PKPM-04

<< kembali | lanjut >>

PKPM-04

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 18 Juli 2014 at 21:00  Comments (197)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-04/trackback/

RSS feed for comments on this post.

197 KomentarTinggalkan komentar

  1. Tabir gelap yang dulu hinggap…….
    lambat laun mulai terungkap………
    labil tawanya……tak pasti senyumnya…..
    jelas membuat engkau sangat ingin mencari…….

    Apa yang tersembunyi……….
    di balik manis senyumnya…….
    apa yang tersembunyi………..
    di balik bening dua matanya………

    Dapat dia temui…….
    mengapa engkau tak pasti……..
    lalu dia mencoba
    untuk mengerti…………

    Saat engkau tiba……..
    di simpang jalan…….
    lalu engkau bimbang
    untuk tentukan arah tujuan……….

    Ayoooo Pak Dhalang……..semangat……..!!!!!!!!!!

    • mata indah bola pingpong….

  2. Ki SHM itu kebatinannya mirip Mahisa Agni di PDLS atau Kiai Gringsing dalam ADBM… Sementara, ki Sandikala selalu tampil bergelora seperti Mahisa Amping muda atau Putu Risang nom.

    Sekarang ki Sandikala me-rogosukma-kan diri dalam tokoh Gajahmada….!

    Pantas saja, meski secara badaniah masih kokoh, berkat ilmunya yang menjulang, namun batinnya terbelah-belah dan berkorban banyak.

    Saat Andini dan Dyah Wulan dari Pajajaran jatuh cinta, ki Sandikala gak mau menyakiti hati Djayanegara yang naksir berat mojang Priyangan. Berikutnya, ki Sandikala harus rela melepas Diyah Gayatri pada Kertawardhana. Sebab, keduanya mewakili rekonsiliasi koalisi dinasti Singasari (turunan Ken Arok via Sanggrama Wijaya) dan dinasti yang lebih tua Kediri (turunan Kertajaya yang dikalahkan Ken Arok)…

    Ki Sandikala…

    Panjenengan sudah membawa kami2 poro cantrik menjelajahi waktu berabad-abad ke belakang. Bila ki SHM dalam 118 jilid PDLS menghabiskan 80% cerita pada petualangan Mahisa Pukat & Murti dan membentur dinding sejarah yang tak kasat mata, maka anda mampu menembusnya.. Mungkin berkat setanggi dan do’a serta harapan poro cantrik yang terus menerus..

    Matur nuwun selama ini petualangan imajiner ki Sandikala telah mampu menghidupkan kembali perjalanan tokoh2 sejarah kita..

    Semoga dikarunia kesehatan jiwa dan raga…

    • Aamiin……..

  3. Jalanan liku dan mendaki disini aq tetap menanti kehadiranmu
    saat mentari terbit dari timur dan kembali tenggelam dibarat
    namun aq tetap berpegang teguh pada janjiku padamu
    menanti memang terasa lama namun itu semua akan indah pada waktunya

    😉

  4. Salam jari2……..sepi menanti.

  5. Jalan gelap yang kau pilih……………
    Penuh lubang dan mendaki……

    Terima kasih untuk sahabat semua, ternyata saya tidak sendiri

  6. Rembulan tergantung diatas sebuah danau tanpa angin.
    Kegelapan malam telah menebarkan sepi manakala Gajahmada tengah menambatkan tali kudanya disebuah pohon kayu yang baru tumbuh di tepi danau itu.

    “Aku ada untuk apa ?”, berkata Gajahmada sambil memandang bulan bulat terang diantara langit malam.

    Terlihat Gajahmada masih memandang rembulan malam sambil bersandar di sebuah batang pohon kayu yang rindang. Ternyata lamunannya seperti terbang jauh menyusuri perjalanan hidupnya, dimulai dari masa kecilnya bersama ibunya, Nyi Nari Ratih, ayah angkatnya Patih Mahesa Amping dan Pendeta Gunakara dari Tibet.

    “Mereka semua telah memberiku sebuah cinta kasih yang utuh”, berkata Gajahmada dalam hati sambil menarik nafas panjang membayangkan wajah tiga orang yang pernah ada disisinya yang dengan penuh kelembutan kasih sayang telah banyak membimbingnya mengenal banyak kepelikan rahasia kehidupan.

    “Mereka telah memberiku cinta dan harapan, semoga aku tidak mengecewakan mereka”, berkata kembali Gajahmada dalam hati seperti telah kembali kepada citra jati dirinya, kemana arah yang hendak diraih dalam hidup ini.

    “Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah memberikan sebuah kepercayaan yang tinggi kepadaku, membawa bahtera Majapahit kelautan yang jauh”, berkata Gajahmada sambil meraba gagang kepala keris Nagasasra yang terselip dipinggangnya.

    Kesendirian Gajahmada seperti terjaga manakala di dengarnya suara lolong banyak anjing liar di sekitar hutan malam. Matanya memandang kearah kudanya yang gelisah mendengar suara lolongan anjing-anjing liar itu.

    “Kegelisahan dan kegembiraan hati datang dan pergi di dalam setiap jiwa. Itulah kesempurnaan cinta kasih Gusti yang Maha Agung agar setiap jiwa dapat mengenalnya, menyadari kekerdilan dan kelemahannya menghadapi alam yang penuh rahasia dipenuhi kekuatan tak terjangkau”, berkata anak muda itu sambil mencoba menembus kegelapan hutan malam dengan matanya yang tajam.

    Ternyata Gajahmada tidak mendapatkan apapun dikegelapan hutan malam itu.

    “Anjing-anjing liar itu telah pergi jauh”, berkata Gajahmada dalam hati sambil melihat kudanya yang telah kembali berbaring.

    “Perjalananku ketempat Ki Gede Bajra Seta masih sangat jauh”, berkata Gajahmada sambil memejamkan matanya berbaring di batang kayu yang besar yang tumbuh rindang di pinggir danau itu sambil membayangkan perjalanannya yang masih sangat jauh itu.

    Dan rembulan masih tergantung diatas danau, sementara malam terus berlanjut berlalu dalam sepi, tanpa angin sedikitpun.

    • untuk sahabat semua, monggo.

      • Alhamdulillah…
        Pak Dhalang sudah mulai berkarya lagi
        Sugeng rawuh…
        Semoga badai sudah berlalu.

        Matur suwun …

      • Alhamdulillah,Ki Dalang telah kembali dengan sehat. Suwun Ki sajiannya

  7. Senyum indah 🙂

  8. Sang mPu Mada sepertinya sudah mulai mengendapkan perasaannya dan menyadari “takdir” kehadirannya di bumi Majapahit… Suwun ki dalang…

  9. Bumi malam telah terkubur jauh m yang manakala wajah matahari pagi utuh menerangi kejernihan air danau. Terlihat seekor ular air meliuk-liuk ketengah air, puluhan burung kecil melintas terbang.

    “Pagi yang indah”, berkata Gajahmada sambil mengusap kepala kudanya.

    Tidak lama kemudian anak muda perkasa itu sudah berlalu meninggalkan danau jernih dibawah perbukitan hijau itu.

    Perlahan angin mengusap wajahnya manakala Gajahmada telah memasuki sebuah jalan keras yang biasa digunakan oleh para pedagang dan para pengembara.

    Jalan keras itu ternyata adalah sebuah jalan menuju Kademangan Simpang, sebuah Kademangan yang cukup ramai karena sebagai tempat persinggahan para pedagang dan para pengembara pada saat itu yang punya tujuan ke Kotaraja Singasari maupun ke Kotaraja Kediri.

    Ketika matahari telah bergeser dari puncaknya, Gajahmada bersama kudanya terlihat telah memasuki wilayah Kademangan Simpang.

    “Masih ada kedai yang masih buka”, berkata Gajahmada dalam hati manakala melihat sebuah kedai di tengah pasar yang masih buka meski hari pasar disiang itu sudah berlalu.

    Terlihat seorang pekatik menerima tali kekang kuda Gajahmada didepan sebuah kedai.

    “Sementara tuan beristirahat dikedai, kuda ini akan kujaga dan kurawat”, berkata seorang pekatik muda itu kepada Gajahmada yang dilihatnya baru saja menempuh sebuah perjalanan yang cukup jauh.

    Namun Gajahmada tidak langsung mencari tempat duduk, terlihat matanya menyapu beberapa pengunjung.

    Dari pakaian yang dikenakannya, Gajahmada dapat menduga bahwa sebagian besar pengunjung kedai itu adalah para pedagang, sementara beberapa orang lagi adalah para pengembara yang memang banyak terlihat berkeliaran di banyak tempat di jaman itu.

    “Kami akan menyiapkan pesanan tuan”, berkata seorang pelayan tua kepada Gajahmada yang telah memilih sebuah tempat duduk di kedai itu.

    Sambil menanti makanan pesanannya datang, telingan Gajahmada tertarik sekali dengan sebuah pembicaraan dua orang pedagang yang duduk tepat tidak jauh dari dirinya.

    “Di hutan Kemiri ada sekolmpok perampok, namun sudah sejauh ini tidak ada perhatian sedikitpun dari pihak kerajaan”, berkata seorang pedagang kepada kawannya itu.

    “Mungkin letak hutan Kemiri berada dipertengahan antara Kediri dan Singasari, masing-masing merasa bukan wewenangnya”, berkata kawan pedagang itu.

    “Bila memang berada di tengah-tengah antara Singasari dan Kediri, setidaknya perihal keberadaan mereka sudah didengar oleh Ki Gede Bajra Seta”, berkata pedagang itu kembali.

    • alhamdulillah, seperti baru pulang kampung, hehe. Monggo para kadang sedoyo

    • Alhamdulilah sudah on the track. Suwun.

  10. monggo Ki

  11. Hups…..
    baru sempat sambang padepokan
    alhamdulillah…, indahnya dunia ini apabila ada sesuatu yang bisa diharapkan.
    selalu ditunggu kelanjutan ceritanya Pak Dhalang.
    dan semoga Pak Dhalang selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT, baik dalam hal kesehatan maupun yang lainnya.

  12. “Menurutku, Ki Gede Bajra Seta sudah tidak lagi memikirkan masalah keamanan, sudah terlalu sibuk menghitung dan menumpuk harta kekayaannya”, berkata kawan si pedagang itu.

    “Sayang sekali bila Ki Gede Bajra Seta telah berubah pandangan hidupnya, sudah condong kearah duniawi”, berkata kembali pedagang itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seperti menyesali sikap Ki Gede Bajra Seta.

    “Begitulah manusia kebanyakan, bila sudah terkenal dan berada di lingkaran kerajaan kadang lupa dengan tujuan hidupnya semula”, berkata kawan pedagang ikut menanggapi.

    Sementara itu, Gajahmada yang banyak mengetahui tentang Ki Bajra Seta dari cerita ayah angkatnya Mahesa Amping menjadi semakin panas saja mendengarnya.

    “Seandainya Mahesa Darma berada disini dan mendengar pembicaraan kedua orang itu, aku tidak tahu apa yang dilakukan olehnya”, berkata Gajahmada dalam hati sambil teringat kepada seorang putra Ki Bajra Seta yang saat itu telah menjadi seorang prajurit perwira di kerajaan Singasari.

    Terkesiap wajah Gajahmada manakala tiba-tiba saja seorang pemuda tampan berdiri dari tempat duduknya serta datang menghampirinya.
    Pemuda itu masih seusia dengannya terlihat menatapnya dengan wajah penuh senyum.

    “Bukankah kamu adalah Gajahmada yang datang ke Kotaraja Singasari bersama pemimpin pengawal pasukan Majapahit ?”, berkata pemuda itu masih dengan wajah penuh senyumnya.

    Terlihat Gajahmada berdiri dan menatap wajah anak muda yang sudah mulai diingatnya itu.

    “Mahesa Darma”, berkata Gajahmada kepada anak muda itu sambil penuh kehangatan menyambut gembira pertemuan itu yang sangat tidak terduga-duga.

    Ternyata anak muda yang sangat tampan itu adalah benar Mahesa Darma yang pernah diperkenalkan oleh Temunggung Mahesa Pukat ketika Gajahmada berada di istana Singasari. Seorang putra tunggal Ki Gede Bajra Seta yang telah menjadi seorang prajurit perwira di kerajaan Singasari.

    Mungkin karena mereka berdua merasa punya garis perguruan yang sama, juga beberapa sikap kepribadian yang hampir sama, mereka berdua dengan cepatnya sudah menjadi begitu akrab.

    Ketika seorang pelayan membawa pesanan makanan ke meja Gajahmada, dengan penuh kesopanan Mahesa Darma meminta kepada pelayan itu untuk membawa pesanan makanannya bergabung di meja yang sama dengan Gajahmada.

    “Bila demikian, kita dapat bersama-sama berjalan ke Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Darma kepada Gajahmada yang telah bercerita tentang tujuan perjalanannya.

    “Setidaknya, aku tidak perlu banyak bertanya kepada banyak orang dimana letak Padepokan Bajra Seta”, berkata Gajahmada penuh kegembiraan.

  13. Ketika kedua pedagang yang membicarakan perihal Ki Gede Bajra Seta berdiri dan pergi, Gajahmada meresa heran bahwa Mahesa Darma tidak berbuat apapun kepada kedua pedagang itu yang telah menghina ayahnya.

    “Apakah kamu tengah memikirkan apa yang dibicarakan oleh kedua pedagang tadi ?”, bertanya Mahesa Darma kepada Gajahmada.

    Terperanjat Gajahmada tidak menyangka bahwa Mahesa Darma ternyata dapat membaca apa yang tengah dipikirkannya.

    “Benar, aku tengah memikirkannya bahkan membayangkan sebuah tindakan yang seharusnya kamu lakukan terhadap kedua pedagang tadi yang telah menghina ayahmu”, berkata Gajahmada.

    “Apa yang dilakukan oleh ayahku di dalam hidupnya tidak untuk mendatangkan pujian dan penghargaan. Yang dilakukannya hanya sebatas naluri kemanusiaan sebagai seseorang yang di karuniai sebuah kelebihan dari orang kebanyakan. Itulah sebabnya aku putranya tidak berusaha membersihkan namanya, tidak merasa tersinggung dengan apapun pendapat dan ungkapan siapapun yang menghina ayahku”, berkata Mahesa Darma kepada Gajahmada masih dengan sebuah senyuman yang hangat.

    Diam-diam Gajahmada sangat mengagumi sikap dan pandangan anak muda itu.

    “Gerombolan perampok di hutan Kemiri sangat dekat dengan Padepokan Bajara Seta, namun ayahmu tidak melakukan tindakan apapun”, berkata Gajahmada memancing sebuah pertanyaan.

    “Mengenai hal itu, aku akan mencoba bertanya kepada ayahku. Kuyakini pastilah ayahku punya berbagai pertimbangan untuk tidak langsung menumpasnya”, berkata Mahesa Darma dengan nada pembicaraan yang datar.

    Akhirnya ketika hari sudah semakin mendekati sore, keduanya telah sepakat untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Padepokan Bajra Seta.

    Terlihat kedua anak muda itu telah keluar dari Kademangan Simpang, mereka tidak memacu kuda untuk berlari cepat, hanya berjalan biasa.
    Arah Padepokan Bajra Seta dari Kademangan Simpang adalah searah jalan menuju Kotaraja Kediri, terlihat Gajahmada dan Mahesa Darma sudah jauh meninggalkan Kademangan Simpang.

    “Padepokan Bajra Seta berada dibalik pegunungan hijau itu”, berkata Mahesa Darma kepada Gajahmada.

    “Belum tengah malam kita sudah dapat mencapainya”, berkata Gajahmada memperkirakan jarak tempuh perjalanan mereka.

    “Kita sudah mendekati hutan Kemiri”, berkata Mahesa Darma seperti hendak mengingatkan Gajahmada untuk berhati-hati.

    Gajahmada terus mengikuti arah kaki kuda Mahesa Darma yang mengambil arah ke hutan Kemiri.

    • Siang tadi sudah membaca rontalnya
      kini giliran men”jepretnya” dan menata di gandoknya.

      hmmmm …
      sepertinya tiga rontal dengan panjang seperti biasanya sudah cukup untuk menutup PKPM-04

      monggo Pak Dhalang

  14. Alhamdulillah kereta sudah ke relnya. Suwun Ki Dalang.

    • Alhamdulillah Pak Dhalang sudah produktif lagi…
      Bravo Adhimas Kompor………….

  15. salah buat alamat email, hehe

  16. Matahari di awal sore itu sudah terhalang kerimbunan hutan Kemiri. Terlihat kuda-kuda mereka telah semakin masuk kedalam hutan kemiri.

    Semakin masuk kedalam, kedua anak muda itu terlihat semakin berhati-hati, telah memasang segenap panca inderanya.

    Sebagai dua orang anak muda yang telah memiliki kesaktian tinggi, mereka telah menyadari bahwa ada beberapa pasang mata tengah mengintai mereka berdua. Namun kedua anak muda itu tidak melakukan apapun selain duduk diatas kuda masing-masing mengikuti langkah kaki kuda mereka terus berjalan diatas tanah keras yang membelah hutan Kemiri.

    Hingga ketika mereka telah mulai menemui jalan terakhir dari hutan Kemiri, mereka berdua tidak mendapatkan gangguan apapun.

    “Besar dugaanku bahwa mereka bukan para perampok”, berkata Mahesa Darma manakala mereka memang telah keluar dari hutan Kemiri itu.

    “Aku juga berpikir demikian, tapi kita belum tahu apa yang ingin mereka lakukan di hutan Kemiri itu”, berkata Gajahmada ikut memberikan dugaannya.

    “Hutan kemiri dan Padepokan Bajra Seta tidak begitu jauh, ayahku pasti sudah mencoba melakukan sebuah pengamatan siapa dan apa yang ingin mereka lakukan di hutan Kemiri itu”, berkata Mahesa Darma.

    “Membuat aku ingin secepatnya bertemu dengan ayahmu itu”, berkata Gajahmada

    “Aku juga sudah sangat rindu suasana Padepokanku itu”, berkata Mahesa Darma sambil menghentakkan kakinya diperut kudanya agar berlari.
    Melihat Mahesa Darma telah memacu kudanya, Gajahmada ikut memacu kudanya.

    Terlihat dua ekor kuda telah berlari seperti berpacu menuju sebuah perbukitan hijau di hadapan mereka.

    “Padepokan Bajra Seta ada ditengah hamparan sawah dan ladang itu”, berkata Mahesa Darma ketika mereka telah berada diatas puncak perbukitan hijau.

    Dari atas perbukitan hijau itu, Gajahmada telah melihat sebuah bangunan yang dikelilingi hamparan sawah ladang yang cukup luas. Sementara matahari saat itu telah mulai tenggelam di ufuk barat bumi.

    “Sebuah padepokan yang sangat tenang”, berkata Gajahmada kepada Mahesa Darma sambil membayangkan suasana penuh kedamaian memenuhi alam Padepokan Bajra Seta.

    “Aku lahir dan dibesarkan di padepokan itu”, berkata Mahesa Darma dengan penuh kebanggaan masih memandang dari atas puncak perbukitan hijau.

    “Sebagaimana Patih Mahesa Amping dan Baginda Raja Sanggrama Wijaya”, berkata Gajahmada.

  17. “Ayahku sering bercerita tentang mereka berdua, menurut ayahku mereka berdua adalah dua orang cantrik terbaik di padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Darma kepada Gajahmada.

    “Hanya guru yang hebat saja yang dapat melahirkan murid yang luar biasa”, berkata Gajahmada.

    Terlihat Mahesa Darma hanya tersenyum kecil mendengar pujian Gajahmada tentang ayahnya.

    “Mari kita menuruni perbukitan ini”, berkata Mahesa Darma sambil menepuk pundak kudanya.

    Kedua anak muda itupun terlihat tengah menuruni perbukitan itu, sementara hari sudah terlihat semakin redup dipenghujung senja itu.
    Dan manakala kuda-kuda mereka telah memasuki wilayah tanah perdikan Bajra Seta, dua tiga orang yang masih berada diluar rumah mereka terlihat melambaikan tangannya kepada mahesa darma yang juga langsung membalas lambaian tangan mereka.

    Melihat hal demikian, Gajahmada langsung menarik sebuah kesimpulan bahwa Mahesa Darma adalah seorang anak muda yang rendah hati yang sangat dikenal di daerah tanah perdikan milik ayahnya itu.

    Ketika mereka berdua telah mendekati Padepokan Bajra Seta, terlihat Mahesa Darma menghentikan kudanya didekat dua orang berpakaian petani yang nampaknya baru saja kembali dari sawah.

    “Ternyata orang kotaraja Singasari yang datang”, berkata salah seorang dari mereka menyambut kedatangan Mahesa Darma yang langsung turun dari kudanya.

    “Paman Mahesa Semu dan Paman Muntilan, aku datang bersama kawan dari Majapahit”, berkata Mahesa Darma memperkenalkan Gajahmada kepada kedua pamannya itu.

    Dengan penuh rasa hormat, terlihat Gajahmada memperkenalkan dirinya dan ikut berjalan sambil menuntun kudanya sebagaimana Mahesa Darma.

    “Kalian berdua langsung saja ke pendapa, biar kuda kalian kami bawa ke kandang belakang”, berkata Paman Muntilan kepada Mahesa Darma dan Gajahmada.

    “Terima kasih”, berkata Gajahmada kepada Paman Mahesa Semu yang mengambil tali kekang kudanya, sementara tali kekang kuda Mahesa Darma telah diambil oleh Paman Muntilan.

    “Orang-orang tua yang hebat”, berkata Gajahmada sambil memandang kedua orang tua itu yang sudah berlalu sambil menuntun kuda. Sebagai seorang yang menguasai ilmu kanuragan dapat langsung menilai bahwa kedua orang tua itu pastinya seorang yang sangat terlatih dilihat dari cara mereka melangkah.

    Mata Gajahmada berpaling kearah pendapa dimana saat itu terlihat seorang lelaki tua penuh senyum memandang mereka berdua yang masih berada di halaman muka tengah melangkah kearah tangga pendapa padepokan Bajra Seta.

    “Selamat datang wahai putraku”, berkata lelaki tua diatas pendapa menyambut penuh hangat kedatangan Mahesa Darma.

    • siip

    • Asyiiiiikkkkkk………lanjut…….

  18. Tengah malam

  19. suwun nggih ki..

  20. Mehesa Darma segera memperkenalkan Gajahmada kepada ayahnya sebagai seorang sahabat dari Majapahit.

    Bukan main senang hati Ki Gede Bajra Seta manakala Gajahmada bercerita bahwa dirinya adalah putra angkat Patih Mahesa Amping.

    “Jodoh bahwa kita dapat saling bertemu, nampaknya kamu sudah mewarisi apa yang dimiliki oleh ayah angkatmu itu”, berkata Ki Bajra Seta yang bernama asli Mahesa Murti itu.

    “Apa yang kumiliki ini tidak dapat dibandingkan dengan Ki Bajra Seta”, berkata Gajahmada.

    “Kamu terlalu merendahkan dirimu”, berkata Ki Bajra Seta dengan senyum dan tatapan mata yang sepertinya tengah mengukur kedalaman isi hati Gajahmada.

    Ketika tatapan mata mereka saling bertemu, terlihat keduanya seperti tersentak bersama, seperti baru saja memasuki sebuah mata air yang dalam tak terukur.

    Segera Gajahmada mengalihkan pandangan sambil bercerita tentang maksud dan tujuannya menemui Ki Bajra Seta.

    “Jadi Baginda Raja Sanggrama Wijaya bermaksud untuk pungut mantu sekaligus pengangkata pengantin itu menjadi raja muda di Kahuripan dan Singasari”, berkata Ki Bajra Seta setelah mendengar penuturan Gajahmada.

    “Tiga hari setelah purnama kedua”, berkata Gajahmada
    “Semoga diri ini diberikan kesehatan untuk dapat datang menghadirinya”, berkata Ki Bajra Seta.

    Akhirnya dalam sebuah kesempatan, Mahesa Darma mencoba bertanya tentang sebuah gerombolan yang ada di hutan Kemiri kepada ayahnya itu.

    Mendengar pertanyaan Mahesa Darma, Ki Bajra Seta tidak langsung menjawab, hanya terlihat menarik nafas panjang dan terdiam sejenak.

    Terlihat pula Mahesa Darma dan Gajahmada seperti tidak sabar untuk segera mengetahui apa yang ada dalam pikiran orang tua itu.

    “Beberapa cantrik di Padepokan Bajra Seta ini pernah melakukan pengamatan dan penyelidikan di hutan Kemiri itu, nampaknya mereka bukan sebuah gerombolan perampok”, berkata Ki Bajra Seta sambil memandang kedua anak muda yang penuh perhatian mendengar penuturannya.

    “Sebuah penggalangan kekuatan untuk mengganggu tata kehidupan yang sudah mapan ?”, berkata Mahesa Darma mencoba menyampaikan pikirannya.

    “Siapa dibelakang mereka dan apa yang ingin mereka lakukan ?”, bertanya pula Gajahmada seperti menyetujui kesimpulan dan pemikiran Mahesa Darma.

    • ciattt…!!!!
      sudah bisa masuk gandok baru kah ??, hehe

    • Ciat……
      Hups….
      Baru bisa sambang setelah aktivitas yg melelahkaj mulai kemarin.
      Habis Isya, coba Risang bendel semoga sudah cukup utk menutup pkpm 04

  21. Monggo dipindah ke gandok ki…

  22. Nanggung Ki

  23. Jebret…..
    PKPM-04 sudah dijebret (dibendel)
    dan …
    tak..tok..tak..tok..tak..tok..
    Gandok PKPM 05 sudah bisa dipakai jagongan

    monggo….

  24. okelah kalo begitu, hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: