PKPM-07

senthong tengah

“Nampaknya kawanmu ini harus dibantu berjalan, mari kita keluar dari tempat ini”, berkata orang itu tanpa menghiraukan pertanyaan Gajahmada langsung melompat dan mengendap diatas dinding pagar sambil memberi tanda kepada Gajahmada untuk mengikutinya.

“Lukamu sangat parah”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri yang dilihatnya tidak mampu berdiri dan langsung memanggulnya.

Melihat Gajahmada telah memanggul sahabatnya itu, orang itupun sudah bergerak turun melompat tanpa suara dan merapat di dinding pagar bagian luar seperti bersatu dengan kegelapan malam.

Nampaknya Gajahmada tahu apa yang diinginkan orang itu telah langsung mengikutinya melompati pagar sambil memanggul tubuh Supo Mandagri.

Sebagaimana orang itu, terlihat Gajahmada juga merapat di dinding luar halaman seperti menyatu tersamar di kegelapan malam.

Manakala meyakini tidak seorang pun melihat keberadaan mereka, terlihat orang itu telah melesat berlari di kegelapan malam.

Di kegelapan malam mereka terus berlari keluar dari Kademangan Randu Agung.

Entah mengapa Gajahmada begitu percaya dengan orang itu dan terus mengiringinya berlari dibelakangnya.

Arah langkah kaki orang itu ternyata menuju hutan Randu Agung.
Sambil memanggul tubuh Supo Mandagri, terlihat Gajahmada bersama orang itu telah memasuki hutan Randu Agung.

Hari saat itu masih di ujung malam, terlihat mereka seperti tenggelam hilang di kelelapan hutan Randu Agung yang lebat.

Gajahmada memuji penglihatan orang itu yang nampaknya sudah terbiasa keluar masuk hutan Randu Agung di waktu malam.

Dan mereka terus masuk ke hutan Randu Agung lebih dalam lagi.

Hingga akhirnya orang itu terlihat berhenti di sebuah tempat.

“Disinilah tempat tinggalku selama ini”, berkata orang itu sambil menunjuk ke arah atas sebuah pepohonan yang sangat amat besar dan sangat lebat.

Tanpa berkata apapun orang itu dengan sangat ringan sekali telah mengayunkan kakinya melompat tinggi hinggap di sebuah cabang pohon dan terus melompat lagi dari satu cabang pohon ke cabang lainnya.

Terlihat sambil memanggul tubuh Supo Mandagri, Gajahmada mengikuti orang itu hinggap dari satu cabang pohon ke cabang lainnya.

“Letakkan tubuh kawanmu di sini”, berkata orang itu kepada Gajahmada di sebuah batang pohon yang cukup besar dimana telah disusun beberapa batang kayu menjadi sebuah lantai panggung yang sangat kokoh.

Rumah pohon, begitulah yang dipikirkan oleh Gajahmada sebagai tempat tinggal orang itu, di ketinggian pohon besar yang tidak terlihat oleh siapapun yang lewat di bawah sana.

“Jagalah kawanmu, aku akan mencarikannya beberapa tanaman obat pengering luka di sekitar hutan ini”, berkata orang itu kepada Gajahmada yang langsung bergerak cepat seperti melayang terbang turun kebawah.

Di keremangan malam orang itu seperti telah menghilang di telan bumi.

“Hari yang sangat aneh, kita melihat dua orang yang sama”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri yang terlihat mencoba duduk diatas lantai kayu rumah pohon itu.

“Yang pasti kita tidak tengah bermimpi”, berkata Supo Mandagri sambil melihat berkeliling diantara cabang dan ranting pohon.

Lengking dan pekik suara burung dan binatang hutan telah menandai suasana pagi di hutan Randu Agung.

“Orang itu telah datang kembali”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri manakala melihat seseorang berada di bawah mereka.

“Madu bunga Randu ini sangat baik untuk menyembuhkan luka”, berkata orang itu sambil menyerahkan sebuah bubu bamboo kepada Gajahmada.

Terlihat Gajahmada segera membuka bubu itu yang berisi madu bunga randu dan langsung membaluri ke semua luka di tubuh Supo Mandagri.

Sementara itu sang surya sudah mulai menerangi hutan Randu Agung lewat celah-celah daun dan ranting pohon.

Supo Mandagri dan Gajahmada sudah dapat melihat dengan jelas wajah orang yang telah mengajaknya ke rumah pohon di Hutan Randu Agung itu. Seseorang yang memang sangat mirip dengan Ki Randu Alam, seseorang yang terlihat sudah sangat tua, namun masih sangat kekar dan kokoh untuk ukuran seusianya.

“Aku akan bercerita kepada kalian”, berkata orang tua itu seperti dapat membaca isi hati dan pikiran dua orang anak muda di hadapannya.
Terlihat orang tua itu sambil bersila diatas lantai kayu rumah pohon bercerita tentang dirinya.

“Aku lahir di dunia ini tidak sendiri, tapi punya seorang saudara adik kembar”, berkata orang tua mengawali ceritanya. “Namaku Banyak Wedi, sementara saudara kembarku bernama Banyak Ara”, berkata kembali orang itu yang mengaku bernama Banyak Wedi. “Saudara kembarku itu sejak muda banyak berguru di berbagai tempat, sementara masa mudaku telah kuabdikan sebagai seorang prajurit pengawal di istana Singasari”, berkata kembali Ki Banyak Wedi kepada Supo Mandagri dan Gajahmada.

“Pantas Ki Randu Alam yang kutemui kemarin sepertinya tidak mengenalku, apakah dia saudara kembar Ki Banyak Wedi?”, bertanya Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi.

“Benar, dialah saudara kembarku yang bernama Ki Banyak Ara”, berkata Ki banyak Wedi membenarkan perkataan Gajahmada.

Terlihat Ki Banyak Wedi menarik nafas dalam-dalam seperti tengah mengumpulkan kembali beberapa cerita masa lalunya.

“Ketika aku pindah ke Sunginep, saudara kembarku itu juga telah pergi merantau entah kemana hingga akhirnya aku mendapat berita bahwa dirinya telah menjadi seorang kepala bajak laut yang sangat ditakuti disekitar perairan Balidwipa”, berkata Ki Banyak Wedi bercerita tentang saudara kembarnya itu.

Kembali terlihat orang tua itu menarik nafas dalam-dalam seperti tengah mengumpulkan kembali beberapa cerita masa lalunya.

Supo Mandagri dan Gajahmada telah melihat perubahan raut wajah orang tua itu yang seperti tengah menahan kepedihan dan rasa duka yang sangat berat.

“Ketika putraku Ranggalawe tewas terbunuh, aku seperti kehilangan seluruh hidupku. Yang ada pada saat itu adalah keinginan untuk membalas rasa sakit hatiku kepada kerajaan Majapahit. Disaat suasana hati yang penuh dendam itulah saudara kembarku datang kepadaku menawarkan dirinya beserta seluruh anak buahnya para bajak laut untuk menggempur secara langsung kerajaan Majapahit. Namun aku tidak sependapat dengannya, kukatakan kepadanya bahwa belum saatnya menggempur Majapahit saat itu, kita harus membangun sebuah kekuatan baru. Nampaknya saudaraku itu menyetujui. Mulailah kami membangun sebuah kekuatan baru di timur Jawadwipa ini dengan menguasai jalur perdagangannya. Kami membagi tugas, aku membangun jalur perdagangan, sementara dirinya yang sangat paham dan menguasai perairan laut membantu dalam hal keamanannya dengan memberikan penekanan kepada para pedagang agar hanya berdagang kepadaku, tidak kepada siapapun. Demikianlah, dalam waktu yang tidak terlalu lama kami benar-benar telah menguasai jalur perdagangan di timur Jawadwipa ini. Sampai-sampai kebesaran namaku diartikan sebagai penguasa tunggal di timur Jawadwipa ini”, bercerita cukup panjang Ki banyak Wedi, berhenti sebentar sambil menarik nafas panjang beberapa kali.

Suasana diatas rumah pohon itu sejenak seperti hening, terlihat Gajahmada dan Supo Mandagri seperti tengah menunggu orang tua itu melanjutkan ceritanya.

“Anak muda, kamu masih ingat pertempuran kita di sekitar Kademangan Simpang itu?”, bertanya Ki Banyak Wedi kepada Gajahmada.

“Aku masih mengingatnya”, berkata Gajahmada sambil menganggukkan kepalanya tidak tahu kemana arah pembicaraan orang tua itu dengan bertanya tentang pertemuan mereka.

“Kesaktianmu sungguh amat tinggi, kekalahan diriku oleh orang muda sepertimu telah menyadarkan diriku bahwa telah tumbuh bibit-bibit baru para ksatria Majapahit yang akan menjaga wahyu kraton di bumi Majapahit ini untuk waktu yang cukup lama. Akhirnya aku tersadar untuk melupakan segala dendamku, menghabiskan sisa hari tuaku tanpa dendam apapun”, berkata Ki banyak Wedi berhenti sebentar sambil matanya seperti menerawang jauh menembus dedaunan dan pepatnya tumbuhan yang menutupi hutan Randu Agung itu.

“Perlahan aku memang telah melupakan rasa sakit hatiku atas kematian putraku, Ranggalawe. Perlahan juga aku sudah dapat menikmati hari-hari tuaku tanpa sebuah dendam. Namun pada saat itu ada sebuah kekhawatiran bahwa saudara kembarku akan terus mengungkit rencana kami semula, meruntuhkan kerajaan Majapahit. Hingga akhirnya yang khawatirkan itu datang juga”, berkata sampai disitu terlihat Ki banyak Wedi terdiam sesaat.

Gajahmada dan Supo Mandagri seperti membiarkan orang tua itu menghentikan ceritanya, meski dalam hati kedua anak muda itu seperti tidak sabaran mendengar cerita lanjutannya.

Terlihat Ki Banyak Wedi tersenyum menatap wajah kedua anak muda di hadapannya itu.

Sementara itu di benak Gajahmada sudah tidak menyangsikan lagi bahwa dihadapannya itu adalah Ki Banyak Wedi yang sebenarnya, yang juga pernah menjadi seorang Adipati di daerah Sunginep. Terakhir orang tua ini lebih dikenal sebagai Ki Randu Alam, seorang yang sangat berpengaruh kuat di timur Jawadwipa.

“Sampai saat ini hanya kalian berdua yang mengetahui bahwa aku mempunyai seorang saudara kembar”, berkata Ki Banyak Wedi kepada Supo Mandagri dan Gajahmada.

“Bagaimana dengan Ki Ajar Pelandongan dan Kuda Anjampiani?”, bertanya Gajahmada.

“Cucuku dan gurunya itu juga tidak mengetahuinya”, berkata Ki Banyak Wedi kepada Gajahmada.

“Memang kulihat tidak ada perbedaan sedikitpun dengan Ki banyak Wedi, hanya gerak jurusnya yang kutahu berasal dari garis perguruan yang berbeda”, berkata Gajahmada mengingat kembali pertempuran dirinya dengan saudara kembar Ki Banyak Wedi kemarin hari.

“Kamu benar, garis kanuragan kami dari perguruan yang berbeda. Kuakui bahwa seorang diri aku tidak akan mampu menghadapinya”, berkata Ki Banyak Wedi.

“Ki Banyak Wedi belum bercerita mengapa sampai menetap dan bersembunyi di tengah hutan ini?”, bertanya Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi.

Terlihat Ki banyak Wedi tidak langsung menjawab, sekilas terlihat deretan giginya sedikit terbuka sebagai gambaran sebuah senyum yang dipaksakan, sebuah senyum yang menggambarkan kekecutan dan kepahitan hidupnya.

“Pada suatu malam, tanpa diketahui oleh siapapun saudaraku itu datang menemuiku mengabarkan bahwa dirinya dan para anak buahnya telah siap untuk menyerang dan merebut Kadipaten Blambangan. Bukan main marahnya saudaraku itu manakala kukatakan bahwa aku sudah tidak berminat lagi bermusuhan dengan Kerajaan Majapahit”, bercerita Ki banyak Wedi tentang saudara kembarnya itu.

“Kita hanya tinggal beberapa langkah lagi!!”, berkata saudaraku tidak menerima keputusanku itu, karena aku tetap kukuh melupakan semua dendamku, maka pada puncaknya saudara kembarku itu telah mengancam akan membunuh cucuku, Kuda Anjampiani. Maka dengan sangat terpaksa sekali aku memilih keluar dari rumahku sendiri dan membiarkan saudara kembarku itu menjadi diriku tanpa seorang pun yang mencurigainya untuk melaksanakan rencana kami semula, menghancurkan kerajaan Majapahit”, berkata Ki Banyak Wedi sambil menarik nafas panjang mengakhiri ceritanya.

Mendengar penuturan dari orang tua itu, terbit sebuah rasa iba di dalam hati Gajahmada, membayangkan seorang Adipati yang di puja dan dilayani oleh begitu banyak orang, tiba-tiba saja harus menjalani kehidupan sendiri hidup di tengah belantara hutan Randu Agung yang sangat luas itu.

“Ternyata kesederhanaan hidup di hutan ini telah membuat aku semakin mengenal arti kehidupan yang sebenarnya, kudapatkan makna kebahagiaan sejati sebagai seorang yang bebas merdeka, bebas dari sakitnya dendam dan hasrat yang tak pernah terdahagakan ini”, berkata Ki Banyak Wedi.

Melihat tatapan pandangan mata Ki banyak Wedi yang bercahaya itu telah membuat Gajahmada tidak meragukan lagi penuturan semua ceritanya.

“Bagaimana dengan lukamu, wahai sahabat muda”, berkata Ki Banyak Wedi sambil mengalihkan pandangannya ke arah Supo Mandagri.

“Berkat obat yang Ki Banyak Wedi berikan, aku tidak merasakan perih lagi”, berkata Supo Mandagri.

“Beristirahatlah kalian disini untuk sementara waktu”, berkata Ki banyak Wedi kepada kedua anak muda itu.

Melihat ketulusan hati Ki Banyak Wedi telah menumbuhkan rasa percaya Gajahmada kepada orang tua itu, dan dengan terbuka Gajahmada telah bercerita dengan singkat kehadiran para prajurit Majapahit di timur Jawadwipa itu.

“Kalian telah memiliki seorang Raja yang sangat tahu apa yang seharusnya dilakukan”, berkata Ki Banyak Wedi setelah mendengar penuturan dari Gajahmada.

“Banyak cerita tentang kemenangan Majapahit yang bersumber dari siasat ulung seorang Adipati Sunginep. Sudilah kiranya Ki Banyak Wedi memberikan saran yang terbaik menghadapi kekuatan di timur Jawadwipa ini”, berkata Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi.

Terlihat Ki banyak Wedi tersenyum mendengar perkataan Gajahmada itu.

“Apakah kamu tidak bercuriga bahwa aku akan menggelincirkan dirimu, karena yang kamu hadapi adalah saudara kembarku sendiri, seseorang yang sedarah denganku”, berkata Ki banyak Wedi dengan wajah penuh kesungguhan hati.

“Aku percaya bahwa Ki Banyak Wedi masih mengingat cita-cita adi luhur kerajaan Raja Erlangga yang menjadi cikal bakal tumpuan Kerajaan Majapahit ini berdiri, dimana Ki Banyak Wedi menjadi salah satu ksatria penjaganya yang sangat setia”, berkata Gajahmada kepada Ki banyak Wedi.

“Perkataanmu sungguh telah mengingatkanku atas sumpah suci yang pernah kukatakan di hadapan Raja Anusapati bahwa aku akan terus setia kepada cita-cita leluhur para putra Raja ken Arok. Kematian putraku telah mengaburkan sumpah suciku itu. Dan hari ini aku seperti hidup kembali, hidup untuk menjalani sebuah amanat suci menjaga para putra Ken Arok”, berkata Ki Banyak Wedi dengan wajah penuh semangat dihadapan Gajahmada dan Supo Mandagri.

“Ayah angkatku Mahesa Amping dan Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah mengangkat Ranggalawe sebagai saudaranya, atas kasih persaudaraan itulah Baginda Raja Sanggrama telah menganugerahi Siralawe sebagai seorang Adipati di Tanah Tuban”, berkata Gajahmada kepada Ki banyak Wedi.

Terlihat Ki Banyak Wedi terdiam, pandangan matanya dialihkan jauh menembus batang, daun dan ranting pepohonan, menembus pekatnya hutan Randu Agung, menembus kejernihan mata hatinya.

Sementara itu hari telah berada di ujung senja, pekik suara binatang hutan perlahan menghilang, sepi.

Sepi pekat gelap malam telah lama menyelimuti hutan Randu Agung bersama kepungan suara jangkrik malam seperti menambah suasana terasa menjadi begitu teramat sunyi.

Di kegelapan rumah pohon itu, Gajahmada dan Supo Mandagri sudah mulai dapat membiasakan diri melihat di kegelapan malam Hutan Randu Agung.

“Kekuatan pasukan Ki Banyak Ara bukan di Lamajang, namun saat ini telah dipusatkan di sebuah hutan sekitar Kadipaten Blambangan”, berkata Ki banyak Wedi menyampaikan beberapa rahasia kekuatan pasukan saudara kembarnya itu.

“Berapa besar kekuatan mereka saat ini?”, bertanya Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi.

“Kabarnya saudaraku itu telah dapat menghimpun sekitar enam ratus orang dimana rencana pertamanya adalah untuk melumpuhkan pasukan di Kadipaten Blambangan”, berkata Ki banyak Wedi menjawab pertanyaan dari Gajahmada.

“Nampaknya kami harus meminta bantuan pasukan Kadipaten Blambangan dan Kadipaten Lamajang, prajurit dari Majapahit hanya ada sekitar tiga ratus orang yang saat ini terpecah di tiga tempat berbeda, di Pasuruan, Blambangan dan Banyuwangi”, berkata Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi menyampaikan kekuatan pasukan Majapahit saat itu.

“Para pasukan di hutan Tarik sangat sedikit pada saat itu, namun mereka mampu membuat susah kerajaan Kediri”, berkata Ki Banyak Wedi yang masih dapat di lihat senyumnya oleh Gajahmada yang sudah membiasakan dirinya melihat di kepekatan malam itu.

“Maksud Ki Banyak Wedi?”, bertanya Gajahmada meminta penjelasan.

“Jumlah bukan salah satu kunci sebuah kemenangan”, berkata Ki banyak Wedi

“Maksud Ki Banyak Wedi?”, bertanya kembali Gajahmada meminta penjelasan kepada Ki banyak Wedi.

“Membunuh seekor ular harus mencari dimana kepalanya”, berkata Ki banyak Wedi.

“Aku sudah mulai dapat mengerti, apakah itu artinya bahwa kita tidak perlu menurunkan pasukan gabungan untuk menghantam mereka?, yang harus kita lakukan adalah melumpuhkan Ki Banyak Ara di kediamannya di Kademangan Randu Agung?”, berkata Gajahmada mencoba membaca jalan pikiran dari Ki Banyak Wedi itu.

“Kamu memang cukup cerdas, itulah yang aku maksudkan”, berkata Ki Banyak Wedi penuh kegembiraan hati seperti seorang bocah kecil menemukan sebuah permainan baru.

“Aku melihat ada beberapa orang yang cukup mumpuni selain Ki Banyak Ara di kediamannya”, berkata Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi.

“Disana ada Ki Ajar Pelandongan, Ki Gagakpati dan seorang pendeta Brahmana bernama Ki Jatiwangi. Orang yang terakhir kusebut itu yang harus kamu sikapi dengan hati-hati, karena tataran ilmunya berada dua tiga tingkat diatas Ki Banyak Ara”, berkata Ki Banyak Wedi.

Sepi pekat gelap malam masih menyelimuti hutan Randu Agung. Diantara suara panjang jangkrik malam, terkadang terdengar suara lolongan serigala jantan yang mungkin tengah tersisih dari kawanan mereka berharap seekor serigala betina yang birahi mendengar lolongan panjangnya.

Suara lolongan serigala jantan itu terdengar beberapa kali telah menghentikan pembicaraan mereka bertiga yang masih terjaga di rumah pohon hutan Randu Alam di malam itu.

“Berapa penjaga di rumah kediaman Ki Banyak Ara saat ini?”, bertanya Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi manakala suara lolongan Serigala jantan sudah tidak terdengar lagi.

“Ada sekitar dua puluh lima orang, mereka adalah para bajak laut yang selalu berada bersama Ki banyak Ara”, berkata Ki Banyak Wedi.

Namun pembicaraan mereka kembali terhenti manakala di bawah mereka terdengar suara auman dua tiga ekor harimau di bawah mereka, mungkin tengah memperebutkan seekor mangsa buruan mereka.

“Sebentar lagi pasti ada suara si embah belang yang akan mengusir mereka”, berkata Ki Banyak Wedi yang seperti sudah sangat hapal dengan kehidupan malam di kedalaman hutan Randu Alam itu.

Seperti yang dikatakan oleh Ki banyak Wedi, tidak lama berselang mereka bertiga memang telah mendengar suara auman harimau yang lebih keras memecahkan kesunyian malam, suara auman itu nampaknya lebih keras dari suara sebelumnya.

“Itulah suara si embah belang, nampaknya hari sudah jauh malam untuk mencari ganjalan perut harimau tua yang tengah kelaparan itu”, berkata Ki Banyak Wedi.

Mendengar perkataan Ki banyak Wedi, telah menyadarkan Supo Mandagri bahwa hari memang telah larut malam. Terlihat keduanya perlahan meluruskan badan mereka, sementara itu Ki Banyak Wedi terlihat bergeser merebahkan punggungnya bersandar di sebuah batang pohon.

Supo Mandagri yang sudah tidak merasakan perih lukanya terlihat dalam waktu yang sangat singkat sudah langsung tertidur nyenyak.

Di keremangan malam Gajahmada masih melihat Ki Banyak Wedi tetap duduk bersandar di sebuah batang pohon dengan mata yang telah terpejam.

“Kasihan orang tua ini”, berkata Gajahmada dalam hati sambil memandang Ki banyak Wedi membayangkan kehidupan hari-harinya di kedalaman hutan Randu Agung itu. Membayangkan seorang yang sangat terhormat penuh dengan gelimang harta benda harus tersingkirkan dan terdampar di suasana kehidupan yang serba kurang memadai itu, di alam terbuka di kedalaman hutan Randu Agung tanpa seorang yang membantu dan melayaninya.

Sementara itu terdengar suara burung hantu memecahkan suasana malam, suara itupun kembali terdengar semakin menjauh di ujung tepi sepi malam.

Masih di pedalaman hutan Randu Agung yang lebat, warna malam, suara malam dan udara dingin malam perlahan pudar berganti suara dan nuansa pagi.

Matahari pagi sudah dapat terlihat menembus celah-celah daun dan ranting di hutan Randu Alam. Namun kehangatan sinar matahari itu tidak mampu menembusi beberapa permukaan tanah dan batang pohon yang terlihat lembab dan berjamur.

“Selamat jalan anak-anak muda, aku tidak dapat membantu kalian sepenuhnya, pada saatnya aku hanya akan menyingkirkan cucuku Kuda Anjampiani ke tempat yang jauh dari pertempuran kalian”, berkata Ki Banyak Wedi di pagi itu melepas kepergian Gajahmada dan Supo Mandagri.

“Sampai bertemu lagi Ki Banyak Wedi, terima kasih untuk semua keterangannya”, berkata Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi menyampaikan ucapan perpisahan.

“Semoga Gusti Yang Maha Agung berkenan memberi panjang usiaku ini, sehingga masih dapat melihat Majapahit terus berkembang, gemah ripah loh jinawi, murah sandang murah papan”, berkata kembali Ki Banyak Wedi sambil melambaikan tangannya mengantar kedua anak muda itu yang telah mulai melangkah meninggalkan dirinya.

Demikianlah, di pagi itu terlihat Gajahmada dan Supo Mandagri tengah berjalan di tengah hutan Randu Alam yang cukup lebat itu.

Hingga akhirnya manakala matahari terlihat sudah menggelantung di pertengahan garis langit cakrawala pagi, terlihat Gajahmada dan Supo Mandagri tengah berjalan di sebuah padang ilalang yang cukup luas berbatasan dengan hutan Randu Agung.

“Kita berjalan melingkar menghindari Kademangan Randu Agung”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri.
Nampaknya Gajahmada memilih jalan melingkar menghindari Kademangan Randu Agung, khawatir mereka akan bertemu dengan orang-orangnya Ki Banyak Ara.

Setelah berjalan melingkar cukup jauh, akhirnya mereka telah memasuki sebuah jalan tanah yang cukup keras.

“Apakah kita akan ke Kadipaten Lamajang?”, bertanya Supo Mandagri kepada Gajahmada yang sudah cukup mengenal arah dan jalan di sekitar Lamajang itu.

“Kita memang akan singgah di kediaman Adipati Menak Koncar”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri.

Diperjalanan mereka kadang bersisipan dengan beberapa pedagang dengan gerobak dagangannya, nampaknya besok adalah hari pasaran di Lamajang sehingga banyak para pedagang yang datang dari tempat-tempat yang cukup jauh, mencoba mengadu peruntungan mereka di beberapa pasar Kademangan.

Saat itu matahari terlihat sudah mulai merayap turun dari puncaknya manakala langkah Gajahmada dan Supo Mandagri telah mulai memasuki wilayah Kadipaten Lamajang.

Hamparan persawahan terlihat sejauh mata memandang berujung di tiga deretan pegunungan membiru, itulah tiga deretan pegunungan tempat para dewa yang dipuja bersemayam, deretan pegunungan Tengger, Bromo dan Semeru.

“Sewaktu kecil aku tidak seperti mereka”, berkata Supo Mandagri sambil menunjuk kearah dua anak lelaki yang ikut membantu ibunya membersihkan rumput-rumput liar di persawahan mereka. “Seumur mereka aku sibuk membantu ayahmu diperapian menempa besi”, berkata kembali Supo Mandagri sambil melihat beberapa anak kecil lain tengah berlari diantara galangan sawah.

“Sebuah bumi yang damai”, berkata Gajahmada ikut menikmati suasana disekitar mereka dimana hamparan sawah seperti sebuah lautan hijau yang luas mengelilingi beberapa padukuhan yang tersebar seperti pecahan pulau-pulau kecil.

Akhirnya, langkah kaki kedua anak muda itu telah memasuki sebuah pemukiman penduduk yang semakin kedalam semakin ramai dipenuhi deretan rumah-rumah kayu yang tertata rapi. Mereka berdua telah memasuki pusat wilayah Kadipaten Lamajang.

“Sebuah istana yang sangat asri dan teduh”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri manakala langkah kaki mereka telah mendekati sebuah bangunan yang dikelilingi pagar batu menghadap tanah lapang yang cukup luas dimana tumbuh ditengahnya dua buah pohon beringin yang sudah cukup tua meneduhi sekitarnya. Pintu gerbang utamanya sendiri berada disamping bangunan itu yang menghadap kearah timur laut.

“Selamat datang di istana Kadipaten Lamajang”, berkata seorang prajurit Majapahit kepada Gajahmada dan Supo Mandagri.

Ternyata prajurit itu adalah salah seorang dari beberapa prajurit Majapahit di bawah pimpinan Gajahmada yang sengaja di tanam di istana Kadipaten Lamajang.

Terlihat prajurit Majapahit itu menemui salah seorang prajurit pengawal Kadipaten di gardu jaga. Dan sebentar kemudian prajurit Majapahit itu bersama seorang prajurit pengawal Kadipaten telah datang kembali mendekati Gajahmada.

Terlihat prajurit pengawal Kadipaten itu memandang Gajahmada dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.

“Aku juga seorang prajurit seperti dirimu”, berkata Gajahmada kepada prajurit itu dengan penuh senyum ramah menyadari bahwa saat itu dirinya memang tidak memakai pertanda apapun sebagai layaknya seorang prajurit, hanya berpakaian sebagaimana orang kebanyakan, bahkan sudah terlihat sangat lusuh.

Mendengar perkataan Gajahmada telah membuat prajurit itu tersenyum malu.

Kepada prajurit pengawal Kadipaten itu Gajahmada mengutarakan maksudnya datang ke istana Kadipaten itu untuk menghadap Adipati Menak Koncar, tentunya dengan bahasa yang santun tidak menunjukkan ketinggian pangkatnya sebagai seorang perwira tinggi prajurit Majapahit.

Nampaknya prajurit pengawal Kadipaten itu meresa terkesan dengan tutur kata Gajahmada yang santun itu, diam-diam sudah merasa jatuh hati bersimpati kepadanya.

“Tunggulah disini, hamba akan menyampaikan kedatangan tuan kepada Adipati Menak Koncar”, berkata prajurit pengawal Kadipaten itu kepada Gajahmada.

Terlihat prajurit pengawal Kadipaten itu telah melangkahkan kakinya menuju arah pendapa agung Kadipaten Lamajang.
Gajahmada dan Supo Mandagri nampaknya tidak harus lama menunggu di depan gardu jaga, karena tidak lama berselang prajurit pengawal Kadipaten itu terlihat telah datang berjalan mendekati mereka.

“Adipati Menak Koncar sangat senang sekali mendengar kedatangan tuan, juga seorang tamu yang saat ini bersamanya”, berkata prajurit pengawal Kadipaten itu kepada Gajahmada.

“Adipati Menak Koncar sedang bersama seorang tamu?”, bertanya Gajahmada kepada prajurit itu.

“Tamu itu juga baru saja datang, hanya berselisih sepenginangan dengan tuan”, berkata prajurit itu kepada Gajahmada.

“Apakah kamu mengetahui dari mana berasal tamu Adipati Menak Koncar itu?”, bertanya Gajahmada kepada prajurit itu merasa ingin tahu siapa tamu yang bersama Adipati Menak Koncar di Pendapa Agung itu.

“Sewaktu datang melapor di gardu jaga ini mengatakan saudara ipar dari Adipati Menak Koncar dan berasal dari sebuah tempat yang cukup jauh di Balidwipa”, berkata prajurit itu kepada Gajahmada.

“Mari kuantar tuan ke Pendapa Agung agar dapat segera bertemu dengan Adipati Menak Koncar bersama tamunya itu yang nampaknya sangat senang sekali mendengar kedatangan tuan di istana Kadipaten ini”, berkata kembali prajurit pengawal Kadipaten itu kepada Gajahmada.

Dan pikiran Gajahmada memang telah dipenuhi begitu banyak pertanyaan, siapa gerangan tamu Adipati Menak Koncar yang telah mengenalnya itu. Masih dengan pikiran yang belum terjawab, terlihat dirinya dan Supo Mandagri telah mengikuti di belakang langkah kaki prajurit pengawal Kadipaten itu yang membawa mereka berdua menuju Pendapa Agung istana Kadipaten Lamajang.

“Kakang Putu Risang?”, berkata Gajahmada dalam hati sambil terus mengikuti langkah kaki prajurit pengawal itu. “Siapa lagi adik ipar dari Adipati Menak Koncar selain Kakang Putu Risang yang berasal dari Balidwipa?”, berkata kembali Gajahmada dalam hati seperti tidak sabaran ingin berlari berjalan mendahului prajurit pengawal Kadipaten itu.

Sementara itu Supo Mandagri yang tidak mengetahui apa yang tengah dipikirkan oleh sahabatnya itu terus mengiringinya berjalan di sampingnya.

Ternyata dugaan Gajahmada adalah benar, manakala telah mendekati panggung pendapa agung istana Kadipaten Lamajang, diantara celah-celah pagar pendapa agung dilihatnya Adipati Menak Koncar tengah berbincang-bincang dengan seorang tamunya yang memang sudah sangat dikenalnya itu, Putu Risang, sang guru pembimbingnya yang pertama kali memperkenalkan kepadanya ilmu kanuragan.

“Mahesa Muksa”, lekaslah naik ke panggung”, berkata Adipati Menak Koncar menyapa Gajahmada dengan nama kecilnya yang dilihatnya telah berdiri tersenyum di bawah anak tangga pendapa agung.

Supo Mandagri yang baru mengetahui kedekatan sahabatnya itu dengan Adipati Menak Koncar mulai terkagum-kagum, ternyata sahabatnya itu punya banyak kenalan orang-orang besar.

“Sungguh sebuah keberkahan tak terhingga untuk diriku, hari ini telah dipertemukan Kakang Adipati Menak Koncar dan Kakang Putu Risang secara bersamaan”, berkata Gajahmada menghaturkan rasa hormatnya kepada kedua orang yang berada di atas pendapa Agung istana Kadipaten itu.

“Rangga Seta, perkenalkan dirimu kepada pamanmu itu”, berkata Putu Risang kepada seorang anak lelaki berusia sekitar lima tahunan.

“Jadi aku sudah punya seorang keponakan, siapa namamu cah ganteng?”, berkata Gajahmada kepada anak lelaki yang bersama Putu Risang itu.

“Namaku Rangga Seta, siapakah nama paman?”, bertanya anak lelaki itu dengan tutur kata yang terdengar sangat begitu lucu kepada Gajahmada.

“Panggil aku sebagai Paman Gajahmada”, berkata Gajahmada kepada anak lelaki itu, putra Putu Risang bernama Rangga Seta.
Kepada Adipati Menak Koncar dan Putu Risang, tidak lupa Gajahmada memperkenalkan sahabatnya, Supo Mandagri kepada mereka berdua.

Terlihat Adipati Menak Koncar mempersilahkan Gajahmada dan Supo Mandagri untuk bersih-bersih.

“Aku akan menyiapkan pakaian pengganti untuk kalian berdua”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Gajahmada dan Supo Mandagri sambil tersenyum melihat pakaian yang mereka berdua kenakan memang sangat lusuh dan kotor.

Akhirnya tidak lama berselang, Gajahmada dan Supo Mandagri telah datang dan bergabung kembali di pendapa agung istana Kadipaten yang adem diteduhi dua beringin besar di muka halamannya itu.

“Kami berdua baru saja bermalam di hutan Randu Agung”, berkata Gajahmada bercerita tentang pertarungan mereka hingga menjadi tawanan sampai dengan pertemuan mereka berdua dengan Ki Banyak Wedi.

“Pantas, pakaian kalian sangat lusuh dan kotor sekali”, berkata Adipati Menak Koncar setelah mendengar penuturan dari Gajahmada itu.

“Mereka bertiga sangat akrab sekali”, berkata Supo Mandagri dalam hati.

Sebagai seorang yang sudah cukup lama meninggalkan Kotaraja Majapahit, banyak sekali yang di tanyakan oleh Putu Risang mengenai perkembangan Kotaraja Majapahit. Sebagaimana dikisahkan sebelumnya bahwa Putu Risang adalah salah seorang yang ikut bersama-sama para pendiri Kerajaan Majapahit membangun sebuah pemukiman baru di hutan Maja. Atas perintah Patih Mahesa Amping, dirinya telah kembali ke Balidwipa untuk menggantikan kedudukan Empu Dangka yang telah meninggal dunia di Padepokan Pamecutan di Balidwipa. Maka, Putu Risang bersama istrinya yang bernama Endang Trinil adik sepupu dari Adipati Menak Koncar itu lama meninggalkan Kotaraja Majapahit.

“Bagaimana perkembangan perkampungan besar di pinggir hutan Maja itu?”, berkata Putu Risang kepada muridnya itu.

“Perkampungan besar itu telah menjadi sebuah Kotaraja yang sangat ramai, telah meluas hingga pinggir sungai Kalimas”, berkata Gajahmada bercerita tentang perkembangan Kotaraja Majapahit saat itu.

Bergantian, sekarang Putu Risang yang bercerita beberapa hal tentang dirinya yang telah menjadi seorang pemimpin Padepokan Pamecutan di Balidwipa.

“MBokayumu, Endang Trinil sangat kerasan tinggal di sana”, berkata Putu Risang mengawali ceritanya.

Putu Risang juga bercerita mengapa sampai di istana Kadipaten Lamajang itu.

“Bermula hanya ingin mengajak Rangga Seta belajar mengembara hingga menyeberang ke Banyuwangi. Ternyata disana aku bertemu dengan kawanmu Adityawarman yang mengatakan bahwa dirimu juga sedang dalam tugas bersama para prajurit Majapahit di timur Jawadwipa ini, ditempatkan di sekitar Pasuruan dan Lamajang. Mendengar penuturan dari Adityawarman itulah sebabnya aku mengembara hingga sampai di istana Kadipaten ini, berharap dapat menjumpaimu disini”, berkata Putu Risang menuturkan cerita tentang dirinya hingga sampai di istana Kadipaten Lamajang bersama putranya, Rangga Seta.

“Pantas, manakala keluar dari hutan Randu Agung, tiba-tiba saja ada sebuah keinginan di hati ini untuk singgah di istana Kadipaten Lamajang ini”, berkata Gajahmada menyampaikan perasaan hatinya.

“Itu sebuah pertanda, panggraitamu sungguh sangat tajam, Mahesa Muksa”, berkata Adipati Menak Koncar memanggil Gajahmada dengan panggilan kecilnya, Mahesa Muksa. Sebuah nama pemberian Patih Mahesa Amping kepada putra Nyi Nariratih itu.

Sementara itu, Supo Mandagri yang hanya berdiam diri mendengar cerita mereka bertiga di pendapa agung itu mulai menarik sebuah kesimpulan mengapa mereka bertiga begitu sangat dekat.

“Ternyata mereka bertiga adalah orang-orang yang sangat dekat dengan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, tinggal bersama di awal pembangunan kerajaan Majapahit ini”, berkata Supo Mandagri dalam hati mengerti dimana mereka bertiga itu saling mengenal.

Hingga akhirnya perbincangan beralih kepada perkembangan tugas para prajurit Majapahit di timur Jawadwipa itu. Gajahmada juga bercerita tentang rencana mereka untuk meruntuhkan pusat pengendali dari kekuatan di timur Jawadwipa itu sesuai saran dari Ki Banyak Wedi yang sampai saat ini masih bersembunyi di hutan Randu Agung.

“Aku akan mengutus beberapa orangku untuk mengamati rumah itu dan kekuatannya, agar kita dapat mudah dan tidak menemukan kesulitan ketika menghadapi mereka”, berkata Adipati Menak Koncar merasa setuju bila dalam waktu dekat ini menghancurkan pusat kekuatan pihak lawan yang berada di wilayahnya itu.

“Kakang Mahesa Semu mungkin dapat ditarik untuk membantu kita”, berkata Gajahmada mengusulkan untuk mengikut sertakan Mahesa Semu.

“Aku setuju, cantrik utama dari Padepokan Bajra Seta itu dapat diandalkan memperkuat barisan kita”, berkata Putu Risang yang masih mengenal Mahesa Semu sebagai salah satu cantrik Padepokan Bajra Seta itu.

“Kehadiran Kakang Mahesa Semu sudah dapat menandingi empat orang yang berilmu tinggi yang ada di rumah itu”, berkata Gajahmada sambil menyampaikan beberapa orang yang berilmu tinggi yang ada di rumah itu. “Aku pernah menghadapi Ki banyak Ara, namun menurut penuturan Ki Banyak Wedi ada seorang pendeta Brahmana yang lebih tinggi kesaktian ilmunya melebihi Ki Banyak Ara”, berkata kembali Gajahmada.

“Bila disetujui, aku menawarkan diri untuk menghadapi orang itu”, berkata Putu Risang menawarkan dirinya.

Mendengar perkataan Putu Risang, terlihat Adipati Menak Koncar tersenyum merasa yakin bahwa diantara mereka bertiga, adik iparnya itulah yang paling tinggi ilmunya. Terbayang kembali bagaimana seorang Putu Risang pernah mengalahkan banyak orang sakti dari berbagai pelosok bumi Jawadwipa ini beberapa tahun yang telah silam dalam sebuah peristiwa hilangnya keris Nagasasra dari tempat penyimpanannya di istana Majapahit.

“Ki Jatiwangi dan Ki Banyak Ara sudah punya lawan tandingnya sendiri, tinggal Ki Ajar Pelandongan dan Ki Gagakpati yang belum mendapatkan calon lawannya”, berkata Adipati Menak Koncar mengingatkan masih ada dua orang lagi lawan tangguh mereka.

“Kakang Mahesa Semu mungkin dapat menghadapi seorang seperti Ki Ajar Pelandongan”, berkata Gajahmada yang sudah dapat mengukur tingkat tataran ilmu Ki Ajar Pelandongan itu.

“Semua sudah mendapatkan lawan masing-masing, kecuali Ki Gagakpati dan diriku sendiri”, berkata Adipati Menak Koncar sambil tersenyum memandang kearah Gajahmada.

“Senjata cakra Kakang Adipati Lamajang pasti akan merepotkan diri Ki Gagakpati”, berkata Gajahmada kepada putra sulung Mahapatih Mangkubumi Majapahit itu.

Terlihat Adipati Menak Koncar hanya sedikit tersenyum mendengar perkataan Gajahmada.

“Sewaktu aku masih kecil, aku sering menyaksikan bagaimana Kakang melatih para pasukan Majapahit di alun-alun. Aku merasa yakin bahwa senjata Cakra Kakang Adipati Menak Koncar bukan sebuah hiasan di dinding sanggar istana Kadipaten Lamajang ini”, berkata kembali Gajahmada sambil tersenyum memandang ke arah putra Mahapatih Mangkubumi Majapahit itu.

“Mudah-mudahan tanganku ini masih dapat memutar senjata cakraku”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Gajahmada.

“Kakang Adipati Menak Koncar memang selalu merendahkan dirinya, aku merasa yakin bahwa kemampuan para prajurit pengawal Kadipaten ini sama tangguhnya dengan prajurit Majapahit”, berkata Putu Risang.

“Artinya kita tidak memerlukan para prajurit Majapahit yang ada di timur Jawadwipa ini”, berkata Gajahmada.

“Aku akan membawa prajurit terbaikku menghadapi anak buah Ki Banyak Ara”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Putu Risang dan Gajahmada.

Demikianlah, pada hari itu juga Adipati Menak Koncar telah memanggil dua orang prajuritnya yang telah ditugaskan untuk mengamati lebih seksama lagi kekuatan yang ada di rumah kediaman Ki banyak Ara di Kademangan Randu Agung.

Sementara itu di waktu yang sama, Gajahmada telah meminta seorang prajurit Majapahit untuk menyambangi Mahesa Semu yang masih bertugas di sekitar tanah Blambangan.

Perlahan malam pun telah datang kembali di bumi Lamajang. Angin dingin kering berhembus lewat persawahan yang sangat luas terbentang di bawah kaki pegunungan Semeru, Bromo dan Tengger.

Di kegelapan malam itu, terlihat seorang prajurit Majapahit telah mengambil sebuah jalan ke arah timur di sebuah persimpangan jalan Kadipaten Lamajang. Sementara tidak lama berselang dua orang prajurit pengawal Kadipaten Lamajang di persimpangan yang sama telah mengambil arah ke selatan, nampaknya telah mengambil arah Kademangan Randu Agung sesuai tugas yang diamanatkan oleh Adipati Menak Koncar kepada mereka berdua untuk mengamati kekuatan rumah kediaman Ki banyak Ara, saudara kembar Ki Banyak Wedi yang telah tersingkir dari rumahnya sendiri tanpa sepengetahuan seorang pun di Kademangan Randu Agung itu, juga orang-orang terdekatnya sekalipun.

Namun, ternyata bukan hanya seorang prajurit Majapahit dan dua orang prajurit pengawal Kadipaten Lamajang saja yang terlihat keluar di kegelapan malam itu. Karena di antara canda dan tawa para prajurit di gardu jaganya, tanpa mereka sadari berkelebat dua bayangan keluar lewat dinding pagar istana Kadipaten Lamajang itu.

Dua bayangan itu terus berkelebat seperti menghindari jalan utama dan berhenti di sebuah tanah gumuk di sebelah utara istana Kadipaten Lamajang yang sangat sepi di malam itu.

Dibalik tanah gumuk di bawah atap cakrawala langit yang terbuka, wajah kedua orang yang berkelebat keluar dari istana itu mulai terlihat jelas, ternyata adalah Putu Risang dan Gajahmada.

“Apakah Kakang Putu Risang merasa yakin bahwa Rangga Seta sudah tertidur?”, bertanya Gajahmada kepada Putu Risang.

“Anak itu sudah terbiasa tidur sendiri di gandhoknya”, berkata Putu Risang dengan tersenyum kepada Gajahmada.

“Aku melihat sebuah kecerdasan yang luar biasa di dalam bola matanya”, berkata Gajahmada ambil duduk bersandar pada tanah miring gumuk yang dipenuhi rumput basah.

“Aku berharap dapat membimbingnya menjadi seorang ksatria yang tangguh mewarisi ageman suci para leluhur kita”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada.

“Aku melihat kegelisahan Kakang Putu Risang atas masa depan Rangga Seta?”, bertanya Gajahmada seperti dapat membaca pikiran gurunya itu.

“Pikiran dan perkataanmu masih seperti yang kukenal, selalu datang tak terduga dengan sebuah pertanyaan apa yang aku pikirkan dan bukan apa yang telah aku katakan”, berkata Putu Risang yang juga ikut duduk di samping Gajahmada bersandar di kemiringan tanah berumput basah itu.

“Apa yang kakang Putu Risang gelisahkan?”, bertanya kembali Gajahmada kepada Putu Risang.

“Ketika bertemu Adityawarman di Banyuwangi yang mengabarkan keberadaanmu di sekitar Tanah Lamajang ini, aku memang berharap menjumpaimu untuk dapat mengatakan sebuah rahasia yang selama ini kadang mengganggu perasaan dan pikiranku”, berkata Putu Risang sambil menarik nafas panjang.

“Apa yang Kakang Putu Risang gelisahkan?”, bertanya kembali Gajahmada.

“Ada orang asing yang selalu berada di sekitar Rangga Seta, membayanginya”, berkata Putu Risang.

“Orang asing?”, bertanya Gajahmada sambil menggeser tubuhnya berpaling ke arah Putu Risang.

“Orang asing yang berjubah sebagaimana para brahmana”, berkata Putu Risang. “namun aku tidak pernah dapat mendekatinya, selalu menghilang seperti tertelan bumi”, berkata kembali Putu Risang kepada Gajahmada.

Terlihat Gajahmada mengerutkan keningnya mencoba berpikir siapakah orang itu yang pasti memiliki ilmu yang sangat tinggi karena orang setangguh seperti gurunya itu saja tidak pernah dapat mendekatinya.

“Apa yang Kakang risaukan dengan keberadaan orang asing itu?”, bertanya Gajahmada.

“Aku melihat kejadian yang sama dengan dirimu, ada seorang yang membayangi Rangga Seta setiap waktu”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada.

Mendengar perkataan Putu Risang itu, seketika Gajahmada teringat kepada pembimbing rohaninya yang selalu setia menjaganya sejak kecil itu, dia adalah Pendeta Gunakara yang berasal dari sebuah tanah di seberang lautan yang sangat jauh, sebuah dataran pegunungan Tibet.

bersambung ke senthong kanan

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 10 Februari 2015 at 23:01  Comments (146)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-07/trackback/

RSS feed for comments on this post.

146 KomentarTinggalkan komentar

  1. Bukan main terkejutnya Putu Risang melihat jari jemari Gajahmada menjentikkan kerikil itu meluncur dengan cepatnya ke sebuah gerumbul semak belukar.

    Dan terkesiap wajah Putu Risang telah melihat sebuah bayangan melesat begitu cepatnya bergerak dan menghilang di kegelapan malam seperti tertelan bumi.

    “Sejauh Rangga Seta berjalan, sejauh itu pula orang ini membayanginya”, berkata Gajahmada kepada Putu Risang.

    Diam-diam Putu Risang mengakui ketajaman indera Gajahmada ternyata telah jauh melampaui dirinya, gurunya sendiri. Buktinya sejauh ini tidak mengetahui keberadaan orang berilmu tinggi itu yang diam-diam bersembunyi di gerumbul semak belukar tidak jauh dari mereka.

    “Hari sudah mendekati pagi”, berkata Gajahmada sambil memandang warna semburat merah menyinari sebagian cakrawala langit sebagai pertanda sang fajar sebentar lagi akan muncul di bumi raya.

    “Mari kita kembali ke istana Kadipaten Lamajang”, berkata Putu Risang sambil berdiri.

    Demikianlah, di keremangan awal pagi itu dua buah bayangan terlihat berkelebat mendekati jalan utama istana Kadipaten Lamajang. Kecepatan kedua bayangan itu berkelebat memang sangat luar biasa hingga tak seorang pun para prajurit pengawal istana Kadipaten menyadari ada dua orang telah melintas di halaman istana Kadipaten.

    “Ternyata dua orang tamuku sudah terbiasa bangun dan jalan-jalan pagi”, berkata Adipati Menak Koncar yang tengah berjalan dari arah pringgitan kepada dua orang yang berkelebat memasuki panggung pendapa agung yang ternyata adalah Gajahmada dan Putu Risang.

    “Ternyata berjalan dan memandang hamparan sawah yang luas membentang di waktu pagi sangat menyenangkan”, berkata Putu Risang dengan senyum renyahnya kepada Adipati Menak Koncar.

    “Pendapa agung ini menghadap arah timur matahari, hampir setiap pagi aku duduk disini mengikuti gerak sang fajar muncul di ujung bibir bumi”, berkata Adipati Menak Koncar sambil merebahkan tubuhnya duduk di lantai kayu panggung pendapa agung.

    Menunggu saat fajar datang memang sungguh tidak membosankan, apalagi diiringi canda dan gurau hangat dari mereka bertiga yang sudah lama tidak saling bertemu.

    Manakala sang fajar telah menampakkan seluruh wajahnya menyinari bumi pagi, pembicaraan mereka menjadi semakin hangat karena telah ikut bergabung bersama mereka seorang pemuda yang sangat menyenangkan, mudah bergaul dan punya banyak sekali bahan pembicaraan yang membuat suasana di atas panggung pendapa agung menjadi semarak, penuh kegembiraan.

    Pagi diatas pendapa agung itu menjadi seperti sempurna manalala seorang anak lelaki hadir ditengah-tengah mereka. Anak lelaki kecil itu adalah Rangga Seta.

  2. Takut di tantang sama Kangmas Mbleh, langsung di wedar 4 ronta, hehehe

    Blemmm…!!!! membayangkan tertabrak tubuh Kangmas Embleh yang super gede, qiqiqiqiqiqq

    • Ha ha ha ……

      mempan juga tantangan Ki mBleh

      bagus…bagus…bagus….

      • Sssstttt…..saiki dadi aku sing wedi…..
        tak mendhelik disik ah…….

        • Bukankah mendhellik artinya…melotot?

          • he he he ….
            itu bahasanya piyantun saka tlatah Lendut Benter
            mendhelik = sembunyi

    • Ngapunten Pak Dhalang

      Anak Putu Risang apa memang namanya dua, disebut Rangga Seta dan Rangga Pati? Soalnya, kadang disebut Rangga Seta, kadang Rangga Pati.

      nuwun

      • dipersori lagi dech,,,,,,,yang benar adalah Rangga Seta, hehehe kamsiaaaaa

  3. Wilujêng énjang kålå lingsir wêngi, ngancik wayah Titiyoni.

    Gusti Hang Murbå ing Dumadi mugiyå tansah paring karaharjan, dumatêng pårå Sanak Kadang.

    Nuwun.

    • lamo tak bersuo, lamo pula tak menampakkan panah sanderan diatas langit malam sang Punakawan

    • Sugeng rawuh Ki Puna…….
      Harak inggih dhawah sami wilujeng lan raharja to Ki….??

      • Harak kalian Wilujeng lan Raharja sami dhawah wonten pundi Ki mBleh.
        menapa nitih motor boncengan tiga kok dhawah sami-sami

        he he he …., mblayu…. wedi dipelototi

        • ora ngurus………

          • Ya……diurus..urus aja tho Ki Mbleh…

    • Monggo Ki Puna, tindhak pundi mawon mboten nate sambang gandhok.

    • Wah Ki Puna yang saya kangeni rawuh……..
      Harak sami wilujeng…….dan menanti toetoegnya 😀

  4. Perlahan sang surya beranjak menaiki tangga cakrawala langit, beringin kembar di muka halaman pendapa istana Kadipaten Lamajang seperti dua raksasa hidup memayungi suasana dibawahnya menjadi senantiasa tetap teduh.

    Terlihat dua orang prajurit kepercayaan Adipati Menak Koncar datang menghadap, menyampaikan berita hasil pengamatannya di Kademangan Randu Agung.

    “Beristirahatlah, kalian telah melaksanakan tugas dengan baik”, berkata Adipati Menak Koncar kepada kedua prajuritnya itu.

    “Ternyata tidak ada perubahan kekuatan di rumah itu sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Banyak Wedi”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Gajahmada dan Putu Risang.

    “Aku belum begitu mengenal Wilayah Kademangan Randu Agung, kalau boleh tahu, apakah kita akan melewati banyak padukuhan untuk sampai ke rumah itu ?”, bertanya Putu Risang kepada Adipati Menak Koncar.

    “Rumah itu berada di Padukuhan paling ujung ke arah hutan Randu Agung, jalan terdekat adalah melewati beberapa padukuhan di Kademangan Randu Agung”, berkata Adipati Menak Koncar menjawab pertanyaan Putu Risang.

    “Nampaknya ada satu hal yang terlewatkan oleh Ki banyak Wedi”, berkata Putu Risang kepada Adipati Menak Koncar dan Gajahmada.
    Mendengar perkataan Putu Risang, terlihat Adipati Menak Koncar dan Gajahmada saling berpandangan.

    “Menurutku, Ki Banyak Wedi sudah menyampaikan semuanya”, berkata Adipati Menak Koncar sambil mengerutkan keningnya memandang kearah Putu Risang.

    Putu Risang tidak segera berkata apapun, hanya sedikit tersenyum.

    “Aku akan menjawabnya, tapi perlu bantuan Supo Mandagri”, berkata Putu Risang sambil memanggil Supo Mandagri yang duduk berjauhan dengan mereka tengah menemani Rangga Seta.

    “Supo Mandagri, kamu besar di Tanah Lamajang ini, apa yang akan kamu lakukan bila mendengar tetanggamu mendapatkan sebuah musibah ?”, bertanya Putu Risang kepada Supo Mandagri yang sudah datang mendekat.

    “Bagi kami tetangga adalah saudara paling dekat, kami akan datang memberikan bantuan sekuat apa yang kami miliki”, berkata Supo Mandagri langsung seketika.

    “Itulah yang dilupakan oleh Ki Banyak Wedi, bahwa kita belum dapat mengetahui seberapa besar keberpihakan para warga penghuni Kademangan Randu Agung”, berkata Putu Risang masih dengan senyumnya sambil memandang bergantian kearah Adipati menak Koncar dan Gajahmada.

    “Keberpihakan warga Kademangan Randu Agung memang belum terpikirkan olehku”, berkata Adipati Menak Koncar membenarkan jalan pikiran Putu Risang itu.

    • ngebut………

  5. “Kita harus menghindari benturan langsung dengan warga Kademangan Randu Agung”, berkata Gajahmada mulai dapat menangkap arah pikiran gurunya itu.

    “Kita dapat menghindari beberapa padukuhan di Kademangan Randu Agung dengan cara jalan melingkar”, berkata Adipati Menak Koncar menambahkan.

    “Jarak Kadipaten ini menuju ke Kademangan Randu Agung tidak begitu jauh, apakah kita tidak khawatir pasukan kita dapat terbaca oleh pihak lawan ?”, bertanya Putu Risang.

    Mendengar pertanyaan Putu Risang telah membuat Adipati Menak Koncar dan Gajahmada terdiam sejenak membenarkan arah pertanyaan Putu Risang bahwa ada orang-orang disekitar mereka yang merasa dekat dengan pihak lawan dan membocorkan gerakan mereka.

    “Ternyata aku berhadapan dengan seorang senapati perang yang sangat kuat pikirannya”, berkata Adipati Menak Koncar memuji ketelitian pikiran Putu Risang itu.

    “Aku hanya berpikir sederhana, menjaring seekor ikan besar di kolam kita sendiri tanpa mengeruhkannya”, berkata Putu Risang sambil tersenyum.

    “Jangan khawatir, beberapa ikan gabus besar sudah dapat kami tangkap di awal pagi tadi”, berkata Adipati Menak Koncar sambil memandang dua orang lelaki yang datang dari arah pringgitan membawakan makanan dan minuman diiringi seorang wanita anggun dibelakangnya yang ternyata adalah Nyi Adipati Menak Koncar.

    “Mudah-mudahan masakan orang Lamajang tidak berbeda lidah dan rasa”, berkata Nyi Adipati Menak Koncar mempersilahkan perjamuan kepada para tamunya.

    Setelah menikmati perjamuan makan siang itu, pembicaraanpun kembali berlanjut, diawali oleh Adipati Menak Koncar sebagai tuan rumahnya.

    “Menghindari penglihatan pihak lawan, kita dapat bergerak hari ini juga ditengah malam nanti menuju hutan Mandeg disebelah timur Hutan Randu Agung”, berkata Adipati Menak Koncar menyampaikan rencananya.

    “Bagus, artinya kita masih punya banyak waktu di hutan Mandeg menunggu saat tengah malam tiba, menyergap dan mengepung pihak lawan”, berkata Putu Risang menyetujui usulan yang disampaikan oleh Adipati menak Koncar itu.

    Demikianlah, pada hari itu juga Adipati Menak Koncar telah memanggil sekitar empat puluh orang prajurit terbaiknya. Pada hari itu juga telah memerintahkan kepada para prajurit penjaga agar melarang siapapun untuk tidak boleh keluar dari halaman istana Kadipaten Lamajang, apapun alasannya.

    Perintah untuk tidak boleh meninggalkan istana Kadipaten ini memang cukup membingungkan beberapa orang abdi dalem istana, para pengalasan yang tinggal di luar istana Kadipaten, mereka biasa pulang menjelang sore untuk berkumpul bersama keluarganya.

  6. Sebagaimana yang dikatakan oleh anak muda itu, pekatik tua itu memang telah memilih jalan lewat pematang sawah karena dapat mempersingkat jarak tempuh menuju Kademangan Randu Agung.
    Keringat terlihat sudah membasahi seluruh tubuh pekatik tua itu yang masih saja terus berjalan tidak ingin berhenti sedikitpun.

    Hingga manakala suara kentongan dara muluk terdengar sayup, pekatik tua itu sudah tidak berjalan di pematang sawah lagi, tapi sudah berjalan diatas sebuah jalan kecil menuju arah jalan utama Kademangan Randu Agung.

    Meski telah menempuh sebuah perjalanan yang cukup jauh tanpa beristirahat sedikitpun, orang tua itu terlihat masih dapat menjaga keseimbangan dan keteraturan langkahnya, sebagai sebuah pertanda bahwa orang tua itu telah ditempa oleh sebuah latihan yang cukup lama dalam olah kanuragan semasa mudanya. Terlihat orang tua itu seperti tidak merasakan keletihan sedikitpun terus melangkahkan kakinya yang telah berada di sebuah jalan utama Kademangan Randu Agung.

    Dan akhirnya tibalah pekatik tua di depan regol pintu gerbang rumah kediaman Ki Demang Randu Agung yang terjaga itu.

    “Siapakah kisanak ?”, berkata salah seorang prajurit pengawal Kademangan dari atas panggungan menyapa kakek tua itu yang berdiri di muka pintu gerbang yang tertutup itu.

    “ijinkan aku masuk kedalam untuk menemui Ki Demang, ada berita penting yang akan kusampaikan”, berkata pekatik tua kepada prajurit itu.

    Oncor yang diletakkan diluar samping regol pintu gerbang terlihat menyapu wajah orang tua itu menambah keyakinan prajurit itu bahwa orang tua itu tidak akan membuatnya susah. Apalagi mereka saat itu berlima. Yang ada di dalam hati para prajurit pengawal Kademangan itu ada rasa penasaran ada apa gerangan orang itu datang di saat malam yang sudah sangat larut itu.

    “Bukalah pintunya, kita tanyakan apa keperluannya datang di malam larut ini”, berkata salah seorang prajurit kepada kawannya.

    Terlihat seorang prajurit pengawal Kademangan dengan sebelah tangan memegang sebuah obor telah menuruni anak tangga panggungan dan langsung berjalan kearah pintu untuk membuka palang pintu.

    Setelah membukakan palang pintu, terlihat prajurit itu telah membukakan pintu gerbang dan menerangi wajah pekatik tua itu dengan obor di tangannya.

    “Jenggala ?”, berkata prajurit itu yang nampaknya sudah mengenal nama orang tua itu.

    “Syukurlah masih ada prajurit tua seumurmu di Kademangan ini”, berkata pekatik tua yang dipanggil Jenggala oleh prajurit itu yang ternyata wajahnya terlihat seumuran dengan pekatik tua itu.

    “Masuklah, kita bicara di dalam”, berkata prajurit itu kepada Jenggala memintanya segera masuk kedalam.

  7. Ketika prajurit itu tengah menutup kembali palang pintu gerbang, empat orang kawannya telah menuruni anak tangga panggungan.

    “Ini kawanku Jenggala, dulu prajurti pengawal Kademangan seperti kita. Tapi sekarang bertugas sebagai seorang pekatik di Kadipaten lamajang”, berkata prajurit tua itu memperkenalkan Jenggala kepada empat kawannya yang masih muda-muda itu.

    “Aku haus”, berkata Jenggala yang langsung melangkah mendekati sebuah gentong air minum yang terletak di bawah panggungan seperti sudah sangat hapal dan mengenal suasana di Kademangan Randu Agung.
    Kelima orang prajurit pengawal Kademangan hanya berdiri memandang Jenggala meneguk air minum lewat sebuah gayung batok kelapa, membiarkan dahaga Jenggala terpuaskan.

    “Berceritalah Jenggala, pasti ada urusan yang sangat penting sehingga kamu harus datang kemari di malam ini tanpa dapat menundanya”, berkata prajurit tua itu kepada Jenggala diatas sebuah bale bambu panjang di bawah panggungan itu.

    “Memang tidak bisa di tunda hingga pagi, sangat penting dan genting sekali”, berkata Jenggala memulai menyampaikan sebuah hal yang harus segera diketahui oleh Ki Demang Randu Agung, di dengar oleh kelima prajurit pengawal Kademangan Randu Agung itu dengan penuh perhatian.

    “Akan ada sebuah penyerangan di rumah kediaman Ki Randu Alam ?”, berkata prajurit tua itu setelah mendengar penuturan dari Jenggala seperti terkejut tidak percaya dengan apa yang didengarnya itu.

    “Jumbala, kita adalah para laskar pasukan Sunginep yang telah bersumpah setia kepada junjungan kita, bangunkan Ki Demang dan katakan apa yang kamu dengar ini kepadanya”, berkata Jenggala kepada prajurit tua itu yang dipanggilnya sebagai Jumbala.

    “Aku akan membangunkan Ki Demang”, berkata Jumbala yang langsung berlari-lari kecil meninggalkan Jenggala, juga ke empat kawannya para prajurit pengawal Kademangan Randu Agung itu, memandang Jumbala yang telah berlari kecil menuju arah pintu butulan membangunkan Ki Demang lewat pintu samping.

    Nampaknya tidak susah membangunkan Ki Demang Randu Agung.

    “Ada apa Jumbala ?”, berkata Ki Demang Randu Agung setelah membukakan pintu serambinya dan melihat Jumbala, prajurit tua itu.

    Maka langsung saja Jumbala bercerita sebagaimana yang diceritakan oleh Jenggala kepadanya.

    “Bangunkan Ki Jagaraga dan semua sesepuh Kademangan Randu Agung untuk datang kerumahku malam ini juga”, berkata Ki Demang memberi perintah kepada prajurit tua itu.

    Demikianlah, terlihat Ki Demang Randu Agung telah menutup kembali pintu serambinya, sementara terlihat Jumbala telah berlari kecil keluar dari pintu butulan.

    • Kamsiiiaaaa Pak Dhalang……..
      Kadingaren medar rontal pas wayah pasar temawon…….

      • Terima kasih…….kakek dalang

    • Suwun Ki Dalang

  8. nuwun ki…

  9. Hadiiiiirrrrrr………

  10. 🙂

  11. Byuhhhh sepinya

  12. haduhh….ada masalah di jaringan

    • Semoga segera beres

  13. diantos

  14. Sementara itu tidak begitu jauh dari Kademangan Randu Agung, diujung kegelapan malam terlihat sebuah pasukan yang di pimpim oleh Adipati Menak Koncar telah memasuki sebuah kelebatan hutan Mandeg yang berhadapan dengan hutan Randu Agung.

    “Masih ada banyak waktu beristirahat di hutan ini”, berkata Mahesa Semu yang telah bergabung dalam pasukan itu kepada Gajahmada.

    “Benar, pasukan ini akan bergerak kembali menjelang malam nanti”, berkata Gajahmada kepada Mahesa Semu.

    “Perjalanan yang melelahkan”, berkata Mahesa Semu sambil menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon besar.

    Sebagaimana Mahesa Semu, terlihat Gajahmada juga tengah bersandar di sebuah batu besar di dekat Mahesa Semu. Tidak jauh dari mereka terlihat Putu Risang dan Adipati Menak Koncar tengah berjalan mendekati mereka berdua, nampaknya ingin bergabung bersama mereka.

    “Pagi yang indah”, berkata Putu Risang ketika telah berada bersama Mahesa Semu dan Gajahmada sambil bersandar di dekat Gajahmada.
    Sebagaimana yang dikatakan oleh Putu Risang, saat itu hari memang telah berganti pagi, ditandai dengan suara kicau burung berkicau memecahkan sepi, sesekali juga terdengar pekik monyet-monyet kecil bergelantung di ujung-ujung ranting di hutan Mandeg itu.

    “Aku telah menugaskan beberapa orang prajurit untuk mengamati situasi di sekitar Kademangan Randu Agung”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Putu Risang, Mahesa Semu dan Gajahmada.

    Sementara itu suasana di rumah Ki Demang Randu Agung saat itu telah dipenuhi oleh para sesepuh yang sengaja di panggil
    sehubungan dengan berita akan ada sebuah pasukan dari Kadipaten Lamajang yang akan menyerang rumah kediaman Ki Randu Alam.

    “Jenggala, ceritakan kepada mereka apa yang kamu ketahui”, berkata Ki Demang Randu Agung kepada Jenggala sang pekatik tua yang ikut duduk bergabung di atas pendapa bersama para sesepuh Kademangan Randu Agung.

    Terlihat semua orang yang hadir diatas pendapa rumah Ki Demang Randu Agung mendengar penuturan Jenggala.

    “Adipati Menak Koncar tadi malam telah menggerakkan pasukannya untuk menyerang Ki Randu Alam, keluarga dan seluruh orang yang bersamanya, mungkin pagi ini mereka telah tiba di hutan Mandeg”, berkata Jenggala menuturkan segalanya yang diketahui tentang penyerangan itu.

    “Separuh lebih warga Kademangan Randu Agung ini pernah berhutang budi dengan Ki Randu Alam, sebagaimana aku, sebagaimana Jenggala. Haruskah kita berdiam diri tak berbuat apapun disaat mantan junjungan kita menghadapi mara bahaya ?”, berkata Ki Demang Randu Agung kepada para sesepuh yang hadir dipendapa rumahnya.

  15. Suasana pendapa terlihat menjadi sunyi mencekam, para sesepuh diam tak tahu bagaimana harus bersikap dan apa yang harus dikatakannya menjawab pertanyaan Ki Demang Randu Agung itu.
    Sementara itu tatapan mata Ki Demang Randu Agung terlihat berkeliling, menyidik satu persatu para sesepuh yang masih diam membisu.

    “hari ini kita harus segera bergerak, berdiri bahu membahu di belakang Ki Randu Alam”, berkata Ki Demang Randu Agung mencoba mengangkat kesadaran orang-orang yang ada di pendapa rumahnya itu.

    Namun semua orang yang ada di atas pendapa rumahnya itu masih belum tahu apa yang harus di katakannya.

    “Ki Demang Randu Agung, seandainya seluruh warga penduduk ini tidak ada yang ingin membela Ki Randu Alam, maka tetap tidak bergeming sedikitpun untuk berdiri dibelakangnya, menghadapi hujan panah dan lembing sekalipun”, berkata Ki Jenggala tiba-tiba merasa marah melihat kebisuan para sesepuh Kademangan Randu Agung itu.

    “Ki Jenggala, sebagaimana dirimu, aku akan mengajak semua keluargaku bahu membahu berdiri di belakang Ki Randu Alam”, berkata salah seorang yang duduk bersebrangan dengan Ki Jenggala.

    “Aku berada di belakang Ki Randu Alam”, berkata dua orang lainnya sambil mengangkat kedua tangannya.

    “Angkat tangan kalian yang telah memilih jalan sebagaimana Ki Jenggala”, berkata Ki Demang Randu Agung sambil mengangkat tangannya.

    Terlihat separuh lebih para sesepuh mengangkatkan tangannnya sebagai pertanda memilih jalan berada di belakang Ki Randu Alam menghadapi serangan pasukan dari Kadipaten Lamajang.

    Terlihat mata Ki Demang Randu Agung seperti terbakar memandang sebagian kecil dari mereka yang tidak mengangkat tangannya, terlihat matanya telah tertuju kearah seseorang yang berada disudut pendapa rumahnya.

    “Ki Jagaraga, dimana jiwa kesetiaanmu ?, apakah sudah terkikis oleh kemakmuran harta bendamu ?, tidakkah kamu sadari gelimang kemakmuran yang kita terima hingga hari ini adalah berkat budi besar junjungan kita, Ki Randu Alam. Tidakkah kamu sadari bahwa Ki Randu Alam telah membawa kita, melindungi diri kita dari kemurkaan para prajurit Majapahit atas keberpihakan kita membantu pasukan Ranggalawe di Tuban ?, kita dan keluarga kita berhutang nyawa dengan Ki Randu Alam”, berkata Ki Demang Randu Agung dengan kata-kata penuh amarah kepada Ki Jagaraga.

    Namun tanpa di duga-duga terlihat Ki Jagaraga langsung berdiri dengan dada membusung menatap pandangan mata Ki Demang Randu Agung penuh keberanian.

    “Jangan kamu singgung mengenai kesetiaanku, jangan kamu singgung tentang hutang nyawa ini,tapi buka mata dan pikiran kita dengan siapa kita berhadapan ?”, berkata Ki jagaraga dengan suara lantang.

  16. Terlihat semua mata tertuju kepada Ki Jagaraga yang masih berdiri.

    “Buka mata dan pikiranmu, kita akan berhadapan dengan Adipati Menak Koncar. Memusuhinya berarti kita memusuhi Kerajaan Majapahit yang ada di belakangnya”, berkata kembali Ki Jagaraga masih dengan suara yang lebih lantang lagi.

    Semua mata terlihat berpaling kearah Ki Demang Randu Agung yang telah ikut berdiri sebagaimana Ki Jagaraga.

    “Ki Jagaraga, seorang mantan laskar prajurit Ki Aria Wiraraja yang gagah berani tak pernah takut melihat hujan panah dan hujan lembing, hari ini kulihat belangnya, hari ini kulihat kekerdilannya. Yang kulihat bahwa bukan pasukan besar pasukan Majapahit yang kamu takuti, tapi yang kamu takuti adalah harta bendamu, istri-istri peliharaanmu”, berkata Ki Demang Randu Alam dengan penuh kemarahan.

    “Ki Demang, urusan Ki Randu Alam dengan Adipati Lamajang adalah urusan mereka berdua. Tidak ada kaitan apapun dengan diri kita”, berkata Ki Jagaraga merasa kurang senang dengan perkataan Ki Demang yang membawa masalah pribadinya.

    “Baiklah bila kamu katakana ini bukan urusanmu, saat ini aku hanya membutuhkan orang-orang yang punya rasa kesetiaan, hari ini keluarga Ki Randu Alam telah terancam, siapa lagi yang membelanya selain diri kita semua yang pernah diselamatkan, diri kita dan keluarga kita”, berkata Ki Demang Randu Agung.

    “Aku tida mengenal kata takut, aku akan membela siapapun yang akan mengancam keluargaku dan semua orang di Kademangan Randu Agung ini. Namun hari ini masalahnya berbeda, kita tinggal di tanah milik kerajaan Majapahit yang dipercayakan lewat Adipati Lamajang. Apakah kita akan berhadapan badan dengan junjungan kita sendiri ?, pikirkanlah masak-masak sebelum melangkah”, berkata Ki Jagaraga sambil melangkah keluar dari pendapa kediaman Ki Demang Randu Agung itu.

    “Biarkan pengecut itu pergi, kita harus menunjukkan harga diri kita berada di belakang Ki Randu Alam”, berkata Ki Demang dengan suara yang keras bermaksud didengar oleh Ki Jagaraga yang tengah menuruni anak tangga pendapa.

    Terlihat Ki Jagaraga seperti tidak mendengar suara Ki Demang yang telah menghinanya itu, dirinya tetap berjalan meninggalkan halaman rumah kediaman Ki Demang Randu Agung.

    Sepeninggal Ki Jagaraga yang telah memilih untuk tidak berada di belakang Ki Randu Alam, terlihat Ki Demang Randu Agung telah memerintahkan kepada orang-orangnya untuk mengumpulkan seluruh prajurit pengawal Kademangan, seluruh anak-anak muda di Kademangan Randu Agung.

    Ternyata perbedaan pendapat antara Ki Jagaraga dan Ki Demang Randu Agung telah menjadi perbincangan para warga. Akibatnya banyak orang tua yang ikut berpihak kepada Ki Jagaraga dengan tidak mengijinkan para putranya bergabung dalam barisan memperkuat pasukan prajurit pengawal Kademangan Randu Agung itu. Namun tidak sedikit warga yang masih setia kepada Ki Randu Alam.

    Bayangkan, tiga ratus orang telah berkumpul di rumah Ki Demang Randu Agung.

  17. Sementara itu para prajurit di bawah kepemimpinan Adipati Menak Koncar masih berada di hutan Mandeg. Sebagaimana rencana semula, meraka akan baru bergerak menjelang tengah malam menuju kediaman Ki Randu Alam.

    Hari saat itu sudah mulai terang tanah, beberapa prajurit di hutan Mandeg itu terlihat telah menyiapkan ransum makanan. Beberapa prajurit lannya tetap siaga berjaga-jaga di sekitar mereka mengamati bila saja ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

    Tiba-tiba saja terlihat dua orang prajurit yang ditugaskan mengamati keadaan di sekitarnya memberi tanda bahwa ada orang yang tengah memasuki wilayah mereka di sekitar hutan Mandeg itu.

    “Kukira kalian dari pihak musuh”, berkata seorang prajurit penjaga kepada orang yang baru datang itu.

    Ternyata orang yang baru datang itu adalah kawan mereka juga. Orang itu memang ditugaskan oleh Adipati menak Koncar untuk mengamati situasi disekitar Kademangan randu Agung.

    “Aku ingin menghadap tuan Adipati”, berkata orang itu kepada kawannya.

    Terlihat prajurit penjaga itu memberikan arah petunjuk dimana Adipati Menak Koncar berada kepada orang yang baru datang itu.

    “Nampaknya ada berita sangat penting sekali yang ingin kamu sampaikan”, berkata Adipati Menak Koncar kepada prajuritnya itu yang telah datang menghadap dengan wajah dan nafas tersengal-sengal.

    “Benar, kami telah melihat warga Kademangan Randu Agung telah berkumpul di rumah kediaman Ki Demang Randu Agung. Nampaknya mereka akan bersatu membela Ki Randu Alam”, berkata prajurit itu bercerita tentang apa yang dilihatnya di rumah kediaman Ki Demang Randu Agung.

    “Nampaknya keberadaan kita sudah ada yang membocorkannya”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Putu Risang, Gajahmada dan Mahesa Semu.

    “Berapa jumlah mereka warga Kademangan Randu Agung itu ?”, bertanya Adipati Menak Koncar kepada prajurit itu.

    “Ada sekitar tiga ratus orang”, berkata prajurit itu

    “Kembalilah kamu ke tempatmu semula, terus amati gerakan warga Kademangan Randu Agung itu”, berkata Adipati Menak Koncar kepada prajuritnya untuk kembali ke Kademangan Randu Agung.

    “Mereka begitu cepat mengetahui keberadaan kita, nampaknya ada yang keluar dari istana Kadipaten Lamajang jauh sebelum prajurit kita bergerak ke hutan mandeg ini”, berkata Gajahmada memperkirakan orang yang membocorkan keberadaan pasukannya di hutan Mandeg itu.

    “Diluar rencana dan perhitungan kita semula, benturan kepada warga kademangan Randu Agung memang tidak dapat kita hindari lagi”, berkata Adipati Menak Koncar seperti meminta pertimbangan Putu Risang, Mahesa Semu dan Gajahmada.

  18. Terlihat Putu Risang, Mahesa Semu dan Gajahmada tengah berpikir keras, mencoba memecahkan masalah keberadaan pasukan warga Kademangan Randu Agung itu.

    “kekuatan pasukan kita saat ini ada sekitar empat puluh orang, sementara kekuatan mereka bila bergabung ada sekitar tiga ratus lima puluh orang”, berkata Putu Risang mencoba menghitung perbandingan jumlah kekuatan pasukan mereka.

    “Prajuritku cukup terlatih, aku merasa yakin bahwa satu orang prajuritku mampu menghadapi empat sampai lima prajurit Kademangan Randu Agung secara bersamaan”, berkata Adipati Menak Koncar meyakinkan kekuatan dan tataran prajuritnya satu persatu.

    “Apakah masih ada waktu bagi kita memberikan pengertian kepada warga Kademangan Randu Agung bahwa urusan ini tidak berkaitan dengan mereka ?”, berkata Gajahmada mencoba mencari jalan lain menghindari benturan dengan orang-orang warga Kademangan Randu Agung.

    “Jalanmu itu nampaknya dapat kita coba, namun bila menemukan jalan buntu, dengan terpaksa akan kita hadapi mereka bukan sebagai warga Kademangan Randu Agung, tapi sebagai pihak musuh”, berkata Mahesa Semu mendukung cara yang ditawarkan oleh Gajahmada itu.

    “Aku setuju, aku akan mendatangi mereka, mencoba memberikan pengertian kepada para warga Kademangan Randu Agung”, berkata Adipati Menak Koncar.

    “Aku ikut menemani Kakang Adipati menak Koncar”, berkata Gajahmada menawarkan dirinya ikut bersama Adipati menak Koncar menuju ke rumah kediaman Ki Demang Randu Agung.

    Demikianlah, Adipati Menak Koncar dan Gajahmada dikawal oleh tiga orang prajurit terlihat telah keluar dari hutan Mandeg.

    Sementara di rumah kediaman Ki Demang Randu Agung terlihat sebuah pasukan yang sudah siap berangkat bertempur dengan berbagai senjata di tangan mereka masing-masing. Ternyata jumlah mereka terlihat lebih besar dari yang dilihat sebelumnya. Diantara mereka terlihat banyak orang tua yang ikut bergabung bersama mereka.

    “Wahai para mantan laskar prajurit Sunginep, wahai para orang muda Kademangan Randu Agung, hari ini kita telah memilih jalan berada di belakang junjungan kita, Ki Arya Wiraraja. Orang yang telah banyak berjasa bagi kehidupan kita, bagi keluarga kita”, berkata Ki Demang Randu Agung memberikan semangat kepada pasukannya yang telah bersiap untuk bergerak itu.

    “Pedang ini adalah saksi bisu yang selalu setia berada di belakang Ki Arya Wiraraja”, berkata kembali Ki Demang Randu Agung sambil melepaskan pedangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi diatas kepalanya.

    “Satu untuk semua, semua untuk satu”, berkata sebagian orang tua ikut melepas pedangnya sebagaimana yang dilakukan oleh Ki Demang Randu Agung. Nampaknya mereka adalah para orang tua mantan laskar prajurit Sunginep yang memang terkenal dengan keberaniannya itu.

    Anak-anak muda yang mendengarnya terasa terpancing haru biru dalam sebuah semangat baru.

  19. Barisan para prajurit pengawal Kademangan dan para warga Kademangan Randu Agung terlihat mulai bergerak penuh semangat.
    Namun tiba-tiba saja langkah mereka semua berhenti.

    Semua mata tedengan tertuju kearah pintu gerbang rumah kediaman Ki Randu Agung di mana disana terlihat tiga orang sengaja datang untuk mencegah prajurit dan warga Kademangan Randu Agung keluar dari pintu gerbang halaman itu.

    “Ki Demang Randu Agung, bukalah matamu. Lihatlah dengan jelas dengan siapa aku ada disini ?”, berkata seorang lelaki tua yang ternyata adalah Ki Jagaraga.

    Terlihat Ki Demang Randu Agung dengan tergopoh-gopoh mendekati ketiga orang itu.

    “Kami para warga Kademangan Randu Agung ingin menunjukkan rasa cinta kami kepada Ki Randu Alam dan keluarga”, berkata Ki Demang Randu Agung kepada lelaki tua disebelah Ki Jagaraga.

    “Terima kasih tak terhingga kuucapkan untuk segala usaha dan upayamu mengumpulkan para warga di Kademangan ini”, berkata lelaki tua yang berada disebelah Ki Jagaraga yang ternyata adalah Ki Randu Alam sendiri. “Jangan salahkan Ki Jagaraga yang tidak mau bergabung bersamamu, karena urusan ini tidak ada kaitan pribadi denganku”, berkata kembali Ki Randu Alam.

    “kami mendengar sendiri bahwa hari ini aka nada sebuah penyerangan dari Kadipaten Lamajang kerumah Ki Randu Alam ?”, bertanya Ki Demang Randu Alam penuh ketidak mengertian.

    “hari ini kusampaikan bahwa sudah lama aku tersingkir jauh dari rumahku sendiri, karena yang menghuni rumahku saat ini adalah saudara kembarku sendiri”, berkata Ki Randu Alam kepada Ki Demang Randu Agung.

    Tersentak perasaan Ki Demang Randu Agung mendengar sendiri penjelasan dari seorang lelaki yang sangat di hormati itu. Baru hari itu di ketahui bahwa penghuni rumah itu ternyata adalah saudara kembar dari Ki Randu Alam.

    “Saudara kembarku itu telah mempunyai banyak kepentingan yang mengganggu kemapaman Kerajaan Majapahit di timur Jawadwipa ini. Jadi urusan ini adalah masalah besar antara saudara kembarku itu dengan Kerajaan Majapahit”, berkata Ki Randu Alam kepada Ki Demang Randu Agung.”Bubarkan pasukanmu, aku tidak ingin ada satu jiwapun yang menjadi korban sia-sia dari para warga Kademangan Randu Agung ini”, berkata kembali Ki Randu Alam kepada Ki Demang Randu Agung.

    Terlihat Ki Demang Randu Agung telah membalikkan badannya berjalan mendekati pasukannya yang tidak sabar menunggu penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.

    Maka dengan panjang lebar Ki Demang Randu Agung memberikan penjelasan kepada pasukannya sebagimana yang dikatakan oleh Ki Randu Alam kepada dirinya.

    Terlihat beberapa orang menarik nafas lega, mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

  20. “Untung sekali kita belum terlanjur bergerak”, berkata beberapa orang tua saling mempercakapkan mengenai penjelasan Ki Demang Randu Agung mengenai apa yang sebenarnya terjadi atas diri Ki Randu Alam itu.

    Seiring dengan terjadinya percakapan diantara para pasukan dan warga Kademangan yang telah hampir bergerak itu, tiba-tiba saja seorang pemuda terlihat mengangkatkan tangannya meminta perhatian Ki Demang Randu Agung.

    “Ki Demang Randu Agung, kita sudah terlanjur datang dan berkumpul disini, bagaimana bila hari ini kita tetap bergerak membantu para prajurit Kadipaten Lamajang”, berkata pemuda itu kepada Ki Demang Randu Agung.

    Terdengar suara beberapa pemuda yang nampaknya bersesuaian dengan usulan itu.

    Terlihat Ki Demang Randu Agung seperti ragu untuk mengatakan keputusannya.

    Ditengah keraguannya itu, datanglah Adipati Menak Koncar dan Gajahmada bersama tiga orang prajurit pengawal Kadipaten.

    “Sangat kebetulan sekali telah datang Adipati Menak Koncar, aku akan berbicara dengannya, apa yang dapat kita lakukan”, berkata Ki Demang Randu Agung yang belum berani memutuskan usulan dari anak muda itu.

    Terlihat Ki Demang Randu Agung berjalan mendekati Adipati Menak Koncar yang tengah berbincang bersama Ki Randu Alam di muka pintu gerbang kediamannya.

    “Selamat datang tuan Adipati Menak Koncar, kedatangan tuan sungguh sangat tepat sekali”, berkata Ki Demang kepada Adipati Menak Koncar sambil menyampaikan keinginan beberapa warganya yang ingin membantu para prajurit Kadipaten Lamajang itu.

    “Kepedulian dan keberanian para warga Kademangan ini sangat aku banggakan, namun untuk saat ini kekuatan kami sudah cukup memadai. Sampaikan rasa hormat dan kebanggaan kami kepada semua warga Kademangan Randu Agung ini”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Ki Demang Randu Agung.

    “Pesan tuanku akan hamba sampaikan”, berkata Ki Demang Randu Agung kepada Adipati Menak Koncar.

    Terlihat Ki Demang Randu Agung mohon pamit kepada Adipati Menak Koncar dan Ki Randu Alam untuk berbicara kepada pasukannya.
    Setelah berada di hadapan pasukannya itu, Ki Demang Randu Agung menjelaskan kepada pasukannya pesan dan amanat tersirat dari Adipati menak Koncar itu.

    “Adipati Menak Koncar dari Lamajang telah meminta kalian kembali ke rumah masing-masing, beliau juga menyampaikan rasa hormat dan kebanggaan yang sangat tinggi atas kepedulian kalian”, berkata Ki Demang Randu Agung kepada pasukannya itu.

  21. Demikianlah, pasukan Kademangan Randu Agung terlihat telah membubarkan dirinya.

    “Sungguh sebuah kehormatan bilasaja tuan Adipati Menak Koncar dan Ki Randu Alam singgah dan berbicara di pendapa rumah kami”, berkata Ki Demang Randu Agung mengajak rombongan Adipati Menak Koncar dan Ki Randu Alam ke pendapa rumahnya.

    “Syukurlah bahwa Ki Demang Randu Agung dapat mengademkan suasana hati para warga Kademangan ini”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Ki Demang Randu Agung.

    “Aku mohon maaf atas ketidak sepahamanku tadi pagi, sebenarnya Ki Randu Alam telah beberapa kali datang kerumahku secara diam-diam”, berkata Ki jagaraga menjelaskan mengapa dirinya tidak sepakat dengan Ki Demang Randu Agung.

    “Ki Jagaraga benar, secara diam-diam aku memang menemuinya bermaksud menggalang kekuatan menghadapi saudara kembarku itu, namun Adipati Lamajang nampaknya punya pendengaran yang sangat peka telah datang bersama pasukannya”, berkata Ki Randu Alam membenarkan penjelasan Ki Jagaraga. “Urusan ini kuserahkan sepenuhnya kepada Adipati Menak Koncar, sementara aku tidak akan mencampurinya secara langsung, hanya menjauhkan seorang cucuku ini”, berkata Ki Randu Alam sambil menepuk bahu seorang pemuda disampingnya itu yang ternyata adalah Kuda Anjampiani.

    “Keberadaan pasukanku di Hutan Mandeg sudah pasti telah didengar oleh saudara kembar Ki Randu Alam. Aku berharap mereka tidak segera melarikan dirinya”, berkata Adipati menak Koncar diatas pendapa rumah Ki Demang Randu Agung.

    “Aku mengenal betul sifat dan watak saudara kembarku itu, kepercayaan dirinya begitu tinggi untuk melarikan dirinya menghadapi setiap tantangan. Aku yakin bahwa dirinya masih ada di rumahku itu siap menghadapi para prajurit dari Lamajang”, berkata Ki Randu Agung menyampaikan perkiraannya apa yang akan dilakukan oleh saudara kembarnya itu.

    “Kami tidak menyangka bahwa urusan dengan para warga Kademangan ini telah dapat diselesaikan dengan cara damai. Semula kami merasa bimbang bilasaja berhadapat langsung dengan para warga di Kademangan randu Agung ini”, berkata Adipati Menak Koncar sambil menyampaikan keinginannya kembali ke hutan Mandeg.

    “Mohon maaf bila kami belum dapat menjadi tuan rumah yang baik, belum dapat menjamu tuanku Adipati Menak Koncar dengan baik”, berkata Ki Demang Randu Agung sambil mengantar Adipati Menak Koncar dan rombongannya hingga ke bawah anak tangga pendapa rumahnya.

    Maka tidak lama berselang, Adipati Menak Koncar dan rombongannya itu telah keluar dari halaman rumah Ki Demang randu Agung.

    “Raung seekor harimau tua pada saatnya akan sepi di hutan kekuasaannya, berganti pekik para elang jantan muda yang akan menguasai padang perburuan”, berkata Ki Randu Alam sambil menatap rombongan Adipati Menak Koncar yang telah menghilang terhalang dinding pagar halaman Ki Demang Randu Agung.

    • Ampuuuuunnnnn Dhalange ngamuk…….
      sentong langsung dipenuhi rontal…….
      Pak Satpam….sentong tengen ndang dibukak to, iki lho dhalange arep nggrojogi rontal maneh…….

      • Wis isa nutup gandok apa durung ya.
        Buku besar ana ndik padepokan
        nanti sore nggih.

        • Ternyata masih kurang tiga rontal lagi untuk bisa menutup gandok PKPM-07.
          Monggo Pak Dhalang.

    • Ngapunten Pak Dhalang
      sepertinya Ki Jagaraga bisa diganti dengan Jagabaya kah. Kalau Jayaraga itu nama orang. Kalau Jagabaya itu jabatan salah satu bebahu kademangan, kelurahan atau pedukuhan.
      begitu lah?

      • terima kasih pak Satpam

        • Wah, kalau ada Ki Puna mesti langsung dijlentrehke dengan akurat, terstruktur, sistematis dan masif, he….he….he…..

  22. Matur Suwun Ki Dalang

  23. suwun nggih ki..

  24. Perbukitan Semeru, bromo dan Tengger di sebelah barat Lamajang perlahan mulai pudar tertutup awan senja.

    Perlahan cahaya sang surya ikut pudar menghilang jatuh di balik barat bumi. Langit malam mulai menyelimuti bumi Lamajang.

    Berita akan adanya sebuah penyerang dari para prajurit Kadipaten Lamajang memang telah tersebar di Kademangan Randu Agung. Serempak tidak ada seorangpun di Kademangan Randu Agung yang berani menyalakan pelita di rumah mereka. Suasana malam di Kademangan Randu Agung layaknya sebuah pemakaman yang sangat gelap dan begitu mencekam.

    Sebagaimana rumah para penduduk, rumah kediaman Ki Randu Alam yang dikuasai oleh saudara kembarnya itu juga tidak menyalakan pelita satupun. Juga sebuah oncor yang biasa menyala di depan regol pintu gerbang rumah itu. Rumah dengan halaman yang cukup luas itu benar-benar gelap pekat, begitu sepi seperti tak berpenghuni.

    Kemana penghuninya disaat itu ?

    Ternyata mereka tengah bersembunyi di kegelapan malam menanti prajurit Kadipaten Lamajang datang lewat pintu gerbang rumah itu.
    Beberapa orang terlihat merapap di dinding pagar, sementara beberapa orang lagi bersembunyi di kegelapan malam dengan sebuah busur siap ditangan dengan mata penuh waspada tertuju kearah pintu gerbang rumah itu yang sengaja terbuka lebar-lebar.

    Mereka adalah para bajak laut yang sangat di takuti dan terkenal sangat kejam yang pernah mengusai perairan laut di sekitar selat Balidwipa. Mereka memang sudah terbiasa mengarungi lautan di kegelapan laut malam tanpa pelita suar di anjungan manakala hendak menyergap sebuah perahu dagang penuh muatan.

    Semakin malam, suasana di sekitar rumah itu menjadi semakin mencekam.

    Hingga manakala suara kentongan dara muluk terdengar sayup dari sebuah padukuhan yang cukup jauh, hati dan perasaan para bajak laut itu semakin mencekam dalam kegelisahan yang sangat, musuh yang dinantikan belum juga muncul.

    Kegelisahanpun semakin bertambah manakala hari sudah hampir diujung malam, musuh yang mereka nantikan tidak juga kunjung datang.

    Rasa penat dan kantuk mulai menggayuti para penghuni rumah itu, musuh yang mereka nantikan belum juga terlihat.

    “Nampaknya mereka sengaja mengulur waktu”, berkata dalam hati saudara kembar Ki Randu Alam dengan wajah terlihat begitu gusar.

    Sementara itu langit malam perlahan mulai pudar.

  25. Ternyata permainan mengulur waktu itu adalah sebuah siasat yang sengaja di buat oleh Adipati menak Koncar. Putra sulung Empu Nambi itu ternyata sudah dapat memperhitungkan bahwa para penghuni rumah itu telah menunggu dan membuat banyak jebakan bagi para prajuritnya.

    Hingga akhirnya manakala cahaya merah telah mewarnai langit dan membilas kegelapan bumi, terkejut para penghuni rumah itu melihat musuh yang mereka tunggu semalaman telah datang, namun bukan lewat pintu gerbang, melainkan mereka telah melompat masuk kedalam lewat dinding pagar yang melingkari rumah itu.

    Beberapa orang yang belum siap menghadapi pihak musuh yang datang dengan tiba-tiba itu telah menjadi korban tumbal pertama tercabik pedang para prajurit dari Kadipaten Lamajang itu.

    Sementara beberapa orang lainnya sudah melupakan rasa kantuknya, langsung menghadapi para prajurit Kadipaten Lamajang yang sudah memenuhi halaman rumah itu yang cukup luas.

    Denting gemerincing senjata dan suara sumpah serapah riuh memekakkan telinga, dalam waktu yang sangat singkat, halaman yang cukup luas itu telah menjelma menjadi sebuah panggung pertempuran yang sangat ramai.

    Kedua belah pihak terlihat sudah saling menerjang, saling gempur dan saling menjatuhkan lawannya. Sabetan senjata bersewileran seperti kilatan cahaya berkelebat menggoreskan luka sayatan yang diiringi suara jerit perih kesakitan yang sangat memilukan hati.

    Berkat daya ingat Gajahmada yang pernah menjadi tawanan di rumah itu, Gajahmada telah menunjukkan kepada Adipati Menak Koncar, Mahesa Semu dan Putu Risang, siapa orang-orang tangguh yang harus mereka hadapi.

    “Ki Ajar Pelandongan, akulah lawanmu”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Ki Ajar Pelandongan di tengah pertempuran itu.

    “Tongkatku tidak mengenal lawan, sembunyikan batok kepalamu agar tidak terbentur tongkatku ini”, berkata Ki Ajar Pelandongan yang langsung mengayunkan tongkatnya ke arah kepala Adipati Menak Koncar.

    Tapi putra Empu Nambi itu bukan orang kebanyakan seperti yang diduga oleh Ki Ajar Pelandongan, dengan mudahnya Adipati Menak Koncar berkelit cepat dan balas menyerang Ki Ajar Pelandongan dengan senjata andalannya berupa sebuah cakra yang berdesing memburu tubuh Ki Ajar Pelandongan.

    Terkejut Ki Ajar Pelandongan yang tidak menduga akan berhadapan seorang lawan yang sangat tangguh yang dengan mudahnya mengelak serangannya bahkan telah balas menyerangnya dengan sebuah senjata cakra yang berdesing cepat mengejar kemanapun dirinya bergerak.

    “Sembunyikan batok kepalamu”, berkata Adipati menak Koncar menirukan perkataan Ki Ajar Pelandongan.

    • Matur suwun Pak Dhalang

      Satu rontal lagi sudah bisa menutup PKPM-07

      Gandok PKPM-08 sudah siap, tinggal menunggu jatuhnya rontal terakhir.

      Nuwun

      • Satu rontal….???? ah ah kecil itu….!!!
        Adhimas Dhalang mau nurunin satu rontal but nutup gandhok lama dan 4 rontal buat nganyari gandhok baru.
        Harak begitu to Pk Dhalang…..???
        (tidak pakai dhawah biar gak diece Pak Satpam)

        • hemm…cuma satu rontal (sambil bersedakep bersila dan memejamkan mata)

  26. “Gila !!”, berteriak Ki Ajar Pelandongan yang harus meningkatkan kecepatannya bergerak menghindari terjangan senjata cakra di tangan Adipati Menak Koncar yang sangat cepat dan dahsyat itu.
    Sementara itu disisi lainnya, Mahesa Semu sudah menemukan lawannya, yaitu Ki Gagakpati.

    “Lepaskan para prajurit itu, akulah lawanmu”, berkata Mahesa Semu menghadang Ki Gagakpati yang tengah menerjang beberapa prajurit Kadipaten Lamajang.

    “Aku akan menghabiskan kalian satu persatu”, berkata Ki Gagakpati sambil menerjang kearah Mahesa Semu.

    “Maaf, aku akan mencegah keinginan Ki Gagakpati”, berkata Mahesa Semu sambil berkelit dan langsung melakukan serangan balik membuat sebuah sabetan melingkar dengan pedang panjangnya.

    “Dari mana kamu mengenal namaku ?”, berkata Ki Gagakpati sambil melompat menghindari sabetan pedang Mahesa Semu.

    “Jangan merasa terkenal, aku baru mengenal namamu hari ini”, berkata Mahesa Semu sambil bergerak kesamping menghindari tusukan keris Ki Gagakpati.

    “Aku akan membuatmu menyesal mengenal namaku”, berkata Ki Gagakpati sambil bergerak menerjang Mahesa Semu dengan serangan yang lebih cepat dan ganas dari sebelumnya.
    Serang dan balas menyerangpun silih berganti antara Mahesa Semu dan Ki Gagakpati.

    “Nampaknya Mahesa Semu dapat menahan Ki Gagakpati”, berkata Gajahmada dalam hati memperhatikan pertempuran antara Ki Gagakpati dan Mahesa Semu.

    Sambil bertempur membantu para prajurit Kadipaten Lamajang, Gajahmada juga melihat Putu Risang yang terus bergerak mendekati Ki Jatiwangi, seorang Brahmana yang mempunyai ilmu yang sangat tinggi sebagaimana dikatakan oleh Ki Randu Alam kepada Gajahmada.

    Dess…!!!

    Gajahmada telah melihat Putu Risang telah membenturkan tangannya dengan kaki Brahmana itu.

    “Sungguh tidak layak seorang Brahmana menyakiti sesama manusia”, berkata Putu Risang yang berhasil menyelamatkan dua orang prajurit Kadipaten Lamajang yang nyaris terbentur oleh tendangan kuat Brahmana yang bernama Ki Jatiwangi itu.

    Terkejut bukan kepalang Brahmana itu yang terlempat dua langkah akibat benturan mereka.

    “Sangat kuat tenagamu, wahai anak muda”, berkata Brahmana itu yang sudah berdiri tegak memandang tak berkedip kearah Putu Risang.

    “Aku hanya ditugaskan untuk menahanmu, wahai orang tua”, berkata Putu Risang sambil berdiri tegak dengan sebuah senyum di bibirmu.

    • “Hemm…..disini belum ada yang cukup mumpuni untuk menjadi lawan tandingku”, berkata Ki Kompor Super Sakti sambil melesat terbang keluar dari runah kediaman Ki Randu Alam,

      • “Aku hanya ditugaskan untuk menahanmu, wahai orang tua”, berkata Putu Risang sambil berdiri tegak dengan sebuah senyum di bibirmu.,,,,,salahhh…maksudnya “dibibirnya”, hehehe dipersori dong…..

        • Monggo……

        • Nah, ketahuan deh Ki Sandikala baru bisa dapat inspirasi ketika Nyi Sandikala duduk di hadapannya sambil tersenyum manis dan terjadilah salah tulis. Tapi nggak apaapa kok kan ‘kemesraan ini janganlah cepat berlalu’ … iya to Nyi?

          • qiqiqiqiqiqqq…jadi malu dech

          • Gerbang PKPM-08 telah disetel buka nanti malam jam 00.01
            Mohon maaf, satpam sedang jauh dari pc dan laptop.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: