PKPM-02

<< kembali | lanjut >>

PKPM-02

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 6 Juni 2014 at 19:53  Comments (177)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-02/trackback/

RSS feed for comments on this post.

177 KomentarTinggalkan komentar

  1. Malam dipenuhi bintang gemintang.
    Gugus bintang Waluku bersinar di atas langit malam menjadi saksi bisu manakala sebuah jung besar Majapahit meninggalkan Tanah Ujung Galuh.

    Rakyan Kebo Arema,ksatria dari timur itu telah memimpin jung besar Majapahit membawa tiga ribu prajurit menuju Pantai Tuban.

    Sementara itu, di waktu yang sama terlihat dua ribu prajurit telah keluar dari gerbang batas kotaraja. Patih Mahesa Amping sang ksatria penaklut Tanah Melayu yang dikenal dengan sebutan Manusia setengah dewa itu telah membawa pasukannya menuju Tanah Tuban,
    Tidak seperti biasanya mengiringi perjalanan sebuah pasukan besar dengan suara tabuhan bende dan genderang. Tidak ada suara apapun mengiringi keberangkatan pasukan besar itu, hanya suara gemuruh langkah kaki para prajurit yang terdengar seperti suara gempa menggetarkan bumi disekitarnya. Mereka berjalan seperti sekumpulan hantu malam tanpa suara.

    Patih Mahesa Amping adalah seorang pahlawan Majapahit yang sangat cerdik, dirinya telah mengetahui bahwa para deliksandi musuh telah menyebar memata-matai kekuatan Majapahit. Itulah sebabnya dirinya telah memerintahkan pasukannya bergerak hanya di waktu malam tanpa bende dan genderang, tanpa suara apapun seperti sekumpulan hantu malam menjelajahi padang ilalang, mendaki perbukitan dan menyusuri lembah dan hutan di waktu malam.

    Di waktu siang, Patih MahesaAmping telah memerintahkan pasukannya untuk beristirahat di tempat-tempat yang jarang dilalui oleh orang biasa, ditempat-tempat yang sunyi dari keramaian.

    Hujan yang turun di waktu malam di bulan ketujuh di tahun itu tidak membuat surut para prajurit Majapahit , mereka terus melangkah mendekati daerah kekuasaan Kadipaten Tuban.

    Di Malam ke dua mereka telah mendekati daerah Tuban, tidak jauh dari Hutan Jatirogo.

    Diujung malam ke dua itu,Patih Mahesa Amping telah memerintahkan pasukannya untuk beristirahat.

    Sementara itu di ujung malam yang sama, sebuah jung besar Majapahit terlihat telah mendekati pantai pesisir Tuban. Tiga ribu pasukan Rakyan Kebo Arema seperti sekumpulan srigala malam tidak sabar untuk segera turun memenuhi Bandar pelabuhan Tuban.
    “Kosongkan istana Kadipaten, mereka telah memasuki jebakan kita”, berkata Adipati Ranggalawe memberi perintah kepada para prajurit penjaga istana Kadipaten untuk segera pergi mengosongkan istana Kadipaten.

    Namun ternyata Adipati Ranggalawe terlalu menganggap remeh para ksatria Majapahit yang sudah punya segudang siasat peperangan. Kali ini jebakan Adipati Ranggalawe sudah dapat dibaca oleh lawannya. Pasukan armada laut Majapahit di bawah pimpinan Rakyan Kebo Arema itu ternyata tidak langsung menuju istana Kadipaten Tuban, tetapi mereka berbelok arah menuju pasar Kadipaten.

    • Hub……
      baru bisa hadir di Padepokan
      hmmmm …… ternyata banyak rontal berjatuhan hari ini

      kamsiiiaaaaaa…………..!!!

  2. Para perwira tinggi pasukan Tuban yang tengah bersembunyi di goa Abar yang tidak jauh dari pasar Kadipaten Tuban telah mendapat kabar tentang merapatnya sebuah jung besar Majapahit membawa sebuah pasukan besarnya. Sesuai dengan rencana semula, mereka akan keluar diwaktu malam kedua, mengganyang pasukan besar Majapahit yang telah menguasai istana Kadipaten.

    Namun bukan main terkejutnya para perwira tinggi itu manakala melihat sebuah pasukan besar telah mendekati goa persembunyiannya.
    T
    erang benderang cahaya obor menerangi muka goa Abar, pasukan Majapahit telah berada di muka gia Abar.

    Maju menghadang musuh, atau mundur berkalang kubur, kata itulah yang ada dalam pikiran dan hati para prajurit Tuban.

    Maka pertempuran di muka goa Abar sudah tidak dapat dihindari lagi.
    Suasana yang biasanya hening sepanjang waktu di muka goa Abar itu tiba-tiba saja diujung malam itu berubah menjadi suara riuh gemuruh peperangan, teriakan dan suara gemerincing dua senjata besi, tombak dan pedang terus membahana memenuhi udara muka goa Abar.

    Ternyata bukan omong kosong belaka bila julukan Rakyan Kebo Arema sebagai singa di medan perang. Orang tua yang masih gagah itu benar-benar seperti seekor singa besar merobohkan setiap lawan yang datang mendekatinya bahkan masih sempat memimpin pasukannya bergerak.

    Armada pasukan Rakyan Kebo Arema yang biasanya menghadapi para bajak laut, kali ini menghadapi para prajurit Tuban yang gagah berani.

    Dari atas kudanya, Rakyan Kebo Arema memimpin pasukannya sekaligus sebagai paruh gelar garuda nglayang.
    Armada pasukan Rakyan Kebo Arema seperti seekor garuda besar merusak pertahanan dan kekuatan lawan yang mencoba untuk terus bertahan.

    Sang fajar sudah terlihat cahayanya menerangi muka goa Abar, menerangi riuh gemuruh suara peperangan di muka goa antara prajurit Majapahit dan prajurit Tuban.

    Korban peperangan sudah terlihat dari dua kubu yang berseberangan itu, darah berceceran memenuhi lapangan terbuka di muka goa Abar itu diantara suara jerit dan rintih pedih mereka yang terluka menahan rasa perih yang sangat.

    Para prajurit armada laut Majapahit yang punya banyak pengalaman bertempur itu terlihat sudah mulai dapat mendesak lawan, mereka seperti raja elang laut perkasa mengancam mangsanya.

    Satu persatu korban berguguran di pihak prajurit Tuban, semakin lama jumlah mereka terlihat sudah semakin menyusut surut. Namun semangat para prajurit Tuban itu seperti pantang surut sedikitpun, mereka seperti sudah memilih hidup atau mati di medan perang sebagai seorang pahlawan.

    • Kamsiiiiaaaaaaaaaaa……………..!!!!!!!!!!!!!!!

  3. Met sore

  4. Matahari sudah mulai tinggi, namun pertempuran di mulut goa itu masih juga belum terlihat ada tanda-tanda akan berakhir.
    Perlahan tapi pasti, para prajurit Majapahit telah dapat menggeser para prajurit Tuban masuk kedalam goa.

    Keadaan itu telah menyulitkan para prajurit Majapahit untuk dapat maju, karena mulut goa sangat terbatas untuk dimasuki secara bersama-sama.

    Lama para prajurit Tuban itu bertahan di dalam mulut goa.
    Hingga akhirnya telah membuat Rakyan Kebo Arema terlihat sudah mulai tidak sabaran lagi.

    Terlihat ksatria dari timur itu turun dari kudanya, berjalan mendekati arah mulut goa.

    Beberapa orang prajurit Majapahit terlihat menyibak memberi jalan Rakyan Kebo Arema.

    Luar biasa, hanya dengan sebuah senjata badik ditangan, puluhan prajurit Tuban di mulut goa itu seperti tersibak. Terlihat Rakyan Kebo Arema terus menerobos lebih dalam lagi.

    Melihat pemimpin mereka telah dapat membuka jalan, beberapa perwira tinggi prajurit Majapahit yang mempunyai tataran ilmu cukup tinggi telah ikut masuk di belakang Rakyan Kebo Arema.

    Perlahan tapi pasti, para prajurit Tuban seperti terdorong bergeser masuk ke goa lebih dalam lagi.

    Ternyata ruang dalam goa itu lebih luas dari pintu masuknya, hal ini membuat para prajurit Majapahit dapat masuk seluruhnya kedalam goa yang cukup luas itu.

    Pertempuranpun seperti berpindah tempat, dari luar goa berubah menjadi di dalam goa. Getar dan gemuruh suara peperangan seperti gema kematian yang menakutkan mengisi rongga-rongga dinding goa yang dipenuhi pertempuran hampir disetiap sisinya.

    Kembali pengalaman bertempur para prajurit Majapahit memang dapat diandalkan, dalam waktu singkat jumlah para prajurit Tuban langsung menyusut setengahnya.

    Korban tewas dan terluka semakin bertambah.
    Akhirnya para prajurit Tuban ini sudah semakin terjepit, jumlah mereka menyusut tajam.

    “Mundur !!!”, berteriak salah seorang pemimpin prajurit Tuban.
    Teriakan itu telah berarti sebuah perintah, meski beberapa prajurit Tuban terlihat mampu bertahan dengan semangat bajanya, namun mereka sangat taat kepada perintah atasan mereka.

    Maka terlihat para prajurit Tuban mundur dengan cara saling melindungi satu dengan yang lainnya.

    Melihat musuh mereka mundur, para prajurit Majapahit terus mengejar mereka.

    • Kejar terus…………..
      Kamsia Pak Dhalang………

  5. Namun disebuah lorong goa, para prajurit Majapahit seperti kehilangan arah, ternyata lorong goa itu bercabang banyak..

    “Tutup jalankeluar, kita cari mereka sampai dapat”, berkata Rakyan Kebo Arema merasa penasaran melihat para prajurit Tuban seperti hilang ditelan bumi.

    Hampir seluruh ruang di lorong goa yang cukup luas itu telah mereka masuki, tapi tidak satupun prajurit Tuban dapat mereka temui.

    Akhirnya setelah lama mencari, baru mereka menemukan jawaban sesungguhnya mengapa para prajurit Tuban tidak mereka temui.

    Ternyata disebuah salah satu lorong, ada sebuah celah tersembunyi yang ujungnya bermuara di tengah pasar Kadipaten.

    “Kita berhadapan dengan orang-orang cerdik”, berkata Rakyan Kebo Arema mengakui kecerdikan para prajurit Tuban yang dapat meloloskan diri dari kepungan mereka.

    Sebagai seorang yang berpengalaman, Rakyan Kebo Arema tidak ingin pasukannya terjebak di dalam goa yang cukup luas itu, akhirnya Rakyan Kebo Arema telah memerintahkan semua pasukannya keluar dari Goa itu.

    “Persiapkan diri kalian, sekarang juga kita berangkat menuju istana Kadipaten”, berkata Rakyan Kebo Arema yang melihat jumlah pasukannya hanya berkurang sedikit.

    Demikianlah, tanpa mengindahkan kawan dan lawan yang terluka parah, pasukan itu telah beriringan berjalan menuju istana Kadipaten.
    Ternyata istana Kadipaten telah ditinggalkan begitu saja oleh penghuninya, para prajurit Majapahit telah mendapatkan istana itu kosong melompong.

    “Untuk sementara kita buat pertahanan di istana ini”, berkata Rakyan Kebo Arema manakala merasa yakin bahwa istana Kadipaten memang sudah kosong tak berpenghuni lagi.

    Dan senjapun perlahan memasuki bumi sepi disepanjang jalan kota Kadipaten Tuban itu yang kemarin masih terlihat ramai. Ternyata para wargakota Tuban itu telah mengungsi menyelamatkan diri, pergi jauh ketempat yang menurut mereka aman dari peperangan.

    “kami tidak menemukan seorangpun warga kota, nampaknya mereka juga telah pergi mengosongkan kotanya”, berkata salah seorang prajurit yang baru kembali dari goa untuk membantu beberapa orang prajurit yang terluka tertinggal di goa Abar.

    Ternyata naluri kemanusiaan para prajurit Majapahit seperti tersentuh, mereka tidak hanya menolong kawan sendiri yang terluka, juga beberapa musuh mereka para prajurit Tuban yang terlihat masih dapat tertolong untuk disembuhkan.

    Begitulah suasana peperangan dimanapun adanya, ditengah kancah peperangan, manusia seperti sekumpulan binatang bertaring, setelai perang usai mereka kembali dalam persaudaraan.

    • Tancap mang…………
      Kamsia……………

  6. Langit malam sepi menggayuti jalan-jalan kota Tuban tanpa cahaya pelita, warga kota sudah meninggalkan rumah-rumah mereka. Suasana terasa menjadi begitu mencekam.

    Tidak seperti suasana di dalam kota Tuban, suasana Bandar pelabuhan Tuban terlihat masih seperti sedia kala, bahkan terlihat menjadi sangat ramai karena di penuhi para pedagang yang merasa terjebak datang di saat terjadi perang di dalam kota. Dengan sangat terpaksa mereka bermalam di Bandar pelabuhan Tuban untuk melihat dan mengikuti perkembangan selanjutnya. Namun ada beberapa pedagang yang tidak ingin berpikir panjang dan takut terkena imbas peperangan itu telah langsung angkat kaki pergi meninggalkan Bandar pelabuhan Tuban.

    Sementara itu dikeremangan gelap malam, terlihat seorang penunggang kuda seperti berpacu menembus kegelapan.

    Terlihat penunggang kuda itu telah keluar dari jalan tanah masuk ke sebuah hutan bambu yang cukup rimbun. Ternyata di balik hutan rimbun itu ada sekumpulan prajurit tengah beristirahat di sebuah tanah lapang dipenuhi tanaman perdu dan ilalang.

    “Kota Tuban telah dikuasai pasukan Majapahit”, berkata penunggang kuda itu ketika sudah turun dari punggung kudanya kepada seorang lelaki yang terlihat sangat tegap penuh wibawa.

    Ternyata penunggang itu adalah seorang petugas delik sandi yang sengaja diutus untuk mengamati keadaan Kota Tuban. Sementara lelaki berbadan tegap itu ternyata adalah Patih Mahesa Amping yang tengah memimpin sebuah pasukan besarnya.

    “Mari kita melanjutkan perjalanan”, berkata Patih Mahesa Amping kepada seorang prajurit penghubung untuk menyampaikannya kepada pasukannya yang tengah beristirahat sejak siang tadi.

    Sebagaimana perjalanan sebelumnya, Pasukan Patih Mahesa Amping selalu berjalan di saat malam hari.

    Terlihat pasukan besar itu telah keluar dari hutan bamboo memasuki sebuah jalan tanah yang biasa digunakan oleh para pedagang untuk menuju ke Kota Tuban.

    Jalan itu memang terlihat memutar mengitari hutang Jatirogo.

    Beberapa pasang mata ternyata tengah mengamati gerak langkah pasukan Majapahit itu yang terlihat semakin menjauhi hutan Jatorogo.

    “Kekuatan mereka tidak melebihi kekuatan kita”, berkata salah seorang diantara mereka sambil terus mengamati gerak pasukan Majapahit yang semakin menjauh.

    “Nampaknya Majapahit telah memilih jalur darat menyerang Tuban. Sesuai rencana kita akan menjepit pasukan itu di Kademangan Singgahan”, berkata seorang lainnya.

    “Mari kita melapor kepada pimpinan kita”, berkata seseorang lagi.

    Ternyata mereka adalah lima orang prajurit Sunginep yang tengah bertugas di luar hutan Jatirogo. Terlihat mereka telah masuk kebih dalam lagi di hutan Jatirogo yang gelap pepat itu.

  7. Rupanya semua telah diperhitungkan dengan sangat masak oleh Patih Mahesa Amping, dirinya telah mengetahui bahwa sudah pasti para prajurit Sunginep telah memasang banyak mata di sekitar Hutan Jatirogo. Itulah sebabnya dirinya telah membawa pasukannya seperti akan meninggalkan hutan Jatorogo untuk memberi kesan bahwa pasukannya memang tengah menuju Kota Tuban.

    “Perintahkan pasukan berhenti, kita menunggu saat fajar menyingsing untuk masuk ke dalam hutan Jatirogo”, berkata Patih Mahesa Amping kepada seorang penghubungnya.

    Tidak lama berselang pasukan itu terlihat berhenti, tanpa suara mereka seperti sebuah bayangan hantu malam bersiap diri menunggu saat fajar menyingsing.

    Sementara itu langit malam masih menaungi para prajurit Majapahit yang telah siap menunggu perintah dari Patih Mahesa Amping. Dada-dada mereka seperti berdecak kencang membayangkan sebentar lagi mereka akan memasuki hutan Jatirogo dengan perang brubuh, tanpa gelar dan hanya satu aturan untuk tidak salah mengangkat senjata mengenai kawan sendiri. Rupanya Patih Mahesa Amping sudah punya cara tersendiri menghadapi peperangan di dalam hutan Jatirogo yang gelap itu, yaitu dengan selalu mengucapkan beberapa kata logat dan dialek khas Kediri yang tidak akan dapat diikuti oleh para prajurit dari Sunginep.

    Demikianlah, manakala langit malam mulai terbias cahaya kemerahan, terlihat pasukan besar pimpinan Patih Mahesa Amping sudah mulai bergerak berbalik arah menuju hutan Jatirogo.

    Pasukan besar itu seperti sebuah pasukan hantu malam yang langsung masuk terserap menghilang di kegelapan hutan Jatirogo yang gelap pekat.

    Kepekaan binatang hutan nampaknya telah terganggu dengan kedatangan pasukan besar itu yang terus menerobos lebih kedalam lagi memasuki hutan Jatirogo.

    Pekik beberapa binatang hutan terdengar riuh bersama kepak beberapa burung yang terusik telah menyadarkan beberapa peronda yang tengah berjaga untuk segera membangunkan kawan-kawan mereka dari sebuah ancaman yang belum mereka ketahui.

    “Ada musuh datang !!”, berteriak seorang peronda membangunkan kawan-kawan mereka yang masih tertidur.

    Lapangan terbuka di tengah hutan itu tiba-tiba saja seperti menggeliat, beberapa orang prajurit Sunginep telah keluar dari barak-barak masih dengan mata yang terkantuk.

    Untungnya mereka masih sempat menyambar senjata masing-masing ketika suara genuruh riuh seperti air bah datang dari berbagai penjuru.

    Ternyata di keremangan pagi itu, pasukan besar Majapahit telah datang menyerang mereka.

    Beberapa orang prajurit Sunginep yang tidak sempat mengambil senjatanya terpaksa menghadapi lawan dengan tangan kosong menghindar kesana kemari namun akhirnya harus menyerah manakala sebuah pedang tajam mengancam diujung lehernya.

  8. “Menyerah, atau pedang ini menembus lehermu”, berkata seorang prajurit Majapahit kepada kepada seorang prajurit Sunginep yang terjatuh di tanah.

    “Aku menyerah”, berkata prajurit Sunginep itu penuh harapan lawannya tidak akan menusuk pedangnyanya lebih jauh lagi dari kulut lehernya itu.

    Namun dibeberapa tempat, beberapa prajurit Sunginep telah hilang rasa kantuknya langsung menghadapi lawan mereka yang datang seperti hantu mimpi malam yang sangat mendebarkan hati.

    Cahaya matahari pagi belum mampu menyentuh kegelapan lapangan terbuka di tengah hutan Jatirogo itu yang tengah berkecamuk sebuah perang brubuh tanpa gelar perang apapun. Mata prajurit harus jeli membedakan mana lawan dan mana kawan.

    Di tengah amuk kecamuk perang brubuh itu, terlihat seorang lelaki dengan sebuah cambuk pendek di tangannya. Ujung cambuknya itu seperti bermata, siapapun lawan didekatnya pasti terjungkal jatuh tersentuh sasaran cambuknya itu. Siapa lagi lagi lelaki bercambuk yang sangat ahli melecut dan memutar cambuknya yang seperti bermata itu kalau bukan Patih Mahesa Amping. Rupanya Patih Mahesa Amping masih dapat mengendalikan dirinya, tidak terbawa amuk suasana peperangan. Meskipun dengan ketinggian ilmunya yang sudah berada di puncak kesempurnaannya itu, seorang diri dapat melumatkan pasukan lawan di hutan Jatirogo itu, tapi semua tidak dilakukannya. Cambuk ditangannya hanya melukai lawan dan tidak membinasakannya.

    Demikianlah, cahaya matahari sudah mulai meninggi dan telah dapat menembus lewat celah-celah daun dan ranting pepehonan cukup memberi pandangan mata untuk dapat melihat sekitarnya.

    Terlihat korban bergeletakan di mana- mana, darah basah berceceran di tanah, bunyi suara gemerincing senjata saling beradu masih terdengar di lapangan terbuka sisa reruntuhan bangunan istana di tengah hutan jatirogo masih juga berlangsung seperti belum diketahui kapan berkesudahannya.

    Bentuk tubuh kedua pasukan yang tengah berperang itu memang sangat sukar dibedakan, karena mereka memang masih satu rumpun, masih satu saudara dan keturunan, karena mereka pada dasarnya adalah satu kesatuan prajurit yang berada di bawah kedaulatan Majapahit Raya.

    Sejak bertugas sebagai seorang Patih di Kediri, Patih Mahesa Amping mulai membangun kekuatan prajurit Kediri, meningkatkan tataran olah kanuragan orang perorang dan membagi jenjang keprajuritan berdasarkan tingkat tataran tertinggi yang dimiliki oleh setiap prajurit.
    Itulah sebabnya, kemampuan olah kanuragan para prajurit Kediri dapat diandalkan dimana tingkat tataran dan kemampuan kanuragan mereka masih diatas prajurit dimanapun yang masih dibawah kedaulatan Majapahit Raya.

    Dan di hutan Jatirogo ini kemampuan prajurit Kediri telah diuji.

    Ternyata mereka memang dapat diandalkan mampu menghadapi para prajurit Sunginep dalam perang brubuh itu, satu lawan satu.

    Namun semangat para prajurit Sunginep seperti dipenuhi batu cadas, tidak mudah patah menyerah.

  9. Hingga akhirnya daya tahan kekuatan tubuh para prajurit Sunginep dapat terkikis juga, sementara tempaan dan latihan para prajurit Kediri selama ini tidaklah sia-sia, nafas dan tenaga mereka masih tetap bertahan menghadapi para prajurit Sunginep yang mulai menurun daya serangnya karena tenaganya sudah mulai terasa terkuras habis.

    Ketika sinar cahaya matahari pagi sudah mulai menghangatkan lapangan terbuka di tengah hutan Jatirogo, satu persatu prajurit Sunginep terlihat roboh terkena tendangan dan pukulan lawannya.

    Beberapa orang prajurit Sunginep bahkan terlihat terjungkal di tanah kotor akibat sebuah sabetan pedang di lambungnya. Salah satu kemampuan dan kemahiran bermain pedang telah diperlihatkan oleh para prajurit Kediri.

    Jumlah prajurit Sunginep sudah mulai surut tajam, dapat dikatakan sudah tinggal setengahnya lagi. Namun para prajurit Sunginep yang sudah mulai susut tenaganya itu masih saja tetap bertahan.

    Namun apalah arti semangat bila tenaga sudah mulai mengendur, kembali satu persatu korban berjatuhan di pihak para prajurit Sunginep.

    Akhirnya, manakala terik panas matahari telah berada diatas kepala mereka, daya serang orang perorang para prajurit Songinep sudah benar-benar runtuh tidak mampu menegakkan pedang ditangannya.

    “Menyerahlah !!”, berkata seorang prajurit sambil menendang pergelangan tangan seorang prajurit Songinep yang membiarkan pedangnya terlepas terlempar jauh.

    “Pilih olehmu dari tubuh ini, lakukanlah dengan tepat agar aku tidak merasakan sakit disaat nyawaku pergi melayang”, berkata seorang prajurit Sunginep duduk lemah dengan tangan menahan tubuhnya di tanah agar tidak jatuh terbaring.

    “Jangan kamu turuti perkataan orang itu, ikat saja kedua kaki dan tangannya”, berkata seorang lelaki disebelahnya yang tidak lain adalah Patih Mahesa Amping.

    Demikianlah, peperangan di lapangan terbuka di tengah hutan Jatirogo terlihat sudah mereda, satu persatu prajurit Sunginep sudah dapat dilumpuhkan.

    “Untuk sementara kita beristirahat disini, kirim seorang utusan untuk memberitahukan kepada Rakyan Kebo Arema bahwa pasukan kita telah meredam kekuatan lawan di hutan Jatirogo”, berkata Patih Mahesa Amping kepada seorang prajurit penghubungnya.

    Demikianlah, di bawah hembusan angin semilir sore yang cerah, terlihat seorang penunggang kuda telah menghentakkan perut kudanya untuk berlari menjauhi hutan Jatirogo dan masuk kesbuah jalur jalan tanah yang biasa digunakan oleh para pedagang yang akan menuju Kota Tuban.

    Lelaki it terus memacu kudanya meski ketika memasuki sebuah jalan padukuhan membuat beberapa orang terpaksa harus menyingkir menjauh agar terhindar terjangan kaki kuda.

    Lelaki itu terus memacu kudanya meski hari telah mulai gelap menjelang malam.

  10. Akhirnya di pertengahan malam, lelaki berkuda itu terlihat telah mendekati istana Kadipaten Tuban.

    “Siapa kamu !”, berkata seorang prajurit dengan suara membentak epada penunggang kuda yang telah turun dari kudanya memasuki gerbang istana Kadipaten.

    “Aku utusan Patih Mahesa Amping, bawalah aku kepada Rakyan Kebo Arema”, berkata lelaki itu sambil menunjukkan sebuah pertanda khusus kepatihan Kediri yang hanya dimiliki oleh Patih Mahesa Amping.

    Mendengar bahwa lelaki itu adalah utusan Mahesa Amping, prajurit penjaga gerbang istana itu langsung membawa lelaki itu menuju pendapa Kadipaten.

    Ternyata Rakyan Kebo Arema ditengah malam itu masih berbincang-bincang dengan beberapa perwira tingginya.

    “bagus, katakan kepada Patih Mahesa Amping agar membawa seluruh pasukannya merapat ke istana Kadipaten Tuban”, berkata Rakyan Kebo Arema manakala telah mendengar berita yang dibawa oleh utusan itu.

    Demikianlah, setelah menukar kudanya yang lebih segar, terlihat lelaki utusan Patih Mahesa Amping telah memacu kembali kudanya menuju Hutan Jatirogo.

    Malam dan semilir angin dingin tidak mengurangi laju kuda lelaki itu.
    Ketika awal pagi sudah mulai menyingsing, kembali derap kudanya telah membuat beberapa orang merapat dipagar halaman tidak ingin terkena terjangan kaki kuda lelaki itu yang terus di pacu di sebuah jalan-jalan padukuhan di Kademangan Singgahan.

    “Prajurit edan !!”, berkata salah seorang yang tangannya berdarah terkena tajamnya pagar bambu.

    Akhirnya lelaki penunggang kuda itu terlihat memperlambat laju kudanya manakala di hadapannya terbentang hutan Jatirogo seperti raksasa hitam.

    Dan ketika telah berada di muka hutan, lelaki itu telah melompat turun dari kudanya dan langsung memasuki hutan itu. Kerimbunan dan kerapatan pephohonan telah memperlambat langkah kaki lelaki itu yang harus memasuki hutan Jatirogo sambil menuntun seekor kuda.

    “Beristirahlah, kamu pasti sudah sangat begitu lelah”, berkata Patih Mahesa Amping kepada lelaki itu yang datang membawa berita dari Rakyan Kebo Arema di istana Kadipaten Tuban.

    Kepada pasukannya Patih Mahesa Amping telah mengabarkan bahwa besok pagi mereka harus bersiap-siap untuk berangkat menuju ke Kadipaten Tuban.

    Tidak ada banyak kegiatan yang dilakukan para prajuit yang menempatkan lapangan bekas reruntuhan istana di hutan Jatirogo itu.

    Beberapa orang terlihat masih tengah merawat kawan-kawan mereka yang terluka, juga beberapa orang prajurit Sunginep yang juga terluka parah.

    Sementara itu beberapa prajurit telah ditugaskan untuk mengawasi para tawanan perang.

  11. Keesokan harinya,disaat matahari sudah terlihat memancar terang diujung timur bumi, sebuah pasukan besar diiringi bende dan suara genderang telah berjalan menjauhi hutan Jatirogo.

    Tidak seperti waktu berangkat dari Kotaraja Majapahit, kali ini gerak pasukan agak sedikit terhambat, karena mereka harus membawa banyak orang terluka dan para tawanan perang.

    Namun tetap saja kehadiran pasukan Majapahit yang besar itu telah membuat ciut hati orang yang melihatnya, terutama para prajurit Kademangan yang selama ini telah dihembuskan semangat untuk memberontak memecahkan diri dari kedaulatan Majapahit Raya.

    Pasukan berkuda terlihat begitu gagah berjalan di paling muka, diikuti para pasukan tombak yang selalu mengangkat tombaknya manakala suara bende berbunyi.

    Derap suara langkah kaki mereka bergemuruh menggoncangkan bumi.

    Patih Mahesa Amping terlihat tersenyum diatas kudanya, pamer kekuatan prajurit Majapahit nampaknya berhasil membuat gentar orang-orang di sisi pagar rumah mereka di beberapa padukuhan yang mereka lewati.

    Bila saja mereka terus berjalan, maka di ujung malam sudah dapat mencapai Kadipaten Tuban. Namun Patih Mahesa Amping merasa kasihan kepada prajuritnya terutama mereka yang terluka parah. Maka di sebuah padukuhan yang masih dalam wilayah Kademangan Montong, Patih Mahesa Amping telah memerintahkan pasukannya untuk beristirahat, hari memang telah menjadi mulai gelap diujung senja itu.

    “Tunjukkan keluhuran budi prajurit Majapahit, jangan sampai ada warga padukuhan ini yang terganggu dengan kehadiran kita. Jangan lengah, kita berada di lingkungan yang punya kesetiaan tinggi terhadap Adipati mereka”, berkata Patih Mahesa Amping memberikan beberapa pesan kepada pasukannya.

    Bukan main gembiranya para prajurit itu manakala diperintahkan untuk beristirahat dan bermalam di sebuah Padukuhan setelah seharian berjalan tanpa berhenti.

    Terlihat beberapa orang prajurit telah langsung membangun sebuah dapur umum di sisi sebuah sungai kecil yang berair jernih. Beberapa prajurit lagi sudah bersandar di beberapa batang pohon besar.

    Selebihnya terlihat tengah menurunkan tandu-tandu orang yang terluka di sudut semak perdu agar terhindar dari angin dingin malam. Mereka memang bermalam di tanah bulakan terbuka diujung sebuah padukuhan.

    Malampun berlalu dalam sepi, beberapa orang prajurit bergiliran berjaga sepanjang malam dengan penuh kewaspadaan. Mereka menyadari bahwa hal-kal yang tidak diinginkan bisa saja datang dengan tiba-tiba.

    Namun sepanjang malam itu, tidak ada apapun yang terjadi menimpa mereka.

    Hingga ketika pagi datang, para prajurit itu terbangun dengan tubuh terasa lebih segar bugar bersama sebuah ransum sederhana sarapan pagi mereka.

  12. Dibawah mega-mega putih yang berarak terbang ditiup angin pagi yang cerah, terlihat iring-iringan pasukan besar Majapahit telah melanjutkan perjalanan mereka kembali ke Kadipaten Tuban.

    Sebagaimana sebelumnya, iring-iringan itu telah membuat ciut dan gentar siapapun yang melihatnya. Selama ini orang-orang padukuhan telah sering melihat para prajurit pengawal Kademangan berlatih di lapangan terbuka. Namun manakala mereka melihat iring-iringan pasukan Majapahit yang besar itu berjalan melewati jalan Padukuhan mereka, hati dan perasaan mereka mulai membandin-bandingkan betapa kecil dan kerdilnya bila saja para prajurit pengawal Kademangan dikumpulkan berhadap-hadapan dengan pasukan Majapahit itu.

    Di awal senja yang bening, matahari masih memaparkan cahayanya yang teduh, terlihat pasukan Patih Mahesa Amping telah memasuki kota Kadipaten Tuban. Rakyan Kebo Arema menyambut langsung pasukan itu di pintu gerbang istana Kadipaten.

    “Selamat datang, saudaraku”, berkata Rakyan Kebo Arema kepada Patih Mahesa Amping yang telah turun dari kudanya.

    “Paman Kebo Arema kulihat sangat cocok sebagai seorang Adipati”, berkata Patih Mahesa Amping sambil tersenyum.

    “Sayangnya aku tidak suka tinggal disebuah tempat untuk waktu yang lama”, berkata Rakyan Kebo Arema ikut tertawa gembira menanggapi canda Patih Mahesa Amping.

    Terlihat Rakyan Kebo Arema telah mengajak Patih Mahesa Amping menuju pendapa istana Kadipaten.

    Manakala langkah kaki Patih Mahesa Amping menyentuh tangga pertama pendapa istana Kadipaten itu, wajahnya terlihat seperti tersiram warna duka. Bayangan sahabatnya, Adipati Ranggalawe seperti datang menyambutnya berdiri penuh senyum diatas panggung pendapa.

    Rakyan Kebo Arema tidak memperhatikan perubahan wajah Patih Mahesa Amping yang sudah ikut duduk bersamanya.

    Patih Mahesa Amping mencoba melupakan bayangan sahabatnya Adipati Ranggalawe dengan langsung bercerita tentang perjalanannya bersama pasukannya, juga peperangan mereka di hutan Jatirogo.
    Bergantian, Rakyan Kebo arema juga bercerita tentang peperangan pasukannya di goa Abar.

    “Ketika kami datang, istana Kadipaten ini telah kosong. Adipati Ranggalawe nampaknya telah membawa pasukannya pergi mengungsi”, berkata Rakyan Kebo Arema bercerita kepada Patih Mahesa Amping di hari pertama pasukannya merapat di pantai Tuban itu.

    “Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Adipati Ranggalawe, apakah istana Kadipaten yang indah ini masih dianggapnya belum besar dan agung ?”, berkata Patih Mahesa Amping sambil mengamati keindahan taman di muka pendapa istana Kadipaten yang tertata begitu asri.

    “Keinginan seseorang memang tidak sama”, berkata Rakyan Kebo Arema sambil menarik nafas panjang.

  13. hahahah !!!!, terlihat pendekar Mahesa Kompor super sakti tiada tanding tertawa di atas tebing puncak tinggi, suaranya bergema memantul diantara tebing dan batu cadas………..

    hup !! terbang melesat dan menghilang di kerimbunan hutan bambu, heheh

    • Terima kasih pendekar (pendek kekar🙂 ) Mahesa Kompor…..hati2 masuk hutan bambu..ntar gatel2 lho..😀

      • “Keinginan seseorang memang tidak sama”
        Memang betul, Ki Sanepo ingin 5 rontal lagi.
        Ki BudiP inginnya 6 rontal,
        Kalau saya secukupnya saja, yg penting banyak.

    • Matur Suwun, wah kalau pendekar Super Sakti Maheso Kompor turun gunung, pertanda banjir rontal.

    • He…he…he…..
      Pak Dhalang arep kulakan rebung……

  14. Suma Han sandikala

    • namanya kok sama dengan panggilan anak saya, uci, heheh, pasti cantik seperti anak saya,

      she suma, katanya banyak dari kalangan datuk sesat
      jadi panggil saja saya sebagai Han koko, qiqiqiqiqqq

  15. sie sie…..mesti buntung dulu kakinya

  16. “Dimana Adipati Ranggalawe saat ini ?”, bertanya Patih Mahesa Amping kepada Rakyan Kebo Arema.

    “Beberapa petugas delik sandiku telah menemukan jejaknya, Adipati Ranggalawe bersama pasukannya telah keluar dari Tuban menuju arah Lamongan”, berkata Rakyan Kebo Arema.

    “Sebuah arah jalan untuk menyeberang ke Madhura ?”, berkata Patih Mahesa Amping.

    “Aku membacanya seperti itu, Adipati Ranggalawe akan bergabung dengan ayahnya di Sunginep”, berkata Rakyan Kebo Arema.
    “Berapa kekuatan pasukan Adipati Ranggalawe saat ini ?”,bertanya Patih Mahesa Amping.

    “Sekitar lima ratus prajurit bersamanya”, berkata Rakyan Kebo Arema.

    “Kita masih dapat mencegat pasukan itu sebelum menyeberang dan bergabung dengan pasukan ayahnya”, berkata Patih Mahesa Amping.

    “Di Lamongan ada sebuah padepokan kecil tempat kedua putranya berguru, ada kemungkinan rombongan itu akan singgah disana sebelum menyeberang ke Madhura”, berkata Rakyan Kebo Arema

    “Kita pecah kekuatan kita, sebagian langsung ke Padepokan itu, sementara sebagian lagi mencegatnya di ujung penyeberangan yang pasti akan dilalui oleh pasukan Adipati Ranggalawe”, berkata Patih Mahesa Amping.

    Demikianlah, keesokan harinya pagi-pagi sekali terlihat sekitar enam ratus pasukan berkuda telah keluar bersama meninggalkan istana Kadipaten Tuban,

    Dibatas gerbang kota, pasukan berkuda itu terlihat terpecah dua memisahkan diri. Sebagian menyusuri jalur pesisir utara menuju arah penyeberangan Madhura, sementara sebagian lagi terlihat menuju arah Tanah Jabung.

    Patih Mahesa Amping terlihat begitu gagah diatas kudanya memimpin sekitar dua ratus pasukan berkuda menuju arah Tanah Jabung, sebuah daerah yang sudah masuk kedalam wilayah kekuasaan Kadipaten Lamongan saat itu.

    Ketika matahari bergeser sedikit terlihat seorang penunjuk arah telah memperlambat laju kudanya.

    Padepokan Jabung sudah tidak jauh lagi dari sini”, berkata penunjuk arah itu sambil menunju sebah padukuhan di hadapan mereka.

    Padepokan Jabung berada diujung sebuah padukuhan, sebuah padepokan kecil yang berada diluar padukuhan dikelilingi hamparan sawah dan ladang.

    Patih Mahesa Amping telah memberi isyarat kepada pasukannya untuk tidak melintasi persawahan yang baru saja ditanami bibit-bibit padi. Mereka terllihat merintis jalan pematang sawah untuk dapat menuju ke padepokan itu.

    • sie…sie…

      • Kamsiaaaaaa………………

  17. ..setong..duwek..telok..

    • ini kok ada komen sakti

      • hahaha, betul…sakti mandraguna, nampaknya Ki Sanepo telah manteg ajian tapak wesi, hehehe

        • ..manteg ajian kera sakti……dan kera ngalam….🙂

          • Kera ngalam akus nakam oskab…….

          • …pengen bakso…

          • grobyaaaaakkkkk……..

          • …Hadu…

  18. Padepokan Jabung, adalah sebuah padepokan yang sangat sederhana terdiri dari sebuah bangunan utama yang tidak terlalu besar berdinding bilik bambu dan tidak ada pagar dinding yang membatasinya. Disebelah kanan bangunan utama hanya ada barak panjang yang juga sangat sederhana untuk tinggal sehari-hari para cantriknya.

    Patih Mahesa Amping bersama pasukannya telah berada di halaman muka Padepokan Jabung, tidak terlihat ada tanda-tanda ada pasukan Ranggalawe.

    Terlihat seorang lelaki sangat tua menuruni anak tangga pendapa diiringi oleh tiga orang pemuda.

    “Mudah-mudahan mata tuaku ini tidak salah mengenali orang, angger sangat gagah memakai baju kebesaran prajurit Majapahit”, berkata lelaki tua itu penuh senyum sareh memandang kearah Patih Mahesa Amping.

    Bukan main terkejutnya Patih Mahesa Amping manakala mengenali siapa orang tua yang terlihat sudah sangat berumur itu.

    “Empu Pranata !!”, berkata Patih Mahesa Amping sambil melangkah memeluk tubuh orang tua itu penuh haru dan perasaan suka cita.
    Siapakah Empu Pranata itu ?

    Patih Mahesa Amping sangat mengenal orang tua itu sebagai saudara kembar Empu Dangka. Dua orang sakti cucu dari Empu brantas pimpinan padepokan Windu Sejati yang sangat terkenal di jaman dulu kala. Konon hanya mereka bertiga yang selamat ketika bencana air bah sungai Brantas berbalik arus menenggelamkan daratan sekitarnya dimana mereka bertiga sangat kebetulan sekali tengah mengunjungi salah seorang kerabat dekat di daerah Panawijen.

    Terakhir Patih Mahesa Amping berpisah dengan Empu Pranata manakala mendapat tugas dari Raja Kertanagara di Balidwipa, sementara Empu Pranata diangkat oleh Raja Kertanagara sebagai pendeta suci istana Singasari.

    Setelah sekian lama tidak saling bertemu, hari itu mereka dipertemukan di muka halaman Padepokan Jabung.

    “Mari kita bicara diatas pendapa”, berkata Empu Pranata kepada Patih Mahesa Amping.

    Terlihat Patih Mahesa Amping memerintahkan pasukannya untuk beristirahat di halaman muka Padepokan, sementara dirinya sendiri telah berjalan beriring dengan Empu Pranata menaiki tangga pendapa.

    “Manakala istana Singasari di hancurkan oleh pasukan Jayakatwang, aku mengasingkan diri hidup sebagai seorang pengembara biasa, bebas pergi kemanapun aku suka.Hingga ketika huru hara pasukan Mongol membakar istana Kediri, kebetulan sekali aku ada disana”, berkata Empu Pranata sambil menarik nafas panjang mengumpulkan kembali semua ingatannya sekitar peristiwa kehancuran kotaraja Kediri beberapa tahun yang telah lewat itu.

    • monggo juragan….

    • kamsiaaaa……..!!!
      selesai sudah bayar hutang baca PKPM-02, ha ha ha ….

  19. “Api telah membakar hampir seluruh bangunan di Kotaraja Kediri, juga istana Kediri. Tidak sengaja aku melihat ada seorang anak lelaki menangis terpisah dari orang tuanya. Anak lelaki itu kubawa pergi menjauhi Kotaraja Kediri dan menjadi kawan pengembaraanku, kemanapun aku pergi selalu bersamanya. Hingga akhirnya kami menetap di Padepokan sederhana ini”, berkata Empu Pranata berhenti sebentar dan menoleh kearah salah seorang dari ketiga pemuda yang menyertainya itu.”Kertawardana, beri hormat kepada pamanmu ini”, berkata Empu Pranata kepada anak muda itu.

    Terlihat anak muda itu memberi hormat kepada Patih Mahesa Amping.

    “Kertawardana ?”, berkata Patih Mahesa Amping seperti pernah mendengar nama itu.

    “Angger pasti pernah mendengar nama itu, karena dialah cucu Raja Kertanegara yang juga cucu Raja Jayakatwang dari putra Pangeran Ardharaja”, berkata Empu Pranata sambil tersenyum.
    Terkejut Patih Mahesa Amping manakala mengetahui siapa sebenarnya anak muda itu.

    “Paman Jayakatwang dan Bibi Turukbali pasti akan gembira mendengar bahwa ada seorang keturunannya yang masih hidup hingga saat ini”, berkata Patih Mahesa Amping sambil menjelaskan bahwa mantan penguasa Kediri itu sekarang telah menetap di Tanah Ujung Galuh.

    “hampir lupa, aku belum memperkenalkan kedua pemuda ini, yang lebih tua bernama Siralawe, sementara yang lebih muda bernama Buntarlawe, mereka adalah dua putra Adipati Ranggalawe yang sudah sejak kecil dipercayakan kepadaku tinggal bersama kami di padepokan ini”, berkata Empu Pranata memperkenalkan kedua anak muda lainnya.

    Mendengar nama Adipati Ranggalawe, terlihat Patih Mahesa Amping menarik nafas dalam-dalam. Mengingat kembali tugasnya datang ke Padepokan Jabung ini.

    “Semula aku hanya mengetahui sebuah nama Ki Ajar Sasmita di Padpokan Jabung ini, siapa kira bahwa Ki Ajar Sasmita adalah Empu Pranata yang kukenal”, berkata Patih Mahesa Amping kepada Empu Pranata.

    “Angger, Mahesa Amping, aku bersyukur bahwa hari ini kita dipertemukan. Sudah lama diriku tidak lagi memusingkan hiruk pikuk kehidupan duniawi, sudah lama menikmati hidup dalam suasana kedamaian di padepokan ini bersama para cantrikku. Namun ternyata diriku yang tua ini memang tidak bisa bersembunyi, tidak bisa tinggal diam dan tidak peduli manakala salah seorang keluarga cantrikku meminta perlindungan kepadaku. Kemarin Adipati Ranggalawe bersama pasukannya telah singgah disini, menitipkan keluarganya dalam lindungan diriku”, berkata Empu Pranata sambil memandang kearah Patih Mahesa Amping, meminta pertimbangan dan pemikirannya.

    “Empu Pranata, tugas dan wewenangku datang ke Tanah Tuban ini adalah untuk membawa kembali Adipati Ranggalawe kedalam cita-cita yang pernah kami ikrarkan bersama membangun sebuah kerajaan dunia yang adil diatas nilai dan martabat keluhuran kemanusiaan”, berkata Patih Mahesa Amping dan berhenti sebentar sambil menarik nafas panjang.

  20. “Baginda Raja Sanggrama Wijaya masih sangat berharap bahwa Adipati Ranggalawe dapat kembali. Kedatanganku disini adalah untuk menemuinya sebagai seorang sahabat, sebagai seorang saudara. Bagiku keluarga Adipati Ranggalawe adalah keluargaku pula. Aku akan menjaganya sebagaimana Empu Pranata menjaganya. Yang kukhawatirkan saat ini adalah pertemuan pasukan Adipati Ranggalawe dengan pasukan Rakyan Kebo Arema, semoga aku dapat mencegah pertempuran diantara dua pasukan itu”, berkata Patih Mahesa Amping kepada Empu Pranata yang telah berganti jati diri bernama Ki Ajar Sasmita itu.

    “Terima kasih angger, sejak dulu kutahu sifat dan watakmu yang selalu menghindari segala bentuk kekerasan. Mudah-mudahan pasukanmu dapat mengejar pasukan Adipati Ranggalawe yang tengah menuju kearah timur, menuju arah penyeberangan Madhura. Semoga kamu dapat mencegah pertempuran itu”, berkata Empu Pranata sambil menarik nafas panjang.

    “Semoga aku tidak datang terlambat mencegah pertempuran itu terjadi”, berkata Patih Mahesa Amping sambil berpamit diri kepada Empu Pranata tidak dapat lebih lama lagi di padepokan Jabung itu dan berjanji untuk singgah dalam waktu dan kesempatan lain.

    Demikianlah, pasukan Patih Mahesa Amping terlihat sudah jauh meninggalkan padepokan Jabung, berpacu dengan waktu untuk dapat mengejar pasukan Adipati Ranggalawe agar tidak bertemu dengan pasukan Rakyan Kebo Arema.

    Debu mengepul di belakang kaki-kaki kuda yang berlari berpacu ditanah keras menuju arah timur matahari.

    Meski telah memacu kudanya seperti terbang, Patih Mahesa Amping masih saja merasa kudanya bergerak lambat, hati dan pikirannya telah dipenuhi kecemasan yang amat sangat bahwa pertempuran kedua pasukan itu tidak dapat dicegahnya.

    Ternyata kecemasan hati dan pikiran Patih Mahesa Amping bukan muncul dari bayangan ketakutannya, melainkan sebuah firasat dan pertanda dari panggraitanya yang sudah terlatih dan sangat tajam. Karena apa yang di cemaskan oleh Patih Mahesa Amping memang sudah tidak mungkin dicegah lagi.

    Disebuah tempat ditepian sungai Tambak Beras, terlihat dua pasukan sudah saling berhadap-hadapan, pasukan Adipati Ranggalawe dan pasukan Rakyan Kebo Arema.

    Nampaknya Rakyan Kebo Arema sangat mengenal jalan menuju arah penyeberangan ke Madhura. Telah memerintahkan pasukannya menunggu di sebuah tepian sungai Tambak Beras.

    Pasukan Rakyan Kebo Arema memang tidak terlalu lama menunggu.
    Bukan main terkejutnya pasukan Adipati Ranggalawe manakala melihat sebuah pasukan Majapahit telah menunggunya di tepian sungai Tambak Beras.

    Namun Adipati Ranggalawe tidak menjadi gentar, terutama ketika melihat jumlah pasukan Majapahit lebih sedikit dari pasukannya yang berjumlah sekitar lima ratus orang prajurit itu.

  21. “Ranggalawe, lama kita tidak berjumpa”, berkata Rakyan Kebo Arema kepada Adipati Ranggalawe

    “Benar paman Kebo Arema, aku tidak pernah terpikirkan bahwa kita bertemu berhadapan dan berseberangan jalan”, berkata Adipati Ranggalawe.

    “Kamu memang tidak pernah berubah, nyalimu sangat besar”, berkata Rakyan Kebo Arema tersenyum.
    Namun bukan watak Adipati Ranggalawe bila tidak berkata apa yang ada didalam hatinya.

    “Yang kutangkap dari perkataan Paman Kebo Arema bahwa nyaliku tidak sebanding dengan tataran ilmuku, bukankah bergitu ?”, berkata Adipati Ranggalawe.

    “Aku tidak mengatakannya, kamu sendiri yang berkata demikian”, berkata Rakyan Kebo Arema masih tersenyum.

    “Sekarang apa yang Paman Kebo Arema inginkan dariku ?”, berkata Adipati Ranggalawe.

    “Mencegahmu bergabung dengan pasukan ayahmu”, berkata Rakyan Kebo Arema.

    “Pasukan Paman terlalu sedikit untuk dapat mencegahku”, berkata Adipati Ranggalawe sambil memberi tanda kepada pasukannya untuk bersiap diri.

    “Tidak perlu pasukan besar untuk dapat mencegahmu”, berkata Rakyan Kebo Arema yang juga telah member tanta kepada pasukannya untuk bersiap diri.

    Akhirnya, pertempuran memang tidak dapat lagi dihindarkan.
    Adipati Ranggalawe yang merasa lebih kuat dengan jumlah pasukannya terlihat sudah memberi tanda kepada pasukannya untuk maju menerjang pasukan yang telah menghalangi perjalanan mereka.

    “Tunjukkan bahwa kalian prajurit Tuban yang tidak mudah terhalangi oleh apapun”, berkata Adipati Ranggalawe member semangat kepada pasukannya.

    Maka dalam waktu singkat dua pasukan itupun sudah saling beradu, saling menyerang satu dengan yang lainnya. Suara gemerincing senjata saling beradu serta umpatan-umpatan kasar seperti menjadi satu, menjadi suara peperangan yang sangat mendebarkan hati itu.

    Dan pertempuran itu berlangsung ditepian sungai Tambak Beras seperti sebuah lukisan pemandangan hidup. Dan pertempuranpun terus bergeser hingga memenuhi sungai Tambak beras yang jernih berbatu itu. Beberapa orang terlihat bertempur di sebuah batuan besar, beberapa orang lagi bertempur dengan setengah badan terendam air sungai yang sedang pasang di musim penghujan itu.

    Dan korban pun mulai berjatuhan dari kedua belah pihak. Terlihat beberapa orang yang terluka terbawa arus sungai yang cukup deras itu.

    Dalam waktu singkat, jumlah pasukan di kedua belah pihak telah sama-sama berkurang hingga sampai setengahnya dari jumlah semula.

  22. Ciat… ciat… dessshhh

    tak .. tok .. tak .. tok..

    sret … sret.. sret..

    beres dah, buat sekat sentong tengah dan kanan

    tinggal menunggu, toetoege….

    • hadu…..
      kenapa ini komen jadi korat-karit
      kudu slulup di kolam WP ini
      capek deh….

  23. Dalam kecamuk perang di atas sungai berbatu itu, Adipati Ranggalawe melihat Rakyan Kebo Arema mengamuk seperti seekor singa jantan.
    Tiap geraknya selalu berujung kematian. Ditangannya senjata badik warisan para leluhur raja bugis seperti dewa pencabut nyawa, satu persatu prajurit Tuban yang bertrok dengannya langsung terlempar dan terluka, kadang langsung terbawa arus sungai yang deras itu.

    “Akulah lawanmu”, berkata Adipati Ranggalawe datang menghadang Rakyan Kebo Arema.

    Melihat Adipati Ranggalawe datang menghadangnya, terlihat Rakyan Kebo Arema tersenyum kecut berdiri sambil membersihkan darah yang menempel di badiknya ke lengan bahunya.

    “Mengapa baru sekarang ?”, berkata Rakyan Kebo Arema masih tersenyum dibalik matanya yang tajam.

    “Aku tidak ingin prajuritku berkurang menjadi korbanmu”, berkata Adipati Ranggalawe dengan keris yang digenggamnya lebih erat lagi.

    “Bagus, kamulah korban terakhirku”, berkata Rakyan Kebo Arema

    “Kita buktikan siapa jadi korban oleh siapa”, berkata Adipati Ranggalawe sambil langsung menerjang.

    Ternyata terjangan Adipati Ranggalawe sangat luar biasa, serangan dengan tataran tingkat tingginya.

    Namun Rakyan Kebo Arema bukan patung hidup yang tidak punya kemampuan, terlihat sudah bergeser menghindari serangan itu dan sudah langsung balas menyerang.

    Melihat lawan telah balas menyerang, Adipati Ranggalawe sudah langsung berkelit dan menyusul dengan sebuah serangan balasan.

    Demikianlah, serang dan balas menyerang seperti rangkaian gerak yang datang saling susul menyusul diantara keduanya semakin lama semakin cepat membuat pertempuran mereka seperti bayangan yang saling berkelebat kesana kemari.

    Sementara itu pertempuran antara prajurit Tuban dan prajurit Majapahit masih juga terus berlangsung, denting gemerincing suara senjata saling beradu terdengar berpadu dengan suara gemuruh air
    sungai Tambak Beras yang deras membentur bebatuan besar membuat suasana pertempuran menjadi seperti altar panggung peperangan yang begitu bergelora, riuh dan ramai.

    Dan korban di kedua belah pihak kembali saling berjatuhan.

    Keandalan para prajurit Majapahit dalam bertempur menghadapi prajurit Tuban yang lebih banyak menjadikan peperangan itu bertahan cukup lama dan berimbang, belum dapat dinilai siapa yang akan memenangkan pertempuran di atas sungai Tambak Beras itu.

    Air sungai Tambak Beras telah berwarna merah darah.

    Sementara pertempuran antara kedua pemimpin mereka terlihat semakin sengit. Ternyata Adipati Ranggalawe mampu melayani Rakyan Kebo Arema.

  24. Mereka seperti dua raksasa kanuragan tengah bertempur.
    Masing-masing telah meningkatkan tataran ilmunya semakin tinggi, mengeluarkan segala kemampuan dan kekuatan yang ada di dalam diri masing-masing.

    Batu-batu sungai kadang terburai terkena terjangan kaki mereka.
    Air sungai kadang mendidih terkena angin sambaran hawa panas mereka lewat senjata masing-masing.

    Adipati Ranggalawe kadang berkelebat seperti seekor elang jantan mengejar mangsanya, sementara Rakyan Kebo Arema begitu kuat,kokoh dan sigap layaknya seekor singa jantan tengah bertarung.

    Wajah dan tubuh mereka terlihat sudah basah kuyup karena terkadang bertempur di bawah air sungai yang cukup deras itu.

    Hingga akhirnya, Adipati Ranggalawe tidak mampu lagi meningkatkan tataran ilmunya, tidak mampu lagi melampaui kecepatan dan kekuatan Rakyan Kebo Arema saudara seperguruan Raja Kertanagara dan murid Empu Dangka itu.

    Berkali-kali Adipati Ranggalawe terjungkal tercebur sungai terkena tendangan dan pukulan Rakyan Kebo Arema yang tidak dapat lagi di hindari.

    Namun Adipati Ranggalawe punya semangat tempur yang tinggi, hatinya sudah membatu tidak ingin menyerah.

    Hingga dalam sebuah serangan, Adipati Ranggalawe telah dibuat mati langkah tidak dapat lagi bergerak menghindari tusukan badik Rakyan Kebo Arema yang telah meluncur mendekati jantungnya. Tapi dasar Adipati Ranggalawe sangat keras hati, disaat yang kritis itu telah membuat sebuah kenekatan untuk mati bersama dengan melempar kerisnya kearah lambung lawan.

    Terkesiap darah Rakyan Kebo Arema tidak menyangka sama sekali bahwa lawannya telah mengambil keputusan mati bersama.

    Terpikir oleh Kebo Arema untuk menggeliat tubuhnya menghindari keris yang dengan cepat meluncur kearah lambungnya. Hanya itu yang ada dalam pikirannya untuk menyelamatklan dirinya dari serangan bunuh diri Adipati Ranggalawe itu.

    Namun belum sempat dirinya untuk memutar lambungnya, sebuah serangan gelap telah menghantam pergelangan tangannya terasa pedih membuat tangannya bergetar dan bergeser sedikit dari arah serangan tidak menembus jantung lawan, tapi menembus bahu lawan.

    Blesss !!!

    Rakyan Kebo Arema terkejut merasakan sebuah benda tajam menembus lambungnya.

    “Patih Mahesa Amping….”, hanya itu yang terucap dibibirnya manakala matanya yang tajam telah melihat seseorang berdiri mematung di tepian sungai Tampak Beras.

  25. Ternyata seseorang yang sempat dilihat oleh Rakyan Kebo Arema itu adalah benar Patih Mahesa Amping.

    Patih Mahesa Amping ternyata baru saja datang di tepi sungai Tambak Beras itu dan melihat keadaan kritis serangan Rakyan Kebo Arema yang tidak mungkin dapat dihindari oleh Adipati Ranggalawe. Tidak ada jalan lain bagi Patih Mahesa Amping selain melontarkan tenaga sakti inti sejatinya lewat sorot matanya yang jarang sekali dipergunakan bila tidak dalam keadaan darurat dan terdesak.

    Patih Mahesa Amping hanya mempergunakan seperlima kekuatannya bermaksud hanya melencengkan sasaran senjata Rakyan Kebo Arema.

    Terlihat Patih Mahesa Amping seperti mematung, tidak menyangka sama sekali bahwa disaat yang sama Adipati Ranggalawe telah melakuklan tindakan sangat nekat, mati bersama.

    Akibatnya seperti telah terjadi, Rakyan Kebo Arema terkejut tangannya terkena sebuah pukulan gelap membuat dirinya tidak sempat menggerakkan tubuhnya menghindari keris Adipati Ranggalawe yang meluncur dari jarak yang sangat dekat dan sangat cepat itu.

    Terlihat Patih Mahesa Amping masih berdiri diam mematung dan membisu.

    Sementara Rakyan Kebo Arema perlahan roboh jatuh diatas batu besar pijakan kakinya.

    Terlihat Adipati Ranggalawe masih berdiri dengan sebuah badik menancap di bahu kirinya. Tapi itu tidak lama. Tiba-tiba saja tubuhnya limbung jatuh rebah disebelah Rakyan Kebo arema.

    Ternyata senjata badik milik Rakyan Kebo Arema adalah sebuah jenis senjata yang penuh dengan warangan racun ikan pari yang amat keras, hanya dengan sebuah goresan kecil saja akan membuat siapapun dalam hitungan kedipan mata akan mati dengan darah membiru kehitaman.

    Patih Mahesa Amping masih tetap berdiri diam membisu, terlihat matanya telah berkaca-kaca.

    Sementara itu beberapa prajurit yang melihat pemimpin mereka roboh tidak bergerak lagi langsung mundur menghentikan pertempuran mereka, demikian menyusul beberapa prajurit ikut mnghentikan pertempuran mereka memisahkanu diri dalam dua kelompok yang terpisah namun masih tetap dalam tingkat kewaspadaan yang tinggi dan menjaga jarak. Hingga akhirnya tidak ada lagi yang masih bertempur diatas sungai Tambak Beras itu.

    Semua mata memandang kearah Patih Mahesa Amping yang perlahan bergerak melangkah mendekati tubuh Rakyan Kebo Arema dan Adipati Ranggalawe yang rebah bersebelahan itu.

    Semua mata masih memandang kearah Patih Mahesa Amping yang telah mengangkat kedua tubuh sahabatnya itu di dua pangkal bahunya secara bersamaan.

    Semua mata masih memandang kearah Patih Mahesa Amping yang telah meletakkan kedua tubuh sahabatnya itu ditepian sungai.

    Semua mata masih memandang kearah Patih Mahesa Amping yang tengah berdiri tegak mematung.

  26. Terlihat sorot mata Patih Mahesa Amping berkilat memandang berkeliling kesemua prajurit yang baru saja bertempur itu.

    Semua prajurit yang baru saja bertempur itu seperti tidak berani melawan tatapan mata Patih Mahesa Amping, ada rasa seram, ada rasa gentar menghinggapi hati semua prajurit yang berdiri ditepian sungai Tambak Beras itu.

    “Perang telah berakhir, bawalah oleh kalian mayat para pemimpin kalian ini ke istana Kadipaten Tuban. Mulai hari ini kalian dipersatukan kembali sebagaimana jiwa pemimpin kalian ini yang telah dipersatukan kembali di akhir kehidupannya ”, berkata Patih Mahesa Amping seperti memudarkan sihir kebekuan yang sangat mencekam menghinggai hati para prajurit di tepian sungai Tanbak Beras itu.

    Dan saat sandikala letih diujung titian malam, terlihat dua buah tandu keranda diangkat perlahan meninggalkan tepian sungai Tambak Beras. Mengiringi dua buah tandu keranda itu langkah kuda para prajurit Majapahit dan prajurit Tuban yang telah membaur tidak ada jarak, juga hati dan perasaan mereka memang telah dipersatukan kembali.

    Hingga akhirnya disebuah pagi yang dipenuhi gemilang warna-warni cahaya terang fajar sang surya, iring-iringan pembawa tandu keranda jenasah dua pahlawan Majapahit itu telah tiba di batas gerbang kota Tuban, Iring-iringan pun semakin menjadi panjang mengantar dua tandu keranda hingga sampai di istana Kadipaten Tuban.

    Ribuan warga Tuban berdatangan ikut berbela sungkawa.

    Ribuan warga Tuban menundukkan kepala, manakala dua jenasah pahlawan mereka dikebumikan dengan sebuah upacara kebesaran, upacara melepas dua orang pahlawan Majapahit, dua pahlawan dihati bagi semua orang yang pernah mengenalnya.

    Ribuan warga Tuban berduka.

    Ribuan warga Tuban mengenangnya sebagai hari bersatunya kembali Kadipaten Tuban dalam pangkuan kedaulatan Majapahit Raya, berbagi keagungan, berbagi keadilan dan berbagi cita-cita bersama.

    Seribu hari setelah peristiwa itu, kendali pemerintahan di Tuban masih dalam kendali Patih Mahesa Amping.

    Perlahan, suasana dan keadaan Tanah Tuban berangsur-angsur kembali sebagaimana sebelumnya ketika di pimpin oleh Adipati Ranggalawe,

    Atas saran Patih Mahesa Amping, Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah mengangkat Siralawe, putra Ranggalawe menjadi Adipati Tuban menggantikan ayahnya.

    Semua warga Tuban menerima pengangkatan itu, menerima Adipati Siralawe menjadi pimpinan mereka di Tuban.

    Perlahan, peristiwa di tepian sungai Tambak Beras seperti terlupakan……………………..

    • wah….. kok cepat sekali selesainya “pemberontakan” Ranggalawe
      he he he ….
      padahal, jilid 2 baru bisa ditutup empat rontal lagi

    • Sekedar mengingatkan
      empat rontal lagi PKPM-02 bisa ditutup

      he he he ….

  27. Ternyata begitu cerita kematian Kebo Anabrang versi Ki Dalang Sandikala…………….ini sebenarnya yang saya tunggu-tunggu, logikanya nggak mungkin kalau Mahisa Amping akan membunuh Kebo Arema. Suwun Ki.

    • Ki BP, sepertinya tidak begitu deh.

      Memang, karena perbuatan Mahisa Ampinglah Kebo Arema tewas. Tetapi, Mahisa Amping hanya bermaksud “melencengkan” senjata Kebo Arema yang mengarah jantung Ranggalawe, tidak menduga bahwa Ranggalawe akan melontarkan kerisnya ke arah Kebo Arema.

      • Persoalannya adalah :
        Mengapa Mahisa Amping tidak bertanya kepada Ranggalawe, “He Ranggalawe, itu keris akan elo lempar kagak…?”
        Coba ditanyain dulu….kagak begitu deh kejadian akhirnya.

        (mBoten pareng protes…..yen mrotes tak bold…!!)

  28. test… satu …. dua … percobaan

    • kenapa Risang tidak bisa menggeser komen Ki Sanepo ke atas?
      hadu….., korat-karit deh komennya.

  29. Ki Dhalang……..rontalnye mane…..???

    • Ha ha ha …, jare “ditunggu kanti rena ing penggalih”

  30. dari lapangan pesawat terbang Pondok Cabe…nguinggggg, busyett tuch heli hampir nyenggol tiang antene…pilotnya baru traning 30 menit jam penerbangan, qiqiqiqqqq

    • Ups…. tak kira ada robtal jatuh.
      Okelah kalau begitu

  31. Panorama di sekitar air terjun nglirip memang sungguh indah, memandang tumpahan air terjun jatuh deras tiada henti menghempas batuan besar dibawahnya memercikkan butiran-butiran air kabut tipis bagai kapas terbang. Mata tiada jenuh dan bosan memandang tebing yang menjulang tinggi dan hutan hijau disekitarnya membuat hati menjadi sejuk dan damai.

    Ketika mata berpaling kebawah, terlihat aliran air sungai meliuk bagai seekor ular besar menuruni perbukitan hijau.

    Turun mengikuti aliran sungai, suara deru air terjun masih terdengar jelas, terlihat sebuah padepokan kecil dan asri seperti menempel di keindahan alam yang indah.

    Padepokan kecil dan asri itu dihuni oleh seorang biksuni bernama Nyi Ajeng Nglirip. Banyak yang tidak mengenalnya bahwa wanita itu adalah Gusti Kanjeng Ratu Gayatri, sang permaisuri Raja Majapahit yang mengasingkan diri menjadi seorang biksuni.

    “Genap sudah kehadiranmu, wahai Gajahmada. Menggenapi kekhawatiran keluarga di Tanah Ujung Galuh. Kabarkan kepada keluarga disana, kedamaian masih selalu menyertai kami”, berkata Nyi Ajeng Nglirip kepada Gajammada di sebuah pagi manakala anak muda itu telah bermaksud berpamit diri untuk kembali ke Tanah Ujung Galuh.

    “Keluarga di Tanah Ujung Galuh pasti akan senang mendengarnya”, berkata Gajahmada.

    “Kami disini pasti tidak sabar menunggu kamu datang kembali bersama dua orang putriku”, berkata Nyi Ajeng Nglirip dengan wajah bersinar penuh rasa suka cita membayangkan kedua putrinya datang dan hadir mengisi hari-hari yang indah bersamanya.

    “Gajahmada “, berkata Nyi Ajeng Nglirip sambil meletakkan sebuah kotak hitam dihadapannya.”Bawalah olehmu mustika batu Tuban ini untuk diserahkan kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Aku berharap mustika batu Tuban ini akan melengkapi pusaka istana”, berkata kembali Nyi Ajeng Nglirip sambil membuka kotak hitam
    dihadapannya itu.

    Terkesiap darah Gajahmada manakala melihat sebuah telur hijau yang cukup besar didalam kotak hitam itu.

    “Hamba merasa tersanjung setinggi langit, membawa dan menyerahkan benda keramat ini kehadapan Baginda Raja Sanggrama Wijaya”, berkata Gajahmada setelah menerima kotak hitam itu dari tangan Nyi Ajeng Nglirip.

    Demikianlah, pagi itu terlihat Gajahmada telah menuruni tangga panggung pendapa Padepokan diiringi pandangan mata Nyi Ajeng Nglirip dan murid terkasihnya, biksuni Andini.

    Kehadiran Gajahmada di Padepokan Nyi Ajeng Nglirip adalah untuk memastikan bahwa peperangan antara Tuban dan Majapahit tidak merambat di padepokan itu.

    Meski Nyi Ajeng Nglirip dan semua penghuni Padepokannya dapat diandalkan untuk melindungi diri sendiri, namun kehadiran anak muda itu telah membuat suasana lebih terjaga lagi.

    • satu

  32. Selama tinggal di padepokan Nyi Ajeng Nglirip, anak muda itu masih sempat berkeliling disekitar Tanah Tuban, mengamati suasana dan keadaan disana, bahkan diam-diam menyaksikan dari jauh upacara penobatan putra Ranggalawe menjadi Adipati Tuban.

    Selama tinggal di Padepokan itu, kadang Gajahmada menyempatkan dirinya mengasah dan mengenali seluruh kemampuan dan kekuatan dirinya, mengasingkan diri di dalam goa air terjun Nglirip. Pengenalan dan pengendalian tenaga inti sejati yang dimiliki oleh anak muda itu memang menjadi semakin mumpuni, namun semua itu menjadikan Gajahmada semakin mengakui kekerdilan dirinya dihadapan sang maha kuasa, semakin banyak lagi perihal pelik dan rahasia yang tidak terjangkau dalam alam akal dan kesadarannya.

    Terlihat langkah kaki Gajahmada telah menyusuri sungai air terjun Nglirip semakin jauh, deru yang selalu bergemuruh dari suara air terjun sudah tidak terdengar lagi.

    Di perbukitan yang sepi, anak muda itu kadang seperti melesat terbang tidak menyentuh tanah menguji kemampuan ilmu meringankan tubuhnya.

    Gajahmada kali ini memang sangat menikmati perjalanannya menuju Tanah Ujung Galuh, orang biasa mungkin perlu waktu sekitar tiga hari tiga malam perjalanan. Sementara anak muda itu dengan kemampuan ilmunya yang tinggi hanya perlu waktu sekitar sehari semalam perjalanan.

    Dan siang itu, Gajahmada telah berada di sebuah padukuhan yang berseberangan dengan Tanah Ujung Galuh terpisah oleh sungai Kalimas.

    “Nampaknya kita sering berjodoh, bertemu diatas rakit ini”, berkata seorang tua tersenyum menyapa Gajahmada yang bersamanya diatas rakit yang membawa mereka menyeberang.

    “Benar Ki Sanepo”, berkata Gajahmada kepada orang tua itu yang dikenalnya bernama Ki Sanepo yang tinggal di padukuhan Tanah Ujung Galuh.

    “Singgahlah ke gubukku, beberapa pohon nangkaku sudah tua dan wangi”, berkata Ki Sanepo kepada Gajahmada ketika rakit yang membawa mereka telah sampai di pinggir seberang Tanah Ujung Galuh.

    “Jagalah buah nangkamu, semoga aku datang tidak didahului codot buah”, berkata Gajahmada ketika mereka berpisah dipesimpangan jalan.

    Terlihat langkah kaki Gajahmada telah memasuki pekarangan halaman muka pura Pasanggrahan Jayakatwang.

    Gembira hati para penghuni keluarga Jayakatwang melihat Gajahmada telah datang kembali.

    Belum sempat bersih-bersih diri, Gajahmada sudah diberondong dengan berbagai macam pertanyaan.

    Gajahmada menyampaikan bahwa peperangan di Tuban tidak merambat di Padepokan Nyi Ajeng Nglirip dan suasana di Tuban telah kembali tenteram dan damai sebagaimana sebelum peperangan terjadi.

    “Apakah itu pertanda kami dapat menemui ibunda ?”, berkata Dyah Wiyat sambil tersenyum gembira.

    • dua

  33. Jayakatwang juga bercerita kepada Gajahmada bahwa beberapa hari yang telah lewat, Patih Mahesa Amping telah singgah sebalum berangkat ke Kediri dan bercerita telah bertemu dengan seorang cucuku yang ternyata masih hidup dan selamat dalam peristiwa amuk perang pasukan Mongol beberapa tahun silam diasuh oleh seorang pendeta suci istana Singasari bernama Empu Pranata.

    “Bila saja kami punya sayap, ingin rasanya terbang menemui cucuku itu”, berkata Jayakatwang menyampaikan perasaah hatinya.

    “Bilamana diijinkan, biarlah hamba yang datang menemuinya, membawanya di Tanah Unjung Galuh ini agar dapat menemui kakek dan neneknya”, berkata Gajahmada menyampaikan kesanggupannya mengantar cucu Jayakatwang ke Tanah Ujung Galuh.

    Gembira hati Jayakatwang dan Nyimas Turukbali mendengar kesanggupan dari Gajahmada, mereka membayangkan akan menemui cucu keturunan satu-satunya dari mereka yang ternyata masih hidup dan selamat, putra Pangeran Ardharaja.

    “Kapan kami diantar ke Tuban ?”, bertanya Dyah Wiyat membuat semua mata menoleh kepadanya.

    “Kakang Gajahmada mu baru tiba”, berkata Nyimas Turukbali sambil mempersilahkan Gajahmada untuk bersih-bersih di pakiwan.

    Demikianlah, setelah hari menjelang sore, seperti biasa Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat berlatih di halaman pura ingin menunjukkan kemajuan mereka di hadapan guru mereka, Gajahmada.

    Gembira hati Gajahmada melihat perkembangan olah kanuragan kedua putrid itu yang semakin pesat. Nampaknya Jayakatwang dan Nyimas Turukbali kadang ikut membantu mereka memberikan araha-arahan.

    Dalam kesempatan itu, Gajahmada telah mengatakan kepada Jayakatwang bahwa dirinya dititpkan sebuah benda mustika batu Tuban untuk diserahkan langsung kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Benda mestika itu akan melengkapi perbendaharaan pusaka istana”, berkata Jayakatwang.

    “Besok hamba akan menemui Patih Mangkubumi untuk mengantar hamba menemui Baginda Raja”, berkata Gajahmada menyampaikan rencananya.

    “Benda itu jangan terlalu lama di bawah atap tempat tinggalku, akan menggoda hasratku untuk kembali berada diatas singgasana”, berkata Jayakatwang sambil tersenyum.

    Demikianlah, keesokan harinya pagi-pagi sekali Gajahmada sudah berpamit diri kepada Jayakatwang untuk berangkat ke Kotaraja Majapahit.

    Di istana Majapahit, Gajahmada mendatangi pura pasanggrahan Patih Mangkubumi.

    “Aku akan mengantarmu, kebetulan sekali aku juga punya beberapa kepentingan disana”, berkata Patih Mangkubumi ketika Gajahmada menyampaikan maksudnya untuk mengantarkan Mustika Batu Tuban kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    • tiga

  34. Wajah penguasa tunggal Majapahit itu terlihat begitu cerah manakala menyambut kedatangan Gajahmada dan Patih Mangkubumi di pura pasanggrahannya, pura Kartika.

    “Melihat wajahmu, aku menjadi iri dan ingin kembali muda lagi agar dapat pergi berkelana ke berbagai banyak tempat yang belum pernah kusinggahi”, berkata Baginda Sanggrama Wijaya.

    “Gusti Kanjeng Ratu Gayatri menitipkan salam kepada tuanku Baginda”, berkata Gajahmada

    Mendengar perkataan itu telah membuat hati Baginda Raja Sanggrama menjadi terharu, dan bertanya keadaan istrinya itu di Tanah Tuban.

    Bukan main gembira hati Baginda Sanggrama Wijaya mendengar langsung penuturan tentang keadaan istrinya itu yang telah mengasingkan diri, telah memilih jalan hidupnya menjadi seorang biksuni.

    “Gusti Kanjeng Ratu Gayatri dalam keadaan sehat tidak kurang apapun, dan telah menitipkan sebuah Mustika Batu Tuban kepada diserahkan kepada tuanku Baginda”, berkata Gajahmada sambil mengeluarkan sebuah kotak hitam dan menyerahkannya dihadapan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Mustika batu Tuban ?”, berkata Baginda Sanggrama Wijaya sambil membuka kotak hitam itu.

    “Konon banyak orang mencarinya sebagai wahyu keraton”, berkata Patih Mangkubumi manakala ikut melihat Mustika Batu Tuban yang terlihat memancarkan cahaya perbawa tersendiri dari dalam kotak kayu hitam itu.

    “Lengkaplah sudah pusaka istana Majapahit ini, dari bumi selatan aku telah menerima keris nagasasra warisan leluhur Raja Erlangga, dari belahan bumi barat aku telah mewarisi bunga wijaya kusuma dari Prabuguru Darmasiksa. Dan hari ini dari pesisir belahan utara, kuterima Mustika Batu Tuban. Semoga cahaya wahyu keraton akan semakin menyinari singgasana Majapahit ini”, berkata Baginda Raja

    Sebelum berpamit diri, Gajahmada juga menyampaikan rencananya yang akan berangkat kembali ke Tuban untuk mengantar kedua putri Baginda Raja Sanggrama Wijaya sesuai permintaan Gusti Kanjeng Ratu Gayatri.

    “Kerestui kepergianmu bersama kedua putriku itu ke Tanah Tuban, semoga membawa kebahagiaan hati seorang ibu”, berkata Baginda Raja dengan mata seperti berkaca-kaca terharu dan mengerti sebuah kerinduan seorang ibu jauh dari kedua putrinya itu, sebagaimana dirinya yang juga terkadang punya kerinduan yang sama untuk berada diantara mereka bertiga, diantara Gajatri, Wiyat dan Ratu Gayatri.

    “Sampaikan salam dan kerinduanku kepada mereka”, hanya itu yang dikatakan oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya manakala melepas Gajahmada yang berpamit diri meninggalkan Pura Kartika.

    Terlihat Gajahmada telah keluar dari gerbang istana Majapahit, namun langkahnya terlihat berhenti di sebuah barak prajurit.

    “Masuklah, ibumu ada di dalam”, berkata seorang prajurit wanita yang ditemui Gajahmada di muka gerbang barak prajurit itu.

    • Empat

    • cihuiii….gandok 2 selesai….!!!
      menunggu Pak Satpam ogrok-ogrok nangka mateng dari Ki Sanepo yang katanya sudah tua dan wangi, hahahaha

      • Gandok baru nanti siang nggih.
        Ini masih di luar padepokan.

      • Cari galah dulu ah, buat ngogrok nangka Ki Sanepo, ha ha ha ….

  35. Suwun, njanur gunung.

  36. Gandok 03 sudah tersedia,

    monggo Pak Dhalang.

    ternyata tiga rontal sudah cukup untuk menutup rontal 02, sehingga rontal terakhir menjadi rontal pembuikam bagia PKPM-03

    nuwun

  37. Ada apa dengan gandok ini, kok rasanya tiada riak riak kehidupan. Apakah piala dunia sebegitu menguasai aktivitas di gandok ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: