NSSI-28

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 6 Juli 2011 at 06:30  Comments (32)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-28/trackback/

RSS feed for comments on this post.

32 KomentarTinggalkan komentar

  1. wow……..
    pole position……
    🙂

    • the WinNer…. 🙂

  2. Sugeng enjang Ki Sanak,
    Selamat pagi semua……

    Wuaiiih…ternyata ruaamai, bahkan tambah buah karya baru dengan pengarang baru…selamat-selamat Ki Kompor…he he he

    • Wuaiiih…
      Ki Ismoyo rawuh….
      hadu….,
      pinarakke endi iki…, gak ana dingklike

  3. Nuwun
    Sugêng siyang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Waosan sebelumnya:
    Waosan kaping-36; Perang Bubat [Bagian 4] On 5 Juli 2011 at 11:32 NSSI 27

    Waosan kaping 37:
    PERANG BUBAT [Parwa ka-5]

    Tentang Prabu Hayam Wuruk dan Gajah Mada, memang ada kelanjutannya dalam Kidung Sunda, dalam Pupuh III (Sinom), dalam bahasa Sunda, sebagai berikut:

    Pupuh III (Sinom).

    Prabu Hayam Wuruk ngarasa hariwang nempo perang ieu. Anjeunna lajeng angkat ka pakémahan putri Sunda, sarta mendakan putri Sunda geus tiwas. Prabu Hayam Wuruk kacida nalangsa ku hayangna ngahiji jeung putri Sunda ieu.

    (Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan peperangan ini. Ia kemudian menuju ke pesanggaran putri Sunda. Tetapi putri Sunda sudah tewas. Maka prabu Hayam Wurukpun meratapinya ingin dipersatukan dengan putri Sunda idamannya ini.)

    Satutasna ti éta, dilaksanakeun upacara pikeun ngadungakeun para arwah. Teu lila ti kajadian ieu, Hayam Wuruk mangkat ku rasa nalangsa nu kacida.

    (Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah dilaksanakan. Tidak selang berapa lama, maka mangkatlah pula prabu Hayam Wuruk yang merana.)

    Sanggeus anjeunna dilebukeun sarta sadaya upacara geus réngsé, paman-pamanna ngayakeun sawala. Aranjeunna nyalahkeun Gajah Mada kana kajadian ieu, sarta mutuskeun rék néwak sarta nelasan Gajah Mada. Nalika aranjeunna datang ka kapatihan, Gajah Mada geus sadar yén wancina geus datang. Gajah Mada maké sagala upakara (kalengkepan) upacara lajeng milampah yoga samadi, sahingga anjeunna ngaleungit (moksa) ka (niskala).

    (Setelah beliau diperabukan dan semua upacara selesai, maka berundinglah kedua pamannya. Mereka menyalahkan Gajah Mada atas malapetaka ini. Maka mereka ingin menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian bergegaslah mereka datang ke kepatihan. Saat itu patih Gajah Mada sadar bahwa waktunya telah tiba. Maka beliau mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala).)

    Raja Kahuripan jeung Daha, nu sarupa jeung “Siwa jeung Buda”, mulang ka nagarana séwang-séwangan, sabab mun cicing di Majapahit teu weléh kasuat-suat ku kajadian ieu.

    (Maka raja Kahuripan dan raja Daha, yang mirip “Siwa dan Budha” berpulang ke negara mereka karena Majapahit mengingatkan mereka akan peristiwa memilukan yang terjadi.)

    Versi lainnya dimuat dalam Pustaka Nusantara II/2:

    Sakweh ing amtya, tanda senapati, wadyabala, kuwandha raja, dolaya manacitta mapan Bhre Prabhu wilwatika i sedeng gering ngenes, Marga nira gering, karena kahyun ira masteri lawan Dyah Pitaloka tan siddha.

    Akibat peristiwa Bubat itu Prabu Hayam Wuruk sakit lama karena menyesal. Keluarga Kerajaan Majapahit seperti ayah, ibu dan adik-adik Prabu Hayam Wuruk meyakini bahwa nama buruk Majapahit akibat peristiwa Bubat. Yang menyebabkan Sri Rajasanagara sakit parah itu adalah prakarsa Sang Mangkubumi Gajah Mada. Mereka memutuskan bahwa sang Mangkubumi harus ditangkap.

    Tetapi rencana tersebut dapat diketahui sehingga ketika pasukan Bhayangkara kerajaan datang di puri Gajah Mada, sang mangkubumi telah lolos tanpa seorang pun mengetahui tempat persembunyiannya. Baru beberapa tahun kemudian setelah Prabu Hayam Wuruk mempersunting puteri raja Wengker, Ratu Ayu Kusumadewi, ia memberi ampun kepada sang Mangkubumi dan mengundangnya untuk menempati jabatannya yang semua.

    Kemudian ada juga versi yang menjelaskan, bahwa akibat peristiwa Bubat ini hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (ada juga yang menyatakan moksa), pada tahun 1364 M.

    Keteguhan Janji

    Hayam Wuruk memang telah meminta maaf dan berjanji untuk tidak lagi menyerang Sunda. Sunda pun tidak berniat menyerang Majapahit. namun sebagai antispasi dan kewaspadaan, Mangkubumi Bunisora masih belum merasa yakin atas janji yang disampaikan Hayam Wuruk. Ia tidak mau terjadi lagi peristiwa seperti Bubat.

    Sebagai bentuk kewaspadaan, mereka menyiagakan angkatan perang dan armada lautnya. Armada Sunda ditempatkan di perairan tungtung (tungtung, dalam bahasa Sunda, yang berarti ujung wilayah atau perbatasan) Sunda, yaitu di Cipamali (sekarang kali Brebes) yang menjadi perbatasan Sunda dengan Majapahit. Dan Hayam Wuruk menepati janjinya tidak menyerang Sunda untuk yang kedua kalinya.

    Tentang janji ini dibuktikan pula, ketika Prabu Hayam Wuruk hendak melakukan ekspedisi ke Palembang, ia terlebih dahulu memberi kabar kepada Hyang Bunisora bahwa kapal-kapal Majapahit akan melewati perairan Sunda.

    Pentaatan Raja-raja Sunda terhadap perjanjian ini juga diwariskan sampai pada jaman Pajajaran. Ketika itu Majapahit semasa dipimpin Prabu Kertabumi atau Brawijaya V, pada tahun 1478 kalah perang dari Demak dan Girindrawardana, banyak keluarga keraton Majapahit mengungsi ketimur: Panarukan, Pasuruan, Blambangan dan Supit Udang.

    Gelombang pengungsian ada juga yang menuju ke barat, ke daerah Galuh dan Kawali. Rombongan yang terkahir ini dipimpin oleh Raden Baribin, mereka disambut dengan senang hati oleh Dewa Niskala.

    Sampai akhirnya, Majapahit berkuasa kurang lebih 200 tahun, dan tidak ditemukan adanya kropak sejarah atau catatan sejarah lainnya, apakah Majapahit pernah menguasai Sunda. Demikian pula Sunda, tidak pernah diketahui pernah atau tidak melakukan ekspansi ke Majapahit.

    Sunda pasca-Bubat

    Peristiwa Bubat, bukan hanya meninggalkan kesedihan mendalam. Dengan demikian, sampai sekarang, di Jawa Barat tidak dijumpai nama jalan yang menggunakan nama Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

    Tetapi hal ini perlu dilakukan kajian yang obyektif kebenarannya, dan sejauh mana pengaruhnya.

    Tetapi yang pasti akibat peristiwa Bubat, Kerajaan Sunda Galuh sempat mengalami kekosongan pimpinan. Calon penggantinya tidak bisa segera naik tahta.

    Ketika terjadi peristiwa Bubat, Prabu Wastu yang lebih dikenal dengan Wastukancana baru berusia sekitar sembilan tahun. Sebelum dianggap cukup umur dan cakap memimpin, selama hampir sembilan tahun ia berada di bawah asuhan pamannya, patih Bunisora.

    Wastukancana dikenal sebagai raja yang bijak dan berumur panjang sampai 104 tahun. Enam prasasti yang terdapat di situs Astana Gede Kawali Ciamis merupakan mahakarya peninggalan beliau.

    Beliau wafat di tahun 1475, dan digantikan oleh dua orang putranya yang masing-masing berasal dari dua permaisuri. Wilayah Kerajaan Sunda yang meliputi Jawa Barat (kini termasuk Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta) dan sebagian wilayah Provinsi Jawa Tengah akhirnya dibagi dua.

    Dongeng tentang Kawali dapat dilihat di Gandhok Dongeng Arkeologi & Antropologi, Seri Magawe Rahayu Magawe Kerta — Bagian ke-I Kawali I sd ke-IV Kawali IV —

    Sang Haliwungan dinobatkan menjadi Raja Sunda dengan gelar Prabu Susuktunggal. Saudara tirinya, Ningrat Kancana dinobatkan menjadi penguasa Galuh dengan gelar Prabu Dewa Niskala. Kedua wilayah kerajaan dibatasi Sungai Citarum.

    Tetapi di tengah perjalanan, Dewa Niskala harus turun tahta karena melakukan dua kesalahan. ngarumpak larangan dengan cara menikahi seorang rara hulanjar dan istri larangan, yang dalam Carita Parahyangan dinamakan “estri larangan ti kaluaran“. Wanita yang tidak boleh dinikahi.

    Masalah rara hulanjar sama halnya dengan aturan di Majapahit, yakni tidak boleh memperistri perempuan yang masih bertunangan, kecuali tunangannya telah meninggal dunia atau membatalkan pertunangannya.

    Sedangkan yang dimaksud istri larangan, yakni tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda — yang dimaksud adalah Majapahit –. Hal ini sangat erat hubungannya dengan akibat Peristiwa Bubat.

    Setelah peristiwa Bubat, ada ‘pamali’, Raja Sunda dan kerabatnya tabu menikah dengan kerabat dari Majapahit. Tetapi Dewa Niskala justru menikahkan putrinya, Ratna Ayu Kirana (adik Banyakcatra atau Kamandaka, bupati Galuh di Pasir Luhur dan Banyakngampar bupati Galuh di Dayeuh Luhur), dengan Raden Baribin, kerabat Kerajaan Majapahit yang mengungsi bersama rombongannya ke Galuh karena pergolakan politik di sana dengan jatuhnya Prabu Kertabhumi (Brawijaya V).

    Yang kedua, ia sendiri menikah dengan salah seorang gadis dalam rombongan tersebut. Gadis tersebut sudah bertunangan namun terpisah dengan kekasihnya.

    Akibatnya, Dewa Niskala digantikan putranya yang bernama Jayadewata, yang berhasil mempersatukan dua wilayah yang sebelumnya terpisah.

    Lewat perkawinannya dengan Kentring Manik Mayang Sunda, putri Prabu Susuktunggal dari Sunda, untuk kedua kalinya ia dinobatkan dengan gelar Sri Baduga Maharaja.

    Selanjutnya dapat dibaca pada Gandhok Dongeng Arkeologi & Antropologi, Seri Magawe Rahayu Magawe Kerta — Bagian ke-XIII — Prabu Siliwangi Mokşa? —

    Sri Baduga Maharaja memilih berkedudukan di Pakuan yang terletak di kota Bogor sekarang. Ia berhasil mengantarkan Kerajaan Sunda Pajajaran ke puncak kejayaanya. Dalam karya sastra, namanya sering diidentikkan dengan Prabu Siliwangi. Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu.

    Bubat, di mana letaknya?

    Ketika napak tilas peninggalan kerajaan Majapahit sampai ke pelosok-pelosok Trowulan, Bubat tak kunjung juga ditemukan. Padahal, Trowulan selama ini merupakan situs yang ditenggarai sebagai bekas ibu kota Kerajaan Majapahit, tempat Raja Hayam Wuruk bertahta dengan Mahapatih Gajah Mada.

    Tetapi uraian berikut di bawah ini, setidaknya memberikan penjelasan dugaan letak Bubat.

    Nāgarakṛtāgama Pupuh LXXXVI (86)

    1.
    akara rwang dina muwah ikang karyya kewwan narendra
    wwanten lor ning pura tegal anamang bubat kaprakasa
    sri-nathengken mara makahawan swana singhapadudwan
    sabhretyanoraken ideran atyadbhuta ng wwang manonton.

    [Dua hari kemudian berlangsung perayaan besar,
    Di utara kota terbentang lapangan bernama Bubat,
    Sering dikunjungi Baginda, naik tandu bersudut singa,
    Diarak abdi berjalan, membuat kagum tiap orang.]

    2.
    ndan tingkah ning bubat arahrarddharatatandes alwa
    madhyakrosakara nika n-amarwwanutug rajamargga
    madhyarddhikrosa keta pangalornya nutug pinggir ing lwah
    kedran de ning bhawana kuwu ning mantri sasok mapanta.

    [Bubat adalah lapangan luas tandus lebar dan rata,
    Membentang ke timur setengah krosa sampai jalan raya,
    Dan setengah krosa ke utara bertemu tebing sungai,
    Dikelilingi bangunan menteri di dalam kelompok.]

    Catatan:
    setengah krosa: krosa adalah ukuran panjang, namun tidak jelas berapa panjangnya bila dikonversi ke meter, konon berlari mengelilinginya, cukup membuat orang memeras berkeringat. Tetapi tidak dijelaskan pula berkelilingnya berapa kali, dan waktu berkelilingnya apakah di pagi hari (lari pagi), atau di siang hari saat terik matahari.

    Bubat merupakan nama tempat di Majapahit yang selalu menimbulkan luka emosional masyarakat Sunda. Peristiwa Bubat yang banyak disebut-sebut dalam naskah kuno Sunda.

    Pernah direncanakan akan diangkat menjadi tema cerita film Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Barat dan Jawa Timur. Tetapi yang menjadi pertanyaan, bisakah peristiwa itu mempertautkan budaya dua wilayah tersebut?

    Jika menoleh ke belakang, sejarah masa lalu yang akan dijadikan pertautan budaya kedua wilayah ini diwakili oleh Kerajaan Sunda Galuh dan Kerajaan Majapahit.

    Kedua kerajaan yang setara itu berusaha menjalin hubungan yang lebih erat lewat perkawinan. Tetapi setelah tiba di Bubat, kisah yang dialami rombongan Kerajaan Sunda justru berakhir dengan tragis.

    Rombongan yang dipimpin Prabu Linggabhuana itu bertujuan mengantarkan putri kesayangannya Dyah Pitaloka Sunda atau Dewi Citraresmi yang akan dijadikan permaisuri Hayam Wuruk. Namun karena kesalahpahaman, rombongan tersebut akhirnya habis tumpas karena perang yang tidak seimbang.

    Prabu Linggabhuana yang merasa direndahkan karena putri kesayangannya dianggap sebagai persembahan dari kerajaan bawahan, lebih memilih mempertahankan kehormatannya. Ia gugur bersama putri kesayangannya.

    Seluruh rombongan memilih belapati. Karena itu, peristiwa Bubat sering disebut perang Bubat.

    Walaupun Gajah Mada sudah mengeluarkan Sumpah Palapa, namun Majapahit tidak pernah meluaskan wilayahnya ke Sunda. Kedua kerajaan tersebut berdiri sejajar seperti sebelum peristiwa terjadi.

    Akan tetapi, tempat yang banyak disebut-sebut dalam naskah kuno Sunda itu sangat boleh jadi bukan terletak di Trowulan sebagaimana anggapan selama ini. Berdasarkan hasil foto udara dan ekskavasi situs tersebut menunjukkan, Trowulan, tempat yang ditenggarai menjadi pusat Kerajaan Majapahit itu memiliki banyak parit.

    Dengan demikian, secara logika, sulit dibayangkan bagaimana Prabu Hayam Wuruk datang ke lapang Bubat untuk menghadiri upacara keagamaan dan kenegaraan dengan mengendarai kereta yang ditarik enam ekor kuda sebagaimana diceritakan dalam naskah Negarakretagama.

    Namun, naskah yang berhasil diselamatkan saat terjadi Perang Lombok pada tahun 1894 itu, sayangnya tidak menyebutkan dimana letak Bubat.

    Hayam Wuruk adalah raja terbesar Majapahit. Ia merupakan raja keempat Majapahit yang berkuasa selama tiga puluh tahun, dari tahun 1350-1389. Pendiri kerajaan ini, Raden Wijaya berkuasa selama tujuh belas tahun (1292-1309) dimulai dengan mendirikan pemukiman di hutan Tarik yang letaknya dekat Mojokerto.

    Di tempat inilah ia dinobatkan dan sekaligus menjadikan Tarik menjadi pusat kekuasaannya. Raden Wijaya digantikan putranya, Jayanegara (1309-1328) dan kemudian digantikan putrinya Tribhuwanatunggadewi yang berkuasa selama 22 tahun (1328-1530).

    Walaupun selama Jayanagara dan Tribuwanatunggadewi berkuasa terjadi beberapa kali pemberontakan, namun ibu kota Tarik tidak jatuh ke tangan musuh. Dalam pandangan dan kepercayaan orang Jawa, Tarik merupakan kota bertuah. Karena itu tidak ada alasan memindahkan ibu kota kerajaan ke Trowulan.

    Akan halnya Bubat, diduga merupakan kota bandar yang terletak di sisi sungai besar yang letaknya tidak jauh dari Tarik. Dengan mengutip keterangan penduduk setempat dan keterangan yang diperoleh dari Kidung Sundayana (versi CC Berg) menyebutkan bahwa ketika rombongan Sang Prabu Linggabhuana dari Sunda hendak menuju ke Majapahit, kapal-kapal dari tatar Sunda melalui “kota bandar” yang terletak di sisi selatan sungai besar (Sungai Brantas) yang letaknya tidak jauh dari Tarik, sebelum dua percabangan, terletak yang palungnya membelok dari arah selatan ke utara, dan terus ke arah timur.

    Di tempat inilah kapal-kapal yang ditumpangi rombongan Prabu Linggabhuana berlabuh dan kemudian membangun perkemahan di atas tanah lapang yang biasa digunakan upacara kenegaraan dan keagamaan. Tanah lapang yang dimaksud itu adalah Lapangan Bubat.

    Masih menurut penduduk setempat, di bagian selatan sungai ini pernah ditemukan sisa-sisa bangunan dan bata kuno dalam jumlah cukup banyak yang berserakan di mana-mana. Tempat ini ditenggarai sebagai lokasi pusat ibu kota Majapahit.

    Di tempat ini pula terletak Dusun Medowo yang dalam naskah Negarakertagama disebut Madawapura. Oleh karena itu, jika ingin menemukan tinggalan peristiwa Bubat, penelitian harus ditujukan ke Tarik.

    Kisah Bubat tidak hanya dituliskan oleh sejarawan Belanda, melainkan juga oleh sejarawan lokal, seperti buku Kidung Sundayana, serta sejarah lisan yang diceritakan secara turun temurun.

    Kisah Bubat juga menciptakan beberapa mitos, seperti tentang hulanjar, larangan laki-laki keturunan keraton Galuh untuk menikahi dengan perempuan keluarga Majapahit, atau ketiadaan nama jalan yang sesuai dengan nama negara para pelaku sejarah. Namun mitos tersebut sedikit demi mulai luntur.

    Perkawinan antar suku (bahkan antar bangsa dan antar agama) dianggap hal yang wajar, masalah hulu lanjar pun secara moralitas masih dilarang jika tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku umum.

    Suatu kisah yang dikisahkan atau dari kepandaian penulis dalam memaparkan suatu peristiwa adakalanya mampu mengubah paradigma pembaca. Tak salah jika suatu buku dinyatakan sebagai sumber ilmu, karena ia mampu mengubah pemikiran para pembaca. Demikian pula tentang penulisan sejarah Tragedi Bubat, banyak versi yang berkembang.

    Dari yang benar-benar menceritakan latar belakang suatu peristiwa, maupun tulisan yang bersifat rekaan, karena tak ikhlas tokohnya ditempatkan sebagai tokoh ‘jahat’, termasuk untuk tujuan komersil, maka sangat bijaksana jika referensi buku dan kesejarahan yang dipelajari tidak cukup hanya dari satu sumber.

    Tragedi Bubat telah menciptakan motivasi bagi para penulis pasca proklamasi untuk menciptakan keutuhan negara sebagai suatu kesatuan wilayah Indonesia yang kuat, dan dijauhkan dari sifat sentimen kesukuan. Hal ini bisa terlaksana jika satu pihak tidak merasa mendominasi sejarahnya terhadap pihak lain.

    Upaya yang paling mengakar dilakukan pula ketika beberapa pihak menyatakan bahwa Tragedi Bubat itu tidak pernah ada, buku yang mengisahkan Tragedi Bubat, seperti Kidung Sundayana disinyalir diciptakan untuk memecah belah bangsa Indonesia, bahkan diduga ditulis oleh orang Belanda yang menginginkan terjadinya perpecahan dikalangan Bumi Putra.

    Pendapat dan penafsiran demikian mungkin perlu dikaji kembali, karena cepat atau lambat kebenaran tersebut akan terkuak. Sejarah tidak akan pernah dapat dihapuskan dan akan di uji sesuai kemampuan setiap generasi dalam mengungkap kesejatian sejarahnya.

    Tak perlu juga malu untuk mengungkapkan jika kupasan sejarah tersebut dibuat dalam koridor yang ada didalam bingkai ke Indonesiaan. Karena apapun masalahnya, Indonesia sebagai suatu bangsa telah memiliki perjalanan sejarahnya.

    Dari semua itu kita bisa bercermin, tentang mana yang baik dan perlu dilanjutkan dan mana yang buruk dan perlu ditinggalkan.

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Katur Ki Arema dalah Ki Panji Satria,

      Kami telah kirimkan via email, PETA LAPANGAN BUBAT (dugaan), dalam format Power Point, guna melengkapi wedaran seri Surya Majapahit episode Perang Bubat ini.

      Matur nuwun.

      cantrik bayuaji

      • sampun ki?

        • Matur nuwun,

          Sedang disiapkan Silsilah Raja-raja Singosari dan Majapahit, akan disusulkan kemudian.

          Sekali lagi matur nuwun.

    • Matur nuwun Ki Bayu,
      tulisan dan analisa Ki Beghawan memang bisa membawa imajinasi kita melanglang ke tlatah sejarah.
      Hebat…….!!!!!!!!

  4. mantaaaap

  5. Hadir…..sugeng dalu.

    • sugeng enjang….ANTRI

      • sugeng sonten….ANTRI lagi

        • sugeng dalu-dalu nylonong.

  6. he sugeng jgn ikut nyelonong, antri donkkkk 😛

  7. Sealamt Malem.
    Sugeng dalu

  8. Nuwun

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Waosan sebelumnya:
    Waosan kaping-37; Perang Bubat [Bagian 5] On 6 Juli 2011 at 10:01 NSSI 28

    Waosan kaping 38:
    PERANG BUBAT [Parwa ka-6.]

    Pada wedaran ini, cantrik mencoba menelisik dengan melakukan investigasi, melalui dan berdasarkan data, bukti sejarah dan cerita-cerita rakyat yang beredar di masyarakat, serta dari berbagai pendapat para sejarahwan.

    Cantrik selalu wanti-wanti kepada kita semua, bahwa pembahasan asalah Peristiwa Bubat harus penuh kehati-hatian, karena masalah yang sangat sensitif, terutama bila menyangkut semangat persatuan dan kesatuan bangsa.

    Yang cantrik paparkan berikut ini adalah pendapat para sejarahwan, dan tentunya mereka mempunyai argumen sendiri-sendiri sebagai pendukung temuannya, yang sudah pasti teori-teori itu dapat berbeda antara arkeolog yang satu dan arkeolog lainnya.

    Perbedaan-perbedaan tersebut dapat saling berseberangan bahkan dapat pula menimbulkan pertentangan.

    Cara pandang terhadap peristiwa Bubat yang berbeda dari para ahlinya itu tidak perlu dirisaukan, karena bagaimanapun juga sejarah masa lalu tidak mungkin dapat diubah, apalagi kemudian bermimpi berwahana ‘time-tunnel’ (lorong atau mesin waktu) menembus ke masa lalu.

    Yang penting di sini, bahwa setiap perbedaan pendapat yang terjadi, dan kemungkinan besar pasti terjadi, diperlukan sikap yang dewasa, harus berusaha untuk tetap memegang teguh semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang tinggi, menjauhkan rasa emosional yang dapat menimbulkan kembali luka lama.

    Sifat kedaerahan yang sempit harus dikesampingkan, menimimalkan sifat etnosentrisme infleksibel, yakni harus mampu untuk keluar dari perspektif yang dimiliki atau harus bisa memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki orang lain dan mampu memahami perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budaya kedaerahan orang lain. Satu dan lain hal untuk menghindari subyektivitas yang berlebihan.

    Teori seorang arkeolog yang satu dapat saja digugurkan oleh teori arkeolog yang lain, dan dalam dunia arkeologis hal ini wajar saja, dan seorang arkeolog yang teorinya “dikalahkan”, tidaklah harus merasa berkecil hati, dan rendah diri, juga bagi yang “dimenangkan”, juga tidaklah boleh merasa yang paling benar, bahwa datanya yang paling valid.

    Dalam hal tertentu, data yang “menang” di masa kini, dapat digugurkan oleh teori lain dimasa datang, sepanjang temuan arkeologis baru nantinya mementahkan teori yang menang itu.

    Dalam perdebatan di forum (beberapa arkeolog menyebutnya forum “Perang Bubat”, –entah darimana asal-muasal istilah itu –) sering terjadi saling serang-menyerang, adu argumen, sampai-sampai bersitegang, namun sepanjang suatu data atau temuan arkelogis, berupa tamra prasasti, epik, rontal dan sejenisnya, telah disepakati keakuratannya, maka data temuan tersebut diterima dan dijadikan acuan selanjutnya, setelah itu mereka para arkeolog itu saling jabat tangan, senyum simpul, makan bareng, bahkan ada yang berbesanan segala, atau malah dapat menantu. Lucu juga tingkah pola para arkeolog ini.

    Berbagai versi Perang Bubat

    Setidaknya ada empat sumber sejarah tentang Perang Bubat:

    I. Kidung Sunda; terdapat paling tidak ada dua versi:
    a. Kidung Sunda dan
    b. Kidung Sundayana.
    Di Bali (tempat ditemukannya naskah ini) disebut Geguritan Sunda. Keduanya diduga ditulis sekitar abad ke-17

    II. Carita Parahyangan; ditulis sekitar abad ke-16.

    III. Naskah Wangsakerta; diduga ditulis pada abad ke-17 (Naskah ditulis selama 21 tahun sejak tahun 1599Ç atau 1677M, dan selesai tahun 1620Ç atau 1698M

    Naskah ini menimbulkan kotroversi, beberapa sejarahwan meragukan nilai sejarahnya; bahkan beberapa sejarahwan menggolongkan naskah ini sebagai naskah yang baru tetapi seolah-olah lama, sehingga digolongkan sebagai naskah palsu, yang tidak mempunyai nilai sejarah sama sekali. Insya Allah tentang hal ini akan cantrik dongengkan kemudian.

    IV. Kitab Pararaton.

    Pada Kata Penutup Kitab Pararaton disebutkan tempat dan tanggal selesainya penulisan yaitu di Itcasada di desa Sela Penek, pada hari Saniscara Pahing, wuku Warigadyan, tanggal dua, tengah bulan paro gelap, bulan kedua 1535 Ç. Bila dikonversi ke tahun Masehi adalah 3 Agustus 1613 M. Tapi tempat dan tanggal itu pun masih menyisakan pertikaian para ahli.

    Pembahasan naskah:

    I. Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (Geguritan Sunda)

    Sumber-sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya Perang Bubat, yang melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan/Lapangan yang diduga berlangsung pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M ini berasal dari Kidung Sunda. Di Bali Kidung Sundayana di kenal dengan nama Geguritan Sunda.

    Kidung Sunda, disebut juga Geguritan Sunda, atau Kidung Sundayana adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang dan kemungkinan besar berasal dari Bali.

    Dalam kidung ini dikisahkan prabu Hayam Wuruk dari Majapahit yang ingin mencari seorang permaisuri, kemudian beliau menginginkan putri Sunda yang dalam Kidung Sunda ini tidak pernah disebutkan namanya.

    Namun Mahapatih Gajah Mada tidak suka karena orang Sunda dianggapnya harus tunduk kepada orang Majapahit. Kemudian terjadilah perang, yang oleh para sejarahwan selnjunta disebut Perang Bubat, yang terjadi di lapangan tepian pelabuhan tempat berlabuhnya rombongan Sunda. Dalam peristiwa ini rombongan Kerajaan Sunda dibantai dan putri Sunda yang merasa pilu akhirnya bunuh diri.

    Seorang pakar Belanda bernama Prof Dr. CC Berg, menemukan beberapa versi Kidung Sunda. Dua di antaranya pernah dibicarakan dan diterbitkannya, yakni Kidung Sunda dan Kidung Sundayana (Perjalanan Urang Sunda).

    Perbedaan antara keduanya adalah Kidung Sunda yang pertama disebut di atas, lebih panjang daripada Kidung Sundâyana dan mutu kesusastraannya lebih tinggi.

    Semua naskah Kidung Sunda diduga berasal dari Bali. Tetapi tidak jelas apakah teks ini ditulis di Jawa atau di Bali. Kemudian nama penulis pun tidaklah diketahui. Masa penulisan juga tidak diketahui dengan pasti. Diduga pada abad ke-17.

    Meskipun di dalam teks disebut-sebut tentang senjata api, tetapi ini tidak bisa digunakan untuk menetapkan usia teks. Sebab orang Indonesia (Nusantara) sudah mengenal senjata api minimal sejak datangnya bangsa Portugis datang di Nusantara, yaitu pada tahun 1511.

    Kemungkinan besar orang Nusantara sudah mengenalnya lebih awal, dari bangsa Tionghoa. Sebab sewaktu orang Portugis mendarat di Maluku, mereka disambut dengan tembakan kehormatan.

    II. Carita Parahyangan

    Informasi lain tentang Perang Bubat diperoleh dari Naskah Carita Parahiyangan, suatu naskah Sunda kuno yang dibuat pada akhir abad ke-16 (dua abad setelah “terjadinya” Perang Bubat), yang menceritakan sejarah Tanah Sunda, dari awal kerajaan Galuh pada zaman Wretikandayun sampai runtuhnya Pakuan Pajajaran (ibukota Kerajaan Sunda akibat serangan Kesultanan Banten, Cirebon dan Demak), utamanya mengenai kekuasaan di dua ibukota Kerajaan Sunda yaitu Keraton Galuh dan keraton Pakuan.

    Naskah ini merupakan bagian dari naskah yang ada pada koleksi Museum Nasional Jakarta dengan nomor register Kropak 406. Naskah ini terdiri dari 47 lembar daun lontar ukuran 21 x 3 cm, yang dalam tiap lembarna diisi tulisan 4 baris.

    Aksara yang digunakan dalam penulisan naskah ini adalah aksara Sunda. Pada naskah hanya disebutkan pan prangrang di Majapahit. Selengkapnya:

    Manak deui Prebu Maharaja, lawasniya ratu tujuh tahun, kena kabawa ku kalawisaya, kabancana ku seuweu dimanten, ngaran Tohaan. Mundut agung dipipanumbasna. Urang réya sangkan nu angkat ka Jawa, mumul nu lakian di Sunda. Pan prangrang di Majapahit.

    [Karena anak, Prabu Maharaja yang menjadi raja selama tujuh tahun, kena bencana, terbawa celaka oleh anaknya, karena Putri meminta terlalu banyak. Awalnya mereka pergi ke Jawa, sebab putri tidak mau bersuami orang Sunda. Maka terjadilah perang di Majapahit.]

    III. Naskah Wangsakerta

    Naskah Wangsakerta adalah istilah yang merujuk pada sekumpulan nasakah yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta secara pribadi atau oleh “Panitia Wangsakerta”.

    Pangeran Wangsakerta adalah anak ketiga Panembahan Girilaya dari Cirebon. Girilaya yang meninggal tahun 1662 adalah cucu Sunan Gunung Jati dan berkuasa di Cirebon menggantikan kakeknya karena ayahnya sendiri sudah meninggal ketika Sunan Gunung Jati masih berkuasa. Girilaya menikah dengan seorang putri Mataram, dan perkawinan itu menghasilkan tiga anak lelaki.

    Anak sulung bernama Pangeran Martawijaya yang kemudian menjadi Sultan Sepuh I dan menurunkan para penguasa kesepuhan, anak kedua bernama Pangeran Kartawijaya yang menjadi Sultan Anom I dan menjadi leluhur para sultan Kanoman, sedangkan anak ketiga Pangeran Wangsakerta, yang tidak memperoleh warisan daerah, sehingga sering disebut Pangeran Tanpa Wilayah.

    Pangeran Wangsakerta membentuk panitia yang disebut “Panitia Wangsakerta” untuk mengadakan suatu gotrasawala (simposium/seminar) antara para ahli (sajarah) dari seluruh Nusantara, yang hasilnya disusun dan ditulis menjadi naskah-naskah yang sekarang dikenal sebagai Naskah Wangsakerta. Gotrasawala ini berlangsung pada tahun 1599Ç atau 1677M, sedangkan penyusunan naskah-naskahnya menghabiskan waktu hingga 21 tahun, selesai tahun 1620Ç atau 1698 M, dan hasilnya sbb.:
    1. Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara, dibagi ke dalam 5 parwa (bagian) dan berjumlah 25 sarga (jilid),
    2. Pustaka Pararatwan, dibagai ke dalam 6 parwa dan berjumlah 10 jilid,
    3. Pustaka Nagarakretabhumi berjumlah 12 jilid.

    Menurut isi Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara parwa (bagian) V sarga (jilid/naskah) 5 yang berupa daftar pustaka, setidaknya perpustakaan Kesultanan Cirebon mengoleksi 1703 judul naskah, yang 1213 di antaranya berupa karya Pangeran Wangsakerta beserta timnya.

    Naskah kontroversial ini kini tersimpan di Museum Sejarah Sunda “Sri Baduga” di Bandung. Tentang kontroversial Naskah Wangsakerta ini akan didongengkan kemudian.

    Salah satu cacatan tentang Perang Bubat, disebutkan bahwa Pangeran Wangsakerta (penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara) menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di Bubat, sedangkan penggantinya (“silih”nya) bukan Sri Baduga melainkan Wastu Kancana (kakek Sri Baduga, menurut naskah Wastu kancana disebut juga Prabu Wangisutah).

    IV. Kitab Pararaton

    Serat Pararaton, atau Pararaton saja dalam Bahasa Kawi berarti “Kitab Para Raja”, adalah sebuah kitab naskah Sastra Jawa Pertengahan yang digubah dalam bahasa Jawa Kawi.

    Naskah ini cukup singkat, berupa 32 halaman seukuran folio yang terdiri dari 1126 baris. Isinya adalah sejarah raja-raja Tumapel Singasari dan Majapahit di Jawa Timur.

    Kitab ini juga dikenal dengan nama “Pustaka Raja“, yang dalam bahasa Sanskerta juga berarti “Kitab Para Raja“. Tidak terdapat catatan yang menunjukkan siapa penulis Pararaton.

    Pararaton diawali dengan cerita mengenai inkarnasi Ken Arok, yaitu tokoh pendiri kerajaan Singhasari (1222 – 1292). Selanjutnya hampir setengah kitab membahas bagaimana Ken Arok meniti perjalanan hidupnya, sampai ia menjadi raja di tahun 1222.

    Penggambaran pada naskah bagian ini cenderung bersifat mitologis. Cerita kemudian dilanjutkan dengan bagian-bagian naratif pendek, yang diatur dalam urutan kronologis. Banyak kejadian yang tercatat di sini diberikan penanggalan.

    Mendekati bagian akhir, penjelasan mengenai sejarah menjadi semakin pendek dan bercampur dengan informasi mengenai silsilah berbagai anggota keluarga kerajaan Majapahit.

    Penekanan atas pentingnya kisah Ken Arok bukan saja dinyatakan melalui panjangnya cerita, melainkan juga melalui judul alternatif yang ditawarkan dalam naskah ini, yaitu: “Serat Pararaton” atau “Katuturanira Ken Angrok“, atau “Kitab Para Raja” atau “Cerita Mengenai Ken Angrok“.

    Mengingat tarikh yang tertua yang terdapat pada lembaran-lembaran naskah adalah 1522Ç atau 1600M, diperkirakan bahwa bagian terakhir dari teks naskah telah dituliskan antara tahun 1481 dan 1600, dimana kemungkinan besar lebih mendekati tahun pertama daripada tahun kedua.

    Biarpun sangat terkenal, tapi kidung ini menyisakan satu misteri: Bukan yang mana mitos dan yang mana kenyataan. Tetapi lebih sederhana lagi: siapa penulisnya? Di mana ditulis? Ada yang menduga sang penulis kidung ini tidak tinggal di Pulau Jawa, tapi di Pulau Bali yang tetap Hindu, dan tidak ada catatan yang menunjukkan siapa penulis Pararaton.

    Di bagian akhir, penulis hanya menyisakan nama desa dan waktu menyelesaikan tulisannya yaitu:

    Demikian itulah kitab tentang para datu. Selesai ditulis di Itcasada di desa Sela Penek, pada tahun saka: Keinginginan Sifat Angin Orang, atau: 1535. Diselesaikan ditulis hari Pahing, Sabtu, wuku Warigadyan, tanggal dua, tengah bulan paro gelap, bulan kedua.

    Bila dikonversi ke tahun Masehi adalah 3 Agustus 1613 M. Tapi tempat dan tanggal itu pun masih menyisakan pertikaian para ahli.

    Mengenai Peristiwa Bubat disinggung pada Bagian X, yang artinya:

    Selanjutnya terjadi peristiwa orang orang Sunda di Bubat.
    Seri Baginda Prabu mengingini puteri Sunda. Patih Madu mendapat perintah menyampaikan permintaan kepada orang Sunda, orang Sunda tidak berkeberatan mengadakan pertalian perkawinan.

    Raja Sunda datang di Majapahit, yalah Sang Baginda Maharaja, tetapi ia tidak mempersembahkan puterinya.

    Orang Sunda bertekad berperang, itulah sikap yang telah mendapat sepakat, karena Patih Majapahit keberatan jika perkawinan dilakukan dengan perayaan resmi, kehendaknya yalah agar puteri Sunda itu dijadikan persembahan.

    Orang Sunda tidak setuju. Gajah Mada melaporkan sikap orang orang Sunda.

    Baginda di Wengker menyatakan kesanggupan: “jangan khawatir, kakak Baginda, sayalah yang akan melawan berperang.”

    Gajah Mada memberitahu tentang sikap orang Sunda. Lalu orang Majapahit berkumpul, mengepung orang Sunda.

    Orang Sunda akan mempersembahkan puteri raja, tetapi tidak diperkenankan oleh bangsawan bangsawannya, mereka ini sanggup gugur dimedan perang di Bubat, tak akan menyerah, akan mempertaruhkan darahnya.

    Kesanggupan bangsawan bangsawan itu mengalirkan darah, para terkemuka pada fihak Sunda yang bersemangat, yalah: Larang Agung, Tuhan Sohan, Tuhan Gempong, Panji Melong, orang orang dari Tobong Barang, Rangga Cahot, Tuhan Usus, Tuhan Sohan, Orang Pangulu, Orang Saja, Rangga Kaweni, Orang Siring, Satrajali, Jagadsaja, semua rakyat Sunda bersorak. Bercampur dengan bunyi bende, keriuhan sorak tadi seperti guruh.

    Sang Prabu Maharaja telah mendahului gugur, jatuh bersama sama dengan Tuhan Usus.

    Seri Baginda Parameswara menuju ke Bubat, ia tidak tahu bahwa orang orang Sunda masih banyak yang belum gugur, bangsawan bangsawan, mereka yang terkemuka lalu menyerang, orang Majapahit rusak.

    Adapun yang mengadakan perlawanan dan melakukan pembalasan, yalah: Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Marga Lewih, Patih Teteg, dan Jaran Baya.

    Semua menteri araman itu berperang dengan naik kuda, terdesaklah orang Sunda, lalu mengadakan serangan ke selatan dan ke barat, menuju tempat Gajah Mada, masing masing orang Sunda yang tiba dimuka kereta, gugur, darah seperti lautan, bangkai seperti gunung, hancurlah orang orang Sunda, tak ada yang ketinggalan, pada tahun: Sembilan Kuda Sayap Bumi, atau: 1279Ç.

    Dari semua sumber sejarah di atas, tidak satupun dari penulis naskah-naskah hidup sezaman dengan Prabu Hayam Wuruk, yakni zaman yang diduga terjadinya Perang Bubat.

    Semua naskah ditulis antara abad ke-16 dan abad ke-17. Dua atau tiga abad setelah “terjadinya perang Bubat”.

    Zaman itu sudah bukan Majapahit tapi Jawa dikuasai Mataram. Tahun-tahun 1600an (tepatnya 1613) adalah tahun pertama Sultan Agung –raja ketiga Mataram Islam– berkuasa.

    Bagaimana dengan Kakawin Nāgarakṛtāgama ?

    Satu-satunya sumber sejarah dalam bentuk tulisan pada rontal tentang Majapahit yang ditulis pada masa Prabu Hayam Wuruk adalah Pujasastra Nāgarakṛtāgama dikatakan merupakan Kakawin Jawa Kunå yang paling termasyhur.

    Nāgarakṛtāgama artinya adalah “Negara dengan Tradisi (Agama) yang suci. Tetapi pengarangnya juga menyebutnya Deśawarṇana, yang berarti “Penulisan tentang Daerah-Daerah”.

    Nāgarakṛtāgama digubah oleh mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi (tahun 1287Ç di desa Kamalasana di lereng Gunung. Sewaktu menulis Nāgarakṛtāgama, Prapañca masih belum bergelar mpu karena masih seorang calon pujangga. Ayahnya bernama mpu Nadendra dan memegang jabatan: Dharmâdhyaksa ring Kasogatan, atau Ketua dalam urusan agama Budha.

    Nama Prapanca adalah nama samaran. Prapanca terdiri dari unsur Pra dan Panca yang artinya pra lima yaitu Prapanca, Pracacab, Prapongpong, Pracacad dan pracongcong yaitu cacad badaniah pengarangnya yaitu jika tertawa terbahak bahak, pipinya sembab, matanya sayu seperti orang mengantuk, cakapnya agak ganjil alias lucu.Nama prapañca kemungkinan merupakan nama pena dan artinya adalah “bingung.”

    Nama aslinya adalah Rangkwi Padelengan Dang Acarya Nadendra yang menjabat sebagai Dharmadyaksa Kasogatan pada pemerintahan Prabu Hayam wuruk seperti tercantum dalam Piagam Trawulan dan Piagam Sekar.

    Penggunaan nama samaran Prapanca yang berarti kesedihan dipakai karena pada waktu menulis Nāgarakṛtāgama pengarangnya hidupnya sedang diliputi oleh kesedihan karena kehilangan kedudukan sebagai Dharmmadyaksa Kasogatan dan pergi meninggalkan Majapahit untuk hidup di desa dalam kesepian. Ia takut dikenal orang karena ciri-cirinya sehingga sehingga menggunakan nama samaran.

    Kitab Nāgarakṛtāgama yang ditulisnya pada tahun 1287Ç (September-Oktober 1365) menguraikan tentang perjalanan keliling Prabu Hayam Wuruk ke Lumajang pada tahun 1281Ç atau 1359M dimana Empu Prapanca ikut serta dalam rombongan tersebut sebagai Dharmmadyaksa Kasagotan.

    Nāgarakṛtāgama, satu-satunya sumber tiada tara tentang keberadaan Majapahit, hanya bisa dilahirkan oleh sebuah visi yang berani melawan kemapanan, bukan hanya dalam penulisan sastra, tapi juga kemapanan politik

    Kakawin ini menguraikan keadaan di Kraton Majapahit dalam masa pemerintahan prabu Hayam Wuruk, raja agung di tanah Jawa dan juga Nusantara. Beliau bertakhta dari tahun 1350 sampai 1389 M, pada masa puncak kerajaan Majapahit, kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara.

    Naskah Nāgarakṛtāgama ditemukan sebanyak lima naskah. Pada 7 Juli 1978 di kota Antapura, Kabupaten Lombok, pulau Bali ditemukan satu naskah dengan judul Desawarnana, tersimpan di Geria Pidada, Karang Asem.

    Pada tahun 1874 di Puri Cakranegara, pulau Lombok di temukan satu naskah dengan judul Nāgarakṛtāgama. Selanjutnya, tidak diketahui angka tahun penemuannya, di Geria Pidada, Klungkung ditemukan turunan rontal Nāgarakṛtāgama satu naskah dan di Geria Carik Sideman ditemukan dua naskah turunan Nāgarakṛtāgama juga.

    Nāgarakṛtāgama berisi uraian tentang hubungan keluarga raja, para pembesar negara, jalannya pemerintahan, adat istiadat, candi makam para leluhur. Dan desa-desa perdikan, keadaan ibu kota, keadaan desa-desa sepanjang jalan keliling Sang Prabu pada 1359 masehi.

    Peran Nāgarakṛtāgama sebagai sumber sejarah kuno Indonesia relatif besar. Nāgarakṛtāgama merupakan sebuah “karya jurnalistik” terbaik, sementara Mpu Prapanca dikatakan “wartawan” tersohor dari Kerajaan Majapahit.

    Namun, banyak hal yang masih terabaikan hingga kini, misalnya penelitian terhadap candi-candi dan desa-desa yang disebutkan dalam kitab itu.

    Mpu Prapanca sendiri dipandang sebagai pelopor arkeologi Indonesia dan pendahulu historic archaeology (arkeologi sejarah). Ini karena Prapanca membuat semacam inventarisasi dan deskripsi mengenai berbagai jenis peninggalan purbakala yang ada pada zamannya.

    Prapanca telah melakukan survei lapangan, suatu hal yang menguntungkan dunia ilmu pengetahuan

    Penciptaan karya sastra ini sebagai tanda bakti kepada Prabu Hayam Wuruk walaupun dalam menulis kitab Nāgarakṛtāgama Empu Prapanca sudah tidak tinggal lagi didalam keraton Majapahit.

    Empu Prapanca tidak lagi menjabat sebagai Dharmmadyaksa Kasagotan (Pembesar urusan agama Buddha) tetapi hidup di desa Kamalasana di lereng gunung sebagai pertapa.

    Empu Prapanca meninggalkan keraton Majapahit karena mendapat hinaan berupa celaan terhadap sikap Empu Prapanca oleh Sri Baginda yang menyebabkan kedudukannya tergeser sebagai Dharmmadyaksa Kasagotan.

    Prabu Hayam Wuruk percaya kepada fitnah seorang bangsawan terhadap dirinya. Namun demikian empu Prapanca sama sekali tidak menaruh dendam terhadap sang Prabu bahkan memuja keagungan Prabu Hayam Wuruk.

    Konon ketika Raja Lasem berkuasa di Lombok naskah itu dibawa dari Bali ke Lombok. Atas dasar tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Emu Prapanca setelah meninggalkan Majapahit menetap di desa Karangasem Bali.

    Desa Kamalasana tempat Empu Prapanca bertapa adalah nama Sanskerta dari nama asli Karangasem. Pada pertengahan tahun 1978 di desa Karangasem Bali ditemukan naskah Dcsawarnnana yaitu karya sastra karangan Empu Prapanca yang sekarang disimpan di Griya Pidada Karangasem Bali.

    Tiga naskah lagi yang menyebutkan Kitab Nāgarakṛtāgama ditemukan di Griya Pidada Kelungkung, dan Griya Carik Sidemen. Naskah ini ini sama dengan Kitab Nāgarakṛtāgama yang ditemukan di Puri Cakranegara Lombok.

    Decawarnnana yang menguraikan tentang desa desa yang dikunjunginya dalam perjalanan mengiringi Prabu Hayam Wuruk kemudian Saka Abda, Lambang, Parwa Sagara, Bhismasaranantya dan Sagataparwa.

    Dari pupuh 17/8 diketahui bahwa Empu Prapanca adalah keturunan seorang Dharmadyaksa (Pemimpin kegamaan) pada jaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Empu Prapanca menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Dharmadyaksa (pemimpin agama Buddha) tahun 1358 sampai tahun 1361 M.

    Sejak kecil Empu Prapanca suka menghadap Raja dengan maksud agar Raja mengijinkannya untuk mengikuti perjalanan beliau kemana saja karena keinginannya untuk merangkai sejarah wilayah Negara dalam kakawin.

    Nāgarakṛtāgama pertama kali ditemukan kembali pada tahun 1894 oleh J.LA Brandes, seorang ilmuwan Belanda yang mengiringi ekspedisi knil di Lombok. Ia menyelamatkan isi perpustakaan Raja Lombok di Cakranagara sebelum istana sang raja akan dibakar oleh tentara KNIL.

    Naskah asli Nāgarakṛtāgama disimpan di Leiden dan diberi nomor kode L Or 5.023. Lalu dengan kunjungan Ratu Juliana, Belanda ke Indonesia pada tahun 1973, naskah ini diserahkan kepada Republik Indonesia.

    Konon naskah ini langsung disimpan oleh Ibu Tien Soeharto di rumahnya, yang selanjutnya diserahkan ke Perpustakaan Nasional RI untuk disimpan di Perpustakaan Nasional RI dan diberi Kode NB 9.

    Perpustakaan Nasional RI, pada tanggal 21 Pebruari 2008 mendapatkan penghargaan dari UNESCO tentang koleksi Nāgarakṛtāgama atau deskripsi suatu negara pada tahun 1365 masehi, yang terdaftar dalam The Memory of the World Regional Register for Asia/Pacific.

    Dengan adanya penghargaan tersebut kita sebagai bangsa Indonesia merasa bangga atas kejayaan para leluhur.

    Susunan Nāgarakṛtāgama:

    Pujasastra Nāgarakṛtāgama terdiri dari 98 pupuh. dilihat dari sudut isinya pembagian pupuh-pupuh itu dilakukan dengan sangat rapi. kita perhatiakan bagan pupuh menurut isinya.

    a. Pupuh 1 sampai 7 menguraikan raja dan keluarganya.
    b. Pupuh 7 sampai 16 menguraikan kota dan wilayah majapahit.
    c. Pupuh 17 sampai 39 menguraikan perjalanan keliling ke Lumajang.
    d. Pupuh 40 sampai 49 menguraikan silsilah Raja Hayam Wuruk.

    Lima yang pertama yakni pupuh 40 sampai 44 tentang sejarah raja-raja Singosari, pupuh 45 sampai 49 tentang sejarah raja-raja Majapahit dari Kertarajasa Jayawardhana sampai Hayam Wuruk.

    Bagan pupuh bagian pertama itu sebagai berikut:

    a. 7 pupuh: tentang raja dan keluarganya;
    b. 9 pupuh: tentang kota dan wilayah Majapahit;
    c. 23 pupuh: tentang perjalanan keliling ke Lumajang;
    d. 10 pupuh: tentang silsilah raja Majapahit.

    Tepat pada lima puluh itu, uraian Dang Acarya Ratnamsa berhenti itulah bagian pertama Nāgarakṛtāgama, jumlahnya 49 pupuh tepat, separuh dari keseluruhan pupuh Nāgarakṛtāgama.

    Kita perhatikan sekarang bagian kedua yang juga terdiri dari 49 pupuh.

    a. Pupuh 50 sampai 54 menguraikan raja berburu di hutan Nandawa.
    b. Pupuh 55 samapai 59 menguraikan perjalanan pulang Majapahit.
    c. Pupuh 60 menguraikan oloh-oleh yang di bawa pulang dari berbagai daerah yang di kunjungi.
    d. Pupuh 61 sampai 70 menguraikan perhatian Raja Hayam Wuruk kepada leluhurnya berupa ziarah ke makam dan pesta srada.
    Bagian itu di sambung dengan 2 pupuh tentang kematian Patih Gajah Mada, yakni pupuh 71 dan 72.
    e. Pupuh 73 samapi 82 menguraikan bangunan-bangunan suci yang terdapat di Jawa dan Bali.
    f. Pupuh 83 sampai 91 terdapat uraian upacara berkala yang berulang kembali setiap tahun, yakni kirap, musyawarah dan pesta tahunan.
    g. Pupuh 92 sampai 98 merupakan pupuh pujangga yang memuji keluhuran baginda. Pupuh 92 sampai 94 tentang pujian para pujangga , termasuk pujian pujangga Prapanca.

    Bagan pupuh bagian kedua itu sebagai berikut:

    a. 10 pupuh: 5 tentang perburuan, 5 tenatng perjalanan pulang.
    b. 23 pupuh: 1 oleh-oleh, 10 tentang perhatian kepada leluhur, 2 tentang Gajah Mada.
    c. 9 pupuh: tentang upacara berkala
    d. 7 pupuh: tentang pujangga pemuja raja.

    Demikianlah susunan bagian kedua itu berbalikan dengan susunan bagian pertama. hal itu perlu dihubungkan dengan perbalikan bacaan mantra pupuh 97, mungkin sekali Prapanca mengharapkan agar sang prabu suka menempatkan kembali sang pujangga dalam kedudukanya sebagai dharmmadyaksa kasogatan, setelah membaca pujasastra Nāgarakṛtāgama. dalam pupuh 94, Prapanca berkata secara tegas bahwa ia masih tetap setia dan menaruh cinta bakti kepada baginda dan selalu ingat kepadanya. itulah kiranya tafsir inti sari pujasastra Nāgarakṛtāgama, yang sesuai dengan maksud penggubahnya.

    Tidak seperti sumber sejarah yang tidak sezaman, maka peristiwa Perang Bubat tidak terdapat di dalam kitab utama peninggalan Majapahit, Kawakin Nāgarakṛtāgama ini.

    Adalah hampir tidak mungkin jika peristiwa besar seperti Perang Bubat yang melibatkan para petinggi dua kerajaan: Prabu Hayam Wuruk, Mahapatih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit dan Prabu Maharaja Linggabuana, Dyah Ayu Pitaloka dari Kerajaan Sunda, dan belum lama terjadi (dalam sumber sejarah lain diduga terjadi pada pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M ); tidak tercatat dalam kitab Kawakin Nāgarakṛtāgama itu, yang ditulis pada tahun 1287Ç, sekitar bulan September-Oktober 1365M. Hanya berselisih liam tahun dari “peristiwa” Bubat.

    Kawakin Nāgarakṛtāgama tidak pernah menyebutkan terjadinya perang dilapangan Bubat, Nāgarakṛtāgama hanya menyebutkan bahwa Bubat adalah suatu tempat yang memiliki lapangan yang luas, dan raja Hayam Wuruk pernah mengunjunginya untuk melihat pertunjukan seni dan hiburan.

    Para sejarahwan (tidak semuanya), berdasarkan analisis dari Kakawin Nāgarakṛtāgama ini, menyimpulkan bahwa Perang Bubat tidak pernah terjadi.

    ana toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • sugeng enjang ki BAYUAJI….sugeng enjang kadang NSSI,

  9. NSSI DJVU : Di sini, sudah tersedia
    NSSI Teks : Di sini, kemarin tersedia

    pak AREMA, pak SATPAM….matur nuwun,

  10. DJVU yang disediakan sudah diunduh.
    Matur nuwun,
    Sugeng dalu.

  11. sugeng dalu

  12. waaah mj dah mo merit yach ….. slamet ya mj 🙂

  13. eh widuri kok kolokan bgtz sich … masak ditinggal rw aja nangiz 😦

  14. haaaaaah widuri hilang?
    waduuuh …. semoga ga ketemu dech 🙂

    yeeeeee dik satpam bo’ong, ktnya widuri dah merit 🙂

    • 😛

      • Pak Satpam…Mb Mita udh ketemu ya…..?
        Stlh skian lama br skrg munculnya…

        • Sekarang sudah punya modem baru kale…..

          • ngeceeeeeee 😦

          • lha kok malah gojeg ning kene….HADU,

          • lho… salah ta?
            dulu katanya mau beli modem
            ya maaf kalau begitu
            😛

          • benernya dah beli sich, … yg plng murah, 199rb …. tp tnyt menguciwakan 😦 😦 … meibi lokasi rmh mita yg ‘lekon’

  15. naskah2 braksara kuno yg dibuat stlah kdatangan pnjajah dipastikn tidak dpt diprcaya sbagian bsar atau smuanya krn dimanipulasi(di ubah,diganti,dikurangi,ditambah,diancurkn,dsb)oleh pnjajah.klo dibuatnya atau diubah oleh para pujangga tntu caranya diiming2ngi uang,dsb n atau di bawah todongan snjata pnjajah.


Tinggalkan Balasan ke cantrik bayuaji Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: