PdLS-50

Ken Arok yang menyaksikan keduanya itu pun menahan nafasnya. Ia tidak dapat membayangkan, apakah yang akan terjadi apabila keduanya nanti berbenturan. Bahkan ketika keduanya siap untuk meloncat dan melepaskan ilmu puncak masing-masing, Ken Arok menjadi gemetar, dan darahnya pun serasa berhenti mengalir.

Demikian juga para pemimpin, para manggala, pandega dan senapati-senapati yang mampu menangkap getaran di wajah kedua orang yang berada di arena itu.

Kecuali mereka, Panji Bojong Santi dan Mahendra pun menjadi berdebar-debar. Orang tua yang kekurus-kurusan itu meraba dadanya dengan telapak tangannya. Perlahan-lahan ia bergumam, “Tidak ada kekuatan yang dapat mencegah lagi.”

Mahendra pun menjadi tegang. Dan bibirnya terkatup rapat-rapat.

Sekejap kemudian, hampir setiap orang yang berada di seputar arena di alun-alun Tumapel itu memejamkan mata mereka. Mereka tidak sampai hati melihat betapa dahsyatnya benturan yang terjadi di antara keduanya. Keduanya adalah anak-anak terbaik dari bumi Tumapel. Keduanya adalah kekuatan yang dahsyat dari tanah ini.

Akibat dari benturan itu memang dahsyat sekali. Keduanya terlempar beberapa langkah surut. Mahisa Agni merasa, seakan-akan dadanya menjadi retak, dan matanya berkunang-kunang. Tulang-tulangnya seakan-akan terlepas dari persendiannya. Namun ia masih tetap sadar. Dengan susah payah ia menempatkan dirinya, pada keadaan yang sebaik-baiknya ketika ia terbanting jatuh. Ia masih sempat berusaha mengangkat kepalanya sehingga tidak terbentur lantai arena sambil menekuk lututnya dan merentangkan tangannya. Namun kemudian ia menjadi lemah, dan seakan-akan terkulai tidak berdaya.

Dengan sekuat sisa tenaganya. Mahisa Agni masih mencoba untuk mengatur jalan pernafasannya. Ia masih tetap dalam pemusatan segenap kekuatan lahir dan batinnya. Sehingga lambat laun, betapapun lambatnya ia berhasil menguasai keadaan dirinya. Darahnya menjadi semakin lancar, dan tulang-tulangnya pun seakan-akan telah saling berhubungan kembali. Namun terasa betapa badannya seakan-akan terhimpit oleh gunung Kawi. Ketika terasa sesuatu di pipinya, maka Mahisa Agni sadar, bahwa darah telah meleleh dari mulutnya.

“Dadaku terluka di dalam,” desisnya.

Namun tiba-tiba terbayang kembali bahwa di arena itu masih ada Witantra. Lawannya yang baru saja membenturkan kekuatan puncaknya melawan Gundala Sasra. Karena itu, maka dikerahkannya kemampuannya, dan perlahan-lahan ia mengangkat kepalanya. Ia tidak mau telentang saja untuk menerima nasibnya, sampai Witantra datang menginjak lehernya.

Tetapi ketika dengan susah payah ia bangkit dan bersandar pada kedua tangannya, sementara kedua kakinya masih tetap menjelujur, ia melihat Witantra masih terbaring diam.

“Oh, agaknya ia pun terluka parah seperti aku,” desis Mahisa Agni di dalam hatinya, “namun agaknya keadaanku masih agak lebih baik.”

Maka segera diingatnya apa yang baru saja terjadi. Perang tanding yang dahsyat. Namun di dalam perang tanding itu Mahisa Agni menyadari, bahwa tingkat ilmunya masih lebih tinggi setataran dari lawannya. Dan kini, dalam penerapan ilmu puncaknya pun ternyata, bahwa Mahisa Agni lebih kuat dari Witantra. Perlahan-lahan Mahisa Agni berusaha bangkit. Terhuyung-huyung ia berdiri. Ketika ia berusaha menarik nafas dalam-dalam, terasa dadanya menjadi pedih. Namun karena itu, justru ia mengulanginya beberapa kali, sehingga terasa tubuhnya agak menjadi lebih segar, meskipun dadanya serasa masih pepat.

Tertatih-tatih Mahisa Agni melangkah maju. Sejenak kemudian langkahnya tertegun. Ia masih melihat Witantra terbaring diam. Namun tiba-tiba dahinya berkerut. Perlahan-lahan Witantra membuka matanya. Seperti dirinya sendiri, dari mulut Witantra pun telah meleleh darah. Agaknya ia pun terluka di dalam dadanya.

Dengan susah payah Witantra mencoba menarik nafas dalam-dalam. Sekali, dua kali. Dan ia pun menyeringai menahan sakit, betapa dadanya serasa terbelah.

Samar-samar ia melihat Mahisa Agni berdiri beberapa langkah daripadanya. Sekilas terbayang di kepalanya, apa yang baru saja terjadi. Namun kemudian terbayang tubuh yang tegak berdiri itu maju mendekatinya dan tanpa kesulitan apapun mencekiknya sampai mati, karena ia masih belum mampu berbuat apapun juga.

Dan ternyata Witantra memang melihat Mahisa Agni itu setapak maju. Setapak lagi. Sedang pandangan mata Witantra masih juga agak kabur.

Tidak ada kemungkinan lain bagi Witantra daripada pasrah diri kepada nasibnya. Kepada kekuasaan Yang Maha Agung. Ia sama sekali bukan seseorang yang mudah jatuh ke dalam keputusasaan. Seperti saat itu ia pun sama sekali tidak berputus asa. Tetapi adalah suatu kenyataan yang tidak dapat diingkarinya, bahwa tubuhnya sama sekali tidak dapat digerakkannya untuk melawan. Tangannya serasa telah terlepas dari tubuhnya dan dadanya serasa telah pecah.

Ketika ia memaksa diri menggerakkan kakinya, maka betapa sakit tulang-tulang belakangnya sampai meraba ubun-ubun. Karena itu ia hanya dapat menyeringai, kemudian membiarkan apa saja yang akan dilakukan oleh Mahisa Agni atasnya.

Tetapi Mahisa Agni yang melangkah tertatih-tatih mendekatinya itu tertegun dan berhenti beberapa langkah daripadanya. Ia melihat bahwa Witantra seakan-akan sama sekali tidak bergerak. Pimpinan tertinggi pasukan pengawal itu terbaring di lantai arena tanpa berdaya sama sekali menolak apa saja yang akan terjadi atasnya, sebagai akibat dari usahanya untuk mempertahankan keyakinannya.

Witantra yang masih terbaring itu semakin lama menjadi semakin sadar akan keadaan di sekelilingnya. Dan ia menjadi heran kenapa Mahisa Agni masih saja berdiri mematung. Kenapa anak muda itu tidak segera menyelesaikan tugasnya, membunuhnya sama sekali.

Dalam keragu-raguan menghadapi lawannya itu. Witantra masih juga berusaha untuk mengatur pernafasannya. Satu-satu ia mencoba menyegarkan dadanya yang seolah-olah telah pecah.

Sementara itu di luar arena, Ken Arok mengerutkan keningnya. Wajahnya semakin lama menjadi semakin tegang. Kenapa Mahisa Agni tidak segera menyelesaikan lawannya yang sudah tidak berdaya? Betapa lemahnya Mahisa Agni saat itu, namun ia masih mampu berjalan maju. Mendekap leher Witantra sampai ia tidak dapat menarik nafas lagi. Bahkan tanpa mengeluarkan tenaga sama sekali ia akan dapat melakukannya. Dengan mendekap hidung Witantra, maka lambat laun Witantra akan terputus juga nafasnya.

Tetapi kenapa Mahisa Agni masih tegak di tempatnya?

Beberapa orang yang lain pun menjadi heran. Perang tanding itu adalah perang tanding sampai mati. Apakah Mahisa Agni menganggap bahwa Witantra sudah tidak akan dapat melawannya lagi dan tidak akan membunuhnya? Tetapi apabila demikian, hal itu akan sangat berbahaya bagi Mahisa Agni sendiri. Witantra pada dasarnya adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Kalau ia masih hidup, maka ia tidak akan dapat melupakan kekalahannya. Ia hanya memerlukan waktu yang singkat untuk menyempurnakan ilmunya. Dan setelah itu, maka perang tanding ini pasti akan berulang. Dan Mahisa Agni tidak akan sepasti ini menyelesaikan pekerjaannya.

Dada setiap orang menjadi semakin berdebar-debar ketika mereka melihat Mahisa Agni melangkah maju. Namun dada itu berguncang ketika mereka melihat Mahisa Agni kemudian justru berjongkok di samping Witantra.

“Witantra,” desis Mahisa Agni, “marilah kita anggap persoalan kita sudah selesai.”

Witantra membelalakkan matanya. Namun ketika ia mencoba untuk bangkit, terasa bahwa tenaganya seolah-olah benar-benar sudah lenyap sama sekali.

“Belum,” desisnya kemudian, “kau baru selesai apabila aku sudah mati. Dan sekarang kau mempunyai kesempatan untuk membunuh aku.”

Mahisa Agni merenungi wajah Witantra yang pucat itu sejenak. Tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya, “Tidak Witantra. Aku tidak dapat membunuhmu.”

“Gila kau Agni. Itu suatu penghinaan yang tiada taranya bagi seorang prajurit di dalam arena perang tanding. Tidak. Kau harus membunuh aku.”

Sekali lagi Mahisa Agni menggelengkan kepadanya, “Itu tidak perlu Witantra.”

“Kau gila. Apa memang kau ingin menghinakan aku? Setelah kau pamerkan kemenanganmu di hadapan rakyat Tumapel, kemudian kau pamerkan keluhuran budimu sekedar untuk menghina aku? Itu bukan suatu perbuatan yang terpuji Mahisa Agni.”

“Apapun yang akan kau katakan tentang diriku Witantra, tetapi aku sama sekali tidak mendapat dorongan untuk membunuhmu. Bahkan sekarang aku tidak tahu lagi arti dari perang tanding ini yang sebenarnya.”

“Kenapa?” bertanya Witantra dengan nafas terengah-engah. “bukankah kita masing-masing sedang mempertahankan keyakinan kita?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku sekarang menjadi ragu-ragu. Apakah kebenaran dapat dipertahankan dengan cara ini? Sebagaimana keadaan yang sebenarnya telah terjadi, tidak akan berubah, siapa pun sama sekali tidak akan dapat mengubah keyakinan di dalam dirimu dan di dalam diriku. Ternyata kita telah berbuat suatu kebodohan.”

“Apa maksudmu?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia menarik nafas dalam sekali. Kemudian desahnya, “Aku tidak tahu, apakah hasil dari perkelahian ini. Aku tidak tahu dan justru aku tidak meyakininya. Yang dapat kita lakukan adalah suatu keputusan yang diakui oleh rakyat Tumapel selain suatu kebenaran. Dalam hal ini pembunuhan atas Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi bukan kebenaran itu sendiri.”

“Bukankah memang itu maksudmu? Agar seluruh rakyat Tumapel mengutuk Kebo Ijo sebagai seorang pembunuh? Pembunuh Akuwu Tunggul Ametung dan pembunuh pamanmu Empu Gandring?”

Mahisa Agni termenung sejenak. Kemudian perlahan-lahan kepalanya terangguk lemah.

Witantra pun terdiam pula untuk sejenak. Dicobanya memperbaiki letak tubuhnya. Namun terasa betapa tulang-tulangnya seakan-akan berpatahan.

Tanpa disangka-sangkanya Mahisa Agni bergeser maju dan membantunya menggerakkan kakinya.

“Terima kasih,” desis Witantra.

Sementara itu orang-orang yang berdiri di sekitar arena itu, seakan-akan membeku di tempatnya. Mereka tidak tahu, apakah yang sebenarnya telah terjadi di arena. Mereka tidak mendengar apa yang dipercakapkan Mahisa Agni dan Witantra. Namun mereka dapat membaca di wajah Mahisa Agni, bahwa gairahnya untuk membunuh lawannya tiba-tiba telah padam.

“Mahisa Agni,” desis Witantra kemudian, “kau harus membunuh aku. Tidak ada gunanya lagi aku hidup. Karena aku pasti sudah tidak berharga lagi di mata rakyat Tumapel. Kau harus tahu, bahwa seseorang yang kalah di arena, tetapi ia turun dari arena ini dalam keadaan hidup, maka ia adalah orang yang paling hina. Jauh lebih hina dari kaum paria.”

“Tidak Witantra,” jawab Mahisa Agni, “kau memiliki ilmu dan kemampuan. Kau dapat mencari cara yang baik bagimu untuk memanfaatkan ilmumu.”

“Kau harus membunuh aku supaya kemenanganmu sempurna. Kalau aku tidak mati Agni, aku pasti masih akan memperjuangkan keyakinanku.”

“Itu hakmu Witantra.”

“Tetapi kau harus membunuh aku. Harus.”

Mahisa Agni menggeleng, “Tidak.”

“Agni kalau kau tidak membunuhku, akulah yang pada suatu saat akan membunuhmu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia kemudian menjawab, “Seandainya memang terjadi demikian, aku tidak akan kecewa.”

“Persetan!” Witantra tiba-tiba menggeram, “Ayo bunuh aku!”

Mahisa Agni tidak menyahut.

“Cepat, sebelum rakyat Tumapel bersorak menghinaku.”

Mahisa Agni masih tetap membeku.

“Agni, apakah kau pengecut yang tidak berani melihat mayat terbujur di bawah kakimu?”

Tetapi Mahisa Agni masih tetap diam.

“Agni, Agni.”

Suara Witantra itu telah menghentak-hentak dada Mahisa Agni, sehingga ia tidak tahan lagi. Selangkah ia bergeser mundur. Namun Witantra justru berteriak sambil menyeringai, “Cepat Agni, cepat.”

Suara itu serasa bergulung-gulung di dalam dada Mahisa Agni. Sejenak ia menjadi bingung, bahkan dicobanya untuk menyumbat telinganya dengan telapak tangannya. Tetapi suara itu seakan-akan bergema memenuhi rongga telinganya.

“Tidak, tidak,” tiba-tiba Mahisa Agni berteriak untuk mengatasi suara Witantra yang serasa semakin menderu di telinganya.

Tetapi suara Witantra itu sama sekali tidak terdesak karenanya, bahkan semakin keras, “Bunuh aku, bunuh aku.”

“Tidak! Tidak!” Mahisa Agni berteriak semakin keras. Tetapi suara itu masih saja, tetap didengarnya.

Karena itu, maka Mahisa Agni akhirnya tidak tahan lagi berada di samping Witantra yang pucat seperti kapas, yang terbaring menenggang nafas. Maka tanpa diduga oleh siapa pun juga. Mahisa Agni itu pun segera meloncat berdiri dan berlari menjauh. Tidak saja sampai ke sudut arena, namun kemudian ia pun meloncat turun dan berlari menyusup di antara para penonton yang berdiri dengan mulut ternganga.

Para pemimpin yang enam, Ken Arok, para senapati dan para pemimpin prajurit yang lain pun terheran-heran karenanya. Mereka seolah-olah terpukau sehingga mereka sama sekali membeku untuk sesaat. Bahkan Witantra sendiri menjadi heran. Heran sekali.

Baru sejenak kemudian alun-alun itu menjadi gempar. Setiap orang bergeramang tanpa ujung dan pangkal. Bahkan salah seorang pemimpin yang enam itu berteriak, “He. ke mana Mahisa Agni itu?”

Tidak seorang pun yang menjawab, karena memang tidak seorang pun yang tahu.

Namun dalam pada itu. Ken Arok mempunyai pikiran yang lain. Ia menyadari bahwa Mahisa Agni tidak dapat membunuh Witantra. Dan bahwa Witantra masih tetap hidup itu akan sangat berbahaya baginya.

Karena itu, maka ia memutar otaknya untuk dapat berbuat sesuatu.

Sementara itu, beberapa orang tanpa mereka sengaja telah menebar. Seolah-olah ada suatu keharusan pada mereka untuk menemukan Mahisa Agni. Karena itu, maka beberapa orang justru bertanya-tanya, “Di mana Mahisa Agni?”

“Seharusnya ia memenangkan perang tanding itu,” sahut yang lain.

“Itu sudah pasti, tetapi kenapa ia meninggalkan arena dan justru lari terbirit-birit,” bertanya yang lain lagi.

Tidak seorang pun dapat menjawab. Semuanya hanya mampu melontarkan bermacam-macam pertanyaan yang tidak akan terjawab.

Sementara itu Ken Arok merayap semakin dekat dengan arena. Di dalam dadanya berkecamuk berbagai macam persoalan. Kadang-kadang ia menjadi ragu-ragu, namun kadang-kadang ia menjadi begitu bernafsu.

“Anak itu harus mati!” geramnya, “Bagaimanapun juga caranya. Aku dapat berpura-pura menolongnya atau berbuat apapun atas Witantra, sementara itu aku dapat mencekiknya. Ia sudah terlampau lemah dan tidak mungkin akan dapat melawan atau bahkan mengeluh sekalipun.”

Dengan demikian, maka Ken Arok sama sekali tidak menghiraukan lagi ke mana Mahisa Agni akan pergi. Yang terpatri di dalam kepalanya adalah meremas leher Witantra sampai mati.

Ken Arok mengharap, selagi orang-orang di sekitar arena itu sibuk dengan Mahisa Agni, maka kesempatan itulah yang akan dipergunakannya. Tidak akan ada orang yang memperhatikan apa yang akan dilakukannya. Mereka akan terkejut dan mungkin heran, apabila, mereka melihat Witantra itu mati. Namun mereka pasti akan menyangka, bahwa hal itu terjadi karena luka yang parah di dalam dadanya.

Demikianlah, maka Ken Arok telah mengambil suatu keputusan. Ialah yang akan menyelesaikan pekerjaan Mahisa Agni. Membunuh Witantra yang masih terbaring di arena.

Ketika orang-orang di sekitar arena itu masih belum tenang, Ken Arok telah berdiri di sisi arena itu, Dengan dada yang berdebar-debar ia semakin mendekat, dan dengan sebuah loncatan ia telah berada di atas arena, tanpa seorang pun yang memedulikannya. Bahkan pemimpin Tumapel yang enam pun agaknya masih terlampau sibuk bertanya kepada para pengawal, ke mana Mahisa Agni pergi. Dan seandainya ada orang yang memperhatikannya pun, ia dapat mengatakan bahwa sebenarnya ia ingin menolong Witantra yang begitu saja ditinggal terbaring di arena.

Sekilas Ken Arok menebarkan pandangannya. Agak tergesa-gesa. Apalagi orang-orang di sekitar arena itu bergerak-gerak seperti gabah di penampian.

Namun ketika ia selangkah maju mendekati Witantra, tiba-tiba hatinya berdesir. Nafasnya serasa berhenti mengalir dan menyumbat tenggorokannya, sehingga dadanya menjadi pepat.

Perlahan-lahan ia mendengar seseorang bertanya. “Apakah Witantra dapat ditolong, Ngger?”

Ketika Ken Arok berpaling, dilihatnya seorang tua yang kekurus-kurusan. Panji Bojong Santi. Sedang di sampingnya berdiri adik seperguruan Witantra, Mahendra.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Tetapi hatinya mengumpat-umpat tidak habis-habisnya, di hadapan orang itu ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Sedang ia tahu bahwa orang itu adalah guru Witantra, seorang yang pilih tanding.

“Bagaimana, Ngger?” bertanya orang tua itu pula.

Ken Arok tergagap. Namun ia kemudian menjawab, “Aku sedang mencobanya Kiai. Mudah-mudahan tidak ada peraturan yang melarang untuk menolongnya.”

“Bukankah Angger juga seorang prajurit?”

“Ya, tetapi aku kurang memperhatikannya. Hal serupa ini terlampau jarang terjadi. Apalagi selagi masih ada Akuwu. Selama aku berada di istana, hal serupa ini baru untuk pertama kalinya terjadi.”

“Baiklah. Kalau begitu biarlah kami yang menolongnya. Biarlah Witantra kami bawa pulang ke padepokan kami.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Jika demikian maka usahanya untuk membunuh orang itu menjadi terlampau sulit. Karena itu maka ia pun berkata, “Tetapi jangan sekarang. Biarlah ia berada di arena lebih dahulu. Kalau tidak ada suatu keputusan apapun dari pemimpin yang enam, biarlah aku akan mengambilnya dan menyerahkannya kepada Kiai.”

“Tetapi ia akan mati Ngger, apabila tidak segera mendapat pertolongan.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Desisnya, “Aku akan mencoba menolongnya di atas arena. Karena aku seorang prajurit, maka aku akan lebih leluasa untuk berbuat sesuatu di sini. Sebaiknya Kiai dan Mahendra jangan berada di dekat arena ini supaya tidak menumbuhkan kecurigaan.”

Panji Bojong Santi mengerutkan keningnya yang sudah keputih-putihan. Namun bisiknya, “Keadaan Witantra sudah terlampau gawat. Aku akan mengambilnya sekarang, apapun yang akan terjadi. Aku minta Angger membantu aku. Tetapi aku tidak akan mencurinya. Aku akan menemui pemimpin yang enam itu, dan memintanya dengan berterus terang.”

Dada Ken Arok menjadi berdebar-debar. Tetapi sebelum ia dapat menjawab, Mahendra telah bergeser dari tempatnya sambil berkata, “Akulah yang akan menghadap pemimpin yang enam itu.”

Ken Arok tidak dapat mencegahnya. Karena itu dengan dada berdebar-debar ia memandangi langkah Mahendra yang pergi menghadap ke panggung yang khusus bagi pemimpin yang enam.

Mahendra menganggukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan mereka sebagai tata kesopanan apabila ia menghadap para pemimpin, yang apalagi belum semua dikenalnya.

“Siapa kau anak muda?” bertanya salah seorang dari keenam pemimpin itu.

“Aku adalah Mahendra, saudara seperguruan Kakang Witantra yang sekarang terbaring di arena.”

“Oh, maksudmu?” keenam pemimpin itu menjadi berdebar-debar. Mereka menyangka, bahwa anak muda yang bernama Mahendra ini akan menuntut kekalahan saudara seperguruannya, dengan membuka kemungkinan untuk mengadakan perang tanding yang baru. Apabila demikian, maka keadaan akan berlarut-larut tidak ada putus-putusnya.

Tetapi Mahendra berkata. “Aku datang bersama guruku. Aku ingin memohon agar Kakang Witantra yang meskipun telah terkalahkan, tetapi masih hidup itu, untuk kami bawa ke padepokan.”

Keenam pemimpin itu terdiam sesaat. Mereka pun tahu benar, akibat dari kekalahan Witantra itu baginya. Selagi ia masih hidup, maka persoalannya tidak akan terhenti sampai sekian.

Tetapi keenam pemimpin itu tidak dapat membuat perintah untuk membunuh Witantra. itu adalah hak Mahisa Agni. Dan tiba-tiba saja Mahisa Agni telah lari meninggalkan arena, justru setelah ia memenangkan perang tanding itu. Sehingga tidak seorang pun yang tahu, apakah sebabnya, maka ia berbuat demikian.

Karena mereka tidak segera menjawab, maka Mahendra pun mendesaknya, “Apakah ada keharusan, bahwa Kakang Witantra harus mati? Sehingga apabila ia masih hidup, maka ia harus dibunuh?”

Hampir bersamaan keenam pemimpin itu menggeleng.

“Tidak,” sahut salah seorang dari mereka.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Tumbuhlah harapan di dalam hatinya untuk dapat membawa kakak seperguruannya itu kembali ke padepokan. Kemudian apabila ia telah sadar benar, menunggu perintahnya, apakah yang sebaiknya dilakukan.

Meskipun Witantra naik ke arena sebagai seorang lelaki, namun kekalahannya telah membuat hati Mahendra terbakar juga.

“Jadi,” katanya kemudian, “dengan demikian aku membawanya keluar dari arena?”

Keenam pemimpin itu masih saja ragu-ragu. Mahendra berdiri saja menunggu keputusan mereka tanpa bergeser dari tempatnya.

“Biarlah Witantra dibawa oleh saudara seperguruannya itu,” desis salah seorang dari mereka, “bagaimanakah pendapat kalian tentang hal ini?”

“Baiklah, aku tidak berkeberatan,” sahut yang lain. Akhirnya karena pemimpin itu bersepakat untuk memberikan Witantra yang masih hidup itu kepada saudara seperguruannya.

“Bawalah. Mudah-mudahan ia segera sembuh.”

“Terima kasih,” jawab Mahendra sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam.

Mahendra pun segera meninggalkan panggung khusus itu kembali ke arena. Dikatakannya kepada gurunya, bahwa keenam pemimpin itu telah memberinya izin untuk membawa Witantra pulang.

“Kau harus berterima kasih kepada mereka,” berkata gurunya.

“Aku sudah mengucapkannya. Aku sangat berterima kasih.”

Panji Bojong Santi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Ken Arok, “Sudahlah, Ngger. Biarlah kami mengambil Witantra. Aku akan berusaha untuk mengobatinya.”

Dada Ken Arok menjadi berdebar-debar. Ia melihat nafas Witantra menjadi semakin teratur, meskipun masih tampak betapa lemah tenaganya. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya sambil, berkata, “Silakan. Silakan.”

Mahendra pun segera meloncat naik ke panggung bekas arena perang tanding itu. Kemudian didekatinya kakak seperguruannya dan berjongkok di sampingnya.

“Kakang,” desisnya.

Witantra yang sudah tidak berpengharapan itu membuka matanya. Dilihatnya Mahendra, dan beberapa langkah di belakangnya, Ken Arok berdiri kaku.

“Tinggalkan aku,” desisnya perlahan-lahan, “umurku sudah aku ikhlaskan.”

“Guru ada di sini Kakang.”

“He?” wajah Witantra memancar sesaat, namun kemudian menjadi suram kembali, “di mana Guru sekarang?”

“Di bawah, di samping arena ini.”

“Aku mohon maaf, bahwa aku telah menodai nama perguruanku. Aku telah berani naik ke arena perang tanding, namun aku tidak dapat mengatasi Gundala Sasra yang hampir sempurna itu.”

“Guru memerintahkan aku untuk membawamu ke padepokan Kakang.”

“Aku kira akan lebih baik bagiku, apabila aku mati di arena perang tanding ini daripada di padepokan.”

“Tetapi itu perintah Guru, Kakang.”

Witantra terdiam sejenak. Ia tidak dapat melawan perintah gurunya, sehingga karena itu, maka katanya, “Terserahlah, apabila Guru benar-benar memerintahkannya.”

“Marilah, aku bantu Kakang berjalan dan turun dari arena ini.”

Witantra tidak menjawab lagi. Dibiarkannya Mahendra melingkarkan tangannya di bawah lehernya, kemudian perlahan-lahan mengangkatnya bangkit.

Alangkah sakitnya punggung Witantra. Seandainya tidak memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa, maka tentu tidak akan kuat lagi menanggung sakit yang demikian. Bahkan ketika ia sudah terduduk dilayani oleh adik seperguruannya. tiba-tiba mulutnya mengalir darah yang kehitam-hitaman.

“Oh,” Mahendra terkejut. Tanpa disadarinya ia berpaling mencari gurunya.

Panji Bojong Santi yang melihatnya, menjadi cemas juga, sehingga ia pun kemudian meloncat naik ke arena. Demikian tergesa-gesa ia mendekati muridnya yang ternyata terluka cukup parah di dadanya.

Ketika Witantra melihat gurunya, maka dipaksanya mulutnya berkata, “Maafkan aku, Guru. Aku tidak dapat berlahan, sehingga dengan demikian aku telah menodai nama perguruan.”

“Jangan salahkan diri sendiri, Witantra,” jawab gurunya.

“Akhir yang paling baik bagiku sekarang adalah kematian.”

“Jangan putus asa. Kau akan membuat kesalahan baru lagi.” gurunya berhenti sejenak, lalu. “kalau kau mencari kesalahan, maka semua pihak bersalah. Aku pun bersalah, karena aku tidak dapat membuatmu tanpa tanding.”

Sekali lagi ia berhenti, kemudian setelah menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Karena itu, kau harus tetap hidup, supaya kau sempat berbuat sesuatu.”

“Namaku sudah dihinakan di arena ini. Aku akan tersingkir dari pergaulan. Apalagi di kalangan keprajuritan.”

“Tetapi itu tidak berarti bahwa semua kemampuan yang telah ada padamu itu pun ikut tersingkir. Kau masih dapat mempergunakannya untuk kepentingan yang lain.”

Witantra tidak menyahut, tetapi ia justru menyeringai menahan sakit di dadanya.

“Aku tidak dapat berbuat sesuatu dalam perang tanding ini,” gumam gurunya, “karena kau adalah laki-laki. Dan kau telah berbuat sebagai seorang laki-laki.”

“Tetapi yang sempurna, perang tanding ini diakhiri dengan kematian.”

Gurunya menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu. Dan kau harus berani menghadapi hari depanmu yang suram itu sebagai seorang lelaki pula. Kau tidak dapat lari. Kalau kau terbunuh, terbunuhlah. Tetapi selagi kau masih hidup, kau harus berani menghayatinya.”
Witantra yang terluka parah itu terdiam. Ia tidak dapat berbantah dengan gurunya. Bagaimanapun juga gejolak perasaannya, ia harus keluar dari arena itu.

“Sebenarnya aku ingin mati di arena ini,” katanya di dalam hati, “tetapi guru menghendaki lain.”

Witantra pun kemudian dengan dibantu oleh Mahendra mencoba untuk berdiri. Betapa sakit seluruh tubuhnya, namun Witantra telah memaksa dirinya. Perlahan-lahan mereka pun kemudian menepi dan dengan susah payah Witantra telah ditolong turun oleh guru dan saudara seperguruannya.

Ken Arok masih saja berdiri di dekat mereka. Ketika Witantra kemudian duduk bersandar tiang-tiang arena ia pun mendekat.

“Mudah-mudahan kau akan segera sembuh, Witantra,” desisnya. Namun di telinga Witantra ucapan itu tidak lebih dari suatu ejekan yang pahit. Namun Witantra mengangguk sambil menyeringai menahan sakit.

“Angger Ken Arok,” berkata Panji Bojong Santi, “Aku akan segera minta diri. Aku sangat berterima kasih kepadamu Ngger, bahwa aku sempat membawa Witantra kembali ke padepokan.”

“Oh, bukankah aku tidak berbuat apa-apa?” sahut Ken Arok.

Panji Bojong Santi tersenyum, katanya kemudian, “Dan terima kasihku kepada pimpinan Tumapel. Kepada siapa saja.”

Ken Arok pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Namun ia masih saja mengumpat-umpat di dalam hatinya. Kali ini ia gagal membunuh Witantra, dengan tangan Mahisa Agni maupun dengan tangannya sendiri. Dan ia sadar, bahwa hal ini pasti akan menjadi masalah di hari kemudian.

Dengan dada berdebar-debar Ken Arok kemudian menyaksikan Panji Bojong Santi memberikan sebutir reramuan obat kepada Witantra. Agaknya obat itu cukup tajam. Sejenak kemudian tampak Witantra sudah menjadi agak segar. Meskipun demikian, ketika Mahendra membantunya berdiri, wajahnya masih saja membayangkan penderitaan yang luar biasa di dadanya.

“Gundala Sasra yang sempurna,” desis Ken Arok di dalam hatinya.

Dengan dada berdebar-debar Ken Arok menyaksikan Witantra dibantu oleh Mahendra berjalan di antara penonton yang tinggal beberapa orang. Namun mereka tanpa sadar telah mengerumuni Witantra dan bahkan ada yang berjalan mengikutinya beberapa langkah.

Dengan demikian maka Witantra sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Ia merasa, seolah-olah orang-orang itu mengikutinya sambil mencibirkan bibir mereka, menyorakinya, “Pengecut. Pengecut.”

Namun sejenak kemudian mereka telah sampai ke pinggir alun-alun. Panji Bojong Santi dan Mahendra ternyata hanya membawa dua ekor kuda. Karena itu maka Witantra pun kemudian berdua bersama-sama dengan Mahendra, perlahan-lahan meninggalkan alun-alun diantar oleh tatapan mata orang-orang Tumapel yang masih berada di alun-alun dengan berbagai macam kesan yang tidak terbaca.

Dengan berakhirnya perang tanding itu, maka para pemimpin Tumapel menganggap bahwa persoalan Kebo Ijo telah selesai. Tidak ada lagi persoalan dalam masalah pembunuhan yang terjadi di istana. Kebo Ijo telah dinyatakan bersalah, membunuh Akuwu Tunggul Ametung dan bahkan telah lebih dahulu membunuh Empu Gandring. Selain bukti yang ditemukan, maka pembelaan Witantra di arena perang tanding pun telah gagal pula.

Dan kegagalan Witantra di arena telah melemparkan Witantra sekaligus dari istana. Ia tidak pernah lagi tampak di antara para pemimpin dan para prajurit. Hal itu telah diduga sejak semula oleh para pemimpin yang enam, sehingga dengan demikian maka kedudukan Witantra pun menjadi kosong karenanya.

Kekosongan kedudukan Witantra itu pun telah menjadi masalah pula bagi para pemimpin yang enam. Mereka harus segera menemukan seorang yang kuat untuk menjadi seorang pemimpin pasukan pengawal. Pasukan yang akan bertanggung jawab terutama atas pengawalan istana seisinya.

Untuk menemukan orang yang mampu menggantikan Witantra bukanlah pekerjaan yang mudah. Setiap perwira harus mendapat penilaian yang tepat. Sejak Akuwu masih hidup, maka siapakah yang mendapat kepercayaan daripadanya, mendapat perhatian sebaik-baiknya pula.

Namun yang telah melonjak di dalam perhatian keenam pemimpin itu adalah Mahisa Agni. Meskipun ia bukan seorang perwira prajurit yang manapun, namun ia ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa. Lebih daripada itu semua, ia adalah kakak dari Tuan Putri Ken Dedes yang kini telah menjadi janda.

“Pengangkatan Mahisa Agni akan menimbulkan persoalan baru di kalangan para prajurit,” berkata salah seorang dari keenam pemimpin itu.

Yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka menyadari, bahwa hal itu akan sulit dimengerti oleh para perwira. Mereka mengharap bahwa salah seorang dari merekalah yang akan menduduki kekosongan itu. Mereka yang sudah cukup lama mengabdikan dirinya, atau mereka telah nyata memberikan jasa-jasanya kepada Tumapel.

“Sebaliknya kita memikirkan calon yang lain, meskipun kemungkinan untuk memanggil Mahisa Agni masih ada,” berkata pemimpin yang lain.

“Aku sangsi, apakah Mahisa Agni bersedia menerima jabatan itu. Sejak semula ia telah menolak untuk berada di dalam istana. Sejak adiknya diambil oleh akuwu. Pada saat itu Akuwu Tunggul Ametung telah menawarkan kedudukan kepadanya,” berkata yang lain lagi.
Sekali lagi para pemimpin itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Dan sekali lagi salah seorang dari mereka berkata, “Kita mencari seorang lagi dari antara para perwira.”

Keenam pemimpin itu mengangguk-angguk dan mengangguk-angguk. Mereka sedang merenungkan beberapa orang yang mungkin dapat diangkat untuk menjadi seorang pemimpin pasukan pengawal.

Tetapi untuk mendapatkan seorang prajurit yang memenuhi syarat-syarat untuk mengisi jabatan yang ditinggalkan oleh Witantra memerlukan pertimbangan yang semasak-masaknya. Karena itu, maka belum seorang pun yang dapat menyebutkan sebuah nama untuk pencalonan itu.

“Kita kumpulkan beberapa nama,” berkata salah seorang pemimpin itu, “mungkin setiap orang dari antara kita mempunyai nama yang dapat dibicarakan. Kemudian kita pertimbangkan bersama-sama. Mungkin kita akan mendapatkan sebuah nama yang paling baik dari antara nama-nama itu. Nama itulah yang akan kita jajarkan dengan nama Mahisa Agni.”

Para pemimpin yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Bagaimanakah seandainya keputusan kita itu ditolak oleh Permaisuri.”

“Oh,” kawan-kawannya seolah-olah baru tersadar dari sebuah mimpi. Mereka hampir lupa mempertimbangkan kemungkinan itu, karena kedudukan Ken Dedes bukanlah sekedar seorang bekas permaisuri. Seorang janda dari Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi Tunggul Ametung sebagai seorang akuwu pernah mengucapkannya sendiri, bahwa semua miliknya, bahkan nyawanya, telah diserahkannya kepada Ken Dedes. Kekuasaannya dan jabatannya sebagai akuwu pula. Karena itu, sebenarnya kematian Akuwu Tunggul Ametung tidak menyebabkan kekosongan pimpinan di Tumapel.

Setelah mereka mengangguk-anggukkan kepala mereka, maka salah seorang dari mereka berkata, “Ada dua jalan. Kita serahkan semuanya kepada Tuan Putri, atau kita membawa nama-nama yang sudah kita pertimbangan masak-masak itu kepadanya.”

“Cara yang kedua.” sahut yang lain, “bukan maksud kami menandingi kekuasaan Tuan Putri yang akan berhak bergelar sebagai Akuwu. Tetapi kita tahu, sebenarnyalah kita tahu dengan pasti, bahwa saat ini Tuan Putri Ken Dedes pasti belum dapat menyesuaikan dirinya dengan keharusan seorang pemimpin tertinggi.”

“Ya, aku sependapat,” sahut yang lain lagi, “selanjutnya terserah kepada Tuan Putri, apakah yang akan dilakukannya.”

“Nah, akhirnya kita akan sampai juga pada menemukan sebuah nama,” berkata salah seorang dari mereka pula.

Kembali keenam pemimpin itu mengangguk-anggukkan kepala. Mereka mencoba menilai setiap perwira yang namanya agak menonjol dari para perwira yang lain. Selain kemampuan mereka seorang demi seorang sebagai seorang prajurit, tetapi dipertimbangkan juga apakah yang pernah mereka lakukan.

“Baiklah, marilah kita mengumpulkan nama-nama. Mungkin untuk pertama kalinya kita akan mendapat lebih dari sepuluh atau dua puluh nama, kemudian kita pilih, sekali dua kali, sehingga kita hanya tinggal mempunyai sebuah nama.”

“Sebutkan siapakah nama-nama yang ada padamu.” berkata yang lain.

Pemimpin yang seorang itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Ada lebih dari seribu nama perwira yang tersebar di seluruh Tumapel. Tetapi dalam keadaan serupa ini, kita terlampau sulit untuk menemukan seorang saja di antara mereka.”

Orang itu berhenti sejenak, kemudian, “setelah mempertimbangkan segala kemungkinan, maka aku telah menemukan sebuah nama. Hanya satu. Aku kira aku tidak akan dapat menemukan yang lain lagi. Tetapi terserahlah kepada kalian.”

“Ya, tetapi siapa yang satu itu?”

“Oh, apakah aku belum menyebutkannya?”

“Sebut namanya.”

“Biarlah aku mengutarakan alasannya lebih dahulu, mengapa aku memilih nama itu. Ia mendapat banyak kepercayaan dari Akuwu Tunggul Ametung semasa hidupnya. Dan semasa ia terbunuh, orang ini pulalah yang telah berjasa paling banyak dari antara para prajurit, meskipun ia termasuk seorang perwira yang baru.”

“Siapa? Ya, siapa?”

“Namanya Ken Arok. Hanya itulah yang akan aku ajukan. Tetapi mungkin kalian mempunyai sepuluh atau dua puluh nama yang lain, sebab pengamatan kita berbeda-beda. Aku tidak akan melihat daerah pengamatan kalian masing-masing, dan demikian berlaku di antara kita semuanya.”

Tetapi pemimpin itu mengerutkan keningnya ketika ia melihat para pemimpin yang lain, mengangguk-anggukkan kepala mereka, bahkan ada di antara mereka yang berdesah.

“Bagaimana?”

“Aku adalah pemimpin prajurit Tumapel,” berkata salah seorang dari mereka, “bukan pemimpin tertinggi dari pelayan dalam, lingkungan kesatuan Ken Arok. Tetapi adalah aneh sekali bahwa aku tidak melihat ke dalam lingkunganku. Ada beberapa orang perwira yang mengagumkan di dalam lingkunganku. Tetapi tidak ada yang dapat bertindak secepat Ken Arok. Apalagi Ken Arok memang pernah mendapat kepercayaan dari Akuwu Tunggul Ametung. Kenapa Akuwu menunjuk Ken Arok ketika Akuwu mengirimkan pasukan ke padang Karautan? Dan bahkan ketika Akuwu memerlukan sebuah taman di padang itu pula, Ken Arok pulalah yang diserahinya. Karena itu, adalah kebetulan sekali bahwa aku pun akan mengusulkan Ken Arok untuk menggantikan kedudukan Witantra. Justru bukan dari lingkungan sendiri, atau dari lingkungan pasukan pengawal itu sendiri.”

Para pemimpin yang lain masih mengangguk-anggukkan kepala mereka. Pemimpin tertinggi Pelayan Dalam pun berkata. “Aku akan sependapat sekali. Ken Arok adalah seorang perwira yang luar biasa. Ia banyak berjasa dalam penyelesaian masalah pembunuhan ini. Ialah orang yang membawa Kebo Ijo sehingga ia dapat ditangkap dengan mudah. Ia pulalah yang berhasil menyelesaikannya ketika Kebo Ijo berusaha melarikan diri.”

“Ternyata aku mempunyai persamaan pendapat dengan kalian,” berkata pemimpin yang lain. “Aku setuju. Ken Arok adalah satu-satunya nama yang dapat kita ke tengahkan.”

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 12 Februari 2010 at 05:00  Comments (82)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pdls-50/trackback/

RSS feed for comments on this post.

82 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ya wis, tak jogo gerdu sendiri … esuk uthuk-2

    • Terima kasih untuk perjuangannya Ki Ismoyo, terima kasih untuk infornya Ki Seno …

      Dan terima kasih untuk rapelan minusnya Minggu ini!
      Saya pingin kirim kembang Velentine untuk Ki Is dan Ki Arema, (atas nama Ni Sawitri) cuma ongkos kirimnya kok luuaarraang puuoolll

      hikss….
      discan terus di email saja Ki, nanti tinggal membayangkan saya.

      • Antri nomer SIDJI, ngunduh minggu depan!

        • saya mau kirim coklat buat cantrik, dan tentunya yang terutama untuk Ni Savitri

        • saya mau antri nomer loro !

          • NOL…..ngarep dhewe

    • nomer loro !

  2. happy valentine,gong xi fa cai, malam minggu kelabu.. ya ga papa sabar.. sabar..
    tentang usulan ki seno yang diwedhar kitab 51 dulu… kayanya janggal karena ceritanya pasti ga nyambung..
    jdi diwedhar sesuai urutan kitab aja ki…
    hadir dan ndelik lagi..

    • padhepokan sebelah dah wedhar rontal llhhhhoooooooooo

  3. Selamat pagi, salam buat semuanya
    hadir nunggu jatah (sing sabar….)

  4. Saya mah terserah kebijaksanaan Ki Senopati, Ki Arema, maupun Ki Ismoyo dan pengasuh yang lain.
    Terima kasih atas kesempatan ngunduh yang selama ini kami lakukan.
    Saya hanya cantrik pada tataran yang paling rendah koq.

  5. Setelah lama tidak ngabsen, hadiiiir Ki.
    Menghadirkan kembali sesuatu yang kuno dan langka adalah pekerjaan yang tidak mudah. Adalah wajar dalam perjalanannya mengalami kendala.
    Saya kira para cantrik/mentrik tidak akan berkeberatan untuk membaca lontar tidak urut, seperti Ki Arema sendiri mengalaminya. Begitukan Ki?

    Berbicara tentang Gong Xi Fa Cai, jika Ki/Ni Sanak ke Batam, akan ditemui suasana yang memerah. Lampion dan pernik-pernik khas budaya cina bertebaran di mana-mana. Suasana Chinese Town. Meriah.
    Hem, salah satu hasil dari alm Gus Dur.
    YO KE BANKTAM

    • Oops. Maksudnya KE BATAM 🙂

      • OK stj…..51 masuk sementara digendhak
        poro cantrik-mentrik…..dadi “simpenan”

        On 12 Februari 2010 at 07:31 ki sunda Said:
        Setelah lama tidak ngabsen, hadiiiir Ki.
        Menghadirkan kembali sesuatu yang kuno dan langka adalah pekerjaan yang tidak mudah. Adalah wajar dalam perjalanannya mengalami kendala.
        Saya kira para cantrik/mentrik tidak akan berkeberatan untuk membaca lontar tidak urut, seperti Ki Arema sendiri mengalaminya. Begitukan Ki?

        Berbicara tentang Gong Xi Fa Cai, jika Ki/Ni Sanak ke Batam, akan ditemui suasana yang memerah. Lampion dan pernik-pernik khas budaya cina bertebaran di mana-mana. Suasana Chinese Town. Meriah.
        Hem, salah satu hasil dari alm Gus Dur.
        YO KE BANKTAM….Oops,Maksudnya KE BATAM

        sugeng enjang ki SENO, Pdlser sedoyoo

    • Ada yang terlupa, mungkin Ki/Ni Sanak sudah ada yang mengetahui arti BATAM?
      – Bila Anda Tiba Anda Menyesal
      – Bila Anda Tabah Anda Menang
      – Begitu Anda Tiba Amoy Menunggu 🙂
      – ??? lupa, siapa yang mau melengkapi?

      • Batam….BAntal AMan !

  6. kalau menurut aq sih mending dilompat aja daripada sakaw kitab

  7. jika sanak kadang PdLS menghendaki, rontal PdLS-50 dilewati untuk medar PdLS-51 lebih dulu.

    usul alternatif:
    sebaiknya nyebar godhong kara, … sabar sakwetara, ….
    pdls tidak diwedar dengan cara melompat-lompat tetapi menunggu kesiapan rontal ke-50, sebab sayang sekali jika karya sebaik itu disimak tidak secara urut-runtut tataran demi tataran.

    sebagai gantinya, ada baiknya wedaran bdbk dapat dilakukan secara “ajeg” dan tepat waktu, misalnya dua hari sekali atau kalau bisa malahan setiap hari, he, he, he, he, ….

  8. POKOKE MANUT WAE

  9. Kalau diperkenankan ikut urun rembug, saya cenderung mengusulkan rontal PDLS-51 (babak Bara di Atas Singgasana) diwedar terlebih dahulu, sambil menunggu rontal PDLS-50 sampai di hadapan Ki Arema. Sesekali berjalan mundur, ada baiknya lho(Agung Sedayu dan Glagah Putih juga menyapu sambil berjalan mundur):-)

    Nuwun.

    • Sugeng rawuh, sugeng tetepangan bude Tatik. Mugi panjenengan kerso asring2 rawuh mriki, kapurih poro kakung boten ngendikan ingkang saru2, ….. margi pakewed menawi wonten piyantun putri ingkang rawuh.

      Ki Seno, …… Maskumambang namung nderek kerso panjenengan kemawon pundi ingkang sae dipun lampahi.

      Nderek prihatos kawontenan Ki Ismoyo, ….. mugio boten usah menggalih wedaran rumiyin, ….. ingkang penting panjenenganipun enggal dangan.

      Kulo nderek prihatos,
      Ki Truno podang

  10. woooo, jebulnya kitabnya digondol kucing tha….

    santai saja, ki ismoyo, ki arema, jangan sampai kesehatannya yang sedang dalam pemulihan menjadi memburuk hanya gara-gara ingin mengedarkan kitab sesuai jadwalnya…

    kita, para cantrik yang tinggal nyadong, tidak ingin terburu nafsu dengan mengorbankan para bebahu padepokan, koq. yang penting ki ismoyo, ki arema dan para bebahu padepokan tetap bisa bercengkerama dengan kami-kami dan nanti malam ada yang bisa dibaca oleh para cantrik… he…he…he….

    Lho…., telat aku
    Episode 1 dan 2 nya dimana ya.
    Piss……

    • Nggih, betul ki Banu, kami para cantrik tetap akan bersabar. Memang enaknya baca berurutan nggak loncat-loncat sehingga tandingnya Witantra dan Agni bisa bikin greget. Kalau sudah tau akhir dari tanding itu rasanya kurang rame.
      Dan sambil nunggu matur nuwun kitab dan kucing nya

    • matur nuwun ki BANU…….kitab dulu
      baru nangkap kucing-nya.

    • hihi ku malah ada perang bubatnya tammat tu wew

      • wew, kok tak ada? diubek-ubek di LKH hanya nemu GM, BDTdA, HP, CM & NP.
        sembunyi di manakah gerangan PB?

        • Digondol kucing Ki Banu

        • PB blom ku upload, males, aja [ercetakannya suka bikin ribut

    • wah ki banuaji kucing kucingan neh … hehehehe

      • he…he…he… lama gak lihat ki zack ngisi komen…. apalagi ki goenas, ki sas, yang lebih seru kalo pas lagi pada beradu usil sama ki pandan….

        • he..he…

          ki goenas ro ki SAS wis podho tobat olehe mbelink

    • hhhmmm….penasaran juga sama gajah mada…kalo boleh tahu di mana…ngun

  11. Baru baca jilid 46 jd gak bakalan sakao …he he he

  12. kalau hari minggu sudah bisa diwedar, ya setuju menunggu, tapi kalau belum ya loncat parit, sekali sekali nggak apa apa, nuwun

  13. hadir…

    padepokan sebelah dipingit :protected

    • Padepokan pundi toh kang???

    • Welcome back ki PA, ki arema dah mo lapor polisi lho…

    • ki Djojosm..nyuwun sewu kolowingi nganglang teng mbetawi mboten sempet ngindik2 mentrik2ipun panjenengan….

      ki Wie,…senopatinipun malah remen nek mboten diuyeg2

  14. dulu juga diwedarnya sebulan sekali….

  15. Matur nuwun, Ki Truno, sugeng tetepangan ugi dumateng panjenengan, saha sadaya sadulur ing padepokan PDLS. Ananging nyuwen ngapunten, boso Jowo kromo inggil dalem kirang lancar. Kalau diperkenankan, saya mohon izin menggunakan bahasa Indonesia saja.

    Nuwun.

  16. Tampaknya, lebih baik bersabar menunggu PdLS-50 daripada harus loncat-loncat. Sesuai dengan janji, wedar 2 hari sekali, pada saatnya akan dirapel sesuai dengan rontal yang terhutang. Sanak-kadang PdLS supaya bersabar.

    Kasinggihan Ki.
    Wong sabar iku subur;
    wong sabar iku suwe rekasane (eh kleru…)
    Wong sabar iku luhur wekasane

    Sembari menunggu wedarnya rontal 50, cantrik bayu aji mau medar sabdå, dongeng karo rengeng-rengen. Ning dongenge mengko nek wis wayah sirep lare.
    Grimis-grimis, saiki lagi mbakar jagung, unjukane teh nasgitel. Nyamleng tenan.

    Absen:
    Ki Arema, Ki Ismoyo, Ki Pandalas, Ki Yudha, Ki Truno, Ki Seno, Ki Sunda, Ki Wie, Ki Djodjosm, Ki Kartojudo, Ki Kompor, Jeng Tatik, Jeng Dewi KZ.
    Yang lainnya ????

    Sedåyå kemawon: Sugeng dalu. Mugi pårå kadang tansah manggihi karaharjan.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  17. Hadir wayah sepi uwong………
    sugeng dalu para kadang ADBMers / PDLSers

    • sugeng dalu Ki Gembleh.
      sayup-sayup sudah terdengar kentongan dara muluk.

  18. Ada cerita menarik tentang hilangnya Ki Mbelink dari garis edar beberapa hari yang lalu.
    sekitar jam 7 pagi, Kaget juga waktu Ki Pandanalas kirim SMS, dikatakan bahwa beliau ada di Bioskop Metropolis,beliau bertanya jam berapa biasanya Film dimulai, saya bingung untuk menjawabnya, wong dia yang ada di bioskop, kok nanya ??, akhirnya karena menghormati seorang sahabat, saya balas juga tuh sms nya, saya bilang : lihat dan baca saja di daftar film hari ini.
    Ki PA pun membalas sms saya, isinya seperti ini :GIMANA SAYA BISA BACA DAFTAR FILM HARI INI, WONG SAYA TERKUNCI DI DALAM BIOSKOP.SAYA BABLAS KETIDURAN DI DALAM BIOSKOP.

  19. Ki Senopati,
    Ki Sanak sermuanya,

    Bukan karena ada fotocopy, sebenarnyalah PdLS-50 yang ada memang fotocopy, tapi tidak mengurangi materi isinya.

    Scaning pdls jilid 50 sudah siap, sedikit tergendala masalah kuno, pln putus. sedikit dirapikan tinggal format djvu, ready dan kirim ke Ki Senopati…mudah-mudahan malam minggu tidak menjadi kelabu.

    nuwun.

    • Pak RT Ismoyo…kontrol gardu ronda KI…
      Lapor Pak RT, Ki widura hari ini Absen, diganti Kakang Gembleh.
      Ojo repot-repot KI Is, kopi PDLS 50 enggak pake gula sudah cukup buat lelekan malam mingguan.
      Salam dari saya untuk menjaga kesehatannya.

      nuwun

  20. esuk2..uthuk2..mruput sinambi nyruput..

    siap2 nganglang maneh … meh nyoba taneman rambutan Binjai….

    • @Ki Pandanalas
      Sugeng esuk uthuk-uthuk Ki. Nyoba tanemannya apa rambutnya (eh rambutannya ??)

      • rambutnya rambutan ki…wis rodho semu ireng..kedhalon

        • Selamat pagi Ki, semoga dalam keadaan sehat semuanya. Meskipun hari ini tdk ada kitab yang diwedar tapi untungnya Ki PA mau bagi2 rambutan binjai terimakasih Ki.

        • Semu ireng…nopo semu putih Ki…..

  21. Ki Arema,

    PdLS-50 mbok menawi sampun cemepak liwat yahoo, monggo menawi bade dipun wedar.

    nuwun.

    Waduh…., matur suwun ki.
    Malam minggu tidak jadi kelabu, berkat jerih payah Ki Ismoyo.
    Kami semua akan selalu berdoa, semoga kesehatan Ki Ismoyo segera kembali seperti sedia kala dan tidak kambuh lagi.

    • Ki Is, Ki Arema

      Pandongå kulå. “Slamet, sehat, berkah”

      Klik PdLS 50 unduh………………

      Nuwun,

      cantrik bayuaji

      • On 13 Februari 2010 at 08:53 pandanalas Said:

        matur suwun…
        pagine ora kelabu
        mbengine mesthi kelambu-kelambu

    • matur suwun…

      pagine ora kelabu
      mbengine mesthi kelambu

    • Ki Ismoyo, Ki Arema saya mengucapkan banyak terima kasih atas diwedarnya kitab PdLS 50. Saya dapat berdoa mudah mudahan njenengan berdua senantiasa diberi kesehatan yang prima dan tentu mendapat ridho Allah atas segala kebaikannya menyenangkan rakyat padepokan.

      Amiinn….
      Itu yang kami harapkan Ki, semoga kami tetap sehat, sehingga masih bisa bersilaturahmi dengan sanak-kadang PdLS, GS dan ADBM.

    • Hatur nuhun K Ismoyo, walaupun dalam proses penyembuhan masih menyempatkan diri untuk mewedar PdLS-50.

      Semoga kesehatan Ki Ismoyo makin membaik dan tentunya dengan mesin pinjaman PLN Batam yang tiba di Tanjung Pinang kemarin(?), akan mengurangi stress Ki Ismoyo dan sanak kadang di sana karena masalah listrik yang byar pet….pet…pet terus. Amin.

      • Matur nuwun Ki Ismoyo, semoga Ki Ismoyo dan keluarga selalu sehat dan berbahagia.

    • wah, dapat angpaw dari ki is…

      suwun, ki is, ki arema…

  22. matur nuwun sanget ki

  23. matur nuwun ki Is atas rontalnya…
    ki PA pundi oleh2 saking tomang???

    • katiwasan ki Wie…si tomang disate sangkuriang je…

      meh ngudi dununge dayang Sumbi

      • hehehe..
        jadi kopdar ki? ada nambah bolo lagi lho…rumahnya kaharudin nasution ujung…

        • sinten Nyi…eh…ki Wie

          • Wkwkwk…. Kadose piyambakipun sampun kenal panjenengan ki. Asmanipun wonten adbm adhie napa ajie (radi loepa)…

          • he..he..

            ki adjie njih…makaryo teng sing kriting2..xixixixi

          • brintik cilik2..nopo brintik gede2…

  24. MATUR SUWUN,
    Ki Ismoyo dan Ki arema….
    Dengaren ANTRI nomer SIDJI …. ngunduh Nomer SETUNGGAL ….. he he heeee

    Pesan Ki Ismoyo memang mak NYUS ….

  25. Nuwun,
    Sugeng pinanggih malih para kadang, cantrik bayuaji sowan.
    Untuk menambah wawasan sinambi maos rontal 50 tentang “kasamarannya (?) Sang Akuwu Baru atau Baru Akuwu Ken Angrok bak binatang liar yang terpancing godaan si gadis ‘kenes’ Ken Umang. He he he.

    Tapi di sini cantrik bayuaji tidak akan mendongeng tentang si umang, pun cantrik terpesona akan arca perwujudan nDedes yang ayu. Prajñaparamita.

    Berikut dongengnya:

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-7]

    DONGENG KEN DEDES, DONGENG ARCA PRAJÑAPARAMITA

    Terdapat tiga arca Prajñaparamita, yang diketahui hingga sekarang. Pertama adalah arca Prajñaparamita (Ken Dedes) yang sudah banyak dikenal orang karena keindahannya. Arca tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

    …> dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-singosari-pdls/8/

    • Matur nuwun Ki Bayuaji dongengipun, kulo tenggo dongeng sanesipun ……

      • Dawah sami-sami Ki. Sugeng tepang.
        Nuwun

        • Sugeng tepang ugi Ki.
          Matur nuwun.

  26. matur nuwun ki…

  27. Matur sembah nuwun Ki Arema, Ki Ismoyo.
    PdLS-50 sampun kulo unduh.

  28. tuk bundek djvu 1-50 kutaruh disini yeee http://kewlshare.com/dl/56288f897653/PDLS_1-50-ISMOYO-DJVU.djvu.html

  29. Matur nuwun Ki Is, Ki Arema,
    Sampun pikantuk jatah kangge wungon.

  30. nguantuk…belum bisa tidur…bunyi kembang api..gong xi fa chai

  31. Matur sembah nuwun Ki Arema, Ki Ismoyo.
    PdLS-50 sampun kulo unduh.

  32. Sugeng enjang ki Sanak sedoyo.
    koq gandok sebelah dereg dibukak.

  33. lhadalah digoleki nganti mripat kroso pedhes jebulane digembol ki Arema neng kanthong klambi terus dipeniteni , matur nuwun ki , rontalipun .

    NUWUN !!!!!!!!

  34. matur nuwun. nembé kémawon nyedhot.

  35. Nuwun sewu,
    Mboten namung rontal (punika ingkang leres, sanes lontar) 50 ingkang dereng wonten, nanging ugi rontal 45. Wah, olehku ngenteni nganti cengklungen jare. Menawi sampun wonten, nyuwun dipun paringi uninga.
    Matur nuwun.

    sabar ki, pada saatnya tentu akan diwedar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: