PKPM-07

PARA KSATRIA PENJAGA MAJAPAHIT

Karya : Ki Arief “Sandilaka” Sujana

Jilid 7

Sentong kiri

SEBAGAI seorang yang punya banyak pengalaman bertempur, baru kali ini Jalakrumi merasakan tekanan serangan yang begitu kuat. Jalakrumi telah dapat menduga bahwa anak muda yang menjadi lawannya itu telah menunjukkan kemampuan yang sebenarnya.

Keringat bercucuran membasahi tubuh Jalakrumi yang terus menghindar tanpa dapat membalas serangan Gajahmada yang hanya menggunakan sebuah senjata seorang petani biasa, sebuah arit pemotong rumput.

Tranggg !!!

Sebuah benturan senjata tidak bisa di hindari lagi, golok panjang Jalakrumi terlihat terlempar jatuh ke tanah.

“Gila kekuatan anak muda ini”, berkata Jalakrumi dalam hati sambil merasakan telapak tangannya yang masih tergetar panas.

Namun belum lagi reda rasa panas telapak tangannya, juga rasa terkejutnya itu, entah dengan cara apa anak muda di hadapannya itu telah bergerak dengan sangat cepat sekali tak mampu diikuti oleh mata kasatnya.

“Menyerah atau kukutungi lehermu”, berkata Gajahmada dengan suara seperti berbisik di telinga Jalakrumi.

Bergidik seluruh tubuh Jalakrumi merasakan dinginnya sebuah besi tajam melingkari lehernya.

“Aku menyerah”, berkata Jalakrumi tanpa berpikir panjang lagi.
Terlihat Gajahmada memanggil salah seorang prajuritnya untuk mengikat kedua tangan Jalakrumi.

Sementara itu pertempuran para perusuh dengan prajurit Majapahit sudah menjadi kurang berarti lagi, sebentar lagi para perusuh itu sudah dapat dipastikan sudah dapat dilumpuhkan.

“Menyerah atau kubuat kamu cacat seumur hidupmu”, berkata seorang prajurit kepada seorang perusuh yang sudah terkepung.

Mendengar ancaman prajurit itu, terpikir bahwa dirinya akan menjadi seorang yang cacat. Terbayang dalam benak orang itu seorang yang kutung satu kaki.

“Aku menyerah”, berkata orang itu sambil membayangkan nasibnya bila terus melawan dan prajurit itu benar-benar melaksanakan ancamannya.

Sementara itu di sisi yang lain lagi terlihat dua orang perusuh telah melemparkan senjatanya manakala melihat hampir semua kawannya telah dapat dilumpuhkan.

“Aku menyerah”, berkata seorang perusuh sambil melemparkan senjatanya dan diikuti oleh kawannya.

Terlihat kedua orang itu seperti pasrah manakala kedua tangan mereka diikat kuat-kuat.

Dan di ujung malam itu, terlihat para perusuh telah digelandang ke rumah kediaman Ki Demang Pasirian. Terlihat Ki Demang Pasirian dan para prajurit pengawal Kademangan ikut mengiringi.

“Jangan sekali-kali berpikir untuk melarikan diri”, berkata Gajahmada kepada Jalakrumi yang terdiam manakala mereka diikat menjadi satu dan didudukkan di depan halaman rumah Ki Demang Pasirian.

Nampaknya Jalakrumi dan seluruh anak buahnya masih berpikir bahwa yang telah melumpuhkan mereka adalah para warga Pasirian sendiri.

“Aku tidak menyangka bahwa orang-orang Pasirian adalah orang-orang yang terlatih, terutama anak muda itu”, berkata Jalakrumi dalam hati sambil duduk di tanah bersama semua anak buahnya.

Hingga akhirnya manakala pagi telah menjadi terang tanah, para tawanan itu terlihat kembali digelandang keluar dari Kademangan Pasirian. Nampaknya mereka tengah menuju Kadipaten Lamajang. Para prajurit pengawal Kademangan Pasirian yang mengawal perjalanan mereka dibantu sekitar dua puluh orang Prajurit Majapahit yang menjaga hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dalam perjalanan mereka.

Sementara itu Gajahmada dan seluruh prajuritnya telah ditarik kembali menghilang di persembunyian mereka, di hutan-hutan yang sangat lebat di sekitar Tanah Lamajang.

Hingga dua pekan kemudian, mereka telah menemui kerusuhan yang lain di sebuah Kademangan yang lain di Tanah Lamajang itu. Namun sebagaimana di Kademangan Pasirian, Gajahmada bersama para prajuritnya telah dapat meredam kerusuhan itu, membawa banyak tawanan ke Kadipaten Lamajang.

Sebagaimana di Tanah Lamajang, di sekitar Tanah Blambangan hingga ke Banyuwangi juga banyak terjadi tekanan kerusuhan yang nampaknya di kendalikan oleh orang-orang yang tidak menginginkan jalur perdagangan para pribumi menjadi tuan di tanahnya sendiri.

Namun Mahesa Semu dan Adityawarman yang dibantu oleh para prajurit Majapahit yang sudah sangat berpengalaman di berbagai banyak pertempuran telah dapat melumpuhkan tekanan-tekanan dari para perusuh itu.

Hingga akhirnya tekanan-tekanan itu beralih kepada gangguan di pergudangan Bandar pelabuhan yang dimiliki oleh para pribumi di Pasuruan, Banger dan Banyuwangi.

Namun kembali Gajahmada, Mahesa Semu dan Adityawarman bersama para prajurit Majapahit dapat melumpuhkan para perusuh itu.

“Dari semua kerusuhan ini, nampaknya berasal dari Kademangan Randu Agung”, berkata Gajahmada kepada beberapa orang perwiranya di sebuah malam ditempat persembunyian mereka.

“Sudah saatnya kita mengarahkan kekuatan untuk membentur mereka di pusat kekuatannya, di Kademangan Randu Agung”, berkata kembali Gajahmada kepada para perwiranya.

“Kita belum tahu sampai dimana kekuatan mereka itu”, berkata seorang perwira mengingatkan Gajahmada.

Sebagaimana pernah disinggung dalam sebuah pembicaraan antara Empu Nambi dan putranya Adipati Menak Koncar di istana Majapahit beberapa waktu yang lewat, Kademangan Randu Agung adalah bermula dari sebuah pemukiman kecil di pinggir hutan Randu Agung. Atas persetujuan Adipati Menak Koncar, Ki Randu Alam bersama para pengikutnya yang datang dari Tanah Sunginep telah membuka hutan Randu Agung itu untuk sebuah pemukiman baru.

Ternyata Ki Randu Alam adalah seorang yang sangat gigih, dengan sangat cepat sekali telah berhasil mempengaruhi para pedagang di sepanjang pesisir timur Jawadwipa. Dengan pengaruhnya pula para pedagang dari Balidwipa telah menjalin kerja sama dengannya.

Bersamaan dengan pengaruh jalur perdagangan di timur Jawadwipa yang telah berada di tangan Ki Randu Alam, pemukiman di pinggir hutan Randu Agung ikut pula berkembang menjadi sebuah pemukiman besar, sebagai tempat singgah berbagai macam jenis barang perdagangan seperti kapas, kemenyan dan berbagai barang hasil hutan lainnya.

Perlahan tapi pasti, pemukiman baru itu telah berubah menjadi sebuah Kademangan baru bernama Kademangan Randu Agung.

Ki Randu Alam memang bukan seorang Demang, namun rumah kediamannya lebih besar dari rumah seorang demang, bahkan lebih besar dan megah dari tempat kediaman seorang Adipati sekalipun.

Dan hari itu adalah genap dua pekan Gajahmada dan Supo Mandagri berada di Kademangan Randu Agung untuk dapat mengamati lebih dekat lagi sepak terjang dari Ki Randu Alam yang di curigai berada dibelakang semua rencana yang dianggap akan merusak sebuah kemapanan di bumi Majapahit itu.

Di hari pasaran, Gajahmada dan Supo Mandagri menyamar sebagai pedagang keris dan batu aji. Di hari lainnya mereka berdua tetap tinggal disekitar Kademangan Randu Agung. Para penduduk setempat memang tidak mencurigai keberadaan mereka berdua, karena beberapa pedagang lainnya juga banyak yang cukup lama menetap di Kademangan Randu Agung sebagaimana mereka berdua.

“Sebuah rumah yang sangat megah, lebih besar dari rumah Adipati Menak Koncar”, berkata Supo Mandagri kepada Gajahmada ketika mereka berdua berjalan di muka kediaman Ki Randu Alam.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Supo Mandagri, rumah kediaman Ki Randu Alam memang terlihat sangat besar dan megah. Halaman mukanya sangat luas sekali dimana di muka regolnya ada sebuah gardu jaga yang selalu ramai di penuhi sekitar lima sampai enam orang penjaga.

“Selama tinggal di Lamajang, kamu tidak pernah pergi kemana-mana?”, bertanya Gajahmada kepada Supo Mandagri.

Namun belum sempat Supo Mandagri menjawab pertanyaan Gajahmada, seorang penjaga terlihat keluar dari gardu jaganya. Pada saat itu Gajahmada dan Supo Mandagri baru saja melewati pintu gerbang rumah Ki Randu Alam yang sangat luas itu.

“Berhenti dan kemarilah kalian berdua”, berkata penjaga itu memanggil Gajahmada dan Supo Mandagri.

Sekejap Gajahmada dan Supo Mandagri cukup terkejut mendengar panggilan penjaga itu. Mereka memastikan tidak ada seorang pun disitu selain mereka berdua.

“Apakah yang Kisanak maksudkan adalah kami berdua?”, berkata Gajahmada yang telah berhenti dan membalikkan badannya kearah penjaga itu.

“Benar, kalianlah yang kami maksudkan”, berkata penjaga itu bergaya seperti seorang tuan besar kepada Gajahmada dan Supo Mandagri.

“Ada keperluan apakah Kisanak kepada kami berdua?”, berkata Gajahmada kepada penjaga itu setelah berjalan menghampirinya.

“Bukankah kalian berdua para pedagang keris dan batu aji di pasar Kademangan?”, berkata penjaga itu kepada Gajahmada.

“Kisanak benar, kami memang pedagang keris dan batu aji”, berkata Gajahmada kepada penjaga itu.

“Kami ingin melihat barang dagangan kalian, siapa tahu ada keris dan batu aji yang berminat di hati”, berkata penjaga itu kepada Gajahmada dan Supo Mandagri.

“Sayang sekali kami tidak membawa barang dagangan, namun bila Kisanak mau menunggu, kami akan mengambilnya di rumah tempat kami menginap”, berkata Gajahmada penuh keramahan kepada penjaga itu.

“Pergi dan kembalilah dengan membawa barang daganganmu itu”, berkata kembali penjaga itu masih bergaya seorang tuan besar kepada Gajahmada.

“Tunggulah, kami akan datang kembali”, berkata Gajahmada kepada penjaga itu sambil menggamit tangan Supo Mandagri.

Maka tidak lama berselang, terlihat Gajahmada dan Supo Mandagri sudah datang kembali langsung ke gardu penjaga di muka regol pintu rumah kediaman Ki Randu Alam itu.

“Keris kami pembuatannya sangat halus, batu aji kami juga adalah batu-batu pilihan yang kami dapatkan dari berbagai tempat, bahkan ada yang kami dapatkan berasal dari tanah Gurun”, berkata Gajahmada seorang penjaga yang tadi memanggil mereka sambil menggelar dagangannya di muka gardu jaga rumah kediaman Ki Randu Alam.

Ternyata kawan penjaga itu menjadi ikut tertarik, mereka semua terlihat keluar dari gardu jaga untuk melihat berbagai macam keris dan batu aji yang di bawa oleh Gajahmada dan Supo Mandagri.

“Bukankah ini batu panca warna?”, berkata salah seorang penjaga yang sangat tertarik dengan salah satu batu aji yang di bawa Gajahmada.

“Benar, batu itu adalah panca warna yang berasal dari sebuah tempat di Tanah Pasundan. Prabu Guru Darmasiksa kabarnya memakai batu jenis ini ditangannya”, berkata Gajahmada membenarkan perkataan penjaga itu yang tengah mencermati sebuah batu di tangannya.

Mendengar perkataan Gajahmada, seorang penjaga yang tengah memperhatikan sebuah batu aji terlihat menatap dalam-dalam kearah Gajahmada.

“kamu pernah ke Tanah Pasundan?”, bertanya penjaga itu kepada Gajahmada

“Sewaktu kecil aku suka dibawa oleh ayahku berdagang hingga ke Tanah Pasundan?”, berkata Gajahmada sambil tersenyum.

“Tunggulah kamu disini, aku akan mencoba menawarkan daganganmu ini kepada Ki Randu Alam, kudengar dirinya sangat menggemari batu aji”, berkata penjaga itu yang langsung berjalan kearah pendapa rumah Ki Randu Alam.

Berdebar rasa hati Gajahmada mendengar bahwa penjaga itu akan menawarkan barang dagangannya kepada Ki Randu Alam.

“Tamat sudah penyamaranku”, berkata Gajahmada dalam hati dengan perasaan dan pikiran tidak menentu dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Sementara itu beberapa penjaga yang lainnya masih sibuk melihat-lihat keris dan batu aji yang dibawanya.

“Bila tuan kami membeli barang daganganmu, jangan lupakan kami”, berkata salah seorang penjaga kepada Gajahmada.

Mendengar perkataan penjaga itu, Gajahmada tidak menjawab apapun, hanya tersenyum kepada penjaga itu sebagai pertanda dirinya dapat mengerti kemana arah pembicaraan penjaga itu.

Di benak lain Gajahmada masih memikirkan tentang Ki Randu Alam yang sudah pasti akan mengenal jati dirinya karena mereka pernah bertemu dan bertempur beberapa waktu yang telah lewat di sekitar Kademangan Simpang.

Hati Gajahmada semakin berdebar-debar manakala melihat seorang penjaga datang dari arah pendapa rumah Ki Randu Alam.

“Ki Randu Alam berkenan untuk melihat barang daganganmu”, berkata penjaga itu kepada Gajahmada setelah dekat di gardu Jaga. Tidak ada kesempatan apapun bagi Gajahmada untuk menolak. Pikirannya telah pasrah menerima apapun yang akan terjadi.

“Supo Mandagri, ikutlah bersamaku” berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri.

Sebagai seorang yang telah mengenal Gajahmada, nampaknya Supo Mandagri dapat membaca ketegangan hati sahabatnya itu. Tanpa berkata apapun Supo Mandagri telah membantu Gajahmada mengumpulkan barang dagangannya.

“Jangan jauh-jauh dariku”, berbisik Gajahmada kepada Supo Mandagri yang telah berjalan disisinya.

Halaman rumah Ki Randu Alam memang cukup luas, terlihat Gajahmada dan Supo Mandagri berjalan mengikuti seorang penjaga di depan mereka.

Sementara itu hati dan perasaan Gajahmada semakin berdebar debar, membayangkan apa yang akan terjadi bila Ki Randu Alam masih mengenalinya.

“Naiklah keatas, aku ingin melihat barang yang kalian punya”, berkata Ki Randu Alam manakala mereka telah berada di bawah panggung pendapa.

“Orang tua itu nampaknya belum jelas melihatku”, berkata Gajahmada dalam hati yang mulai menapaki anak tangga panggung pendapa Ki Randu Alam.

“Orang tua ini benar-benar tidak mengenaliku”, berkata kembali Gajahmada manakala telah berada diatas panggung pendapa bertatap muka dengan Ki Randu Alam.

Sambil menggelar barang dagangannya, Gajahmada merasa heran sekali bahwa Ki Randu Alam atau yang dikenalnya bernama Ki Arya Wiraraja itu benar-benar tidak mengenalnya dimana mereka pernah beradu tangan bertempur di sekitar Kademangan Simpang beberapa waktu yang telah lewat manakala Gajahmada tengah bertugas mengiringi keluarga kerajaan Majapahit berkunjung ke Kotaraja Singasari.

“Kerismu sangat halus pembuatannya”, berkata Ki Randu Alam kepada Gajahmada sambil mengamati ukiran dan lekuk keris yang dihiasi oleh beberapa batu permata.

“Apakah orang tua ini sudah menjadi pikun ?”, berkata Gajahmada dalam hati yang diam-diam mengamati wajah Ki Randu Alam yang diyakini adalah orang yang sama, yang dikenalnya bernama Ki Arya Wiraraja itu. Seorang lelaki yang sudah putih seluruh rambut, kumis dan janggutnya yang berjurai panjang. Namun masih memiliki tubuh yang tegap dan sangat kekar sebagai pertanda selalu berlatih olah kanuragan.

Pada saat itu Gajahmada dan Supo Mandagri duduk menyamping di dekat Ki Randu Alam yang duduk menghadap kearah halaman pendapanya.

“Batu hijau dari tanah Gurun”, berkata Ki Randu Alam sambil menerawang sebuah batu ditangannya.

“Ternyata Ki Randu Alam sangat ahli mengenal berbagai jenis batu aji”, berkata Gajahmada yang mulai merasa tenang, meyakini bahwa orang tua itu nampaknya tidak mengenalnya, atau telah melupakan wajahnya.

Namun kembali hati dan perasaan anak muda itu berdebar kencang manakala dilihatnya seorang lelaki tua yang lain bersama seorang lelaki muda berjalan di halaman tengah menuju kearah pendapa.

Ternyata Supo Mandagri ikut melirik dua orang yang tengah berjalan mendekati arah panggung pendapa.

Terlihat Gajahmada dan Supo Mandagri saling beradu pandang manakala kedua orang itu sudah semakin mendekati anak tangga pendapa kediaman Ki Randu Alam.

Nampaknya Supo Mandagri telah mengenali seorang lelaki tua yang telah melangkahkan kakinya di anak tangga panggung pendapa itu. Sementara Gajahmada bukan hanya mengenali lelaki tua itu saja, bahkan anak muda yang berada dibelakangnya sudah dikenal oleh Gajahmada.

Perasaan Gajahmada dan Supo Mandagri memang menjadi sangat ketar-ketir berdebar tidak keruan melihat kedua orang itu sudah berada diatas panggung pendapa kediaman Ki Randu Alam itu.

“Tamatlah sudah penyamaranku”, berkata Gajahmada dalam hati.
Apa yang dikhawatirkan oleh Gajahmada ternyata akhirnya memang menjadi kenyataan manakala dirinya dan lelaki tua itu telah beradu pandang dengannya.

Terlihat lelaki tua itu seperti terkejut menatap wajah Gajahmada.
“Ki Randu Alam, kedua orang itu adalah mata-mata musuh”, berkata lelaki tua itu sambil tangannya menunjuk kearah Supo Mandagri dan Gajahmada.

Namun bersamaan dengan perkataan lelaki tua itu, Gajahmada dan Supo Mandagri sudah berdiri mundur beberapa langkah menjauhi Ki Randu Alam.

“Ki Ajar Pelandongan, katakan siapa kedua anak muda ini”, berkata Ki Randu Alam kepada lelaki tua yang baru datang itu yang ternyata adalah Ki Ajar Pelandongan.

“Aku pernah bertemu dengan mereka di sekitar hutan Kemiri, seorang diantara mereka memakai pertanda prajurit Majapahit”, berkata Ki Ajar Pelandongan kepada Ki Randu Alam.

“kami juga pernah bertemu dengan orang itu disekitar pesisir Tuban”, berkata seorang anak muda didekat Ki Ajar Pelandongan yang ternyata adalah Kuda Anjampiani sambil menunjuk kearah Gajahmada.

“Anak muda, benarkah apa yang dikatakan oleh mereka?”, bertanya Ki Randu Alam mengarahkan tatapan matanya yang begitu tajam kepada Gajahmada.

Nampaknya Gajahmada sudah merasa terlanjur basah, tidak mungkin lagi dapat menutupi penyamarannya dan telah bersiap diri untuk menghadapi apapun yang terjadi.

“Apa yang mereka katakan memang benar, aku adalah seorang prajurit Majapahit”, berkata Gajahmada dengan suara penuh ketenangan diri.

“Terlalu berani masuk ke tempat kediamanku, dan kalian akan menerima ganjaran yang sesuai”, berkata Ki Randu Alam kepada Gajahmada dan Supo Mandagri.

“Kami bukan orang yang lemah, cobalah untuk menangkap kami”, berkata Gajahmada sambil memberi tanda kepada Supo Mandagri untuk melompat lewat pagar kayu pendapa.

Terlihat dengan sangat cepat dan ringan sekali Gajahmada telah melesat melewati pagar kayu pendapa diikuti oleh Supo Mandagri di belakangnya.

Namun begitu Gajahmada dan Supo Mandagri menjejakkan kakinya di halaman rumah Ki Randu Alam yang sangat luas itu, terlihat Ki randu Alam seperti terbang melenting dengan sangat cepat sekali melampaui tubuh kedua anak muda itu.

“Tutup gerbang, jangan biarkan keduanya keluar”, berkata Ki Randu Alam memberi perintah kepada para penjaga.

Ternyata suara Ki Randu Alam telah terdengar oleh orang-orangnya yang berada di pondok-pondok di samping bangunan utama, terlihat mereka langsung keluar mendekati halaman muka.

Dalam waktu yang amat singkat, Gajahmada dan Supo Mandagri telah terkepung di tengah halaman yang cukup luas itu tanpa sebuah senjata apapun di tangan mereka.

“Jangan menjauh dariku”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri.

“Tangkap mereka!”, berkata Ki Randu Alam memerintahkan orang-orangnya.

Ada sekitar dua belas orang dengan berbagai jenis senjata telah mulai bergerak mendekati Gajahmada dan Supo Mandagri.

Maka tidak lama berselang, Gajahmada dan Supo Mandagri sudah harus melayani serangan orang-orangnya Ki Randu Alam.
Tidak sulit bagi Gajahmada menghadapi orang-orang itu, tapi pikirannya saat itu terpecah oleh kekhawatirannya atas diri Supo Mandagri.

Sambil bertahan Gajahmada sempat melirik kearah Supo Mandagri yang juga tengah menghadapi lawan-lawannya.

“Aku harus segera mengurangi jumlah mereka”, berkata Gajahmada dalam hati yang melihat Supo Mandagri cukup kewalahan menghadapi beberapa orang tanpa senjata.

Berpikir seperti itu terlihat Gajahmada telah meningkatkan kemampuannya, telah bergerak dengan sangat cepat sekali.
Luar biasa tandang Gajahmada itu, tiga orang lawannya terlihat terpental terkena terjangan kaki dan tangannya.

Apa yang dilakukan oleh Gajahmada tidak luput dari perhatian Ki Randu Alam.

“Luar biasa anak muda itu”, berkata Ki Randu Alam dalam hati sambil terus mengamati jalannya pertempuran.

Belum habis ucapan Ki Randu Alam, empat orangnya telah kembali bergelimpangan terkena sapuan terjangan Gajahmada.

“Anak muda ini adalah bagianku”, berkata Ki Randu Alam sambil berjalan mendekati Gajahmada.

Mendengar perkataan Ki Randu Alam, beberapa orang telah menyingkir dari hadapan Gajahmada dan langsung berpindah ke arah Supo Mandagri.

“Akulah yang pantas menghadapimu, anak muda”, berkata Ki Randu Alam sambil langsung menerjang lewat tendangan kakinya yang terlihat sangat cepat penuh dengan kekuatan tenaga penuh.

Bukan main terkejutnya Gajahmada menghadapi serangan itu, tidak ada jalan lain selain meningkatkan tataran ilmunya.

“Aku seperti tidak melihat Ki Randu Alam yang kukenal beberapa waktu yang lalu”, berkata Gajahmada sambil terus melayani serangan Ki randu Alam.

Sambil bertempur, Gajahmada menjadi terheran-heran melihat jurus-jurus dasar kanuragan yang dimiliki oleh Ki Randu Alam sangat berbeda sekali gerakannya ketika mereka bertempur di sekitar hutan Simpang.

“Apakah dalam pertempuran beberapa waktu yang lalu itu, dia berpura-pura mengalah?”, bertanya dalam hati Gajahmada yang merasakan kemampuan tataran Ki Randu Alam jauh lebih dahsyat dari sebelumnya.

Akhirnya Gajahmada tidak sempat berpikir apapun, juga memikirkan keadaan Supo Mandagri. Serangan Ki Randu Alam yang sangat kuat, keras dan sangat cepat itu telah membuat Gajahmada tidak sempat berpikir apapun selain dengan segala daya dan kemampuannya berusaha keluar dari sergapan dan serangan Ki Randu Alam yang sangat berbahaya. Sedikit saja kelengahan akan berdampak buruk bagi dirinya.

Gajahmada dan Ki Randu Alam telah bertempur layaknya dua naga kanuragan yang telah melambari diri masing-masing dengan tenaga sakti sejatinya. Arena pertempuran keduanya sudah seperti bekas putaran angin puting beliung menyisakan debu tanah dan rumput kering yang terhambur beterbangan.

Sementara itu Ki Ajar Pelandongan yang berada di luar pertempuran masih berdiri mengamati jalannya pertempuran antara Gajahmada dan Ki Randu Alam.

Sebagai seorang yang pernah dikalahkan oleh Gajahmada, terlihat Ki Ajar Pelandongan merasa sedikit cemas meragukan Ki Randu Alam dapat melumpuhkan anak muda yang diketahuinya memiliki ilmu kesaktian yang amat tinggi itu.

“Kita coba lumpuhkan anak muda itu dengan cara kita sendiri”, berkata Ki Ajar Pelandongan kepada Kuda Anjampiani.

Ternyata Ki Ajar Pelandongan yang punya segudang akal liciknya itu telah berjalan bersama Kuda Anjampiani menuju ke arah Supo Mandagri yang tengah menghadapi lawan-lawannya. Dan dua orang guru dan murid itu telah terjun langsung ikut mengeroyok Supo Mandagri.

Kasihan sekali anak muda itu, tanpa senjata menghadapi beberapa orang lawannya yang lengkap bersenjata telah membuatnya begitu kewalahan.

Dan Supo Mandagri sudah menjadi bulan-bulanan mereka manakala Ki Ajar Pelandongan fan Kuda Anjampiani ikut mengeroyoknya.

Kehadiran Ki Ajar Pelandongan dan Kuda Anjampiani dalam pertempuran Supo Mandagri masih sempat dilihat oleh Gajahmada.

Namun Gajahmada tidak mampu berbuat apapun karena terikat pertempuran dengan Ki Randu Alam yang dirasakannya semakin gencar dengan serangan pukulan yang bergulung-gulung dipenuhi angin tenaga sakti hawa panas yang dapat membakar kulit tubuhnya.

Bukan Gajahmada bila tidak mampu menghadapi serangan Ki Randu Alam, anak muda putra pendeta Agung Dharmaraya yang telah memiliki bermacam-macam ajian ilmu kesaktian itu telah melambari dirinya dengan tameng ajian yang setara dengan ilmu kekebalan lembu sekilan. Serangan angin pukulan Ki Randu Alam yang panas laksana lahar gunung berapi itu kais begitu saja di tubuh Gajahmada, bahkan Gajahmada masih sempat berbalas serangan tidak kalah dahsyatnya, bergulung-gulung bagai badai dingin gunung salju keluar dari angin pukulan dan angin tendangannya yang datang seperti mengejar Ki Randu Alam.

Diam-diam Ki Randu Alam mengakui kemampuan ilmu yang dimiliki oleh anak muda itu, hanya dengan ilmu meringankan tubuhnya saja dirinya mampu dapat bergerak menghindari angin serangan Gajahmada yang dirasakan sungguh sangat dahsyat itu. Meski sudah dapat keluar dari terjangan Gajahmada, tidak luput merasakan kulit tubuhnya seperti tersengat hawa dingin yang sangat menyakitkan.

Terkesiap wajah orang yang dipanggil sebagai Ki Randu Alam itu manakala merasakan kulitnya perih. Sebagai seorang yang punya banyak pengalaman bertempur, dirinya mengakui bahwa tataran kekuatan inti sejatinya masih dibawah tataran lawannya.

Tapi Ki Randu Alam benar-benar seorang yang tangguh, tidak mudah menyerah dan terus mencari kelengahan lawannya.
Pertempuran dua naga kanuragan itupun terlihat semakin seru dan sangat menegangkan sekali.

Dalam serang dan balas menyerang itu, akhirnya Gajahmada telah dapat meyakini bahwa Ki Randu Alam selalu menghindari serangannya jauh-jauh, bagi Gajahmada menjadi sebuah ukuran bahwa angin serangannya telah mampu menembus tataran pertahanan lawan.

“Aku akan membuat tekanan lebih gencar lagi”, berkata Gajahmada dalam hati sambil bergerak lebih cepat dan dengan kekuatan lebih berlipat-lipat.

“Gila kekuatan anak muda ini”, berkata Ki Randu Alam dalam hati merasakan angin dingin serangan Gajahmada telah kembali menembus daya pertahannya meski dirinya telah mencoba bergeser lebih jauh lagi.

Serangan yang terus menerus perlahan tapi pasti telah menjadikan tenaga Ki Randu Alam semakin terkuras, semakin menyusut.

Namun gelar kemenangan Gajahmada yang sudah berada diatas angin itu tiba-tiba saja berubah arah.

Bergetar tubuh Gajahmada menahan rasa kemarahannya manakala mendengar suara Ki Ajar Pelandongan di pinggir pertempurannya.

“Menyerahlah, nyawa kawanmu sudah berada di tangan kami”, berteriak Ki Ajar Pelandongan tertuju kearah Gajahmada.

Terlihat Gajahmada langsung melenting beberapa langkah ke belakang tidak jadi melanjutkan serangannya.

“Apa arti selembar nyawa kawanmu untuk kami”, berkata kembali Ki Ajar Pelandongan kepada Gajahmada yang hanya berdiri mematung tidak tahu apa yang harus dilakukannya melihat sahabatnya berdiri dengan dua lututnya dengan tubuh penuh bercucuran banyak darah. Sementara itu sebuah keris tajam ditangan Kuda Anjampiani menempel di kulit lehernya.

“Jangan hiraukan nyawaku, wahai sahabat. Tumpaslah mereka semuanya”, berkata Supo Mandagri dengan suara lantang penuh keberanian.

Terlihat Gajahmada seperti sebuah arca hidup menatap penuh iba wajah sahabatnya itu.

“Nyawa sahabatmu ini berada di tanganku”, berkata Kuda Anjampiani dengan senyum penuh kemenangan sambil menarik rambut Supo Mandagri yang sudah tidak berdaya itu. Sementara keris ditangannya semakin melekat d kulit batang leher Supo Mandagri.

“Mereka mengancammu karena merasa tidak dapat mengalahkanmu, jangan hiraukan selembar nyawaku ini. Bunuh dua orang manusia licik ini untukku agar di kehidupan selanjutnya mereka akan menjadi dua ekor tikus cecurut yang sangat bau, selalu dikejar-kejar orang untuk dibunuh”, berkata Supo Mandagri tanpa rasa takut sedikitpun, meski dibawah ancaman keris Kuda Anjampiani yang menempel semakin ketat di kulit lehernya.

Terlihat Gajahmada masih terpaku berdiri.

“Akulah yang paling merasa bersalah bila nyawa anak itu berakhir disini, akulah yang membawanya, dan aku tidak akan membiarkan dirinya mati muda di tempat ini”, berkata Gajahmada dalam hatinya merasa bersalah bila Supo Mandagri berkorban nyawa di tempat itu. “Kupasrahkan diriku kepadamu, wahai Gusti Yang Maha Agung, pemilik kehidupan ini”, berkata kembali Gajahmada membatin memasrahkan dirinya kepada kehendak dan garis langkah hidupnya di hadapan Sang Penguasa Jagad Alam Raya ini.

Membatin seperti itu telah membuat perasaan dan ketenangan di wajah Gajahmada seperti hidup kembali.

“Aku menyerah, jangan ambil nyawa sahabatku itu”, berkata Gajahmada dengan wajah tegar.

Mendengar keputusan Gajahmada telah membuat diri Ki Ajar Pelandongan merasa berada diatas angin, berharap Ki Randu Alam memuji caranya menaklukkan anak muda yang berilmu sangat tinggi itu.

Namun gelar kemenangan Gajahmada yang sudah berada diatas angin itu tiba-tiba saja berubah arah.

Bergetar tubuh Gajahmada menahan rasa kemarahannya manakala mendengar suara Ki Ajar Pelandongan di pinggir pertempurannya.

“Menyerahlah, nyawa kawanmu sudah berada di tangan kami”, berteriak Ki Ajar Pelandongan tertuju kearah Gajahmada.

Terlihat Gajahmada langsung melenting beberapa langkah kebelakang tidak jadi melanjutkan serangannya.

“Apa arti selembar nyawa kawanmu untuk kami”, berkata kembali Ki Ajar Pelandongan kepada Gajahmada yang hanya berdiri mematung tidak tahu apa yang harus dilakukannya melihat sahabatnya berdiri dengan dua lututnya dengan tubuh penuh bercucuran banyak darah.

Sementara itu sebuah keris tajam ditangan Kuda Anjampiani menempel di kulit lehernya.

“Jangan hiraukan nyawaku, wahai sahabat. Tumpaslah mereka semuanya”, berkata Supo Mandagri dengan suara lantang penuh keberanian.

Terlihat Gajahmada seperti sebuah arca hidup menatap penuh iba wajah sahabatnya itu.

“Nyawa sahabatmu ini berada di tanganku”, berkata Kuda Anjampiani dengan senyum penuh kemenangan sambil menarik rambut Supo Mandagri yang sudah tidak berdaya itu. Sementara keris ditangannya semakin melekat d kulit batang leher Supo Mandagri.

“Mereka mengancammu karena merasa tidak dapat mengalahkanmu, jangan hiraukan selembar nyawaku ini. Bunuh dua orang manusia licik ini untukku agar di kehidupan selanjutnya mereka akan menjadi dua ekor tikus cecurut yang sangat bau, selalu dikejar-kejar orang untuk dibunuh”, berkata Supo Mandagri tanpa rasa takut sedikitpun, meski dibawah ancaman keris Kuda Anjampiani yang menempel semakin ketat di kulit lehernya.

Terlihat Gajahmada masih terpaku berdiri.

“Akulah yang paling merasa bersalah bila nyawa anak itu berakhir disini, akulah yang membawanya, dan aku tidak akan membiarkan dirinya mati muda di tempat ini”, berkata Gajahmada dalam hatinya merasa bersalah bila Supo Mandagri berkorban nyawa di tempat itu.

“Kupasrahkan diriku kepadamu, wahai Gusti Yang Maha Agung, pemilik kehidupan ini”, berkata kembali Gajahmada membatin memasrahkan dirinya kepada kehendak dan garis langkah hidupnya di hadapan Sang Penguasa Jagad Alam Raya ini.

Membatin seperti itu telah membuat perasaan dan ketenangan di wajah Gajahmada seperti hidup kembali.

“Aku menyerah, jangan ambil nyawa sahabatku itu”, berkata Gajahmada dengan wajah tegar.

Mendengar keputusan Gajahmada telah membuat diri Ki Ajar Pelandongan merasa berada diatas angin, berharap Ki Randu Alam memuji caranya menaklukkan anak muda yang berilmu sangat tinggi itu.

Nampaknya bila ada pepatah tua yang mengatakan bahwa guru kencing berdiri, murid akan kencing berlari. Rupanya kelicikan hati sang guru telah menular kedalam diri Kuda Anjampiani.

“Cepat kalian ikat kaki dan tangan orang itu”, berkata Kuda Anjampiani kepada beberapa orang merasa takut bila Gajahmada berubah pikiran.

Terlihat beberapa orang telah mengikat kuat-kuat tangan dan kaki Gajahmada, setelah itu giliran Supo Mandagri yang sudah tidak berdaya penuh luka di sekujur tubuhnya itu ikut diikat kaki dan tangannya.

“Ikat keduanya di batang pohon randu”, berkata kembali Kuda Anjampiani kepada beberapa orang.

Tanpa mengenal belas kasihan, terlihat Gajahmada dan Supo Mandagri diseret dari tengah halaman rumah Ki randu Alam hingga ke ujung pojok pagar halaman dimana sebuah pohon Randu tumbuh besar berdiri disana berjejer bersama dua buah pohon timbul yang mengapitnya.

“kalian akan mati disini berdua, tanpa makan dan minum dibawah panas matahari dan dinginnya malam”, berkata Kuda Anjampiani dihadapan Gajahmada dan Supo Mandagri yang sudah terikat di batang pohon randu.

Terlihat Gajahmada tidak membalas perkataan Kuda Anjampiani, hanya matanya saja memandang dengan sorot pandangan penuh kebencian.

“Sorot matamu sebentar lagi akan menjadi surut, hingga akhirnya kamu akan mati perlahan-lahan. Akulah orang pertama yang akan mengabarkannya kepada kekasih hatimu itu, gadis yang sangat sombong itu, gadis yang paling bodoh di bumi ini. Dan aku akan merasa gembira melihat wajahnya yang cantik jelita basah dengan air mata penuh kesedihan”, berkata Kuda Anjampiani kepada Gajahmada yang tidak akan melupakan penghinaan Andini dalam sebuah peristiwa yang sudah lama berlalu yang terjadi di padepokan Nyi Ageng Nglirip di Tuban.

Kembali Gajahmada tidak berkata apapun, dirinya menyadari bahwa anak muda itu hanya ingin mencoba menyiksa bathinnya.

Melihat Gajahmada seperti tidak berpengaruh dengan semua perkataannya itu, telah membuat Kuda Anjampiani menjadi sangat kesal, hampir-hampir tangannya bergerak untuk ke wajah Gajahmada demi melampiaskan dendam sakit hatinya kepada anak muda itu yang telah mengalahkan pertarungan cintanya memperebutkan hati seorang wanita, biksuni Andini.

“Aku tidak ingin kamu mati dengan cepat”, berkata Kuda Anjampiani sambil berjalan menjauhi Gajahmada dan Supo Mandagri diiringi suara tertawanya, suara tawa seorang yang berhati bengis penuh kelicikan.

Manakala Kuda Anjampiani telah jauh meninggalkan mereka berdua yang terikat berlawanan arah terhalang di sebatang pohon randu, Gajahmada mendengar suara lirih Supo Mandagri yang ditujukan kepadanya.

“Ternyata kamu tidak sepenuh hati mengangkat aku sebagai saudaramu”, berkata lirih Supo Mandagri.

Mendengar perkataan Supo Mandagri telah membuat Gajahmada mengernyitkan keningnya pertanda tidak mengerti kemana arah pembicaraan sahabatnya itu.

“Apa maksudmu berkata demikian?”, bertanya Gajahmada kepada Supo Mandagri.

“Hampir seluruh rahasiaku sudah kuceritakan kepadamu, sementara kamu sendiri masih menyimpan banyak rahasia kepadaku”, berkata Supo Mandagri dari balik batang pohon.

“Rahasia apa yang kusembunyikan darimu?”, bertanya kembali Gajahmada.

“Tadi kudengar sendiri dari anak muda itu bahwa ternyata kamu punya seorang kekasih”, berkata Supo Mandagri kepada Gajahmada.”Layakkah diriku kamu anggap sebagai seorang saudara bila masih ada sesuatu yang kamu sembunyikan?”, berkata kembali Supo Mandagri.

Mendengar perkataan Supo Mandagri telah membuat Gajahmada tersenyum sendirian.

“Pada saatnya aku akan bercerita kepadamu”, berkata Gajahmada sambil tersenyum dan berpikir bahwa luka pada diri sahabatnya itu tidak membahayakan dirinya, buktinya masih dapat berkata dan berpikir tentang apa yang dikatakan oleh Kuda Anjampiani.

“Kapan saatnya, sebentar lagi aku akan mati”, berkata Supo Mandagri seperti tengah mengancam.

“Kamu tidak akan mati hari ini”, berkata Gajahmada sambil tersenyum.

“Mengapa kamu dapat memastikan aku tidak akan mati hari ini?”, bertanya Supo Mandagri.

“Bukankah kamu pernah berkata kepadaku, bahwa kamu tidak ingin mati sebelum dapat berkarya membuat sebuah keris pusaka senilai keris Nagasasra?”, berkata Gajahmada.

“Kamu benar, masih banyak yang ingin kupelajari dari Empu Nambi, cucunda Empu Bharada itu”, berkata Supo Mandagri.

Nampaknya setelah berkata, Supo Mandagri asyik sekali dengan lamunan dan bayangan pikirannya sendiri.

Suasana di pojok halaman rumah Ki Randu Alam seketika menjadi hening, tidak ada perkataan apapun dari Supo Mandagri.

Terlihat Gajahmada mengernyitkan keningnya, merasa khawatir terjadi sesuatu pada diri Supo Mandagri yang lama terdiam.

“Supo Mandagri, katakan bagaimana dengan lukamu”, bertanya Gajahmada kepada Supo Mandagri.

“Luka di beberapa tubuhku sudah mulai mengering, tapi aku belum merasa yakin apakah aku masih dapat berjalan sendiri”, berkata Supo Mandagri menjawab pertanyaan Gajahmada.

Sementara itu cakrawala langit senja sudah mulai semakin redup menatap sang surya yang bersembunyi dan mengintip di ujung barat bumi.

Malam semakin membisu, sepi dan hening.

Di pojok halaman Rumah Ki Randu Alam, dua orang tawanan masih terikat di sebatang pohon randu. Tanpa penerangan apapun mereka berdua diperlakukan seperti layaknya dua binatang buruan.

“Supo Mandagri, bagaimana keadaanmu saat ini”, berbisik Gajahmada kepada sahabatnya itu.

“Sekujur tubuhku masih terasa ngilu dan perih”, menjawab Supo Mandagri dengan suara berbisik pula.

“Disaat kentongan dara muluk terdengar, kita akan pergi melarikan diri”, berbisik kembali Gajahmada kepada sahabatnya itu.

Supo Mandagri tidak berkata apapun, sebagai seorang yang sudah mengenal siapa Gajahmada, dirinya sangat percaya bahwa sahabatnya itu pasti dapat dengan mudah melepaskan diri dari tali ikatan apapun.

Sebagaimana yang diyakini oleh Supo Mandagri, memang tidak ada kesulitan apapun bagi Gajahmada untuk melepaskan diri. Namun nampaknya anak muda itu tengah mencari waktu yang tepat, yaitu disaat wayah tengah malam dimana tidak seorang pun akan menyadari bahwa tawanan mereka telah pergi jauh.

Demikianlah, manakala terdengar sayup-sayup suara kentongan nada dara muluk terdengar jauh dari beberapa Padukuhan terdekat, Gajahmada kembali berbisik kepada Supo Mandagri untuk bersiap-siap diri.

Tali pengikat mereka memang sangat kuat sekali, berasal dari bahan kulit rotan yang dirangkap. Namun bagi seorang seperti Gajahmada yang punya kesaktian ilmu sangat tinggi bukan sebuah hal yang sangat sulit, rantai waja sekalipun pasti dapat dilepaskannya oleh anak muda itu yang mempunyai tenaga dua puluh kali lipat kekuatan seekor banteng jantan yang sangat besar.

Namun baru saja Gajahmada bermaksud untuk menghentak-kan tali yang mengikat tangannya, tiba-tiba saja pendengarannya yang amat peka dan terlatih itu telah mendengar suara langkah kaki yang tengah mendekati pojok di dinding pagar halaman Ki Randu Alam.

“Ada orang datang mendekat”, berbisik Gajahmada kepada Supo Mandagri yang telah mengurungkan keinginannya memutuskan tali ikatan mereka.

Mendengar perkataan Gajahmada telah membuat diri Supo Mandagri berdebar-debar, pikirannya berusaha meraba-raba siapa gerangan orang di balik dinding itu yang tengah mendekati mereka.

“Yang pasti bukan orangnya Ki randu Alam”, berkata Supo Mandagri dalam hati.

Ternyata pikiran Gajahmada sejalan dengan pikiran Supo Mandagri, merasa yakin bahwa orang yang semakin mendekati dinding pojok halaman itu pastinya bukan orangnya Ki randu Alam.

Terlihat Gajahmada menarik nafasnya dalam-dalam manakala matanya melihat seorang di kegelapan malam itu telah hinggap diatas dinding pagar halaman Ki Randu Alam.

Tatapan mata Gajahmada seperti terus melekat kepada orang yang tengah mengendap diatas dinding pagar halaman Ki Randu Alam.

Sementara itu seluruh kekuatan tenaga sakti sejatinya telah disalurkan di kedua tangannya agar setiap saat dapat dihentakkan memutuskan tali temali yang mengikat tangan dan tubuhnya.

Namun Gajahmada tidak melakukan apapun manakala orang itu telah melompat dan berdiri dengan tatapan mata penuh persahabatan.

“Kita bertemu lagi, wahai orang muda”, berkata orang itu dengan suara perlahan.

Terbelalak mata Gajahmada seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Aku bukan Ki Randu Alam yang kamu temui tadi siang”, berkata orang itu seperti dapat membaca arah pikiran Gajahmada.

Ternyata Gajahmada memang melihat wajah orang itu sangat mirip sekali dengan Ki Randu Alam yang ditemuinya tadi siang. Namun sikap dan perlakuannya sangat berbeda sekali dimana orang yang ditemui Gajahmada saat itu terlihat sangat bersahabat.

Belum lepas rasa heran di dalam diri Gajahmada, orang itu sudah mengeluarkan sangkur pendeknya.

“Aku tahu kamu dapat melepaskan diri sendiri, tapi biarlah sangkur pendek tuaku yang akan memutuskan tali temali ini”, berkata orang itu sambil memutuskan tali temali yang tubuh dan tangan Gajahmada dan Supo Mandagri.

“Apakah aku berhadapan dengan Ki Arya Wiraraja?”, berkata Gajahmada kepada orang itu.

bersambung ke senthong tengah

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 10 Februari 2015 at 23:01  Comments (146)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-07/trackback/

RSS feed for comments on this post.

146 KomentarTinggalkan komentar

  1. Bukan main terkejutnya Putu Risang melihat jari jemari Gajahmada menjentikkan kerikil itu meluncur dengan cepatnya ke sebuah gerumbul semak belukar.

    Dan terkesiap wajah Putu Risang telah melihat sebuah bayangan melesat begitu cepatnya bergerak dan menghilang di kegelapan malam seperti tertelan bumi.

    “Sejauh Rangga Seta berjalan, sejauh itu pula orang ini membayanginya”, berkata Gajahmada kepada Putu Risang.

    Diam-diam Putu Risang mengakui ketajaman indera Gajahmada ternyata telah jauh melampaui dirinya, gurunya sendiri. Buktinya sejauh ini tidak mengetahui keberadaan orang berilmu tinggi itu yang diam-diam bersembunyi di gerumbul semak belukar tidak jauh dari mereka.

    “Hari sudah mendekati pagi”, berkata Gajahmada sambil memandang warna semburat merah menyinari sebagian cakrawala langit sebagai pertanda sang fajar sebentar lagi akan muncul di bumi raya.

    “Mari kita kembali ke istana Kadipaten Lamajang”, berkata Putu Risang sambil berdiri.

    Demikianlah, di keremangan awal pagi itu dua buah bayangan terlihat berkelebat mendekati jalan utama istana Kadipaten Lamajang. Kecepatan kedua bayangan itu berkelebat memang sangat luar biasa hingga tak seorang pun para prajurit pengawal istana Kadipaten menyadari ada dua orang telah melintas di halaman istana Kadipaten.

    “Ternyata dua orang tamuku sudah terbiasa bangun dan jalan-jalan pagi”, berkata Adipati Menak Koncar yang tengah berjalan dari arah pringgitan kepada dua orang yang berkelebat memasuki panggung pendapa agung yang ternyata adalah Gajahmada dan Putu Risang.

    “Ternyata berjalan dan memandang hamparan sawah yang luas membentang di waktu pagi sangat menyenangkan”, berkata Putu Risang dengan senyum renyahnya kepada Adipati Menak Koncar.

    “Pendapa agung ini menghadap arah timur matahari, hampir setiap pagi aku duduk disini mengikuti gerak sang fajar muncul di ujung bibir bumi”, berkata Adipati Menak Koncar sambil merebahkan tubuhnya duduk di lantai kayu panggung pendapa agung.

    Menunggu saat fajar datang memang sungguh tidak membosankan, apalagi diiringi canda dan gurau hangat dari mereka bertiga yang sudah lama tidak saling bertemu.

    Manakala sang fajar telah menampakkan seluruh wajahnya menyinari bumi pagi, pembicaraan mereka menjadi semakin hangat karena telah ikut bergabung bersama mereka seorang pemuda yang sangat menyenangkan, mudah bergaul dan punya banyak sekali bahan pembicaraan yang membuat suasana di atas panggung pendapa agung menjadi semarak, penuh kegembiraan.

    Pagi diatas pendapa agung itu menjadi seperti sempurna manalala seorang anak lelaki hadir ditengah-tengah mereka. Anak lelaki kecil itu adalah Rangga Seta.

  2. Takut di tantang sama Kangmas Mbleh, langsung di wedar 4 ronta, hehehe

    Blemmm…!!!! membayangkan tertabrak tubuh Kangmas Embleh yang super gede, qiqiqiqiqiqq

    • Ha ha ha ……

      mempan juga tantangan Ki mBleh

      bagus…bagus…bagus….

      • Sssstttt…..saiki dadi aku sing wedi…..
        tak mendhelik disik ah…….

        • Bukankah mendhellik artinya…melotot?

          • he he he ….
            itu bahasanya piyantun saka tlatah Lendut Benter
            mendhelik = sembunyi

    • Ngapunten Pak Dhalang

      Anak Putu Risang apa memang namanya dua, disebut Rangga Seta dan Rangga Pati? Soalnya, kadang disebut Rangga Seta, kadang Rangga Pati.

      nuwun

      • dipersori lagi dech,,,,,,,yang benar adalah Rangga Seta, hehehe kamsiaaaaa

  3. Wilujêng énjang kålå lingsir wêngi, ngancik wayah Titiyoni.

    Gusti Hang Murbå ing Dumadi mugiyå tansah paring karaharjan, dumatêng pårå Sanak Kadang.

    Nuwun.

    • lamo tak bersuo, lamo pula tak menampakkan panah sanderan diatas langit malam sang Punakawan

    • Sugeng rawuh Ki Puna…….
      Harak inggih dhawah sami wilujeng lan raharja to Ki….??

      • Harak kalian Wilujeng lan Raharja sami dhawah wonten pundi Ki mBleh.
        menapa nitih motor boncengan tiga kok dhawah sami-sami

        he he he …., mblayu…. wedi dipelototi

        • ora ngurus………

          • Ya……diurus..urus aja tho Ki Mbleh…

    • Monggo Ki Puna, tindhak pundi mawon mboten nate sambang gandhok.

    • Wah Ki Puna yang saya kangeni rawuh……..
      Harak sami wilujeng…….dan menanti toetoegnya 😀

  4. Perlahan sang surya beranjak menaiki tangga cakrawala langit, beringin kembar di muka halaman pendapa istana Kadipaten Lamajang seperti dua raksasa hidup memayungi suasana dibawahnya menjadi senantiasa tetap teduh.

    Terlihat dua orang prajurit kepercayaan Adipati Menak Koncar datang menghadap, menyampaikan berita hasil pengamatannya di Kademangan Randu Agung.

    “Beristirahatlah, kalian telah melaksanakan tugas dengan baik”, berkata Adipati Menak Koncar kepada kedua prajuritnya itu.

    “Ternyata tidak ada perubahan kekuatan di rumah itu sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Banyak Wedi”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Gajahmada dan Putu Risang.

    “Aku belum begitu mengenal Wilayah Kademangan Randu Agung, kalau boleh tahu, apakah kita akan melewati banyak padukuhan untuk sampai ke rumah itu ?”, bertanya Putu Risang kepada Adipati Menak Koncar.

    “Rumah itu berada di Padukuhan paling ujung ke arah hutan Randu Agung, jalan terdekat adalah melewati beberapa padukuhan di Kademangan Randu Agung”, berkata Adipati Menak Koncar menjawab pertanyaan Putu Risang.

    “Nampaknya ada satu hal yang terlewatkan oleh Ki banyak Wedi”, berkata Putu Risang kepada Adipati Menak Koncar dan Gajahmada.
    Mendengar perkataan Putu Risang, terlihat Adipati Menak Koncar dan Gajahmada saling berpandangan.

    “Menurutku, Ki Banyak Wedi sudah menyampaikan semuanya”, berkata Adipati Menak Koncar sambil mengerutkan keningnya memandang kearah Putu Risang.

    Putu Risang tidak segera berkata apapun, hanya sedikit tersenyum.

    “Aku akan menjawabnya, tapi perlu bantuan Supo Mandagri”, berkata Putu Risang sambil memanggil Supo Mandagri yang duduk berjauhan dengan mereka tengah menemani Rangga Seta.

    “Supo Mandagri, kamu besar di Tanah Lamajang ini, apa yang akan kamu lakukan bila mendengar tetanggamu mendapatkan sebuah musibah ?”, bertanya Putu Risang kepada Supo Mandagri yang sudah datang mendekat.

    “Bagi kami tetangga adalah saudara paling dekat, kami akan datang memberikan bantuan sekuat apa yang kami miliki”, berkata Supo Mandagri langsung seketika.

    “Itulah yang dilupakan oleh Ki Banyak Wedi, bahwa kita belum dapat mengetahui seberapa besar keberpihakan para warga penghuni Kademangan Randu Agung”, berkata Putu Risang masih dengan senyumnya sambil memandang bergantian kearah Adipati menak Koncar dan Gajahmada.

    “Keberpihakan warga Kademangan Randu Agung memang belum terpikirkan olehku”, berkata Adipati Menak Koncar membenarkan jalan pikiran Putu Risang itu.

    • ngebut………

  5. “Kita harus menghindari benturan langsung dengan warga Kademangan Randu Agung”, berkata Gajahmada mulai dapat menangkap arah pikiran gurunya itu.

    “Kita dapat menghindari beberapa padukuhan di Kademangan Randu Agung dengan cara jalan melingkar”, berkata Adipati Menak Koncar menambahkan.

    “Jarak Kadipaten ini menuju ke Kademangan Randu Agung tidak begitu jauh, apakah kita tidak khawatir pasukan kita dapat terbaca oleh pihak lawan ?”, bertanya Putu Risang.

    Mendengar pertanyaan Putu Risang telah membuat Adipati Menak Koncar dan Gajahmada terdiam sejenak membenarkan arah pertanyaan Putu Risang bahwa ada orang-orang disekitar mereka yang merasa dekat dengan pihak lawan dan membocorkan gerakan mereka.

    “Ternyata aku berhadapan dengan seorang senapati perang yang sangat kuat pikirannya”, berkata Adipati Menak Koncar memuji ketelitian pikiran Putu Risang itu.

    “Aku hanya berpikir sederhana, menjaring seekor ikan besar di kolam kita sendiri tanpa mengeruhkannya”, berkata Putu Risang sambil tersenyum.

    “Jangan khawatir, beberapa ikan gabus besar sudah dapat kami tangkap di awal pagi tadi”, berkata Adipati Menak Koncar sambil memandang dua orang lelaki yang datang dari arah pringgitan membawakan makanan dan minuman diiringi seorang wanita anggun dibelakangnya yang ternyata adalah Nyi Adipati Menak Koncar.

    “Mudah-mudahan masakan orang Lamajang tidak berbeda lidah dan rasa”, berkata Nyi Adipati Menak Koncar mempersilahkan perjamuan kepada para tamunya.

    Setelah menikmati perjamuan makan siang itu, pembicaraanpun kembali berlanjut, diawali oleh Adipati Menak Koncar sebagai tuan rumahnya.

    “Menghindari penglihatan pihak lawan, kita dapat bergerak hari ini juga ditengah malam nanti menuju hutan Mandeg disebelah timur Hutan Randu Agung”, berkata Adipati Menak Koncar menyampaikan rencananya.

    “Bagus, artinya kita masih punya banyak waktu di hutan Mandeg menunggu saat tengah malam tiba, menyergap dan mengepung pihak lawan”, berkata Putu Risang menyetujui usulan yang disampaikan oleh Adipati menak Koncar itu.

    Demikianlah, pada hari itu juga Adipati Menak Koncar telah memanggil sekitar empat puluh orang prajurit terbaiknya. Pada hari itu juga telah memerintahkan kepada para prajurit penjaga agar melarang siapapun untuk tidak boleh keluar dari halaman istana Kadipaten Lamajang, apapun alasannya.

    Perintah untuk tidak boleh meninggalkan istana Kadipaten ini memang cukup membingungkan beberapa orang abdi dalem istana, para pengalasan yang tinggal di luar istana Kadipaten, mereka biasa pulang menjelang sore untuk berkumpul bersama keluarganya.

  6. Sebagaimana yang dikatakan oleh anak muda itu, pekatik tua itu memang telah memilih jalan lewat pematang sawah karena dapat mempersingkat jarak tempuh menuju Kademangan Randu Agung.
    Keringat terlihat sudah membasahi seluruh tubuh pekatik tua itu yang masih saja terus berjalan tidak ingin berhenti sedikitpun.

    Hingga manakala suara kentongan dara muluk terdengar sayup, pekatik tua itu sudah tidak berjalan di pematang sawah lagi, tapi sudah berjalan diatas sebuah jalan kecil menuju arah jalan utama Kademangan Randu Agung.

    Meski telah menempuh sebuah perjalanan yang cukup jauh tanpa beristirahat sedikitpun, orang tua itu terlihat masih dapat menjaga keseimbangan dan keteraturan langkahnya, sebagai sebuah pertanda bahwa orang tua itu telah ditempa oleh sebuah latihan yang cukup lama dalam olah kanuragan semasa mudanya. Terlihat orang tua itu seperti tidak merasakan keletihan sedikitpun terus melangkahkan kakinya yang telah berada di sebuah jalan utama Kademangan Randu Agung.

    Dan akhirnya tibalah pekatik tua di depan regol pintu gerbang rumah kediaman Ki Demang Randu Agung yang terjaga itu.

    “Siapakah kisanak ?”, berkata salah seorang prajurit pengawal Kademangan dari atas panggungan menyapa kakek tua itu yang berdiri di muka pintu gerbang yang tertutup itu.

    “ijinkan aku masuk kedalam untuk menemui Ki Demang, ada berita penting yang akan kusampaikan”, berkata pekatik tua kepada prajurit itu.

    Oncor yang diletakkan diluar samping regol pintu gerbang terlihat menyapu wajah orang tua itu menambah keyakinan prajurit itu bahwa orang tua itu tidak akan membuatnya susah. Apalagi mereka saat itu berlima. Yang ada di dalam hati para prajurit pengawal Kademangan itu ada rasa penasaran ada apa gerangan orang itu datang di saat malam yang sudah sangat larut itu.

    “Bukalah pintunya, kita tanyakan apa keperluannya datang di malam larut ini”, berkata salah seorang prajurit kepada kawannya.

    Terlihat seorang prajurit pengawal Kademangan dengan sebelah tangan memegang sebuah obor telah menuruni anak tangga panggungan dan langsung berjalan kearah pintu untuk membuka palang pintu.

    Setelah membukakan palang pintu, terlihat prajurit itu telah membukakan pintu gerbang dan menerangi wajah pekatik tua itu dengan obor di tangannya.

    “Jenggala ?”, berkata prajurit itu yang nampaknya sudah mengenal nama orang tua itu.

    “Syukurlah masih ada prajurit tua seumurmu di Kademangan ini”, berkata pekatik tua yang dipanggil Jenggala oleh prajurit itu yang ternyata wajahnya terlihat seumuran dengan pekatik tua itu.

    “Masuklah, kita bicara di dalam”, berkata prajurit itu kepada Jenggala memintanya segera masuk kedalam.

  7. Ketika prajurit itu tengah menutup kembali palang pintu gerbang, empat orang kawannya telah menuruni anak tangga panggungan.

    “Ini kawanku Jenggala, dulu prajurti pengawal Kademangan seperti kita. Tapi sekarang bertugas sebagai seorang pekatik di Kadipaten lamajang”, berkata prajurit tua itu memperkenalkan Jenggala kepada empat kawannya yang masih muda-muda itu.

    “Aku haus”, berkata Jenggala yang langsung melangkah mendekati sebuah gentong air minum yang terletak di bawah panggungan seperti sudah sangat hapal dan mengenal suasana di Kademangan Randu Agung.
    Kelima orang prajurit pengawal Kademangan hanya berdiri memandang Jenggala meneguk air minum lewat sebuah gayung batok kelapa, membiarkan dahaga Jenggala terpuaskan.

    “Berceritalah Jenggala, pasti ada urusan yang sangat penting sehingga kamu harus datang kemari di malam ini tanpa dapat menundanya”, berkata prajurit tua itu kepada Jenggala diatas sebuah bale bambu panjang di bawah panggungan itu.

    “Memang tidak bisa di tunda hingga pagi, sangat penting dan genting sekali”, berkata Jenggala memulai menyampaikan sebuah hal yang harus segera diketahui oleh Ki Demang Randu Agung, di dengar oleh kelima prajurit pengawal Kademangan Randu Agung itu dengan penuh perhatian.

    “Akan ada sebuah penyerangan di rumah kediaman Ki Randu Alam ?”, berkata prajurit tua itu setelah mendengar penuturan dari Jenggala seperti terkejut tidak percaya dengan apa yang didengarnya itu.

    “Jumbala, kita adalah para laskar pasukan Sunginep yang telah bersumpah setia kepada junjungan kita, bangunkan Ki Demang dan katakan apa yang kamu dengar ini kepadanya”, berkata Jenggala kepada prajurit tua itu yang dipanggilnya sebagai Jumbala.

    “Aku akan membangunkan Ki Demang”, berkata Jumbala yang langsung berlari-lari kecil meninggalkan Jenggala, juga ke empat kawannya para prajurit pengawal Kademangan Randu Agung itu, memandang Jumbala yang telah berlari kecil menuju arah pintu butulan membangunkan Ki Demang lewat pintu samping.

    Nampaknya tidak susah membangunkan Ki Demang Randu Agung.

    “Ada apa Jumbala ?”, berkata Ki Demang Randu Agung setelah membukakan pintu serambinya dan melihat Jumbala, prajurit tua itu.

    Maka langsung saja Jumbala bercerita sebagaimana yang diceritakan oleh Jenggala kepadanya.

    “Bangunkan Ki Jagaraga dan semua sesepuh Kademangan Randu Agung untuk datang kerumahku malam ini juga”, berkata Ki Demang memberi perintah kepada prajurit tua itu.

    Demikianlah, terlihat Ki Demang Randu Agung telah menutup kembali pintu serambinya, sementara terlihat Jumbala telah berlari kecil keluar dari pintu butulan.

    • Kamsiiiaaaa Pak Dhalang……..
      Kadingaren medar rontal pas wayah pasar temawon…….

      • Terima kasih…….kakek dalang

    • Suwun Ki Dalang

  8. nuwun ki…

  9. Hadiiiiirrrrrr………

  10. 🙂

  11. Byuhhhh sepinya

  12. haduhh….ada masalah di jaringan

    • Semoga segera beres

  13. diantos

  14. Sementara itu tidak begitu jauh dari Kademangan Randu Agung, diujung kegelapan malam terlihat sebuah pasukan yang di pimpim oleh Adipati Menak Koncar telah memasuki sebuah kelebatan hutan Mandeg yang berhadapan dengan hutan Randu Agung.

    “Masih ada banyak waktu beristirahat di hutan ini”, berkata Mahesa Semu yang telah bergabung dalam pasukan itu kepada Gajahmada.

    “Benar, pasukan ini akan bergerak kembali menjelang malam nanti”, berkata Gajahmada kepada Mahesa Semu.

    “Perjalanan yang melelahkan”, berkata Mahesa Semu sambil menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon besar.

    Sebagaimana Mahesa Semu, terlihat Gajahmada juga tengah bersandar di sebuah batu besar di dekat Mahesa Semu. Tidak jauh dari mereka terlihat Putu Risang dan Adipati Menak Koncar tengah berjalan mendekati mereka berdua, nampaknya ingin bergabung bersama mereka.

    “Pagi yang indah”, berkata Putu Risang ketika telah berada bersama Mahesa Semu dan Gajahmada sambil bersandar di dekat Gajahmada.
    Sebagaimana yang dikatakan oleh Putu Risang, saat itu hari memang telah berganti pagi, ditandai dengan suara kicau burung berkicau memecahkan sepi, sesekali juga terdengar pekik monyet-monyet kecil bergelantung di ujung-ujung ranting di hutan Mandeg itu.

    “Aku telah menugaskan beberapa orang prajurit untuk mengamati situasi di sekitar Kademangan Randu Agung”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Putu Risang, Mahesa Semu dan Gajahmada.

    Sementara itu suasana di rumah Ki Demang Randu Agung saat itu telah dipenuhi oleh para sesepuh yang sengaja di panggil
    sehubungan dengan berita akan ada sebuah pasukan dari Kadipaten Lamajang yang akan menyerang rumah kediaman Ki Randu Alam.

    “Jenggala, ceritakan kepada mereka apa yang kamu ketahui”, berkata Ki Demang Randu Agung kepada Jenggala sang pekatik tua yang ikut duduk bergabung di atas pendapa bersama para sesepuh Kademangan Randu Agung.

    Terlihat semua orang yang hadir diatas pendapa rumah Ki Demang Randu Agung mendengar penuturan Jenggala.

    “Adipati Menak Koncar tadi malam telah menggerakkan pasukannya untuk menyerang Ki Randu Alam, keluarga dan seluruh orang yang bersamanya, mungkin pagi ini mereka telah tiba di hutan Mandeg”, berkata Jenggala menuturkan segalanya yang diketahui tentang penyerangan itu.

    “Separuh lebih warga Kademangan Randu Agung ini pernah berhutang budi dengan Ki Randu Alam, sebagaimana aku, sebagaimana Jenggala. Haruskah kita berdiam diri tak berbuat apapun disaat mantan junjungan kita menghadapi mara bahaya ?”, berkata Ki Demang Randu Agung kepada para sesepuh yang hadir dipendapa rumahnya.

  15. Suasana pendapa terlihat menjadi sunyi mencekam, para sesepuh diam tak tahu bagaimana harus bersikap dan apa yang harus dikatakannya menjawab pertanyaan Ki Demang Randu Agung itu.
    Sementara itu tatapan mata Ki Demang Randu Agung terlihat berkeliling, menyidik satu persatu para sesepuh yang masih diam membisu.

    “hari ini kita harus segera bergerak, berdiri bahu membahu di belakang Ki Randu Alam”, berkata Ki Demang Randu Agung mencoba mengangkat kesadaran orang-orang yang ada di pendapa rumahnya itu.

    Namun semua orang yang ada di atas pendapa rumahnya itu masih belum tahu apa yang harus di katakannya.

    “Ki Demang Randu Agung, seandainya seluruh warga penduduk ini tidak ada yang ingin membela Ki Randu Alam, maka tetap tidak bergeming sedikitpun untuk berdiri dibelakangnya, menghadapi hujan panah dan lembing sekalipun”, berkata Ki Jenggala tiba-tiba merasa marah melihat kebisuan para sesepuh Kademangan Randu Agung itu.

    “Ki Jenggala, sebagaimana dirimu, aku akan mengajak semua keluargaku bahu membahu berdiri di belakang Ki Randu Alam”, berkata salah seorang yang duduk bersebrangan dengan Ki Jenggala.

    “Aku berada di belakang Ki Randu Alam”, berkata dua orang lainnya sambil mengangkat kedua tangannya.

    “Angkat tangan kalian yang telah memilih jalan sebagaimana Ki Jenggala”, berkata Ki Demang Randu Agung sambil mengangkat tangannya.

    Terlihat separuh lebih para sesepuh mengangkatkan tangannnya sebagai pertanda memilih jalan berada di belakang Ki Randu Alam menghadapi serangan pasukan dari Kadipaten Lamajang.

    Terlihat mata Ki Demang Randu Agung seperti terbakar memandang sebagian kecil dari mereka yang tidak mengangkat tangannya, terlihat matanya telah tertuju kearah seseorang yang berada disudut pendapa rumahnya.

    “Ki Jagaraga, dimana jiwa kesetiaanmu ?, apakah sudah terkikis oleh kemakmuran harta bendamu ?, tidakkah kamu sadari gelimang kemakmuran yang kita terima hingga hari ini adalah berkat budi besar junjungan kita, Ki Randu Alam. Tidakkah kamu sadari bahwa Ki Randu Alam telah membawa kita, melindungi diri kita dari kemurkaan para prajurit Majapahit atas keberpihakan kita membantu pasukan Ranggalawe di Tuban ?, kita dan keluarga kita berhutang nyawa dengan Ki Randu Alam”, berkata Ki Demang Randu Agung dengan kata-kata penuh amarah kepada Ki Jagaraga.

    Namun tanpa di duga-duga terlihat Ki Jagaraga langsung berdiri dengan dada membusung menatap pandangan mata Ki Demang Randu Agung penuh keberanian.

    “Jangan kamu singgung mengenai kesetiaanku, jangan kamu singgung tentang hutang nyawa ini,tapi buka mata dan pikiran kita dengan siapa kita berhadapan ?”, berkata Ki jagaraga dengan suara lantang.

  16. Terlihat semua mata tertuju kepada Ki Jagaraga yang masih berdiri.

    “Buka mata dan pikiranmu, kita akan berhadapan dengan Adipati Menak Koncar. Memusuhinya berarti kita memusuhi Kerajaan Majapahit yang ada di belakangnya”, berkata kembali Ki Jagaraga masih dengan suara yang lebih lantang lagi.

    Semua mata terlihat berpaling kearah Ki Demang Randu Agung yang telah ikut berdiri sebagaimana Ki Jagaraga.

    “Ki Jagaraga, seorang mantan laskar prajurit Ki Aria Wiraraja yang gagah berani tak pernah takut melihat hujan panah dan hujan lembing, hari ini kulihat belangnya, hari ini kulihat kekerdilannya. Yang kulihat bahwa bukan pasukan besar pasukan Majapahit yang kamu takuti, tapi yang kamu takuti adalah harta bendamu, istri-istri peliharaanmu”, berkata Ki Demang Randu Alam dengan penuh kemarahan.

    “Ki Demang, urusan Ki Randu Alam dengan Adipati Lamajang adalah urusan mereka berdua. Tidak ada kaitan apapun dengan diri kita”, berkata Ki Jagaraga merasa kurang senang dengan perkataan Ki Demang yang membawa masalah pribadinya.

    “Baiklah bila kamu katakana ini bukan urusanmu, saat ini aku hanya membutuhkan orang-orang yang punya rasa kesetiaan, hari ini keluarga Ki Randu Alam telah terancam, siapa lagi yang membelanya selain diri kita semua yang pernah diselamatkan, diri kita dan keluarga kita”, berkata Ki Demang Randu Agung.

    “Aku tida mengenal kata takut, aku akan membela siapapun yang akan mengancam keluargaku dan semua orang di Kademangan Randu Agung ini. Namun hari ini masalahnya berbeda, kita tinggal di tanah milik kerajaan Majapahit yang dipercayakan lewat Adipati Lamajang. Apakah kita akan berhadapan badan dengan junjungan kita sendiri ?, pikirkanlah masak-masak sebelum melangkah”, berkata Ki Jagaraga sambil melangkah keluar dari pendapa kediaman Ki Demang Randu Agung itu.

    “Biarkan pengecut itu pergi, kita harus menunjukkan harga diri kita berada di belakang Ki Randu Alam”, berkata Ki Demang dengan suara yang keras bermaksud didengar oleh Ki Jagaraga yang tengah menuruni anak tangga pendapa.

    Terlihat Ki Jagaraga seperti tidak mendengar suara Ki Demang yang telah menghinanya itu, dirinya tetap berjalan meninggalkan halaman rumah kediaman Ki Demang Randu Agung.

    Sepeninggal Ki Jagaraga yang telah memilih untuk tidak berada di belakang Ki Randu Alam, terlihat Ki Demang Randu Agung telah memerintahkan kepada orang-orangnya untuk mengumpulkan seluruh prajurit pengawal Kademangan, seluruh anak-anak muda di Kademangan Randu Agung.

    Ternyata perbedaan pendapat antara Ki Jagaraga dan Ki Demang Randu Agung telah menjadi perbincangan para warga. Akibatnya banyak orang tua yang ikut berpihak kepada Ki Jagaraga dengan tidak mengijinkan para putranya bergabung dalam barisan memperkuat pasukan prajurit pengawal Kademangan Randu Agung itu. Namun tidak sedikit warga yang masih setia kepada Ki Randu Alam.

    Bayangkan, tiga ratus orang telah berkumpul di rumah Ki Demang Randu Agung.

  17. Sementara itu para prajurit di bawah kepemimpinan Adipati Menak Koncar masih berada di hutan Mandeg. Sebagaimana rencana semula, meraka akan baru bergerak menjelang tengah malam menuju kediaman Ki Randu Alam.

    Hari saat itu sudah mulai terang tanah, beberapa prajurit di hutan Mandeg itu terlihat telah menyiapkan ransum makanan. Beberapa prajurit lannya tetap siaga berjaga-jaga di sekitar mereka mengamati bila saja ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

    Tiba-tiba saja terlihat dua orang prajurit yang ditugaskan mengamati keadaan di sekitarnya memberi tanda bahwa ada orang yang tengah memasuki wilayah mereka di sekitar hutan Mandeg itu.

    “Kukira kalian dari pihak musuh”, berkata seorang prajurit penjaga kepada orang yang baru datang itu.

    Ternyata orang yang baru datang itu adalah kawan mereka juga. Orang itu memang ditugaskan oleh Adipati menak Koncar untuk mengamati situasi disekitar Kademangan randu Agung.

    “Aku ingin menghadap tuan Adipati”, berkata orang itu kepada kawannya.

    Terlihat prajurit penjaga itu memberikan arah petunjuk dimana Adipati Menak Koncar berada kepada orang yang baru datang itu.

    “Nampaknya ada berita sangat penting sekali yang ingin kamu sampaikan”, berkata Adipati Menak Koncar kepada prajuritnya itu yang telah datang menghadap dengan wajah dan nafas tersengal-sengal.

    “Benar, kami telah melihat warga Kademangan Randu Agung telah berkumpul di rumah kediaman Ki Demang Randu Agung. Nampaknya mereka akan bersatu membela Ki Randu Alam”, berkata prajurit itu bercerita tentang apa yang dilihatnya di rumah kediaman Ki Demang Randu Agung.

    “Nampaknya keberadaan kita sudah ada yang membocorkannya”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Putu Risang, Gajahmada dan Mahesa Semu.

    “Berapa jumlah mereka warga Kademangan Randu Agung itu ?”, bertanya Adipati Menak Koncar kepada prajurit itu.

    “Ada sekitar tiga ratus orang”, berkata prajurit itu

    “Kembalilah kamu ke tempatmu semula, terus amati gerakan warga Kademangan Randu Agung itu”, berkata Adipati Menak Koncar kepada prajuritnya untuk kembali ke Kademangan Randu Agung.

    “Mereka begitu cepat mengetahui keberadaan kita, nampaknya ada yang keluar dari istana Kadipaten Lamajang jauh sebelum prajurit kita bergerak ke hutan mandeg ini”, berkata Gajahmada memperkirakan orang yang membocorkan keberadaan pasukannya di hutan Mandeg itu.

    “Diluar rencana dan perhitungan kita semula, benturan kepada warga kademangan Randu Agung memang tidak dapat kita hindari lagi”, berkata Adipati Menak Koncar seperti meminta pertimbangan Putu Risang, Mahesa Semu dan Gajahmada.

  18. Terlihat Putu Risang, Mahesa Semu dan Gajahmada tengah berpikir keras, mencoba memecahkan masalah keberadaan pasukan warga Kademangan Randu Agung itu.

    “kekuatan pasukan kita saat ini ada sekitar empat puluh orang, sementara kekuatan mereka bila bergabung ada sekitar tiga ratus lima puluh orang”, berkata Putu Risang mencoba menghitung perbandingan jumlah kekuatan pasukan mereka.

    “Prajuritku cukup terlatih, aku merasa yakin bahwa satu orang prajuritku mampu menghadapi empat sampai lima prajurit Kademangan Randu Agung secara bersamaan”, berkata Adipati Menak Koncar meyakinkan kekuatan dan tataran prajuritnya satu persatu.

    “Apakah masih ada waktu bagi kita memberikan pengertian kepada warga Kademangan Randu Agung bahwa urusan ini tidak berkaitan dengan mereka ?”, berkata Gajahmada mencoba mencari jalan lain menghindari benturan dengan orang-orang warga Kademangan Randu Agung.

    “Jalanmu itu nampaknya dapat kita coba, namun bila menemukan jalan buntu, dengan terpaksa akan kita hadapi mereka bukan sebagai warga Kademangan Randu Agung, tapi sebagai pihak musuh”, berkata Mahesa Semu mendukung cara yang ditawarkan oleh Gajahmada itu.

    “Aku setuju, aku akan mendatangi mereka, mencoba memberikan pengertian kepada para warga Kademangan Randu Agung”, berkata Adipati Menak Koncar.

    “Aku ikut menemani Kakang Adipati menak Koncar”, berkata Gajahmada menawarkan dirinya ikut bersama Adipati menak Koncar menuju ke rumah kediaman Ki Demang Randu Agung.

    Demikianlah, Adipati Menak Koncar dan Gajahmada dikawal oleh tiga orang prajurit terlihat telah keluar dari hutan Mandeg.

    Sementara di rumah kediaman Ki Demang Randu Agung terlihat sebuah pasukan yang sudah siap berangkat bertempur dengan berbagai senjata di tangan mereka masing-masing. Ternyata jumlah mereka terlihat lebih besar dari yang dilihat sebelumnya. Diantara mereka terlihat banyak orang tua yang ikut bergabung bersama mereka.

    “Wahai para mantan laskar prajurit Sunginep, wahai para orang muda Kademangan Randu Agung, hari ini kita telah memilih jalan berada di belakang junjungan kita, Ki Arya Wiraraja. Orang yang telah banyak berjasa bagi kehidupan kita, bagi keluarga kita”, berkata Ki Demang Randu Agung memberikan semangat kepada pasukannya yang telah bersiap untuk bergerak itu.

    “Pedang ini adalah saksi bisu yang selalu setia berada di belakang Ki Arya Wiraraja”, berkata kembali Ki Demang Randu Agung sambil melepaskan pedangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi diatas kepalanya.

    “Satu untuk semua, semua untuk satu”, berkata sebagian orang tua ikut melepas pedangnya sebagaimana yang dilakukan oleh Ki Demang Randu Agung. Nampaknya mereka adalah para orang tua mantan laskar prajurit Sunginep yang memang terkenal dengan keberaniannya itu.

    Anak-anak muda yang mendengarnya terasa terpancing haru biru dalam sebuah semangat baru.

  19. Barisan para prajurit pengawal Kademangan dan para warga Kademangan Randu Agung terlihat mulai bergerak penuh semangat.
    Namun tiba-tiba saja langkah mereka semua berhenti.

    Semua mata tedengan tertuju kearah pintu gerbang rumah kediaman Ki Randu Agung di mana disana terlihat tiga orang sengaja datang untuk mencegah prajurit dan warga Kademangan Randu Agung keluar dari pintu gerbang halaman itu.

    “Ki Demang Randu Agung, bukalah matamu. Lihatlah dengan jelas dengan siapa aku ada disini ?”, berkata seorang lelaki tua yang ternyata adalah Ki Jagaraga.

    Terlihat Ki Demang Randu Agung dengan tergopoh-gopoh mendekati ketiga orang itu.

    “Kami para warga Kademangan Randu Agung ingin menunjukkan rasa cinta kami kepada Ki Randu Alam dan keluarga”, berkata Ki Demang Randu Agung kepada lelaki tua disebelah Ki Jagaraga.

    “Terima kasih tak terhingga kuucapkan untuk segala usaha dan upayamu mengumpulkan para warga di Kademangan ini”, berkata lelaki tua yang berada disebelah Ki Jagaraga yang ternyata adalah Ki Randu Alam sendiri. “Jangan salahkan Ki Jagaraga yang tidak mau bergabung bersamamu, karena urusan ini tidak ada kaitan pribadi denganku”, berkata kembali Ki Randu Alam.

    “kami mendengar sendiri bahwa hari ini aka nada sebuah penyerangan dari Kadipaten Lamajang kerumah Ki Randu Alam ?”, bertanya Ki Demang Randu Alam penuh ketidak mengertian.

    “hari ini kusampaikan bahwa sudah lama aku tersingkir jauh dari rumahku sendiri, karena yang menghuni rumahku saat ini adalah saudara kembarku sendiri”, berkata Ki Randu Alam kepada Ki Demang Randu Agung.

    Tersentak perasaan Ki Demang Randu Agung mendengar sendiri penjelasan dari seorang lelaki yang sangat di hormati itu. Baru hari itu di ketahui bahwa penghuni rumah itu ternyata adalah saudara kembar dari Ki Randu Alam.

    “Saudara kembarku itu telah mempunyai banyak kepentingan yang mengganggu kemapaman Kerajaan Majapahit di timur Jawadwipa ini. Jadi urusan ini adalah masalah besar antara saudara kembarku itu dengan Kerajaan Majapahit”, berkata Ki Randu Alam kepada Ki Demang Randu Agung.”Bubarkan pasukanmu, aku tidak ingin ada satu jiwapun yang menjadi korban sia-sia dari para warga Kademangan Randu Agung ini”, berkata kembali Ki Randu Alam kepada Ki Demang Randu Agung.

    Terlihat Ki Demang Randu Agung telah membalikkan badannya berjalan mendekati pasukannya yang tidak sabar menunggu penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.

    Maka dengan panjang lebar Ki Demang Randu Agung memberikan penjelasan kepada pasukannya sebagimana yang dikatakan oleh Ki Randu Alam kepada dirinya.

    Terlihat beberapa orang menarik nafas lega, mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

  20. “Untung sekali kita belum terlanjur bergerak”, berkata beberapa orang tua saling mempercakapkan mengenai penjelasan Ki Demang Randu Agung mengenai apa yang sebenarnya terjadi atas diri Ki Randu Alam itu.

    Seiring dengan terjadinya percakapan diantara para pasukan dan warga Kademangan yang telah hampir bergerak itu, tiba-tiba saja seorang pemuda terlihat mengangkatkan tangannya meminta perhatian Ki Demang Randu Agung.

    “Ki Demang Randu Agung, kita sudah terlanjur datang dan berkumpul disini, bagaimana bila hari ini kita tetap bergerak membantu para prajurit Kadipaten Lamajang”, berkata pemuda itu kepada Ki Demang Randu Agung.

    Terdengar suara beberapa pemuda yang nampaknya bersesuaian dengan usulan itu.

    Terlihat Ki Demang Randu Agung seperti ragu untuk mengatakan keputusannya.

    Ditengah keraguannya itu, datanglah Adipati Menak Koncar dan Gajahmada bersama tiga orang prajurit pengawal Kadipaten.

    “Sangat kebetulan sekali telah datang Adipati Menak Koncar, aku akan berbicara dengannya, apa yang dapat kita lakukan”, berkata Ki Demang Randu Agung yang belum berani memutuskan usulan dari anak muda itu.

    Terlihat Ki Demang Randu Agung berjalan mendekati Adipati Menak Koncar yang tengah berbincang bersama Ki Randu Alam di muka pintu gerbang kediamannya.

    “Selamat datang tuan Adipati Menak Koncar, kedatangan tuan sungguh sangat tepat sekali”, berkata Ki Demang kepada Adipati Menak Koncar sambil menyampaikan keinginan beberapa warganya yang ingin membantu para prajurit Kadipaten Lamajang itu.

    “Kepedulian dan keberanian para warga Kademangan ini sangat aku banggakan, namun untuk saat ini kekuatan kami sudah cukup memadai. Sampaikan rasa hormat dan kebanggaan kami kepada semua warga Kademangan Randu Agung ini”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Ki Demang Randu Agung.

    “Pesan tuanku akan hamba sampaikan”, berkata Ki Demang Randu Agung kepada Adipati Menak Koncar.

    Terlihat Ki Demang Randu Agung mohon pamit kepada Adipati Menak Koncar dan Ki Randu Alam untuk berbicara kepada pasukannya.
    Setelah berada di hadapan pasukannya itu, Ki Demang Randu Agung menjelaskan kepada pasukannya pesan dan amanat tersirat dari Adipati menak Koncar itu.

    “Adipati Menak Koncar dari Lamajang telah meminta kalian kembali ke rumah masing-masing, beliau juga menyampaikan rasa hormat dan kebanggaan yang sangat tinggi atas kepedulian kalian”, berkata Ki Demang Randu Agung kepada pasukannya itu.

  21. Demikianlah, pasukan Kademangan Randu Agung terlihat telah membubarkan dirinya.

    “Sungguh sebuah kehormatan bilasaja tuan Adipati Menak Koncar dan Ki Randu Alam singgah dan berbicara di pendapa rumah kami”, berkata Ki Demang Randu Agung mengajak rombongan Adipati Menak Koncar dan Ki Randu Alam ke pendapa rumahnya.

    “Syukurlah bahwa Ki Demang Randu Agung dapat mengademkan suasana hati para warga Kademangan ini”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Ki Demang Randu Agung.

    “Aku mohon maaf atas ketidak sepahamanku tadi pagi, sebenarnya Ki Randu Alam telah beberapa kali datang kerumahku secara diam-diam”, berkata Ki jagaraga menjelaskan mengapa dirinya tidak sepakat dengan Ki Demang Randu Agung.

    “Ki Jagaraga benar, secara diam-diam aku memang menemuinya bermaksud menggalang kekuatan menghadapi saudara kembarku itu, namun Adipati Lamajang nampaknya punya pendengaran yang sangat peka telah datang bersama pasukannya”, berkata Ki Randu Alam membenarkan penjelasan Ki Jagaraga. “Urusan ini kuserahkan sepenuhnya kepada Adipati Menak Koncar, sementara aku tidak akan mencampurinya secara langsung, hanya menjauhkan seorang cucuku ini”, berkata Ki Randu Alam sambil menepuk bahu seorang pemuda disampingnya itu yang ternyata adalah Kuda Anjampiani.

    “Keberadaan pasukanku di Hutan Mandeg sudah pasti telah didengar oleh saudara kembar Ki Randu Alam. Aku berharap mereka tidak segera melarikan dirinya”, berkata Adipati menak Koncar diatas pendapa rumah Ki Demang Randu Agung.

    “Aku mengenal betul sifat dan watak saudara kembarku itu, kepercayaan dirinya begitu tinggi untuk melarikan dirinya menghadapi setiap tantangan. Aku yakin bahwa dirinya masih ada di rumahku itu siap menghadapi para prajurit dari Lamajang”, berkata Ki Randu Agung menyampaikan perkiraannya apa yang akan dilakukan oleh saudara kembarnya itu.

    “Kami tidak menyangka bahwa urusan dengan para warga Kademangan ini telah dapat diselesaikan dengan cara damai. Semula kami merasa bimbang bilasaja berhadapat langsung dengan para warga di Kademangan randu Agung ini”, berkata Adipati Menak Koncar sambil menyampaikan keinginannya kembali ke hutan Mandeg.

    “Mohon maaf bila kami belum dapat menjadi tuan rumah yang baik, belum dapat menjamu tuanku Adipati Menak Koncar dengan baik”, berkata Ki Demang Randu Agung sambil mengantar Adipati Menak Koncar dan rombongannya hingga ke bawah anak tangga pendapa rumahnya.

    Maka tidak lama berselang, Adipati Menak Koncar dan rombongannya itu telah keluar dari halaman rumah Ki Demang randu Agung.

    “Raung seekor harimau tua pada saatnya akan sepi di hutan kekuasaannya, berganti pekik para elang jantan muda yang akan menguasai padang perburuan”, berkata Ki Randu Alam sambil menatap rombongan Adipati Menak Koncar yang telah menghilang terhalang dinding pagar halaman Ki Demang Randu Agung.

    • Ampuuuuunnnnn Dhalange ngamuk…….
      sentong langsung dipenuhi rontal…….
      Pak Satpam….sentong tengen ndang dibukak to, iki lho dhalange arep nggrojogi rontal maneh…….

      • Wis isa nutup gandok apa durung ya.
        Buku besar ana ndik padepokan
        nanti sore nggih.

        • Ternyata masih kurang tiga rontal lagi untuk bisa menutup gandok PKPM-07.
          Monggo Pak Dhalang.

    • Ngapunten Pak Dhalang
      sepertinya Ki Jagaraga bisa diganti dengan Jagabaya kah. Kalau Jayaraga itu nama orang. Kalau Jagabaya itu jabatan salah satu bebahu kademangan, kelurahan atau pedukuhan.
      begitu lah?

      • terima kasih pak Satpam

        • Wah, kalau ada Ki Puna mesti langsung dijlentrehke dengan akurat, terstruktur, sistematis dan masif, he….he….he…..

  22. Matur Suwun Ki Dalang

  23. suwun nggih ki..

  24. Perbukitan Semeru, bromo dan Tengger di sebelah barat Lamajang perlahan mulai pudar tertutup awan senja.

    Perlahan cahaya sang surya ikut pudar menghilang jatuh di balik barat bumi. Langit malam mulai menyelimuti bumi Lamajang.

    Berita akan adanya sebuah penyerang dari para prajurit Kadipaten Lamajang memang telah tersebar di Kademangan Randu Agung. Serempak tidak ada seorangpun di Kademangan Randu Agung yang berani menyalakan pelita di rumah mereka. Suasana malam di Kademangan Randu Agung layaknya sebuah pemakaman yang sangat gelap dan begitu mencekam.

    Sebagaimana rumah para penduduk, rumah kediaman Ki Randu Alam yang dikuasai oleh saudara kembarnya itu juga tidak menyalakan pelita satupun. Juga sebuah oncor yang biasa menyala di depan regol pintu gerbang rumah itu. Rumah dengan halaman yang cukup luas itu benar-benar gelap pekat, begitu sepi seperti tak berpenghuni.

    Kemana penghuninya disaat itu ?

    Ternyata mereka tengah bersembunyi di kegelapan malam menanti prajurit Kadipaten Lamajang datang lewat pintu gerbang rumah itu.
    Beberapa orang terlihat merapap di dinding pagar, sementara beberapa orang lagi bersembunyi di kegelapan malam dengan sebuah busur siap ditangan dengan mata penuh waspada tertuju kearah pintu gerbang rumah itu yang sengaja terbuka lebar-lebar.

    Mereka adalah para bajak laut yang sangat di takuti dan terkenal sangat kejam yang pernah mengusai perairan laut di sekitar selat Balidwipa. Mereka memang sudah terbiasa mengarungi lautan di kegelapan laut malam tanpa pelita suar di anjungan manakala hendak menyergap sebuah perahu dagang penuh muatan.

    Semakin malam, suasana di sekitar rumah itu menjadi semakin mencekam.

    Hingga manakala suara kentongan dara muluk terdengar sayup dari sebuah padukuhan yang cukup jauh, hati dan perasaan para bajak laut itu semakin mencekam dalam kegelisahan yang sangat, musuh yang dinantikan belum juga muncul.

    Kegelisahanpun semakin bertambah manakala hari sudah hampir diujung malam, musuh yang mereka nantikan tidak juga kunjung datang.

    Rasa penat dan kantuk mulai menggayuti para penghuni rumah itu, musuh yang mereka nantikan belum juga terlihat.

    “Nampaknya mereka sengaja mengulur waktu”, berkata dalam hati saudara kembar Ki Randu Alam dengan wajah terlihat begitu gusar.

    Sementara itu langit malam perlahan mulai pudar.

  25. Ternyata permainan mengulur waktu itu adalah sebuah siasat yang sengaja di buat oleh Adipati menak Koncar. Putra sulung Empu Nambi itu ternyata sudah dapat memperhitungkan bahwa para penghuni rumah itu telah menunggu dan membuat banyak jebakan bagi para prajuritnya.

    Hingga akhirnya manakala cahaya merah telah mewarnai langit dan membilas kegelapan bumi, terkejut para penghuni rumah itu melihat musuh yang mereka tunggu semalaman telah datang, namun bukan lewat pintu gerbang, melainkan mereka telah melompat masuk kedalam lewat dinding pagar yang melingkari rumah itu.

    Beberapa orang yang belum siap menghadapi pihak musuh yang datang dengan tiba-tiba itu telah menjadi korban tumbal pertama tercabik pedang para prajurit dari Kadipaten Lamajang itu.

    Sementara beberapa orang lainnya sudah melupakan rasa kantuknya, langsung menghadapi para prajurit Kadipaten Lamajang yang sudah memenuhi halaman rumah itu yang cukup luas.

    Denting gemerincing senjata dan suara sumpah serapah riuh memekakkan telinga, dalam waktu yang sangat singkat, halaman yang cukup luas itu telah menjelma menjadi sebuah panggung pertempuran yang sangat ramai.

    Kedua belah pihak terlihat sudah saling menerjang, saling gempur dan saling menjatuhkan lawannya. Sabetan senjata bersewileran seperti kilatan cahaya berkelebat menggoreskan luka sayatan yang diiringi suara jerit perih kesakitan yang sangat memilukan hati.

    Berkat daya ingat Gajahmada yang pernah menjadi tawanan di rumah itu, Gajahmada telah menunjukkan kepada Adipati Menak Koncar, Mahesa Semu dan Putu Risang, siapa orang-orang tangguh yang harus mereka hadapi.

    “Ki Ajar Pelandongan, akulah lawanmu”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Ki Ajar Pelandongan di tengah pertempuran itu.

    “Tongkatku tidak mengenal lawan, sembunyikan batok kepalamu agar tidak terbentur tongkatku ini”, berkata Ki Ajar Pelandongan yang langsung mengayunkan tongkatnya ke arah kepala Adipati Menak Koncar.

    Tapi putra Empu Nambi itu bukan orang kebanyakan seperti yang diduga oleh Ki Ajar Pelandongan, dengan mudahnya Adipati Menak Koncar berkelit cepat dan balas menyerang Ki Ajar Pelandongan dengan senjata andalannya berupa sebuah cakra yang berdesing memburu tubuh Ki Ajar Pelandongan.

    Terkejut Ki Ajar Pelandongan yang tidak menduga akan berhadapan seorang lawan yang sangat tangguh yang dengan mudahnya mengelak serangannya bahkan telah balas menyerangnya dengan sebuah senjata cakra yang berdesing cepat mengejar kemanapun dirinya bergerak.

    “Sembunyikan batok kepalamu”, berkata Adipati menak Koncar menirukan perkataan Ki Ajar Pelandongan.

    • Matur suwun Pak Dhalang

      Satu rontal lagi sudah bisa menutup PKPM-07

      Gandok PKPM-08 sudah siap, tinggal menunggu jatuhnya rontal terakhir.

      Nuwun

      • Satu rontal….???? ah ah kecil itu….!!!
        Adhimas Dhalang mau nurunin satu rontal but nutup gandhok lama dan 4 rontal buat nganyari gandhok baru.
        Harak begitu to Pk Dhalang…..???
        (tidak pakai dhawah biar gak diece Pak Satpam)

        • hemm…cuma satu rontal (sambil bersedakep bersila dan memejamkan mata)

  26. “Gila !!”, berteriak Ki Ajar Pelandongan yang harus meningkatkan kecepatannya bergerak menghindari terjangan senjata cakra di tangan Adipati Menak Koncar yang sangat cepat dan dahsyat itu.
    Sementara itu disisi lainnya, Mahesa Semu sudah menemukan lawannya, yaitu Ki Gagakpati.

    “Lepaskan para prajurit itu, akulah lawanmu”, berkata Mahesa Semu menghadang Ki Gagakpati yang tengah menerjang beberapa prajurit Kadipaten Lamajang.

    “Aku akan menghabiskan kalian satu persatu”, berkata Ki Gagakpati sambil menerjang kearah Mahesa Semu.

    “Maaf, aku akan mencegah keinginan Ki Gagakpati”, berkata Mahesa Semu sambil berkelit dan langsung melakukan serangan balik membuat sebuah sabetan melingkar dengan pedang panjangnya.

    “Dari mana kamu mengenal namaku ?”, berkata Ki Gagakpati sambil melompat menghindari sabetan pedang Mahesa Semu.

    “Jangan merasa terkenal, aku baru mengenal namamu hari ini”, berkata Mahesa Semu sambil bergerak kesamping menghindari tusukan keris Ki Gagakpati.

    “Aku akan membuatmu menyesal mengenal namaku”, berkata Ki Gagakpati sambil bergerak menerjang Mahesa Semu dengan serangan yang lebih cepat dan ganas dari sebelumnya.
    Serang dan balas menyerangpun silih berganti antara Mahesa Semu dan Ki Gagakpati.

    “Nampaknya Mahesa Semu dapat menahan Ki Gagakpati”, berkata Gajahmada dalam hati memperhatikan pertempuran antara Ki Gagakpati dan Mahesa Semu.

    Sambil bertempur membantu para prajurit Kadipaten Lamajang, Gajahmada juga melihat Putu Risang yang terus bergerak mendekati Ki Jatiwangi, seorang Brahmana yang mempunyai ilmu yang sangat tinggi sebagaimana dikatakan oleh Ki Randu Alam kepada Gajahmada.

    Dess…!!!

    Gajahmada telah melihat Putu Risang telah membenturkan tangannya dengan kaki Brahmana itu.

    “Sungguh tidak layak seorang Brahmana menyakiti sesama manusia”, berkata Putu Risang yang berhasil menyelamatkan dua orang prajurit Kadipaten Lamajang yang nyaris terbentur oleh tendangan kuat Brahmana yang bernama Ki Jatiwangi itu.

    Terkejut bukan kepalang Brahmana itu yang terlempat dua langkah akibat benturan mereka.

    “Sangat kuat tenagamu, wahai anak muda”, berkata Brahmana itu yang sudah berdiri tegak memandang tak berkedip kearah Putu Risang.

    “Aku hanya ditugaskan untuk menahanmu, wahai orang tua”, berkata Putu Risang sambil berdiri tegak dengan sebuah senyum di bibirmu.

    • “Hemm…..disini belum ada yang cukup mumpuni untuk menjadi lawan tandingku”, berkata Ki Kompor Super Sakti sambil melesat terbang keluar dari runah kediaman Ki Randu Alam,

      • “Aku hanya ditugaskan untuk menahanmu, wahai orang tua”, berkata Putu Risang sambil berdiri tegak dengan sebuah senyum di bibirmu.,,,,,salahhh…maksudnya “dibibirnya”, hehehe dipersori dong…..

        • Monggo……

        • Nah, ketahuan deh Ki Sandikala baru bisa dapat inspirasi ketika Nyi Sandikala duduk di hadapannya sambil tersenyum manis dan terjadilah salah tulis. Tapi nggak apaapa kok kan ‘kemesraan ini janganlah cepat berlalu’ … iya to Nyi?

          • qiqiqiqiqiqqq…jadi malu dech

          • Gerbang PKPM-08 telah disetel buka nanti malam jam 00.01
            Mohon maaf, satpam sedang jauh dari pc dan laptop.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: