PKPM-03

<< kembali | lanjut >>

PKPM-03

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 22 Juni 2014 at 19:42  Comments (159)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-03/trackback/

RSS feed for comments on this post.

159 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ternyata, Ki Ajar Sasmita yang juga dikenal bernama Empu Pranata mantan pendeta suci istana Singasari itu masih mengenal Gusti Kanjeng Ratu Gayatri.

    “Semoga mata tuaku ini tidak salah mengenal orang, bukankah aku berhadapan dengan putri bungsu Baginda Raja Kertanagara ?”, berkata Ki Ajar Sasmita.

    “Tuan Pendeta tidak salah mengenali orang, akulah putri bungsu itu”, berkata Nyi Ajeng Nglirip sambil tersenyum.

    “Puji syukur bahwa akhirnya kita dapat berjumpa kembali”, berkata Empu Pranata penuh kebahagiaan menyambut kedatangan rombongan itu.

    Nyi Ajeng Nglirip segera menyampaikan maksud kedatangan mereka di Padepokan Jabung itu kepada Empu Pranata.

    “Memang sudah saatnya Kertawardana mengenal keluarganya sendiri”, berkata Empu Pranata sambil meminta seorang cantriknya untuk memanggil Kertawardana.

    “Inikah kemenakanku itu “, berkata Nyi Ajeng Nglirip kepada Kertawardana yang sudah datang bergabung di pendapa padepokan.

    “Kertawardana menghaturkan sembah sujud”, berkata Kertawardana penuh penghormatan setelah diperkenalkan oleh Empu Pranata bahwa dihadapannya itu adalah Gusti Kanjeng Ratu Gayatri, bibinya sendiri.

    Nyi Ajeng Nglirip segera memperkenalkan rombongannya, dimana dua orang putrinya juga ikut bersamanya.

    “kakek dan nenekmu di tanah Ujung Galuh pasti akan meresa bahagia bila saja dapat melihat dirimu”, berkata Nyi Ajeng Nglirip kepada Kertawardana.

    “Sayang aku yang tua ini tidak dapat menyertai kalian”, berkata Empu Pranata yang mengijinkan Kertawardana dipertemukan dengan kakek dan neneknya di Tanah Ujung Galuh.

    Demikianlah, malam itu rombongan Nyi Ajeng Nglirip telah diterima dan dijamu di padepokan Jabung dengan penuh penghormatan.

    “Padepokan Jabung ini sangat kecil, tapi Gusti yang Maha Agung telah memudahkan langkah kalian”, berkata Empu Pranata.

    “Anak muda inilah yang telah memudahkan langkah kaki kami”, berkata Nyi Ajeng Nglirip sambil tersenyum memandang kearah Yudha Pramana dan bercerita kepada Empu Pranata tentang kejadian yang mereka temui di pasar Kadipaten Tuban.

    “Jodoh, rejeki dan maut adalah garis yang telah ditentukan oleh Gusti Yang Maha Agung. Tidak seorangpun dapat memajukannya, tidak seorangpun dapat memundurkannya dan tidak seorangpun mampu menolaknya”, berkata Empu Pranata yang sudah terlihat sangat tua itu.

    • Wah…..ini sik asik asik…..Terima kasih Ki Sandirego…..

      • ..maaf maksudnya…Ki Sandikala !

  2. Suwun ki Sandikala..

  3. Matur suwun.

  4. Dan malam itu, rombongan Nyi Ajeng Nglirip telah bermalam di Padepokan Jabung.

    Dibiliknya, Dyah Gajatri tersenyum melihat adiknya Dyah Wiyat begtiu mudahnya sudah tertidur lelap. Sementara dirinya seperti susah sekali untuk memejamkan matanya.

    Sebagai seorang gadis yang sudah mulai tumbuh dewasa, ternyata Dyah Gajatri sudah mulai memahami bahwa dirinya diam-diam telah mulai tertarik kepada lawan jenisnya.

    Siapakah pemuda yang sangat beruntung itu yang menjadi perhatian gadis putri Majapahit itu ?

    Siapa lagi anak muda yang selama ini sangat dekat dengannya, sipa lagi kalau bukan guru pembimbingnya sendiri, Gajahmada.

    Semakin dirinya mencoba berlari dari kenyataan, semakin kuat perasaan itu menggoda. Sentuhan dan perhatian Gajahmada kepadanya selalu saja menjadi bayangan yang mengulang-ulang hadir disaat menjelang tidurnya.

    Tapi semua itu hanya disimpan didalam hatinya, sebagai rahasia hidupnya.

    Perlahan, rasa penat dan lelah akhirnya telah meruntuhkan gelisah hati putri jelita itu, Dyah Gajatri akhirnya telah terlelap juga di samping adiknya, Dyah Wiyat yang sudah lama tertidur, mungkin sudah lama bermimpi berdiri di atas anjungan Jung Majapahit yang berlayar di tengah malam di bawah sang rembulan dan sepoi angin yang begitu dingin menyejukkan hati.

    Sementara itu sang rembulan di atas langit padepokan Jabung terlihat belum bulat penuh, angin dingin telah menerbangkan bunga-bunga randu yang gugur jauh dari pohonnya. Terdengar suara burung hantu sayup mengusik keheningan malam.

    Ternyata masih ada belahan jiwa di bilik lain yang gelisah di larut malam itu, sebuah hati milik seorang pemuda yang gelisah meniti malam panjang berharap pagi segera datang menjelang.

    Di peraduannya, Kertawardana tidak juga dapat memejamkan matanya, bukan kerinduan untuk bertemu dengan kakek dan neneknya di Tanah Ujung Galuh, tapi kerinduan berharap pagi akan segera datang agar dirinya dapat melihat kembali wajah jelita Dyah Gajatri yang begitu lembut penuh kedewasaan yang telah membuatnya jatuh cinta dalam pandangan pertamanya itu.

    “mungkinkah aku dapat mencuri perhatiannya ?”, berkata Kertawardana sambil berbaring berpangku kepala dengan kedua tangannya.

    Malam bagi Kertawardana seperti merayap perlahan, angannya sudah jauh terbang menyusuri banyak perjalanan dan waktu, diantara kebersamaan sang putri pencuri hatinya itu.

    Perlahan, pemuda itupun akhirnya terlena masuk antara angan dan mimpi, terjebak dan tersesat di belantara hutan lamunan, mengembara terbang di bawa awan dan angin harapan dan keinginan hati.

    Gelisah hati Kertawardana akhirnya terjaga oleh penggalan suara pagi, suara ayam jantan telah membawanya kembali dari belantara perjalanan angannya, diatas pagi di bilik peraduannya.

  5. Wajah pagi telah membuka pintunya.

    Keceriaan dan kehangatan mengisi setiap hati semua orang yang berada diatas panggung pendapa padepokan Jabung yang tengah bersiap diri untuk berangkat menuju pelabuhan Tuban.

    “Semoga keselamatan selalu menyertai kalian”, berkata Empu Pranata yang mengiringi rombongan Nyi Ajeng Nglirip hingga di ujung tangga pendapa.

    Terlihat Empu Pranata menarik nafas dalam-dalam manakala mata tuanya melihat terakhir kalinya punggung rombongan itu diujung tikungan jalan yang terhalang sebuah rumpun bambu.

    Hangat cahaya pagi telah mengiringi langkah kaki rombongan Nyi Ajeng Nglirip yang berjalan meninggalkan Padepokan Jabung diantara pematang sawah yang luas membentang membatasi sebuah padukuhan didepan mata mereka.

    Beberapa orang warga terlihat melemparkan pandangannya kearah rombongan itu yang beriring di jalan padukuhan.

    Gajahmada, Yudha Pramana dan Kertawardana terlihat berjalan dibelakang para wanita. Andini, Nyi Ajeng Nglirip dan Kunti terlihat sudah saling mengenal berjalan beriring sambil bercerita dan bercakap-cakap. Sementara itu Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat seperti seekor anak kijang berjalan di muka penuh canda ceria.

    Awan putih diatas kepala mereka terlihat berarak terbawa angin kadang menutupi cahaya matahari meneduhi langkah perjalanan mereka di jalan bulakan panjang, di perbukitan karang dan sebuah padang ilalang.

    Akhirnya manakala matahari terlihat sudah bergeser sedikit dari puncaknya, rombongan Nyi Ajeng Nglirip terlihat sudah memasuki daerah Kadipaten Tuban.

    “Sebuah kehormatan dan sanjungan tak terkira mendapat kunjungan dari Gusti Kanjeng Ratu Gayatri”, berkata Ki Sayekti, seorang syahbandar pelabuhan Tuban yang pernah bertugas di lingkungan istana Majapahit menyambut kedatangan Nyi Ajeng Nglirip dan rombongannya di rumah tempat tinggalnya yang tidak begitu jauh dengan pelabuhan Tuban.

    Nyi Ajeng Nglirip dan rombongannya telah diperlakukan layaknya para tamu agung sambil menunggu kabar datangnya jung besar Majapahit yang malam itu akan tiba singgah di Bandar pelabuhan Tuban.

    Akhirnya, di saat wayah sepi bocah, rombongan Nyi Ajeng Nglirip terlihat telah menuju Bandar pelabuhan Tuban karena telah mendapat kabar bahwa jung besar Majapahit telah datang merapat.

    Dan dikesunyian malam itu, perlahan terlihat jung besar Majapahit meninggalkan dermaga kayu Bandar pelabuhan Tuban menuju Bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh.

    Terlihat Dyah Wiyat berdiri diatas anjungan menikmati malam dan hembusan angin laut yang berhembus menerbangkan rambutnya, menerbangkan tawanya diatas deru suara ombak malam.

    • Kamsiaaaaaaaaaaaaa………….

  6. selamat pagi, lagi siap-siap nyoblos

  7. Ditunggu hasil coblosannya..

  8. Selamat mlm semuanya 🙂

  9. selamat pagi kadank sedoyo

    • Assalamu’alaikum Ki, tiwas cepet-cepet,dikira ada wedaran.

      • Ha ha ha …, kecele…, seperti Risang tadi.

        • Pak Satpam kecele……?????
          Kuapok koen…..

  10. Temaram wajah Bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh dipenuhi pelita malam terlihat dari arah lepas pantai manakala Jung Majapahit telah mengkuncupkan layarnya mendekati bibir dermaga pelabuhan.

    Beberapa penumpang gelisah tidak sabar berdiri memenuhi anjungan dan buritan merasakan jung terbesar di jamannya itu seperti begitu lamban bergerak menuju bibir dermaga pelabuhan.

    Akhirnya, seperti bendungan air yang menemui jalan, suasana hati beberapa penumpang seperti pecah dalam sorak penuh suka cita manakala jung Majapahit membentur dan merapat di bibir dermaga pelabuhan.

    Terlihat Yudha Pramana, Kunti dan Kertawardana berdiri mematung diatas dermaga seperti layaknya seorang asing yang tidak tahu kemana kaki melangkah.

    “Kita sudah berada di Tanah Ujung Galuh”, berkata Gajahmada kepada mereka bertiga sambil tersenyum seperti dapat membaca apa yang ada dalam pikiran mereka.

    Rombongan kecil Nyi Ajeng Nglirip terlihat telah bergerak berjalan menjauhi dermaga mengikuti langkah kaki Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat yang berjalan dimuka penuh riang gembira.

    Penuh sukacita Jayakatwang dan Nyi Turukbali menyambut kedatangan rombongan itu.

    Bercucuran air mata penuh kebahagian kedua suami istri itu manakala Kertawardana memperkenalkan dirinya.

    “Kertawardana menghaturkan sembah sujud dihadapan kakek dan nenek”, berkata Kertawardana bersimpuh dihadapan kedua suami istri itu.

    Lengkaplah kebagiaan sepasang suami istri itu yang selama ini telah mendengar bahwa masih ada garis keturunan meraka yang masih hidup, ternyata malam itu mereka telah dipertemukan kembali. Melihat sendiri bahwa cucu mereka telah tumbuh dewasa sebagai seorang pemuda yang gagah menambah kebanggaan hati mereka.

    Suasana hari-hari yang sepi di pura Jayakatwang sejak malam itu telah berganti menjadi penuh keriuhan dalam canda dan tawa.

    Tidak terasa malam sudah semakin larut, sementara rembulan diatas langit malam seperti lentera penjaga diatas pura yang berdiri indah menghadap laut malam pantai tanah Ujung Galuh, memandang titik-titik lentera para nelayan di sepi laut malam.

    “Kulihat wajah kalian sudah begitu lelah”, berkata Jayakatwang sambil tersenyum.

    Mendengar perkataan Jayakatwang membuat semua yang hadir seperti baru menyadari bahwa hari memang telah larut malam.

    Debur suara ombak di pantai Tanah Ujung Galuh terdengar seperti irama malam, mengantar langkah mereka naik keparaduannya, mengantar malam dan mimpi mereka.

  11. “Tinggallah kalian bersama kami di pura ini”, berkata Jayakatwang kepada Yudha Pramana.

    “Kami masih punya seorang Paman yang tinggal di Kademangan Maja, setelah dari sana kami akan memikirkan kembali tawaran tuan, dimana kami akan berdiam tinggal”, berkata Yudha Pramana.

    “kamu telah menjadi penunjuk jalan ketika kami di Jabung. Hari ini akulah yang akan menjadi penunjuk jalan untuk kalian”, berkata Gajahmada kepada Yudha Pramana menawarkan dirinya.

    Demikianlah, pagi itu Gajahmada telah mengantarkan Yudha Pramana bersama istrinya ke Kademangan Maja, sebuah Kademangan yang berada diujung Kotaraja Majapahit. Sebuah Kademangan yang tengah berkembang seiring perkembangan Kotaraja Majapahit.

    Terlihat mereka bertiga telah menyeberangi sungai Kalimas.

    “Sebuah Kotaraja yang sangat indah dan ramai”, berkata Yudha Pramana manakala mereka bertiga telah menyusuri jalan Kotaraja Majapahit yang disepanjang jalajn dipenuhi bangunan rumah yang megah dengan pilar-pilar kayu yang tinggi berukir indah.

    Akhirnya mereka bertiga telah memasuki sebuah padukuhan di Kademangan Maja.

    “Sejak Pangeran Jayanagara menjadi Raja Muda di Kediri, kalian tidak pernah kutemui memasuki padukuhan ini”, berkata Ki Bekel yang telah mengenal Gajahmada.

    “Kakang Putu Risang sekarang telah kembali ke kampong halamannya di Balidwipa. Sementara aku sendiri belakangan ini banyak menetap di Tuban”, berkata Gajahmada kepada Ki Bekel itu.

    “Mudah-mudahan aku dapat membantu kepentingan kalian”, berkata Ki Bekel yang seperti sudah dapat menebak kedatangan mereka ke rumahnya itu pasti ada sebuah kepentingan.

    “Saudaraku ini tenmgah mencari seorang pamannya yang tinggal disekitar Kademangan Maja ini”, berkata Gajahmada kepada Ki Bekel.

    “Siapa nama pamanmu itu, hampir semua orang di Kademangan Maja ini aku mengenalnya”, berkata Ki Bekel.

    “Namanya Ki Sayuti”, berkata Yudha Pramana menyebut nama pamannya.

    “Ki Sayuti asli dari Bangkalan ?”, berkata Ki Bekel sambil menceritakan cirri-ciri orang yang dikenalnya itu.

    “Benar, pamanku memang seorang pandai besi”, berkata Yudha Pramana membenarkan cirri-ciri yang disampaikan oleh Ki Bekel.

    Terlihat Ki Bekel seperti terdiam, beberapa kali menarik nafas panjang.

    “Apa yang terjadi pada diri pamanku ?”, bertanya Yudha Pramana bercuriga melihat sikap Ki Bekel itu.

    “Aku mengenal pamanmu itu, seorang yang sangat berani”, berkata Ki Bekel dan berdiam kembali.

  12. “Apa yang terjadi pada diri pamanku itu ?”, bertanya kembali Yudha Pramana.

    “Manakala kerajaan Majapahit belum berdiri seperti sekarang ini, telah datang para perusuh dari Kediri di Padukuhan ini. Pamanmu dan beberapa lelaki di Padukuhan ini telah menghadang para perusuh itu”, berkata Ki Bekel kembali berhenti seperti tengah mengenang peristiwa yang sudah lama lewat itu di dalam ingatannya.

    “Apa yang terjadi atas diri pamanku ?”, bertanya kembali Yudha Pramana.

    “Pamanmu adalah satu-satunya lelaki yang masih selamat dalam kejadian itu, telah berhasil melarikan diri mencari bantuan para prajurit Raden Wijaya di hutan Maja”, berkata Ki Bekel bercerita.”Para perusuh akhirnya dapat di pukul mundur meninggalkan padukuhan ini oleh para prajurit Raden wijaya. Namun dalam pertempuran itu, pamanmu telah terluka amat parah. Hingga akhirnya kami tidak dapat menyelamatkannya, pamanmu telah menghembuskan nafas terakhirnya”, berkata kembali Ki Bekel melanjutkan ceritanya.

    “Jadi, pamanku telah tiada ?”, berkata Yudha Pramana sambil menahan kesedihan hatinya.

    “Pamanmu telah tiada, menjadi bebanten padukuhan ini”, berkata Ki Bekel sambil menarik nafas panjang, merasa kasihan memandang pemuda itu.

    “Beberapa hari kemudian, bibimu jatuh sakit dan menyusul suaminya dipanggil juga oleh Pemiliknya”, berkata kembali Ki Bekel.

    “Bibiku juga telah tiada ?”, berkata Yudha Pramana seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya itu.

    “Kami ikut berduka atas semua yang menimpa paman dan bibimu itu”, berkata Ki Bekel dengan suara perlahan.

    “Mari kuantara kalian kerumah pamanmu itu, selama ini kami menjaganya semua barang peninggalannya berharap suatu waktu datang sanak keluarganya”, berkata kembali Ki Bekel.

    Maka tidak lama berselang, terlihat Gajahmada, Yudha Pramana dan Kunti telah mengikuti langkah Ki Bekel menuju rumah pamannya Yudha Pramana yang telah tiada itu.

    Mereka telah memeriksa dan melihat-lihat rumah milik paman Yudha Pramana.

    “Bolehkah aku membawa barang ini ?”, berkata Yudha Pramana sambil mengambil sebuah clurit pendek yang bergagang kayu hitam berukir kepala ular sangat halus buatannya.

    “Kamu adalah kemenakannya, semua barang di rumah ini telah menjadi milikmu”, berkata Ki Bekel kepada Yudha Pramana.

    “Terima kasih telah menjaga isi rumah ini, aku hanya akan membawa clurit milik pamanku ini, selebihnya kuserahkan kepada Ki Bekel”, berkata Yudha Pramana.

    • malem sebtu……suwun pak Dalang

      • clurit……cilik Lurus radi ireng titik

  13. Lapor pakLik…….wilayah wetan aman tentram,
    tensi tinggi bias yang kemarin mulai surut.

    • laporan di terima, lanjutken !!

      • Lapor……….
        Setelah ditelisik dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya, ternyata belum ada rontal gogrok di hari minggu ini.

  14. Ditunggu lanjutannya ki.. Suwun

  15. Demikianlah, Gajahmada, Yudha Pramana dan istrinya akhirnya berpamit diri kepada Ki Bekel untuk kembali ke Tanah Ujung Galuh.

    Ketika mereka sampai di pura Tanah Ujung Galuh, semua yang mereka dengar tentang peristiwa yang menimpa padukuhan Maja itu telah mereka ceritakan kembali kepada Jayakatwang.

    Terlihat Jayakatwang menarik nafas dalam-dalam, matanya seperti berkaca-kaca. Didalam pikirannya seperti terkumpul semua kenangan semasa dirinya menjadi Raja Kediri, mengenang kekelaman jiwanya di masa lalu.

    “Diperjalanan kami telah membicarakan masak-masak, memutuskan untuk menerima tawaran tuan. Kami akan tinggal di Pura Tanah Ujung Galuh ini”, berkata Yudha Pramana membuyarkan lamunan Jayakatwang.

    “Kami menyambut gembira keputusan kalian untuk tinggal bersama kami”, berkata Jayakatwang sambil tersenyum kepada Yudha Pramana dan Kurnti.

    Tidak lama berselang dari pintu pliridan muncul Nyimas Turukbali dan Nyi Ajeng Nglirip diikuti oleh dua orang putrinya.

    Nampaknya mereka ikut menyambut gembira mendengar keputusan Yudha Pramana dan istrinya untuk tinggal bersama di pura Jayakatwang.

    Dimana Kertawardana ?”, bertanya Gajahmada yang tidak melihat Kertawardana ada diantara mereka.

    “Katanya ingin melihat-lihat suasana Kotaraja Majapahit”, berkata Nyimas Turukbali.

    “Mudah-mudahan tahu jalan pulang”, berkata Gajahmada sambil tersenyum.

    Sementara itu, jauh disebuah tempat di Lamajang disebuah pemukiman baru disekitar hutan Randu Agung, berita tentang rencana penobatan para Dharmaputra dan dua adipati di Bojonegoro dan Banger telah terdengar di telinga Arya Wiraraja dan Kuda Anjampiani, dua orang pelarian Majapahit yang telah berganti nama dan jati dirinya sebagai Ki Randu Agung dan putranya Randu Mas.

    “Majapahit seperti tengah mengayomi seluruh aliran agama lewat penobatan para Dharmaputra”, berkata Randu Mas kepada Ki Randu Agung.

    “Sanggrama Wijaya seorang yang sangat cerdas, merangkul seluruh aliran agama di tanah Jawa agar tidak menjadi sebuah kekuatan baru yang dapat mengganggu roda pemerintahannya”, berkata Ki Randu Agung memuji kecerdasan Raja Majapahit.

    “Sanggrama Wijaya seperti tahu, sudah mendahukui kita melangkah”, berkata Randu Mas dengan wajah putus asa.

    “Selalu masih ada jalan, janganlah membuatmu mudah putus asa”, berkata Ki Randu Agung tersenyum melihat cucunya penuh keputus asaan.

  16. “Dulu kakeklah yang telah mengajarkan bagaimana Raja Jayakatwang menghancurkasn Singasari. Kakek pula yang mengajarkan Sanggrama Wijaya merebut kembali tahtanya dari Raja Jayakatwang. Cucumu percaya bahwa kakek belum menjadi tua untuk membuat jalan menghancurkan Majapahit”, berkata Randu Mas kepada kakeknya Ki Randu Agung.

    “Para Dharmaputra adalah manusia seperti kita”, berkata Ki Randu Agung sambil tersenyum.

    “Cucumu belum dapat mengikuti jalan pikiran kakek”, berkata Randu Mas dengan penuh penasaran.

    “Rakyan Kuti dan Rakyan Semi adalah dua orang putra Lamajang, kita dapat mendekati mereka berdua”, berkata Ki Randu Agung.

    “Kita mendekati mereka berdua untuk berdiri bersama kita menghancurkan Majapahit ?”, bertanya Randu Mas mencoba membaca jalan pikiran kakeknya itu.

    “Benar, nampaknya kamu sudah dapat membaca apa yang aku pikirkan”, berkata Ki Randu Agung.

    “Rakyan Kuti masih kemenakan Patih Mangkubumi, apakah kita dapat mendekatinya ?”, bertanya Randu Mas penuh keraguan.

    “Justru dengan mendekati Rakyan Kuti, kita sepeti punya senjata bermata dua. Disisi lain sebagai kekuatan baru yang akan mengancam kekuatan Majapahit. Disisi lain akan merusak hubungan antara Patih Mangkubumi dengan rajanya, Sanggrama Wijaya”, berkata Ki Randu Agung dengan wajah seperti seorang pemikir ulung yang telah mendapatkan sebuah jalan terang.

    “Ternyata Kakekku belum setua yang kupikirkan, masih dapat berpikir dengan penuh kecemerlangan”, berkata Randu Mas mengagumi jalan pikiran kakeknya itu.

    “Kesabaran, itulah jalan yang akan mengantar kita menghancurkan musuh kita”, berkata Ki Randu Agung.

    “Pengikut aliran Rakyan Kuti dan Rakyan Semi adalah dua aliran terbesar di Lamajang ini, bagaimana kita dapat mempengaruhi mereka ?”, berkata Randu Mas.

    “Kita bangun sebuah aliran lain diluar mereka, kita buat mereka cemburu seakan-akan Majapahit telah menganak emaskan aliran baru itu”, berkata Ki Randu Agung menyampaikan buah pikirannya.

    “Sebuah cara yang sangat hebat”, berkata Randu Mas kembali memuji jalan pikiran kakeknya itu.

    Sementara itu hari di atas rumah kediaman Ki Randu Agung telah terlihat mulai redup, matahari di musim kering itu telah mulai gelisah bersembunyi di balik batang pohon randu tua yang tumbuh di pojok kiri pagar halaman mereka.

    “Orang-orang baru pulang dari ladangnya menanam bibit palawija di bulan Kartika ini. Saat yang baik untuk kita menanam benih-benih permusuhan di tanah Majapahit ini. Besok aku akan pergi untuk waktu yang cukup lama ke Tanah Gelang-gelang menemui seorang kenalanku seorang Brahmana”, berkata Ki Randu Agung sambil menatap keluar pagar halaman melihat beberapa petani pulang dari ladangnya.

  17. Bulan Kartika di hari ke lima belas.

    Pagi itu suasana di tiap perempatan jalan di Kotaraja Majapahit dipenuhi dupa,bunga dan janur, sebagai pertanda bahwa hari itu diistana akan dilaksanakan sebuah upacara besar.

    Dari setiap padukuhan, tua muda, laki-laki dan wanita terlihat berduyun-duyun keluar bersatu dan bertemu di jalan utama menjadi sebuah iringan panjang menuju istana Majapahit.

    Iring-iringan warga terlihat telah berkumpul tumpah ruah di lapangan alun-alun di muka istana Raja.

    Hampir semua orang mengenakan pakaian serba putih saat itu telah membuat gembira hati Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang sudah duduk diatas batu keling untuk menyaksikan jalannya sebuah upacara besar, wisuda penobatan tujuh orang Dharmaputra dan dua orang Adipati baru di Bojonegoro dan Banger.

    Semua mata terlihat memandang ke muka panggung utama, melihat Patih Mangkubumi dengan suara yang lantang telah membacakan sebuah kekancingan, menyebut nama tujuh Dharmaputera yang dianugerahi Baginda Raja Sanggrama Wijaya sebagai pejabat istana mewakili tujuh aliran suci di tanah Majapahit Raya.

    Semua mata masih memandang kemuka panggung utama, mendengar Patih Mangkubumi membacakan sebuah kekancingan untuk dua orang Adipati baru, Buntar Lawe dan Menak Jingga sebagai perwakilan tangan raja di wilayah Bojonegoro dan Banger.

    Hening suasana semua orang manakala seorang pendeta telah memercikkan air suci sebagai pertanda restu dari para dewa telah memberkati para wisudawan.

    Semua orang nampaknya dengan penuh suka cita mengikuti jalannya upacara wisuda itu yang diakhiri dengan sebuah perjamuan besar.

    “Pada bulan ke tiga di tahun ini, kami akan melakukan jiarah ke Tanah Singasari, kuharap kalian dapat berkenan ikut bersama kami”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Nyi Ajeng Nglirip dan dua orang putrinya di saat perjamuan.

    Terlihat Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat memandang kearah ibunda mereka, seperti tengah menunggu dengan hati penuh pengharapan.
    “Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat pasti akan gembira jiarah ke tanah leluhurnya”, berkata Nyi Ajeng Nglirip kepada suaminya, Raja Sanggrama Wijaya.

    Terlihat wajah Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat penuh kegembiraan mendengar jawaban langsung ibundanya itu.

    “Jagalah ibunda kalian”, berbisik Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat manakala hendak meninggalkan mereka bertiga untuk menemui beberapa orang tamu lainnya yang datang dari perbagai penjuru tanah Majapahit Raya.

  18. Dan disudut lain di perjamuan besar itu, terlihat Gajahmada penuh suka cita bertemu dengan dua orang sahabat lamanya, Raja Muda Jayanagara dan Adityawarman yang datang dari Tanah Kediri bersama Patih Mahesa Amping.

    “Ternyata aku punya seorang sepupu”, berkata Raja Muda Jayanagara kepada Kertawardana yang diperkenalkan oleh Gajahmada.

    “Kami akan gembira bilamana kalian datang ke Tanah Kediri”, berkata Adityawarman kepada Gajahmada dan Kertawardana.
    Sebagai para sahabat lama, merekapun saling bercerita banyak hal sejak
    perpisahan mereka yang cukup lama itu.

    Perjamuan yang melimpah, pertemuan yang menyenangkan. Namun harus berakhir dalam sebuah perpisahan.

    Semua orang seperti tidak pernah melupakannya, semua orang warga Majapahit merasa pengukuhan para Dharmaputra sebagai sebuah kepedulian Baginda Raja Sanggrama Wijaya atas kemerdekaan hakiki manuasia atas jiwa ketuhanannya.

    Kemerdekaan beragama, kemerdekaan berkarya. Dan Majapahit sudah seperti sebuah bahtera besar yang siap berlayar mengarungi jagad raya dan berdiri sama tinggi diantara para bangsa-bangsa di dunia.

    Kemakmuran anak nagari, keamanan di rumah dan diperjalanan telah menjadi pemandangan kehidupan orang Majapahit. Dan upeti agung setiap tahun datang mengalir dari berbagai penjuru wilayah mengisi perbendaharaan kerajaan Majapahit.

    Hingga pada akhir bulan ketiga di tahun itu dimana para petani sudah memanen palawija dan telah bersiap menanam padi gaga, beberapa mata air mulai berisi, kapuk mulai berbuah dan burung kecil mulai bertelur dan bersarang. Dalam suasana seperti itulah terlihat sebuah iring-iringan Raja Sanggrama Wijaya telah keluar dari istana Majapahit.

    Empat kereta kencana yang indah diiringi sepasukan prajurit berkuda di depan dan dibelakangnya membuat semua orang berdiri dan menunggu di depan pagar rumahnya di setiap padukuhan yang terlewati.

    Sebagaimana janjinya, Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah berkenan untuk jiarah dan tapak tilas ke tanah candi leluhurnya, bumi Singasari sebagai tanda bakti dan tanda syukur atas karunia yang melimpah.

    Nyi Ajeng Nglirip bersama kedua putrinya berada disalah satu kereta kencana. Sementara Gajahmada dan Kertawardana telah berada diantara para pasukan berkuda.

    Dan pagi bersama mega-mega putih yang cerah mengiringi rombongan Raja Sanggrama Wijaya yang telah mulai jauh meninggalkan Kotaraja Majapahit, memasuki sebuah bukit dan padang hijau penuh bunga warna-warni seperti wajah dan senyum para gadis perawan, begitu segar dan menyejukkan hati.

    • Ups….. ada rontal berguguran
      he he he …, ngapunten Dhalange, beberapa minggu ini harus pontang-panting kesana-kemari untuk berbagai keperluan, sehingga jarang sambang padepokan.
      Untung…, padepokan aman.

      Jika berkenan, dua rontal lagi gandok 03 sudah bisa ditutup.

      • hiks….
        oce….oce !!!

      • Jika kurang berkenan, 3 atau 4 atau lima lebuh dari cukup.

  19. Suwun ki Sandikalo…

  20. Bulan sabit melengkung di awal langit malam.
    Rombongan penguasa Majapahit itu terlihat tengah memasuki Kademangan Simpang.

    Gemerlap obor menerangi sepanjang jalan Kademangan bersama para warga yang berdiri berjajar penuh suka cita menyambut iring-iringan pasukan berkuda yang berjalan perlahan dibelakang empat kereta kencana.

    “Selamat datang anak muda”, berkata seorang lelaki tua diatas kudanya kepada Gajahmada.

    “Senang bertemu denganmu, wahai Ki Putut Prastawa”, berkata Gajahmada yang telah mengenal lelaki itu sebagai seorang pemimpin pasukan Bhayangkara.

    “Aku akan membawa rombongan ke tempat kediaman Ki Demang Simpang”, berkata lelaki tua yang dipanggil sebagai Ki Putut Prastawa itu mengajak Gajahmada mengikuti dirinya.

    Diam-diam Gajahmada memuji kesiapan para prajurit Bhayangkara yang terlihat berdiri di antara para warga menjadi pagar hidup yang siap bergerak setiap saat bila terjadi hal yang dapat membahayakan keselamatan junjungan mereka, Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan keluarganya.

    Siapa gerangan Ki Putut Prastawa itu ?

    Dahuu, lelaki tua seusia Patih Mangkubumi itu adalah seorang putut yang sangat setia di Padepokan Empu Nambi di Lamajang. Di awal perjuangan Baginda Raja Sanggrama Wijaya membangun kerajaan Majapahit, banyak jasa dan pengorbanannya. Itulah sebabnya beliau telah dipercayakan oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya memimpin pasukan Bhayangkara, sebuah pasukan pengawal istana yang bertugas menyelamatkan dan melindungi Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan keluarganya.

    “Patih Mangkubumi banyak bercerita tentang dirimu”, berkata Ki Putut Prastawa kepada Gajahmada yang berkuda beriring disebelahnya.

    “Semoga bukan mengenai keburukanku”, berkata Gajahmada sambil tersenyum kearah Ki Putut Prastawa.

    “Patih Mangkubumi telah memuji dirimu yang telah berhasil merintis jalan pasukan Majapahit menuju Tuban”, berkata Ki Putut Prastawa.

    “Patih Mangkubumi terlalu berlebihan, siapapun dapat melakukannya”, berkata Gajahmada.

    “Tapi kamu telah melakukannya, sebaik dan sesempurna seorang prajurit perwira”, berkata Ki Putut Prastawa.

    “Aku merasa tersanjung, mendapat kepercayaan dari Patih Mangkubumi”, berkata Gajahmada.

    Tidak terasa ternyata iring-iringan rombongan Raja Majapahit itu telah berada di muka sebuah rumah yang cukup megah dan kokoh. Rumah seorang Demang yang telah disiapkan untuk tempat bermalam bagi Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan keluarganya.

  21. Terang benderang cahaya pelita yang menerangi halaman dan pendapa rumah Ki Demang Simpang.

    Tergopoh-gopoh beberapa orang menyambut Raja Sanggrama Wijaya dan keluarganya untuk naik keatas pendapa yang sudah disiapkan.

    “Besok pagi Baginda Raja dan keluarganya akan berangkat ke Kotaraja Singasari. Ditengah malam aku akan berangkat mendahului rombongan. Apakah kamu bersedia menjadi teman di perjalananku itu ?”, berkata Ki Putut Prastawa kepada Gajahmada.

    “Disini aku tidak terikat oleh apapun, sementara berada diatas kuda mengiringi kereta kencana yang lambat sangat membosankan”, berkata Gajahmada menyetujui permintaan lelaki tua itu untuk menemaninya berkuda di tengah malam mendahului rombongan Raja dan keluarganya.

    Terlihat Raja dan keluarganya satu persatu memasuki pakiwan untuk bersih-bersih dan kembali ke pendapa untuk menikmati perjamuan malam yang telah disiapkan.

    Sementara itu Ki Putut Prastawa telah menemui beberapa prajurit bawahannya memastikan kesiapan para pasukan pengawal Raja dan keluarganya itu.

    Puas dan gembira hati Ki Demang dan para sesepuh melihat Baginda Raja dan keluarganya menikmati perjamuan malam itu.

    “Tersanjung diri kami segenap warga Kademangan Simpang menjadi singgahan tuanku Paduka Baginda Raja memijakkan kaki di Kademangan ini”, berkata Ki Demang di hadapan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Aku mengenal setiap jalan di Kademangan Simpang ini, mengenal kegelapan hutan Simpang ini bersama pasukanku yang tidak pernah tidur menunggu pasukan musuh. Dan hari ini aku datang kembali disaat masa damai tanpa peperangan dan kegelisahan. Inilah perjamuan yang paling nikmat selama hidupku, menikmati hidangan yang lengkap sambil mengenang jaman dan masa sulit yang pernah kami hadapi dan alami disekitar hutan Kademangan Simpang ini”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya dengan wajah penuh kebahagiaan.

    Diam-diam Gajahmada seperti tengah merenungi, siapa saja ksatria Majapahit yang ikut berjuang bersama orang nomor satu di kerajaan Majapahit itu.

    Ternyata Ayah angkatnya, Patih Mahesa Amping pernah bercerita banyak mengenai sebuah pertempuran pasukannya di hutan Simpang itu. Patih Mahesa Amping pernah bercerita kepadanya bagaimana kesaktian Empu Nambi dan Baginda Raja yang dengan kekuatannya telah dapat menumbangkan begitu banyak pepohonan besar dan berhasil membuat panik pasukan musuh yang tewas seketika tertimpa batang pohon besar yang tumbang diantara barisan mereka.

    “Terima kasih untuk semua perjamuan ini”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya sambil bangkit berdiri diikuti oleh semua yang hadir di atas panggung pendapa kediaman Ki Demang Simpang itu dan memberi jalan kepada Baginda Raja dan keluarganya memasuki peraduannya masing-masing.

  22. Kstria Kompor bhre Cipondoh tengah bersiap boyongan ke gandok anyer, eng ing eng……

    • nanti malam, bakda tarawih nggih

    • Monggo Pak Dhalang
      Layar pagelaran sudah dipasang di gandok PKPM-04

  23. Ditunggu ki Sandikolo…

  24. siap2 ngawal ki DALANG boyongan……sugeng dalu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: