka utusan Sunda marulang deui kalawan ngémbarkeun yén kaputusan ahir raja Sunda bakal ditepikeun dina jangka dua poé.

    (Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn untuk pergi ke Majapahit. Ia disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah patih Gajah Mada.

    Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira prabu Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah utusan raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari.)

    Kemarahan utusan sunda dikisahkan dalam Kidung Sunda, sebagai berikut :

    Bahasa Jawa Pertengahan (BJP): “Ih angapa, Gajah Mada, agung wuwusmu i kami, ngong iki mangkw angaturana sira sang rajaputri, adulurana bakti, mangkana rakwa karěpmu, pada lan Nusantara dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring yuda.

    Bahasa Sunda (BS): “Hé Gajah Mada, naon maksudna anjeun gedé bacot ka kami? Kami mah rék mawa Rajaputri, sedeng anjeun kalah miharep kami mawa upeti kawas ti Nusantara. Kami mah béda. Kami urang Sunda, can kungsi éléh perang.

    (BJP): “Abasa lali po kita nguni duk kita aněkani jurit, amrang pradesa ring gunung, ěnti ramening yuda, wong Sunda kagingsir, wong Jipang amburu, praptâpatih Sunda apulih, rusak wadwamu gingsir.

    (BS): “Kawas nu poho baé sia baheula, nalika anjeung keur perang di wewengkon pagunungan. Perang campuh diuudag urang Jipang. Terus patih Sunda datang deui sahingga pasukan dia mundur.

    (BJP): “Mantrimu kalih tinigas anama Lěs Beleteng angěmasi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang, amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan pating burěngik, padâmalakw ing urip.

    (BS): “Mantri sia nu dua nu ngaranna Les jeung Beleteng dikadék nepi ka paéh. Pasukan sia bubar jeung kalabur. Aya nu labuh ka jurang sarta ti kakarait kana cucuk rungkang. Maranéhna paéh kawas lutung, owa, jeung setan, lalumengis ménta hirup.

    (BJP): “Mangke agung kokohanmu, uwabmu lwir ntuting gasir, kaya purisya tinilar ing asu, mengkene kaharěpta, tan pracura juti, ndi sasana tinutmu gurwaning dustârusuh, dadi angapusi sang sadubudi, patitânêng niraya atmamu těmbe yen antu.

    (BS): “Ayeuna sia gedé sungut. Bau sungut sia kawas kasir, kawas tai anjing. Ayeuna kahayang sia teu sopan sarta hianat. Nuturkeun ajaran naon salian ti hayang jadi guru nu ngabohong jeung milampah rucah. Nipu jalma budi hadé. Mun paéh, roh sia bakal asup naraka!

    Ngadangu émbaran ieu, raja Sunda teu sudi lumaku salaku patalukan. Lajeng anjeunna sasanggeman mutuskeun yén leuwih hadé gugur salaku satria. Demi méla kahormatan, leuwih hadé gugur batan hirup bari dihina urang Majapahit. Sadaya pangagung katut rombongan Sunda tumut kana kaputusan ieu sarta milu béla ka rajana.

    (Sementara raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia berlaku seperti layaknya seorang vazal. Maka beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya.)

    Lajeng raja Sunda nepungan istri katut putrana, anjeunna nyaritakeun niatna lajeng miwarang kulawargana mulang, tapi aranjeunna nolak kalawan keukeuh rék ngabaturan rajana.

    (Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja.)

    ånå toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur nuwun Ki Bayu,
      ngrantos dumugi wonten toetoege.

    • Matur sembah nuwun Ki Bayuaji, kulo tenggo dongeng lajengipun.

  2. Matur Nuwun Ki Bayuaji…
    Samsoyo tambah kawruh kulo bab kraton-krtaton ing nagari kito jaman kepengker…
    Nyuwun sewu Mbok bilih wonten kulo nyuwun bab peralihan kraton majapahit dumatheng demak bintoro..
    Matur suwun sak dernge…

  3. sugeng sonten, menjelang magrib

  4. Sugeng dalu bakda nonton balapan montor pit.

    • 😦 jaguku kalah

      • 😦 jaluku kalah

        • 😦 jamuku kalah

          • 😳 jambuku kaleh

  5. Mohon maaf
    karena berbagai macam hal, nssi versi teks hari ini belum bisa diunggah di serialshmintarja
    insya Allah besok versi djvu tetap bisa diunggah

  6. Sugeng Enjang.

  7. Wah matur nuwun Ki Bayuaji.
    Tambah lagi wawasan saya.

  8. selamat PAGI kadang NSsi,

    matur nuwun djVU-ne pak Satpam….tetep semangaT

  9. selamat siang

  10. kula nuwun

  11. Sugeng dalu.

  12. Wilujêng énjing

  13. Wilujêng énjing

  14. P. Satpam

    Saya kirim cover nssi 29, mungkin bisa dimanfaatkan.
    Monggo.

    Truno Prenjak

    • matur nuwun ki Truno Prenjak….terima kasih

      • nderek…matur nuwun ki Truno Prenjak….terima kasih

    • matur suwun Ki Truno
      wah…, jan…..
      apa lho Ki Truno ini yang tidak punya
      dimintai apa saja kok ya punya lho…
      he he he ….
      sekali lagi, matur suwun..

      • kulo nitip panuwunan : kenyo endah maneko warno

  15. Nuwun
    Sugêng siyang

    Om nathaya namostute stuti ning atpada ri pada bhatara nityasa

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Waosan sebelumnya:
    Waosan kaping-35; Perang Bubat [Bagian 3] On 3 Juli 2011 at 07:08 NSSI 27

    Waosan kaping 36:
    PERANG BUBAT [Parwa ka-4]

    Peristiwa Bubat

    Cacatan: Penyebutan yang berkenaan dengan Bubat, para arkeolog dan sejarahwan mempunyai pendapat yang tidak sama, tergantung dari sudut mana sang arkeolog memandangnya, boleh jadi “suasana hati” sang sejarahwan ikut mempengaruhinya.

    Arkeolog yang satu akan menyebutnya dengan “Peristiwa Bubat”, arkeolog yang lain dengan ”Tragedi Bubat”; ada juga beberapa sejarahwan menyebutnya dengan “Perang Bubat”, bahkan ada yang menyebutnya “Pembantaian Bubat”.

    Linggabuana dalam Peristiwa Bubat

    Dalam menjalankan roda pemerintahan kerajaan Sunda, Linggabuana dibantu oleh adiknya Sang Bunisora yang lebih terkenal dengan sebutan Mangkubumi Suradipati. Pada masa pemerintahan Lingabuana di Kawali, datang seorang utusan dari Kerajaan Majapahit dengan tujuan untuk melamar putri Sunda Dyah Pitaloka Citraresmi. Keterangan mengenai pelamaran ini tertulis dalam kitab Pararaton, sebagai berikut:

    bre prabhu ayun ing putrid ring sunda. patih madu ingutus angundangeng wong sunda.

    [Sri Prabu (Hayam Wuruk) ingin memperistri putri dari Sunda. Patih Madu diutus mengundang orang Sunda.]

    Ada beberapa alasan penafsiran kenapa raja Prabu Hanyam Wuruk menginginkan istri Putri Sunda:

    1. Mengingat kekerabatan Sunda-Majapahit sudah terjalin dengan baik sejak lama, karena pendiri Majaphit, yaitu Raden Wijaya (Kretarajasa Jayawardana) adalah cucu Prabu Guru Darmasiksa (Maharaja Sunda); suatu yang wajar apabila Prabu Hayam Wuruk bermaksud mempererat kembali kekerabatan Sunda-Majapahit, seperti yang terjadi pada leluhur Majapahit.

    2. Karena kekerabatan Majapahit-Sunda begitu dekat, maka kabar tentang putri Citraresmi yang sangat cantik, sehingga di juluki wajra (permata), telah menarik hati Prabu Hayam Wuruk yang masih sendiri.

    Lamaran Raja Majapahit ini tidak begitu saja diterima oleh Prabu Linggabuana, Linggabuana akhirnya berunding dengan kerabat keraton, termasuk dengan Bunisora. Setelah menimbang secara matang-matang akhirnya Linggabuana menerima lamaran Prabu Hayam Wuruk, yang disampaikan oleh patih Madu sebagai utusan kerajaan Majapahit.

    Prabu Linggabuana, selain menerima lamaran Hayam Wuruk, dia juga menerima permintaan untuk mengadakan upacara perkawinan di Kerajaan Majaphit.

    Ada beberapa alasan mengapa Prabu Maharaja Linggabuana menerima lamaran dan usulan upacara perkawinan di adakan di Kerajaan Majaphit;

    1. Mengingat kekerabatan Sunda- Majapahit.
    2. Merupakan bentuk penghormatan kepada Majapahit, mengingat Majapahit sedang dalam puncak kejayaanya.

    Sebagai seorang Raja Linggabuana tentunya akan memiliki kebanggan tersendiri apabila putrinya diperistri oleh raja Majapahit. Kebanggaan Linggabuana ini tidak mengesampingkan dari kemerdekaan atau kedaulatan kerajaan Sunda.

    Berikut adalah petikan dari Pararaton yang menyatakan kedatangan Raja Sunda ke Majapahit.

    teka ratu sunda maring majapahit, sang ratu maharaja tan pangaturaken putri. wong sunda kudu awaramena tingkahing jurungen. sira patihing majapahit tan payun yen wiwahanen reh sira rajaputri makaturatura.

    [Lalu Raja Sunda datang di Majapahit. Sang Ratu Maharaja tidak bersedia mempersembahkan putri. Orang Sunda harus meniadakan selamatan (jangan mengharapkan adanya upacara pesta perkawinan) kata sang utusan. Sang patih Majapahit (Gajah Mada) tidak menghendaki pernikahan (resmi), sebab ia menganggap rajaputri (Citraresmi) sebagai upeti.]

    Sikap yang diperlihatkan oleh Gajah Mada seperti ini, memang kalau dipandang dari segi politik dan pribadi dapat di maklumi. Karena pada zaman itu antara pengaruh dan kekuasaan, demi kejayaan pribadi dan Negara merupakan hal yang mutlak harus diperjuangkan.

    Pertempuran atau perang merupakan salah satu jalan yang digunakan untuk memperoleh kekuasaan. Kerajaan Majapahit dibawah Pemerintahan Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada pada masa itu memang sedang-sedang gencar-gencarnya meluaskan kekuasaan di nusantara.

    Maka salah satu jalan yang dilakukan Majapahit dibawah Gajah Mada adalah dengan memaksa Sunda untuk takluk, hingga terjadinya peristiwa Bubat.

    Menurut Pararaton, pada tahun 1357 M peristiwa yang dikenal sebagai Pasunda-Bubat, suatu pertikaian politik antara kerajaan Majapahit dan Sunda. Peristiwa ini juga terkenal dalam Cerita Parahyangan, yang menyebutkan:

    Manak deui prebu maharaja. Lawasniya ratu tujuh tahun. Kena kabawa ku kalawiyasa, kabancana ku seuweu dimanten, ngaran tohan. Mu(n)dut agung dipipanumbasna. Urang reya sa(ng)kan nu angkat ka Jawa, mumul nu lakian di Sunda pan prangprang di Majapahit.

    [Punya anak, Prabu Maharaja, lamanya menjadi raja tujuh tahun, lantaran terkena bencana, terbawa celaka oleh anaknya yang bernama Tohaan, meminta terlalu besar saratnya. Bermula banyak orang yang pergi ke Jawa, karena tidak bersuami di Sunda. Terjadilah perang di Majapahit.]

    Dari Cerita Parahyangan itu jelas bahwa yang memerintah ketika itu adalah Prabu Maharaja, dan karena ia dikatakan berkuasa selama tujuh tahun, dapat diperkirakan bahwa ia mulai menjadi raja pada tahun 1350 M, pada tahun yang sama dengan naik tahtanya Hayam Wuruk di Majapahit. Dengan gugurnya sang Prabu Maharaja di Bubat, bukan berarti Suda tidak mempunyai raja lagi.

    Cerita Parahyangan memberitakan bahwa sang raja masih memiliki seorang anak yang terkenal, bernama Niskala Wastu Kencana. Tokoh inilah yang juga dikenal pada prasasti Kawali, Kabantenan, dan Batutulis, walaupun dengan nama yang berbeda.

    Peristiwa Bubat ini merupakan salah satu bentuk realisasi dari Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, Sang Maha Patih Gajah Mada. Seperti yang dikisahkan dalam Pararaton tersirat secara pribadi patih Gajah Mada yang “tidak menghendaki pernikahan resmi” dan menganggap Citraresmi “sebagai upeti”, sebenarnya merupakan alasan pribadi dikemas dalam diplomasi kenegaraan, dan diplomasi “pernikahan upeti” pun gagal.

    Demikianlah kegagalan diplomatik itu yang menyebabkan peristiwa Bubat. Masalahnya semakin meruncing ketika Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut. Wajar jika Hayam Wuruk merasa ragu, karena Gajah Mada adalah Mahapatih yang paling diandalkannya.

    Sebelum Prabu Hayam Wuruk memberikan putusan, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukan (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat. Lantas ia pun mengancam Linggabuana untuk mengakui keunggulan Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu.

    Peristiwa dan dialog tersebut digambarkan, sebagai berikut :

    […], yan kitâwĕdîng pati, lah age marĕka, i jĕng sri naranata, aturana jiwa bakti, wangining sĕmbah, sira sang nataputri.

    […], jika engkau takut mati, datanglah segera menghadap Sri Baginda Hayam Wuruk dan haturkan bukti kesetianmu, keharuman sembahmu dengan menghaturkan beliau sang Tuan Putri.

    wahu karungu denira sri narendra, bangun runtik ing ati, ah kita potusan, warahĕn tuhanira, nora ngong marĕka malih, angatĕrana, iki sang rajaputri.

    [Maka ini terdengar oleh Sri Raja (Sunda) dan beliau menjadi murka: “Wahai kalian para duta! Laporkan kepada tuanmu bahwa kami tidak akan menghadap lagi menghantarkan Tuan Putri!”]

    mong kari sasisih bahune wong Sunda, rĕmpak kang kanan keri, norengsun ahulap, rinĕbateng paprangan, srĕngĕn si rakryan apatih, kaya siniwak, karnasula angapi

    [Meskipun orang-orang Sunda tinggal satu tangannya, atau hancur sebelah kanan dan kiri, tiada akan ‘silau’, meskipun mati di peperangan. Sang Mahapatih juga marah, seakan-akan dirobek-robek daun telinganya.]

    Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan yang sangat kecil, terdiri dari pengawal kerajaan (Balapati) dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu.

    Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda.

    Didalam pertempuran tersebut ada seorang perwira Sunda yang pura-pura mati. Setelah suasana agak reda lantas ia memberitahukan peristiwa terakhir itu kepada ratu dan putri Sunda di perkemahan.

    Selanjutnya ratu dan putri Sunda melakukan mati bela. Sedangkan istri para perwira Sunda menyongsong ke medan perang. Dihadapan jenazah suaminya merekapun melakukan bela-pati.

    Peristiwa ini diabadikan didalam Kidung Sunda, dengan Pupuh II (Durma), digambarkan :

    Pupuh II (Durma).

    Dua pihak geus sariaga. Utusan Majapahit dikirim ka pakémahan Sunda kalawan mawa surat nu eusina pasaratan ti Majapahit. Pihak Sunda nolak kalawan ambek sahingga perang moal bisa dicegah deui.

    [Maka semua sudah siap siaga. Utusan dikirim ke perkemahan orang Sunda dengan membawa surat yang berisikan syarat-syarat Majapahit. Orang Sunda pun menolaknya dengan marah dan perang tidak dapat dihindarkan.]

    Pasukan Majapahit disusun ku barisan prajurit biasa di hareup, terus tukangeunana para pangagung karaton, Gajah Mada, sarta Hayam Wuruk jeung dua pamanna pangtukangna.

    [Tentara Majapahit terdiri dari prajurit-prajurit biasa di depan, kemudian para pejabat keraton, Gajah Mada dan akhirnya prabu Hayam Wuruk dan kedua pamannya.]

    Perang campuh lumangsung, ngabalukarkeun loba pisan prajurit Majapahit nu tiwas, tapi tungtungna ampir sadaya pasukan Sunda tiwas digempur bébéakan ku pasukan Majapahit. Anepakén tiwas ku Gajah Mada, sedengkeun raja Sunda tiwas ditelasan ku bésanna sorangan, raja Kahuripan jeung Daha. Hiji-hijina nu salamet nyaéta Pitar, perwira Sunda nu pura-pura tiwas di antara pasoléngkrahna mayit prajurit Sunda. Lajeng anjeunna nepungan ratu jeung putri Sunda. Aranjeunna kalintang ngarasa sedih, lajeng nelasan manéh, sedengkeun para istri perwira Sunda arangkat ka médan perang lajeng narelasan manéh hareupeun mayit para salakina.

    [Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi akhirnya hampir semua orang Sunda dihabisi oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat prajurit Sunda. Kemudian ia lolos dan melaporkan keadaan kepada ratu dan putri Sunda. Mereka bersedih hati dan kemudian bunuh diri. Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan bunuh diri bersama di atas jenazah-jenazah suami mereka.]

    Peristiwa tersebut terjadi pada hari Selasa Wage sebelum tengah hari. Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara parwa II sarga 2 (Berita Nusantara II/2), selanjutnya menceritakan;

    //satuluynya cina-
    ritan ing trayodaci
    krsnapaksabadrama-
    ca/
    sahasra rwangatus pi-
    tung puluh punjul sanga/i-
    kang cakakala //
    sang pra-
    bhu maharaja sunda pe-
    jah ta sira haneng
    bubat i wilwatikta-
    nagara //
    irikang kala
    sang prabhu maharaja ka-
    hyun ngawarangaken ana-
    k ira ya ta sang retna ci-
    traresmi /
    athawa dyah pi-
    taloka lawan bhre
    prabhu wilwatikta cri
    rajasanagara ngaran ira /
    nihan ta mulatnya //

    [Selanjutnya dikisahkan, pada tanggal 13 bagian terang bulan Badra tahun 1279 Saka, Sang Prabhu Maharaja gugur di Bubat di Negara Majapahit. Saat itu sang Prabu Maharaja bermaksud menikahkan putrinya yaitu Sang Ratna Citraresmi atau Dyah Pitaloka dengan Bre Majapahit yang bernama Sri Rajasanagara. Demikianlah asal-mulanya]

    Pasca Peristiwa

    Berita Nusantara II/2 mengisahkan, Prabu Hayam Wuruk tiba bersama pengiringnya dan Gajah Mada di Bubat. Kemudian ia meneliti dan memperhatikan mayat orang-orang Sunda satu demi satu. Ketika matanya tertatap sesosok mayat, ia melihat Sang Putri telah terbujur kaku, maka sangatlah luka hatinya. Ia terisak menahan tangis. Kemudian semua mayat itu dimasukan kedalam peti mati dan diberi tulisan yang memuat nama masing-masing. Peristiwa ini dilukiskan dengan pilu didalam Kidung Sunda, sebagai berikut:

    Sireñanira tinañan, unggwani sang rajaputri, tinuduhakěn aneng made sira wontěn aguling, mara sri narapati, katěmu sira akukub, perěmas natar ijo, ingungkabakěn tumuli, kagyat sang nata dadi atěmah laywan.

    (Maka ditanyalah dayang-dayang di manakah gerangan tempat Tuan Putri. Diberilah tahu berada di tengah ia, tidur. Maka datanglah Sri Baginda, dan melihatnya tertutup kain berwarna hijau keemasan di atas tanah. Setelah dibuka, terkejutlah sang Prabu karena sudah meninggal.)

    Wěněsning muka angraras, netra duměling sadidik, kang lati angrawit katon, kengisning waja amanis, anrang rumning srigading, kadi anapa pukulun, ngke pangeran marěka, tinghal kamanda punyaningsun pukulun, mangke prapta angajawa.

    (Pucat mukanya mempesona, matanya sedikit membuka, bibirnya indah dilihat, gigi-giginya yang tak tertutup terlihat manis, seakan menyaingi keindahan sri gading. Seakan-akan ia menyapa: “Sri Paduka, datanglah ke mari. Lihatlah kekasihmu, berbakti, Sri Baginda, datang ke tanah Jawa.)

    Sang tan sah aneng swacita, ning rama rena inisti, marmaning parěng prapta kongang mangkw atěmah kayêki, yan si prapta kang wingi, bangiwen pangeraningsun, pilih kari agěsang, kawula mangke pinanggih, lah palalun, pangdaning Widy angawasa.

    (Yang senantiasa berada di pikiran ayah dan ibu, yang sangat mendambakannya, itulah alasannya mereka ikut datang. Sekarang jadinya malah seperti ini. Jika datang kemarin dulu, wahai Rajaku, mungkin hamba masih hidup dan sekarang dinikahkan. Aduh sungguh amat memilukan kuasa Hyang Widi.)

    Palar-palarěn ing jěmah, pangeran sida kapanggih, asisihan eng paturon, tan kalangan ing duskrěti, sida kâptining rawit, mwang rena kalih katuju, lwir mangkana panapanira sang uwus alalis, sang sinambrama lěnglěng amrati cita.

    (Mari kita harap wahai Raja, supaya berhasil menikah, berdampingan di atas ranjang tanpa dihalang-halangi niat buruk. Berhasillah kemauan bapak dan ibu, keduanya.” Seakan-akan begitulah ia yang telah tewas menyapanya. Sedangkan yang disapa menjadi bingung dan merana.)

    Sangsaya lara kagagat,
    pětěng rasanikang ati,
    kapati sira sang katong,
    kang tangis mangkin gumirih,
    lwir guruh ing katrini,
    matag paněděng ing santun,
    awor swaraning kumbang,
    tangising wong lanang istri,
    arěrěb-rěrěb pawraning gělung lukar.

    (Semakin lama semakin sakit rasa penderitaannya.
    Hatinya terasa gelap,
    beliau sang Raja semakin merana
    tangisnya semakin keras,
    bagaikan guruh di bulan ketiga,
    yang membuka kelopak bunga untuk mekar,
    bercampur dengan suara kumbang,
    begitulah tangis para pria dan wanita,
    rambut-rambut yang lepas terurai bagaikan kabut.
    )

    Prabu Hayam Wuruk keluar dari tenda Sang Putri. Dari kejauhan nampak berkibar dua panji, yakini panji kerajaan Majapahit dan Sunda. Ia pun menugaskan Sang Patih Gajah Mada untuk menyelenggarakan upacara kematian secara kebesaran esok harinya.

    Ketika semua jenazah dimandi-sucikan dan diperabukan, tampak ribuan penduduk dari daerah sekitarnya memenuhi lapangan, menyaksikan dengan penuh haru.

    Kelak di Sunda dibuat patung pribadi Sang Maharaja. Selanjutnya Hayam Wuruk memerintahkan para darmayaksa untuk menemui Bunsora dan mengirimkan surat untuk memimtakan maaf atas peristiwa Bubat. Hayam Wuruk berjanji pula, tidak akan pernah terjadi lagi Majapahit menyakiti hati Urang Sunda untuk yang kedua kalinya.

    ånå toétoégé
    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur suwun

      • nderek…matur suwun !

        • suwun…nderek matur

    • Sungguh memelas nasib Dyah Pitaloka dan keluarga, pergi jauh-jauh hanya untuk mengantarkan nyawa.

      Matur sembah nuwun Ki Bayuaji, kulo tenggo dongeng lajengipun.

  16. Matur nuwun Ki Bayu.
    Sugeng dalu

  17. Matur nuwun P. Satpam,sampun ngunduh jilid 27. Ora kroso kari kurang 2 jilid maneh.
    Sugeng dalu

  18. Nuwun. Sampurasun
    Wilujêng énjing. Sugêng énjang,

    Sanak kadang padépokan pélangisingosari & gs ingkang dahat sinu darsono ing budi. Salam kapihormat ka dulur sadayana nu di lêmbur.

    Sebelum rontal Surya Majapahit episode akhir Perang Bubat diwedar, perlu cantrik wanti-wanti kepada kita semua, bahwa masalah Peristiwa Bubat adalah masalah yang sangat sensitif, terutama bila menyangkut semangat persatuan dan kesatuan bangsa.

    Bubat merupakan nama tempat di Majapahit, yang selalu menimbulkan luka emosional.

    Banyak teori tentang Peristiwa Bubat ini. Para Arkeolog dan Sejarahwan punya argumen sendiri-sendiri yang mendukung temuannya, yang sudah pasti teori-teori itu dapat berbeda antara yang satu dan yang lain.

    Perbedaan-perbedaan tersebut dapat saling berseberangan bahkan dapat menimbulkan pertentangan.

    Atas perbedaan inilah diperlukan sikap yang dewasa, harus berusaha untuk tetap memegang teguh semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang tinggi, menjauhkan rasa emosional yang dapat menimbulkan kembali luka lama.

    Sifat kedaerahan yang sempit harus dikesampingkan, menimimalkan sifat etnosentrisme infleksibel, yakni harus mampu untuk keluar dari perspektif yang dimiliki atau harus bisa memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki orang lain dan mampu memahami perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budaya kedaerahan orang lain. Satu dan lain hal untuk menghindari subyektivitas yang berlebihan.

    Kepada sanak kadang padepokan pelangisingosari dan gs, kita berhendak juga untuk lebih mengkedepankan rasa persatuan dan kesatuan bangsa, yang rasa-rasanya semakin hari semakin redup. Semoga tidak.

    Mugia sadaya aya dina ginanjar kawilujêngan. Jåyå-jåyå wijayanti rahayu nir sambékålå.

    Rampès. Sumånggå

    cantrik bayuaji

  19. Kasinggihan Ki Bayuaji persatuan dan kesatuan harus tetap kita jaga. Kita tidak perlu menyalahkan nenek moyang kita atas apa yang pernah terjadi dimasa lalu.
    Tidak perlu kita pertentangkan.
    Yang paling bijak adalah mengambil hikmah dari peristiwa tersebut, tidak perlu kita urai dan kita tafsirkan siapa yang salah dan siapa yang benar.

    Sugeng enjang kadang sedoyo.

  20. haduuuuuuuuu banyak keinggalan niy😦 …. arya gmn ya? ditinggal lama?

    • ya….
      kelamaan gak hadir
      Arya sudah nikah sama Widuri

      • ah tenane?😦

  21. ehhh ‘t’ nya jd ketinggalan juga🙂

  22. wikikikiiii lutuuuuuuu bgt deh, ngebayangin prabasemi ‘ngewel’ wkt dipanggil sultan sementara karebet senyum2 …..

    ki shm lutuuuuu tenan, lbh lutu dari tukul n sule deh🙂

    • lha kok malah mandek nang kene….di tunggu kakek KARTO
      ning gandok sebelah.

    • xixixixi….,
      betul….
      lutuuuu….
      bangun tidur terus komen di gandok nssi-27
      sik kelingan kaman karebet
      padahal saiki wis jamane senopati

      hadu…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: