PdLS-19

<<sebelum | awal | lanjut>>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 17 Desember 2009 at 22:46  Comments (55)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pdls-19/trackback/

RSS feed for comments on this post.

55 KomentarTinggalkan komentar

  1. Lho… ,tasih kosong tho ???

    • Wah habis lek-lek’an semua yak’e…

      • mau bengi sakjane yo pengin melu lek-lekan…nanging moto iki kok abot banget…
        milih mlungker neng nduwur kasur…kekeke

      • Nyapu-nyapu disit kang!

        • Wuragil antri nomer telo!

  2. dari padepokan sebelah, langsung ngantri di sini.
    duduk dengan manis.

  3. Renungan 1 Muharam sambil menunggu kitab diwedar:

    Alkisah, Kang Gembleh yang gagal menjual kuda (karena terkenal cabul, orang-orang jadi malas berurusan dengan Genbleh) duduk di depan penjual nasi megana. Sambil ngowoh menatap penjual nasi yang cantik (belum secantik Ken Padmi) Kang Gembleh merenung, apa yang akan dilakukannya setelah gagal menjual kudanya yang dibilang ganteng oleh Panembahan Ismoyo itu. Tiba-tiba dari kejauhan Kang Gembleh mendengar suara, “Kalau kau memberi satu, Allah akan memberimu seribu!!!” Kang Gembleh terperangah, dan berusaha mencari sumber suara itu. Tidak terlalu sulit, karena sura itu terus bergema berulang-ulang, “Kalau kau memberi satu, Allah akan memberimu seribu.”

    Setelah beberapa saat menerobos keramaian pasar, Kang Gembleh berhasil menemukan sumber suara itu: seorang pengemis yang sedang menjajakan kemurahan Tuhan untuk kepentingannya sendiri. Itu bagi mereka uang sadar. Tapi Bagi Kang Gembleh yang sedang bingung hampir putus asa karena gagal menjual kuda, kata-kata itu memberi inspirasi yang luar biasa. “Jika kuberikan kudaku kepadanya, aku akan mendapatkan seribu kuda. Alangkah hebatnya!!!” Segera terbayang di benak Kang Gembleh, apa yang bisa diperolehnya dengan menjual seribu ekor kuda: setumpuk buku-buku porno, berkeping-keping VCD dan DVD yang lebih porno lagi, bahkan Netbook tercanggih yang bisa digunakannya untuk mengakses situs-situs yang tak kalah pornonya. “Dari bacaan-bacaan stensilan di masa mudaku, aku baru sempat menghafal ukuran-ukuran BH. Jika aku sudah kaya nanti, semoga aku akan bisa menghafal ukuran-ukuran CD juga. Alangkah bahagianya…” Begitu kata Kang Gembleh dalam hati.

    Akhirnya dengan mantap Kang Gembleh menyerahkan kudanya kepada si pengemis. Dengan segera khayalannya pun membubung tinggi, setinggi harapannya untuk mendapatkan kekayaan seribu kuda. Kang Gembleh pun pulang sambil tersenyum-senyum membayangkan kebahagiaan yang akan segera dinikmatinya. Anak-anak panti yang disebut-sebutnya untuk mengiklankan kudanya sudah tidak terpikir lagi. Istrinya yang marah-marah juga tidak dipedulikannya. Dia berkonsentrasi, menunggu kedatangan Allah dengan seribu ekor kuda yang akan dihadiahkan kepadanya. Dengan sabar dan penuh keyakinan dia menunggu. Dan menunggu.. dan menunggu….. dan menunggu…………….. dan menunggu………………………………..

    Tapi yang ditunggunya tak juga kunjung tiba.

    Setelah habis kesabarannya, Kang Gembleh akhirnya memutuskan untuk mencari Allah yang akan memberinya seribu kuda. Dengan kejengkelan dan kemarahan yang berkobar-kobar Kang Gembleh berangkat dari rumahnya, tanpa menghiraukan istrinya yang berteriak-teriak pura-pura berusaha mencegahnya pergi. Kang Gembleh berkelana dari kota ke kota, dari pasar ke pasar, dari desa ke desa. Berhari-hari, berminggu-minggu, bertahun-tahun. Mencari Allah yang akan memberinya seribu kuda. Tapi yang dicarinya tak juga ditemukan.

    Pada suatu hari, Kang Gembleh sampai di sebuah pinggir hutan. Karena kelelahan Kang Gembleh memanjat sebatang pohon, dan duduk beristirahat di salah satu dahannya. Ketika Kang Gembleh terkantuk-kantuk di atas pohon itu, dari kejauhan tampak seseorang yang terlihat agak mencurigakan berjalan ke arah hutan itu. Dia berjalan sambil sesekali menoleh ke kanan-kiri dan kadang-kadang ke belakang, kelihatannya takut kalau-kalau ada yang mengikutinya. Akhirnya sampailah orang itu di bawah pohon tempat Kang Gembleh beristirahat. Dengan heran Kang Gembleh memperhatikan orang itu. Setelah sekali lagi melihat berkeliling dan yakin tak ada seorang pun yang melihatnya, orang itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong yang dibawanya. Adonan kue. Perlahan-lahan diambilnya sebagian adonan itu, dibentuknya menjadi sebongkah gumpalan yang tidak begitu jelas bentuknya, kemudian diletakkannya di atas batu. “Ini khalifah,” katanya. Kemudian dibuatnya gumpalan ke dua, dan diletakkan di sebelah gumpalan pertama. “Ini Rasulullah.” Akhirnya, dari adonan kue yang tersisa dia membentuk gumpalan ke tiga dan meletakkannya juga di atas batu sambil berkata, “Ini Allah.”

    Orang itu melihat berkeliling sekali lagi. Setelah yakin tidak ada seorangpun yang melihat tingkah lakunya, dengan penuh amarah dia berkata kepada adonan kue yang pertama, “Kamu, khalifah!! Aku sudah membayar pajak dan upeti. Sudah mematuhi semua undang-undang dan peraturan yang kau buat, sudah melakukan semua usaha dan kebaikan seperti yang kau anjurkan, tetapi apa? aku tetap saja miskin! menderita!! Kamu sama sekali tidak ada manfaatnya bagiku. Lebih baik kumakan saja kamu!!” lalu dimakannya gumpalan adonan kuenya yang pertama. Setelah selesai, dia berpaling ke adonan yang ke dua, “Kau, Rasulullah!!!, aku sudah mengikuti semua yang kau perintahkan. Sudah kukerjakan semua yang kaubilang wajib, sudah kutinggalkan semua yang kaubilang haram. Sudah sholat sehari nggak cuma lima kali, puasa nggak cuma di bulan Ramadhan saja!!! tapi apa manfaat semua itu?? Kehidupanku dari dulu sampai sekarang masih tetap begini-begini saja. Menderita, menderita, menderita!!! kau juga tidak ada gunanya!!! Lebih baik kau juga kumakan saja.” Lalu dimakannya adonan yang kedua.
    Setelah itu ia pun berpaling kepada adonan yang ke tiga. “kau, Allah!! Kaulah penyebab semua ini!. Aku sudah menyembahmu, memuji-muji namamu, menyerahkan hidup dan matiku, tapi kau tidak peduli. Sama sekali tidak peduli. Kau juga sama saja: TIDAK ADA GUNANYA!!! Lebih baik kumakan juga kamu! Kemudian diulurkannya tangannya meraih adonan yang ke tiga. Tetapi begitu dia akan memasukkan adonan kue itu ke dalam mulutnya, tiba-tiba Kang Gembleh terjun dari dahan pohon tempatnya beristirahat sambil berteriak, “Tunggu!! tungguuuuu!!! Jangan dimakan dulu!!! DIA masih berhutang kepadaku seribu ekor kuda!!!”

    • Hiks….sakno Kang Gembleh….
      Gak jadi ngukur …..cd

    • nyuwun sewu…

      nek guyonan niki kulo mboten sreg….

      mugo2 Nyi Padmi diparingi pitedah sagedo nggojeg engkang wajar dan sadar sbg makhluk…

      ketjewa sekali

      • Amin…

      • Saya sependapat Ki Pandanalas, saya juga kecewa sekali . . . Rosulluloh apa lagi ALLAH tidak layak dibuat guyonan seperti itu.

    • Sebenarnya, ini (seperti beberapa cerita saya yang lain: Ini pun akan berlalu, Tampaknya seperti engkau…) adalah oleh-oleh dari masa kecil dulu waktu ngaji di MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) sepulang sekolah. Setiap hari, Mbah Kyai selalu mengakhiri pelajaran dengan membaca kisah-kisah seperti ini yang dibacakannya dari sebuah buku yang sayang saya tidak pernah sempat bertanya apa judulnya. Tapi kalau ada yang ingat, Gus Mus (KH Mustofa Bisri) pernah mengisi acara menjelang berbuka dengan membaca buku yang sama di salah satu stasiun TV di bulan Ramadhan beberapa tahun yang lalu. Maksudnya jelas: menghibur santri-santri kecilnya, mengurangi beban stress enam tahun ngaji setiap hari dengan cerita yang menghibur tetapi juga diharapkan ada hikmah yang bisa dipetik. Dari yang satu ini, yang bisa saya pahami adalah kritik terhadap orang yang terlalu berorientasi kepada hasil, tanpa menghiraukan prosesnya.

      Ini bukan apologi apalagi upaya legitimasi. Saya cuma bercerita, semoga ada yang bisa memahami mengapa saya merasa cukup aman menganggapnya sebagai renungan muharam.

      Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan siapapun. Tapi di dunia manusia, bermaksud atau tidak bermaksud sama sekali tidak ada bedanya. Tidak ada sopir truk yang bermaksud membunuh siapapun. Tetapi kalau nyatanya dalam sebuah kecelakaan dia menyebabkan terrenggutnya nyawa seseorang, dia harus mempertanggungjawabkannya juga. Meskipun saya tidak bermaksud menyakiti, jika nyatanya ada yang merasa tersakiti, maka tentu saja tidak pantas kalau saya berlepas tangan dengan dalih “saya tidak bermaksud”.
      Saya minta maaf.

      Kepada Ki Senopati, kalau cerita saya dianggap bisa mengganggu kenyamanan para kadang cantrik, saya minta tolong, bagaimana kalau cerita itu dihapus saja. Bukan apa-apa. Segala sesuatu yang lebih banyak mudharat daripada manfaatnya sebaiknya memang nggak usah ada.

      Canda membuat saya bahagia, tetapi setiap konflik membuat saya sedih. Apalagi jika saya yang jadi penyebabnya.

      Kepada Ki Pandan, terimakasih atas doanya.

      • Amin !….jangan sedih lagi Ni Ken Padmi….bad news is better than no news !…Semangat !

      • Padmi, Padmi…
        Biasane kemaki-kemayu-kemlinthi kok saiki dadi ngene iki?
        mugo-mugo ora merga Pandanalas, nanging merga sesuatu sing mbok anggep berharga.
        Ning salut. Tetep berbesar hati, tanggung jawab, lan sing paling angel, ora defensif. Hebat.

        Padmi, padmi…
        mbuh rupamu,
        ning atimu tak akoni
        PANCEN AYU!!

        • Setoejoe sekali Ki GW,
          itoe didjabarkan dengan pas sekali oleh Ki Senopati dengan kata LUHUR.

        • Angger ati kula ki, kula mboten ngertos (durung tau bisa ngaca). Nangging rupaku, percayalah, Pancen Ayu.

          • Yang pasti lebih ayu dari Sekar mirah kan..?

      • niku gunane kekancan Nyi..

        nek koncone mangiwo..ndang ditengenke..
        nek koncone wis nengen..ndang disengkuyung
        nek koncone mbelink..(nderek wae meh diapakno)..

    • hehehhe..
      bagus sekali nyi..
      cerita ini (versi yang lain tentunya..bukan ki gembleh :D) pernah saya denger dari salah satu ustad saya dulu pas saya lagi stress berat…

      seneng… jadi teringat lagi…
      makasih ya nyi..

      • Terimakasih juga jeng, seneng juga tahu ada teman bernostalgia.

        • setelah baca cerita diatas sama hasilnya…agag kurang enak dihati…

          sorry jeng padmi…

          ning wes di perbaiki lagi…jadi legaaa….

  4. Selamat pagi

    Melihat komentnya di halaman 2 kitab 19 sangat menarik

    “Sabar .. tunggu … jam wedarnya ”

    Berarti kalau JAM tidak mungkin HARI
    Wah liburan tahun baru (bagi yang libur) bisa mendapat bonus , …….. tunggu … tinggal ngitung kancing klambi.

    mulai ngitung

    Setunggal
    Kalih

    …………………

    suwun

  5. Ni Ken Padmi bisa kuwalat karo Kang Gembleh lho. Jangan salah dia kalau dianggap jadi adonan yang keempat ……
    Ki Gembleh sing dowo sabare …. sekedap malih Kitab-19 bade diwedar … kok!

  6. diwedar bubar jumatan, asar , opo magrib?

  7. Sugeng ndalu Ki Arema, Ki Sanak sedoyo..

    • Sugeng ndalu sa’wangsulipun Ki Karto. Nuwun sewu kulo boten saged mangayubagyo rawuh panjenengan wonten Kademangan Bekasi. Mugia boten dadosaken renguning penggalih panjenengan.
      Nuwun.

      • Sugeng ndalu Ki Truno podang…enjoy kemawon Ki…kawulo njihh namung sak nyuk koq ! keleresan koq wonten jadual sing radhi mendadak…tapi lintu wedal taksih khatah kesempatan koq Ki…Matur nuwun sanget atas perhatiannya.

  8. wah tenan bakda isak, matur sembah nuwun

  9. Sugeng dalu para kadang ADBMers/PDLSers,
    memang Ki Senopati betul2 sedang memanjakan kita semua, tiap hari ada wedharan rontal.
    maturnuwun.

  10. Sabar …. tunggu jam wedarnya…

    Sing sabar, luhur wekasanne.
    Wong sabar, gedhe rekasanne..

    hikss, ra parenk duko

    😉

  11. yeng gelem sabar pancen gedhe angsare. aku antri mburi dhewe langsung entuk … padune ra gelem antri, he, he, he, ….

    matur nuwun.

  12. Ransum kemarin belum sempat dibuka, udah di drop ransum jatah hari ini, makasih banget-banget deh.
    Hari ini memang hari yang “ruar..biasa”, disamping sebagai hari pertama di tahun 1431 H, kemunculan “sang primadona” dengan ceritanya adalah sebuah “hadiah” untuk kita (persatoean sing kangen….).
    “cerita” dari KP menurut saya adalah sebuah “canda” sekaligus sebuah renungan kita bersama di awal tahun baru hijriah ini, sejauh mana kita mewarisi agama yang kita cintai ini, sudahkah kita menerimanya sebagai pusaka yang kita junjung tinggi sebagai perisai hidup dan kehidupan ini, atau hanya sebagai hiasan/pujaan yang dimandikan di hari ini??. “bahasa” di dalam agama adalah sebuah “rahasia”, sementara tidak semua manuasia mewarisi “rahasia” ini.
    “bersedekahlah” engkau, niscaya Allah akan membalasnya dengan tujuh puluh kelipatan. Mereka dari golongan AM/UMUM membacanya sebagai “bisnis” ibadah. Sementara kaum KHOAS/khusus, membacanya sebagai “rahasia-karunia” dan bertambah yakinlah dirinya dengan agamanya sebagaimana “ucapan”Abu Bakar Sidik mendengar cerita Isra Mi’raj,”-lebih dari itu aku yakin Ya Rasulallah-”
    Berbahagialah mereka yang telah diwarisi “pusaka” alqur’an di dalam dirinya. Sebuah kitab yang tidak “berhurup” dan “berbunyi”, hanya mereka yang telah diberi “cahaya-Muhammad” yang dapat membaca dan mendengarnya.
    Yang perlu kita renungi-bahwa tidak semua punya isi kepala yang sama,meski semua mendapatkan bagian yang sama.SELAMAT TAUN BARU, SEMOGA KITA MENJADI LEBIH BAIK….

    • Amin !…Amin ! ..tentu akan menjadi lebih baik..bagi kita semua …Amin !

  13. Selamat pagi poro kadang, terimakasih Ki Senopati kitab sudah diunduh.

  14. Selamat pagi Ki Arema, Kisanak semua !

  15. sugeng injing ki Arema, ki Is, ki GD lan sederek sedoyo kemawon … ngisi daftar hadir sekalian ngrapel kitab … ngunduh maksudnya …
    karena membacanya baru nomer 3 … he3 …
    matursuwun ki Arema, ki Ismoyo dan ki GD

  16. Absen + sekilas info cuaca :

    Wonogiri gerimis….

  17. jebul wis awan…

    (ra meh komen liyane)

  18. Simbaah !….simboook!…lho dho nang dhi kabeh tho yoo?

    • Inggih Ki KartoJ, sonten menika kula nggih ijenan, mboten wonten kanca babar blas.
      Nembe sami wiken napa nggih ?

      • Libur panjang Ki Gembleh.. dados sami dho keluar kota, keluar pulau, keluar negeri, bahkan mungkin ada yang keluar angkasa !!..dados mangke dalu kita ronda berdua aja ! ok ? jangan lupa bawa skak……sama kopi…sama pacitane sekalian..hiks…saya nanti bawa klosonya..hiks (lagi).

        • Kulo nderek maen SKak

          • Boleh !…tapi mikir-e mboten angsal dangu2 njihh ..

        • gue ikut wasitin aje

  19. kapan yo lawang kamar 20 dibukak

    • Maaf, tidak ada tulisan yang memenuhi kriteria Anda.

      • Katenye akan dibuka bentar lagi !

  20. hadir aja…
    brrrrrrrrr….

  21. Bercanda merupakan suatu hal yang memang mengasyikkan. Namun hal ini kadang mengantarkan pelakunya pada akibat merendahkan orang lain.
    Kita akan melihat ada sebagian orang yang meniru gaya jalan kawannya, dan cara ngomongnya dengan alasan humor. Sekelompok lagi, ada sebagian yang memberikan gelar-gelar kepada kawan dan saudaranya. Andaikan gelar itu diberikan kepadanya, niscaya hatinya akan jengkel. Bahkan ada diantara manusia yang tak berperasaan, saat bercanda ia memukul temannya. Semua ini mereka lakukan dengan alasan humor.
    Semua ini merupakan perendahan terhadap martabat orang lain, apalagi ia muslim. Penyakit ini muncul disebabkan karena penyakit sombong dan hilangnya rasa malu di hati pelakunya. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda :
    “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain”. [HR. Muslim dalam Shohih- nya (91)]
    Seseorang yang memiliki iman dan rasa malu di hadapan Allah, niscaya tak mungkin akan mengantarkan pemiliknya kepada sikap sombong dan merendahkan orang lain. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
    “Malu dan iman dikumpulkan bersama-sama. Jika yang satu hilang, maka yang lain pun akan hilang”. [HR. Al-Hakim (58) dan Al-Baihaqy dalam Asy-Syu’ab (7727), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (4/297). Lihat Jilbab Al-Mar’ah (hal.136)]
    Seorang yang memperbanyak canda dan tawa, hatinya akan rusak dan mati dengan perlahan-lahan disebabkan ia tak terasa telah melakukan dosa dan kekufuran yang menodai hati. Nabi bersabda:
    “Janganlah kalian memperbanyak tertawa karena memperbanyak tertawa bisa mematikan hati”. [HR. At- Tirmidzy (2305), Ibnu Majah (4193). Lihat Shohih Al-Adab Al-Mufrod (253)]
    Salah satu bumbu dalam pergaulan adalah kebiasaan mengejek, mengolok-olok, merendahkan, atau bercanda. Kok disebut ‘bumbu dalam pergaulan’? Seharusnya disebut ‘bug dalam pergaulan’ ya?

    Diakui bahwa ejekan sendiri bisa jadi sebagai pemanis dalam pergaulan. Asal jangan ada yang tersinggung. Saling mengejek menjadi bumbu dalam pergaulan kalau memang dimaksudkan sebagai bahan candaan. Tapi bagaimanapun juga, tetap mempunyai kemungkinan untuk menumbuhkan perasaan sakit dalam hati. Ya, liat liat dulu lah candaannya gimana…

    Kalau sifat air itu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, sifat angin bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan yang rendah, maka sifat cemoohan juga begitu, dari orang yang menganggap dirinya punya kelebihan kepada orang yang dianggapnya punya kelemahan.

    Logikanya harusnya seperti itu, kan? Orang yang langsing akan mengejek orang yang gendut, orang yang lancar bicaranya akan mengejek orang yang gagap, orang yang ganteng akan mengejek orang yang jelek, dst. Bahan ejekan, tentu yang dianggap kekurangan pada objek yang diejek.

    Lalu, mengapa Allah SWT SWT mengatakan bahwa bisa jadi yang diejek lebih baik dari yang mengejek?

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik…” Qs Al-Hujuraat:11.

    Jadi, bisa terjadi salah sasaran, begitu ya? Memang bisa begitu!!!
    Manusia punya kelebihan dan kekurangan sekaligus. Tidak ada manusia yang sempurna. Bisa saja seseorang punya kelebihan berupa kecerdasan, tapi fisiknya tidak begitu baik. Atau sebaliknya.
    Kecerdasan pun bermacam-macam. Misalnya di kampus seorang mahasiswa ada yang jago logika, tapi hafalannya lemah. Ada yang IQ-nya tinggi tapi EQ-nya lemah, atau sebaliknya. Ada yang jago programming tapi buta multimedia, atau sebaliknya. Intinya, kelebihan manusia itu spesifik.

    Kita sebagai umat manusia yang beragama dan bermoral tentunya kita tahu bahwa mengejek orang lain dan menyakiti orang lain itu tidak boleh. Dalam Islam mengejek, merendahkan, mencaci maki sesama manusia itu tidak boleh, bahkan sampai bisa dilaknat oleh Allah SWT. Jika kita menghina orang lain berarti menghina kepada pencipta-Nya. Jadi jangan pernah menghina orang lain. Ingat jika kita tidak mau ada yang menghina maka jangan pernah menghina orang lain.

    • Namun kita semua meyakini, bahwa sanak kadang di adbm maupun pdls merupakan insan-insan yang bertanggung jawab, mungkin ia kepleset tapi dengan nurani yang paling dalam ia mengakui dan menyadari akan ketergesaanya. Sebenarnyalah adbmers, pdlsers, adalah insan-insan yang tampan dan cantik hatinya, dan bukan hanya cantik dan tampan pada ujud lahiriahnya saja. Tetap suemangaaaaaaaaaaat.

      • Amin..Amin..suwetujuu..!!

      • ngestoaken ki Panembahan,..

        ayo cararantrik..ora parenk mbeling maneh…(iki serius lho)

        • seriuuusss…!!!!

  22. Sambil nunggu siaran EPL, absen dulu.

  23. Sambil nunggu rapelan malam Minggu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: