PKPM-06

<< kembali | lanjut >>

PKPM-06

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 28 Desember 2014 at 19:04  Comments (195)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-06/trackback/

RSS feed for comments on this post.

195 KomentarTinggalkan komentar

  1. “Benar, Kakang”, berkata Patih Mahesa Amping membenarkan perkataan Ki Gede Bajra Seta.”Orang tua itu telah kehilangan segala-galanya. Kehilangan putra tunggalnya Ranggalawe. Juga telah kehilangan hasrat, cinta serta seluruh kesetiaannya kepada cita-cita perjuangannya sendiri. Kematian Ranggalawe adalah kematian cintanya kepada bumi kerajaan Singasari yang telah membesarkan dirinya”, berkata kembali Patih Mahesa Amping.

    “Ayahku Mahendra serta paman Mahesa Agni sangat menghormatinya sebagai seorang pejuang yang sangat berani melawan arus demi menegakkan sebuah kebenaran”, berkata Ki Gede Bajra Seta.

    “Kabar terakhir adalah berita tentang pengungsiannya ke Lamajang setelah peristiwa pemberontakan Adipati Ranggalawe”, berkata Patih Mahesa Amping.

    “Ki Banyak Wedi, Ki Arya Wiraraja atau Ki Randu Agung, mungkin adalah orang yang sama”, berkata Ki Gede Bajra Seta kepada Patih Mahesa Amping.

    “Aku mencintainya sebagai ayahku sendiri sebagaimana Ranggalawe telah menganggapku sebagai saudaranya”, berkata Patih Mahesa Amping sambil menarik nafas dalam-dalam seperti tengah mengenang masa-masa yang telah lama berlalu.”Aku juga begitu sangat mengenalnya sebagai seorang pemikir ulung yang sangat sukar ditebak kemana arahnya, seperti sekumpulan awan dilangit yang terus berubah mengikuti kemana arah angin mengubahnya”, berkata kembali Patih Mahesa Amping.

    “Dunia ini memang seperti panggung pewayangan, seorang kawan setia kadang berubah menjadi seorang musuh diujung seberang pasukan. Sementara itu seorang musuh besar dapat berubah arah menjadi kawan setia. Jayakatwang dan Ki Arya Wiraraja adalah wayang hidup dari cerita yang amat panjang ini”, berkata Ki Bajra Seta dengan suaranya yang terdengar begitu halus.

    “Seorang ksatria menyembah rajanya, bukankah kita telah melanggar sumpah ikrar diri bila berada di baris terdepan melawan sang raja ?”, berkata Mahesa Dharma mencoba mengungkapkan pandangannya atas sikap yang telah diambil oleh Ki Arya Wiraraja.

    “Kehidupan ini memang sangat begitu pelik untuk dimengerti, wahai putraku”, berkata Ki Gede Bajra Seta sambil tersenyum memandang Mahesa Dharma. “namun selama kamu berpegang teguh kepada raja hati nuranimu sendiri, disitulah kebenaran hakiki yang harus kamu yakini dimana seharusnya kamu berdiri”, berkata kembali Ki Gede Bajra Seta kepada putranya itu.

    “Meski harus berdiri berseberangan arah dengan raja yang selama ini kita junjung ?”, berkata Mahesa Dharma.

    “Seorang raja adalah titisan para dewa yang menjelma di kehidupan alam ini, dialah hati nuranimu”, berkata Ki Gede Bajra Seta dengan suara halus penuh senyum menatap putranya.

    Semua yang duduk di tepi danau itu seperti terlena hanyut mendengarkan perkataan Ki Gede Bajra Seta kepada putranya itu, semua seperti tenggelam mencoba menyelami makna kata-kata dari seorang guru yang begitu sangat dihormati itu, seorang yang sangat lembut namun dibalik kelembutannya itu tersembunyi sebuah kekuatan ilmu kesaktian yang sungguh amat begitu tinggi tak tertandingi.

    • Ehm….midnight

    • Kamsia…..Pak Dhalang…….
      tinggal jatah malem minggunya yg belum……

    • Suwun

  2. tilik omah lawas

    • Monggo Ki Donoloyo, rumah ini masih seperti yang dulu…disaat kita masih seneng maen petak umpet, ogrok-ogrok rontal, hehe

      • Hanya gubuk bambu, tempat tinggal kita…..
        tanpa hiasan, tanpa lukisan……
        beratapkan jerami, beralaskan tanah……
        namun seemua itu milik kita……sendiri

  3. Sementara itu, altar langit malam sudah semakin larut. Hanya ada bulan sepotong diatas danau sepi menemani wajah malam.
    “Hari sudah jauh malam”, berkata Ki Gede Bajra Seta sambil matanya memandang wajah bulan sepotong yang menggantung diatas langit malam.

    “Biarkan kami orang muda menjadi peronda yang baik sepanjang malam ini”, berkata Gajahmada kepada Ki Gede Bajra Seta mewakil Adityawarman dan Mahesa Dharma.

    Demikianlah, ketiga anak muda itu telah menawarkan diri untuk berjaga-jaga dimalam itu sebagaimana kebiasaan para pengembara dimanapun berada yang selalu siaga dan waspada dari hal yang mungkin saja dapat terjadi mengancam jiwa mereka.

    “Aku akan menyiapkan perapian”, berkata Mahesa Dharma sambil bangkit berdiri.

    “Lama sekali kita berpisah sejak aku ikut ayahku ke Kediri”, berkata Adityawarman kepada Gajahmada ketika melihat Mahesa Dharma berlalu pergi mencari beberapa ranting kering untuk sebuah perapian.

    “Yang pasti hutan Maja tempat kita bermain sudah semakin menyempit di penuhi banyak pemukiman baru”, berkata Gajahmada kepada Adityawarman sambil tersenyum memandang sahabat lamanya itu.

    Banyak hal perkembangan lain di Kotaraja Majapahit yang diceritakan oleh Gajahmada kepada sahabatnya itu, juga perjalanannya bersama Jayanagara ke Tanah Pasundan.

    “Ceritamu tentang Tanah Pasundan telah membuat diriku menjadi iri, sayang sekali aku tidak ikut bersama kalian”, berkata Adityawarman kepada Gajahmada.

    “Nampaknya aku aku telah kehilangan beberapa penggal cerita”, berkata Mahesa Dharma kepada Gajahmada dan Adityawarman sambil meletakkan beberapa ranting kering.

    “jangan khawatir, aku akan menunggu sampai kamu dapat menyalakan perapian”, berkata Gajahmada kepada Mahesa Dharma yang baru datang.

    Demikianlah, usai Mahesa Dharma menyalakan perapian di dekat mereka bertiga, terlihat Gajahmada telah melanjutkan ceritanya kembali tentang pengembaraannya di Tanah Pasundan.

    “Jadi kamu pernah berkunjung hingga ke ujung barat Jawadwipa ini ?”, berkata Mahesa Dhama merasa kagum mendengar cerita Gajahmada tentang sebuah kerajaan kecil di Tanah Rakata.

    “nampaknya kita kalah selangkah dengan kawan ini”, berkata Adityawarman kepada Mahesa Dharma manakala telah mendengar cerita yang lain dari Gajahmada, yaitu pengembaraannya di sekitar pesisir Tuban.

    Sementara itu perapian mereka nampaknya sudah semakin surut meredup.

    “Aku akan mencari ranting kering, siapa tahu semakin besar kobaran api akan mendengar cerita lain yang lebih seru dan mengasyikkan”, berkata Mahesa Dharma sambil bangkit dari duduknya.

  4. Altar langit malam masih menyelimuti danau sepi yang berhias bulan belum bulat sempurna yang redup terkantuk-kantuk.

    Terlihat Gajahmada, Adityawarman dan Mahesa Dharma masih saja bercengkrama mengisi dingin malam dalam kehangatan perapian yang sudah semakin surut meredup.

    “Sekarang giliranmu bercerita tentang Kotaraja Kediri”, berkata Gajahmada kepada Adityawarman.

    “Tidak ada yang sangat menarik untuk kuceritakan tentang Kotaraja Kediri, sekali dua kali ayahku kadang mengajakku ikut pergi berburu di hutan bersama Raja Jayanagara”, berkata Adityawarman.

    “Ayahmu pasti banyak memberikan bimbingan kanuragan kepadamu”, berkata Gajahmada kepada Adityawarman.

    “Di hari-hari tertentu, aku dan Raja Jayanagara selalu berlatih di sanggar istana dibawah bimbingan ayahku”, berkata Adityawarman.

    Tiba-tiba saja Gajahmada berdiri dan mundur dua langkah telah membuat Adityawarman dan Mahesa Dharma tercengang dengan sikapnya yang tiba-tiba itu.

    “Perapian sudah semakin dingin, bagaimana bila kita sedikit menghangatkan diri. Aku siap menghadapi kalian berdua”, berkata Gajahmada sambil bertolak pinggang penuh tantangan.

    Terlihat Adityawarman dan Mahesa Dharma tersenyum dan mengerti apa keinginan dari Gajahmada yang ternyata mengajak mereka berlatih di malam dingin itu.

    Terlihat Adityawarman dan Mahesa Dharma sudah berdiri.

    “Ternyata putra Patih Mahesa Amping dan putra Ki Gede Bajra Seta bukanlah seorang pengecut”, berkata Gajahmada sambil bergerak berjalan menuju sebuah tempat yang lebih terbuka.

    Terlihat Adityawarman dan Mahesa Dharma mengikuti arah langkah Gajahmada.

    “Aku ingin tahu sejauh mana kesaktian putra tunggal sang pertapa dari Gunung Wilis”, berkata Mahesa Dharma kepada Gajahmada yang telah berada dihadapannya dengan sikap dada tegap terbuka.

    “Ayunkan kepalanmu, maka kamu akan tahu sejauh mana kecepatanku menghindarinya”, berkata Gajahmada sambil tersenyum.

    “Lihatlah kepalan tanganku ini dengan mata terbuka”, berkata Mahesa Dharma sambil bergerak begitu cepatnya menerjang dengan kepalan tangannya kearah Gajahmada.

    “Masih belum dengan segenap hati”, berkata Gajahmada sambil sedikit bergeser kesamping, bersamaan dengan itu sebuah tendangan kakinya meluncur dengan sangat tiba-tiba sekali mengejutkan diri Mahesa Dharma.

    “Serangan balik yang luar biasa”, berkata Mahesa Dharma langsung melenting dengan cepatnya.

    • Kamsia………!!!!!

    • Suwun Ki Dalang.

    • Kamsia…….Pak Dhalang……
      kapan nyampai di istana ya…….???

  5. Melihat Gajahmada dan Mahesa Dharma sudah saling menyerang telah membuat hati Adityawarman tidak sabaran untuk ikut meramaikannya.

    “Aku tidak ingin jadi penonton”, berkata Adityawarman sambil langsung menerjang kearah pertempuran itu.
    “Bagus, kuhadapi kalian berdua”, berkata Gajahmada dengan suara penuh kegembiraan hati.

    Ternyata derap langkah ketiga anak muda di tepi danau itu telah mencuri perhatian keempat orang tua yang terbangun dan langsung melihat pertempuran ketiga anak muda itu.

    “langkah Adityakundala”, berbisik Patih Mahesa Amping kepada Ki Gede Bajra Seta didekatnya dengan pandangan penuh kekaguman.

    Ternyata Patih Mahesa Amping saat itu telah melihat gerak langkah kaki ajaib dari Gajahmada yang selalu dapat lolos dari serangan kedua kawannya. Gerak langkah kaki Gajahmada terlihat seperti menari-nari dalam satu lingkaran.

    Semakin cepat Mahesa Dharma dan Adityawarman menyerang, secepat itu pula Gajahmada dapat lolos dari sergapan tanpa keluar dari garis lingkaran langkah ajaibnya.

    “Empu Dangka pernah bercerita tentang sebuah langkah ajaib yang dimiliki oleh kakek luarnya yang bernama Empu Tantular, darimana Gajahmada mendapatkan ilmu langkah ajaib itu ?”, berbisik Patih Mahesa Amping kepada Ki Gede Bajra Seta.

    “Ayahku Mahendra juga pernah bercerita tentang langkah sakti itu, mengatakan bahwa ilmu langkah sakti itu telah musnah bersama pemiliknya, kakak kandung Empu Brantas yang mempunyai kesaktian lebih tinggi dan mumpuni dari adiknya itu”, berkata Ki Gede Bajra Seta yang juga pernah mendengar tentang sebuah langkah rahasia yang bernama Adityakundala.

    Kedua orang yang punya pengalaman yang luas mengenai aneka macam jenis olah kanuragan itu seperti disuguhi sebuah tontonan yang mengasyikkan. Terlihat mata mereka seperti tidak pernah berkedip sedikitpun, takut terpotong atau kehilangan alur gerak Gajahmada yang tengah memainkan sebuah jurus yang benar-benar mengagumkan, sangat unik meliuk-liuk seperti sebuah lidah api mengikuti gerak arah angin yang meniupnya.

    Sebagaimana Patih Mahesa Amping dan Ki Gede bajra Seta, ternyata Mahesa Semu dan Paman Muntilan juga ikut menyaksikan pertempuran ketiga anak muda itu.

    Mahesa Dharma dan Adityawarman terlihat sudah bercucuran keringat, sementara itu Gajahmada masih terlihat bugar penuh kegembiraan hati melayani serangan ganda dari kedua kawannya itu.

    Dan pertempuran ketiga anak muda itu memang sebuah pertempuran kelas tinggi dimana ketiganya terlihat seperti tiga bayangan yang berkelabat dengan cepatnya.

    Sejauh itu tidak satupun serangan yang dapat menyentuh tubuh Gajahmada dan telah membuat Mahesa Dharma dan Adityawarman telah meningkatkan tataran kemampuan mereka.

  6. Serangan ganda dari adityawarman dan Mahesa Dharma memang terlihat begitu dahyat, sangat cepat dan menjepit dari dua tempat yang berbeda.

    “Jurus langkah yang sangat pelik”, berdesih ucapan dari Patih Mahesa Amping seperti tak sadar penuh kekaguman melihat cara Gajahmada menghadapi serangan Adityawarman dan Mahesa Dharma.

    Sesungguhnya sebagai seorang ahli kanuragan kelas tinggi dijamannya itu, Patih Mahesa Amping baru kali ini menyaksikan sebuah cara bertempur yang sangat mengagumkan, keluar dari gerak alur dasar-dasar ilmu olah kanuragan yang dikenalnya selama ini.

    “Adityawarman dan Mahesa Dharma tidak dapat memecahkan gerak langkah Gajahmada”, berkata Ki Gede Bajra Seta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya penuh kekaguman.

    Dan tiba-tiba saja keempat orang tua yang sudah sangat ahli dalam ilmu olah kanuragan itu seperti terkesima dengan apa yang mereka saksikan bersama itu.

    Ternyata keempat orang tua itu telah melihat gerakan Gajahmada yang indah dan sangat pelik untuk ukuran ahli kanuragan dimanapun, dimana terlihat hanya dengan sebuah sebuah kaki yang bertumpu diatas tanah, dua buah tangan Gajahmada terlihat mengembang seperti seekor elang memulai terbangnya.

    Dan……

    Des des !!!!

    Terlihat Adityawarman dan Mahesa Dharma terlepar jatuh berguling-guling ditanah terkena sambaran kedua tangan Gajahmada yang telak menyentuh pinggang kedua lawan tandingnya itu.

    “kalian telah berhutang satu pukulan”, berkata Gajahmada yang berdiri tertawa melihat kedua kawannya terguling di tanah.

    “Aku memang masih harus banyak belajar denganmu”, berkata Mahesa Dharma yang sudah dapat berdiri kembali tegap diatas kedua kakinya.

    “Dulu aku tidak pernah dapat mengalahkanmu, ternyata sekarang aku merasa tertinggal lebih jauh lagi darimu”, berkata Adityawarman di sisi lain yang juga telah dapat berdiri.

    “Sebuah pertunjukan yang hebat”, berkata Mahesa Semu dari sudut tempatnya.

    “maaf, kami telah mengganggu istirahat kalian orang tua”, berkata Gajahmada sambil berpaling menghadap keempat orang tua yang sedari tadi menyaksikan pertempuran itu.

    “Kamu telah mewarisi ilmu langkah rahasia Adityakundala”, berkata Ki Gede Bajra Seta kepada Gajahmada.

    “Adityakundala ?”, berkata Gajahmada terheran-heran kepada Ki Gede Bajra Seta.

    • tenang Kangmas Gembleh, satu halaman lagi sudah bisa cabut langsung ke Kotaraja Majapahit, qiqiqiqiq………..

      ciatttt….(sambil meniru gerak Gajahmada yang terakhir itu), gerak rahasia langkah Adityakundala seperti yang dikatakan oleh Ki Gede, hehehe (bukan ogut loh yang bilang, tapi Ki Gede Bajra Seta itulah yang mengatakannya.
      ADTYAKUNDALA = LINGKARAN MATAHARI (kerennnn)

      • O… begitu…

        Kamsia……..!!!!!

  7. “Dari mana kamu mewarisi ilmu rahasia itu, wahai putraku ?”, berkata Patih Mahesa Amping kepada Gajahmada penuh kekaguman.

    “Aku mewarisinya dari ayah kandungku sendiri”, berkata Gajahmada kepada Patih Mahesa Amping.

    Terkejut Patih Mahesa Amping mendengar ucapan Gajahmada itu, seperti tidak percaya dengan yang didengarnya sendiri bahwa Gajahmada telah menyebut ayah kandungnya.

    “Pendeta Dharmaraya ?”, berkata Patih Mahesa Amping dengan pandangan aneh kepada Gajahmada. “kamu telah bertemu dengan ayah kandungmu”, berkata kembali Patih Mahesa Amping kepada Gajahmada.

    Dengan singkat Gajahmada bercerita tentang pertemuannya dengan ayah kandungnya sendiri itu ketika dalam pengembaraannya di Tanah Pasundan.

    “Ibumu pasti akan gembira mendengar ceritamu itu”, berkata Patih Mahesa Amping kepada Gajahmada.

    “Benar, ibu menangis gembira mendengar kisahku itu”, berkata Gajahmada kepada patih Mahesa Amping.

    “Berbahagialah bahwa kamu telah mewarisi ilmu rahasia yang sangat langka itu”, berkata Ki Gede Bajra Seta penuh kagum kepada Gajahmada.

    “Ayahku tidak pernah mengatakannya kepadaku bahwa gerak langkah itu bernama Adityakundala, ternyata Ki Gede Bajra Seta punya pengetahuan yang sangat luas mengenai olah kanuragan”, berkata Gajahmada dengan suara penuh kerendahan hati.

    “Ayahku Mahendra pernah bercerita bahwa gerak langkah rahasia itu adalah ciptaan seorang Empu sakti mandraguna di jamannya bernama Empu Tantular, kakak kandung dari Empu Brantas yang garis perguruannya telah mengalir kepada kita”, berkata Ki Gede Bajra Seta kepada Gajahmada.

    “Sungguh sebuah gerakan yang amat pelik, tidak mudah dibaca awal dan akhirnya”, berkata Patih Mahesa Amping dengan pengakuan yang sebenarnya, merasa sebagai seorang yang sudah banyak mempelajari beraneka jenis aliran kanuragan, tapi baru kali ini tidak mampu mencerna dasar langkah rahasia yang dimiliki oleh Gajahmada.

    “Maafkan putramu ini, dengan penalaranku sendiri telah menggabungkan gerak aliran perguruan kita dengan gerak langkah yang diajari oleh ayah kandungku itu”, berkata Gajahmada dengan penuh kejujuran.

    “Empu Tantular pasti akan bangga melihat karya ciptanya telah disempurnakan olehmu”, berkata Ki Gede Bajra Seta kepada Gajahmada.

    Sementara itu tidak terasa lengkung langit diatas mereka terlihat sudah memerah terbias cahaya matahari yang mulai mengintip diujung hutan perbukitan sebelah timur danau.

    Perlahan, sang surya mengukir altar kehidupan pagi dengan warna kuning emasnya.

    • Kamsia Pak Dhalang………

  8. Suwun Ki Dalang.

    • Ditunggu sampai jam 00.30, eee keluarnya jam 01.10

      • He…he…he…
        Ki BP kalah waktu sepenginangan……

  9. “hari yang baik untuk melanjutkan sebuah perjalanan”, berkata Patih Mahesa Amping sambil bangkit berdiri menatap wajah penguasa langit pagi yang bersinar lembut penuh kehangatan.

    Dan tidak lama berselang, derap suara langkah kaki kuda terdengar semakin menjauh meninggalkan danau sepi itu.

    Tujuh ksatria berkuda terlihat telah berada diatas jalan tanah menuju arah Kotaraja Majapahit. Kepulan debu terlihat dibelakang langkah kaki kuda mereka meninggalkan jejak-jejak baru diatas tanah keras yang berdebu. Dan sang surya di timur mereka seperti selalu mengiringi perjalanan mereka, merayap perlahan menjelajahi cakrawala langit biru yang dipenuhi awan putih yang terus bergerak mengikuti arah angin.

    Dan manakala wajah mentari sudah hampir menjangkau puncak cakrawala, ketujuh ksatria berkuda itu telah memasuki Kademangan Maja.

    Kehadiran para ksatria berkuda itu memang cukup menarik perhatian para penduduk yang berada di jalan utama kademangan Maja. Pandangan mereka terus tertuju kearah para ksatria itu yang terus berjalan perlahan diatas kuda masing-masing hingga akhirnya menghilang diujung tikungan jalan yang mendekati arah regol gerbang batas Kademangan Maja.

    “Lama sekali aku tidak berkunjung ke tanah ini”, berkata Patih Mahesa Amping kepada Ki Gede Bajra Seta yang berkuda disampingnya ketika mereka telah melihat dikejauhan sebuah gapura besar berdiri megah seperti raksasa besar menjaga bumi sesembahannya.

    “Gapura Majapahit”, berkata Ki Gede Bajra Seta penuh kebanggaan hati memandang Gapura gerbang batas kotaraja Majapahit yang sudah menjadi semakin dekat itu.

    “Lihatlah pura indah di atas puncak bukit, itulah istana tempat Baginda Raja Sanggrama Wijaya”, berkata Patih Mahesa Amping kepada Ki Gede Bajra Seta penuh kebanggaan hati seperti ingin berkata bahwa dirinya ada di saat pembangunan awal membabat hutan Maja untuk membangun sebuah penghunian baru bagi sebuah dunia baru, sebuah kerajaan Siwa di bumi raya.

    Demikianlah, ketujuh ksatria itu terlihat telah melewati gapura gerbang batas kotaraja dan terus berjalan menyusuri sebuah pemukiman yang masih dipenuhi pohon-pohon besar di kiri kanan jalan yang meneduhi sepanjang jalan utama Kotaraja Majapahit.

    “Perancang pemukiman ini pastinya adalah seorang yang punya nilai seni yang tinggi, juga sorang yang berotak sungguh cemerlang”, berkata Ki Gede Bajra Seta memuji penataan jalan pemukiman yang terlihat sungguh begitu asri dengan membiarkan pohon-pohon besar hutan tetap tumbuh.

    “Ki Sandikala yang merancang semua ini, juga pura istana tempat Baginda Raja Sanggrama Wijaya”, berkata Ki Patih Mahesa Amping kepada Ki Gede Bajra Seta.

    Demikianlah, jalan yang teduh dan sejuk di sepanjang jalan utama Kotaraja Majapahit itu telah membawa ketujuh ksatria berkuda itu ke depan pintu gerbang istana Majapahit.

    • Suwun Ki Dalang, …Mana Ki Bleh ? Semoga Mas Satpam sudah pulih seperti sediakala.

      • Kula hadir Ki BP………
        Kamsia Pak Dhalang……..

      • Sampun Ki BP
        habis tapa ngebleng dua minggu (UAS) langsung tepar, he he he … untung sudah selesai.

    • Monggo….

  10. Gajahmada langsung membawa rombongannya ke Pasanggrahannya sendiri untuk beristirahat. Gajahmada juga telah mengutus salah seorang bawahannya di pasukan Bhayangkara untuk menghadap kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya untuk menyampaikan berita tentang kedatangan mereka di istana Majapahit itu.

    Bukan main genbiranya Baginda Raja Sanggrama Wijaya mendapat kabar tentang kedatangan Ki Gede Bajra Seta serta Patih Mahesa Amping.

    “Katakan bahwa aku ingin segera bertemu dengan mereka”, berkata Baginda Raja kepada utusan pasukan Bhayangkara itu.

    Prajurit pasukan Bhayangkara itupun terlihat telah berjalan menuju pura pasanggrahan Gajahmada untuk menyampaikan pesan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Segera kami akan datang menghadap”, berkata Gajahmada kepada prajurit itu.

    Demikianlah, setelah beristirahat secukupnya Gajahmada telah membawa Ki Gede Bajra Seta, Patih Mahesa Amping dan rombongannya itu menghadap Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    Manakala mereka telah memasuki halaman pasanggrahan Baginda Raja, ternyata penguasa agung bumi Majapahit itu telah menunggu mereka di Pendapa Agungnya.

    Dua orang prajurit pengawal terlihat mengeryitkan keningnya merasa heran melihat Baginda Raja Sanggrama Wijaya langsung berdiri menyambut kedatangan para tamunya itu. Nampaknya kegembiraan hatinya melihat Ki Gede Bajra Seta bersama orang-orang dari Padepokan Bajra seta itu telah melupakan unggah-unggah yang biasa berlaku bagi seorang raja agung menerima para tamunya.

    “Sebuah karunia agung memenuhi istana ini yang membawa paman guru datang menemuiku”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya penuh suka cita menyambut kedatangan Ki Gede Bajra Seta.

    “lama kita tidak berjumpa, wahai saudaraku”, berkata Baginda Raja menyapa Patih Mahesa Amping, Mahesa Semu dan Paman Muntilan.

    “Pasti kalian sudah menjadi pemuda yang tangguh”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya menyapa Adityawarman dan Mahesa Dharma.

    Setelah duduk dan bercerita tentang keselamatan masing-masing, Baginda Raja Sanggrama Wijaya meminta Patih Mahesa Amping bercerita tentang peristiwa di Hutan Kemiri.

    “Aku telah mendengar dari seorang utusan dari Padepokan Bajra Seta yang datang bercerita tentang peristiwa di Hutan Kemiri, aku ingin mendengar langsung cerita itu darimu sendiri, wahai saudaraku”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Patih Mahesa Amping.

    Maka berceritalah Patih Mahesa Amping dari awal peristiwa di hutan Kemiri hingga sampai diselamatkan oleh Ki Gede Bajra Seta.

    “Kakang Mahesa Murti datang disaat yang tepat”, berkata Patih Mahesa Amping.

  11. “Gelang batu aji milikku itu hanya sebuah perantara, nyawa kita adalah milik Gusti Yang maha Agung, berkatnya Patih Mahesa Amping dapat diselamatkan dari kekuatan racun yang amat keras itu”, berkata Ki Gede Bajra Seta menambahi cerita Patih Mahesa Amping.

    “Kejadian di hutan Kemiri itu telah membukakan mata hatiku bahwa di istana ini telah disusupi para musuh yang hendak menghancurkan cita-cita perjuangan kita”,berkata Baginda Raja sambil melirik kearah Gajahmada, berharap bahwa anak muda itu tidak bercerita kepada Patih Mahesa Amping tentang cidera hatinya yang salah langkah membuat sebuah kebijakan dalam peristiwa di Hutan Kemiri itu.

    Nampaknya Gajahmada dapat membaca arti pandangan mata dari Baginda Raja Sanggrama Wijaya, dengan sedikit senyum terlihat Gajahmada sedikit menggelengkan kepalanya tanpa diketahui oleh siapapun seakan menyampaikan kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya bahwa rahasia itu masih tertutup rapat-rapat.

    “Salah satunya telah dapat kami tangkap, salah seorang kepercayaannku sendiri yang bernama Tumenggung Lembu Weleng”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya. “hingga saat ini aku belum dapat menemukan seseorang yang tepat untuk menggantikan kedudukannya membawahi sebuah pasukan khusus, para prajurit delik sandi”, berkata kembali Baginda Raja.

    “Perlu seseorang yang tepat untuk sebuah jabatan yang istemewa itu, seseorang yang dapat dipercaya kesetiaannnya. Bila Paduka mengijinkannya, hamba menawarkan seseorang yang kesetiaannya tidak diragukan lagi, dialah kakang Mahesa Semu”, berkata patih Mahesa Amping kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Terima kasih telah menunjukkan kepadaku siapa gerangan orang yang dapat dipercaya dan tidak dapat disangsikan kesetiaannya, semoga kiranya Kakang Mahesa Semu tidak menolak penawaranku untuk menjadi seorang Temunggung di istanaku ini”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya sambil memandang kepada Mahesa Semu.

    “Titah paduka Raja adalah sabda para dewa, hamba menerima titah paduka”, berkata Mahesa Amping dihadapan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Temunggung Lembu Weleng mungkin hanya seekor cecak yang sudah dapat kita jerat, sementara jauh nun disana ada seekor buaya besar yang masih berkuasa di sarangnya. Kemapanan tatanan kehidupan di bumi Majapahit ini nampaknya tengah diuji oleh segelintir manusia yang iri melihat kejayaan Kerajaan paduka yang terus berkembang ini”, berkata patih Mahesa Amping sambil bercerita tentang sebuah usaha dari sebuah kelompok bayangan hitam dengan berbagai cara diantaranya dengan mencelakai orang-orang terdekat baginda Raja Sanggrama Wijaya, juga sebuah usaha memutuskan jalur pusat perdagangan Majapahit di Tanah Ujung Galuh.

    “Kemegahan istana ini nampaknya telah membutakan hatiku, membutakan kesadaranku bahwa ada sebuah bayangan hitam yang diam-diam telah menyiapkan sebuah alat pemukul di balik tirai persembunyiannya, menanti saat kelemahan dan kelengahan kita datang”, berkata Baginda Raja.

  12. Mendengar perkataan baginda Raja Sanggrama Wijaya telah membawa setiap orang di pendapa agung untuk diam merenung, diam berpikir sejenak.

    “Paman guru”, berkata baginda Raja Sanggrama Wijaya sambil memandang ke arah Ki Gede Bajra Seta. “dipenjuru kerajaan ini siapapun telah mengenal ketajaman mata pedang buatan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta, namun tiada seorangpun yang mengetahui ketajaman pemikiran Paman guru lebih tajam dari mata pedang dimanapun. Tunjukkan kepadaku apa yang harus aku lakukan menghadapi musuh yang bersembunyi itu”, berkata kembali Baginda Raja Sanggrama Wijaya sambil tersenyum memandang Ki Gede Bajra Seta.

    Terlihat Ki Gede Bajra Seta menarik nafas panjang seperti hendak mengumpulkan segenap akal budinya, mengumpulkan segenap nalar ketajaman pikiran yang dimilikinya.

    “Muridku Baginda Raja Sanggrama Wijaya, bahwa memancing seekor buaya besar yang bersalah untuk keluar dari persembunyiannya memang sebuah pekerjaan yang sangat amat sulit. Sementara tidak mudah untuk mendekati sarang mereka sendiri. Hal yang dapat kita lakukan adalah merebut makanan mereka, dengan cara seperti itulah kita dapat membunuh seekor buaya besar di sarangnya sendiri. Hanya pemikiran ini yang dapat paman gurumu berikan”, berkata Ki Gede Bajra Seta kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Wahai saudaraku Patih Mahesa Amping, tunjukkan kepadaku bagaimana caraku untuk merebut makanan mereka”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Patih Mahesa Amping.

    Mendengar perkataan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, terlihat semua orang diatas pendapa agung itu memalingkan pandangannya ke arah Patih Mahesa Amping.

    Lelaki yang terlihat sangat gagah perkasa dengan sepasang mata yang sangat tajam itu tidak langsung menjawab pertanyaan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, terlihat menarik nafas dalam-dalam.

    Semua orang yang ada diatas pendapa agung itu sejenak terdiam seperti tengah menunggu apa perkataan Patih Mahesa Amping yang sudah dikenal memiliki kecerdasan yang sangat luar biasa terutama untuk memecahkan berbagai masalah yang sangat pelik sekalipun.

    “Sumber dari kekeruhan ini telah kita dapatkan lewat pengakuan beberapa orang tawanan yang dapat kami sadap dalam perjalanan menuju Kotaraja Majapahit, yaitu ada seorang yang punya pengaruh besar di Tanah Lamajang”, berkata Patih Mahesa Amping mulai menuturkan pemikirannya. “Kita memang tidak perlu menurunkan sebuah pasukan besar untuk menggempurnya, yang sangat mudah adalah memutuskan jalur perdagangan mereka, memutuskan hubungan perdagangan mereka dengan para pedagang dari Balidwipa, memutuskan jalur perdagangan mereka menuju Bandar pelabuhan Pasuruan.”, berkata kembali Patih Mahesa Amping.

    “Sebuah cara yang hebat, merebut makanan musuh. Aku akan mengutus beberapa orang untuk mempengaruhi para pedagang dari Balidwipa. Aku juga akan mempengaruhi para pedagang asing untuk tidak datang ke Bandar pelabuhan Pasuruan. Terakhir aku akan menyiapkan para pembegal jalanan sebagaimana yang pernah kita lakukan kepada Raja Jayakatwang”, berkata Baginda Raja.

    • Suwun Ki Dalang, number uno lagi

    • Kamsiaaaaa Pak Dhalang……
      ternyata muncul episode cicak dan buaya juga…….
      tapi kok cicaknya kompak bersama buaya mengodhol odhol tahta kerajaan ya….???
      Hidup cicak dan buaya……..!!!

    • Senjata makan tuan

  13. Saya hadir……….

  14. Tiba-tiba saja semua pandangan diatas pendapa agung itu tertuju kepada seorang prajurit pengawal yang datang menghadap paduka Raja Sanggrama Wijaya.

    “Ampun Tuanku Paduka, Ki Mangkubumi bersama dua orang putranya mohon ijin untuk bertemu dengan tuanku Paduka”, berkata prajurit pengawal istana itu kepada Baginda Raja.

    “Katakan kepadanya bahwa disini ada banyak sahabat lama menunggunya”, berkata Baginda Raja kepada prajurit itu.

    Maka tidak lama berselang, muncul Maha Patih Mangkubumi datang bersama dua orang putranya, Adipati Menak Koncar dan Adipati Menakjingga. Sebagaimana diketahui mereka berdua adalah dua orang adipati yang ditugaskan di Tanah Lamajang dan Tanah Blambangan. Nampaknya mereka berdua datang ke Kotaraja Majapahit sesuai undangan untuk menghadiri hari wisuda dan perkawinan Putri Gajatri dan Kertawardana.

    “Nampaknya disini telah berkumpul para sahabat lama”, berkata Maha Patih yang murah senyum itu sambil memandang kearah Ki Gede Bajra Seta dan Patih Mahesa Amping.

    Manakala Ki Mangkubumi dan kedua putranya telah duduk bersama di Pendapa Agung, Baginda Raja secara singkat menyampaikan kembali rencananya menghadapi sebuah gerakan yang berasal dari bumi Lamajang.

    “Hamba mohon ampun, sebagai seorang Adipati di Lamajang sampai tidak mengetahui ada sebuah pergerakan yang akan mengganggu kemapanan di bumi Majapahit ini”, berkata Adipati Menak Koncar setelah mendengar penuturan dari Baginda Raja.

    “Aku akan mengutus beberapa orang yang akan melakukan sebuah kekacauan di bumi Lamajang, bersikaplah seakan-akan kamu tidak mengetahuinya”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Adipati Menak Koncar.

    “Siapa gerangan orang-orang yang akan ditugaskan membuat kekacauan itu, agar hamba tidak salah langkah bertindak”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    Mendengar pertanyaan dari Adipati Menak Koncar, terlihat Baginda Raja Sanggarama Wijaya tersenyum dan terdiam sesaat.

    Semua orang diatas pendapa agung seperti ikut terdiam menunggu perkataan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Dibutuhkan seorang yang setia dan amanah yang akan menjalani tugas ini, menurutku Kakang Mahesa Semu adalah orang yang sangat patut melaksanakan tugas ini sebelum menjadi seorang Temunggung di istana Majapahit ini. Semoga tugas awal di bumi Lamajang akan menjadi bekal untuk memahami medan delik sandi yang sebenarnya”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    Semua mata diatas pendapa agung itu terlihat tertuju kearah Mahesa Semu.

  15. “Semoga hamba dapat mengemban tugas dan kepercayaan tuanku Baginda Raja”, berkata Mahesa Semu sambil merangkapkan kedua tangannya di dada penuh hormat menghadap ke arah Baginda Raja.
    “Gajahmada dan Adityawarman kuperintahkan untuk ikut membantumu”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya sambil terenyum memandang kedua anak muda itu.

    “Titah Paduka hamba junjung”, berkata Gajahmada dan Adityawarman bersamaan.

    “Wahai putra Empu Nambi, aku akan menurunkan beberapa orangku yang akan datang mempengaruhi para pedagang dari Balidwipa. Sebagai seorang Adipati di Balambangan tugasmu adalah membantu orang-orangku itu”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Adipati Menak Jingga.

    “Hamba akan siap membantu dengan segenap hati”, berkata Adipati Menak Jingga dengan sikap penuh hormat.

    “Aku berharap awan hitam diatas bumi Lamajang akan cepat berlalu. Kemapanan bahtera Majapahit harus kita jaga bersama, tanpa itu bahtera Majapahit ini tidak akan sampai ke tanah impian kita semua, sebuah tanah impian kerajaan sang Siwa di bumi ini, tanah dan lautan yang dipenuhi kemakmuran, kesejahteraan dan kedamaian sentosa”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Diatas pendapa agung hari ini aku melihat beberapa anak muda, ingatlah bahwa kami orang tua akan hilang terkubur tanah, ditangan kalian bahtera Majapahit ini kuwariskan. Pegang erat-erat kemudi layar bahteramu agar tidak keluar dari jalur cita-cita pendahulumu. Tanah dan lautan ini adalah karunia dari Gusti Yang Maha Agung untuk bangsamu. Aku tidak akan rela orang asing memilikinya, meski segenggam tanah bumi ini”, berkata kembali Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang ditujukan kepada beberapa anak muda yang ikut hadir di atas pendapa agung itu.

    Perkataan Baginda Raja Sangrama Wijaya terdengar begitu agung, telah membuat semua orang seperti tersihir untuk merenunginya. Terutama orang-orang muda seperti Gajahmada, Adityawarman, Mahesa Dharma, Adipati Menak Koncar dan Adipati Menak Jingga.

    Sementara itu langit senja perlahan terlihat telah menghilang berganti dengan warna gelap malam. Cakrawala langit malam diatas istana Majapahit dihiasi wajah bulan yang belum bulat sempurna, juga jutaan bintang gemintang yang berkedip abadi.

    “Terima kasih telah memenuhi undanganku, sampai bertemu kembali di acara wisuda dan perkawinan putriku”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada para tamunya, sahabat-sahabat setianya manakala bermaksud untuk undur diri meninggalkan pendapa agung pura pasanggrahannya.

    Demikianlah, para tamu Baginda Raja Sanggrama Wijaya terlihat satu persatu menuruni anak tangga pendapa agung itu.

    “Sampai bertemu besok, Ki Sandikala”, berkata Patih Mahesa Amping kepada Empu Nambi manakala mereka berada di sebuah persimpangan jalan di dalam istana itu.

    Terlihat Empu Nambi mengambil arah jalan lain di persimpangan itu bersama kedua putranya.

  16. Alhamdulillah, ternyata ada pagelaran di malam Ahad.

  17. Malam begitu dingin menusuk kulit, terlihat Ki Sandikala bersama dua putranya telah naik ke pendapa dan langsung ke ruang pringgitan.

    Nampaknya mereka belum berniat untuk segera beristirahat tidur.
    Sebagaimana Patih Mahesa Amping dan rombongannya, Adipati Menak Koncar dan Adipati Menak Jingga memang baru hari itu tiba di Kotaraja Majapahit. Mereka datang lewat jalan laut dari jalur pesisir timur Jawadwipa.

    “Aku merasa malu sebagai seorang Adipati tidak mengetahui ada sebuah pergerakan di Tanah Lamajang yang tengah mengancam kemapanan di bumi Majapahit ini”, berkata Adipati Menak Koncar kepada ayahnya, Empu Nambi.

    Mendengar perkataan putranya itu, terlihat Empu Nambi hanya tersenyum lembut.

    “Baginda Raja memang tidak kemana-mana, namun mata dan pendengarannya ada di mana-mana. Itulah kelebihannya sebagai seorang Raja. Janganlah kamu mesara malu, karena kamu telah melaksanakan tugasmu dengan baik sebagai seorang Adipati Lamajang, menciptakan rasa aman bagi wargamu, juga sebagai kepanjangan tangan istana dalam memungut pajak dan upeti”, berkata Empu Nambi membesarkan perasaan putranya.

    “Pandangan Baginda Raja Sanggrama Wijaya ternyata begitu tajam, telah membukakan mataku bahwa sebuah peperangan tidak harus dengan cara mengangkat senjata, tapi dapat dilakukan dengan cara yang lain, misalnya penguasaan jalur perdagangan”, berkata Adipati Menak Jingga.

    “Bagus bila kalian telah mulai mengerti permasalahan ini”, berkata Empu Nambi sambil memandang kedua putranya itu. “Selama ini kalian belum dapat membaca bahwa ada sebuah kekuatan besar yang sangat berpengaruh mencoba menguasai jalur pesisir dan Banyuwangi, Banger dan Pasuruan”, berkata kembali Empu nimbi kepada kedua putranya itu.

    “Selama ini aku hanya melihat bahwa orang-orang dari tanah Madhura hampir menguasai perdagangan di jalur pesisir itu, namun aku tidak menyangka bahwa mereka digerakkan oleh sebuah kekuatan tunggal dari Tanah Lamajang”, berkata Adipati Menak Jingga.

    “Orang-orang Madhuda itu juga saudara kita. Yang ingin kita lawan adalah kekuatan tunggal yang mempengaruhi mereka yang tengah mengancam kemapanan di bumi Majapahit ini”, berkata Empu Nambi mencoba meluruskan permasalahan yang tengah mereka perbincangkan itu.”Saatnya para putra pribumi menyingsingkan lengannya ikut mengambil alih jalur perdagangan di tanahnya sendiri. Pihak istana akan membuka seluas-luasnya kesempatan ini, namun tanpa dukungan dari para putra pribumi gerakan ini akan menjadi sebuah senjata yang tumpul, tidak akan merubah keadaan apapun”, berkata kembali Empu Nambi kepada kedua putranya itu.

    “Terima kasih ayah, aku akan menggerakkan para putra pribumi untuk menjadi tuan di tanahnya sendiri”, berkata Adipati Menak Jingga kepada Empu Nambi.

    “Sementara pihak istana membuat sebuah kakalutan dan kekacauan jalur perdagangan mereka, disaat yang sama kita mengambil alih jalur perdagangan mereka”, berkata Adipati Menak Koncar.

    • Siip….
      Senthong tengah sudah ditutup, sudah buka dan mulai isi senthong kanan

      kamsiiaaaa…………………..!!!!!

  18. Kamsia Pak Dhalang…………
    Asyik, Menak Jingga sudah mulai muncul……..
    Berarti Sabda Palon dan Naya Genggong akan segera menyusul.

    • Penasehat spritual Parabu Brawijaya V yang tidak bersedia untuk masuk islam ?…..keren…..

  19. “Wahai putraku Menak Koncar”, berkata Empu Nambi sambil menatap putranya Menak Koncar dengan sebuah pandangan yang sangat tajam. “Sebagai seorang Adipati Blambangan, pasti kamu sudah banyak mengenal beberapa tempat di Lamajang. Kamu juga telah banyak mengenal orang yang berpengaruh di Lamajang. Apakah dirimu pernah bertemu dengan seseorang yang sangat berpengaruh disana yang datang dari Tanah Sunginep ?”, berkata kembali Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    Mendengar pertanyaan ayahnya itu, terlihat Adipati Menak Koncar tidak langsung menjawab, seperti tengah berpikir dan mencoba mencari siapa gerangan orang yang dimaksudkan oleh ayahnya itu.
    “Mungkinkah orang tua itu ?”, berkata Adipati Menak Koncar perlahan sekali seperti masih meragukannya.

    “Katakanlah kepada ayahmu, aku melihat sebuah keraguan yang sangat manakala kamu berkata ketidak tahuan kamu dihadapan Baginda Raja Sanggrama Wijaya”, berkata Empu Nambi masih dengan pandangan yang sangat tajam seperti menusuk membedah dada putranya yang langsung menunduk seperti tengah menyembunyikan sebuah kesalahan.”Sejak kecil aku mendidikmu untuk berlaku jujur dan adil, sejak kecil aku mendidikmu untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kesetiaan. Janganlah kamu menyimpan sebuah kebusukan, karena sampai kapanpun kamu tidak akan mampu menutupinya”, berkata kembali Empu Nambi kepada putranya Adipati menak Koncar.

    “Semula orang tua itu datang kepadaku untuk membuka sebuah pemukiman baru di Hutan Randu. Aku memberikannya karena kulihat tidak mengganggu tatanan yang telah ada di Lamajang. Hingga akhirnya kulihat pemukiman baru itu berkembang pesat menjadi sebuah kademangan yang sangat maju”, berkata Adipati Menak Koncar kepada ayahnya, Empu Nambi.

    “Kamu tidak mengatakan bahwa orang tua itu telah memberimu banyak hadiah kepadamu”, berkata Empu Nambi masih dengan pandangannya yang sangat tajam seperti tengah membaca isi hati putranya i itu.

    “Orang tua itu memang telah memberiku begitu banyak hadiah kepadaku”, berkata Adipati Menak Koncar masih dengan wajah menunduk semakin dalam.

    “kamu telah terjerat didalam pengaruhnya, siapakah orang tua itu memperkenalkan jati dirinya kepadamu ?”, bertanya Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar dengan suara yang sangat lembut merasa kasihan melihat sikap putranya itu yang merasa telah melakukan kesalahan besar, menerima hadiah, sebuah kesalahan besar dalam hukum tata karma kerajaan Majapahit pada saat itu bagi seorang Rakyan istana.

    “Orang tua itu memperkenalkan dirinya bernama Ki Randu Alam, seorang yang sangat kaya raya berasal dari Tanah Sunginep”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Empu Nambi.

    “Ki Banyak Wedi, Ki Arya Wiraraja atau Ki Randu Alam mungkin adalah orang yang satu”, berkata Empu Nambi sambil menarik nafas dalam-dalam.”besok kita dapat membicarakan orang tua itu bersama Ki Patih Mahesa Amping, juga mematangkan persiapan kita menghentikan semua geraknya di wilayah timur Balidwipa itu”, berkata kembali Empu Nambi.

    • pan gajah mada dah kenal?

  20. Xie xie
    met sore

  21. Demikianlah, ketika cahaya matahari pagi terlihat terang menghangatkan halaman muka pura Pasanggrahan Gajahmada, terlihat tiga orang lelaki berjalan memasuki halaman itu.
    Ketika semakin mendekati anak tangga pendapa, ternyata mereka bertiga orang itu adalah Ki Sandikala bersama dua orang putranya, Adipati Menak Koncar dan Adipati Menak Jingga.

    “Senyum keceriaan Ki Mangkubumi mengalahkan cahaya sang surya dimanapun”, berkata Patih Mahesa Amping menyambut Ki Sandikala bersama putranya itu.

    Ki Gede Bajra Seta, Mahesa Semu, paman Muntilan, Mahesa Dharma, Adityawarman dan tentunya tuan rumah pemilik pura Pasanggrahan itu sendiri, Gajahmada terlihat menyambut gembira kedatangan Ki Sandikala dan dua orang putranya itu.

    Pembicaraan awal mereka bermula berkisar tentang beberapa persiapan dalam rangka pelaksanaan wisuda Raja Muda di Tumapel dan Kahuripan, juga tentang perkawinan kedua Raja Muda yang baru akan dilantik itu.

    “Pastinya Jayakatwang dan Nyimas Turuk Bali akan ikut bersama Kertawardana ke Tumapel, sementara itu Nyi Ageng Nglirip dipastikan akan mengikuti putrinya Dyah Gajatri ke Kahuripan”, berkata Ki Patih Mangkubumi atau Empu Nambi mengawali pembicaraannya.

    “Semoga kehadiran orang tua disamping kedua raja muda itu dapat membantu menjadikan Tumapel dan kahuripan dapat berkembang seperti di jaman Raja Erlangga, leluhur mereka”, berkata patih Mahesa Amping.

    “Yang pasti akan menjadikan kemapanan di bumi Majapahit menjadi semakin kokoh dan kuat”, berkata Ki Patih Mangkubumi yang dulu pernah dipanggil sebagai Ki Sandikala itu.

    Akhirnya pembicaraan beralih kepada persiapan mereka menghadapi sebuah gerakan tersembunyi di timur Jawadwipa itu.

    “Kedua putraku ini akan membangun sebuah gudang penampungan besar di Bandar pelabuhan Pasuruan, Banger dan Banyuangi yang akan membeli barang dagangan para putra pribumi yang berasal dari setiap penjuru Kademangan di timur Jawadwipa itu”, berkata Patih Mangkubumi menjelaskan sebagian rencana mereka.

    “Mereka pasti mencoba mengganggu keberadaan gudang penampungan itu”, berkata Patih Mahesa Amping seperti tengah menguji pemikiran Patih Mangkubumi yang juga terkenal sebagai ahli siasat perang itu.

    “Kita akan melakukan siasat perang Mowor Sambu dan Dom Sumuruping Banyu, sebagai pasukan senyap menjaga jalur perdagangan yang tengah kita bangun. Mahesa Semu, Gajahmada dan Adityawarman telah dipercayakan menggerakkan para prajurit Majapahit di timur Jawadwipa itu”, berkata Ki Patih Mangkubumi dengan wajah penuh senyum sambil memandang kearah Patih Mahesa Amping.

  22. “Sebuah rencana yang sangat hebat, membangun jalur perdagangan di hulu dan di hilir. Sangat matang dan terinci, memudahkan Kakang Mahesa Semu sedikit bergerak memimpin para prajurit senyapnya menuju kemenangan yang gemilang”, berkata Patih Mahesa Amping memuji pemikiran Ki Patih Mangkubumi.

    “hanya sebuah pemikiran dari orang tua yang mulai pikun”, berkata Ki Patih Mangkubumi merendahkan dirinya.

    “Pada saatnya akan terjadi sebuah perang terbuka, manakala Ki Randu Alam akan melakukan siasat yang sama di semua tempat, di hulu dan hilir perdagangan yang kita bangun itu”, berkata Ki gede bajra ikut memberikan pemikirannya.

    “Itu kita siasati dengan membagi kekuatan di tiga titik yang berbeda, di jalur Pasuruan, Banger dan banyuawi”, berkata Ki Patih Mangkubumi menyampaikan sebuah jawaban dari pertanyaan Ki Gede Bajra Seta.

    “Berapa kira-kira pasukan yang kita butuhkan dalam gerakan di wilayah timur Jawadwipa ini ?”, bertanya Mahesa Semu merasa punya kepentingan karena telah dipercayajan oleh Baginda Raja memimpin sebuah pasukan di wilayah timur Jawadwipa itu.

    “Tiga ratus prajurit di jalur Pasuruan, Tiga Ratus di jalur Banger dan tiga ratus di jalur Banyuwangi”, berkata Ki Patih Mangkubumi sambil merinci di tempat mana para prajurit Majapahit disembunyikan agar selalu dapat mengetahui kemana arah lawan bergerak.

    “Beruntunglah baginda Raja yang mempunya Maha Patihnya yang berasal dari timur Jawadwipa itu, hampi tiap jengkal tanah disana ada di dalam kepalanya”, berkata Patih Mahesa Amping yang memuji pemahaman Ki Patih Mangkubumi atas wilayah timur Jawadwipa itu.

    “Aku besar di wilayah timur itu”, berkata Ki Patih Mangkubumi sambil tersenyum.

    “yang kuharapkan semua berjalan sesuai rencana, tidak ada banyak korban di kedua belah pihak, terutama ketentraman para warga yang ada di wilayah itu sebagaimana peperangan yang ada dan pernah kita lewati bersama”, berkata Ki Gede Bajra Seta sambil menyampaikan nasehatnya kepada Mahesa Semu, Gajahmada dan Adityawarman yang akan terjun langsung memimpin pasukannya di wilayah timur itu.”Penderitaan dan darah telah banyak tertumpah untuk membangun Kerajaan Majapahit yang kita cintai ini, janganlah ditambah dengan darah dan penderitaan lagi. Pedang bukanlah satu-satunya alat untuk menyelesaikan setiap pertikaian, pedang itu sendiri diciptakan hanya untuk menjaga kedamaian di bumi ini Peperangan dan perdamaian adalah dua sisi pedang yang berbeda, seorang ksatria yang bijaksana saja yang mampu membedakannya”, berkata kembali Ki Gede Bajra Seta mengakhiri pesan-pesannya.

    Sementara itu dari pintu pringgitan seorang pelayan tua keluar sambil membawa baki makanan dan minuman untuk mereka yang hadir diatas pendapa pura Pasanggrahan Gajahmada. Ternyata sedari tadi beberapa orang di pawon tengah sibuk menyiapkan masakan untuk mereka.

    • Siip……

      kamsiaaaa………………………!!!!!

    • Suwun Ki Dalang, kalah oleh Ki Mas Satpam NgabehiLoring Gandhok.

  23. Dan hari yang dinantikan itu akhirnya datang juga, disaat bulan bulat sempurna, sebuah hari pertanda wisuda putri Dyah Gajatri dan Kertawardana.

    Melarut seluruh warga Kotaraja Majapahit tumpah di tanah lapang alun-alun istana untuk turut hadir di hari pelantikan Bhre Tumapel dan Bhre Kahuripan.

    Ditandai bunga-bunga sajen dan tumpeng keselamatan menghiasi setiap perempatan jalan Kotaraja Majapahit. Dan istanapun berhias aneka janur kuning yang melambai menyambut kegembiraan itu.

    Duduk diatas batu keling Baginda Raja Sanggrama Wijaya di kawani para undangan utusan dan kehormatan dari berbagai daerah bawahan diteduhi tajuk berhias bunga aneka dan rangkaian janur kuning.

    Terlihat suasana menjadi begitu hening manakala seorang petugas istana membuka acara wisuda itu yang diawali dengan puja dan puji bagi junjungan mereka, Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Sembah pujiku orang hina ke bawa telapak kaki pelindung jagat. Siwa-Budha janma Bhatara senantiasa tenang tenggelam dalam samadi. Sang Sri Prawatanata, pelindung para miskin, raja adiraja di dunia. Dewa Bhatara, lebih khayal dari yang khayal, tapi nyata di atas tanah. Merata serta meresapi segala makhluk, nirguna bagi kaum wisnawa, iswara bagi yogi, purusa bagi kapila, hartawan bagi jambala, wagindra dalam segala ilmu, dewa asmara di dalam cinta berahi, dewa yama dalam menghilangkan penghalang dan menjamin dunia”, terdengar lantang suara petugas pembuka acara itu memulai pembukaan acara penobatan suci itu.

    Suasanapun menjadi semakin hening mencekam manakala seorang panditha suci membacakan mantra-mantranya, memohon doa kepada para dewa untuk keselamatan dan kejayaan putri Dyah Gajatri dan Kertawardana yang telah di nobatkan sebagai raja muda di Kahuripan dan Tumapel.

    “Nama abhiseka untuk bhre Kahuripan adalah Tribuana Tungga Dewi Wisnuwardani, nama abhiseka bhre Tumapel adalah Cakraweda Dewa Wisnuwardana”, berkata pandhita suci itu mensyahkan keduanya dengan memercikkan air suci yang berasal dari mata air gunung Penanggungan yang dipercayai sebagai tempat bersemayamnya para leluhur mereka.

    Satu hari setelah jelang penobatan keduanya menjadi raja muda di kahuripan dan Tumapel, telah dilangsungkan sebuah upacara perkawinan keduanya. Suasana kegembiraan para warga Kotaraja Majapahit seperti berlipat-lipat kegembiraan dengan rasa suka citanya hingga datangnya malam, semakin malam menjadi semakin meriah perayaan perkawinan sang putri Raja Majapahit itu.

    Namun dimalam penuh kegembiraan itu, tidak seorangpun bertanya-tanya, dimanakah gerangan Gajahmada sang pemimpin pasukan Bhayangkara, pemuda yang sakti mandraguna itu ?

    Anak muda itu memang tidak terlihat lagi disaat hari mulai wayah sepi bocah, disaat semua orang penuh kegembiraan dan suka cita merayakan hari kebahagiaan perkawinan sang putri Raja itu.

    Dimanakah gerangan Gajahmada saat itu ?

    • kemana-kemana kemana (cuma ayu tingting yang tahu dimana Gajahmada saat itu, hehehe)

      • Aku disini…..jawab Gajahmada menirukan irama rock boomerang.
        Kamsia Pak Dhalang……

    • Suwun Ki Dalang

  24. Lanjut ki… Suwun

  25. Malam itu diujung gapura batas kotaraja Majapahit sebelah utara, disebuah sungai kecil berbatu.Terlihat wajah sang rembulan tersenyum manja bergantung di langit malam.

    Temaram cahaya rembulan menyinari dua muda mudi yang tengah duduk bersama diatas sebuah batu besar di pinggir sungai kecil berbatu itu, diantara suara gemericik air sungai, diantara suara gending keheningan malam.

    “Entah sampai kapan kita akan terus bersembunyi di kegelapan malam seperti ini”, berkata seorang wanita jelita kepada pemuda disampingnya sambil memandang wajah sang purnama.

    “Diantara siang dan malam, ada sang senja yang membatasinya. Sementara cintaku tidak ternbatas apapun”, berkata pemuda itu sambil tersenyum ikut menatap wajah sang rembulan.

    “Sementara cintaku harus bersembunyi dibalik jubah seorang biksuni, bersembunyi diantara dua mata siwa dalam kuil sang budha”, berkata kembali wanita jelita itu dengan wajah masih menatap sang rembulan.

    “Di Tanah Kahuripan masih akan selalu ada wajah rembulan, disitulah wajahku kusisihkan menjaga rindumu”, berkata sang pemuda masih ikut menikmati wajah sang rembulan malam sebagaimana wanita jelita itu.

    “Berjanjilah, wajah kita akan bersatu di dalam lingkaran sang dewi malam”, berkata wanita jelita itu dengan wajah penuh senyum kebahagiaan, kali ini sambil memandang wajah pemuda yang berada disampingnya yang juga tengah memandangnya.

    “Aku berjanji, manakala waktunya tiba dimana tidak ada lagi seorang raja yang memerlukan baktiku. Disaat itulah aku akan membawamu jauh ke pulau terasing dimana tidak seorangpun mengenal kita, memandang bersama matahari terbit diwaktu pagi dan menjelang tenggelam. Memandang wajah purnama bersama. Hingga ajal menjemputku, kuingin dirimulah yang ada disisiku”, berkata pemuda itu menatap dalam-dalam wajah wanita dihadapannya itu yang begitu jelita seperti wajah dewi-dewi rupawan yang terukir di setiap candi-candi pemujaan.

    “Aku akan menanti saat itu, wahai kakang Gajahmada”, berkata wanita jelita itu sambil tersenyum.

    Ternyata pemuda yang bersama wanita jelita itu adalah Gajahmada.

    Siapakah wanita jelita yang bersamanya itu ?

    Ternyata wanita itu adalah Andini, seorang wanita yang telah membaktikan dirinya sebagai seorang biksuni, murid terkasih Gusti Ratu Gayatri ibunda Bhre Kahuripan Tribuana Tungga Dewi.

    “hari telah mulai larut malam, kakang”, berkata Andini kepada Gajahmada.

    “Mari kita kembali ke istana, melebur diantara kegembiraan pesta perayaan yang masih tersisa”, berkata Gajahmada sambil menggamit tangan Andini.

    Demikianlah, dua orang berilmu tinggi itu terlihat telah berkelebat seperti terbang di kegelapan malam.

    • Cihuuuuiiiiiiii……..romantis juga si Gajah…..
      Kamsia Pak Dhalang……

    • karunya

  26. Empat puluh hari setelah pelantikan Bhre Kahuripan dan Bhre Tumapel.
    Di langit yang sama di bumi Majapahit yang mulai menebarkan sayapnya yang kokoh mengarungi padang perburuannya.

    Malam itu dipesisir pantai Tanah ujung Galuh, tiga perahu berlayar tunggal terlihat bergerak menjauhi dermaga. Sekitar lima belas orang berada diatas tiga perahu itu, mereka adalah enam ratus orang prajurit Majapahit terakhir yang akan berangkat menuju tiga tempat sasaran yang berbeda di pesisir timur Jawadwipa, Banyuwangi, Banger dan Pasuruan.

    Pemberangkatan enam ratus prajurit Majapahit memang sengaja sangat dirahasiakan, mereka adalah para pasukan senyap yang akan digelar di tiga tempat berbeda di belahan timur Jawadwipa untuk menandingi sebuah kekuatan tersembunyi yang telah diketahui berpusat di Tanah Lamajang.

    Gajahmada, Adityawarman dan Mahesa Semu adalah tiga ksatria utama yang memimpin para prajurit itu. Gajahmada memimpin para prajurit yang berada di sekitar Pasuruan, Mahesa Semu memimpin pasukan yang berada disekitar Banger, sementara itu Adityawarman dipercayakan memimpin pasukan yang berada di sekitar Banyuwangi.

    Belahan Jawadwipa di sebelah timur itu memang masih banyak dipenuhi hutan dan pegunungan hijau telah membantu para prajurit Majapahit seperti menghilang bersembunyi di kegelapan dan kelebatan hutan-hutan yang luas itu.

    Tanpa menunggu waktu yang lama, para pemimpin pasukan di tiga tempat berbeda itu telah mulai melakukan berbagai persiapan, diantaranya mencoba mempelajari situasi medan masing-masing.

    “Tanah Lamajang sungguh sangatlah luas, kita harus memahami jalur mana yang paling mudah untuk mencapai sebuah Kademangan terdekat”, berkata Gajahmada kepada beberapa perwira yang menjadi bawahannya itu.”Bila dimungkinkan, kita dapat memecah kekuatan kita di berbagai tempat agar kita dapat bergerak cepat mencapai disebuah tempat kapan dan dimanapun”, berkata kembali Gajahmada.

    Ditengah kesibukan para prajurit Majapahit yang tengah mempersiapkan dirinya di belahan timur Jawadwipa itu, ternyata dua orang putra Empu Nambi, Adipati Menak Koncar dan Adipati Menak Jingga juga telah melakukan sebuah pergerakan yang lain, telah memerintahkan orang-orangnya untuk membuat sebuah pergudangan di Bandar Pelabuhan Banyuwangi, Banger dan Pasuruan. Mereka juga telah merintis sebuah jalur perdagangan baru di hampir setiap Kademangan yang menjadi daerah wewenang masing-masing.

    “Kuberharap kalian dapat mempengaruhi orang-orang di Kademangan kalian sendiri, menukar barang dagangan mereka tidak kepada siapapun”, berkata Adipati Menak Koncar di suatu hari di hadapan para Demang yang telah ditugaskan membuat sebuah jalur rintisan perdagangan baru di Kademangannya masing-masing.

    Demikianlah, perlahan tapi pasti sebuah gerakan perlawanan sudah mulai terlihat bergeliat, para pribumi mulai terbuka mata hatinya untuk menjadi tuan di buminya sendiri.

    • Kamsiiiaaaaa Pak Dhalang……
      pasukan senyap = prajurit pendhem….???

  27. Namun jalur perintisan baru perdagangan ini tidak semuanya berjalan mulus tanpa hambatan. Dibeberapa Kademangan di belahan timur Jawadwipa itu telah mendapatkan sebuah tekanan kuat berupa berbagai ancaman yang ditujukan kepada para Demang, keluarganya bahkan para warganya sendiri.

    “Kakang tidak dapat lari dari kesulitan ini. Kakang harus dapat menghadapinya dengan dada terbuka menghadapi ancaman mereka bersama para warga disini”, berkata Nyi Demang Pasirian kepada suaminya di sebuah malam.

    “Akan banyak korban yang berjatuhan, itulah yang aku khawatirkan akan terjadi”, berkata Ki Demang Pasirian sambil menarik nafas panjang, terlihat wajahnya seperti begitu berat menanggung kebimbangan.

    “Bukankah junjungan kita Adipati Menak Koncar telah berjanji untuk berada dibelakang kita ?”, berkata Nyi Demang Pasirian merasa kasihan melihat kebimbangan sikap suaminya itu.

    “Kamu benar Nyimas, kita minta perlindungan kepada junjungan Adipati Menak Koncar”, berkata Ki Demang Pasirian seperti menemukan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapinya.
    Demikianlah, keesokan harinya Ki Demang Pasirian telah mengutus orangnya berangkat pagi-pagi sekali ke tempat kediaman Adipati Menak Koncar di Lamajang.

    “Cepatlah kembali dan katakan kepada Ki Demang Pasirian bahwa kami akan segera mendatangkan para prajurit Majapahit untuk melindungi para warga di Kademangan kalian”, berkata Adipati Menak Koncar kepada utusan Ki Demang Pasirian yang datang di kediamannya itu.

    Demikianlah, manakala utusan itu telah pergi kembali ke Kademangan Pasirian, segera Adipati Menak Koncar memanggil seorang prajurit Majapahit yang memang telah ditugaskan di kediaman Adipati Lamajang itu sebagai seorang prajurit caraka yang dapat bergerak cepat menyampaikan berita penting ke induk pasukan prajurit Majapahit disebuah tempat yang tersembunyi tidak diketahui oleh siapapun.

    “Malam ini kita bergerak ke Kademangan Pasirian dengan seratus orang prajurit”, berkata Gajahmada kepada salah seorang perwira prajurit Majapahit disebuah hutan persembunyian mereka.

    “Beberapa hari ini kamu telah cukup banyak berlatih, persiapkan dirimu untuk menghadapi kawan berlatih yang sesungguhnya”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri sahabatnya yang ternyata ikut bersamanya bergabung dalam pasukannya di sekitar Lamajang itu.

    “Terima kasih telah meningkatkan tataranku, mudah-mudahan aku tidak mengecewakanmu, sahabat”, berkata Supo Mandagri sambil tersenyum.

    “Pegang erat-erat kerismu dan tataplah lawanmu dalam-dalam seakan kamu berkata akan melumatnya bulat-bulat”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri yang beberapa hari itu hampir disetiap kesempatan telah dilatih dan dibina kemampuan kanuragannya dan diyakininya bahwa tataran anak muda itu sesungguhnya telah berada setara dengan para perwira prajurit Majapahit.

    • Siip…..

      Kamsiaaaa…………..!!!!!

  28. Dan malam itu terlihat seratus orang prajurit Majapahit telah bergerak menuju arah Kademangan Pasirian. Dalam perjalanan malam itu mereka nampaknya menghindari beberapa padukuhan agar kehadiran mereka tidak diketahui oleh siapapun.

    Hingga akhirnya manakala langit malam terlihat memudar kemerahan, mereka telah sampai di sebuah perbukitan karang disebuah pantai pesisir laut selatan. Sebuah tempat yang tidak begitu jauh dari Kademangan Pasirian, sebuah tempat yang amat sunyi dan sangat tepat untuk sebuah persembunyian di siang hari bagi seratus prajurit Majapahit yang baru tiba itu.

    “Pergilah kamu ke Kademangan Pasirian, kabarkan kepada Ki Demang Pasirian bahwa prajurit Majapahit sudah ada disekitar Kademangan”, berkata Gajahmada kepada seorang prajuritnya sambil menyampaikan beberapa pesan lainnya yang harus dikatakan kepada Ki Demang Pasirian.

    Berangkatlah utusan Gajahmada itu ketempat kediaman Ki Demang Pasirian.

    Gembira hati Ki Demang Pasirian manakala utusan Gajahmada itu telah menemuinya dengan mengatakan bahwa prajurit Majapahit telah berada disekitar Kademangan Pasirian.

    “Lepaskan panah sanderan sebagai tanda bahaya manakala mengetahui para perusuh itu datang mengganggu ketentraman warga Kademangan ini”, berkata prajurit Majapahit kepada Ki Demang Pasirian.”jangan katakan berita keberadaan kami kepada siapapun, karena kami yakin ada salah seorang warga disini yang berpihak kepada mereka”, berkata kembali prajurit itu kepada Ki Demang Pasirian.

    Demikianlah, pada hari itu para prajurit Majapahit terlihat bergantian berjaga menunggu pertanda bahaya dari Ki Demang Pasirian. Namun hingga malam harinya mereka tidak mendapatkan panah sanderan melintas di langit terbuka.

    “Tetaplah kamu berada di ruang belakang dengan panah sanderanmu”, berkata Ki Demang Pasirian manakala pagi harinya kepada seorang putra sulungnya yang diperintahkan selalu bersiaga untuk melepaskan panah sanderan manakala mendengar sebuah pertanda kentongan bahaya dari Ki Demang Pasirian.

    “Putramu akan tetap berjaga, wahai ayahandaku”, berkata putra sulungnya itu kepada Ki Demang Pasirian setelah sehari semalam tidak tidur itu.

    Manakala Ki Demang kembali ke ruang depan, terlihat anak muda itu duduk bersandar di sebatang pohon jambu air yang cukup lebat dibelakang kediaman Ki Demang. Nampaknya putra sulung Ki Demang Pasirian itu adalah seorang anak yang patuh, tidak sedikitpun dibiarkan rasa kantuk menguasai dirinya. Meski matanya sudah terlihat memerah karena tidak tidur sehari semalaman, terlihat anak muda itu begitu tabah menguatkan dirinya melawan rasa kantuk yang begitu penat yang terkadang datang mengganggunya.

    “Aku membawakan ketela rebus dan minuman hangat untuk kakang”, berkata seorang gadis kecil menghampiri anak muda itu yang ternyata adalah adiknya yang bungsu. Saat itu pagi memang sudah mulai terlihat terang tanah.

    • Kamsiaaaaaa………

  29. “Hari sudah mulai redup diujung senja”, berdesis Ki Demang Pasirian kepada orang kepercayaannya, Ki Jagaraga.

    “Aku berharap semoga saja ancaman mereka hanya sebuah gertakan palsu sekedar membuat kita semua menjadi takut karenanya”, berkata Ki Jagaraga.

    “Aku juga memang berharap seperti itu”, berkata Ki Demang Pasirian sambil memandang sawah ladang yang membatasi antara padukuhan yang terlihat dari arah pendapa rumahnya.

    Kademangan Pasirian adalah sebuah kademangan adalah sebuah daerah yang cukup subur yang terletak di pinggir pantai selatan Jawadwipa. Disamping sebagai petani, sebagian warganya juga sebagai nelayan yang banyak melaut di malam hari.

    “hari telah mulai menjelang malam”, berdesis kembali suara Ki Demang melihat hari sudah mulai menjadi gelap menyelimuti sekitar Kademangan Pasirian.

    “Apakah kita akan terus mensiagakan para prajurit pengawal kademangan di setiap padukuhan ?”, berkata Ki Jagaraga kepada Ki Demang Pasirian merasa yakin tidak akan terjadi apapun karena sudah hampir menjelang dua malam ancaman kerusuhan tidak terbukti.

    “Kita lihat dua tiga hari ini”, berkata Ki Demang Pasirian merasa ragu.
    Sementara itu sang malam terlihat mulai merayap, bulan sabit mengintip bergantung di langit gelap tanpa bintang. Suasana malam di Kademangan Pasirian terasa seperti menjadi mencekam, senyap.

    “Lihatlah, ada cahaya merah di Padukuhan ngalor”, berkata Ki Demang Pasirian sambil berdiri.

    “Mereka telah membakar rumah warga”, berkata Ki Jagaraga sambil ikut berdiri melihat arah warna merah yang bersumber dari Padukuhan Ngalor.

    Bersamaan dengan perkataan Ki Jagaraga, telah terdengar suara kentongan bahaya kebakaran terdengar bersahut-sahutan dari beberapa padukuhan terdekat.

    “Bunyikan kentongan”, berkata Ki Demang Pasirian kepada Ki Jagaraga.

    Terlihat Ki jagaraga telah turun dari pendapa langsung menuju kearah gadu ronda yang ada di depan halaman rumah Ki Demang Pasirian.
    Nada titir yang panjang sebagai tanda bahaya kebakaran terdengar mengalun-ngalun di kegelapan malam itu.

    Sementara itu di belakang rumah Ki Demang Pasirian, terlihat putra sulungnya seperti tersentak langsung bangkit berdiri melupakan rasa kantuknya. Dan tanpa berpikir lebih lama tangannya telah meraih panah sanderan yang tidak jauh dari tempatnya.

    Dan di kegelapan langit malam terlihat sebuah panah sanderan melesat membumbung tinggi. Tiga kali cahaya panah sanderan itu terlihat mengudara dengan jelang terpisah sedikit waktu.

    • matur suwun Pak Dhalang

      sepertinya empat rontal lagi sudah bisa menutup PKPM-06

      monggo Pak Dhalang, Satpam sudah siapkan gandok baru untuk menampung rontal-rontal PKPM-07

      • Empat rontal…????
        Ah kecil itu, mau diturunin 6 rontal lho……
        4 buat nutup pintu gandhok, yang dua buat ngawali gandhok baru.

    • Suwun Ki Dalang

  30. Sebagaimana yang dilihat oleh Ki Demang Pasirian dan Ki jagaraga, cahaya merah di kegelapan malam itu ternyata bersumber dari sebuah rumah yang tengah terbakar di Padukuhan Ngalor.

    Dalam cahaya terang kebakaran itu terlihat lima puluh orang bersenjata terhunus seperti tengah gembira menyaksikan sebuah tontonan yang mengasyikkan. Mereka tertawa gembira melihat para warga Padukuhan keluar berhamburan menyelamatkan diri mendengar ancaman dari orang-orang itu yang akan membumi hanguskan seluruh Kademangan Pasirian.

    “Kawan-kawan, bakarlah dua rumah sekaligus agar pesta kita menjadi lebih semarak lagi”, berkata seorang yang nampaknya pemimpin dari gerombolan itu dari atas kudanya.

    Terlihat tujuh orang dari mereka dengan obar ditangan menuju kearah dua rumah yang berdekatan dengan rumah yang tengah terbakar yang sudah mulai berkurang kobarannya apinya.

    Manakala rumah pertama terlihat sudah semakin menyusut dan redup karena sudah hampir sebagian rumah dari bahan kayu itu terbakar, sementara itu dua rumah didekatnya belum juga ada tanda-tanda mulai terbakar, bahkan masih terlihat utuh dikegelapan malam itu.

    Hingga cahaya api yang membakar rumah pertama sudah menjadi semakin redup, belum juga ada tanda-tanda pembakaran apapun di kedua rumah tetangga terdekat itu.

    “Bajang Waseso, coba kamu lihat ada apa dengan mereka”, berkata pemimpim mereka kepada salah seorang anak buahnya.

    Terlihat orang yang dipanggil dengan nama Bajang Waseso itu segera berlari menengok kawan-kawannya yang diperintahkan membuat pembakaran dua buah rumah secara serentak.

    Sementara itu cahaya api dari rumah yang terbakar sudah semakin redup, kegelapan malam kembali meredupkan pemandangan.

    “Dasar orang-orang bodoh”, mengumpat sang pemimpin itu meresa jengkel mendapatkan orang-orangnya belum ada yang muncul memberi kabar mengapa belum juga dapat membakar kedua rumah itu.

    Bagaimana pemimpin itu tidak menjadi kesal hatinya, pertama tujuh orang yang di perintahkan untuk membakar dua rumah secara serentak tidak terlihat kembali, selanjutnya Bajang Wiseso ikut tidak terlihat kembali batang hidungnya.

    Dan baru saja mulutnya akan kembali meneriakkan umpatan kasar yang lain, tiba-tiba saja dalam kegelapan malam itu telah melihat banyak orang berdatangan mengepung dirinya dan semua anak buahnya.

    “Apakah kalian mau cari penyakit datang mendekatiku ?”, berkata pemimpin itu dengan suara keras seperti mencoba menakut-nakuti orang-orang yang semakin banyak mengepung dirinya dan semua nak buahnya itu.

    • satu buat Kangmas Gembleh

  31. Orang-orang yang mengepung para perusuh itu telah semakin mendekat.

    “Menyerahlah kalian, jumlah kami lebih banyak dari kalian”, berkata seorang pemuda yang terdepan kepada pimpinan perusuh itu.

    Ternyata pemuda itu adalah Gajahmada. Nampaknya Gajahmada bersama para prajuritnya tidak memakai pertanda keprajuritan. Gajahmada bermaksud untuk memberi kesan bahwa mereka adalah warga setempat dan bukan prajurit Majapahit. Dengan cara seperti itu akan membuat jera para perusuh tidak berani membuat onar di Kademangan Pasirian.

    “Kalian para petani dan nelayan bodoh yang sudah bosan hidup”, berkata pimpinan perusuh itu masih dari atas kudanya.

    “Kami bukan orang bodoh, kami datang untuk meringkus kalian semua”, berkata Gajahmada dengan senjata sebuah arit yang biasa digunakan para petani untuk membersihkan rumput-rumput liar.
    Mendengar perkataan Gajahmada telah membuat pimpinan perusuh itu seperti terbakar kemarahannya.

    “Bunuh semua orang ini, hari ini kita berpesta api dan darah orang-orang bodoh ini”, berkata pimpinan perusuh itu sambil mengangkat tinggi-tinggi golok panjangnya memberi perintah.

    Mendengar suara teriakan pimpinan mereka yang memerintah itu, seketika itu juga para perusuh itu telah bergerak dengan senjata terhunus.

    Para prajurit Majapahit yang ikut bersama Gajahmada adalah para prajurit yang sudah sangat terlatih, mereka dapat menggunakan berbagai jenis senjata, juga berbagai peralatan khusus seperti pacul dan arit dapat mereka pergunakan sebagai senjata. Yang pasti apapun ditangan mereka akan menjadi sebuah senjata yang berbahaya.

    Maka tidak lama berselang dua kubu itu telah saling bertempur dan beradu senjata. Bukan main terkejutnya para perusuh itu yang menyangka hanya beradapan dengan para petani dan para nelayan. Ternyata mereka seperti menghadapi orang-orang yang sudah sangat terlatih.

    Para prajurit itu bukan hanya pandai menggunakan senjata, tapi mereka juga sangat pandai dan terlatih dalam peperangan secara berkelompok.

    Dalam satu gebrakan saja beberapa orang perusuh sudah dapat mereka lumpuhkan.

    Semua yang terjadi dalam pertempuran itu tidak lepas dari pandangan mata pimpinan perusuh itu, terlihat dirinya meresa heran bahwa para petani dan nelayan itu begitu terlatih dalam alur gerak pertempuran mereka.

    “jangan heran melihat para petani dan nelayan itu, mereka sudah lama berlatih guna menghadapi orang-orang seperti kalian”, berkata Gajahmada kepada pemimpin perusuh itu.

    “Kusumbat mulut sombongmu itu”, berkata pemimpin itu sambil meloncat dari kudanya.

    • dua…, buat siapa ya?

      kamsiaa…………!!!!!

      • ” Padha “

        • “pedho”

  32. air di garasi udah mulai naik, hujan belum juga berenti, berrrr…dinginnya malam ini ngeronda waspadain banjir masuk rumah

    • Hanya bisa berdo’adari Surabaya Ki Dalang, semoga segera pulh seperti sediakala. Aamiiin

      • Supply air dari nDepok juga sudah saya kurangi, seluruh team saya larang untuk mandi biar air yang mengalir bisa berkurang.
        Gerimis pu sudah mulai reda

        • Jelasnya jangan buang2….air !

  33. Terlihat orang itu telah berdiri dengan mata dan wajah beringas sangat menakutkan seperti ingin melumat tubuh Gajahmada di hadapannya itu.

    Gajahmada yang sudah punya rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi itu terlihat hanya tersenyum sambil menggamit senjata arit di tangannya. Tidak sedikitpun rasa takut terlihat di wajahnya.

    “Sungguh beraninya kamu memilih lawan tanding seperti aku”, berkata orang itu seperti memberi kesempatan kepada Gajahmada untuk berpikir ulang mencari lawan yang lain.

    “Tidak perlu memiliki keberanian tinggi untuk menghadapi orang sepertimu”, berkata Gajahmada dengan nada bicara seperti tidak mau kalah.

    “Ternyata kamu memang anak muda yang sombong, Aku Jalakrumi dikenal bertangan dingin tidak punya belas asih kepada orang muda yang sombong seperti dirimu”, berkata orang itu menyatakan nama jati dirinya.

    “Nama yang cukup bagus, aku ingin lebih mengenal kemampuannya, jangan-jangan hanya sekelas tukang kepruk di pasar”, berkata Gajahmada sambil berdiri dengan sikap menantang.

    “Baru kali ini aku melihat ada seorang anak muda yang sangat sombong”, berkata Jalakrumi dengan wajah geram menahan amarah yang sudah meledup-ledup diatas kepalanya dan sudah langsung bergerak menerjang dengan senjata terhunus mengancam dada Gajahmada.

    Bukan main terkejutnya Jalakrumi mendapatkan serangan pertamanya dengan muda di kaliskan oleh Gajahmada dengan cara yang sangat ringan dan mudah sekali.

    “Gila !!”, berteriak Jalakrumi seperti tidak percaya bahwa anak muda yang menjadi lawannya punya gerakan yang begitu cepat untuk berhindar dari serangannya.

    Ternyata gerakan Gajahmada tidak sampai disitu saja, sebuah tendangan yang juga sangat cepat telah meluncur kearah pinggang Jalakrumi.

    Bukk !!!

    Jalakrumi tidak dapat menghindari tendangan Gajahmada yang meluncur dengan cepat itu dan langsung terlempar berguling di tanah kotor.

    “Ternyata kemampuannmu cukup tinggi juga, anak muda”, berkata jalakrumi yang langsung bangkit berdiri menatap Gajahmada dengan mata penuh kekaguman.

    “Aku belum menunjukkan ilmuku yang sesungguhnya”, berkata Gajahmada seperti ingin memanas-manasi amarah Jalakrumi.

    “Dasar anak sombong”, berkata Jalakrumi sambil bergerak maju kedepan mendekati Gajahmada.

    Nampaknya Gajahmada telah dapat memancing amarah Jalakrumi, terlihat mata Jalakrumi berkilat penuh amarah yang sangat besar seperti ingin secepatnya mencincang tubuh Gajahmada.

  34. ngungsi diatas saung, bakalan begadang nich, hehehe

    • Sabar pak lik …
      Pada waktunya tentu akan surut.
      (He he he …., ora ngrasakke)

  35. Tidak seperti serangan pertamanya, nampaknya Jalakrumi sudah tidak memandang enteng lawan tempurnya yang masih muda itu.
    Serangan Jalakrumi terlihat sangat keras dan kuat tanpa meninggalkan kewaspadaannya. Dan Gajahmada dapat merasakan perubahan itu, namun dengan kecepatannya bergerak, Gajahmada dapat selalu melepaskan diri dari setiap serangan yang keras dan kuat itu.

    Tring !!!

    Arit ditangan Gajahmada telah beradu dengan senjata golok panjang Jalakrumi. Terlihat Jalakrumi melompat dua langkah dari tempatnya berdiri.

    Ternyata Jalakrumi merasakan telapak tangannya menjadi panas dan tergetar hingga hampir saja melepaskan senjata dalam genggamannya itu.

    “Tenagamu sungguh sangat kuat wahai anak muda”, berkata Jalakrumi seperti tidak percaya bahwa anak muda yang menjadi lawan bertempurnya itu punya tenaga yang sangat kuat.

    “Aku belum memperlihatkan yang lebih dari itu”, berkata Gajahmada sambil tersenyum memandang kearah Jalakrumi.

    “Yang pasti aku belum menyerah kalah”, berkata Jalakrumi sambil langsung bergerak maju melakukan serangan kembali.

    Terlihat Jalakrumi dalam serangannya selalu menghindari benturan senjatanya, mengetahui bahwa tenaga anak muda yang menjadi lawannya itu seperti punya kekuatan diatas tatarannya. Nampaknya Jalakrumi mengandalkan kelincahannya bertempur.
    Gajahmada memang sudah dapat membaca sampai dimana tataran ilmu Jalakrumi, namun belum berpikir untuk menuntaskan pertempurannya, masih sengaja menahan Jalakrumi agar tidak mencari lawan selain dirinya. Berkali-kali Gajahmada menghindari serangan Jalakrumi sambil sekali-kali membalas serangannya.

    Sambil bertempur, Gajahmada masih dapat melihat bagaimana para prajurit Majapahit dapat menguasai pertempuran itu, jumlah mereka yang lebih banyak hingga dua kali lipat dari jumlah para perusuh, juga kemahiran mereka yang sangat berpengalaman dalam bertempur secara berkelompok telah membuat para perusuh itu satu persatu dapat dilumpuhkan dengan sangat mudahnya.

    Nampaknya Gajahmada telah dapat berpikir bahwa pertempuran itu akan segera selesai dimana jumlah pihak musuh sudah semakin surut tajam, perlawanan pihak musuh sudah semakin tidak berarti lagi di hadapan para prajurit Majapahit itu yang menyamar sebagai warga biasa, warga Kademangan Pasirian.

    Berpikir seperti itu telah merubah gerak serangan Gajahmada yang tidak hanya sekedar melayani Jalakrumi, tapi sudah kearah untuk segera menundukkannya.

    Bukan main kagetnya Jalakrumi merasakan perubahan yang tiba-tiba itu.

    • kayaknya udah empat ya ???, hehehe

      • belum

  36. Betul betul betul ….
    Gandok baru sudah siap, tinggal pengguntingan pita. Tapi risang belum bisa buka kuncinya sekarang, ada sedikit masalah. Tapi jangan kuatir sudah risang pasang alarm jam 12 nanti untuk buka gandok secara otomatis.

    Kamsia …..!!!!!

    • oke deh kalo begitu, kayaknya sich malam ini jadi begadang sambil nungguin air surut

  37. Gandok PKPM-06 sudah bisa ditutup
    Gandok PKPM-07 sudah dibuka.

    Monggo
    Yang jagongan menunggu rontal perdana PKPM-07 silahkan gulung tikarnya dan “boyongan” ke gandok sebelah.

    nuwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: