PKPM-01

<< kembali | lanjut >>

PKPM-01

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 21 Mei 2014 at 00:00  Comments (167)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-01/trackback/

RSS feed for comments on this post.

167 KomentarTinggalkan komentar

  1. “Dua bayi naga langit itu telah di bawa terbang oleh naga langit itu, maka tinggal sebutir telur naga langit yang sembuhuk menjadi sebuah batu.”

    maaf Pak Dhalang, risang baru mengenal kosa kata sembuhuk, apa ya istilah lain dari sembuhuk ini?

    • Ups…..
      masuk halaman 2, he he he …

    • sembuhuk untuk kata ganti telur yang gagal tidak bisa dierami, hehehe

      • pak dhalang, istilah sembuhuk tidak dikenal di Jawa Timur, padahal kejadiannya di Jawa Timur,
        Risang coba cari di kamus bahasa Indonesia, istilahnya telur bungkus, rasanya tidak cocok.
        Bagaimana kalau ditulis saja gagal menetas, atau istilah Bahasa Jawanya, “wukan”, bacanya “wu’an”

    • Oh, …… kalo di Banyumas namanya Ndog Wukan. Sugeng ndalu Ki Sandikala!

      • Wah… Pak De Truno rawuh…
        he he he …, bangkunya kok pada jumpalitan ya
        hadu……

        sekedap nggih, Risang bersihin dulu.

      • sampun…
        monggo.., dipun sekecakaken lenggahipun

      • walah…, lupa…
        njih Ki, di tlatah Jawa Timur (Madiun-Malang-Surabaya) juga disebut ‘wukan”

        • hahaha, gara2 telur tidak jadi menetas, ki Trono Podang turun gunung, qiqiiqqq
          oke dech, akan di edit untuk kata ganti “sembuhuk” ini, ehem
          dan kamsia……..

          oh ya, sinyal di ciseeng dekat hutan rumpin agak lemot, langsung terbang ke daerah pondok cabe nonton helikopter parkir, hehhe
          alhamdulillah dapat tumpangan bisa nerobos ke pintu padepokan

          • okelah kalau begitu

        • Di Nganjuk istilahnya dhog bungker

  2. “Aku baru mendengar nama itu dari dua orang pengunjung kedai ini”, berkata Gajahmada.

    “Sekitar empat atau lima bulan yang lalu, sebuah rombongan kecil datang dan menetap di sekitar air terjun Nglirip. Pemimpin rombongan itu adalah seorang wanita. Para warga di sekitarnya memanggilnya dengan sebutan Nyi Ajeng Nglirip. Ada beberapa warga yang sakit telah dapat disembuhkan oleh wanita itu. Namun entah siapa yang menghembuskan berita bahwa wanita itu telah memiliki Mustika Batu Tuban, sehingga sudah sepekan ini banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru untuk merebut benda mustika itu dari tangan Nyi Ajeng Nglirip yang baik hati itu”, berkata pemilik kedai itu.

    “Baru tadi kudengar dari dua orang pengunjung kedai ini, bahwa Nyi Ajeng Nglirip akan menemui para pemburu mustika itu pada hari kedua purnama bulan ini”, berkata Gajahmada.

    “Dua tiga orang pernah datang di hari yang berbeda, namun mereka semua telah kembali dengan tangan hampa karena tidak dapat mengalahkan Nyi Ajeng Nglirip. Mungkin Nyi Ajeng Nglirip tidak ingin susah menghadapi orang satu persatu, telah membuat sebuah tantangan terbuka, menghadapi semua orang para pemburu mustika Batu Tuban di hari yang sama, dua hari setelah purnama bulan ini”, berkata pemilik kedai itu kepada Gajahmada.

    “Terima kasih untuk cerita tentang mustika batu Tuban itu”, berkata Gajahmada sambil membayar lebih untuk makanan dan minuman kepada pemilik kedai itu.

    Tidak susah memang untuk mencari tahu jalan menuju ke air terjun Nglirip, hampir semua orang di padukuhan itu telah mengetahuinya.

    “Lihatlah bukit diseberang itu, disanalah air terjun itu bersumber. Kisanak harus menuruni lembah untuk mendekatinya”, berkata seorang lelaki memberikan arah menuju air terjun Nglirip kepada Gajahmada.

    Sebagai seorang yang dibesarkan di lingkungan istana, terutama didikan langsung Jayakatwang, seorang mantan Raja besar di Kediri, telah membuat Gajahmada dapat berpikir cerdas dan berwawasan lebih luas lagi memahami setiap kejadian. Gajahmada dapat menangkap bahwa berita angin tentang mustika batu Tuban itu sengaja dihembuskan agar semua mata dapat tertipu tidak melihat sebuah kekuatan tengah di persiapkan.

    “Berita mustika itu telah memalingkan semua orang, kehadiran para prajurit dari Sunginep dapat mengalir tanpa diketahui oleh siapapun”, berkata Gajahmada dalam hati yang telah mampu dapat membaca suasana di sekitar Tuban itu berkaitan dengan sikap Adipati Ranggalawe yan bermaksud memisahkan diri dari kedaulatan Majapahit.

    Demikianlah, Gajahmada belum keluar dari Kademangan Singgahan, telah mulai mengamati suasana di beberapa padukuhan.

    Terlihat Gajahmada mulai berkeliling dari satu padukuhan ke padukuhan lainnya. Tidak seorangpun yang menaruh curiga kepadanya, mereka melihat Gajahmada hanya sebagai seorang pengembara biasa. Beruntung bahwa di jaman itu para pengembara sudah menjadi sebuah pemandangan umum, mereka sudah biasa melihat para pengembara datang dan pergi tanpa tentu arah dan tujuannya.

  3. Hari kedua setelah bulan purnama.
    Gajahmada teringat pertemuannya dengan seorang pemilik kedai, bahwa hari ini adalah hari tantangan terbuka dari Nyi Ajeng Nglirip kepada para pemburu mustika batu Tuban.

    Bergegas Gajahmada mencoba mencari arah untuk menuju ke air terjun Nglirip.

    Maka dengan kesaktian ilmunya yang tinggi, tidak ada kesukaran apapun untuk menuruni sebuah lembah dan mendaki sebuah bukit.
    Tubuh Gajahmada terlihat begitu ringan melesat seperti tidak menyentuh bumi.

    “Air terjun Nglirip”, berkata Gajahmada dalam hati manakala menyusuri sebuah sungai telah mendengar suara gemuruh air terjun yang terhempas jatuh kebawah.

    Terlihat langkah Gajahmada terhenti sejenak, melihat sudah banyak orang berada dekat dengan air terjun Nglirip yang tiada henti bergemuruh.

    “Mereka pasti para pemburu mustika batu Tuban itu”, berkata Gajahmada dalam hati sambil berpikir mencari jalan memutar untuk melihat dari dekat tanpa diketahui oleh siapapun.

    “salah seorang dari dua wanita itu pasti adalah Nyi Ajeng Nglirip”, berkata Gajahmada manakala sudah dapat mendekati air terjun Nglirip tanpa diketahui oleh siapapun.

    Yang tengah di lihat oleh Gajahmada adalah dua orang wanita yang berada di dalam sebuah tajuk sederhana. Namun wajah mereka masih terhalang air terjun dan kabut tipis percikan air terjun.

    Nampaknya Nyi Ajeng Nglirip telah mempersiapkan sebuah tajuk sederhana dekat dengan kubangan jatuhnya air terjun agar para pemburu mustika itu tidak mengusik ketenangan padepokannya.

    “Nyi Ajeng Nglirip, serahkan mustika batu Tuban itu kepadaku”, berkata salah seorang dari para pemburu mustika itu dengan suara lantang mencoba mengalahkan suara gemuruh air terjun.

    “Mustika batu Tuban itu bukan milikku, masih ada didalam goa. Bila kalian ingin memilikinya, cobalah ambil sendiri”, berkata salah seorang diantara wanita itu yang lebih tua dari wanita disebelahnya. Dan suara wanita itu begitu lembut namun terdengar sangat jelas mengalahkan gemuruh air terjun.

    “Ajian gelap ngampar”, berkata Gajahmada dalam hati manakala mendengar suara yang dilontarkan oleh wanita itu seperti bergema memenuhi hutan tempat air terjun berada.

    “Nyi Ajeng Nglirip, terima kasih telah mengijinkan aku mengambil sendiri benda mustika itu”, berkata seorang lelaki melangkah mendekati tajuk sederhana dan memberi hormat kepada Nyi Ajeng Nglirip.

    Terlihat Nyi Ajeng Nglirip membalas salam hormat orang tua itu yang rambutnya telah dipenuhi warna putih.

    Namun tiba-tiba saja seseorang telah datang menghadang orang tua itu.

  4. “Ki Welireng, langkahi mayatku sebelum kamu mendekati goa itu”, berkata seorang lelaki yang berumur sama tuanya dengan lelaki tua yang dipanggil dengan nama Ki Welireng itu.

    “Ternyata penguasa gunung Raung tidak ingin didahului, bagaimana bila kamu biarkan aku mengambil batu mustika itu, lalu turun melangkahi mayatmu”, berkata Ki Welireng sambil tertawa.

    “Sebelum kamu melangkah mendekati goa itu, kerisku sudah memenggal lehermu”, berkata lelaki tua yang disebut sebagai penguasa gunung Raung itu sambil meraba gagang kerisnya.

    “Ki Sembogo, nama besarmu hanya meraung-raung di sekitar Gunung Raung, tidak akan bergema melebihi kabut di bawah lembahnya. Tongkat kayuku akan menghentikan suara raungmu itu yang tidak merdu itu”, berkata Ki Welireng sambil mengangkat tongkat kayunya dengan sikap siap menantang.

    “Kusumbat mulut besarmu”, berkata Ki Sembogo sambil menarik keris di pinggangnya dan sudah langsung menerjang tubuh Ki Welireng.

    “Kerismu kurang cepat Ki Sembogo, rasakan pukulan tongkatku”, berkata Ki Welireng sambil bergeser cepat menghindari keris Ki Sembogo dan balas menyerang dengan mengayunkan tongkatnya kearah kepala lawannya.

    Nampaknya kedua orang itu sudah saling mengenal satu dengan yang lainnya, sudah sering bertarung dan seperti telah mengenal keistimewaan jurus lawannya. Maka terlihat mereka berdua telah langsung bertarung dengan tataran tingkat puncaknya.

    Maka dalam waktu singkat, semua orang telah melihat sebuah pertarungan antara dua orang berilmu tinggi itu, kadang melihat kilatan cahaya keris Ki Sembogo yang datang seperti kilat menyambar-nyambar, kadang juga melihat putaran tongkat kayu di tangan Ki Wilireng yang nyaris seperti putaran angin puting beliung menggulung-gulung menutupi semua gerak Ki Semboga.

    Trang !!

    Gajahmada yang memiliki penglihatan yang sangat tajam telah dapat melihat ada dua buah kerikil dengan sengaja dilemparkan dengan kekuatan tenaga penuh telah dengan jitu menggetarkan senjata Ki Sembogo dan Ki Welireng. Kedua orang yang tengah bertempur itu seketika seperti terdorong mundur beberapa langkah.

    “Hanya orang yang berilmu tinggi yang mampu melakukannya”, berkata Gajahmada dalam hati dengan hati berdebar ingin melihat siapa gerangan orang berilmu tinggi itu.

    Gajahmada dari tempat persembunyiannya telah melihat seorang tua renta dengan badan sedikit bungkuk tengah mendekati Ki Sembogo dan Ki Welireng.

    “Ki Seketi !!”, berkata Ki Sembogo dan Ki Welireng berbarengan.

    “Kalian adalah dua orang tua yang bodoh, mau saja di tipu oleh wanita”, berkata orang itu yang dipanggil sebagai Ki Seketi oleh Ki Sembogo dan Ki Wilireng.

  5. “Ternyata Ki Seketi dari Alas Rancange jauh-jauh telah datang menikmati alam sekitar air terjun yang indah ini”, berkata Nyi Ajeng Nglirip kepada orang tua renta yang baru datang itu.

    “Terima kasih telah mengenal namaku yang tidak ternama ini”, berkata Ki Seketi kepada Nyi Ajeng Nglirip.

    “Siapa tidak mengenal pemilik pukulan tanpa bayangan”, berkata kembali Nyi Ajeng Nglirip kepada orang tua yang baru datang itu.

    “Pengenalanmu atas diriku ternyata sangat mencukupi, namun ada satu yang tidak kamu ketahui,bahwa aku sangat marah bila ada seseorang telah berbuat curang di depan mataku”, berkata Ki Saketi kepada Nyi Ajeng Nglirip tanpa berpikir bahwa wanita itu akan menjadi tersinggung dengan ucapannya.

    Namun ternyata Nyi Ajeng Nglirip adalah seorang wanita yang dapat menguasai perasaannya, tidak ada perubahan dalam warna wajahnya sedikitpun.

    “Bagaimana Ki Saketi dapat mengatakan bahwa aku ini seorang penipu ?”, bertanya Nyi Ajeng Nglirip kepada Ki Saketi dengan wajah penuh senyum.

    “caramu telah membuat semua yang ada di sini mungkin akan saling bertempur satu dengan yang lainnya, diujungnya kamu dengan mudah dapat melumpuhkan sisa orang yang dapat selamat dalam pertempuran itu, dalam keadaan tenaga yang sudah terkuras”, berkata Ki saketi sambil mencoba menilik wajah Nyi Ajeng Nglirik apakah kata-katanya dapat mengena.

    Namun sekali lagi Ki Saketi tidak melihat perubahan apapun di wajah manita yang terlihat masih cantik itu meski usianya sudah dapat dikatakan sudah tidak muda lagi.

    Dan sambil tertawa renyah, Nyi Ajeng Nglirip berujar, “aku ingin mendengar apakah Ki Saketi punya usulan yang lebih baik ?”, berkata Nyi Ajeng Nglirip kepada Ki Saketi.

    Perkataan Nyi Ajeng Nglirip datang seperti sebuah pedang mengancam tepat diujung leher Ki Seketi.

    Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu telah membuat Ki saketi terkejut, tapi itu tidak lama, sekejab kemudian terlihat wajah aslinya yang sangat dingin tanpa perasaan.

    “usulku adalah terbalik dari caramu semula, jadi semua orang disini akan mengeroyok dirimu baru kemudian kami akan saling bertempur”, berkata Ki Saketi dengan wajah dinginnya.

    Perkataan Ki Seketi dirasakan seperti sebuah serangan balik yang langsung menyudutkan diri Nyi Ajeng Nglirip.

    Namun wanita itu dengan cepat menguasai perasaannya sendiri, seperti punya tameng berlapis-lapis menutupi wajah aslinya.

    “Bila caramu memang lebih baik, aku siap untuk mengikutinya. Siap dikeroyok oleh semua yang hadiri di air terjun ini. Biarlah semua orang akan menertawakan bahwa hari ini ada dua wanita telah dikeroyok bersama”, berkata Nyi Ajeng Nglirip sambil menilik perubahan di wajah Ki Seketi.

    • empat…..

      sudah cukup untuk menutup senthong tengah dan buka senthong kanan.
      tetapi nanti malam nggih.

  6. Terlihat Nyi Ajeng Nglirip tersenyum melihat Ki Seketi seperti terperangkap dengan perkataannya itu.

    “Dan hari ini akan menjadi berita besar, bahwa seorang seperti Ki Seketi ikut bersama sebagai seorang pengeroyok”, berkata kembali wanita itu dengan wajah datar tanpa sedikitpun terlihat kegentarannya.

    Lama Ki Seketi terdiam, perkataan wanita itu memang seperti sebuah
    senjata tajam langsung mengancam batang lehernya sendiri. Sebagai seorang yang sangat disegani dan dihormati di sepanjang pesisir pantai utara itu memang terlihat menjadi sangat gelisah.

    Namun bukan Ki Seketi bila tidak dapat keluar dari perangkap perang kata-kata itu.

    Terlihat Ki Seketi telah tertawa bergema mengisi seluruh kawasan air terjun Nglirip, semua orang seperti tergetar dadanya.

    “Dengarlah, wanita di hadapan kita telah menantang kita semua, habisi kedua wanita itu”, berkata Ki Seketi dengan suara lantang mengalahkan suara gemuruh air terjun.

    Suara Ki Seketi memang seperti sebuah sihir telah menggerakkan semua orang yang ada di air terjun itu untuk mendekati tajuk.

    Berdebar jantung Gajahmada melihat semua orang telah bersiap untuk menyerang kedua wanita yang ada di dalam tajuk itu.

    Dan dada Gajahmada menjadi semakin berdebar manakala telinganya telah mendengar suara petikan kecapi tiba-tiba saja mengisi tiap relung dinding dan udara disekitar air terjun itu.

    “Tembang hina kelana ?”, berkata dalam hati Gajahmada yang sangat mengenal tembang petikan suara kecapi itu.

    Belum sempat berpikir apapun, Gajahmada telah melihat beberapa orang telah memegang dadanya, beberapa orang lagi sudah langsung jatuh pingsan.

    Ternyata pemetik suara kecapi itu telah melambarinya dengan kekuatan tenaga inti sejati tingkat tinggi setara dengan ajian gelap ngampar yang sangat terkenal itu.

    Untuk melindungi dirinya sendiri, Gajahmada telah melambari dirinya sendiri agar tidak termakan goncangan suara kecapi itu.

    “Siapakah gerangan pemetik kecapi itu ?”, bertanya Gajahmada dalam hati sambil menyelinap menyeberang mendekati tajuk sederhana dimana dua wanita itu masih ada disana.

    Sementara itu suara kecapi masih terus bergema menghentak dan menggetarkan dada semua orang, diantara sekian banyak orang yang ada di air terjun Nglirip itu, hanya tiga orang yang masih dapat bertahan tidak terpengaruh suara petikan kecapi, mereka bertiga adalah Ki Seketi, Ki Welirang dan Ki Sembogo.

    Bukan main terperanjatnya Gajahmada manakala telah berada tidak jauh dari tajuk sederhana itu.

    • Terima kasih……

  7. Apa yang telah membuat diri Gajahmada terperanjat ?

    Ternyata Gajahmada dari tempatnya bersembunyi telah melihat jelas wajah kedua orang wanita yang berada diatas bale bambu tajuk itu.
    Dan Gajahmada telah mengenal siapa kedua wanita itu.

    Namun Gajahmada harus melepas rasa terperanjatnya ketika melihat dengan cepat kedua wanita itu telah melenting keluar dari dalam tajuk.

    Gajahmada menahan nafas manakala telah melihat tajuk sederhana itu hancur porak poranda tak berbentuk lagi.

    Ternyata Ki Seketi telah tidak sabar lagi ingin menghentikan suara getar kecapi dengan jalan melepaskan pukulan andalan perguruannya yang terkenal itu, pukulan tanpa bayangan.

    Untung saja kedua wanita itu telah merasakan sebuah angin pukulan tak terlihat kasat mata akan mengancam diri mereka, maka sebelum prahara angin pukulan itu datang, mereka berdua telah meloncat menyelamatkan diri.

    Terlihat Ki Seketi dengan penuh kebanggaan tertawa panjang.

    Namun tawa Ki Seketi yang panjang itu tiba-tiba saja terhenti.

    Ternyata pendengarannya yang tajam telah mendengar suara alunan seruling, namun dirinya sama sekali tidak mengetahui arah sumber suara itu berasal karena suara itu seperti berputar dari segala penjuru.

    Kecut hati Ki Seketi ketika merasakan getaran suara seruling itu lebih dahsyat dari getaran suara kecapi. Meski telah melambari dirinya dengan kekuatan inti sejati yang dimiliki, suara seruling itu masih saja terasa menghimpit rongga dadanya.

    Sementara itu Ki Sembogo dan Ki Welireng terlihat sudah duduk bersila memejamkan matanya menahan getaran suara seruling dengan kesaktian tenaga sejati miliknya. Namun suara seruling itu seperti tidak mampu dibendung, dada mereka seperti terhimpit batu gunung yang amat besar.

    Bukan main terkejutnya Ki Seketi manakala melihat Ki Sembogo dan Ki Welireng yang diketahuinya mempunyai tenaga sakti hanya setingkat dibawahnya tengah berusaha sekuat tenaga menahan getaran suara seruling itu. Terlihat diujung bibir kedua orang sakti itu masing-masing telah mengalir darah hitam. Nampaknya tenaga sakti sejati mereka sendiri telah berbalik arah menghantam jantung mereka sendiri yang tidak kuat menahan tekanan getaran lewat suara seruling yang masih terus terdengar berputar-putar dari berbagai penjuru mata angin.

    Sementara itu kedua wanita yang telah keluar dari tajuk tidak merasakan tekanan dari suara seruling itu, nampaknya peniup seruling itu dapat mengendalikan arah suara serulingnya.

    “Hanya orang yang sudah sangat mumpuni saja yang dapat mengendalikan kemana arah serangan suara”, berkata Nyi Ajeng Nglirip kepada wanita didekatnya.

  8. lumayan, biar lemot masih bisa ditumpangi berselancar dari hutan Rumpin, hehehe

  9. “Sepertinya aku telah mengenal siapa peniup seruling itu”, berkata wanita itu kepada Nyi Ajeng Nglirip.

    “Kamu telah mengenal peniup seruling itu ?”, bertanya Nyi Ajeng Nglirip kepada wanita itu.

    Terlihat wanita itu menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala perlahan.

    “Hanya ada satu orang yang dapat menembangkan seruling hina kelana”, berkata wanita itu sambil matanya mencari arah sumber suara seruling.

    Sebagaimana Ki Seketi, wanita itu juga tidak dapat mencari sumber arah suara seruling itu yang masih terdengar berputar-putar dari segala arah penjuru mata angin.

    “Tunjukkan dirimu, tunjukkan dirimu adalah seorang ksatria sejati”, berkata lantang Ki Seketi merasa putus asa tidak juga menemukan arah sumber suara pemilik seruling itu.

    Maka tiba-tiba saja suara seruling itu berhenti.

    Tiba-tiba saja muncul seorang pemuda membawa sebuah seruling bambu dari balik sebuah gerumbul semak dan pohon perdu.

    “Kakang Mahesa Muksa”, berkata wanita disebelah Nyi Ajeng nglirip memandang tidak percaya kehadiran pemuda itu.

    “Ternyata anak nakal itu”, berkata Nyi Ajengy Nglirip sambil tersenyum memandang kearah pemuda yang muncul tiba-tiba itu.

    “Nyi Ajeng mengenalnya ?”, bertanya heran wanita itu kepada Nyi Ajeng Nglirip.

    “Sejak kecil anak muda itu bersama kami, di Balidwipa, di Tanah Wangi-wangi dan terakhir di tanah Ujung Galuh”, berkata Nyi Ajeng Nglirip yang nampaknya telah mengenal pemuda peniup seruling itu.

    Namun pembicaraan kedua wanita itu terhenti ketika mendengar suara Ki Seketi yang mengguntur penuh kemarahan.

    “Suara serulingmu memang dahsyat, tapi jangan berbangga hati sebelum merasakan pukulanku”, berkata Ki Seketi sambil membuat sebuah gerakan memukul angin.

    Ternyata Ki Seketi tidak asal sesumbar, dari tangannya keluar angin pukulan kasat mata seperti sebuah prahara menerjang kearah anak muda itu peniup seruling itu yang tidak lain adalah Gajahmada.

    Nampaknya Gajahmada seperti memiliki mata bathin yang sangat tajam, telah mengetahui bahaya angin pukulan tak terlihat kasat mata itu tengah mengancam dirinya.

    Maka terlihat Gajahmada sudah bergeser cepat menghindari serangan pukulan tanpa bayangan itu, sebuah ilmu andalan Ki Seketi yang sangat dibanggakannya hingga sangat disegani disepanjang pesisir pantai utara Jawadwipa.

    “Tikus busuk !!”, berkata geram Ki Seketi melihat sasaranya dapat meloloskan diri.

    • Top
      “Tikus?….menghina, gua babi tau?”

      • kwak kakakak

  10. Nuwun,

    Selain para ksatria pengawal kerajaan agung Tiktaçripala, ternyata dongeng arkeologi & antropologi Majapahit menyimpan kisah tentang orang-orang yang dianggap sebagai pemberontak terhadap kedaulatan negara yang baru tumbuh itu.

    Ranggalawe, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, dan Ra Pangsa.

    Siapa mereka, dan mengapa mereka dianggap sebagai pemberontak.

    Tunggu dongengnya.

    Sampurasun

    punåkawan

    • Sabar menanti…..tunggu dongengnya Ki Puna…

    • 6 jilid x tujuh pemberontak = mantabbbb

  11. semalam dicekal masuk padepokan, tes lagi dech

    • Ups…., masa iya
      perasaan tidak ada yang datang tu?
      apa Risang sedang ngantuk ya, sehingga pintu regol tertutup, he he he …..
      jangan-jangan yang menutup penunggu Hutan Rumpin, he he he …

  12. Bukan main akibat serangan pukulan tanpa bayangan dari Ki Seketi itu, terlihat sebuah batu besar hancur pecah terbelah-belah terkena sasaran pukulan itu.

    Kembali sebuah pukulan dari tangan Ki seketi telah meluncur menerjang kearah Gajahmada, namun sebagaimana sebelumnya, kembali anak muda itu dengan mudahnya telah melenting ketempat lain menghindari serangan tak terlihat kasat mata itu.

    “kadal buntung !!!”, kembali sumpah serapah keluar dari mulut Ki Seketi itu melihat sasarannya telah melenting jauh.

    Demikianlah, Ki Seketi terus menyerang dengan pukulan jarak jauhnya itu kemanapun Gajahmada berpijak.
    Sumpah serapah masih saja terdengar dari mulut Ki Seketi bersamaan dengan lolosnya sasaran tempurnya.

    Suasana di kawasan air terjun itu sudah tidak utuh lagi, pephonan tumbang, batu keras hancur terbelah, tanah merah dan semak belukar terbang berserakan terkena sasaran pukulan jarak jauh dari Ki Seketi yang sangat dahsyat itu seperti angin prahara terus mengejar kemanapun Gajahmada menghindar.

    “Anak setan !!”, berkata Ki Seketi sambil menghentikan serangannya.
    Ternyata Ki Seketi telah melihat Gajahmada telah memecahkan dirinya menjadi sepuluh orang yang sama terlihat tengah berlari mengelilingi tubuh Ki Seketi.

    Rupanya Gajahmada sudah merasa bosan selalu menjadi sasaran serangan Ki Seketi. Dengan gerakan yang sangat cepat menerapkan ilmu meringankan tubuhnya yang nyaris mendekati kesempurnaan itu berputar mengelilingi tubuh Ki Seketi.

    “Aku dapat menyerangmu dari berbagai arah”, berkata Gajahmada kepada Ki Seketi dengan nada suara penuh ancaman.

    Terlihat Ki Seketi berdiri terpaku dengan jantung berdebar keras merasa perkataan Gajahmada bukan omong kosong belaka, benar-benar sebuah ancaman.

    Ki Seketi masih terpaku berdiri ditempatnya manakala salah satu dari kesepuluh ujud Gajahmada itu telah melepaskan sebuah lidah api berwarna kuning emas dan meluncur menghantam sebuah batu sebesar kepala kerbau didekat tubuh Ki Seketi.

    Darah Ki Seketi seperti berhenti seketika manakala menyaksikan dengan mata terbuka sebuah batu sebesar kepala kerbau itu hancur berdebu terbang berhamburan.

    Terlihat wajah Ki Seketi menjadi pucat seperti tidak ada darah ditubuhnya telah membayangkan bila saja pukulan itu diarahkan ke tubuhnya sendiri dari arah yang tidak mungkin dapat dihindari.

    “Ampunilah diriku yang tidak mengenal tingginya puncak gunung berdiri dihadapanku sendiri”, berkata Ki Seketi dengan suara yang masih bergetar memohon belas kasih dari Gajahmada.

    • hadu….
      kok gampang amat menyerahnya
      harusnya dibuat main-mainan dulu gitu biar rame
      he he he …….

    • “Bajul kesupen……!!!!!!” teriak Gembleh sambil menghindari gerojogan rontal.
      Kamsia pak Dhalang.

  13. “Aku bukan dewa pencabut nyawa, tidak punya kekuasaan apapun memendek dan memanjangkan hidup seorang manusia. Bersyukurlah bahwa bahwa kamu masih menikmati udara disekelilingmu”, berkata Gajahmada kepada Ki Seketi yang masih gemetar itu.

    “Bolehkah aku yang tua ini mengenal siapa kamu orang muda. Agar kepada keluarga dan keturunanku dapat kuceritakan bahwa di tempat air terjun ini ada orang yang baik hati telah memberi kesempatanku untuk hidup lebih lama lagi”, berkata Ki Seketi kepada Gajahmada.

    “Namaku Gajahmada”, berkata Gajahmada.

    “Terima kasih, aku akan selalu mengingatnya”, berkata Ki Seketi sambil memberi hormat dan berbalik badan dan melangkah pergi.

    Terlihat Gajahmada menghampiri dua orang wanita yang masih berdiri.

    “Gusti Kanjeng Ratu Gayatri, ampuni hamba yang punya sedikit kepandaian ini telah mengambil alih semua ini, karena hamba tidak ingin tangan Gusti kanjeng kotor karenanya”, berkata Gajahmada penuh hormat kepada wanita yang biasa dipanggil Nyi Ajeng Nglirip itu.

    “Jangan hambakan dirimu karena aku sudah jauh keluar dari kehidupan istana, orang-orang disini telah memanggilku dengan nama Nyi Ajeng Nglirip, panggillah aku sebagaimana mereka memanggilku, wahai Mahesa Muksa”, berkata Nyi Ajeng Nglirip kepada Gajahmada dengan wajah penuh senyum merasa gembira telah bertemu dengan Gajahmada yang dikenalnya sejak kecil bernama panggilan, Mahesa Muksa.

    Terlihat arah pandang mata Gajahmada telah beralih kepada wanita yang lain, seorang wanita bermata indah yang juga tengah memandangnya.

    “Andini, aku tidak menyangka bahwa kita dapat bertemu kembali di tempat ini”, berkata Gajahmada menyapa wanita itu yang ternyata adalah Andini, putri Bango Samparan sang penguasa Rawa Rontek dari tanah Pasundan.

    “Ceritanya sangat panjang, aku takut Kakang Mahesa Muksa menjadi bosan mendengarnya”, berkata Andini dan menutup kata-katanya dengan sebuah senyum yang amat-amat manis dalam pandangan Gajahmada.

    “Ternyata kalian berdua memang telah saling mengenal”, berkata Nyi Ajeng Nglirip sambil memandang keduanya saling bergantian.

    Sementara itu dari beberapa semak belukar terlihat bermunculan beberapa lelaki dan perempuan. Ternyata mereka adalah para pengikut setia Nyi Ajeng Nglirip.

    Terlihat Nyi Ajeng Nglirip telah memberi perintah kepada orang-orangnya itu untuk membawa dan merawat beberapa orang yang masih pingsan ke padepokannya yang tidak begitu jauh dari air terjun Nglirip itu.

    Demikianlah, Gajahmada telah diajak oleh Nyi Ajeng Nglirip ke Padepokannya.

    Di padepokannya, Nyi Ajeng Nglirip yang sebenarnya adalah Kanjeng Ratu Gayatri itu telah menerima Gajahmada seperti sanak keluarga sendiri yang sudah lama tidak berjumpa.

    • dua ….
      he he he ….

      kamsia………….

    • Wah, Kisah bisa bersayap dengan affair Gajahmada Andini

      • sett !!!, jangan bilang2, entar bisa masuk berita “silet”, hehe

  14. Diatas pendapa padepokan, Nyi Ajeng Nglirip banyak bercerita tentan suka duka sebagai keluarga istana Singasari yang harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam suasana pengasingan.

    “Mahesa Muksa masih sangat kecil pada saat itu. Yang kuingat dia adalah anak yang sangat nakal di Tanah Wangi-wangi. Patih Mahesa Amping yang ditugaskan melindungi keluarga istana sangat menyayanginya”, berkata Nyi Ajeng Nglirip tentang Gajahmada sewaktu kecil yang didengar oleh Andini dan Gajahmada sendiri.

    Gajahmada kemudian bercerita tentang pengembaraannya di Tanah Pasundan kepada Nyi Ajeng Nglirip.

    “Gajahmada, sebuah nama yang bagus”, berkata Nyi Ajeng Nlirip manakala Gajahmada bercerita tentang sebuah upacara penggantian namanya di istana Rakata.

    “Kakang Gajahmada, aku akan mulai merubah pangilanku kepadamu”, berkata Andini dengan wajah tersenyum.

    Sementara itu matahari diatas padepokan yang tidak jauh dari air terjun Nglirip itu terlihat sudah diawal senja, wajah udara bumi terlihat bening dan daun seperti terdiam beku tanpa angin sedikitpun.

    “Kamu belum bercerita tentang dirimu, perjalananmu yang jauh dari tanah Pasundan”, berkata Gajahmada kepada Andini manakala Nyi Ajeng Nglirip pamit sebentar untuk melihat keadaan orang-orang yang tadi siang telah pingsan di sekitar air terjun.

    “Semula aku datang di tanah timur Jawadwipa ini hanya untuk membenarkan perasaan hati ini, seberapa besar cinta dan kerinduan yang ada di dalam hati ini kepada seorang lelaki yang kutaktahu apakah dirinya mempunyai perasaan yang sama sebagaimana diriku ini”, berhenti sebentar Andini sambil menatap wajah Gajahmada.

    “Siapakah lelaki yangy beruntung itu, wahai Andini ?”, berkata Gajahmada dengan perasaan penuh berdebar-debar keras.

    “kamulah wahai Kakang Gajahmada, kamulah lelaki itu”, berkata Andini sambil menatap wajah Gajahmada, terlihat mata indahnya sudah mulai berkaca-kaca.

    “Salahkan aku ini, salahkan aku sebagai lelaki yang tidak punya keberanian mengungkapkan kebenaran hati, seorang lelaki yang selalu dipenuhi rasa takut, rasa bersalah. Aku telah memilih persahabatan, memilih Pangeran Jayanagara yang akan terluka bila saja kuperjuangkan perasaan cintaku kepadamu. Siang dan malam aku sering bertanya-tanya, apakah langkahku ini sebuah kebenaran. Siang dan malam belum juga kudapat jawaban kepastian atas keraguan hati ini. Akhirnya kututup perasaan hati dan kerinduan ini, hanya dengan sebuah kata bahwa cinta adalah penjara hati”, berkata Gajahmada kepada Andini yang dilihatnya sudah meneteskan air matanya.

    “Kakang Gajahmada, aku sudah puas mendengar semua pengakuanmu, aku sudah merasa bahagia dengan semua perkataanmu itu”, berkata Andini menatap Gajahmada penuh kebahagiaan, Namun mata indahnya telah berlinang air mata.

  15. wuih midnight version

  16. “Mengapa kamu menangis, wahai Andiniku”, berkata Gajahmada merasa bersalah.

    “Kakang tidak bersalah, suratan takdir juga tidak akan salah menggariskan semua perjalanan manusia. Kita telah digariskan untuk saling menyintai, namun kita telah digariskan juga untuk tidak dapat bersatu. Karena aku telah memilih jalanku sendiri, jalan yang telah membebaskan diriku dari penjara hati, penjara keinginan, hasrat dan semua nafsu duniawi, aku telah menjadi seorang Bhiksuni.

    Perkataan Andini didengar oleh Gajahmada seperti sebuah petir membelah-belah udara bumi, melemparkan perasaan Gajahmada seperti terjatuh dititian panjang dan terjungkal melayang keujung jurang tak berdasar.

    “Relakanlah aku, wahai Kakang Gajahmadaku. Pintu Nirwana telah terbuka untuk hatiku, relakanlah aku untuk memasukinya. Hanya itu permintaan dariku, seorang wanita yang kamu cintai dan juga mencintaimu”, berkata Andini kepada Gajahmada masih dengan air mata memenuhi wajahnya.

    Daun perdu di ujung halaman padepokan seperti membeku, hanya suara anak sungai dan deru air terjung Nglirip yang masih terus terdengar memenuhi suasana hati kedua anak manusia yang menatap mega-mega yang juga tak bergerak, membeku.

    Akhirnya kebekuan itupun mencair manakala Nyi Ajeng Nglirip telah datang kembali bersama mereka.

    Dan tanpa ada yang ditutupi, Gajahmada telah bercerita tentang suasana yang semakin meruncing antara Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan Adipati Ranggalawe.

    “Tugasku di daerah Tuban ini hanya untuk memastikan, bahwa Adipati Ranggalawe benar-benar telah ada keinginan untuk memisahkan diri dari Majapahit Raya”, berkata Gajahmada kepada Nyi Ajeng Nglirip dan Andini.

    “Persahabatan akan menjadi cedera, manakala dua hati saling bercuriga, dan kebijaksaan seorang raja besar nampaknya tengah diuji. Kerajaan Majapahit tengah berada dipersimpangan jalan, berhenti atau maju terus dengan memerangi para sahabat dekat yang akan menjadi tumbal-tumbal kebesaran hari depan dalam kejayaan dan kegemilangan”, berkata Nyi Ajeng Nglirip sambil menatap rumput-rumput liar di halaman padepokan yang merunduk di wajah udara bumi yang sudah berada diujun senja itu.

    Dan senja memang telah pergi, perlahan semak dan daun perdu di ujung halaman muka Padepokan Nyi Ajeng Nglirip itu mulai kabur remang dalam pandangan.

    “Beristirahatlah, bilik untukmu telah dipersiapkan”, berkata Ni Ajen Nglirip kepada Gajahmada.

    Ketika telah memasuki biliknya, Gajahmada hanya berbaring tidak dapat memejamkan matanya.

    Sementara itu di bilik yang lain, seorang gadis jelita tengah memandang sebuah kecapi kayu di atas meja kecil diujung peraduan.

    Gadis jelita itu adalah Andini, yang lama duduk diatas peraduannya seperti tidak ingin melepas matanya dari kecapi miliknya itu yang telah memberinya begitu banyak kenangan yang indah.

  17. Sementara itu suara air terjun Nglirip seperti tidak pernah berhenti bergemuruh mengisi sepi malam, dibawah sinar rembulan yang tepotong awan hitam diantara kepak-kepak kalelawar yang datang dan pergi mengarungi malam dan kegelapan.

    Akhirnya suara ayam jantan telah datang membuka tirai cakrawala langit bersama gerimis hujan pagi membasahi rerumputan di halaman muka padepokan kecil itu.

    “Padepokanku ini adalah rumahmu juga, wahai ksatria Majapahit. Dalam perang dalam damai, padepokan ini akan selalu terbuka untukmu. Kutitipkan kepadamu kedua putriku, Gajatri dan Wijat.

    Bawalah mereka mengunjungi ibundanya sekali waktu adalah seteguk air kerinduan yang membasuh dahaga sepi hari-hariku”, berkata Nyi Ajeng Nglirip kepada Gajahmada yang akan melanjutkan perjalanannya mengamati daerah sekitar Tuban.

    “Terima kasih, aku akan sering singgah selama berada di daerah Tuban ini”, berkata Gajahmada kepada Nyi Ajeng Nglirip sambil sebentar mengarahkan pandangannya kepada Andini yang ikut mengantarnya hingga menuruni anak tangga pendapa padepokan itu.

    Deru gemuruh air terjun Nglirip sudah semakin menjauh seiring langkah Gajahmada yang telah berjalan meninggalkan padepokan kecil itu, meninggalkan sepotong hati pemilik sepasang mata indah yang selalu mengiringi setiap langkahnya disaat sepi sendiri.

    “Hati Andini telah dipersembahkan kepada pemilik alam semesta ini, dan kami tidak dapat lagi berbagi untuk saling memiliki”, berkata Gajahmada dalam hati sambil memandang mega-mega yang terbang berlari terbawa angin membentuk wajah dan rupa baru.”Begitulah kehidupan ini seperti mega-mega yang ringan terbang mengikuti keinginan sang penciptanya, menerima apapun kehendak garis angin kehidupan dalam rupa dan bentuk baru di sepanjang waktu”, berkata Gajahmada merenungi arti garis kehidupannya.

    Ternyata langkah kaki Gajahmada telah berjalan ke arah timur, menyusuri lembah dan tanah perbukitan yang hijau.

    Sinar cahaya matahari terhalang daun dan hijaunya gerumbul hutan berbukitan membuat langkah kaki Gajahmada tidak terasa telah memasuki sebuah Kademangan yang cukup ramai di siang itu.

    “Kisanak telah berada di Kademangan Montong”, berkata seorang prajurit pengawal kademangan kepada Gajahmada yang kebetulan berjalan seiring.di jalan padukuhan.

    “Dua orang prajurit Kademangan kulihat tergesa-gesa mendahuluiku, apakah hari akan ada sebuah upacara besar dirumah Ki Demang ?”
    Terlihat prajurit kademangan itu tersenyum mendengar pertanyaan Gajahmada.

    “Minggu depan memang akan ada upacara sedekah bumi, menyambut panen raya di kademangan ini. Namun hari ini kami para prajurit kademangan akan berlatih di lapangan terbuka depan rumah Ki Demang. Ada seorang guru pelatih yang sengaja didatangkan dari Kadipaten Tuban”, berkata prajurit muda itu.

    • Uppss…..Kamsia Pak Dhalang.

  18. Uppssss………belum ada prajurit Kademangan yang berlatih di lapangan.
    Apa guru pelatih yg didatangkan dari Kadipaten Tuban terjebak macet ya ?

    • Lho…., mereka kan menunggu Rakyan Gembleh Prawiroyudo, untuk membuka latihan di hari pertama

  19. Ketika mereka telah sampai di depan rumah Ki Demang Montong, prajurit muda itu telah bergabung dengan kawan-kawannya di lapangan terbuka.

    Ada beberapa orang tua dan anak-anak kecil ikut menonton para prajurit yang hari itu akan melakukan berbagai macam latihan. Dan Gajahmada telah bergabung disisi kiri lapangan terbuka itu bersama beberapa orang warga yang ingin melihat latihan para prajurit Kademangan itu.

    Rupanya latihan hari itu adalah sebuah latihan berkuda, ada sebuah orang-orangan dari jerami batang padi sebagai sebuah sasaran dan tonggak-tonggak batang bambu sebagai perintang yang diletakkan sengaja berliku-liku.

    Satu persatu prajurit itu naik diatas kuda yang akan dilarikannya mengelilingi satu putaran lapangan, setelah itu mereka harus melewati batang bambu yang berliku. Akhirnya mereka kembali menghentakkan perut kudanya agar berlari kencang mendekati orang-orangan. Setelah dekat seorang prajurit harus melemparkan tombaknya dengan jitu mengenai orang-orangan dari jerami padi itu.

    Beberapa orang terlihat tertawa manakala menyaksikan salah seorang prajurit Kademangan itu terjatuh ketika meliwati tonggak bambu yang berliku-liku.

    Namun hati para penonton merasa terpukau manakala menyaksikan seorang prajurit yang sangat tangkas mengendarai kuda melewati tonggak-tonggak bambu dan berhasil menancapkan tombak panjangnya tepat di tubuh orang-orangan yang terbuat dari jerami padi itu.

    Demikianlah, Gajahmada terus menyaksikan latihan para prajutit di lapangan terbuka itu hingga sore.

    Namun belum usai latihan itu, Gajahmada telah pergi menghilang untuk melanjutkan perjalanannya mengamati kademangan lainnya yang masih dalam kekuasaan wilayah Tuban.

    Hari ke hari Gajahmada memasuki beberapa Kademangan di wilayah Tuban itu, ternyata Gajahmada mendapat sebuah gambaran bahwa Adipati Ranggalawe memang tengah mempersiapkan sebuah kekuatan lewat sebuah perintah khusus menurunkan para pelatih keprajuritan di hampir semua kademangan yang tersebar di wilayah Tuban itu.

    Hingga disebuah pagi, Gajahmada tidak sengaja telah mendatangi sebuah Kademangan yang tengah melaksanakan sebuah upacara sedekah bumi, seperti biasa upacara sedekah bumi itu selalu dimeriahkan dengan menanggap kesenian Langen tayub hingga siang harinya.

    Terlihat Gajahmada telah melebur bersama warga setempat di barisan penonton, sementara barisan tamu undangan istemewa berada di sebelah kanan panggung di bawah sebuah tajuk, nampaknya para pemuka Kademangan dan tamu kehormatan dari Kadipaten Tuban.

    Dari beberapa orang, Gajahmada dapat mengetahui bahwa dalam upacara sedekah bumi itu dihadiri oleh putra Adipati Tuban bernama Kuda Anjampiani bersama gurunya Ki Ajar Pelandongan.

    Itulah sebabnya Ki Demang telah menanggap kelompok kesenian Langen Tayub yang terkenal disaat itu agar tidak kehilangan muka di hadapan putra Adipati Ranggalawe dan gurunya itu.

    • wah…. terkejut aku
      begitu enter komen kok “mak bedunduk” sudah ada rontal yang jatuh
      kamsiaaa……………………

  20. Terlihat para warga dan semua orang orang yang hadir di alun-alun Kademangan itu dengan penuh keheningan mendengar seorang pendeta membacakan mantra-mantra suci berharap panen di kademangan itu selalu baik, melimpah dan dijauhkan dari segala mala petaka.

    Maka tibalah yang dinantikan oleh semua warga pada saat itu, yaitu sebuah pagelaran Langen Tayub dari sebuah kelompok kesenian yang sangat tersohor di Kadipaten Tuban itu.

    Terdengar suara riuh sorak dan sorai para penonton manakala seorang pramugari atau landang membuka pagelaran kesenian langen tayub.

    Bertambah riuh suasana manakala rombongan waranggono turun berlenggak lenggok gemulai menarikan sebuah tarian Gambyong, sebuah tarian mewakili kata sambutan selamat datang para tetamu dan para penonton.

    “Gending anyer, gending anyer !!”, berteriak beberapa penonton meminta para waranggono melantunkan sebuah gending terbaru mereka.

    “Sabar, sabar”, berkata seorang Landang sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi berusaha meredam teriakan para penonton.”Untuk para warga Kademangan ini, kami akan membawakan sebua gending anyer yang berjudul Ksatria seruling sakti”, berkata seorang landang dihadapan para hadirin.

    Mendengar gending Ksatria seruling sakti akan ditembangkan, terdengar suara para penonton menyambutnya dengan penuh kegembiraan.

    Maka para waranggono melantunkan suaranya membawakan gending terbaru mereka yang diangkat dari sebuah kisah nyata yang baru-baru ini telah menggemparkan hampir semua orang di seluruh wilayah Tuban saat itu, yaitu tentang para pemburu mustika batu Tuban di air terjun Nglirip, dimana telah muncul seorang ksatria berseruling sakti mengalahkan semua para pemburu mustika.

    Para seniman Langen tayub telah semakin mengharumkan nama ksatria seruling sakti itu dengan menggubahnya menjadi gending anyer ciptaan mereka yang selalu dilantunkan disetiap pagelaran mereka.

    Gajahmada yang telah melebur diantara para penonton terlihat tersenyum sendiri manakala seorang waranggono melantunkan gending ksatria seruling sakti,

    Dua bidadari cantik turun dari langit, mandi di air terjun Nglirip

    Tiga raksasa datang memaksa membawa pergi sang bidadari.

    Datanglah ksatria seruling sakti mengalahkan tiga raksasa

    Sayang seribu sayang, ksatria seruling sakti tuna wicara

    Sayang seribu sayang, ksatria seruling sakti tidak bisa mengatakan cintanya.

    Sayang seribu sayang, dua bidadari kembali ke langit, Sayang seribu sayang.

    • dua…….
      mudah-mudahan masih ada lagi
      biar cepet dibendel, he he he ….
      Risang lupa, sepertinya sih 5 rontal lagi PKPM-01 sudah bisa dibendel

  21. Terlihat para hadirin seperti tersihir ikut mengibing bersama sebagaimana para pengibing didepan panggung dengan sampur di leher.

    Namun suasana yang sangat meriah itu tiba-tiba terhenti, suara gamelan berhenti dan para pengibing dan waranggono terlihat mundur beberapa langkah dengan wajah cemas dan dipenuhi rasa takut.
    Ada apa gerangan ??

    Ternyata di depan panggung telah berdiri seorang pemuda dengan mengangkat tinggi-tinggi kerisnya dengan suara lantang meminta gending ksatria seruling sakti itu dihentikan.

    “Mulai hari ini aku tidak ingin gending Ksatria seruling sakti kudengar ditelingaku, juga ditembangkan di seluruh tanah Tuban ini. Barang siapa melanggar aturanku, akan mendapat hukuman dariku”, berkata pemuda itu yang diketahui bernama Kuda Anjampiani, putra adipati Ranggalawe.

    Suasana seketika menjadi begitu sepi, begitu lengang dan begitu mencekam, tidak seorangpun berani membantah perkataan Kuda Anjampiani yang diketahui mempunyai kesaktian tinggi itu, apalagi bersamanya saat itu adalah gurunya sendiri Ki Ajar Pelandongan.

    Untung saja Landang yang diturunkan saat itu adalah seorang landang yang mumpuni, dapat mengendalikan suasana panggung.

    “Terima kasih kami sampaikan kepada putra Adipati yang perkasa, Adimas Kuda Anjampiani yang telah tampil di depan panggung, untuk penghormatan dan kesetiaan kami kepada junjungan yang mulia Adipati Ranggalawe, kami akan menembangkan sebuah gending idaman yang lebih indah, dipersilahkan kepada hadirin menikmati gending kami, Gambir Sawit”, berkata seorang Landang mencoba meredam suasana mencekam itu.

    Suasanapun kembali seperti sedia kala, namun tetap saja ada sebuah kekecewaan di hati para warga yang hadir disaat itu, meski mereka tidak berani mengungkapkannya.

    Mengapa seorang pemuda seperti Kuda Anjampiani itu begitu membenci gending Ksatria seruling sakti ?

    Semula bermula tentang sebuah kabar cerita tentang seorang ksatria yang telah dapat mengalahkan hampir semua orang sakti di air terjun Nglirip beberapa pekan yang lalu. Ksatria seruling sakti tanpa nama itu telah menjadi pembicaraan hampir semua orang di wilayah Tuban itu dan telah diagungkan oleh orang-orang sebagai seorang yang sakti berilmu tinggi adijaya mandraguna.

    Berita itulah yang telah membuat telinga Kuda Anjampiani seperti terbakar. Selama ini semua orang Tuban telah mengagungkan keluarga Adipati Ranggalawe sebagai orang-orang berilmu mempunyai kesaktian tinggi, tiada lawan tanding.

    Keharuman nama Ksatria seruling sakti dapat memudarkan nama keluarga Adipati Ranggalawe, dimana saat itu tengah menyusun sebuah kekuatan tandingan menghadapi para penguasa Majapahit. Dan kehadiran putra Adipati Ranggalawe bersama gurunya di Kademangan itu adalah untuk mengangkat kembali nama kehormatan dan kebesaran keluarga Adipati Ranggalawe di hati orang-orang Tuban.

    • ups…
      kurang empat……

      • Upppssss……kamsia !!!!!!

  22. Upppssss……..ternyata prajurit pelatih datang naik helikopter, pantas tidak terjebak kemacetan……!!!!!!!!
    Ternyata Kuda Anjampiani adalah calon pemimpin yang mudah naik darah, hobinya mengacungkan kerisnya ke atas sembari marah2.
    Persis banget sama orang di Kdipaten tetangga, kalau marah suka ngacung acungkan pistol, kadang malah nglempar panah sendaren.

  23. Nuwun,

    Punåkawan sumêlå atur:

    TEMBANG SUMBANG DI ANTARA PARA KSATRIA MAJAPAHIT
    © Punakawan Sang Botjah Angon

    Lakon: Buah Maja Yang Pahit [I]

    Dongeng Tembang Sumbang di antara Para Ksatria Majapahit yang kusajikan ini adalah dongeng tentang manusia, ketika sekelompok orang mempunyai kepentingan yang sama, cita-cita besar yang sama, cita-cita luhur, mereka seia-sekata bersatu untuk mencapainya.

    Dengan berbagai alasan, ketika cita-cita itu telah terwujud, diimbuh dengan adanya kepentingan yang berbeda dan bahkan saling berseberangan, timbullah intrik di antara mereka, ditambah pula dengan hadirnya penghasut yang sengaja membuat suasana semakin keruh.

    Kelanjutan dari itu dapat kita duga, di antara para ksatria itu ada yang tersingkir atau sengaja disingkirkan dari lingkar kekuasaan.

    Mereka yang tersingkir atau yang sengaja disingkirkan itu telah melagukan tembang yang berbeda ‘céngkoknya’ dengan tembang penguasa.

    Negara menempatkan mereka sebagai pemberontak yang melawan pemerintah yang sah, mereka dicap sebagai penghianat, dan atas nama anggêr-anggêr hukum negara mereka harus dilenyapkan.

    Ontran-ontran yang hendak saya dongengkan ini terjadi di awal-awal berdirinya Majapahit, kerajaan besar di Nusantara, di masa awal pemerintahan Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasa Jayāwardhanā Anantawikramottunggadewa abhiseka Raden Wijaya, hingga masa pemerintahan Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara, abhiseka Kala Gemet Jayanegara,

    ***

    Berawal dari sebuah hutan di dusun Gampingrawa, Alas Trik, hutan yang dibangun dengan segala jerih payah dengan bermandikan keringat, air mata bahkan darah para ksatria.

    Para ksatria itu telah menorehkan tinta emas memoncerkan kerajaan agung Tiktaçripala, yang disebut juga Wilwatikta, atau yang lebih dikenal dengan nama Majapahit.

    Pada awalnya para ksatria itu bersatu padu bahu membahu membabat hutan, mendirikan pemukiman baru, rumah dan istana, membuat saluran-saluran air, bendungan, membuka lahan-lahan pertanian, tambak, membangun pelabuhan, membangun kehidupan baru, mendirikan kerajaan baru.

    Namun pada perjalanan berikutnya, ketika kerajaan sudah terbentuk, lebih besar bahkan melebihi besarnya angan-angan mereka, timbullah rasa ketidak puasan diantara para ksatria itu, tercipta kebencian, hasut menghasut, diimbuh adanya penghasut.

    Adalah Kubilai Khan. Khan Besar Terakhir, Kaisar Cina mengirim seorang utusan bernama Meng Khi ke Jawa meminta raja Kartanagara untuk tunduk di bawah kekuasaan Cina.

    Merasa tersinggung, utusan itu dicederai wajahnya oleh Kartanagara dan meingirimnya pulang ke Cina dengan pesan tegas bahwa ia tidak akan tunduk di bawah kekuasaan raja Mongol.

    Perlakuan Kartanegara terhadap Meng Khi dianggap sebagai penghinaan kepada Kubilai Khan. Sebagai seorang kaisar yang sangat berkuasa di daratan Asia saat itu, ia merasa terhina dan berniat untuk menghancurkan Jawa yang menurutnya telah mempermalukan bangsa Mongol.

    Peristiwa penyerbuan ke Jawa ini dituliskan dalam beberapa sumber di Cina dan merupakan sejarah yang sangat menarik tentang kehancuran kerajaan Singasari dan munculnya kerajaan Majapahit.

    Disebutkan bahwa utusan yang dikirim ke Jawa terdiri dari tiga orang pejabat tinggi kerajaan, yaitu Shih Pi, Ike Mese, dan Kau Hsing. Hanya Kau Hsing yang berdarah Cina, sedangkan dua lainnya adalah orang Mongol. Mereka diberangkatkan dari Fukien membawa 20.000 pasukan dan seribu kapal.

    Kubilai Khan membekali pasukan ini untuk pelayaran selama satu tahun serta biaya sebesar 40.000 batangan perak. Shih Pi dan Ike Mese mengumpulkan pasukan dari tiga provinsi: Fukien, Kiangsi, dan Hukuang.

    Sedangkan Kau Hsing bertanggung jawab untuk menyiapkan perbekalan dan kapal. Pasukan besar ini berangkat dari pelabuhan Chuan-chou dan tiba di Pulau Belitung sekitar bulan Januari tahun 1293. Di sini mereka mempersiapkan penyerangan ke Jawa selama lebih kurang satu bulan

    Perjalanan menuju Pulau Belitung yang memakan waktu beberapa minggu melemahkan bala tentara Mongol karena harus melewati laut dengan ombak yang cukup besar. Banyak prajurit yang sakit karena tidak terbiasa melakukan pelayaran.

    Di Belitung mereka menebang pohon dan membuat perahu berukuran lebih kecil untuk masuk ke sungai-sungai di Jawa yang sempit sambil memperbaiki kapal-kapal mereka yang telah berlayar mengarungi laut cukup jauh.

    Pada bulan kedua tahun itu Ike Mese bersama pejabat yang menangani wilayah Jawa dan 500 orang menggunakan 10 kapal berangkat menuju ke Jawa untuk membuka jalan bagi bala tentara Mongol yang dipimpin oleh Shih Pi.

    Ketika berada di Tuban mereka mendengar bahwa raja Kartanagara telah tewas dibunuh oleh Jayakatwang yang kemudian mengangkat dirinya sebagai raja Singasari.

    Oleh karena perintah Kubilai Khan adalah menundukkan Jawa dan memaksa raja Singasari, siapa pun orangnya, untuk mengakui kekuasaan bangsa Mongol, maka rencana menjatuhkan Jawa tetap dilaksanakan.

    Sebelum menyusul ke Tuban orang-orang Mongol kembali berhenti di Pulau Karimunjawa untuk bersiap-siap memasuki wilayah Singasari. Setelah berkumpul kembali di Tuban dengan bala tentara Mongol.

    Diputuskan bahwa Ike Mese akan membawa setengah dari pasukan kira-kira sebanyak 10.000 orang berjalan kaki menuju Singasari, selebihnya tetap di kapal dan melakukan perjalanan menggunakan sungai sebagai jalan masuk ke tempat yang sama.

    Sebagai seorang pelaut yang berpengalaman, Ike Mese, yang sebenarnya adalah suku Uigur dari pedalaman Cina bukannya bangsa Mongol, mendahului untuk membina kerja sama dengan penguasa-penguasa lokal yang tidak setia kepada Jayakatwang.

    Menurut Pararaton, kedatangan bala tentara Mongol (disebut Tartar) adalah merupakan upaya Bupati Madura, Aria Wiraraja, yang mengundangnya ke Jawa untuk menjatuhkan Daha.

    Aria Wiraraja berjanji kepada raja Mongol bahwa ia akan mempersembahkan seorang puteri cantik sebagai tanda persahabatan apabila Daha dapat ditundukkan. Surat kepada raja Mongol disampaikan melalui jasa pedagang Cina yang kapalnya tengah merapat di Jawa.

    Armada kapal kerajaan Mongol selebihnya dipimpin langsung oleh Shih Pi memasuki Jawa dari arah sungai Sedayu dan Kali Mas. Setelah mendarat di Jawa, ia menugaskan Ike Mese dan Kau Hsing untuk memimpin pasukan darat.

    Beberapa panglima “pasukan 10.000-an” turut mendampingi mereka. Sebelumnya, tiga orang pejabat tinggi diberangkatkan menggunakan ‘kapal cepat’ menuju ke Majapahit setelah mendengar bahwa pasukan Raden Wijaya ingin bergabung tetapi tidak bisa meninggalkan pasukannya.

    Melihat keuntungan memperoleh bantuan dari dalam, pasukan Majapahit ini kemudian dijadikan bagian dari bala tentara kerajaan bangsa Mongol.

    Untuk mempermudah gerakan bala tentara asing ini, Raden Wijaya memberi kebebasan untuk menggunakan pelabuhan-pelabuhan yang ada di bawah kekuasaannya dan bahkan memberikan panduan untuk mencapai Daha, ibukota Singasari. Ia juga memberikan peta wilayah Singasari kepada Shih Pi yang sangat bermanfaat dalam menyusun strategi perang menghancurkan Jayakatwang.

    Selain Majapahit, beberapa kerajaan kecil turut bergabung dengan orang-orang Mongol sehingga menambah besar kekuatan militer sudah sangat kuat ketika berangkat dari Cina.

    Persengkongkolan ini terwujud sebagai ungkapan rasa tidak suka mereka terhadap raja Jayakatwang yang telah membunuh Kartanegara melalui sebuah kudeta yang keji.

    Pada bulan ketiga tahun 1293, setelah seluruh pasukan berkumpul di mulut sungai Kali Mas, penyerbuan ke kerajaan Singasari mulai dilancarkan.

    Kekuatan kerajaan Singasari di sungai tersebut dapat dilumpuhkan, lebih dari 100 kapal berdekorasi kepala raksasa dapat disita karena seluruh prajurit dan pejabat yang mempertahankannya melarikan diri untuk bergabung dengan pasukan induknya.

    Peperangan besar baru terjadi pada hari ke-15, bila dihitung semenjak pasukan Mongol mendarat dan membangun kekuatan di muara Kali Mas, di mana bala tentara gabungan Mongol dengan Raden Wijaya berhasil mengalahkan pasukan Singasari.

    Kekalahan ini menyebabkan sisa pasukan kembali melarikan diri untuk berkumpul di Daha, ibukota Singasari. Pasukan Ike Mese, Kau Hsing, dan Raden Wijaya melakukan pengejaran dan berhasil memasuki Daha beberapa hari kemudian. Pada hari ke-19 terjadi peperangan yang sangat menentukan bagi kerajaan Singasari.

    Dilindungi oleh lebih dari 10.000 pasukan raja Jayakatwang berusaha memenangkan pertempuran mulai dari pagi hingga siang hari. Dalam peperangan ini dikatakan bahwa pasukan Mongol menggunakan meriam yang pada zaman itu masih tergolong langka di dunia.

    Terjadi tiga kali pertempuran besar antara kedua kekuatan yang berseteru ini di keempat arah kota dan dimenangkan oleh pihak para penyerbu.

    Pasukan Singhasri terpecah dua, sebagian menuju sungai dan tenggelam di sana karena dihadang oleh orang-orang Mongol, sedang sebagian lagi sebanyak lebih kurang 5.000 dalam keadaan panik akhirnya terbunuh setelah bertempur dengan tentara gabungan Mongol-Majapahit.

    Salah seorang anak Jayakatwang yang melarikan diri ke perbukitan di sekitar ibukota dapat ditangkap dan ditawan oleh pasukan Kau Hsing berkekuatan seribu orang.

    Jayakatwang menyadari kekalahannya, ia mundur dan bertahan di dalam kota yang dikelilingi benteng. Pada sore harinya ia memutuskan keluar dan menyerah karena tidak melihat kemungkinan untuk mampu bertahan.

    Kemenangan pasukan gabungan ini menyenangkan bangsa Mongol. Seluruh anggota keluarga raja dan pejabat tinggi Singasari berikut anak-anak mereka ditahan oleh bangsa Mongol.

    Sejarah Cina mencatat bahwa sebulan kemudian setelah penaklukan itu, Raden Wijaya memberontak dan membunuh 200 orang prajurit Mongol yang mengawalnya ke Majapahit untuk menyiapkan persembahan kepada Kaisar Kubilai Khan.

    Adalah Sora dan Ranggalawe, dua panglima perang Majapahit yang sempat membantu orang-orang Mongol menjatuhkan Jayakatwang, melakukan penumpasan itu.

    Setelah itu, dengan membawa pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya menyerang balik orang-orang Mongol dan memaksa mereka keluar dari Pulau Jawa.

    Shih Pi dan Kau Hsing yang terpisah dari pasukannya itu harus melarikan diri sampai sejauh 300 li (± 130 kilometer), sebelum akhirnya dapat bergabung kembali dengan sisa pasukan yang menunggunya di pesisir utara. Dari sini ia berlayar selama 68 hari kembali ke Cina dan mendarat di Chuan-chou.

    Kekekalahan bala tentara Mongol oleh orang-orang Jawa hingga kini tetap dikenang dalam sejarah Cina. Sebelumnya mereka nyaris tidak pernah kalah di dalam peperangan melawan bangsa mana pun di dunia.

    Selain di Jawa, pasukan Kubilai Khan juga pernah hancur saat akan menyerbu daratan Jepang. Akan tetapi kehancuran ini bukan disebabkan oleh kekuatan militer bangsa Jepang melainkan oleh terpaan badai sangat kencang yang memporakporandakan armada kapal kerajaan dan membunuh hampir seluruh prajurit di atasnya.

    Menjelang akhir bulan Maret, yaitu di hari ke-24, seluruh pasukan Mongol kembali ke negara asalnya dengan membawa tawanan para bangsawan Singasari ke Cina beserta ribuan hadiah bagi kaisar.

    Sebelum berangkat mereka menghukum mati Jayakatwang dan anaknya sebagai ungkapan rasa kesal atas ‘pemberontakan’ Raden Wijaya.

    Kitab Pararaton memberikan keterangan yang kontradiktif, disebutkan bahwa Jayakatwang bukan mati dibunuh orang-orang Mongol melainkan oleh Raden Wijaya sendiri, tidak lama setelah ibukota kerajaan Singasari berhasil dihancurkan.

    Peristiwa kehancuran Singasari dikabarkan oleh Kidung Harsawijaya, Kidung Panji Wijayakrama dan Kitab Pararaton: Peristiwa kehancuran Singasari terjadi tahun 1292. Jayakatwang lalu menjadi raja, dengan Kadiri sebagai pusat pemerintahannya.

    Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya yang datang menyerahkan diri. Raden Wijaya kemudian diberi Hutan Tarik untuk dibuka menjadi kawasan wisata perburuan.

    Sesungguhnya Aria Wiraraja telah berbalik melawan Jayakatwang. Saat itu ia ganti membantu Raden Wijaya untuk merebut kembali takhta peninggalan mertuanya.

    Pada tahun 1293 pasukan Mongol datang untuk menghukum Kertanegara yang telah berani menyakiti utusan Kubilai Khan tahun 1289.

    Pasukan Mongol tersebut diterima Raden Wijaya di desanya yang bernama Majapahit. Raden Wijaya yang mengaku sebagai ahli waris Kertanegara bersedia menyerahkan diri kepada Kubilai Khan asalkan terlebih dahulu dibantu mengalahkan Jayakatwang.

    Berita Cina menyebutkan perang terjadi pada tanggal 20 Maret 1293. Gabungan pasukan Mongol dan Majapahit menggempur kota Kadiri sejak pagi hari.

    Sekitar 5000 orang Kadiri tewas menjadi korban. Akhirnya pada sore harinya, Jayakatwang menyerah dan ditawan di atas kapal Mongol.

    Berita Cina dimaksud adalah Karya Chou Ku-fei yang berjudul Ling-wai-tai-ta tahun 1178, yang di dalamnya terdapat gambaran keadaan Jawa di masa kerajaan Kadiri. Buku ini kemudian dikutip oleh Chau Ju-kua dalam karyanya yang berjudul Chu-fan-chi, tahun 1225.

    Saat itu kerajaan Kadiri sudah dikalahkan kerajaan Tumapel atau Singasari, juga Sejarah Dinasti Yuan, yang di dalamnya terdapat kisah pengiriman pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese untuk menaklukkan Kertanegara raja Singasari (1268-1292).

    Dikisahkan kemudian pasukan Mongol ganti diserang balik oleh pihak Majapahit untuk diusir keluar dari tanah Jawa. Sebelum meninggalkan Jawa, pihak Mongol sempat menghukum mati Jayakatwang dan Ardharaja di atas kapal mereka.

    Pada akhir hidupnya, menurut Pararaton dan Kidung Harsawijaya, Jayakatwang meninggal dunia di dalam penjara Hujung Galuh setelah menyelesaikan sebuah karya sastra berjudul Kidung Wukir Polaman,

    Adapun menurut Kidung Panji Wijayakrama, Jayakatwang yang telah menyerah lalu ditawan di benteng pertahanan Mongol di Hujung Galuh. Ia meninggal di dalam tahanan.

    Ternyata kegagalan Shih Pi menundukkan Jawa harus dibayar mahal olehnya. Ia menerima 17 kali cambukan atas perintah Kubilai Khan, seluruh harta bendanya dirampas oleh kerajaan sebagai kompensasi atas peristiwa yang meredupkan kebesaran nama bangsa Mongol tersebut. Ia dipersalahkan atas tewasnya 3.000 lebih prajurit dalam ekspedisi menghukum Jawa tersebut.

    Selain itu, peristiwa ini mencoreng wajah Kubilai Khan karena untuk kedua kalinya dipermalukan orang-orang Jawa setelah raja Kartanegara melukai wajah Meng Khi.

    Namun sebagai raja yang tahu menghargai kesatriaan, tiga tahun kemudian nama baik Shih Pi dipulihkan dan harta bendanya dikembalikan.

    Ia diberi hadiah jabatan tinggi dalam jenjang tata pemerintahan kerajaan Dinasti Yuan yang dinikmatinya sampai meninggal dalam usia 86 tahun.

    Setelah Singasari diruntuhkan Raja Jayakatwang maka Raden Wijaya yang lolos dari penyerangan ke puri Singasari mencari perlindungan ke Madura yaitu adipati Wiraraja di Sumenep, hal ini sesuai dengan berita dalam Kidung Panji Wijayakrama, kitab Pararaton dan sumber primer Prasasti Kudadu berangka tahun 1216Ç/1294M yang di keluarkan oleh Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasa Jayāwardhanā Anantawikramottunggadewa, nama nobatan Raden Wijaya setelah menjadi Raja Majapahit,

    Prasasti Kudadu berisi pengalaman Raden Wijaya sebelum menjadi Raja Majapahit, dalam pelariannya menuju Songenep (Sumenep), yang telah ditolong oleh Rama Kudadu dari kejaran balatentara Jayakatwang setelah Raden Wijaya menjadi raja, penduduk desa Kudadu dan Kepala desanya (Rama) diberi hadiah tanah sima.

    Prasasti Kudadu (berangka tahun 1216 Çaka — September 1294), dikeluarkan oleh Kertarajasa Jayawarddhana (Wijaya) dalam rangka memperingati pemberian anugerah kepada pejabat desa (rama) di Kudadu, yang berupa penetapan desa Kudadu menjadi daerah swatantra. Dengan penetapan ini, maka desa Kudadu tidak lagi merupakan tanah ansa bagi Sang Hyang Dharmma di Kleme.

    Sebab muasal desa Kudadu memperoleh penghargaan/anugerah raja ialah karena desa ini (Kudadu) telah berjasa memberikan perlindungan dan bantuan bagi raja (Wijaya) pada saat beliau masih belum menjadi raja, dan bernama kecil Nararyya Sanggramawijaya, pada waktu beliau sampai di desa Kudadu karena dikejar musuh (Jayakatwang).

    Ketika desa sedang dibuat oleh orang orang Madura, ada orang yang lapar karena kurang bekalnya pada waktu ia menebang hutan, ia makan buah maja, merasa pahit, semua dibuanglah buah maja yang diambilnya itu, terkenal ada buah maja pahit rasanya, tempat itu lalu diberi nama Majapahit, disebut juga Wilwatikta atau Tiktaçripala.

    ånå tjandaké

    Nuwun

    punåkawan

    • mantabb…langsung dibungkus, hehe

    • Maturnuwun Ki Puna.

    • menanti ana tjandake……

  24. Gending pamungkas terdengar mendayu-dayu dibawakan oleh para waranggono, sebagai pertanda bahwa pegelaran langen tayub akan segera berakhir. Satu dua orang sudah mulai beranjak dari tempatnya. Terlihat pula Gajahmada telah menyelinap diantara kerumunan para penonton yang masih enggan meninggalkan pagelaran langen tayub itu.

    Suara gamelan gending langen tayub sudah terdengar sayup-sayup manakala Gajahmada sudah keluar menjauhi kademangan itu.

    “Saatnya untuk mengamati Kadipaten Tuban lebih dekat lagi”, berkata Gajahmada dalam hati membayangkan suasana di Kadipaten Tuban pasti tidak berbeda jauh dengan suasana di beberapa kademangan yang telah di amati, tengah menyusun kekuatan para prajurit dalam latihan-latihan yang keras.

    Matahari terlihat sudah condong lebih kebarat ketika Gajahmada telah memasuki Kadipaten Tuban yang berdekatan dengan pesisir pantainya.

    Ternyata dugaan dan bayangan Gajahmada tentang suasana di kadipaten Tuban sangat jauh dari yang diperkirakan, tidak ditemuinya seorangpun prajurit yang tengah berlatih sebagaimana yang ditemuinya di beberapa Kademangan.

    “Mungkin aku datang disaat matahari sudah condong kebarat”, berkata Gajahmada dalam hati.

    Terlihat Gajahmada mencoba menyusuri jalan Kadipaten Tuban yang telah mulai sepi itu, melewati istana Kadipaten Tuban yang nampak megah dan kokoh di antara bangunan sekitarnya. Tidak seorangpun yang memperhatikan langkah pemuda itu, mungkin pakaian yang dikenakan seperti pakaian para pengembara umumnya. Hingga akhirnya langkah Gajahmada telah membawanya ke bandar pelabuhan Tuban yang ternyata masih sangat ramai. Terlihat beberapa perahu dagang tengah merapat di dermaga, beberapa buruh panggul tengah membawa barang mengisi sebuah pedati.

    “Nanti malam aku akan menilik keadaan barak prajurit”, berkata Gajahmada dalam hati sambil melangkahkan kakinya kesebuah kedai yang masih buka diujung bandar pelabuhan Tuban.

    Ketika memasuki kedai itu, sudah ada beberapa orang pengunjung di kedai itu.

    Seorang pemilik kedai datang menghampirinya, menanyakan pesanan makanan kepada Gajahmada.

    Terlihat pemilik kedai itu kembali kedalam untuk menyiapkan makanan dan minuman pemuda itu.

    Di dalam kedai, Gajahmada mencoba mencuri dengar pembicaraan beberapa pengunjung kedai itu, namun tidak didapat apapun dari mereka selain cerita tentang kecantikan para waranggono sebuah kelompok Langen Tayub yang dua hari ini akan manggung disebuah acara perayaan perkawinan seorang juragan besar di Kadipaten Tuban.

    Akhirnya Gajahmada telah memutuskan untuk menunggu malam di bandar pelabuhan Tuban itu.

    Dan senja perlahan mulai redup menyelimuti pantai laut Tuban.

  25. Terlihat Gajahmada tengah menyusuri pantai laut Tuban, menatap cahaya kuning emas memancar di ujung batas lengkung laut yang menghitam.

    Indah, teduh dan damai suasana di pantai Tuban dalam tatapan mata Gajahmadadi penghujung akhir senja itu.
    Semilir angin laut yang dingin menguarai rambut pemuda itu yang tengah menatap beberapa nelayan yang tengah mengayuh perahu sampan mereka menuju tengah laut.

    “Peperangan dan perebutan kekuasaan silih berganti, tidak akan merubah apapun kehidupan mereka. Yang mereka ketahui adalah musim badai dan musim melaut, mengais kehidupan malam di tengah laut berharap ikan masuk memenuhi jala-jala mereka sebagai kabar gembira buah tangan manakala kembali ke rumah menemui istri dan anak-anak mereka yang menunggu dan berdoa sepanjang malam untuk pahlawan hati mereka”,berkata Gajahmada dalam hati sambil memandang sebuah perahu nelayan yang semakin menjauh bergoyang diatas ombak laut malam.

    Perlahan cahaya kuning di uful barat bumi telah mulai menghilang, wajah lautan telah menjadi hitam kelam di bawah langit malam. Titik-titik cahaya lentera milik para nelayan terlihat seperti bintang berkelip ditengah laut bersama riak deru ombak berkali-kali datang dan pergi membentur bibir dermaga kayu yang kusam mulai rapuh.

    Lama Gajahmada duduk di bawah sebuah pohon kelapa yang tumbuh di pinggir pantai Tuban itu, jauh dari keramaian bandar pelabuhan Tuban yang terlihat semakin sepi manakala malam sudah menjadi semakin larut.

    Terlihat Gajahmada telah bangkit dari duduknya, perlahan anak muda itu melangkah menuju kearah jalan Kadipaten Tuban yang tidak begitu jauh itu.

    Jalan kadipaten Tuban di malam itu sudah terlihat begitu sepi, beberapa oncor menerangi beberapa muka regol bangunan di sepanjang jalan utama Kadipaten Tuban.

    “Bangunan barak prajurit Tuban”, berkata Gajahmada ketika melewati sebuah bangunan yang sangat besar dimana pintu gerbangnya telah tertutup rapat.

    Gajahmada masih tetap melangkah melewati regol pintu gerbang bangunan barak prajurit itu yang diterangi sebuah oncor besar minyak jarak.

    Namun ketika dirinya berada di ujung pagar banguinan itu, terlihat pemuda yang mempunyai kesaktian ilmu sangat tinggi itu telah melenting melompati sisi pagar dan merapat tenggelam di kegelapan bayangan malam.

    Pemuda itu hanya melihat ada tiga orang prajurit di dalam gardu penjagaan.

    Setelah merasa yakin bahwa kehadirannya tidak diketahui oleh siapapun, terlihat pemuda itu telah melesat dan merapat di dinding bangunan utama barak prajurit Tuban.

    • Kurang dua……

      mudah-mudahan malam ini sudah bisa dibungkus
      besok, mumpung libur bisa buat gandok baru untuk menampung runtuhan rontal yang jatuh di tepi Situ Cipondoh

      • …mbil ngemil salak pondoh….

  26. Bayangan malam telah melindungi Gajahmada yang tengah merapat di dinding bangunan utama.

    Hanya denga sedikit ayunan kaki, tubuh Gajahmada sudah seperti anak panah meluncur keatas wuwungan atap bangunan utama itu.

    Terlihat anak muda itu kembali merapatkan tubuhnya sejajar dengan atap wuwungan dan melebur menjadi satu dengan bayangan malam.
    Setelah memastikan keadaan aman, kembali anak muda itu telah bergerak cepat dan ringan berpindah keatas wuwungan bangunan lain.

    “Sepi !!”, berkata Gajahmada dalam hati manakala telah membuka sedikit atap dan melihat ruang bawah dalam barak prajurit.

    Terlihat Gajahmada telah melesat berpindah dari satu wuwungan bangunan ke bangunan lainnya, ternyata Gajahmada tidak seorangpun prajurit di dalam barak-barak mereka.

    Malam sudah semakin larut, tanpa sinar bulan menjadikan malam itu begitu pekat dan gelap.

    Terlihat Gajahmada sudah berada kembali merapat di dinding utama bangunan barak prajurit. Setelah memastikan bahwa ketiga orang prajurit yang berada di gardu penjagaan tidak melihatnya, maka terlihat anak muda yang telah memiliki ilmu meringankan tubuh dengan sangat sempurna itu telah seperti terbang melesat cepat mendekati dinding pagar dan melenting melompati pagar dinding itu.

    Tidak seorangpun berada dijalan dan melihat anak muda itu melompat keluar dinding bangunan barak prajurit itu.

    Jalan Kadipaten Tuban malam itu begitu sepi, Gajahmada terlihat telah melangkah kembali ke arah pesisir pantai.

    “Kemana para prajurit Tuban saat ini ?”, berkata dalam hati Gajahmada ketika tengah duduk bersandar di sebuah batang pohon kelapa yang menghalangi terpaan angin malam di tepian pantai Tuban.

    Tidak terasa semilir angin di tepian pantai Tuban telah membuatnya tertidur. Namun sebagaimana jiwa seorang Ksatria pengembara, panca inderanya masih tetap terjaga, masih mendengar suara deru ombak tiada henti, masih mendengar suara pelepah kelapa yang kering jatuh ke tanah, juga mendengar suara langkah kaki menginjak pasir pantai yang lembut tengah mendekatinya.

    Perlahan mata Gajahmada terbuka, dibiarkannya dua orang lelaki yang terlihat tengah mendekatinya.

    “Berdirilah anak muda, kami ingin membawa kamu ke istana Kadipaten”, berkata salah seorang diantara mereka setelah berada di dekat Gajahmada yang masih bersandar di batang pohon kelapa.

    Terlihat mata Gajahmada memandang kearah kedua orang lelaki itu, daya ingatnya yang sangat kuat seperti pernah melihat kedua lelaki itu, seorang masih muda sebaya dengannya, sementara lelaki lainnya sudah cukup umur.

    • kurang satu…..
      he he he …..
      siapakah gerangan anak muda dan lelaki lain yang sudah cukup umur itu?
      hmmmm…., membuat penasaran saja Ki Sandikala ini

      • Putra Ronggolawe dan gurunya

      • Kuda Anjampiani bersama gurunya Ki Ajar Pelandongan.

        • O… iya ya, kok lupa aku, he he he ….

      • Salah semua……………..
        Itu Gembleh dengan muridnya.

        • hahahaha…mungkinkah ???? nanti di tegor sama Ki Punakawan karena keluar dari pakem, hehehe

  27. Ups…., ternyata sudah cukup

    Dengan ini PKPM-01 sudah bisa ditutup
    Gandok PKPM-02 sudah disediakan

    Monggo Pak Dhalang, gandok 02 menunggu isinya.

    • ups…..untuk remnya pakem, hehehe orang balikpapan bilang remnya,KONTAN, hehe ,baru aja mau lempar rontal.

      oke lah kalo begitu, ciaaaatttttt langsung terbang melesat dikegelapan malam

  28. Mantap di tunggu klanjutannya !!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: