PdLS-50

MAKA PADA HARI itu JUGA, pimpinan pemerintahan Tumapel telah mengumumkan keputusan itu. Di hari berikutnya, di alun-alun Tumapel akan dilakukan perang tanding.

Demikianlah segala macam persiapan telah dilakukan. Sebuah panggungan telah dibangun di alun-alun sebagai ajang dari perang tanding itu.

Keputusan itu pun segera saja menjalar dari setiap mulut ke setiap telinga, sehingga belum lagi matahari terbit di keesokan harinya, rakyat di seluruh Tumapel telah mendengar apa yang akan terjadi itu.

Keputusan itu telah mengejutkan keluarga Witantra yang baru saja pulang dari rumah Kebo Ijo. Dengan cemas istrinya bertanya, apakah yang akan terjadi.

“Aku telah menempuh jalan satu-satunya,” desis Witantra.

Istrinya segera terdiam. Ia adalah istri seorang senapati yang harus dapat mengerti tugas-tugas suaminya. Namun terasa kali ini hatinya menjadi berdebar-debar. Suaminya tidak akan berangkat perang melawan kekuatan yang manapun juga di luar kekuatan Tumapel. Tetapi suaminya kali ini akan melakukan perang tanding untuk membela nama adik seperguruannya.

“Nyai,” berkata Witantra, “aku tidak terlampau bernafsu untuk menyelamatkan nama Kebo Ijo itu sendiri. Tetapi aku ingin mempertahankan keyakinanku. Kebo Ijo tidak bersalah.”

“Tetapi bagaimana dengan bukti-bukti itu, Kakang?” bertanya istrinya.

“Itulah kelemahanku. Aku tidak mempunyai bukti apapun,” sahut suaminya, “tetapi, sebelum Kebo Ijo berusaha melarikan diri, aku hampir dapat meyakinkan pemimpin yang enam itu, bahwa Kebo Ijo tidak akan sebodoh itu, seandainya ia memang melakukan pembunuhan atas Akuwu Tunggul Ametung. Yang aku sesalkan adalah kebodohan Kebo Ijo yang ingin melarikan diri, sehingga dalam perkelahian melawan Ken Arok ia telah terbunuh. Meskipun demikian, namanya harus dicuci. Nama Kebo Ijo dan nama seluruh perguruan.”

Istrinya tidak menyahut lagi. Bagaimanapun juga, sebagai seorang istri yang mencintai suaminya, terasa bahwa keluarganya sedang berada di depan pintu gerbang malapetaka.

Demikianlah, maka semalam sebelum perang tanding itu dilaksanakan, baik Mahisa Agni maupun Witantra hampir tidak dapat tidur sekejap pun.

Witantra merasa, bahwa ia memang tidak dapat memberikan bukti-bukti sangkalannya atas kesalahan Kebo Ijo. Sehingga ia naik ke arena semata-mata berdasarkan keyakinan yang ada padanya.

“Kalau Kebo Ijo benar-benar tidak bersalah sesuai dengan keyakinanku, maka sungguh tidak adil, apa yang telah terjadi atasnya. Ia menjadi korban nafsu yang menyala di hati orang lain.”

Dan pada saat yang sama Mahisa Agni berkata di dalam hatinya, “Kenapa aku harus naik ke arena? Sayang, bahwa aku harus berhadapan dengan Witantra. Tetapi apa boleh buat. Setiap kesalahan harus mendapat hukuman. Seandainya Kebo Ijo masih hidup, aku pasti tidak akan begitu bernafsu mempertahankan keputusan atas kesalahannya. Aku tidak bernafsu bahwa Kebo Ijo harus dihukum mati. Tetapi ia sudah mati. Dan kesalahan ini tidak boleh ditimpakan kepada orang lain lagi, seandainya keputusan tentang Kebo Ijo dapat dibatalkan. Dengan demikian, maka harus ada orang lain yang akan menerima hukuman atas kematian Akuwu, selain kematian Kebo Ijo. Alangkah tidak adilnya. Hanya karena nama Kebo Ijo diselamatkan di atas arena perang tanding.”

Dengan demikian, keduanya merasa, bahwa mereka akan bertempur untuk mempertahankan keyakinan masing-masing, demi keadilan.

Ketika fajar menyingsing, maka Witantra segera mempersiapkan dirinya. Setelah mandi dan mencuci rambutnya, Witantra segera masuk ke dalam biliknya untuk sejenak mengheningkan hati. Dicoba melihat ke dirinya sendiri. Siapa dan apakah dia sebenarnya. Dari mana dan ke mana ia akan pergi sebelum dan sesudah hidup ini.

Kemudian setelah ia selesai menimbang diri, maka mulai terbayang wajah gurunya yang kekurus-kurusan. Yang selama ini telah menempanya dalam olah kanuragan.

“Bukan maksudku untuk membanggakan diri,” desisnya, “tetapi aku tidak mempunyai alat yang lain.”

Terbayang, betapa ia mesu diri di saat-saat terakhir. Di saat ia merasa tersisih dari Akuwu Tunggul Ametung. Namun justru dengan demikian ia merasa bahwa bahaya semakin dekat mengancam Tumapel. Karena itu, maka ia telah memperdalam ilmu yang telah dimilikinya.

Dari hari ke hari ilmunya kian bertambah-tambah sempurna, sehingga akhirnya kemampuannya mencapai tingkat yang hampir setinggi gurunya. Ia hanya memerlukan setapak lagi untuk sampai ke puncak. Tetapi yang setapak itu belum sempat dilakukan, karena yang setapak itu memerlukan segenap pemusatan segala inderanya untuk waktu yang agak banyak.

Namun, untuk naik ke arena Witantra telah membawa bekal yang cukup itulah sebabnya, maka ia dengan tenang mempersiapkan dirinya menghadapi setiap kemungkinan. Meskipun demikian, terasa di sudut hatinya sesuatu yang selalu menyentuh-nyentuh perasaannya. Getaran yang tidak dikenalnya, seakan-akan memberi isyarat kepadanya bahwa kali ini yang dihadapinya, meskipun bukan salah seorang senapati perang, atau manggala pasukan apapun, namun Mahisa Agni adalah seseorang yang mempunyai banyak kelebihan dari orang-orang kebanyakan. Lebih daripada itu, Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang sangat dikenalnya. Seorang yang baik, seorang yang jujur dan sama sekali tidak dikendalikan oleh nafsu. Tetapi sayang, kematian pamannya telah membuatnya menjadi mata gelap.

Sedang Mahisa Agni pun telah mencoba mempersiapkan dirinya pula lahir dan batin. ia pun sadar, siapakah Witantra. Agaknya Witantra tidak berhenti seperti beberapa saat yang lampau. Karena itu, maka ia pun selalu mencoba menilai diri.

“Witantra adalah orang yang baik,” katanya di dalam hati, “tetapi sayang, bahwa ia telah tergelincir. Meskipun demikian, ia bagiku tetap seorang prajurit yang jarang ada duanya. Seorang prajurit yang berdiri tegak di atas garis keprajuritannya.”

Demikianlah waktu yang semalam itu agaknya telah mengendapkan dua hati yang sedang menggelegak itu. Meskipun mereka masih tetap di dalam pendirian masing-masing untuk naik ke arena, tetapi mereka sudah tidak lagi dibakar oleh kemarahan yang meluap-luap. Mereka kini adalah orang-orang yang merasa bertanggung jawab atas keyakinannya, dan menghadapi pertanggungan jawab itu dengan sepenuh kesadaran.

Pada hari itu, rakyat Tumapel seperti terhisap seluruhnya keluar dari rumahnya pergi ke alun-alun. Tua muda, laki-laki perempuan. Hampir tidak ada yang ketinggalan.

Semuanya ingin melihat, apa yang akan terjadi di arena.

Kematian Akuwu Tunggul Ametung adalah persoalan yang telah mengguncangkan seluruh Tumapel. Kemudian disusul oleh kematian Kebo Ijo dan keputusan perang tanding ini sebagai ekor dari peristiwa pembunuhan itu.

Setelah menghadap pemimpin yang enam di pagi-pagi benar, maka Mahisa Agni pun telah siap untuk pergi ke alun-alun bersama-sama keenam pemimpin itu. Namun sebelum ia berangkat, maka seorang perempuan tua telah menemuinya. Perempuan tua pemomong Ken Dedes. Dan perempuan tua pemomong Ken Dedes itu adalah ibunya.

“Aku ingin berbicara dengan kau, Agni,” bisik perempuan tua itu.

Agni tidak menjawab. Ia tahu bahwa perempuan tua itu ingin berbicara seorang diri, tanpa didengar oleh orang lain. Karena itu tanpa menjawab sepatah kata pun ia mengikuti perempuan tua itu memasuki suatu bilik yang kosong di bagian belakang istana.

“Di bilik sebelah Tuan Putri terbaring,” desisnya.

“Apa katanya mengenai perang tanding ini?”

“Ken Dedes tidak tahu, apa yang akan terjadi itu.”

“Kenapa?”

“Tidak seorang pun boleh memberitahukan. Setiap kali ia selalu diganggu oleh kejutan-kejutan yang kadang-kadang tidak dapat diatasinya sehingga pingsan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Agni,” berkata perempuan tua itu, “kenapa kau tidak berbicara dengan aku dahulu sebelum kau menentukan sikap ini?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Maksud Ibu? “ ia bertanya.

“Kalau kau berbicara dengan aku, Agni, sebagai seorang emban dan sebagai ibumu, aku akan mencoba mencegahnya.”

“Kenapa?”

“Sudah tentu sebagai seorang ibu, aku mencemaskan nasibmu, Agni. Kau adalah satu-satunya anakku. Kau adalah penyambung hidupku. Dan sebagai seorang emban, aku memang meragukan, apakah benar Angger Kebo Ijo telah melakukannya.”

Dada Ken Arok berdesir, ia tidak terkejut ketika ia mendengar alasan ibunya sebagai seorang ibu yang mencemaskan nasib anaknya. Tetapi ia menjadi heran, kenapa ibunya dapat mengatakan bahwa ia meragukan kesalahan Kebo Ijo.

“Kenapa Ibu meragukannya?”

“Aku tidak tahu Agni. Aku memang orang bodoh. Aku terlampau dipengaruhi oleh perasaanku. Seandainya belum terlanjur, maka aku akan dapat bercerita panjang lebar tentang keadaan Ken Dedes.”

“Aku ingin mendengar.”

“Terlambat. Meskipun aku mencemaskan kau, Agni, tetapi aku tidak dapat melarang kau atau mempengaruhi dengan segala macam cara, sehingga kau ragu-ragu naik ke arena. Meskipun mungkin sikap dan kata-kataku ini sudah membuat kau ragu-ragu, tetapi kau akan segera melupakannya. Apalagi karena Kebo Ijo sendiri sudah mati.”

Perempuan tua itu berhenti sejenak. Lalu, “Sudahlah. Hati-hatilah. Kalau kau naik ke arena, berdoalah. Bukan saja agar kau mendapat kemenangan, tetapi yang terpenting bagimu, agar kau mendapat sinar terang di hatimu.”

“Apa sebenarnya yang tersimpan di hati ibu?”

“Jangan kau tanyakan sekarang. Kau sudah berada di atas sebuah keputusan untuk perang tanding. Kalau kau mendapat perlindungan dan menang, kau masih mempunyai banyak kesempatan mendengar ceritaku. Segala sesuatu masih dapat diperbaiki. Karena itu, kau harus berusaha sebaik-baiknya. Tetapi kalau kau kalah, maka kau tidak akan mendapat kemungkinan apapun. Sebab, kau harus tahu, akibat dari kekalahan di arena untuk mendukung suatu sikap atas suatu keputusan.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Ia tahu benar, bahwa perang tanding yang demikian, menurut ketentuan, berlangsung sampai salah seorang kalah dan mati.

“Sudahlah Agni, pergilah.”

Mahisa Agni mengangguk perlahan-lahan. Kemudian tanpa sesadarnya ia berlutut di hadapan ibunya, mencium tangannya kemudian sambil berdiri ia berkata, “Aku mohon restu, Ibu. Mudah-mudahan aku dapat mempertahankan keyakinanku, untuk menegakkan keadilan di atas bumi Tumapel.”

Ibu menarik nafas dalam-dalam.

“Aku berdoa untuk kemenanganmu, Agni. Tetapi aku tahu bahwa Angger Witantra adalah seorang yang baik. Seorang yang kuat. Dan kau akan menghadapinya.”

“Ya, Ibu. Aku menyadari.”

“Pergilah.”

Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah meninggalkan ibunya, keluar dari bilik itu. Demikian Mahisa Agni hilang dibalik pintu, perempuan tua itu terhuyung-huyung melangkah ke sudut. Sejenak ia berpegangan tiang yang tegak dengan kokohnya. Namun kemudian ia jatuh berlutut. Tanpa dapat ditahan-tahan lagi ia menangis sejadi-jadinya. Ia melihat dan merasakan, bahwa Tumapel memang sedang dilanda oleh kekalutan.

“Anakku,” desisnya, “mudah-mudahan kau selamat. Meskipun dengan keselamatanmu itu, maka sebuah keadilan telah terguncang. Aku mempunyai keyakinan seperti Angger Witantra, bahwa bukan Angger Kebo Ijo yang telah berbuat. Aku melihat apa yang terjadi sebelum peristiwa pembunuhan ini, dan aku melihat perasaan Ken Dedes setelah peristiwa itu terjadi. Dan aku menarik sebuah kesimpulan, bahwa tangan yang lainlah yang telah berbuat. Tetapi aku terlampau bodoh dan terlampau lemah. Aku tidak mempunyai keberanian seperti Angger Witantra, dan Mahisa Agni ternyata kurang mempunyai bahan pertimbangan. Ia masih terlalu muda.”

Perempuan itu menangis sepuas-puasnya. Bilik itu adalah bilik yang jarang sekali dimasuki oleh siapa pun. Yang biasa berada di dalam bilik itu di sore hari adalah Permaisuri Ken Dedes dan kadang-kadang Akuwu sendiri hadir bersamanya untuk sekedar bercakap-cakap.

Tetapi sejak Akuwu terbunuh dan sejak Ken Dedes selalu berada di dalam biliknya, maka bilik ini hampir setiap saat kosong.

Ketika pemomong Ken Dedes itu sudah puas menangis, maka ia pun kemudian mengusap air matanya yang tersisa dengan ujung kainnya, kemudian dengan langkah yang berat keluar dari bilik itu menuju ke bilik permaisuri.

Ketika ternyata permaisuri masih tidur maka ia menarik nafas dalam-dalam. Kepada setiap emban ia telah berpesan, agar permaisuri dijauhkan dari setiap berita mengenai persoalan Akuwu Tunggul Ametung beserta semua akibat-akibatnya, termasuk perang tanding yang akan dilakukan.

Pada saat itu, di alun-alun Tumapel, rakyat sudah berjejal-jejal menunggu perang tanding yang akan datang. Mereka sama sekali tidak menghiraukan beberapa orang perempuan sedang berada dalam kecemasan. Mereka adalah Nyai Witantra, pemomong Ken Dedes dan janda Kebo Ijo. Mereka mencemaskan orang-orang yang mereka kasihi dalam nada yang berbeda-beda.

Ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, maka hadirlah pemimpin Tumapel yang enam bersama Mahisa Agni. Kemudian naik ke atas panggung yang khusus, seorang yang akan berdiri berlawanan, Witantra.

Sejenak kemudian maka seorang pemimpin yang tertua naik ke arena dan memberikan kata-kata pengantar yang singkat. Betapa pedihnya melihat putra-putra Tumapel yang terbaik justru akan berhadapan di arena. Namun mereka ternyata tidak dapat dipertemukan lagi di dalam keyakinan. Witantra dengan keyakinannya dan Mahisa Agni yang mendukung keyakinan pemimpin yang enam.

Ketika kemudian seorang prajurit memukul bende, alun-alun itu seakan-akan meledak oleh gemuruhnya sorak orang-orang yang menyaksikan perang tanding itu. Mereka yang sudah lama tidak melihat perang tanding semacam itu, serta mereka yang ingin melihat orang-orang terkuat di Tumapel akan bertempur. Mereka sama sekali tidak menghiraukan lagi, bahwa dengan demikian berarti bahwa kesatuan Tumapel sedang retak. Apabila tidak ada tangan yang kuat untuk membina Tumapel, maka Tumapel sedang meluncur ke dalam jurang perpecahan.

Tetapi sorak-sorai yang membahana itu pun kemudian berangsur mereda ketika mereka melihat kedua orang itu naik ke arena. Ternyata keduanya sama sekali tidak seperti yang mereka bayangkan. Mereka sama sekali tidak berwajah merah padam. Sorot mata mereka tidak menjadi buas dan liar.

Keduanya naik ke arena dengan kepala tunduk. Keduanya mengenakan pakaian keprajuritan. Dan kali ini Witantra sama sekali tidak memakai tanda-tanda kebesarannya. Baik sebagai seorang prajurit pengawal, maupun sebagai seorang manggala kesatuan dan salah seorang pemimpin tertinggi dari pemimpin yang tujuh di Tumapel.

Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi sama sekali tidak terpancar nafsu dari mata mereka.

Ternyata bahwa keduanya adalah orang-orang besar. Mereka adalah orang-orang yang cukup dewasa menanggapi persoalan. Meskipun di dalam hati mereka menyala tekad untuk mempertahankan keyakinan, namun sama sekali tidak membayang nafsu yang tidak terkendali.

Seorang pemimpin yang lain naik juga ke arena, memberikan keterangan tentang keharusan yang berlaku di dalam perang tanding.

“Perang tanding ini berlangsung sampai salah seorang mati, atau atas kehendak yang menang, yang kalah tidak dibunuhnya, tetapi sudah yakin, bahwa ia tidak akan dapat melawan dan memenangkan perang tanding ini apabila dilanjutkan, atas persetujuan kami.”

Witantra sama sekali tidak mengajukan keberatan sama sekali, meskipun ia kurang mantap dengan ketentuan itu, karena pemimpin yang enam itu sendiri kesemuanya berdiri di satu pihak. Tetapi Witantra masih yakin, bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki jiwa besar dan jujur menghadapi keputusan ini.

Sedang Mahisa Agni pun masih saja menundukkan kepalanya. Kata-kata ibunya ternyata masih saja terngiang di telinganya. Namun ia selalu ingat pula pesan ibunya itu, “Aku berdoa untuk kemenanganmu Agni.”

Ketika semuanya telah siap, maka terdengarlah suara bende sebagai tengara, bahwa perang tanding sudah akan dimulai. Bende pertama memberi tanda bahwa keduanya siap berada di tempat masing-masing. Bende kedua, mereka harus bersiap untuk mulai dengan perang tanding, dan ketika bende ketiga terdengar, maka perang tanding itu pun segera mulai.

Namun justru penonton yang berjejal-jejal itu sama sekali tidak lagi bersuara seperti orong-orong terinjak kaki. Diam. Diam dalam ketegangan. Mereka terpengaruh oleh sikap kedua orang yang kini berada di arena. Keduanya sama sekali tidak menunjukkan nafsu berkelahi yang meluap-luap.

Bahkan mereka masih melihat keduanya maju selangkah dan melihat bibir Witantra bergerak-gerak. Tetapi kata-katanya terlampau lambat untuk didengar oleh mereka, “Aku terpaksa melakukan Agni.”

Dan Mahisa Agni pun menganggukkan kepalanya, “Aku mengerti Witantra. Kita bukan lagi anak-anak yang sedang diseret oleh nafsu.”

“Baiklah. Tanda untuk mulai sudah berbunyi.”

“Aku sudah siap.”

Keduanya menjadi semakin mendekat. Betapapun dada mereka menampung persoalan itu dengan nafas kedewasaan, namun mereka pun menjadi semakin tegang juga. Mereka menyadari, bahwa di dalam perang tanding ini mereka bukan saja sekedar mempertahankan keyakinan, tetapi juga mempertahankan nyawa.

Demikianlah, maka mereka pun telah berusaha melupakan semua kenangan tentang hubungan mereka selama ini. Kini mereka sedang mengemban suatu tugas yang adil menurut sudut pandang masing-masing.

Sejenak kemudian mulailah Witantra menyerang. Meskipun ia masih sedang berusaha menjajaki kemampuan lawannya.

Mahisa Agni yang telah siap pun segera menanggapinya, dengan hati-hati ia menghindari serangan pertama itu. Seperti juga Witantra ia mencoba untuk mengetahui, sampai di mana kemampuan lawannya.

Dengan demikian maka dalam gerakan-gerakan yang pertama, tampaklah betapa kedua belah pihak berbuat dengan sangat hati-hati. Keduanya memang bukan orang-orang yang mudah terbakar oleh nafsu tanpa kendali. Sehingga dengan demikian, maka perkelahian itu sama sekali tidak berlangsung seperti apa yang diharapkan oleh sebagian dari para penontonnya. Mereka mengharap, yang naik ke arena adalah ayam sabungan, yang demikian bertemu dengan lawan, langsung berkelahi dengan mata gelap.

Keenam pemimpin yang lain yang berada di dalam sebuah panggungan khusus menyaksikan pertempuran itu dengan berdebar-debar. Seandainya ada jalan lain, maka jalan yang satu ini memang harus dihindari. Setiap serangan dari masing-masing pihak terasa telah menggetarkan dada mereka.

Namun keenam pemimpin yang lain itu pun menyadari, betapa kedua orang yang bertempur itu bukanlah orang-orang yang masih dikuasai oleh nafsu melulu.

Tetapi dengan demikian, agaknya, kecemasan di hati mereka pun menjadi semakin tajam. Orang-orang yang demikian itu adalah orang-orang yang matang di dalam ilmunya, sehingga perkelahian itu pun semakin, lama akan menjadi semakin sengit. Apabila pertempuran itu nanti akan sempat ke puncaknya maka pasti akan membuat setiap jantung seakan-akan berhenti berdetak. Di antara para penonton terdapat seorang anak muda yang bernama Ken Arok. Kali ini ia tidak sedang bertugas di manapun juga, karena ia memang seharusnya berada di alun-alun. Ia adalah seorang pelayan dalam yang ikut langsung menangani masalah Kebo Ijo. Apalagi kematian Kebo Ijo adalah karena tangannya.

Dengan seksama ia mengikuti pertempuran yang terjadi di arena. Tidak seperti orang-orang kebanyakan, maka penilaian Ken Arok jauh lebih dalam. Seperti pemimpin yang enam, maka ia mengharap, pada saatnya perang tanding itu akan menjadi perang tanding yang paling dahsyat yang pernah berlangsung di arena alun-alun Tumapel.

Demikianlah pertempuran itu pun setiap saat telah meningkat. Ketika keduanya telah mulai dibasahi oleh keringat, maka ketegangan di dalam hati keduanya pun meningkat pula, seperti ketegangan di hati pemimpin yang enam, para pemimpin prajurit, para pandega. Senapati dan prajurit-prajurit yang bertugas di seputar arena dan di sekeliling alun-alun. Demikian juga ketegangan di dalam dada Ken Arok. Bahkan yang tampak olehnya di saat itu bukanlah sekedar pergulatan di dalam arena itu, Tetapi Ken Arok memandang alun-alun itu sebagai lautan manusia Tumapel. Tiba-tiba terasa dadanya mengembang. Orang-orang itulah tujuan dari segala macam rencananya. Menguasai semuanya itu.

Tiba-tiba Ken Arok itu tersenyum sendiri. Sebagian terbesar rencananya telah dapat berjalan dengan baik. Apa yang terjadi di arena itu adalah salah satu dari permainannya. Dan ia berbangga karenanya. Witantra adalah pemimpin tertinggi dari pasukan pengawal istana. Mahisa Agni adalah seorang yang pilih tanding, kakak Permaisuri Ken Dedes.

Ia mengharap bahwa akhir dari perang tanding ini adalah, Mahisa Agnilah yang menang. Dengan demikian maka Witantra yang selama ini menentang keputusan tentang Kebo Ijo, tidak akan lagi mengganggunya. Apabila Witantra masih ada, maka ia pasti kelak mengadakan penyelidikan untuk menemukan pembunuh Akuwu Tunggul Ametung yang sebenarnya.

Kalau Witantra kalah dalam perang tanding ini berarti Witantra telah tersingkirkan untuk selama-lamanya.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Namun hatinya masih saja berdebar-debar. Meskipun perang tanding di arena itu telah meningkat, namun masih belum mencapai puncak dari kemampuan keduanya. Keduanya masih mencari-cari setiap kemungkinan untuk menyelesaikan perang tanding ini dengan pasti. Kesalahan yang kecil sekalipun akan dapat menggagalkan usaha salah seorang dari mereka.

“Apabila perang tanding ini selesai, dan Mahisa Agni dapat menguasai keadaan, maka aku akan sampai pada rencana terakhir. Aku harus sampai pada kepastian untuk dapat kawin dengan Ken Dedes. Jika hal itu terjadi, maka tidak ada satu atau dua orang lainnya, akulah yang akan menguasai Tumapel. Akulah yang akan menguasai manusia ini seluruhnya termasuk Mahisa Agni, pemimpin yang enam itu dan bahkan Ken Dedes.”

Ken Arok masih saja tersenyum sendiri. Diedarkannya pandangan matanya. Dipandanginya setiap prajurit yang sedang bertugas, dan bahkan, kemudian keenam pemimpin Tumapel yang berada di panggung yang khusus. Katanya pula di dalam hatinya, “Suatu saat, kalian akan menjadi orang-orangku yang harus patuh kepada perintahku.”

Ken Arok seolah-olah tersadar, ketika ia melihat guncangan dalam perang tanding di arena. Sebuah serangan yang dahsyat, sedahsyat badai, telah mendorong Mahisa Agni, sehingga Mahisa Agni terjatuh. Serangan berikutnya beruntun mengejar Mahisa Agni yang berguling-guling menjauhi lawannya. Namun agaknya Witantra tidak memberinya kesempatan.

Ken Arok menahan nafas. Ia melihat seolah-olah Mahisa Agni tidak berkelahi di dalam puncak kemampuannya sedang Witantra agaknya telah mulai mengerahkan ilmu-ilmu puncaknya.

Namun nafasnya seakan-akan berhenti ketika tiba-tiba saja ia melihat Mahisa Agni mengerahkan kemampuannya. Agaknya ia tidak segera menerima usaha Witantra untuk segera memaksakan akhir dari perang tanding ini. Karena itu, maka Mahisa Agni pun kemudian telah berusaha dengan segenap kemampuan yang ada padanya, untuk melepaskan diri dari keadaan yang sulit, yang tiba-tiba saja telah melibatnya.

Karena ia tidak berhasil mencapai jarak dengan lawannya, maka tiba-tiba Mahisa Agni telah mempergunakan sepasang tangannya untuk melontarkan diri melenting, justru menyerang lawannya.

Witantra terkejut mengalami serangan yang tidak terduga-duga itu. Mahisa Agni telah menjulurkan kedua kaki kirinya sambil membelakangi lawannya, didorong oleh kekuatan lenting tangannya.

Karena itu, maka Witantra tidak sempat untuk mengelak. Dengan cepat ia memiringkan tubuhnya, merendah sedikit pada lututnya dan membentur kedua kaki Mahisa Agni itu dengan sikunya.

Sebuah benturan yang keras telah terjadi. Mahisa Agni hampir saja tertelungkup. Dengan susah payah ia menjatuhkan dirinya pada pundaknya untuk seterusnya berguling beberapa kali. Sedang Witantra terguncang dan terdorong dua langkah surut.

Terdengar keduanya menggeram. Tetapi Witantra tidak segera dapat mengejar Mahisa Agni. karena keseimbangannya. Karena itu maka selagi ia mencoba untuk tegak, Mahisa Agni telah berhasil meloncat berdiri tegak pula di atas kedua kakinya.

Sejenak kemudian mereka pun telah berloncatan maju menyerang dengan garangnya. Witantra bertempur dengan lincah dan tangguh. Setiap langkahnya diperhitungkannya, dan setiap geraknya selalu mendebarkan hati lawannya. Namun Mahisa Agni semakin lama menjadi semakin mantap. Ketika keringatnya telah membasahi seluruh tubuhnya, maka ia tidak segan-segan lagi untuk mempergunakan segenap kemampuannya meskipun ia masih tetap mempergunakan akalnya. Namun tandangnya telah benar-benar menjadi seperti banteng ketaton.

Beberapa saat yang lampau, ia pernah bertempur mati-matian melawan seorang iblis yang paling buas, tidak saja di seluruh Tumapel, tetapi di seluruh Kediri. Setelah ia menyempurnakan ilmunya di bawah bimbingan gurunya, Empu Purwa, dan Empu Sada, maka ia telah berhasil mencari suatu tingkatan ilmu yang dapat mengatasi ilmu iblis itu, dan bahkan mengatasi ilmu gurunya dan ilmu Empu Sada seorang demi seorang.

Itulah sebabnya, maka Mahisa Agni tidak terlampau banyak mengalami kesulitan, ketika ia berperang tanding melawan Witantra, yang masih belum berhasil menyamai gurunya, Panji Bojong Santi.

Namun Witantra adalah seorang yang mempunyai otak yang cerdas. Karena itu, maka segera ia menyesuaikan dirinya dalam pertempuran itu. Ia lebih banyak mempergunakan perhitungan-perhitungan yang teliti, daripada benturan-benturan yang mungkin dapat terjadi. Meskipun demikian, ia masih belum menyadari, bahwa Mahisa Agni yang sekarang adalah Mahisa Agni yang hampir tidak ada duanya.

Di kejauhan, di belakang para penonton yang lain, guru Witantra menyaksikan perkelahian itu sambil mengusap dada. Segera ia menyadari, bahwa lawan Witantra pasti tidak akan dapat dikalahkan oleh muridnya. Betapapun muridnya berusaha dengan segala kemampuan ilmu dan akal. Namun kemungkinan untuk menang dalam perang tanding itu terlampau tipis, dan bahkan hampir tidak ada sama sekali.

“Bagaimana Guru?” bertanya seseorang.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. “Aku tidak menyangka, bahwa murid Empu Purwa itu kini telah berhasil mencapai tingkat gurunya.”

Muridnya yang bertanya itu Mahendra, mengerutkan keningnya. “Maksud Guru, bahwa tingkat ilmu Mahisa Agni telah melampaui Kakang Witantra?”

“Aku kira demikian.”

Mahendra menggigit bibirnya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa suatu ketika kakaknya Witantra benar-benar akan berhadapan dengan Mahisa Agni di arena.

“Jadi bagaimana, Guru?” bertanya Mahendra cemas.

Gurunya menggelengkan kepalanya, “Aku tidak akan dapat berbuat apa-apa Mahendra. Mereka naik ke arena sebagai dua orang lelaki.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang setiap campur tangan gurunya dalam perang tanding itu pasti hanya akan menodai nama kakak seperguruannya.

“Kasihan Witantra,” desis gurunya, “ia telah dibakar oleh keyakinannya. Aku sudah memperingatkan, agar ia mempergunakan cara lain. Apalagi kini ternyata bahwa anak muda yang melawannya itu mempunyai ilmu yang aneh. Aku melihat sebuah perkembangan ilmu Empu Purwa yang diwarnai oleh tata gerak yang luar biasa dari ilmu Empu Sada.”

“Empu Sada?” desis Mahendra, “maksud guru Empu Sada guru Kuda Sempana?”

Panji Bojong Santi mengangguk.

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Meskipun ilmunya sendiri tidak jauh berada di bawah kakak seperguruannya, namun terasa sulitnya mengikuti tata gerak Mahisa Agni.

Di arena, ternyata bahwa Witantra pun telah merasakan, bahwa sekali-kali ia ketinggalan dari kecepatan gerak Mahisa Agni. Bahkan dalam beradu tenaga, dalam benturan-benturan yang terjadi, Witantra pun merasa pula, bahwa Mahisa Agni mempunyai beberapa kelebihan daripadanya. Karena itu, maka dadanya pun menjadi berdebar-debar. Ia menjadi cemas bahwa ia tidak akan berhasil membersihkan nama Kebo Ijo dan nama perguruannya. Sama sekali bukan karena nyawanya sendiri.

Demikianlah, perang tanding itu semakin lama menjadi semakin memuncak. Witantra telah terpaksa mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya, lahir dan batin. Semua unsur-unsur gerak yang dimilikinya, dilandasi oleh pengalaman yang tiada terhitung banyaknya yang tersimpan di dalam dirinya, serta tekad yang menyala-nyala di dalam dadanya. Namun demikian ia masih tetap sadar sepenuhnya, sehingga karena itu, ia tidak pernah kehilangan akal.

Dalam pada itu, lambat laun, Mahisa Agni pun menjadi semakin mantap. Meskipun ia tidak dapat meyakini bahwa ia dapat mengalahkan Witantra, namun ia merasa, bahwa ilmunya selapis lebih tinggi dari lawannya. Kalau ia tidak melakukan kesalahan, maka ia berharap untuk dapat memenangkan perang tanding itu.

Karena itu, tanpa kehilangan pengamatan diri Mahisa Agni setapak demi setapak maju terus. Semakin lama ia semakin berhasil mendesak lawannya.

Namun, Witantra tidak dengan mudah menjadi berputus asa. Betapa ia heran, bahwa Mahisa Agni ternyata memiliki ilmu yang tidak dapat diimbanginya. Meskipun demikian, dengan cermat Witantra bertempur terus. Diperasnya segenap kemampuan, akal dan tekadnya untuk tetap bertahan. Mempertahankan hidupnya dan mempertahankan keyakinannya.

Karena itu, maka perkelahian itu pun menjadi semakin lama semakin seru. Keduanya sama sekali tidak bersenjata. Namun keduanya memiliki kemampuan yang luar biasa, sehingga senjata bagi mereka hampir tidak banyak artinya.

Dalam puncak perkelahian itu. mereka saling mendesak, saling menyerang dan saling membenturkan kekuatan masing-masing. Tangan-tangan mereka bergerak dalam irama maut. Mereka sudah tidak dapat lagi membatasi diri dan menahan-nahan kekuatan dan kemampuan. Semua ilmu yang ada telah mereka tumpahkan. Semua.

Ken Arok yang tegang, lambat laun mulai menarik nafas lega. Ia melihat Mahisa Agni telah menguasai keadaan.

Setiap kali ia selalu berhasil mematahkan serangan Witantra dan bahkan menyerangnya kembali. Meskipun sekali dua kali serangan Witantra terasa sangat berbahaya, namun Mahisa Agni selalu dapat menghindarinya.

Tetapi justru dengan demikian, maka Witantra menjadi mapan. Ia merasa bahwa ia akan gagal mempertahankan keyakinannya. Namun ia tidak kehilangan akal. Ia bahkan pasrah diri dalam keadaannya, sehingga perlawanannya justru menjadi semakin mantap. Kedewasaannya sama sekali tidak menyeretnya ke dalam perbuatan putus asa yang berbahaya.

“Bukan main,” gumam Mahisa Agni di dalam hatinya, “betapa tenang dan mantapnya pertimbangan di dalam hatinya. Witantra memang seorang yang mempunyai kedewasaan berpikir. Sayang ia harus mengorbankan nama dan nyawanya.”

Dalam pada itu Witantra pun berkata di dalam hatinya, “Mahisa Agni telah sampai ke puncak ilmunya yang luar biasa. Agaknya ia telah dimatangkan oleh gurunya, sehingga ia telah mencapai tingkat seperti gurunya sendiri. Namun demikian ia berhasil menguasai dirinya dengan sikap dewasa. Meskipun ia masih semuda itu, ia sempat mengendalikan diri. Tetapi sayang, kali ini ia telah dibakar oleh kepedihan perasaannya karena ia telah kehilangan paman dan iparnya. Sehingga ia telah bertempur untuk suatu keyakinan yang keliru menurut penilaianku. Tetapi apa boleh buat. Sudah menjadi garis hidupku, bahwa mungkin sekali aku harus mati di tangannya.”

Demikianlah, maka pertempuran itu merayap ke ujungnya. Keduanya telah memeras segenap kemampuan dan tenaga, sehingga semakin lama tenaga mereka pun semakin menurun pula.

Sehingga agaknya tidak ada jalan bagi Witantra untuk mengakhiri pertempuran itu seperti yang diharapkannya.

Meskipun demikian, di bagian terakhir dari perkelahian itu telah benar-benar menggetarkan jantung. Sekali-kali karena ketenangan dan kematangannya, Witantra masih juga berhasil mengenai lawannya. Suatu kesalahan kecil dari Mahisa Agni telah membuatnya terpelanting. Sebuah pukulan yang dahsyat telah mengenai dagunya. Sebelum ia dapat berdiri tegak, maka Witantra mencoba menggunakan kesempatan itu. Dengan sebuah loncatan panjang ia memburu. Dengan sisi telapak tangannya ia berhasil mengenai pundak Mahisa Agni. Sekali lagi Mahisa Agni terdorong surut. Hampir saja ia kehilangan keseimbangan, namun justru ia meloncat mundur untuk mengambil jarak, sehingga ia mempunyai waktu untuk tegak di atas kedua kakinya. Namun kali ini pun Witantra tidak membiarkannya. Ia tidak akan mendapat kesempatan serupa ini lagi. Karena itu, maka dengan tangkasnya ia meloncat maju mendekati lawannya. Kakinya kali ini diputarnya mendatar setinggi lambung.

Sebuah sambaran yang deras telah menyentuh tubuh Mahisa Agni. Kaki Witantra tepat mengenai lambungnya. Betapa perutnya menjadi mual. Apalagi Witantra telah mempergunakan sepenuh tenaganya.

Mahisa Agni kali ini terdorong ke samping. Namun betapa ia dilibat oleh serangan-serangan beruntun, ia tidak menjadi bingung. Ia sadar sepenuhnya ketika ia melihat Witantra berputar sekali lagi di atas satu kakinya. Maka ketika kaki Witantra yang lain menyambarnya, selagi ia masih belum sempat menguasai keseimbangan seutuhnya, maka ia pun justru menghindar dengan menjatuhkan dirinya, sehingga kali ini Witantra telah kehilangan sasaran.

Sebelum Witantra sempat menarik kakinya, maka sambil berguling Mahisa Agni telah menangkap kaki itu, dan sebuah putaran yang tiba-tiba dibarengi dengan berat badannya sendiri, Mahisa Agni berhasil memutar Witantra, sehingga ia pun terbanting jatuh. Namun Witantra pun tidak menyerahkan dirinya begitu saja. Secepatnya ia menelungkupkan dirinya menyentakkan kakinya yang berada di dalam tangkapan Mahisa Agni dan menyerang sekaligus dengan kakinya yang lain.

Begitu cepatnya, sehingga Mahisa Agni hampir saja kehilangan kesempatan. Tepat pada saatnya Mahisa Agni berhasil menghindar sambil meloncat ke samping.

Namun waktu yang sekejap itu pun telah dimanfaatkan pula oleh Witantra. Dengan tangkasnya ia melenting berdiri di atas telapak kakinya.

Sebuah desir yang tajam telah tergores di jantung Mahisa Agni. Ketika tanpa disengaja ia mengusap bibirnya, maka tangannya telah diwarnai oleh setitik darah dari mulutnya.

Bagaimanapun juga, maka jantung Mahisa Agni menjadi bergelora karenanya. Pundaknya terasa sakit dan perutnya masih juga mual. Namun dalam pada itu, kaki Witantra pun menjadi betapa sakitnya. Nafasnya telah menjadi semakin sesak dan tenaganya pun telah semakin susut.

Darah di bibir Mahisa Agni ternyata telah membuatnya semakin garang. Sakit di pundaknya sama sekali tidak mengganggu geraknya, dan bahkan mual di perutnya pun lambat laun telah hilang.

Namun pada saat yang demikian, agaknya Witantra telah tidak melihat kemungkinan untuk memenangkan perkelahian itu. Karena itu, maka ia akan segera mengambil jalan yang paling cepat. Dengan suatu loncatan panjang ia mengambil jarak dari lawannya. Kemudian diheningkannya hatinya, dipusatkannya segenap kemampuan lahir dan batinnya. Dalam sekejap ia telah mampu membangunkan puncak dari kekuatan ilmunya, aji pamungkasnya.

Mahisa Agni terkejut melihat sikap itu. Ia tidak menyangka bahwa perang tanding ini benar-benar perang tanding antara hidup dan mati. Sudah barang tentu bahwa ia tidak akan membiarkan dirinya hancur lumat dihantam oleh kekuatan yang tiada taranya. Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan dirinya dalam kemampuannya yang tertinggi. Gundala Sasra.

“Terpaksa aku membentur Bajra Pati itu,” desisnya, “kalau tidak, maka aku tidak akan keluar dari arena ini.”

Keduanya tidak memerlukan waktu yang lama. Puncak ilmu mereka seakan-akan telah siap untuk muncul ke permukaan setiap saat. Dan kali ini pun puncak ilmu dari kedua perguruan itu pun telah siap.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 12 Februari 2010 at 05:00  Comments (82)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pdls-50/trackback/

RSS feed for comments on this post.

82 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ya wis, tak jogo gerdu sendiri … esuk uthuk-2

    • Terima kasih untuk perjuangannya Ki Ismoyo, terima kasih untuk infornya Ki Seno …

      Dan terima kasih untuk rapelan minusnya Minggu ini!
      Saya pingin kirim kembang Velentine untuk Ki Is dan Ki Arema, (atas nama Ni Sawitri) cuma ongkos kirimnya kok luuaarraang puuoolll

      hikss….
      discan terus di email saja Ki, nanti tinggal membayangkan saya.

      • Antri nomer SIDJI, ngunduh minggu depan!

        • saya mau kirim coklat buat cantrik, dan tentunya yang terutama untuk Ni Savitri

        • saya mau antri nomer loro !

          • NOL…..ngarep dhewe

    • nomer loro !

  2. happy valentine,gong xi fa cai, malam minggu kelabu.. ya ga papa sabar.. sabar..
    tentang usulan ki seno yang diwedhar kitab 51 dulu… kayanya janggal karena ceritanya pasti ga nyambung..
    jdi diwedhar sesuai urutan kitab aja ki…
    hadir dan ndelik lagi..

    • padhepokan sebelah dah wedhar rontal llhhhhoooooooooo

  3. Selamat pagi, salam buat semuanya
    hadir nunggu jatah (sing sabar….)

  4. Saya mah terserah kebijaksanaan Ki Senopati, Ki Arema, maupun Ki Ismoyo dan pengasuh yang lain.
    Terima kasih atas kesempatan ngunduh yang selama ini kami lakukan.
    Saya hanya cantrik pada tataran yang paling rendah koq.

  5. Setelah lama tidak ngabsen, hadiiiir Ki.
    Menghadirkan kembali sesuatu yang kuno dan langka adalah pekerjaan yang tidak mudah. Adalah wajar dalam perjalanannya mengalami kendala.
    Saya kira para cantrik/mentrik tidak akan berkeberatan untuk membaca lontar tidak urut, seperti Ki Arema sendiri mengalaminya. Begitukan Ki?

    Berbicara tentang Gong Xi Fa Cai, jika Ki/Ni Sanak ke Batam, akan ditemui suasana yang memerah. Lampion dan pernik-pernik khas budaya cina bertebaran di mana-mana. Suasana Chinese Town. Meriah.
    Hem, salah satu hasil dari alm Gus Dur.
    YO KE BANKTAM

    • Oops. Maksudnya KE BATAM 🙂

      • OK stj…..51 masuk sementara digendhak
        poro cantrik-mentrik…..dadi “simpenan”

        On 12 Februari 2010 at 07:31 ki sunda Said:
        Setelah lama tidak ngabsen, hadiiiir Ki.
        Menghadirkan kembali sesuatu yang kuno dan langka adalah pekerjaan yang tidak mudah. Adalah wajar dalam perjalanannya mengalami kendala.
        Saya kira para cantrik/mentrik tidak akan berkeberatan untuk membaca lontar tidak urut, seperti Ki Arema sendiri mengalaminya. Begitukan Ki?

        Berbicara tentang Gong Xi Fa Cai, jika Ki/Ni Sanak ke Batam, akan ditemui suasana yang memerah. Lampion dan pernik-pernik khas budaya cina bertebaran di mana-mana. Suasana Chinese Town. Meriah.
        Hem, salah satu hasil dari alm Gus Dur.
        YO KE BANKTAM….Oops,Maksudnya KE BATAM

        sugeng enjang ki SENO, Pdlser sedoyoo

    • Ada yang terlupa, mungkin Ki/Ni Sanak sudah ada yang mengetahui arti BATAM?
      – Bila Anda Tiba Anda Menyesal
      – Bila Anda Tabah Anda Menang
      – Begitu Anda Tiba Amoy Menunggu 🙂
      – ??? lupa, siapa yang mau melengkapi?

      • Batam….BAntal AMan !

  6. kalau menurut aq sih mending dilompat aja daripada sakaw kitab

  7. jika sanak kadang PdLS menghendaki, rontal PdLS-50 dilewati untuk medar PdLS-51 lebih dulu.

    usul alternatif:
    sebaiknya nyebar godhong kara, … sabar sakwetara, ….
    pdls tidak diwedar dengan cara melompat-lompat tetapi menunggu kesiapan rontal ke-50, sebab sayang sekali jika karya sebaik itu disimak tidak secara urut-runtut tataran demi tataran.

    sebagai gantinya, ada baiknya wedaran bdbk dapat dilakukan secara “ajeg” dan tepat waktu, misalnya dua hari sekali atau kalau bisa malahan setiap hari, he, he, he, he, ….

  8. POKOKE MANUT WAE

  9. Kalau diperkenankan ikut urun rembug, saya cenderung mengusulkan rontal PDLS-51 (babak Bara di Atas Singgasana) diwedar terlebih dahulu, sambil menunggu rontal PDLS-50 sampai di hadapan Ki Arema. Sesekali berjalan mundur, ada baiknya lho(Agung Sedayu dan Glagah Putih juga menyapu sambil berjalan mundur):-)

    Nuwun.

    • Sugeng rawuh, sugeng tetepangan bude Tatik. Mugi panjenengan kerso asring2 rawuh mriki, kapurih poro kakung boten ngendikan ingkang saru2, ….. margi pakewed menawi wonten piyantun putri ingkang rawuh.

      Ki Seno, …… Maskumambang namung nderek kerso panjenengan kemawon pundi ingkang sae dipun lampahi.

      Nderek prihatos kawontenan Ki Ismoyo, ….. mugio boten usah menggalih wedaran rumiyin, ….. ingkang penting panjenenganipun enggal dangan.

      Kulo nderek prihatos,
      Ki Truno podang

  10. woooo, jebulnya kitabnya digondol kucing tha….

    santai saja, ki ismoyo, ki arema, jangan sampai kesehatannya yang sedang dalam pemulihan menjadi memburuk hanya gara-gara ingin mengedarkan kitab sesuai jadwalnya…

    kita, para cantrik yang tinggal nyadong, tidak ingin terburu nafsu dengan mengorbankan para bebahu padepokan, koq. yang penting ki ismoyo, ki arema dan para bebahu padepokan tetap bisa bercengkerama dengan kami-kami dan nanti malam ada yang bisa dibaca oleh para cantrik… he…he…he….

    Lho…., telat aku
    Episode 1 dan 2 nya dimana ya.
    Piss……

    • Nggih, betul ki Banu, kami para cantrik tetap akan bersabar. Memang enaknya baca berurutan nggak loncat-loncat sehingga tandingnya Witantra dan Agni bisa bikin greget. Kalau sudah tau akhir dari tanding itu rasanya kurang rame.
      Dan sambil nunggu matur nuwun kitab dan kucing nya

    • matur nuwun ki BANU…….kitab dulu
      baru nangkap kucing-nya.

    • hihi ku malah ada perang bubatnya tammat tu wew

      • wew, kok tak ada? diubek-ubek di LKH hanya nemu GM, BDTdA, HP, CM & NP.
        sembunyi di manakah gerangan PB?

        • Digondol kucing Ki Banu

        • PB blom ku upload, males, aja [ercetakannya suka bikin ribut

    • wah ki banuaji kucing kucingan neh … hehehehe

      • he…he…he… lama gak lihat ki zack ngisi komen…. apalagi ki goenas, ki sas, yang lebih seru kalo pas lagi pada beradu usil sama ki pandan….

        • he..he…

          ki goenas ro ki SAS wis podho tobat olehe mbelink

    • hhhmmm….penasaran juga sama gajah mada…kalo boleh tahu di mana…ngun

  11. Baru baca jilid 46 jd gak bakalan sakao …he he he

  12. kalau hari minggu sudah bisa diwedar, ya setuju menunggu, tapi kalau belum ya loncat parit, sekali sekali nggak apa apa, nuwun

  13. hadir…

    padepokan sebelah dipingit :protected

    • Padepokan pundi toh kang???

    • Welcome back ki PA, ki arema dah mo lapor polisi lho…

    • ki Djojosm..nyuwun sewu kolowingi nganglang teng mbetawi mboten sempet ngindik2 mentrik2ipun panjenengan….

      ki Wie,…senopatinipun malah remen nek mboten diuyeg2

  14. dulu juga diwedarnya sebulan sekali….

  15. Matur nuwun, Ki Truno, sugeng tetepangan ugi dumateng panjenengan, saha sadaya sadulur ing padepokan PDLS. Ananging nyuwen ngapunten, boso Jowo kromo inggil dalem kirang lancar. Kalau diperkenankan, saya mohon izin menggunakan bahasa Indonesia saja.

    Nuwun.

  16. Tampaknya, lebih baik bersabar menunggu PdLS-50 daripada harus loncat-loncat. Sesuai dengan janji, wedar 2 hari sekali, pada saatnya akan dirapel sesuai dengan rontal yang terhutang. Sanak-kadang PdLS supaya bersabar.

    Kasinggihan Ki.
    Wong sabar iku subur;
    wong sabar iku suwe rekasane (eh kleru…)
    Wong sabar iku luhur wekasane

    Sembari menunggu wedarnya rontal 50, cantrik bayu aji mau medar sabdå, dongeng karo rengeng-rengen. Ning dongenge mengko nek wis wayah sirep lare.
    Grimis-grimis, saiki lagi mbakar jagung, unjukane teh nasgitel. Nyamleng tenan.

    Absen:
    Ki Arema, Ki Ismoyo, Ki Pandalas, Ki Yudha, Ki Truno, Ki Seno, Ki Sunda, Ki Wie, Ki Djodjosm, Ki Kartojudo, Ki Kompor, Jeng Tatik, Jeng Dewi KZ.
    Yang lainnya ????

    Sedåyå kemawon: Sugeng dalu. Mugi pårå kadang tansah manggihi karaharjan.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  17. Hadir wayah sepi uwong………
    sugeng dalu para kadang ADBMers / PDLSers

    • sugeng dalu Ki Gembleh.
      sayup-sayup sudah terdengar kentongan dara muluk.

  18. Ada cerita menarik tentang hilangnya Ki Mbelink dari garis edar beberapa hari yang lalu.
    sekitar jam 7 pagi, Kaget juga waktu Ki Pandanalas kirim SMS, dikatakan bahwa beliau ada di Bioskop Metropolis,beliau bertanya jam berapa biasanya Film dimulai, saya bingung untuk menjawabnya, wong dia yang ada di bioskop, kok nanya ??, akhirnya karena menghormati seorang sahabat, saya balas juga tuh sms nya, saya bilang : lihat dan baca saja di daftar film hari ini.
    Ki PA pun membalas sms saya, isinya seperti ini :GIMANA SAYA BISA BACA DAFTAR FILM HARI INI, WONG SAYA TERKUNCI DI DALAM BIOSKOP.SAYA BABLAS KETIDURAN DI DALAM BIOSKOP.

  19. Ki Senopati,
    Ki Sanak sermuanya,

    Bukan karena ada fotocopy, sebenarnyalah PdLS-50 yang ada memang fotocopy, tapi tidak mengurangi materi isinya.

    Scaning pdls jilid 50 sudah siap, sedikit tergendala masalah kuno, pln putus. sedikit dirapikan tinggal format djvu, ready dan kirim ke Ki Senopati…mudah-mudahan malam minggu tidak menjadi kelabu.

    nuwun.

    • Pak RT Ismoyo…kontrol gardu ronda KI…
      Lapor Pak RT, Ki widura hari ini Absen, diganti Kakang Gembleh.
      Ojo repot-repot KI Is, kopi PDLS 50 enggak pake gula sudah cukup buat lelekan malam mingguan.
      Salam dari saya untuk menjaga kesehatannya.

      nuwun

  20. esuk2..uthuk2..mruput sinambi nyruput..

    siap2 nganglang maneh … meh nyoba taneman rambutan Binjai….

    • @Ki Pandanalas
      Sugeng esuk uthuk-uthuk Ki. Nyoba tanemannya apa rambutnya (eh rambutannya ??)

      • rambutnya rambutan ki…wis rodho semu ireng..kedhalon

        • Selamat pagi Ki, semoga dalam keadaan sehat semuanya. Meskipun hari ini tdk ada kitab yang diwedar tapi untungnya Ki PA mau bagi2 rambutan binjai terimakasih Ki.

        • Semu ireng…nopo semu putih Ki…..

  21. Ki Arema,

    PdLS-50 mbok menawi sampun cemepak liwat yahoo, monggo menawi bade dipun wedar.

    nuwun.

    Waduh…., matur suwun ki.
    Malam minggu tidak jadi kelabu, berkat jerih payah Ki Ismoyo.
    Kami semua akan selalu berdoa, semoga kesehatan Ki Ismoyo segera kembali seperti sedia kala dan tidak kambuh lagi.

    • Ki Is, Ki Arema

      Pandongå kulå. “Slamet, sehat, berkah”

      Klik PdLS 50 unduh………………

      Nuwun,

      cantrik bayuaji

      • On 13 Februari 2010 at 08:53 pandanalas Said:

        matur suwun…
        pagine ora kelabu
        mbengine mesthi kelambu-kelambu

    • matur suwun…

      pagine ora kelabu
      mbengine mesthi kelambu

    • Ki Ismoyo, Ki Arema saya mengucapkan banyak terima kasih atas diwedarnya kitab PdLS 50. Saya dapat berdoa mudah mudahan njenengan berdua senantiasa diberi kesehatan yang prima dan tentu mendapat ridho Allah atas segala kebaikannya menyenangkan rakyat padepokan.

      Amiinn….
      Itu yang kami harapkan Ki, semoga kami tetap sehat, sehingga masih bisa bersilaturahmi dengan sanak-kadang PdLS, GS dan ADBM.

    • Hatur nuhun K Ismoyo, walaupun dalam proses penyembuhan masih menyempatkan diri untuk mewedar PdLS-50.

      Semoga kesehatan Ki Ismoyo makin membaik dan tentunya dengan mesin pinjaman PLN Batam yang tiba di Tanjung Pinang kemarin(?), akan mengurangi stress Ki Ismoyo dan sanak kadang di sana karena masalah listrik yang byar pet….pet…pet terus. Amin.

      • Matur nuwun Ki Ismoyo, semoga Ki Ismoyo dan keluarga selalu sehat dan berbahagia.

    • wah, dapat angpaw dari ki is…

      suwun, ki is, ki arema…

  22. matur nuwun sanget ki

  23. matur nuwun ki Is atas rontalnya…
    ki PA pundi oleh2 saking tomang???

    • katiwasan ki Wie…si tomang disate sangkuriang je…

      meh ngudi dununge dayang Sumbi

      • hehehe..
        jadi kopdar ki? ada nambah bolo lagi lho…rumahnya kaharudin nasution ujung…

        • sinten Nyi…eh…ki Wie

          • Wkwkwk…. Kadose piyambakipun sampun kenal panjenengan ki. Asmanipun wonten adbm adhie napa ajie (radi loepa)…

          • he..he..

            ki adjie njih…makaryo teng sing kriting2..xixixixi

          • brintik cilik2..nopo brintik gede2…

  24. MATUR SUWUN,
    Ki Ismoyo dan Ki arema….
    Dengaren ANTRI nomer SIDJI …. ngunduh Nomer SETUNGGAL ….. he he heeee

    Pesan Ki Ismoyo memang mak NYUS ….

  25. Nuwun,
    Sugeng pinanggih malih para kadang, cantrik bayuaji sowan.
    Untuk menambah wawasan sinambi maos rontal 50 tentang “kasamarannya (?) Sang Akuwu Baru atau Baru Akuwu Ken Angrok bak binatang liar yang terpancing godaan si gadis ‘kenes’ Ken Umang. He he he.

    Tapi di sini cantrik bayuaji tidak akan mendongeng tentang si umang, pun cantrik terpesona akan arca perwujudan nDedes yang ayu. Prajñaparamita.

    Berikut dongengnya:

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-7]

    DONGENG KEN DEDES, DONGENG ARCA PRAJÑAPARAMITA

    Terdapat tiga arca Prajñaparamita, yang diketahui hingga sekarang. Pertama adalah arca Prajñaparamita (Ken Dedes) yang sudah banyak dikenal orang karena keindahannya. Arca tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

    …> dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-singosari-pdls/8/

    • Matur nuwun Ki Bayuaji dongengipun, kulo tenggo dongeng sanesipun ……

      • Dawah sami-sami Ki. Sugeng tepang.
        Nuwun

        • Sugeng tepang ugi Ki.
          Matur nuwun.

  26. matur nuwun ki…

  27. Matur sembah nuwun Ki Arema, Ki Ismoyo.
    PdLS-50 sampun kulo unduh.

  28. tuk bundek djvu 1-50 kutaruh disini yeee http://kewlshare.com/dl/56288f897653/PDLS_1-50-ISMOYO-DJVU.djvu.html

  29. Matur nuwun Ki Is, Ki Arema,
    Sampun pikantuk jatah kangge wungon.

  30. nguantuk…belum bisa tidur…bunyi kembang api..gong xi fa chai

  31. Matur sembah nuwun Ki Arema, Ki Ismoyo.
    PdLS-50 sampun kulo unduh.

  32. Sugeng enjang ki Sanak sedoyo.
    koq gandok sebelah dereg dibukak.

  33. lhadalah digoleki nganti mripat kroso pedhes jebulane digembol ki Arema neng kanthong klambi terus dipeniteni , matur nuwun ki , rontalipun .

    NUWUN !!!!!!!!

  34. matur nuwun. nembé kémawon nyedhot.

  35. Nuwun sewu,
    Mboten namung rontal (punika ingkang leres, sanes lontar) 50 ingkang dereng wonten, nanging ugi rontal 45. Wah, olehku ngenteni nganti cengklungen jare. Menawi sampun wonten, nyuwun dipun paringi uninga.
    Matur nuwun.

    sabar ki, pada saatnya tentu akan diwedar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: