NSSI-29 Tamat

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 8 Juli 2011 at 22:27  Comments (67)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-29-tamat/trackback/

RSS feed for comments on this post.

67 KomentarTinggalkan komentar

  1. hadu…..
    saya dikerjain Ki gembleh
    sampe gemrobyos…….
    ngantuk jadi hilang
    lha wong gandok baru ada pintunya kok ya wis diodok-odok, rusak deh pintunya.
    terpaksa buat pintu baru, sekalian gandoknya jadi dibuka lebih awal
    hmm……………….
    monggo….
    ini gandok yang resmi

    • Kasihan pintu butulan jebol……………………………………….🙂

      Matur nuwun Ki Panji, jadi yang sekarang ini bukan gandhok “jadi-jadian” khan.

      Sugêng dalu

      punåkawan bayuaji

      • kasinggihan Ki Puna

        Sugêng dalu

    • mBoten lho Ki Ajar pak Satpam,
      lha wong kula nggih namung nginthil Ki Bancak je.

      Ngantos sakmenika yen kula klik “lanjut” saking gandhok 28 ingkang mechungul inggih namung samak 29, formatipun ageng.

      tulisan ingkang wonten nginggil NSSI 29 ! NSSI 29.

      wah…, iya …., lupa plang papan nama belum diganti
      hadu…..

      • niku plange sampun dibenerke

  2. Sugeng Enjang,
    Ketiwasan ane lawang btulan jare P. Satpam nganti jebol.
    Ki Gembleh pancen remenane main belakang.
    Nuwun sewu Ki guyonan.

    • inggih Ki Honggo,
      lha wong niate namung badhe nginceng Rara Wilis je,
      lha kok malah dibengoki pak Satpam,
      tujune mBoten dithuthuk penthungan,
      mesti penthungane katut dipun asta Ki Menggung YuPram.

      Ki Menggung…………..
      penthungane ndang dibalekno to……..!!!!!!!

      he….he….he……
      sugeng dalu.

      • ki yp kelalen leh ndeleh ki…..saestu kesupen,

  3. we lha ono lawang butulan wingi kae, yo wis metu lawang endi wae sing penting melu sebo

  4. Nuwun
    Wilujêng énjang

    Alhamdulillah, Perantauan Ki Rangga Tohjaya berkahir dengan happy ending — NSSI sudah tancêp kayon.

    Hatur nuhun kahaturken ku Ki Arema dan Ki Panji Satriå Pamêdar atas segalanya: sejak AdBM, Pelangi, hingga NSSI dan kesemuanya yang telah diberikan kepada kita. Masih akan berlanjut?

    Tetapi ….

    Dongeng Arkeologi & Antropologi Ki Bayuaji Seri “Surya Majapahit” masih belum tamat, karena masih ada beberapa episode yang harus diunggah. Demikian juga Seri “NSSI” — tentang Sjech Siti Djenar dan Akhir Kekuasaan Demak, kemudian Pajang dan Awal Mataram era Panembahan Senopati –, dongengnya masih panjang………..

    Apa dongeng ini kita punggêl saja sampai di sini?

    Sumånggå, Ki Arema atau Ki Panji yang punya wewenang menentukan, hendak kemana.

    Nuwun

    punåkawan bayuaji
    untuk dan atas nama Ki Bayuaji

    • wara-wara di halaman 2 Ki Puna
      wedaran selanjutnya tergantung pesanan sanak-kadang saja
      he he he …

    • tentang syech siti jenar dan masa berakhirnya Demak,,,,Hemm…ditunggu berattttt

  5. Monggo Ki Bayu nderek nenggo wedaran Syech Siti Jenar.
    SUgeng Enjang.

  6. Sugeng Enjang P. Satpam, dalah kadang cantrik/mentrik sedoyo,
    Matur nuwun sampun nderek ngunduh jilid pungkasan (29 tamat).

    La terus lakone nopo malih P. Satpam?

  7. lanjjuuuut

  8. kulo pesen sing wonten bukit2te niku ki..

    hayoo sing pengin podho ngacung

    • hadu…..
      mesti nganyelke…. (jarene mbak Mita, eh…kayane kok wis suwe gak sambang padepokan)

      • iki Mita opo pak Lik ?

        • Nek podo piye jal…..

          • ampuuuuuun…..kulo Ra melu2,

          • sajake yo podo

  9. Ngaturaken agunging panuwun dhumateng Ki Arema, Ki Ajar pak Satpam ingkang sampun cancut taliwanda nggulawentah gandhok sutresna punika, saha Ki Truna Prenjak ingkang asring paring koper..

    Walaupun NSSI sudah tancep kayon, saya mohon gandhok ini bisa meneruskan tayangan serial Ki SHM yang lain.

    Untuk pilihan rontal saya nginthil Ki PA mawon, yg ada bukit2nya.

    Katur Ki Bayuaji saha Ki Puna,
    kawula tetep setia tuhu ngrantos Sandyakalaning Majapahit.

    Sugeng dalu.

  10. Nuwun
    Wilujêng wêngi

    Sehabis menamatkan dongeng “NSSI”, sambil menunggu kelanjutan “nasib” gandok ini, di malam minggu ini cantrik teruskan ndongeng:

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Waosan sebelumnya:
    Waosan kaping-38; Perang Bubat [Bagian 6] On 8 Juli 2011 at 06:56 NSSI 28

    Dongeng Arkeologi & Antropologi Ki Bayuaji Seri “Surya Majapahit” masih belum tamat, masih ada beberapa episode yang harus diunggah. Ibarat lakon wayat kulit, kita belum sampai pada lakon gårå-gårå.

    Justru di saat menjelang gårå-gårå inilah menjelang akhir lelakon, tahun-tahun terakhir runtuhnya kerajaan besar Majapahit itu yang menandakan akan berakhirnya dongeng arekologi & antropologi ini, yang dalam menyajikan dongengnya memerlukan energi yang sangat ekstra.

    Energi lebih itu diperlukan, mengingat kompleksnya masalah yang akan ditulis. Misalnya saja tentang Perang Bubat yang tengah diwedar akhir-akhir ini, benar-benar menguras tenaga dan fikiran, satu dan lain hal untuk dapat menyajikan informasi sejarah yang tampil dengan apa adanya, kenapa?

    Sudah menjadi “pakem” bahwa peristiwa Bubat adalah peristiwa yang mengundang emosi. Terlepas apakah Peristiwa Bubat itu pernah terjadi atau tidak. Ada perasaan bagi pihak tertentu seolah sebagai pihak yang “dicurangi” dan ada pihak yang diposisikan sebagai “penjahat”. Belum lagi masalah Perang Parêgrêg, timbulnya Kêdaton Kilèn dan Kêdaton Wètan, dan akan lebih kompleks lagi permasalahannya jika menyangkut pada pertanyaan runtuhnya Kerajaan Majapahit. Sejarah sudah bercampur aduk antara fakta dan khayalan pengarang. Tetapi demikian yang telah terjadi.

    Waosan kaping 39:
    PERANG BUBAT [Parwa ka-7]

    Bagaimana pula dengan Babad Tanah Jawi?

    Kitab Babad Tanah Jawi paling tidak terdiri dari dua versi, versi pertama, babad yang ditulis oleh Carik Braja atas perintah Sunan Paku Buwono III. Tulisan Braja inilah yang kemudian diedarkan untuk umum pada 1788. Sementara kelompok kedua adalah babad yang diterbitkan oleh Pangeran Adilangu II dengan naskah tertua bertarikh 1711.

    Perbedaan keduanya terletak pada penceritaan sejarah Jawa Kunå sebelum munculnya cikal bakal kerajaan Mataram. Kelompok pertama hanya menceritakan riwayat Mataram secara ringkas, berupa silsilah dilengkapi sedikit keterangan. Sementara kelompok kedua dilengkapi dengan kisah panjang lebar.

    Sebagaimana halnya Kakawin Nāgarakṛtāgama, Kitab Babad Tanah Jawi pun hanya sekelumit menceritakan Lapangan Bubat sebagai empat adu binatang atau manusia dan keramaian lainnya. Babad Tanah Jawi tidak sedikitpun menyinggung adanya Perang Bubat.

    Satu-satunya kalimat yang menyebut Bubat ada pada 08 Perangan Kang Kapisan Bab 8 Ayam Wuruk, Syri Rajasanagara, Ratu kang kaping IV ing Majapait (tahun 1350 – 1389):

    Ora adoh såkå nagårå ånå papan kanggo adu adu kéwan utåwå uwong utåwå kanggo karamèyan liyå-liyané. Papan iku arané “Bubat”. Sang Nåtå kêrêp lêlånå tinggal nagårå, ing Blambangan sauruté iyå tau dirawuhi.

    ***

    Dari sekian banyak pendapat para sejarahwan tentang Perang Bubat, dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu:

    I. bahwa Perang Bubat tidak pernah terjadi, tetapi diciptakan seolah-olah pernah terjadi, ceritanya dibuat di Bali pada abad ke-17 (tiga abad setelah “terjadinya” Perang Bubat); untuk membuat kesultanan Mataram sibuk oleh penentangan Sunda sehingga pada waktu itu terjadi perang Mataram-Bali agar pihak Bali bisa menang;

    II. bahwa Perang Bubat tidak pernah terjadi, tetapi diciptakan seolah-olah pernah terjadi, ceritanya dibuat oleh VOC Belanda pada abad ke-17 (tiga abad setelah “terjadinya” Perang Bubat); untuk membuat kesultanan Mataram disibukkan oleh penentangan Sunda atau mencegah bersatunya kekuatan besar Sunda dan Jawa dalam menentang Belanda.

    III. Perang Bubat memang pernah terjadi, dan merupakan perang yang berlangsung secara wajar, jujur dan adil. Ada pihak yang kalah dan ada pihak yang menang.

    Kita tidak perlu menyalahkan nenek moyang kita atas apa yang pernah terjadi dimasa lalu, itupun kalau Perang Bubat benar-benar pernah terjadi. Tidak perlu kita pertentangkan. Yang paling bijak adalah mengambil hikmahnya; ada atau tidak adanya peristiwa itu; tetapi telah dikisahkan seakan-akan ada — demikian salah satu kelompok sejarahwan menyimpulkan –. Andaikatapun dipercaya tidak pernah terjadi — demikian kelompok sejarahwan lainnya berpendapat — . Seandainya benar-benar pernah terjadi, kitapun tidak perlu menafsirkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Sikap yang ditunjukkan oleh Sri Baduga Maharaja Raja Pajajaran, cucu buyut Prabu Linggabuana sendiri, bolehlah kita jadikan contoh. (yang didongengkan pada wedaran berikutnya).

    Pembahasan masing-masing versi:

    I. bahwa Perang Bubat tidak pernah terjadi tetapi diciptakan seolah-olah pernah terjadi, ceritanya dibuat di Bali pada abad ke-17 (tiga abad setelah “terjadinya” Perang Bubat); untuk membuat kesultanan Mataram sibuk oleh penentangan Sunda sehingga pada waktu itu terjadi perang Mataram-Bali agar pihak Bali bisa menang;

    Perang Bubat di dalam Kidung Sunda dan juga Kitab Pararaton adalah kisah fiksi yang sengaja ditulis oleh para pujangga di Bali (tidak dijelaskan siapa penulisnya) pada abad XVII dengan tujuan untuk membendung pengaruh Mataram (Sultan Agung) yang sedang meluaskan wilayah kekuasaannya. Dengan ditulisnya kisah tersebut diharapkan saat itu muncul penentang kuat dari pihak Sunda untuk melawan Mataram.

    Perang Bubat adalah perang yang diceritakan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan mahapatihnya Gajah Mada. Perang ini melibatkan sejumlah besar pasukan kerajaan Majapahit pimpinan Mahapatih Gajah Mada melawan sekelompok kecil pasukan kerajaan Sunda pimpinan Prabu Maharaja Linggabuana, di desa pelabuhan Bubat, Jawa Timur pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M.

    Pertempuran yang sangat tidak seimbang tersebut dimenangkan secara mutlak oleh pihak Majapahit. Pasukan kerajaan Sunda dibantai habis termasuk raja kerajaan Sunda, Prabu Maharaja Linggabuana. Dan tidak cuma itu, permaisuri dan putri raja Sunda bernama Dyah Pitaloka Citraresmi, yang sedianya akan dinikahkan dengan raja Hayam Wuruk – ikut tewas dengan cara bunuh diri setelah meratapi mayat ayahnya.

    Diceritakan bahwa timbulnya perang ini akibat kesalahpahaman mahapatih Gajah Mada saat melihat raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit Sunda. Gajah Mada menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di pelabuhan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda kepada Majapahit. Hal ini menimbulkan perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada, dan memuncak hingga terjadi perang terbuka.

    Sumber sejarah yang meragukan

    Sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya Perang Bubat ternyata hanya sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang dan kemungkinan besar berasal dari Bali, berjudul Kidung Sunda. Pakar sejarah Belanda bernama Prof. Dr. C.C. Berg pada awal tahun 1920an menemukan beberapa versi Kidung Sunda, diantaranya Kidung Sundayana, yang merupakan versi sederhana dari versi aslinya.

    Secara analisis, Kidung Sunda harus dianggap sebagai karya sastra, dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat. Meskipun kemungkinan besar berasal dari Bali, tetapi tidak jelas apakah syair tersebut ditulis di Jawa atau di Bali.

    Kemudian nama penulis tidak diketahui dan masa penulisannyapun tidak diketahui secara pasti. Di dalam teks disebut-sebut tentang senjata api, ini menunjukkan kemungkinan bahwa Kidung Sunda baru ditulis paling tidak sekitar abad ke-16, saat orang Nusantara baru mengenal mesiu, kurang lebih dua abad dari era Hayam Wuruk.

    Lebih menarik lagi adalah bahwa dalam Kidung Sunda ternyata tidak disebutkan nama raja Sunda, nama ratu/permaisuri, dan nama putri raja. Diduga nama Maharaja Prabu Linggabuana dan nama putri Dyah Pitaloka Citraresmi sengaja diambil karena bertepatan pada tahun-tahun 1360an tersebut dia memang merupakan raja Sunda dan putrinya.

    ***

    II. bahwa Perang Bubat tidak pernah terjadi tetapi diciptakan seolah-olah pernah terjadi, ceritanya dibuat oleh VOC Belanda pada abad ke-17 untuk membuat kesultanan Mataram disibukkan oleh penentangan Sunda atau mencegah bersatunya kekuatan besar Sunda dan Jawa dalam menentang Belanda.

    Hampir sama dengan pendapat pertama di atas, hanya yang ini dibuat oleh pihak penjajah VOC Belanda, untuk kepentingan politik penjajahannya.

    Rekayasa oleh Penjajah; politik devide et impera?

    Perlu dikemukakan bahwa sang penulis Kidung Sunda (yang belum diketahui orangnya) lebih berpihak pada orang Sunda dan seperti sudah dikemukakan. Sepertinya kita perlu curiga bahwa cerita tentang Perang Bubat dalam Kidung Sunda adalah fiksi belaka dan merupakan rekayasa dari pihak penjajah VOC Belanda, untuk tujuan perpecahan antar suku di Nusantara, khususnya di pulau Jawa. Boleh jadi syair tersebut diciptakan sendiri oleh ilmuwan Prof. Dr. C.C. Berg atas perintah penguasa kolonial. Hal ini perlu adanya kajian yang lebih mendalam.

    Akibat yang fatal yang telah dirasakan oleh bangsa kita atas rekayasa tersebut (kalau memang benar) adalah adanya sikap etnosentrisme orang Sunda terhadap orang Jawa, dan juga pandangan yang sangat negatif orang Sunda terhadap tokoh/figur Gajah Mada sehingga muncul dugaan bahwa tidak adanya nama jalan Gajah Mada, di Jawa Barat khusunya kota Bandung karena peristiwa Bubat.

    Argumentasi tidak ada nama jalan Gajah Mada dan jalan Hayam Wuruk di Jawa Barat, khususnya Bandung, itu argumentasi khas yang menunjukkan seakan menyimpan dendam turun-temurun terhadap Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Tetapi mari kita perhatikan, apakah di Jawa Timur dengan alasan yang sama kemudian tidak ada nama jalan Sri Baduga Maharaja, jalan Mundinglaya di Kusuma, jalan Ciung Wanara, dan jalan Dyah Pitaloka atau jalan Pasundan? Sangat berlebihan rasanya, ketidak-adaan nama jalan tokoh pada daerah tersebut karena dendam dan benci, tapi yang pasti masing-masing daerah punya tokoh daerah yang lebih ditonjolkan.

    Semoga bangsa kita tetap bersatu dan tidak ada lagi rasa sentimen kesukuan. Karena sikap etnosentrisme tidak lain adalah hasil dari rekayasa politik pemecah belah si penjajah. Penulisan karya-karya sastra tersebut pada saat itu tidak sepenuhnya berdasar kepada data fakta sejarah, apalagi bila ditambah dengan kisah pola tutur berantai (seperti dongeng rakyat, legenda atau tutur tinular), lebih berdasar kepada pemikiran dan tendensi kepentingan, yang tidak menutup kemungkinan telah terjadi biasnya kisah yang sesungguhnya.

    Adapun mengenai tokoh Gajah Mada yang disebut-sebut sebagai “biang keladi” Peristiwa Bubat, ternyata disebutkan bahwa Gajah Mada diklaim oleh banyak daerah di Nusantara ini, seperti:

    1. dilahirkan di NTT, diakui sebagai orang Minangkabau; Gajah Mada adalah orang Dayak-Kalimantan; sebagai orang Lampung; sebagai orang Lamongan; sebagai orang Sidoarjo; lahir di Pandaan, dan beberapa daerah lainnya mengakui sebagai “putra daerahnya.

    2. Gajah Mada adalah orang Sunda, punggawa di Pajajaran lalu jatuh cinta dengan putri Pajajaran tetapi ditolak rajanya. Kecewa lalu ia bekerja di Majapahit.

    3. Gajah Mada adalah anak dari salah satu tentara Kubilai Khan yang menikah dengan orang Tuban.

    4. Yang agak mengherankan adalah daerah Jawa Tengah yang tidak pernah menyatakan bahwa Gajah Mada berasal dari daerah Jawa Tengah dan juga tidak pernah diceritakan dalam naskah, legenda manapun, bahwa Gajah Mada berasal dari daerah Jawa Tengah.

    5. Yang terakhir, dan mungkin yang paling menarik, bahwa Gajah Mada adalah orang Banten yang pernah menjalin cinta dengan Dyah Pitaloka, dan keduanya sepakat untuk hidup bersama.

    Tetapi dari kesemua “pengakuan” di atas, tidak satupun didukung oleh data sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Yang ada hanyalah folklore (dongeng rakyat), legenda, atau cerita lisan tutur tinular. Meskipun demikian para ahli masih terus melakukan penelitian atas legenda-legenda tersebut. Minimal untuk bahan kajian, mungkin dari segi bahasa yang digunakan, bahan dan usia alat tulis, dan kepentingan-kepentingan ilmiah lain. (Ingat: Hanya untuk kepentingan keilmuan belaka)

    ***

    Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa naskah yang membicarakan proses terjadinya perang Bubat hanyalah Kidung Sunda atau Kidung Sundayana

    Analisis: Dalam perjalanan menuju Majapahit, rombongan Sunda terdiri dari 2.000 kapal; Kidung Sunda Pupuh I Sinom, mengabarkan:

    Teu lila ti harita rombongan karajaan Sunda angkat diiring ku rombongan nu loba pisan: dua réwu kapal kaasup kapal laleutik.

    (Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil).

    Kapal sebanyak 2.000 itu adalah suatu jumlah yang luar biasa banyaknya untuk ukuran di masa itu; Berapa jumlah orang dalam masing-masing kapal? Kita tidak tahu pasti, Kita asumsikan saja bahwa satu kapal berisi 100 orang berarti sekitar 200.000 orang pasukan bersenjata yang mengiringi rombongan pengantin Sunda itu bila dihitung secara kasar dari jumlah kapal mereka. Bila kemudian dikatakan bahwa pasukan Majapahit jauh lebih banyak daripada rombongan Raja Linggabuwana, berapakah jumlah tentara Majapahit?

    Asumsi lain, perang yang terjadi adalah perang antar pasukan bersenjata. Perang ini bukan antara prajurit Majapahit dengan rombongan sipil Sunda tanpa senjata, mengingat begitu banyaknya pasukan yang dibawa dari Kerajaan Sunda.

    Dalam perang ada yang menang dan ada yang kalah adalah wajar. Selanjutnya dikatakan bahwa rombongan sipil yang tidak ikut berperang terutama para wanita (termasuk permaisuri dan putri Dyah Pitaloka) sesuai kepercayaan mereka, melakukan bunuh diri menyusul suami atau ayah-ayah mereka jadi bukan dibantai seperti yang sering kita dengar dari para penutur.

    Kidung Sunda Pupuh II Durma, mengabarkan:

    Aranjeunna kalintang ngarasa sedih, lajeng nelasan manéh, sedengkeun para istri perwira Sunda arangkat ka médan perang lajeng narelasan manéh hareupeun mayit para salakina.

    (Mereka bersedih hati dan kemudian bunuh diri. Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan bunuh diri bersama di atas jenazah-jenazah suami mereka.)

    Versi yang lain mengenai Bubat

    Menurut sejarah yang diyakini saat ini, Dyah Pitaloka atau Citrasemi dilamar oleh Hayam Wuruk untuk dijadikan permaisuri, rencana perkawinan ini diceritakan sebagai perkawinan politik guna menyatukan wilayah Jawa di bawah kekuasaan Majapahit. Oleh Raja Linggabuana pinangan Hayam Wuruk kepada putrinya yaitu Dyah Pitaloka yang terkenal pandai dan cantik akan diterima dengan satu syarat yaitu status Dyah Pitaloka bukan dijadikan upeti raja, dan sejarah saat ini menyebutkan kalau Hayam Wuruk menyetujuinya.

    Akhirnya rombongan pengantin berangkat ke Majapahit, namun ketika sampai di Lapangan Bubat terjadi perselisihan karena Patih Gajah Mada mengingkari kesepakatan dan memaksa Raja Lingga Bhuwana menjadikan Dyah Pitaloka sebagai upeti, akhirnya pertarungan pun terjadi, rombongan pengantin Sunda itu tewas dalam perang dengan pasukan prajurit Majapahit dan berakhir dengan Dyah Piotaloka bunuh diri.

    Konon kecantikan dan kepandaian Dyah Pitaloka sangat tinggi, sampai Empu Prapanca yang mengarang Negarakrtagama mengirimi dua karya sastranya. Dari beberapa tulisan menyebutkan, setelah peristiwa itu mengakibatkan hubungan Hayam Wuruk dan Gajah Mada merenggang, sampai berujung meninggalnya Gajah Mada.

    Analisis:

    Jika Raja Linggabuana memberikan persyaratan kepada Hayam Wuruk bahwa putrinya tidak boleh dijadikan upeti, maka berarti sebelumnya Sunda telah mengirimkan upeti berupa harta benda kepada Majapahit, dengan demikian Sunda telah lama menjadi kerajaan vasal Majapahit, dan secara tidak langsung menjawab argumen yang menyatakan bahwa Sunda adalah kerajaan yang tidak pernah dikuasai oleh Jawa.

    Dan sejarah yang menyebutkan bahwa rencana perkawinan tersebut sebagai perkawinan politik itu pun sama tidak benarnya, karena tidak ada satu alasan apapun yang membuat Hayam Wuruk untuk melakukan itu karena Sunda telah menjadi kerajaan bawahan. Dengan mengacu data tersebut dapat dimpulkan bahwa pada saat itu tidak ada proses peminangan Hayam Wuruk kepada Dyah Pitaloka.

    Untuk mendapatkan kesinambungan cerita mengenai peristiwa Lapangan Bubat, kita lakukan pengujian terbalik yaitu sebagai berikut: untuk mendapatkan posisi lebih kuat atau malah lepas dari kekuasaan Majapahit justru Raja Sunda melakukan siasat politik dengan menjadikan putrinya sebagai upeti pada saat sêbå di Majapahit, dengan kemampuan Dyah Pitaloka yang terkenal sangat pintar dan siasat Linggabuana yang jitu diharapkan paling tidak Prabu Hayam Wuruk mau menerima Dyah Pitaloka menjadi istrinya, entah sebagai selir atau malah permaisuri, dengan demikian secara otomatis Linggabuana menjadi mertua dari Raja Majapahit, dan status Sunda lebih dari sekedar kerajaan vazal, selain itu dengan kecerdasan Dyah Pitaloka yang dibanggakan, diharapkan bisa mengambil hati Hayam Wuruk dengan demikian Majapahit bisa dikuasai secara tidak langsung dari sisi politik maupun kehidupan pribadi raja.

    Sedangkan peristiwa sewaktu di Lapangan Bubat dimulai dari beberapa konflik, sebenarnya Lapangan Bubat adalah bukan alun-alun utama dekat keraton, melainkan alun-alun besar untuk segala kegiatan kerajaan kepada segenap rakyat Majapahit dan tidak jauh dari tempat peristirahatan para tamu sebelum diperkenankan menghadap, itupun jaraknya masih jauh agar jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akibatnya tidak mempengaruhi stabilitas lingkungan kerajaan, dengan kata lain Lapangan Bubat adalah alun-alun di luar kota praja.

    Rencana yang akan dilakukan oleh Linggabuana terdengar oleh teliksandi Majapahit dan sampai pula oleh Permaisuri, bahwa rencana Linggabuana akan menjadikan Dyah Pitaloka sebagai bagian dari upeti yang akan diserahkan secara mendadak ketika pertemuan agung, dengan demikian Hayam Wuruk tidak mempunyai cukup alasan untuk menolak, sebab dengan penolakan itu sebagai Raja besar akan melecehkan martabat perempuan yang sebenarnya dengan banyak wanita disekelilingnya sah saja sehingga juga akan memberikan kesan Hayam Wuruk sebagai raja yang tidak bertatakrama dan yang paling memalukan adalah takut karena permaisurinya.

    Sebenarnya jika kita perdalam, peristiwa Bubat adalah perselisihan antara Permaisuri Majapahit melawan putri Dyah Pitaloka, namun karena peristiwa tersebut dimotori dari ide Raja Linggabuana maka yang dilakukan Permaisuri Majapahit adalah menggulung rencana ini sampai ke akar-akarnya, kadang kita tak terpikir atau tak percaya bahwa di balik peristiwa lapangan Bubat ini adalah seorang wanita, namun setidak-tidaknya itulah yang terjadi, penggambaran sosok Durgamahisasuramardini menghancurkan apa yang mengganggu dirinya, perwujudan Uma/Parwati dalam sosok keanggunan pendamping Raja Majapahit yang berubah menjadi menyeramkan (mirip disebut triwikrama) menghancur-habiskan rombongan itu.

    Mengenai peran permaisuri Majapahit, di sejarah yang berkaitan dengan peristwa Bubat menyebutkan setelah kejadian itu Hayam Wuruk sangat bersedih, setelah beberapa lama Hayam Wuruk menikah dengan Indudewi/Padukasori dari Wengker, jika kita rangkai dengan cerita pembangunan Gapura Bajang Ratu dan pengalihan fungsi Kolam Segaran akan didapatkan cerita yang menguatkan bahwa Permaisuri Majapahit telah ada jauh sebelum peristiwa Bubat dimana Gapura Bajang Ratu adalah sebenarnya adalah gapura taman peristirahatan yang menyatu dengan kolam Segaran dan Candi Tikus.

    Lalu mengapa sampai saat peristiwa lapangan Bubat ini dicatat dalam sejarah sebagai kesalahan Majapahit? Jika mau maka Majapahit akan mencatat dalam sebuah prasasti sebagai peringatan keras akan rencana pemberontakan ini, dan pasti permaisuri menghendakinya, namun hal itu tidak disetujui oleh Hayam Wuruk secara pribadi karena akan mempermalukan seluruh keturunan dari kerabat Kerajaan Sunda. Sementara kejadian tersebut dicatat lain dalam Pararaton, Kidung Sunda dan lainnya, maka kita kembalikan validitas Pararaton dan naskah-naskah itu, yang telah ditemukan baik penerjemahan, waktu pembuatan dan ketepatan penulisan sejarahnya.

    Benar tidaknya sudut pandang ini mengenai peristiwa Lapangan Bubat, sebaiknya kita kembalikan bagaimana sejarah itu dilihat, walaupun sejarah berdasarkan Pararaton adalah suatu pertanyaan juga, benarkah penulisan Pararaton?, atau sesuaikah penterjemahan Pararaton dengan masa lalu atau justru sifat Pararaton sebagai sumber sejarah adalah data bias jika dibanding dengan prasasti. Justru tidak pernah ada ditemukan sabuah prasasti pun yang mencatat tentang Perang Bubat.

    Penulisan ini pun bukan bermaksud memutarbalikkan “fakta”. Bagaimanapun juga Gajah Mada adalah mahapatih yang besar dari Kerajaan Majapahit yang besar. Hayam Wuruk pun adalah Raja besar dari Kerajaan besar Majapahit di Jawadwipa yang keagungannya sama tinggi dengan Rakai Pikatan yang membangun Candi Prambanan, dengan Gunadharma yang membangun candi Borobudur, dengan Mpu Sindok yang memindahkan Mataram ke Jawa Timur, Dengan Airlangga yang membangun Kahuripan, dengan Bathara Parameswara yang menurunkan Raja-raja tangguh juga sebagai Hayam Wuruk sendiri sebagai titisan Wisnu pemersatu Nusantara hingga Asia Tenggara. Kebesarannya sama dengan Raja-raja di Tatar Sunda sendiri.
    Dongeng Perang Bubat masih menyimpan misteri.

    ana toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • hadu…. (ikutan Ki Panji)

      lha koq bold semua……….
      Nyuwun pangapuntên

      • hup…!
        langsung menuju ke TKP dan beres…
        sampun ki…………….

        • Juga sudah masuk di gandoknya

          • Sugêng dalu

            Matur sangêt ing panuwun. Nyuwun sèwu nêmbé sagêd sowan

    • Matur nuwun Ki Bayu,

      Sugeng dalu.

    • Apakah memang sudah menjadi kewajiban bahwa setiap “dongeng” selalu menyimpan misteri…??

      Dongeng th.65 abad lalu juga menyimpan misteri, tokoh Sam Kamaruzaman..

      Dongeng awal abad ini juga menyimpan misteri, tokoh Nazzarudin..

      Yang saya percayai adalah bahwa tentu ada kebenaran “disana” walaupun entah tersembunyi di mana.

  11. Huuuupp……………..
    jaran nJondhil tumpak’ane Alonzo menang……!!!!

  12. Sugeng Enjang kadang sedoyo.

  13. Kadang Sedoyo Sugeng Enjang.

    • NSSI DJVU : Di sini, sudah tersedia

      matur nuwun pak AREMA, pak Satpam NSSI

      • pak Satpam, sekalian cantrik arep LAPORan :

        gandok NSSI-26 ruang BACA ki SHM
        kok gak BISA dimasukI….kenapa yaaaaa !!??

        demikian laporan cantrik, seMOGi dapet ditilik
        ning TKP….matur nuwun,

        • langsung menuju TKP
          dan…., gak apa-apa kok ki
          mungkin jaringan internet di lokasi ki Menggung sedang ada masalah. he he he
          silahkan dicoba lagi

  14. barusan dari LOKASI pak Satpam…..he-hee3x,
    arep komen ning gandok NSSI-26 belom bisa.

    saestu….Ra ono, niru2 lapor kayak ki yp

    • lho….
      gak apa pa tu?
      coba periksa sekali lagi

      • Siiiip….langsung ning LOKASI

  15. SUGENG DALU,
    WILUJENG WENGI.
    Lha terus nunggu opo to iki, wong wis tancep kayon.

  16. Soegeng ndaloe para kadhang,
    sapa ngerti ana sing ingak-inguk.

  17. Sugeng Enjang
    Kok terus ora ono sing sambang gandok.
    Mita ono ngendi to yo, opo wis ketemu Jaka Soka?

    • he he he ….
      patah hati Ki
      ternyata Arya Salaka jadian sama Widuri

      • he he he ….
        kalo gitu mending Mita jadian ma….Ki Widura aja😀

        • 🙂

  18. Kalo patah hati sama Arya kan masih ada Tumenggung Prabasemi.
    Tolong dong P. Satpam dijomblangi Probosemi dengan Mita.

    • ha ha ha ….
      njih Ki Honggo

  19. Nuwun, sampurasun
    Wilujêng wêngi

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Waosan sebelumnya:
    Waosan kaping-39; Perang Bubat [Bagian 7] On 10 Juli 2011 at 21:09 NSSI 29.

    Waosan kaping 40:
    PERANG BUBAT [Parwa ka-8. Tamat]

    Beberapa data yang patut dikaji ulang mengenai Peristiwa Bubat:

    Bahwa ketika melihat Dyah Pitaloka mati, Hayam Wuruk sedih hatinya dan tak lama setelah itu maka Hayam Wuruk meninggal dunia, yang menjadi pertanyaan adalah jika setelah beberapa saat peristiwa Lapangan Bubat Raja Hayam Wuruk mangkat, maka pada usia berapa tahun Hayam Wuruk memiliki anak Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana.

    Andai saja kidung itu benar seharusnya akan ada masa kekosongan posisi Raja Majapahit karena putri Kusumawardhani masih kecil dan ini tentunya akan jauh lebih mencengangkan dilihat dari sudut fakta sejarah.

    Disebutkan bahwa utusan Majapahit ke Sunda hanya menempuh waktu enam hari dengan menggunakan kapal, jika menggunakan kapal besar kemungkinannya melalui sungai Brantas, sementara sungai Brantas bermuara di selat Surabaya berarti jauh sekali, mungkinkah melalui Laut Selatan? Lalu benarkah kejadian tersebut!

    ***

    Simulasi angka tahun data sejarah (dikumpulkan dari berbagai sumber sejarah).

    a. Hayam Wuruk lahir bertepatan dengan gempa besar pabanyu pindah, atau tahun 1256 Ç (1334 M).

    Kakawin Nāgarakṛtāgama menceritakan:

    ring sakartusarena (1256 Ç)
    rakwa ri wijil nrpati telas inastwaken prabhu
    an garbbheswaranatha ring kahuripan wihaga nira namanusadbhuta
    lindung bhumi ketug hudan awu gereh kilat awiletan ing nabhastala
    guntur ntang himawan ri kampud anana ng kujana kuhaka mati tanpagap.

    (Tahun Saka sakartusarena (1256 Ç atau 1334 M) beliau lahir untuk jadi narpati
    Selama dalam kandungan di Kahuripan, telah tampak tanda keluhuran
    Gempa bumi, kepul asap, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar Gunung Kampud –Kelud– gemuruh membunuh durjana, penjahat musnah dari Negara.)

    Tahun kelahiran Hayam Wuruk bertepapatan dengan tahun pengucapan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa Sang Mahapatih Gajah Mada.

    b. Tahun Saka dresti saptaruna (1272 Ç atau 1350 M) dalam usia 16 tahun Hayam Wuruk naik tahta. tahun ini wafatnya (kembali beliau ke Budaloka) Sang Sri Rajapatni yang ternama adalah nenekanda Sri Baginda.

    Kakawin Nāgarakṛtāgama mencatat:

    ndan sang srirajapatni prakasita sira matamaha sri narendra
    sang lwir pawak bhatari parama bhagavati chatra ning rat wisesa
    utsaheng yoga buddhasmarana gineng iran siwari wrdhamundi
    ring saka drstisaptaruna kalaha niran mokta mungsir kabuddhan.

    (Sang Sri Rajapatni yang ternama adalah nenekanda
    Sri Baginda Seperti titisan Parama Bagawati memayungi jagat raya
    Selaku wikuni tua tekun berlatih yoga menyembah Buda
    Tahun Saka dresti saptaruna (1272 Ç) kembali beliau ke Budaloka.)

    riantuk srirajapatni jinapada kawekas duhkitang rat byamoha
    ri adeg natha munggwing majapahit tumului tustha mengong kabhaktin
    rena sri natha sang sri tribhuwana wijayottunggadewi gumanti
    mungguing rajyarikang jiwanapura sira tamwangmwangi sri narendra.

    (Ketika Sri Rajapatni pulang ke Jinapada, dunia berkabung
    Kembali gembira bersembah bakti semenjak Baginda mendaki takhta
    Girang ibunda Tribuwana Wijayatunggadewi mengemban takhta
    Bagai rani di Jiwana resmi mewakili Sri Narendra-putera.)

    c. Kidung Sundayana menerangkan Perang Bubat terjadi pada tahun 1351 M; berarti usia Hayam Wuruk adalah 17 tahun (1351-1334=17); sedangkan Pararaton mencatat bahwa Perang Bubat terjadi pada tahun saka Sanga Turangga Paksawani (1279 Ç) atau 1351 M.

    d. Putri Hayam Wuruk yang bernama Kusumawardhani menikah pada tahun 1365M saat Kakawin Nāgarakṛtāgama ditulis; dengan demikian usia Hayam Wuruk pada waktu pernikahan putrinya adalah 31 tahun (1365-1334=31).

    Kakawin Nāgarakṛtāgama menulis:

    takwan wrddhi siran pakanak i sireng nrpati kusumawarddhaniswari
    rajni rajakumarii anindya siniwing pura ring kabalan utameng raras
    sang sri wikramawarddhanendra saniruktya nira pangucap ing sanagara
    saksat dewata dewati sira n atemwa helem anukani twas ing jagat.

    (Berputeralah beliau puteri mahkota Kusumawardani, sangat cantik
    Sangat rupawan jelita mata, lengkung lampai, bersemayam di Kabalan
    Sang menantu Sri Wikramawardana memegang perdata seluruh negara
    Sebagai dewa-dewi mereka bertemu tangan, menggirangkan pandang.)

    e. Pada tahun 1377M Hayam Wuruk menyerang Swarnadwipa sebagai penundukan atas Palembang, usia Hayam Wuruk pada waktu itu 43 tahun (1377-1334=43).

    Berita Cina dari Dinasti Ming karya I-tsing, Nan-hai-chi-kuei-nai fa-ch‘uan (Groeneveldt, W.P, Notes on the Malay Archipelago and Malacca, compiled from Chinese source VBG XXXIX, 1880. Cetakan ulang: Historical Notes on Indonesia and Malaya, Bhatara, Jakarta, 1960. hal. 69) menyatakan bahwa pada tahun 1377M Shih-li-fo-shih atau Suwarnabhumi atau Sumatera — Sumatra di sini adalah Palembang bukan Sriwijaya — diserbu oleh tentara Jawa.

    f. Pada tahun 1389 M Hayam Wuruk meninggal di usia 55 tahun (1389-1334=55) dan Wikramawardhana menjadi raja.

    Pararaton menceritakan: Baginda Hyang Wekasing Suka, wafat pada tahun saka: Bumi Rupa Ayah Ibu, atau 1311 Ç (1389 M).

    Hyang Wekasing Suka adalah nama anumerta Hayam Wuruk.

    Data di atas kita bandingkan dengan Kidung Sunda Pupuh III Sinom:

    Satutasna ti éta, dilaksanakeun upacara pikeun ngadungakeun para arwah. Teu lila ti kajadian ieu, Hayam Wuruk mangkat ku rasa nalangsa nu kacida.

    (Setelah itu, dilaksanakan upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah. Tidak selang berapa lama, maka mangkatlah pula prabu Hayam Wuruk yang merana).

    Dari pembacaan teks naskah Kidung Sundayana Pupuh III Sinom ini, ada tulisan dinilai cukup mengganggu; yakni pada kalimat “dilaksanakeun upacara pikeun ngadungakeun para arwah”.

    Pemahaman “upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah” — khususnya istilah ngadungakeun para arwah — baru dikenal semasa zaman Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.

    Mungkinkah, seorang Hayam Wuruk yang jelas-jelas bukan penganut Islam, diselenggarakan upacara ngadungakeun para arwah dengan tuntunan ajaran Islam?
    Hipotesa ini perlu dilakukan telisik lebih dalam lagi.

    Selanjutnya, dalam Kidung Sundayana diberitakan bahwa: “Setelah dilakukan upacara pembakaran jenazah, yang dihadiri oleh pembesar Majapahit, Sang Prabu lalu masuk ke dalam pura, mengenangkan Dyah Pitaloka. Karena kurang makan dan kurang tidur, akhirnya Sang Prabu jatuh sakit. Pada bulan Kartika (Oktober – November) Sang Prabu siuman lalu mangkat.”

    Jika hal di atas benar maka benarkah kutipan dalam Kidung Sunda menyebut bahwa Hayam Wuruk meninggal tidak selang berapa lama yaitu pada salah satu tanggal antara bulan Oktober dan November pada tahun yang sama, setelah peristiwa Bubat karena kesedihan atas meninggalnya Dyah Pitaloka?

    Kalau kutipan Kidung Sundayana benar maka Hayam Wuruk wafat pada bulan Oktober atau November tahun 1351 M pada usia 17 tahun.

    Lalu bagaimana dengan berita yang dikutip dari sumber sejarah lain,

    a. Nāgarakṛtāgama: pada Tahun 1365 M Prabu Hayam Wuruk (berusia 31 tahun) yang menikahkan putrinya yang bernama Kusumawardani, dan ketika itu Prabu Hayam Wuruk masih memerintah Kerajaan Majapahit.

    b. Berita Cina Nan-hai-chi-kuei-nai fa-ch‘uan: pada tahun 1377 M Prabu Hayam Wuruk (berusia 43 tahun) memerintahkan pasukan tempurnya untuk menyerbu Palembang.

    c. Pararaton: pada tahun 1389 M Prabu Hayam Wuruk meninggal pada usia 55 tahun.

    ***

    Menyangka Lembu Tal itu adalah perempuan karena nama ‘Lembu’ dimuka namanya adalah sangat keliru karena di naskah-naskah kuno banyak tokoh-tokoh Majapahit bernama awal ‘Lembu’ ternyata laki-laki contoh Lembu Sora, Lembu Peteng, Lembu Amiluhur dan seterusnya.

    Raden Wijaya nerupakan nama yang lazim dipakai para sejarawan untuk menyebut pendiri Kerajaan Majapahit. Nama ini terdapat dalam Pararaton yang ditulis sekitar akhir abad ke-15. Kadang Pararaton juga menulisnya secara lengkap, yaitu Raden Harsawijaya. Padahal menurut bukti-bukti prasasti, pada masa kehidupan Wijaya (abad ke-13 atau 14) pemakaian gelar raden belum populer.

    Nāgarakṛtāgama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 menyebut pendiri Majapahit bernama Dyah Wijaya. Gelar dyah merupakan gelar kebangsawanan yang populer saat itu dan menjadi cikal bakal gelar Raden. Istilah Raden sendiri diperkirakan berasal dari kata Ra Dyah atau Ra Dyan atau Ra Hadyan.

    Nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya, karena nama ini terdapat dalam prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Wijaya sendiri pada tahun 1294. Gelar Nararya juga merupakan gelar kebangsawanan, meskipun gelar Dyah lebih sering digunakan.

    Menurut Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahisa Campaka, seorang pangeran dari Kerajaan Singasari. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Raden Wijaya adalah putra pasangan Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal.

    Ayahnya adalah putra Prabu Guru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh, sedangkan ibunya adalah putri Mahisa Campaka dari Kerajaan Singhasari. Setelah Rakeyan Jayadarma tewas diracun musuhnya, Lembu Tal pulang ke Singasari membawa serta Wijaya. Dengan demikian, Raden Wijaya merupakan perpaduan darah Sunda dan Jawa.

    Kisah di atas mirip dengan Babad Tanah Jawi yang menyebut pendiri Kerajaan Majapahit bernama Jaka Sesuruh putra Prabu Sri Pamekas raja Kerajaan Pajajaran, yang juga terletak di kawasan Sunda. Jaka Sesuruh melarikan diri ke timur karena dikalahkan saudara tirinya yang bernama Siyung Wanara. Ia kemudian membangun Kerajaan Majapahit dan berbalik menumpas Siyung Wanara.

    Berita di atas berlawanan dengan Nāgarakṛtāgama yang menyebut Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki, putra Narasinghamurti. Naskah ini memuji Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani dan merupakan ayah dari Dyah Wijaya.

    Di antara berita-berita di atas, yang paling dapat dipercaya adalah Nāgarakṛtāgama karena naskah ini selesai ditulis pada tahun 1365M. Jadi, hanya selisih 56 tahun sejak kematian Raden Wijaya.

    Raden Wijaya dalam prasasti Balawi tahun 1305 menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa. Menurut Nāgarakṛtāgama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti. Menurut Pararaton, Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa.

    Pararaton, Babad Tanah Jawi dan Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara yang menyebut asal-usul Raden Wijaya dari Sunda ditulis ratusan tahun setelah runtuhnya Majapahit. Berbeda dengan Nāgarakṛtāgama dan Prasasti Balawi yang ditulis beberapa tahun setelah wafatnya Dyah Wijaya yg menyebut memang Wijaya pribumi Jawa Timur.

    Kalau Sanjaya dan Wijaya itu orang Sunda kenapa tidak dicandikan di daerah Sunda tetapi justru di Jawa Tengah dan Jawa Timur?

    Ada dua kemungkinan, keduanya tidak mungkin benar, atau salah satunya pasti salah:

    1. keduanya berdarah Sunda tetapi tidak dicandikan di Tatar Sunda, mengingat ayah Raden Wijaya justru diracun oleh keluarga yang menghendaki tahtanya. Begitu pula permusuhan terhadap Sanjaya sebagaimana diceritakan dalam Carita Parahiyangan.

    2. Memang sebenarnya mereka tidak ada pertalian darah dengan keluarga Kerajaan Sunda.

    Cacatan: Insya Allah, akan didongengkan pada kesempatan lain Carita Parahyangan; demikian juga Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, sebagai salah satu bagian dari Naskah Wangsakerta yang kontroversial.

    ***

    Perang Bubat masih merupakan sindrom masyarakat sampai sekarang. Peristiwa ini terekam dalam Kidung Bahasa Jawa Pertengahan Kidung Sunda dan Kidung Sundayana, Kitab Pararaton, juga Naskah Wanfsakerta yang kontroverisal itu, yang ditulis dengan penuh simpati kepada Raja Sunda dan rombongannya di Lapangan Bubat.

    Suatu cerita Legenda Rakyat Banten, bahwa Gajah Mada adalah orang Banten, dan Gajah Mada pernah jatuh cinta kepada Putri Dyah Pitaloka, demikian juga sebaliknya, bahwa pengingkaran Bubat dilakukan oleh punggawa Majapahit yang lain. Kisah ini lebih banyak mengandung unsur sastra daripada sejarah.

    Pertumpahan darahpun tak terhindarkan. Inilah mitos Kerajaan Sunda – Kerajaan Majapahit yang berimplikasi pada hubungan etnik Jawa dan Sunda berlangsung hingga sekarang. Bagaimana persisnya peristiwa itu. Hampir semua orang tidak tahu. Tetapi, mitos itu diyakni sebagai suatu kebenaran.

    Sri Baduga Maharaja, Raja ke-1 Kerajaan Pajajaran yang berkuasa di tahun 1482 M – 1521 M, yang terpaut hampir 170 tahun dengan ’Peristiwa Bubat’, yang sudah berlalu lama, beliau pun berujar:

    Kula teu nyalahkeun sing saha-saha anu gede dosana, nepika tata nagara burak sesa pati. Anu leuwih gede dosana ampharanthra, nafsu nu gede tina kahoyong, silih bukti, bakti leuwih kaagrengan. Jeung anu leuwih salah nyaeta alam ramuksha jeung eusi-eusina. Naha ? Kulantaran Gurajat, hartina gurat baris jiwa jeung tumprak-darajat anu ngebrehkeun takdir tina kajantenana.
    Pasunda Bubat ceuk kula nga saukur panutup beungeut jang nutupan tata nagara anu neumbreuhkeun ka hiji jalma, nyaeta Balangpatih Gajah Mada atawa Sakhseena jeung neumbreuhkeun ka putu putra Dyah Pitaloka anu teu boga kanyaho ngan saukur nanya, saha jeung saha, kumaha beut kieu? Kula ngarasa boga getih turih nalias ledok ku nambruhkeun sagala rupa jang mertahankeun nagara anu dipicinta

    {Aku tak menyalahkan siapa yang paling berdosa, sehingga kehidupan tata negara menjadi hancur luluh. Yang paling besar dosanya adalah ampharanthra, yaitu nafsu penuh ambisi untuk melihat dirinya paling besar. Dan kemungkinan yang lebih bersalah yaitu alam dan seisinya. Mengapa? Guratan garis takdir telah menentukan demikian.
    Menurut pendapatku Pasunda Bubat hanyalah cadar, sekedar untuk menyembunyikan kebijakan negara dengan cara menyudutkan seseorang, yaitu Sang Mapatih Gajah Mada Jaya Sakhsena, juga Nenek Buyut Sang Putri Pitaloka, yang hanya memiliki pengetahuan yang amat terbatas, yang hanya bisa bertanya siapa dan mengapa harus terjadi begitu?
    Saya sebagai keturunannya akan tetap berupaya berjoang mempertahankan negara tercinta}

    Prabu Surawiwesa (1521 sd 1523), Prabu ke-2 Kerajaan Pajajaran, pengganti Prabu Sri Baduga. Sebagai seorang ahli strategi perang, beliau lebih mempersoalkan kepada kekalahan tentara Sunda.

    Menurutnya, tentara Sunda kalah dalam Perang Bubat karena beberapa sebab, antara lain:

    a. Jumlah tentara Sunda yang tidak sebanding dengan tentara Majapahit;

    b. Kedatangan rombongan Kerajaan Sunda ke Majapahit memang dipersiapkan tidak untuk berperang;

    c. Dalam strategi perang, tentara Sunda dikalahkan oleh taktik tempur milik tentara Sunda sendiri, yakni ilmu yang konon dimiliki oleh pasukan Sunda, yang diciptakan oleh Resiguru Resi Guru Manikmaya (Kendan) semasa Prabu Tarusbawa penguasa Sunda tahun 669 sd 723 M, yang justru dipelihara dan dikembangkan oleh para ahli strategi perang sejak zaman Sanjaya (Sanjaya, adalah Rakeyan Jamri, yang bergelar Prabu Harisdama atau Maharaja Bimaparakarma Prabu Maheswara Sarwajitasatru Yudapurnajaya, raja ke 2 Kerajaan Sunda-Galuh [723 – 732M], menjadi pendiri dan raja di Kerajaan Mataram Lama [732 – 760M], sekaligus pendiri Wangsa Sanjaya — Berita ini bersumber dari Carita Parahyangan –) yang dikembangkan di kerajaan Mataram Lama selama ratusan tahun, dan secara turun-temurun ilmu itu terus dikembangkan, dan semakin sempurna di zaman kerajaan Majapahit.

    Beliau menyatakan:

    Pustaka Ratuning Bala Sarewu teh aya sarebu jurus, Ngan anu nerap mah ukur 20 etangan. Eta panglimpengan tempur diturun-tumurunkeun ti mimiti canggawareng Tarusbawa tepika sapagodogan kula, malah tepi ka Ragamulya Suryakancana.
    Di tanah Jawa ge dipiara ngan dibebenah deui sacara turun-tumurun. Balad Sunda uyut Linggabuana bisa jadi enya eleh ku eta panglimpengan tempur bisa jadi lain. Da moal kareret make naon make naonna, ku sabab itu anu maparinan tempur, urang anu ngadep jajagi. Mun sabalikna mah bisa bae kaungkab

    (Pustaka Ratuning Bala Sarewu itu adalah siasat seribu jurus. Tetapi yang dikuasi [oleh Negeri Sunda] hanya 20 jurus tempur saja. Diturunkan secara tutun-temurun dari kakek buyut [canggawareng] Tarusbawa hingga ke generasiku, malah sampai ke generasi berikutnya yaitu Ragamulya Suryakancana.
    Di Tanah Jawa, siasat itu dipelihara secara turun-temurun, bahkan dibenahi, ditambah dan disempurnakan. Pasukan Sunda di bawah Buyut Linggabuwana boleh jadi memang kalah oleh ilmu tersebut, bisa juga tidak, Yang jadi penyebabnya, pertempuran berlangsung demikian cepatnya dan tak terduga. Mereka [Pasukan Majapahit] menyerang dengan serentak dan Pasukan Sunda hanya dapat bertahan sekadarnya. Bila kejadian berlangsung sebaliknya, keadaan mungkin menjadi lain).

    ***

    Meski berada di bekas pusat kerajaan Majapahit, tidak semua orang Trowulan familiar dengan Bubat. Tidak semua orang di sana tahu di manakah Bubat itu berlokasi.

    Berdasarkan informasi dari warga setempat pula. Satu tempat ditemukan yang diduga sebagai Bubat. Bubat bukanlah nama sebuah wilajah administrasi desa atau kelurahan. Masyarakat menunjuk Bubat sebagai sebuah tegalan, yang sedang ditumbuhi tanaman tanaman liar dan kacang-kacangan. Luasnya kira-kira seluas lapangan sepak bola, tetapi bentuknya tidak beraturan. Penduduk setempat tidak mengetahui siapa pemiliknya.

    Nama Bubat pun hanya diabadikan menjadi nama salah satu gang di sana. Letaknya tidak jauh dari Trowulan. Dengan akses jalan raya Surabaya-Mojokerto, tempat itu bisa dijangkau tidak lebih dari setengah jam saja. Seorang petugas situs Trowulan yang juga seorang arkeolog, mengatakan “Saya khawatir Perang Bubat itu tidak pernah ada

    Masyarakat Indramayu, Cirebon dan sekitarnya di pantai utara Jawa Barat menyebut “bobad” yang berarti bohong. Apakah itu diadaptasi dari bubat? Bisa jadi. Mungkin saja peristiwa Bubat merupakan sebuah rekayasa. Bisa saja Linggabuana dan Pitaloka tidak gugur di medan perang. Dari Kidung Sundayana disebutkan bahwa, Pitaloka tidak ikut ke Bubat. Kapal rombongan Sunda berhenti di Kali Jetis, Ujung Galuh.

    Salah satu hipotesa, berdasarkan informasi dari arkeolog tadi, ditambah cerita tutur lisan penduduk, dan berdasarkan temuan di sana, meski bukan sebagai pusat kerajaan Majapahit, di sekitar Bubat diperkirakan sebagai lingkungan yang padat penduduk. Seharusya jika terjadi peperangan, tentulah diketahui oleh masyarakat sekitar. Kalaupun terjadi pertempuran, barangkali bukan pertempuran besar. Lapangan Bubat itu sekarang berada di Desa Tempuran. Tempuran yang dimaksud bukan pertemuan antara dua sungai, tetapi tempat bertempumya pasukan-pasukan zaman dulu. Lokasinya berupa tanah datar. Istilah Bubat bisa jadi berasal dari kata “butbat” yang berarti jalan yang lega dan lapang.

    Sebuah situs peperangan biasanya di sana ditemukan benda-benda arkeologi yang bisa menjadi bukti terjadi perang. Misalnya ditemukan tombak dan keris yang berceceran. Peristiwa Bubat ini, sangat miskin bukti arkeologi. Bahkan bisa dibilang belum ada bukti arkeologinya. Peristiwa sejarah akan lebih dipercaya jika mempunyai bukti-bukti arkeologi. Apalagi kalau sampai ada prasasti yang menerangkannya, tidak akan bisa dibantah.

    Bukti arkeologi akan memperkuat bukti sejarah yang berupa naskah-naskah kuno. Naskah kuno biasanya sudah melalui proses penyalinan berkali-kali sehingga memungkinkan adanya perubahan dari naskah aslinya. Tetapi setidaknya terdapat empat naskah Sunda kuno yang menyebut peristiwa Bubat, meski dalam versi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, peristiwa ini juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Bukan berarti peristiwa itu pernah ada, atau tidak pernah ada.

    ana toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur suwun Ki Bayu

    • Matur nuwun Ki Bayu,
      tetep setia tuhu ngentosi tutuge.

      Soegeng n’daloe para kadhang.

    • Matur nuwun Ki Bayu,
      tetep setia tuhu ngentosi tutuge.

      Soegeng enjang para kadhang.

  20. pak SATPAM……cantrik HADIR lho,

    • nggih…, mangga….

      • Mangga-mangga….monggo.

  21. Wah matur nuwun sanget Ki Bayu, tambah maning ilmuku

    Sugeng Enjang.

  22. Matur sembah nuwun Ki Bayuaji, dongengipun ingkang paling kantun nembe kulo simpen kemawon, badhe kulo sinaoni sakwangsulipun saking Bandung. Sekedhap malih bidhal…. pareng……

  23. Soegeng n’daloe,

  24. Wilujêng énjing

  25. SUGENG ENJANG

  26. énjing Wilujêng

    • pak SATPAM……lagi cantrik HADIR lho,

  27. Wilujeng sore.
    Absen nunggu wedaran dari Ki Bayuaji.

  28. sugeng dalu, nunggu wedaran ki Bayu

  29. waaaaaaaaaaaa ki shm nganyelkeeeeeeeeeeeeeeeee
    …. nganyelkeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee …… nganyelkeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee😦😦😦

  30. gmn sih arya tuh mikirna?😦 ….. pdhl klo ama mita, akan mita ajarin tuh gmn memajukan pertanian, …. gmn membuat traktor tuk mengolah tanah, … gmn membuat pupuk urea, dst, ….. gmn membeli bibit unggul dari bangkok, …. gmn memasarkannnya hingga go international …. waaah pokoknya jadi tanah perdikan termaju se demak deh …… tp kok malah milih yg itu tuh …. uuuu sebeeeeeel beeeeel beeeeeeeeeeeeeeel😦😦😦

    • Wah…., emangnya non Mita kuliahna di Pertanian?

  31. awaaaas ya, ntar malem pohon jambu yg suka mita bantu nyiramin itu, meh tak tegor wae, beeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen😦😦😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: