PdLS-50

Agaknya keenam pemimpin itu sama sekali tidak menemui kesulitan apapun juga. Ternyata mereka sependirian, bahwa tidak ada orang lain yang lebih baik dari Ken Arok untuk menggantikan Witantra apabila Mahisa Agni menolak.

“Kita memang sependapat. Sebaiknya kita menghadap Tuan Putri untuk mengemukakan masalah ini,” berkata salah seorang dari keenam pemimpin itu.

“Baik. Kekosongan ini tidak boleh berlarut-larut,” sahut yang lain.

Maka bersepakatlah mereka untuk pergi menghadap Ken Dedes yang sudah menjadi semakin tenang setelah perasaannya diguncang oleh kematian suaminya.

“Apa yang baik bagi kalian, baik juga untukku,” jawab Ken Dedes ketika keenam pemimpin Tumapel itu mengemukakan pendirian mereka.

“Hamba Tuan Putri,” berkata yang tertua, “kami telah bersepakat untuk membicarakan calon pengganti itu. Namun keputusan terakhir berada di tangan Tuan Putri.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi wajahnya masih tetap sayu. Matanya bendul dan kemerah-merahan.

“Kalian pasti lebih mengenal, siapakah yang sepantasnya menggantikan Witantra?” bertanya Ken Dedes.

“Hamba Tuan Putri. Dalam pembicaraan di antara kami berenam, maka kami telah menemukan dua buah nama yang akan kami kemukakan kepada Tuan Putri. Meskipun demikian, semuanya terserah kepada Tuan Putri.”

“Siapakah nama-nama itu?”

“Yang pertama adalah seorang yang perkasa, yang telah Tuanku kenal baik-baik. Bahkan mungkin seorang yang tidak ada duanya di kalangan prajurit Tumapel meskipun ia sendiri bukan seorang prajurit.”

“Siapa?”

“Kakanda Tuan Putri. Mahisa Agni.”

“Oh,” Ken Dedes terperanjat mendengar nama itu. Ia tidak menyangka bahwa para pemimpin yang enam itu menaruh minat begitu besar terhadap kemampuan kakaknya. Namun, terasa sesuatu yang mengganggu perasaannya. Ken Dedes sendiri tidak segera dapat mengerti perasaannya itu.

Namun Putri itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Dan siapakah nama yang kedua?”

“Orang itu adalah orang yang paling berjasa di dalam keributan yang baru saja terjadi. Orang itulah yang sebagian terbesar telah berbuat sehingga Kebo Ijo tertangkap dan terbukti bersalah.”

Terasa sesuatu berdesir tajam di dalam dada Ken Dedes. Dengan serta-merta ia bertanya. “Siapa?”

“Ken Arok.”

Tubuh Ken Dedes tiba-tiba saja menjadi gemetar mendengar nama itu. Sejenak ia tidak dapat berkata sepatah kata pun. Dalam sekejap, tubuhnya telah dibasahi oleh keringat yang seakan-akan terperas daripada tubuhnya.

“Nama itu,” desisnya di dalam hati.

Berbagai tanggapan telah bergolak di dalam dirinya. Yang pertama-tama meloncat di hatinya adalah suatu harapan yang cerah bahwa anak muda itu akan semakin dekat dengan dirinya. Tetapi kemudian melonjaklah harga dirinya sebagai seorang permaisuri dan bahkan seorang yang sebenarnya memegang kekuasaan di Tumapel, sejak Akuwu Tunggul Ametung menyerahkannya kepadanya.

Bahkan kemudian pertimbangan-pertimbangan yang lebih jauh telah bergumul pula di hatinya. Apakah kata orang tentang dirinya, apabila pada suatu saat ia menjadi semakin dekat dengan anak muda itu.

Dalam keadaan yang demikian Ken Dedes telah berjuang sekuat tenaganya untuk tidak menimbulkan kesan yang dapat mengaburkan tanggapan keenam pemimpin itu atasnya.

Pemimpin yang enam itu masih duduk sambil menundukkan kepala mereka. Mereka menunggu apa yang akan dikatakan oleh Ken Dedes. Karena pemimpin yang enam itu tidak memandang wajah Ken Dedes, maka mereka tidak melihat apa yang kadang-kadang tampak membayang di wajah itu. Justru karena Ken Dedes adalah seorang putri. Memandangi wajahnya terlampau lama akan dapat menimbulkan kesan yang keliru. Dan mereka tidak usah berbuat demikian terhadap Akuwu Tunggul Ametung. Dan bahkan Akuwu kadang-kadang telah membawa keenam pemimpin itu, bertujuh dengan Witantra untuk berbicara, bergurau dan berbincang dengan bebas, sampai pada saat-saat terakhir Akuwu menjadi agak berubah dari kebiasaan itu.

Ternyata perubahan-perubahan yang tidak dapat dimengerti oleh sebagian dari orang-orang Tumapel itu sendiri, berakhir dengan suatu bencana yang dahsyat bagi Tumapel.

Karena Ken Dedes tidak segera menjawab, maka pemimpin yang enam itu menjadi gelisah. Sekali-kali mereka mencuri pandang, menatap wajah Putri itu. Namun mereka menjadi semakin gelisah karena mereka melihat wajah Ken Dedes seakan-akan menjadi beku karenanya.

Namun akhirnya, Ken Dedes itu berkata, “Apakah kalian telah mempertimbangkannya masak-masak.”

“Hamba Tuan Putri,” jawab yang tertua di antara mereka.

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia berada dalam kesulitan untuk memilih. Mahisa Agni adalah kakaknya, yang justru ia akan berbuat terlampau hati-hati atasnya. Mungkin kakaknya itu akan membuat kekangan-kekangan yang sangat membatasinya. Seandainya ada perbedaan pendapat di antara mereka, maka akan sulitlah bagi Ken Dedes untuk bersikap sebagai seorang pemimpin tertinggi di Tumapel. Dan kakaknya itu pun pasti tidak akan dapat melepaskan kebiasaannya, kebiasaan seorang kakak terhadap adiknya.

Sedang Ken Arok? Dadanya berguncang apabila ia mengingat nama itu. Nama yang tidak dapat diingkarinya telah berkesan dalam-dalam di hatinya. Namun adalah terlampau pahit untuk mengakuinya.

Dalam kebimbangan Ken Dedes duduk merenung memandang ke kejauhan. Ia benar-benar berada di simpang jalan yang tidak segera dapat dipilihnya.

“Kami menunggu keputusan Tuan Putri,” berkata salah seorang dari pemimpin yang enam itu.

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.

Namun katanya kemudian, “Sudah tentu aku tidak akan dapat memutuskan saat ini. Tetapi sebaiknya kalian menghubungi kedua orang itu. Kalian dapat bertanya kepada mereka, apakah mereka bersedia menerima jabatan itu.”

“Tuan Putri,” berkata salah seorang dari keenam orang itu, “adalah menjadi idaman setiap prajurit untuk sampai kejahatan puncak di dalam tata pemerintahan Tumapel. Menurut dugaan hamba, tidak akan ada seorang prajurit pun yang menolak tawaran yang memang mereka impikan sebagai landasan pengabdian mereka.”

“Tetapi Kakang Mahisa Agni bukan seorang prajurit.”

Keenam pemimpin itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Jawab salah seorang daripadanya, “Memang Mahisa Agni bukan seorang prajurit. Tetapi ia mempunyai syarat-syarat yang lengkap untuk jabatan itu.”

“Maksudku,” sahut Ken Dedes, “adalah kesediaan Kakang Mahisa Agni itu sendiri. Aku tidak meragukan kemampuannya, apalagi demikian juga menurut penilaian kalian.”

“Baiklah.” jawab yang tertua, “kami akan menghubungi keduanya.”

“Aku minta keterangan kalian segera.”

“Baiklah Tuan Putri. Sekarang perkenankan kami mengundurkan diri.”

Keenam pemimpin Tumapel itu pun kemudian meninggalkan Ken Dedes seorang diri. Sejenak Putri itu termenung. Namun sejenak kemudian terasa dadanya mulai terguncang. Baru saja ia kematian suaminya, dan tiba-tiba saja ia telah disentuh oleh suatu pengharapan baru tentang seorang laki-laki.

“Oh, aku adalah perempuan yang paling hina,” tiba-tiba ia menjerit di dalam hatinya. Dan hampir saja mulutnya pun menjerit pula.

Namun tiba-tiba ia terperanjat ketika ia mendengar seseorang yang duduk di belakangnya sambil berkata, “Apakah Tuan Putri sudah selesai?”

Ken Dedes berpaling. Dilihatnya emban pemomongnya duduk bersimpuh sambil menatapnya.

“Bibi,” suara Ken Dedes terputus. Dan tiba-tiba Putri itu berdiri sambil berkata, “Kepalaku pening, Bibi.”

“Tuanku,” sahut emban itu, “Tuanku memang masih lelah sekali. Tetapi Tuanku memang sudah seharusnya mulai dengan tugas-tugas seorang pemimpin tertinggi Tanah Tumapel. Sudah beberapa lama Tuanku belajar dari Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Sedang Tuanku telah mempunyai bekal yang meskipun agak berbeda bentuknya, yang Tuanku terima dari ayahanda. Nah, sekarang adalah waktunya bagi Tuan Putri untuk berbuat sesuatu. Tuan Putri adalah putri seorang pendeta yang agung.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Tetapi, kata-kata emban pemomongnya itu justru telah membuat kepalanya menjadi semakin pening. Ketika terbayang wajah ayahnya, maka jantungnya serasa berhenti berdenyut.

Ken Dedes menundukkan kepalanya dalam-dalam. Namun seakan-akan wajah ayahnya masih tampak di pelupuk matanya, memandanginya dengan mata yang tajam sambil berkata, “Anakku, apakah kau sadari apa yang telah terjadi atasmu?”

“Oh,” hampir saja Ken Dedes terpekik. Tetapi telapak tangannya telah menyumbat mulutnya itu sendiri. Meskipun demikian emban pemomongnya itu melihat sesuatu pada momongannya, sehingga ia pun berdiri pula sambil memegangi kedua lengan Ken Dedes.

“Kenapa Putri?”

“Kepalaku pening, Bibi. Pening sekali.”

“Marilah, masuklah ke dalam bilik peraduan.”

Ken Dedes pun kemudian dibimbing oleh pemomongnya masuk ke dalam biliknya. Perlahan-lahan ia berbaring ditunggui oleh pemomongnya. Namun betapapun juga, bayangan-bayangan yang mendebarkan jantungnya itu masih saja berkeliaran tidak henti-hentinya.

“Tuan Putri memang perlu banyak beristirahat ,” berkata pemomongnya, “seandainya Tuanku memang masih belum merasa tenang, baiklah segala persoalan yang menyangkut tanah ini, diserahkan saja kepada pemimpin yang enam itu.”

Ken Dedes hanya mengangguk-angguk kecil. Ia sama sekali tidak berminat untuk berbicara tentang apapun juga. Ia ingin tidur saja apabila mungkin.

“Bibi,” berkata Ken Dedes kemudian, “aku ingin beristirahat. Tetapi aku selalu diganggu oleh bermacam-macam persoalan yang tidak dapat aku singkirkan. Karena itu, tolong, katakan kepada emban untuk membuat air pala. Aku ingin tidur sepanjang hari.”

Pemomongnya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyanggah. Memang Putri itu harus beristirahat. Tetapi air pala itu sebenarnya tidak begitu perlu baginya.

Meskipun demikian emban pemomong Ken Dedes itu pun pergi juga ke dapur. Disuruhnya seorang emban untuk membuat air pala yang akan diminum oleh Tuan Putri Ken Dedes.

Dalam pada itu. pemimpin yang enam telah memerintahkan seorang perwira dengan dua orang prajurit untuk pergi ke padang Karautan menemui Mahisa Agni. Perwira itu bertugas untuk menanyakan, apakah Mahisa Agni bersedia untuk memangku sebuah jabatan di istana Tumapel.

“Kami menyangka, bahwa Mahisa Agni telah kembali ke padang Karautan setelah ia selesai dengan perang tanding itu,” berkata salah seorang dari pemimpin yang enam, “sampaikan pesan kami. Dan agaknya lebih baik apabila ia bersedia datang ke Tumapel untuk membicarakannya.”

Sejenak kemudian tiga ekor kuda telah berderap keluar kota Tumapel menuju ke padang Karautan. Semakin lama semakin cepat. Debu yang putih menghambur naik ke udara. kemudian pecah dihembus angin padang.

Demikianlah, maka ketiga utusan itu telah mengemban suatu tugas yang penting untuk mencari seorang perwira pengganti Witantra.

Ketika ketiga perwira itu memasuki padang Karautan, pakaian dan seluruh tubuh mereka telah basah oleh keringat, setelah mereka berkuda untuk waktu yang panjang. Sekali-kali mereka harus berhenti memberi kesempatan kuda-kuda mereka meneguk air dan sekedar beristirahat.

“He, apakah kira-kira jawab Mahisa Agni?” bertanya perwira itu.

Salah seorang kawannya menyahut, “Hanya orang-orang yang aneh yang menolak jabatan ini. Apalagi kalau orang itu memang memiliki kemampuan. Meskipun bagi Mahisa Agni jabatan itu terlampau melonjak. Tetapi karena ia adalah saudara tua Tuan Putri, maka hal itu mungkin saja terjadi.”

“Dan Mahisa Agni memang seorang yang luar biasa,” sahut kawannya yang lain, “ia berhasil mengalahkan Witantra di arena. Dan dengan demikian jabatan Witantra itu telah ditinggalkannya.”

“Tetapi untuk menjadi seorang pemimpin ia harus memiliki beberapa kemampuan. Bukan keunggulan itulah satu-satunya syarat yang harus dimilikinya.” berkata yang pertama.

“Tetapi itu adalah syarat yang terpenting bagi seorang perwira tertinggi.”

Mereka pun kemudian berhasil berbicara ketika mereka melihat kehijauan yang terhampar di tengah-tengah padang yang kekuning-kuningan.

Kedatangan mereka telah mengejutkan Mahisa Agni yang memang telah berada di padukuhannya yang baru.

“Apakah kepergianku itu telah menimbulkan persoalan?” desisnya.

Karena itu, begitu perwira itu dipersilakan duduk di banjar padukuhannya, dan setelah saling bertanya tentang keselamatan sebagai lazimnya, maka Mahisa Agni pun bertanya, “Kedatangan kalian telah membuat aku berdebar-debar.”

Tetapi perwira itu tersenyum sambil berkata, “Agaknya kau bermimpi terlampau baik. Mungkin memangku bulan atau naik seekor gajah putih bertaring emas.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Kenapa?”

“Kedatangan kami telah mengemban suatu tugas dari pemimpin yang enam atas persetujuan Tuan Putri Ken Dedes untuk menemuimu.”

“Ya?”

“Kami mengemban pesan yang harus kami sampaikan, bahwa kau telah dicalonkan untuk menggantikan kedudukan Witantra.”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar tawaran itu. Sekilas ia merasa bahwa ia benar-benar telah menerima suatu kehormatan yang besar. Ia tahu bahwa apabila ia bersedia menerima jabatan itu, pasti akan berarti bahwa ia termasuk salah seorang dari pemimpin tertinggi Tumapel. Pemimpin yang Tujuh.

“Dari tempat itu aku akan mendapat kesempatan lebih banyak lagi untuk menegakkan segala macam peraturan dan ketentuan yang seharusnya berlaku di Tumapel,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Namun tiba-tiba wajahnya menjadi buram. Tanpa sesadarnya diedarkannya pandangan matanya berkeliling, keluar halaman dan sekitarnya. Kalau ia pergi meninggalkan padukuhan yang masih sangat muda itu, apakah padukuhan ini dapat berkembang seperti yang diharapkannya. Anak-anak muda yang dituntunnya menjadi tenaga-tenaga terpenting di padukuhan ini masih belum cukup masak. Dan lebih daripada itu, sekilas Mahisa Agni teringat kepada kedudukan Ken Dedes yang kini menentukan bagi pemerintahan Tumapel sepeninggal Akuwu Tunggul Ametung.

“Apakah tawaran ini didasarkan alas kemampuanku, atau sekedar karena aku kakak Ken Dedes dalam pengertian mereka?” ia bertanya di dalam hatinya.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya pun kemudian terangguk-angguk. Tetapi ia masih belum menjawab.

“Pemimpin yang enam mengharap kedatanganmu ke Tumapel untuk membicarakannya,” berkata perwira itu pula.

Namun kemudian Mahisa Agni menjawab perlahan-lahan, “Aku sangat berterima kasih atas tawaran itu. Suatu kesempatan yang barangkali tidak akan terulang lagi sepanjang hidupku. Namun sayang sekali bahwa aku tidak dapat menerimanya.”

Ketiga prajurit itu terperanjat. Sejenak mereka terbungkam sambil menatap wajah Mahisa Agni yang suram. Terngiang di telinga mereka kata-kata salah seorang dari mereka bertiga, “Hanya orang-orang yang aneh yang menolak jabatan ini.”

Dan ternyata Mahisa Agni telah menolak.

“Kami tidak dapat mengerti,” berkata perwira itu, “kenapa kau menolak tawaran yang barangkali tidak pernah kau impikan.”

“Ada beberapa alasan,” jawab Mahisa Agni, “padukuhan yang baru berkembang ini memerlukan aku setiap saat. Kemudian, apakah aku mampu melakukan tugas itu? Aku adalah seorang anak pedesaan. Adalah kebetulan saja bahwa aku mempunyai sangkutan keluarga dengan Tuan Putri Ken Dedes. tetapi itu bukan suatu jaminan akan kemampuanku. Bukan terjadi dengan sendirinya, bahwa keluarga seorang besar akan selalu mendapat kesempatan sebaik-baiknya untuk jabatan-jabatan tertinggi.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Alasan itu cukup dimengertinya. Namun yang tidak dapat dimengerti, justru alasan itu diterangkan pada diri sendiri, jarang sekali ia menjumpai seseorang yang dengan jujur mengakui kekurangan pada dirinya. Pada kebanyakan orang maka kekurangan itu akan selalu disembunyikannya. Apa lagi untuk sebuah tawaran yang demikian.

Tetapi ternyata Mahisa Agni berbuat lain. Ia telah menolak sebuah tawaran untuk menjadi seorang perwira tertinggi di dalam pasukan pengawal.

Bagaimanapun juga perwira itu mencoba mendesak untuk meyakinkan pendirian Mahisa Agni, namun Mahisa Agni masih juga tetap menolak.

“Maaf,” berkata Mahisa Agni, “aku sudah memutuskan.”

“Kau terlampau tergesa-gesa,” berkata perwira itu, “mungkin kau dapat merenungkannya.”

Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi ia tidak ingin terlampau mengecewakan utusan pemimpin yang enam itu, sehingga ia kemudian menjawab, “Baiklah. Aku akan berpikir tiga hari. Kalau dalam waktu tiga hari aku tidak datang ke Tumapel, maka aku tidak berubah pendirian. Aku menolak pencalonan itu.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah,” katanya, “aku akan menyampaikannya kepada pemimpin yang enam itu.”

Demikianlah setelah mereka bermalam satu malam, perwira dan kedua kawan-kawannya itu pun meninggalkan padang Karautan. Mereka tidak berhasil membujuk Mahisa Agni untuk dicalonkan sebagai seorang pemimpin tertinggi sekaligus termasuk salah seorang dari pemimpin yang tujuh di Tumapel.

Tetapi jawaban Mahisa Agni itu tidak mengejutkan pemimpin yang enam di Tumapel. Mereka memang sudah menyangka bahwa Mahisa Agni tidak akan bersedia untuk menjadi seorang penjabat apapun di istana, tentu karena ia adalah kakak Tuan Putri Ken Dedes.

Maka satu-satunya calon untuk jabatan itu adalah Ken Arok.

Tidak ada orang lain yang dapat memenuhi banyak syarat seperti Ken Arok. meskipun tidak berarti bahwa Ken Arok adalah seorang yang sempurna.

Akhirnya keenam pemimpin itu pun menyampaikannya pula kepada Tuan Putri Ken Dedes, bahwa Mahisa Agni telah menolaknya. Sampai waktu yang tiga hari telah lampau, Mahisa Agni sama sekali tidak datang ke Tumapel. Dan itu berarti bahwa Mahisa Agni tetap berada dalam pendiriannya.

Mendengar laporan para pemimpin itu Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya, ia mencoba menemukan alasan buat dirinya sendiri, bahwa ia tidak dapat berbuat lain kecuali menerima pencalonan Ken Arok. Satu-satunya.

“Bukan aku yang telah menunjukkannya,” ia berkata di dalam hatinya, “aku tidak dapat dituduh menyalah gunakan wewenangku untuk memilihnya. Namanya telah dicalonkan oleh pemimpin yang enam. Dan aku tidak mempunyai pilihan setelah Kakang Mahisa Agni menolak.”

“Kami segera memerlukan keputusan,” berkata salah seorang dari pemimpin yang enam itu.

“Aku memerlukan waktu sepekan,” jawab Ken Dedes.

Para pemimpin itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka menyadari, bahwa Ken Dedes harus mempertimbangkannya masak-masak. Jabatan ini langsung menyangkut lingkungan terdekat dengan dirinya, di samping para pelayan dalam. Namun pada umumnya, ke manapun ia pergi, maka pemimpin pengawal itu pun selalu mengikutinya. Apalagi apabila ia pergi keluar dari istana.

“Baiklah Tuan Putri, kami menunggu titah Tuan Putri. Semakin cepat semakin baik bagi kami. Dengan demikian maka lingkungan kami pun menjadi lengkap,” berkata salah seorang pemimpin itu pula.

“Ya. Aku telah memberikan batas waktu. Mudah-mudahan aku dapat bekerja lebih cepat.”

Sepeninggal pemimpin yang enam itu, mulailah dada Ken Dedes bergolak. Ia bersyukur bahwa pilihan pemimpin yang enam itu jatuh kepada Ken Arok. Tidak kepada yang lain. Namun kadang-kadang ia merasa, bahwa ia telah berbuat sesuatu yang sangat tercela. Seolah-olah ia telah berkhianat kepada Akuwu Tunggul Ametung. Apalagi sebenarnyalah bahwa Ken Dedes telah mulai mengandung. Dan putra yang akan lahir itu adalah putra Akuwu Tunggul Ametung.

Namun akhirnya Ken Dedes tidak dapat menghindarkan dirinya lagi. Betapapun pergolakan terjadi di dalam dirinya, namun akhirnya ia memutuskan, untuk menerima usul pemimpin yang enam itu dan dijadikannya sebuah penetaran, bahwa Ken Aroklah yang akan menggantikan pemimpi tertinggi pasukan pengawal Tumapel.

Namun sebelum waktu yang sepekan itu habis Ken Dedes masih belum menyatakan keputusannya itu. Ia masih menyimpannya, dan masih meragukannya, apakah pendiriannya tidak akan berubah lagi.

“Adalah hakku untuk tetap hidup meskipun Akuwu telah meninggal. Tidak seharusnya aku pun ikut membeku di dalam hidupku. Kehadiranku di istana bukan maksudku. Dan kini apa yang terjadi pun sama sekali tidak pernah aku rencanakan lebih dahulu. Usul nama itu pun bukan dari aku. Aku hanya tinggal menerima, karena tidak ada nama yang lain.”

Setiap kali Ken Dedes berusaha membela dirinya, apabila dari dalam dirinya pula terlontar berbagai macam tuduhan dan sebutan.

Maka pada pekan berikutnya, pemimpin yang enam telah menghadapnya lagi. Mereka berharap agar Tuan Putri Ken Dedes mengabulkan permohonan mereka. Apalagi Ken Arok yang telah dihubungi menyatakan, apabila tidak ada orang lain, apa boleh buat.

“Apakah Ken Arok sendiri bersedia?” bertanya Ken Dedes.

Para pemimpin itu menyampaikan apa yang pernah mereka dengar dari Ken Arok.

“Pada dasarnya ia tidak menolak Tuan Putri.”

Sampai saat yang terakhir Ken Dedes masih tetap ragu-ragu. Namun kemudian dihentakkannya perasaannya untuk menemukan kekuatan. Dan terlontarlah dari sela-sela bibirnya yang tipis, “Aku menerimanya. Karena memang tidak ada orang lain yang lebih baik daripadanya.”

Para pemimpin yang enam itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka merasa bahwa pekerjaan mereka yang terberat telah selesai. Seandainya Ken Dedes tidak menerima Ken Arok untuk menggantikan Witantra, maka mereka masih harus bekerja lagi untuk mencari orang lain. Dan pekerjaan itu adalah pekerjaan yang sulit.

Tetapi ternyata kini bahwa Ken Dedes telah menerimanya. Sehingga yang perlu mereka kerjakan adalah saat-saat meresmikan pengangkatan Ken Arok, untuk menggantikan kedudukan Witantra.

Keputusan itu pun segera tersebar ke seluruh Tumapel. Mahisa Agni di padang Karautan pun kemudian diberi tahu pula oleh dua orang prajurit yang memang diutus menyampaikan berita itu. Bahkan kemudian Panji Bojong Santi, Mahendra dan Witantra pun mendengarnya pula.

“Ken Arok?” desis Witantra.

“Ya, anak muda itu,” sahut Mahendra.

Witantra yang masih belum sembuh benar dari luka-luka di dalam dadanya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ia anak muda yang baik, cerdas dan mempunyai kemampuan yang kuat. Ia telah berhasil memimpin sepasukan prajurit di padang Karautan. Dan kita dapat melihat hasil kerja itu.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan ia dapat menunaikan tugasnya yang baru. Mudah-mudahan tidak ada perwira-perwira yang lebih tua daripadanya, baik umurnya maupun pengalamannya, yang merasa tersinggung karenanya.”

“Tetapi ia telah banyak membuktikan kemampuannya.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah benar-benar tersisih dari istana. itu adalah akibat wajar dari kekalahannya. Ia sudah harus dianggap mati.

“Aku tidak mengerti, kenapa Mahisa Agni menolak tawaran itu,” desis Mahendra kemudian.

Witantra mengerutkan keningnya. ia pun mendengar pula penolakan itu.

“Tidak mengejutkan,” berkata Witantra, “Mahisa Agni bukan seorang yang menginginkan segala macam jabatan. ia pun orang yang baik. Terlalu baik, sehingga perasaannya mudah sekali tergerak apabila rasa keadilannya tersinggung.”

“Aku tidak dapat memperbandingkan keduanya,” berkata Mahendra kemudian, “manakah yang lebih baik di antara mereka.”

“Kita akan melihat,” jawab Witantra.

Mahendra pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Sekilas terkenang olehnya, bagaimana Mahisa Agni menyebut dirinya Wiraprana dan mewakilinya berkelahi. Memang benar kata-kata kakaknya. Anak muda itu mudah sekali tergerak apabila perasaan keadilannya tersinggung. Namun dengan demikian, orang lain mungkin akan dapat menyalahgunakannya.

Keputusan pemimpin Tumapel untuk mengangkat Ken Arok menggantikan Witantra, telah mendorong Witantra untuk mengambil keputusan pula. Bersama keluarganya ia akan membuang diri jauh-jauh dari kota Tumapel.

“Apakah itu kau anggap pemecahan yang paling baik Witantra?” bertanya gurunya.

“Aku sudah mati guru.”

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti, betapa parah luka di dada Witantra, tetapi betapa lebih parah luka di hatinya. Hati mudanya.

“Mungkin aku akan dapat mempergunakan kelebihan umur yang sudah seharusnya tidak aku miliki ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung.”

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian ia berkata, “Tetapi tidak seorang pun yang mengusir kau dari kota ini Witantra. Bukan saja pemimpin yang enam itu, Tuan Putri Ken Dedes pun tidak.”

“Mereka memang tidak perlu mengusir aku, Guru. Karena bagi mereka aku sudah tidak ada lagi.”

Panji Bojong Santi tidak dapat menahannya lagi. Betapa pahit perasaan orang tua itu. Ia merasa kehilangan muridnya, dua orang sekaligus. Tetapi ia masih mengharap, bahwa pada suatu ketika Witantra akan bangkit kembali, setelah luka hatinya itu berkurang.

Demikianlah maka menjelang peresmian Ken Arok yang diangkat untuk menggantikannya, Witantra pergi meninggalkan Tumapel. Dari gurunya ia mendapat petunjuk, untuk pergi saja ke utara, sehingga pada suatu ketika ia menemukan sebuah hutan yang rindang.

“Kau dapat membuka hutan itu Witantra. Daerah itu didiami oleh orang-orang yang masih jauh terkebelakang. Mungkin kau akan mendapat sedikit kesulitan dengan mereka, tetapi kau akan segera dapat mengatasinya. Orang-orang itu jarang-jarang sekali berhubungan dengan lingkungan yang lain.”

“Baik Guru. Aku akan mencoba bergaul dengan mereka.”

Namun agaknya Mahendra tidak sampai hati melepaskan mereka. Karena itu, katanya, “Kakang Witantra. Aku akan ikut bersama Kakang. Bukan maksudku untuk melepaskan diri dari lingkunganku. Aku hanya akan melihat di mana Kakang akan menetap. Kemudian aku akan kembali lagi ke tempatku dan pekerjaanku. Dengan demikian setiap kali kami memerlukan, aku dapat segera menemuimu.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepercik keharuan telah melonjak di dada Witantra.

“Terima Kasih,” jawabnya, “aku tidak akan dapat menolak kemurahan hatimu yang tulus ini.”

Maka sebelum matahari muncul dibalik perbukitan. Witantra telah menyiapkan sebuah pedati berisi alat-alat untuk membuka hutan. Sebuah pedati untuk bekal, dan sebuah pedati lagi untuk ditumpanginya. Beberapa orang pelayannya yang setia telah bertekad untuk mengikutinya meninggalkan Tumapel. Mereka telah menyerahkan diri mereka untuk hidup bersama-sama dengan Witantra.

“Kami telah merasakan manisnya, maka pahitnya pun harus kami telan bersama-sama.”

Bagaimanapun juga, istri Witantra tidak dapat menahan titik air matanya ketika pedati-pedati itu keluar dari halaman rumah yang sudah sekian lama dihuninya. Batang-batang pohon buah-buahan, pohon bunga-bungaan dan taman serta belumbang ikan yang selama ini dipeliharanya.

Dan kini semuanya itu harus ditinggalkannya.

Witantra menarik nafas ketika ia melihat titik air mata jatuh di pangkuan istrinya. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun juga. Ia mengerti perasaan apa yang bergolak di dalam dada istrinya itu.

Di belakang pedati yang ditumpangi oleh suami istri itu, Mahendra berada di punggung kuda sambil menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu bergetar di dadanya. Seperti Witantra ia pun yakin bahwa Kebo Ijo tidak akan melakukan pembunuhan atas Akuwu. betapapun bengalnya anak itu. Tetapi tanpa dapat membuktikan ia tidak akan dapat menolak keputusan yang telah jatuh, dan apalagi seakan-akan seluruh rakyat Tumapel telah membenarkannya.

Di belakang Mahendra berderik-derik suara pedati-pedati yang lain, dan kemudian beberapa ekor kuda pelayan-pelayan Witantra yang setia kepadanya.

Ketika ayam jantan mulai berkokok bersahut-sahutan. dan ketika di langit sebelah timur membayang warna kemerah-merahan Witantra telah meninggalkan kota. Dilaluinya jalan berbatu-batu di bulak-bulak sawah yang panjang, seakan-akan tidak berujung. Batang-batang padi yang hijau segar dialiri oleh air yang jernih lewat parit yang menelusuri di sepanjang tepi jalan.

Nyai Witantra memandangi sawah yang terhampar itu dengan hati yang ngelangut. Daun-daun padi yang kemerah-merahan disentuh oleh cahaya fajar, membuat jantungnya semakin cepat berdenyut.

Tetapi ia adalah seorang istri yang setia. Ke manapun suaminya pergi, ia tidak dapat tinggal, meskipun suaminya akan pergi ke daerah yang dipenuhi oleh kesulitan dan bahaya.

Sementara itu. Tumapel pun sedang sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut hari pengangkatan Ken Arok menjadi pemimpin tertinggi pasukan pengawal. Memang ada satu dua orang yang merasa tersinggung karenanya, namun kemudian mereka menyadari, bahwa Ken Arok memang telah menunjukkan kelebihan-kelebihannya.

Pada saat kesibukan sedang mencengkam istana, Ken Arok sendiri memerlukan memacu kudanya pergi ke rumah Witantra. Ia ingin minta restu kepadanya, bahwa ia telah ditunjuk untuk mengganti kedudukannya. Ken Arok ingin mengatakan, bahwa sama sekali bukan maksudnya untuk merebut kedudukan itu.

Tetapi Ken Arok menjadi kecewa. Ketika ia memasuki halaman rumah Witantra, rumah itu telah kosong. Pintu-pintu tertutup rapat dan bahkan regol-regol samping pun tertutup pula.

“Ke manakah isi rumah ini?” katanya di dalam hati.

Ken Arok pun kemudian meloncat turun dari kudanya. Dengan hati-hati ia melangkahkan kakinya naik ke tangga pendapa. Dirabanya pintu pringgitan yang tertutup rapat itu. Kemudian selangkah demi selangkah ia menelusur dinding dan turun lagi ke halaman di samping pendapa itu. Ketika terlihat olehnya pintu regol samping, tiba-tiba saja ia tertarik untuk melihat halaman belakang rumah itu. Apakah benar-benar telah kosong sama sekali.

Dengan hati-hati pula ia mendorong pintu yang tertutup itu. Dan ternyata ia berhasil membukanya. Kemudian perlahan-lahan ia berjalan ke halaman belakang.

Ken Arok menjadi berdebar-debar. Rumah itu benar-benar telah kosong. Semua pintu telah tertutup, dan bahkan pintu-pintu longkangan belakang yang menuju ke dapur.

Tanpa sesadarnya ia menjengukkan kepalanya ketika ia berhasil membuka sebuah pintu longkangan. Sepi.

Namun tiba-tiba ia terperanjat ketika ia mendengar sebuah sapa halus dari dalam dapur yang disangkanya kosong itu.

“Marilah anak muda.”

Sejenak Ken Arok justru membuka di tempatnya. Dicobanya melihat langsung ke dalam dapur yang masih agak gelap karena pintunya yang belum terbuka sepenuhnya.

“Marilah, jangan takut. Aku bukan wewe yang sedang mencari anak.”

Ken Arok ragu-ragu sejenak. Kemudian ia pun melangkah maju. Dengan satu hentakan ia telah berhasil membuka pintu dapur itu selebar-lebarnya.

Ken Arok berdiri tegak di tempatnya seperti tiang yang mati. Matanya terbelalak ketika ia melihat seorang gadis yang sedang berbaring justru di amben dapur.

Tanpa bangkit dari pembaringannya gadis itu tersenyum sambil berkata, “Apakah kau mencari aku?”

Dada Ken Arok menjadi terguncang-guncang. Agaknya dari tempatnya berbaring gadis itu dapat melihat langsung ke pintu longkangan, sehingga ia melihat kedatangannya.

“Kemarilah Ken Arok,” desis gadis itu.

“Apa kerjamu di sini Ken Umang?” bertanya Ken Arok.

Ken Umang tertawa, “Tidak apa-apa.”

“Ke manakah seisi rumah ini?”

“Pergi. Semuanya pergi karena putus asa. Tetapi aku tidak. Aku mau hidup dan menikmati hidup ini. Kenapa aku harus ikut melarikan diri dari kenyataan? Betapa bodohnya. Aku menolak untuk ikut pergi Kakang Witantra, jauh ke tempat yang paling sepi. Sebagai seorang petapa yang sama sekali tidak ikut membangun masa depan lagi.”

Ken Arok mengerutkan keningnya.

“Aku mengucapkan selamat,” berkata gadis itu, “bukankah kau akan menjadi pemimpin tertinggi pasukan pengawal menggantikan Kakang Witantra? Ha, kau akan menjadi terlampau dekat dengan janda yang baru saja kematian suaminya itu.”

Terasa dada Ken Arok berdesir. Ditatapnya mata Ken Umang tajam-tajam.

Sementara itu Ken Umang pun bangkit sambil mengibaskan rambutnya yang terurai. Kemudian duduk sambil tersenyum. Dijulurkannya kakinya di atas amben sambil berdesah, “Kenapa kau masih berdiri di situ?”

Seperti orang yang kehilangan, akal Ken Arok melangkah maju. Ia pernah menjadi seorang yang paling liar di sekitar padang Karautan. Sebagai seorang hantu ia pernah berbuat apa saja terhadap setiap orang, setiap perempuan dan gadis-gadis yang ditemuinya.

Dalam keadaannya kini. terasa darah Ken Arok itu telah mendidih. Selangkah demi selangkah ia maju, dan Ken Umang itu masih saja tersenyum.

Ketika Ken Arok berada beberapa langkah daripadanya, maka tiba-tiba gadis itu menangkap tangannya dan menariknya sambil berdesis, “Kau adalah seorang senapati yang menggemparkan. Kau masih muda dalam kedudukan yang begitu tinggi, sehingga kau pasti akan menjadi sorotan gadis-gadis.”

Ken Arok yang memiliki segala jenis pengalaman di dalam dirinya itu sama sekali tidak dapat melawan senyum Ken Umang yang serasa membakar jantung. Seperti seorang anak yang dungu ia duduk di amben itu sambil mengusap keringat yang mengalir dari keningnya.
Ken Arok tidak berbuat apapun ketika gadis itu membelai pundaknya sambil berkata, “Aku tidak mau pergi dari kota ini. Aku masih mempunyai beberapa orang keluarga. Karena itu, maka aku tetap tinggal di sini. Aku bermaksud untuk tinggal pada keluargaku yang lain. Sebelum aku berangkat kau tiba-tiba datang kemari. Dan kau telah memberikan harapan baru bagi hidupku di kota ini.”

Ken Arok yang telah berhasil membunuh Akuwu Tunggul Ametung, membunuh Empu Gandring dan membuat istana Tumapel gempar karena Kebo Ijo yang terbunuh pula itu, kini duduk diam, seolah-olah tidak mempunyai kekuasaan apapun atas dirinya sendiri.

“Hari ini kau akan diwisuda,” desis Ken Umang, “dan kau tidak sebodoh Mahisa Agni itu.”

Ken Arok tidak menjawab.

Namun tiba-tiba tengkuknya meremang ketika ia mendengar Ken Umang tertawa sambil berdesis, “Kau tidak boleh lepas dari tanganku. Kau adalah seorang anak muda yang paling memenuhi unsur idamanku.”

Ken Arok masih terdiam.

“Setelah kau menjadi seorang pemimpin tertinggi pasukan pengawal, maka kau harus segera beristri. Kau dengar?”

Ken Arok mengangguk.

“Dengan demikian barulah kau menjadi lengkap.”

Ken Arok mengangguk pula. Tanpa dapat melawan lagi Ken Umang menariknya semakin dekat.

Namun tiba-tiba Ken Arok itu menyentakkan dirinya. Ia adalah seorang yang telah berhasil membuat lakon yang dahsyat. Dan ia telah berhasil mendalanginya. Karena itu, ia tidak boleh kehilangan dirinya sendiri. Betapa lunak dan mesra sentuhan tangan gadis itu, namun Ken Arok pun kemudian meloncat berdiri sambil menggeretakkan giginya. Sambil menunjuk gadis itu ia menggeram, “Apakah yang kau lakukan he anak gila?”

Ken Umang terkejut. Namun ia pun kemudian tertawa, “Jangan marah. Demikianlah hasrat hati nuranimu. Tetapi kau masih tetap dapat dikuasai oleh akalmu. Nah. mudah-mudahan kau berhasil menjadi seorang pemimpin yang baik. Tetapi setiap saat kau akan tetap teringat kepadaku. Dan aku pun akan menunggu kau datang kepadaku dan menjemputku.”

“Persetan!”

Ken Umang masih tetap tertawa ketika ia melihat Ken Arok berlari meninggalkan dapur itu. Katanya, “Jangan takut, aku tidak akan mengejarmu. Kaulah yang akan mencari aku kelak.”

Ken Arok tidak berpaling lagi. Ia kemudian berlari ke kudanya di halaman depan dan segera meloncat ke punggungnya.

Seperti seseorang yang ketakutan dikejar oleh hantu yang akan menghisap darahnya, Ken Arok segera memacu kudanya meninggalkan halaman rumah Witantra. Namun tanpa dapat ditahan-tahankannya lagi, ia masih juga berpaling.

Ken Umang masih berada di dalam dapur sambil tertawa berkepanjangan. Seperti orang yang kehilangan ingatan ia berbicara kepada dirinya sendiri, “Ternyata Ken Arok adalah seorang anak muda yang lemah hati. Jauh lebih lemah dari Mahisa Agni. Aku bersumpah pada suatu saat aku akan mengikatnya di bawah kakiku.”

Dan suara tertawa, Ken Umang pun menjadi semakin tinggi.

“Mahisa Agni pasti akan terkejut melihat pada suatu saat aku menjadi seorang istri dari pemimpin yang tujuh di Tumapel.”

Namun wajahnya tiba-tiba berkerut. Terlintas di kepalanya terbayang tentang seorang perempuan yang cantik, janda Akuwu Tunggul Ametung.

“Huh, masih juga ada perempuan yang lebih tinggi dari istri salah seorang pemimpin yang tujuh di Tumapel.”

Ken Arok yang berpacu itu pun berpacu semakin cepat. Tetapi ia tidak dapat melarikan dirinya dari bayangan-bayangan tentang gadis yang telah membelai kulitnya. Sentuhan tangannya serasa telah menggetarkan darahnya sehingga jantungnya pun serasa telah terbakar.

Tetapi Ken Arok harus tetap berpegangan pada nalarnya. Ia ingin tidak saja menjadi seorang pemimpin tertinggi pasukan pengawal, sekaligus menjadi salah seorang dari pemimpin yang tujuh. Apabila Akuwu, siapa pun orangnya telah melakukan tugasnya, maka kekuasaan dari pemimpin yang tujuh itu sangat terbatas.

Karena itu, maka Ken Arok telah mulai membayangkan betapa Ken Dedes kini menjadi seorang yang paling berkuasa di Tumapel. Apalagi perempuan itu adalah perempuan yang memiliki kelihaian yang mengagumkan.

Ken Arok menghentak-hentakkan kendali kudanya. Hari ini ia akan menerima pengangkatannya sebagai seorang pemimpin tertinggi pasukan pengawal. Tetapi yang membayang di kepalanya adalah kesempatan-kesempatan yang akan terbuka karenanya.

Ken Arok memejamkan matanya sejenak. Terkilas di kepalanya cahaya yang kemilau memancar dari tubuh Ken Dedes. Pancaran cahaya itu adalah pertanda bahwa Ken Dedes adalah seorang perempuan yang lain dari perempuan kebanyakan.

“Sepanjang pendengaranku, perempuan itu akan menurunkan orang-orang besar yang kelak akan memiliki kekuasaan dan kewibawaan,” desis Ken Arok.

“Persetan dengan gadis yang gila di rumah Witantra itu,” gumamnya.

Namun kehangatan gadis itu masih terasa seakan-akan merayapi kulitnya.

Memang keduanya berbeda, Ken Dedes yang lembut, dan Ken Umang yang panas.

Tiba-tiba tebersit sepercik nafsu di kepalanya, “Kenapa tidak keduanya?”

“Ah,” ia berdesah.

Ken Arok ternyata kini sedang terombang-ambing antara dua dunia yang berlawanan. Dunianya yang hitam dan dunia lain yang pernah ditemukannya. Dan keduanya kini sedang bergolak berebut pengaruh di dalam hatinya.

Tetapi kuda Ken Arok berpacu terus. Semakin lama semakin dekat dengan istana.

Ken Arok akhirnya sampai juga pada saatnya, ia menerima pengangkatan itu.

Ketika matahari telah mulai condong ke barat, maka terdengarlah suara yang menggelegar dari dalam istana, suara sebuah gong yang besar, yang tergantung di paseban depan.

Sejenak kemudian Ken Dedes sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Tumapel atas dasar penyerahan kekuasaan dari Akuwu Tunggul Ametung sejak semasa hidupnya, menyerahkan sebilah keris pimpinan kepada Ken Arok dan mengalungkan seutas tali yang berwarna kekuning-kuningan di lehernya, sebagai pertanda bahwa Ken Arok dengan demikian telah diangkat menjadi seorang pemimpin tertinggi dari pasukan pengawal.

Tidak seorang pun yang mempunyai alasan yang cukup untuk menentang keputusan itu. Sehingga dengan demikian tidak ada lagi persoalan di antara para pemimpin tertinggi Tumapel, para senapati, para manggala dan pandega serta seluruh rakyat.

Namun persoalan yang tumbuh justru di dalam dada Ken Dedes itu sendiri. Betapa tangannya menjadi gemetar ketika ia meletakkan tali yang berwarna kekuning-kuningan itu di leher Ken Arok, serta ketika ia menyerahkan keris kepada anak muda itu. Dalam pakaian kebesaran Ken Arok menjadi semakin mengagumkan di dalam pandangan mata Ken Dedes.

Dan getar itu ternyata dapat ditangkap oleh perasaan Ken Arok yang tajam. Sentuhan tangan Ken Dedes pada saat mengalungkan tali yang kekuning-kuningan itu, serta ketika tangan Ken Arok menerima keris pimpinan, terasa bahwa jantung Putri yang memegang pimpinan tertinggi di Tumapel itu bergetar.

Tanpa sesadarnya Ken Arok memandang wajah Tuan Putri yang sedang berpakaian kebesaran itu pula. Pada saat yang bersamaan Ken Dedes pun sedang memandanginya pula.

Benturan pandangan itu telah mengguncangkan hati keduanya. Hati Ken Dedes serasa meledak berkeping-keping. Hampir saja ia kehilangan kekuatan untuk menahan dirinya sendiri. Untunglah bahwa ia masih berhasil menguasai perasaannya, sehingga ia tidak meloncat dan berlari ke dalam biliknya.

Sementara itu Ken Arok pun segera menundukkan kepalanya. Namun tangannya yang memegang keris itu pun menjadi gemetar pula.

Ketika Ken Arok telah kembali ke tempatnya, maka ia sama sekali tidak berani lagi mengangkat wajahnya. Ia menunduk dalam-dalam dengan jantung yang serasa mengembang.

Demikianlah maka untuk hari-hari seterusnya. Ken Arok adalah seorang pengawal yang mengagumkan. Ternyata ia tidak hanya pandai memanjakan nafsunya, tetapi ia benar-benar mampu melakukan tugasnya.

Namun dengan demikian, ia menjadi selalu dekat dengan Ken Dedes sebagai pemegang pimpinan tertinggi di Tumapel. Sebagai minyak yang selalu dekat dengan api. maka akhirnya menyalalah hati keduanya tanpa dapat ditahan-tahankan lagi.

Sementara Mahisa Agni bekerja keras membangun padukuhannya yang baru, terbetiklah berita, bahwa hubungan antara Ken Dedes dan Ken Arok sama sekali sudah tidak dapat dicegah lagi.

Namun Mahisa Agni telah belajar banyak dan pengalaman hidupnya. Ia tidak lagi dapat diterkam oleh kehilangan akal dan kebingungan. Ia menanggapi masalah hidup dengan sepenuh kedewasaan.

Karena itu, maka hatinya kini benar-benar telah lekat dengan kerjanya, seperti Witantra yang semakin mencintai kesepian yang ditanggapinya sebagai suatu kedamaian di dalam hati setelah ia berhasil menyesuaikan hidupnya dengan alam di sekitarnya.

Namun semuanya ternyata tidak berhenti di tempatnya. Semua masih bergerak dalam lingkaran yang saling bersinggungan.

Maka seperti tersebut di dalam Kitab Pararaton, “Selanjutnya Dewa memang telah menghendaki, bahwasanya Ken Arok memang sungguh-sungguh menjadi jodoh Ken Dedes, lamalah sudah mereka saling hendak-menghendaki, tak ada orang Tumapel yang berani membicarakan semua tingkah-laku Ken Arok, demikian juga semua keluarga Tunggul Ametung diam, tak ada yang berani mengucap apa-apa, akhirnya Ken Arok kawin dengan Ken Dedes (terjemahan: Ki J. Padmapuspita).

Tetapi ternyata yang terjadi belumlah akhir yang terakhir.

Pada saat perkawinan itu berlangsung, maka kekuasaan pun seakan-akan telah berpindah pula ke tangan Ken Arok. Tetapi Ken Arok bukanlah seorang yang lekas puas. Ia kemudian mengangkat kepalanya, dan memandang kepada kekuasaan Kerajaan Kediri.

Namun persoalan di dalam dirinya masih akan berjalan. Di dalam diri Ken Dedes telah terkandung putra Tunggul Ametung. Bayi itu kelak akan dilahirkan, berbareng dengan lahirnya masalah-masalah baru.

Demikianlah, seperti matahari yang mengelilingi bumi, maka yang pernah tenggelam akan terbit pada saatnya. Dan cerita tentang keluarga ini masih akan berkepanjangan, dalam sangkutannya dengan nama-nama yang pernah tersebut di dalam kisah ini.”

Yogyakarta, 21 Desember 1971

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 12 Februari 2010 at 05:00  Comments (82)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pdls-50/trackback/

RSS feed for comments on this post.

82 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ya wis, tak jogo gerdu sendiri … esuk uthuk-2

    • Terima kasih untuk perjuangannya Ki Ismoyo, terima kasih untuk infornya Ki Seno …

      Dan terima kasih untuk rapelan minusnya Minggu ini!
      Saya pingin kirim kembang Velentine untuk Ki Is dan Ki Arema, (atas nama Ni Sawitri) cuma ongkos kirimnya kok luuaarraang puuoolll

      hikss….
      discan terus di email saja Ki, nanti tinggal membayangkan saya.

      • Antri nomer SIDJI, ngunduh minggu depan!

        • saya mau kirim coklat buat cantrik, dan tentunya yang terutama untuk Ni Savitri

        • saya mau antri nomer loro !

          • NOL…..ngarep dhewe

    • nomer loro !

  2. happy valentine,gong xi fa cai, malam minggu kelabu.. ya ga papa sabar.. sabar..
    tentang usulan ki seno yang diwedhar kitab 51 dulu… kayanya janggal karena ceritanya pasti ga nyambung..
    jdi diwedhar sesuai urutan kitab aja ki…
    hadir dan ndelik lagi..

    • padhepokan sebelah dah wedhar rontal llhhhhoooooooooo

  3. Selamat pagi, salam buat semuanya
    hadir nunggu jatah (sing sabar….)

  4. Saya mah terserah kebijaksanaan Ki Senopati, Ki Arema, maupun Ki Ismoyo dan pengasuh yang lain.
    Terima kasih atas kesempatan ngunduh yang selama ini kami lakukan.
    Saya hanya cantrik pada tataran yang paling rendah koq.

  5. Setelah lama tidak ngabsen, hadiiiir Ki.
    Menghadirkan kembali sesuatu yang kuno dan langka adalah pekerjaan yang tidak mudah. Adalah wajar dalam perjalanannya mengalami kendala.
    Saya kira para cantrik/mentrik tidak akan berkeberatan untuk membaca lontar tidak urut, seperti Ki Arema sendiri mengalaminya. Begitukan Ki?

    Berbicara tentang Gong Xi Fa Cai, jika Ki/Ni Sanak ke Batam, akan ditemui suasana yang memerah. Lampion dan pernik-pernik khas budaya cina bertebaran di mana-mana. Suasana Chinese Town. Meriah.
    Hem, salah satu hasil dari alm Gus Dur.
    YO KE BANKTAM

    • Oops. Maksudnya KE BATAM 🙂

      • OK stj…..51 masuk sementara digendhak
        poro cantrik-mentrik…..dadi “simpenan”

        On 12 Februari 2010 at 07:31 ki sunda Said:
        Setelah lama tidak ngabsen, hadiiiir Ki.
        Menghadirkan kembali sesuatu yang kuno dan langka adalah pekerjaan yang tidak mudah. Adalah wajar dalam perjalanannya mengalami kendala.
        Saya kira para cantrik/mentrik tidak akan berkeberatan untuk membaca lontar tidak urut, seperti Ki Arema sendiri mengalaminya. Begitukan Ki?

        Berbicara tentang Gong Xi Fa Cai, jika Ki/Ni Sanak ke Batam, akan ditemui suasana yang memerah. Lampion dan pernik-pernik khas budaya cina bertebaran di mana-mana. Suasana Chinese Town. Meriah.
        Hem, salah satu hasil dari alm Gus Dur.
        YO KE BANKTAM….Oops,Maksudnya KE BATAM

        sugeng enjang ki SENO, Pdlser sedoyoo

    • Ada yang terlupa, mungkin Ki/Ni Sanak sudah ada yang mengetahui arti BATAM?
      – Bila Anda Tiba Anda Menyesal
      – Bila Anda Tabah Anda Menang
      – Begitu Anda Tiba Amoy Menunggu 🙂
      – ??? lupa, siapa yang mau melengkapi?

      • Batam….BAntal AMan !

  6. kalau menurut aq sih mending dilompat aja daripada sakaw kitab

  7. jika sanak kadang PdLS menghendaki, rontal PdLS-50 dilewati untuk medar PdLS-51 lebih dulu.

    usul alternatif:
    sebaiknya nyebar godhong kara, … sabar sakwetara, ….
    pdls tidak diwedar dengan cara melompat-lompat tetapi menunggu kesiapan rontal ke-50, sebab sayang sekali jika karya sebaik itu disimak tidak secara urut-runtut tataran demi tataran.

    sebagai gantinya, ada baiknya wedaran bdbk dapat dilakukan secara “ajeg” dan tepat waktu, misalnya dua hari sekali atau kalau bisa malahan setiap hari, he, he, he, he, ….

  8. POKOKE MANUT WAE

  9. Kalau diperkenankan ikut urun rembug, saya cenderung mengusulkan rontal PDLS-51 (babak Bara di Atas Singgasana) diwedar terlebih dahulu, sambil menunggu rontal PDLS-50 sampai di hadapan Ki Arema. Sesekali berjalan mundur, ada baiknya lho(Agung Sedayu dan Glagah Putih juga menyapu sambil berjalan mundur):-)

    Nuwun.

    • Sugeng rawuh, sugeng tetepangan bude Tatik. Mugi panjenengan kerso asring2 rawuh mriki, kapurih poro kakung boten ngendikan ingkang saru2, ….. margi pakewed menawi wonten piyantun putri ingkang rawuh.

      Ki Seno, …… Maskumambang namung nderek kerso panjenengan kemawon pundi ingkang sae dipun lampahi.

      Nderek prihatos kawontenan Ki Ismoyo, ….. mugio boten usah menggalih wedaran rumiyin, ….. ingkang penting panjenenganipun enggal dangan.

      Kulo nderek prihatos,
      Ki Truno podang

  10. woooo, jebulnya kitabnya digondol kucing tha….

    santai saja, ki ismoyo, ki arema, jangan sampai kesehatannya yang sedang dalam pemulihan menjadi memburuk hanya gara-gara ingin mengedarkan kitab sesuai jadwalnya…

    kita, para cantrik yang tinggal nyadong, tidak ingin terburu nafsu dengan mengorbankan para bebahu padepokan, koq. yang penting ki ismoyo, ki arema dan para bebahu padepokan tetap bisa bercengkerama dengan kami-kami dan nanti malam ada yang bisa dibaca oleh para cantrik… he…he…he….

    Lho…., telat aku
    Episode 1 dan 2 nya dimana ya.
    Piss……

    • Nggih, betul ki Banu, kami para cantrik tetap akan bersabar. Memang enaknya baca berurutan nggak loncat-loncat sehingga tandingnya Witantra dan Agni bisa bikin greget. Kalau sudah tau akhir dari tanding itu rasanya kurang rame.
      Dan sambil nunggu matur nuwun kitab dan kucing nya

    • matur nuwun ki BANU…….kitab dulu
      baru nangkap kucing-nya.

    • hihi ku malah ada perang bubatnya tammat tu wew

      • wew, kok tak ada? diubek-ubek di LKH hanya nemu GM, BDTdA, HP, CM & NP.
        sembunyi di manakah gerangan PB?

        • Digondol kucing Ki Banu

        • PB blom ku upload, males, aja [ercetakannya suka bikin ribut

    • wah ki banuaji kucing kucingan neh … hehehehe

      • he…he…he… lama gak lihat ki zack ngisi komen…. apalagi ki goenas, ki sas, yang lebih seru kalo pas lagi pada beradu usil sama ki pandan….

        • he..he…

          ki goenas ro ki SAS wis podho tobat olehe mbelink

    • hhhmmm….penasaran juga sama gajah mada…kalo boleh tahu di mana…ngun

  11. Baru baca jilid 46 jd gak bakalan sakao …he he he

  12. kalau hari minggu sudah bisa diwedar, ya setuju menunggu, tapi kalau belum ya loncat parit, sekali sekali nggak apa apa, nuwun

  13. hadir…

    padepokan sebelah dipingit :protected

    • Padepokan pundi toh kang???

    • Welcome back ki PA, ki arema dah mo lapor polisi lho…

    • ki Djojosm..nyuwun sewu kolowingi nganglang teng mbetawi mboten sempet ngindik2 mentrik2ipun panjenengan….

      ki Wie,…senopatinipun malah remen nek mboten diuyeg2

  14. dulu juga diwedarnya sebulan sekali….

  15. Matur nuwun, Ki Truno, sugeng tetepangan ugi dumateng panjenengan, saha sadaya sadulur ing padepokan PDLS. Ananging nyuwen ngapunten, boso Jowo kromo inggil dalem kirang lancar. Kalau diperkenankan, saya mohon izin menggunakan bahasa Indonesia saja.

    Nuwun.

  16. Tampaknya, lebih baik bersabar menunggu PdLS-50 daripada harus loncat-loncat. Sesuai dengan janji, wedar 2 hari sekali, pada saatnya akan dirapel sesuai dengan rontal yang terhutang. Sanak-kadang PdLS supaya bersabar.

    Kasinggihan Ki.
    Wong sabar iku subur;
    wong sabar iku suwe rekasane (eh kleru…)
    Wong sabar iku luhur wekasane

    Sembari menunggu wedarnya rontal 50, cantrik bayu aji mau medar sabdå, dongeng karo rengeng-rengen. Ning dongenge mengko nek wis wayah sirep lare.
    Grimis-grimis, saiki lagi mbakar jagung, unjukane teh nasgitel. Nyamleng tenan.

    Absen:
    Ki Arema, Ki Ismoyo, Ki Pandalas, Ki Yudha, Ki Truno, Ki Seno, Ki Sunda, Ki Wie, Ki Djodjosm, Ki Kartojudo, Ki Kompor, Jeng Tatik, Jeng Dewi KZ.
    Yang lainnya ????

    Sedåyå kemawon: Sugeng dalu. Mugi pårå kadang tansah manggihi karaharjan.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  17. Hadir wayah sepi uwong………
    sugeng dalu para kadang ADBMers / PDLSers

    • sugeng dalu Ki Gembleh.
      sayup-sayup sudah terdengar kentongan dara muluk.

  18. Ada cerita menarik tentang hilangnya Ki Mbelink dari garis edar beberapa hari yang lalu.
    sekitar jam 7 pagi, Kaget juga waktu Ki Pandanalas kirim SMS, dikatakan bahwa beliau ada di Bioskop Metropolis,beliau bertanya jam berapa biasanya Film dimulai, saya bingung untuk menjawabnya, wong dia yang ada di bioskop, kok nanya ??, akhirnya karena menghormati seorang sahabat, saya balas juga tuh sms nya, saya bilang : lihat dan baca saja di daftar film hari ini.
    Ki PA pun membalas sms saya, isinya seperti ini :GIMANA SAYA BISA BACA DAFTAR FILM HARI INI, WONG SAYA TERKUNCI DI DALAM BIOSKOP.SAYA BABLAS KETIDURAN DI DALAM BIOSKOP.

  19. Ki Senopati,
    Ki Sanak sermuanya,

    Bukan karena ada fotocopy, sebenarnyalah PdLS-50 yang ada memang fotocopy, tapi tidak mengurangi materi isinya.

    Scaning pdls jilid 50 sudah siap, sedikit tergendala masalah kuno, pln putus. sedikit dirapikan tinggal format djvu, ready dan kirim ke Ki Senopati…mudah-mudahan malam minggu tidak menjadi kelabu.

    nuwun.

    • Pak RT Ismoyo…kontrol gardu ronda KI…
      Lapor Pak RT, Ki widura hari ini Absen, diganti Kakang Gembleh.
      Ojo repot-repot KI Is, kopi PDLS 50 enggak pake gula sudah cukup buat lelekan malam mingguan.
      Salam dari saya untuk menjaga kesehatannya.

      nuwun

  20. esuk2..uthuk2..mruput sinambi nyruput..

    siap2 nganglang maneh … meh nyoba taneman rambutan Binjai….

    • @Ki Pandanalas
      Sugeng esuk uthuk-uthuk Ki. Nyoba tanemannya apa rambutnya (eh rambutannya ??)

      • rambutnya rambutan ki…wis rodho semu ireng..kedhalon

        • Selamat pagi Ki, semoga dalam keadaan sehat semuanya. Meskipun hari ini tdk ada kitab yang diwedar tapi untungnya Ki PA mau bagi2 rambutan binjai terimakasih Ki.

        • Semu ireng…nopo semu putih Ki…..

  21. Ki Arema,

    PdLS-50 mbok menawi sampun cemepak liwat yahoo, monggo menawi bade dipun wedar.

    nuwun.

    Waduh…., matur suwun ki.
    Malam minggu tidak jadi kelabu, berkat jerih payah Ki Ismoyo.
    Kami semua akan selalu berdoa, semoga kesehatan Ki Ismoyo segera kembali seperti sedia kala dan tidak kambuh lagi.

    • Ki Is, Ki Arema

      Pandongå kulå. “Slamet, sehat, berkah”

      Klik PdLS 50 unduh………………

      Nuwun,

      cantrik bayuaji

      • On 13 Februari 2010 at 08:53 pandanalas Said:

        matur suwun…
        pagine ora kelabu
        mbengine mesthi kelambu-kelambu

    • matur suwun…

      pagine ora kelabu
      mbengine mesthi kelambu

    • Ki Ismoyo, Ki Arema saya mengucapkan banyak terima kasih atas diwedarnya kitab PdLS 50. Saya dapat berdoa mudah mudahan njenengan berdua senantiasa diberi kesehatan yang prima dan tentu mendapat ridho Allah atas segala kebaikannya menyenangkan rakyat padepokan.

      Amiinn….
      Itu yang kami harapkan Ki, semoga kami tetap sehat, sehingga masih bisa bersilaturahmi dengan sanak-kadang PdLS, GS dan ADBM.

    • Hatur nuhun K Ismoyo, walaupun dalam proses penyembuhan masih menyempatkan diri untuk mewedar PdLS-50.

      Semoga kesehatan Ki Ismoyo makin membaik dan tentunya dengan mesin pinjaman PLN Batam yang tiba di Tanjung Pinang kemarin(?), akan mengurangi stress Ki Ismoyo dan sanak kadang di sana karena masalah listrik yang byar pet….pet…pet terus. Amin.

      • Matur nuwun Ki Ismoyo, semoga Ki Ismoyo dan keluarga selalu sehat dan berbahagia.

    • wah, dapat angpaw dari ki is…

      suwun, ki is, ki arema…

  22. matur nuwun sanget ki

  23. matur nuwun ki Is atas rontalnya…
    ki PA pundi oleh2 saking tomang???

    • katiwasan ki Wie…si tomang disate sangkuriang je…

      meh ngudi dununge dayang Sumbi

      • hehehe..
        jadi kopdar ki? ada nambah bolo lagi lho…rumahnya kaharudin nasution ujung…

        • sinten Nyi…eh…ki Wie

          • Wkwkwk…. Kadose piyambakipun sampun kenal panjenengan ki. Asmanipun wonten adbm adhie napa ajie (radi loepa)…

          • he..he..

            ki adjie njih…makaryo teng sing kriting2..xixixixi

          • brintik cilik2..nopo brintik gede2…

  24. MATUR SUWUN,
    Ki Ismoyo dan Ki arema….
    Dengaren ANTRI nomer SIDJI …. ngunduh Nomer SETUNGGAL ….. he he heeee

    Pesan Ki Ismoyo memang mak NYUS ….

  25. Nuwun,
    Sugeng pinanggih malih para kadang, cantrik bayuaji sowan.
    Untuk menambah wawasan sinambi maos rontal 50 tentang “kasamarannya (?) Sang Akuwu Baru atau Baru Akuwu Ken Angrok bak binatang liar yang terpancing godaan si gadis ‘kenes’ Ken Umang. He he he.

    Tapi di sini cantrik bayuaji tidak akan mendongeng tentang si umang, pun cantrik terpesona akan arca perwujudan nDedes yang ayu. Prajñaparamita.

    Berikut dongengnya:

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-7]

    DONGENG KEN DEDES, DONGENG ARCA PRAJÑAPARAMITA

    Terdapat tiga arca Prajñaparamita, yang diketahui hingga sekarang. Pertama adalah arca Prajñaparamita (Ken Dedes) yang sudah banyak dikenal orang karena keindahannya. Arca tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

    …> dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-singosari-pdls/8/

    • Matur nuwun Ki Bayuaji dongengipun, kulo tenggo dongeng sanesipun ……

      • Dawah sami-sami Ki. Sugeng tepang.
        Nuwun

        • Sugeng tepang ugi Ki.
          Matur nuwun.

  26. matur nuwun ki…

  27. Matur sembah nuwun Ki Arema, Ki Ismoyo.
    PdLS-50 sampun kulo unduh.

  28. tuk bundek djvu 1-50 kutaruh disini yeee http://kewlshare.com/dl/56288f897653/PDLS_1-50-ISMOYO-DJVU.djvu.html

  29. Matur nuwun Ki Is, Ki Arema,
    Sampun pikantuk jatah kangge wungon.

  30. nguantuk…belum bisa tidur…bunyi kembang api..gong xi fa chai

  31. Matur sembah nuwun Ki Arema, Ki Ismoyo.
    PdLS-50 sampun kulo unduh.

  32. Sugeng enjang ki Sanak sedoyo.
    koq gandok sebelah dereg dibukak.

  33. lhadalah digoleki nganti mripat kroso pedhes jebulane digembol ki Arema neng kanthong klambi terus dipeniteni , matur nuwun ki , rontalipun .

    NUWUN !!!!!!!!

  34. matur nuwun. nembé kémawon nyedhot.

  35. Nuwun sewu,
    Mboten namung rontal (punika ingkang leres, sanes lontar) 50 ingkang dereng wonten, nanging ugi rontal 45. Wah, olehku ngenteni nganti cengklungen jare. Menawi sampun wonten, nyuwun dipun paringi uninga.
    Matur nuwun.

    sabar ki, pada saatnya tentu akan diwedar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: