PdLS-50

BARA DI ATAS SINGGASANA
Bagian I – Putra Mahkota

Yang pernah terjadi di Tumapel sudah hampir dilupakan. Rakyat Tumapel sendiri sudah tidak pernah menyebut nama Akuwu Tunggul Ametung yang sudah tidak ada lagi. Mereka tidak pernah mempersoalkan perkawinan Ken Arok dengan Ken Dedes. Semuanya seolah-olah sewajarnya dan seharusnya terjadi. Para pemimpin yang tujuh, para perwira dan manggala, tidak ada yang membicarakannya lagi. Seperti juga tidak ada lagi yang membicarakan kematian Kebo Ijo.

Apalagi setelah rakyat Tumapel melihat kemampuan Ken Arok memerintah. Tumapel tidak lagi Tumapel yang sudah puas dengan dirinya seperti pada saat Akuwu Tunggul Ametung memerintah. Tumapel kini seakan-akan selalu bergolak. Tanah-tanah kering harus menjadi basah, dan anak-anak muda yang duduk termenung harus bangkit mesu diri, membentuk kekuatan yang setiap saat dapat digerakkan untuk tujuan apapun.

Demikianlah Ken Arok menjadikan Tumapel semakin lama menjadi semakin kuat dan makmur. Hidup rakyatnya menjadi kian baik, penghasilan pun bertambah-tambah.

Ken Dedes yang menyerahkan kekuasaannya dengan diam-diam kepada Ken Arak sama sekali tidak menyesal. Ia melihat perkembangan Tumapel dengan dada tengadah.

Bukan saja sebagai seorang permaisuri, tetapi sebagai seorang istri pun Ken Dedes menemukan yang tidak pernah didapatkannya sebelumnya. Meskipun Ken Arok lebih sering keluar istana, tetapi Ken Arok tidak pernah melupakannya. Apalagi Ken Dedes mengerti, bahwa setiap kali Ken Arok meninggalkan istana, maka sesuatu telah dilakukannya untuk mengembangkan Tumapel.

Hanya sekali-sekali saja Ken Arok melupakan kesibukan itu. Ada sesuatu yang masih kadang-kadang dirindukannya. Berburu di hutan-hutan seperti yang dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi Ken Arok telah digerakkan oleh kenangannya pada masa-masa mudanya. Hutan-hutan rindang di sekitar padang Karautan sangat menarik perhatiannya. Apabila ia sedang berburu di hutan itu dibawanya Ken Dedes serta, dan ditinggalkannya itu di taman yang pernah dibuatnya dahulu, di dekat padukuhan baru bagi orang-orang Panawijen.

Hari-hari yang demikian terasa sangat menyenangkan. Juga bagi Ken Dedes. Hijaunya padukuhan yang baru itu memberi kesegaran kepadanya. Ia merasa bahwa ia telah memberikan arti dari Hidupnya kepada kampung halamannya.

Tetapi ada juga orang yang menjadi sangat kecewa. Perkawinan Ken Arok dengan Ken Dedes telah membuatnya hampir berputus asa. Namun kekerasan hatinya kemudian telah mendorongnya ke dalam tindakan yang kurang bijaksana. Namun ia sama sekali tidak mau memikirkan kepentingan orang lain. Bahkan ia berkata di dalam hatinya,”Mereka harus tahu, bahwa aku pun mampu menundukkan hati rajawali yang liar itu.”

Demikianlah maka semua usaha dilakukannya. Dua kali lipat dendam yang tersimpan di dadanya harus dituntutnya. Mahisa Agnilah yang mula-mula menyakitkan hatinya, dan kemudian Adik perempuannya, Ken Dedes.

Masa-masa berburu yang dilakukan oleh Ken Arok menjadi salah satu kesempatan baginya. Dan ia telah mencoba untuk mempergunakannya sebaik-baiknya.

Maka ketika sepasukan kecil orang-orang berkuda berderap menuju ke hutan-hutan perburuan di sekitar padang Karautan dari padukuhan baru orang-orang Panawijen setelah meninggalkan Ken Dedes di taman yang melingkari sendang, maka seekor kuda yang datang dari jurusan lain pun berlari pula menuju ke tempat yang sama.

“Terima kasih,”berkata penunggang kuda itu kepada pesuruhnya,”tetapi apabila kau keliru, maka kupotong lehermu.”

“Aku tidak akan keliru. Aku tahu pasti, bahwa hari ini Ken Arok pergi berburu.”

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya maka ia pun segera memacu kudanya untuk menjumpai Ken Arok dengan beberapa orang pengiringnya.

Sudah menjadi kebiasaannya, bahwa Ken Arok selalu membuat sebuah tempat peristirahatan di pinggir hutan. Sebuah gubuk kecil yang dikelilingi oleh beberapa gubuk yang lain. Dari gubuk-gubuk itulah mereka pergi mengintai binatang-binatang buruan mereka, sebelum binatang-binatang itu mereka tangkap hidup atau mati.

Tetapi musim berburu kali ini ternyata agak berbeda dengan saat-saat yang pernah terjadi. Ketika Ken Arok sedang mengintai di pinggir sebuah mata air, yang sering dikunjungi oleh binatang-binatang buruan yang sedang haus, tiba-tiba ia melihat seekor kuda lewat dengan cepatnya. Segera ia dapat membedakan, bahwa orang berkuda itu sama sekali bukan orangnya.

“He. kau lihat orang berkuda itu?” Ken Arek berdesis.

Seorang, pengawal mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk ia menjawab,”ya, hamba melihat.”

“Siapa?”

Kini orang itu menggeleng,”Hamba tidak tahu.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba timbullah keinginannya untuk mengetahui orang itu. Karena itu maka katanya, “Aku akan melihatnya.”

“Orang itu berkuda. Sedang kita sama sekali tidak membawa seekor kuda pun, karena kuda-kuda kita berada di perkemahan.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi ia bukanlah orang yang mudah menyerah karena keadaan. Karena itu maka katanya,”Kau tinggal di sini. Kalau para pengawal mencari aku, suruhlah mereka tinggal di sini menunggu.”

“Tetapi, sebaiknya hamba pergi bersama.”

Sejenak Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa pengawalnya itu menjadi cemas. Mereka tidak tahu sama sekali, siapakah penunggang kuda yang lewat itu.

Tetapi Ken Arok menjawab, “Tidak apa-apa. Aku hanya sekedar ingin tahu. Kalau aku menganggap orang berkuda itu berbahaya, maka aku akan memanggil para pengawal.”

Pengawal itu tidak segera menjawab. Tetapi kecemasan masih membayang di wajahnya.

Namun dalam pada itu Ken Arok tersenyum sambil menepuk bahunya, “Aku dapat menjaga diriku sendiri,”

Pengawal itu tidak menjawab, selain menganggukkan kepalanya.

“Nah, tetaplah di sini. Jangan cemas.”

Sebelum pengawal itu berbuat sesuatu, Ken Arok telah meloncat dengan sigapnya. Sekejap saja kemudian, Ken Arok itu seakan-akan telah lenyap ditelan rimbunnya dedaunan.

Sementara itu Ken Arok sedang menyusup di bawah gerumbul-gerumbul perdu ke arah hilangnya kuda yang mencurigakannya. Ada sesuatu yang tampak aneh oleh Ken Arok pada penunggang kuda itu. Sesuatu yang tidak dikatakan oleh Ken Arok kepada pengawalnya. Tetapi ketajaman matanya dapat menangkap apa yang tidak dilihatnya oleh pengawalnya itu.

Sejenak Ken Arok harus merunduk di bawah gerumbul-gerumbul sebelum ia dapat menangkap derap kaki-kaki kuda. Kini kuda itu tidak lagi berlari-lari. Sekali ia mendengar kuda itu meringkik, kemudian berputar di tempatnya.

“Tidak jauh lagi,” berkata Ken Arok di dalam hatinya.

Dan perhitungan Ken Arok itu memang tepat. Kini ia melihat penunggang kuda itu sedang termangu-mangu. Menilik sikapnya, Ken Arok menduga bahwa penunggang kuda itu akan berbalik menempuh jalan yang baru saja dilaluinya.

“Hem,” desis Ken Arok,”aku mencurigainya.”

Ken Arok pun beringsut semakin dekat. Tetapi ia masih belum melihat wajah penunggang kuda itu.

Tiba-tiba sebelum penunggang kuda itu menyadari kehadiran Ken Arok di sisinya, ia merasa kendali kudanya telah ditangkap oleh seseorang.

Bukan saja penunggang kuda itulah yang terkejut, tetapi kudanya pun terkejut pula sehingga kuda itu meringkik dan berkisar pada kaki belakangnya.

Karena penunggang kuda itu sama sekali tidak menyangka, bahwa kudanya akan bergeser, betapapun kuatnya tangan yang memegangi kendali itu, namun ia tidak dapat menghindarkan dirinya lagi dari kesulitan. Guncangan itu telah melontarkannya dari punggung kudanya. Hampir saja ia terbanting di tanah, kalau tangan yang menggenggam kendali itu tidak cepat bertindak.

Begitu kendali kuda itu dilepaskan, maka tangan itu pun segera menangkap penunggang yang terlempar itu.

Semuanya itu hanya berlangsung dalam waktu yang singkat sekali, sehingga ketika mereka menyadari keadaan diri masing-masing, penunggang kuda itu telah berpegangan pundak Ken Arok erat-erat. Sedang Ken Arok pun berusaha untuk menahannya agar ia tidak terjatuh.

Tanpa mereka sadari, maka sejenak kemudian mereka pun saling berpandangan. Dan sekali lagi mereka terkejut karenanya.

Perlahan-lahan Ken Arok melepaskan penunggang kuda yang kini tersenyum kepadanya sambil berkata, “Terima kasih Tuanku. Bukankah Tuanku Akuwu Tumapel yang bijaksana?”

Ken Arok mundur selangkah. Dipandanginya orang itu dengan tatapan mata yang hampir tidak berkedip.

“Apakah Tuanku sudah lupa kepada hamba yang hina ini?”

“Hem,”Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, “kau Ken Umang.”

Ken Umang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,”Bukankah hamba masih yang dahulu? Yang berbeda adalah justru Tuanku. Tuanku sekarang bukan sekedar salah satu dari pemimpin yang tujuh di Tumapel. Tetapi Tuanku adalah seorang Akuwu, meskipun kekuasaan itu Tuanku dapat dari Tuan Putri Ken Dedes yang. cantik tiada taranya.”

Ken Arok tidak segera menjawab. Ia masih terpaku memandang Ken Umang dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya.

“Kenapa kau berbuat seperti ini? Berpakaian laki-laki dan sengaja mengganggu masa berburu kami?”

“Siapa yang mengganggu Tuanku? Hamba sama sekali tidak berbuat apapun di sini. Hamba hanya lewat, dan tidak ada peraturan yang melarang seseorang lewat di hutan ini.”

“Bohong!| bentak Ken Arok, “kau pasti sengaja melakukannya justru kau tahu aku sedang berada di sini.”

Ken Umang mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tertawa sambil melangkah maju, “Tuanku sekarang menjadi pemarah. Apakah seorang Akuwu harus seorang pemarah seperti Akuwu Tunggul Ametung?”

Ken Arok tidak menyahut.

“Tetapi Tuanku lain sekali dengan Akuwu yang terdahulu. Persamaannya, keduanya adalah suami Ken Dedes. Tetapi masih juga ada perbedaannya. Tuan tidak mendapatkan seorang gadis lagi.”

“Diam!” Ken Arok hampir berteriak. Terdengar ia menggeram,”Kalau saja kau bukan seorang gadis, maka aku tampar mulutmu.”

Tetapi Ken Umang masih saja tertawa. Bahkan ia berkata,”Memang Tuan. Aku masih seorang gadis, Kenapa Tuanku tidak menginginkan seorang gadis? Tuanku dapat berbuat apa saja menurut kehendak Tuanku setelah Tuanku merampas kekuasaan itu dari tangan Ken Dedes.”

“Diam! Diam kau!”

Tetapi Ken Umang tidak terdiam karenanya. Ia masih tertawa. Perlahan-lahan ia mendekati Ken Arok. Ketika Ken Umang meraba ikat pinggang kulit yang membelit di perutnya, Ken Arok sama sekali tidak beringsut dari tempatnya. Bahkan ia berdiri saja seperti patung.

Dengan jari-jarinya yang lentik Ken Umang seakan-akan menghitung butiran-butiran berlian yang terpahat pada timang ikat pinggang Ken Arok. Kemudian disentuhnya pula ukiran keris yang terselip pada ikat pinggang di punggungnya.

Perlahan-lahan Ken Umang berdesis, “Tuanku memang gagah sekali.”

Ken Arok masih tetap mematung.

Dan Ken Umang bertanya seterusnya, “Apakah Tuanku hanya seorang diri?”

Ken Arok menggeleng, seperti anak-anak yang dituduh melempari buah-buahan di halaman,”Tidak. Aku tidak seorang diri,”

“Di manakah kawan-kawan Tuanku sekarang?”

“Di gubuk-gubuk itu.”

Ken Umang tersenyum manis sekali. Dirabanya janggut dan jambang Ken Arok yang pendek dan teratur rapi.

“Maaf Tuanku. Ternyata bukan Tuanku yang mencari hamba seperti pernah hamba katakan. Tetapi hambalah yang mencari Tuanku.”

Sentuhan tangan Ken Umang, benar-benar serasa seperti api yang menyentuh minyak yang tersimpan di dadanya. Adalah jauh berbeda sekali dengan Ken Dedes. Ken Dedes adalah titik-titik embun di teriknya matahari. Sejuk sekali.

Apabila hatinya sedang membara, maka sentuhan tangan Ken Dedes adalah sentuhan ketenteraman yang damai.

Tetapi sentuhan tangan Ken Umang telah mendidihkan darahnya, sehingga Ken Arok sama sekali tidak dapat mendinginkannya dengan usaha yang bagaimanapun juga, ketika kemudian seluruh isi dadanya terbakar.

Semua pengawalnya menjadi gelisah karena Ken Arok tidak segera kembali ke tempatnya. Seorang pengawal yang menunggu Ken Arok di tempat mereka melihat seekor kuda melintas, hampir-hampir tidak dapat menahan diri lagi untuk menyusul Akuwu. Tetapi ia masih bertahan. Kalau ia pergi menyusul, itu berarti ia telah melanggar perintah. Bahkan kepada pengawal-pengawal yang lain pun ia telah memberitahukan, bahwa Ken Arok tidak ingin seorang pun mengikutinya.

“Apakah kau tidak berusaha mencegahnya,” bertanya seorang kawannya.

“Aku sudah berusaha. Tetapi Akuwu tetap pada pendiriannya.”

“Bagaimana kalau terjadi sesuatu atasnya?”

Pengawal itu tidak menyahut. Tetapi yang lain bergumam, “Tetapi kalau Akuwu tidak mampu mengelakkan bahaya itu, apakah kemampuan kita dapat menolongnya.”

“Setidak-tidaknya kita dapat membantunya. Kalau bahaya datang beradu dada, aku kira Akuwu benar-benar dapat menjaga diri. Tetapi bagaimanakah halnya apabila ada jebakan yang tidak disangka-sangka,”

Semuanya diam sejenak. Kemudian seorang yang sudah berusia agak lanjut berkata,”Kita tunggu sebentar lagi. Kalau Akuwu tidak segera datang, kita mencarinya.”

Semuanya mengangguk-anggukkan kepala. Mereka pun kemudian kembali ke gubuk masing-masing, kecuali seorang pengawal yang diharuskan menunggu di tempat mereka berpisah dengan Ken Arok.

Pengawal itu sama sekali tidak memperhatikan lagi kepada binatang-binatang buruan yang minum di genangan air yang ditungguinya, karena hatinya semakin lama menjadi semakin gelisah.

Sementara itu Ken Arok sedang dibakar oleh api yang telah menyentuh perasaannya.

Di masa-masa ia masih berkeliaran di hutan-hutan di sekitar padang Karautan ini, apapun pernah dilakukannya. Merampas, merampok dan juga memerkosa. Tetapi kini sebagai seorang Akuwu ia tidak berdaya melawan lembutnya tangan-tangan Ken Umang yang menyeretnya ke dalam lembah yang berbahaya.

Ken Arok menyadari dirinya, ketika ia sudah hangus terbakar. Dengan wajah merah padam ia memandang dirinya sendiri, kemudian gadis yang masih saja tersenyum di hadapannya.

“Apakah Tuanku menyesal?” bertanya Ken Umang. Ken Arok berdiri gemetar.

“Kalau Tuanku menyesal, Tuanku masih mempunyai jalan keluar.”

Ken Arok tidak menjawab.

“Tuanku dapat membunuh hamba sekarang. Kemudian Tuan dapat terlepas dari semua akibat perbuatan Tuan.”

Wajah Ken Arok menjadi semakin tegang. Ditatapnya wajah Ken Umang yang cerah oleh senyum yang selalu menghiasi bibirnya. Namun Ken Arok seakan-akan telah benar-benar membeku, sehingga ia tidak mampu berbuat apapun juga.

Perlahan-lahan Ken Umang berdiri dan mendekatinya. Sekali lagi ia meraba janggut dan jambang Ken Arok, yang pendek itu.

“Tuanku dapat membunuh hamba. Bukankah Tuanku membawa keris dan pedang? Mudah sekali. Inilah dada hamba.”

Tiba-tiba Ken Arok menggelengkan kepalanya. Dengan nada yang berat ia berkata, “Tidak. Aku bukan pengecut. Aku adalah seorang laki-laki.”

“Maksud Tuanku?” Ken Umang mengerutkan keningnya. Tetapi hatinya melonjak kegirangan. Kalau ia berhasil, maka ia akan dapat duduk di samping anak pedesaan Panawijen itu. Setidak-tidaknya ia akan mendapat sebagian dari kekuasaan atas Tumapel, yang akan melimpah kepada anak-anaknya kelak.

“Pergilah. Kembalilah ke Tumapel,”desis Ken Arok. Ken Umang berdiri termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah Ken Arok yang masih tegang.

“Sudah aku katakan, aku bukan pengecut. Apakah kau masih tinggal di rumah Witantra?”

“Tidak Tuanku. Hamba tidak berada di rumah yang kosong itu lagi. Tetapi hamba berada di rumah bibi hamba.

“Utusanku akan mencarimu. Sekarang, pergilah. Pengawal-pengawalku sudah terlampau lama menunggu.”

Ken Umang tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata,”Hamba akan kembali mendahului Tuanku. Hamba selalu menunggu titah Tuanku, apapun yang harus hamba jalani,”

Ken Arok tidak menjawab. Dipandanginya saja Ken Umang yang membenahi pakaian laki-lakinya, kemudian naik ke atas punggung kudanya yang sedang enak-enak makan rerumputan yang muda.

(bersambung ke jilid 51)

Koleksi : Ki Ismoyo
Scanning: Ki Ismoyo
Retype : Ki Raharga
Proofing : Ki Raharga
Recheck/Editing: Ki Sunda

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 12 Februari 2010 at 05:00  Comments (82)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pdls-50/trackback/

RSS feed for comments on this post.

82 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ya wis, tak jogo gerdu sendiri … esuk uthuk-2

    • Terima kasih untuk perjuangannya Ki Ismoyo, terima kasih untuk infornya Ki Seno …

      Dan terima kasih untuk rapelan minusnya Minggu ini!
      Saya pingin kirim kembang Velentine untuk Ki Is dan Ki Arema, (atas nama Ni Sawitri) cuma ongkos kirimnya kok luuaarraang puuoolll

      hikss….
      discan terus di email saja Ki, nanti tinggal membayangkan saya.

      • Antri nomer SIDJI, ngunduh minggu depan!

        • saya mau kirim coklat buat cantrik, dan tentunya yang terutama untuk Ni Savitri

        • saya mau antri nomer loro !

          • NOL…..ngarep dhewe

    • nomer loro !

  2. happy valentine,gong xi fa cai, malam minggu kelabu.. ya ga papa sabar.. sabar..
    tentang usulan ki seno yang diwedhar kitab 51 dulu… kayanya janggal karena ceritanya pasti ga nyambung..
    jdi diwedhar sesuai urutan kitab aja ki…
    hadir dan ndelik lagi..

    • padhepokan sebelah dah wedhar rontal llhhhhoooooooooo

  3. Selamat pagi, salam buat semuanya
    hadir nunggu jatah (sing sabar….)

  4. Saya mah terserah kebijaksanaan Ki Senopati, Ki Arema, maupun Ki Ismoyo dan pengasuh yang lain.
    Terima kasih atas kesempatan ngunduh yang selama ini kami lakukan.
    Saya hanya cantrik pada tataran yang paling rendah koq.

  5. Setelah lama tidak ngabsen, hadiiiir Ki.
    Menghadirkan kembali sesuatu yang kuno dan langka adalah pekerjaan yang tidak mudah. Adalah wajar dalam perjalanannya mengalami kendala.
    Saya kira para cantrik/mentrik tidak akan berkeberatan untuk membaca lontar tidak urut, seperti Ki Arema sendiri mengalaminya. Begitukan Ki?

    Berbicara tentang Gong Xi Fa Cai, jika Ki/Ni Sanak ke Batam, akan ditemui suasana yang memerah. Lampion dan pernik-pernik khas budaya cina bertebaran di mana-mana. Suasana Chinese Town. Meriah.
    Hem, salah satu hasil dari alm Gus Dur.
    YO KE BANKTAM

    • Oops. Maksudnya KE BATAM 🙂

      • OK stj…..51 masuk sementara digendhak
        poro cantrik-mentrik…..dadi “simpenan”

        On 12 Februari 2010 at 07:31 ki sunda Said:
        Setelah lama tidak ngabsen, hadiiiir Ki.
        Menghadirkan kembali sesuatu yang kuno dan langka adalah pekerjaan yang tidak mudah. Adalah wajar dalam perjalanannya mengalami kendala.
        Saya kira para cantrik/mentrik tidak akan berkeberatan untuk membaca lontar tidak urut, seperti Ki Arema sendiri mengalaminya. Begitukan Ki?

        Berbicara tentang Gong Xi Fa Cai, jika Ki/Ni Sanak ke Batam, akan ditemui suasana yang memerah. Lampion dan pernik-pernik khas budaya cina bertebaran di mana-mana. Suasana Chinese Town. Meriah.
        Hem, salah satu hasil dari alm Gus Dur.
        YO KE BANKTAM….Oops,Maksudnya KE BATAM

        sugeng enjang ki SENO, Pdlser sedoyoo

    • Ada yang terlupa, mungkin Ki/Ni Sanak sudah ada yang mengetahui arti BATAM?
      – Bila Anda Tiba Anda Menyesal
      – Bila Anda Tabah Anda Menang
      – Begitu Anda Tiba Amoy Menunggu 🙂
      – ??? lupa, siapa yang mau melengkapi?

      • Batam….BAntal AMan !

  6. kalau menurut aq sih mending dilompat aja daripada sakaw kitab

  7. jika sanak kadang PdLS menghendaki, rontal PdLS-50 dilewati untuk medar PdLS-51 lebih dulu.

    usul alternatif:
    sebaiknya nyebar godhong kara, … sabar sakwetara, ….
    pdls tidak diwedar dengan cara melompat-lompat tetapi menunggu kesiapan rontal ke-50, sebab sayang sekali jika karya sebaik itu disimak tidak secara urut-runtut tataran demi tataran.

    sebagai gantinya, ada baiknya wedaran bdbk dapat dilakukan secara “ajeg” dan tepat waktu, misalnya dua hari sekali atau kalau bisa malahan setiap hari, he, he, he, he, ….

  8. POKOKE MANUT WAE

  9. Kalau diperkenankan ikut urun rembug, saya cenderung mengusulkan rontal PDLS-51 (babak Bara di Atas Singgasana) diwedar terlebih dahulu, sambil menunggu rontal PDLS-50 sampai di hadapan Ki Arema. Sesekali berjalan mundur, ada baiknya lho(Agung Sedayu dan Glagah Putih juga menyapu sambil berjalan mundur):-)

    Nuwun.

    • Sugeng rawuh, sugeng tetepangan bude Tatik. Mugi panjenengan kerso asring2 rawuh mriki, kapurih poro kakung boten ngendikan ingkang saru2, ….. margi pakewed menawi wonten piyantun putri ingkang rawuh.

      Ki Seno, …… Maskumambang namung nderek kerso panjenengan kemawon pundi ingkang sae dipun lampahi.

      Nderek prihatos kawontenan Ki Ismoyo, ….. mugio boten usah menggalih wedaran rumiyin, ….. ingkang penting panjenenganipun enggal dangan.

      Kulo nderek prihatos,
      Ki Truno podang

  10. woooo, jebulnya kitabnya digondol kucing tha….

    santai saja, ki ismoyo, ki arema, jangan sampai kesehatannya yang sedang dalam pemulihan menjadi memburuk hanya gara-gara ingin mengedarkan kitab sesuai jadwalnya…

    kita, para cantrik yang tinggal nyadong, tidak ingin terburu nafsu dengan mengorbankan para bebahu padepokan, koq. yang penting ki ismoyo, ki arema dan para bebahu padepokan tetap bisa bercengkerama dengan kami-kami dan nanti malam ada yang bisa dibaca oleh para cantrik… he…he…he….

    Lho…., telat aku
    Episode 1 dan 2 nya dimana ya.
    Piss……

    • Nggih, betul ki Banu, kami para cantrik tetap akan bersabar. Memang enaknya baca berurutan nggak loncat-loncat sehingga tandingnya Witantra dan Agni bisa bikin greget. Kalau sudah tau akhir dari tanding itu rasanya kurang rame.
      Dan sambil nunggu matur nuwun kitab dan kucing nya

    • matur nuwun ki BANU…….kitab dulu
      baru nangkap kucing-nya.

    • hihi ku malah ada perang bubatnya tammat tu wew

      • wew, kok tak ada? diubek-ubek di LKH hanya nemu GM, BDTdA, HP, CM & NP.
        sembunyi di manakah gerangan PB?

        • Digondol kucing Ki Banu

        • PB blom ku upload, males, aja [ercetakannya suka bikin ribut

    • wah ki banuaji kucing kucingan neh … hehehehe

      • he…he…he… lama gak lihat ki zack ngisi komen…. apalagi ki goenas, ki sas, yang lebih seru kalo pas lagi pada beradu usil sama ki pandan….

        • he..he…

          ki goenas ro ki SAS wis podho tobat olehe mbelink

    • hhhmmm….penasaran juga sama gajah mada…kalo boleh tahu di mana…ngun

  11. Baru baca jilid 46 jd gak bakalan sakao …he he he

  12. kalau hari minggu sudah bisa diwedar, ya setuju menunggu, tapi kalau belum ya loncat parit, sekali sekali nggak apa apa, nuwun

  13. hadir…

    padepokan sebelah dipingit :protected

    • Padepokan pundi toh kang???

    • Welcome back ki PA, ki arema dah mo lapor polisi lho…

    • ki Djojosm..nyuwun sewu kolowingi nganglang teng mbetawi mboten sempet ngindik2 mentrik2ipun panjenengan….

      ki Wie,…senopatinipun malah remen nek mboten diuyeg2

  14. dulu juga diwedarnya sebulan sekali….

  15. Matur nuwun, Ki Truno, sugeng tetepangan ugi dumateng panjenengan, saha sadaya sadulur ing padepokan PDLS. Ananging nyuwen ngapunten, boso Jowo kromo inggil dalem kirang lancar. Kalau diperkenankan, saya mohon izin menggunakan bahasa Indonesia saja.

    Nuwun.

  16. Tampaknya, lebih baik bersabar menunggu PdLS-50 daripada harus loncat-loncat. Sesuai dengan janji, wedar 2 hari sekali, pada saatnya akan dirapel sesuai dengan rontal yang terhutang. Sanak-kadang PdLS supaya bersabar.

    Kasinggihan Ki.
    Wong sabar iku subur;
    wong sabar iku suwe rekasane (eh kleru…)
    Wong sabar iku luhur wekasane

    Sembari menunggu wedarnya rontal 50, cantrik bayu aji mau medar sabdå, dongeng karo rengeng-rengen. Ning dongenge mengko nek wis wayah sirep lare.
    Grimis-grimis, saiki lagi mbakar jagung, unjukane teh nasgitel. Nyamleng tenan.

    Absen:
    Ki Arema, Ki Ismoyo, Ki Pandalas, Ki Yudha, Ki Truno, Ki Seno, Ki Sunda, Ki Wie, Ki Djodjosm, Ki Kartojudo, Ki Kompor, Jeng Tatik, Jeng Dewi KZ.
    Yang lainnya ????

    Sedåyå kemawon: Sugeng dalu. Mugi pårå kadang tansah manggihi karaharjan.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  17. Hadir wayah sepi uwong………
    sugeng dalu para kadang ADBMers / PDLSers

    • sugeng dalu Ki Gembleh.
      sayup-sayup sudah terdengar kentongan dara muluk.

  18. Ada cerita menarik tentang hilangnya Ki Mbelink dari garis edar beberapa hari yang lalu.
    sekitar jam 7 pagi, Kaget juga waktu Ki Pandanalas kirim SMS, dikatakan bahwa beliau ada di Bioskop Metropolis,beliau bertanya jam berapa biasanya Film dimulai, saya bingung untuk menjawabnya, wong dia yang ada di bioskop, kok nanya ??, akhirnya karena menghormati seorang sahabat, saya balas juga tuh sms nya, saya bilang : lihat dan baca saja di daftar film hari ini.
    Ki PA pun membalas sms saya, isinya seperti ini :GIMANA SAYA BISA BACA DAFTAR FILM HARI INI, WONG SAYA TERKUNCI DI DALAM BIOSKOP.SAYA BABLAS KETIDURAN DI DALAM BIOSKOP.

  19. Ki Senopati,
    Ki Sanak sermuanya,

    Bukan karena ada fotocopy, sebenarnyalah PdLS-50 yang ada memang fotocopy, tapi tidak mengurangi materi isinya.

    Scaning pdls jilid 50 sudah siap, sedikit tergendala masalah kuno, pln putus. sedikit dirapikan tinggal format djvu, ready dan kirim ke Ki Senopati…mudah-mudahan malam minggu tidak menjadi kelabu.

    nuwun.

    • Pak RT Ismoyo…kontrol gardu ronda KI…
      Lapor Pak RT, Ki widura hari ini Absen, diganti Kakang Gembleh.
      Ojo repot-repot KI Is, kopi PDLS 50 enggak pake gula sudah cukup buat lelekan malam mingguan.
      Salam dari saya untuk menjaga kesehatannya.

      nuwun

  20. esuk2..uthuk2..mruput sinambi nyruput..

    siap2 nganglang maneh … meh nyoba taneman rambutan Binjai….

    • @Ki Pandanalas
      Sugeng esuk uthuk-uthuk Ki. Nyoba tanemannya apa rambutnya (eh rambutannya ??)

      • rambutnya rambutan ki…wis rodho semu ireng..kedhalon

        • Selamat pagi Ki, semoga dalam keadaan sehat semuanya. Meskipun hari ini tdk ada kitab yang diwedar tapi untungnya Ki PA mau bagi2 rambutan binjai terimakasih Ki.

        • Semu ireng…nopo semu putih Ki…..

  21. Ki Arema,

    PdLS-50 mbok menawi sampun cemepak liwat yahoo, monggo menawi bade dipun wedar.

    nuwun.

    Waduh…., matur suwun ki.
    Malam minggu tidak jadi kelabu, berkat jerih payah Ki Ismoyo.
    Kami semua akan selalu berdoa, semoga kesehatan Ki Ismoyo segera kembali seperti sedia kala dan tidak kambuh lagi.

    • Ki Is, Ki Arema

      Pandongå kulå. “Slamet, sehat, berkah”

      Klik PdLS 50 unduh………………

      Nuwun,

      cantrik bayuaji

      • On 13 Februari 2010 at 08:53 pandanalas Said:

        matur suwun…
        pagine ora kelabu
        mbengine mesthi kelambu-kelambu

    • matur suwun…

      pagine ora kelabu
      mbengine mesthi kelambu

    • Ki Ismoyo, Ki Arema saya mengucapkan banyak terima kasih atas diwedarnya kitab PdLS 50. Saya dapat berdoa mudah mudahan njenengan berdua senantiasa diberi kesehatan yang prima dan tentu mendapat ridho Allah atas segala kebaikannya menyenangkan rakyat padepokan.

      Amiinn….
      Itu yang kami harapkan Ki, semoga kami tetap sehat, sehingga masih bisa bersilaturahmi dengan sanak-kadang PdLS, GS dan ADBM.

    • Hatur nuhun K Ismoyo, walaupun dalam proses penyembuhan masih menyempatkan diri untuk mewedar PdLS-50.

      Semoga kesehatan Ki Ismoyo makin membaik dan tentunya dengan mesin pinjaman PLN Batam yang tiba di Tanjung Pinang kemarin(?), akan mengurangi stress Ki Ismoyo dan sanak kadang di sana karena masalah listrik yang byar pet….pet…pet terus. Amin.

      • Matur nuwun Ki Ismoyo, semoga Ki Ismoyo dan keluarga selalu sehat dan berbahagia.

    • wah, dapat angpaw dari ki is…

      suwun, ki is, ki arema…

  22. matur nuwun sanget ki

  23. matur nuwun ki Is atas rontalnya…
    ki PA pundi oleh2 saking tomang???

    • katiwasan ki Wie…si tomang disate sangkuriang je…

      meh ngudi dununge dayang Sumbi

      • hehehe..
        jadi kopdar ki? ada nambah bolo lagi lho…rumahnya kaharudin nasution ujung…

        • sinten Nyi…eh…ki Wie

          • Wkwkwk…. Kadose piyambakipun sampun kenal panjenengan ki. Asmanipun wonten adbm adhie napa ajie (radi loepa)…

          • he..he..

            ki adjie njih…makaryo teng sing kriting2..xixixixi

          • brintik cilik2..nopo brintik gede2…

  24. MATUR SUWUN,
    Ki Ismoyo dan Ki arema….
    Dengaren ANTRI nomer SIDJI …. ngunduh Nomer SETUNGGAL ….. he he heeee

    Pesan Ki Ismoyo memang mak NYUS ….

  25. Nuwun,
    Sugeng pinanggih malih para kadang, cantrik bayuaji sowan.
    Untuk menambah wawasan sinambi maos rontal 50 tentang “kasamarannya (?) Sang Akuwu Baru atau Baru Akuwu Ken Angrok bak binatang liar yang terpancing godaan si gadis ‘kenes’ Ken Umang. He he he.

    Tapi di sini cantrik bayuaji tidak akan mendongeng tentang si umang, pun cantrik terpesona akan arca perwujudan nDedes yang ayu. Prajñaparamita.

    Berikut dongengnya:

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-7]

    DONGENG KEN DEDES, DONGENG ARCA PRAJÑAPARAMITA

    Terdapat tiga arca Prajñaparamita, yang diketahui hingga sekarang. Pertama adalah arca Prajñaparamita (Ken Dedes) yang sudah banyak dikenal orang karena keindahannya. Arca tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

    …> dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-singosari-pdls/8/

    • Matur nuwun Ki Bayuaji dongengipun, kulo tenggo dongeng sanesipun ……

      • Dawah sami-sami Ki. Sugeng tepang.
        Nuwun

        • Sugeng tepang ugi Ki.
          Matur nuwun.

  26. matur nuwun ki…

  27. Matur sembah nuwun Ki Arema, Ki Ismoyo.
    PdLS-50 sampun kulo unduh.

  28. tuk bundek djvu 1-50 kutaruh disini yeee http://kewlshare.com/dl/56288f897653/PDLS_1-50-ISMOYO-DJVU.djvu.html

  29. Matur nuwun Ki Is, Ki Arema,
    Sampun pikantuk jatah kangge wungon.

  30. nguantuk…belum bisa tidur…bunyi kembang api..gong xi fa chai

  31. Matur sembah nuwun Ki Arema, Ki Ismoyo.
    PdLS-50 sampun kulo unduh.

  32. Sugeng enjang ki Sanak sedoyo.
    koq gandok sebelah dereg dibukak.

  33. lhadalah digoleki nganti mripat kroso pedhes jebulane digembol ki Arema neng kanthong klambi terus dipeniteni , matur nuwun ki , rontalipun .

    NUWUN !!!!!!!!

  34. matur nuwun. nembé kémawon nyedhot.

  35. Nuwun sewu,
    Mboten namung rontal (punika ingkang leres, sanes lontar) 50 ingkang dereng wonten, nanging ugi rontal 45. Wah, olehku ngenteni nganti cengklungen jare. Menawi sampun wonten, nyuwun dipun paringi uninga.
    Matur nuwun.

    sabar ki, pada saatnya tentu akan diwedar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: