PdLS-51

<<sebelum | awal | lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 14 Februari 2010 at 09:52  Comments (62)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pdls-51/trackback/

RSS feed for comments on this post.

62 KomentarTinggalkan komentar

  1. sendiri..menyedihi palentin iki…

    • Ndherek ndeprok mburine Ki Pls sing nembe mingseg2 mBrebes-Tegal..eh mbrebes mili ora keduman angpao 😩

      • Nomer loro !!…

        • NOMER TELU ….
          Ki Pandanalas sudah mejeng lagi. hiks

          • sssttt….ono Klinci ucul

          • Nopo kesupen dereng disleret-aken tutup-e Ki..koq nganti ucul menchungul….

          • Klinci itu Truwelu …
            symbol-e ‘wong lanang sing seneng dolanan.’ Yen iso ucul ya ciloko ….

            Wessss eewesssss ….. teko .. lungo …. ngendok .. netes …

    • nomer loro…

      • Sugeng siang kang Pls, Nyi Sesotya_pita, ki Atrakdj. Kulo tumut andeprok mriki nggih.

        • monggo dipun sekecak aken

          mbekasinipun pundi tho ki Djojosm…

          • Kulo teng Tambun kang dari Bekasi Kota ke arah timu sekitar 8 km. Badhe mampir napa??

          • sakjane pengin, nanging kadosipun koq kuwatir nek mboten kiyat…mangke disosor bebek2…hikss

          • Ki Djodjosm,
            menawi kulo teng Rawa Kalong … saestu lho …
            Monggo pinarak …. tho

        • @ Ki Widura,
          Rawakalong LA napa Tambun Ki???

  2. nomer telu antri ah …karo nggowo sempritane kipatih Haryo Sangkuni ……he….he….,he…

  3. nomer telu antri ah …karo nyebul sempritane kipatih Haryo Sangkuni ……he….he….,he…

  4. Gong xi fat cai with love… Ki arema angpao nipun rak awujud kitab 51 ta?

    • xixixi…wes ono kader sing nguyeg2 senopati

      • lha gurune rak ki PA tho?
        kelinci sampun kecekel ki?

        • Sampun dicekel2 Ki…sampun di kurungi malih..

  5. hadirrr……

  6. Masih bernostalgia dengan ADBM, kitab pelangi singosari masih belum sempat di telaah .. Absen .. hadirr

  7. Nuwun,
    Atur pangayubagya, dumateng saderek-saderek ingkang ngarayaken:

    Gong Xi Fa Cai
    tegese: Semoga Sejahtera

    -Xin Nien Kuai Lok
    nek unen-unen ing nduwur iku tegese:
    ada yang mau bagi-bagi angpau nggak ya? hicks…..

    • Nek angpau kulo mboten gadhah..nek bakpau kulo gadhah kathah….

      • menawi kepareng kula nyuwun setunggal mawon Ki KartoJ, ananging ingkang dereng nate dhawah wonten suketan lho.
        (sekedar memancing komen Ki Pls)

        • ha..ha..ha…suketan neng bakpau opo bakpau sing suketan..

          Selamat…Anda berhasil memancing komen

          • Sugeng sonten Ki Gembleh….panjenengan nyuwun bakpau sing werno soklat, putih., nopo abrit ?…amargi rasane benten2 je…

          • Sak kersa Ki Pls kemawon Ki, amargi panjenenganipun wasis sanget anggenipun milih.

          • bakpao aku ga pateo seneng…

            nek mbak pao …lah kuwi…

  8. RAPAT WARGA PADHUKUHAN.

    Kemarin malam saya mendapat undangan rapat warga padhukuhan tempat gubuk saya berada di pendapa rumah ketua pedhukuhan.
    Berbondong bondong semua warga padhukuhan datang menghadiri undangan rapat, semua duduk di tikar yang digelar di pendapa menghadap ke pringgitan.
    Tak lama kemudian Ketua padhukuhan dengan wajah masam muncul dari arah pringgitan langsung duduk di hadapan kami, para warga.
    Setelah termangu mangu sejenak, beliau mulai membuka percakapan :
    – “Para warga sepadhukuhan, saya sengaja mengumpulkan kisanak semua karena ada masalah yang perlu saya sampaikan kepada kisanak semua.
    Kemarin pada saat matahari sepenggalah, saya menemukan layang peteng (dalam bahasa Ki Kompor mesti disebut sebagai surat kaleng) yang dilemparkan ke pendapa yang sedang kita duduki ini.
    Isi layang peteng tersebut membuat saya merasa sangat terhina, dan saya akan mengambil langkah untuk menyelesaikan sampai waktu sebelum wayah sepi uwong. Akan saya tunjukan ke hadapan Kisanak semua layang peteng yang saya temukan.”-
    Kemudian Ketua padhukuhan mengambil sesuatu dari balik baju yang dikenakan, para warga menanti dengan cemas. Di tangan Ketua sudah tergenggam sebuah gulungan yang mirip rontal dan pelan pelan dibuka ke hadapan warga.
    Tampaklah sebuah gambar binatang yang biasa kami suruh menarik wluku untuk membajak sawah, di bawah gambar kerbau ada tulisan, dan entah disadari atau tidak, seorang warga padhukuhan membaca tulisan itu denga cukup keras sehingga kami semua bisa mendengar :
    kowe bocah bodho….melolo kaya kebo…
    lemu ginak ginuk….ora kuru kaya aku…
    yo ben aku kuru….ora kurang sandang pangan…
    sinau pikiran… kanggo nilep duwit simpenan…

    Para warga yang mendengar tidak kuasa menahan senyum, karena kebetulan Ketua kami badannya gemuk seperti Swandaru Geni anak demang Sangkal putung.
    Sejenak kemudian Ketua warga melanjutkan sesorahnya :

    – “Saya benar benar merasa tersinggung dengan kejadian ini, dan saya merasa tentu ada penghianat di antara para pengurus warga padhukuhan ini. oleh karena itu saya akan mengambil langkah untuk menanggapi layang peteng ini (para warga berpikir tentu akan ada anggauta pengurus warga yang diganti untuk mempertanggung jawabkan pristiwa ini).
    Di hadapan Kisanak semua, saya memutuskan untuk MENGUNDURKAN DIRI, tidak mau menjadi Ketua warga lagi.”-

    Duuuuer, langit kelap kelap bumi gonjang ganjing…..
    Langkah yang diambil Ketua kami betul betul di luar dugaan para warga, dan hal ini sangat membuat warga merasa cemas karena selama ini kami selalu memilih beliau sebagai Ketua.
    Pilihan kami didasari dua hal yang menguntungkan :
    – Hanya beliau yang mempunyai waktu mirunggan untuk mengurusai padhukuhan kami.
    – Hanya beliau yang pendiriannya tidak tegas sehingga mudah kami ombang ambingkan sesuai kepentingan kami, yang kadang mBeling.
    – Hanya beliau yang hasil kerjanya biasa biasa saja sehingga padhukuhan kami tidak pernah direpotkan dengan kehadiran para pangreh praja yang datang untuk memberikan hadiah adipura, seperti padhukuhan tetangga yang sering kerepotan menerima hadiah.
    Oleh karena itu beliau selalu terpilih dengan aklamasi.
    Wah, hal ini harus dicegah, jangan sampai beliau mengundurkan diri dari jabatan Ketua.
    Saya kemudisn mengacungkan tangan sebagai tanda meminta kesempatan berbicara. Ketua sekilas melihat dan menyilahkan saya berbicara.

    – “Begini Ki Ketua, sebaiknya Ki Ketua jangan terlalu sensi menanggapi layang peteng itu, anggaplah itu hanya ulah warga yang mBeling yang ingin mendapat perhatian.
    Juga, mengapa kita harus tersinggung kalau diledek dengan simbol binatang ?
    Saya punya cerita saat saya masih nyantrik di sebuah padhepokan. Kami punya dua teman yang mempunyai nama sama yaitu Parto, yang sering membingungkan kami. Maka kami sepakat membuat nama paraban untuk masing masing Parto tersebut. Parto yang pertama, karena anatomi tubuhnya kami beri tambahan nama Jaran, jadilah Parto Jaran. Yang kedua, karena kebetulan dari etnis China, punya nama asli Che Liang maka kami sebut Parto Celeng. Mereka tidak merasa malu dengan julukan tersebut bahkan bangga.
    Apalagi kalau Ki Ketua sempat membaca rontal karangan Mpu SHM, maka akan ditemukan bahwa pada jaman kerajaan Kediri, Singasari, Majapahit sampai Demak awal banyak apara tokoh yang memakai nama binatang seperti Kebo Ijo, Kebo Kenanga, Gajah Sora, Kuda Narpada, Lembu Sora, Lawa Ijo, Bango Samparan, Mahisa Agni, Nagapasa. Memang sejak jaman kerajaan Pajang lalu Mataram, nama yang memakai nama binatang mulai menghilang. Akan tetapi di jaman berikutnya muncul lagi nama Buaya, Cicak, Kadal, Kupu-kupu dll yang dengan bangga disebutkan. Bahkan arek Surabaya dengan bangga menyebut klub milik mereka Bajul Ijo dan kera Ngalam menyebut klub mereka Singo Edan.
    Pada intinya saya menghimbau Ki Ketua untuk tidak usah menanggapi layang peteng tersebut, dan kami memohon agar Ki Ketua jangan mengundurkan diri.
    Sebetulnya masih banyak contoh yang bisa saya ajukan, tapi berhubung saya harus segera menengok gandhok siapa tahu rontal PDLS 51 sudah diwedhar, maka saya mohon pamit dulu, lain kali bisa disambung.”-

    Para warga yang mendengar ocehan saya terangguk angguk, mbuh ngerti opo ora.
    Yang saya dengar, Ki Ketua tidak jadi mengundurkan diri, dan karena padhukuhan kami memakai wan-geit sistem maka diputuskan bahwa di seketheng padhukuhan akan ditempatkan penjaga untuk memeriksa orang yang membawa gulungan rontal.

    • Ki Ketua belon tau kalo Ki Gemleh punya saudara yang namanya Ki Kebo_kompor

      • aye ude brusahe bisikin die lewat pembokat nyang paling die percaye, ngkali dasar lagi sensi makanye kaga mau dengerin.
        paye deh…..
        (denger2 Kalibata ude mulai banjir, ati2 tuh pintu aer Manggarai dijage nyang bener, kalo jebol bisa abis tuh Menteng. Oh iye, gardu listriknye jangan bole mbledhos lagi ye !)

  9. Ketika awal membaca PDLS, saya mengira SHM akan menampilkan wajah Ken Angrok dengan versi berbeda dari paparaton yang beredar selama ini sebagai anak dewa, mantan preman yang sukses jadi pejabat berdasi bahkan mejadi lokomotip dari revolusi rakyat “jadi Raja bo”, memutus sejarah “darah-biru” Purnawarman di Nusa jawa.
    SHM memang begitu “sujud” dengan pakem yang ada, dan itu adalah daerah kekuasaannya sebagai “pengarang cerita”
    Lepas dari “sujud” dan pakem, SHM telah menampilkan watak Ken Angrok sebagai manusia biasa dalam hitam_putih pertempuran antara kata_hati dan nafsu. Dan sebuah kodrati, ada manusia yang membela kata_hati, adapula manusia yang kalah dan sujud mengikuti kata_nafsunya. Ken Angrok mewakili yang kedua ini.
    Dan kita sebagai “pembaca” juga sebagai manusia terus berperang antara nafsu, kata_hati dan kemuliaan diri.MONGGO…..

    • Siapakah Keng Angrok itu ???

      SumanggÄ dipun tenggÄ kemawon dongenganipun.

  10. sisipan untuk:
    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

    Nukilan dongeng sebelumnya:

    Arca Prajñaparamita yang disimpan di Museum Nasional atau Musem Gajah Jakarta lebih diyakini sebagai perwujudan Ken Dedes sebagai Dewi Kebijaksanaan, yang disebut Prajñaparamita. Prajña berarti kebijaksanaan dan paramita berarti kebajikan, sebagai simbol tercapainya Sunyata [dibaca sun-yata] suatu kebenaran tertinggi, yang berupa Sakti (unsur wanita).

    Arca Prajñaparamita duduk dalam sikap padmasana atau vajrasana, di atas bantalan bunga teratai merah yang memiliki dua kelopak bunga yang menghadap ke atas dan ke bawah (padmasana ganda), dengan kedua tangan membentuk sikap ‘Dharmacakramudra’ (memutar roda dharma), yang jari-jarinya dipola dalam gaya tari. Dharmacakramudra melambangkan kesempurnaan jalannya Hukum (dharma).

    Tuhan Maha Sempurna telah menciptakan sang putri ayu, paling tidak demikian menurut pendapatku tentang potret diri nDedes yang berbentuk arca itu.

    Sebelum melanjutkan (Insya Allah) dongengan yang lain, tentang Tunggul Ametung, Loh Gawe, Gandring, Ken Angrok, Anusapati, Tohjaya, Ranggawuni, Anusapati dan yang lainnya, kugubah geguritan berikut ini khusus buat si ayu jelita nDedes Prajñaparamita.

    nDedes putri ayu Ken
    © cantrik bayu aji

    swuh rep dÄtÄ pitÄnÄ

    remang-remang blencong memudar cahaya
    berayun pelahan dihembus sepoi bayu basah
    menyusuri jejak beribu langkah sang kala,

    di atas bara anglo tembikar yang retak, terhidu semerbak wangi setanggi dupa
    terpedih kemelun asap kemenyan, membubung membuka tabir purba
    tembangkan kidung agung rontal pustaka para raja,

    setra panawijen.

    nDedes di masa mekar kuncup kegadisannya kadusthÄ bakal karudhÄpeksÄ
    direnggut paksa sang penguasa
    lelaki setengah tua yang tak dicinta.

    Sang Pandhita Budha Mahayana menjatuhkan sepata:
    “samyĂ„ tan rahayu;
    lah kang amalayoken anakingsun mogghĂ„ tan panutugĂ„ pamuktine matyĂ„ binahud angeris,”

    “Moggha tan metuwĂ„ banyune beji iki.”
    Panawijen mengering sumber air.

    Petaka berkelanjutan di Tanah Tumapel,

    katuhon pagewening widhi kengkis wentis irÄ, kengkab tekeng rahasyanirÄ teherkaton murub den irÄ Ken Angrok
    nDedes sang ardanariswari di Taman Boboji,

    hati yang kalut
    Angrok putra Brahma, titisan Wisnu, penjelmaan Syiwa Budha, tan wruh ring tingkah irÄ

    ke Dang Hyang Loh Gawe, Bango Samparan
    lalu ke Lulumbang dia pergi.

    Angrok anungklang duhung anyar bergagang cangkring wilahan berbintik kuning
    pamor biru di atas baja pilih tanding

    “Kang amaten i ring sirĂ„ tembe kris iku, 
.. oleh ratu pipitu tembe kris iku amaten i.”
    kutuk keris itu meminta kematian demi kematian, darah tujuh raja para penguasa

    menebar petaka
    menggulung Tumapel
    melahirkan dendam dan berbalas dendam.

    Tunggul Ametung harus disingkirkan, dimusnahkan
    Atas nama kawulÄ yang tertindas
    Atas nama diri dan kepentingan pribadi
    Gandring Sang Gusali,
    Kebo Idjo si prajurit pengawal puri
    jadi tumbal nafsu angkara dan ambisi.

    Pakuwon Tumapel anyir becek darah yang tumpah,
    sumpah dua empu nan sakti
    dionarkan kobaran amarah
    relung-relung hati tertutup geram dan benci.

    nDedes bernasib tidak begitu indah,
    hanya sekejap merasakan nikmatnya menjadi permaisuri sang nata,
    sang akuwu dibunuh lelaki yang ia saksikan di depan mata, tapi tak bisa apa-apa.

    Di masa hamil tua menjelang persalinan Anusapati,
    nDedes harus rela dinikahi Angrok sang amurwabhumi di tahta Singosari.

    nDedes,
    Perawan Panawijen ‘karma amamadhangi’ pemilik cahaya ilmu penerang hidup
    yang sangat teramat cantik itu,
    dari guwa garbanya melahirkan para penguasa Tanah Jawa.

    Prajñaparamita.

    Tak sekalipun lepas mata memandang wajah dan tubuh nDedes yang sekarang tepat berada di depan saya.
    Sang Paramesywari Agung dua raja,
    Ibu Suri dua dinasti
    cantik jelita bak bidadari.

    Semua kesempurnaan seolah ada pada perempuan itu:
    bibir tipis,
    hidung mbangir,
    buah dada padat,
    leher jenjang,
    lengan halus,
    dan kulit kuning langsat semerbak mewangi.

    Duduk bersila berpadmasana diatas kelopak kuntum teratai merah
    dan kedua tangannya berdharmacakramudra.

    Tersadar. Saya tengah berada di Museum Nasional Jakarta memandangi patung nDedes putri ayu tapi terlihat sedih.

    Hari itu,
    gerimis Januari pagi seolah tak jemu
    juga di sekitar ruangan museum yang sepi
    berserakan reruntuhan batu-batu candi
    diam membisu perempuan jelita dari Singosari itu menyendiri.

    Kaserat ing Jakarta, suryasangkÄlÄ Bayu Aji AmbrasthÄ Dresthi.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur nuwun selingannya Ki Bayuaji, walaupun saya kurang mengerti bhs jawa tapi saya dapat merasakan keindahannya.

    • Bagus sekali Ki, jadi ikut membayangkan jaman dahulu kala.

  11. hadir isuk uthuk-uthuk…

  12. isuk uthuk-uthuk, hadir…

  13. Assalamualaikum.
    Sugeng enjang poro kadang.
    nderek antri malih nyadong rangsum.

  14. Selamat pagi poro kadang semua.
    Lama tidak hadir ternyata masih ramai juga.
    Alhamdulillah silaturachmi tersambung lagi.
    Selamat pagi : Ki Ismoyo, Ki Arema, Ki Pandan Alas dan poro pinisepuh semua.
    Ikut hadir lagi

    Monggo Ki…
    Sugeng rawuh. Tidak kelihatan sejak ADBM berakhir.

  15. “Monggo ki sanak”

    Betul-betul semangat pantang menyerah, Ki Arema dengan segala perjuangannya yang sangat ruarrrr biasa mewedarken rontal 51 ini, dikarenaken setelah melihat kondisi rontal yang sudah amat sangat “kuno”.

    Tetap semangat Ki.
    cantrik bayu aji mendukung dengan segala doa, mudah-mudahan kontribusi cantrik bayu aji pun yang tak seberapa tetap menyemangati sepak terjang Ki Arema, Ki Is dan para bebahu padepokan lain, untuk membagi kebahagiaan bagi sesama.

    Nuwun,

    cantrik bayu aji

  16. On 15 Februari 2010 at 05:25 wie Said:
    hadir isuk uthuk-uthuk….

    On 15 Februari 2010 at 05:30 ki sunda Said:
    isuk uthuk-uthuk, hadir….

    hadir uthuk isuk uthuk….

  17. hadir esuk kluthuk-klutuk….

  18. Esuk uthk-2 nguduh ….. MATUR NUWUN

  19. kamsia angpaonya ki Arema…

  20. Kulo sampun ngunduh PdLS-51,
    matur sembah nuwun Ki Arema.

  21. Terima kasih ki,
    Hadir sekaligus unduh.

    Salam buat semua.

  22. wah wis tekan seket siji …
    maturnuwun nggih ki Arema kaliyan ki Ismoyo … meski agak jarang nengok padepokan dan ngunduh serta bacanya lompat-lompat … he3 …

    • antri ngunduh nunggu ki LAZ selesai,

      wah wis tekan seket siji 

      maturnuwun nggih ki Arema kaliyan ki Ismoyo 
 meski agak jarang nengok padepokan dan ngunduh serta bacanya lompat-lompat 
 he3 
xixixixixi

  23. wahhh… suwe ora jamu, suwe ora namu..
    nyuwun pangapunten ki seno, nggaya iki..

    tapi sekarang mau ngrapel ngunduh, mulai rontal 23..hehehehe..

    matur nuwun..

    • Terimakasih Ki rontal sudah saya unduh

  24. lho kok SEPI……..hikss rupanya,

    cantrike-mentrike dho dhusel-dhuselan
    mlebu gendhak anyar…….!!!

    • Sugeng dalu Ki yudha !

      Bagaimana dengan sin xia, berGong Xi Fa Cai, bagi-bagi angpau atau dapet angpau, mboten ?

      hocks

    • baru pulang dari sawah, memperbaiki irigasi yang tersumbat, eh rontal wis wedar.
      Hari ini sopo sing ada didaftar ronda Ki ???
      Ki YP sampun sepuh, ojo kanginan….hiks

    • Sugeng dalu Ki yudha,

      mboten SEPI koq Ki, taksih rame, ning meneng-menengan

  25. sepi ing pamrih, rame ing ngunduh
    matur nuwun “monggo kisanak”ipun ki Seno.

    • di pos gardu ronda masih banyak yang melekan, jagung bakar masih disisaken buat kakang gembleh….hiks.
      monggo kisanak….hiks (wonten jagung keselip digigi)

      • aku nyempil gigine…

  26. matur nuwun untuk 50 dan 51-nya.

  27. Sugeng enjang Ki Sanak.
    Matur nuwun Ki Arema, Ki Seno dalah kadang wredo sedoyo.

  28. mangga, trims ki arema, ki ismoyo, ki sukra, ki anatram, ki julius, ki zacky_74, ki tumenggung sepuh, ki mbodo, ki herry, ki gede, ki seno, nyi seno, ki sanak lan nyi sanak sedaya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: