PBM-25

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

🙂

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 7 Agustus 2010 at 11:21  Comments (88)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pbm-25/trackback/

RSS feed for comments on this post.

88 KomentarTinggalkan komentar

  1. nomor wahid

    • he he …
      monggo Ki

      • nomer Kangmase dik Wahid.

        • nomer Buyut-e nak Wahid.

          • Mumpung belum Luber, NO1
            Dereng sare to Ki Arema, Ki Is dan Ki mas Pak Satpam

  2. @ Ki Bayuaji, kamsia banget
    Kalo enggak keberatan, terlanjur udeh nyerempet WAK ITEM, mohon gambarannya mengenai kedudukan Tanjung Barat dan Tanjung Priuk di bawah PAJAJARAN sebagai apa??
    @ pak SATPAM, ane dapet ide untuk ente, name ente dirubah aja jadi HANSIP (marga HAN, panggilannye SIP)keren khan???

    • setahu saya, kedudukan Wak Item bukan sebagai HANSIP, karena nyata2 kedudukan itu sudah akan dikudeta oleh Ki Ajar pak Satpam atas provokasi Adhimas Kompor PST.
      Lha terus yang akan jadi pak Satpam njur sapa…?
      he….he….he….

  3. nderek gabung..
    segeng tetepangan kisanak sedaya…

  4. sesekali ikutan shift siang ah………
    mana Ki Menggung berdua……?

  5. melu hadir juga siang ini

    • sugeng siang Ki Drana,
      sami wilujeng Ki ?

  6. ikut ambil nomor antrian

  7. malam minggu ini
    ada bonus ngga ya

    • tidak ada disposisi dari yang berwajib.

      • hanya ada EDARAN yang sifatnya HIMBAUan…!!

        tidak mengikat secara keDINASan,😀

  8. Ikut hadir aaach nemenin pak Satpam menertibken para cantrik yang kadangkala rada-rada mbeling ketularan pendekar dari alas mbang lor. Sing merasa ara pareng duko

    • cantrik nemeni mentrik2 aah….mesak-ke
      ditinggal Panembahan BEKASI nemenin pak
      SATPAM….!!😀

      • Ki Menggung Yudha sugeng siang

        • sugeng dalu ki Panembahan,

          lapor ki :
          mentrik AMAN selama ditinggal
          Njenengan.
          tak ADA satupun mentrik yang
          keluar GANDOK selama cantrik
          ada di DALAM….he3

    • hayoo sing ngroso ndang ngaceng…untunge aku soko brang kulon

      • cantrik soko brang WETAN…..tenan ki !!

  9. ikut antri nomor nembelas.

  10. kula tumut antri nomor nembelas.

    • nuwun sèwu dobel-post. terlalu bersemangat mencet “submit”.

  11. Nuwun sewu kadang cantrik/mentrik sedoyo. Mungkin nama Mahisa Peteng masih benar-benar peteng bagi sederek sedoyo.
    Ingin memperkenalkan diri lagi – meski di PBM 23 sudah memperkenalkan diri. Saya mengikuti ADBM kalau tak salah sejak Mas Rizal (yang dulu dalam word). Kadang-kadang saya download, kadang tidak karena koleksi seri ADBM warisan mertua nggak lengkap (mertua saya itu orang minang asli. Tapi suka Api di Bukit Menoreh lho). Maksudnya super tidak lengkap (lebih banyak downloadnya). Sebagian karena dimakan rayap, sebagian hilang (mungkin karena pindah-pindah rumah). Saya menemukan ganjelannya di ADBM. Saya ingat, yang paling membuat saya penasaran adalah perang tanding antara AS dan Prabadaru (di jilid ini banyak yang hilang).
    Lama-lama saya makin kesemsem karena pengabdian para punggawa di ADBM, terus gojegannya (sayangnya saya kurang bisa gojegan, meski sangat menikmati). Saya makin kesemsem ketika mulai ada posting dari Ki Bayuaji. Benar-benar posting yang mencerahkan.
    Pendeknya, sekian lama saya jadi cantrik gelap. Download, ngilang, download, ngilang … Tapi diam-diam saya ngamati, ngintip, blusukan, bersimpati, terus bilang ke istri saya: stt, tuh ada blog komunitas yang bagus di ADBM (dan facebooknya juga ada). Bagus tuh … Karena saya berhasil memanfaatkan kekuasaan sebagai suami (yang kebetulan, Alhamdulillah, masih dipercaya), terus istri saya dengan memanfaatkan kekuasaannya memerintahkan anak buahnya untuk cari informasi dan wawancara, dan saya lupa tepatnya kapan, artikel tentang komunitas pecinta ADBM masuk ke halaman Republika. (He … he … tentunya ya nggak sesederhana ini. Pasti ada proses lainnya di kantor mantan pacar saya. Tapi kalau ceritanya dibuat rumit begitu, wah … kurang toplah saya).
    Gitu sederek, ikatan saya sama ADBM yang lalu berlanjut ke Pelangisingasari (yang kebetulan saya nggak punya bukunya). Koleksi keluarga cuma Nogososro dan Api seri 1 dan 2 – yang dua-duanya sudah nggak lengkap lagi.
    Download terus … lama2 risih juga. Ada kemarin kesempatan masuk ketika Ki Bayuaji posting soal jagung-nya Ki Pandanalas. Sesuai dengan janji saya dengan Ki Bayuaji, maka saya posting tentang ‘’Jagungnya Pandan Alas’’ – setelah blusukan sana sini. Karena tampaknya agak panjang, posting saya pecah dua kali saja. Yang pertama soal Hikayat si Jagung. Yang kedua soal Petualangan Si Jagung – apa iya pada zaman Muhisa Bungalan si jagung sudah ada di tlatah Singosari? Kali ini artikel yang pertama dulu.
    Mudah2an bermanfaat:

    HIKAYAT JAGUNGNYA KI PANDAN ALAS

    Saya ingin memulai posting ini dengan kutipan ramalan Joyoboyo ‘’wong cébol kêpalang tanggung agêgaman têbu wulung umuré sak umuring jagung”.
    Disebutnya: [Orang pendek kepalang tanggung (wong Jepang itu), bersenjatakan tebu wulung (senapan berlaras panjang), umurnya seumur jagung (umur jagung siap panen adalah tiga setengah bulan, angka tiga setengahnya “bener” tapi di sini dihitung dalam hitungan satuan tahun)].
    Tetapi benarkah?
    (Maksudnya benarkah “jagung” yang dimaksud oleh si peramal adalah “jagung” yang kita kenal sekarang ini).

    Dikutip dari posting Ki Bayuaji.

    Jawabannya, nyuwun sewu, ditunda dulu. Saya ingin memulai lebih awal: tentang jagung itu sendiri. Tempat yang paling bagus untuk memulainya adalah Meksiko, tempat negeri asal jagung mula-mula dibudidayakan, sejak kurang lebih 10.000 tahun lalu.
    Dalam suatu pameran Kebudayaan Maya di Meksiko 1982, brosurnya menyebutkan: jagung adalah hasil
    ‘’ciptaan’’ manusia, dan bukan hasil domestifikasi (budidaya). Jagung itu ‘’diciptakan’’ . Dan penciptanya, menurut mereka, bukan Tuhan. Penciptanya adalah manusia Amerika Tengah yang memiliki budaya adi luhung di masa lalu, yaitu suku Indian Maya. Weleh, kok sombong amat nih manausia … Memang, kedengarannya mungkin berlebihan dan terkesan ‘’melecehkan’’ Gusti Allah. Tapi dilihat sejarah evolusinya, sebenarnya itu ungkapan hiperbolik. Seperti kata penyair Iqbal: ‘’Allah menciptakan lempung, manusia membuatnya jadi gerabah dan pot tanah.’’
    Yang ingin dikatakan panitia: jagung adalah tumbuhan hasil rekayasa genetika yang mula-mula dilakukan oleh manusia. Mirip-mirip tanaman transgenik sekarang, dengan hasil akhir yang sudah jauh menyimpang dari sifat asli induk jagung itu sendiri. Hasilnya: jagung yang mirip gerabah. Sebagaimana gerabah, jagung tak bisa ada tanpa kehadiran manusia di sekitarnya. Gerabah: mula-mula lempung diadon, dibentuk, dikeringkan, dibakar …. jadilah gerabah. Gerabah itu jauh berbeda dengan lempung – sang induknya
    Jagung (Zea mays) kurang lebih mirip. Berbeda dengan padi, gandum atau kebanyakan tanaman biji lainnya, jagung tidak memiliki kemampuan alami untuk menyebarkan dirinya sendiri. Kulit atau kelobotnya terlalu kuat. Bijinya pun terlalu keras menempel ke bonggol. Manusia harus ‘’ngonceki’’ kelobotnya, mipil biji jagungnya, dan menanamnya. Jadilah jagung menyebar seiring dengan penyebaran manusia. Sementara kalau njenengan perhatikan tanaman lain, tak harus begitu. Kebanyakan tumbuhan keluarga rumput-rumputan (padi, gandum, dll) memiliki biji yang terletak di batang atau tangkai paling atas. Dalam suatu kesempatan ketika saatnya tiba, tumbuhan biji – kecuali jagung – akan memecah kulitnya sendiri. Biji pun bisa tersebar secara alami. Dan dengan demikian kelestarian tanaman tersebut terjaga secara alami. Nah, jagung berbeda. Kelestarian jagung sangat bergantung pada manusia.
    Yang juga unik: tak ada (paling tidak hingga penelitian tahun 2000-an ini) jagung liar di alam. Penelitian selama beberapa dekade, yang ditemukan cuma jagung budidaya atau jagung jinak yang selalu hidup berdampingan dengan manusia – termasuk salah satunya jagung milik Ki Pandanalas. Kalau ada yang disebut kerabat paling dekat, dialah teosinte – salah satu keluarga zea (jagung-jagungan) yang banyak ditemukan secara liar di alam. Tapi Teosinte sama sekali tidak mirip dengan Zea mays (jagung). Fisiknya berbeda. Sifat-sifatn lainnya pun jauh dari mirip: kulit teosinte tidak terlalu kuat, dan karena itu secara alami bisa menyebarkan dirinya sendiri. Karena itu jagung dan teosinte dimasukkan dalam genus yang berbeda.
    Kalau pun ada yang sama: tampaknya keduanya sama-sama berbulu. Yang satu sedikit, yang satunya (si jagung yang bisa dimakan) luebatt! (hayoo, nggak boleh ngeres)
    Artinya sederek? Kalau bener jagung merupakan hasil rekayasa manusia, barangkali bangsa Indian Maya berhasil ‘’mengebiri’’ jagung sehingga dia memiliki kelemahan fatal: tidak bisa membuka kulitnya sendiri karena terlalu tebal. Bagi manusia, kelemahan ini menguntungkan. Kayak si Pandanalas, nggak usah ditunggui terus-terusan, jagung nggak akan bisa nyebar sendiri. Kalau ditinggal, paling garing saja. Jagung bisa ditinggal santai berburu dulu. Kalau mau, jagungnya diambil dan disimpan di dalam rumah untuk dibuat tepung atau nasi jagung.
    Dan kalau para kadang perhatikan, proses rekayasa terhadap jagung masih berlangsung terus-menerus hingga sekarang. Misalnya ada jagung hibrida atau transgenik. Bedanya: bangsa Maya dulu mewariskan tumbuhan modikasinya untuk seluruh rakyatnya. Artinya, kita bisa nanem, panen, nanem lagi dengan dengan biji yang kita hasilkan dari kebun sendiri. Gratis. Sekarang tidak. Baik jagung hibrida maupun transgenic dibuat hanya bagus untuk ditanam sekali. Hasil panennya tak bagus kalau kita gunakan sebagai benih karena memang direkayasa demikian. Ujungnya: para petani kita harus membeli bibit bikinan negeri maju, terutama Monsanto (perusahaan AS yang sangat terkenal dengan produk rekayasa genetikanya). Bahkan ada berita: pemulia bibit jagung lokal (petani setempat yang memiliki pengetahuan dan bisa memproduksi bibit sendiri), dikejar-kejar aparat kepolisian dan dituduh menyebarkan benih yang tidak bersertifikat (yang ada ancaman hukumannya).
    ***
    Kadang cantrik/mentrik sedoyo, mungkin bagi kita jagung kelihatan kurang berharga. Hanya jadi makanan selingan (kecuali saudara kita di Madura atau NTT). Tapi dibanding padi dan gandum, posisi jagung lebih penting. Baik sebagai makanan pokok di beberapa wilayah (sebagian Afrika, Amerika Latin dan Tengah, dll) maupun dalam posisinya sebagai bahan baku industri – terutama untuk pakan ternak. Dalam daftar Badan Pangan Dunia (FAO), jagung merupakan tumbuhan serelia (biji) terpenting – di atas padi dan gandum. Berdasarkan survey lembaga perjagungan di Amerika sana, dari 10.000 item barang/makanan di supermarket, sekitar 2.500 di antaranya dibuat atau minimal ada bahan dasarnya yang terbuat dari jagung. Mulai dari minyak goreng jagung, tepung, kopi instan, sirup, mayonnaise, dan lain-lainnya. Dan sekarang jagung makin top karena krisis minyak dunia. Jagung, karena daya dukung riset dan skalanya produksinya (terutama di Amerika Latin sana), dianggap paling siap untuk diolah menjadi bbm nabati (bioetanol). Sampai tahun 2017 nanti, diduga permintaan jagung dunia akan terus meningkat.

    ***

    Di rumah, anak saya suka sekali popcorn. Mungkin putro/putri kisanak sama, menyukai jagung berondong ini.Maksudnya jagung brondong beneran, bukan jenis berondong yang lagi disukai Yuni Shara. Seperti jagung, popcorn pun warisan kuliner bangsa Indian yang kini mendunia.
    Popcorn dibuat dari jagung khusus popcorn. Bijinya lebih kecil-kecil, tapi selaput kulitnya sangat kuat. Sementara di balik kulit biji yang kuat ada lapisan pati yang mengandung air. Ketika dipanaskan, lapisan yang mengandung air mengembang karena tekanan udara yang dihasilkan. Tapi kulit luarnya nggak mau ikut mengembang. Lalu timbul suara meletup (pop kalau dalam bahasa Inggris), kulit pun pecah. Proses ini menghasilkan bentuk jagung seperti popcorn.
    Para ahli gizi sering memperingatkan popcorn sebagai makanan junk food yang tidak sehat. Nah, ini sebetulnya tergantung dari cari masaknya. Resep asli di Indian sana, popcorn itu makanan yang sangat sehat. Kandungan gulanya rendah, seratnya tinggi. Kulitnya pun kaya vitamin. Tapi industri makanan modern, dengan mesin-mesin modern, mengolah popcorn dengan tambahan macam-macam: minyak sawit, mentega, garam, caramel …. Pokoknya yang gurih-gurih. Dan baunya alamak … mengundang selera. Karena campuran-campuran ini, popcorn jadi junk food. Memang lebih enak. Tapi kandungan kolesterol, gula dan garamnya sangat tinggi. Menurut survey di AS, konon lebih tinggi dibanding kentang goreng dan burger bikinan restoran cepat saji seperi MD.
    Jadi sejak bertahun-tahun ini kami sekeluarga hanya sekali-kali beli popcorn di luar. Lebih sering bikin sendiri di rumah. Mungkin rasanya tidak segurih bikinan mesin popcorn di bioskop. Tapi pasti lebih sehat. Yang lebih penting lagi: lebih murah (ini sebetulnya alasan sebenarnya. Orang tua memang selalu punya cara untuk ngakali anak).

    ***

    Selain popcorn, anak saya pun suka crepes atau roti dadar. Nah, ini pun warisan kuliner Indian yang sudah mendunia. Ketika bangsa Spanyol pertama kali datang, mereka heran melihat roti tipis bundar bikinan Indian. Di negeri asalnya sana, crepess disebut tortilla. Sama seperti jagung, bangsa Indian mungkin sudah membuat tortilla sejak lebih dari 6000 tahun lalu.Spanyol lalu mengadopsi tortilla. Sekarang tortilla atau roti dadar tak cuma dibuat dari tepung jagung, tapi juga tepung gandum atau campuran keduanya.
    Anak saya pun suka jagung manis bakar. Lebih-lebih kalau ke puncak. Wah asyik makan jagung manis bakar.
    Jagung manis ceritanya lain lagi. Ceritanya dimulai pada abad 17. Di ladang jagung di suku Indian Iroquois, Amerika Utara, ditemukan varian/jenis jagung yang mengalami mutasi genetik resesif – berubah menjadi varian yang memiliki kelemahan fatal. Berbeda dengan jagung lainnya, bijinya tidak bisa menyimpan pati dengan baik. Makin tua makin kopong. Tapi kelemahan resesif ini ternyata punya maksud. Karena kersane Gusti Allah, manusia pun akhirnya bisa memetik jagung manis – suatu jenis jagung yang kandungan gulanya lebih tinggi dibanding pati. Agar makannya mantap, jagung ini harus dipanen sebelum tua. Karena makin tua, makin kopong isi bijinya. Karena rasanya yang enak dan disukai, jagung jenis ini pun berkembang dengan jalur yang berbeda dibanding jagung ladang umumnya (biasanya untuk tepung atau bahan pakan ternak).
    Sekarang riset tentang jagung manis makin berkembang. Dan kita pun bisa menikmati manisnya jagung manis setengah tua (estewe): dibakar, digodog, atau di kaleng (untuk dijadikan sop atau perkedel jagung). Paling enak mungkin dinikmati di Puncak atau Malang sana (yang dingin-dingin), sambil ditemani ‘’ponakan’’ (mangsudnya opo tho iki?).

    ***

    Yang lainnya, yang makin sulit ditemukan, ya nasi jagung. Saya terakhir makan nasi jagung untuk sarapan ketika SD dulu – berarti sudah lebih dari 30 tahun lalu. Saya inget, simbah putri yang memasak nasi jagung untuk kami sekeluarga – simbah kakung/putri, almarhum om saya yang ragil dan saya (ketika SD sempat ikut simbah). Masih ingat saya menunya: nasi jagung, sambel cabe ijo, ikan asin dan sayur bening pepaya muda.
    Tidak hanya hanya nasi jagung. Simbah pun sering memasak nasi tiwul – biasanya untuk sarapan. Mengapa sarapan tiwul dan jagung? Apa panenan buruk? Tidak punya beras? Sama sekali tidak. Simbah selalu punya simpanan gabah kering di senthong (beda dengan petani sekarang, simbah hanya menjual padi kalau memang perlu uang. Kalau tidak, gabah kering lebih banyak disimpan). Kalau butuh beras, tinggal ditumbuk atau dibawa ke selepan (tempat penggilingan padi). Untuk beras, Alhamdulillah, belum pernah kekurangan karena, untuk ukuran petani di Jawa, sawah simbah dulu terbilang luas (meski sekarang sudah makin mengecil karena harus diwariskan ke lima orang anaknya). Nggak usah dibilangin pemerintah, keluarga simbah waktu itu sudah melakukan apa yang sekarang disebut diversifikasi pangan. Sumber karbohidratnya macam-macam: beras, jagung, tiwul/singkong, uwi, gembili, dan lain-lain. Uwi dan gembili biasanya dibuat makan selingan sore, sambil minum teh ginasthel di lincak di depan rumah. Kalau telo rambat dibuat limpung goreng (wis … wis .. lha kok merembet nyang endi-endi).
    Nah, pada kesempatan ini, mungkin ada baiknya kita – termasuk saya – untuk kembali mempraktekkan diversifikasi pangan masa lalu. Yaitu, dengan menambah porsi karbohidrat kita di luar beras/nasi. Kata ahli gizi, tak ada jenis makanan yang sempurna. Tak ada makanan orang mlarat atau orang kaya. Tiap jenis makanan punya kelemahan masing-masing. Kalau kita makan jenis makanan yang sama, kelemahannya akan numpuk terus-menerus ke tubuh kita.
    Karena itu, saya – atas nama Ki Pandanalas yang gemar jagung – mengajak kisanak semua untuk menambah porsi makanan jagung, ketela, singkong, roti, burger, dan sumber karbohidrat lainnya sehingga kelemahan yang satu (terutama nasi) bisa menutupi kelemahan yang lainnya.
    Matur nuwun. Sampai jumpa pada artikel Kedua tentang Jagung Ki Pandanalas

    Cantrik Gelap Mahisa Peteng

    • wah..ki peteng (berarti mesthi seneng metengi iki)..seprono-seprene aku nandur jagung tp ra reti sejarahe…kanggone wong sepuh ngene iki sing penting iso nandur jagung lan iso maem sego jagung sambele korek + gerih asin…nyuwamleng tenan

      • Weee…. lha dalah. P. Satpam…. wonten ingkang mulai mbelink lhoooo…. Ben ora saya mbelink, kayaknya wedharan rontal perlu dipercepat. he he he

        Ngisi daftar hadir no 25, sembari menikmati hujan yang mulai turun di tlatah Bekasi Selatan.

      • Walah, kalau saya kebalikannya. Cuma iso nulis, ora iso nandur ….

        • Kalo saya malah suka nandur ditempat yang peteng….hiks

    • Matur nuwun sanget Ki Mahesa “Peteng”(mbok ya jangan suka metengi, gitu).

      Padepokan tambah regeng and rame, hujan-hujan makan jagung bakar or popcorn. Jan uenak teunaannn.

      (Jakarta dilaporkan hujan merata; akibatnya macet di mana-mana, maka tinggal di rumah saja, mbakar jagung…)

      • Sama-sama ki. Kalau di Cinere Depok, hujan sudah berhenti dari tadi.
        Kini lagi di meja makan. Maem bihun jagung goreng plus kudapan bacem tempe tambah klethusan cabe …
        Manteb Ki

        • Malah nang tlatah BSD ( Bekasi sonoan dikit ) alias di Tambun cuman mendung mendung mawon.
          Arep nulis apa yaaa. Soal jagung wis dibahas karo Ki Mahesa. Soal Ni KP atawa Ni miss Nona mengko dikira nyaingi Ki PA. Soal sejarah lan prasasti apa maneh babar blas mboten paham isane maca tulisane Ki Bayuaji bae. Soal ana tutuge wis dadi cirine ki Satpam. Arep nulis masalah poligami ora mungkin wong aku melu grup suami takut isteri je.
          Ya wis ngene wae………….

          • ngene wae ki…nyuwun wedaran dipercepat…mesthi penak tenan

    • hari ini saya mengikuti saran dari ki mahisa peteng, tapi malah jadi sebah…

      dari pagi sampai siang tadi menambah porsi makanan, nasi+oseng-oseng daun pepaya, lalu ngemil jagung rebus, terus makan ketela goreng, habis itu makan kolak singkong, lalu ngopi + makan roti, siang tadi baru makan burger dan kentang goreng…

      apa ada yang salah, ya…???

      • On 8 Agustus 2010 at 16:46 banuaji said:
        …..apa ada yang salah, ya…???

        Ada Ki. sore dan malam hari Ki banuaji disajikan makanan apa?????.

        diversifikasi pangan Ki.

        sore: spaghetti dan daging sapi lada hitam,
        malam: roti jala kare kambing minumnya susu anget-anget panas…
        Mumpung hujan Ki.

      • Waduh, nggak tahu Ki apa yang salah. Mungkin kombinasinya. Juga tergantung kebiasaan dan rutinitas kerja kita sehari-hari.

        Kalau saya rasanya tak ada masalah misalnya dalam satu hari sekali makan di luar nasi. Malah pernah, karena kepepet (karena tugas di masa lalu), selama 12 hari sama sekali nggak ketemu nasi. Waduh, perut rasanya mual …

        Sekadar sharing, kalau saya: pagi mungkin sarapan roti/burger dan sejenisnya atau kentang godog. Atau mie goreng. Tentu saja harus diperhatikan kombinasinya. Menu kan seyogyanya lengkap karbohidrat, protein hewani/nabati, sedikit lemak, dan vitamin serta serat. Kalau roti misalnya, saya tambahin omelet (telur orak-orik), jamur, sayuran (biasanya antara sawi-sawian, brokoli, buncis muda dan tomat). Supaya selera nambah dicampuri saus cabe.

        Kalau sarapannya nasi (nasi goreng misalnya), malemnya bisa diupayakan yang lain.

        Kalau siang rasa-rasanya harus nasi lengkap dengan lauknya (protein hewani/nabati dst.)

        Jagung godog/bakar/singkong keju misalnya bisa untuk selingan sore. Termasuk yang bisa ditambahkan sebagai daftar selingan sore: uwi/gembili/biskuit/pisang goreng/gorengan sukun, dll. Tergantung yang mudah didapat yang mana. Sekadar menambal, supaya tidak terlalu lapar. Kalau terlalu lapar katanya tidak bagus karena malamnya biasanya makannya buanyak sekali.

        Kalau sudah gini (sore diganjal selingan), malem biasanya makannya sedikit.

        Ada ungkapan yang sering dikatakan ahli gizi:

        Makan pagi bak raja, makan siang bak pangeran, makan malam bak seorang putri.

        Nah, saya susah melakukan ini. Sudah jadi kebiasaan sejak kuliah dulu (maklum, hidup pas-pasan), makan bak raja itu siang hari. Kadang makannya dipilih jam 11. Biar rangkep antara sarapan dan makan siang. Jadinya nggak pakai sarapan.

        Tapi memang ada kebiasaan di antara kita: kadang-kadang kita itu kelewatan makan nasi. Belum makan kalau belum makan nasi. Bahkan makan mie goreng, mie baso, burger cuma dianggap camilan. Ponakan saya itu salah satu yang berpendapat begitu.

        Sekadar sharing saja, karena tiap perut dan mulut punya kebiasaan berbeda.

        Nuwun

        Cantrik Mahisa Peteng

  12. Nyuwun pangapunten, tag html-nya tadi nggak sempurna. Jadi hurufnya pada tebel semua ….

  13. tambah gayeng, tambah regeng, neng ati dadi seneng, swarane tambah mbrengengeng

  14. mengisi daftar hadir di malam minggu, sebab sudah tidak punya pacar lagi…

    sugeng dalu, ki lan nyi sanak sedaya…

    • iya nih ki, malem minggu gak ada rontal kecut, …
      mudah-mudahan hari minggu tetap dimulai jam 00.01.

      Insyaallah Ki
      Jika Pak Satpam tidak ketiduran

      • Daripada ketiduran apa ga sekarang aja ki Ar, he he .

      • setia menunggu ki. tadi siang sudah nyicil tidur.

        • idem, ki… biar bisa nginthil ki sukasrana dan ki pak satpam ngerondha…

  15. monggo diogrok sing gemandul iku.
    sanes gemandhul ki, ning ngawe-awe, …

    matur nuwun.

    • ealah… dak pikir jambu alas, ternyata memang jambu…

      terima kasih, ki arema, ki ismoyo, ki pak satpam dan para bebahu padepokan sekalian…

      salam, sanak kadang cantrik dan mentrik semua…

    • Suwun Ki, sampun ngrogrok-ogrok sing gemandul gundhul-gundhul.

  16. kulonuwun,
    namung badhe ndherek absen

    pareng

  17. Alhamduliullah no 42

  18. esux-esux…uthux-uthux…tengklux-tengklux…sih ngantlux…nganggo kuplux…sarapan sego udux + krupux…tandux peng telux…buahe jambu kluthux…adus nggae sabun lux…ditukokno mbok wedux…watux-watux…maklum wis sepux…ux ux ux ….xxx

  19. Matur nuwun, ingkang gemandhul sampun kulo undhuh.

  20. Sampun kulo towel …… Dik Satpam …
    Monggo, para mentrik … sing gemandhul ditowel rame-rame ….

  21. terimakasih ki p.satpam..

  22. Kok mboten jangkep nJih isine sing gemandhul …
    Radi entheng ….. kopong ……. bobote namung 10 mg.

    • gemandul ki…gundal-gandul koyo gandul ….

      • Menawi gandul kulo ngertos ki, menawi gundal puniko menapa nggih.
        xixixixi….

        • Gundal niku sing bobot-e…rong ons Ki…..xixixi

          • oooo…..

          • 2 ons = 1 ons + 1 ons

    • Wah..
      Pak De Ki Widura wis rawuh.
      Selamat Sore Pak De

  23. Kadingaren, dino minggu akeh sing sambang padeppokan.
    Menapa mboten sami liburan nggih.
    Ning kok gak pada ngisi presensi ya.
    he he ..

    1. LA – iki mesti Pakde Ki Widura
    2. Asia/Pasific Region, kelip-kelip di China – siapa ya?
    3. Jakarta – ?
    4. Tangerang – ?
    5. Surabaya – Ki Gembleh atau Ki Karto kah
    6. Tak diketahui (Indonesia), kelip-kelip di Sulawesi – ?

    • Hadir Ki !!

      • Monggo

        • Saya yang kelap kelip dari BSD ke timur Bekasi Ki Satpam. tulung dicatet njih sudah hadir ben jilid 26 cepat keluar.

    • hikss….
      masih ada yang baca PdLS-14 dan SUNdSS-05
      Mau ulangan rupanya
      eh…, atau memang baru kesempatan membaca ya.
      Selamat bergabung ki sanak yang baru sampai rontal tersebut.

      • Oo…aku ketuaan…

        • wis wayahe diunduh?

          • Sing wis wayahe diunduh sinten Ki? Ki PA napa sing gumandul?

    • sanes kula lho ki satpam, kula nembe mawon nginguk.

    • hadirrrr, hari minggu…

      darisetadi lampunya nyala-hidup-nyala-hidup terus… supaya rame…

    • Hadir!!!!

      Sampun nderek ngunduh.. matur nuwun sanget.

  24. wis wayahe gandok dibuka, langsung dicantolno kitab e

  25. Sugeng dalu…..

  26. Malem-malem nyampe di rumah langsung ngunduh. Lumayan, teman sebelum tidur.
    Nuwun …

  27. Baru pulang dari nganglang, langsung ngunduh
    Terima kasih pak
    Terima kasih bu
    Te-ri-ma ka-sih se-mu—aaaaaaaaaaa
    (nostalgia lagu SD)

  28. RONDA BENGI NGANCANI PAK SATPAM

  29. Teng ..
    Teng ..
    Teng ..
    Teng ..
    Teng ..
    Teng ..
    Teng ..
    Teng ..
    Teng ..
    Teng ..
    Teng ..
    Teng ..

    tepat ganti hari, masih tiga orang yang ronda.
    siapa ya.., embuhlah.., lha wong gak ngisi presensi.

    • eh…, tinggal dua ding

      • lho…, tinggal 1.
        ya wis…, bobo ah…

        • niku kula Ki Ajar,
          kula sinten ?
          kulanuwun.
          he….he….he….

  30. perjalanan spiritual, sesuai tradisi, nyekar ke makam orang tua di Semarang sebelum memasuki bulan Ramadhan.
    waktu berangkat di daerah Lamongan sampai Babat macet, Sidoarjo-Semarang memakan waktu 10 jam.
    Sewaktu lewat di daerah Pecinan Semarang kebetulan pas ada perayaan Samsi, wooou keren banget barongsainya, perahu yang diombang-ambingkan ombak, Prajurit pengawal dan liongnya.
    Berbekal pengalaman waktu berangkat, pulangnya dari Tuban langsung lurus lewat Paciran, wooou lancar banak. Lumayan cuma 7 jam perjalanan.
    Untung sais pedatiku tahan banting.
    Sampai di gandhok, langsung mempraktekan jurus barongsai meraih angpao untuk memetik cantholan yang gumandul di atas seketheng.

    Wooouuu, Ki Ajar pak Satpam keren……!

    • Ki Gembleh….kenapa gak lewat Mranggen aja ?…terus nggodong, Wirosari, Cepu, Bojonegoro…cuma 5 jam-an…

  31. isi daftar hadir, terus nganglang di negeri mimpi…

    selamat malam bbwi, ki dan nyi sanak semuanya…

  32. pitike tanggane koq ya ora kluruk2, lho…

    durung sirep uwong, apa pitike malah lagek ngenglang, ya…?

  33. wah, gardune kosong…

    eh… pitike wis kluruk… wah, ora konsisten tenan, yah mene lagi kluruk…

    wis, gentenan ambi ki widura, lah…

    sare = tidur
    pesarean = …

  34. lontar pun di bantai habis
    mendeg-mendek dekatin gardu ronda
    teng
    teng
    teng
    gangguin Pak Satpam yang lagi merem….
    langsung ngacirrrrrrrrrrr

  35. dua hari ngak sempat sambang padepokan.
    Ternyata makin ramai.
    Sugeng enjang poro kadang.
    Sugeng enjang P. Satpam sampun wungu dereng?

  36. Maatur nuwun K. Satpam
    Langsung ngunduh

  37. matur nuwun Ki Arema
    matur nuwun Ki Pak Satpam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: