PKPM-07

<< kembali | lanjut >>

PKPM-07

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 10 Februari 2015 at 23:01  Comments (146)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-07/trackback/

RSS feed for comments on this post.

146 KomentarTinggalkan komentar

  1. masih sepi jempling, hehehe,

    • Kalah dhisik karo dhalange.

      • Kalah disik karo Dhalange lan Ki BP….

  2. ditunggu ki…

  3. Sebagai seorang yang punya banyak pengalaman bertempur, baru kali ini Jalakrumi merasakan tekanan serangan yang begitu kuat. Jalakrumi telah dapat menduga bahwa anak muda yang menjadi lawannya itu telah menunjukkan kemampuan yang sebenarnya.

    Keringat bercucuran membasahi tubuh Jalakrumi yang terus menghindar tanpa dapat membalas serangan Gajahmada yang hanya menggunakan sebuah senjata seorang petani biasa, sebuah arit pemotong rumput.

    Tranggg !!!

    Sebuah benturan senjata tidak bisa di hindari lagi, golok panjang Jalakrumi terlihat terlempar jauh ketanah.

    “Gila kekuatan anak muda ini”, berkata Jalakrumi dalam hati sambil merasakan telapak tangannya yang masih tergetar panas.

    Namun belum lagi reda rasa panas telapak tangannya, juga rasa terkejutnya itu, entah dengan cara apa anak muda di hadapannya itu telah bergerak dengan sangat cepat sekali tak mampu diikuti oleh mata kasatnya.

    “Menyerah atau kukuntungi lehermu”, berkata Gajahmada dengan suara seperti berbisik ditelinga Jalakrumi.

    Bergidik seluruh tubuh Jalakrumi merasakan dinginnya sebuah besi tajam melingkari lehernya.

    “Aku menyerah”, berkata Jalakrumi tanpa berpikir panjang lagi.
    Terlihat Gajahmada memanggil salah seorang prajuritnya untuk mengikat kedua tangan Jalakrumi.

    Sementara itu pertempuran para perusuh dengan prajurit Majapahit sudah menjadi kurang berarti lagi, sebentar lagi para perusuh itu sudah dapat dipastikan sudah dapat dilumpuhkan.

    “Menyerah atau kubuat kamu cacat seumur hidupmu”, berkata seorang prajurit kepada seorang perusuh yang sudah terkepung.

    Mendengar ancaman prajurit itu, terpikir bahwa dirinya akan menjadi seorang yang cacat. Terbayang dalam benak orang itu seorang yang kutung satu kaki.

    “Aku menyerah”, berkata orang itu sambil membayangkan nasibnya bila terus melawan dan prajurit itu benar-benar melaksanakan ancamannya.

    Sementara itu di sisi yang lain lagi terlihat dua orang perusuh telah melemparkan senjatanya manakala melihat hampir semua kawannya telah dapat dilumpuhkan.

    “Aku menyerah”, berkata seorang perusuh sambil melemparkan senjatanya dan diikuti oleh kawannya.

    Terlihat kedua orang itu seperti pasrah manakala kedua tangan mereka diikat kuat-kuat.

  4. lanjut…………

  5. Dan diujung malam itu, terlihat para perusuh telah di gelandang ke rumah kediaman Ki Demang Pasirian. Terlihat Ki Demang Pasirian dan para prajurit pengawal Kademangan ikut mengiringi.

    “Jangan sekali-kali berpikir untuk melarikan diri”, berkata Gajahmada kepada Jalakrumi yang terdiam manakala mereka diikat menjadi satu dan didudukkan di depan halaman rumah Ki Demang Pasirian.

    Nampaknya Jalakrumi dan seluruh anak buahnya masih berpikir bahwa yang telah melumpuhkan mereka adalah para warga Pasirian sendiri.

    “Aku tidak menyangka bahwa orang-orang Pasirian adalah orang-orang yang terlatih, terutama anak muda itu”, berkata Jalakrumi dalam hati sambil duduk ditanah bersama semua anak buahnya.

    Hingga akhirnya manakala pagi telah menjadi terang tanah, para tawanan itu terlihat kembali digelandang keluar dari Kademangan Pasirian. Nampaknya mereka tengah menuju Kadipaten Lamajang. Para prajurit pengawal Kademangan Pasian yang mengawal perjalanan mereka dibantu sekitar dua puluh orang Prajurit Majapahit yang menjaga hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dalam perjalanan mereka.

    Sementara itu Gajahmada dan seluruh prajuritnya telah ditarik kembali menghilang di persembunyian mereka, di hutan-hutan yang sangat lebat di sekitar Tanah Lamajang.

    Hingga dua pekan kemudian, mereka telah menemui kerusuhan yang lain di sebuah Kademangan yang lain di Tanah Lamajang itu. Namun sebagaimana di Kademangan Pasirian, Gajahmada bersama para prajuritnya telah dapat meredamkan kerusuhan itu, membawa banyak tawanan ke Kadipaten Lamajang.

    Sebagaimana di Tanah Lamajang, di sekitar Tanah Blambangan hingga ke Banyuwangi juga banyak terjadi tekanan kerusuhan yang nampaknya di kendalikan oleh orang-orang yang tidak menginginkan jalur perdagangan para pribumi menjadi tuan di tanahnya sendiri.

    Namun Mahesa Semu dan Adityawarman yang dibantu oleh para prajurit Majapahit yang sudah sangat perpengalaman di berbagai banyak pertempuran telah dapat melumpuhkan tekanan-tekanan dari para perusuh itu.

    Hingga akhirnya tekanan-tekanan itu beralih kepada gangguan di pergudangan Bandar pelabuhan yang dimiliki oleh para pribumi di Pasuruan, Banger dan Banyuwangi.

    Namun kembali Gajahmada, Mahesa Semu dan Adityawarman bersama para prajurit Majapahit dapat melumpuhkan para perusuh itu.

    “Dari semua kerusuhan ini, nampaknya berasal dari Kademangan Randu Agung”, berkata Gajahmada kepada beberapa orang perwiranya di sebuah malam ditempat persembunyian mereka.

    “Sudah saatnya kita mengarahkan kekuatan untuk membentur mereka di di pusat kekuatannya, di Kademangan Randu Agung”, berkata kembali Gajahmada kepada para perwiranya.

    “Kita belum tahu sampai dimana kekuatan mereka itu”, berkata seorang perwira mengingatkan Gajahmada.

  6. Sebagaimana pernah disinggung dalam sebuah pembicaraan antara Empu Nambi dan putranya Adipati Menak Koncar di istana Majapahit beberapa waktu yang lewat, Kademangan Randu Agung adalah bermula dari sebuah pemukiman kecil di pinggir hutan Randu Agung. Atas persetujuan Adipati Menak Koncar, Ki Randu Alam bersama para pengikutnya yang datang dari Tanah Sunginep telah membuka hutan Randu Agung itu untuk sebuah pemukiman baru.

    Ternyata Ki Randu Alam adalah seorang yang sangat gigih, dengan sangat cepat sekali telah berhasil mempengaruhi para pedagang di sepanjang pesisir timur Jawadwipa. Dengan pengaruhnya pula para pedagang dari Balidwipa telah menjalin kerja sama dengannya.

    Bersamaan dengan pengaruh jalur perdagangan di timur Jawadwipa yang telah berada di tangan Ki Randu Alam, pemukiman di pinggir hutan Randu Agung ikut pula berkembang menjadi sebuah pemukiman besar, sebagai tempat singgah berbagai macam jenis barang perdagangan seperti kapas, kemenyan dan berbagai barang hasil hutan lainnya.

    Perlahan tapi pasti, pemukiman baru itu telah berubah menjadi sebuah Kademangan baru bernama Kademangan Randu Agung.
    Ki Randu Alam memang bukan seorang Demang, namun rumah kediamannya lebih besar dari rumah seorang demang, bahkan lebih besar dan megah dari tempat kediaman seorang Adipati sekalipun.

    Dan hari itu adalah genab dua pekan Gajahmada dan Supo Mandagri berada di Kademangan Randu Agung untuk dapat mengamati lebih dekat lagi sepak terjang dari Ki Randu Alam yang di curigai berada dibelakang semua rencana yang dianggap akan merusak sebuah kemapanan di bumi Majapahit itu.

    Di hari pasaran, Gajahmada dan Supo Mandagri menyamar sebagai pedagang keris dan batu aji. Di hari lainnya mereka berdua tetap tinggal disekitar Kademangan Randu Agung. Para penduduk setempat memang tidak mencurigai keberadaan mereka berdua, karena beberapa pedagang lainya juga banyak yang cukup lama menetap di Kademangan Randu Agung sebagaimana mereka berdua.

    “Sebuah rumah yang sangat megah, lebih besar dari rumah Adipati Menak Koncar”, berkata Supo Mandagri kepada Gajahmada ketika mereka berdua berjalan di muka kediaman Ki Randu Alam.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Supo Mandagri, rumah kediaman Ki Randu Alam memang terlihat sangat besar dan megah. Halaman mukanya sangat luas sekali dimana di muka regolnya ada sebuah gardu jaga yang selalu ramai di penuhi sekitar lima sampai enam orang penjaga.

    “Selama tinggal di Lamajang, kamu tidak pernah pergi kemana-mana ?”, bertanya Gajahmada kepada Supo Mandagri.

    Namun belum sempat Supo Mandagri menjawab pertanyaan Gajahmada, seorang penjaga terlihat keluar dari gardu jaganya. Pada saat itu Gajahmada dan Supo Mandagri baru saja melewati pintu gerbang rumah Ki Randu Alam yang sangat luas itu.

    “Berhenti dan kemarilah kalian berdua”, berkata penjaga itu memanggil Gajahmada dan Supo Mandagri.

  7. Sekejap Gajahmada dan Supo Mandagri cukup terkejut mendengar panggilan penjaga itu. Mereka memastikan tidak ada seorangpu disitu selain mereka berdua.

    “Apakah yang Kisanak maksudkan adalah kami berdua ?”, berkata Gajahmada yang telah berhenti dan membalikkan badannya kearah penjaga itu.

    “Benar, kalianlah yang kami maksudkan”, berkata penjaga itu bergaya seperti seorang tuan besar kepada Gajahmada dan Supo Mandagri.

    “Ada keperluan apakah Kisanak kepada kami berdua?”, berkata Gajahmada kepada penjaga itu setelah berjalan menghampirinya.

    “Bukankah kalian berdua para pedagang keris dan batu aji di pasar Kademangan?”, berkata penjaga itu kepada Gajahmada.

    “Kisanak benar, kami memang pedagang keris dan batu aji”, berkata Gajahmada kepada penjaga itu.

    “Kami ingin melihat barang dagangan kalian, siapa tahu ada keris dan batu aji yang berminat di hati”, berkata penjaga itu kepada Gajahmada dan Supo Mandagri.

    “Sayang sekali kami tidak membawa barang dagangan, namun bila kisanak mau menunggu, kami akan mengambilnya di rumah tempat kami menginap”, berkata Gajahmada penuh keramahan kepada penjaga itu.

    “Pergi dan kembalilah dengan membawa barang daganganmu itu”, berkata kembali penjaga itu masih bergaya seorang tuan besar kepada Gajahmada.

    “Tunggulah, kami akan datang kembali”, berkata Gajahmada kepada penjaga itu sambil menggamit tangan Supo Mandagri.

    Maka tidak lama berselang, terlihat Gajahmada dan Supo Mandagri sudah datang kembali langsung ke gardu penjaga di muka regol pintu rumah kediaman Ki Randu Alam itu.

    “keris kami pembuatannya sangat halus, batu aji kami juga adalah batu-batu pilihan yang kami dapatkan dari berbagai tempat, bahkan ada yang kami dapatkan berasal dari tanah Gurun”, berkata Gajahmada seorang penjaga yang tadi memanggil mereka sambil menggelar dagangannya di muka gardu jaga rumah kediaman Ki Randu Alam.

    Ternyata kawan penjaga itu menjadi ikut tertarik, mereka semua terlihat keluar dari gardu jaga untuk melihat berbagai macam keris dan batu aji yang di bawa oleh Gajahmada dan Supo Mandagri.

    “Bukankah ini batu panca warna?”, berkata salah seorang penjaga yang sangat tertarik dengan salah satu batu aji yang di bawa Gajahmada.

    “Benar, batu itu adalah panca warna yang berasal dari sebuah tempat di Tanah Pasundan. Prabu Guru Darmasiksa kabarnya memakai batu jenis ini ditangannya”, berkata Gajahmada membenarkan perkataan penjaga itu yang tengah mencermati sebuah batu di tangannya.

  8. Batu Panca warna dimikiki oleh Prabu Guru Darmasiksa ?, bisa-bisaan Gajahmada saja membual, hehehe

    • bacan?

      • bacam

        • Pancawarna van Garut atau
          mbacan ngGarut…….???

  9. solar..

  10. Mkcieh ki sandikala 🙂

  11. Mendengar perkataan Gajahmada, seorang penjaga yang tengah memperhatikan sebuah batu aji terlihat menatap dalam-dalam kearah Gajahmada.

    “kamu pernah ke Tanah Pasundan ?”, bertanya penjaga itu kepada Gajahmada

    “Sewaktu kecil aku suka dibawa oleh ayahku berdagang hingga ke Tanah Pasundan?”, berkata Gajahmada sambil tersenyum.

    “Tunggulah kamu disini, aku akan mencoba menawarkan daganganmu ini kepada Ki Randu Alam, kudengar dirinya sangat menggemari batu aji”, berkata penjaga itu yang langsung berjalan kearah pendapa rumah Ki Randu Alam.

    Berdebar rasa hati Gajahmada mendengar bahwa penjaga itu akan menawarkan barang dagangannya kepada Ki Randu Alam.

    “Tamat sudah penyamaranku”, berkata Gajahmada dalam hati dengan perasaan dan pikiran tidak menentu dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

    Sementara itu beberapa penjaga yang lainnya masih sibuk melihat-lihat keris dan batu aji yang dibawanya.

    “Bila tuan kami membeli barang daganganmu, jangan lupakan kami”, berkata salah seorang penjaga kepada Gajahmada.

    Mendengar perkataan penjaga itu, Gajahmada tidak menjawab apapun, hanya tersenyum kepada penjaga itu sebagai pertanda dirinya dapat mengerti kemana arah pembicaraan penjaga itu.

    Dibenak lain Gajahmada masih memikirkan tentang Ki Randu Alam yang sudah pasti akan mengenal jati dirinya karena mereka pernah bertemu dan bertempur beberapa waktu yang telah lewat di sekitar Kademangan Simoang.

    Hati Gajahmada semakin berdebar-debar manakala melihat seorang penjaga datang dari arah pendapa rumah Ki Randu Alam.

    “Ki Randu Alam berkenan untuk melihat barang daganganmu”, berkata penjaga itu kepada Gajahmada setelah dekat di gardu Jaga.
    Tidak ada kesempatan apapun bagi Gajahmada untuk menolak. Pikirannya telah pasrah menerima apapun yang akan terjadi.

    “Supo Mandagri, ikutlah bersamaku”berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri.

    Sebagai seorang yang telah mengenal Gajahmada, nampaknya Supo Mandagri dapat membaca ketegangan hati sahabatnya itu. Tanpa berkata apapun Supo Mandagri telah membantu Gajahmada mengumpulkan barang dagangannya.

    “Jangan jauh-jauh dariku”, berbisik Gajahmada kepada Supo Mandagri yang telah berjalan disisinya.

    • hwedeh kok nanggung amat…..????
      Pak Dhalang…..jangan bikin sakaw dong…..

  12. Suwun Ki

  13. Halaman rumah Ki Randu Akam memang cukup luas, terlihat Gajahmada dan Supo Mandagri berjakan mengikuti seorang penjaga di depan mereka.

    Sementara itu hati dan perasaan Gajahmada semakin berdebar debarm, membayangkan apa yang akan terjadi bila Ki Randu Alam masih mengenalinya.

    “Naiklah keatas, aku ingin melihat barang yang kalian punya”, berkata Ki Randu Alam manakala mereka telah berada di bawah panggung pendapa.

    “Orang tua itu nampaknya belum jelas melihatku”, berkata Gajahmada dalam hati yang mulai menapaki anak tangga panggung pendapa Ki Randu Alam.

    “Orang tua ini benar-benar tidak mengenaliku”, berkata kembali Gajahmada manakala telah berada diatas panggung pendapa bertatap muka dengan Ki Randu Alam.

    Sambil menggelar barang dagangannya, Gajahmada merasa heran sekali bahwa Ki Randu Alam atau yang dikenalnya bernama Ki Arya Wiraraja itu benar-benar tidak mengenalnya dimana mereka pernah beradu tangan bertempur di sekitar Kademangan Simpang beberapa waktu yang telah lewat manakala Gajahmada tengah bertugas mengiringi keluarga kerajaan Majapahit berkunjung ke Kotaraja Singasari.

    “Kerismu sangat halus pembuatannya”, berkata Ki Randu Alam kepada Gajahmada sambil mengamat ukiran dan lekuk keris yang dihiasi oleh beberapa batu permata.

    “Apakah orang tua ini sudah menjadi pikun ?”, berkata Gajahmada dalam hati yang diam-diam mengamati wajah Ki Randu Alam yang diyakini adalah orang yang sama, yang dikenalnya bernama Ki Arya Wiraraja itu. Seorang lelaki yang sudah putih seluruh rambut, kumis dan janggutnya yang berjurai panjang. Namun masih memiliki tubuh yang tegap dan sangat kekar sebagai pertanda selalu berlatih olah kanuragan.

    Pada saat itu Gajahmada dan Supo Mandagri duduk menyamping di dekat Ki Randu Alam yang duduk menghadap kearah halaman pendapanya.

    “Batu hijau dari tanah Gurun”, berkata Ki Randu Alam sambil menerawang sebuah batu ditangannya.

    “Ternyata Ki Randu Alam sangat ahli mengenal berbagai jenis batu aji”, berkata Gajahmada yang mulai merasa tenang, meyakini bahwa orang tua itu nampaknya tidak mengenalnya, atau telah melupakan wajahnya.

    Namun kembali hati dan perasaan anak muda itu berdebar kencang manakala dilihatnya seorang lelaki tua yang lain bersama seorang lelaki muda berjalan di halaman tengah menuju kearah pendapa.

    Ternyata Supo Mandagri ikut melirik dua orang yang tengah berjalan mendekati arah panggung pendapa.

    Terlihat Gajahmada dan Supo Mandagri saling beradu pandang manakala kedua orang itu sudah semakin mendekati anak tangga pendapa kediaman Ki Randu Alam.

  14. Nampaknya Supo Mandagri telah mengenali seorang lelaki tua yang telah melangkahkan kakinya di anak tangga panggung pendapa itu. Sementara Gajahmada bukan hanya mengenali lelaki tua itu saja, bahkan anak muda yang berada dibelakangnya sudah dikenal oleh Gajahmada.

    Perasaan Gajahmada dan Supo Mandagri memang menjadi sangat ketar ketir berdebar tidak keruan melihat kedua orang itu sudah berada diatas panggung pendapa kediaman Ki Randu Alam itu.

    “Tamatlah sudah penyamaranku”, berkata Gajahmada dalam hati.
    Apa yang dikhawatirkan oleh Gajahmada ternyata akhirnya memang menjadi kenyataan manakala dirinya dan lelaki tua itu telah beradu pandang dengannya.

    Terlihat lelaki tua itu seperti terkejut menatap wajah Gajahmada.
    “Ki Randu Alam, kedua orang itu adalah mata-mata musuh”, berkata lelaki tua itu sambil tangannya menunjuk kearah Supo Mandagri dan Gajahmada.

    Namun bersamaan dengan perkataan lelaki tua itu, Gajahmada dan Supo Mandagri sudah berdiri mundur beberapa langkah menjauhi Ki Randu Alam.

    “Ki Ajar Pelandongan, katakan siapa kedua anak muda ini”, berkata Ki Randu Alam kepada lelaki tua yang baru datang itu yang ternyata adalah Ki Ajar Pelandongan.

    “Aku pernah bertemu dengan mereka di sekitar hutan Kemiri, seorang diantara mereka memakai pertanda prajurit Majapahit”, berkata Ki Ajar Pelandongan kepada Ki Randu Alam.

    “kami juga pernah bertemu dengan orang itu disekitar pesisir Tuban”, berkata seorang anak muda didekat Ki Ajar Pelandongan yang ternyata adalah Kuda Anjampiani sambil menunjuk kearah Gajahmada.

    “Anak muda, benarkah apa yang dikatakan oleh mereka?”, bertanya Ki Randu Alam mengarahkan tatapan matanya yang begitu tajam kepada Gajahmada.

    Nampaknya Gajahmada sudah merasa terlanjur basah, tidak mungkin lagi dapat menutupi penyamarannya dan telah bersiap diri untuk menghadapi apapun yang terjadi.

    “Apa yang mereka katakan memang benar, aku adalah seorang prajurit Majapahit”, berkata Gajahmada dengan suara penuh ketenangan diri.

    “Terlalu berani masuk ke tempat kediamanku, dan kalian akan menerima ganjaran yang sesuai”, berkata Ki Randu Alam kepada Gajahmada dan Supo Mandagri.

    “kami bukan orang yang lemah, cobalah untuk menangkap kami”, berkata Gajahmada sambil memberi tanda kepada Supo Mandagri untuk melompat lewat pagar kayu pendapa.

    Terlihat dengat sangat cepat dan ringan sekali Gajahmada telah melesat melewati pagar kayu pendapa diikuti oleh Supo Mandagri di belakangnya.

  15. Namun begitu Gajhamada dan Supo Mandagri menjejakkan kakinya di halaman rumah Ki Randu Alam yang sangat luas itu, terlihat Ki randu Alam seperti terbang melenting dengan sangat cepat sekali malampau tubuh kedua anak muda itu.

    “Tutup gerbang, jangan biarkan keduanya keluar”, berkata Ki Randu Alam memberi perintah kepada para penjaga.

    Ternyata suara Ki Randu Alam telah terdengar oleh orang-orangnya yang berada di pondok-pondok di samping bangunan utama, terlihat mereka langsung keluar mendekati halaman muka.

    Dalam waktu yang amat singkat, Gajahmada dan Supo Mandagri telah terkepung ditengah halaman yang cukup luas itu tanpa sebuah senjata apapun di tangan mereka.

    “Jangan menjauh dariku”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri.

    “Tangkap mereka !”, berkata Ki Randu Alam memerintahkan orang-orangnya.

    Ada sekitar dua belas orang dengan berbagai jenis senjata telah mulai bergerak mendekati Gajahmada dan Supo Mandagri.

    Maka tidak lama berselang, Gajahmada dan Supo Mandagri sudah harus melayani serangan orang-orangnya Ki Randu Alam.
    Tidak sulit bagi Gajahmada menghadapi orang-orang itu, tapi pikirannya saat itu terpecah oleh kekhawatirannya atas diri Supo Mandagri.

    Sambil bertahan Gajahmada sempat melirik kearah Supo Mandagri yang juga tengah menghadapi lawan-lawannya.

    “Aku harus segera mengurangi jumlah mereka”, berkata Gajahmada dalam hati yang melihat Supo Mandagri cukup kewalahan mengahadapi beberapa orang tanpa senjata.

    Berpikir seperti itu terlihat Gajahmada telah meningkatkan kemampuannya, telah bergerak dengan sangat cepat sekali.
    Luar biasa tandang Gajahmada itu, tiga orang lawannya terlihat terpental terkena terjangan kaki dan tangannya.

    Apa yang dilakukan oleh Gajahmada tidak luput dari perhaian Ki Randu Alam.

    “Luar biasa anak muda itu”, berkata Ki Randu Alam dalam hati sambil terus mengamati jalannya pertempuran.

    Belum habis ucapan Ki Randu Alam, empat orangnya telah kembali bergelimpangan terkena sapuan terjangan Gajahmada.

    “Anak muda ini adalah bagianku”, berkata Ki Randu Alam sambil berjalan mendekati Gajahmada.

    • Suwun….
      Tapi adzan Isya sudah mengumandang.
      Baca nanti nggih

  16. Mendengar perkataan Ki Randu Alam, beberapa orang telah menyingkir dari hadapan Gajahmada dan langsung berpindah kearah Supo Mandagri.

    “Akulah yang pantas menghadapimu, anak muda”, berkata Ki Randu Alam sambil langsung menerjang lewat tendangan kakinya yang terlihat sangat cepat penuh dengan kekuatan tenaga penuh.

    Bukan main terkejutnya Gajahmada menghadapi serangan itu, tidak ada jalan lain selain meningkatkan tataran ilmunya.

    “Aku seperti tidak melihat Ki Randu Alam yang kukenal beberapa waktu yang lalu”, berkata Gajahmada sambil terus melayani serangan Ki randu Alam.

    Sambil bertempur, Gajahmada menjadi terheran-heran melihat jurus-jurus dasar kanuragan yang dimiliki oleh Ki Randu Alam sangat berbeda sekali gerakannya ketika mereka bertempur di sekitar hutan Simpang.

    “Apakah dalam pertempuran beberapa waktu yang lalu itu, dia berpura-pura mengalah ?”, bertanya dalam hati Gajahmada yang merasakan kemampuan tataran Ki Randu Alam jauh lebih dahsyat dari sebelumnya.

    Akhirnya Gajahmada tidak sempat berpikir apapun, juga memikirkan keadaan Supo Mandagri. Serangan Ki Randu Alam yang sangat kuat, keras dan sangat cepat itu telah membuat Gajahmada tidak sempat berpikir apapun selain dengan segala daya dan kemampuannya berusaha keluar dari sergapan dan serangan Ki Randu Alam yang sangat berbahaya. Sedikit saja kelengahan akan berdampak buruk bagi dirinya.

    Gajahmada dan Ki Randu Alam telah bertempur layaknya dua naga kanuragan yang telah melambari diri masing-masing dengan tenaga sakti sejatinya. Arena pertempuran keduanya sudah seperti bekas putaran angin puting beliung menyisakan debu tanah dan rumput kering yang terhambur beterbangan.

    Sementara itu Ki Ajar Pelandongan yang berada di luar pertempuran masih berdiri mengamati lakannya pertempuran antara Gajahmada dan Ki Randu Alam.

    Sebagai seorang yang pernah dikalahkan oleh Gajahmada, terlihat Ki Ajar Pelandongan merasa sedikit cemas meragukan Ki Randu Alam dapat melumpuhkan anak muda yang diketahuinya memiliki ilmu kesaktian yang amat tinggi itu.

    “Kita coba lumpuhkan anak muda itu dengan cara kita sendiri”, berkata Ki Ajar Pelandongan kepada Kuda Anjampiani.

    Ternyata Ki Ajar Pelandongan yang punya segudang akal liciknya itu telah berjalan bersama Kuda Anjampiani menuju ke arah Supo Mandagri yang tengah menghadapi lawan-lawannya. Dan dua orang guru dan murid itu telah terjun langsung ikut mengeroyok Supo Mandagri.

    Kasihan sekali anak muda itu, tanpa senjata menghadapi beberapa orang lawannya yang lengkap bersenjata telah membuatnya begitu kewalahan.

  17. Dan Supo Mandagri sudah menjadi bulan-bulanan mereka manakala Ki Ajar Pelandongan fan Kuda Anjampiani ikut mengeroyoknya.

    Kehadiran Ki Ajar Pelandongan dan Kuda Anjampiani dalam pertempuran Supo Mandagri masih sempat dilihat oleh Gajahmada.

    Namun Gajahmada tidak mampu berbuat apapun karena terikat pertempuran dengan Ki Randu Alam yang dirasakannya semakin gencar dengan serangan pukulan yang bergulung-gulung dipenuhi angin tenaga sakti hawa panas yang dapat membakar kulit tubuhnya.

    Bukan Gajahmada bila tidak mampu menghadapi serangan Ki Randu Alam, anak muda putra pendeta Agung Dharmaraya yang telah memiliki bermacam-macam ajian ilmu kesaktian itu telah melambari dirinya dengan tameng ajian yang setara dengan ilmu kekebalan lembu sekilan. Serangan angin pukulan Ki Randu Alam yang panas laksana lahar gunung berapi itu kais begitu saja di tubuh Gajahmada, bahkan Gajahmada masih sempat berbalas serangan tidak kalah dahsyatnya, bergulung-gulung bagai badai dingin gunung salju keluar dari angin pukulan dan angin tendangannya yang datang seperti mengejar Ki Randu Alam.

    Diam-diam Ki Randu Alam mengakui kemampuan ilmu yang dimiliki oleh anak muda itu, hanya dengan ilmu mereingankan tubuhnya saja dirinya mampu dapat bergerak menghindari angin serangan Gajahmada yang dirasakan sungguh sangat dahsyat itu. Meski sudah dapat keluar dari terjangan Gajahmada, tidak luput merasakan kulit tubuhnya seperti tersengat hawa dingin yang sangat menyakitkan.

    Terkesiap wajah orang yang dipanggil sebagai Ki Randu Alam itu manakala merasakan kulitnya perih. Sebagai seorang yang punya banyak pengalaman bertempur, dirinya mengakui bahwa tataran kekuatan inti sejatinya masih dibawah tataran lawannya.

    Tapi Ki Randu Alam benar-benar seorang yang tangguh, tidak mudah menyerah dan terus mencari kelengahan lawannya.
    Pertempuran dua naga kanuragan itupun terlihat semakin seru dan sangat menegangkan sekali.

    Dalam serang dan balas menyerang itu, akhirnya Gajahmada telah dapat meyakini bahwa Ki Randu Alam selalu menghindari serangannya jauh-jauh, bagi Gajahmada menjadi sebuah ukuran bahwa angin serangannya telah mampu menembus tataran pertahanan lawan.

    “Aku akan membuat tekanan lebih gencar lagi”, berkata Gajahmada dalam hati sambil bergerak lebih cepat dan dengan kekuatan lebih berlipat-lipat.

    “Gila kekuatan anak muda ini”, berkata Ki Randu Alam dalam hati merasakan angin dingin serangan Gajahmada telah kembali menembus daya pertahannya meski dirinya telah mencoba bergeser lebih jauh lagi.

    Serangan yang terus menerus perlahan tapi pasti telah menjadikan tenaga Ki Randu Alam semakin terkuras, semakin menyusut.

  18. Namun gelar kemenangan Gajahmada yang sudah berada diatas angin itu tiba-tiba saja berubah arah.

    Bergetar tubuh Gajahmada menahan rasa kemarahannya manakala mendengar suara Ki Ajar Pelandongan di pinggir pertempurannya.

    “Menyerahlah, nyawa kawanmu sudah berada di tangan kami”, berteriak Ki Ajar Pelandongan tertuju kearah Gajahmada.

    Terlihat Gajahmada langsung melenting beberapa langkah kebelakang tidak jadi melanjutkan serangannya.

    “Apa arti selembar nyawa kawanmu untuk kami”, berkata kembali Ki Ajar Pelandongan kepada Gajahmada yang hanya berdiri mematung tidak tahu apa yang harus dilakukannya melihat sahabatnya berdiri dengan dua lututnya dengan tubuh penuh bercucuran banyak darah. Sementara itu sebuah keris tajam ditangan Kuda Anjampiani menempel di kulit lehernya.

    “Jangan hiraukan nyawaku, wahai sahabat. Tumpaslah mereka semuanya”, berkata Supo Mandagri dengan suara lantang penuh keberanian.

    Terlihat Gajahmada seperti sebuah arca hidup menatap penuh iba wajah sahabatnya itu.

    “Nyawa sahabatmu ini berada ditanganku”, berkata Kuda Anjampiani dengan senyum penuh kemenangan sambil menarik rambut Supo Mandagri yang sudah tidak berdaya itu. Sementara keris ditangannya semakin melekat d kulit batang leher Supo Mandagri.

    “Mereka mengancammu karena merasa tidak dapat mengalahkanmu, jangan hiraukan selembar nyawaku ini. Bunuh dua orang manusia licik ini untukku agar dikehidupam selanjutnya mereka akan menjadi dua ekor tikus cecurut yang sangat bau, selalu dikejar-kejar orang untuk dibunuh”, berkata Supo Mandagri tanpa rasa takut sedikitpun, meski dibawah ancaman keris Kuda Anjampiani yang menempel semakin ketat di kulit lehernya.

    Terlihat Gajahmada masih terpaku berdiri.

    “Akulah yang paling merasa bersalah bila nyawa anak itu berakhir disini, akulah yang membawanya, dan aku tidak akan membiarkan dirinya mati muda di tempat ini”, berkata Gajahmada dalam hatinya merasa bersalah bila Supo Mandagri berkorban nyawa di tempat itu. “Kupasrahkan diriku kepadamu, wahai Gusti Yang Maha Agung, pemilik kehidupan ini”, berkata kembali Gajahmada membathin memasrahkan dirinya kepada kehendak dan garis langkah hidupnya di hadapan Sang Penguasa Jagad Alam Raya ini.

    Membathin seperti itu telah membuat perasaan dan ketenangan di wajah Gajahmada seperti hidup kembali.

    “Aku menyerah, jangan ambil nyawa sahabatku itu”, berkata Gajahmada dengan wajah tegar.

    Mendengar keputusan Gajahmada telah membuat diri Ki Ajar Pelandongan merasa berada diatas angin, berharap Ki Randu Alam memuji caranya menaklukkan anak muda yang berilmu sangat tinggi itu.

  19. Namun gelar kemenangan Gajahmada yang sudah berada diatas angin itu tiba-tiba saja berubah arah.

    Bergetar tubuh Gajahmada menahan rasa kemarahannya manakala mendengar suara Ki Ajar Pelandongan di pinggir pertempurannya.

    “Menyerahlah, nyawa kawanmu sudah berada di tangan kami”, berteriak Ki Ajar Pelandongan tertuju kearah Gajahmada.

    Terlihat Gajahmada langsung melenting beberapa langkah kebelakang tidak jadi melanjutkan serangannya.

    “Apa arti selembar nyawa kawanmu untuk kami”, berkata kembali Ki Ajar Pelandongan kepada Gajahmada yang hanya berdiri mematung tidak tahu apa yang harus dilakukannya melihat sahabatnya berdiri dengan dua lututnya dengan tubuh penuh bercucuran banyak darah.

    Sementara itu sebuah keris tajam ditangan Kuda Anjampiani menempel di kulit lehernya.

    “Jangan hiraukan nyawaku, wahai sahabat. Tumpaslah mereka semuanya”, berkata Supo Mandagri dengan suara lantang penuh keberanian.

    Terlihat Gajahmada seperti sebuah arca hidup menatap penuh iba wajah sahabatnya itu.

    “Nyawa sahabatmu ini berada ditanganku”, berkata Kuda Anjampiani dengan senyum penuh kemenangan sambil menarik rambut Supo Mandagri yang sudah tidak berdaya itu. Sementara keris ditangannya semakin melekat d kulit batang leher Supo Mandagri.

    “Mereka mengancammu karena merasa tidak dapat mengalahkanmu, jangan hiraukan selembar nyawaku ini. Bunuh dua orang manusia licik ini untukku agar dikehidupam selanjutnya mereka akan menjadi dua ekor tikus cecurut yang sangat bau, selalu dikejar-kejar orang untuk dibunuh”, berkata Supo Mandagri tanpa rasa takut sedikitpun, meski dibawah ancaman keris Kuda Anjampiani yang menempel semakin ketat di kulit lehernya.

    Terlihat Gajahmada masih terpaku berdiri.

    “Akulah yang paling merasa bersalah bila nyawa anak itu berakhir disini, akulah yang membawanya, dan aku tidak akan membiarkan dirinya mati muda di tempat ini”, berkata Gajahmada dalam hatinya merasa bersalah bila Supo Mandagri berkorban nyawa di tempat itu.

    “Kupasrahkan diriku kepadamu, wahai Gusti Yang Maha Agung, pemilik kehidupan ini”, berkata kembali Gajahmada membathin memasrahkan dirinya kepada kehendak dan garis langkah hidupnya di hadapan Sang Penguasa Jagad Alam Raya ini.

    Membathin seperti itu telah membuat perasaan dan ketenangan di wajah Gajahmada seperti hidup kembali.

    “Aku menyerah, jangan ambil nyawa sahabatku itu”, berkata Gajahmada dengan wajah tegar.

    Mendengar keputusan Gajahmada telah membuat diri Ki Ajar Pelandongan merasa berada diatas angin, berharap Ki Randu Alam memuji caranya menaklukkan anak muda yang berilmu sangat tinggi itu.

    Nampaknya bila ada pepatah tua yang mengatakan bahwa guru kencing berdiri, murid akan kencing berlari. Rupanya kelicikan hati sang guru telah menular kedalam diri Kuda Anjampiani.

    “Cepat kalian ikat kaki dan tangan orang itu”, berkata Kuda Anjampiani kepada beberapa orang merasa takut bila Gajahmada berubah pikiran.

    Terlihat beberapa orang telah mengikat kuat-kuat tangan dan kaki Gajahmada, setelah itu giliran Supo Mandagri yang sudah tidak berdaya penuh luka disekujur tubuhnya itu ikut diikat kaki dan tangannya.

    “Ikat keduanya di batang pohon randu”, berkata kembali Kuda Anjampiani kepada beberapa orang.

    Tanpa mengenal belas kasihan, terlihat Gajahmada dan Supo Mandagri diseret dari tengah halaman rumah Ki randu Alam hingga ke ujung pojok pagar halaman dimana sebuah pohon Randu tumbuh besar berdiri disana berjejer bersama dua buah pohon timbul yang mengapitnya.

    “kalian akan mati disini berdua, tanpa makan dan minum dibawah panas matahari dan dinginnya malam”, berkata Kuda Anjampiani dihadapan Gajahmada dan Supo Mandagri yang sudah terikat di batang pohon randu.

    Terlihat Gajahmada tidak membalas perkataan Kuda Anjampiani, hanya matanya saja memandang dengan sorot pandangan penuh kebencian.

    “Sorot matamu sebentar lagi akan menjadi surut, hingga akhirnya kamu akan mati perlahan-lahan. Akulah orang pertama yang akan mengabarkannya kepada kekasih hatimu itu, gadis yang sangat sombong itu, gadis yang paling bodoh di bumi ini. Dan aku akan merasa gembira melihat wajahnya yang cantik jelita basah dengan air mata penuh kesedihan”, berkata Kuda Anjampiani kepada Gajahmada yang tidak akan melupakan penghinaan Andini dalam sebuah peristiwa yang sudah lama berlalu yang terjadi di padepokan Nyi Ageng Nglirip di Tuban.

    Kembali Gajahmada tidak berkata apapun, dirinya menyadari bahwa anak muda itu hanya ingin mencoba menyiksa bathinnya.

    Melihat Gajahmada seperti tidak berpengaruh dengan semua perkataannya itu, telah membuat Kuda Anjampiani menjadi sangat kesal, hampir-hampir tangannya bergerak untuk ke wajah Gajahmada demi melampiaskan dendam sakit hatinya kepada anak muda itu yang telah mengalahkan pertarungan cintanya memperebutkan hati seorang wanita, biksuni Andini.

    “Aku tidak ingin kamu mati dengan cepat”, berkata Kuda Anjampiani sambil berjalan menjauhi Gajahmada dan Supo Mandagri diiringi suara tertawanya, suara tawa seorang yang berhati bengis penuh kelicikan.

    Manakala Kuda Anjampiani telah jauh meninggalkan mereka berdua yang terikat berlawanan arah terhalang disebatang pohon randu, Gajahmada mendengar suara lrih Supo Mandagri yang ditujukan kepadanya.

    “Ternyata kamu tidak sepenuh hati mengangkat aku sebagai saudaramu”, berkata lirih Supo Mandagri.

    • maaf, keenakan copas, ada doble kiriman yang sama, dipersori donk,,,,,,,,,,

      • dimaafkan…
        he he he …..
        kamsiaaa…………………

      • Suwun Ki

  20. Kamsiaaaaa Pak Dhalang…..diasyikin lagi dong…..
    Pak Satpam, senthonge wes sumpek…….ndan dibukakke sentong tengah to…….

  21. Mendengar perkataan Supo Mandagri telah membuat Gajahmada mengernyitkan keningnya pertanda tidak mengerti kemana arah pembicaraan sahabatnya itu.

    “Apa maksudmu berkata demikian ?”, bertanya Gajahmada kepada Supo Mandagri.

    “Hampir seluruh rahasiaku sudah kuceritakan kepadamu, sementara kamu sendiri masih menyimpan banyak rahasia kepadaku”, berkata Supo Mandagri dari balik batang pohon.

    “Rahasia apa yang kusembunyikan darimu ?”, bertanya kembali Gajahmada.

    “Tadi kudengar sendiri dari anak muda itu bahwa ternyata kamu punya seorang kekasih”, berkata Supo Mandagri kepada Gajahmada.”Layakkah diriku kamu anggap sebagai seorang saudara bila masih ada sesuatu yang kamu sembunyikan ?”, berkata kembali Supo Mandagri.

    Mendengar perkataan Supo Mandagri telah membuat Gajahmada tersenyum sendirian.

    “Pada saatnya aku akan bercerita kepadamu”, berkata Gajahmada sambil tersenyum dan berpikir bahwa luka pada diri sahabatnya itu tidak membahayakan dirinya, buktinya masih dapat berkata dan berpikir tentang apa yang dikatakan oleh Kuda Anjampiani.

    “Kapan saatnya, sebentar lagi aku akan mati”, berkata Supo Mandagri seperti tengah mengancam.

    “Kamu tidak akan mati hari ini”, berkata Gajahmada sambil tersenyum.

    “Mengapa kamu dapat memastikan aku tidak akan mati hari ini ?”, bertanya Supo Mandagri.

    “Bukankah kamu pernah berkata kepadaku, bahwa kamu tidak ingin mati sebelum dapat berkarya membuat sebuah keris pusaka senilai keris Nagasasra ?”, berkata Gajahmada.

    “Kamu benar, masih banyak yang ingin kupelajari dari Empu Nambi, cucunda Empu Bharada itu”, berkata Supo Mandagri.

    Nampaknya setelah berkata, Supo Mandagri asyik sekali dengan lamunan dan bayangan pikirannya sendiri.

    Suasana di pojok halaman rumah Ki Randu Alam seketika menjadi hening, tidak ada perkataan apapun dari Supo Mandagri.

    Terlihat Gajahmada mengernyitkan keningnya, merasa khawatir terjadi sesuatu pada diri Supo Mandagri yang lama terdiam.

    “Supo Mandagri, katakan bagaimana dengan lukamu”, bertanya Gajahmada kepada Supo Mandagri.

    “Luka di beberapa tubuhku sudah mulai mengering, tapi aku belum merasa yakin apakah aku masih dapat berjalan sendiri”, berkata Supo Mandagri menjawab pertanyaan Gajahmada.

    Sementara itu cakrawala langit senja sudah mulai semakin redup menatap sang surya yang bersembunyi dan mengintip di ujung barat bumi.

  22. bagaimana nasib dua anak muda itu yang masih terikat di sebatang pohon Randu ?

    harap tenang, Gajahmada muda so pasti bakal selamat, sejatah hidupnya masih sangat panjang sebagaimana Supo Mandagri yang akan menjadi seorang Empu keris yang mumpuni di Majapahit, hehehe

    Siapa gerangan yang akan menyelamatkan mereka berdua ??

    • Ra Gembleh sudah hampir turun gunung menyelamatkan mereka berdua, akan tetapi sudah keduluan tokoh lain.
      Siapakah tokoh lain itu……???
      Harap sabar, pada saatnya Pak Dhalang akan menjlentrehkan semuanya.

      • Kamsssiiaaa…!

  23. Nanggung Ki Dalang, …… Bagaiman airnya sudah pergijauh

    • alhamdulillah, sudah kalis pergi jauh, tapi….imlek biasanya banyak hujan, sayang pawang kita Kangmas Gembleh cuma bisa nahan hujan di sekirat semarang saja…..xixixixi

      • Semarang kaline banjir
        Aja sumelang yen dipikir

  24. ditunggu lanjutannya ki.. salam

  25. Hup….., baru sempat tengok padeppokan.
    He he he …, dua rontal lagi bisa menutup gandok kiri.

    kamsiaa………………….

  26. Kadingaren ya preinan kok Pak Dhalang ora ngglontori rontal…..???

  27. Malam semakin membisu, sepi dan hening.

    Dipojok halaman Rumah Ki Randu Alam, dua orang tawanan masih terikat di sebatang pohon randu. Tanpa penerangan apapun mereka berdua diperlakukan seperti layaknya dua binatang buruan.

    “Supo Mandagri, bagaimana keadaanmu saat ini”, berbisik Gajahmada kepada sahabatnya itu.

    “Sekujur tubuhku masih terasa ngilu dan perih”, menjawab Supo Mandagri dengan suara berbisik pula.

    “Disaat kentongan dara muluk terdengar, kita akan pergi melarikan diri”, berbisik kembali Gajahmada kepada sahabatnya itu.

    Supo Mandagri tidak berkata apapun, sebagai seorang yang sudah mengenal siapa Gajahmada, dirinya sangat percaya bahwa sahabatnya itu pasti dapat dengan mudah melepaskan diri dari tali ikatan apapun.

    Sebagaimana yang diyakini oleh Supo Mandagri, memang tidak ada kesulitan apapun bagi Gajahmada untuk melepaskan diri. Namun nampaknya anak muda itu tengah mencari waktu yang tepat, yaitu disaat wayah tengah malam dimana tidak seorangpun akan menyadari bahwa tawanan mereka telah pergi jauh.

    Demikianlah, manakala terdengar sayup-sayup suara kentongan nada dara muluk terdengar jauh dari beberapa Padukuhan terdekat, Gajahmada kembali berbisik kepada Supo Mandagri untuk bersiap-siap diri.

    Tali pengikat mereka memang sangat kuat sekali, berasal dari bahan kulit rotan yang dirangkap. Namun untuk seorang seperti Gajahmada yang punya kesaktian ilmu sangat tinggi bukan sebuah hal yang sangat sulit, rantai waja sekalipun pasti dapat dilepaskannya oleh anak muda itu yang mempunyai tenaga dua puluh kali lipat kekuatan seekor banteng jantan yang sangat besar.

    Namun baru saja Gajahmada bermaksud untuk menghentakkan tali yang mengikat tangannya, tiba-tiba saja pendengarannya yang amat peka dan terlatih itu telah mendengar suara langkah kaki yang tengah mendekati pojok didinding pagar halaman Ki Randu Alam.

    “Ada orang datang mendekat”, berbisik Gajahmada kepada Supo Mandagri yang telah mengurungkan keinginannya memutuskan tali ikatan mereka.

    Mendengar perkataan Gajahmada telah membuat diri Supo Mandagri berdebar-debar, pikirannya berusaha meraba-raba siapa gerangan orang di balik dinding itu yang tengah mendekati mereka.

    “Yang pasti bukan orangnya Ki randu Alam”, berkata Supo Mandagri dalam hati.

    Ternyata pikran Gajahmada sejalan dengan pikiran Supo Mandagri, merasa yakin bahwa orang yang semakin mendekati dinding pojok halaman itu pastinya bukan orangnya Ki randu Alam.

    Terlihat Gajahmada menarik nafasnya dalam-dalam manakala matanya melihat seorang dikegelapan malam itu telah hinggap diatas dinding pagar halaman Ki Randu Alam.

    • Huwaduuuuhhh…..nanggung amat Pak Dhalang…..
      Kammssssiiiiiiaaaaaa……….

      • Bukan nanggung
        Ki, tapi super nanggung

  28. Tatapan mata Gajahmada seperti terus melekat kepada orang yang tengah mengendap diatas dinding pagar halaman Ki Randu Alam.

    Sementara itu seluruh kekuatan tenaga sakti sejatinya telah disalurkan di kedua tangannya agar setiap saat dapat dihentakkan memutuskan tali temali yang mengikat tangan dan tubuhnya.

    Namun Gajahmada tidak melakukan apapun manakala orang itu telah melompat dan berdiri dengan tatapan mata penuh persahabatan.

    “Kita bertemu lagi, wahai orang muda”, berkata orang itu dengan suara perlahan.

    Terbelalak mata Gajahmada seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

    “Aku bukan Ki Randu Alam yang kamu temui tadi siang”, berkata orang itu seperti dapat membaca arah pikiran Gajahmada.

    Ternyata Gajahmada memang melihat wajah orang itu sangat mirip sekali dengan Ki Randu Alam yang ditemuinya tadi siang. Namun sikap dan perlakuannya sangat berbeda sekali dimana orang yang ditemui Gajahmada saat itu terlihat sangat bersahabat.

    Belum lepas rasa heran di dalam diri Gajahmada, orang itu sudah mengeluarkan sangkur pendeknya.

    “Aku tahu kamu dapat melepaskan diri sendiri, tapi biarlah sangkur pendek tuaku yang akan memutuskan tali temali ini”, berkata orang itu sambil memutuskan tali temali yang tubuh dan tangan Gajahmada dan Supo Mandagri.

    “Apakah aku berhadapan dengan Ki Arya Wiraraja ?”, berkata Gajahamada kepada orang itu.

    “Nampaknya kawanmu ini harus dibantu berjalan, mari kita keluar dari tempat ini”, berkata orang itu tanpa menghiraukan pertanyaan Gajahmada langsung melompat dan mengendap diatas dinding pagar sambil memberi tanda kepada Gajahmada untuk mengikutinya.

    “Lukamu sangat parah”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri yang dilihatnya tidak mampu berdiri dan langsung memanggulnya.

    Melihat Gajahmada telah memanggul sahabatnya itu, orang itupun sudah bergerak turun melompat tanpa suara dan merapat di dinding pagar bagian luar seperti bersatu denga kegelapan malam.

    Nampaknya Gajahmada tahu apa yang diinginkan orang itu telah langsung mengikutinya melompati pagar sambil memanggul tubuh Supo Mandagri.

    Sebagaimana orang itu, terlihat Gajahmada juga merapat di dinding luar halaman seperti menyatu tersamar di kegelapan malam.

    Manakala meyakini tidak seorangpun melihat keberadaan mereka, terlihat orang itu telah melesat berlari di kegelapan malam.

    Di kegelapan malam mereka terus berlari keluar dari Kademangan Randu Agung.

    • Apakah Ki Arya Wiraraja sedang bermain sandiwara….???
      Hanya Pak Dhalang yang tau jawabannya……..
      Kamsssiiiiiiaaaaaaaaaaa………….

      • Betul betul betul ….
        He he he ….
        Kamsia……..!!!!!

  29. Entah mengapa Gajahmada begitu percaya dengan orang itu dan terus mengiringinya berlari dibelakangnya.

    Arah langkah kaki orang itu ternyata menuju hutan Randu Agung.
    Sambil memanggul tubuh Supo Mandagri, terlihat Gajahmada bersama orang itu telah memasuki hutan Randu Agung.

    Hari saat itu masih diujung malam, terlihat mereka seperti tenggelam hilang di kelelapan hutan Randu Agung yang lebat.

    Gajahmada memuji penglihatan orang itu yang nampaknya sudah terbiasa keluar masuk hutan Randu Agung di waktu malam.

    Dan mereka terus masuk ke hutan Randu Agung lebih dalam lagi.

    Hingga akhirnya orang itu terlihat berhenti di sebuah tempat.

    “Disinilah tempat tinggalku selama ini”, berkata orang itu sambil menunjuk ke arah atas sebuah pepohonan yang sangat amat besar dan sangat lebat.

    Tanpa berkata apapun orang itu dengan sangat ringan sekali telah mengayunkan kakinya melompat tinggi hinggap di sebuah cabang pohon dan terus melompat lagi dari satucabang pohon ke cabang lainnya.

    Terlihat sambil memanggul tubuh Supo mandagri, gajahmada mengikuti orang itu hinggap dari satu cabang pohon ke cabang lainnya.

    “Letakkan tubuh kawanmu di sisni”, berkata orang itu kepada Gajahmada di sebuah batang pohon yang cukup besar dimana telah disusun beberapa batang kayu menjadi sebuah lantai panggung yang sangat kokoh.

    Rumah pohon, begitulah yang dipikirkan oleh Gajahmada sebagai tempat tinggal orang itu, di ketinggian pohon besar yang tidak terlihat oleh siapapun yang lewat di bawah sana.

    “Jagalah kawanmu, aku akan mencarikannya beberapa tanaman obat pengering luka di sekitar hutan ini”, berkata orang itu kepada Gajahmada yang langsung bergerak cepat seperti melayang terbang turun kebawah.

    Dikeremangan malam orang itu seperti telah menghilang di telan bumi.

    “ hari yang sangat aneh, kita melihat dua orang yang sama”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri yang terlihat mencoba duduk diatas lantai kayu rumah pohon itu.

    “Yang pasti kita tidak tengah bermimpi”, berkata Supo Mandagri sambil melihat berkeliling diantara cabang dan ranting pohon.

    • Suwun…..
      baru sempat bendel, senthong kiri sudah ditutup, senthong tengah sudah mulai diisi.
      monggo Pak Dhalang, senthong tengah sudah menunggu isinya.

      nuwun…

  30. suwun ki…

  31. Lengking dan pekik suara burung dan binatang hutan telah menandai suasana pagi di hutan Randu Agung.

    “Orang itu telah datang kembali”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri manakala melihat seseorang berada di bawah mereka.

    “Madu bunga Randu ini sangat baik untuk menyembuhkan luka”, berkata orang itu sambil menyerahkan sebuah bubu bamboo kepada Gajahmada.

    Terlihat Gajahmada segera membuka bubu itu yang berisi madu bunga randu dan langung membaluri ke semua luka di tubuh Supo Mandagri.

    Sementara itu sang surya sudah mulai menerangi hutan Randu Agung lewat celah-celah daun dan ranting pohon.

    Supo Mandagri dan Gajahmada sudah dapat melihat dengan jelas wajah orang yang telah mengajaknya ke rumah pohon di Hutan Randu Agung itu. Seseorang yang memang sangat mirip dengan Ki Randu Alam, seseorang yang terlihat sudah sangat tua, namun masih sangat kekar dan kokoh untuk ukuran seusianya.

    “Aku akan bercerita kepada kalian”, berkata orang tua itu seperti dapat membaca isi hati dan pikiran dua orang anak muda di hadapannya.
    Terlihat orang tua itu sambil bersila diatas lantai kayu rumah pohon bercerita tentang dirinya.

    “Aku lahir di dunia ini tidak sendiri, tapi punya seorang saudara adik kembar”, berkata orang tua mengawali ceritanya. “Namaku Banyak Wedi, sementara saudara kembarku bernama Banyak Ara”, berkata kembali orang itu yang mengaku bernama Banyak Wedi. “Saudara kembarku itu sejak muda banyak berguru diberbagai tempat, sementara masa mudaku telah kuabdikan sebagai seorang prajurit pengawal di istana singasari”, berkata kembali Ki Banyak Wedi kepada Supo Mandagri dan Gajahmada.

    “Pantas Ki Randu Alam yang kutemui kemarin sepertinya tidak mengenalku, apakah dia saudara kembar Ki Banyak Wedi ?”, bertanya Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi.

    “Benar, dialah saudara kembarku yang bernama Ki Banyak Ara”, berkata Ki banyak Wedi membenarkan perkataan Gajahmada.

    Terlihat Ki Banyak Wedi menarik nafas dalam-dalam seperti tengah mengumpulkan kembali beberapa cerita masa lalunya.

    “Ketika aku pindah ke Sunginep, saudara kembarku itu juga telah pergi merantau entah kemana hingga akhirnya aku mendapat berita bahwa dirinya telah menjadi seorang kepala bajak laut yang sangat ditakuti disekitar perairan Balidwipa”, berkata Ki Banyak Wedi bercerita tentang saudara kembarnya itu.

    Kembali terlihat orang tua itu menarik nafas dalam-dalam seperti tengah mengumpulkan kembali beberapa cerita masa lalunya.

  32. Supo Mandagri dan Gajahmada telah melihat perubahan raut wajah orang tua itu yang seperti tengah menahan kepedihan dan rasa duka yang sangat berat.

    “Ketika putraku Ranggalawe tewas terbunuh, aku seperti kehilangan seluruh hidupku. Yang ada pada saat itu adalah keinginan untuk membalas rasa sakit hatiku kepada kerajaan Majapahit. Disaat suasana hati yang penuh dendam itulah saudara kembarku datang kepadaku menawarkan dirinya beserta seluruh anak buahnya para bajak laut untuk menggempur secara langsung kerajaan Majapahit. Namun aku tidak sependapat dengannya, kukatakan kepadanya bahwa belum saatnya menggempur Majapahit saat itu, kita harus membangun sebuah kekuatan baru. Nampaknya saudaraku itu menyetuji. Mulailah kami membangun sebuah kekuatan baru di timur Jawadwipa ini dengan menguasai jalur perdagangannya. Kami membagi tugas, aku membangun jalur perdagangan, sementara dirinya yang sangat paham dan menguasai perairan laut membantu dalam hal keamanannya dengan memberikan penekanan kepada para pedagang agar hanya berdagang kepadaku, tidak kepada siapapun. Demikianlah, dalam waktu yang tidak terlalu lama kami benar-benar telah menguasai jalur perdagangan di timur Jawadwipa ini. Sampai-sampai kebesaran namaku diartikan sebagai penguasa tunggal di timur Jawadwipa ini”, bercerita cukup panjang Ki banyak Wedi, berhenti sebentar sambil menarik nafas panjang beberapa kali.

    Suasana diatas runah pohon itu sejenak seperti hening, terlihat Gajahmada dan Supo Mandagri seperti tengah menunggu orang tua itu melanjutkan ceritanya.

    “Anak muda, kamu masih ingat pertempuran kita di sekitar Kademangan Simpang itu ?”, bertanya Ki Banyak Wedi kepada Gajahmada.

    “Aku masih mengingatnya”, berkata gajahmada sambil menganggukkan kepalanya tidak tahu kemana arah pembicaraan orang tua itu dengan bertanya tentang pertemuan mereka.

    “Kesaktianmu sungguh amat tinggi, kekalahan diriku oleh orang muda sepertimu telah menyadarkan diriku bahwa telah tumbuh bibit-bibit baru para ksatria Majapahit yang akan menjaga wahyu kraton di bumi Majapahit ini untuk waktu yang cukup lama. Akhirnya aku tersadar untuk melupakan segala dendamku, menghabiskan sisa hari tuaku tanpa dendam apapun”, berkata Ki banyak Wedi berhenti sebentar sambil matanya seperti menerawang jauh menembus dedaunan dan pepatnya tumbuhan yang menutupi hutan Randu Agung itu.

    “Perlahan aku memang telah melupakan rasa sakit hatiku atas kematian putraku, Ranggalawe. Perlahan juga aku sudah dapat menikmati hari-hari tuaku tanpa sebuah dendam. Namun pada saat itu ada sebuah kekhawatiran bahwa saudara kembarku akan terus mengungkit rencana kami semula, meruntuhkan kerajaan Majapahit. Hingga akhirnya yang khawatirkan itu datang juga”, berkata sampai disitu terlihat Ki banyak Wedi terdiam sesaat.

    Gajahmada dan Supo Mandagri seperti membiarkan orang tua itu menghentikan ceritanya, meski dalam hati kedua anak muda itu seperti tidak sabaran mendengar cerita lanjutannya.

    Terlihat Ki Banyak Wedi tersenyum menatap wajah kedua anak muda di hadapannya itu.

  33. memang gak sabaran menunggu lanjutannya Ki

  34. Sementara itu di benak Gajahmada sudah tidak menyangsikan lagi bahwa dihadapannya itu adalah Ki Banyak Wedi yang sebenarnya, yang juga pernah menjadi seorang Adipati di daerah Sunginep. Terakhir orang tua ini lebih dikenal sebagai Ki Randu Alam, seorang yang sangat berpengaruh kuat di timur Jawadwipa.

    “Saampai saat ini hanya kalian berdua yang mengetahui bahwa aku mempunyai seorang saudara kembar”, berkata Ki Banyak Wedi kepada Supo Mandagri dan Gajahmada.

    “Bagaimana dengan Ki Ajar Pelandongan dan Kuda Anjampiani ?”, bertanya Gajahmada.

    “Cucuku dan gurunya itu juga tidak mengetahuinya”, berkata Ki Banyak Wedi kepada Gajahmada.

    “Memang kulihat tidak ada perbedaan sedikitpun dengan Ki banyak Wedi, hanya gerak jurusnya yang kutahu berasal dari garis perguruan yang berbeda”, berkata Gajahmada mengingat kembali pertempuran dirinya dengan saudara kembar Ki Banyak Wedi kemarin hari.

    “Kamu benar, garis kanuragan kami dari perguruan yang berbeda. Kuakui bahwa seorang diri aku tidak akan mampu menghadapinya”, berkata Ki Banyak Wedi.

    “Ki Banyak Wedi belum bercerita mengapa sampai menetap dan bersembunyi di tengah hutan ini ?”, bertanya Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi.

    Terlihat Ki banyak Wedi tidak langsung menjawab, sekilas terlihat deretan giginya sedikit terbuka sebagai gambaran sebuah senyum yang dipaksakan, sebuah senyum yang menggambarkan kekecutan dan kepahitan hidupnya.

    “Pada suatu malam, tanpa diketahui oleh siapapun saudaraku itu datang menemuiku mengabarkan bahwa dirinya dan para anak buahnya telah siap untuk menyerang dan merebut Kadipaten Blambangan. Bukan main marahnya saudaraku itu manakala kukatakan bahwa aku sudah tidak berminat lagi bermusuhan dengan Kerajaan Majapahit”, bercerita Ki banyak Wedi tentang saudara kembarnya itu.

    “Kita hanya tinggal beberapa langkah lagi !!”, berkata saudaraku tidak menerima keputusanku itu, karena aku tetap kukuh melupakan semua dendamku, maka pada puncaknya saudara kembarku itu telah mengancam akan membunuh cucuku, Kuda Anjampiani. Maka dengan sangat terpaksa sekali aku memilih keluar dari rumahku sendiri dan membiarkan saudara kembarku itu menjadi diriku tanpa seorangpun yang mencurigainya untuk melaksanakan rencana kami semula, menghancurkan kerajaan Majapahit”, berkata Ki Banyak Wedi sambil menarik nafas panjang mengakhiri ceritanya.

    Mendengar penuturan dari orang tua itu, terbit sebuah rasa iba di dalam hati Gajahmada, membayangkan seorang Adipati yang di puja dan dilayani oleh begitu banyak orang, tiba-tiba saja harus menjalini kehidupan sendiri hidup di tengah belantara hutan Randu Agung yang sangat luas itu.

    “Ternyata kesederhanaan hidup di hutan ini telah membuat aku semakin mengenal arti kehidupan yang sebenarnya, kudapatkan makna kebahagiaan sejati sebagai seorang yang bebas merdeka, bebas dari sakitnya dendam dan hasrat yang tak pernah terdahagakan ini”, berkata Ki Banyak Wedi.

  35. Melihat tatapan pandangan mata Ki banyak Wedi yang bersahaya itu telah membuat Gajahmada tidak meragukan lagi penuturan semua ceritanya.

    “bagaimana dengan lukamu, wahai sahabat muda”, berkata Ki Banyak Wedi sambil mengalihkan pandangannya kearah Supo Mandagri.

    “Berkat obat yang Ki Banyak Wedi berikan, aku tidak merasakan perih lagi”, berkata Supo Mandagri.

    “Beristirahatlah kalian disini untuk sementara waktu”, berkata Ki banyak Wedi kepada kedua anak muda itu.

    Melihat ketulusan hati Ki Banyak Wedi telah menumbuhkan rasa percaya Gajahmada kepada orang tua itu, dan dengan terbuka Gajahmada telah bercerita dengan singkat kehadiran para prajurit Majapahit di timur Jawadwipa itu.

    “Kalian telah memiliki seorang Raja yang sangat tahu apa yang seharusnya dilakukan”, berkata Ki Banyak Wedi setelah mendengar penuturan dari Gajahmada.

    “Banyak cerita tentang kemenangan Majapahit yang bersumber dari siasat ulung seorang Adipati Sunginep. Sudilah kiranya Ki banyak Wedi memberikan saran yang terbaik menghadapi kekuatan di timur Jawadwipa ini”, berkata Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi.

    Terlihat Ki banyak Wedi tersenyum mendengar perkataan Gajahmada itu.

    “Apakah kamu tidak bercuriga bahwa aku akan menggelincirkan dirimu, karena yang kamu hadapi adalah saudara kembarku sendiri, seseorang yang sedarah denganku”,berkata Ki banyak Wedi dengan wajah penuh kesungguhan hati.

    “Aku percaya bahwa Ki Banyak Wedi masih mengingat cita-cita adi luhur kerajaan Raja Erlangga yang menjadi cikal bakal tumpuan Kerajaan Majapahit ini berdiri, dimana Ki Banyak Wedi menjadi salah satu ksatria penjaganya yang sangat setia”, berkata Gajahmada kepada Ki banyak Wedi.

    “Perkataanmu sungguh telah mengingatkanku atas sumpah suci yang pernah kukatakan di hadapan Raja Anusopati bahwa aku akan terus setia kepada cita-cita leluhur para putra Raja ken Arok. Kematian putraku telah mengaburkan sumpah suciku itu. Dan hari ini aku seperti hidup kembali, hidup untuk menjalani sebuah amanat suci menjaga para putra Ken Arok”, berkata Ki Banyak Wedi dengan wajah penuh semangat dihadapan Gajahmada dan Supo Mandagri.

    “Ayah angkatku Mahesa Amping dan Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah mengangkat Ranggalawe sebagai saudaranya, atas kasih persaudaraan itulah Baginda Raja Sanggrama telah menganugerahi Siralawe sebagai seorang Adipati di Tanah Tuban”, berkata Gajahmada kepada Ki banyak Wedi.

    Terlihat Ki Banyak Wedi terdiam, pandangan matanya dialihkan jauh menembus batang, daun dan ranting pepohonan, menembus pekatnya hutan Randu Agung, menembus kejernihan mata hatinya.

    Sementara itu hari telah berada diujung senja, pekik suara binatang hutan perlahan menghilang, sepi.

    • Suwun Ki.

      • Kamsiiiaaa Pk Dhalang……..

  36. Sepi pekat gelap malam telah lama menyelimuti hutan Randu Agung bersama kepungan suara jangkrik malam seperti menambah suasana terasa menjadi begitu teramat sunyi.

    Dikegelapan rumah pohon itu, Gajahmada dan Supo Mandagri sudah mulai dapat membiasakan diri melihat di kegelapan malam Hutan Randu Agung.

    “Kekuatan pasukan Ki banyak Ara bukan di Lamajang, namun saat ini telah dipusatkan disebuah hutan sekitar Kadipaten Blambangan”, berkata Ki banyak Wedi menyampaikan beberapa rahasia kekuatan pasukan saudara kembarnya itu.

    “Berapa besar kekuatan mereka saat ini ?”, bertanya Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi.

    “Kabarnya saudaraku itu telah dapat menghimpun sekitar enam ratus orang dimana rencana pertamanya adalah untuk melumpuhkan pasukan di Kadipaten Blambangan”, berkata Ki banyak Wedi menjawab pertanyaan dari Gajahmada.

    “Nampaknya kami harus meminta bantuan pasukan Kadipaten Blambangan dan Kadipaten Lamajang, prajurit dari Majapahit hanya ada sekitar tiga ratus orang yang saat ini terpecah di tiga tempat berbeda, di Pasuruan, Balambangan dan Banyuwangi”, berkata Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi menyampaikan kekuatan pasukan Majapahit saat itu.

    “Para pasukan di hutan Tarik sangat sedikit pada saat itu, namun mereka mampu membuat susah kerajaan Kediri”, berkata Ki Banyak Wedi yang masih dapat di lihat senyumnya oleh Gajahmada yang sudah membiasakan dirinya melihat di kepekatan malam itu.

    “Maksud Ki Banyak Wedi ?”, bertanya Gajahmada meminta penjelasan.

    “Jumlah bukan salah satu kunci sebuah kemenangan”, berkata Ki banyak Wedi

    “Maksud Ki Banyak Wedi ?”, bertanya kembali Gajahmada meminta penjelasan kepada Ki banyak Wedi.

    “Membunuh seekor ular harus mencari dimana kepalanya”, berkata Ki banyak Wedi.

    “Aku sudah mulai dapat mengerti, apakah itu artinya bahwa kita tidak perlu menurunkan pasukan gabungan untuk menghantam mereka ?, yang harus kita lakukan adalah melumpuhkan Ki Banyak Ara di kediamannya di Kademangan Randu Agung ?”, berkata Gajahmada mencoba membaca jalan pikiran dari Ki Banyak Wedi itu.

    “Kamu memang cukup cerdas, itulah yang aku maksudkan”, berkata Ki Banyak Wedi penuh kegembiraan hati seperti seorang bocah kecil menemukan sebuah permainan baru.

    “Aku melihat ada beberapa orang yang cukup mumpuni selain Ki Banyak Ara di kediamannya”, berkata Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi.

    “Disana ada Ki Ajar Pelandongan, Ki Gagakpati dan seorang pendeta Brahmana bernama Ki Jatiwangi. Orang yang terakhir kusebut itu yang harus kamu sikapi dengan hati-hati, karena tataran ilmunya berada dua tiga tingkat diatas Ki Banyak Ara”, berkata Ki Banyak Wedi.

  37. Sepi pekat gelap malam masih menyelimuti hutan Randu Agung.
    Diantara suara panjang jangkrik malam, terkadang terdengar suara lolongan srigala jantan yang mungkin tengah tersisih dari kawanan mereka berharap seekor srigala betina yang birahi mendengar lolongan panjangnya.

    Suara lolongan srigala jantan itu terdengar beberapa kali telah menghentikan pembicaraan mereka bertiga yang masih terjaga di rumah pohon hutan Randu Alam di malam itu.

    “Berapa penjaga di rumah kediaman Ki Banyak Ara saat ini ?”, bertanya Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi manakala suara lolongan Srigala jantan sudah tidak terdengar lagi.

    “Ada sekitar dua puluh lima orang, mereka adalah para bajak laut yang selalu berada bersama Ki banyak Ara”, berkata Ki Banyak Wedi.

    Namun pembicaraan mereka kembali terhenti manakala di bawah mereka terdengar suara auman dua tiga ekor harimau di bawah mereka, mungkin tengah memperebutkan seekor mangsa buruan mereka.

    “Sebentar lagi pasti ada suara si embah belang yang akan mengusir mereka”, berkata Ki Banyak Wedi yang seperti sudah sangat hapal dengan kehidupan malam di kedalaman hutan Randu Alam itu.

    Seperti yang dikatakan oleh Ki banyak Wedi, tidak lama berselang mereka bertiga memang telah mendengar suara auman harimau yang lebih keras memecahkan kesunyian malam, suara auman itu nampaknya lebih keras dari suara sebelumnya.

    “Itulah suara si embah belang, nampaknya hari sudah jauh malam untuk mencari ganjalan perut harimau tua yang tengah kelaparan itu”, berkata Ki Banyak Wedi.

    Mendengar perkataan Ki banyak Wedi, telah menyadarkan Supo Mandagri bahwa hari memang telah larut malam. Terlihat keduanya perlahan meluruskan badan mereka, sementara itu Ki Banyak Wedi terlihat bergeser merebahkan punggungnya bersandar di sebuah batang pohon.

    Supo Mandagri yang sudah tidak merasakan perih lukanya terlihat dalam waktu yang sangat singkat sudah langsung tertidur nyenyak.
    Dikeremangan malam Gajahmada masih melihat Ki Banyak Wedi tetap duduk bersandar disebuah batang pohon dengan mata yang telah terpejam.

    “Kasihan orang tua ini”, berkata Gajahmada dalam hati sambil memandang Ki banyak Wedi membayangkan kehidupan hari-harinya di kedalaman hutan Randu Agung itu. Membayangkan seorang yang sangat terhormat penuh dengan gelimang harta benda harus tersingkirkan dan terdampar di suasana kehidupan yang serba kurang memadai itu, di alam terbuka di kedalaman hutan Randu Agung tanpa seorang yang membantu dan melayaninya.

    Sementara itu terdengar suara burung hantu memecahkan suasana malam, suara itupun kembali terdengar semakin menjauh diujung tepi sepi malam.

    • Betul Pak Lik, malam memang sudah mulai larut. Suara bocah sudah tidak terdengar lagi.
      Risang tidak berani tetiak lagi, takut didatangi Pak Satpam yamg sudah mulai meronda.

      Suwun nggih….

      • Suwun Pak Dhalang………lanjut !!!

  38. Masih di pedalaman hutan Randu Agung yang lebat, warna malam, suara malam dan udara dingin malam perlahan pudar berganti suara dan nuansa pagi.

    Matahari pagi sudah dapat terlihat menembus celah-celah daun dan ranting di hutan Randu Alam. Namun kehangatan sinar matahari itu tidak mampu menembusi beberapa permukaan tanah dan batang pohon yang terlihat lembab dan berjamur.

    “Selamat jalan anak-anak muda, aku tidak dapat membantu kalian sepenuhnya, pada saatnya aku hanya akan menyingkirkan cucuku Kuda Anjampiani ketempat yang jauh dari pertempuran kalian”, berkata Ki Banyak Wedi dipagi itu melepas kepergian Gajahmada dan Supo Mandagri.

    “Sampai bertemu lagi Ki Banyak Wedi, terima kasih untuk semua keterangannya”, berkata Gajahmada kepada Ki Banyak Wedi menyampaikan ucapan perpisahan.

    “Semoga Gusti Yang Maha Agung berkenan memberi panjang usiaku ini, sehingga masih dapat melihat Majapahit terus berkembang, gemah ripah loh jinawi, murah sandang murah papan”, berkata kembali Ki Banyak Wedi sambil melambaikan tangannya mengantar kedua anak muda itu yang telah mulai melangkah meninggalkan dirinya.

    Demikianlah, dipagi itu terlihat Gajahamada dan Supo Mandagri tengah berjalan di tengah hutan Randu Alam yang cukup lebat itu.
    Hingga akhirnya manakala matahari terlihat sudah menggelantung dipertengahan garis langit cakrawala pagi, terlihat Gajahmada dan Supo Mandagri tengah berjalan disebuah padang ilalang yang cukup luas berbatasan dengan hutan Randu Agung.

    “Kita berjalan melingkar menghindari Kademangan Randu Agung”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri.
    Nampaknya Gajahmada memilih jalan melingkar menghindari Kademangan Randu Agung, khawatir mereka akan bertemu dengan orang-orangnya Ki Banyak Ara.

    Setelah berjalan melingkar cukup jauh, akhirnya mereka telah memasuki sebuah jalan tanah yang cukup keras.

    “Apakah kita akan ke Kadipaten Lamajang ?”, bertanya Supo Mandagri kepada Gajahmada yang sudah cukup mengenal arah dan jalan di sekitar Lamajang itu.

    “Kita memang akan singgah di kediaman Adipati Menak Koncar”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri.

    Diperjalanan mereka kadang bersisipan dengan beberapa pedagang dengan gerobak dagangannya, nampaknya besok adalah hari pasaran di Lamajang sehingga banyak para pedagang yang datang dari tempat-tempat yang cukup jauh, mencoba mengadu peruntungan mereka di beberapa pasar Kademangan.

  39. suwun ki Sandikala..

  40. Saat itu matahari terlihat sudah mulai merayap turun dari puncaknya manakala langkah Gajahmada dan Supo Mandagri telah mulai memasuki wilayah Kadipaten Lamajang.

    Hamparan persawahan terlihat sejauh mata memandang berujung di tiga deretan pegunungan membiru, itulah tiga deretan pegunungan tempat para dewa yang dipuja bersemayam, deretan pegunungan Tengger, Bromo dan Semeru.

    “Sewaktu kecil aku tidak seperti mereka”, berkata Supo Mandagri sambil menunjuk kearah dua anak lelaki yang ikut membantu ibunya membersihkan rumput-rumput liar di persawahan mereka. “Seumur mereka aku sibuk membantu ayahmu diperapian menempa besi”, berkata kembali Supo Mandagri sambil melihat beberapa anak kecil lain tengah berlari diantara galangan sawah.

    “Sebuah bumi yang damai”, berkata Gajahmada ikut menikmati suasana disekitar mereka dimana hamparan sawah seperti sebuah lautan hijau yang luas mengelilingi beberapa padukuhan yang tersebar seperti pecahan pulau-pulau kecil.

    Akhirnya, langkah kaki kedua anak muda itu telah memasuki sebuah pemukiman penduduk yang semakin kedalam semakin ramai dipenuhi deretan rumah-rumah kayu yang tertata rapi. Mereka berdua telah memasuki pusat wilayah Kadipaten Lamajang.

    “Sebuah istana yang sangat asri dan teduh”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri manakala langkah kaki mereka telah mendekati sebuah bangunan yang dikelilingi pagar batu menghadap tanah lapang yang cukup luas dimana tumbuh ditengahnya dua buah pohon beringan yang sudah cukup tua meneduhi sekitarnya. Pintu gerbang utamanya sendiri berada disamping bangunan itu yang menghadap kearah timur laut.

    “Selamat datang di istana Kadipaten Lamajang”, berkata seorang prajurit Majapahit kepada Gajahmada dan Supo Mandagri.
    Ternyata prajurit itu adalah salah seorang dari beberapa prajurit Majapahit di bawah pimpinan Gajahmada yang sengaja di tanam di istana Kadipaten Lamajang.

    Terlihat prajurit Majapahit itu menemui salah seorang prajurit pengawal Kadipaten di gardu jaga. Dan sebentar kemudian prajurit Majapahit itu bersama seorang prajurit pengawal Kadipaten telah datang kembali mendekati Gajahmada.

    Terlihat prajurit pengawal Kadipaten itu memandang Gajahmada dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.

    “Aku juga seorang prajurit seperti dirimu”, berkata Gajahmada kepada prajurit itu dengan penuh senyum ramah menyadari bahwa saat itu dirinya memang tidak memakai pertanda apapun sebagai layaknya seorang prajurit, hanya berpakaian sebagaimana orang kebanyakan, bahkan sudah terlihat sangat lusuh.

    Mendengar perkataan Gajahmada telah membuat prajurit itu tersenyum malu.

    • He he he … Satpam juga tersenyum kok

      kamsiaaa……..!!!!!

  41. Suwun Ki Dalang

  42. Kepada prajurit pengawal Kadipaten itu Gajahmada mengutarakan maksudnya datang ke istana Kadipeten itu untuk menghadap Adipati Menak Koncar, tentunya dengan bahasa yang santun tidak menunjukkan ketinggian pangkatnya sebagai seorang perwira tinggi prajurit Majapahit.

    Nampaknya prajurit pengawal Kadipaten itu meresa terkesan dengan tutur kata Gajahmada yang santun itu, diam-diam sudah merasa jatuh hati bersimpati kepadanya.

    “Tunggulah disini, hamba akan menyampaikan kedatangan tuan kepada Adipati Menak Koncar”, berkata prajurit pengawal Kadipaten itu kepada Gajahmada.

    Terlihat prajurit pengawal Kadipaten itu telah melangkahkan kakinya menuju arah pendapa agung Kadipaten Lamajang.
    Gajahmada dan Supo Mandagri nampaknya tidak harus lama menunggu di depan gardu jaga, karena tidak lama berselang prajurit pengawal Kadipaten itu terlihat telah datang berjalan mendekati mereka.

    “Adipati Menak Koncar sangat senang sekali mendengar kedatangan tuan, juga seorang tamu yang saat ini bersamanya”, berkata prajurit pengawal Kadipaten itu kepada Gajahmada.

    “Adipati Menak Koncar sedang bersama seorang tamu ?”, bertanya Gajahmada kepada prajurit itu.

    “Tamu itu juga baru saja datang , hanya berselisih sepenginangan dengan tuan”, berkata prajurit itu kepada Gajahmada.

    “Apakah kamu mengetahui dari mana berasal tamu Adipati Menak Koncar itu ?”, bertanya Gajahmada kepada prajurit itu merasa ingin tahu siapa tamu yang bersama Adipati menak Koncar di Pendapa Agung itu.

    “Sewaktu datang melapor di gardu jaga ini mengatakan saudara ipar dari Adipati Menak Koncar dan berasal dari sebuah tempat yang cukup jauh di Balidwipa”, berkata prajurit itu kepada Gajahamada.

    “Mari kuantar tuan ke Pandapa Agung agar dapat segera bertemu dengan Adipati Menak Koncar bersama tamunya itu yang nampaknya sangat senang sekali mendengar kedatangan tuan di istana Kadipaten ini”, berkata kembali prajurit pengawal Kadipaten itu kepada Gajahmada.

    Dan pikiran Gajahmada memang telah dipenuhi begitu banyak pertanyaan, siapa gerangan tamu Adipati Menak Koncar yang telah mengenalnya itu. Masih dengan pikiran yang belum terjawab, terlihat dirinya dan Supo Mandagri telah mengikuti dibelakang langkah kaki prajurit pengawal Kadipaten itu yang membawa mereka berdua menuju Pendapa Agung istana Kadipaten Lamajang.

    “Kakang Putu Risang ?”, berkata Gajahmada dalam hati sambil terus mengikuti langkah kaki prajurit pengawal itu. “Siapa lagi adik ipar dari Adipati Menak Koncar selain Kakang Putu Risang yang berasal dari Balidwipa ?”, berkata kembali Gajahmada dalam hati seperti tidak sabaran ingin berlari berjalan mendahului prajurit pengawal Kadipaten itu.

    Sementara itu Supo Mandagri yang tidak mengetahui apa yang tengah dipikirkan oleh sahabatnya itu terus mengiringinya berjalan di sampingnya.

    • Suwun Ki Dalang, Lanjut, njanur gunung, namun sekedhik, menopo tumut demo?

      • Kamisiaaaanaaaa Pak Dhalang……….
        Apakah betul tamunya Putu Risang…..???
        Lha sing njaga gandhok njur sapa jal…???

        • Ganti Satpam Ki mBleh
          he he he ….

    • Putu Risang? Deja vu…………

  43. ditunggu lanjutannya ki… suwun

  44. Ternyata dugaan Gajahmada adalah benar, manakala telah mendekati panggung pendapa agung istana Kadipaten Lamajang, diantara celah-celah pagar pendapa agung dilihatnya Adipati Menak Koncar tengah berbincang-bincang dengan seorang tamunya yang memang sudah sangat dikenalnya itu, Putu Risang, sang guru pembimbingnya yang pertama kali memperkenalkan kepadanya ilmu kanuragan.

    “Mahesa Muksa”, lekaslah naik ke panggung”, berkata Adipati Menak Koncar menyapa Gajahmada dengan nama kecilnya yang dilihatnya telah berdiri tersenyum di bawah anak tangga pendapa agung.
    Supo Mandagri yang baru mengetahui kedekatan sahabatnya itu dengan Adipati Menak Koncar mulai terkagum-kagum, ternyata sahabatnya itu punya banyak kenalan orang-orang besar.

    “Sungguh sebuah keberkahan tak terhingga untuk diriku, hari ini telah dipertemukan Kakang Adipati Menak Koncar dan Kakang Putu Risang secara bersamaan”, berkata Gajahmada menghaturkan rasa hormatnya kepada kedua orang yang berada di atas pendapa Agung istana Kadipaten itu.

    “Rangga Seta, perkenalkan dirimu kepada pamanmu itu”, berkata Putu Risang kepada seorang anak lelaki berusia sekitar lima tahunan.
    “Jadi aku sudah punya seorang keponakan, siapa namamu cah ganteng ?”, berkata Gajahmada kepada anak lelaki yang bersama Putu Risang itu.

    “namaku Rangga Seta, siapakah nama paman ?”, bertanya anak lelaki itu dengan tutur kata yang terdengar sangat begitu lucu kepada Gajahmada.

    “Panggil aku sebagai Paman Gajahmada”, berkata Gajahmada kepada anak lelaki itu, putra Putu Risang bernama Rangga Seta.
    Kepada Adipati Menak Koncar dan Putu Risang, tidak lupa Gajahmada memperkenalkan sahabatnya, Supo Mandagri kepada mereka berdua.

    Terlihat Adipati Menak Koncar mempersilahkan Gajahmada dan Supo mandagri untuk bersih-bersih.

    “Aku akan menyiapkan pakaian pengganti untuk kalian berdua”, berkata Adipati menak Koncar kepada Gajahmada dan Supo Mandagri sambil tersenyum melihat pakaian yang mereka berdua kenakan memang sangat lusuh dan kotor.

    Akhirnya tidak lama berselang, Gajahmada dan Supo mandagri telah datang dan bergabung kembali di pendapa agung istana Kadipaten yang adem diteduhi dua beringin besar di muka halamannya itu.

    “Kami berdua baru saja bermalam di hutan Randu Agung”, berkata Gajahmada bercerita tentang pertarungan mereka hingga menjadi tawanan sampai dengan pertemuan mereka berdua dengan Ki Banyak Wedi.

    “Pantas, pakaian kalian sangat lusuh dan kotor sekali”, berkata Adipati Menak Koncar setelah mendengar penuturan dari Gajahmada itu.
    “Mereka bertiga sangat akrab sekali”, berkata Supo Mandagri dalam hati.

  45. Sebagai seorang yang sudah cukup lama meninggalkan Kotaraja Majapahit, banyak sekali yang di tanyakan oleh Putu Risang mengenai perkembangan Kotaraja Majapahit. Sebagaimana di kisahkan sebelumnya bahwa Putu Risang adalah salah seorang yang ikut bersama-sama para pendiri Kerajaan Majapahit membangun sebuah pemukiman baru di hutan Maja. Atas perintah Patih Mahesa Amping, dirinya telah kembali ke Balidwipa untuk menggantikan kedudukan Empu Dangka yang telah meninggal dunia di Padepokan Pamecutan di Balidwipa. Maka Putu Risang bersama istrinya yang bernama Endang Trinil adik sepupu dari Adipati Menak Koncar itu lama meninggalkan Kotaraja Majapahit.

    “Bagaimana perkembangan perkampungan besar di pinggir hutan Maja itu ?”, berkata Putu Risang kepada muridnya itu.

    “Perkampungan besar itu telah menjadi sebuah Kotaraja yang sangat ramai, telah meluas hingga pinggir sungai Kalimas”, berkata Gajahmada bercerita tentang perkembangan Kotaraja Majapahit saat itu.

    Bergantian, sekarang Putu Risang yang bercerita beberapa hal tentang dirinya yang telah menjadi seorang pemimpin Padepokan Pamecutan di Balidwipa.

    “Mbokyumu, Endang Trinil sangat kerasan tinggal disana”, berkata Putu Risang mengawali ceritanya.
    Putu Risang juga bercerita mengapa sampai di istana Kadipaten Lamajang itu.

    “Bermula hanya ingin mengajak Rangga Seta belajar mengembara hingga menyeberang ke Banyuawangi. Ternyata disana aku bertemu dengan kawanmu Adityawarman yang mengatakan bahwa dirimu juga sedang dalam tugas bersama para prajurit Majapahit di timur Jawadwipa ini, ditempatkan di sekitar Pasuruan dan Lamajang. Mendengar penuturan dari Adityawarman itulah sebabnya aku mengembara hingga sampai di istana Kadipaten ini, berharap dapat menjumpaimu disini”, berkata Putu Risang menuturkan cerita tentang dirinya hingga sampai di istana Kadipaten Lamajang bersama putranya, Rangga Seta.

    “Pantas, manakala keluar dari hutan Randu Agung, tiba-tiba saja ada sebuah keinginan dihati ini untuk singgah di istana Kadipaten Lamajang ini”, berkata Gajahmada menyampaikan perasaan hatinya.

    “Itu sebuah pertanda, panggraitamu sungguh sangat tajam, Mahesa Muksa”, berkata Adipati Menak Koncar memanggil Gajhamada dengan panggilan kecilnya, Mahesa Muksa. Sebuah nama pemberian Patih Mahesa Amping kepada putra Nyi Nariratih itu.

    Sementara itu, Supo Mandagri yang hanya berdiam diri mendengar cerita mereka bertiga di pendapa agung itu mulai menarik sebuah kesimpulan mengapa mereka bertiga begitu sangat dekat.

    “Ternyata mereka bertiga adalah orang-orang yang sangat dekat dengan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, tinggal bersama di awal pembangunan kerajaan Majapahit ini”, berkata Supo Mandagri dalam hati mengerti dimana mereka bertiga itu saling mengenal.

    • Kamsiiiiaaaa Pak Dhalang……….
      ( mendhisiki Ki BP dan Pak Satpam )

  46. sama2…

  47. Hingga akhirnya perbincangan beralih kepada perkembangan tugas para prajurit Majapahit di timur Jawadwipa itu. Gajahmada juga bercerita tentang rencana mereka untuk meruntuhkan pusat pengendali dari kekuatan di timur Jawadwipa itu sesuai saran dari Ki Banyak Wedi yang sampai saat ini masih bersembunyi di hutan Randu Agung.
    “Aku akan mengutus beberapa orangku untuk mengamati rumah itu dan kekuatannya, agar kita dapat mudah dan tidak menemukan kesulitan ketika menghadapi mereka”, berkata Adipati Menak Koncar merasa setuju bila dalam waktu dekat ini menghancurkan pusat kekuatan pihak lawan yang berada di wilayahnya itu.
    “Kakang Mahesa Semu mungkin dapat ditarik untuk membantu kita”, berkata Gajahmada mengusulkan untuk mengikut sertakan Mahesa Semu.
    “Aku setuju, cantrik utama dari Padepokan Bajra Seta itu dapat diandalkan memperkuat barisan kita”, berkata Putu Risang yang masih mengenal Mahesa Semu sebagai salah satu cantrik Padepokan Bajra Seta itu.
    “Kehadiran Kakang Mahesa Semu sudah dapat menandingi empat orang yang berilmu tinggi yang ada di rumah itu”, berkata Gajahmada sambil menyampaikan beberapa orang yang berilmu tinggi yang ada di rumah itu. “Aku pernah menghadapi Ki banyak Ara, namun menurut penuturan Ki Banyak Wedi ada seorang pendeta Brahmana yang lebih tinggi kesaktian ilmunya melebihi Ki Banyak Ara”, berkata kembali Gajahmada.
    “Bila disetujui, aku menawarkan diri untuk menghadapi orang itu”, berkata Putu Risang menawarkan dirinya.
    Mendengar perkataan Putu Risang, terlihat Adipati Menak Koncar tersenyum merasa yakin bahwa diantara mereka bertiga, adik iparnya itulah yang paling tinggi ilmunya. Terbayang kembali bagaimana seorang Putu Risang pernah mengalahkan banyak orang sakti dari berbagai pelosok bumi Jawadwipa ini beberapa tahun yang telah silam dalam sebuah sebuah peristiwa hilangnya keris Nagasasra dari tempat penyimpanannya di istana Majapahit.
    “Ki Jatiwangi dan Ki Banyak Ara sudah punya lawan tandingnya sendiri, tinggal Ki Ajar Pelandongan dan Ki Gagakpati yang belum mendapatkan calon lawannya”, berkata Adipati Menak Koncar mengingatkan masih ada dua orang lagi lawan tangguh mereka.
    “Kakang Mahesa Semu mungkin dapat menghadapi seorang seperti Ki Ajar Peladongan”, berkata Gajahmada yang sudah dapat mengukur tingkat tataran ilmu Ki Ajar Pelandongan itu.
    “Semua sudah mendapatkan lawan masing-masing, kecuali Ki Gagakpati dan diriku sendiri”, berkata Adipati Menak Koncar sambil tersenyum memandang kearah Gajahmada.
    “Senjata cakra Kakang Adipati Lamajang pasti akan merepotkan diri Ki Gagakpati”, berkata Gajahmada kepada putra sulung Mahapatih Mangkubumi Majapahit itu.

    • Top

    • He he he …. Ki mBleh diberi kesempatan lagi untuk mendisiki kok tidak muncul-muncul, okeylah kalau begitu.

      Suwun Pak Dhalang.

      • Lha semua sudah dapat lawan, tinggal saya sendiri harus melawan siapa…….???
        Masak harus melawan pak Satpam……..????

        • Lha aja ngunu no….., lihat badan Ki mBleh wae satpam wis gemrewel…

          • Sssstttttt…..aja rame2 ya……
            kira2 kalau melawan Pak Dhalang, saya bakal menang apa gak ya…..???
            Kalau menang tiap hari tak ancam harus medhar empat rontal…..

          • He he he he …
            kalau lihat badannya sih besaran Ki mBleh
            tapi Pak Dhalangnya lebih atos kayane

            unda undi lah kira-kira
            supaya menang kudu laku kungkum lendut benter 40 hari 40 malam

          • sehingga yang tadinya empuk…..jadi atos….ato agak atos

  48. Terlihat Adipati Menak Koncar hanya sedikit tersenyum mendengar perkataan Gajahmada.

    “Sewaktu aku masih kecil, aku sering menyaksikan bagaimana Kakang melatih para pasukan Majapahit di alun-alun. Aku merasa yakin bahwa senjata Cakra Kakang Adipati Menak Koncar bukan sebuah hiasan di dinding sanggar istana Kadipaten Lamajang ini”, berkata kembali Gajahmada sambil tersenyum memandang ke arah putra Mahapatih Mangkubumi Majapahit itu.

    “Mudah-mudahan tanganku ini masih dapat memutar senjata cakraku”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Gajahmada.

    “Kakang Adipati Menak Koncar memang selalu merendahkan dirinya, aku merasa yakin bahwa kemampuan para prajurit pengawal Kadipaten ini sama tangguhnya dengan prajurit Majapahit”, berkata Putu Risang.

    “Artinya kita tidak memerlukan para prajurit Majapahit yang ada di timur Jawadwipa ini”, berkata Gajahmada.

    “Aku akan membawa prajurti terbaikku menghadapi anak buah Ki Banyak Ara”, berkata Adipati menak Koncar kepada Putu Risang dan Gajahmada.

    Demikianlah, pada hari itu juga Adipati Menak Koncar telah memanggil dua orang prajuritnya yang telah ditugaskan untuk mengamati lebih seksama lagi kekuatan yang ada di rumah kediaman Ki banyak Ara di Kademangan Randu Agung.

    Sementara itu diwaktu yang sama, Gajahmada telah meminta seorang prajurit Majapahit untuk menyambangi Mahesa Semu yang masih bertugas di sekitar tanah Blambangan.

    Dan perlahan malampun telah datang kembali di bumi Lamajang, Angin dingin kering berhembus lewat persawahan yang sangat luas terbentang di bawah kaki pegunungan Semeru, Bromo dan Tengger.

    Dikegelapan malam itu, terlihat seorang prajurit Majapahit telah mengambil sebuah jalan ke arah timur di sebuah persimpangan jalan Kadipaten Lamajang, sementara tidak lama berselang dua orang prajurit pengawal Kadipaten Lamajang dipersimpangan yang sama telah mengambil arah ke selatan, nampaknya telah mengambil arah Kademangan Randu Agung sesuai tugas yang di amanatkan oleh Adipati Menak Koncar kepada mereka berdua untuk mengamati kekuatan rumah kediaman Ki banyak Ara, saudara kembar Ki Banyak Wedi yang telah tersingkir dari rumahnya sendiri tanpa sepengetahuan seorangpun di Kademangan Randu Agung itu, juga orang-orang terdekatnya sekalipun.

    Namun ternyata bukan hanya seorang prajurit Majapahit dan dua orang prajurit pengawal Kadipaten Lamajang saja yang terlihat keluar di kegelapan malam itu. Karena di antara canda dan tawa para prajurit di gardu jaganya, tanpa mereka sadari berkelebat dua bayangan keluar lewat dinding pagar istana Kadipaten Lamajang itu.

    Dua bayangan itu terus berkelebat seperti menghindari jalan utama dan berhenti disebuah tanah gumuk di sebelah utara istana Kadipaten Lamajang yang sangat sepi di malam itu.

  49. Dibalik tanah gumuk di bawah atap cakrawala langit yang terbuka , wajah kedua orang yang berkelebat keluar dari istana itu mulai terlihat jelas, ternyata adalah Putu Risang dan Gajahmada.

    “Apakah Kakang Putu Risang merasa yakin bahwa Rangga Pati sudah tertidur ?”, bertanya Gajahmada kepada Putu Risang.

    “Anak itu sudah terbiasa tidur sendiri di gandhoknya”, berkata Putu Risang dengan tersenyum kepada Gajahmada.

    “Aku melihat sebuah kecerdasan yang luar biasa di dalam bola matanya”, berkata Gajahmada ambil duduk bersandar pada tanah miring gumuk yang dipenuhi rumput basah.

    “Aku berharap dapat membimbingnya menjadi seorang ksatria yang tangguh mewarisi ageman suci para leluhur kita”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada.

    “Aku melihat kegelisahan Kakang Putu Risang atas masa depan Rangga Seta ?”, bertanya Gajahmada seperti dapat membaca pikiran gurnya itu.

    “Pikiran dan perkataanmu masih seperti yang kukenal, selalu datang tak terduga dengan sebuah pertanyaan apa yang aku pikirkan dan bukan apa yang telah aku katakana”, berkata Putu Risang yang juga ikut duduk disamping Gajahmada bersamdar di kemiringan tanah berumput basah itu.

    “Apa yang kakang Putu Risang gelisahkan ?”, bertanya kembali Gajahmada kepada Putu Risang.

    “Ketika bertemu Adityawarman di banyuwangi yang mengabarkan keberadaanmu di sekitar Tanah Lamajang ini, aku memang berharap menjumpaimu untuk dapat mengatakan sebuah rahasia yang selama ini kadang mengganggu perasaan dan pikiranku”, berkata Putu Risang sambil menarik nafas panjang.

    “Apa yang Kakang Putu Risang gelisahkan ?”, bertanya kembali Gajahmada.

    “Ada orang asing yang selalu berada di sekitar Rangga Pati, membayanginya”, berkata Putu Risang.

    “Orang asing ?”, bertanya Gajahmada sambil menggeser tubuhnya berpaling kearah Putu Risang.

    “Orang asing yang berjubah sebagaimana para brahmana”, berkata Putu Risang. “namun aku tidak pernah dapat mendekatinya, selalu menghilang seperti tertelan bumi”, berkata kembali Putu Risang kepada Gajahmada.

    Terlihat Gajahmada mengerutkan keningnya mencoba berpikir siapakah orang itu yang pasti memiliki ilmu yang sangat tinggi karena orang setangguh seperti gurunya itu saja tidak pernah dapat mendekatinya.

    “Apa yang Kakang risaukan dengan keberadaan orang asing itu ?”, bertanya Gajahmada.

    “Aku melihat kejadian yang sama dengan dirimu, ada seorang yang membayangi Rangga Pati setiap waktu”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada.

  50. Mendengar perkataan Putu Risang itu, seketika Gajahmada teringat kepada pembimbing rohaninya yang selalu setia menjaganya sejak kecil itu, dia adalah Pendeta Gunakara yang berasal dari sebuah tanah di seberang lautan yang sangat jauh, sebuah dataran pegunungan Tibet.

    “Bukankah Pendeta Ginakara datang dengan tugas sucinya ?”, berkata Gajahmada mulai dapat menebak kemana arah pikiran gurunya itu.

    “Itulah yang selalu ada mengganggu perasaan dan pikiranku, orang asing itu akan mencuci hati dan pikiran putraku dengan ageman baru, bukan ageman leluhur kita”, berkata Putu Risang sambil memandang jauh kedepan, jauh keujung pucuk pohon kelapa yang tumbuh tinggi disebuah padukuhan yang jauh berbatas persawahan di depan mereka.

    “Gusti Yang Maha Agung memberi cahaya kepada siapapun dan dimanapun, dialah yang Maha Tahu kapan saatnya bumi yang tua ini akan berganti baru, cara-cara hidup, pandangan dan pikiran hidup dan perkehidupan yang terus berkembang dalam pembaharuannya. Pada suatu masa, mungkin umur kita tidak akan sampai lagi ada di saat itu, dimana jauhnya jarak lautan tidak menjadi pembatas, dimana setiap orang sudah dapat bepergian kesembarang tempat dengan mudahnya, disaat itulah terjadi pelunturan warna-warna pikiran dan pandangan hidup, siapa yang paling kuat coraknya, dialah yang akan menjadi panutan di jamannya sebagai corak dan warna baru di bumi ini”, berkata Gajahmada layaknya seorang pendeta tua yang arif berkata kepada para muridnya.

    “Ternyata tidak sia-sia aku menjumpaimu di Tanah Lamajang ini, benarlah apa yang di katakan oleh Pendeta Gunakara tentang dirimu, dimana Guru sucinya, Damyang Dalai lama telah menitis hidup di dalam dirimu”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada.

    Mendengar perkataan Putu Risang terlihat Gajahmada hanya sedikit tersenyum. Dan Putu Risang tidak lagi melihatnya sebagai Gajahmada, tapi sebagai seorang guru suci yang punya penglihatan yang sangat jauh, melampaui akal dan pikirannya.

    “Rangga Pati bukan milik kita, tapi milik sang abadi yang sejatinya adalah gurunya. Sebagaimana para orang tua yang mengajarkan anaknya berdiri dan berjalan, jiwanya juga akan dituntun untuk dapat berdiri dan berjalan, mengenal dan memahami kehidupan jiwani yang puncaknya akan mengenal jati diri gurunya sendiri, sang abadi”, berkata kembali Gajahmada masih seperti layaknya seorang pendeta suci memberi sabda palon kepada para muridnya.

    “kamu benar, Rangga Pati memang bukan milikku, hanya kebetulan terlahir sebagai putraku”, berkata Putu Risang seperti telah mendapatkan sebuah jalan terang di hadapannya.

    “Apakah untuk ini semua Kakang Putu Risang jauh-jauh datang mencariku ?”, bertanya Gajahmada kepada Putu Risang.

    “Benar hanya untuk inilah aku datang mencarimu, mencari jawaban atas kegelisahanku selama ini”, berkata Putu Risang menjawab pertanyaan Gajahmada.

    Terlihat Gajahmada tangannya bergerak mengambil sebuah kerikil di dekatnya.

    • Suwun Ki Dalang, mana ya Ki Pak Satpam, ditud
      gaskan jagaregol gandhok kok menghilang?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: