PBM-18

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 26 Juli 2010 at 12:00  Comments (115)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pbm-18/trackback/

RSS feed for comments on this post.

115 KomentarTinggalkan komentar

  1. Tuchkan jadi dibuka gandok barunya,
    Makasih Ki P.Satpam, Ki Arema….
    Kulo dapet no 1

    • Wah Ki P.Satpam emang pinter yach..
      ana tutuge lagi, ana tutuge lagi xixixi

      • Pundi tha thuthuk-e?

    • Jejer nomer sidji njih Jeng…..

      • Yoh…monggo..monggo..

      • Jejer nomer loro njih Jeng…..

        • Jejer nomer telu njih Jeng…..

          • Miss nona kejepit ….
            Sirahe rada ngelu ….
            Sing lungguh kiwa -tengene isih mambu kringet ….

            Hiks …
            Tak adus disit ,,,,

  2. tuch kan dapat no 2 samburine Ni Miss Nona

  3. Ikut absen di belakang ki Samy.
    Sugeng siang ki Samy, Miss Nona.

    • Selamat siang juga Ki Djojo….

    • Weh..Ki Djojosm..ngapunten njih Ki..kemarin belum bisa mampir…mugi2 yang akan datang deh….sugeng siang !

      • Ki KartoJ, mboten punapa ki, namung radi kuciwa mawon. Sedulur saking tebih kok mboten mampir.

        • mbonceng ki Djojo ah….
          ben diparengke mancing neng kolam sing dibayangke…

        • Weh..Ki Djojosm..sepindah malih ngapunten njih Ki..taksih kathah wedal lan kesempatan koq…mangke sanes wedal kulo padhos-ke obat kuciwo….hiksss

  4. Selamat siang juga, ki sanak semuanya.🙂

    • sudah lama tidak bercengkerama dengan ki saba lintang…

      bagaimana kabarnya, ki?

  5. dongèng tutugé

    Nuwun

    Sugêng siyang, srêngéngé sampun lingsir mangilén, ing wanci kados mêkaten namung rumaos sayah, punåpå malih sumilir ing bayu ndadosakên ngantuk. Sugêng pêpanggihan pårå kadang sutrésnå. Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI © 2010. [Rontal PBM 18]

    Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Soma Kêliwon Wuku Uyé, Ingkêl Manuk; Srawånåmåså, mångså Kaså 1932Ç; 26 Juli 2010M; 14 Ruwah 1943 – Dal; 14 Sya’ban 1431H

    Atur pambukå, pambagyå raharja dumatêng pårå kadang ingkang dahat kinurmatan:

    II. TÁRUMANÁGARA

    Prolog:
    Bekasi —- Bekassie — Bakassie — Backassie —Bagasasi —- Bagashasi —- Candrabaga (Candra = Sashi, sasi; –Bagashasi)

    Pada dongeng sebelumnya [PBM 15], telah disebutkan dua dari tujuh prasasti yakni Prasasti Kebon Kopi dan Prasasti Ciaruteun, sebagai bukti keberadaan Kerajaan Tarumanagara di Nusantara, tepatnya di Jawa bagian Barat lebih tepat lagi di daerah Bogor sekarang.

    Tak jauh dari lokasi Prasasti Ciaruten terdapat pula tiga situs lainnya yakni Prasasti Kebon Kopi (yang sudah dijelaskan di atas); Situs Batu Congklak dan Prasasti Batutulis.

    Berbeda dengan kedua prasasti di atas, pada situs Batu Congklak atau Batu Dakon sama sekali tidak ditemukan artikel-artikel terkait yang dapat menjelaskannya. Pada situs Batu Congklak sendiri juga tidak terdapat sebuah prasasti apapun.

    Pemberian nama Batu Congklak untuk situs ini disebabkan batu-batu yang ada disana memiliki cekungan mirip dengan permainan congklak atau dakon yang lazim dikenal masyarakat luas. Di situs ini pula tidak terdapat cungkup yang menaunginya, sehingga praktis akan terkena sinar matahari dan hujan secara langsung.

    Sekitar 300 meter dari situs Batu Congklak ke arah Utara, menyusuri kebun singkong dan jalan setapak di tepi sungai, terdapat prasasti Batu Tulis. Ukuran prasasti ini paling besar dibandingkan dengan ketiga prasasti lainnya, dan bagian bawahnya masih terendam aliran sungai. Ukurannya yang cukup besar dan tentunya mempunyai bobot yang lebih berat dari prasasti-prasasti sebelumnya, yang mungkin menjadi alasan prasati ini tidak dipindahkan ke lokasi yang lebih memadai.

    Sederet tulisan dalam bahasa Sangsekerta juga terlihat cukup jelas pada batu ini, namun sayang sekali tidak ada literatur yang menjelaskan maknanya.

    3. Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor.

    Prasasti Jambu atau prasasti Pasir Koleangkak, ditemukan di bukit Koleangkak Gunung Batutulis, di perkebunan jambu, di wilayah Pasir Gintung, Desa Parakanmuncang, kecamatan Nanggung, Bogor, sekitar 30 km sebelah barat kota Bogor. Dari bukit Koleangkak ini mengalir (sungai) Cikasungka.

    Dahulu pada masa kolonial Belanda lokasi ini termasuk Perkebunan Karet Sadeng-Djamboe tetapi sekarang disebut PT. Perkebunan XI Cikasungka-Cigudeg- Bogor.

    Prasasti Jambu ditemukan pertamakali pada tahun 1854 oleh Jonathan Rigg dan dilaporkan kepada Dinas Purbakala tahun 1947, tetapi diteliti pertamakali pada tahun 1954.

    Prasasti Jambu terdiri dari dua baris aksara Pallawa berbahasa Sansekerta yang disusun dalam bentuk seloka dengan metrum Sragdhara. Pada batu prasasti ini juga terdapat pahatan gambar sepasang telapak kaki yang digoreskan pada bagian atas tulisan tetapi sebagian pahatan telapak kaki kiri telah hilang karena batu bagian ini pecah.

    Prasasti ini menyebutkan nama raja Purnnawarmman yang memerintah di negara Taruma. Prasasti ini tanpa angka tahun dan berdasarkan bentuk aksara Pallava yang dipahatkannya (analisis Palaeographis) diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-5 Masehi.

    shriman data kertajnyo narapatir – asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo
    tasyedam – padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam – bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam
    .”

    [Yang gagah, mengagumkan dan setia terhadap tugasnya, dialah raja yang tiada taranya nan termashyur Sri Purnawarman yang sekali waktu (memerintah) di Taruma serta (memakai) baju berperisai yang tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan pertahanan musuh, (dia) yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya].

    Jelas sekali bahwa prasasti itu berisi pemujaan terhadap kehebatan dan kesaktian Raja Purnawarman dalam peperangan-peperangan yang berlangsung pada masa itu.

    Kurang lebih dari Prasasti Jambu juga terdapat batu besar yang diduga merupakan batu tempat mengasah peralatan perang seperti pedang tentara kerajaan.

    Terlihat jelas pada sisi bagian atas dari batu terebut, bekas gesekan dengan benda lain, mirip seperti yang sering kita lihat pada permukaan batu untuk mengasah pisau dapur. Amat disayangkan pada sisi-sisi batu ini, banyak sekali dijumpai coretan-coretan yang dilakukan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab akan kelestarian benda purbakala.

    4. Prasasti Pasir Awi, Jonggol, Bogor

    Prasasti Pasir Awi ditemukan di daerah Leuwiliang, ditulis dalam guratan-guratan “gambar” ikal yang bukan aksara, hingga kini belum ada seorang ahlipun yang dapat mengartikan isi prasasti yang berpahatkan gambar dahan dengan ranting dan dedaunan serta buah-buahan itu, Prasasati Pasir Awi juga berpahatkan gambar sepasang telapak kaki.

    Prasasti Pasir Awi terletak di lereng selatan Pasir Awi (Sunda, bukit =pasir) di kawasan hutan perbukitan Cipamingkis, desa Sukamakmur, kecamatan Jonggol, kabupaten Bogor.

    Prasasti Pasir Awi Prasasti ini pertamakali ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864, dan dilaporkan sebagai Prasasti Ciampea. Peninggalan sejarah ini dipahat pada batu alam.

    5. Prasasti Muara Cianten, kecamatan Ciampea, kabupaten Bogor.

    Prasasti Muara Cianten terletak di tepi (sungai) Cisadane dekat Muara Cianten yang dahulu dikenal dengan sebutan prasasti Pasir Muara (Pasiran Muara) karena memang masuk ke wilayah kampung Pasirmuara. Prasasti ini pertamakali ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864.

    Pada permukaan batu prasasti ini terdapat goresan yang merupakan pahatan gambar sulur-suluran (pilin) atau ikal yang keluar dari umbi.

    6. Prasasti Tugu.

    Prasasti Tugu ini dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang melingkar. Karena berbentuk kerucut bundar (curvelinear), penduduk menyebutnya “tugu”. Kampung Tugu dikenal sebagai perkampungan orang-orang keturunan Portugis.

    Dibandingkan prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara lainnya, Prasasti Tugu merupakan prasasti yang terpanjang yang dikeluarkan Sri Maharaja Purnawarman. Prasasti Tugu dapat dikatakan sebagai prasasti yang isinya paling panjang dibanding dengan prasasti Tarumanegara yang lain, sehingga lebih banyak informasi yang diperoleh.

    Prasasti Tugu ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, yang sekarang menjadi wilayah Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.

    Pada awalnya Prasasti Tugu dijadikan tontonan dan bahkan dikeramatkan warga yang percaya takhayul. Namun sejak dibaca dan diterjemahkan oleh peneliti Belanda, Prof. H. Kern, batu monolit besar berbentuk seperti telur tersebut dipastikan sebagai prasasti yang dibuat pada masa Kerajaan Tarumanagara.

    Pada tahun 1911 atas prakarsa P. de Roo de la Faille Prasasti Tugu batu dipindahkan ke Museum Bataviaasch genootschap van Kunsten en Wetenschappen (sekarang Museum Nasional Jakarta.) serta didaftar dengan nomor inventaris D.124.

    Prasasti itu merupakan salah satu dari tujuh prasasti raja Purnawarman yang tersebar di wilayah Bogor dan Banten. Karena ditemukan di wilayah Jakarta, tentulah keberadaan prasasti Tugu penting untuk merekonstruksi sejarah Jakarta. Sangat boleh jadi, nama Kampung Tugu sekarang berasal dari prasasti batu tersebut. Ciri-ciri kunonya masih mudah ditelusuri. Di kampung ini masih dapat dijumpai bangunan tua Gereja Tugu yang berasal dari pertengahan abad ke-17 dan kesenian lama keroncong Tugu.

    Nama Kampung Batu Tumbuh yang masih ada sekarang, mungkin juga diberikan orang bersumber dari batu bersejarah itu. Pada mulanya, batu itu hampir tidak kelihatan karena tertimbun tanah. Lama-kelamaan karena erosi, batu itu muncul sedikit demi sedikit, mirip tanaman yang sedang tumbuh. Kira-kira begitulah asal mula nama Batu Tumbuh,

    Prasasti Tugu bertuliskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk selokabahasa Sansekerta dengan metrum Anustubh yang teridiri dari lima baris melingkari mengikuti bentuk permukaan batu. Sebagaimana semua prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara umumnya, Prasasti Tugu juga tidak mencantumkan pertanggalan. Kronologinya didasarkan kepada analisis gaya dan bentuk aksara (analisis palaeografis).

    Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa prasasti ini berasal dari pertengahan abad ke-5 Masehi. Khusus prasasti Tugu dan prasasti Cidanghiyang memiliki kemiripan aksara, sangat mungkin sang pemahat tulisan (citralaikhacitralekha) kedua prasasti ini adalah orang yang sama.

    Prasasti Tugu ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Purnnawarmman pada tahun ke-22 sehubungan dengan peristiwa peresmian (selesai dibangunnya) saluran sungai Gomati dan Candrabhaga.

    Isi prasasti menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya. Purnawarman membangun saluran irigasi yang dikenal sebagai Chandrabaga membentang sejauh 6.122 busur, setara dengan 11 km dan melewati daerah Bekasi sekarang ini. Diduga saluran irigasi ini masih bisa dijumpai sekarang dalam bentuk Kali Bekasi.

    Prasasti Tugu memiliki keunikan yakni terdapat pahatan hiasan tongkat yag pada ujungnya dilengkapi semacam trisula. Gambar tongkat tersebut dipahatkan tegak memanjang ke bawah seakan berfungsi sebagai batas pemisah antara awal dan akhir kalimat-kalimat pada prasastinya.

    – pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyata puri praya
    – candrabhagarnnava yayau //
    pravarddamana dvavice dvatsare crigunaujasa narendradhvajabutena
    – crimata purnnavarmmana//
    prarabhya phalgunemase khata krsna tsami tithau citracukla trayodacya dinai siddhaika vincakai
    – ayata shatsahasrena dhanusa (m) sa catena ca dvavincena nadi ramya gomati nirmalodaka//
    pitamahasya rajasher vvdarya cibiravani.
    – bramanair ggosahasrena prayati krtadakshhina//
    .

    “[Dahulu sungai yang bernama Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan yang memiliki lengan kencang serta kuat yakni Purnnawarmman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah kali (saluran sungai) ini sampai di istana kerajaan yang termashur. Pada tahun ke-22 dari tahta Yang Mulia Raja Purnnawarmman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja, (maka sekarang) beliau pun menitahkan pula menggali kali (saluran sungai) yang permai dan berair jernih Gomati namanya, setelah kali (saluran sungai) tersebut mengalir melintas di tengah-tegah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta Nenekda (Raja Purnnawarmman). Pekerjaan ini dimulai pada hari baik, tanggal 8 paro-gelap bulan Caitra, jadi hanya berlangsung 21 hari lamanya, sedangkan saluran galian tersebut panjangnya 6122 busur. Selamatan baginya dilakukan oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan]”

    Dari keseluruhan isi prasasti Tugu, ada beberapa persoalan yang menarik untuk diselidiki.

    (1). Prasasti Tugu menyebutkan pembuatan saluran air dua buah sungai yang terkenal di Punjab yaitu sungai Chandrabaga dan Gomati. Dengan adanya keterangan dua buah sungai tersebut menimbulkan tafsiran dari para sarjana.

    Saat ini, para penduduk masih mengenal sebuah kali yang bernama Kali Tugu. Beberapa puluh tahun yang lalu kali tersebut masih dapat dilayari perahu. Mungkin kali itu telah mengalami pendangkalan dan penyempitan selama ratusan tahun sehingga sekarang tidak berfungsi lagi. Apakah Kali Tugu itu dulunya bernama Candrabhaga atau Gomati, masih belum teridentifikasi dengan sempurna.

    (2). Kedua, tentang kraton Sri Baginda Raja Purnawarman. Kali Candrabhaga mengalir melalui kraton sebelum mengalir ke laut, sementara sungai Gomati mengalir melalui tanah milik nenek sang raja. Dipertanyakan letak kraton.

    Secara Etimologi (ilmu yang mempelajari tentang istilah) sungai atau Kali Candrabhaga diartikan sebagai Kali Bekasi. Candrabhaga terdiri dari dua kata, yakni candra dan bhaga. Kata candra dalam bahasa Sansekerta adalah sama dengan kata shasi dalam bahasa Jawa Kuno.

    Dengan demikian, Kali Chandrabhaga sama dengan Kali Bhagashasi. Kemudian berubah menjadi Bhagasasi, Bhagasasi Bagasi lalu menjadi [Backassie, Bakassie, Bekassie (kolonial Belanda)], Bekasi seperti sekarang.

    Dengan demikian kraton raja Purnawarman, haruslah dicari di daerah Bekasi. Ataukah mungkin Chandrabhaga adalah Kali Cakung sebagaimana dugaan penulis buku-buku mengenai Jakarta, juga perlu diteliti lebih lanjut.

    Mengenai kata Gomati, kata Gomati berarti “banyak atau kaya akan sapi”. Kemungkinan, kata itu ada hubungannya dengan nama tempat Kampung Kandang Sapidi wilayah Jakarta Timur sekarang. Sementara pendapat ahli sejarah lain menyebutkan, bahwa kedua sungai yang disebut dalam prasasti Tugu adalah sungai Citarum dan Ciliwung.

    Penelitian arkeologi di sekitar daerah-daerah itu bahkan sampai ke wilayah Buni (Bekasi Utara) dilakukan mulai 1971, saat terbentuknya “Team Penelitian Sejarah dan Lokasi Kerajaan Tarumanagara.” Beberapa temuan yang teridentifikasi selama ekskavasi awal antara lain gerabah, keramik, terakota, pecahan botol, pipa “gouda”, tulang, batu kali, genteng, kerang, dan batu karang.

    Benda-benda tersebut ditemukan pada kedalamanan 50 cm – 120 cm dari permukaan tanah. Menurut penelitian, artefak-artefak tersebut lebih cenderung berfungsi untuk upacara keagamaan dan berasal dari masa kolonial. Tujuan utama ekskavasi padahal adalah untuk menemukan situs pemukiman penduduk sekitar abad ke-5. Jadinya, upaya untuk melacak identifikasi saluran Candrabhaga dan Gomati kurang memuaskan.

    (3). Prasasti Tugu juga menyebutkan anasir penanggalan walaupun tidak lengkap dengan angka tahunnya yang disebutkan adalah bulan phalguna dan caitra yang diduga sama dengan bulan Februari dan April.

    (4). Prasasti Tugu yang menyebutkan dilaksanakannya upacara selamatan oleh Brahmana disertai dengan seribu ekor sapi yang dihadiahkan raja.

    Tentang berita penggalian sungai ini, adalah sebagai upaya untuk mengairi lahan pertanian, menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.

    Prasasti Tugu seolah memberikan pembelajaran kepada kita yang menyodorkan fakta bagaimana seharusnya pemimpin bertindak cepat, tanggap dan trengginas secara terus-menerus berupaya mengghindarkan kawulanya dari bencana banjir dan demi kesejahteraan dan kemakmuran mereka. Tercatat dua kali pekerjaan berskala raksasa untuk ukuran zaman itu, raja Purnawarman mengatasi banjir sungai Candrabhaga dan sungai Gomati. Terinci pula secara tepat dimulai dan berakhirnya pekerjaan penggalian, serta bagaimana sang raja mendanai dan menitahkan agar segenap kekuatan rakyat bersama berusaha mengatasi permasalahan banjir yang juga melanda istana Purnawarman kala itu, tanpa ada yang dirugikan dan dikorbankan. Bahkan pada saat peresmiannya Sri Baginda masih juga memberikan hadiah berupa seribu ekor lembu bagi para agamawan.

    Dengan demikian masalah banjir Jakarta sebenarnya telah ada sejak 1500 tahun silam dan telah pula pernah tuntas diatasi. Pada prasasti Tarumanegara lainnya diperoleh keterangan bahwa penggalian kedua sungai yang ditulis pada prasasti Tugu, juga diperuntukkan tidak hanya untuk mencegah banjir tetapi juga untuk pengairan sawah dan transportasi. Pujian tertulis pada prasasti Tugu memberi gambaran bahwa pemimpin ketika itu kuat, disegani, pandai, bijak dan mengarahkan pembangunannya semata-mata hanya untuk kepentingan rakyat.

    Bandingkan: Pemerintah DKI Jakarta sejak 1973 hingga sekarang, tengah melakukan penggalian saluran sungai dengan maksud menghindari bencana banjir dan kekeringan, yang dikenal dengan proyek Banjir Kanal Timur (BKT).

    BKT ini mengacu pada rencana induk yang dibuat dengan bantuan Netherlands Engineering Consultants, yang menyusun “Master Plan for Drainage and Flood Control of Jakarta” pada Desember 1973, yang kemudian dilengkapi “The Study on Urban Drainage and Wastewater Disposal Project in the City of Jakarta” tahun 1991, serta “The Study on Comprehensive River Water Management Plan in Jabotabek” pada Maret 1997.
    Keduanya dibuat oleh Japan International Cooperation Agency.

    BKT melintasi 13 kelurahan (2 kelurahan di Jakarta Utara dan 11 kelurahan di Jakarta Timur) dengan panjang 23,5 kilometer. (Panjang saluran galian yang dibuat Prabu Purnawarman sepanjang 6.122 busur atau setara dengan 11 kilometer, dan dikerjakan dalam waktu 21 hari).

    Setelah berhasil melakukan pengalian sungai, kemudian Sang Prabu Purnawarman menghadiahkan sapi sebanyak 1000 ekor kepada para Brahmana. Pemberian 1000 ekor kepada Brahmana ini justru masih menyimpan sebuah pertanyaan, apakah tujuan dari pemberian sapi tersebut?

    Penafsiran muncul bahwa tidak mungkin 1000 ekor sapi yang diberikan kepada para brahmana itu sebagai sapi untuk dipotong atau sapi untuk tenaga penarik pedati, sebab sapi dalam agama Hindu dianggap sebagai binatang suci. 1000 ekor sapi ini bisa juga ditafsirkan sebagai simbol dari 1000 nilai kesucian.

    7. Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiang yang mengalir di Desa Lebak,
    Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten.

    Prasasti ini baru ditemukan tahun 1947 dan berisi dua baris kalimat berbentuk puisi dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Isi prasasti tersebut mengagungkan keberanian raja Purnawarman.

    Prasasti Cidanghiyang ditulis dalam aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta dengan metrum Anustubh (bentuk aksaranya mirip dengan yang digoreskan pada Prasasti Tugu dari periode yang sama).

    vikranto ‘yam vanipateh/
    prabhuh satya parakramah narendra ddhvajabhutena/
    srimatah purnnawvarmanah

    [Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguhnya dari raja dunia, Yang Mulia Purnawarman yang menjadi panji sekalian raja-raja].

    Maka berdasarkan sumber-sumber yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat diketahui beberapa aspek kehidupan tentang kerajaan Tarumanegara.

    Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M. Berdasarkan prasasti-prasasti tersebut diketahui raja yang memerintah pada waktu itu adalah Purnawarman. Wilayah kekuasaannya menurut prasasti Tugu, meliputi hampir seluruh Jawa Barat yang membentang dari Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon.

    Beberapa temuan situs purbakala yang diduga semasa kerajaan Tarumanagara:

    1.Situs Batujaya, Karawang: Unur (hunyur) sruktur bata; Percandian: Segaran I sd Segaran VI; Talagajaya I sd Talagajaya VII.

    Situs Candi Jiwa adalah salah satu dari 17 Situs di Areal Situs Batujaya, disebut juga Situs Segaran 2 atau oleh masyarakat setempat disebut Hunyur (Unur) Jiwa. Situs Candi ini berukuran 19 x 19 m dengan ketinggian 4,7 m dari permukaan sawah.

    Situs Candi Jiwa terbuat dari bata merah, dan hasil pengujian analisis radiometri carbon menunjukan pada satu sisi menunjukan abad ke IV dan pada sisi lainnya menunjukan Abad ke VII Masehi, masa itu adalah Masa kejayaan Kerajaan Tarumanegara.

    Candi yang ditemukan di situs ini seperti candi Jiwa, struktur bagian atasnya menunjukkan bentuk seperti bunga padma (bunga teratai). Pada bagian tengahnya terdapat denah struktur melingkar yang sepertinya adalah bekas stupa atau lapik patung Buddha.

    Pada candi ini tidak ditemukan tangga, sehingga wujudnya mirip dengan stupa atau arca Buddha di atas bunga teratai yang sedang berbunga mekar dan terapung di atas air. Bentuk seperti ini adalah unik dan belum pernah ditemukan di Indonesia.

    Pada areal ini telah di exavasi pula Situs Candi Blandongan yang jaraknya hanya 100m. Lokasi : Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jarak : 20 km dari Pusat Kota Karawang.

    2. Situs Buni, di Kampung Pasar Mas Buni, Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi: perhiasan emas dalam periuk; tempayan; beliung; logam perunggu; logam besi; gelang kaca; manik-manik batu dan kaca; tulang belulang manusia; dan sejumlah besar gerabah bentuk wadah.

    3. Situs Ciampea: Arca gajah (batu).

    4.Situs Cibuaya: Arca Wisnu I sd Arca Wisnu III, Lemah Duwur Wadon; Lemah Duwur Lanang; Pipisan batu.
    Candi Cibuaya terletak di Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, tidak jauh dari lokasi Candi Batujaya. Reruntuhan candi di Cibuaya ini pertama kali diketahui Dinas Purbakala pada tahun 1952, di antaranya berupa dua buah ‘unur’ (gundukan tanah di antara persawahan).

    Pada mulanya kedua reruntuhan bangunan purbakala itu dianggap reruntuhan benteng Belanda, namun pendapat tersebut berubah setelah ditemukan arca Wisnu di dekat situs tersebut. Lima tahun kemudian (1957) ditemukan Arca Wisnu kedua. Arca-arca tersebut saat ini disimpan di Museum Nasional di Jakarta dengan sebutan Arca Wisnu I dan Arca Wisnu II.

    Pada tahun 1975, ketika Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional melakukan penggalian penelitian, ditemukan Arca Wisnu Cibuaya III. Sampai saat ini, reruntuhan kedua candi yang dinamakan Candi Lanang dan Candi Wadon tersebut masih belum dapat direkonstruksi.

    5. Situs Cilincing: sejumlah besar pecahan tembikar.

    6. Situs Gunung Cibodas: Arca Terbuat dari batu kapur; 3 arca duduk; arca raksasa; arca Fragmen; Arca dewa; Arca dwarapala; Arca brahma duduk diatas angsa (Wahana Hamsa) dilengkapi padmasana; Arca (berdiri) Fragmen kaki dan lapik; (Kartikeya?).

    7. Situs Kampung Muara: Menhir; Batu dakon; Arca batu tidak berkepala; Struktur batu kali; Kuburan (tua).

    8. Museum Nasional: Situs Tanjung Barat (Arca siwa duduk, terbuat dari perunggu); Situs Tanjun g Priok (Arca Durga-Kali batu granit); Situs Gunung Ciubodas (Arca singa, terbuat dari perunggu). Arca Rajaresi (situs tak diketahui).

    Masih banyak lagi sebenarnya informasi tentang kerajaan Tarumanagara, tetapi untuk sementara cantrik Bayuaji cukupkan hinga di sini.

    Untuk selanjutnya dibahas kerajaan-kerajaan tua lainnya di Nusantara, seperti:
    Kerajaan Melayu Tua Jambi (Abad ke-2 M), Kerajaan Sekala Brak (Abad ke-3 M)
    Kerajaan Barus (Abad ke-6 M), Kerajaan Kalingga (Abad ke-6 M), Kerajaan Kanjuruhan (Abad ke-6 M),Kerajaan Sunda (669-1579 M). Insya Allah.

    ånå tutugé atawa to be continued [tü bi: kǝn’tinyu|ed]

    Nuwun

    cantrik Bayuaji

    Rujukan:

    1. Bambang Soemadio (et.al. editor) Sejarah Nasional Indonesia II, Jaman Kuna. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan l975:39-40; l984:40

    2. Dinas Purbakala R.I (1964) Laporan Tahunan 1954 Dinas Purbakala Republik Indonesia. Djakarta: Dinas Purbakala

    3. Hasan Djafar “Pemukiman-pemukiman Kuna di Daerah Jakarta dan Sekitarnya” makalah pada Dskusi Ilmiah Arkeologi VI, Jakarta 11-12 Februari 1988. IAAI Komda Jawa Barat.

    4.I Made Sutayasa (l970) “Gerabah Prasedjarah dari Djawa Barat Utara (kompleks Bun), makalah pada Seminar Sjarah Nasional II

    5. Jurusan Arrkeologi FSUI (l985/1986), Peninggalan Purbakala di Batujaya (naskah Laporan untuk Proyek Penelitian Purbakala, Jakarta)

    6.R.M.Ng.Poerbatharaka (l952), Riwayat Indonesia I. Djakarta: Jajasan Pembangunan

    7. R.P.Soejono “Indonesia (Regional Report)” Asian Perspectives VI, 1962: 23-24

    8. Richadiana Kartakusuma (1991), Anekaragam Bahasa Prasasti di Jawa Barat Pada Abad Ke-5 Masehi sampai Ke-16 Masehi: Suatu Kajian Tentang Munculnya Bahasa Sunda. Tesis (yang diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dalam bidang Arkeologi). Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

    9.Soetjipto Wirjosuparto (1963), The Second Wisnu Image of Cibuaya, West Jawa, MISI. I/2: 170-87

    10. Teguh Asmar (1971), “Preliminary Report on Recent Excavation near the Kenon Kopi Inscription (Kampung Muara)” Manusia Indonesia V(4-6), l971:416-424;

    11. Teguh Asmar (l971) “The Megalithic Tradition” dalam Haryati Soebadio et.al. (editor) Dynamic of Indonesian History, Amsterdam. 1978:29-40

    12.Museum Nasional Jakarta, Museum Sri Baduga Bandung.

    13.Situs Purbakala Bogor, Situs Batujaya, Karawang, Situs Gunung Cibodas, Situs Ciampea, Candi Jiwa Situs Batujaya, Bekasi, Karawang. dll

    • Wah..matur nuwun sanget Ki Bayuaji…sampun kulo simpen..

    • Ki Bayuaji,
      Ternyata aku baru tau kalau
      Prasasti jambu, pasir awi,
      n Muara Cianten dekat rumah aku lho…
      Matur nuwun infonya….

      • Sebaiknya ditulis sekalian jalan apa nomer pira RT 5 RW 1. Kamare sing endi. Jadi kalo ada yang mau bertamu imaginer gampang Miss Nona.

        • Bisa aja Ki Djojo…,
          Kayaknya harta karunnya dirumah aku deh, Xixixi

          • Nanti kutanya Ki PA lewat aji pameling, harta karunnya dimana???
            Tapi jangan jangan harta karun tersebut diri miss Nona seluruhnya piye jal??

          • alamate kirim neng mailku yo Jeng Miss

          • Wah Ki PA muncul juga akhirnya,
            yo wis ntar tak kirim (tapi ndak janji, hehehe…)

    • Kalo yang diisukan ada harta karun, disitus mana Ki Bayu?

      • Yang pasti harta karunnya berada di situs wangsa bayuaji</b.

        he he he heh heh.

        Miss nona, rupanya kita bertetangga. Nggak jauh dari situs batutulis, "hing puri bima sakti

        • Wah, seneng juga punya tetangga sekaliber Ki Bayuaji neh….

    • matur nuwun, wah, benar-benar terlaksana bisa mengikuti sejarah indonesia sejak awal.

      mangga ki, lanjutannya tetap dinanti.

    • Matur sembah nuwun dongengipun Ki Bayuaji, kulo tenggo tutugipun.

  6. Sugeng siang Kadang sedoyo.
    Wah ujung kulon puanas tenan dino iki.

  7. Wah Ki Satpam main petak umpet.
    Lha nganti jam piro iki mengko nunggu tutuge.

  8. Ngentosi tutuge ………..

  9. hadir malam2…
    malam2 absen…
    ngisi daftar hadir …
    (lah wong absen koq ngisi daftar hadir)…hikss mundak didukani ki Ajar Satpam

    • lha iya ta Ki

      Saya dulu, kalau absen, harus menyerahkan surat dokter atau surat dari orang tua.

      Lha, kalau Ki Pandanalas pas di hutan tidak ada dokter dan tidak ada orang tuanya, kalau absen buktinya apa ya Ki.

      xixixi…..

      • alibine : takon Jeng Non Miss

  10. mumpung masih sore, tak ikut antri nunggu “sebelum tutuge”.

  11. he….he….he…..
    Lapor Ki Ajar pak Satpam,
    kula kecele saestu…………..!!!!

  12. waduh pak satpam…
    kali ini bener2 kecele..

  13. W.O.R.O. W.O.R.O.
    dari Ki P SATPAM

    wedaran diajukan pada saat lingsir wengi. Takut tidak sempat medar (karena kerinan) atau terlambat wedar (karena……..

    We baru tahu kalau Ki P Satpam itu meskipun tidak digelitikin, tibakne kerinan. Geli ya Ki P Satpam….

    Kerinan dan kerinan apa sih bedanya ?? He ..he he.

    S.e.l.a.m.a.t.p.a.g.i….
    Jadwal rondha hampir habis, mbentar lagi Subuh.

    • Rajinnya ikutan ronda ma Ki P.Satpam..

      • bawa2 kenthongan juga……

        • bawa2 penthungan juga…..

          • tentu !…..

  14. Matur nuwun, PBM-18 sampun kulo undhuh.

  15. Maatur nuwun Ki Arema, Ki Satpam. Ngatos-atos anggenipun ngusiri kreto. Sampun kesupen tansah dzikir saenggo Allah tansah maringi pangayoman.

  16. Sugeng enjang…..

    Matur nuwun P. Satpam, Ki Arema… sanajan “tutuge” belum lengkap dicantumkan di gandok ini, tapi sudah kersa medhar kitab.

    Brrr….. hawa yang cukup dingin di tlatah Bekasi Selatan, setelah tadi pagi diguyur hujan.

    • sugeng enjang, ki…

      sepertinya wilayah selatan memang sedang dianugerahi oleh hujan… di jayakarta bahagian selatanpun sampai saat ini masih deras…

      kemulan maneh, ah….

      • Kasinggihan Ki Banu…

        Lha punika jawah terus-terusan… riwis2, hananging awet….

        • tur anget…..

  17. Hadir pagi, trus unduh kitab, simpan dulu soale bacanya baru sampai ke-04.

    Pamit rumiyin, biar tidak kerinan

    Nuwun ki Arema/ ki P Satpam

  18. Assalamu’alaikum,
    Wah dah keluarin semua jurus tapi
    dindingnya kog belum bisa tembus…
    Ada apa ini….?

    • Wa’alaikumsalam

      Jeng Nona mau nembus dinding yang mana yaaa??? coba dicari di dinding yang ada di sentong 2, barangkali terbuat dari gedek bambu, jadinya gampang untuk ditembus.

      Monggo…

    • Dinding yg mana yg blm bisa ditembus ni?

      • dinding hati……..

    • mlebu senthong ah, … nyusul jeng nona.

      • terkintil-kintil???

  19. On 27 Juli 2010 at 10:35 miss nona said:
    …….
    dindingnya kog belum bisa tembus…
    ….

    Nah itu,…. coba pake jurus puisi cintanya programmer komputer berikut ini, pasti tembus………..

    Puisi cinta programmer computer

    Jeng miss …non….a,
    Ingin kuinstall dirimu pada keping cd hatiku
    kan kujadikan family debianku
    Wajahmu indah seperti Microsoft Silverlight
    Hidungmu mancung seperti SQLyog
    Rambutmu panjang seperti PostgreSQL
    Tubuhmu langsing bak Notepad

    Kini aku telah terpesona dengan user interfacemu
    dotNet telah memberikanmu pesona bidadari
    Semenjak perkenalan kita di Java
    Engkau adalah primary hd=500gb cintaku

    Bila engkau jauh,
    aku bagai komputer digital tanpa microprosesor,
    aku bagaikan rangkaian pemancar tanpa catu daya.

    Aku telah mengupload semua kode Perl ke tubuhmu
    Mengcompile dan mendebug kodeku
    Ku upload kode C untuk memberikan Cintaku kepadamu

    Aku berhari-hari mengejar PHP demi kamu
    ingin rasanya aku manfaatkan vulnerabilitiesmu, pake PHP injection.
    Adakah di hatimu folder yang bisa ditulisi atau adakah free space buatku. Sehingga tidak ada keraguan saat aku c:\nc -l -o -v -e ke pchatimu.

    Saat semua requestku diterima aku akan nongkrong terus di bugtraq untuk mengetahui bug terbarumu maka aku akan patch ‘n pacth terus, aku akan jaga servicemu jangan sampai crash dan aku akan menjadi firewallmu aku akan pasang portsentry, dan mensetting error pagemu “The page cannot be found Coz Has Been Owned by Someone. Get out!”.

    Aku janji gak bakalan ada malicious program atau service yang hidden
    Jangan ada “You dont have permission to access it” untukku, kalau gak mau di ping flood atau DDos Attack.

    Tapi aku hanya berani ping di belakang anonymouse proxy.

    Namun hasilnya adalah Core Dump, Segmentation Fault,
    Syntax Error, Exception, Runtime Error 13, Invalid Memory Allocation

    Gambas sudah usahaku
    Fortran sudah nasibku
    Cobol sudah hidupku
    Prolog sudah nafasku
    ubuntu 10.04 pikiranku
    Letih dan linux-linux tubuhku

    Tanpa mu, hidupku bagaikan bahasa tanpa compiler
    Tanpa mu, hidupku bagaikan C# tanpa dotNet framework.…
    Tanpa mu, hidupku bagaikan PHP tanpa MySQL.…

    Apa aku harus pasang backdorRemote Connect-Back Shell” jadi kutinggal nunggu connector darimu saja.

    Hiks….hiks…..hiks…..(keselek).

    • kau yang berjanji kau yang mengingkari..
      kau yang berjanji kau yang mengingkari..
      ..ya nasip..ya nasip….

      • bukan Ya nasip tapi ya hansip….xixixi

        • hikss…mengko didhukani P Satpam…

          • Nyuwun ngapuro Ki P.Satpam…(he5x)

          • Ki Kartoj, yang di padepokan gagak seta ada foto sampenyan thok…?

          • Banyak koq Ni….hanya belum pada mechungul aja…..

          • yang LAEN pada belum
            jadi Ni….!!

            TELAT pesen,

    • Hikss… so sweet…..(he5x)
      Katanya ndak ngerti komputer…

      • Ketahuan ya…?

        • hikss..njihh Ki…panjenengan ke-tahu-an …Miss Nona..

          • Wah…nek ngene tukang rujak iso ra payu…

          • hahahaaa…pake AJI
            sawer ki,

            dijamin tetep MLAKU,

          • Betul itu Ki YuPram..
            makanya Ki PA, sawerannya mana…?

          • tidur….xixixi

          • ki Menggung Karto punya
            yang baru Ni…Amseli !!

    • Boleh juga ki LJ sayang kaga pake RAM jadi ga bisa on. Lanjut mawon Ki.

      • Ki Lono, masa cuma 500 gb sech…
        sekarang kan udah ada yang 1 or 2 tb?

        • 500 gb(gebetan)…
          1 or 2 tb(tubrukan)…

        • On 27 Juli 2010 at 13:55 miss nona said:
          ….
          masa cuma 500 gb sech
          …………..
          kurang besarkah
          Wah, kalau gitu kalah dong sama sawernya Ki Pan

        • Walah… jangankan 500GB, yang 160 GB aja masih nyisa banyak.

  20. Sugeng siang..
    ngapunten Pak Ki Satpam nembe saged sowan siang menika
    langsung ngundhuh
    matur nuwun

  21. Waduh, bersambung….
    Pas seru berantem ma perampoknya lagi….
    kira2 kapan bisa baca lanjutannya yach…

  22. tumben…. begitu ki lelono jagad mengungkapkan perasaannya dengan rayuan programer, koq jadi ada iklan…:mrgreen:

    • lho… iklannya sudah terbusek, dhing…

  23. Pemerintah berencana mengganti warna tabung gas 3 kiloan…karena warna hijau sering meletus..

    • Warnane ireng ae, ben kaya bajak laut terus meletusnya plepeees pleeeppeees guman ambune sing ora tahan.

      • Itu bukan ki Djojo kan?

      • Ternyata pemerintah terinspirasi lagu balonku…setiap dinyanyikan, pasti balon hijau yg meletus

        • Ki PA, ojo lali kirim aji sawernya yo?

          • Dudu aku sing ngomong lho, testimoni jeng miss menjadi bukti nek sawerku gae sakaw mentrik…xixixi

        • mulane kudu dipegang erat2….

          • KI Pls nuwun tulung kulo diparingi emel adresnya miss nona nanti tak barter gambar mentrikku sing lagi…….

            Boleh kan miss nona??

          • Lah mbok nyuwun langsung tho ki…
            Nek bab gambar mentrik, mangke tak barter kaliyan kolam ikan

          • Ki PA bukan warna nya yg hrus di tukar, tapi berat nya jadi 4 kg. Abis biasanya kalo ada sesuatu khan itungan nya 1, 2 3 dan doooooor meletus heheheh.
            Apa khabar KI PA

  24. Matur nuwun Ki Ajar pak Satpam,

    punapa tugas menyaisi Ki Senopati sampun kaleksanan kanti sae…..?

    sugeng dalu.

    • enak no nyaisi ki Ajar Arema….iso nunut njagongi manten

    • Alhamdulillah

      Atas do’a semua sanak kadang, kami selamat di perjalanan dan sudah kembali di tlatah Singosari lagi.
      Sambang sebentar, capek…., bobo dulu ah…
      besok nganglang lagi ke tlatah Ki Gembleh (hanya lewat saja Ki) terus ke Gresik.

      pamit Ki, tidak ikut ronda.

  25. Assalamualaikum wr. wb.
    Alhamdulillah saya diberi kesehatan dan bisa sambang padepokan.
    sebentar lagi kita memasuki Ramadhon, untuk itu marilah kita sucikan hati dan pikiran dan mohon maaf apabila ada kesalahan selama kita saling gegojegan melalui dunia maya ini.

  26. Selamat pagi P. Satpam,
    karena capek terus mbukak gandok baru masih nunggu nti siang ya.

    • Bukan karena capek Ki, memang jadwalnya masih nanti siang.
      Pamit dulu, menjalani tugas lagi “menyaisi” pedati Ki Arema.
      Mudah-mudahan tidak kehilangan sinyal selama perjalanan, sehingga gandok bisa diwedar sesuai jadwal

  27. Apel pagi P Satpam, sambil nunggu gendak anyar.

  28. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    Awignam astu namassidêm (Mugi linupútnå ing rêridhu).

    Nuwun,

    Pårå kadang ingkang dahat kinurmatan:
    pårå ubhwan, pårå ajar, pårå putut manguyu, jêjanggan, pårå tåpå, pårå tapi, pårå èndhang, pårå kadang cantrik, lan sêdåyå pårå kaki bêbahu padépokan.

    Pårå kadang sutrêsnå padépokanpelangisingosari”.

    Wulan Ramadhan 1431H mbotên kraos badé nuwéni kita sâdåyå. Atêgês mbotên sawêtawis dangu kitâ bakal pêpanggihan kaliyan wulan agung punikâ. Kitå nênuwun dumatêng ngarsâ Gusti Kang Måhå Asih, mugi tansah pikantuk barokah Ramadhan, ugi ampunan saking Gusti Ingkang Murbèng Dumadi.

    Sumonggo samyâ dêdongå:
    Allaahumma baariklana fii Rajab wa Sya’ban, wa ballighnaa Ramadhan.

    [Duh Gusti, Allah Kang Måhå Asih mugi Panjênêngan kêrså paring berkah dumatêng kulå ing wulan Rajab kapêngkêr; lan wulan Sya’ban samangké, ugi ndumugéknå dumatêng umur kulå ing wulan Ramadhan].

    Mugi Panjênêngan Allah kêrså paring pitêdah lan pitulung dumatêng kitå, sagêd anindakakên dawuh lan parintah Panjênêngan Gusti Allah, nambahi ta’at lan ibadah kitå ing wulan mulyå punikå, ugi tansah kaparingan rahmat lan maghfirah saking ngarså dalêm Gusti Allah SWT.

    Ya Allah… bulan RajabMu telah berlalu. Engkau bawakan BerkahMu di bulan itu kepada kami di bulan Sya’ban ini, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.

    ALLAHUMMA SALLIM NIY LIRAMADHANA, WA SALLIM RAMADHANA LIY, WA TASALLAM HU MINNIY MUTAQABBALAN.

    Ya Allah hantarkanlah kami kepada bulan Ramadhan dan hantarkanlah bulan Ramadhan kepada kami dan terimalah amalan-amalan pada bulan Ramadhan dari kami

    Pårå kadang ingkang dahat kinurmatan:

    Rajab sudah berlalu, kini kita berada di pertengahan bulan Sya’ban, meskipun mendung dan di sela-sela rintik hujan, kemarin malam di beberapa tempat di Ibukota, cahaya purnama Sy’aban begitu indah mempesona. Di antara Saudara-saudara kita menyebutnya Malam Nifsu Sya’ban. Ini berarti tidak berapa lama lagi Ramadhan akan datang.

    Sudah siapkah pårå kadang menyongsong kehadiran bulan agung nan penuh berkah itu?

    Sugêng mangayubagyå datêngipun wulan siyam Ramadhan.
    Mugi Panjênêngan Gusti Allah tansah paring rahmat ugi nampi sêdåyå amal ibadah kitå sêkaliyan sami. Nyuwun agunging samudrå pangaksami.

    Pårå kadang ingkang dahat kinurmatan:
    Pårå ubhwan, pårå ajar, pårå putut manguyu, jêjanggan, pårå tåpå, pårå tapi, pårå èndhang, pårå kadang cantrik, lan sêdåyå pårå kaki bêbahu padépokan.

    Pårå kadang sutrêsnå padépokanpelangisingosari”.

    Pada kesempatan ini cantrik Bayuaji memohon agar dibukakan pintu maaf, agar pada saatnya nanti, kita memasuki bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan tiba, hati kita menjadi tenang, teduh dan damai serta lapang di dalam menjalankan seluruh ibadah selama bulan suci itu.

    Selamat menggapai berkah Ramadhan. Marhaban ya Ramadhan.

    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    Nuwun

    cantrik Bayuaji

    • sugeng siang ki Bayuaji,

      Dolanan Kembang API sama MERCON apa isih
      di-perbolehkan ya ki,…??

      KanGen Dor-Dor-an,

    • sami sami Ki Bayu, kulo namung nderek amin

  29. Assalamu’alaikum, absen nomor 100, dapet apa yach dari Ki P.Satpam?

    • Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarakatuh,

      NUNUT sampe POS pak SATPAM Ni,…janji gak
      pake pegang-pegangan…he5x

      ingak-inguk sebentar…sapa tau ki JuRaGan
      rujak ada di-belakang,

      • asal boleh cubit2an….

      • Dodolan rujake ra payu, digusur tukang komputer…

        • Amergi mongso rendeng-e dowo…ngenteni ketigo…

        • Mestine njenengan belajar nggawe puisi Kang. Napa puisi tukang ikan, napa puisine juragan speedong. Mboten kedah putus harapan, banyak jalan ke Roma.

        • Nenggo jambu alas ceblok kemawon ki

          • Lha menawi jambu alas ceblok, mesti wes kedhisikan Ki PA tho…

        • lha mbok sawer-e dicul-ke wae..

          • sing arep diCULke
            nopone ki…??

            Oooh…rupane maen
            BAUT tiba-e…he5x

          • ..O..kliru tho…?
            yo wis nek ngono diganti…dithok-no wae….hiksss

          • Poro kadang, sekedar informasi
            gandok anyar telah dibuka…
            tapi…tutuge entek njih..

  30. terima kasih atas kitabnya, ki arema, ki ismoyo, ki pak satpam, dan para bebahu padepokan sekalian…

    salam, sanak kadang cantrik dan mentrik semuanya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: