PdLS-14

<<sebelum | awal | lanjut>>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 10 Desember 2009 at 18:45  Comments (61)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pdls-14/trackback/

RSS feed for comments on this post.

61 KomentarTinggalkan komentar


  1. …..
    meskipun sementara ini agak terbengkalai karena kesibukan Nyi Seno.

    absen I…..

    tapi koq ..”Nyi Seno”…????
    sakjane sinten engkang mandegani padepokan mriki?

    Hikss…….

    • Sing mbaurekso nggih Ki/Nyi Seno…

      • mriki Ki Seno……ki PLS
        mriko Nyi Seno…..ki PLS
        ki Seno kadang teng mriki kadang2
        teng mriko (hiks)

        teng mriko kulo isih sering ketemu
        Pakde ra parenk njih,

  2. Nderek Nglesot teng mriki Ki,
    Moco Pdls-13 sambil nunggu bonus.

  3. Hadir ki Seno,
    nunggu kitab selanjutnya!

    • ikut hadir di belakang ki Widura … nunggu bonus dibagikan

  4. hadir, ngisi buku tamu, nunggu diwedhar. tapi, kok ndadak nunggu magrib to ya?

  5. On 10 Desember 2009 at 17:24 pandanalas Said:

    Nyaiku ra iso ngguyu…

    Piye arep iso ngguyu…….wong nyaine wae durung k*t*m* …..mboten pareng duko.

    • ihikss..ihikss..

      mboten parenk ngece…(engkang diece sampun kece)

  6. Sugeng enjang Ki Senopati,
    Sugeng enjang Ki Sanak sedayana…..
    Selamat pagi Pak,
    Selamat pagi Bu,
    Selamat pagi Mas,mbak, dik, jeng,
    Selamat pagi Ki, Nyi, Ni.
    Selamat pagi mbak
    Selamat pagi semuaaaaanya…….

    • wah…pratondo sae niki..PLN ON..

      mugo2 wonten dewo nggowo bokor kencono IV

      • Mugo-2 wonten dewo mbeto wong wadon …

      • Khusus untuk Ki Pandan dan dalam rangka ikut Manghayu Bagya Adbm mencapai 4.000.000 klik, mudah-mudahan bisa mewedar mad_bb 04 & 05. Minangka bonus besok pada malam minggu…..gimana ?

        • Wah ..! Matur nuwun Ki Is…mbenjing gandok-e mesti sepi…cantrik2 sami dho sinau..biasane nek sampun kesel sianu rontale trs tilem…lali mbotem wonten sing jogo gerdu…wayah esuk cuap2 malih …sinambi nenggo sego mateng surak…rame maneh..hiks.

          • kiai siji koq pirso wae adate cantrik…
            self-experience njih ki

          • ..njihh Ki..kulo biasane nek pun sepi njuk sok ndodok …tingak tinguk ngrantosi njenengan..ndi yoo priyantun siji iki koq durung mecungul !..hiks.

          • hiks….kulo setuju
            kemawon ki Ismoyo,

            saya ikut antri njih

    • Niki korupsi wektu di cangkulan, kalau ngak ada pln-pun dieselnya gueeede…..ha ha ha.

  7. Sugeng enjing Ki Ismoyo, Kang Pls, Ki Laz. Ki Wiek, Ki KartoJ , sopo meneh yooo. Ki Widura selamat pagi menjelang jumatan ( Waktu Bekasi).
    Koper PdLs wis cumepak tinggal nunggu kitab kanggo malem saptuan.

    • PdLS 15-16 njih ki

      sugeng enjing ugi sadayana

      • Monggo kang dipun kintunke wamon teng alamat kulo. Matur nuwun.

        • kedah nyuwun ijin ki Senopati ki..

          kulo mboten mawantun ngentun…(sakjane ancene ra nduwe …hiksss)

  8. Seorang pengembara sampai di sebuah desa yang subur, di tepi sebuah sungai besar yang melimpah airnya. Dia bertanya kepada seseorang yang dijumpainya, di mana dia bisa mendapatkan warung untuk beristirahat dan makan siang. Orang itu menjawab, di desa itu tidak ada warung. Tapi ada dua orang kaya yang pasti mau menerima tamu dan memberi tidak hanya jamuan tetapi juga tempat menginap jika dibutuhkan. Yang seorang bernama Syakir, yang seorang lagi Hadad.

    Si Pengembara memilih singgah di rumah Syakir yang lebih dekat. Benar saja. Di rumah itu ia diterima dengan sangat baik. Tidak hanya jamuan makan dan tempat menginap yang nyaman, tetapi juga senyum dan sapa ramah si tuan rumah. Ketika keesokan harinya ia pamit untuk meninggalkan rumah seindah istana itu, sang pengembara berkata, “Bersyukurlah engkau wahai Tuan Syakir, Allah telah memberimu rejeki yang melimpah.” Si tuan rumah tersenyum dan berkata, “Ah! Ini pun akan berlalu…”

    Beberapa bulan kemudian, ketika Si Pengembara lewat didekat tempat itu, dia teringat kepada kebaikan Syakir, dan bermaksud mengunjunginya. Tetapi betapa terkejutnya ia. Ketika ia sudah sampai di tempat dulu rumah Syakir berada, ternyata rumah sebesar istana, halaman yang luas serta kandang-kandang ribuan ternak yang dulu dilihatnya sekarang sudah tidak ada. Dari seseorang yang kebetulan lewat dia mengetahui bahwa rumah dan seluruh harta syakir telah hanyut dibawa banjir yang melanda desa itu beberapa minggu yang lalu. Sekarang, Syakir telah menjadi orang miskin, dan untuk menopang hidupnya dia bekerja kepada Hadad, menjadi penjaga ternaknya.
    Dengan sedih Si Pengembara pergi ke rumah Hadad, dan di salah satu sudut halaman belakang yang sangat luas itu dia melihat sebuah gubug sederhana tempat Syakir dan anak istrinya tinggal.
    Syakir menyambut si pengembara dengan keramahannya yang dulu. Dipersilahkan sahabatnya duduk, dijamunya dengan apa yang bisa disuguhkannya, diberinya makan dengan apa yang bisa diusahakannya, dan di malam hari tamunya itupun dipersilahkannya tidur di salah satu ruang yang sudah dipersiapkan dengan baik. Ketika keesokan harinya si pengembara berpamitan, dia menepuk bahu Syakir sambil berkata, “Kau sedang diberi cobaan wahai sahabatku yang baik! Bersabarlah!”
    Syakir, masih dengan senyum yang sama berkata, “Ah! ini pun akan berlalu…”

    Si pengembara melanjutkan perjalanannya. Tanpa terasa, beberapa tahun kemudian dipun terbawa langkah kakinya kembali ke tempat itu. Di rumah hadad, dia tidak menjumpai lagi gubuk kecil tempat Syakir dan keluarganya dulu tinggal. Tetapi ketika dia sedang termangu-mangu di pintu gerbang, dilihatnya Syakir keluar dari pintu rumah megah itu sambil tersenyum, dan mempersilahkan pengembara itu masuk.
    “Hadad telah meninggal dunia. Aku yang dipercaya untuk mengelola harta peninggalannya.” Pengembara itupun kembali mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari si tuan rumah. Ketika ia berpamitan keesokan harinya, dia berkata, “Sahabatku, kamu sedang diuji dengan kekayaan dan gelimang harta. Amanahlah!” Syakir, masih dengan senyuim yang sama berkata, “Ah, ini pun akan berlalu…”

    Beberapa tahun kemudian, ketika si pengembara kembali ke tempaat itu, ternyata Syakir telah meninggal dunia. Si pengembara mengunjungi makamnya, dan melihat di batu nisan sahabatnya itu tertulis epitaph, “INI PUN AKAN BERLALU”. Si pengembara meninggalkan tempat itu sambil bertanya-tanya, “Setelah kematian, apa lagi yang bisa berlalu?”
    Si pengembara mendapatkan jawabnya ketika beberapa bulan kemudian dia kembali sampai di tempat itu. Ternyata makam Syakir itu sudah tidak ada, dihanyutkan oleh banjir seperti banjir yang dulu menghanyutkan seluruh harta kekayaannya.

    Akhirnya si pengembara menghentikan pengembaraannya dan menetap di sebuah tempat, merenungkan semua yang pernah dilihat selama pengembaraannya, dan yang paling penting, berusaha mengungkap hikmah kebijaksanaan seorang manusia bernama Syakir yang begitu teguh kediriannya, tak tergoyahkan oleh kekayaan dan kemiskinan: Ini pun akan berlalu…

    Alkisah, Raja penguasa tempat itu sedang dilanda gelisah. Setelah bosan mendapatkan semua yang diinginkannya dengan mudah, akhirnya dia mencari sesuatu yang sulit untuk didapatkan. Dipanggilnya perdana menterinya, dan disuruhnya mencari sesuatu yang “bisa menghapus kesedihan mendalam, tapi sekaligus juga meredakan kesenangan yang berlebihan”.
    Perdana menteri yang kebingungan itu akhirnya mendengar kabar tentang seorang bijak yang pernah mengembara hampir seumur hidupnya. Siapa tahu dia pernah melihat barang seperti yang dikehendaki sang raja.

    Sang Perdana Menteri itu pun berkunjung ke rumah si pengembara dan mengajaknya pergi ke istana untuk memecahkan memenuhi keinginan sang raja. Si pengembara menolak pergi ke istana, tetapi memberikan sebentuk cincin kepada sang perdana menteri, untuk dipersembahkan kepada raja. Si perdana menteri bertanya, “Apakah dengan melihat cincin itu kesedihan raja akan hilang jika dia sedang bersedih, dan kesenangan raja yang berlebihan akan mereda jika dia sedang bergembira ria?”. Si Pengembara menyarankan, biarlah raja yang memutuskan.

    Ternyata setelah menerima cincin itu dari perdana menteri dan mengamatinya, Raja tersenyum. “Ya.. Inilah yang aku cari selama ini.”
    Perdana menteri yang kebingungan bertanya bolehkan ia melihat cincin luar biasa itu?
    Raja memperlihatkan cincin itu kepada perdana menteri. Sebuah cincin biasa bukan emas, tanpa permata. Hanya ada tulisan: Ini pun akan berlalu…
    Dan si perdana menteri pun akhirnya mengerti.

    • matur suwun…

      ada sesuatu yg laen hari ini….
      dan akupun menikmatinya…

      • Ini sekaligus komen terhadap update status Kang Pls.
        “Ini pun segera berlalu”
        @ Ni KP, basa banyumasane, ini pun akan berlalu, kepriben Ni?

        • the show must go OFF

        • Wah …aku tak tuku cincin ah….tp tulisan-e bukan”ini pun segera berlalu ” tapi… “ini untuk mu”

          • mu = Pandan?

          • Mi + Pandan….(hiks..).

        • “Ini pun segera berlalu”….
          mampir lagi2…singgah lagi2
          betul2 petualang sejati,

          hiks……tobat2 mbelinge

          • mbelingepun . . ” Akan segera berlalu “

    • Wah, naga2nya Ni KP sudah berubah aliran pemikiran.
      Dari aliran hiperbolik- simbolik berganti menjadi aliran satirik-kosmik.
      (nah dho bingung kabeh to ? lha wong aku dewe yo bingung je, njur piye jal ? ).

  9. @ Ki Sunda :
    Persediaan retype ADBM IV Ki Sunda sampai jilid berapa ?
    Kalo belum komplit, ada rekan yg siap bantu me-retype sisanya.

    Siap bantu retype ABDM IV :
    1. Ki Hartono
    2. ………………….
    3. ………………….
    ……………………….

    Siapa lagi yg siap menjadi relawan ?

    • Sudah sampai ke 37, namun masih berbentuk word/pdf, jadi belum dipahatkan di gandok.
      moggo dipersilakan jika turut membantu

  10. Halaman 2 :
    ……
    Sementara sampulnya saja dulu, rontalnya nanti menjelang atau bakda maghrib.
    ……..

    ba’da jum’atan kadose….
    ba’da maghrib niku bonuse…

    ra parenk duko lho….hiksss

  11. terimakasih, ki Seno, Ki Ismoyo dan bebahu lainnya, kita tunggu 14nya. salam ADBMers dan PDLSers

  12. On 11 Desember 2009 at 11:45 pandanalas Said:

    Halaman 1 :
    ba’da jum’atan kadose……..
    ba’da maghrib niku bonuse….

    ra parenk duko njih,selamat siang ki Senopati
    selamat siang Pdlser sedoyooo…….

  13. terimakasih bonusnya ki…
    semoga PDLS dapat jaya seperti ADBM

  14. Milih wektu kok maghrib… Bener-bener nyalawadi.

    • nyalakenyo….

      • nyalapada

      • Remene kok kaleh sing kenyo-kenyo to Ki?

        • lah nopo kedah pisang makan pisang

  15. Tumut antri bonus Ki . . ( ngko magrib dzikir sing suwe, ben bonuse akeh . . He3 )

  16. saya juga ikut mangayubagyo Padepokan ADBM ki … moga2 padepokan PdLS juga bisa seperti itu … dan maturnuwun kagem ki Arema, Ki Ismoyo, ki GD bonusnya sampun dipundut dengan lancar … rencananya ada berapa kitab maleh bonusipun … he3 …

    • 2x ki Laz….yang uji coba dulu
      nanti ba’da magrib “bonos asli”

      cantrik siap-siap “GLEGEK-EN”…hiks

      • iya ki … kayaknya yang ini tadi baru ujicoba bonus saja … yang asli-nya belum di luncurkan oleh ki Senopati … rak mekaten tho ki? … he3 …
        ikut ngantri lagi ah … monggo

        • antri lagi disamping
          ki Laz….”bonus asli”

  17. nomer siji njupuk “Bonus”

    matur nuwun ki Senopati

    • nomer loro.
      matur nuwun.

  18. Tumut para pendleser…

  19. Maturnuwun mangayubagyo nipun, seperti tulisan Ni KP bahwa inipun akan segera berlalu ( maksudnya masa2 paceklik rontal akan segera berlalu ).
    Rontal 14 langsung kula sedot, kata Ki Pls sih harus segera dibaca karena Ki Senopati akan segera menambah bonus. Kalau nggak percaya coba tanyakan langsung ke Ki Pls.

    • yen 14 bonus, mesthine sing padatan sesuk wis metu ya ki ?

      bar nginguk gandhok 15.isih suwung. absen sik.

      • He…he…he….
        Mesti Ki SukaS yo kisinan kados kula, nginguk gadhok 15 disambut tulisan, sing sabar kisanak, absennya di gandhok 14 dulu.

        Sugeng dalu Ki SukaS.

        • sugeng dalu ki gembleh, …

          he, he, he, … mboten dados menapa ki. namung sakdermi ngestokaken dhawuhipun ingkang kagungan gandhok kemawon.

          mangga dipun lajengaken anggenipun wungon.

  20. hadir di gandok ini setelah ngunduh di gandok sebelah.
    hatur nuhun sakali deui. langsung ngunduh.

  21. Turut “mangayubagya” juga.
    nuhun oge (sarua ki sunda)
    ajar nyarios basa sunda (mugi2 teu lepat)

    salam,

  22. persis suasana awal ADBM. bonus sudah disimpan di bangsal pustaka pribadi, seperti biasanya.
    Untuk rencana retype, mohon langsung dibagi tugas. saya kebagian rontal berapa saja, lalu hasilnya dikirim ke mana. mumpung belum banyak kerjaan…

  23. Pembagian tugas RETYPE ABDM IV sementara :
    1. Ki Sunda : …s/d 307
    2. Ki Hartono : 308 s/d 318
    3. Sinten malih kersa bantu Retype ?

    * Nyuwun sewu Ki Seno, kulo lancang.
    Salajengipun kulo nenggo lan manut komando Ki Seno…

  24. Terimakasih atas bonusnya, saya ikutan ngunduh dan salam kenal

    Silahkan ki sanak…
    Silahkan mencari tempat duduk sendiri dan kenalan dengan adbmer/pdlser yang lain

  25. Hem…..sempat agak pusing juga mencari…mangayubagya…🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: